Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Berpikir kritis merupakan kompetensi yang harus dimiliki oleh masyarakat
khususnya masyarakat dalam dunia akademis. Melihat fenomena zaman sekarang,
khususnya di Indonesia, kebutuhan akan generasi-generasi yang kritis itu sangat
tinggi. Dimana kita tahu bahwa, lahirnya generasi-generasi yang kritis itu memicu
meningkatnya kualitas sumber daya manusia di suatu negara. Semakin kritis
pemikiran seseorang, maka dia akan dapat berpikir secara luas dan dapat mengkaji
sesuatu yang masuk dengan sangat kritis, dengan berpikir kritis juga seseorang tidak
akan dengan mudah dapat dibodohi, dibohongi, bahkan diperalat oleh orang yang
berniat jahat untuk melakukan sesuatu yang tidak baik dan tidak logis. Oleh karena
itu, hal-hal seperti inilah yang perlu ditanamkan dalam diri masing-masing orang,
terutama generasi muda seperti kami para mahasiswa. Sebab dalam lingkungan
akademik yang selalu berdialektika dengan konteks lingkungan alam dan masyarakat,
berpikir kritis merupakan salah satu sayat untuk memperoleh kebenaran pengetahuan.
Melatih otak berpikir kritis dari sekarang itu sangat perlu, sebab khususnya bagi kami
para mahasiswa ini dapat kami jadikan sebagai pedoman di lingkungan pekerjaan
kelak. Lingkungan kerja menuntut kemampuan berpikir kritis sebagai syarat mutlak
dalam melihat kompetensi kandidat calon pekerja. Dengan berpikir kritis, seseorang
akan mampu untuk berpikir analitis, strategik, holistik, dan komprehensif. Hal ini
akan mengarahkan seseorang mampu untuk bersikap mandiri dan bertanggung jawab.
Dengan melihat pentingnya berpikir kritis, maka mengetahui dan memahami
cara berpikir kritis itu sangat penting. Oleh sebab itu, dalam tulisan ini kami akan
membahas secara umum pemahaman kami tentang berpikir kritis setelah membaca
buku berjudul “Mazhab Pendidikan Kritis” karya M. Agus Nuryatno. Diharapkan
dengan tulisan ini, maka setiap orang yang membacanya berani untuk menerapkan
pemikiran kritis dalam lingkungan akademik, dan lingkungan sosial sekitarnya.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana tafsiran sampul buku “Mazhab Pendidikan Kritis” yang dapat anda
paparkan?
2. Apa saja poin-poin penting dari setiap bab di dalam buku “Mazhab Pendidikan
Kritis” ?
3. Apa saja keterkaitan dari setiap bab di dalam buku “Mazhab Pendidikan Kritis” ?
4. Bagaimana refleksi buku “Mazhab Pendidikan Kritis” dengan sebuah fenomena
sosial di Indonesia?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui tafsiran sampul buku “Mazhab Pendidikan Kritis” yang dapat
dipaparkan oleh penulis.
2. Untuk mengetahui poin-poin penting dari setiap bab dari buku “Mazhab
Pendidikan Kritis”.
3. Untuk mengetahui keterkaitan antar bab di dalam buku “Mazhab Pendidikan
Kritis”.
4. Untuk mengetahui refleksi buku “Mazhab Pendidikan Kritis” dengan sebuah
fenomena sosial di Indonesia menurut penulis.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Tafsiran Sampul Buku
Buku berjudul “Mazhab pendidikan kritis” ditulis oleh Dr.M. Agus nuryanto
pada tahun 2008 menawarkan pandangan alternatif di tengah mandulnya arus
pemikiran pendidikan. Agus Nuryatno mengelaborasi tiga basis teori yang melandasi
mazhab pendidikan kritis: mazhab Frankfurt, Gramsci, dan Freire.
Mazhab Frankfurt berakar dari tradisi Kant, Hegel, dan Marx. Yang utama
dari teori kritis ini adalah teori sosial harus memainkan peran altof dalam mengubah
dunia dan meningkatkan kondisi sosial kemanusiaan di masyarakat.
Sementara itu, Antonio Gramsci lebih memusatkan perhatian pada masalah
hegemoni; kondisi sosial di mana semua aspek realitas sosial dikonstruksi dan
didominasi oleh kelompok dominan (superior). Basis teori ketiga datang dari pakar
politik pendidikan, Paulo Freire. Keberpihakan pada kaum tertindas (the oppressed)
adalah poros utamanya.

