Anda di halaman 1dari 9

JURNAL EMBRIOLOGI I SISTEM REPRODUKSI MENCIT (Mus

musculus) JANTAN

Mia Putri Syafrudin


Prodi Pendidikan Biologi, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Jl. A. H. Nasution No. 105 Cibiru-Bandung

PENDAHULUAN
Reproduksi merupakan proses pembentukan individu baru. Pembentukan
individu baru secara generatif diawali dengan adanya pembentukan gamet,
pembuahan, dan proses pekembangan embrio sehingga individu baru akan muncul
melalui proses kelahirn atau penetasan (Isnaeni, 2006: 275).
Sebelum membahas bagaimana perkembangan embrio tentunya kita akan
terlebih dahulu mempelajari tentang anatomi baik externa maupun interna dari
organ reproduksi hewan.
Sistem reproduksi vertebata jantan terdiri atas dua buah testis yang terletak
dalam scrotum. Dari testis spermatozoa bergerak menuju epididimis untuk
dimatangkan dan selanjutnya menuju vas deferens. Setelah itu, sperma menuju
organ kopulatori yaitu penis untuk dipindahkan ke dalam vagina betina saat
kopulasi. Sistem reproduksi jantan juga dilengkapi oleh kelenjar asesoris yaitu
kelenjar prostat yang mengelilingi dasar uretra dan kelenjar Cowper atau kelenjar
bulbo-uretra yang mengeluarkan sekret untuk mempermudah dalam mentransfer
sperma (Kurniati, 2015: 109).
Penelitian dilakukan pada mencit (Mus musculus) jantan yang memasuki
musim kawin. Digunakan mencit (Mus musculus L.) karena mencit termasuk
mamalia pengerat (rodensia) yang cepat berkembang biak, mudah dipelihara
dalam jumlah banyak, variasi genetiknya cukup besar serta sifat anatomisnya dan
fisiologisnya terkarakteristik dengan baik (Akbar, 2010: 6).
Selain mengamati anatomi organ reproduksi jantan mencit, fertilitas sperma
juga tidak lepas dari pengamatan. Fertilitas sperma untuk mencapai dan
membuahi sel telur yang menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan
reproduksi, penting diketahui. Beberapa parameter yang menentukannya antara
lain: morfologi, jumlah, motilitas, dan velositas sperma. Praktikum ini dilakukan
dengan tujuan untuk mempelajari anatomi sistem reproduksi jantan dan cara
analisis sperma.
Manfaat dari praktikum ini di antaranya dapat mengidentifikasi dan
mengetahui bentuk dan susunan alat kelamin jantan secara makroskopis serta
mengetahui tentang fertilitas sperma.

