Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH INVESTASI DAN PEMBIAYAAN DAERAH

BAGAIMANA MENARIK INVESTASI DAN ORANG KE DAERAH

OLEH

NAMA-NAMA KELOMPOK :

1. MARTINA YASINTA HAMBU (1710010106)


2. JENIFA C LOPES (1710010008)
3. MARIA MARSELINA LABU (1710010011)
4. MARIA ELISA MANO (1710010018)
5. WILDA DIANA NOMAN (1710010110)
6. LUSIA STEFANIE S. MEKA (1710010087)

SEMESTER :IV

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN

UNIVERSITAS NUSA CENDANA

KUPANG

2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena
atas berkat dan bimbingan-Nya,sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah
ini dengan baik.

Makalah dengan judul ‘Bagaimana Menarik Orang Dan Investasi Ke


Daerah ” disusun sebagai tugas dari pada mata kuliah Pembiayaan dan Investasi
Daerah.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh
karena itu kami mengharapkan kritik dan saran demi penyempurnaan pada
penulisan ini.

Kupang,Februari 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................. i

DAFTAR ISI ............................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ 1

1.1 Latar Belakang ....................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah ................................................................... 1

1.3 Tujuan Penulisan ..................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN ......................................................................... 2

2.1 Obsesi Dan Daya Saing ........................................................... 2

2.2 Tren Investasi Di Indonesia..................................................... 3

2.3 Investasi Menurut Daerah ....................................................... 4

2.4 Iklim Bisnis Di Daerah ............................................................ 5

2.5. Peran Pemerintah Daerah......................................................... 6

2.6. Bagaimana Memasarkan Daerah.............................................. 7

BAB III PENUTUP ................................................................................. 10

3.1 Kesimpulan.............................................................................. 10

3.2 Saran ........................................................................................ 10

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 11

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Daya tarik investasi kesuatu daerah tidak terjadi serta merta. Pembentukan daya tarik
investasi berlansung secara terus menerus dan dipengaruhi oleh banyak aspek. Faktor ekonomi,
politik dan kelembagaan, sosial dan budaya diyakini merupakan beberapa faktor pembentuk
daya tarik investasi kesuatu negara atau daerah.
Investasi memegang peranan penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Secara
umum investasi atau penanaman modal membutuhkan adanya iklim yang sehat dan kemudahan
serta kejelasan prosedur peneneman modal. Iklim investas daerah juga dipengaruhi oleh
kondisi makroekonomi daerah yan bersangkutan.
Kondisi inilah yang mampu menggerakan sektor swasta untuk ikut serta dalam
menggerakan ekonomi.

1.2.Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan obsesi dan daya saing?
2. Bagaimana tren investasi di Indonesia?
3. Bagaimana perkembangan investasi menurut daerah?
4. Apa yang mempengaruhi iklim bisnis di daerah?
5. Bagaimana peran pemerintah daerah?
6. Bagaimana memasarkan daerah?
1.3.Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui obsesi dan daya saing.
2. Untuk mengetahui tren investasi di Indonesia.
3. Untuk mengetahui perkembangan investasi menurut daerah.
4. Untuk mengetahui iklim bisnis di daerah.
5. Untuk mengetahui peran pemerintah daerah.
6. Untuk mengetahui bagaimana memasarkan daerah.

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Obsesi Daya Saing

Daya saing menjadi kata kunci. Ia bak mantra yang selalu disebut oleh para
ekonom,CEO,manajer,presiden,menteri,gubernur,hingga bupati/walikota. Tidak berlebihan ia
menjadi semacam obsesi.

Para ekonom umumnya tertarik mendiskusikan daya saing negara. Daya saing negara
Indonesia makin merosot dari tahun ketahun dan berada pada peringkat papan bawah dari 49
negara yang diteliti setiap tahunnya. Hal ini merupakan akibat dari rendahnya kualitas
pelayanan birokrasi,tidak efisiensinya bisnis,meningkatnya biaya buruh, rendahnya kualitas
infrastruktur,dan tingginya biaya investasi di Indonesia.

Dilihat dari daya saing produk “unggulan” Indonesia dibandingkan dengan dunia, tampak
terlihat penyebab rendahnya daya saing. Survei membuktikan, harga komoditas unggulan
Indonesia lebih tinggi sekitar 22 persen dibandingkan harga dunia. Hal ini menunjukan bahwa
biaya produksi (dan /atau margin keuntungan ) produsen penghasil produk tersebut belum
mampu menyaingi produk sejenis dipasaran luar negeri. Akibatnya harga domestik dari produk
seperti tepung terigu, gula,semen, bahan plastik, dan mobil jauh lebih tinggi dibanding harga
internasional.

