Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN ANSIETAS

A.Definisi
Ansietas merupakan perasaan tidak tenang yang samar-samar karena ketidak
nyamanan atau rasa takut yang disertai suatu respon (penyebab tidak spesifik atau
tidak diketahui oleh individu).(Stuart.2012) menyatakan bahwa ansietas adalah
perasaan tidak tenang yang samar-samar karena ketidaknyamanan atau ketakutan
yang disertai dengan ketidakpastian,ketidakberdayaan,isolasi,dan ketidakamanan.
Ansietas adalah suatu perasaan tidak santai yang samar-samar karena adanya
ketidaknyamanan atau rasa takut yang disertai suatu respon.Sumber perasaan tidak
santai tersebut tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu.
B.Tingkatan Ansietas
a. Ansietas ringan
Ansietas ringan berhubungan dengan ketegangan dalam hidup sehari-hari sehingga
menyebabkan seseorang mendasi waspada dan meningkatkan lahan
persepsinya.Ansietas menumbuhkan motivasi belajar serta menghasilkan
pertumbuhan dan kreativitas. Menurut Videbeck (2008), respons dari ansietas
ringan adalah sebagai berikut :
1) Respons fisik
a) Ketegangan otot ringan
b) Sadar akan lingkungan
c) Rileks atau sedikit gelisah
d) Penuh perhatian
e) Rajin
2) Respon kognitif
a) Lapang persepsi luas
b) Terlihat tenang, percaya diri
c) Perasaan gagal sedikit
d) Waspada dan memperhatikan banyak hal
e) Mempertimbangkan informasi
f) Tingkat pembelajaran optimal
3) Respons emosional
a) Perilaku otomatis
b) Sedikit tidak sadar
c) Aktivitas menyendiri
d) Terstimulasi
e) Tenang
b. Ansietas sedang
Ansietas sedang dapat membuat sesorang untuk memusatkan seseorang untuk
memusatkan perhatian pada hal penting dan mengesampingkan yang lain,sehingga
seseorang mengalami perhatian yang selektif,tetapi dapat melakukan sesuatu yang
lebih terarah. Menurut Videbeck (2008), respons dari ansietas sedang adalah
sebagai berikut :
1) Respon fisik :
a) Ketegangan otot sedang
b) Tanda-tanda vital meningkat
c) Pupil dilatasi, mulai berkeringat
d) Sering mondar-mandir, memukul tangan
e) Suara berubah : bergetar, nada suara tinggi
f) Kewaspadaan dan ketegangan menigkat
g) Sering berkemih, sakit kepala, pola tidur berubah, nyeri punggung
2) Respons kognitif
a) Lapang persepsi menurun
b) Tidak perhatian secara selektif
c) Fokus terhadap stimulus meningkat
d) Rentang perhatian menurun
e) Penyelesaian masalah menurun
f) Pembelajaran terjadi dengan memfokuskan
3) Respons emosional
a) Tidak nyaman
b) Mudah tersinggung
c) Kepercayaan diri goyah
d) Tidak sabar
e) Gembira
c. Ansietas berat
Ansietas ini sangat mengurangi lahan persepsi seseorang.Adanya kecenderungan
untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik serta tidak dapat berpikir
tentang hal lain.Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan.Orang
tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu hal
lain.
Menurut Videbeck (2008), respons dari ansietas berat adalah sebagai berikut :
1) Respons fisik
a) Ketegangan otot berat
b) Hiperventilasi
c) Kontak mata buruk
d) Pengeluaran keringat meningkat
e) Bicara cepat, nada suara tinggi
f) Tindakan tanpa tujuan dan serampangan
g) Rahang menegang, mengertakan gigi
h) Mondar-mandir, berteriak
i) Meremas tangan, gemetar
2) Respons kognitif
a) Lapang persepsi terbatas
b) Proses berpikir terpecah-pecah
c) Sulit berpikir
d) Penyelesaian masalah buruk
e) Tidak mampu mempertimbangkan informasi
f) Hanya memerhatikan ancaman
g) Preokupasi dengan pikiran sendiri
h) Egosentris
3) Respons emosional
a) Sangat cemas
b) Agitasi
c) Takut
d) Bingung
e) Merasa tidak adekuat
f) Menarik diri
g) Penyangkalan
h) Ingin bebas
d. Tingkat panik
Ansietas berhubungan dengan ketakutan dan merasa diteror,serta tidak mampu
melakukan apapun walaupun dengan pengarahan.Panik Meningkatkan aktivitas
motorik,menurunkan kemampuan berhubungan dengan orang lain,persepsi
penyimpangan,serta kehilangan pemikiran rasional. Menurut Videbeck (2008),
respons dari panik adalah sebagai berikut :
1) Respons fisik
a) Flight, fight, atau freeze
b) Ketegangan otot sangat berat
c) Agitasi motorik kasar
d) Pupil dilatasi
e) Tanda-tanda vital meningkat kemudian menurun
f) Tidak dapat tidur
g) Hormon stress dan neurotransmiter berkurang
h) Wajah menyeringai, mulut ternganga
2) Respons kognitif
a) Persepsi sangat sempit
b) Pikiran tidak logis, terganggu
c) Kepribadian kacau
d) Tidak dapat menyelesaikan masalah
e) Fokus pada pikiran sendiri
f) Tidak rasional
g) Sulit memahami stimulus eksternal

