Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Critical book adalah hasil kritik tentang suatu topik materi yang pada umumnya di
perkuliahan terhadap buku yang berbeda. Penulisan critical book ini pada dasarnya adalah
untuk mengkeritik buku Membina Keluarga Bahagia . Setiap buku yang dibuat oleh penulis
tertentu pastilah mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing. Kelayakan suatu buku
dapat kita ketahui jika kita melakukan resensi terhadap buku itu dengan mengkritik terhadap
buku ini. Suatu buku dengan kelebihan yang lebih dominan dibandingkan dengan kekurangan
nya artinya buku ini sudah layak untuk dipakai dan dijadikan sumber referensi bagi khalayak
ramai. Adanya kritik dari buku ini tentunya sangat bermanfaat, guna lebih dapat memperoleh
kajian yang memiliki kualitas penulisannya dalam bidang akuntansi.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang menjadi kelebihan dan kelemahan buku yang saya kritisi ini ?
2. Bagaimana kelayakan dari buku tersebut ?
3. Apakah buku ini sudah layak untuk dijadikan bahan pembelajaran?
1.3 TUJUAN
1. Untuk mengetahui layak atau tidaknya suatu buku tersebut.
2. Melatih dan mengembangkan pengetahuan serta kreatifitas mahasiswa
3. Agar mahasiswa lebih memahami dan mendalami pokok bahasan
4. Mengetahui kekurangan setiap buku.
1.4 MANFAAT
1. Pendapatkan pengetahuan dan ketelitian menganalisi buku tersebut.
2. Mahasiswa dapat mengetahui standar buku yang baik diantara buku yang akan dikritisi.
3. Dapat mengetahui kekurangan dan pengetahuan dari buku tersebut, dan dapat
menyelesaikan tugas yang diberikan dosen.

1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 IDENTITAS BUKU
BUKU UTAMA
Judul : PERTUMBUHAN IMAN YANG SEMPURNA
Penulis : Yusuf Eko Basuki
Penerbit : Garudhawa Online Books
Tahun penerbit : 2014
Urutan cetakan : cetakan pertama
ISBN : 978-602-7949-36-2
2.2 RINGKASAN BUKU
BAB I
DIPERLENGKAPI UNTUK MELAYANI

Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-
pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi
orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita
semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah,
kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga
kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh
permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh
berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia,
Kristus, yang adalah Kepala (Efesus 4:11-15)
Rasul Paulus yang kala itu sedang dipenjarakan karena Kristus mengingatkan kepada
orang-orang percaya di Efesus tentang bagaimana kehadiran para pelayan Tuhan seperti rasul,
nabi, pemberita Injil, gembala dan pengajar di dalam umat Tuhan. Mereka ada oleh karena
Tuhan sendiri yang memberikannya kepada umat-Nya. Tuhan yang memilih, memanggil dan
memperlengkapi mereka untuk menjadi alat di dalam tangan Tuhan dan untuk melakukan apa
yang menjadi kehendak Tuhan.
Di dalam bagian ini, Paulus tidak hanya menyatakan bagaimana mereka hadir di dalam
umat Tuhan. Ia juga menjelaskan mengapa Tuhan memberikan mereka kepada umatNya.
Untuk apa mereka diberikan. Apa tugas dan fungsi mereka. Apa yang dikatakan oleh Paulus
dalam bagian ini, adalah bahwa tujuan Allah memberikan rasul, nabi, pemberita Injil, gembala