2. Poin Penting Per Bab


 Bab 1 :
a. Mazhab Pendidikan Kritis adalah mazhab pendidikan yang meyakini adanya
muatan politik dalam semua aktivitas pendidikan, dalam diskursus pendidikan
disebut juga “aliran kiri” karena orientasinya berlawanan dengan mazhab liberal
dan konservatif.
b. Tujuan mazhab pendidikan kritis adalah memberdayakan kaum tertindas dan
mentranformasikan ketidakadilan sosial yang terjadi di masyarakat melalui media
pendidikan.
c. Mazhab pendidikan kritis berbasis pada keadilan dan kesetaraan. Sehingga
pendidikan tidak hanya berkutat pada pertanyan seputar sekolah, kurikulum, dan
kebijakan pendidikan, tapi juga tentang keadilan social dan kesetaraan. “kritik”
menjadi bahasa yang melekat dalam mazhab pendidikan kritis, dan bahkan dalam
mazhab ini , “language of critique” menjadi landasan berpijak untuk
mengonstruksi bangunan epistemologi dan praksisnya.
d. Salah satu tema pokok dalam mazhab pendidikan kritis adalah tentang
kapitalisme, karena pengaruhnya yang besar dalam kehidupan masyarakat
modern.
e. Dalam pendidikan kritis, pembelajaran ditekankan pada bagaimana memahami,
mengkritik, memproduksi, dan menggunakan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk
memahami realitas hidup dan mengubahnya.
f. Metode yang di pakai adalah kodifikasi dan dekodifikasi
g. Dalam pendidikan kritis, guru dianggap bukan satu-satunya sumber pemilik
otoritas kebenaran dan pengetahuan.
h. Ditekankan pada how to think daripada what to think. Karena dalam proses itulah
akan terjadi kritsisme, sharing ideas, saling menghargai dan assesent terhadap
pengetahuan.
i. Penekanan aspek how to think akan bisa terlaksana jika dalam pembelajarannya
menggunakan metode dialogis, bukan cerita, yang steril tanpa tujuan consensus
sehingga terjadi proses perbandingan dan refleksi yang membuat siswa berpikir
kritis.
j. Filsafat dasar pendidikan kritis berdasar pada asumsi bahwa : (a). manusia punya
kapasitas berkembang dan berubah karena punya potensi belajar. (b). manusia
punya panggilan ontologis dan historis untuk menjadi makhluk sempurna. (c).
manusia adalah makhluk praksis yang hidup secara autentik hanya terlihat dalam
transformasi dunia (colin:1993).

