Anda di halaman 1dari 79

Rangkuman Isu Dominan Dalam PPKD Kabupaten/Kota

No Kabupaten/Kota Bidang Masalah Rekomendasi Catatan Khusus


1 Kota Palu Pelindungan Kurangnya bahan baku dan sarpras Mendorong terciptanya Mengarah pada inventarisasi dan
yang diperlukan bagi produksi dan mekanisme yang menjamin digitalisasi data OPK,
konservasi OPK serta tiadanya keberlanjutan pasokan bahan baku pembangunan sentra produksi
inventarisasi yang sistematis dan sarpras yang diperlukan bagi bahan baku OPK Pengetahuan
produksi dan konservasi OPK Tradisional dan Teknologi
serta inventarisasi yang sistematis Tradisional, serta pengadaan
sarpras seni yang dikelola lewat
sanggar dan Dewan Kesenian
Pengembangan Kurang berhasilnya adaptasi OPK Mendorong pengkajian dan Mengarah pada penyelenggaraan
dengan tuntutan zaman serta inisiatif yang mengarah pada perhelatan yang menampilkan
ketiadaan gedung pertunjukan penyelerasan OPK dengan OPK pada publik secara
terkait OPK Seni perkembangan zaman serta berkelanjutan
membangun gedung pertunjukan
untuk OPK Seni
Pemanfaatan Kurang termanfaatkannya OPK Memperkaya muatan lokal Mengarah pada sosialisasi
bagi kalangan muda berbasis OPK pemanfaatan OPK di lingkungan
sekolah dan keluarga
Pembinaan Lemahnya kapasitas SDM, Memperkuat kapasitas SDM, tata Mengarah pada penguatan
lembaga kebudayaan dan tiadanya kelola kelembagaan dan lembaga adat dan Dewan
produk hukum terkait OPK mendorong terciptanya produk Kesenian
hukum terkait OPK
2 Kabupaten Pelindungan Menguatnya stigma negatif Menghidupkan narasi positif di Mengarah pada pembentukan
Ponorogo masyarakat pada pelaku OPK masyarakat tentang pelaku OPK mekanisme dialog bersama lintas
terkait Reyog akibat prasangka terkait Reyog melalui dan agama untuk menyamakan
berbasis norma-norma agama dan kepercayaan serta membangun persepsi tentang pelestarian OPK
kurangnya bahan baku terkait sentra produksi bahan baku terkait terkait Reyog dan pembangunan
Reyog Reyog penangkaran merak, substisusi
kulit macan, dsb.
Pengembangan Kurangnya pengkajian atas OPK Menjalankan kajian tentang OPK Mengarah pada penguatan
terkait Reyog dan kurangnya terkait Reyog dan mengusahakan sanggar dan penyediaan tempat
tempat latihan dan pertunjukan sarpras terkat pelatihan dan pertunjukan Reyog di tiap

1
pertunjukan Reyog kecamatan
Pemanfaatan Tidak terintegrasinya OPK terkait Mendorong pemanfaatan OPK Mengarah pada terbitnya Perda
Reyog dalam kurikulum di sekolah terkait Reyog sebagai muatan tentang muatan lokal OPK terkait
lokal di sekolah dan tujuan wisata Reyog dan peningkatan frekuensi
pertunjukan Reyog
Pembinaan Kurang berjalannya regenerasi Mendorong sosialisasi OPK Mengarah pada kontekstualisasi
pelaku OPK terkait Reyog terkait Reyog di kalangan muda OPK terkait Reyog sehingga bisa
dinikmati kalangan muda
3 Kabupaten Blora Pelindungan Kurangnya inventarisasi, Mendorong penyusunan acuan Mengarah pada penyusunan buku
pemeliharaan dan publikasi terkait umum tentang OPK yang dapat Pedoman OPK sebagai acuan
OPK diakses masyarakat, sosialisasi utama masyarakat
pentingnya OPK di masyarakat
Pengembangan Kurangnya pengayaan keragaman Mendorong alih-rupa OPK ke Perhatian khusus diberikan pada
OPK yang diperkuat oleh interaksi dalam bentuk-bentuk yang mudah penyebarluasan budaya Samin ke
dengan budaya populer sehingga diterima masyarakat dalam masyarakat Blora dan
akibatnya tidak diminati pembuatan video games berbasis
masyarakat OPK Blora
Pemanfaatan Tidak terintegrasinya pengelolaan Mendorong pengembangan wisata Perhatian khusus diberikan pada
OPK dengan pemanfaatannya kuliner dan wisata sastra berbasis penyelenggaraan festival rutin di
dalam konteks pariwisata OPK seputar sosok Pramoedya Ananta
Toer, kandidat nobel sastra dari
Blora
Pembinaan Minimnya regulasi terkait OPK dan Mendorong proses legislasi Perhatian khusus diberikan pada
CB peraturan daerah terkait OPK dan regulasi terkait pemanfaatan obat-
CB obatan tradisional
4 Kota Pelindungan Kurangnya pendataan yang Mendorong inventarisasi OPK Perhatian khusus pada
Tanjungpinang sistematis dan dapat diakses publik yang sistematis, berkelanjutan dan pembangunan gedung
(tidak ada atas OPK serta tiadanya tempat dapat diakses publik serta pertunjukan di setiap kecamatan
rumusan masalah perhelatan kesenian yang reguler pembangunan tempat perhelatan
terkait CB) kesenian yang reguler
Pengembangan Benturan antara budaya tradisi Mendorong sosialisasi tentang arti Perhatian khusus pada upaya
dalam OPK dengan modernitas dan penting OPK di masa kini dan menangkal tuduhan syirik atas
ajaran agama belum membuahkan dialog dengan pemuka agama praktik budaya tradisi serta
sintesis baru yang dapat diterima untuk meningkatkan toleransi

2
oleh semua terhadap praktik tradisi
Pemanfaatan Belum adanya pemanfaatan OPK Mendorong terciptanya Menggaris-bawahi tidak adanya
dalam rangka pendidikan karakter mekanisme sinergi antara upaya muatan lokal serta industri
dan penguatan industri kecil pemajuan kebudayaan dan rumahan berbasis OPK daerah
pendidikan karakter di sekolah
serta pemanfaatan OPK dalam
industri kecil
Pembinaan Tidak tersedianya regulasi terkait Mendorong legislasi yang Perhatian khusus pada Perda
OPK dan representasi mengelola pemajuan kebudayaan tentang Lembaga Adat Melayu
kelembagaannya dan pembentukan lembaga yang dan pembentukan Pusat
memayungi para pelaku budaya di Kebudayaan Melayu
daerah
5 Kota Pontianak Pelindungan Kurangnya pendataan OPK secara Mendorong pendataan OPK Perhatian khusus pada upaya
terpadu, belum ada mekanisme secara berkelanjutan, sistematis sentralisasi manuskrip yang
pelibatan publik sebagai agen dan dapat diakses publik, tersebar di rumah warga
pelindungan OPK serta belum pelibatan publik dalam kerja
adanya gedung pertunjukan pelindungan serta penyediaan
gedung pertunjukan
Pengembangan Kurangnya upaya meningkatkan Mendorong pengayaan atas OPK Perhatian khusus pada upaya
relevansi OPK untuk menjawab untuk merespon tantangan zaman revitalisasi fungsi OPK yang peka
tantangan zaman, di satu sisi, tetapi sambil tetap mengusahakan pada konteks tradisionalnya
ada kekhawatiran untuk mendorong lestarinya nilai dan fungsi aslinya
asimilasi dan akulturasi dengan
budaya modern karena anggapan
bahwa OPK akan tergerus oleh
budaya modern (kehilangan nilai
dan fungsi aslinya)
Pemanfaatan Belum adanya mekanisme Mendorong mekanisme Perhatian khusus pada
pemanfaatan ekonomis atas OPK pemanfaatan ekonomis yang pemanfaatan OPK yang ramah
yang selaras dengan kepentingan memperkuat upaya pelindungan terhadap kepentingan
pelindungan OPK tersebut OPK pelindungan
Pembinaan Kurangnya jumlah dan mutu SDM Mendorong peningkatan jumlah Perhatian khusus pada tiadanya
kebudayaan serta tiadanya regulasi dan kapasitas SDM serta legislasi TACB daerah
yang mengelola pemajuan Perda terkait pemajuan

3
kebudayaan di daerah kebudayaan
6 Kota Pekalongan Pelindungan Belum adanya rujukan bersama Menyusun rujukan bersama Perhatian khusus pada upaya
berbasis data yang kredibel terkait berbasis data yang kredibel terkait menyusun pedoman kebudayaan
OPK OPK daerah yang merinci tiap OPK
Pengembangan Belum ada sintesis yang dapat Mendorong dialog antar Pperhatian khusus pada
diterima semua pihak antara pemangku kepentingan di bidang harmonisasi hubungan antara
berbagai segi budaya tradisi dan budaya tradisi dan keagamaan budaya tradisi dan agama
kepentingan agama serta mendorong munculnya
bentuk-bentuk perkawinan antara
aspek budaya tradisi dan agama
yang dapat diterima oleh semua
Pemanfaatan Belum terwujud ketersambungan Mendorong terwujudnya Perhatian khusus pada wisata
antara pengelolaan OPK dengan pengelolaan OPK yang berbasis kuliner
pemanfaatan pariwisata berorientasi pada pemanfaatan di
terhadapnya bidang pariwisata
Pembinaan Rendahnya tingkat regenerasi Mendorong peningkatan kapasitas Perhatian khusus pada
pelaku budaya terkait OPK serta generasi muda terkait OPK dan pelindungan hukum atas
belum adanya regulasi yang penciptaan regulasi yang pemanfaatan tanaman obat
menjamin pelindungan OPK di menjamin pelindungan OPK di
daerah daerah
7 Kota Pelindungan Lemahnya inventarisasi OPK dan Mendorong pencatatan OPK dan Perhatian khusus pada budidaya
Payakumbuh kurang terintegrasinya pelindungan perencanaan pelindungan OPK SDA yang menjadi bahan baku
(tidak ada OPK dengan pelindungan SDA yang memperhatikan ketersediaan OPK
rumusan masalah terkait bahan baku alaminya
terkait ritus, Pengembangan Tergerusnya peran OPK oleh Mendorong revitalisasi peran Perhatian khusus pada ekspresi
bahasa dan pengaruh modernisasi OPK untuk menjawab kebutuhan budaya tradisi yang unsur-
olahraga konkrit masyarakat di daerah unsurnya tergantikan oleh
tradisional) lewat pengkajian dan pengayaan perkakas modern (misalnya
keragaman Saluang berbasis organ tunggal)
Pemanfaatan Tidak termanfaatkannya OPK Mendorong mekanisme Perhatian khusus juga diberikan
untuk tujuan ekonomi pengelolaan OPK yang pada upaya internalisasi nilai-
memperhatikan aspek nilai adat
pemanfaatan ekonominya
Pembinaan Belum terwujud mekanisme Mendorong terwujudnya Perhatian khusus diberikan juga

4
regenerasi pelaku yang mekanisme regenerasi pelaku pada tiadanya CB yang ditetapkan
berkelanjutan yang berkelanjutan dan ketiadaan TACB daerah
8 Kabupaten Tana Pelindungan Tiadanya inventarisasi OPK dan Mendorong inventarisasi OPK Perhatian khusus pada stereotipe
Tidung negatifnya pandangan masyarakat dan sosialisasi tentang segi positif negatif tentang tradisi tolak bala
terhadap OPK OPK
Pengembangan Banyak OPK yang bila dijalankan Mendorong pengembangan OPK Perhatian khusus pada upaya
sesuai fungsi aslinya memakan untuk meningkatkan relevansinya membuat persilangan antara
biaya sangat besar dan kurang bagi kehidupan sehari-hari teknik pertanian tradisi dan
terlihat kegunaannya bagi modern
kehidupan masa kini
Pemanfaatan Belum ada mekanisme Mendorong pendidikan muatan Perhatian khusus juga diberikan
pemanfaatan lewat jalur pendidikan lokal berbasis OPK pada peningkatan frekuensi
di sekolah festival budaya
Pembinaan Tidak tersedianya sanggar atau Mendorong terbentuknya Perhatian khusus pada penguatan
pusat pelatihan komunitas seni dan sanggar-sanggar masyarakat sanggar kesenian
budaya
9 Kota Malang Pelindungan Belum optimalnya inventarisasi Mendorong inventarisasi OPK Perhatian khusus pada
OPK dan tidak adanya pusat secara terpadu dan membentuk penyelenggaraan Festival Musik
kegiatan seni dan budaya kawasan budaya di Kota Malang Nusantara di kawasan budaya di
kota Malang
Pengembangan Budaya urban modern menggerus Meningkatkan relevansi budaya Perhatian khusus pada revitalisasi
berbagai aspek budaya tradisi tradisi melalui pelibatan kebiasaan tradisi di masyarakat
pemangku kepentingan di bidang agar dipraktikkan kembali serta
budaya urban modern dalam alih wahana budaya tradisi ke
pengembangan budaya tradisi dalam aplikasi kekinian (seperti
video game)
Pemanfaatan Kurang tersambungnya aktivitas Mendorong ketersambungan Perhatian khusus pada perlunya
budaya tradisi dengan pemanfaatan aktivitas budaya tradisi dengan pelaksanaan rangkaian festival
ekonomi pemanfaatan ekonomi seni dan budaya yang terprogram
dan berkelanjutan
Pembinaan Ketidakteraturan pengelolaan Meningkatkan tata kelola sanggar Perhatian khusus juga diberikan
sanggar dan lembaga seni serta dan lembaga seni serta budaya pada penetapan Perda terkait
budaya pemajuan kebudayaan di Kota
Malang

5
10 Kota Cirebon Pelindungan Lemahnya inventarisasi dan Mendorong terwujudnya Perhatian khusus pada
mekanisme pemeliharaan terpadu inventarisasi dan mekanisme pembentukan bank data motif
terkait OPK pemeliharaan terpadu terkait OPK Cirebon
Pengembangan Lemahnya inovasi atas pakem Mendorong pengayaan Perhatian khusus pada upaya
terkait OPK dan penyesuaian keragaman pakem OPK dan pelibatan pelaku dunia kreatif
dengan tuntutan zaman kontekstualisasi dengan tuntutan (seni rupa) dalam inovasi OPK
zaman
Pemanfaatan Belum adanya usaha menjembatani Mendorong pengelolaan OPK Perhatian khusus pada
pengelolaan OPK dan yang memperhatikan pemanfaatan OPK melalui
kemungkinan pemanfaatan kemungkinan pemanfaatan festival budaya yang terprogram
ekonominya ekonominya dan berkesinambungan
Pembinaan Lemahnya tata kelola CB dan Memperkuat tata kelola CB dan Perhatian khusus pada penguatan
lembaga seni dan budaya lembaga seni dan budaya kapasitas dan tata kelola sanggar
seni serta pembentukan TACB
daerah
11 Kota Bukittinggi Pelindungan Lemahnya inventarisasi OPK serta Mendorong inventarisasi OPK Perhatian khusus pada
(tidak ada belum optimalnya pelibatan dan pelibatan masyarakat dalam pengumpulan OPK sehingga
rumusan masalah masyarakat dalam kerja upaya pelindungan OPK dapat diakses secara langsung
terkait teknologi pelindungan OPK oleh publik
tradisional) Pengembangan Belum tersedianya ruang-ruang Mendorong terbentuknya ruang- Perhatian khusus pada
pameran/pertunjukan terkait OPK ruang pameran/pertunjukan pembangunan gedung kesenian
untuk tujuan penyebarluasan dan terkait OPK untuk tujuan bukan hanya sebagai tempat
pengayaan keragaman penyebarluasan dan pengayaan pertunjukan/pameran tetapi juga
keragaman pengkajian
Pemanfaatan Lemahnya upaya pemanfaatan Mendorong tumbuhnya industri Perhatian khusus pada
ekonomi OPK yang berbasis pada rumahan berbasis OPK pengelolaan Hak Kekayaan
industri rumahan Intelektual masyarakat berbasis
OPK
Pembinaan Kurangnya wawasan tentang Mendorong sosialisasi dan Perhatian khusus pada pelatihan
khazanah adat dan tradisi termasuk pengayaan wawasan para adat bagi organisasi perangkat
di kalangan pengambil kebijakan pengambil kebijakan terkait daerah serta penyusunan Perda
khazanah adat dan tradisi hukum adat
12 Kota Bogor Pelindungan Lemahnya inventarisasi OPK dan Mendorong inventarisasi dan Perhatian khusus pada ritus dan
Benturan antara budaya tradisi sosialisasi OPK serta dialog yang kelompok penghayat kepercayaan

6
terkait OPK dan pandangan meningkatkan toleransi kaum
keagamaan agama terhadap praktik tradisi
terkait OPK
Pengembangan Tergerusnya nilai-nilai terkait OPK Mendorong revitalisasi nilai-nilai Perhatian khusus diberikan pada
akibat benturan budaya modern OPK agar menjawab kebutuhan kurangnya apresiasi masyarakat
serta kurangnya keterpaparan masa kini dan menciptakan pada seni akibat jarangnya
masyarakat pada OPK rangkaian perhelatan yang perhelatan kesenian
meningkatkan keterpaparan
masyarakat pada OPK
Pemanfaatan Kurang tersambungnya OPK Mendorong pemanfaatan ekonomi Perhatian khusus pada
dengan pemanfaatan ekonomi kreatif atas OPK pengintegrasian nilai dan aspek
kreatif kekinian OPK ke dalam wahana kekinian
yang dapat dipasarkan
Pembinaan Kurangnya regulasi yang mengatur Mendorong terciptanya regulasi Perhatian khusus pada upaya
pemajuan kebudayaan di daerah yang diperlukan untuk pemajuan memetakan regulasi yang sudah
serta lemahnya tingkat regenerasi kebudayaan serta mendorong ada dan yang dibutuhkan dalam
pelaku budaya peningkatan jumlah dan kapasitas rangka pemajuan
pelaku budaya
13 Kota Bengkulu Pelindungan Lemahnya pendataan terkait OPK Menjalankan pendataan OPK dan Perhatian khusus pada kesulitan
(tidak ada dan kelangkaan bahan baku dalam mengusahakan kesinambungan bahan baku alat musik tradisi
rumusan masalah OPK bendawi pasokan bahan baku OPK
spesifik) bendawi
Pengembangan Lemahnya kajian sistematis yang Mendorong sinergi antar lembaga Perhatian khusus pada pengkajian
dapat memetakan asal-usul dan yang memungkinkan kajian kuliner tradisional Kota Bengkulu
kekhasan setiap OPK sistematis atas setiap OPK
Pemanfaatan Kurang termanfaatkannya OPK Mendorong pemanfaatan OPK Tidak ada catatan khusus karena
secara ekonomi maupun untuk untuk tujuan kesejahteraan tidak tergambar dalam dokumen
ketahanan budaya masyarakat dan ketahanan budaya PPKD
Pembinaan Lemahnya tatakelola lembaga Mendorong penguatan tatakelola Perhatian khusus pada
terkait OPK dan CB lembaga terkait OPK dan CB kelembagaan CB
14 Kota Banjar Pelindungan Belum adanya pendataan sistematis Mendorong pendataan sistematis Perhatian khusus pada pemetaan
atas OPK yang berkelanjutan dan atas OPK yang berkelanjutan dan para ahli yang membidangi OPK
dapat diandalkan dapat diandalkan
Pengembangan Kurang berjalannya penyelarasan Mendorong rekontekstualisasi Perhatian khusus pada dialog
7
antara budaya tradisi dan budaya budaya tradisi dalam praktik antar kelompok budaya yang
modern sehingga budaya tradisi hidup kekinian sehingga berbeda
nampak tidak relevan menjawab membuatnya beragam dan
persoalan hidup sehari-hari berguna menjawab persoalan
hidup sehari-hari
Pemanfaatan Kurang berjalannya pemanfaatan Mendorong pemanfaatan OPK Perhatian khusus pada
OPK untuk menopang tata hidup untuk menopang tata hidup yang pemanfaatan manuskrip sebagai
yang harmonis dengan kelestarian harmonis dengan kelestarian sumber inspirasi untuk
lingkungan lingkungan mewujudkan harmoni antara
kehidupan religus, sosial dan
lingkungan alam
Pembinaan Lemahnya dukungan peraturan Memperkuat dukungan peraturan Perhatian khusus pada
perundangan atas usaha pemajuan perundangan atas usaha pemajuan penyusunan Perda yang
kebudayaan di daerah kebudayaan di daerah mengelola pengetahuan
tradisional
15 Kota Bandung Pelindungan Belum optimalnya pendataan OPK Mendorong optimalisasi Perhatian khusus pada
yang sistematis dan berkelanjutan pendataan OPK yang sistematis penyimpanan dan pemeliharaan
serta konsolidasinya dalam sebuah dan berkelanjutan melalui sebuah OPK benda seperti manuskrip
museum atau pusat arsip museum atau pusat arsip serta perlunya museum seni
Pengembangan Sudah banyak pengkajian tentang Mendorong konsolidasi kajian Perhatian pada pengelolaan
OPK tetapi terserak dan tidak OPK dalam sebuah rangkaian kebijakan pemajuan kebudayaan
terkonsolidasi dalam sebuah upaya kerja yang sistematis dan berbasis kajian OPK
yang sistematis dan berkelanjutan berkelanjutan
Pemanfaatan Pemanfaatan seni dan budaya Mendorong terbentuknya Perhatian khusus pada seni
sudah banyak tapi tidak terangkai platform pemanfaatan seni dan pertunjukan dan seni rupa
dalam suatu platform yang budaya yang berkesinambungan
berkesinambungan dan terprogram dan terprogram
Pembinaan Menyusutnya pelaku budaya tradisi Mendorong peningkatan jumlah Perhatian khusus pada pentingnya
karena akar kebudayaannya dan kapasitas pelaku budaya penyelenggaraan festival budaya
tergerus oleh budaya urban modern tradisi lewat perhelatan publik yang bertujuan membina para
yang memikat pelaku (berfungsi sebagai
benchmark)
16 Kota Ambon Pelindungan Lemahnya pendataan OPK yang Mendorong pendataan OPK Perhatian khusus pada musik dan
berkelanjutan secara sistematis dan branding Ambon sebagai City of

8
berkelanjutan Music
Pengembangan Tergerusnya budaya tradisi oleh Mengembangkan aspek-aspek Perhatian khusus pada teknologi
gelombang modernisasi budaya tradisi yang dapat digital
diselaraskan dengan budaya
modern
Pemanfaatan Lemahnya pemanfaatan OPK untuk Mendorong pemanfaatan OPK Perhatian khusus pada pembuatan
penguatan ketahanan budaya untuk penguatan ketahanan kalender perhelatan seni dan
budaya melalu kegiatan publik budaya secara reguler
yang terprogram
Pembinaan Lemahnya sinergi antara para Mendorong kegiatan bersama Perhatian khusus pada pembuatan
pelaku dan pengambil kebijakan yang menumbuhkan sinergi antara strategi kebudayaan jangka
terkait OPK para pelaku dan pengambil pendek yang lebih banyak
kebijakan terkait OPK melibatkan pemangku
kepentingan
17 Kabupaten Pelindungan Lemahnya inventarisasi, Mendorong inventarisasi, Perhatian khusus pada usaha
Tulungagung pemeliharaan, pengamanan dan pemeliharaan, pengamanan dan konservasi bahan baku untuk
publikasi terkait OPK dan CB publikasi terkait OPK dan CB produksi OPK
Pengembangan Lemahnya pengkajian, pengayaan Mendorong kerja kebudayaan Perhatian khusus pada dialog
keberagaman dan penyebar luasan lintas OPK untuk memperkaya antara bentuk-bentuk bduaya
OPK keragamannya dan meningkatkan tradisi dan budaya modern
penyebarannya
Pemanfaatan Kurang tersambungnya Mendorong kebijakan yang Perhatian khusus pada
pengelolaan OPK dengan memberikan insentif pada pemanfaatan terkait jamu
pemanfaatan ekonomi maupun pemanfaatan ekonomi atas OPK
pemanfaatan untuk peningkatan oleh masyarakat kecil
ketahanan budaya masyarakat
Pembinaan Lemahnya tata kelola kelembagaan Menciptakan mekanisme Perhatian khusus pada upaya
pelaku dan pengelola budaya yang pengelolaan lembaga pelaku dan memperbanyak pelatihan bagi
mengakibatkan tidak adanya pengelola kebudayaan yang para pengampu kepentingan
mekanisme peningkatan kapasitas kondusif bagi peningkatan bidang budaya
para pelaku dan regenerasinya kapasitas para pelaku dan
regenerasinya
18 Kabupaten Pelindungan Diambil alihnya peran sentral Mendorong pelindungan budaya Perhatian khusus pada
Tasikmalaya budaya tradisi dalam memberikan tradisi lewat inventarisasi yang pemasyarakatan kembali OPK