2
dan pengajar kepada umatNya supaya mereka memperlengkapi orang-orang kudus. Tugas dan
tanggung jawab para rasul, nabi, pemberita Injil, gembala dan pengajar adalah bagaimana
mereka memperlengkapi umat Tuhan dengan suatu pengajaran yang benar. Pengajaran yang
bersumber dari Tuhan, dimana mereka harus meneruskan apa yang Tuhan telah percayakan
kepada mereka.
Dalam PL, para nabi yang dipakai oleh Tuhan menerima firman yang langsung dari
Tuhan dan mereka harus menyampaikan firman tersebut kepada umat-Nya. Entah firman itu
tentang keselamatan atau pun tentang penghukuman (pembuangan). Para rasul, mereka
dipanggil oleh Yesus untuk menjadi muridNya, mereka adalah saksi dari apa yang dikerjakan
oleh Yesus Kristus. Dan Yesus Kristus mempercayakan Injil kepada mereka untuk diberitakan.
Karena itu mereka harus memberitakan Injil tentang Dia bukan tentang diri mereka. Demikian
juga dengan pemberita Injil, gembala dan pengajar. Mereka harus mendapatkan panggilan dari
Allah, mempelajari firman Tuhan dengan benar sehingga memiliki pengetahuan yang benar
tentang Anak Allah, guna memperlengkapi umat dengan suatu pengajaran yang benar tentang
Yesus Kristus.
Melalui bagian ini, Paulus juga menjelaskan apa yang diharapkan dari orang-orang
kudus yang telah diperlengkapi oleh pelayanan para rasul, nabi, pemberita Injil, gembala dan
pengajar. Orang-orang kudus yang telah diperlengkapi akan mengalami beberapa hal:
Pertama, mereka akan siap untuk mengerjakan pelayanan. Pekerjaan pelayanan akan terus
berjalan. Itu yang diharapkan oleh Paulus kepada jemaat-jemaat yang dia telah layani. Paulus
terus mengingatkan mereka yang telah diperlengkapinya agar tidak terus menerus bergantung
dengan kehadirannya di tengah-tengah mereka. Dia tidak hanya dipenjara, dia bahkan akan
meninggal atau mati dengan demikian dia terbatas untuk hadir ditengah-tengah mereka. Tetapi
pekerjaan pelayanan harus tetap berjalan walau tanpa dia. Pekerjaan pelayanan tidak boleh
terhenti hanya oleh karena jabatan rasul, nabi, pemberita Injil, gembala dan pengajar tidak ada,
karena pekerjaan pelayanan bukan milik mereka melainkan milik Allah. Karena itu Allah yang
memberikan rasul, nabi, pemberita Injil, gembala dan pengajar memberikan mandat pada
mereka untuk memperlengkapi orang-orang kudus. Pekerjaan pelayanan harus tetap berjalan
oleh karena adanya fungsi rasul, nabi, pemberita Injil, gembala dan pengajar tetap ada. Karena
itu tugas rasul, nabi, pemberita Injil, gembala dan pengajar adalah memperlengkapi umat dan
mempersiapkan generasi berikutnya. Hal ini adalah sebuah bentuk pemuridan seperti yang
dilakukan oleh Yesus dan diperintahkanNya agar murid-muridNya juga terus memuridkan lagi.
Hal ini nyata dalam amanat agung Tuhan Yesus (Mat. 28:19).

3
Kedua, tubuh Kristus akan terbangun. Orang-orang kudus atau orang-oran percaya yang adalah
tubuh Kristus yang telah diperlengkapi akan bertumbuh dalam kualitas. Mereka dibangun
dengan suatu ajaran yang benar. Pembangunan tubuh Kristus yang terpenting adalah kualitas
pengajaran ke dalam diri tiap orang percaya. Ketika pengajaran ke dalam hidup orang percaya
telah berkualitas maka mereka akan menjadi pribadi yang dewasa, yang kuat dalam iman dan
memiliki pengetahuan yang benar tentang Anak Allah. Dan jika tubuh Kristus yaitu orang
percaya telah menjadi dewasa, kuat dalam iman dan teguh dalam ajaran tentang Anak Allah
maka mereka akan menjadi tubuh Kristus yang siap menghadapi berbagai ajaran yang sesat.
Mereka tidak mudah diombang-ambingkan oleh rupa-rupa pengajaran dunia yang
menyesatkan. Istilah tidak mudah diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran
mengandung makna bahwa orang percaya sebagai tubuh Kristus berpegang pada kebenaran
Allah, memelihara kebenaran, hidup dalam kebenaran dan menjadi pelaku kebenaran.
Ketiga, Tumbuh ke arah Kristus dalam segala aspek kehidupan. Kristus yang adalah
Kepala dan tiap-tiap orang percaya adalah tubuhNya, maka pertumbuha hidup orang percaya
adalah mengikuti arah Kristus. Dalam seluruh sisi kehidupan hidup orang percaya harus
memuliakan Kristus. Kehadiran mereka di berbagai aspek hidup dan pekerjaan herus
merepresentasikan kehadiran Kristus. Kerinduan Allah atas umatNya adalah bahwa mereka
berpegang kepada kebenaran yaitu pengrealisasian firman kebenaran atau pemberitaan
kebenaran Injil (Gal. 2:5, 14; Kol. 1:5) atau pemberitaan Kristus, menurut kebenaran yang
nyata dalam Yesus (Ef. 4:12).

