Anda di halaman 1dari 71

DAFTAR ISI

Kelas Dasar III

01. Visi, Misi Family Altar ..................................................... 1

02. Prinsip Dua Belas ........................................................... 10

03. Penggembalaan Family Altar ..........................................14

04. Kepemimpinan Dalam Family Altar ................................ 20

05. Pujian dan Penyembahan Dalam Family Altar ............... 24

06. Pra Ibadah (Ice Breaker) ................................................ 30

07. Khotbah Versi Family Altar ............................................. 34

08. Penginjilan Kontekstual Versi Family Altar ..................... 36

09. Doa dalam Family Altar .................................................. 40

10. Karunia-karunia Dalam Kelompok Family Altar ............. 43

11. Pastoral Konseling I (2 Sesion)...................................... 48

12. Pastoral Konseling II (2 Sesion)...................................... 59

1
Pelajaran 1
SOM GBI Denpasar Lembah Pujian
Kelas Dasar III
VISI, MISI FAMILY ALTAR
Ayat hafalan: Ibrani 10:25

Yesaya 54:2-3 Lapangkanlah tempat kemahmu, dan bentangkanlah tenda


tempat kediamanmu, janganlah menghematnya; Pancangkanlah tali-tali
kemahmu dan pancangkan kokoh-kokoh patok-patokmu ! Sebab engkau
akan mengembang kekanan kekiri, keturunanmu akan memperoleh tempat
bangsa-bangsa dan akan mendiami kota-kota yang sunyi.
FA adalah cara yang efektif dalam mensukseskan visi dari Tuhan ini. Melalui FA
maka jemaat akan bertumbuh makin dewasa dan menjadi pasukan Kristen yang
setia dan militan. Penginjilan yang paling efektif adalah melalui pembukaan
gereja yang baru. Pembukaan Gereja yang baru dimulai dengan pembukaan
ranting baru di daerah tersebut. Pos PI ini terbentuk dari pergumulan,
dorongan kelompok-kelompok FA yang ada di daerah itu. Melalui pertumbuhan
demikian maka FA akan menjadi sarana pertumbuhan gereja tanpa batas yang
kuat, mencerminkan kemuliaan bagi nama Yesus Kristus dalam kehidupan
berjemaat.

PENGERTIAN FAMILY ALTAR


Family Altar adalah Sel Group dalam gereja yang berfungsi dalam
penggembalaan jemaat. FA adalah suatu komunitas, yaitu suatu bentuk
kehidupan dimana pribadi-pribadi yang hidup saling berhubungan satu dengan
yang lain. Komunitas adalah bentuk kehidupan yang diciptakan oleh Tuhan.
Tuhan menciptakan manusia agar mereka hidup dalam komunitas. Komunitas
mempunyai pengertian keluarga ! Dalam bahasa Yunani disebut OIKOS.
Manusia diciptakan hidup dalam keluarga seperti Sang Pencipta yang Agung
hidup dalam komunitas, Keluarga yang Agung dan Mulia. Kasih akan Allah dan
kasih akan sesama manusia seperti diri sendiri. Ini yang dapat dijalankan bila
cara pandang manusia adalah keluarga sendiri. Tuhan Yesus berkata siapakah
ibuKu dan siapakah SaudaraKu ? Dia yang melakukan perintah BapaKu itulah
ibuKu dan saudaraKu Markus 3:31-35. Ini berbicara tentang keluarga. Kita
keluarga di dalam Yesus Kristus. Rasul Paulus mengatakan didalam Kristus
tidak ada orang Yahudi, orang Yunani.... I Kor. 9:20 Ini keluarga. Di Kayu salib
Tuhan berkata kepada Yohanes, sambil menunjuk pada Maria IbuNya.... itu
ibumu....! “ Dan kepada Maria.... ! itulah anakmu....! “ Yoh. 19:25-27 Dalam
kehidupan keluarga terdapat kerukunan, kasih. Inilah dasar pertumbuhan dan
penggembalaan jemaat dalam gereja FA. Allah Bapa Allah Anak dan Roh Kudus
hidup dalam komunitas dan tidak pernah terpisah dan memisahkan diri. Iblis
bertekad untuk merusak kehidupan berkomunitas. Adam dan Hawa digoda dan
jatuh dalam dosa. Akibatnya kehidupan komunitas dengan Tuhan terputus dan
mereka diusir dari taman Eden. Anak-anaknya Kain dan Habel juga dirusak
hubungannya satu dengan yang lain. Kain berkata kepada Tuhan : “Aku tidak
tahu dimana adikku berada, apakah aku penunggu adikku ?” Kej. 4:9 Setiap

2
kehidupan dalam setiap keluarga ada saling tanggung jawab satu dengan yang
lain dalam kehidupan yang rukun dan bertangung jawab sesama anggota.
Dosalah yang telah merusak citra Tuhan dalam keluarga-keluarga.

OIKOS
Kata ini terdapat dalam Alkitab, menggambarkan bahwa kita adalah keluarga
(oikos) Allah... Ef. 2:19; I Tim 3:15
1. Tugas dan sikap oikos adalah oikonomos.
a. Layanilah satu dengan yang lain sebagai pengurus dalam kehidupan
beragama kita I Pet. 4:10.
b. Jadi siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana ? Luk. 12:42
c. Demikianlah hendaknya orang memandang kami; sebagai hamba-hamba
Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. I Kor 4:1 Istilah yang
digunakan disini ialah oikonomos yaitu sikap dalam tugas para oikos

2. Tanggung jawab para oikos adalah oikodomeo


a. Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera
dan yang berguna untuk saling membangun Roma 14:19
b.Setiap orang diantara kita harus mencari kesenangan diantara kita demi
kebaikannya untuk membangunnya Roma 15:2
c. Hendaklah kamu berusaha menggunakannya untuk membangun jemaat
I Kor. 14:12
d. Jadi bagaimana sekarang saudara-saudara ? Bilamana kamu berkumpul,
hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu; yang seorang
Mazmur, yang lain pengajaran, atau pernyataan Allah, atau karunia bahasa
Roh atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu
digunakan untuk membangun (I Kor. 14:26)
Apabila ada sikap tugas dan tanggung jawab, akibatnya dalam kondisi
kehidupan komunitas, oikos, keluarga seperti ini maka setiap anggota akan sujud
menyembah Dia I Kor. 14:24-25. Inilah bentuk kehidupan dalam kelompok-
kelompok FA

MOTTO FAMILY ALTAR


FA memiliki motto KTM , singkatan dari Kesatuan hati, Tumbuh bersama dan
Memenangkan jiwa. Motto ini menggambarkan kehidupan kelompok FA yang
dinamis karena adanya pertumbuhan pada kehidupan rohani dalam seluruh
anggota. Jenjang kehidupan para anggotanya nyata dimulai dengan : Kesatuan
Hati. Mereka belajar untuk saling mengasihi dan menerima keadaan masing-
masing, mengenal sesama. Dalam jumlah anggota terbatas yaitu 7-15 orang,
hal ini terjadi dan dipraktekkan. Pada awal mula kelompok yang baru, maka
kurang lebih dari 3 bulan kesatuan hati harus tercapai. Perlu disadari bahwa
setiap pribadi yang hadir masing-masing mempunyai sikap dan motivasi sendiri
dalam kehadirannya. Hal ini didorong oleh kepentingannya, ada yang
menginginkan kesembuhan, berkat, doa, atau sekedar ikut dalam kelompok FA !
Para gembala (pengurus) kelompok FA disini mulai berperan untuk meluruskan.
Tumbuh bersama, setelah periode pertama saling kenal tercapai, maka proses

3
kedua terjadi. Kelompok disini sangat akrab antar anggota, saling menerima dan
karena kesatuan hati diantara mereka Tuhan mengaruniakan berkat Karunia Roh
pada anggota FA. Peranan pemimpin kelompok besar dengan lebih banyak
sharing dan praktek berjalan dalam berbagai bidang rohani. Mereka berdoa
bersama, memuji menyembah bersama-sama, makan bersama dari rumah ke
rumah dan mujizat banyak terjadi dan mereka disukai orang banyak ! ....
Kis. 2:41-47
Disini terjadi pemuridan. Periode ini terjadi kurang lebih dalam bulan 2 - 6

Periode terakhir adalah memenangkan jiwa.


