Anda di halaman 1dari 3

Desain Pekerjaan

Salah satu faktor yang berpengaruh cukup signifikan terhadap terwujudnya


efektifitas dan kesehatan suatu organisasi adalah desain pekerjaan. Pekerjaan yang didesain
dengan baik akan dapat meningkatkan motivasi, produktivitas dan kepuasan kerja.
Perkembangan lingkungan dan perkembangan organisasi yang begitu cepat dan dinamis
menjadikan organisasi untuk terus melakukan perancangan ulang terhadap pekerjaan.

Desain pekerjaan menurut Gibson dan kawan-kawan (1997) adalah proses di mana
manajer memutuskan tugas-tugas dan wewenang individual. Robbins dan Coulter (2004)
mengatakan desain pekerjaan adalah cara tugas-tugas yang digabung untuk membentuk
pekerjaan yang lengkap. Indriyo Gitosudarmo dan Sudita (1997) mengatakan bahwa desain
pekerjaan berkaitan dengan penentuan struktur hubungan tugas dan hubungan antarpribadi
dari suatu pekerjaan dengan menentukan berapa banyak keanekaragaman, tanggung jawab,
signifikansi, dan otonomi pekerja diberikan oleh pekerjaannya.

Desain ulang pekerjaan adalah proses di mana manajer mempertimbangkan kembali


apa yang diharapkan karyawan untuk dilakukan. Para pakar mengidentifikasikan tiga
strategi utama dalam mendesain ulang pekerjaan yaitu: (1) spesialisasi tugas yang sering
juga disebut dengan penyederhanaan tugas yaitu dengan cara mengurangi cakupan dan
kedalaman pekerjan, (2) permekaran pekerjaan yaitu menambah jumlah dan keragaman
tugas yang dikerjakan, dan (3) pemerkayaan pekerjaan yaitu pengembangan pekerjaan
secara vertikal

Karakteristik Pekerjaan
Dalam merancang ulang pekerjaan perlu dilakukan analisis terhadap karateristik
masing-masing pekerjaan, dan memutuskan karakteristik mana yang diubah. Kegiatan ini
meliputi :

1) Peninjauan terhadap cakupan pekerjaan yaitu terkait dengan jumlah dari aktivitas yang
berbeda yang diperlukan oleh suatu pekerjaan tertentu dan pengulangan siklus
pekerjaan Semakin sedikit jumlah pekerjaan semakin tinggi frekuensi pengulangan,
maka makin sempit atau rendah,

2) Peninjauan terhadap kedalaman pekerjaan, yakni berkaitan dengan kadar sejauh mana
seseorang dapat mengendalikan tugasnya.saja.

3) telaah / persetujuan terhadap atribut tugas.

Arthur Tener dan Paul Lawerence yang dikutip oleh Indriyo udarmo dan Sudita (1997)
mengidentifikasi enam faktor yang paling penting dalam menentukan pekerjaan yang
diinginkan yaitu:

a) Keanekaragaman yang meliputi sejumlah aktivitas yang berbeda yang harus


diselesaikan dalam melaksanakan masing-masing pekerjaan.

b) Otonomi menyangkut tingkat kebebasan pekerja dalam menentukan cara melaksanakan


aktivitas.

c) Interaksi yang diperlukan adalah tingkat ketergantungan di antara pekerja.

d) Interaksi pilihan yaitu jumlah atau peluang komunikasi yang dimungkinkan terjadi dari
lingkungan tata ruang kerja.

e) Pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan yaitu tingkat kesiapan mental yang
diperlukan atau melibatkan proses belajar dalam melaksanakan tugas dengan tepat.

f) Tanggung jawab yaitu tingkat pertangungjawaban yang dituntut oleh suatu tugas.

Kesimpulan :
Desain Pekerjaan
Desain pekerjaan menurut Gibson dan kawan-kawan (1997) adalah proses di mana
manajer memutuskan tugas-tugas dan wewenang individual. Robbins dan Coulter (2004)
mengatakan desain pekerjaan adalah cara tugas-tugas yang digabung untuk membentuk
pekerjaan yang lengkap. Indriyo Gitosudarmo dan Sudita (1997) mengatakan bahwa desain
pekerjaan berkaitan dengan penentuan struktur hubungan tugas dan hubungan antarpribadi
dari suatu pekerjaan dengan menentukan berapa banyak keanekaragaman, tanggung jawab,
signifikansi, dan otonomi pekerja diberikan oleh pekerjaannya.

Karakteristik Perusahaan
Dalam merancang ulang pekerjaan perlu dilakukan analisis terhadap karateristik
masing-masing pekerjaan, dan memutuskan karakteristik mana yang diubah. Arthur Tener
dan Paul Lawerence yang dikutip oleh Indriyo udarmo dan Sudita (1997) mengidentifikasi
enam faktor yang paling penting dalam menentukan pekerjaan yang diinginkan yaitu :
keanekaragaman yang meliputi sejumlah aktivitas yang berbeda yang harus diselesaikan
dalam melaksanakan masing-masing pekerjaan, otonomi menyangkut tingkat kebebasan
pekerja dalam menentukan cara melaksanakan aktivitas, interaksi yang diperlukan adalah
tingkat ketergantungan di antara pekerja, interaksi pilihan yaitu jumlah atau peluang
komunikasi yang dimungkinkan terjadi dari lingkungan tata ruang kerja, pengetahuan dan
ketrampilan yang diperlukan yaitu tingkat kesiapan mental yang diperlukan atau melibatkan
proses belajar dalam melaksanakan tugas dengan tepat dan tanggung jawab yaitu tingkat
pertangungjawaban yang dituntut oleh suatu tugas.