BAB II
MENCAPAI KESATUAN IMAN

Bagaimana mencapai kesatuan iman ~ Landasan firman Tuhan untuk tema tersebut
diambil dari surat rasul Paulus kepada jemaat di kota Efesus, yaitu Efesus 4:11-24. Dalam
Efesus 4:13, rasul Paulus dalam pimpinan Roh Kudus terkait dengan mencapai kesatuan iman,
menulis: “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar
tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan
kepenuhan Kristus”.
“Kekristenan bukanlah agama, tetapi hubungan pribadi dengan Tuhan.” Slogan
terkenal ini sudah lama beredar di antara anak-anak Tuhan. Namun, sementara kita terus
menggaungkannya, sudahkah kita mengetahui apa artinya memiliki hubungan pribadi dengan

4
Tuhan? Saat membicarakan kedekatan hubungan antara manusia dan Tuhan, tentu kisah
Henokh terlintas dalam benak kita.
Alkitab dengan jelas mencatat ia hidup bergaul akrab dengan Allah (Kej. 5:22,24).
Menariknya, dalam Alkitab bahasa Inggris, frasa “bergaul akrab” ini terjemahannya adalah
“berjalan” (KJV) atau “berjalan dengan taat” (NIV). Hal ini memberikan pemahaman bahwa
hubungan pribadi kita dengan Tuhan berarti kita menjalani hidup bersama-Nya. Di satu sisi
ada keintiman, di sisi lain ada ketaatan.
Saat kita berjalan, tentu ada langkah-langkah yang harus kita ambil. Tuhan pun ingin
terus membawa kita maju. Jangan sampai kehidupan rohani kita berhenti di satu titik karena
kita merasa nyaman menjadi bayi atau anak-anak rohani. Dari hari ke hari, kita harus
bertumbuh semakin dewasa dalam karakter Kristus. Semakin mengasihi Tuhan dan sesama.
Semakin bersinar bagi kemuliaan-Nya. Di gereja kita, kita memiliki Skema Perjalanan Rohani
Jemaat Keluarga Allah. Langkah pertama dimulai dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan
Juruselamat. Selanjutnya, kita digabungkan dalam ibadah raya, dibaptis, dan menjadi anggota
Keluarga Allah. Berikutnya kita harus mengikuti proses pembinaan iman melalui saat teduh,
pembacaan firman Tuhan, doa dan menjadi saksi Kristus.