Pada masa ini beberapa yang sudah bertumbuh akan mulai dewasa dan
membawa jiwa untuk dipersembahkan kepada Tuhan Yesus.
Dorongan yang dilakukan oleh pemimpin Kelompok FA supaya banyak bersaksi
dan memenangkan jiwa akan terlihat hasilnya. Secara team diadakan
Penginjilan Kontekstualisasi yaitu bentuk penuaian cara FA yang praktis dan
efektif. Masing-masing anggota didorong membawa satu jiwa dalam acara
tersebut. Mereka yang dibawa sudah lama didoa-puasakan. Masing-masing
kemudian akan melihat sendiri jiwa yang bertobat dan dilahirkan oleh kuasa Roh
Kudus.
Melalui pertumbuhan yang demikian, maka pembelahan FA dapat diperkirakan
sebelumnya, yaitu dalam kurun waktu bulan ke 6-12. Artinya kedewasaan
seseorang dapat dicapai dalam waktu 12 bulan, dengan demikian FA adalah
kelompok yang dinamis dan misioner.
Kelompok yang berhasil adalah kelompok yang dinamis, kelompok yang telah
merencanakan jadwal penggembalaan dengan baik dan taat pada pimpinan Roh
Kudus

KEGIATAN KELOMPOK FAMILY ALTAR


Kelompok FA terdiri dari Kelompok FA Umum, kelompok FA Wanita, Kelompok
FA Pemuda.
Masing-masing kelompok diadakan untuk dapat melakukan penggembalaan
secara efektif sesuai keunikan anggotanya. Pembinaan dan bahan pembinaan
disediakan oleh Litbang FA.
1. Ibadah Kelompok FA. Pada ibadah mingguan ini terdapat agenda ibadah
yang mengandung 4 (W) yaitu:
* Welcome, Selamat Datang ! Bentuk permainan untuk memecah kekacauan,
terutama bila jiwa baru hadir didalam kelompok. disebut juga sebagai Ice
Breaker, disini terdapat suatu bentuk pembuka hati untuk saling menerima
- dan sesama.
* Worship, Pujian dan penyembahan kepada Tuhan Yesus ! - Manusia
kepada Tuhan
* What, pemberitaan Firman Tuhan ! - Khotbah ciri FA - Tuhan kepada
manusia
* Work, Pelayanan, setelah pelayanan Firman Tuhan, mereka saling
melayani dan melatih karunia-karunia roh. Biasanya dibagi dalam sub
kelompok dua atau tiga orang. Wanita dengan wanita, pria dengan pria

4
saling mendoakan dan terbuka satu dengan yang lain. Mereka yang tidak
hadir dalam pertemuan kelompok, juga didoakan bersama-sama.
Pelayanan In and Out
Di dalam pertemuan ibadah, setiap minggu dirumah-rumah jemaat tempat
pertemuan saling bergantian agar dapat saling lebih mengenal. Ibadah
mingguan kelompok FA ini berlangsung kurang lebih 1.5 jam. Ada
kelompok yang melakukan pagi atau siang hari ada yang malam harinya.
Hari ibadah rabu atau tergantung kesepakatan masing-masing, namun
tidak diperkenankan berganti-ganti hari. Buatlah jadwal acara ibadah
kelompok FA dan agenda pelayanan selama sebulan.

2. Kunjungan. Pertemuan-pertemuan dilakukan antar pengurus FA dipantau


oleh pengurus Sektor, yaitu
* Pertemuan para pengurus Kelompok seminggu sekali untuk membicarakan
rencana kerja dan doa bersama-sama pengurus. Pertemuan ini dapat
dilakukan satu jam sebelum ibadah mingguan atau dilain tempat yang
disepakati bersama.
* Pertemuan atau kunjungan para pengurus dengan jemaat - domba -
terutama dilakukan untuk jiwa yang baru hadir di kelompok. Tiap minggu
upayakan dapat dilakukan kunjungan, dilakukan bersama wakil pemimpin
kelompok FA dan sekretaris kelompok FA atau masing-masing berbagi
tugas untuk kunjungan ini. Dengan demikian dalam seminggu ada tiga
orang anggota kelompok yang dikunjungi. Dalam pertemuan kunjungan
ini dilakukan syaring singkat dan doa bersama untuk masalah-masalah
mereka. Ingat setiap orang pasti punya pergumulan.

3. Pembinaan. Kedewasaan para anggota FA sangat bergantung pada


pembinaan yang dilakukan pada pembinaan yang dilakukan secara
bersama-sama GFA / pengurus. Pembinaan dilakukan karena adanya
pengamatan dari pengurus kelompok bersama G.Sektor. FA . Kegiatan
pembinaan mengikuti masalah rohani seperti pelajaran berdoa, dengar
suara Tuhan, dasar-dasar kekristenan, pelepasan, penginjilan pribadi,
pemberkatan rumah dan kunjungan orang sakit.

4. Misi dan Penginjilan. Kegiatan ini paling tidak dilakukan dua kali satu
tahun oleh setiap kelompok FA. Dilakukan dengan persiapan paling tidak
tiga bulan sebelumnya. Dibarengi dengan doa puasa para anggota.
Persiapan dititik beratkan pada penuaian jiwa, tidak pada acara santai. Ada
dua bentuk penginjilan dalam FA :
a. Family Day, dilakukan bersama-sama kelompok FA diwilayah sektor
sendiri, yaitu kelompok FA umum, wanita dan pemuda. Masing-masing
membawa jiwa dan pergi ke suatu tempat yang berjauhan dengan tempat
tinggal, secara santai disana diadakan permainan berhadiah, makan
bersama, kegiatan-kegiatan yang menarik lainnya. Tetapi acara intinya
adalah ibadah disertai tantangan jiwa yang mau menerima Yesus sebagai
Tuhan dan juru selamat pribadi. Perlu ada persiapan kartu untuk mem

5
follow up jiwa baru dalam kelompoknya. Keunikan dari Family Day adalah
anggota keluarga dapat mengamati kesungguhan dan keberhasilan
pembinaan FA bagi anggota keluarga mereka. Hal ini akan membawa
dampak keluarga Allah yang bahagia dan yang sungguh menjadi berkat
bagi sesama.
b. Pengijilan kontekstual. Kegiatan ini dilakukan oleh masing-masing
atau beberapa kelompok FA umum saja, atau wanita saja, atau pemuda
saja. Acara dan persiapan sama dengan Family Day diatas.
Kegiatan-kegiatan lain yang akan mengairahkan kehidupan kelompoknya
dapat saja dilakukan kelompok FA dengan bantuan para GFA

ORGANISASI DAN ADMINITRASI FAMILY ALTAR

Struktur Organisasi FA,


Struktur organisasi FA mengikuti struktur bani Israel, yaitu yang dikenal
dengan struktur Yitro Kel. 18:13-21.
* Gembala Wilayah pemimpin ribuan, membawahi empat (minimal tiga,
maksimal 6 asisten wilayah / sektor)
* Gembala Sektor pemimpin 50 an - membawahi minimal (3 maksimal 6 )
pemimpin kelompok FA (GFA)
* Gembala FA , pemimpin sepuluhan, membawahi 7 sampai 15 jemaat

Pemimpin kelompok FA otomatis menjadi pekerja dalam gereja, yang


kewajibannya harus menghadiri pertemuan para pekerja dan doa puasa
pekerja. Tata tertib dan tanggung jawab sebagai seorang pekerja harus
dipahami dan diikuti. Gembala Sektor dapat dipilih untuk menjadi diaken atau
diakones yang bertugas dalam kebaktian umum (tidak semua dipilih).
Gembala Wilayah potensi untuk diangkat menjadi pejabat nasional GBI yaitu
Pdp. Ketua Wilayah berpotensi untuk Pdm. dan calon Full Timer. Dengan
keteraturan dan keberhasilan pelayanan dalam gereja diharapkan para
pekerja akan semakin baik dan berbobot.

Pengangkatan Pengurus FA
Setelah calon pengurus kelompok FA mengikuti pendidikan SOM maka ia
harus mengikuti konseling pelepasan dan inner healing bagi dosa atau ikatan
yang belum disadari dan dibereskan. Penggunaan Formulir pemberesan
tersedia dan bisa dilakukan pelayanan hendaklah mengikuti cara yang sudah
disepakati bersama. Calon pengurus sudah dilahirkan kembali. Setelah itu G.
Sektor kelompok FA mengisi formulir usulan pengangkatan pengurus
kelompok FA yang tersedia yang disampaikan kepada Gembala Sidang (Cq.
Litbang FA) untuk ditandatangani sebagai persetujuan. Pengurapan dan
pengutusan dari Gembala Sidang.