9
orientasi hidup masyarakat oleh sistematis dan berkelanjutan serta yang selama ini cenderung
budaya modern dan persepsi dialog-dialog antar budaya dalam terlupakan
keagamaan yang tidak peka rangka pemeliharaan budaya
konteks tradisi
Pengembangan Budaya tradisi kehilangan Mendorong usaha terpadu untuk Perhatian khusus pada upaya
relevansinya untuk menjawab memberi peran baru budaya revitalisasi fungsi OPK dalam
tantangan zaman modern tradisi dalam kehidupan masyarakat
masyarakat di masa modern
Pemanfaatan Tidak ada mekanisme yang Mendorong terciptanya Perhatian khusus pada usaha
mengelola ketersambungan antara mekanisme pengelolaan OPK menerapkan OPK sebagai bagian
OPK dan pariwisata yang tersambung dengan dari pengembangan potensi
pariwisata daerah dan penyelenggaraan
festival secara reguler
Pembinaan Lemahnya regulasi, kebijakan dan Memperkuat regulasi, kebijakan Perhatian khusus pada pemetaan
anggaran dalam rangka pemajuan dan anggaran dalam rangka regulasi dan kebijakan budaya di
kebudayaan pemajuan kebudayaan tingkat Pusat dan daerah
19 Kabupaten Tanah Pelindungan Lemahnya inventarisasi terhadap Mendorong inventarisasi terhadap Perhatian khusus pada sulitnya
Datar OPK dan banyaknya praktik terkait OPK dan menyelenggarakan mengubah persepsi masyarakat
OPK yang ditinggalkan masyarakat kegiatan publik terkait OPK atas OPK yang dianggap terlalu
sakral untuk dipelihara secara
terpusat oleh pemerintah
kabupaten
Pengembangan Kurangnya pengkajian yang Mendorong terciptanya Perhatian khusus pada kurangnya
sistematis tentang OPK yang mekanisme pengkajian sistematis tenaga ahli daerah dalam
menjawab persoalan pelindungan tentang OPK yang menjawab pengkajian OPK
dan pemanfaatannya persoalan pelindungan dan
pemanfaatannya
Pemanfaatan Belum ada mekanisme Mendorong terciptanya Perhatian khusus pada kurangnya
pemanfaatan ekonomi atas OPK mekanisme pemanfaatan ekonomi sarana dan prasarana pemanfaatan
yang berkelanjutan atas OPK yang berkelanjutan
Pembinaan Belum optimalnya mekanisme Mendorong mekanisme Perhatian khusus pada sosialisasi
regenerasi pelaku budaya regenerasi pelaku budaya dengan dan pelibatan generasi muda
dukungan kebijakan, anggaran sebagai calon pelaku budaya di
dan regulasi yang memadai masa depan

10
20 Kabupaten Pelindungan Usaha inventarisasi dan Mendorong sosialisasi yang Perhatian khusus pada peliknya
Tabanan pemeliharan terkendala oleh mengarah pada penguatan upaya usaha konservasi manuskrip
anggapan tentang kesakralan OPK inventarisasi dan pemeliharaan lontar yang tersebar di rumah
OPK secara terpadu warga
Pengembangan Kerumitan tatacara penggunaan Mendorong penyederhanaan Perhatian khusus pada
OPK dalam hidup sehari-hari tatacara penggunaan OPK pengelolaan subak dan
membuatnya tidak digunakan sehingga mudah dikerjakan dan penyederhanaan ritus ngaben
berguna bagi hidup sehari-hari
Pemanfaatan Tidak meratanya kesempatan para Mendorong pemerataan akses Perhatian khusus pada penciptaan
pelaku seni dan budaya dalam para pelaku seni dan budaya kesetaraan kesempatan antar
menampilkan karyanya untuk memanfaatkan keahliannya daerah untuk menampilkan karya
budayanya
Pembinaan Lemahnya tata kelola lembaga Mendorong penguatan tata kelola Perhatian khusus pada lembaga
yang mengampu OPK lembaga yang mengampu OPK seni dan pelibatan generasi muda
21 Kabupaten Pelindungan Kurangnya pelibatan publik dalam Mendorong pelibatan publik Perhatian khusus pada rendahnya
Sumedang kerja pelindungan OPK dalam kerja pelindungan OPK apresiasi publik atas OPK,
terutama seni
Pengembangan Tidak berkembangnya budaya Mendorong pelibatan publik Perhatian khusus pada rendahnya
tradisi akibat rendahnya dalam pengembangan OPK wawasan masyarakat tentang
keterlibatan masyarakat dalam dengan fokus pada pengayaan berbagai budaya yang ada di
kerja pengelolaannya keberagamannya melalui interaksi sekeliling mereka
antarbudaya
Pemanfaatan Kalah bersaingnya produk berbasis Memperkuat keterpaparan Perhatian khusus pada penguatan
OPK dibandingkan produk budaya masyarakat pada produk berbasis kurikulum muatan lokal
populer dalam pemanfaatan sehari- OPK
harinya
Pembinaan Tidak adanya dukungan regulasi Mendorong terciptanya regulasi Perhatian khusus pada
yang menjamin kelangsung budaya yang menjamin kelangsung pengesahan Perda tentang
tradisi dan pemajuan kebudayaan budaya tradisi dan pemajuan warisan budaya
kebudayaan
22 Kabupaten Perlindungan Kurangnya inventarisasi, Mendorong penyusunan acuan Mengarah pada penyusunan buku
Sumbawa pemeliharaan dan publikasi terkait umum tentang OPK yang dapat pedoman OPK sebagai acuan
OPK diakses masyarakat, sosialisasi utama masyarakat
tentang pentingya OPK di

11
masyarakat
Adanya stigma negatif terhadap Melakukan pendekatan secara Menetralisasi stigma negatif
OPK Manuskrip dan Adat Istiadat kekeluargaan untuk adanya dialog terhadap opk Manuskrip dan Adat
di antara tokoh agama, tokoh Istiadat
masyarakat, maupun praktisi
supranatural
Pengembangan Kurangnya pengayaan keragaman Pengkajian OPK tradisi yang Perhatian khusus diberikan pada
OPK yang tidak mampu dapat diterapkan bersama dengan bahasa Samawa
beradaptasi dengan perkembangan teknologi modern.
modernitas
Pemanfaatan Kurang termanfaatkannya OPK Memperkaya muatan lokal Sosialisasi pemanfaatan OPK di
bagi kalangan muda berbasis OPK lingkungan sekolah dan keluarga
Pembinaan Lemahnya kapasitas SDM, Mendorong terciptanya regulasi Mengarah pada penguatan
lembaga kebudayaan, dan perlindungan OPK lembaga adat
ketiadaan regulasi terkait OPK
23 Kabupaten Perlindungan Kurangnya inventarisasi, Mendorong penyusunan acuan Mengarah pada penyusunan buku
Sumbawa Barat pemeliharaan dan publikasi terkait umum tentang OPK yang dapat pedoman OPK sebagai acuan
OPK diakses masyarakat, sosialisasi utama masyarakat
tentang pentingya OPK di
masyarakat
Pengembangan Kurangnya pengayaan keragaman Pengkajian terhadap potensi OPK Perhatian khusus diberikan pada
OPK yang tidak mampu yang memiliki manfaat ekonomi Pengetahuan Tradisional
beradaptasi dengan perkembangan
modernitas
Pemanfaatan Kurang termanfaatkannya OPK Memperkaya muatan lokal Sosialisasi pemanfaatan OPK di
bagi kalangan muda berbasis OPK lingkungan sekolah dan keluarga
24 Kabupaten Perlindungan Kurangnya inventarisasi, Mendorong penyusunan acuan Mengarah pada penyusunan buku
Sukamara pemeliharaan dan publikasi terkait umum tentang OPK yang dapat pedoman OPK sebagai acuan
OPK diakses masyarakat, sosialisasi utama masyarakat
tentang pentingya OPK di
masyarakat
Pengembangan Kurangnya pengayaan keragaman Pengkajian OPK tradisi yang Mengarah pada upaya penciptaan
OPK yang tidak mampu dapat diterapkan bersama dengan aplikasi permainan tradisional
beradaptasi dengan perkembangan teknologi modern.
12
modernitas
Pemanfaatan Kurang dimanfaatkannya OPK bagi Memperbanyak festival terkait Sosialisasi pemanfaatan OPK di
kalangan muda OPK dengan melibatkan kalangan lingkungan sekolah dan di ruang
muda, dan memperkaya muatan ruang publik
lokal dalam pendidikan
Pembinaan Lemahnya kapasitas SDM, Mendorong terciptanya regulasi Mengarah pada penyediaan Pusat
lembaga kebudayaan, dan perlindungan OPK Kegiatan Seni Budaya
ketiadaan regulasi terkait OPK
25 Kabupaten Perlindungan Kurangnya inventarisasi, Mendorong penyusunan acuan Mengarah pada penyusunan buku
Sukabumi pemeliharaan dan publikasi terkait umum tentang OPK yang dapat pedoman OPK sebagai acuan
OPK diakses masyarakat, sosialisasi utama masyarakat
tentang pentingya OPK di
masyarakat
Pengembangan Kurangnya pengayaan keragaman Pengkajian OPK tradisi yang Mengarah pada upaya
OPK yang tidak mampu dapat diterapkan bersama dengan membangun ruang-ruang dialog
beradaptasi dengan perkembangan teknologi modern, dan lintas agama dan kepercayaan
modernitas bersentuhan dengan kebutuhan yang melibatkan kaum muda
generasi muda
Pemanfaatan Kurang dimanfaatkannya OPK Mereproduksi OPK untuk Mengarah pada upaya
untuk kepentingan pendidikan dan kepentingan pendidikan dan pemberdayaan ekonomi
pariwisata pariwisata masyarakat berbasis kebudayaan
Pembinaan Lemahnya kapasitas SDM, Mendorong terciptanya regulasi Mengarah pada penyediaan Pusat
lembaga kebudayaan, dan perlindungan OPK Kegiatan Seni Budaya
ketiadaan regulasi terkait OPK
26 Kabupaten Perlindungan Belum optimalnya Membentuk tim penyusun acuan Mengarah pada penyusunan buku
Subang inventarisasi dan penelusuran umum tentang OPK yang dapat pedoman OPK sebagai acuan
secara mendalam terhadap OPK diakses masyarakat, sosialisasi utama masyarakat
beserta analisa konten yang tentang pentingya OPK di
terkandung di dalamnya masyarakat
Pengembangan Kurangnya pengayaan keragaman Memperbanyak sumber referensi Mengarah pada upaya
OPK yang tidak mampu terkait OPK, berikut membangun membangun ruang-ruang dialog
beradaptasi dengan perkembangan perpustakaan untuk ruang diskusi lintas generasi
modernitas OPK
Pemanfaatan Kurang dimanfaatkannya OPK Mereproduksi OPK untuk Mengarah pada upaya
13
untuk kepentingan pendidikan dan kepentingan pendidikan dan pemberdayaan ekonomi
pariwisata pariwisata masyarakat berbasis kebudayaan
Pembinaan Lemahnya kapasitas SDM, Mendorong terciptanya regulasi Mengarah pada penyediaan Pusat
lembaga kebudayaan, dan perlindungan OPK Kegiatan Seni Budaya
ketiadaan regulasi terkait OPK
Merancang program yang
representatif dalam kegiatan
pembinaan SDM OPK
27 Kabupaten Solok Perlindungan Kurangnya inventarisasi, Mendorong penyusunan acuan Mengarah pada penyusunan buku
Selatan pemeliharaan dan publikasi terkait umum tentang OPK yang dapat pedoman OPK sebagai acuan
OPK diakses masyarakat, sosialisasi utama masyarakat
tentang pentingya OPK di
masyarakat
Pengembangan Kurangnya pengayaan keragaman Pengkajian OPK tradisi yang Perhatian khusus diberikan pada
OPK yang tidak mampu dapat diterapkan bersama dengan pengetahuan tradisional dan
beradaptasi dengan perkembangan teknologi modern. teknologi tradisional
modernitas
Pemanfaatan Kurang dimanfaatkannya OPK Mereproduksi OPK untuk Mengarah pada upaya
untuk kepentingan pariwisata kepentingan pariwisata pemberdayaan ekonomi
masyarakat berbasis kebudayaan
Pembinaan Lemahnya kapasitas SDM, Mendorong terciptanya regulasi Mengarah pada upaya paten atas
lembaga kebudayaan, dan perlindungan OPK teknologi tradisional kincir air
ketiadaan regulasi terkait OPK
28 Kabupaten Perlindungan Kurangnya inventarisasi, Mendorong penyusunan acuan Mengarah pada penyusunan buku
Sleman pemeliharaan dan publikasi terkait umum tentang OPK yang dapat pedoman OPK sebagai acuan
OPK diakses masyarakat, sosialisasi utama masyarakat
tentang pentingya OPK di
masyarakat
Pengembangan Kurang terorganisirnya program- Sinkronisasi program di antara Mengarah pada upaya membuat
program pengembangan baik untuk para pemangku kepentingan road map pemeliharaan dan
kebutuhan pendidikan maupun kebudayaan agar program pengembangan OPK
untuk pariwisata pemeliharaan dan pengembangan
OPK berjalan secara sistematik
Pemanfaatan Kurang terkelolanya berbagai Sinkronisasi program Perlu adanya road map
14
aktivitas ekonomi kebudayaan pemberdayaan ekonomi pemberdayaan ekonomi melalui
kebudayaan di antara para pemanfaatan OPK
pemangku kepentingan
Pembinaan Terbatasnya wawasan dan Peningkatan keterampilan, Mengarah pada upaya membuat
kreativitas pelaku budaya keahlian, dan wawasan program-program pembinaan dan
pelaku seni/pekerja seni, dan pelatihan
pelestari budaya.
29 Kabupaten Perlindungan Kurangnya inventarisasi, Mendorong penyusunan acuan Mengarah pada penyusunan buku
Sintang pemeliharaan dan publikasi terkait umum tentang OPK yang dapat pedoman OPK sebagai acuan
OPK diakses masyarakat, sosialisasi utama masyarakat
tentang pentingya OPK di
masyarakat
Pengembangan Kurangnya pengayaan keragaman Pengkajian OPK tradisi yang Perhatian khusus diberikan pada
OPK yang tidak mampu dapat diterapkan bersama dengan pengetahuan tradisional dan
beradaptasi dengan perkembangan teknologi modern. teknologi tradisional
modernitas
Pemanfaatan Belum dimanfaatkannya OPK Mereproduksi OPK untuk Mengarah pada upaya
untuk kepentingan pendidikan dan kepentingan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat baik
pariwisata pariwisata untuk tujuan pendidikan maupun
tujuan ekonomi
Pembinaan Lemahnya kapasitas SDM, Mendorong terciptanya regulasi Mengarah pada upaya paten atas
lembaga kebudayaan, dan perlindungan OPK teknologi tradisional kincir air
ketiadaan regulasi terkait OPK
30 Kabupaten Perlindungan Kurangnya inventarisasi, Mendorong penyusunan acuan Mengarah pada penyusunan buku
Sijunjung pemeliharaan dan publikasi terkait umum tentang OPK yang dapat pedoman OPK sebagai acuan
OPK, berikut kurangnya anggaran diakses masyarakat, sosialisasi utama masyarakat
pemerintah terhadap kebudayaan tentang pentingya OPK di
masyarakat
Pengembangan Kurangnya pengayaan keragaman Pengkajian OPK tradisi yang Perhatian khusus diberikan pada
OPK yang tidak mampu dapat diterapkan bersama dengan pengetahuan tradisional dan
beradaptasi dengan perkembangan teknologi modern. teknologi tradisional
modernitas, dan kurangnya
perhatian pemerintah terhadap
masalah ini.