Paul Krugman mengemukakan dua alasan,mengapa daya saing negara berlainan dengan
daya saing perusahaan. Pertama, dalam realitas , yang bersaing bukan negara, tetapi
perusahaan dan industri, kebanyakan orang menganalogikan daya saing negara identik dengan
daya saing perusahaan. Bila negara Indonesia memiliki daya saing ,belum tentu seluruh
perusahaan dan industri Indonesia memiliki daya saing di pasar domestik maupun
internasional. Kedua,mendefinisikan daya saing negara lebih problematik dari pada daya saing
perusahaan. Bila suatu perusahaan tidak dapat membayar gaji karyawanya, membayar pasokan
bahan baku dari para pemasok, dan membagi dividen ,maka perusahaan itu akan bangkrut dan
terpaksa dan keluar dari bisnis dan gelutinya. Perusahhan memang bisa bangkrut, namun
negara tidak memiliki bottom line alias tidak pernah “keluar dari arena persaingan”.

2
2.2.Tren Investasi Di Indonesia

Tidak menariknya indonesia jelas terlihat dari menurunnya arus investasi sejak tahun 1998.
Data BKPM menunjukan,nilai PMDN (penanaman dalam negri ) pada tahun 1997 tercatat
sebesar Rp119 triliun dengan jumlah proyek 717 unit. Pada tahun 1998 merosot menjadi
tinggal Rp58 triliun dengan 320 unit proyek. Dan pada tahun 2002 terbukti hanya tinggal Rp25
triliun dengan 181 proyek. Rekor PMA tahun 1997 nilainya sebesar USD 33,8 miliyar dengan
783 unit proyek, tahun 1998 anjlok tinggal USD 13,6 miliyar, dan pada tahun lalu tiggal USD
9,7 miliyar kendati diluhat dari jumlah proyek yang meningkat menjdi 1.135 unit.

Bandingkan peretujuan investasi sebelum dan setelah 2001, ketika otonomi daerah mulai
diterapkan nilai investasi meliputi proyek baru, perluasan, dan alih status; tidak termasuk
migas, lembaga keuangan non bank, asuransi dan leasing. Nilai investasi naik drastis selama
periode 1988-1997 namun kemudian menurun setelah kris ekonomi pada tahun 1997. Nilai
investasi terus mengalam penurunan pada tahun 2001 dan 2002 setelah otonomi daerah
dijalankan.

Baik PMDN dan PMA memiliki pola yang sama. Hal tersebut mengidikasikan bahwa
investor asing dan domestik mempunyai ekspekasi yang sama. Yang menarik adalah aliran
investasi asing langsung yang negatif masih terus berlanjut bahkan setelah tahun 2000,
dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, Indonesia adalah negara yang paling
terpukul akibat krisis ekonomi dan satu-satunya negara yang mengalami pertumbuhan FDI
yang negati(LPEM & JETRO,2003 ). Akibatnya,ada banyak pertanyaan penting yang
diajuakan khususnya oleh investor asing mengenai daya saing indonesia dalam menarik modal
asing. Keadaan politik dalam negeri dan kondisi keamanan bisa sangat menpengaruhi iklim
investasi di indonesia untuk beberapa tahun kedepan.

Otonomi daerah telah ditanggapi oleh pemerintah daerah dengan berbagai macam cara.
Berdasarkan alasan untuk meningkatkan pendapatan daerah (PAD), pemerintah daerah
menerapkan beberapa pungutan, pajak, sumbangan sukarela, dan pembatasan-pembatasan
yang ditujukan kepada investor dan kegiatan bisnis.

Lemahnya perencanaan dan koordinasi peraturan perundangan, baik pada tingkat vertikal
(antara pemerintah pusat-provinsi-kabupaten/kota) maupun pada tingkat horisontal (antara
kementrian dan badan lainya),terus terjadi. Akibatnya, muncul peraturan dan kebijakan daerah
yang dibuat berdasarkan fantisme kedaerahan.
Studi JETRO (japan external Trade organization) juga menunjukan bahwa iklim investasi
indonesia jauh lebih buruk dibanding Cina, Thailand, Vietnam, dan negara-negara ASEAN
lainnya. Faktor penyebabnya adalah masalah perburuhan (meningkatnya biaya buruh dan
demontrasi buruh), masalah pabean, tak adanya intensif fiskal, dan berbagai kebijakan yang
tidak pro-bisnis.