 Bab 2 :
a. Kritik dalam pengertian Freudian berarti refleksi atas konflik-konflik psikis yang
menghasilkan represi dan ketidakbebasan internal. Kritik dalam konteks Freudian
berupaya untuk membebaskan manusia dari irrasional menjadi rasional.
b. Kritik dalam pengertian Kantian berarti menyelidiki sejauh mana rasio manusia
mampu untuk menguji sah atau tidaknya klaim-klaim pengetahuan yang dianggap
benar.
c. Kritisme Kant yang bersifat transendental, netral, dan ahistoris dikritik oleh Hegel
sebab dia berpendapat bahwa pemikiran bukanlah satuan sintetik yang mekanis,
tetapi adalah sebuah kekontinuan yang ditandai oleh proses sintesis yang selalu
berkembang, bergerak, tumbuh, dan terus berubah.
d. Hegemoni di dalam pengertian Gramsci adalah “ a social condition in which all
aspects of social reality are dominated by or supportive of a single class”
(Livingstone 1976:235)
e. Konsep hegemoni bisa dipakai sebagai alat analisis untuk memahami mengapa
kelompok-kelompok subordinat secara sukarela mau berasimilasi ke dalam
pandangan dunia kelompok dominan,yang pada gilirannya membuat kelompok
menjadi mudah untuk terus melanggengkan dominasi dan kekuasaan mereka
f. Proses hegemoni melibatkan penetrasi dan sosialisasi nilai, keyakinan, sikap, dan
moralitas di masyarakat yang di mediasi oleh praktek-praktek sosial , poltik, dan
ideology
g. Proses hegemoni sebenarnya merupakan proses ‘pembelajaran’. Agen – agen yang
terlibat dalam hubungan edukatif ini institusi-institusi yang turut membentuk
masyarakat sipil , atau institusi-institusi sosial ideologis yang ikut mengkonstruksi
basis kultural kekuasaan , seperti hukum,pendidikan,agama,media massa, dan lain
sebagainya
h. Konsep hegemoni tidaklah eksklusif milik kelas borjuis,atau kelas dominan.
Dalam pandangan Gramsci , kelas pekerja bisa membangun hegemoninya sendiri
dengan cara membuat aliansi dengan kelompok-kelompok minoritas dan kekuatan
sosial yang lain berdasarkan prinsip saling menghormati
i. Seorang ilmuan yang berpendapat tentang filsafat manusia yaitu paulo freire, ia
berpendapat bahwa tidak ada teori pendidikan yang bisa dipisahkan dari konsep
tentang manusia, teori pendidikannya didasarkan pada keyakinan yang tinggi
terhadap manusia.
j. Freire menolak pandangan bahwa manusia itu bagaikan bejana. Menurutnya setiap
individu punya pengetahuan dan pendapat yang bernilai. Pandangannya yang
sangat optimistik tentang manusia adalah betapapun rendah nya kapasitas
intelektual dan naifnya manusia tetap diyakini punya kapasitas untuk melihat
secara kritis dunia mereka lewat dialog dan interaksi dengan manusia
k. Freire percaya bahwa manusia, sebagai makhluk yang tidak sempurna, punya
panggilan ontologisvdan historis untuk menjadi manusia yang lebih sempurna,
dimana yang artinya punya panggilan dari dalam diri manusia untuk
merealisasikan diri mereka lewat menamakan dunia dalam aksi-refleksi dengan
manusia lain.
l. Dalam pandangan freire, karakterisktik distigsif yang membedakan manusia
dengan binatang adalah kapasitas untuk berfikir, dimana memungkinkan mereka
terlibat di dunia dengan maksud dan tujuan yang jelas.dengan demikian manusia
mampu beraktifitas di dunia lewat aksi-refleksi dengan satu tujuan tertentu
m. Pandangan freire yang terlalu optimis terhadap manusia, menuai kritik dari elias,
bahwa pandangan freire terlalu berlebihan tentang manusia mengabaikan fakta
bahwa ada kesamaan yang eksis antara manusia dengan binatang. Adanya faktor
eksternal yang mempengaruhi tindakan manusia. Tidak jarang melihat tindakan
manusiavseperti binatang , ada 2 sisi di dalama diri manusia yang
mengorientasikan mereka untuk bertindak.
n. Freire juga dikritik karena optimistiknya yang berlebihan terhadap manusia yang
sudah terbebaskan. Seakan mereka selalu akan bertindak secara rasional dan
diberi kekuasaan seolah mereka akan menggunakannya secara bijaksana tanpa
penindasan, faktanya orang tertindas ketika terbebaskan dari penindasan tidak
jarang suatu ketika menjadi penindas bagi yang lain.
o. Kesadaran manusia pada dasarnya tumbuh bedasarkan lingkungan sekitarnya
(tafsiran Konsep Freire oleh Berger)
p. Kritikan Peter Berger di respon oleh Peter Robert yang berbunyi bahwa konsep
freire harus memiliki peletakan terhadap konteks atau situasi tertentu, dimana ia
pun mengambil kutipan dari pendapat Kevin Haris yang sangat mendukung
konsep freire. Pendapat Haris ialah setiap individu dapat mencapai tingkatan
kesadaran kritis, terlepas latar belakang status sosial mereka (diperlukannya
consciousness-raising untuk mewujudkannya).
q. Poin dari kritikan Peter Berger memungkinkan di latar belakangi dari pandangan
netralisasi praktek pendidikan dan pedagogy, dimana hal tersebut mendorong
orang menilai poin tersebut (konsep arkeologi freire) sebagai intervensi edukatif
sama dengan imposisi.
r. Walau kita harus respek terhadap beragam pandangan dan kulturasisasi, tetapi
tidak berarti bahwa praktek pendidikan harus netral dan tanpa ada satupun nilai
dipegang.
s. Menurut freire, pendidikan seharusnya menumbuhkan kesadaran kritis, bukannya
proses penumbuhan sosial politik, dimana orang-orang bersaing antar
kepentingan. Dalam pqndangannya, pendidikan seharusnya membuat kehidupan
publik, bukannya sekedar beradaptasi terhadap realitas sosial.
t. Kehidupan publik tercipta tergantung dari pendidiknya yang memilih caranya
dalam sistem pendidikannya yang kurang lebih sama dengan sistem politik.
Adalah absurd jika guru/dosen tersebut mengajarkan demokrasi tetapi menerapkan
sistem otoritas
u. Pemberian pengetahuan dapat dalam bentuk investor(guru) dan reciever
pasif(siswa) yang membuat guru mempunyai kontrol bebas terhadap siswa,
adapula bentuk pengetahuan praktis dimana peserta didik dapat menganalisa
kategori-kategori dan analisa-analisa yang membentuk realitas. Tetapi
pengetahuan tersebut gagal untuk mengembangkan suatu bentuk analisis dalam
mengidentifikasi hubungan antqra pengetahuan dan kekuasaan. Maka dari itu di
butuhkan bentuk pengetahuan emansipatoris yang dibentuk berdasarkan basis
kritik dan dan aksi.