Persyaratan Pengurus Kelompok FA

6
Keluaran 18:21 “Di samping itu kau carilah dari seluruh bangsa itu orang-
orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya,
dan yang benci pada pengejaran suap, tempatkanlah mereka di antara
bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang,
pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang.”
Kriteria kunci dari para pemimpin kelompok FA adalah dia bertindak sebagai
seorang panutan, model yang berfungsi sebagai Leader, Manager dan Pastor.
1. Pastor - sebagai Gembala, Mempunyai hati yang mengasihi Allah! Hidup
dalam ketaatan dan senang berada dalam hadirat-Nya senantiasa.
bertumbuh dalam iman. Mempunyai hati untuk sesama, mengasihi
sesama tanpa membeda-bedakan satu dengan yang lain; Senang bekerja
sama dengan pribadi lain.
2. Manager - sebagai Pengurus, yang cakap dan dapat dipercaya dalam
keuangan dan keluarga yang baik. Seorang yang beriman dan siap sedia
untuk melayani; seorang yang berinovasi, tunduk pada atasan, teachable
(mau belajar dan diajar).
3. Leader - Seorang pemimpin, yang menjadi Model dalam berbagai
pelayanan, mengerti Visi dan mempunyai Visi dan program untuk
dijalankan, sanggup memotivasi dan berhasil dalam pelayanannya.
Pengurus dalam kelompok 10 adalah : Pemimpin kelompok, wakil
pemimpin kelompok dan sekretaris, bendahara kelompok

Berikut ini adalah persyaratan menjadi pengurus FA


a. Mengerti Visi gereja dan mempunyai Visi
Mengerti bahwa kita sedang dalam masa penuaian, dimana kita harus
melakukan peperangan melalui doa puasa yaitu menjadi rumah doa. FA
adalah tim inti untuk menjaring jiwa. Mempunyai visi pribadi yang Tuhan
berikan untuk memperlengkapi diri dan merupakan panggilan Tuhan untuk
terlibat dalam melayani, mensukseskan visi gereja. Calon pengurus FA
adalah anggota gereja yang terdaftar sudah lahir baru, telah dibabtis selam
dan dipenuhi Roh Kudus. Sudah mengikuti kelas SOM
b. Hati seorang gembala.
Hati yang mencerminkan hati Bapa di sorga yang sedih melihat banyak
dombanya berkeliaran tanpa gembala. Hati yang mengasihi dan terbeban
untuk berkorban bagi sesama keluarga Allah.
c. Bersemangat dan dinamis
Ini penting untuk pertumbuhan dan pendewasaan kelompoknya.
Seorang yang berkobar-kobar dalam pelayanan banyak ide baru, berani
dalam kasih dan tertib dalam melayani. II Tim 1:7.
d. Kesaksian hidup
Mempunyai kesaksian hidup yang membawa damai sejahtera dan
memuliakan nama Tuhan. Terutama dalam pertobatan dan proses kelahiran
baru. Hal ini akan memberikan dampak positip dalam ruang untuk saling
membagi pengalaman.
e. Mempunyai Waktu.

7
Ada orang yang mau melayani dan sudah dipersiapkan dengan perangkat
untuk maju melayani, tetapi mereka mundur oleh karena alasan ini. Sadarilah
bahwa waktu itu bukan milik kita tetapi milik Tuhan. Minta dari Tuhan dan
taatilah pimpinanNya saudara akan lihat betapa luar biasanya Tuhan bekerja.
Pelayanan saudara dan bisnis saudara akan berhasil. Ijinkan Tuhan
menggunakan waktu yang dipercayakan kepada saudara, supaya saudara
dapat melayani Dia. Jangan absen dan melarikan diri dari pelayanan.
f. Taat kepada pemimpin
Renungkan ini mungkinkah kita sungguh taat pada yang tidak kelihatan
apabila pada yang kelihatan saja kita tidak taat ? Disini diperlukan
pengabdian mengenai struktur organisasi dan adminitrasi serta hubungan
kerjasama dengan anggota keluarga
Konsekwensi tidak memenuhi syarat-syarat ini jabatan akan ditinjau ulang

PERAN DAN TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN FA


(Job Description)
a. Berdoa setiap hari sesama pengurus kelompok, anggota kelompok,
terutama jiwa baru yang sedang dalam kebingungan, bersama dengan
anggota kelurga mereka - minta tutup bungkus dengan Kuasa Darah Yesus.
Renungkan Firman Tuhan setiap hari dalam saat teduh dan dapatkan
tuntunanNya supaya saudara dapat menggembalakan dengan baik hari itu.
Penggembalaan itu dilakukan setiap hari !
b. Kunjungi anggota yang bermasalah atau yang mundur rohaninya dengan
anggota FA yang lain. Latihlah mereka untuk melayani !
c. Milikilah jiwa misi dengan antusias dan menangkan jiwa bagi Kristus.
Jalankan prinsip KTM dan CGF dalam memimpin kelompok. CGF (Cari,
Gembalakan, Fungsikan).
d. Memiliki sikap keterbukaan dan menjadi model dalam ketaatan Firman
Tuhan. Merencanakan penginjilan kontekstual yang melibatkan anggota
kelompok.

PERAN DAN TANGGUNG JAWAB WAKIL PEMIMPIN FA


(Job Description)
a. Mencari dan mendoakan calon pengurus baru dari para anggota, bersiap
untuk mengirimkan dia ke kelas SOM
b. Aktif dalam mencari jiwa baru bersama para anggota yaitu untuk
mengembangan kelompok FA, menemukan dan mengundang mereka
untuk menjadi anggota gereja dengan mengisi daftar KKJ
c. Mendukung pemimpin FA dalam tugas penggembalaan dan tugas
kepemimpinan.

PERAN DAN TANGGUNG JAWAB SEKRETARIS FA


a. Menangani urusan adminitrasi dan keuangan kelompok FA.
Membuat catatan jadwal pelayanan untuk bulan berikut , menyampaikan
kepada masing-masing yang bertugas
b. Membuat laporan kehadiran ibadah FA mingguan dan mengirimkan

8
masing-masing copy bagian bersangkutan.
c. Menghitung uang persembahan bersama seorang anggota lain, secara
bergilir memasukkan ke dalam amplop persembahan yang tersedia
bersama laporan yang tersedia
d. Bertanggung jawab agar amplop persembahan sudah diserah terimakan
dimeja Litbang FA pada Ibadah raya hari minggu. Dan menyimpan tanda
bukti
e. Bila sekretaris berhalangan untuk menyampaikan amplop persembahan,
maka wakil atau ketua kelompok yang mengambil alih tanggung jawab itu.
f. Mengikuti administrasi pendataan jemaat gereja dilingkungan kelompok FA
dengan berhubungan dengan petugas kantor sekretariat gereja untuk
informasi-informasi yang lain. Contoh: Pengurus FA yang terdiri dari ketua
wakil ketua, dan sekretaris harus bekerja dalam bentuk Tim yang kompak.
Dimana tidak ada yang merasa lebih dari yang lain. Tetapi sama-sama
saling terkait dan peduli tetap bertanggung jawab.

ADMINISTRASI FA
Setiap kegiatan kelompok apapun harus disertai laporan yang
diadministrasikan dan dilaporkan kepada Litbang (dengan tembusan Sektor
atau Wilayah)
Administrasi antara lain mengikuti kehadiran, dalam ibadah mingguan
kelompok FA, penerimaan persembahan dalam kelompok FA, jiwa baru yang
hadir dan yang telah dimenangkan dan dibabtis di gereja.
Pelaksanaan penginjilan kontekstual, Family day, diakonia, struktur organisasi
FA dan pengangkatan para pemimpin FA
Administrasi ini mengikuti keseragaman dari Litbang
Keberhasilan penggembalaan ada kaitannya dengan tertib adminitrasi.
Administrasi kelompok menggunakan formulir yang seragam dari Litbang.
Contoh Form

TANDA TERIMA
Sampul Persembahan Family Altar

Tgl. Kebaktian :
Kode F.A. :
Nama F.A. :
Jumlah uang Rp. :
(_______________________________________)
Diserahkan Tgl : ___________________

Yang Menerima Yang menyerahkan


Sekretariat FA

(____________) (_______________)
Nama Terang Nama Terang

LAPORAN MINGGUAN

9
Nama FA :……………………………. Kelurahan :……………………
Nomor FA : …………………………..
Gembala FA : …………………………… Paraf : ……………………
Sekretaris : …………………………… Paraf : ……………………
Dirumah Keluarga : …………………………… Alamat : ……………………
Tanggal : …………………………… Hari : ………… Jam : ……………

No: Nama Alamat Kode

15 Posisi dimana kelompok dipersiapkan u/ berganda

Jumlah Anggota Pengunjung Jiwa Rp.