Ironisnya, ternyata arus investasi asing yang masuk ke Indoensia ternyata diikuti dengan
arus keluar yang jauh lebih tinggi. Inilah yang biasa disebut sebagai net capital inflows yang
negatif. Data neraca pembayaran Indonesia, terutama pos investasi asing, terus mencatat angka
negatif sejak tahun 1998, yang dari tahun ke tahun angkanya semakin membesar. Hengkangnya
dua perusahaan sepatu, Rebook,Nike, diikuti Sony Electronic Indonesia ke Vietnam dan
menutup pabriknya di Indonesia memperkuat fakta: Indonesia bukanlah lokasi yang menarik
bagi para investor.

2.3.Investasi Menurut Daerah

Perlu dicatat bahwa krisis ekonomi yang melanda Indonesia tidak merata dirasakan antar
daerah. Pada saat ekonomi nasional mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi -13,1% pada
tahun 1998, terbukti perekonomian provinsi Irian Jaya tumbuh sebesar 12,7%, demikian juga
dengan Batam yang meneyam pertembuhan ekonomi sebesar 3,5%. Jelas bahwa country risk
tidak identik dengan regional risk, risiko melakukan bisnis di daerah.

Untuk tahun 1997- April 2003. Untuk PMDN, sektor sekunder merupakan sektor favorit;
dengan lebih dari 60% total PMDN diajukan pada sektor ini. Subsektor yang menjadi favorit
investor dalam negeri untuk sektor sekunder adalah industri kimia dan industri farmasi, industri
makanan;serta industri kertas dan percetakan. Sambungan sektor tersier dan primer relatif tetap
rendah, yaitu masig-masing dibawah 30%dan 15%. Sementara itu sumbangan PMA untuk
sektor primer, sekunder, dan tersier menunjukan perubahan pola. Sebelum tahun 2001, sektor
sekunder mendominasi investasi asing yang sebesar 60-70% dari total.

Pola yang paling menarik adalah setelah penerapan otonomi daerah dan desentralisasi,
sumbagan sektor tersier meningkat baik untuk PMDN maupun PMA. Subsektor dominan untuk
sektor tersier adalah transportasi, penyimpanan dan komunikasi; real eastate dan kegiatan
bisnis; hotel dan restoran; serta konstruksi.

4
Perkembangan investasi antar daerah dapat diamati dari pertumbuhan jumlah perusahaan
antar daerah. Jawa memiliki konsentrasi industri manufaktur yang tinggi yaitu sekitar 80,6%
dan 81% pada tahun 1997 dan 1999.

Daya tarik investasi dinilai dari indikator kelembagaan,kondisi keamanan sospul


budaya,ekonomi daerah,tenaga kerja,dan infrastruktur fisik. Ironisnya beberapa daerah yang
tergolong “teratas” berdasarkan sejumlah indikator tersebut terbukti belum banyak menarik
investasi.

2.4.Iklim Bisnis Di Daerah

Ray dan Redi(2003) meneliti perubahan iklim usaha selama dua tahun setelah pelaksanaan
otonomi daerah dan desentralisasi di Indonesia, terdapat 4 elemen kunci yang dianalisis,
diantaranya adalah perizinan dan birokrasi, sumbangan dan pungutan (baik formal maupun
informal), isu tenaga kerja dan perburuhan; serta arah dan orientasi kebijakan ekonomi daerah.
Lima kriteria digunakan untuk menganalisis efisiensi dan transportasi dalam proses perizinan,
yaitu kecepatan ,transparansi, biaya, total biaya perizinan, transparansi prosedural,dan
persyaratan berkas.

Survei yang dilakukan oleh REDI(2003) terhadap 1.014 responden pengusaha menunjukan
bahwa persepsi mereka terhadap lamanya waktu yang diperlukan untuk perizinan usaha adalah
sama,baik sebelum dan setelah otonomi.Untuk pajak/pungutan formal dan informal, beberapa
faktor digunakan sebagai indikator, yaitu besarnya pungutan,frekuensi/jumlah pungutan,dan
jumlah badan atau individu penarik.