 Bab 3 :
a. Sekolah, kapitalis dan budaya positivisme
“The neutraility of education is one of the fundamental connotations of the naïve
vision of education” (Paulo Freire, 1987:41). Penggeneralisasian pendidikan
adalah sesuatu hal yang mendasar dalam membuat pandangan pendidikan yang
naif. Maksudnya, menjadikan sesuatu hal sebagai standar dalam pendidikan,
dimana standar tersebut bersifat umum, maka akan terjadi kegagalan dalam
pendidikan. Kapitalisme telah meresap ke dunia pendidikan, lalu munculah
budaya positivism. Dengan demikian, aspek melihat dunia secara kritis
menghilang.tiga dampak kapitalisme terhadap pendidikan: Praktek-praktek
sekolah mendukung control ekonomi oleh kelas-kelas elit. Ilmu pengetahuan
bertujuan mendapatkan profit materialis. Menekankan nilai-nilai korporasi dengan
mengorbankan nilai-nilai keadilan social dan martabat kemanusiaan. Budaya
positivism melahirkan rasionalitas teknokratik, yang memiliki karakter
konformitas dan uniformitas. Konformitas: bersikap pasif dan adaptif terhadap
teks dan konteks. Uniformitas: menciptakan manusia dan masyarakat satu
dimensi. Rasionalitas teknoratik mendegradasi sikap kritis dari peserta didik, yang
membuat tidak adanya dialektika ilmu pengetahuan, sehingga tidak terjadi
knowledge production. Rasionalitas teknoratik juga membuat nilai nilai moral etis
tergantikan dengan nilai korporasi yang lebih pragmatis.Kurikulum adalah salah
satu media yang digunakan untuk mereproduksi kultur positivism yang dominan,
khususnya apa yang disebut kurikulum tersembunyi. Kurikulum tersembunyi di
sekolah merujuk kepada norma-norma, nilai-nilai dan sikap-sikap bawah sadar
yang sering ditransmisikan secara halus lewat relasi-relasi sosial di sekolah dan
kelas. Pembelajaran di bawah pengaruh budaya positivism pada akhirnya tidak
lebih dari mereka yang menganggap tahu segalanya kepada yang dianggap tidak
mengerti apa-apa. Hal ini disebabkan apa yang ditekankan dalam proses
pembelajaran adalah bagaimana memiliki dan mengakumulasi pengetahuan,
bukan bagaimana memahami, mengkritik, memproduksi dan menggunakan
pengetahuan sebagai alat untuk mengubah realitas (Paul Allman,
1990).Pengetahuan yang disampaikan di kelas tidak secara naif ditransfer begitu
saja tanpa melalui proses seleksi dan refleksi bersama antara guru dan murid.
Dalam mazhab pendidikan kritis, guru dan murid harus terlibat bersama-sama
dalam knowledge production.