METODE
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Terpadu sebagai tempat praktikum
mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan dan Fakultas Sains dan Teknologi
UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Penelitian ini dilaksanakan selama dua jam,
yaitu pada hari Kamis tanggal 11 Februari 2016.
Hewan coba yang digunakan adalah satu ekor mencit jantan jenis Mus
musculus yang sudah memasuki musim kawin. Bahan-bahan yang digunakan
adalah larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%) untuk mempertahankan
umur spermatozoa supaya bisa bertahan lebih lama dan
kloroform (CHCl3) untuk membius hewan percobaan.
Alat yang digunakan untuk praktikum ini antara lain peralatan bedah
(gunting, skalpel, pinset, dan bald), pipet tetes, cawan petri, gelas ukur, mikroskop
cahaya, mikroskop, hand counter, haemositometer improved Neubauer dan kaca
penutup, jarum pentul, bejana, dan kapas.
Prosedur penelitian terdiri atas beberapa beberapa tahap yakni, tahap pertama
ialah mengamati sistem reproduksi jantan bagian eksterna dan interna, tahap
kedua ialah menghitung jumlah sperma, tahap yang ketiga ialah menghitung
motilitas sperma, dan tahap keempat ialah menghitung velositas sperma.
Tahap pertama dilakukan dengan memastikan terlebih dahulu bahwa mencit
yang akan menjadi hewan coba merupakan mencit jantan yang memasuki musim
kawin kemudian membius mencit terlebih dahulu, mencit dimasukkan ke dalam
bejana berisi kapas yang telah dibasahi dengan kloroform. Setelah mencit mati
atau pingsan letakkan mencit di atas papan bedah dengan memaku kedua pasang
anggota badannya menggunakan jarum pentul (posisi terlentang). Mengamati
sistem reproduksi jantan bagian eksterna dan interna.
Tahap kedua dilakukan pengambilan sperma pada kauda epididimis dengan
metode cacah dan menggunakan pengenceran dengan garam fisiologis (NaCl
0,9%) sebesar 50 kali. Diaduk secara merata kemudian letakkan satu tetes pada
haemositometer improved Neubauer dan ditutup menggunakan kaca penutup.
Kemudian amati dan hitung sperma pada mikroskop dengan perbesaran 100 kali
pada lima ruang R untuk eritrosit. Jumlah sperma per mL dihitung dengan rumus:
5R x F x P x 1000, dimana 5R jumlah total sperma dari 5 ruang yang dihitung, F
faktor koreksi hemositometer (0,4), dan P besar pengenceran (50).
Tahap ketiga dilakukan dengan meneteskan satu tetes suspensi sperma pada
kaca objek dan ditutup dengan kaca penutup. Sperma yang tak bergerak dihitung
dari batas hitung pada okuler dari pinggir film bekas. Kemudian preparat digeser
hingga diperoleh jumlah sperma dari 20 kotak hitungan, misalnya A. Setelah itu
preparat dimasukkan ke dalam inkubator dengan suhu 50-60°C selama 3 menit.
Dengan cara yang sama, jumlah sperma yang tidak bergerak dihitung, misalnya B.
Rumus motilitas sperma (%) adalah (B-A)/B x 100%.
Tahap keempat dilakukan dengan meneteskan satu tetes suspensi sperma pada
kaca objek dan ditutup dengan kaca penutup. Menghitung waktu lintas dalam
detik pada sperma yang bergerak melintas dua garis yag berdekatan (jarak 1/20
mm). Besar velositas sperma selanjutnya dapat dinyatakan dalam mm per detik.
Pada tabel jelas menggambarkan bahwa sistem reproduksi pada Mus
musculus jantan yang termasuk mamalia pengerat (rodensia) terdiri dari ganitalia
eksterna dan genitalia interna. Yang termasuk genitalia eksterna adalah penis dan
skrotum, sementara yang termasuk genitalia interna adalah vesikula seminalis,
kandung kemih, vas deferens, testis, kaput epididimis, korpus epididimis, kauda
epididimis, dan beberapa kelenjar asesoris lainnya yang tidak terlihat jelas pada
saat praktikum seperti prostat dan sepasang glandula Cowper (bulbourethralis).
Organ kopulatoris mencit jantan adalah penis yang mempunyai tugas ganda
yaitu sebagai alat pengeluaran urin dan penyaluran semen ke dalam saluran
reproduksi tikus betina (Akbar, 2010: 18).
Epididimis adalah suatu struktur memanjang yang bertaut rapat dari bagian
bawah testis sampai bagian atas testis. Saluran epididimis ini kemudian
berhubungan langsung dengan saluran deferens (vas deferens).
Vas deferens mengangkut sperma dari ekor epididimis ke uretra. Dindingnya
mengandung otot-otot licin yang penting dalam mekanisasi pengangkutan semen
waktu ejakulasi (Akbar, 2010: 17).
Testis merupakan kelenjar ganda, karena secara fungsional testis bersifat
eksokrin dan endokrin. Testis bersifat eksokrin atau reproduksi karena
mengahsilkan sel kelamin atau spermatozoa. Testis juga bersifat endokrin atau
hormonal karena menghasilkan hormon androgen (Setyaningsih, 2011: 18).
Kelenjar-kelenjar lainnya selain epididimis berfungsi membuat cairan semen
yang dapat memungkinkan sperma bergerak aktif dan hidup untuk waktu tertentu
(Akbar, 2010: 18).
Tabel Penghitungan Jumlah Spermatozoa Mencit