Hadir Baru Pers.

Pujian Penyembahan : Isi Firman :


Doa Pembukaan : Doa Pers./Penutup :
Doa Firman : Doa Syafaat :
Pembawa Firman : Doa Berkat Jasmani:

Kesaksian :

Pertemuan 1 minggu berikutnya :

Catatan Khusus : ____________________________________________

Pelajaran 2

10
SOM GBI Denpasar Lembah Pujian
Kelas Dasar III
PRINSIP DUA BELAS
Ayat hafalan: II Timotius 2:2

Usaha kita terhadap pengembangan kepemimpinan yang berhasil mungkin akan


mencapai puncaknya dengan cara yang sama Yesus lakukan: mengembangkan
“dua belas” asisten yang dipilih dimana kita menghabiskan kebanyakan waktu
kita bersama mereka dengan tujuan untuk menolong kita membagikan visi.
Prinsip dua belas diteguhkan lagi dan lagi di Alkitab: 12 suku Israel (Kej. 49:28),
12 rasul (Luk. 6:13), 12 batu dasar di Yerusalem Surgawi (Wah 21:14,12) dan
banyak ayat-ayat yang lain menekankan pentingnya angka ini sebagai angka
pemerintahan.
Gereja di seluruh dunia menemukan bahwa dengan kelompok dua belas Amanat
Agung bisa dengan mudah diselesaikan. Sebagai contoh , Maiwa’azi Dan Daura
dari kota Jos, Nigeria. Pelayanannya mulai dengan 7 orang yang dia muridkan.
Sasaran dari 7 orang tersebut adalah untuk mendapatkan 12 orang yang lain
untuk dimuridkan. Setelah 20 tahun , kelompok kecil mereka tersebut telah
berkembang menjadi sebuah “jaringan dua belas” kepemimpinan yang telah
melahirkan lebih dari 1200 gereja di Nigeria. Setiap minggu, para murid bertemu
dengan pemurid mereka dan orang-orang yang mereka muridkan
Secar dan Claudia Castellanos memulai kelompok kecil mereka, Mission
Carismatica International, di Bogota, Kolombia, pada tahun 1983. Setelah
beberapa tahun, gembala departemen kaum muda mereka, Cesar Fajardo,
memulai sebuah proses yang mirip dengan Maiwa’azi Dan Daura dengan
memuridkan 12 remaja di depatermennya. 12 anak remaja ini pada gilirannya
juga diberi tugas untuk menemukan 12 anak muda yang lain (berumur 16-25
tahun) untuk dimuridkan dan dilepaskan dalam pelayanan sebagai asisten
mereka. Struktur piramida yang besar dari hubungan pelayanan ini sekarang
telah mencapai tiga generasi dari “dua belas” yang beberapa dari mereka
sedang memulai generasi keempatnya. Sekarang ada sekitar 6.600 kelompok
sel dalam departemen anak muda mereka di Mission Carismatica International
dengan sasaran mempunyai 10. 000 kelompok sel anak muda! Setiap Sabtu
lebih dari 600 anak muda baru ditobatkan pada Kebaktian kaum muda Sabtu
pagi. Bukankah tidak wajar untuk melihat seorang anak muda 25 tahun
mengawasi sebanyak 800 kelompok sel. menggunakan “Prinsip Dua Belas”.
Gereja ini telah memiliki 14.000 kelompok sel dan semua pemimpin diatur di
bawah satu dengan yang lain dalam “Prinsip Dua Belas”.
Keuntungan Prinsip Dua Belas dibandingkan Kelompok Sel
I. Menjaga Hubungan Melalui “Prinsip Dua Belas”
Cara multiplikasi kelompok sel secara tradisional melewati fase-fase: lahir dan
bertumbuh, kanak-kanak, remaja, dewasa, tua dan mati. Kelompok-kelompok
sel ini bisa bermultiplikasi beberapa kali, tetapi tiap kali multiplikasi terjadi akan
melukai hubungan yang telah mereka bangun dalam kelompok sel itu. Setelah
beberapa kali bermultiplikasi anggota kelompok sel akan cenderung untuk
kehilangan motivasi untuk bermultiplikasi karena tidak seorangpun senang

11
bermultiplikasi hanya untuk mengulangi semuanya dari awal lagi, mereka harus
membangun hubungan yang baru dan segera setelah itu mengalami
perpecahan/luka lagi.
“Prinsip Dua Belas” telah merubah prinsip tradisonal mengenai multiplikasi
kelompok sel dengan memberikan kemungkinan hubungan yang terus berlanjut
setelah multiplikasi. Pemimpin kelompok sel berkembang, tidak hanya menjadi
“dua kelompok sel”, tetapi pemimpin kelompok sel bisa mengembangkan
seluruh anggota kelompok sel yang ada di bawah kepemimpinannya menjadi
pemimpin. Kemampuan untuk memelihara hubungan dengan anggota sel mula-
mula sementara bermultiplikasi akan memberikan dorongan/ semangat yang
kuat. Perkembangan atau produktivitas pemimpin kelompok sel ini tidak
terbatas, mereka bisa berkembang sesuai dengan kasih karunia dan
kemampuan yang Tuhan berikan pada mereka.

II. Dasar “Prinsip Dua Belas”


“Prinsip Dua Belas” sangat dinamis dan dahsyat tetapi mudah untuk dipahami
dan dipraktekkan. Kita bisa mengikuti prinsip ini dengan mudah jika kita
mengerti tujuh prinsip dasar ini:

1. Setiap orang adalah pemimpin yang berpotensi.


Pernyataan ini menentang hikmat dunia yang lazim mengenai kepemimpinan
dan siapa yang bisa (berpotensi) menjadi pemimpin. Jika kita hanya melihat
sepintas orang-orang yang hadir dalam kelompok sel (beberapa orang malu,
beberapa malas, beberapa masih terus bergumul), kita akan
mempertanyakan kebenaran pendapat ini. Tetapi kita harus ingat, orang-
orang yang Allah kirimkan kepada Daud di gua Adulam, mereka adalah
orang-orang yang dalam kesukaran, dikejar-kejar tukang piutang, atau sakit
hati (1 Sam 22:2), tetapi akhirnya orang-orang ini berubah menjadi pemimpin
yang luar biasa, mereka menjadi orang-orang perkasanya Daud.
Kelompok sel adalah seperti keluarga secara rohani. Setelah setiap anak
dalam keluarga dididik dengan baik sampai dewasa, mereka siap
membangun keluarganya sendiri. Demikian pula dalam kelompok sel.
Mengetahui bahwa tiap orang adalah pemimpin yang berpotensi akan
merubah segalanya. Sasaran anda sebagai pemimpin kelompok sel adalah
untuk melatih, menantang dan mempercayai orang-orang yang Allah telah
kirimkan sehingga mereka bisa mengambil langkah yang tepat untuk menjadi
pemimpin kelompok sel. Dengan mengasihi mereka , mendengarkan
mereka, dan menguatkan mereka, dan dengan semangat menanamkan visi
dan kepercayaaan Allah pada mereka yaitu bahwa mereka siap untuk
melangkah maju menjadi pemimpin kelompok sel. Sewaktu mereka mulai
melangkah maju, satu demi satu, halangan demi halangan akan mereka
lewati dan mereka akan mulai mampu memenangkan jiwa dan memuridkan
orang lain (Kej. 1:28; Ul. 28”13; Mat 5:13; Mat 28:19).
2. Setiap orang bisa memuridkan “dua belas” orang
Jika setiap orang mempunyai potensi menjadi pemimpin, berarti usaha kita
untuk memuridkan mereka sangatlah penting dan berharga. Yesus