BAB III
MENCAPAI PENGETAHUAN YANG BENAR AKAN YESUS

Firman Tuhan menjelaskan bahwa umat Tuhan binasa karena kurangnya pengetahuan
akan Allah. Ada 2 hal yang perlu diperhatikan, yaitu: 1) Pengetahuan akan Allah/Firman Tuhan
(knowledge). 2) Pengajaran (teaching). Kalau seorang imam atau hamba Tuhan tidak
memperhatikan pengajaran Firman Tuhan, maka Tuhan tidak berkenan kepadanya dan
menolak mereka. Bukan saja menjadi bodoh, atau miskin, atau yang lain, namun umat Allah
akan binasa tanpa pengetahuan yang benar tentang Allah.
Dapatkah seorang Kristen berjalan tanpa pengetahuan yang benar tentang Allah?
Ada perbedaan yang besar antara sikap PERCAYA dan MENGETAHUI.
Mempercayai atau meyakini berarti memegang sesuatu pendirian, walaupun kenyataan
sesungguhnya belum tentu demikian. Seorang penjudi menipu dirinya sendiri dengan
keyakinan ia akan menang, namun kemudian ia menemukan kenyataan sebaliknya, bahkan
seluruh hartanya lenyap.
Sebaliknya, pengetahuan memberikan kepastian, karena pengetahuan
mengungkapkan suatu realita/fakta/kenyataan yang pasti atau sesuatu yang dapat
5
dipastikan. Seorang ahli bedah bekerja dengan pengetahuan, bukan dengan spekulasi atau
keyakinan tanpa dasar. Seorang pilot menerbangkan pesawat dengan pengetahuan yang pasti
akan teknologi penerbangan yang akurat.
Hanya dengan bermodalkan keyakinan, tidak dapat dipastikan seseorang berhasil.
Dapatkah seorang yang tidak memiliki pendidikan kedokteran meyakinkan Anda bahwa ia
mampu membedah jantung Anda? Ataukah seorang tukang batu membawa Anda terbang
dengan sebuah pesawat? Keyakinan yang kuat harus berpijak pada pengetahuan, sehingga
membuahkan suatu hasil yang baik dan pasti.
Iman tidak dapat berdiri sendiri. Iman tanpa dasar Firman Tuhan dapat
berakibat fatal dan mengerikan!
Dalam kekristenan, sekedar keyakinan atau iman saja tidak cukup. Iman yang benar harus
bersandarkan pada fondasi pengetahuan Firman Allah. Berapa banyak orang Kristen
mendasarkan iman mereka sekedar pada kesaksian seorang mantan dukun. Berapa banyak
orang di gereja berbondong-bondong meletakkan iman mereka pada seorang yang dijuluki
‘nabi’ dengan ‘nubuat yang akurat’, ‘mimpi’, dll. Kita menyaksikan kemerosotan iman dan
praktek-praktek yang merusak dalam gereja Tuhan, sementara orang Kristen menjadi
makin bodoh karena tidak memiliki dasar pengetahuan Firman Tuhan. Emosi, perasaan,
pemikiran manusia bukanlah dasar yang benar bagi iman kita. Iman yang benar harus
bersandarkan pada fondasi pengetahuan Firman Allah.
Iman timbul karena pendengaran akan Firman Tuhan, dan tidak timbul dengan
sendirinya. Bagaimana kita membangun iman Kekristenan kalau kita jarang membaca
Alkitab? Yang dibutuhkan ialah kerinduan atau cinta kepada Firman Tuhan dan
merenungkannya setiap hari.
Cinta akan Firman Tuhan mencerminkan kehidupan iman yang sehat. Mengapa? Karena sikap
ini membuat seorang memiliki sikap mau dibentuk dan haus akan Firman Tuhan.
Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika,
karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka
menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian. (Kis 17:11)
Sikap kepada Firman Tuhan menjadi ukuran yang membedakan orang Kristen satu
dengan orang Kristen yang lain; apakah kita menghargai, mencintai, dan meneliti Firman
Tuhan. Karena itu Alkitab menyebutkan hati mereka lebih baik, atau lebih mulia (noble) dari
jemaat Tesalonika.
Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari. (Mzm 119:97)
Hancur jiwaku karena rindu kepada hukum-hukum-Mu setiap waktu. (Mzm 119:20)

6
BAB IV
MENCAPI KEDEWASAN PENUH

Sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang
Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan
Kristus." Efesus 4:13
Berbicara tentang kedewasaan adalah berkenaan dengan karakter, cara berpikir,
berperilaku dan sikap hati alam merespons segala hal. Mengukur kedewasaan rohani seseorang
berbeda dengan jika menerka atau menduga berapa usia orang tersebut. Mungkin kita akan
lebih mudah menebak usia seseorang dilihat dari tampilan fisik dan juga ciri-ciri biologis
lainnya, apakah dia masih tergolong kanak-kanak, remaja atau sudah berusia lanjut. Namun
untuk melihat kedewasaan rohani seseorang itu tidaklah gampang, kita harus mengenal pribadi
orang itu lebih dalam dan bergaul dekat dengan dia dalam kurun waktu yang tidak singkat, itu
pun belum bisa menjamin sepenuhnya kita bisa tahu kedewasaan rohaninya; jadi
membutuhkan banyak waktu.
Menduga usia kedewasaan rohani seseorang memang tidaklah mudah karena
kehidupan kekristenan adalah dinamis, bukan statis; harus terus bertumbuh dari hari ke
sehari. Tuhan menghendaki, setiap orang percaya mencapai kedewasaan penuh, "...bukan lagi
anak-anak yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan
palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan," (ayat 14).
Kedewasaan dalam hal apa yang harus menjadi target hidup kita? Salah satunya adalah
harus dewasa dalam firman. "...makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang
karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang
jahat." (Ibrani 5:14). Orang yang dewasa rohani pasti mencintai firman Tuhan, hatinya terus
merasa haus dan lapar terhadap firman Tuhan. Segala pikiran dan tindakan terarah kepada
firman Tuhan yang direnungkannya dengan sungguh-sungguh. Ia tidak akan mudah
tersinggung atau marah jika tertegur oleh firman Tuhan yang keras. Jika kita masih marah,
menyalahkan hamba Tuhan dan mogok ke gereja hanya karena firman, berarti kita masih
Kristen kanak-kanak. Simak pernyataan Paulus: "Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata
seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-
kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu." (1
Korintus 13:11).