Survei serupa dilakukan oleh Komite Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD)
dengan meneliti pentingnya berbagai faktor lokasi dalam perpektif kalangan usaha. Survei
melibatkan 463 responden di 134 daerah (97 kabupaten dan 37 kota). Di 26 provinsi. Studi
tersebut memfokuskan pada keseluruhan faktor lokasi seperti kualitas infrastruktur atau
angkatan kerja daerah,dimana beberapa dari faktor lokasi tersebut menggambarkan kualitas
pemerintah dan korupsi. Faktor politik lokal juga merupakan salah satu variabel yang
berhubungan dengan iklim usaha. Salah satu temuan umum menunjukan relatif tingginya
pengaruh faktor politik. Evaluasi oleh kalangan bisnis menunjukan bahwa iklim investasi di
indonesia masih jauh dari kondisi normal atau tetap belum sehat. Relatif rendahnya pelayanan
pemerintah,kurangnya kepastian hukum, dan peraturan daerah yang tidak pro-bisnis
merupakan alasan utama rendahnya penilaian iklim usaha(KPPOD,2002)
Lingkungan usaha yang sehat diperlukan untuk menarik investor dalam dan luar negeri.
KPPOD mencatat beberapa faktor yang mempengaruhi lingkungan usaha diantaranya adalah
tenaga kerja dan produktivitas, perekonomian daerah, infrastruktur fisik,kondisi sosial politik,
dan institusi. Lebih lanjut, survei yang dilakukan oleh KPPOD menunjukan bahwa institusi
merupakan faktor utama yang menentukan daya tarik investasi disutu daerah diikuti oleh
kondisi sosial politik, infrastruktur fisik, kondisi ekonomi daerah dan produktivitas tenaga
kerja. Hal tersebut mengindikasikan bahwa iklim investasi di Indonesia belum sehat. Studi
terhdap lebih daeri 2.000 perusahaan di lebih dari 60 kabupaten/kota yang dilakukan oleh
LPEM(2000) menemukan bahwa, alasan utama dibalik peningkatan ketidakpastian usaha yang
signifikan berhubungan dengan kurangnya kemampuan pemerintah daerah dalam menciptakan
dan mempertahankan iklim bisnis yang menguntungkan.

2.5.Peran Pemerintah Daerah

Secara struktural, jelas sulit bagi pemerintah daerah untuk menjadikan PAD sebagai
penyumbang utama pendapatan daerah. Dana Alokasi Umum dan dana bagi hasil pajak dan
bukan pajak, terutama SDA, akan tetap menjadi sumber pendapatan utama daerah. Sayangnya,
beberapa pemerintah daerah telah menerapkan peraturan daerah yang dimaksudkan untuk
meningkatkan pendapatan daerah namun tanpa mempertimbangkan beban yang harus
ditanggung oleh para pengusaha. Beberapa pemerintah daerah memakai cara yang tidak benar
yang kemudian justru mendistrosi investasi.

Sebaliknya, beberapa pemerintah daerah justru telah melakukan beberapa langkah untuk
menrik PMA dan PMDN. Ada beberapa langkah yang telah dilakukan, namun belum secara
menyeluruh. Hal tersebut dipandang sebagai fenomena positif untuk meningkatkan investasi
daerah. Beberapa inisiatif yang dilakukan adalah dengan melakukan reformasi birokrasi
layanan investasi,membangun sistem informasi potensi investasi, serta penigkatan dan provisi
infrastruktur fisik.

Pertama, reformasi pelayanan investasi. Otonomi daerah dan desentralisasi yang


dilaksanakan sejak 1 januari 2001 telah memberikan peranan yang lebih besar kepada
kabupaten dan kota, yang juga berarti bahwa pemerintah daerah harus melayani konstituennya,
termasuk investor. Salah satu kebijakan yang populer ditingkat provinsi adalah perizinan,
berbagai perizinan tersebut diantarannya:

 Surat Persetujuan Investasi Dalam Negeri Atau Surat Persetujuan Investasi Asing
Langsung.

6
 Ijin Usaha Tetap
 Surat Persetujuan fasilitas pajak untuk barang dan kapital yg diinpor
 Surat Persetujuan Fasilitas Impor Bahan Dasar
 Angka Pengenal Importir Terbatas
 Ijin Kerja Tenaga Asing
 Surat Persetujuan Fasiitas Pajak Penghasilan Untuk Usaha Manufaktur Tertentu.
 Persetujuan, perzinan lain yg meliputi berbagai tingkatan badan atau kantor ditingkat
pusat, provisi, dan kabupaten atau kota,misalnya
 Izin Penunjukan Penggunaan Tanah,
 Surat Persetujuan Prinsip Pembebasan Lokasi/Tanah,
 Nomor Pokok Wajib Pajak,
 Izin Lokasi
 Izin Mendirikan Bangunan
 Sertifikat Hak Guna Bangunan
 Sertifikat Hak Guna Usaha
 Izin Undang-Undang Gangguan

Kedua, sistem informasi potensi investasi. Banyak pemerintah daerh yang menggunakan
berbagai cara dan strategi tertentu untuk menarik PMD dan PMA. Strategi tersebut diantaranya:
pameran produk dan potensi investasi, dan promosi melalui internet.