12
mempunyai 12 murid yaitu orang-orang yang Yesus menginvestasikan
kebanyakan dari waktunya selama tiga setengah tahun. Dengan jelas Yesus
memilih 12 karena itu adalah angka yang sempurna untuk memuridkan.
Paulus mengerti mengenai pemuridan, oleh karena itu dia mempunyai
kelompok orang-orang (contoh:Timotius, Titus) yang sering bepergian
bersamanya. Mereka terus menerus belajar dan menyelidiki “ajaranku, cara
hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku, dan ketekunanku”
(II Tim.3:10). Sasaran seumur hidup untuk mengembangkan “dua belasmu”
menjadi tantangan yang luar biasa untuk pengembangan kepemimpinan.
Melalui proses waktu, keadaan, dan pemuridan muka dengan muka,
seseorang yang mungkin belum pernah melakukan sesuatu yang berarti,
tiba-tiba menjadi seorang yang mempunyai potensi, tujuan hidup,
kemampuan dan integritas yang luar biasa. Kerja kerasmu dan usaha untuk
memuridkan orang-orang ini akan terlunasi sewaktu mereka mulai mencari
dan mulai memuridkan “dua belas mereka.”
3. Setiap orang dimuridkan dan memuridkan
“Menerima dan memberi” adalah prinsip kehidupan. Tanaman yang sehat
menyerap sari-sari makanan dan mengeluarkan buah. Ini juga adalah alasan
utama dari “prinsip dua belas”. Sebagai contoh, gembala senior memberikan
pelajaran sel dan prinsip kepemimpinan yang dia ajarkan kepada 12
muridnya. Mereka mengambil informasi yang mereka terima dan kemudian
membagikan sewaktu mereka mengajar “dua belas” mereka pada minggu
yang sama. “Ajarkan apa yang diajarkan kepadamu” dimulai dari sekelompok
“dua belas” ke kelompok “dua belas” selanjutnya sepanjang minggu. Baik
tertulis maupun lisan, prinsip dan pengajaran diturunkan dari “generasi ke
generasi” dan kemudian “ke generasi yang paling bawah” sebagai ujung
tombak penginjilan. Pelajaran turun dari atas melalui pertemuan “dua belas”.
“Ajarkan apa yang diajarkan kepadamu” (II Tim. 2:2) dengan cara ini,
pengajaran tidak akan berhenti di suatu tempat, tapi pengajaran itu segera
diimpartasikan/ diteruskan kepada mereka yang ada di bawah kepemimpinan
kita.
4. Seorang termasuk dalam “dua belasmu” hanya jika orang tersebut telah
membuka kelompok sel.
Seorang bisa masuk dalam kelompok sel (menjadi anggota kelompok sel)
tanpa termasuk dalam “dua belasmu”. Sasaran memuridkan dan pelatihan
kepemimpinan adalah supaya pemimpin yang berpotensi (anggota sel)
membuka kelompok selnya sendiri. Ini bisa dilakukan setelah anda
membawa orang tersebut melalui proses “Memultiplikasikan Pemimpin“
Proses 8 - 12 bulan ini bertujuan untuk menyiapkan individu menjadi
pemimpin sel yang efektif.
5. Setiap orang harus memenangkan jiwa-jiwa dan mengembangkan pemimpin
yang berpotensi.
Setiap gembala, pemimpin dan orang-orang Kristen seharusnya
memenangkan jiwa-jiwa - kitapun telah diperintahkan oleh Tuhan melakukan
hal yang sama! Dengan menggunakan “Prinsip Dua belas” sasarannya
nyata adalah dengan doa, paling tidak kita membawa “dua belas” orang pada

13
Tuhan tiap tahun melalui penginjilan pribadi. Para petobat baru masuk dalam
kelompok sel dan kemudian membuka kelompok sel menjadi pemimpin tetap
di dalam “dua belasmu”. Pertemuan sel anda menjadi “pertemuan pemimpin”
dimana seluruh pemimpinmu berkumpul bersama untuk dikuatkan dan dilatih.
6. Kelompok sel berkembang paling cepat jika mereka berkembang dengan
cara homogen. Kata “homogen” definisinya “macam atau sifat dasar yang
sama atau mirip”. Penyelidikan telah menunjukan bahwa kebanyakan orang
menemukan hubungan/ teman di tempat kerja mereka, lebih daripada di
lingkungan mereka. Oleh karena itu, banyak kelompok sel yang bisa dibuka
dengan cepat di tempat kerja atau dengan kelompok sel yang anggota-
anggotanya mempunyai hubungan kekerabatan. Jika mereka diberi keluasan
untuk mengembangkan kelompok sel homogen (misalnya: kelompok wanita,
laki-laki, pekerjaan, hobi, sekolah, dll) dan menerima pelajaran sel/
pengarahan yang teratur, maka mereka akan mempunyai rasa percaya diri
untuk membangun kelompok sel mereka sendiri.

7. “Dua belasmu” adalah asistenmu


Anda tidak hanya memuridkan “dua belasmu” tetapi mereka menjadi
asistenmu.
Di Bogota, setiap anggota “dua belasmu” mengambil peran utama untuk
memfollow-up petobat baru selama sebulan dalam satu tahun.
Kebangunan rohani di Efesus menggoncangkan seluruh benua Asia Minor,
dan itu semua dimulai dengan “dua belas orang”.

Pelajaran 3

14
SOM GBI Denpasar Lembah Pujian
Kelas Dasar III
PENGGEMBALAAN FAMILY ALTAR
Ayat hafalan: I Samuel 2:35

PRINSIP DASAR PENGGEMBALAAN FA


Yeh. 34:16 “yang hilang akan engkau cari, yang tersesat akan engkau bawa
pulang, yang luka akan kubalut yang sakit akan kukuatkan, serta yang gemuk
dan kuat akan kulindungi, aku akan menggembalakan mereka sebagaimana
seharusnya.”

Seorang gembala adalah orang yang pekerjaannya menggembalakan ternak


piaraannya di ladang. Ternak piaraan adalah milik tuannya yang punya ternak.
Yang memilih dan memberi upah kepada gembala-gembala itu. Dan tuan itu
menginginkan hasil dari penggembalaan dari sang gembala, antara lainnya
makin banyak ternaknya
Tuhan melihat umat manusia banyak berkeliaran seperti domba yang tidak ada
gembalanya (I Raj. 22:17 Mat. 9:36-39). Tuhan selalu menginginkan supaya
domba-dombanya digembalakan. Tuhan sendiri yang memberi contoh
bagaimana menggembalakan domba-dombanya. Ia memberikan perumpamaan
dalam Yoh. 10 dan Mazmur 23 tentang gembala yang baik. Tuhan memilih
sendiri gembala-gembala seperti Dia memilih Yosua (Bil 27: 18) dan Daud (Maz.
78:70-72; Yer. 23:4). Kepada gembala dipilihnya ada perintah gembalakanlah
domba-dombaKu (Yoh. 21:15 ; I Pet. 5:2) jangan dengan paksa. Bagaimana
cara menggembalakan domba-dombanya ?
Memelihara (Yeh. 34:16) melindungi (Kis. 20:28-32) dan mempersiapkan mereka
agar menjadi dewasa sebagai Imamat yang Rajani (I Pet. 2:2-5, 9, 12). Dengan
kasih.
Siapakah domba-dombaNya itu dan bagaimana kondisi mereka ?
Mereka adalah anggota keluargaNya, karena mereka dipilih dan dipisahkan dari
dunia ini ke dalam kerajaanNya yang ajaib. Ada yang besar ada yang kecil.
Selengkapnya mereka terdiri dari: anak-anak (bayi); orang muda dan bapa-bapa
(dewasa) (1 Yohanes 2:12-14). Mereka adalah satu keluarga besar, komunitas,
itulah oikos.
Keadaan jemaat di dalam Gereja Tuhan memberikan gambaran di atas, di
tambah dengan calon keluarga. Hal ini dapat saudara dapatkan dalam kelompok
FA saudara. Seorang gembala harus mengenal domba-dombanya dan
senatiasa berada di antara dombanya. Dia bukan seorang upahan dan dia
bersedia bahkan memberikan nyawanya bagi keselamatan domba-dombanya.
Pengembalaan dalam kelompok FA bukanlah sekedar mengunjungi yang sakit
dan menghibur yang sedih namun lebih dari pada itu, yaitu dalam kasih menjadi
contoh, model atau panutan bagi mereka dan mendoakan mereka setiap hari.
Mengajar, membimbing, bersehati dengan mereka, bertumbuh bersama dan
menjadi pelaku Firman sampai memenangkan jiwa bagi Tuhan.