C.Rentang Respon Tingkat Ansietas


Adaptif Maladaptif

Antisipasi Ringan Sedang Panik Berat


(Stuart.2013)
D.Etiologi
a. Faktor Predisposisi
Berbagai teori telah dikembangkan untuk menjelaskan asal ansietas :
1) Dalam pandangan psikoanalitik, ansietas adalah konflik emosional yang
terjadi antara dua elemen kepribadian, id dan superego. Id mewakili dorongan
insting dan impuls primitif seseorang, sedangkan superego mencerminkan hati
nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma – norma budaya seseorang. Ego
atau Aku, berfungsi menengahi hambatan dari dua elemen yang bertentangan
dan fungsi ansietas adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya.
2) Menurut pandangan interpersonal, ansietas timbul dari perasaan takut terhadap
tidak adanya penerimaan dari hubungan interpersonal. Ansietas juga
berhubungan dengan perkembangan, trauma seperti perpisahan dan
kehilangan, sehingga menimbulkan kelemahan spesifik. Orang dengan harga
diri rendah mudah mengalami perkembangan ansietas yang berat.
3) Menurut pandangan perilaku, ansietas merupakan produk frustasi, yaitu segala
sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang
diinginkan. Daftar tentang pembelajaran meyakini bahwa individu yang
terbiasa dalam kehidupan dininya dihadapkan pada ketakutan yang berlebihan
lebih sering menunjukkan ansietas pada kehidupan selanjutnya.
4) Kajian keluarga menunjukkan bahwa gangguan ansietas merupakan hal yang
biasa ditemui dalam suatu keluarga. Ada tumpang tindih dalam gangguan
ansietas dan antara gangguan ansietas dengan depresi.
5) Kajian biologis menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor khusus
benzodiazepine. Reseptor ini mungkin membantu mengatur ansietas
penghambat dalam aminobutirik. Gamma neuroregulator (GABA) juga
mungkin memainkan peran utama dalam mekanisme biologis berhubungan
dengan ansietas sebagaimana halnya endorfin. Selain itu telah dibuktikan
kesehatan umum seseorang mempunyai akibat nyata sebagai predisposisi
terhadap ansietas. Ansietas mungkin disertai dengan gangguan fisik dan
selanjutnya menurunkan kapasitas seseorang untuk mengatasi stressor.
b. Faktor Presipitasi
Stressor pencetus mungkin berasal dari sumber internal atau eksternal. Stressor
pencetus dapat dikelompokkan menjadi 2 kategori :
1) Ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis
yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas hidup
sehari - hari.
2) Ancaman terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas, harga
diri dan fungsi sosial yang terintegrasi seseorang.

