Anda di halaman 1dari 2

Perkembangan Teknologi dan Mesin dari Waktu-kewaktu

Aku pagi ini: kucal, malas beraktivitas dan baru bangun tidur. Matahari adalah musuh terbesar di
tiap pagi dan nasi uduk tidak pedas adalah sahabatku. Mandi? Itu tergantung cuaca, yang pasti aku
selalu mandi pagi dengan air hangat. Tidak cukup buruk untuk seorang mahasiswa yang mengalami pagi
seperti itu. Gaya tarik gravitasi yang membuatku malas semakin kuat sementara waktu semakin
menunjukkan haknya. Tumpukan tugas yang selalu bertanya “mau lari kemana?” membuatku makin
geram. Rasanya aku butuh udara segar. Aku bergegas keluar rumah. Terlintas dipikirku ingin mencari tau
tentang perkembangan teknologi dari waktu-kewaktu.

Saat usiaku 4 tahun, tepatnya di tahun 2000 adalah keadaan yang bisa dibilang menengah. Tidak
kuno dan tidak modern. Sebab aku tidak merasakan sulitnya listrik seperti pada tahun 1950an atau
canggihnya teknologi seperti sekarang di tahun 2019. Menurut pandanganku, tahun 2000 adalah awal
memulainya era modern. Kemajuan teknologi yang mulai terlihat diberbagai bidang didunia. Peneliti
yang terus mengembangkan segala pikirnya itu pun memperlihatkan bakatnya.

Pikirku terhenti dan pandanganku terdiam sejenak melihat keadaan. Seketika aku teringat masa
kecilku. Saat itu aku ikut paman untuk mengelilingi desa. Aku melihat kerbau dengan balutan kayu yang
sedang dipegang oleh petani. Tak tertinggal pula canda tawa anak-anak yang sedang bermain lumpur
disawah. Namun, hari ini yang kulihat hanya seorang petani dengan traktornya yang mengelilingi sawah.
Harga traktor yang lebih dapat dijangkau ini pun cukup membantu petani agar tidak terlalu
mengeluarkan banyak biaya untuk membeli kerbau. Padi yang biasanya panen setahun sekali ini pun
sekarang juga mengalami kemajuan dalam teknologi. Berkat kemajuan teknologi tentang mengawinkan
setiap bibit terbaik, pertani dapat panen dua sampai tiga kali dalam setahun. Ini cukup membantu untuk
kelangsungan hidup manusia dalam bidan pangan.

Kupijak langkah ini lebih jauh. Kulihat sekumpulan anak kecil yang sibuk dengan kegiatannya
masing-masing. Canda tawa yang pernah kurasakan dulu saat bersama teman kecilku pun tidak terlihat
sama sekali diantara mereka. Tatap mereka yang terfokus kepada benda penuh cahaya itu cukup
menjawab pertanyaanku tadi. Bagiku, perusahaan gadget mencoba memberi vaksin terhadap konsumen
dengan segala kemudahan yang bisa diperoleh oleh setiap individu. Segala merk berlomba-lomba untuk
mendapatkan keuntungannya. Padahal di tahun 90an, seseorang hanya dapat menghubungi orang lain
melalui telepon umum namun sekarang kecanggihan teknologi yang semakin maju ini mempermudah
jalannya komunikasi jarak jauh. Bahkan kini aku dapat melihat wajah cantik ibuku melalui pembicaraan
ditelepon genggamku.

Jalanku terhenti disebuah kedai. Gadis manis dengan ayahnya yang menjaga kedai tersebut.
Dengan segala cerita yang kutemukan hari ini, hanya dengan secangkir kopi yang dapat menutupnya.
Perkembangan teknologi yang kuakui memang sangat membantu kebutuhan manusia didunia ini
memang sangat diperlukan. Bahkan dalam bidang yang mulai terlupakan didunia saja masih
membutuhkan teknologi agar tetap berlangsungnya kehidupan. Perkembangan yang sangat pesat ini
cukup membuatku terdiam dengan hasilnya. Namun kekecewaan tetap terbelit dalam hatiku. Aku
melihat semakin kurangnya daya juang seseorang untuk hidupnya karena merasa sudah mendapatkan
segala kemudahan yang disediakan. Jiwa sosial yang semakin menurun ini juga akibat dari
perkembangan gadget. Hal ini seakan menciptakan pepatah “yang jauh terasa dekat namun yang dekat
terasa jauh.” Aku tak menyalahkan teknologi, aku sadar bahwa ini salah penikmat hasil perkembangan
teknologi yang tak dapat menyeimbangkan dunia realita dengan dunia imajiner. Dunia nyata yang dibuat
seakan tak nyata dan tak ada kehidupan didalamnya.

Nama : Aprian Aldo Gunawan

NIM : 2018440012