7
BAB V
SAMPAI TEGUH BERPEGANG PADA KEBENARAN DAN KASIH

“Untuk mengenali apa yang salah, kita harus terlebih dulu mengenali apa yang
benar”. Dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak kepalsuan dan kesalahan di sekitar kita
bahkan juga ajaran-ajaran tentang kebenaran yang palsu dan salah. Kelihatannya benar tapi
sesungguhnya tidak. Ajaran-ajaran seperti ini bisa mengombang-ambingkan orang-orang
percaya yang imannya belum dewasa. Oleh karena itulah, Efesus 4:15 mengajak kita makin
hari makin bertumbuh dewasa dalam iman. Ciri khas iman yang dewasa adalah teguh
berpegang pada kebenaran di dalam kasih dan bertumbuh dalam segala hal kearah KRISTUS,
yang adalah kepala (pemimpin dan panutan hidup ini). Orang yang teguh berpegang pada
kebenaran tidak terombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, permainan palsu
manusia dalam kelicikan yang menyesatkan.
Bagaimanakah kehidupan yang teguh berpegang pada kebenaran?
1. Mau diperlengkapi agar mengetahui dan memahami kebenaran
Dalam kehidupan gereja TUHAN, TUHAN menyediakan hamba-hambanya: rasul,
nabi, pemberita Injil, gembala, pengajar (sekarang: pendeta, penatua, para pengajar) untuk
memperlengkapi umat-Nya. Apabila kita mau diperlengkapi dengan pengenalan dan
pemahaman tentang kebenaran, kita dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah,
mana yang asli dan mana yang palsu.
2. Menerima kebenaran dan hidup dalam kebenaran Pengenalan dan
Pemahaman akan kebenaran mesti berlanjut dengan sukacita menerima dan meyakini
kebenaran itu sehingga dapat hidup sesuai dengan kebenaran yang diyakini. Dengan kata lain
menghidupi kebenaran itu dalam kehidupan sehari-hari. Itulah yang disebut teguh berpegang
pada kebenaran.
3. Melakukan kebenaran dengan landasan kasih
Sehingga mengalami pertumbuhan dalam segala hal ke arah KRISTUS.
Kita dapat konsisten teguh berpegang pada kebenaran apabila dilandasi oleh hati yang
mengasihi TUHAN. Kita pun dapat menggunakan kebenaran untuk menjelaskan, mengajar,
dan memperkaya orang lain jika kita menyampaikannya dengan kasih.
4. Orang yang teguh berpegang pada kebenaran
Akan mampu melayani TUHAN dengan baiksehingga menjadi berkat dalam seluruh
proses pembangunan gereja. Kini, marilah kita mengevaluasi diri: “Apakah saya sudah
bertumbuh dewasa dalam iman? Apakah saya selalu teguh berpegang pada kebenaran?”