E.Tanda dan Gejala


1. Cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri, mudah
tersinggung.
2. Merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut.
3. Takut sendiri, takut pada keramaian dan banyak orang.
4. Gangguan pola tidur, mimpi-mimpi yang menegangkan.
5. Gangguan konsentrasi dan daya ingat
6. Keluhan-keluhan somatik, misalnya rasa sakit pada otot dan tulang,
pendengaranberdenging (tinitus), berdebar-debar, sesak nafas, gangguan
pencernaan,gangguan perkemihan, sakit kepala dan sebagainya.

F.Sumber Koping
Koping dapat dilakukan dengan menggerakan sumber koping dilingkungan.Hal tersebut dapat
dilakukan oleh individu untuk mengatasi ansietas.

G.Mekanisme Koping
Tingkat ansietas dan berat menimbulkan dua jenis mekanisme koping, yaitu :
a. Reaksi yang berorientasi pada tugas yaitu upaya yang disadari dan berorientasi pada
tindakan untuk memenuhi secara realistic tuntutan reaksi stres misalnya perilaku
menyerang untuk mengubah atau mengatasi hambatan pemenuhan kebutuhan. Menarik
diri untuk memindahkan dari sumber stres. Kompromi untuk mengganti tujuan atau
mengorbankan kebutuhan personal.
b. Mekanisme pertahanan ego dapat membantu mengatasi ansietas ringan dan sedang, tetapi
berlangsung secara tidak sadar, serta melibatkan penipuan diri distorsi realitas, dan bersifat
mal adaptif. Menurut Nurhalima (2016) mekanisme pertahanan ego yang digunakan
adalah :
1) Kompensasi
Proses di mana seseorang memperbaiki penurunan citra diri dengan secara tegas
menonjolkan kelebihan yang di miliki nya.
2) Penyangkalan
Klien mengatakan ketidak setujuan terhadap realitas dengan mengingkari realitas
tersebut. mekanisme pertahanan ini paling sederhana dan primitif
3) Pemindahan
Pemindahan merupakan pengalian emosi yang semula di tujukan pada seseorang atau
benda tertentu yang biasanya netral atau kurang mengancam terhadap dirinya.
4) Disosiasi
Pemisahan dari setiap proses mental atau prilaku dari kesadaran atau identitas nya.
5) Identifikasi
Proses dimana seseorang mencoba menjadi orang yang ia kagumi dengan mengambil
atau menirukan pikiran-pikiran, perilaku, dan selera orang tersebut.
6) Intelektualisasi
Klien menggunakan logika dan alasan yang berlebihan untuk menghindari pengalaman
yang mengganggu perasaan nya.
7) Introjeksi
Klien mengikuti norma-norma dari luar sehinnga tidak lagi terganggu oleh ancaman dari
luar (pembentukan superego).
8) FiksasI
Klien berhenti pada tingkat perkembangan salah satu aspek tertentu (emosi atau
tingkalaku atau pikiran), sehingga perkembangan selanjutnya terhalang.
9) Proyeksi
Pengalihan buah pikiran atau impuls pada diri sendiri kepada orang lain, terutama
keinginan. Perasaan emosional dan motifasi tidak dapat di toleransi.
10) Rasionalisasi
Klien memberi keterangan bahwa sikap atau tingkahlakunya berdasarkan pada alasan
yang seolah-olah rasional, sehingga tidak menjatuhkan harga diri.
11) Reaksi formasi
Klien bertingkahlaku berlebihan yang langsung bertentangan dengan keinginan-
keinginan atau perasaan yang sebenarnya.
12) Regresi
Klien kembali ke tingkat perkembangan terdahulu (tingkahlaku yang primitif).
13) Represi
Klien secara tidak sadar mengesampingkan pikiran, inpuls, atau ingatan yang
menyakitkan atau bertentangan hal ini merupakan pertahanan ego yang primer dan
cenderung di perkuat oleh mekanisme ego yang lainnya.
14) Acting Out
Klien langsung mencetuskan perasaan bila keinginannya terhalang.
15) Sublimasi
Penerimaan suatu sasaran pengganti yang mulia.
16) Supresi
Suatu proses yang di golongkan sebagai mekanisme pertahanan, tetapi sebetulnya
merupakan analog represi yang di sadari.
17) Undoing
Tindakan atau perilaku atau komunikasi yang menghapuskan sebagian dari tindakan,
perilaku atau komunikasi sebelumnya yang merupakan mekanisme pertahanan primitif.