15
Pemanfaatan Belum dimanfaatkannya OPK Mereproduksi OPK untuk Mengarah pada upaya
untuk kepentingan pendidikan dan kepentingan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat baik
pariwisata, berikut pengalokasian pariwisata untuk tujuan pendidikan maupun
anggaran untuk pembangunan tujuan ekonomi
fasilitas kebudayaan
Pembinaan Lemahnya kapasitas SDM, Mendorong terciptanya regulasi
lembaga kebudayaan, dan perlindungan OPK
ketiadaan regulasi terkait OPK
31 Kabupaten Perlindungan Kurangnya inventarisasi, Mendorong penyusunan acuan Mengarah pada penyusunan buku
Sidenreng pemeliharaan dan publikasi terkait umum tentang OPK yang dapat pedoman OPK sebagai acuan
Rapang OPK, berikut kurangnya anggaran diakses masyarakat, sosialisasi utama masyarakat
pemerintah terhadap kebudayaan tentang pentingya OPK di
masyarakat
Pengembangan Kurangnya pengayaan keragaman Pengkajian OPK tradisi yang Perhatian khusus diberikan pada
OPK yang tidak mampu dapat diterapkan bersama dengan bahasa dan aksara Bugis
beradaptasi dengan perkembangan teknologi modern.
modernitas
Pemanfaatan Kurang termanfaatkannya OPK Memperkaya muatan lokal Sosialisasi pemanfaatan OPK di
bagi kalangan muda berbasis OPK lingkungan sekolah dan keluarga
Pembinaan Lemahnya kapasitas SDM, Mendorong terciptanya regulasi Mengarah pada penguatan
lembaga kebudayaan, dan perlindungan OPK lembaga adat
ketiadaan regulasi terkait OPK
32 Kabupaten Sarmi Perlindungan Kurangnya inventarisasi, Mendorong penyusunan acuan Mengarah pada penyusunan buku
pemeliharaan dan publikasi terkait umum tentang OPK yang dapat pedoman OPK sebagai acuan
OPK, berikut kurangnya anggaran diakses masyarakat, sosialisasi utama masyarakat
pemerintah terhadap kebudayaan tentang pentingya OPK di
masyarakat
Pengembangan Kurangnya fasilitas pengembangan Penyediaan fasilitas
budaya daerah pengembangan budaya daerah
Pemanfaatan Belum dimanfaatkannya OPK Menyelenggarakan festival- Mengarah pada upaya
untuk kepentingan pendidikan festival budaya untuk kepentingan pemberdayaan masyarakat untuk
pendidikan tujuan pendidikan
Pembinaan Lemahnya kapasitas SDM, Mendorong terciptanya regulasi
lembaga kebudayaan, dan perlindungan OPK
16
ketiadaan regulasi terkait OPK
33 Kabupaten Perlindungan Kurangnya inventarisasi, Menyusun program inventarisasi Mengarah pada pembentukan
Samosir pemeliharaan dan publikasi terkait dan dokumentasi OPK sistem data OPK
OPK
Pengembangan Belum adanya upaya untuk Menyusun program-program Mengarah pada upaya
mengkaji OPK, baik untuk tujuan kajian dan penerjemahan konten memperluas akses masyarakat
pendidikan maupun tujuan OPK agar bersesuaian dengan pada OPK
ekonomi kebutuhan generasi muda
Pemanfaatan Belum adanya perhatian Menyusun program Mengarah pada upaya fasilitasi
pemerintah terhadap para pelaku pemberdayaan ekonomi bagi para pemerintah untuk pelaku budaya
budaya pelaku budaya berikut sarana prasarana
kebudayaan
Pembinaan Lemahnya kapasitas SDM, Menyusun program fasilitasi Mengarah pada upaya
lembaga kebudayaan, dan Workshop, lokakarya, dan membangun kebudayaan daerah
ketiadaan regulasi terkait OPK pembinaan melalui sanggar-
sanggar.
34 Kota Tidore Perlindungan Kurangnya inventarisasi, Mendorong penyusunan acuan Mengarah pada penyusunan buku
Kepulauan pemeliharaan dan publikasi terkait umum tentang OPK yang dapat pedoman OPK sebagai acuan
OPK diakses masyarakat, sosialisasi utama masyarakat
tentang pentingya OPK di
masyarakat
Pengembangan Kurangnya pengayaan keragaman Pengkajian OPK tradisi yang Perhatian khusus diberikan pada
OPK yang tidak mampu dapat diterapkan bersama dengan adat istiadat Tidore
beradaptasi dengan perkembangan teknologi modern.
modernitas
Pemanfaatan Kurang termanfaatkannya OPK Memperkaya muatan lokal Sosialisasi pemanfaatan OPK di
bagi kalangan muda berbasis OPK lingkungan sekolah dan keluarga
Pembinaan Lemahnya kapasitas SDM, Mendorong terciptanya regulasi Mengarah pada penguatan
lembaga kebudayaan, dan perlindungan OPK lembaga adat
ketiadaan regulasi terkait OPK
35 Kabupaten Perlindungan Kurangnya inventarisasi, Mendorong penyusunan acuan Mengarah pada penyusunan buku
Penajam Paser pemeliharaan dan publikasi terkait umum tentang OPK yang dapat pedoman OPK sebagai acuan
Utara OPK diakses masyarakat, sosialisasi utama masyarakat
tentang pentingya OPK di
17
masyarakat
Pengembangan Kurangnya pengayaan keragaman Pengkajian OPK tradisi yang Perhatian khusus diberikan pada
OPK yang tidak mampu dapat diterapkan bersama dengan adat istiadat Tidore
beradaptasi dengan perkembangan teknologi modern.
modernitas
Pemanfaatan Kurang termanfaatkannya OPK Memperkaya muatan lokal Sosialisasi pemanfaatan OPK di
bagi kalangan muda berbasis OPK lingkungan sekolah dan keluarga
Pembinaan Lemahnya kapasitas SDM, Mendorong terciptanya regulasi Mengarah pada penguatan
lembaga kebudayaan, dan perlindungan OPK lembaga adat
ketiadaan regulasi terkait OPK
36 Kabupaten Perlindungan Kurangnya inventarisasi, Mendorong penyusunan acuan Mengarah pada penyusunan buku
Pemalang pemeliharaan dan publikasi terkait umum tentang OPK yang dapat pedoman OPK sebagai acuan
OPK diakses masyarakat, sosialisasi utama masyarakat
tentang pentingya OPK di
masyarakat
Pengembangan Kurangnya pengayaan keragaman Pengkajian OPK tradisi yang Perhatian khusus diberikan pada
OPK yang tidak mampu dapat diterapkan bersama dengan adat istiadat Tidore
beradaptasi dengan perkembangan teknologi modern.
modernitas
Pemanfaatan Kurang termanfaatkannya OPK Memperkaya muatan lokal Sosialisasi pemanfaatan OPK di
bagi kalangan muda berbasis OPK lingkungan sekolah dan keluarga
Pembinaan Lemahnya kapasitas SDM, Mendorong terciptanya regulasi Mengarah pada penguatan
lembaga kebudayaan, dan perlindungan OPK lembaga adat
ketiadaan regulasi terkait OPK
37 Kabupaten Pati Perlindungan Kurangnya inventarisasi, Mendorong penyusunan acuan Mengarah pada penyusunan buku
pemeliharaan dan publikasi terkait umum tentang OPK yang dapat pedoman OPK sebagai acuan
OPK diakses masyarakat, sosialisasi utama masyarakat
tentang pentingya OPK di
masyarakat
Pengembangan Kurangnya pengayaan keragaman Pengkajian OPK tradisi yang
OPK yang tidak mampu dapat diterapkan bersama dengan
beradaptasi dengan perkembangan teknologi modern.
modernitas
Pemanfaatan Kurang termanfaatkannya OPK Memperkaya muatan lokal Sosialisasi pemanfaatan OPK di
18
bagi kalangan muda berbasis OPK lingkungan sekolah dan keluarga
Pembinaan Lemahnya kapasitas SDM, Mendorong terciptanya regulasi
lembaga kebudayaan, dan perlindungan OPK
ketiadaan regulasi terkait OPK
38 Kabupaten Perlindungan Kurangnya inventarisasi, Mendorong penyusunan acuan Mengarah pada penyusunan
Pangandaran pemeliharaan dan publikasi terkait umum tentang OPK yang dapat sistem data OPK
OPK diakses masyarakat, sosialisasi
tentang pentingya OPK di
masyarakat
Pengembangan Kurangnya pengayaan keragaman Pengkajian OPK tradisi yang
OPK yang tidak mampu dapat diterapkan bersama dengan
beradaptasi dengan perkembangan teknologi modern.
modernitas
Pemanfaatan Kurang termanfaatkannya OPK Memperkaya muatan lokal Sosialisasi pemanfaatan OPK di
bagi kalangan muda berbasis OPK lingkungan sekolah dan keluarga
Pembinaan Lemahnya kapasitas SDM, Mendorong terciptanya regulasi Mengarah pada penguatan
lembaga kebudayaan, dan perlindungan OPK Lembaga Adat
ketiadaan regulasi terkait OPK
39 Kabupaten Perlindungan Kurangnya inventarisasi, Mendorong penyusunan acuan Mengarah pada penyusunan
Padang Pariaman pemeliharaan dan publikasi terkait umum tentang OPK yang dapat sistem data OPK, berikut
OPK diakses masyarakat, sosialisasi pembuatan referensi visual untuk
tentang pentingya OPK di sosialisasi OPK
masyarakat
Pengembangan Kurangnya pengayaan keragaman Pengkajian OPK tradisi yang Mengarah pada pembuatan
OPK yang tidak mampu dapat diterapkan bersama dengan aplikasi digital untuk OPK
beradaptasi dengan perkembangan teknologi modern. Permainan Rakyat
modernitas
Pemanfaatan Kurang termanfaatkannya OPK Memperkaya muatan lokal Sosialisasi pemanfaatan OPK di
bagi kalangan muda berbasis OPK, berikut lingkungan sekolah, keluarga, dan
penyelenggaraan festival-festial publik.
budaya
Pembinaan Lemahnya kapasitas SDM, Mendorong terciptanya regulasi
lembaga kebudayaan, dan perlindungan OPK
ketiadaan regulasi terkait OPK
19
40 Kabupaten Perlindungan Kurangnya inventarisasi, Membentuk tim riset untuk Mengarah pada penyusunan
Nganjuk pemeliharaan dan publikasi terkait inventarisasi dan publikasi OPK sistem data OPK
OPK
Pengembangan Kurangnya pengayaan keragaman Populerisasi OPK melalui media Mengarah pada upaya
OPK yang tidak mampu publikasi yang dekat dengan membangun ruang ruang dialog
beradaptasi dengan perkembangan generasi muda publik terkait OPK Tradisi
modernitas
Membangun wacana publik
tentang OPK yang dianggap tabu
atau yang memiliki stigma negatif
Pemanfaatan Kurang termanfaatkannya OPK Memperkaya muatan lokal Sosialisasi pemanfaatan OPK di
bagi kalangan muda berbasis OPK lingkungan sekolah dan keluarga
Pembinaan Lemahnya kapasitas SDM, Mendorong terciptanya regulasi Mengarah pada pelibatan semua
lembaga kebudayaan, dan perlindungan OPK pemangku kepentingan
ketiadaan regulasi terkait OPK kebudayaan
Mendorong adanya pelatihan
ketrampilan pembuatan OPK
kepada generasi muda
41 Kabupaten Ngada Perlindungan Kurangnya inventarisasi, Mendorong penyusunan acuan Mengarah pada penyusunan buku
pemeliharaan dan publikasi terkait umum tentang OPK yang dapat pedoman OPK sebagai acuan
OPK diakses masyarakat, sosialisasi utama masyarakat
tentang pentingya OPK di
masyarakat
Pengembangan Kurangnya pengayaan keragaman Pengkajian potensi OPK tradisi Perhatian khusus diberikan pada
OPK yang tidak mampu yang dapat diterapkan bersama OPK Pengetahuan Tradisional,
beradaptasi dengan perkembangan dengan teknologi modern, guna Teknologi Tradisional dan
modernitas peningkatan kualitas OPK Permainan Rakyat
Pemanfaatan Kurang termanfaatkannya OPK Memperkaya muatan lokal Sosialisasi pemanfaatan OPK di
bagi kalangan muda berbasis OPK, berikut lingkungan sekolah, keluarga, dan
penyelenggaraan festival-festial publik.
budaya
Pembinaan Lemahnya kapasitas SDM, Mendorong terciptanya regulasi Mengarah pada pembentukan
lembaga kebudayaan, dan perlindungan OPK lembaga SDM Kebudayaan
ketiadaan regulasi terkait OPK
20
42 Kabupaten Muna Perlindungan Kurangnya inventarisasi, Mendorong penyusunan acuan Mengarah pada penyusunan buku
pemeliharaan dan publikasi terkait umum tentang OPK yang dapat pedoman OPK sebagai acuan
OPK diakses masyarakat, sosialisasi utama masyarakat
tentang pentingya OPK di
masyarakat
Pengembangan Kurangnya pengayaan keragaman Pengkajian OPK tradisi yang Perhatian khusus diberikan pada
OPK yang tidak mampu dapat diterapkan bersama dengan OPK Seni
beradaptasi dengan perkembangan teknologi modern.
modernitas
Pemanfaatan Kurang termanfaatkannya OPK Memperkaya muatan lokal Sosialisasi pemanfaatan OPK di
bagi kalangan muda berbasis OPK lingkungan sekolah dan keluarga
Pembinaan Lemahnya kapasitas SDM, Mendorong terciptanya regulasi Mengarah pada penguatan
lembaga kebudayaan, dan perlindungan OPK lembaga adat dan komunitas
ketiadaan regulasi terkait OPK budaya
43 Kabupaten Pelindungan Kurangnya inventarisasi, Mendorong upaya-upaya Perhatian khusus perlu diberikan
Mempawah pemeliharaan, pengamanan, dan inventarisasi, pemeliharaan, kepada OPK dan CB yang
publikasi terkait OPK dan CB serta pengamanan, dan publikasi terkait dianggap terhalang pelestariannya
pelestarian OPK dan CB terhalang OPK dan CB yang sistematis dan oleh arus modernisasi.
oleh modernisasi. tepat sasaran serta mendorong
nilai-nilai positif OPK dan CB
yang bermanfaat tidak hanya
untuk kehidupan hari ini tetapi
juga di masa mendatang.
Pengembangan Kurangnya pengetahuan dan minat Mendorong pengembangan studi, Perhatian khusus pengembangan
masyarakat akan OPK dan CB reaktualisasi dan penyebarluasan OPK dan CB didorong melalui
akibat arus modernisasi; pengetahuan OPK dan CB integrasi pendidikan perihal OPK
Kurangnya sarana dan prasarana melalui pendidikan; Mendorong dan CB melalui kurikulum
penunjang bagi OPK dan CB munculnya sarana dan prasarana sekolah (muatan lokal) yang
penunjang OPK dan CB. mana bisa dilakukan dengan baik
melalui kerjasama Perguruan
Tinggi, Lembaga Adat,
Komunitas Budaya, serta
Pemerintah Daerah dan
pemangku kepentingan lainnya

21
Pemanfaatan - - -
Pembinaan Belum banyaknya lembaga khusus Mendorong pembektukkan Perhatian khusus perlu diberikan
yang mewadahi OPK dan CB. Jika lembaga yang mewadahi OPK pada regenerasi pelaku dan ahli
pun ada, peran dan kapasitasnya dan CB dan memperkuat peran bidang OPK dan CB; terkhusus
sangat lemah; Berkurangnya dan kapasitas lembaga yang sudah pada seni tradisional.
jumlah pegiat dan pelaku OPK dan ada; Upaya regenerasi dalam
CB; Minimnya pemahaman, rangka pelestarian OPK dan CB;
pengetahuan serta skill generasi Mengintegrasikan OPK dan CB di
muda di Kabupaten Mempawah dalam pendidikan sekolah
terkait OPK dan CB. (muatan lokal).
44 Kabupaten Pelindungan Perlu diberi perhatian khusus
Majalengka Kurangnya upaya inventarisasi, Memperkuat dan memperluas terhadap OPK dan CB yang mulai
pemeliharaan, pengamanan dan upaya inventarisasi, hilang lantaran modernisasi dan
publikasi bagi OPK dan CB yang pemeliharaan, pengamanan, atau terbentur nilai agama.
juga disebabkan oleh dan publikasi OPK dan CB
modernisasi; Pengamanan atas serta mendorong terbitnya
OPK dan CB dari pemerintah produk hukum terkait
dalam bentuk produk hukum pun pengamanan OPK dan CB.
masih kurang.
Pengembangan Mengadakan sosialisasi yang Perlu diberi perhatian khusus
Minat dan perhatian yang berkala melalui pelbagai kegiatan pengembangan dalam hal
semakin menipis di kalangan dalam rangka memperkuat dan sosialisasi di bidang pendidikan,
anak sekolah dan masyarakat memperluas pemahaman atas terkhusus menyasar anak sekolah.
pada OPK dan CB serta OPK dan CB baik di tengah
kurangnya sarana dan prasarana masyarakat mau pun di kalangan
yang menunjang OPK dan CB. sekolah.
Pemanfaatan Semakin jarangnya pemanfaatan Mengintegrasikan nilai-nilai yang Bagian pemanfaatan ini lebih
OPK dan CB yang sesungguhnya terkandung di dalam OPK dan CB condong pada pemanfaatan OPK
memuat nilai-nilai yang baik di di dalam pendidikan demi dan CB di dalam konteks muatan
kalangan pendidikan membangun karakter berbasis lokal demi menunjang karakter
kebudayaan. siswa.
Pembinaan Perhatian perlu diberikan kepada
upaya regenerasi bagi para pelaku
OPK dan CB yang jumlahnya
22
Semakin berkurangnya para Mendorong upaya reaktualisasi semakin menipis.
pelaku dan yang memahami dan regenerasi para pelaku
perihal OPK serta CB yang OPK dan CB .
seiring sejalan dengan lemanya
kecintaan dan upaya pelestarian
OPK dan CB di kalangan
masyarakat.
45 Kabupaten Pelindungan Kurangnya inventarisasi dan Mendorong upaya pencatatan dan Adanya penekanan khusus pada
Lumajang pencatatan atas OPK dan CB yang inventarisasi yang serius atas pembentukan tim ahli Cagar
seiring dengan kurangnya OPK dan CB serta upaya Budaya Kabupaten Lumajang.
regenerasi pelaku OPK dan CB. regenerasi yang serius terhadap
para pelaku OPK dan CB.
Pengembangan Minimnya pengetahuan dan Mendorong upaya penyebarluasan Adanya penekanan pada hendak
apresiasi pada OPK dan CB serta pengetahuan seputar OPK dan CB menjadikan Tari Godril sebagai
pengembangan yang ke luar dari di kalangan masyarakat baik ikon serta musik dangdut klasik
pakem dari beberapa OPK dan CB. melalui teks, pembangunan sebagai Warisan Budaya Tak
ruang-ruang apresiasi, sekolah, Benda kabupaten.
maupun festival berkala.
Pemanfaatan Semakin kurangnya pelaku OPK Mendorong pemanfaatan yang Penekanan pada pemanfaatan
lantaran kurangnya pemanfaatan lebih meluas atas OPK baik ludruk sebagai edukasi serta
pada OPK dimaksud, sehingga melalui event atau pun pendidikan peningkatan ekonomi pengrajin
menggantungkan diri pada profesi demi meningkatkan nilai-nilai layang-layang melalui event
tersebut tidak menguntungkan karakter pada siswa sekaligus layang-layang yang reguler
secara ekonomi. juga mendorong perbaikan
ekonomi para pelaku OPK.
Pembinaan Minimnya generasi yang mau Mendorong upaya yang lebih Penekanan pada pelatihan intensif
melanjutkan kerja-kerja seputar sistematis pada regenerasi pada generasi muda.
OPK dan CB. terkhusus pada OPK yang
pelakunya sudah semakin langka.
46 Kabupaten Pelindungan Keamanan OPK dan CB Mendorong pemerintah untuk Penekanan pada komunikasi dan
Lombok Barat mengkhawatirkan serta para pelaku merancang upaya pelestarian dan peran Dewan Kesenian Daerah
OPK dan CB semakin berkurang. penyelamatan OPK dan CB serta sebagai mitra pemerintah dalam
upaya regenerasi pelaku melalui upaya perlindungan ini.
pembentukan dan penguatan

23
lembaga terkait OPK dan CB.
Pengembangan Semakin berkurangnya para Mendorong OPK dan CB sebagai Penekanan pada penguatan OPK
pengakses dan pencinta OPK dan bagian dari kurikulum pendidikan dan CB melalui muatan lokal di
CB. sekolah serta sosialisasi di sekolah-sekolah yang ditetapkan
masyarakat melalui event-event melalui regulasi pemerintah.
yang berhubungan dengan OPK.
Pemanfaatan OPK dan CB kalah bersaing Mendorong pemerintah untuk Penekanan lebih ditujukan pada
dengan hal-hal yang bersifat menjadikan OPK dan CB sebagai Teknologi Tradisional sebagai
modern yang menjadi penggantinya agenda pariwisata. agenda pariwisata.
di tengah masyarakat.
Pembinaan Minimnya para pelaku dan Mendorong kerja sama dan -
ketertarikan generasi muda pada penguatan kapasitas lembaga
OPK dan CB yang semakin terkait seperti Dewan Kesenian
menipis. Daerah dan atau Dewan
Kebudayaan.
47 Kabupaten Pelindungan Kurangnya upaya pengamanan, Mendorong upaya revitalisasi, Penekanan pada upaya revitalisasi
Lingga pendataan, dan revitalisasi terhadap pengamanan, penyelamatan dan terhadap lingkungan penunjang
OPK dan CB. pendataan terhadap OPK dan CB OPK dan CB.
disertai dengan produk hukum
pelindungan atasnya.
Pengembangan Kurangnya pemahaman, kajian, Mendorong pendidikan, kajian, Penekanan pada kurikulum
pendidikan, dan event masyarakat pengadaan even, eksplorasi baru muatan lokal dan pembangunan
atas OPK dan CB. berhubungan dengan OPK dan Sekolah Menengah Seni.
CB.
Pemanfaatan Belum ada program terencana Mendorong program terencana Penekanan pada pembangunan
dalam konteks perekonomian dan dalam konteks perekonomian dan sentra terpadu OPK yang bisa
kurangnya institusi serta sentra institusi serta membangun sentra dimanfaatkan sebagai salah satu
terpadu terkait OPK dan CB. terpadu terkait OPK dan CB destinasi pariwisata.
untuk meningkatkan keperluan
akademik dan menunjang
pariwisata.
Pembinaan Belum ada wadah; Kerjasama Mendorong penciptaan wadah; Penekanan pada beasiswa bagi
dengan stakeholder yang kurang; memfasilitasi kerjasama antar putra daerah agar menjadi ahli di
Tidak adanya ahli di bidang OPK stakeholder; serta fasilitasi untuk bidang OPK dan CB serta

24
dan CB serta lembaga yang ada menghasilkan para ahli, dan penguatan Lembaga Adat
belumlah kuat. penguatan lembaga yang ada Melayu.
terkait OPK dan CB.
48 Kabupaten Lanny Pelindungan Kurangnya upaya inventarisasi Mendorong penganggaran yang
Jaya yang berjalan bersama dengan lebih baik pada permasalahan
semakin menipisnya perhatian OPK dan CB sehingga bisa
masyarakat pada OPK dan CB serta mendorong adanya upaya
penganggaran yang minim pada inventarisasi yang lebih baik.
urusan OPK dan CB.

Pengembangan Semakin menipisnya perhatian Mendorong upaya integrasi OPK


generasi muda terhadap OPK dan dan CB ke dalam kurikulum
CB. pendidikan melalui Muatan
Lokal.
Pemanfaatan - - -
Pembinaan Kurangnya perhatian pada para Mendorong upaya regenerasi dan
pelaku dan ahli di bidang OPK dan pendampingan serta penguatan
CB yang jumlahnya pun tidak bisa pada para pelaku dan ahli di
dikatakan banyak. bidang OPK dan CB.
48 Kabupaten Pelindungan Kurangnya pemeliharaan, perhatian Perlu diadakan pendataan dan Pendorongan terhadap
Landak masyarakat, serta kurangnya biaya pemetaan terhadap OPK dan CB konsentrasi pendataan dan
dalam konteks OPK dan CB. yang lebih konprehensif, perlu pemetaan yang lebih
dibuat Perda terkait OPK dan CB. konprehensif atas OPK dan CB
perlu menjadi perhatian.
Pengembangan Kurangnya biaya dan perhatian dari Mendorong politik penganggaran Perhatian utama perlu diberikan
Pemerintah Daerah; Kurangnya terkait OPK dan CB yang lebih kepada infrastruktur jalan menuju
sarana dan prasarana; Serta belum baik; Penyediaan sarana dan CB sehingga pengembangan bisa
adanya mata pelajaran pendidikan prasarana terkait OPK dan CB; dilakukan lebih baik.
terkait OPK dan CB di satuan Mendorong muatan lokal perihal
pendidikan. OPK dan CB di satuan
pendidikan.
Pemanfaatan - - -
Pembinaan Kurangnya biaya pembinaan Mendorong pembiayaan serta Perhatian utama pada kerjasama
terhadap SDM yang menandakan perhatian pemerintah pada yang baik antara pemerintah dan

25
kurangnya perhatian Pemerintah pembinaan atas SDM terkait OPK pelaku OPK dan CB serta
Daerah terhadap para pelaku dan CB; Mendorong kerjasama stakeholder lainnya.
bidang OPK dan CB; Tidak adanya yang baik antara pemerintah
kerjasama yang baik antara dengan pelaku di bidang OPK dan
pemerintah dengan para pelaku CB serta stakeholder lainnya.
OPK dan CB serta stakeholder
lainnya.
49 Kabupaten Pelindungan Semakin berkurangnya Mendorong upaya penyebaran Ada penekanan pada upaya
Kepulauan penggunaan, perawatan serta informasi terkait OPK dan CB; menanggulangi masalah
Selayar minimnya informasi terkait OPK Revitalisai OPK dan CB; terancamnya ritual akibat agama
dan CB di dalam masyarakat Pengupayaan fasilitasi dalam modern serta ketidakpahaman
lantaran adanya modernitas yang rangka keamanan OPK dan CB. masyarakat atas manuskrip.
bisa mengakibatkan kepunahan
OPK tertentu.
Pengembangan Perhatian dan pengetahuan generasi Mendorong terintegrasinya OPK Penekanan perlu diberikan pada
muda khususnya dan masyarakat dan CB di dalam pendidikan pemahaman masyarakat dalam
umumnya pada OPK dan CB melalui muatan lokal; soal manuskrip.
semakin minim ditambah lagi Pelaksanaaan even-even terkait
dengan ketiadaan event terkait OPK; Pendampingan dan
OPK. pelatihan kepada masyarakat
terkait OPK dan CB.
Pemanfaatan - - -
Pembinaan Kurang adanya lembaga yang Mendorong terbentuknya Penekanan pada pembentukan
konsentrasi kerjanya menunjang lembaga-lembaga tingkat lembaga adat perlu diberi
OPK dan CB. kabupaten dalam konteks OPK perhatian khusus.
dan CB (seperti Dewan Kesenian,
Dewan Kebudayaan, Lembaga
Adat, dan Tim Ahli Cagar
Budaya).
50 Kabupaten Pelindungan Belum adanya regulasi, upaya Mendorong pembuatan regulasi Penekanan pada regulasi hukum
Kayong Utara pendokumentasian, penyebaran terkait OPK dan CB serta yang memayungi OPK dan CB.
informasi terkait OPK dan CB. mendorong inventarisasi dan
penyebaran informasi terkait OPK
dan CB.