Ketiga, peningkatan dan provisi infrastruktur fisik. Ketersediaaan infrastruktur pendukung


dirasakan agat penting untuk kegiatan usaha.Investasi diperlukan untuk menutup defisit
pendanaan pembangunan. Memperbaiki iklim investasi dan bisnis merupakan penentu penting
dalam investasi.Banyak pemerintah daerah yang telah membuat kemajuan di berbagai sektor
untuk memajukan daerahnya. Lebih lanjut, di beberapa daerah, pemerintah daerah bahkan telah
membangun Zona Industri Khusus.

2.6.Bagaimana Memasarkan Daerah

Ada 4 aktifitas utama dalam memasarkan daerah:

 Mengembangkan positioning yang kuat dan menarik


 Merancang insentif yang menarik bagi pembeli (investor) baru maupun yng sudah
ada.
 Menawarkan produk dan jasa secara efisien dan bisa diakses dengan mudah
 Mempromosikan daya tarik dan manfaat daerah

Dalam praktek, setidaknya ada 4 strategi menarik investasi, orang dan industri ke suatu
daerah, yaitu:

1) Image Marketing

Image (citra) adalah sejenis kepercayaan, ide, dan ekspresi yang dimiliki
orang terhadap suatu daerah. Citra adalah sekedar simplifikasi dari begitu banyak
informasi yg berhubungan dengan suatu daerah.

Untuk mengkomunikasikan citra suatu daerah dapat digunakan beberapa


cara: slogan,pengambilan posisi citra(image positioning), dan simbol secara visual.
Slogan adalah ungkapan/pernyataan singkat yang merefleksikan visi menyeluruh
tentang suatu daerah. Bila diintegrasikan dengan rencana pemasaran strategik,
slogan ini dapat bermanfaat untuk menumbuhkan
antusisas,optimisme,momentum,dan ide-ide baru.

2) Attraction Marketing

Atraksi (daya tarik ) merupakan alasan penting untuk wasatawan, investor


,dan modal datang kesuatu tempat. Banyak komponen dari perjalalan wisata,
sebagai contoh: transportasi dan akomodasi merupakan permintaan yang dihasilkan
dari keinginan konsumen untuk menikmati apa yg ditawarkan tujuan dalam arti
“sesuatu yg dikerjakan atau dilihat”

3) Infrastructure Marketing

Infastruktur merupakan dasar utama dalam memasarkan daerah. Slogan


dan image positining tidak ada artinya tanpa diikuti tersediannya prasarana dan
sarana yang mampu menarik orang, investasi, dan modal. Yang perlu di tekankan
dalam mempromosikan infrastruktur adalah :

 Aksetabilitas: kemudahan untuk didatangi, mencakup jalan, kereta api,


bandara, pelabuhan, sungai, transportasi umum, dan telekomunikasi.
 Kualitas infrastruktur: seberapa jauh sumber daya modal, fisik, dan prasarana
yang mendukung aktifitas ekonomi telah tersedia.
4) People Marketing

8
Strategi memasarkan daerah yang lain adalah memasarkan orang. Bentuk
pemasaran orang dapat dilakukan lewat:
 Orang-orang terkenal
 Pemimpin daerah
 Orang-orang kompeten dan wirausaha
 Sikap masyarakat
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

1. Dilihat dari daya saing produk “unggulan” Indonesia dibandingkan dengan dunia,
tampak terlihat penyebab rendahnya daya saing. Paul Krugman mengemukakan dua
alasan, Pertama dalam realitas , yang bersaing bukan negara, tetapi perusahaan dan
industri, kebabanyakan orang menganalogikan daya saing negara identik dengan daya
saing perusahaan. . Kedua,mendefinisikan daya saing negara lebih problematik dari
pada daya saing perusahaan
2. Ketika otonomi daerah mulai diterapkan nilai investasi meliputi proyekbaru, perluasan,
dan alih status; tidak termaksud migas, lembaga keuangan non bank, asuransi dan
leasing. Nilai investasi naik drastis selama periode 1988-1997 namun kemudian
menurun setelah krisis ekonomi pada tahun 1997.
3. Perkembangan investasi antar daerah dapat diamati dari pertumbuhan jumlah
perusahaan antar daerah

10
DAFTAR PUSTAKA

Kuncoro, Mudrajat, Otonomi dan Pembangunan Daerah : Reformasi, Perencanaan, Strategi


dan Peluang, Penerbit Eralangga, 2004.