8
BAB VI
DIIKAT OLEH PELAYANAN

Ada bulan Juni 2015, pemerintah kota Paris membuang gembok-gembok seberat 45 ton
dari terali jembatan pejalan kaki Pont des Arts. Para pasangan kekasih yang mengikat cinta di
sana menuliskan huruf awal nama mereka pada sebuah gembok, mengaitkan gembok itu pada
terali jembatan, menguncinya, lalu melemparkan kuncinya ke sungai Seine.
Setelah ribuan pasangan melakukan hal tersebut, jembatan itu tidak dapat lagi menahan beban
“cinta” yang begitu berat. Karena khawatir jembatan itu akan runtuh, akhirnya pemerintah kota
Paris memutuskan untuk membuang “gembok-gembok cinta” tersebut.
Sebagai saudara-saudari seiman, kita diikat dalam kasih Allah untuk selama-lamanya.
Gembok-gembok tersebut dimaksudkan untuk melambangkan cinta yang abadi, tetapi cinta
manusia tidak selalu bisa bertahan lama. Kawan yang paling akrab sekalipun bisa saling
menyinggung perasaan dan tidak dapat menyelesaikan perbedaan mereka. Sesama anggota
keluarga bisa berselisih paham dan menolak untuk saling memaafkan. Hati suami-istri bisa
terpisah begitu jauh, sampai-sampai mereka tidak ingat lagi alasan mereka menikah. Cinta
manusia memang bisa berubah-ubah.
Namun demikian, ada satu kasih yang tetap dan bertahan selamanya, yaitu kasih Allah.
“Haleluya! Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya
kasih setia-Nya”, seperti diungkapkan oleh Mazmur 106:1. Janji-janji tentang kasih Allah yang
abadi dan tak berkesudahan itu terdapat di seluruh Kitab Suci. Dan bukti terbesar dari kasih itu
adalah kematian Anak-Nya, sehingga mereka yang beriman kepada-Nya akan hidup selama-
lamanya. Tiada yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya (Rm. 8:38-39).
Sebagai saudara-saudari seiman, kita diikat dalam kasih Allah untuk selama-lamanya.

BAB VII
FUNGSI FIRMAN BAGI PERTUMBUHAN

Seorang anak kecil yang miskin memiliki kerinduan untuk membeli sebuah Alkitab,
sebab ia begitu rindu membaca Alkitab tersebut. Namun, ia tidak sanggup membeli Alkitab
itu, sebab ia tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli Alkitab tersebut. Ia berkomitmen
untuk bekerja disebuah toko bahan pangan dan uang dari hasil ia kerja akan ia kumpulkan
sedikit demi sedikit, sampai akhirnya ia mampu membeli Alkitab tersebut. Setelah beberapa
lama ia bekerja, maka uang yang dikumpul sudah cukup untuk membeli sebuah Alkitab, kini

9
tinggal ia pergi ke took buku Kristen untuk membeli Alkitab. Setelah ia memiliki Alkitab,
akhirnya setiap hari ia membaca Alkitab tersebut hingga semakin lama kerohanian anak ini
menjadi dewasa dengan seiring bertumbuhnya ia menjadi seorang gadis dewasa.
Peralihan : Bagaimana dengan setiap kita sebagai umat Tuhan? Sudahkan kita
menyadari dan merasakan manfaat Alkitab begitu besar di dalam pribadi kita? Rindukah kita
membaca firman Tuhan setiap hari?
Isi Manfaat Alkitab:
1. Memberi Hikmat : Firman Tuhan yang sudah Allah sediakan bagi setiap kita sebagai umat-
Nya, membuat kita berhikmat di dalam mengatur seluruh kehidupan kita dengan benar,
sehingga hidup kita dijalani sesuai dengan kehendak-Nya.
2. Menuntun kepada keselamatan :Selain Alkitab membuat hikmat kita kepada Allah semakin
bertumbuh, maka Alkitab juga dijadikan sebagai alat di dalam menuntun kita kepada
keselamatan kekal.
3. Mengajar : Alkitab sebagai buku pengajaran dalam segala aspek kehidupan manusia,
khususnya di dalam menumbuhkan kerohanian jemaat di dalam Tuhan. Ajaran di dalamnya
adalah moral atau etika hidup sebagai orang Kristen.
4. Menyatakan Kesalahan : Pengajaran yang ada di dalam Alkitab, menyatakan kesalahan
manusia (semua manusia dinyatakan berdosa).
5. Memperbaiki Kelakuan : Selain menyatakan kesalahan manusia, maka Alkitab
membangkitkan harapan manusia dengan menjelaskan bagaimana hidup di dalam pola Kristen,
sehingga kelakuan lama bisa diperbaiki sesuai dengan firman Tuhan.
6. Mendidik dalam Kebenaran: Dari keseluruhan pengajaran Alkitab, menyatakan pendidikan
tentang kebenaran yang berdasarkan kepada Allah.