26
Pengembangan Belum ada sarana dan prasarana Mendorong pembangunan sarana Penekanan pada pembelajaran
yang memadai, jarangnya even, dan prasarana OPK dan CB; musik senggayong di sekolah
serta kurangnya perhatian anak Mendorong terselenggaranya serta rekomendasi mendirikan
muda terhadap masalah terkait even-even OPK dan CB yang baik Sekolah Menengah Seni sebagai
OPK dan CB. dan reguler; Mengintegrasikan peningkatan SDM perlu
perihal OPK dan CB ke dalam diperhatikan.
kurikulum sekolah; Mendorong
kajian yang lebih mendalam
terkait OPK dan CB.
Pemanfaatan Melemahnya nilai-nilai di dalam Mendorong OPK dan CB menjadi Penekanan pada warisan sejarah
OPK dan CB akibat pengaruh bagian dari pendidikan demi dan cagar dari Kerajaan Sukadana
negatif yang berkembang di meningkatkan karakter dan Kerajaan Simpang yang ada
masyarakat serta lemahnya masyarakat serta mengupayakan di dalam wilayah kabupaten.
pemanfaatan OPK dan CB pemanfaatan OPK dan CB
meskipun daerah kaya dengan itu. sebagai destinasi wisata.
Pembinaan Kurangnya kerjasama lembaga Mendorong kerjasama lembaga
adat, komunitas seni budaya, dan adat, komunitas seni budaya, dan
masyarakat dalam upaya pemajuan masyarakat dalam pemajuan OPK
OPK dan CB. dan CB.
51 Kabupaten Kaur Pelindungan Lemahnya pendataan dan juga Mendorong upaya pendataan- Regenerasi pelaku sangat
pengetahuan dan perhatian pendokumentasian yang lebih ditekankan dan perlu diperhatikan
masyarakat seputar OKP dan CB sistematis serta sosialisasi yang perihal ritus yang terancam punah
akibat modernitas ditambah dengan gencar, termasuk sosialisasi akibat berbenturan dengan agama.
semakin sedikit dan berusia perihal ketidakberbenturannya
lanjutnya para pelaku OPK. ritus dan agama, atas OPK dan
CB.
Pengembangan Jumlah pelaku OPK dan CB rata- Mendorong terintegrasinya OPK Penekanan pada Tari Kuntau,
rata berusia lanjut dan semakin dan CB di dalam kurikulum Tari Dewa Sembilan, dan Tari
berkurang serta hilangnya rasa sekolah serta sosialisasi yang Dundang yang perlu diupayakan
cinta masyarakat dan generasi lebih gencar dan menarik diajarkan di sekolah-sekolah.
muda terhadap OPK dan CB. perhatian tentang OPK dan CB
pada generasi muda.
Pemanfaatan Meski pun kaya dan berpotensi Mendorong pemanfaatan OPK Penekanan pada pemanfaatan
OPK yang ada di daerah, tetapi yang sesungguhnya bisa masakan tradisional sebagai

27
upaya pemanfaatannya masih meningkatkan kesejahteraan wisata kuliner yang sehat dan
sangat kurang. masyarakat dalam bidang bergizi.
ekonomi dan kesehatan.
Pembinaan Para pelaku berusia lanjut dan Mendorong adanya program- Keadaan sanggar-sanggar yang
berjumlah sedikit diiringi dengan program regenerasi yang hidup enggan mati tak mau perlu
lunturnya rasa cinta generasi muda sistematis dengan bantuan dana segera diberdayakan.
pada OPK dan CB. yang signifikan pada sanggar-
sanggar seni budaya yang ada.
52 Kabupaten Pelindungan Belum teridentifikasi dan Mendorong identivikasi, Perlu diperhatikan secara serius
Katingan terdokumentasi secara pendokumentasian yang beberapa adat istiadat dan ritus
komprehensipnya OPK dan CB; komprehensif terhadap OPK dan yang pelestariannya terhalang
SDM dari OPK dan CB yang masih CB; Melakukan restrukturisasi pandangan religiusitas sosial yang
kurang akibat modernitas; Serta secara fill-in budaya lokal dengan menganggapnya sebagai
kurangnya pelindungan hukum nilai ajaran agama dalam konteks animisme dinamisme serta
terhadap OPK dan CB. ritus dan adat istiadat; rekomendasi perihal
Mengidupkan kembali ekosistem pembentukan tim identifikasi,
OPK; Mendorong pelindungan dokumentasi, dan validasi OPK
hukum bagi OPK dan CB. dan CB.
Pengembangan Semakin kurangnya pemahaman Mendorong terintegrasinya OPK Perlu penekanan kegiatan
masyarakat serta kurangnya dan CB di dalam kurikulum sosialisasi perihal tidak
ketertarikan generasi muda yang sekolah; Mendorong pengkajian bertentangannya OPK serta CB
juga berdampak langsung pada nilai-nilai dan relevansi OPK dan dengan agama.
regenerasi pelaku OPK dan CB CB untuk kehidupan masa kini
yang lemah; Kurangnya pengkajian serta ketidakbermasalahannya di
yang menunjukkan nilai-nilai baik hadapan agama; Pembangunan
serta relevansi OPK dan CB saat sarana dan prasarana OPK dan
ini; Dan kurangnya sarana CB.
prasarana untuk OPK dan CB.
Pemanfaatan Sudah ada Surat Keputusan Bupati Pelaksanaan yang lebih
perihal zona kreatif dan destinasi menyeluruh atas Surat Keputusan
pariwisata, kesenian, cagar budaya Bupati Katingan Nomor
dan suku bangsa yang perlu 430/L95/KPTSIIll/2016 tentang
ditekankan pelaksanaannya. Penetapan Zona Kreatif dan
Destinasi Pariwisata, Kesenian,
Cagar Budaya dan Suku Bangsa
28
di Wilayah Kabupaten Katingan.
Pembinaan Kurangnya regenerasi di tengah Penguatan tenaga SDM setiap Regenerasi perlu menjadi
pelaku OPK yang semakin berusia OPK melalui pelatihan, perhatian yang serius.
tua dan semakin sedikit serta pembinaan, dan
kurang ada kerjasama antara pengembangan, baik secara
pelaku, lembaga, dan pemerintah formal maupun informal;
serta stakeholder di bidang OPK Mendorong kerjasama dengan
dan CB. pelaku, lembaga, pemerintah dan
stakeholder lainnya.
53 Kabupaten Pelindungan Memudarnya OPK dan CB akibat Mendorong pendataan dan Perlu diberi perhatian perihal
Karawang modernisasi dan industrialisasi; pendokumentasian OPK dan CB; OPK yang berbenturan dengan
OPK dan CB yang tersisa kurang Sosialisasi OPK dan CB yang nilai agama sehingga bisa ada
dipahami masyarakat; Beberapa lebih luas kepada masyarakat; pelestarian yang lebih baik.
OPK (ritus dan adat istiadat) upaya Mendorong perlindungan hukum
penyelamatannya berbenturan terhadap OPK dan CB;
dengan agama; Kurangnya Mendorong
pendataan dan pendokumentasian revitalisasi OPK.
atas OPK dan CB; Belum
optimalnya perlindungan hukum
terhadap OPK dan CB .
Pengembangan Semakin jarangnya SDM dan Mendorong terintegrasinya OPK Perlu ditekankan perihal
masyarakat pendukung OPK dan dan CB di dalam pendidikan terintegrasinya OPK di dalam
CB; Minimnya sarana dan (muatan lokal); Mendorong muatan lokal serta Perda perihal
prasarana serta ruang publik untuk tersedianya sarana dan prasarana, Kesenian Daerah yang mesti
apresiasi OPK; Masih kurang ruang publik yang menunjang diperkuat penerapannya.
pemahaman pada OPK dan CB; OPK dan CB; Mendorong adanya
Minimnya apresiasi masyarakat pengkajian yang lebih
pada OPK dan CB. konprehensif pada OPK dan CB;
Memperbanyak event dan
kegiatan untuk meningkatkan
apresiasi atas OPK dan CB.
Pemanfaatan Lemahnya pengorganisasian Mendorong pengorganisasian Perihal ekonomi kreatif dan
potensi OPK yang bisa dijadikan potensi OPK yang bisa pariwisata perlu menjadi
sebagai strategi pariwisata dan menunjang pariwisata dan perhatian lantaran potensi yang
ekonomi kreatif; Minimnya ekonomi kreatif; Penggunaan ada di dalam OPK dan CB sangat
29
penyampaian nilai-nilai yang ada di OPK di dalam pendidikan karena memungkinkan untuk itu.
dalam OPK dan CB bagi kalangan nilai-nilainya sangat baik untuk
muda. pendidikan karakter.
Pembinaan Mulai berkurangnya para pelaku Mendorong upaya regenerasi Perlu mendapat perhatian yang
OPK yang diperparah dengan yang seiring sejalan dengan serius perihal regenerasi ini.
informasi dan pengetahuan para peningkatan kapasitas SDM di
pelaku OPK dan CB itu sendiri bidang OPK dan CB.
yang masih lemah.
54 Kabupaten Pelindungan Minimnya pendokumentasian, Mendorong inventarisasi, Penekanan pada pemajuan Tradisi
Karangasem pengamanan, pemahaman, apresiasi pendokumentasian, pengamanan, Lisan terkhusus pada Tradisi
terhadap OPK dan CB. serta publikasi yang lebih meluas Mesatua.
perihal OPK dan CB serta
rekonstruksi pada OPK yang
sudah punah.
Pengembangan Masyarakat semakin meninggalkan Mendorong integrasi OPK dan Penekanan pada pembangunan
penggunaan dan pemanfaatan OPK CB di dalam pendidikan melalui ruang publik terpadu untuk
dan CB; Kurangnya sarana dan muatan lokal; Membangun dan kegiatan yang berhubungan
prasarana serta ruang publik yang menambah sarana dan prasarana dengan OPK, terkhusus kesenian
menunjang OPK dan CB; Apresiasi serta ruang publik yang dan permainan tradisional.
atas OPK yang semakin menipis di menunjang OPK dan CB;
tengah masyarakat. Memperbanyak event-event OPK
dan CB untuk meningkatkan
apresiasi masyarakat.
Pemanfaatan - - -
Pembinaan Semakin berkurangnya para pelaku Mendorong upaya pendampingan Penekanan diberikan kepada
OPK terkhusus seni tradisi dan pada upaya kaderisasi yang kaderisasi di bidang seni
bersamaan dengan itu juga semakin dilakukan oleh para pelaku OPK tradisional spesifik yakni Arja,
sulitnya melakukan kaderisasi terkhusus seni tradisi yang ada Gambuh, dan Wayang Wong.
karena generasi muda lebih tertarik saat ini; Mendorong kegiatan-
pada hal-hal baru yang dibawa oleh kegiatan yang tepat sasaran dan
modernitas. berkesinambungan dalam konteks
regenerasi dan kaderisasi yang
dimaksud.
55 Kabupaten Pelindungan Belum tersajinya data yang lengkap Mendorong upaya inventarisasi Penekanan upaya revitalisasi di

30
Gunungkidul dan valid tentang OPK dan CB; dan pendokumentasian yang Kabupaten Gunung Kidul adalah
Belum adanya regulasi daerah yang sistematis dan serius atas OPK kepada jenis seni Tari Jelantur
mengatur tentang OPK dan CB; dan CB; Mendorong adanya dan Tayub, serta seni musik
Belum ada perhatian yang serius regulasi yang mengurus perihal Rinding Gumbeng.
terhadap jenis OPK khas daerah. OPK dan CB; Mendorong upaya
revitalisasi yang menyeluruh dan
serius terhadap jenis OPK khas
daerah.
Pengembangan Masih sangat kurangnya sarana dan Membangun sarana dan prasarana
prasarana yang memadai untuk yang memadai sebagai penunjang
mendukung OPK dan CB; Masih OPK dan CB; Mengadakan event-
sangat kurangnya event besar yang event strategis dan inovatif demi
inovatif untuk mendukung apresiasi mendukung apresiasi dan
dan pemajuan OPK dan CB. pemajuan OPK dan CB;
Mengintegrasikan OPK dan CB di
dalam kurikulum muatan lokal di
sekolah-sekolah.
Pemanfaatan Belum adanya upaya pemanfaatan Menggali dan mengupayakan Pemanfaatan OPK di dalam
yang serius pada potensi OPK dan penguatan potensi OPK dan CB konteks pariwisata ini lebih
CB sebagai modal wisata berbasis untuk menjadi bagian dari wisata berkonsentrasi pada pangan lokal
budaya; Belum ada pendampingan berbasis budaya; Mengadakan dan kerajinan lokal sebagai
dan dorongan serius kepada pendampingan dan mendorong potensi mendongkrak ekonomi
masyarakat untuk mengolah OPK masyrakat untuk memanfaatkan masyarakat.
untuk mendukung pariwisata. potensi OPK dalam konteks
pariwisata untuk mendorong
pendapatan ekonomi.
Pembinaan Kuantitas dan kualitas SDM bidang Mendorong upaya pendampingan
OPK dan CB yang jauh dari cukup; dalam rangka meningkatkan
Belum tersedianya lembaga kualitas SDM bidang OPK dan
pendidikan yang berkonsentrasi CB; Merancang dan menjalankan
pada OPK. strategi regenerasi-kaderisasi
SDM bidang OPK dan CB;
Mendorong munculnya lembaga
pendidikan yang berkonsentrasi
pada pemajuan kebudayaan.
31
56 Kabupaten Pelindungan Melemahnya pelindungan OPK Mendorong pelindungan OPK dan Perhatian mesti lebih tinggi pada
Gunung Mas akibat budaya global dan CB yang optimal; Mendorong permasalahan kerapnya benda-
perkembangan teknologi informasi; adanya regulasi terkait OPK dan benda CB dicuri.
Belum ada regulasi terkait OPK CB; Mendorong inventarisasi dan
dan CB; Kurangnya dokumentasi yang sistematis atas
pendokumentasian OPK dan CB; OPK dan CB; Alokasi anggaran
Alokasi Anggaran untuk yang cukup untuk pelindungan
pelindungan OPK dan CB sangat OPK dan CB; Meningkatkan
terbatas Kurang kerjasama antara kerjasama antara pemerintah,
pemerintah dan pihak terkait dalam masyarakat, dan pihak lain dalam
soal pelindungan OPK dan CB. hal pelindungan OPK dan CB.
Pengembangan Alokasi anggaran untuk Alokasi anggaran yang cukup Dalam hal pengembangan, perlu
pengembangan OPK dan CB sangat untuk pengembangan OPK dan diberi perhatian khusus perihal
terbatas; SDM di bidang OPK dan CB; Integrasi OPK dan CB di pengembangan musik khas
CB yang masih sangat terbatas; dalam kurikulum pendidikan daerah yang berpotensi untuk
Masih minimnya pengembangan (muatanb lokal); Meningkatkan maju.
OPK dan CB; Sarana dan prasarana sarana dan prasarana penunjang
OPK dan CB yang minim; Event- OPK dan CB; Memaksimalkan
event terkait OPK dan CB event-event terkait OPK dan CB.
belumlah maksimal.

Pemanfaatan Alokasi Anggaran dalam hal Alokasi anggaran yang cukup Penekanan pemanfaatan OPK dan
pemanfaatan OPK dan CB yang untuk pemanfaatan OPK dan CB; CB dalam konteks wisata budaya
sangat terbatas; Belum tampak Mendorong optimalisasi potensi dan religi.
upaya mengoptimalkan potensi OPK dan CB dalam hal promosi
OPK dan CB sebagai bagian dari wisata budaya/religi.
wisata berbasis budaya dan religi.