b. Pendidikan sebagai media mobilitas social


Dalam prespektif mazhab pendidikan kritis, pendidikan dimaknai sebagai media
mobilitas kelas social. Apakah pendidikan mampu menjadi media untuk
memproduksi struktur social yang baruatau ia justru hanya mereproduksi struktur
social yang ada? Teori reproduksi berargumen bahwa nilai-nilai dan praktek-
praktek sekolah pada dasarnya cerminan dari organisasi ekonomi, misalnya: Guru
= manajer, mempunyai otoritas untuk menyusun agenda dan tujuan produksi
ekonomi. Murid = buruh, objek dalam pembuatan keputusan. Nilai = uang,
motivasi dan insentif. Dan lain lain. System ini hanya akan membuat anak-anak
dari golongan kelas menengah atas akan masuk kedalam golongan kelas social
yang sama ketika mereka nanti dewasa dan sebaliknya, inilah yang dinamakan
mereproduksi struktur social yang ada dan tidak adanya mobilitas social. Hal ini
disebabkan karena anak-anak golongan kelas atas memiliki capital untuk
mendapatkan pendidikan yang bagus dan fasilitas yang memadai, berbeda dengan
anak-anak kelas bawah. Dengan demikian, sesungguhnya sekolah hanya
mereproduksi posisi anak didik dan mempertahankan hirarki kelas social.

c. Ideologi kompetisi dan pendidikan


Salah satu implementasi neoliberalisme dalam dunia pendidikan ialah ideologi
kompetisi menjadi basis pendidikan. Kompetisi sebenarnya bisa memberikan
manfaat, tentu dengan syarat – syarat tertentu. Tetapi ketika kompetisi tidak
memenuhi syarat, maka dapat menimbulkan eksploitasi dan kontraproduktif bagi
individu. Ideologi kompetisi pada pendidikan juga membuat seorang pelajar
mengutamakan hasilnya saja bukan pada cara memperolehnya/prosesnya.
Sehingga seseorang berlomba-lomba untuk mendapatkan hasil yang baik
walaupun menggunakan cara yang salah.

d. Liberalisasi pendidikan
Liberalisasi di bidang ekonomi merambah ke wilayah pendidikan. Ini bisa dilihat
pada perpres nomor 77 tahun 2007 yang menyatakan bahwa pendidikan dasar dan
menengah, perguruan tinggi dan pendidikan nonformal dapat dimasuki oleh modal
asing. Ini mengindikasikan bahwa telah terjadi komersilisasi pendidikan. Ini
menjadikan pendidikan sebagai barang yang mahal. Akibatnya pendidikan yang
baik hanya bisa didapatkan oleh orang-rang yang mampu secara ekonomi saja.
Sedangkan, orang-orang yang ekonomi lemah tidak bisa mendapatkan pendidikan
yang layak karena keterbatasan ekonominya. Dalam hal ini Peran pemerintah
sangatlah penting terhadap terpenuhinya pendidikan setiap warga Negara.
Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menjalankan amanat UUD 1945
dalam hal “mencerdaskan kehidupan bangsa” dengan menyediakan pendidikan
yang layak ke semua warga negaranya.

e. Pendidikan Inklusif; Pendidikan Anti Diskriminasi


Pendidikan inklusif pada dasarnya adalah proses untuk membuat semua peserta
didik, termasuk didalamnya kelompok yang tereksklusi, dapat belajar dan
berpartisispasi secara efektif dalam sekolah mainstream tanpa ada yang terluka
dan terdiskriminasi. Tetapi realitanya, masih banyak terjadi diskriminasi pada
pendidikan. Contohnya di Afrika, kaum perempuan tereksklusi dari sekolah
mainstream yang ada. Mereka mendapatkan perlakuan yang tidak adil dalam
pendidikan. Akses mereka di bidang pendidikan sangat tidak sepadan dibanding
laki-laki.
Pendidikan inklusif dilandaskan pada beberapa prinsip :
a. Setiap orang inheren punya hak terhadap pendidikan atas dasar kesamaan
kesempatan
b. Tidak boleh ada individu yang terksklusi dan terdiskriminasi dalam
pendidikan dengan alasan apapun, baik itu ras,agama, dan lainnya
c. Semua individu pada dasarnya dapat belajar dan mendapat manfaat dari
pendidikan
d. Sekolah merupakan pihak yang bertanggung jawab untuk menyediakan
kebutuhan bagi pelajarnya, bukannya pelajar yang harus mengadaptasi
kebutuhan sekolah