FA ADALAH PENGGEMBALAAN

15
Arti penggembalaan dalam FA adalah :
1. Jemaat dikenal secara pribadi oleh Gembala FA dan wakilnya, karena
mereka rajin melakukan kunjungan sehingga dapat bergaul dengan mereka.
“Akulah gembala yang baik dan aku mengenal domba-dombaKu (Yoh 10:14).
2. Gembala FA dan wakilnya menjadi figur orang tua (Bapa/ Ibu) rohani bagi
jemaatnya. “Kamu (Jemaat) tahu, betapa kami (Gembala), seperti bapa
terhadap anak-anaknya” (1 Tes. 2:11-12) “kami (gembala) berlaku di antara
kamu (jemaat), sama “seperti seorang ibu mengasihi dan merawat anaknya”
(! Tes. 2:7)
3. Gembala FA dan wakilnya menjadi figur pelindung dan penjaga rohani bagi
jemaatnya. “Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-
dombaNya” (Yoh 10:11b)

Keberhasilan sebuah kelompok FA, 80% ditunjang oleh pelayanan


lapangan contoh kegiatan lapangan dalam penggembalaan FA:
• Perkunjungan ke rumah-rumah keluarga jemaat dan calon jemaat untuk
bergaul dengan mereka agar mengenal secara pribadi dan terjalin ikatan
batin.
• Mengunjungi dan mendoakan jemaat FA yang sakit ataupun yang mengalami
kematian, baik yang di rumah sakit atau di rumah.
• Mengunjungi secara teratur jiwa-jiwa yang belum mengenal Kristus dan
memberikan pengajaran Firman, sehingga dari pendengaran akan Firman
tersebut, timbul iman dari orang tersebut untuk percaya kepada Tuhan dan
bertobat.
• Memberikan konseling dan penghiburan kepada jemaat.
• Berdoa syafaat untuk setiap jiwa jemaat secara pribadi, bila perlu disertai
puasa.
• Mengelilingi kawasan FA untuk mengenal seluk beluk kawasan sambil
mencari jiwa-jiwa baru dan melakukan doa mengikat kuasa kegelapan di
kawasan tersebut.

Apabila terjadi kondisi seperti ini, maka bagi seorang gembala di kelompok FA
diharuskan agar ia mengerti bahwa peranannya di dalam kelompok adalah
sebagai:
1. Gembala
• Dia harus mempunyai hati yang mengasihi dan taat pada Tuannya; hati untuk
Tuannya; selalu berada dalam hadirat-Nya dan bertumbuh di dalam Dia.
• Dia harus mempunyai hati untuk domba-dombanya yang diberikan oleh
tuannya, supaya dia menggembalakan mereka. Dia tidak memeras tetapi
mengasihi mereka. Dia senang bekerjasama dengan mereka. Dia mengenal
para dombanya !
• Mengerti akan panggilan sebagai gembala, dan menyadari dalam dia Tuhan
memperlengkapi pelayanannya dengan “karunia gembala dan melihat Tuhan
Yesus sebagai panutannya. Upahnya besar di sorga

2. Manajer

16
• Cakap dan mampu untuk mengelola, dan hidup baik sebagai panutan para
domba.
• Mampu mengatur, siap sedia untuk melayani baik siang atau malam, bukan
karena jabatan, tetapi untuk dapat berfungsi dengan baik dalam kasih.
• Mengerti bahwa ia berada dalam keluarga sendiri. Ia harus bertindak untuk
mengajar mereka (memuridkan), mendewasakan, memberi peluang dan
cara-cara untuk pertumbuhan dalam iman dan karunia-karunia roh.
Taat kepada atasan dan mempunyai iman yang hidup

3. Pemimpin
• Sebagai leader harus berjalan didepan barisan; tidak takut, tahu pasti jalan
yang diambil seorang yang peka terhadap pimpinan Tuhan, mengerti akan
visi gereja.
• Berkemampuan sebagai pemimpin, penuh urapan, menjadi model dalam
berbagai segi kepemimpinan, mampu memotivasi, mendorong dan
mengarahkan domba-domba dalam kasih supaya mereka dapat bertumbuh
dan menikmati hasil pertumbuhan itu.
• Mau belajar dan diajar oleh Tuhan dan manusia.
• Seorang yang berani, menyala-nyata rohani dalam melayani

PENGGEMBALAAN FAMILY ALTAR


A. Arti panggilan gembala adalah
1. Menunggu
- Orang yang menjaga pintu Yoh. 10:3
2. Mengenal domba-dombanya
- Mengetahui kondisinya, mengenal domba-dombanya Yoh. 10:3,14 /
Amsal 27:23
- Yang sakit dirumah atau dirumah sakit dikunjungi dan didoakan.
- Yang mundur dihibur dan dikuatkan
3. Pemimpin
- Memimpin domba-dombanya, Maz. 23:1
- Menjadi teladan bagi domba-dombanya I Pet. 5:2-3
- Dan rela berkorban bagi Tuhan dan dombanya Yoh. 10:11
- Paulus rela mengorbankan miliknya bahkan dirinya bagi orang kristen
yang Tuhan percayakan kepadanya II Kor. 12:15
4. Pemeliharaan
- Yang sakit disembuhkan Yeh. 34:4 oleh nama Yesus dan Firman
Allah. Yang luka dirawat dan yang lapar diberi makan Yoh. 10:9;
21:15-17; Yeh. 34:16. Yang hilang dicari dan dibawa pulang,
walaupun yang hilang itu jelek menurut pandangan manusia, tetapi
semua berharga dimata Tuhan, ingat 100 domba, 1 hilang dicari.
Kwantitas (jumlah) adalah orientasi Yesus dalam menyelamatkan
dombanya. setelah itu Kwalitas (mutu) dijaga dan dipertunjukkan.

5. Penasihat

17
- Yeh. 34:17-19 Gembala tidak boleh memihak kepada yang satu dan
mencelakakan yang lain. Harus netral berdiri atas kebenaran Firman
Tuhan. Tujuannya supaya kedua belah pihak yang mempunyai
persoalan berbaik kembali dengan sepenuh hati menasihati mereka
supaya hidup rukun (Rom. 12:18)

B. Hal yang menjadikan seorang gembala gagal


1. Pandangan yang kurang luas dan berhati sempit
- Hanya mencari keuntungan sendiri dan menyingkirkan orang-orang
berbakat
2. Kurang bertanggung jawab
- Tidak mempunyai rasa tanggung jawab yang aktif, asal menjalankan
kewajibannya saja
3. Kurang bergairah dalam bekerja
- Tidak dengan setia menjalankan tugas, mudah tertarik kepada pekerjaan
baru, tetapi mudah pula kehilangan gairah terhadap pekerjaan tersebut.
Ada awal tetapi tidak bisa mengakhiri dengan baik. Sibuk sana-sini, tetapi
tidak menghasilkan jiwa bagi Tuhan.
4. Kurang bertekun dan sabar
- Ketika menghadapi kesukaran tidak dengan sekuat tenaga menghadapinya.
Mudah putus asa dan tidak mengandalkan pertolongan Tuhan
5. Kurang memiliki kemampuan untuk bersatu, sulit bekerja sama dengan
orang lain.
C. Penyebabnya adalah
1. Menganggap diri sendiri lebih tinggi dan meremehkan orang lain.
2. Melihat diri sendiri tidak semampu orang lain (rendah diri) dan iri terhadap
semua orang.
3. Tidak mau menerima kritikan orang lain.
4. Kurang mempunyai kemampuan untuk taat. Mudah melakukan hal-hal yang
melanggar atau tidak sesuai dengan peraturan umum yang telah diterapkan.
5. Kurang memiliki kemampuan untuk memperhatikan kesejahteraan sesama
pelayan atau egois.
6. Kurang memiliki kemampuan untuk membedakan antara yang benar dan yang
salah, dan bersikeras untuk mempertahankan kehendaknya sendiri.
7. Kurang memiliki kemampuan untuk menahan diri. Sering kali melakukan
secara berlebihan atau sebaliknya (Over acting atau sebaliknya ngambek).
Seorang gembala yang cakap tidak didapatkan dalam waktu satu hari.
Saudara tidak akan menjadi gembala yang berkenan hanya duduk saja.
Saudara harus bertindak dan melakukan tugas dari Tuhan. Jangan takut
gagal. Abraham pernah gagal (Kej. 12:10-13; 16:1-6) Musa pernah gagal
(Kel. 2:11-12; Bil 11:10-23). Petrus pernah gagal (Mat. 26:69-75). Tanda
gembala yang berhasil itu bukan karena pernah gagal, tetapi bagaimana dia
menangani atau mengatasi kegagalan itu, belajar dari kegagalan itu dan tetap
tekun dan setia, sehingga Allah terus memakai dia menjadi alat yang luar
biasa untuk menyelamatkan jiwa-jiwa.