Pembinaan Kerja sama antara pelaku OPK dan Mendorong kerjasama sinergis Penekanan pada kerjasama antar
CB dan pemerintah belum sinergis; antara pelaku dan pemerintah pelaku, pemerintah dan pihak lain
Alokasi anggaran untuk pembinaan dalam konteks pembinaan OPK dalam hal pemajuan kebudayaan.
OPK dan CB sangat terbatas; dan CB; Alokasi anggaran yang
Belum ada SDM (ahli) terkait OPK cukup untuk pembinaan di bidang
dan CB; OPK dan CB; Mendorong upaya
memperbanyak dan meningkatkan
32
kualitas SDM (ahli) di bidang
OPK dan CB.
57 Kabupaten Gowa Pelindungan Inventarisasi, pendokumentasian, Mendorong peningkatan Perhatian pada masalah pencurian
pengamanan, pemahaman inventarisasi, pendokumentasian, serta pembelian situs oleh para
masyarakat, dan SDM di bidang publikasi di bidang OPK dan CB; kolektor mesti lebih besar, sampai
OPK dan CB yang masih lemah; Mendorong revitalisasi nilai OPK pada penyediaan anggaran untuk
Terkikisnya perhatian pada OPK dan CB yang sesuai dengan membeli kembali benda CB yang
dan CB lantaran kemajuan keadaan masa kini serta sudah terlanjur jatuh ke tangan
teknologi dan agama; Anggaran mempublikasikannya seluas- orang lain.
untuk pelindungan OPK dan CB luasnya; Penganggaran untuk
yang kurang; Sudah terganggu dan pelindungan OPK dan CB yang
rusaknya ekosistem penunjang cukup; Merevitalisasi ekosistem
OPK dan CB. penunjang OPK dan CB.
Pengembangan Kurangnya minat generasi muda Pengintegrasian OPK dan CB ke Perhatian pada pembangunan
pada OPK dan CB; dalam kurikulum pendidikan gedung kesenian atau
Belum adanya wadah untuk (muatan lokal) di sekolah- semacamnya sebagai tempat bagi
menyalurkan segala potensi yang sekolah; Membangun sarana dan generasi muda leluasa
dimiliki para generasi muda dalam prasarana sebagai tempat kreasi di menuangkan potensinya di bidang
hal OPK; Minimnya anggaran bidang OPK bagi generasi muda; OPK.
terkait pengembangan OPK dan Tentu saja peningkatan anggaran
CB. dalam hal pengembangan OPK
dan CB.
Pemanfaatan - - -
Pembinaan Kurangnya (atau tidak adanya) Perlunya pengadaan anggaran Sumber Daya Manusia di bidang
anggaran untuk SDM bidang OPK yang cukup di bidang pembinaan situs dan cagar budaya perlu lebih
dan CB; Dengan demikian SDN OPK dan CB; Menjalankan diperhatikan.
mengakibatkan menyusutnya SDM strategi regenerasi yang tepat
di bidang OPK dan CB; Perhatian sasaran dan berkelanjutan;
dan apresiasi yang minim pada Meningkatkan kapasitas SDM di
SDM OPK dan CB; Kerjasama bidang OPK dan CB demi
yang belum sinergi antara pelaku, meningkatkan apresiasi atas
pemerintah dan stakeholder OPK mereka; Mensinergikan
dan CB lainnya. pemerintah, masyarakat, pelaku
dan stakeholder OPK dan CB
lainnya.
33
58 Kabupaten Garut Pelindungan Kurangnya pemahaman dari Mensosialisasikan isi dan nilai Penekanan kepada kepemilikan
masyarakat akan isi dan nilai OPK OPK dan CB demi mengantisipasi manuskrip dan benda Cagar
dan CB; Mengkhawatirkannya salah persepsi entah dari Budaya yang tersebar di tangan
kondisi keamanan dan kesematan masyarakat secara langsung mau perorangan masyarakat.
OPK dan CB; Belum adanya pun dampak modernitas,
kebijakan yang kuat dan menyasar perbedaan budaya atau pun
langsung pada OPK dan CB; agama; Meningkatkan
Terkikisnya OPK dan CB di tengah pemahaman dan kapasitas
masyarakat akibat modernitas dan masyarakat dan stakehoder OPK
ekonomi yang terbatas. dan CB dalam konteks keamanan
dan keselamatan OPK dan CB;
Mendorong lahirnya kebijakan
yang kuat di bidang OPK dan CB;
Mendorong munculnya ekosistem
kebudayaan yang sejalan dengan
perkembangan zaman.
Pengembangan Kurangnya sarana dan prasarana Mendorong munculnya sarana Penekanan juga pada
serta ruang publik yang menunjang dan prasarana serta ruang publik menghidupkan ekosistem
pengembangan OPK; Kurangnya untuk menunjang pengembangan kebudayan yang sesuai dengan
event-event perihal OPK dan CB; OPK; Mendorong munculnya kebutuhan masa kini.
Belum terdapat karya seni yang event-event dalam rangka OPK
berakar budaya khas daerah yang dan CB sebagai wadah
berkelas dunia; Kurangnya peningkatan apresiasi masyarakat;
perhatian masyarakat dan generasi Mendorong pengkajian dan
muda pada OPK dan CB. penciptaan OPK yang berakar
pada budaya daerah; Sosialisasi
perihal OPK dan CB serta
integrasi OPK dan CB di dalam
kurikulum pendidikan muatan
lokal.
Pemanfaatan Kurangnya penggalian potensi Mendorong penggalian dan Penekanan juga pada soal
OPK dan CB sebagai penguat penerapan strategi pariwisata dan mendorong pendapatan ekonomi
pariwisata dan ekonomi kreatif. ekonomi kreatif yang menjadikan masyarakat di dalam konteks
OPK dan CB sebagai sumbu pemanfaatan OPK dan CB ini.
utamanya.
34
Pembinaan Kurangnya perhatian Pemerintah Mendorong program-program
dan masyarakat terhadap masalah yang sistematik dan berkelanjutan
regenerasi SDM di bidang OPK dalam rangka peningkatan
dan CB; Masi kurangnya sanggar kapasitas SDM bidang OPK dan
atau lembaga yang bergerak di CB serta sekaligus regenerasinya;
bidang OPK dan CB. Mendorong munculnya sanggar-
sanggar atau lembaga yang
bergerak di bidang OPK dan CB.
59 Kabupaten Flores Pelindungan Lemahnya sistem pengarsipan dan Mendorong upaya pengarsipan Penekanan pada pembentukan
Timur penginventarisasian OPK dan CB; dan penginventarisasian OPK dan lembaga pengarsipan dan
Lemahnya pewarisan OPK dan CB CB baik di kalangan pemerintah penginventarisasian OPK dan CB
pada generasi muda; Pemahaman mau pun masyarakat; Mendorong di tingkat kabupaten;
pada OPK dan CB mulai menipis; publikasi dalam rangka pewarisan Rekomendasi menghidupkan
Belum adanya regulasi khusus di OPK dan CB kepada generasi ekosistem kebudayaan dan
dalam konteks OPK dan CB yang muda serta meningkatkan kesenian yang sejalan dengan
menyeluruh; kurangnya pendanaan pemahaman masyarakat; perkembangan zaman;
di bidang pelindungan OPK dan Mendorong munculnya regulasi mendorong upaya pemajuan
CB. khusus dan menyeluruh di bidang kebudayaan sebagai tanggung
OPK dan CB; Politik anggaran di jawab pemerintah desa dan
bidang pelindungan OPK dan CB dimasukkan ke dalam Peraturan
yang lebih baik. Desa dengan pendanaan melalui
Dana Desa. Pemerintah
Kabupaten mengeluarkan Perbup
menyangkut penggunaan Dana
Desa bagi upaya Pemajuan
Kebudayaan.
Pengembangan Lemahnya pengetahuan generasi Mendorong OPK dan CB menjadi Rekomendasi menghidupkan
muda pada OPK dan CB; Tidak ada konten muatan lokal di sekolah; ekosistem kebudayaan dan
lembaga pendidikan yang bergerak Mendorong akses publik pada kesenian yang sejalan dengan
khusus di bidang OPK dan CB; OPK dan CB; Mendorong perkembangan zaman.
Kurangnya ruang apresiasi dalam berdirinya lembaga pendidikan
konteks OPK dan CB; kurangnya bidang OPK dan CB atau
pendanaan di bidang mendorong lembaga pendidikan
pengembangan OPK dan CB. yang sudah ada untuk menaruh
perhatian pada masalah OPK dan
35
CB; Mendorong berdirinya ruang
apresiasi OPK dan CB di tingkat
kecamatan hingga kabupaten serta
mendorong adanya even-even di
bidang OPK dan CB untuk
mendorong apresiasi masyarakat;
Politik anggaran di bidang
pengembangan OPK dan CB yang
lebih baik.
Pemanfaatan Kurangnya pendanaan di bidang Politik anggaran di bidang Rekomendasi menghidupkan
pemanfaatan OPK dan CB. pemanfaatan OPK dan CB yang ekosistem kebudayaan dan
lebih baik. kesenian yang sejalan dengan
perkembangan zaman.
Pembinaan Kurangnya lembaga baik dari Mendorong berdirinya lembaga Penekanan pada penguatan
pemerintah atau pun masyarakat pendidikan bidang OPK dan CB lembaga yang sudah ada dulu
yang bergerak di bidang OPK dan atau mendorong lembaga barulah membuat lembaga-
CB; Tidak ada lembaga pendidikan pendidikan yang sudah ada untuk lembaga baru; Penekanan pada
yang bergerak khusus di bidang menaruh perhatian pada masalah pembentukan Komite Olahraga
OPK dan CB; kurangnya OPK dan CB; Meningkatkan Tradisional tingkat kecamatan
pendanaan di bidang pembinaan kapasitas lembaga di bidang OPK dan kabupaten.
OPK dan C; Pelaku bidang OPK dan CB yang sudah ada; Politik
dan CB mulai berkurang dan anggaran di bidang pembinaan
regenerasinya tidak berjalan OPK dan CB yang lebih baik;
dengan baik. Mendorong peningkatan kapasitas
pelaku OPK dan CB serta
diupayakan regenerasi yang
sistematis dan tepat sasaran.
60 Kabupaten Pelindungan Kurangnya inventarisasi, Mendorong adanya inventarisasi
Dompu dokumentasi atas OPK dan CB; dan dokumentasi yang memadai
Terbatasnya pemahaman untuk OPK dan CB; Mendorong
masyarakat atas OPK dan CB. sosialisasi perihal nilai dan
pemahaman OPK dan CB
Pengembangan Sudah semakin jarangnya Mengadakan event-event demi Penekanan pada pemahaman di
penggunaan OPK di kalangan menumbuhkan apresiasi dan kalangan generasi muda yang
masyarakat; Kurangnya sarana dan perhatian terhadap OPK dan CB; berkesinambungan dengan upaya
36
prasarana terkait OPK dan CB; Mendorong tersedianya sarana regenerasi
Kurangnya ketertarikan dari dan prasarana penunjang OPK
generasi muda khususnya dan dan CB; Mengintegrasikan OPK
masyarakat pada umumnya dan CB ke dalam kurikulum
terhadap OPK dan CB. pendidikan (muatan lokal);
Mendorong penyebarluasan
pengetahuan perihal OPK dan CB
dari tingkat desa hingga
kabupaten.
Pemanfaatan Ada banyak OPK yang kalah Mengalih-fungsikan OPK yang
bersaing dengan hal-hal modern. kalah bersaing itu menjadi obyek
wisata yang bisa mendatangkan
keuntungan ekonomi
Pembinaan Terbatasnya pelaku di dunia OPK Mendorong upaya regenerasi Penekanan pada ketiadaan juru
dan CB; Minimnya kemampuan melalui workshop atau pelatihan pelihara di Cagar-cagar Budaya
dan kecakapan pelaku OPK dan yang sistematis dan berkala; yang ada.
CB. Mendorong program peningkatan
kemampuan dan kecakapan
pelaku OPK dan CB; Mendorong
pembentukan lembaga yang
khusus menangani OPK dan CB
di tingkat kabupaten.
61 Kabupaten Pelindungan Belum teridentivikasi, Mendorong upaya Penekanan pada masalah
Cianjur terdokumentasi, dan teraksesnya pengidentivikasian, disharmonisasi antara konsep
OPK dan CB; Belum optimalnya pendokumentasian, dan akses nilai budaya dan agama sehingga
penguatan regulasi, kebijakan dan yang luas untuk OPK dan CB; perlu didorongnya komunikasi
alokasi anggaran untuk Mengoptimalkan penguatan dan harmonisasi antar komunitas
pelindungan OPK dan CB; regulasi, kebijakan dan alokasi adat dan komunitas agama
Terdegradasinya OPK dan CB oleh anggaran untuk pelindungan OPK .
modernisasi dan adanya dan CB; Publikasi yang lebih luas
disharmonisasi OPK tertentu atas OPK dan CB serta
dengan agama; Berkurangnya membangun dialog antara agama
pemanfaatan OPK sebab hal-hal dan OPK terkait; Mendorong
penunjangnya berkurang. perbaikan dan pembangunan
ekosistem di sekitar OPK dan CB.
37
Mengusahakan pengakuan
legalitas pengobatan tradisional
dari sisi medis.
Pengembangan Masih kurangnya pemahaman Mendorong pengkajian dan Perihal kurangnya pemahaman
masyarakat akan nilai dan hal-hal peluasan informasi perihal OPK masyarakat ini menjadi penting
baik dari OPK dan CB; Masih dan CB; Mendorong penguatan ditanggulangi lantaran bisa
kurangnya ketertarikan generasi OPK dan CB melalui kurikulum berdampak pula pada
muda pada OPK dan CB yang juga (muatan lokal) di sekolah; disharmonisasi antara
berakibat pada sulitnya regenerasi Meningkatkan regulasi, kebijakan kepentingan pelestarian OPK
pelaku; Belum optimalnya dan alokasi anggaran untuk dengan kehidupan masyarakat
penguatan regulasi, kebijakan dan pengembangan OPK dan CB kini
alokasi anggaran untuk
pengembangan OPK dan CB
Pemanfaatan Belum optimalnya penguatan Meningkatkan regulasi, kebijakan Penekanan pada optimalisasi
regulasi, kebijakan dan alokasi dan alokasi anggaran untuk pengetahuan lokal dalam hal ini
anggaran untuk pemanfaatan OPK pemanfaatan OPK dan CB; ramuan tradisional sebagai
dan CB; Kurang diperhatikannya Mendorong pemanfaatan OPK alternatif kesehatan bagi
potensi OPK dan CB sebagai cara dan CB ke arah peningkatan masyrakat.
meningkatkan ekonomi, kesehatan ekonomi, kesehatan masyarakat
masyarakat serta wisata. serta wisata.
Pembinaan Belum optimalnya penguatan Meningkatkan regulasi, kebijakan Penekanan diberikan kepada
regulasi, kebijakan dan alokasi dan alokasi anggaran untuk kerjasama yang mendorong
anggaran untuk pembinaan OPK pembinaan OPK dan CB; terbentuknya pasar bagi UKM
dan CB; Berkurangnya jumlah mendorong upaya regenerasi dan yang berbasis OPK.
SDM di bidang OPK dan CB; pengembangan kapasitas pelaku
Kurang adanya kerjasama yang OPK dan CB; Mendorong
harmonis antara pemerintah, kerjasama yang harmonis antara
pelaku, lembaga, dan stakeholder pemerintah, pelaku, lembaga, dan
lainnya dalam konteks pembinaan stakeholder lainnya dalam
pelaku OPK dan CB. konteks pembinaan pelaku OPK
dan CB.
62 Kabupaten Pelindungan Minimnya upaya pencatatan, Mendorong upaya pencatatan, Penekanan pada masalah
Ciamis pendokumentasian serta sulitnya pendokumentasian serta disharmonisasi antara konsep
akses pada OPK dan CB; memudahkan akses pada OPK nilai budaya dan agama sehingga
Minimnya pengetahuan dan dan CB; Upaya penyebarluasan perlu didorongnya komunikasi
38
pemahaman masyarakat soal OPK pengetahuan dan pemahaman soal dan harmonisasi antar komunitas
dan CB; Kebudayaan Daerah OPK dan CB; Publikasi yang adat dan komunitas agama
cenderung tergeser dan lebih luas atas OPK dan CB serta
termarjinalkan dengan pengaruh membangun dialog antara agama
modernitas serta berbenturannya dan OPK terkait; Mendorong
OPK tertentu dengan nilai agama. perbaikan dan pembangunan
ekosistem di sekitar OPK dan CB.
Pengembangan Kurangnya biaya dan perhatian dari Mendorong politik penganggaran
Pemerintah Daerah, kurangnya terkait OPK dan CB yang lebih
sarana dan prasarana, serta belum baik, penyediaan sarana dan
adanya mata pelajaran pendidikan prasarana terkait OPK dan CB,
terkait OPK dan CB di satuan dan mendorong muatan lokal
pendidikan. perihal OPK dan CB di satuan
pendidikan.
Pemanfaatan sasMasih kurangnya kemampuan Mendorong pengkajian yang Penekanan pada tradisi serta
melihat potensi ekonomi dan mendalam perihal pemanfaatan pengetahuan tradisional yang ada
pariwisata pada OPK dan CB OPK dan CB terkhusus dalam pada daerah
konteks ekonomi masyarakat dan
pariwisata
Pembinaan Standar SDM Kebudayaan masih Meningkatkan kemampuan dan
rendah; Berkurangnya pelaku dan kapasitas SDM kebudayaan serta
ahli di bidang OPK dan CB; juga mengupayakan pendidikan
Wadah, komunitas dan Organisasi khusus bidang kebudayaan;
Kebudayaan tidak berfungsi Mendorong fungsi yang lebih
sebagaimana mestinya. baik dari komunitas, wadah dan
organisasi yang bergerak di
bidang OPK dan CB.
63 Kabupaten Pelindungan Lemahnya dukungan pemerintah Mendorong dukungan yang lebih Asimilasi budaya perlu dipandang
Halmahera Barat dan masyarakat di dalam baik dari pemerintah dan sebagai suatu hal positif sebagai
pelindungan OPK dan CB; masyarakat kepada OPK dan CB; dialektika perkembangan budaya
Tergerusnya OPK dan CB akibat Mendorong penguatan nilai-nilai nantinya.
ancaman modernitas dan OPK dan CB serta sosialisasinya
globalisasi; Kurang atau tidak yang lebih masif lagi; Mendorong
adanya dokumentasi dan publikasi dokumentasi dan inventarisasi
untuk OPK dan CB; Terganggunya yang lebih restruktur kepada OPK
39
ekosistem penunjang OPK dan CB; dan CB; Mendorong usaha
Belum adanya regulasi yang revitalisasi ekosistem OPK dan
mengatur perihal OPK dan CB CB.
Pengembangan Lemahnya dukungan pemerintah Mendorong dukungan pemerintah Permasalahan pengetahuan yang
dan masyarakat di dalam dan masyarakat di dalam minim di tengah generasi muda
pengembangan OPK dan CB; pengembangan OPK dan CB; perlu mendapatkan pendekatan
Kurangnya sarana dan prasarana Mendorong ketersediaan sarana yang lebih soft dengan gaya dan
penunjang pengembangan OPK dan prasarana sebagai penunjang bahasa yang familiar dengan
dan CB; Pengetahuan yang sangat utama perkembangan apresiasi generasi muda masa kini.
minim di kalangan generasi muda atas OPK dan CB; Mendorong
perihal OPK dan CB adanya pendidikan soal OPK dan
CB di sekolah melalui muattan
lokal
Pemanfaatan Lemahnya dukungan pemerintah Mendorong dukungan pemerintah Selain makanan tradisional, perlu
dan masyarakat di dalam dan masyarakat yang baik di pula digali potensi-potensi OPK
pemanfaatan OPK dan CB; Tidak dalam upaya pemanfaatan OPK lainnya yang bisa mendorong
tersedianya sentra penganan khas dan CB; Mendorong tersedianya perubahan ekonomi dan
Halmahera Barat dan pengembangan sentra pariwisata ini.
makanan khas Halmahera Barat
sebagai sebuah warisan
pengetahuan tradisional yang bisa
membawa keuntungan ekonomi
masyarakat serta pariwisata
budaya yang khas
Pembinaan Berkurangnya pelaku objek budaya Mendorong upaya yang sistematis Keterbatasan para pelaku OPK
yang beriringan dengan rendahnya dan terencana, bisa juga dalam soal jumlah dan regenerasi
minat generasi muda untuk bekerjasama dengan lembaga ini perlu dilakuka segera
mempelajari atau terlibat dalam pendidikan, untuk regenerasi mengingat pengetahuan seputar
peristiwa budaya tertentu pelaku OPK dan CB, terkhusus praktisi-praktiknya pun adalah
pada OPK tertentu yang dianggap pengetahuan lisan yang belum
sudah mulai sekarat. terdokumentasikan dengan baik.
64 Kabupaten Pelindungan Jumlah masyarakat yang Menghidupkan kembali kegiatan ● Minimnya regulasi, kebijakan,
Bulungan menggunakan OPK dalam yang menggunakan OPK dalam dan alokasi anggaran untuk
kehidupan sehari-hari semakin keseharian masyarakat, menyusun pelindungan OPK.
berkurang, tidak adanya peraturan peraturan daerah tentang ● Penutur Bahasa Dayak
40
daerah yang mengatur mengenai pelestarian budaya, menyediakan semakin berkurang.
pelestarian budaya di Kabupaten sarana dan prasarana Pemajuan ● Pelindungan ritual dan adat
Bulungan, belum memadainya Kebudayaan, serta menyediakan mendapatkan banyak
sarana dan prasarana Pemajuan lahan dan mengembangkan tantangan dari perspektif
Kebudayaan, serta kesulitan produksi bahan baku pembuatan agama.
mendapatkan bahan baku dan pelaksanaan OPK.
pembuatan dan pelaksanaan OPK.
Pengembangan Kurangnya kajian dan penelitian Melakukan kajian dan penelitian ● Dapat dilakukan modifikasi
untuk mengembangkan OPK agar untuk mengembangkan OPK agar terhadap OPK agar sesuai
tetap relevan dengan kehidupan tetap relevan dengan kehidupan dengan perkembangan zaman
masyarakat saat ini. masyarakat saat ini. dan kebutuhan masyarakat.
Pemanfaatan Kurang dimanfaatkannya potensi Menggelar berbagai kegiatan ● Pelaksanaan Festival
OPK sebagai kekuatan promosi kebudayaan yang mencakup Birauserta secara
Kabupaten Bulungan ke luar seluruh OPK di Kabupaten berkesinambungan.
daerah. Bulungan setiap tahun.
Pembinaan Tidak adanya pedoman mengenai Menyusun pedoman mengenai ● pendidikan dan pembelajaran
OPK dan kurikulum berbasis OPK dan kurikulum muatan lokal seluruh mata pelajaran harus
kebudayaan Bulungan sebagai berbasis kebudayaan Bulungan terintegrasi dengan nilai
dasar pembinaan dan pengajaran serta penguatan sumber daya budaya dan kearifan lokal.
kebudayaan kepada generasi manusia kebudayaan melalui
berikutnya serta kuantitas dan pelatihan dan pembinaan baik
kualitas sumber daya manusia secara formal maupun informal.
kebudayaan yang belum memadai.
65 Kabupaten Bukit Pelindungan Mulai ditinggalkannya penggunaan Meningkatkan pemahaman ● Gedung Kesenian dan ruang
Tinggi (belum OPK dalam keseharian masyarakat masyarakat atas falsafah dan nilai publik untuk seni budaya
ada softfile) karena efesiensi waktu dan biaya, yang terkandung dalam OPK, belum tersedia.
belum tersedianya sarana dan menyediakan sarana dan ● Upacara adat mulai
prasarana Pemajuan Kebudayaan prasarana Pemjuan Kebudayaan, ditinggalkan karena memakan
yang memadai, belum adanya basis melakukan inventarisasi OPK dan waktu dan berbiaya tinggi.
data inventarisasi OPK, pewarisan membangun basis data ● Mengenalkan permainan
OPK kepada generasi berikutnya kebudayaan, mendorong generasi rakyat dan olahraga
belum berjalan dengan baik. muda untuk mengenal dan tradisional kepada pelajar
menggunakan OPK. melalui kegiatan
ekstrakurikuler.

41
Pengembangan Kurangnya penelitian dan Melakukan penelitian dan ● Pendokumentasian
pengkajian untuk menggali pengkajian untuk menggali pengetahuan dari para
pengetahuan dan sejarah yang pengetahuan dan sejarah yang pemuka adat ke dalam satu
terkandung dalam OPK sehingga terkandung dalam OPK. basis data terintegrasi.
pengetahuan falsafah OPK terhenti
di generasi tua.
Pemanfaatan Minimnya kegiatan kebudayaan Menyelenggarakan kegiatan ● Mendorong kerja sama
yang diselenggarakan secara kebudayaan dengan kalender dengan Kemendikbud,
berkesinambungan serta belum kegiatan yang berkesinambungan Kemenpar, dan Bekraf.
hidupnya ekosistem industri serta menghidupkan ekosistem ● Penyelenggaraan Festival
berbasis seni budaya. industri berbasis seni budaya. Silek Tradisional.
Pembinaan Kurangnya jumlah sumber daya Melakukan pembinaan dan ● Jumlah tenaga terdidik di
manusia kebudayaan yang menyelenggarakan bimbingan bidang cagar budaya dan
berkualitas serta belum baiknya tata teknis terhadap sumber daya manuskrip sangat sedikit.
kelola sanggar seni. manusia kebudayaan serta ● Merekrut tenaga di bidang
memberikan pendampingan kebudayaan dengan syarat
kepada sanggar seni untuk minimum S1 ilmu
perbaikan tata kelola. sosial/budaya.
66 Kota Pelindungan Belum lengkapnya basis data OPK, Melakukan inventarisasi OPK, ● Pembentukan Tim Ahli Cagar
Tasikmalaya belum adanya peraturan daerah menyusun peraturan daerah Budaya Kota Tasikmalaya.
sebagai dasar pelindungan OPK, terkait pelindungan OPK, ● Penyusunan peraturan daerah
kurangnya sarana dan prasarana penyediaan sarana dan prasarana berdasarkan UU 5/2017 dan
Pemajuan Kebudayaan yang Pemajuan Kebudayaan yang UU 11/2010.
memadai, berkurangnya memadai, memberikan ● Benturan adat istiadat dan
penggunaan OPK dalam kehidupan pemahaman kepada masyarakat ritus dengan nilai agama.
masyarakat sehari-hari karena pola mengenai manfaat dan nilai yang
pikir mengutamakan kepraktisan terkandung dalam OPK bagi
dan ekonomis. kehidupa sehari-hari.
Pengembangan Kurangnya kajian dan penelitian Kurangnya kajian dan penelitian ● Pengetahuan yang terkandung
untuk menggali pengetahuan yang untuk menggali pengetahuan yang dalam OPK harus
terkandung dalam OPK. terkandung dalam OPK. disebarluaskan ke berbagai
lapisan masyarakat.
Pemanfaatan Belum maksimalnya pemanfaatan Menggali potensi OPK sebagai -
potensi OPK sebagai pendorong pendorong kegiatan pariwisata

42
kegiatan pariwisata dan ikon Kota dan ikon Kota Tasikmalaya serta
Tasikmalaya serta pendidikan pendidikan karakter bagi anak.
karakter bagi anak.
Pembinaan Kurangnya kuantitas dan kualitas Melakukan pembinaan dan ● Pembentukan Dewan
sumber daya manusia kebudayaan. pelatihan sumber daya manusia Kebudayaan Daerah Kota
kebudayaan. Tasikmalaya.
67 Kabupaten Blitar Pelindungan OPK semakin ditinggalkan oleh Menghidupkan kembali ● Pembangunan Amphiteater
masyarakat, sarana dan prasarana penggunaan OPK dalam Kawasan Wisata Penataran.
Pemajuan Kebudayaan belum keseharian masyarakat, ● Pendokumentasian seni dalam
memadai, belum lengkapnya menyediakan sarada dan bentuk buku seni budaya
dokumentasi tentang OPK prasarana Pemajuan Kebudayaan Blitar.
Kabupaten Blitar, belum terjadinya yang memadai, melakukan ● Membentuk Forum
pewarisan kebudayaan kepada dokumentasi terhadap OPK Kebudayaan yang berisikan
generasi berikutnya dengan baik, Kabupaten Blitar, mengemas budayawan, akademisi,
belum adanya Tim Ahli Cagar OPK dalam bentuk baru yang sejarawan, pemangku
Budaya. lebih menarik dan mudah kebijakan, dan para ahli yang
dimenegerti oleh generasi muda memiliki kompetensi dan
agar pewarisan kebudayaan dapat kredibilitas dalam objek
berjalan dengan lebih baik, pemajuan kebudayaan.
membentuk Tim Ahli Cagar ● Penyusunan kurikulum
Budaya. muatan lokal berbasis budaya
untuk pendidikan dasar dan
pendidikan menengah.
Pengembangan Kurangnya kajian dan penelitian Melakukan kajian dan penelitian ● Belum adanya pusat kajian
untuk mengembangkan OPK agar untuk mengembangkan OPK agar untuk pengembangan OPK.
tetap relevan dengan kehidupan tetap relevan dengan kehidupan
masyarakat saat ini. masyarakat saat ini.
Pemanfaatan Belum maksimalnya penggalian Mendorong upaya pemanfaatan ● Penyelenggaraan kegiatan
potensi pemanfaatan OPK di OPB di bidang ekonomi kreatif kebudayaan yang mendukung
bidang ekonomi kreatif dan dan pariwisata. pariwisata seperti Pesona
pariwisata. Bumi Penataran dan Festival
Panji Internasional
Pembinaan Belum optimalnya pelatihan dan Menyelenggarakan lokakarya dan -
pembinaan bagi para pemangku pelatihan bagi para pemangku

43
kepentingan terkait OPK. kepentingan terkait OPK.
68 Kabupaten Pelindungan Menurunnya minat masyarakat Menghidupkan kembali ● Banyak manuskrip dan cagar
Banyuwangi untuk menggunakan OPK dalam penggunaan OPK dalam budaya yang dikuasai oleh
keseharian, sarana dan prasana keseharian masyarakat, masyarakat dan institusi
Pemajuan Kebudayaan belum menyediakan sarada dan pemerintah di luar bidang
memadai. prasarana Pemajuan Kebudayaan kebudayaan.
yang memadai. ● Wanita di Banyuwangi tidak
mau menggunakan Pangur
dalam upacara perkawianan.
● Adat Geredhoan sudah punah
karena rumah bambu sudah
digantikan oleh rumah
permanen.
● Degradasi Bahasa Using
karena digunakan secara
sembarangan dalam lagu
Banyuwangian
Pengembangan Kurangnya kajian dan penelitian Melakukan kajian dan penelitian ● Alih Bahasa dan alih aksara
untuk mengembangkan OPK agar untuk mengembangkan OPK agar harus dilakukan terhadap
tetap relevan dengan kehidupan tetap relevan dengan kehidupan manuskrip agar pengetahuan
masyarakat saat ini. masyarakat saat ini. di dalamnya dapat dipahami
dan dikembangkan oleh
masyarakat.
● Melakukan Inovasi terhadap
seni tradisional seperti
Praburara agar lebih relevan
dengan zaman.
Pemanfaatan OPK yang masih mengikuti pakem Reaktualisasi OPK, khususnya ● Seni Gandrung, Prabu Rara,
lama sudah mulai tidak sesuai seni pertunjukan tradisional ke Janger dan Wayang Kulit.
dengan pola pikir penonton masa dalam bentuk yang lebih relevan
kini. dengan masa kini agar dapat lebih
mudah diterima oleh pemirsa dan
mendorong pariwisata.
Pembinaan Seniman dan paguyuban seni Melakukan pelatihan dan ● Seni Gandrung, Prabu Rara,
pertunjukan tradisional masih pembinaan bagi seniman dan Janger dan Wayang Kulit.
44
menggunakan pakem lama dalam paguyuban seni pertunjukan
mengolah karya. tradisional agar dapat mengemas
karya yang lebih relevan dengan
perkembangan zaman dan
perubahan pola pikir pemirsa.
69 Kabupaten Pelindungan Belum adanya inventarisasi Melakukan inventarisasi ● Olahraga Tradisional dan
Bantul menyeluruh terhadap OPK, menyeluruh terhadap OPK, Permainan Rakyat sudah tidak
kesulitan mendapatkan bahan baku menjamin ketersediaan bahan lagi menjadi agenda wajib
untuk pembuatan dan pelaksanaan baku untuk pembuatan dan dalam hari peringatan
OPK, pewarisan OPK ke generasi pelaksanaan OPK, nasional.
berikutnya belum berjalan dengan mengintegrasikan OPK dalam ● Perlu adanya data OPK yang
baik, belum adanya sarana dan kegiatan pembelajaran di sekolah akurat.
prasarana pelindungan OPK. sebagai upaya pewarisan OPK,
penyediaan sarana dan prasarana
pelindungan OPK.
Pengembangan Belum memadainya ruang publik Penyediaan ruang publik sebagai -
sebagai tempat masyarakat tempat masyarakat
mengekspresikan budaya sekaligus mengekspresikan budaya
tempat bertemunya berbagai sekaligus tempat bertemunya
kebudayaan di Bantul. berbagai kebudayaan di Bantul.
Pemanfaatan Belum maksimalnya penggalian Memaksimalkan potensi ● Penyelenggaraan festival
potensi pemanfaatan OPK di pemanfaatan OPK di bidang tingkat nasional dan
bidang pariwisata dan ekonomi pariwisata dan ekonomi internasiona secara rutin.
kerakyatan serta sebagai ikon kerakyatan serta sebagai ikon
Kabupaten Bantul. Kabupaten Bantul.
Pembinaan Belum adanya program pembinaan Penyelenggaraan lokakarya dan ● Penyusunan buku referensi
yang baik untuk para pengajar seni pelatihan untuk meningkatkan untuk setiap OPK.
budaya serta para ahli di bidang kualitas para pengajar seni budaya
OPK. serta para ahli di bidang OPK.
70 Kabupaten Pelindungan Semakin ditinggalkannya Menghidupkan kembali ● sebagian besar manuskrip
Bangka Barat penggunaan OPK dalam keseharian penggunaan OPK dalam Bangka Barat tersimpan di
masyarakat, belum adanya keseharian masyarakat, Belanda dan harus
inventarisasi menyeluruh terhadap melakukan inventarisasi diupayakan repatriasi atau
OPK, belum tersedianya sarana dan menyeluruh terhadap OPK, pembuatan replika.