 Bab 4 :
a. Pengamat dan praktisi pendidikan Islam perlu mempertimbangkan pernyataan
Paulo Freire yang menyatakan bahwa kita tidak cukup untuk menyatakan
pendidikan itu tindakan politik seperti pula kita tidak cukup untuk mengatakan
politik juga bermuatan edukatif, perlu adanya kesadaran akan sifat alamiah politik
dalam pendidikan.
b. Jika pendidikan Islam punya peran dialektis maka basis dari pendidikan Islam
adalah Idealisme, jika pendidikan Islam punya peran yang lebih besar dalam
membentuk kehidupan publik maka dan sebaliknya maka pendidikan Islam
didasarkan pada filsafat idealisme. Namun jika kehidupan publik yang berperan
maka pendidikan Islam didasarkan pada nilai pragmatis.
c. Konstruksi pendidikan Islam yang ideal didasarkan pada konsep etis-humanistik
yang akan melahirkan pengetahuan emansipatoris yang bisa digunakan dalam
memahami dan mendemitologi realitas sosial.
d. Dalam mengontruksi pengetahuan emansipatoris dalam pendidikan Islam perlu
mempertimbangkan tiga kategori pengetahuan menurut Habernas yaitu teknis,
praktis, dan emansipatoris.
e. Pemikiran Islam tidak mengalami perkembangan yang berarti sampai sekarang
disebabkan karena mereka menganut pengetahuan teknis dan praktis dari generasi
ke generasi yang sifatnya statis, tidak bisa dikritik, tidak berubah dan tidak
dikaitkan dengan kekuasaan.
f. Teori reproduksi menunjukkan adanya relasi antara pendidikan dengan
Ketidakadilan sosial, faktanya anak orang kaya pada umumnya akan kembali ke
status sosial terdahulunya ketika beranjak dewasa dikarenakan mereka
mempunyai modal berupa materi untuk mendapatkan pendidikan yang
berkualitas, sedangkan anak orang miskin jarang mendapatkan pendidikan yang
berkualitas dan pada umumnya hanya akan mendapatkan pendidikan seadanya
yang kualitasnya rendah sehingga status sosialnya kembali sama ketika beranjak
dewasa. Dapat disimpulkan bahwa keadaan ekonomi pada umumnya sangat
menentukan berkualitas atau tidaknya pendidikan yang kita dapatkan. Saat ini
pendidikan Islam masih terjebak dalam pendidikan yang bersifat reproduksi ini.
g. Pendidikan Islam bisa saja menjadi produktif karena institusi- pendidikan Islam
seperti pesantren, Madrasah dan lain-lain rata-rata peserta didiknya dari kelas
bawah, persepsi bahwa pendidikan berkualitas harus mahal harus dihilangkan
sebab pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang mampu mentransdensi
kelas sosial masyarakat bawah.
h. Pendidikan Islam masih bersifat segregatif yang belum memberikan perhatian
kepada kelompol difabel, padahal isu difabelitas ini telah menjadi isu penting
dalam pendidikan Islam yang memberikan keberpihakannya yang jelas.
Seharusnya pendidikan Islam memiliki keberpihakan kepada kaum difabelitas
sebagai kaum minoritas yang terekslusif.