Kotak ke- 1 2 3 4 5
R : 2 2 1 0 0
∑R : 5
F : 0,4
P : 50
Jumlah spermaJnaL : ∑R x F x P x 1000 = 5 x 0,4 x 50 x 1000 = 100000/mL
Sebelum membahas tabel penghitungan jumlah spermatozoa mencit, perlu
diketahui bahwa penggunaan NaCl fisiologis 0,9% ini bertujuan untuk
mempertahankan umur spermatozoa supaya bisa bertahan lebih lama,
spermatozoa hanya mampu bertahan hidup 2-3 menit tanpa NaCl fisiologis.
Menurut Rustidja (1985), penggunaan larutan fisiologis yang mengandung NaCl
dan Urea dapat mempertahankan daya hidup spermatozoa antara 20 – 25 menit,
larutan fisiologis lebih kecil dari NaCl 0,9 %.
Berdasarkan penghitungan yang telah dicantumkan pada tebel maka dapat
diketahui bahwa jumlah sperma mencit/mL adalah 100000/mL. Berdasarkan teori
bahwa volume semen yang dikeluarkan dalam sekali ejakulasi sekitar 2,5mL-
3,5mL dan menurut Smith et al. (1978) sperma normal mengandung sekitar 70 ±
65 SD juta/Ml, dengan range 0,1-600 juta/mL (Yatim, 1994: 94). Jika sperma
yang kurang dari 20 juta, kecil kemungkinan terjadi pembuahan (Cartono, 2004:
250).
Jika kita bandingkan dengan teori yang ada maka data praktikum
menunjukkan bahwa jumlah sperma mencit/mLnya sangatlah jauh dari batas
normal. Hal ini bukan berarti mencit yang menjadi hewan coba pada saat itu
mempunyai kelainan atau gangguan pada prostat dan vesicula seminalis yang
merupakan penghasil utama plasma semen, tetapi hal ini lebih kepada kesalahan-
kesalahan yang terjadi pada saat praktikum yakni seperti, cairan yang seharusnya
diambil banyak yang tercampur dengan bagian lain misal, lemak (sampah)
sehingga sperma yang dapat diamatinyapun sangatlah sedikit.
Pada penghitungan motilitas spermatozoa mencit hasilnya adalah 0%, hal ini
dikarenakan selain jumlah sperma yang dapat diamati sangatlah sedikit, sperma
yang terlihat tidak ada yang bergerak maju melainkan hanya bergerak di tempat
dengan gerakan yang lemah dan beberapa sperma sudah mati sehingga tidak dapat
dilakukan penghitungan motilitas.
Berdasarkan teori yang ada bahwa motilitas jumlah sperma yang bergerak
maju ialah jumlah spermatozoa semua dikurangi jumlah mati. Dianggap normal
jika motil maju > 40% (Yatim, 1994: 54).
Hal yang sama dengan alasan yang sama terjadi juga pada penghitungan
velositas spermatozoa mencit, bahwa hasil penghitungan velositas, menunjukkan
hasil 0mm/detik. Berdasarkan teori yang ada bahwa kecepatan yang normal
adalah 2,5 detik per kotak ukuran dalam obyek (50 um). Kalau kecepatan kurang
dari itu berarti spermaatozoa kurang mampu berfertilisasi (Yatim, 1994: 53).
Jika dibandingkan dengan teori yang ada hasil penghitungan baik motilitas
maupun velositas pada sperma mencit yang diamati bukan berarti motilitas
sperma mencit tersebut necrozoospermia (hampir semua sperma yang diperiksa
mati) dan juga bukan berarti velositas spermatozoa mencit yang diamati kurang
mampu berfertilisasi melainkan besar kemungkinan bahwa hal ini merupakan
kegagalan yang terjadi pada saat praktikum yang dipengaruhi oleh kesalahan
dalam langkah kerja yang tidak sesuai sehingga menyebabkan pada saat dilakukan
penghitungan motilitas, hampir semua dari sperma yang nampak terlihat tidak
bergerak, kalaupun ada yang bergerak beberapa sperma tersebut tidak bergerak
maju dengan gerakan yang sangat lemah karena sudah terlalu lama berada di
lingkungan luar.
Berikut gambar hasil pengamatan sperma mencit pada mikroskop dengan
pembesaran 10 x 10