45
prasana Pemajuan Kebudayaan menyediakan sarana dan prasana ● Belum ada gedung
yang memadai. Pemajuan Kebudayaan yang pertunjukan sni tradisional
memadai. yang permanen.
Pengembangan Kurangnya kajian dan penelitian Melakukan kajian dan penelitian ● Kerja sama kajian dan
untuk mengembangkan OPK agar untuk mengembangkan OPK agar penelitian antara perguruan
tetap relevan dengan kehidupan tetap relevan dengan kehidupan tinggi, komunitas seni
masyarakat saat ini. masyarakat saat ini. budaya, budayawan, dan
pemerintah daerah.
Pemanfaatan Belum maksimalnya pemanfaatan Memaksimalkan pemanfaatan ● Pelaksanaan festival budaya
OPK untuk meningkatkan OPK untuk meningkatkan tingkal nasional setiap tahun
kesejahteraan masyarakat. kesejahteraan masyarakat. secara berkesenimambungan.
Pembinaan Jumlah pelaku OPK semakin Menyelenggarakan pembinaan -
menurun, kurangnya tenaga ahli untuk meningkatkan kuantitas dan
dalam pembinaan seni tradisional, kualitas jumlah pelaku OPK dan
serta masih lemahnya lembaga adat tenaga ahli seni tradisional serta
untuk melestarikan OPK di penguatan lembaga adat untuk
masyarakat. melestarikan OPK di masyarkat.
71 Kabupaten Pelindungan Ruang publik sebagai tempat Menyediakan ruang publik ● Penggunaan Bahasa Saluan,
Banggai mengekspresikan kebudayaan sebagai tempat masyarakat Balantak, dan Andio setiap
semakin berkurang seiring dengan mengekspresikan kebudayaan, hari Kamis untuk komunikasi
berkurangnya jumlah masyarakat menghidupkan kembali lisan.
yang menggunakan OPK dalam penggunaan OPK dalam ● Penggunaan Batik Burung
keseharian, pewarisan budaya kesehatian masyarakat, Maleo sebagai seragam dinas
kepada generasi muda belum mengintegrasikan OPK dalam ASN setiap hari Kamis.
berjalan dengan baik, Pemajuan kurikulum pembelajaran di
Kebudayaan belum didukung oleh sekolah sebagai upaya pewarisan
sarana dan prasarana yang budaya, menyediakan sarana dan
memadai. prasarana pendukung Pemajuan
Kebudayaan.
Pengembangan Kurangnya kajian dan penelitian Melakukan kajian dan penelitian ● Hasil kajian dan penelitian
untuk mengembangkan OPK agar untuk mengembangkan OPK agar terhadap OPK harus
tetap relevan dengan kehidupan tetap relevan dengan kehidupan dipublikasikan dalam bentuk
masyarakat saat ini. masyarakat saat ini. buku.
● Menjalin kerja sama dengan

46
perguruan tinggi dalam
melaksanakan kajian dan
penelitian terhadap OPK.
Pemanfaatan Belum maksimalnya penggalian Memaksimalkan potensi OPK ● Menjadikan Batui sebagai
potensi OPK untuk pemanfaatan di untuk pemanfaatan di bidang desa wisata.
bidang pariwisata dan sebagai ikon pariwisata dan sebagai ikon ● Upacara Pengantaran Telur
Kabupaten Banggai. Kabupaten Banggai. Maleo diselenggarakan
dengan semarak untuk
mendorong pariwisata.
Pembinaan Kuantitas dan kualitas sumber daya Menyelenggarakan pelatihan dan -
manusia kebudayaan yang belum bimbingan teknis untuk
memadai. meningkatkan kuantitas dan
kualitas sumber daya manusia
kebudayaan.
72 Kabupaten Pelindungan Rendahnya pemahaman masyarakat Meningkatkan pemahaman ● Banyak manuskrip yang sulit
Badung terhadap nilai dan makna yang masyarakat terhadap nilai dan diakses karena disakralkan
tekandung dalam OPK, pewarisan makna yang tekandung dalam oleh masyarakat.
budaya kepada generasi muda OPK, mengintegrasikan OPK ● Terputusnya tradisi lisan
belum berjalan dengan baik, dalam kurikulum pembelajaran di Mesatua dari generasi tua ke
Pemajuan Kebudayaan belum sekolah sebagai upaya pewarisan generasi muda.
didukung oleh sarana dan prasarana budaya, menyediakan sarana dan ● Membangun pusat kesenian
yang memadai, banyak cagar prasarana pendukung Pemajuan Gedung Pemuda Budaya
budaya yang berlum terinventarisai Kebudayaan, melakukan Kebupaten Badung.
dan belum adanya Tim Ahli Cagar inventarisasi terhadap cagar
Budaya. budaya dan membentuk Tim Ahli
Cagar Budaya.
Pengembangan Kurangnya kajian dan penelitian Melakukan kajian dan penelitian -
untuk mengembangkan OPK agar untuk mengembangkan OPK agar
tetap relevan dengan kehidupan tetap relevan dengan kehidupan
masyarakat saat ini. masyarakat saat ini.
Pemanfaatan Belum maksimalnya penggalian Memaksimalkan potensi OPK ● Meningkatkan daya saing dan
potensi OPK untuk pemanfaatan di untuk pemanfaatan di bidang penguatan nilai jual OPK
bidang ekonomi. ekonomi. terhadap produk modern,
khususnya metode

47
penyehatan, kuliner, dan
perkakas tradisional.
Pembinaan Kuantitas dan kualitas sumber daya Menyelenggarakan pelatihan dan ● Seni Arja, Gambuh, dan
manusia kebudayaan yang belum bimbingan teknis untuk Wayang Wong membutuhkan
memadai, khususnya seniman meningkatkan kuantitas dan kaderisasi seniman segera.
tradisional serta pembinaan sanggar kualitas sumber daya manusia
seni. kebudayaan, khususnya seniman
tradisional serta pembinaan
sanggar seni.
73 Kabupaten Pali Pelindungan Kurangnya pemahaman masyarakat Meningkatkan pemahaman ● Budidaya ikan sebagai bahan
mengenai nilai dan makna yang masyarakat mengenai nilai dan baku pembuatan Sagarurung.
terkandung dalam OPK yang makna yang terkandung dalam ● Belum ada penerjemah
menyebabkan OPK semakin OPK, menjamin ketersediaan dan manuskrip Galumpai dengan
ditinggalkan, sulitnya akses pada kemudahan akses bahan baku aksara Ka Ga Nga.
bahan baku pembuatan OPK, pembuatan OPK, melakukan ● Stigma musyrik yang
belum adanya catatan dan pencatatan dan dilekatkan pada kegiatan
dokumentasi mengenai OPK, pendokumentasiaan OPK, ritual upacara adat.
kondisi alam yang berpotensi menyusun rencana aksi untuk ● Normalisasi Sungai Piabung
merusak cagar budaya. melindungi cagar budaya dari agar kawasan Candi Bumi
ancaman alam. Ayu terhindar dari banjir dan
erosi.
● Mengemas kembali cerita
rakyat ke dalam bentuk yang
lebih ramah bagi generasi
muda.
Pengembangan Kurangnya kajian dan penelitian Melakukan kajian dan penelitian ● Identifikasi keberagaman
untuk menggali pengetahuan yang untuk menggali pengetahuan yang dialek Bahasa Penukal dan
terkandung dalam OPK dan terkandung dalam OPK dan Bahasa Lematang.
melakukan pengembangan OPK melakukan pengembangan OPK ● Modifikasi instrumen musik
agar tetap dapat beradaptasi engan agar tetap dapat beradaptasi engan pengiring tari tradisional agar
pekembangan zaman. pekembangan zaman. lebih meraik tanpa
meninggalkan pakem tradisi.
Pemanfaatan Belum maksimalnya penggalian Mendorong upaya pemanfaatan ● Komodifikasi Galumpai
potensi pemanfaatan OPK di OPB di bidang ekonomi kreatif, sebagai cindera mata.
bidang ekonomi kreatif, pariwisata, pariwisata, dan pendidikan ● Pemanfaatan OPK sebagai
48
dan pendidikan karakter. karakter. metode pendidikan karakter.
Pembinaan Belum memadainya kuantitas dan Melakukan pelatihan untuk ● Sertifikasi Tim Ahli Cagar
kualitas seniman tradisional dan meningkatkan kuantitas dan Budaya Kabupaten Pali.
para perajin teknologi tradisional, kualitas seniman tradisional dan
belum ada dukungan sarana dan para perajin teknologi tradisional,
prasarana latihan seni tradisional, menyediakan sarana dan
Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten prasarana latihan seni tradisional,
Pali belum mengikuti sertifikasi. sertifikasi Tim Ahli Cagar
Budaya Kabupaten Pali.
74 Kabupaten Pelindungan Banyak OPK sudah tidak dikenal Mensosialisasikan OPK kepada ● Memasukkan OPK ke dalam
Bandung oleh masyarakat bahkan sebagian masyarakat, melakukan muatan lokal kurikulum
sudah ada yang punah, belum ada penyelamatan untuk OPK yang pendidikan dasar dan
inventarisasi OPK secara sudah punah, melakukan menengah.
menyeluruh, belum tersedianya inventarisasi OPK secara ● Menyusun buku mengenai
sarana dan prasarana Pemajuan menyeluruh, menyediakan sarana OPK.
Kebudayaan yang memadai, dan prasarana Pemajuan ● Menyusun peraturan daerah
adanya penguasaan lahan cagar Kebudayaan yang memadai, berkaitan dengan kebudayaan.
budaya oleh pribadi. mengupayakan alih kepemilikan
lahan cagar budaya.
Pengembangan Belum maksimalnya kajian dan Melaksanakan kajian dan -
penelitian untuk mengembangkan penelitian untuk mengembangkan
OPK agar tetap relevan dengan OPK agar tetap relevan dengan
kehidupan masyarakat. kehidupan masyarakat.
Pemanfaatan Belum maksimalnya penggalian Memaksimalkan penggalian -
potensi pemanfaatan OPK. potensi pemanfaatan OPK.
Pembinaan Jumlah sumber daya manusia di Melakukan pembinaan kepada -
bidang kebudayaan semakin sumber daya manusian di bidang
berkurang. kebudayaan.
75 Kabupaten Pelindungan Keberadaaan OPK dikhawatirkan Melakukan inventarisasi ● OPK mulai tergantikan oleh
Polewali Mandar terancam hilang sebagai akibat dari mengenai OPK, menyediakan ilmu pengetahuan dan
(belum ada tidak adanya inventarisasi dan sarana dan prasarana preservasi teknologi modern.
softfile) catatan sejarah mengenai OPK, OPK, melakukan program ● Kurangnya sarana dan
kurangnya sarana dan prasarana pewarisan OPK kepada generasi prasarana preservasi OPK
preservasi OPK, kurangnya berikutnya, serta menghidupkan seperti museum digitalisasi

49
pewarisan OPK kepada generasi kembali penggunaan OPK dalam naskah kuno.
berikutnya, serta mulai kehidupan masyarakat sehari-hari. ● Tidak ada muatan lokal
ditinggalkannya penggunaan OPK mengenai OPK dalam
dalam kehidupan masyarakat kurikulum pendidikan.
sehari-hari.
Pengembangan Kurangnya kajian dan penelitian Melakukan kajian dan penelitian ● Hasil kajian dan penelitian
untuk mengembangkan OPK agar untuk mengembangkan OPK agar mengenai OPK harus
tetap relevan dengan kehidupan tetap relevan dengan kehidupan dipublikasikan dalam bentuk
masyarakat saat ini. masyarakat saat ini. buku.
Pemanfaatan Kurangnya kegiatan pagelaran seni Pagelaran seni dan festival OPK ● Penyelenggaraan Festival
dan festival OPK sebagai salah satu harus diselenggarakan secara Sayyang Pattudu.
metode mempromosikan potensi berkala. ● Tidak ada gedung pertunjukan
daerah. seni yang representatif.
Pembinaan Jumlah sumber daya manusia Menyusun program pembinaan ● Tersedianya jumlah guru
terkait OPK sudah semakin sumber daya manusia terkait OPK bahasa daerah dan guru
berkurang sebagai akibat tidak secara sistematis pada lembaga kesenian yang memadai.
adanya program pembinaan secara pendidikan formal, nonformal, ● Tersedianya alat kesenian
formal, nonformal, maupun maupun informal serta yang memadai di setiap
informal. menyediakan tenaga pengajar sekolah dan sanggar.
OPK sesuai dengan kebutuhan
daerah.
76 Kabupaten OKU Pelindungan Masyarakat yang menggunakan Meningkatkan pemahaman nilai ● Pembentukan Tim Ahli Cagar
Selatan (belum OPK dalam kehidupan sehari-hari dan makna OPK pada masyarakat, Budaya di OKU Selatan
ada softfile) semakin berkurang karena turunnya melakukan inventarisasi yang ● Pelibatan masyarakat
minat dan banyaknya masyarakat menyeluruh terhadap OPK, pendatang dalam setiap
yang merantau ke daerah lain, melakukan sosialisasi dan kegiatan kebudayaan untuk
belum adanya upaya inventarisasi pendampingan kepada masyarakat mendorong terjadinya
yang menyeluruh terhadap OPK, yang memiliki cagar budaya dan pertemuan budaya antara
banyak cagar budaya dan manuskrip, membentuk Tim Ahli pendatang dan penduduk asli.
manuskrip yang dikuasasi secara Cagar Budaya di OKU Selatan.
pribadi, belum adanya Tim Ahli
Cagar Budaya di OKU Selatan.
Pengembangan Kurangnya kajian dan penelitian Melakukan kajian dan penelitian ● Pelibatan perguruan tinggi
untuk mengembangkan OPK agar untuk mengembangkan OPK agar dalam melakukan kajian dan

50
tetap relevan dengan kehidupan tetap relevan dengan kehidupan penelitian terhadap OPK.
masyarakat saat ini. masyarakat saat ini.
Pemanfaatan Belum adanya kegiatan Penyediaan pusat kebudayaan ● Penyediaan pusat kebudayaan
kebudayaan dengan kalender dengan sarana dan prasana yang yang representatif.
kegiatan yang berkesinambungan memadai serta menyusun
dan dukungan pusat kebudayaan kalender kegiatan kebudayaan
yang representatif. yang berkesinambungan.
Pembinaan Jumlah sumber daya manusia Pembenahan kurikulum ● Meningkatkan peran
terkait OPK semakin berkurang dan pendidikan kebudayaan dan pembinaan Dewan Kesenian
minimnya tenaga pembina kesenian di sekolah serta OKU Selatan.
kesenian. menghidupkan kembali grup ● Memberikan pelatihan kepada
kesenian, paguyuban seni, dan tenaga pembina kesenian.
sanggar seni di bawah pembinaan
Dewan Kesenian OKU Selatan.
77 Kota Denpasar Pelindungan
Pengembangan
Pemanfaatan
Pembinaan
78 Kota Ternate Pelindungan Berkurangnya frekuensi Meningkatkan pemahaman ● Banyak sanggar yang
(belum ada penggunaan OPK dalam kehidupan masyarakat terhadap nilai dan kekurangan alat kesenian
softfile) masyarakat sehari-hari, beberapa manfaat OPK dalam kehidupan tradisional.
artefak manuskrip dan cagar sehari-hari, melakukan ● Tidak ada Tim Ahli Cagar
budaya dalam kondisi rusak dan penyelamatan dan konservasi Budaya.
tidak terawat, sebagian besar OPK terhadap manuskrip dan cagar ● Menetapkan peraturan daerah
di Kota Ternate belum budaya, melakukan identifikasi tentang pelestarian
teridentifikasi dan terdokumentasi, dan dokumentasi terhadap OPK di kebudayaan daerah.
sarana dan prasana Pemajuan Kota Ternate, menyediakan
Kebudayaan belum memadai. sarana dan prasarana Pemajuan
Kebudayaan.
Pengembangan Kurangnya kajian dan penelitian Pembentukan tim peneliti dan ● Beberapa OPK dianggap
mengenai nilai dan sejarah OPK pengkajian kebudayaan daerah. menghidupkan kembali
yang menyebabkan munculnya kepercayaan nenek moyang
perbedaan pemahaman dalam yang berbau gaib.
masyarakat.

51
Pemanfaatan - - -
Pembinaan Jumlah sumber daya manusia Penguatan sumber daya manusia ● Adanya kerja sama antara
kebudayaan semakin berkurang. kebudayaan melalui pembinaan perguruan tinggi, lembaga
dan pelatihan serta penyusunan adat, komunitas, dan sanggar.
buku dan kurikulum muatan lokal
untuk pendidikan di sekolah.
79 Kabupaten Pelindungan
Gianyar Pengembangan
Pemanfaatan
Pembinaan
80 Kota Tegal Pelindungan Keberadaan OPK dalam kehidupan Melakukan inventarisasi ● Mendirikan museum budaya
(belum ada sehari-hari masyarakat semakin mengenai OPK, menyediakan Tegal.
softfile) terpinggirkan karena tidak adanya sarana dan prasarana preservasi ● Sosialisasi nilai dan makna
inventarisasi dan catatan sejarah OPK, melakukan program yang terkandung dalam OPK
mengenai OPK, kurangnya sarana pewarisan OPK kepada generasi kepada seluruh masyarakat.
dan prasarana preservasi OPK, berikutnya, serta melakukan ● Melengkapi sarana dan
kurangnya pewarisan OPK kepada revitalisasi nilai dan makna dari prasarana Taman Budaya
generasi berikutnya, serta mulai OPK agar tetap relevan dalam Tegal serta membangun
berkurangnya jumlah seniman dan kehidupan masyarakat sehari-hari. gedung kesenian di tiap
ahli OPK yang benar-benar kecamatan.
memahami nilai dan makna OPK.
Pengembangan Ketidakpahaman mengenai nilai Melakukan kajian dan penelitian ● Hasil kajian dan penelitian
dan makna yang terkandung dalam untuk menggali dan mengenai OPK harus
setiap OPK menyebabkan mengembangkan nilai dan makna dipublikasikan dalam bentuk
penyelenggaraan OPK hanya yang terkandung dalam OPK agar buku.
dipandang dari aspek efesiensi tetap relevan dengan kehidupan
ekonomi sehingga mudah untuk masyarakat saat ini dan masa
digantikan oleh ekspresi atau yang akan datang.
pengetahuan yang lebih modern.
Pemanfaatan Masih lemahnya sinergi dan Meningkatkan sinkronisasi dan ● Rapat koordinasi berkala dan
harmonisasi kebijakan, program, harmonisasi kebijakan, program, penyelenggaraan kegiatan
serta kegiatan terkait pemanfaatan serta kegiatan terkait pemanfaatan kebudayaan yang melibatkan
OPK antar para pemangku OPK antar para pemangku seluruh pemangku
kepentingan. kepentingan. kepentingan.

52
Pembinaan Semakin berkurangnya jumlah Melakukan upaya pembinaan dan ● Menguatkan fungsi dan tata
seniman dan pegiat budaya yang kaderisasi seniman dan pegiat kelola dewan kesenian dan
memahami nilai dan makna yang budaya yang memahami nilai dan komunitas seni budaya.
terkandung dalam OPK. Sebagian makna yang terkandung dalam ● Program beasiswa untuk
besar seniman dan pegiat budaya OPK dengan dukungan sarana seniman dan pegiat budaya.
hanya sekedar mengamalkan OPK dan prasarana yang memadai. ● Program seniman masuk
tanpa memperhatikan nilai yang sekolah.
menyertai OPK.
81 Kota Sawahlunto Pelindungan Menurunnya pemahaman dan Sosialisasi OPK kepada seluruh ● Pembangunan basis data
(belum ada minat masyarakat terhadap OPK lapisan masyarakat khususnya cagar budaya dan warisan
softfile) tradisional, tidak adanya pendataan melalui modifikasi kurikulum di budaya.
yang baik untuk OPK selain cagar pendidikan dasar dan menengah, ● Modifikasi kurikulum di
budaya, Pemajuan Kebudayaan melakukan pendataan menyeluruh pendidikan dasar dan
belum didukung oleh sarana dan untuk OPK selain cagar budaya, menengah.
prasarana yang memadai, serta menyediakan sarana dan
belum adanya regulasi terkait prasarana yang memadai untuk
Pemajuan Kebudayaan. Pemajuan Kebudayaan, serta
menyusun regulasi terkait
Pemajuan Kebudayaan.
Pengembangan Kurangnya kajian dan penelitian Melakukan kajian dan penelitian -
untuk mengembangkan OPK agar untuk mengembangkan OPK agar
tetap relevan dengan kehidupan tetap relevan dengan kehidupan
masyarakat saat ini. masyarakat saat ini.
Pemanfaatan Cagar budaya dan warisan budaya Memperbaiki tata kelola cagar ● Penyusunan regulasi
di Sawahlunto belum diberdayakan budaya dan warisan budaya di pengelolaan dan pemanfaatan
dan dimanfaatkan secara maksimal. Sawahlunto agar lebih optimal cagar budaya dan warisan
dan profesional. budaya.
Pembinaan Terbatasnya jumlah sumber daya Mendorong perbaikan kurikulum ● Penyusunan kurikulum yang
manusia di bidang kebudayaan. pendidikan untuk mengakomodasi mengakomodasi muatan lokal
Semakin banyak OPK yang muatan kebudayaan lokal, terkait kebudayaan daerah
kehilangan masyarakat melakukan pembinaan dan Sawahlunto.
pendukungnya. pendampingan kepada sanggar
dan paguyuban, serta melibatkan
masyarakat dalam setiap urusan
Pemajuan Kebudayaan.
53
82 Kota Pelindungan Pendokumentasian OPK belum Melakukan pendokumentasian ● Penyusunan Peraturan Daerah
Banjarmasin berjalan dengan baik, kurangnya OPK, menyusun program Kota Banjarmasi tentang
(belum ada pewarisan OPK kepada generasi pewarisan OPK kepada generasi Pemajuan Kebudayaan dan
softfile) berikutnya, belum adanya regulasi berikutnya melalui pendidikan, Cagar Budaya.
tingkat daerah terkait OPK dan menyusun regulasi tingkat daerah ● Pendataan OPK dan data
cagar budaya. terkait OPK dan cagar budaya. kebudayaan lainnya berbasis
aplikasi daring.
Pengembangan Belum dimaksimalkannya potensi Melakukan kajian dan penelitian -
keberagaman seni dan budaya untuk memperkaya keberagaman
masyarakat Banjarmasin yang seni dan budaya serta
dipengaruhi oleh agama Islam, meningkatkan interaksi antar
Buddha, Hindu, dan etnis budaya untuk mendorong
Tionghoa. terjadinya asimilasi, akulturasi,
inovasi, dan adaptasi kebudayaan.
Pemanfaatan Belum sinergisnya kerja sama antar Peningkatan koordinasi antara ● Harus dibuat kalender
pelaku seni, pegiat budaya, institusi
seluruh pemangku kepentingan. kegiatan seni dan budaya.
kebudayaan, dan pemerintah daerah
terkait pemanfaatan OPK
Pembinaan Jumlah sumber daya manusia di Menyusun program pembelajaran -
bidang kebudayaan semakin seni dan budaya mulai dari
berkurang. pendidikan usia dini hingga
perguruan tinggi.
83 Kabupaten Pelindungan Upaya menjaga eksistensi OPK di Menyediakan sarana dan prasana ● Pembangunan Bale Budaya
Lombok Utara Lombok Utara belum didukung Pemajuan Kebudayaan yang sebagai sentra aktivitas
(belum ada dengan sarana dan prasana memadai, melakukan kebudayaan Lombok Utara.
softfile) Pemajuan Kebudayaan yang inventarisasi OPK dengan baik, ● Menyusun buku kumpulan
memadai, kekayaan OPK belum serta menyusun kurikulum informasi kebudayaan
diinventarisasi dengan baik, serta muatan lokal berbasis kebudayaan Lombok Utara
belum adanya kurikulum muatan Lombok Utara. ● Menyusun kurikulum muatan
lokal yang memastikan pewarisan lokal berbasis kebudayaan
budaya kepada generasi berikutnya. Lombok Utara.
Pengembangan Belum adanya upaya sistematis Melakukan kajian dan penelitian ● Menjadikan Lombok Utara
untuk menjadikan kebudayaan untuk mengembangkan potensi sebagai gerbang kebudayaan
Masyarakat Sasak sebagai ikon kebudayaan Masyarakat Sasak Masyarakat Sasak.