10
BAB III
PENILAIAN TERHADAP BUKU

3.1 KELEMAHAN DAN KELEBIHAN BUKU


Buku Utama mengenai pertumbuhan iman yang smpurna yang ditulis oleh yusuf eko basuki.
Keunggulan dari buku karangan yusuf eko basuki
1. Buku ini dapat membantu para mahasiswa mau pun mahasiswi dalam mengetahui iman
dan pertumbuhan iman
2. Dari segi intrinsik dan eksterinsik dapat menarik perhatian pembaca.
3. Penggunaan bahasa yang baik serta penulisan yang tepat.
4. Banyak contoh yang diberikan dalam buku ini, sehingga pembaca lebih mudah
mengerti.
5. Adanya ringkasan di setiap bab
kelemahan dari buku karangan yusuf eko basuki
1. Sulitnya dipahami atau sulit dimengerti dalam buku ini, buku ini terlalu banyak
menggunakan kalimat yang panjang, atau bisa dibilang kuang singkat.
2. Tampilan pada buku ini kurang menarik

Buku Pembanding, Buku Yang Berjudul IMAN KRISTEN Yang Ditulis Oleh
Hadiwijono, Harun
Keunggulan dari buku karangan Hadiwijono, Harun
1. Isi dari buku ini sangat bagus menurut saya , karena isi yang ditulis dibuku ini sangat
tepat dan mudah dimengerti.
2. Buku ini lebih banyak memberi penjelasan secara detail
3. Pada setiap bab terdapat pengertian yang langsung bisa membuat si pembaca
langsung memahami.
4. Adanya ringkasan di setiap bab
5. Tulisannya rapi sejajar dan daftar isi mudah dipahami
Kelemahan dari buku karangan Hadiwijono, Harun
Menurut saya kekurangan dalam buku ini tidak ada, karena isi dan pengertian yang
diterangan pada buku ini sanggat bagus, sehingga para membaca menarik.

11
BAB IV
PENUTUP

Keselamatan adalah anugerah Allah semata-mata. Manusia menerima keselamatan dari


Allah hanya karena iman, bukan karena perbuatan. Setelah menerima keselamtan dengan cara
demikian, manusia harus mengerjakan keselamatan itu di dalam kehidupan melalui perbuatan-
perbuatan yang manusia lakukan dan kerjakan. Jika manusia tidak aktif mengerjakan
keselamatan dengan cara demikian sesudah ia menjadi percaya, itu menunjukkan bahwa iman
yang diakuinya dengan mulut itu adalah iman yang mati. Itu tandanya bahwa ia belum
sungguh-sungguh mengalami keselamatan.
Manusia tidak diselamatkan karena perbuatan. Tetapi perbuatan-perbuatan merupakan
tanda apakah iman itu benar-benar hidup, sekaligus perbuatan-perbuatan itulah yang akan
meningkatkan kadar iman orang percaya.
Perbuatan bukan sesuatu yang ditambahkan pada iman – keduanya harus ada bersama-
sama. Yakobus tidak bermaksud untuk membedakan antara iman dan perbuatan; yang
dibedakan adalah antara iman yang disertai perbuatan dan iman yang tidak disertai perbuatan.
Bagi Yakobus iman harus disertai oleh perbuatan. Yang satu tidak dapat ada tanpa yang lain,
sebab iman yang tanpa perbuatan adalah mati.
Yakobus tidak bertentangan dengan Rasul-rasul lain, khususnya Rasul Paulus. Yakobus
menghadapi tantangan berbeda dengan Paulus. Paulus berjuang melawan konsep para rabi
Yahudi tentang keselamatan yang diperoleh perbuatan berdasarkan hukum taurat. Yakobus
berhadapan dengan (a) Orang Kristen Yahudi yang memandang muka dan berpeluk tangan
terhadap kebutuhan saudara seiman yang miskin. Yakobus ingin mendesak mereka bertindak.
(b) Orang Kristen yang hanya bersandar pada iman tanpa perbutan. Oleh karena itu,
yang dimaksud perbuatan oleh Yakobus bukanlah perbuatan menurut pemahaman Yahudi
yaitu sarana untuk memperoleh keselamatan, namun perbuatan iman hasil moral dari
kesalehan sejati dan khususnya perbuatan kasih. Sedangkan pekerjaan atau usaha yang
dimaksud Paulus adalah usaha menaati hukum taurat sebagai yang olehnya mereka (yudaisme)
diselamatkan

12