3. Keterkaitan Per Bab


M. Agus Nuryatno mengelaborasi tiga basis teori yang melandasi mazhab
pendidikan kritis: mazhab Frankfurt, Gramsci, dan Freire. Mazhab Frankfurt berakar
dari tradisi Kant, Hegel, dan Marx. Yang utama dari teori kritis ini adalah teori sosial
harus memainkan peran altof dalam mengubah dunia dan meningkatkan kondisi sosial
kemanusiaan di masyarakat.
Sementara itu, Antonio Gramsci lebih memusatkan perhatian pada masalah
hegemoni; kondisi sosial di mana semua aspek realitas sosial dikonstruksi dan
didominasi oleh kelompok dominan (superior). Hegemoni ini terus didukung dan
diperkuat oleh institusi-institusi masyarakat sipil semacam hukum, agama, media
massa, termasuk pendidikan itu sendiri. Oleh karena itu, pendidikan sebenarnya
tidaklah netral, sebab ada muatan politis dan kepentingan yang bermain di dalamnya.
Basis teori ketiga datang dari pakar politik pendidikan, Paulo Freire.
Keberpihakan pada kaum tertindas (the oppressed) adalah poros utamanya. Kaum
tersebut bisa dilihat dari dua ciri: Pertama, mereka mengalami alienasi (keterasingan)
dari diri dan lingkungannya. Kedua, mereka mengalami self-depreciation (selalu
merasa bodoh). Maka, kaum tertindas tersebut perlu diemansipasi dengan kesadaran
kritis. Kesadaran ini bermaksud menjadikan manusia sebagai subyek ketimbang
obyek. Maka, pendidikan menurut Freire sinonim dengan pembebasan.
Budaya positivistik dalam pendidikan

Dominasi kapitalisme di berbagai ranah kehidupan, khususnya pendidikan


melahirkan budaya positivisme. Ilmu yang disuntikkan kepada peserta didik adalah
ilmu yang mengorientasikan mereka pada dunia industri. Cara mengajar dan apa yang
diajarkan di sekolah pun semata demi mengadaptasikan nilai-nilai dunia industri
kepada peserta didik. Pola pikir positivistik yang muncul adalah rasionalitas
teknokratik yang dicirikan dengan konformitas dan uniformitas. Konformitas
menghasilkan sikap pasif dan adaptif peserta didik terhadap teks (buku) dan konteks
(realitas) yang mendegradasi sifat kritis mereka. Sedangkan uniformitas
menciptakan—meminjam istilah Marcuse—pola pikir one-dimensional man and
society (manusia dan masyarakat satu dimensi).

Kaitannya dengan mobilitas sosial, pendidikan diharapkan mampu


meningkatkan taraf hidup peserta didik. Oleh karena itu, pendidikan yang berlangsung
harus bersifat produktif, bukan reproduktif. Sayangnya, selama ini sekolah-sekolah
masih berkutat pada aspek reproduktif. Sekolah-sekolah bermutu dan mahal
melanggengkan dominasi kelompok yang kuat kapital atas kelompok tertindas dan
lemah kapital.

4. Refleksi Dengan Sebuah Fenomena Sosial di Indonesia

Bagaimanakah kondisi Pendidikan di Indonesia saat ini?

Pendidikan di Indonesia saat ini pada realitanya masih belum dapat dikatakan
berkualitas dalam pemerataan pendidikan pada semua golongan. Nyatanya gologan
atas lebih memiliki peluang besar untuk mendapatkan pendidikan yang layak nan
berkualitas, sedangkan golongan bawah peluangnya lebih sedikit dan bahkan tidak
mendapatkan sama sekali. Banyak anak yang tidak memiliki kesempatan untuk
mengenyam bangku pendidikan formal, lagi-lagi permasalahannya disebabkan oleh
perbedaan kondisi ekonomi masing-masing. Seharusnya kita harus merubah
pengertian bahwa pendidikan berkualitas itu mahal yang hanya dapat dirasakan oleh
sebagian orang saja, namun pendidikan yang berkualitas itu adalah pendidikan yang
bisa di akses oleh semua orang tanpa melihat status mereka. Disinilah perlu adanya
sikap kritis terhadap masalah-masalah pendidikan yang sangat krusial saat ini untuk
menemukan benang merah dan dapat memberi solusi untuk permasalahan pendidikan
di Indonesia sekarang.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Mazhab Pendidikan Kritis adalah mazhab pendidikan yang meyakini adanya
muatan politik dalam semua aktivitas pendidikan, dalam diskursus pendidikan disebut
juga “aliran kiri” karena orientasinya berlawanan dengan mazhab liberal dan
konservatif. Tujuan mazhab pendidikan kritis adalah memberdayakan kaum tertindas
dan mentranformasikan ketidakadilan sosial yang terjadi di masyarakat melalui media
pendidikan. Ada tiga basis teori yang melandasi mazhab pendidikan kritis: mazhab
Frankfurt, Gramsci, dan Freire.