54
Lombok Utara. sebagai ikon Lombok Utara.
Pemanfaatan Belum maksimalnya pemanfaatan Mengembangkan industri budaya -
OPK sebagai upaya meningkatkan di pedesaan sebagai upaya
kesejahteraaan masyarakat, pemberdayaan ekonomi
khususnya di pedesaan. masyarakat desa.
Pembinaan Belum adanya kurikulum Menyusun kurikulum pendidikan -
pendidikan yang berbasis berbasis kebudayaan Lombok
kebudayaan Lombok Utara. Utara.
84 Kabupaten Bima Pelindungan
Pengembangan
Pemanfaatan
Pembinaan
85 Kota Tebing Pelindungan Belum adanya pendataan terhadap Melakukan pendataan terhadap ● Menyusun Peraturan Daerah
Tinggi (belum semua OPK, belum memadainya OPK, menyediakan sarana dan Kota Tebing Tinggi tentang
ada softfile) sarana dan prasarana Pemajuan prasarana Pemajuan Kebudayaan Kebudayaan Daerah.
Kebudayaan, beberapa cagar yang memadai, mengembalikan ● Mewujudkan data pokok OPK
budaya telah beralih fungsi cagar budaya yang telah beralih di Kota Tebing Tinggi.
sehingga menyebabkan proses fungsi ke keadaan semula. ● Mengembalikan cagar budaya
legalisasi dan registrasi cagar yang telah beralih fungsi ke
budaya menjadi terhambat. keadaan semula.
Pengembangan OPK di Tebing Tinggi belum Melakukan kajian dan penelitian -
tergali dengan baik bahkan untuk menggali potensi
beberapa diantaranya telah punah. pengembangan OPK di Tebing
Tinggi serta menghidupkan
kembali OPK yang telah punah.
Pemanfaatan Kekayaan OPK di Tebing Tinggi, Menyusun rencana pemanfaatan ● Mewujudkan konsep Kota
khususnya cagar budaya belum kekayaan OPK di Tebing Tinggi, Tua Tebing Tinggi.
dapat dimanfaatkan secara khususnya cagar budaya untuk
maksimal. meningkatkan kesejahteraan
masyarakat.
Pembinaan Berkurangnya jumlah sumber daya Melalukan pembinaan untuk -
manusia kebudayaan yang meningkatkan jumlah dan kualitas
memahami secara spesifik sumber daya manusia kebudayaan
kebudayaan daerah Tebing Tinggi. terkait kebudayaan daerah Tebing
55
Tinggi.
86 Kabupaten Pelindungan Belum maksimalnya pencatatan, Mendorong optimalisasi kerja Penekanan pada optimalisasi Tim
Belitung Timur pendokumentasian, dan Tim Pencatatan Kekayaan Budaya Pencatatan Kekayaan Budaya
pengamanan OPK dan CB; Belum Daerah untuk mencatat dan Daerah
maksimalnya upaya penyebearan mendokumentasikan OPK dan
pengetahuan dan regenerasi pada CB; Mendorong munculnya
generasi muda perihal OPK dan regulasi yang memberi jaminan
CB; Semakin memudarnya nilai keamanan OPK dan CB;
kebudayaan di tengah masyarakat Mendorong upaya penyebarluasan
informasi dan regenerasi perihal
OPK dan CB kepada generasi
muda; Mendorong upaya
revitalisasi dan aktualisasi OPK
dan CB.
Pengembangan Belum signifikannya sarana dan Mendorong hadirnya sarana dan Penekanan pada egiatan-kegiatan
prasarana pendukung OPK dan CB; prasarana yang signifikan dalam yang mengaktualisasikan OPK
Belum tersedianya rujukan perihal mendukung OPK dan CB; dan CB terkhusus sebagai
OPK dan CB untuk konsumsi Mendorong kajian yang nantinya konsumsi generasi muda.
masyarakat luas; Lemahnya rasa dipublikasikan secara meluas
kepemilikan masyarakat terhadap perihal OPK dan CB; Mendorong
OPK dan CB yang sudah tercatat serangkaian kegiatan untuk
dan ditetapkan; membangun rasa kepemilikan
masyarakat terhadap OPK dan
CB; Mendorong OPK dan CB
untuk masuk ke dalam pendidikan
di sekolah.
Pemanfaatan Belum ada pemanfaatan pada OPK Mendorong kajian yang mengarah Penekanan pada ramuan
dan CB yang bisa menguntungkan pada pemanfaatan OPK dan CB pengobatan tradisional yang bisa
kehidupan masyarakat kini. untuk kehidupan masyarakat saat dikembangkan sebagai obat
ini. herbal yang bisa memberi
keuntungan ekonomi dan
kesehatan masyarakat.
Pembinaan Upaya pelibatan penutur, pembuat, Perlunya membuat sistem Memaksimalkan kerja Lembaga
pelaku, dan pemelihara dalam pemajuan objek kebudayaan yang Adat dari tingkat desa hingga
pemajuan dan pewarisan pada sistematis dan komprehensif kabupaten.
56
semua OPK masih belum mengenai mekanisme pelibatan
maksimal; Lembaga-lembaga yang penutur, pembuat, pelaku dan
bergerak di bidang OPK dan CB pemelihara melalui pelatihan atau
belum maksimal bimtek secara berkala;
Memaksimalkan kerja lembaga-
lembaga yang bergerak di bidang
OPK dan CB
87 Kabupaten Kutai Pelindungan Kurangnya anggaran dan SDM Mendorong penganggaran yang Penekanan pada pencarian
Timur untuk upaya pelindungan OPK dan lebih baik untuk OPK dan CB; kembali sumber-sumber
CB; Kurangnya partisipasi Upaya publikasi yang lebih luas sejarah manuskrip ke
masyarakat, perusahaan, dan perihal OPK dan CB demi berbagai daerah yang berkaitan
pemerintah dalam upaya mendorong partisipasi dengan Kabupaten Kutai
pelindungan OPK dan CB; Masih masyarakat; Mendorong upaya Timur; Serta kurangnya bahan
belum optimalnya upaya inventarisasi dan baku ulin untuk pembangunan
inventarisasi dan pendokumentasian yang lebih rumah lamin;
pendokumentasian serta komprehensif atas OPK dan CB;
pengamanan OPK dan CB; Revitalisasi lingkungan dan
Hilangnya beberapa ekosistem ekosistem lainnya yang
penunjang OPK dan CB; Belum menunjang OPK dan CB.
adanya regulasi yang kuat di
bidang kebudayaan.
Pengembangan Kurangnya anggaran untuk upaya Mendorong penganggaran yang Penekanan pada peran swasta
pengembagana OPK dan CB; lebih baik untuk pengembangan (perusahaan) dalam
Kurangnya sarana dan prasarana OPK dan CB; Mendorong pengembangan kebudayaan
serta partisipasi masyarakat, hadirnya sarana dan prasarana
perusahaan, dan pemerintah belum serta event-event OPK dan CB
optimal; Sedikit dan tidak adanya yang mendorong partisipasi
lembaga-lembaga yang bergerak di masyarakat.
bidang OPK dan CB.
Pemanfaatan Kurangnya anggaran untuk upaya Mendorong pengaggaran yang
pemanfaatan OPK dan CB; lebih baik untuk pemanfaatan
Partisipasi masyarakat, perusahaan, OPK dan CB; Mendorong kajian
dan pemerintah belum optimal hal-hal mana yang perlu
untuk pemanfaatan ini. dikembangkan, dengan
keuntungan yang lain seperti
57
ekonomi atau pariwisata, dari
OPK dan CB.
Pembinaan Kurangnya anggaran untuk upaya Mendorong pengaggaran yang Penekanan pada SDM Cagar
pembinaan OPK dan CB; lebih baik untuk pembinaan OPK Budaya dan Museum yang masih
Pembinaan, pelestarian pemajuan dan CB; Mendorong event-event sangat minim
kebudayaan di Kabupaten Kutai yang tepat guna untuk SDM OPK
Timur belum maksimal; dan CB serta program-program
Terbatasnya Sumber Daya Manusia untuk regenerasinya
secara kualitas dan kuantitas di
dalam mengurusi OPK dan CB.
88 Kab. Sumba Pelindungan Kesulitan memperoleh komoditas Menyediakan komoditas lokal Diperlukan perlakuan khusus bagi
Tengah lokal untuk mempertahankan untuk mempertahankan keaslian komoditas lokal oleh KLHK atau
keaslian rumah adat, karna rumah adat lembaga terkait
komoditas lokal berada di dalam
kawasan Taman Nasional

Pengembangan Modernisasi menggerus keaslian Melakukan kajian terhadap adat


adat istiadat dan budaya lokal istiadat dan budaya lokal yang ada
agar dapat dikembangkan sesuai
dengan masyarakat saat ini

Pemanfaatan Kurangnya dukungan dan Melakukan koordinasi dengan · Kegiatan Pekan Budaya NTT
partisipasi pemerintah pusat dalam pemerintah pusat ketika akan merupakan kegiatan tahunan
kegiatan pagelaran dan festival mengadakan kegiatan pagelaran · Terdapat pagelaran seni
dan festival budaya sedaratan sumba dan
festival lagu-lagu daerah

Pembinaan Ketidaktersediaan SDM yang Mendorong peningkatan jumlah Bekerjasama dengan Balai
memiliki kompetensi profesional di dan mutu SDM yang profesional Arkeologi Bali untuk
bidangnya mendapatkan SDM professional
dalam bidang Arkeologi

89 Kota Gorontalo Pelindungan Belum ada produk hukum yang Mendorong legislatif dan Inventarisasi mengarah pada
mengatur legalitas original OPK; eksekutif untuk menetapkan manuskrip melalui proses
kurangnya inventarisasi terhadap produk hukum terkait OPK; digitalisasi naskah yang sudah tua
58
beberapa OPK melakukan inventarisasi terhadap dan usang
beberapa OPK

Pengembangan Masyarakat mulai kehilangan nilai- Menyusun pedoman, dokumen, Penguatan nilai-nilai berupa
nilai yang ada di dalam OPK dan dan kurikulum berbasis nilai-nilai muatan lokal bahasa daerah, seni
tergerus modernisasi budaya; mengintegrasikan budaya, dan olahraga
program pendidikan dengan nilai-
nilai budaya

Pemanfaatan Kurangnya kegiatan pagelaran Menggeliatkan kegiatan pagelaran Penekanan pada pertandingan dan
terhadap salah satu OPK dan festival pagelaran permainan rakyat

Pembinaan Makin berkurangnya para pelaku Melakukan upaya regenerasi Penguatan lembaga adat dan
OPK dan kurangnya lembaga dan pelaku OPK dan mendorong sarprasnya; pembagunan pusat
SDM terkait OPK terciptanya tata kelola pameran; belum ada tim ahli
kelembagaan cagar budaya

90 Kab. Bima Pelindungan Kurangnya inventaris data-data Melakukan inventaris data dan Produk hukum berupa penetapan
yang berkaitan dengan OPK dan membuat arsip digital cagar budaya skala nasional karna
belum ada produk hukum hanya Museum Asi Mbojo yang
sudah memiliki SK cagar budaya
nasional

Pengembangan Masuknya modernisasi berupa Mengintegrasikan program


bahasa asing pendidikan dengan memasukan
muatan lokal bahasa daerah

Pemanfaatan

Pembinaan Kurangnya SDM terutama generasi Melakukan upaya regenerasi, Penguatan kelembagaan
muda sebagai pelaku OPK; sosialisasi, pembinaan pelaku mengarah pada terbentuknya
kurangnya lembaga untuk OPK, dan penguatan kelembagaan lembaga atau komunitas yang
melakukan pembinaan terhadap menampung generasi muda dalam
generasi muda melestarikan Aksara Mbojo

91. Bone Bolango Pelindungan Belum optimalnya program Pembentukan mekanisme terpadu Promosi OPK sebagai kekayaan
59
inventarisasi, pemeliharaan, dan yang selaras antara inventarisasi, bangsa melalui media cetak,
publikasi terhadap OPK pemeliharaan, dan publikasi media elektronik, dan media
terhadap OPK sosial

Pengembangan Kesenian dan nilai-nilai OPK masih Mendorong tingkat partisipasi Kerjasama dengan lembaga
kurang bergairah dalam kehidupan Dewan Kesenian Daerah dalam pendidikan
masyarakat rangka memberikan stimulus
terhadap masyarakat

Pemanfaatan Keberagaman OPK yang ada belum Mengoptimalkan keberagam OPK Adat istiadat bekerjasama dengan
dimanfaatkan secara optimal oleh melalui kerjasama dengan unsur pemangku adat,
pemangku kepentingan yang berkepentingan

Pembinaan Minimnya ketersediaan SDM yang Melakukan peningkatan SDM dan Peningkatan tata kelola lembaga
berkualitas dan lembaga yang peningkatan tata kelola lembaga mengarah pada sanggar seni dan
mendukung OPK budaya serta sarprasnya

92. Kota Ternate Pelindungan Kurangnya sosialisasi mengenai Melakukan sosialisasi yang baik Sosialisai UU Cagar Budaya
regulasi yang sudah ada; semakin kepada masyarakat mengenai karena masyarakat mengambil
langkanya bahan baku untuk regulasi yang sudah ada; bahan dari situs cagar budaya
membuat makanan tradisioanl penyediaan bahan baku dan pusat
pembuatannya

Pengembangan Kebudayaan tradisional dianggap Sosialisasi kepada masyarakat


ketinggalan zaman, kuno, tidak luas tentang pentingnya
adaptif dengan perkembangan kebudayaan
zaman

Pemanfaatan Semakin berkurangnya minat Meningkatkan minat generasi Mengadakan perlombaan dan
generasi muda untuk memanfaatkan muda untuk mempelajari OPK publikasi terhadap OPK
OPK agar dapat dimanfaatkan,
menghidupkan kembali OPK di
kalangan generasi muda

Pembinaan Semakin berkurangnya pelaku Sosialisasi kepada masyarakat dan


budaya dan rendahnya minat regenarisasi pelaku budaya
60
generasi muda terhadap OPK

93. Luwu Pelindungan Tidak adanya pelestarian cagar Pemerintah daerah menggarkan Merekomendasikan masyarakat
budaya dana untuk pelestarian cagar yang ada di sekitar situs untuk
budaya menjaga cagar budaya

Pengembangan Modernisasi menggeser bahasa Bahasa daerah harus menjadi


daerah; kurangnya sarana dan prioritas muatan lokal di setiap
prasarana yang mendorong OPK sekolah yang ada di daerah
tersebut; partisipasi dari
pemerintah untuk mendukung
sarana prasarana

Pemanfaatan Semakin berkurangnya minat Melakukan perayaan dan Perlombaan olahraga tradisional
masyarkat untuk melirik OPK peringatan seperti perlombaaan dilakukan setahun sekali
terutama olahraga tradisional

Pembinaan Rendahnya pengetahuan Pembinaan tenaga ahli di bidang


masyarakat mengenai budaya Luwu kebudayaan

94. Luwu Utara Pelindungan Belum adanya regulasi yang Membuat regulasi terkait OPK; Melakukan kunjungan ke
mengatur OPK; naskah asli mengusahakan pengembalian Universitas Leiden, Belanda
ilagaligo tidak berada di Indonesia naskah ilagaligo untuk mempelajari secara lansung
dokumen ilagaligo

Pengembangan Pelestarian nilai-nilai budaya belum Meminimalisir pengaruh nilai- Mengoptimalkan pengelolaan
optimal, masuknya nilai-nilai nilai budaya luar terhadap nilai pelestarian objek pemajuan
budaya luar yang dapat budaya lokal yang ada kebudayaan
menghilangi nilai budaya lokal
terutama opada generasi muda

Pemanfaatan Beberapa jenis OPK sudah tidak Mengadakan perlombaan, festival Bekerjasama dengan isntansi lain
populer di kalangan masyarakat; budaya; optimalisasi program untuk mengadakan perlombaan
belum optimalnya program promosi promosi dan pemasaran terhadap atau festival budaya
dan pemasaran OPK

61
Pembinaan Kurangnya SDM yang berkaitan Melakukan regenerasi terhadap Melaksanakan pelatihan secara
dengan OPK dan kurangnya sarana SDM dan penyediaan sarana rutin
prasarana prasarana

95. Kota Surakarta Pelindungan Belum tersedianya peraturan di Mendorong implementasi Penyususnan dokumen
bidang kebudayaan peraturan nasional/daerah di menggunakan analisis SWOT
bidang kebudayaan

Pengembangan Masyarakat mulai kehilangan nilai- Mendorong konten budaya Jawa Penyususnan dokumen
nilai yang ada di dalam OPK dan sebagai muatan lokal dalam menggunakan analisis SWOT
tergerus modernisasi; minimnya kurikulum; mendorong berbagai
sarana untuk berdiskusi berbagai dialog budaya
OPK

Pemanfaatan Minimnya pelaksanaan pagelaran Mendorong pelaksanaan Penyususnan dokumen


berbasis budaya; kurangnya pagelaran berbasis budaya; menggunakan analisis SWOT
keterlibatan dalam pagelaran yang mengirimkan duta budaya di
bersifat global berbagai pagelaran yang bersifat
global

Pembinaan Kualitas dan regenerasi SDM di Meningkatkan kualitas dan Penyususnan dokumen
bidang kebudayaan masih rendah regenerasi SDM bidang menggunakan analisis SWOT
kebudayaan

96. Kab. Bangka Pelindungan Inventarisasi belum dilaksanakan Melakukan inventarisasi secara Data warisan budaya yang sudah
dengan optimal menyeluruh dan terkoordinasi. lengkap diusulkan ke
Kemendikbud agar segera
ditetapkan sebagai warisan
budaya tak benda Indonesia

Pengembangan Kajian ilmiah belum dilaksanakan Melaksanakan kajian ilmiah Bekerjasama dengan Pemerintah
mengingat terbatasnya tenaga warisan budaya tak benda dengan Provinsi Bangka Belitung dan
teknis kebudayaan melibatkan tenaga ahli dan BPNB Kepulauan Riau
lembaga yang bergerak di bidang
kebudayaan.

62
Pemanfaatan · Lemahnya kerja sama dengan · Perlunya sosialisasi -
pihak terkait untuk secara berkala tentang
mempromosikan potensi Kebudayaan melalui core
kebudayaan event, mayor event,
· Belum memiliki sarana dan maupun support event
prasarana yang memadai · Membantu menyediakan
untuk aktualisasi produk fasilitas sarpras
budaya kebudayaan sesuai
kondisi/kemampuan

Pembinaan Belum memiliki sarana dan Menyelenggarakan Diklat, -


prasarana yang memadai untuk Workshop, Dialog, atau Kursus
mencetak tenaga teknis untuk setiap
OPK

97 Kab. Fakfak Pelindungan Sangat sedikit OPK di Kabupaten Melakukan penelitian, pencatatan, Faktor dominan yang
Fakfak yang terinventarisasi serta dokumentasi Karya Seni dan menghambat pelaksanaan
Budaya Daerah inventarisasi adalah akses
teknologi dan anggaran

Pengembangan Minimnya peran serta masyarakat Menguatkan peran Masyarakat -


untuk pengembangan OPK Lokal dalam pengembangan
budaya Fakfak sebagai aset
budaya bangsa

Pemanfaatan Kurangnya minat masyarakat untuk Membuat/mendorong -


memanfaatkan OPK karena terselenggarakannya event
kemajuan teknologi berskala daerah dan nasional

Pembinaan - - -

98. Kab. Biak Pelindungan - - -


Numfor
Pengembangan Kurangnya sarana dan prasarana Menyediakan sarana dan Termasuk penataan kembali
yang mendukung pengembangan prasarana untuk mendukung Museum dan Gedung Pertunjukan
OPK pengembangan OPK yang belum dimanfaatkan secara
63
optimal

Pemanfaatan - - -

Pembinaan Kurangnya para aktivis atau pelaku Peningkatan secara kuantitas dan Minimnya pelaku budaya tersebut
budaya kualitas SDM bidang kebudayaan tersebar pada hampir seluruh
OPK

99. Kab. Kaimana Pelindungan Kurangnya data dan informasi yang Melakukan inventarisasi Beberapa OPK seperti Manuskrip,
komprehensif dari OPK di Kab. Ritus, Teknologi Tradisional,
Kaimana Permainan Rakyat, dan Olahraga
Tradisional diklaim tidak ada
datanya

Pengembangan Berkurangnya minat masyarakat Revitalisasi nilai budaya agar Revitalisasi yang dilakukan
untuk menjaga nilai-nilai budaya dapat menyesuaikan dengan umumnya dengan
dalam OPK karena perkembangan perkembangan IPTEK mempopulerkan kembali serta
IPTEK penyebarluasan pada kegiatan
masyarakat

Pemanfaatan Berkurangnya minat masyarakat Menumbuhkan kembali Sasaran utama dari fasilitasi
dalam memanfaatkan OPK kebanggaan masyarakat untuk tersebut adalah generasi muda.
memanfaatkan potensi OPK,
dengan melanjutkan fasilitasi
event seni budaya

Pembinaan - - -

100. Kab. Bangka Pelindungan Minimnya usaha-usaha Mengupayakan pencatatan Upaya tersebut masih sebatas
Tengah pelindungan OPK, baik dalam maupun perlindungan ekosistem pengadaan fisik, untuk pengadaan
pencatatan maupun perlindungan OPK bahan baku pada OPK
ekosistem OPK tersebut Pengetahuan Tradisional masih
berorientasi impor.

Pengembangan Semakin memudarnya nilai-nilai · Memperkuat hubungan -


budaya masyarakat yang perlu sosial
64
dilestarikan, khususnya gotong- · Memberikan sanksi sosial
royong

Pemanfaatan Kurangnya minat masyarakat Sosialisasi dan mempopulerkan Upaya tersebut diwujudkan
(terutama generasi muda) dalam kembali OPK yang dapat dengan penyelenggaraan kegiatan,
memanfaatkan OPK dimanfaatkan masyarakat festival, dll.