H.Komplikasi

a. Depresi
b. Somatoform
c. Skizofrenia Hibefrenik
d. Skizofrenia Simplek

I.Pemeriksaan Diagnostik / Penunjang

Pemeriksaan Diagnostik / Penunjang ansietas yaitu:


a. Pemerikasaan laboratorium, pada pemeriksaan laboratorium didapatkan
peningkatan fungsi adrenal, peningkatan glukosa dan menurunnya fungsi
paratiroid, tingkat oksigen dan kalsium.
b. Uji psikologis

J.Penatalaksanaan Medis
Menurut Hawari (2008) penatalaksanaan ansietas pada tahap pencegahaan dan
terapi memerlukan suatu metode pendekatan yang bersifat holistik, yaitu
mencangkup fisik (somatik), psikologik atau psikiatrik, psikososial dan
psikoreligius. Selengkpanya seperti pada uraian berikut :
a. Upaya meningkatkan kekebalan terhadap stress, dengan cara :
1) Makan makan yang bergizi dan seimbang.
2) Tidur yang cukup.
3) Cukup olahraga.
4) Tidak merokok.
5) Tidak meminum minuman keras.

b. Terapi psikofarmaka
Terapi psikofarmaka merupakan pengobatan untuk cemas dengan memakai obat-
obatan yang berkhasiat memulihkan fungsi gangguan neuro-transmitter (sinyal
penghantar saraf) di susunan saraf pusat otak (limbic system). Terapi psikofarmaka
yang sering dipakai adalah obat anti cemas (anxiolytic), yaitu seperti diazepam,
clobazam, bromazepam, lorazepam, buspirone HCl, meprobamate dan alprazolam.
c. Terapi somatic
Gejala atau keluhan fisik (somatik) sering dijumpai sebagai gejala ikutan atau akibat
dari kecemasan yang bekerpanjangan. Untuk menghilangkan keluhan-keluhan
somatik (fisik) itu dapat diberikan obat-obatan yang ditujukan pada organ tubuh
yang bersangkutan.
d. Psikoterapi
Psikoterapi diberikan tergantung dari kebutuhan individu, antara lain :
1) Psikoterapi suportif, untuk memberikan motivasi, semangat dan dorongan agar
pasien yang bersangkutan tidak merasa putus asa dan diberi keyakinan serta percaya
diri.
2) Psikoterapi re-edukatif, memberikan pendidikan ulang dan koreksi bila dinilai
bahwa ketidakmampuan mengatsi kecemasan.
3) Psikoterapi re-konstruktif, untuk dimaksudkan memperbaiki kembali (re-
konstruksi) kepribadian yang telah mengalami goncangan akibat stressor.
4) Psikoterapi kognitif, untuk memulihkan fungsi kognitif pasien, yaitu
kemampuan untuk berpikir secara rasional, konsentrasi dan daya ingat.
5) Psikoterapi psiko-dinamik, untuk menganalisa dan menguraikan proses
dinamika kejiwaan yang dapat menjelaskan mengapa seseorang tidak mampu
menghadapi stressor psikososial sehingga mengalami kecemasan.
6) Psikoterapi keluarga, untuk memperbaiki hubungan kekeluargaan, agar faktor
keluarga tidak lagi menjadi faktor penyebab dan faktor keluarga dapat dijadikan
sebagai faktor pendukung.
e. Terapi psikoreligius
Untuk meningkatkan keimanan seseorang yang erat hubungannya dengan
kekebalan dan daya tahan dalam menghadapi berbagai problem kehidupan yang
merupakan stressor psikososial.

K.Diagnosa Keperawatan
Gangguan sensori Menarik diri Gangguan proses pikir :
persepsi : halusinasi waham

Ansietas

Harga diri rendah Harga diri rendah