18
Penggembalaan dalam FA memerlukan otoritas dari atas, tetapi juga tunduk
kepada otoritas diatas, dalam pengertian dengan oikos, keluarga kerajaan,
yang akan menghasilkan anak-anak atau anggota kerajaan yang bertumbuh.
Dengan penggembalaan ini Tuhan menyertai senantiasa, Dia memantau dan
mengarahkan aliran karunia rohNya yang mengakibatkan domba-dombaNya
bertumbuh dewasa dan bersih, Kudus dan multiplikasi (berkembang biak)
Tuhan Yesus memberi contoh dalam pelayananNya sebagai gembala yang
baik di dunia selama 3.5 tahun “Akulah gembala yang baik” Dia
melakukannya dengan ajaib, Dia mengajar, membetulkan, memotivasi
mereka, memperlengkapi, dan mengutus mereka. Dia mengingatkan supaya
mereka pergi, pergi sampai ke ujung bumi dan Dia menyertai mereka sampai
selama-lamanya. Dari hasil penggembalaanNya lahir para nabi, rasul,
penginjil, gembala, guru dan anggota lain yang penuh roh untuk
mendewasakan anggota keluarga yang lain (Ef. 4:11-16).
Dalam penggembalaan di FA semakin nyata perkembangan para anggota
keluarga kerajaan yang dipantau para gembalanya. Terjadi perubahan hidup
tiap anggota, dan hal ini dirasakan setiap anggota lain. Pertobatan yang sejati
dipantau oleh gembala, terjadi pemuridan yang efektif dan penginjilan yang
efefktif. Perubahan hidup yang individualis ke arah komunitas keluarga
kerajaan. Karunia roh bekerja dengan ajaib dalam pertemuan kelompok dilatih
dan dikembangkan. Jemaat langsung akan melihat dan merasakannya.
Tujuan akhir adalah gereja yang penuh kemuliaan Tuhan karena semua
jemaat hidup baru, penuh Firman dan pelaku Firman yang dewasa dan
misioner.

PRINSIP DASAR PENGEMBALAAN DI FA


• Perubahan cara hidup jemaat dimulai di dalam Komunitas FA
• Pemuridan sejati dalam konteks “Tubuh Kristus” (Yoh 13:34) Komunitas
FA
• FA mendorong jemaat agar bertumbuh dewasa dengan memenangkan
jiwa bagi Kristus Yesus.
• Memberi ruang waktu untuk manifestasi layanan dan karunia Roh Kudus
dan buahNya dalam komunitas FA.
• Fungsi-fungsi karunia Roh semakin nyata dalam komunitas FA ini

OBJEKTIVE FA
Cari - Gembalakan - Fungsikan
Agenda Pertemuan Kelompok FA
Welcome
Ice Breaker, Manusia dengan Manusia ................................................ 10 menit
Worship
Pujian Penyembahan, Manusia kepada Tuhan ..................................... 20 menit
Word
Firman Tuhan, Tuhan kepada Manusia ............................................. 30 menit
Work
Pelayanan, Manusia dengan Manusia ............................................... 30 menit

19
• Persembahan
• Kesaksian
• Administrasi dan keuangan
• Pembukaan rencana, kegiatan
• Selesai

Pelajaran 4
SOM GBI Denpasar Lembah Pujian

20
Kelas : Dasar III
KEPEMIMPINAN DALAM FA
Ayat hafalan: I Petrus 5:6

KEPEMIMPINAN KRISTIANI
• Kemampuan seorang/pemimpin untuk menunjukkan jalan kepada anggota
kelompok dan mempengaruhi kelompok untuk bekerjasama dengan
keyakinan penuh, dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh atasan
dengan berorientasi kepada pola Tuhan Yesus.
• Amsal 11:14 Jikalau tidak ada pimpinan, jatuhlah suatu bangsa, tetapi jikalau
penasihat banyak keselamatan ada.

KEPEMIMPINAN DALAM FA
Kepemimpinan dalam FA adalah keteladanan yang ditunjukkan. Pemimpin yang
mempengaruhi dan mendorong anggota-anggota FA agar mereka bergerak maju
di dalam Tuhan Yesus sampai kepada kebaikan Allah dan rencanakan Allah bagi
mereka.
Kepemimpinan dalam FA memberikan arah pertumbuhan menuju kedewasaan
dalam Kristus dan dorongan untuk terbentuknya kesatuan hati di dalam
kelompok FA.
“Kepemimpinan dalam FA berfokus kepada keteladanan Kristus yang
mengajak orang dan berkata “Ikutlah Aku.” (Matius 4:19)
Yesus memberi diriNYa menjadi contoh untuk diikuti, Ia berkata “Akulah terang
dunia, barangsiapa mengikut Aku, . . .(Yohanes 8:12)
Rasul Paulus memimpin orang lain untuk mengikuti teladannya, “Jadilah
pengikutku, sama seperti aku menjadi pengikut Kristus” (I Korintus 11:1)
Karena itu seorang pemimpin kelompok FA harus memacu dirinya untuk
mengejar pertumbuhan dalam mengikuti teladan Kristus di dalam seluruh aspek
kehidupannya, sehingga ia juga dapat memimpin jemaat anggota FA
sebagaimana Yesus telah memimpin hidupnya. Sebagaimana Tuhan Yesus
dalam hidupnya telah menghasilkan para pemimpin rohani (para rasul), maka
kepemimpinan Gembala FA harus diarahkan untuk melahirkan lagi para calon
gembala FA, yang nantinya akan memimpin kelompok-kelompok FA yang akan
dilahirkan melalui kelompok yang sekarang.
Pemimpin FA harus mengarahkan dan mendorong jemaat anggota FA agar
mereka memiliki gaya hidup bereproduksi rohani. Sehingga terjadi, pemimpin
melahirkan pemimpin, gembala melahirkan gembala, dan domba melahirkan
domba.
Pola kepemimpinan dalam kelompok FA adalah kepemimpinan menurut Alkitab,
yaitu:
1. Pemimpin sebagai Gembala
Yesus berkata:”Akulah Gembala yang baik . . .” (Yoh. 10:14-15)
Pemimpin harus mengenal dombanya (anggota FA), bukan hanya mengenal
nama, alamat dan pekerjaannya, tetapi harus mengenal kehidupannya.
Termasuk keadaan keluarganya, rohaninya dan segala sesuatu yang
bersangkutan dengan kehidupannya.

21
Juga pemimpin harus dapat mengasihi dombanya.
2. Pemimpin sebagai Pelayan
Pemimpin harus juga menjadi pelayan/melayani dan bukan untuk dilayani
(Yoh. 20:28), sama seperti Yesus ketika membasuh kaki murid-muridNya
(Yoh. 13:16). Jadi sebagai pemimpin di kelompok FA hendaknya dapat
melayani anggotanya sebagaimana Tuhan Yesus
3. Pemimpin sebagai Manajer
Tuhan Yesus sebagai manajer yang agung telah merencanakan dan
mengatur gerejaNya melalui orang-orang yang telah Ia didik dan latih dan
hasilnya hingga kini masih kita rasakan.
Sebagai pemimpin dalam kelompok FA, haruslah dapat mengatur kelompok
FA yang dipercayakan kepadanya dan anggota FA tersebut. Pemimpin FA
mengatur jadwal pemimpin pujian, pemusik, tempat pertemuan FA dan lain-
lain. Dia juga harus dapat mengatur jalannya ibadah FA agar ibadah tersebut
berjalan dengan baik