Pembinaan Minimnya SDM Kebudayaan baik · Mencetak SDM baru dari Belum disebutkan bentuk
secara kuantitas maupun kualitas kalangan generasi muda rekomendasi yang lebih konkret
manajemen · Memperbaiki manajemen dari upaya mencetak SDM
kebudayaan dengan Kebudayaan baru
pendampingan para ahli

101. Kab. Buleleng Pelindungan Banyak OPK Cagar Budaya yang Revitalisasi dan Restorasi Cagar -
berkondisi rusak karena tidak Budaya
optimalnya perawatan

Pengembangan Kurangnya pemahaman masyarakat Melakukan inventarisasi, Pengkajian difokuskan untuk


pendukung akan makna dan filosofi Sosialisasi dan pengkajian lebih menggali lebih banyak manfaat
yang terkandung di setiap OPK dalam tentang berbagai macam yang diperoleh dari keberadaan
OPK tersebut OPK tersebut

Pemanfaatan Semakin berkurangnya Mengenalkan dan menggali Sangat diperlukan keterlibatan


pemanfaatan OPK dalam kembali potensi OPK yang ada dari pihak terkait untuk
masyarakat karena kemajuan dengan mengolaborasikan dengan membantu mengoptimalkan
teknologi teknologi manfaat OPK yang ada

Pembinaan - - -

102. Kab. Pelindungan Minimnya kebijakan dan alokasi Meningkatkan regulasi, kebijakan Tahapan yang dilakukan :
Kotawaringin anggaran untuk pelindungan OPK dan alokasi anggaran untuk Identifikasi, Penyusunan
Barat pelindungan OPK Kebijakan, Implementasi, dan
Komitmen Bersama

Pengembangan Nilai-nilai budaya dalam Melakukan sosialisasi dan Sosialisasi dan harmonisasi
masyarakat Kotawaringin Barat harmonisasi lebih dalam tentang dilakukan dengan membentuk
65
sudah mulai tergerus arus pentingnya nilai budaya serta forum komunikasi lintas budaya,
modernisasi, banyak mengalami hubungannya dengan nilai-nilai adat, dan kepercayaan
benturan dengan nilai-nilai agama, agama
serta kurangnya pemahaman akan
makna sesungguhnya
dalam setiap seni dan budaya lokal

Pemanfaatan Kurang optimalnya pemanfaatan Mendorong partisipasi masyarakat Pemanfaatan berdasarkan pada
OPK untuk kehidupan masyarakat, sehingga OPK bukan hanya ciri khas utama Kotawaringin
terutama dalam menghadapi sekedar tontonan (hiburan), akan Barat dimana kehidupan
perkembangan IPTEK tetapi dapat menjadi tuntunan dan masyarakat Kotawaringin
kearifan dalam kehidupan sehari- Barat selalu berhubungan dengan
hari masyarakat. alam

Pembinaan Kurangnya SDM yang ahli dalam Meningkatkan kualitas SDM yang -
masing-masing OPK. kompeten bidang kebudayaan

103. Kab. Brebes Pelindungan Kurangnya inventarisasi, Mendorong penyusunan acuan Mengarah pada penyusunan buku
pemeliharaan dan publikasi terkait umum tentang OPK yang dapat Pedoman OPK sebagai acuan
OPK diakses masyarakat, sosialisasi utama masyarakat
pentingnya OPK di masyarakat

Pengembangan Kurangnya pengayaan keragaman Mendorong alih-rupa OPK ke Perhatian khusus diberikan pada
OPK yang diperkuat oleh interaksi dalam bentuk-bentuk yang mudah penyebarluasan budaya ke dalam
dengan budaya populer sehingga diterima masyarakat masyarakat Brebes
akibatnya tidak diminati
masyarakat

Pemanfaatan Tidak terintegrasinya pengelolaan Mendorong pengembangan wisata Perhatian khusus diberikan pada
OPK dengan pemanfaatannya kuliner dan wisata sastra berbasis penyelenggaraan festival rutin di
dalam konteks pariwisata OPK Brebes

Pembinaan Minimnya regulasi terkait OPK dan Mendorong proses legislasi Perhatian khusus diberikan pada
CB peraturan daerah terkait OPK dan regulasi terkait budaya tradisi di
CB Brebes

66
104. Kab. Malinau Pelindungan OPK dan CB daerah belum Melakukan inventarisasi serta Perhatian khusus atas saran
teridentifikasi dan terdokumentasi penyempurnaan terhadap data Pembentukan Tim Ahli Cagar
baik OPK maupun CB secara Budaya di Kab. Malinau
berkelanjutan

Pengembangan Belum ada kajian yang Melakukan kajian yang mendalam Melibatkan kerja sama baik dari
komprehensif terhadap OPK dan serta berkelanjutan terhadap OPK kalangan akademisi maupun
CB serta potensi CB profesional

Pemanfaatan Kurangnya pemahaman dan minat Menyelenggarakan festival dan Perhatian khusus pada usulan
masyarakat untuk memanfaatkan perlombaan seni budaya yang pembangunan pusat kesenian
OPK yang ada, khususnya generasi berkelanjutan dimulai dari tingkat sebagai pusat kegiatan seni
muda sekolah dasar sampai masyarakat
umum

Pembinaan Minimnya penutur tradisi lisan Regenerasi penutur tradisi lisan Masalah pembinaan hanya
dijabarkan jelas pada OPK Tradisi
Lisan

105. Kab. Nunukan Pelindungan Belum tergali, terdata, tercatat, Membentuk tim identifikasi, Melibatkan berbagai pihak terkait
teridentifikasi dan terdokumentasi dokumentasi, dan validasi secara yang mempunyai kompetensi
secara komprehensif seluruh komprehensif seluruh khazanah untuk identifikasi, dokumentasi,
khazanah kekayaan budaya lokal kekayaan budaya lokal Kabupaten dan validasi
Kabupaten Nunukan Nunukan yang belum sempat
terdata

Pengembangan Kelengkapan pedoman, dokumen, Menyusun buku pedoman, -


dan kurikulum berbasis nilai-nilai dokumen, dan kurikulum berbasis
budaya dan kearifan lokal belum nilai-nilai budaya dan
ada secara tersistemik dan kearifan lokal belum ada secara
terstruktur dengan optimal tersistemik dan terstruktur dengan
optimal

Pemanfaatan Jarang dilaksanakan event yang Meningkatkan penyelenggaraan -


mempertunjukkan/memperlombaka event, festival, atau perlombaan

67
n budaya lokal yang melibatkan budaya lokal

Pembinaan Sumber daya manusia (penutur, Penguatan tenaga SDM setiap Pembinaan dilakukan baik secara
pembuat, pelaku, pemelihara), dan OPK melalui pelatihan, formal atau informal
sarana prasarana guna pelestarian pembinaan, dan pengembangan,
seluruh objek kebudayaan daerah baik secara formal maupun
yang semakin berkurang, punah, informal, serta penyediaan
dan terkikis oleh kemajuan sarana prasarana pelestarian
teknologi dan modernitas seluruh OPK daerah

106. Kota Tomohon Pelindungan Belum adanya inventarisasi yang Melakukan inventarisasi terhadap Mengarah kepada pendataan yang
terorganisir untuk data OPK OPK berupa digitalisasi

Pengembangan Disharmonisasi antara nilai-nilai Mengakui ritus sebagai bagian Menjadikan adat istiadat pesta
yang terkandung dalam kebudayaan dari budaya Tomohon yang harus budaya menjadi destinasi budaya
khususnya ritus dan adat istiadat dilindungi; Meningkatkan dan religi; Merajuk kepada
dengan sistem kepercayaan; ketersediaan dan akses publik dilakukannya koordinasi dan
Semakin sedikitnya ruang ekspresi pada sarana prasarana OPK di kerjasama terhadap lembaga yang
OPK yang ada; Belum Tomohon; Melakukan kajian menjadi pemangku kepentingan
maksimalnya kajian terhadap OPK terhadap OPK serta mewujudkan di bidang pengkajian
mekanisme kerjasama lintas
pemangku kepentingan di bidang
pengkajian

Pemanfaatan Nilai budaya yang terkandung di Menjadikan kegiatan yang Mendorong integrasi OPK dengan
setiap OPK belum tersosialisasi berkaitan dengan OPK khususnya kurikulum yang ada di sekolah
secara popular di mata masyarakat ritus sebagai salah satu atraksi
dan belum dimanfaatkan secara wisata sebagai upaya pelestaraian
tepat untuk pendidikan karakter serta memanfaatkan nilai budaya
yang terkandung dalam setiap
OPK untuk pendidikan karakter

68
Pembinaan Kurangnya jumlah pelaku budaya Meningkatkan jumlah dan mutu Mengarah kepada pelaku budaya
(SDM) yang memiliki kapasitas SDM di bidang kebudayaan di bidang kuliner, ilmu pakuwon,
dan kapabilitas terhadap pengetahuan tradisional, serta
kebudayaan pengetahuan tentang musim
tanam dan melaut

107. Kabupaten Pelindungan Belum adanya pendataan Membangun sistem database Bekerja sama dengan lembaga
Maluku Barat kebudayaan yang terpadu; Belum kebudayaan; Pembuatan Peraturan pendidikan tinggi di Maluku
Daya adanya peraturan daerah yang Daerah tentang pranata adat dan (Fakultas Keguruan dan Ilmu
berkaitan dengan kebudayaan di budaya Pendidikan Unpatti) dalam
Maluku Barat Daya pendataan dan menemukan
korelasinya dengan aspek
pembelajaran dan pengembangan
daya nalar peserta didik berbasis
kebudayaan

Pengembangan Masuknya arus modernisasi yang Masyarakat berkembang bersama


menggerus nilai-nilai budaya; tatanan kebudayaan yang kokoh
Kurangnya sarana dan prasarana dengan tidak melupakan jati diri;
penunjang OPK yang belum Menyediakan sarana dan
berkembang dengan baik prasarana terkait dengan
pemajuan kebudayaan

Pemanfaatan Hilangnya prasarana yang berkaitan Pengadaan kembali lahan Mengarah kepada hilangnya lahan
dengan upaya pelindungan terhadap berkebun untuk melestarikan berkebun dan menanam jagung
OPK; Hilangnya kemampuan pengetahuan tradisional bertani; sebagai pangan lokal yang asli;
menenun Kesepakatan untuk menjadikan Menjadikan budaya kalwedo
dan memakai kain tenun sebagai sebagai payung yang mengayomi
alat komunikasi dan tata krama seluruh sendi-sendi kebudayaan
persahabatan dalam ritual adat dan di Maluku Barat Daya

69
kenegaraan

Pembinaan Pelembagaan adat istiadat yang Mendorong Pemerintah Daerah


belum dilakukan dengan baik untuk membuat Peraturan Daerah

108. Kabupaten Pelindungan Lemahnya inventarisasi, Dilakukannya pendataan dan Mengarah kepada inventarisasi
Nagakeo pemeliharaan, regulasi dan inventarisasi dengan sistem yang dimiliki perseorangan
publikasi terkait OPK serta digitalisasi; Mendorong upaya
terbatasnya alokasi anggaran untuk untuk dibuatkan Peraturan Daerah
pemajuan kebudayan mengenai pemajuan OPK;
Meningkatkan alokasi anggaran

Pengembangan Benturan antara nilai-nilai Menjaga kebersamaan dan Biasanya terjadi berkaitan dengan
kebudayaan dengan nilai keberagaman adat istiadat, ritus dengan nilai
agama/kepercayaan agama/kepercayaan

Pemanfaatan Kurangnya memanfaatkan Mengembangkan usaha Bekerja sama dengan PHRI dan
pengetahuan tradisonal seperti pengobatan tradisional dan kuliner Asosiasi Pengobat Tradisional
pengobatan tradisional dan kuliner untuk ekonomi kreatif Ramuan Indonesia dan lembaga
untuk ekonomi kreatif perdagangan untuk meningkatkan
pemanfaatan pengetahuan
tradisional

Pembinaan Minimnya para praktisi/ pelaku Perlunya peningkatan SDM dan


budaya dan ruang ekspresi seni sarpras untuk OPK

109 Kabupaten Ogan Pelindungan Perlu adanya intervensi Pemda Dibutuhkan adanya pembentukan Mengarah kepada koordinasi
Komering Ulu dalam penyusunan Perda yang kelembagaan Pemajuan lebih lanjut terhadap para
menangani urusan pemajuan Kebudayaan, alokasi anggaran eksekutif dan legislatif untuk
kebudayaan untuk menghidupkan budaya pembuatan Perda
tradisi

70
Pengembangan Benturan antara nilai-nilai Sosialisasi yang memeberikan Biasanya terjadi berkaitan dengan
kebudayaan dengan nilai pemahaman bahwa banyak objek adat istiadat, kesenian dengan
agama/kepercayaan; kurangnya kebudayaan jika dirunut dari sisi nilai agama/kepercayaan
kajian yang memberikan sejarah merupakan akulturasi
pemahaman dan makna terhadap budaya dan agama;
OPK; kurangnya kemampuan OPK Pengoptimalan teknologi yang
beradaptasi dengan perkembangan berkembang sekarang untuk
zaman pemajuan OPK

Pemanfaatan -

Pembinaan Minimnya generasi muda yang mau Melakukan sosialisasi dan


belajar dan melestarikan terbangan; pembinaan kepada masyarakat
Belum adanya TACB untuk membina anak-anak muda
(pelajar dan anak putus sekolah)
sebagai penerus pelestarian
terbangan

110. Kota Bima Pelindungan Kurangnya publikasi dan Melakukan inventarisasi dan
pemahaman terhadap OPK kepada publikasi dengan mengeluarkan
masyarakat buku yang memberikan gambaran
mengenai OPK

Pengembangan Upacara adat istiadat dianggap Sosialisasi terhadap fakta-fakta Merajuk kepada prosesi adat
memakan waktu, biaya, tenaga, kebudayaan yang sebenarnya upacara pernikahan adat, upacara
materi yang lama dan banyak sehingga menepis anggapan sura na ndoso, cafi sari, kiri loko
bahwa kebudayaan adalah
pengeluaran

Pemanfaatan Kurangnya pemanfaatan terhadap Perlu adanya pengkajian yang Merajuk kepada teknologi
OPK karena dianggap kuno dan dapat menerapkan OPK dengan tradisional

71
tidak praktis teknologi modern

Pembinaan Kurangnya regenerasi terhadap Melakukan regenerasi sejak dini


pemanfaatan OPK terutama untuk generasi muda
dengan cara memasukan
kurikulum muatan lokal dan
melakukan sosialisasi terhadap
masyarakat

111. Kabupaten Pelindungan Minimnya publikasi Melakukan publikasi melalui


Wonosobo seminar hasil kajian/penelitian

Pengembangan Belum adanya kajian secara Perlu adanya kajian


keilmuan serta kurangnya
pemahaman masyarakat tentang
nilai yang terkandung dalam OPK

Pemanfaatan -

Pembinaan TACB belum bersertifikasi; Perlu adanya pendalaman materi


Rendahnya minat generasi muda tentang sertifikasi; Pelibatan
untuk ikut berpartisipasi terhadap generasi muda di pagelaran seni
pemajuan kebudayaan budaya

112. Kabupaten Pelindungan Belum adanya inventarisasi data Melakukan inventarisasi data
Pangkajene kebudayaan secara detail serta secara lengkap dan menyeluruh di
Kepulauan kurangnya publikasi; Belum adanya wilayah Kabupaten Pangkep;
produk hukum daerah yang Mendorong eksekutif dan
bertujuan untuk melindung OPK legislatif menetapkan produk
hukum daerah berkaitan dengan
pemajuan kebudayaan

72
Pengembangan Masih kurangnya penelitian Melaksanakan penelitian dan
terhadap OPK yang ada di Pangkep pengembangan terhadap OPK
yang ada; Reaktualisasi nilai-nilai
budaya

Pemanfaatan Belum maksimalnya apresiasi Adanya apresiasi terhadap


terhadap kegiatan-kegiatan yang kegiatan OPK
berhubungan dengan kegiatan OPK
di daerah

Pembinaan Belum maksimalnya pembinaan Pelaksanaan pembinaan dan


kepada SDM kebudayaan, lembaga pendukungan terhadap
budaya dan komunitas budaya yang pelaksanaan pemajuan
ada kebudayaan

113. Kabupaten Alor Pelindungan Belum adanya inventarisasi data Melakukan inventarisasi terkait Pendataan yang dimaksud
OPK; Masih minimnya kebijakan OPK; Memfasilitasi lahirnya diharapkan juga dapat
daerah terkait kebudayaan kebijakan daerah mengenai memberikan gambaran mengenai
pemajuan kebudayaan potensii warisan budaya menurut
sebaran etnis di Kabupaten Alor

Pengembangan Minimnya kajian-kajian di bidang Mmfasilitasi pelaksanaan


kebudayaan penelitian di bidang kebudayaan
untuk kepentingan pemajuan
kebudayaan

Pemanfaatan Minimnya penyelenggaraan event Melakukan pemasyarakatan


kebudayaan yang dilakukan secara kebudayaan daerah melalui event
berkelanjutan; Masih lemahnya yang dilakukan secara
sinergi antara para pemangku berkenajutan ulai dari tingkat
kepentingan di bidang kebudayaan kabupaten, kecamatan hingga

73
tingkat desa/kelurahan;
Memfasilitasi terbangunnya
kerjasama bidang kebudayaan
antara pemangku kepentingan di
bidang kebudayaan

Pembinaan Masih rendahnya kapasitas SDM Memfasilitasi peningkatan


bidang kebudayaan kapasitas SDM bidang
kebudayaan

114. Kabupaten Karo Pelindungan


(belum ada bab 2-
7 atau tidak Pengembangan
sesuai format)
Pemanfaatan

Pembinaan

115. Kampar Pelindungan Sarana dan prasarana yang tidak Pembuatan sarana dan prasarana Pembangunan sarana dan
memadai yang mendukung OPK. prasarana khusus untuk OPK
manuskrip,

Pengembangan Kurangnya dokumentasi, kajian Mengadakan sosialisasi,


kebudayaan, dan perhatian mempopulerkan kembali terhadap
masyarakat. OPK

Pemanfaatan Paradigma masyarakat terhadap Penyelenggaraan Festival, Paradigma masyarakat kaku


OPK masih kaku. pagelaran dan pameran khusus terhadap pengetahuan
tradisional.

Pembinaan Kurangnya SDM secara mutu dan Pemberian beasiswa pendukung


kuantitas terkait pengetahuan pengembangan program OPK,

74
kebudayaan setempat Mengadakan pelatihan di bidang
kebudayaan.

116. Kapuas Hulu Pelindungan Kurangnya perawatan, tidak adanya Pelaksanaan kegiatan perawatan, Perawatan terfokus kepada cagar
prasarana pendidikan kebudayaan pembangunan prasarana budaya.
pendidikan kebudayaan

Pengembangan Penyebarluasan OPK kurang Dilaksanakan penyebarluasan


OPK

Pemanfaatan OPK jarang dilaksanakan Penggiatan kembali OPK yang


mulai jarang dilaksanakan

Pembinaan Tidak adanya pelatihan mengenai Dilaksanakan pelatihan mengenai


OPK. OPK.

117. Klungkung Pelindungan Nilai budaya tergerus oleh Nilai budaya dan tradisi harus
modernisasi, tradisi sudah mulai memiliki publikasi yang kuat,
ditinggalkan, sehingga dikenal kembali oleh

Pengembangan Kurang adanya sarana dan Pembangunan sarana dan


prasarana dalam pemajuan OPK prasarana dalam pemajuan OPK

Pemanfaatan Kurangnya pemanfaatan teknologi Pemanfaatan teknologi untuk


untuk pengembangan dan pengembangan dan
penyebarluasan informasi OPK penyebarluasan Informasi

Pembinaan Kurangnya Alokasi anggaran untuk Alokasi anggaran khusus dari


mengadakan pelatihan OPK pemerintah untuk pelatihan OPK

118. Lombok Timur Pelindungan Eksistensi OPK yang mulai hilang, Memperkenalkan kembali OPK,
sarana pelindungan OPK tidak ada membangun sarana pelindungan

75
OPK

Pengembangan Tidak ada upaya pengembangan Membuat kajian, dan


OPK penyebarluasan OPK

Pemanfaatan Generasi muda enggan Mengenalkan kembali arti OPK


menggunakan OPK

Pembinaan Tidak adanya lembaga masyarakat Pembuatan lembaga masyarakat Pembinaan terkait adat istiadat
yang membawahi OPK yang membawahi OPK

119. Mamberamo Pelindungan Masuknya kebudayaan luar Penyebarluasan kebudayaan pada


Raya menggantikan kebudayaan lokal, masyarakat, penanaman dan
kebudayaan mulai ditinggalkan. pengenalan kembali nilai-nilai
kebudayaan pada masyarakat

Pengembangan Tidak adanya kajian di bidang Pelaksanaan kajian, kajian


kebudayaan membuat nilai agama kebudayaan
dan budaya dibenturkan

Pemanfaatan Tidak adanya agenda kebudayaan Diselenggarakannya agenda


daerah. kebudayaan dengan skala nasional

Pembinaan Sedikitnya SDM pengembangan Dilaksanakannya kegiatan


OPK pelatihan dan pendidikan SDM
Kebudayaan.

120. Manokwari Pelindungan Masuknya budaya luar yang Inventarisasi kebudayaan dan
mengancam keberadaan pencatatan kebudayaaan.
kebudayaan daerah,

76
Pengembangan Kurangnya diskusi antara Dilaksanakannya diskusi dan
kebudayaan dan agama, kajian bidang kebudayaan dan
agama,

Pemanfaatan Kebudayaan daerah terkesan usang Pengemasan kembali bentuk


dan membosankan, kebudayaan daerah agar bisa
diterima generasi muda,

Pembinaan Putusnya generasi pewaris Penggalakan kembali penurunan


kebudayaan, karena generasi pengetahuan kebudayaan antar
diatasnya enggan menurunkan generasi
pengetahuan terkait kebudayaan.

121. Maybrat Pelindungan Kebudayaan secara umum jarang Perlunya penggalakkan kembali
digunakan oleh masyarakat. kebudayaan, sehingga kebudayaan
dapat digunakan kembali

Pengembangan Kurangnya sosialisasi terhadap Dilaksanakannya sosialisasi


kebudayaan. terhadap kebudayaan, dan diskusi
antara kebudayaan dan agama.

Pemanfaatan - -

Pembinaan Putusnya generasi pewaris Penggalakan kembali penuturan


kebudayaan, karena generasi tua kebudayaan antar generasi.
enggan menurunkan pengetahuan
terkait kebudayaan.

122. Tarakan Pelindungan Kurangnya sarana dan prasarana Dibangunnya sarana dan
pendukung OPK prasarana yang mendukung OPK

77
Pengembangan Kurangnya aktivitas kebudayaan di Perlu diadakan sosialisasi
daerah terhadap pentingnya kebudayaan

Pemanfaatan Kurangnya program dan kegiatan Pelibatan dewan kota untuk


kebudayaan membuat program kebudayaan
kota, perlu diadakan program
kebudayaan

Pembinaan Kurangnya SDM yang mampu Perlunya pelatihan di bidang


berkebudayaan kebudayaan

123. Kutai Barat Pelindungan Pudarnya nilai nilai kebudayaan, Pelunya revitalisasi kebudayaan
Adat istiadat mulai ditinggalkan yang didorong oleh pemerintah
daerah.

Pengembangan Kurangnya sarpras pengembangan Dibangunnya sarpras di bidang


dan penyebarluasan kebudayaan, kebudayaan, perlu diadakan
diskusi antara kebudayaan yang
melibatkan kaum agamawan.

Pemanfaatan Minimnya kegiatan berbasiskan Perlunya Penggalakan kegiatan


kebudayaan berbasis kebudayaan,

Pembinaan Minimnya SDM yang paham akan Perlu diadakan pelatihan


kebudayaan dan pengelolaannya. kebudayaan serta sertifikasi SDM
kebudayaan

124. Kutai Pelindungan Kurangnya data dan sistem Dibangunnya sarpras kebudayaan,
Kartanagara pendataan kebudayaan di daerah, digalakannya pendataan
sumber kebudayaan yang makin kebudayaan,
lama makin hilang

78
Pengembangan Kurangnya riset dan kajian Perlu diadakan kajian terkait
kebudayaan, terbenturnya antara kebudayaan, perlu diadakan
kebudayaan dan agama diskusi kebudayaan dan agama

Pemanfaatan Penggunaan kebudayaan dalam Penyelenggaraan kembali dan Khususnya pada OPK bahasa
kehidupan sehari hari mulai luntur penghidupan kembali kebudayaan daerah
melalui festival dan pagelaran,
serta penggalakan kembali
penggunaan dalam kehidupan
sehari hari

Pembinaan Kurangnya ekspresi kebudayaan Perlu diadakan pelatihan dan


pada masyarakat, pemberian ruang ekspresi
kebudayaan kepada masyarakat.

79