Sperma mencit berflagellum terdiri dari 4 bagian: kepala, leher, badan, ekor.
Kepala mengandung lapisan tipis sitoplasma, dan sebuah inti bentuk lonjong
yang hampir mengisi seluruh bagian kepala itu. Leher daerah genting sperma,
terdapat sentriol depan. Badan mengandung filamen poros, mitokondria dan
sentriol belakang berbentuk cincin. Ekor terdiri dari 2 daerah (Yatim, 1983: 12-
13).
Pada praktikum terjadi banyak kegagalan, faktor utamanya ialah seharusnya
hewan coba yang digunakan bukan mencit (Mus musculus) melainkan tikus
(Rattus norvegicus) agar lebih mudah mendapatkan sperma karena ukuran tikus
lebih besar dibandingkan mencit. Faktor lainnya yakni banyak kelompok yang
tidak menemukan sperma di bawah mikroskop, hal ini dikarenakan beberapa
kesalahan pada praktikum yakni tidak sesuai dengan prosedur misal, bagian cairan
yang terambil bukan cairan yang mengandung sperma melainkan banyak
mengandung lemak (sampah) sehingga sperma tidak terlihat, spesimen amatan
belum mengalami pematangan gonad sehingga tidak menghasilkan spermatozoa,
atau pada saat pencacahan testis tidak dilakukan dengan segera.
Berikut gambar perbandingan antara sperma Mus musculus (2) dengan Rattus
norvegicus (3)

Pada spesies Mus musculus dan Rattus norvegicus kepala sperma cenderung
membentuk kait panjang dengan perbandingan lebar bagian pangkal dan ujung
kepala sperma yang relatif hampir sama. Pada spesies lain, bentuk kepala sperma
cenderung lebih besar pada bagian pangkalnya (Phadmacanty, 2013: 107).
Berikut data anatomis yang menguatkan adanya kaitan antara sistem
reproduksi dengan sistem ekskresi yakni vas deferens merupakan saluran yang
membawa sperma dari epidermis ke uretra dan prostat yang merupakan kelenjar
yang langsung mensekresikan sekretnya ke uretra.
Proses pengeluaran sperma dan urin pada hewan jantan: perjalanan sperma
untuk keluar dari tubuh adalah sperma bergerak dari tubulus seminiferus menuju
epididimis dan tinggal disini sekitar tiga minggu sampai menjadi sperma dewasa.
Selanjutnya sperma memasuki saluran vas deferens hingga ujung saluran dan
bercampur dengan tiga macam secret hasil sekresi kelenjar vesikula seminalis,
kelenjar prostat, dan kelenjar cowper. Selanjutnya semen keluar dari ujung vas
deferens menuju saluran ejakulatories dan uretra yang merupakan saluran
kencing. Hal ini membuktikan bahwasannya system reproduksi dan system
ekskresi mempunyai hubungan yang erat (Cartono, 2004: 249). Saat ejakulasi,
tempat keluar urin tertutup otot sekitarnya sehingga semen dan urin tidak
bercampur (Cartono, 2004: 250).
Beberapa parameter yang digunakan untuk mengetahui kualitas sperma
adalah bau (tidak bau busuk), warna seperti lem kanji putih keabuan, volume 2,5-
3,2ml/ejakulasi, koagulasi/menggumpal, motilitas normal > 40 % dapat bergerak.
Hal tersebut dapat digunakan untuk analisis kualitas sperma sebab karakteristik
tersebut merupakan standar kualitas normal sperma.
Motilitas adalah unsur yang sangat penting dalam fertilisasi, karena motilitas
merupakan salah satu faktor yang menentukan gambaran spermatozoa yang sehat.
Motilitas membantu transport spermatozoa untuk mencapai terjadinya fertilisasi
(Wahyuningsih, 2012: 3).
Beberapa manfaat yang bisa diterapkan diantaranya dalam kontrasepsi seperti
kastrasi yakni pembuangan kelenjar kelamin hewan jantan untuk mencegah
kawin lua. Vasektomi adalah pemotongan sebagian saluran benih untuk membuat
jarak antara kedua ujung saluran benih. Anti fertilisasi adalah alat untuk
mencegah fertilisasi sperma.
Dalam seleksi hewan unggul seperti semen beku yakni semen dari pejantan
unggul yang disimpan dalam rendamannitrogen cair untuk menghasilkan bibit
unggul. Inseminasi buatan adalah proses bantuan reproduksi dimana sperma
disuntikan kedalam vagina atau rahim dengan kateter.
Dalam upaya membantu pasangan ingin anak seperti bahan peningkat
fertilisasi sperma yakni obat yang digunakan untuk meningkatkan fertilisasi
sperma.

KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa sistem reproduksi pada Mus musculus jantan yang termasuk mamalia
pengerat (rodensia) terdiri dari ganitalia eksterna dan genitalia interna. Yang
termasuk genitalia eksterna adalah penis sebagai organ kopulatoris dan skrotum,
sementara yang termasuk genitalia interna adalah vesikula seminalis, kandung
kemih, vas deferens, testis, kaput epididimis, korpus epididimis, kauda epididimis,
dan beberapa kelenjar asesoris lainnya seperti prostat dan sepasang glandula
Cowper (bulbourethralis).
Penghitungan jumlah, motilitas, dan velositas pada praktikum dinyatakan
kurang berhasil karena data yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan
disebabkan oleh beberapa kesalahan yang terjadi (tidak sesuai dengan standar
prosedur yang ada).

DAFTAR PUSTAKA
Budi Akbar. 2010. Tumbuhan dengan Kandungan Senyawa Aktif yang Berpotensi
Sebagai Bahan Antifertilitas. Jakarta: Adabia Press.
Cartono, 2005. Biologi Umum. Bandung: Prisma Press.
https://abisjatuhbangunlagi.wordpress.com/tag/reproduksi-tikus-jantan/
http://digilib.unila.ac.id/9935/15/BAB%20II.pdf
http://etheses.uinmalang.ac.id/442/6/10620077%20Bab%202.pdf
Isnaeni, Wiwi. 2006. Fisiologi Hewan. Yogyakarta: Kanisius.
Kurniati, Tuti, dkk. 2015. Materi Ajar Zoologi Vertebrata. Bandung: Pendidikan
Biologi UIN Sunan Gunung Djati.
Phadmacanty, Ni Luh Putu Rischa, dkk. 2013. Organ Reproduksi Jantan Sulawesi
Giant Rat (Paruromys Dominator) Reproductive Organ Of Male Sulawesi
Giant Rat (Paruromys Dominator). Bogor: Pusat Penelitian Biologi LIPI.
Setyaningsih, Vinda Ratna. 2011. Pengaruh Pemberian Infus Simplisia Rrosella
(Hibiscus sabdariffa L.) Secara Oral Terhadap Kualitas Spermatozoa
Mencit (Mus musculus L.) Jantan Galur DDY. Depok: Universitas
Indonesia.
Wahyuningsih, Sri Puji Astuti, dkk. 2012. Motilitas Spermatozoa Mencit (Mus
Musculus) Setelah Pemberian Polisakarida Krestin Dari Ekstrak Jamur
Coriolus Versicolor. Surabaya: Departemen Biologi Fakultas Sains dan
Teknologi Universitas Airlangga.
Yatim, Wildan. 1994. Reproduksi & Embryologi Untuk Mahasiswa Biologi &
Kedokteran. Bandung: TARSITO.