PRINSIP-PRINSIP KEPEMIMPINAN ROHANI


Dalam kepemimpinan rohani, Gembala Agungnya adalah Tuhan Yesus

TUHAN YESUS = Gembala Agung

GEMBALA = Murid-murid Yesus yang melayani

DOMBA = Jemaat

A. Gembala Agung = Tuhan Yesus


Lukas 10:27 : Bagi mereka yang mengasihi Yesus - Gembalakan domba-
dombaKu
B. Gembala = murid Yesus yang melayani, pengurus kelompok FA
Seorang pemimpin kelompok FA yang dipilih oleh Tuhan Yesus
(Yoh. 15:16), dan mengasihi Tuhan Yesus (Yoh. 21:15-19) mempunyai
tanggungjawab untuk menggembalakan domba-domba yang dipercayakan
padanya.
C. Domba = jemaat
Keadaan yang dihadapi oleh domba-domba : Lapar, haus, luka, tersesat,
terancam, tidak tahu jalan, tak berdaya dll. Dalam kehidupan sehari-hari,
hal ini dapat berupa kelaparan, sakit penyakit, sakit hati, masalah ekonomi,
masalah keluarga dan lain-lain

KARAKTER PEMIMPIN - I Petrus 5:2-4


Seorang pemimpin terkadang dipengaruhi oleh karakternya sendiri. Untuk itu
seorang pemimpin harus mempunyai karakter yang dapat diteladani oleh

22
dombanya. Bila tidak maka akan mengakibatkan hal yang tidak baik, karakter
seorang pemimpin cepat sekali mempengaruhi dombanya. Untuk itu dibawah
ini ada beberapa karakter yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin:
1. Yang ada padamu, tidak dengan iri. (Yoh. 3:27)
2. Jangan dengan paksa, tetapi sukarela sesuai dengan kehendak Allah.
(Kol. 3:23)
3. Tidak mencari keuntungan sendiri, tetapi dengan pengabdian diri. (Mat. 23:11-
12)
4. Jangan seolah-olah mau memerintah, tetapi menjadi teladan bagi kawanan
domba. Fil.3:17-19
Daud memiliki karakter seorang pemimpin walaupun ketika itu ia belum menjadi
pemimpin (I Sam. 17:10, 11, 22, 23, 26, 31, 37)
Nehemia (Neh. 1:1-4) adalah hamba Tuhan yang berhasil membangun tembok
Yerusalem yang roboh, dan membawa pulang bangsa Israel dari tawanan
Nebukadnezar raja Babel.
Pemimpin kelompok FA harus dapat menjadi contoh bagi anggota FA yang
dipimpinnya, baik dalam kehidupan rohani maupun kehidupan sehari-hari.
Seorang pemimpin kelompok FA bukanlah seorang yang hanya memerintah atas
anggotanya, tetapi menjadi teladan bagi anggotanya (I Pet. 3:5), sehingga
mereka akan mengikuti apa yang dilakukan dan diminta oleh pemimpinnya.
Karakter pemimpin FA harus seperti Kristus, penuh kasih dan dapat mencontoh
seorang figur pemimpin rohani yang disegani dalam sejarah yaitu Nehemia.
Nehemia telah menunjukkan karakter kepemimpinannya dengan bersedia untuk
membayar harga bagi penyelesaian masalah yang dihadapi bangsanya
termasuk meninggalkan kedudukannya yang “enak”.

Dibawah ini ada beberapa penjelasan tentang ciri dan keteladanan seorang
pemimpin
1. Ciri-ciri Pemimpin
• Seperti Yesus yaitu melayani bukan untuk dilayani (Mat. 20:26-28)
• Tahan uji, berdiri tegap sebagai laki-laki (Ikor. 16:13)
• Memiliki “mata” yang melihat seperti Elia, Petrus
• Menerima karunia Roh Kudus
• Ada “pengurapan dari Tuhan”
- Yang meninggikan tanduk kekuatan ( I Sam. 2:10)
- Memberi kemenangan (Maz. 20:7)
• Memiliki kasih, belas kasihan dan mengasihi Yesus ( I Kor. 13:1-2)
- Inilah yang perlu dimiliki oleh pemimpin
• Memiliki keyakinan yang kokoh dalam Injil (Rom. 1:16)
- Tidak ada satupun yang dapat mengoyahkan kita dalam melayani Yesus,
karena apa yang kita imani itu ada di dalam Injil.
2. Keteladanan Pemimpin
• Seperti prajurit yang menyenangkan hati komandan, tidak memusingkan diri
dengan soal kehidupan ( II Tim. 2:4)
• Menjadi surat Kristus yang terbuka dan dibaca semua orang ( II Kor. 3:2-3)
• Tidak terpaksa, sukarela, tidak mencari keuntungan, tetapi pengabdian,

23
bukan memerintah tetapi menjadi teladan (1 Petrus 5:3)
• Hamba mendengar suara Allah sebagai pemimpin tertinggi (Kis 5:29)
• Hamba Tuhan tidak boleh bertengkar (2 Tim 2:23-26)
• Penundukan diri pada otoritas di atasnya (1 Tim 6:1-2a; Ibr 13:17)
• Cepat mendengar, lambat bicara (Yak 1:19)
• Tidak menghakimi (mat 7)
• Lidah yang menjadi berkat (Yak 3)
• Setia pada perkara yang kecil (Mat 25:21)
Seorang pemimpin selain harus mempunyai ketentuan di atas seperti karakter
Kristus, menjadi teladan dan ciri-ciri seorang pemimpin, juga harus dapat
membina anggotanya untuk menjadi pemimpin yang cakap.
Tanda-tanda seorang pemimpin yang cakap:
1. Mengenali masalah yang jelas (Neh 1:2 “Aku menanyakan”)
2. Memiliki perhatian terhadap masalah (Neh.1:4) “Duduklah aku menangis dan
berkabung”)
3. Membawa persoalan pertama-tama kepada Allah (Neh 1:4 Aku berpuasa dan
berdoa)
4. Menyediakan diri untuk terlibat dalam suatu masalah (Neh 1:11 dan biarlah
hambamu berhasil)

Pelajaran 5
SOM GBI Denpasar Lembah Pujian

24
Kelas : Dasar III
PUJIAN PENYEMBAHAN
Ayat hafalan: Mazmur 108:2

PENDAHULUAN
Peranan pujian-penyembahan di dalam suatu ibadah adalah sangat penting
demikian juga dalam ibadah FA, sebab dapat mengundang kuasa dan hadirat
Allah. Firman Tuhan dalam Mazmur 22:4 mengatakan bahwa “Tuhan
bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.” (Bersemayam artinya tinggal,
berdiam, bertahta).
Pada saat umat Tuhan mulai memuji dan menyembah Tuhan, maka pada saat
itu Allah hadir dan kita dapat merasakan hadiratNya
I. Pengertian
1. Pujian
Memuji Tuhan artinya: Cara/tindakan untuk mengagungkan membesarkan,
memuliakan Tuhan. Bisa berupa lagu/pernyataan sambil membuat
gerakan/tanda/sikap misalnya:
- Menyanyikan lagu: Tuhan kami agungkan namaMu
- Mengatakan: Tuhan Engkau luar biasa! sambil mengangkat tangan sorak
sorai, melompat.
Jadi dalam pujian itu harus diucapkan/vokal/mengeluarkan suara. Pujian /
praise banyak didapatkan di PL, yaitu di kitab Mazmur. Kitab ini terpanjang
didalam Alkitab, justru membicarakan tentang pujian.
Pujian ini tidak boleh dipengaruhi oleh pikiran dan perasaan, tetapi oleh
kehendak. Sebab kalau dipengaruhi pikiran, tidak masuk akal bila sedang
ditipu, sedang susah harus memuji Tuhan oleh kehendak “I will”, aku mau
memuji Tuhan. Justru dalam keadaan yang tidak baik, kita harus memuji
Tuhan. Kita harus katakan “Aku mau memuji Tuhan”....Selanjutnya nanti
Tuhan yang bertindak.
Jadi pujian adalah kata-kata/tindakan yang mengagungkan/meninggikan
Tuhan pada saat senang maupun susah. Terutama di waktu susah.

Pujian ada dua macam : I Kor. 14:15


Caranya : a. Menyanyi/memuji Tuhan dengan pengertian/akal budi
b. Menyanyi/memuji Tuhan dengan Roh
Jadi kita harus penuh dengan Roh Kudus supaya sempurna sebab kalau
hanya dengan akal budi berarti kurang sempurna (tidak seratus persen).
Roma 12:1 mempersembahkan seluruh tubuh (seutuhnya : roh, jiwa dan
tubuh)

2. Penyembahan.
Arti kata penyembahan:
1. Shahach : Bersujud, bertekuk lutut, menyembah, bertiarap
Artinya : merendahkan diri (budak belian-hamba/taat)
2. Latreuo : Melayani, berbakti
Artinya : selalu tanya Tuhan, apa yang Engkau mau dariku

25
(aku mau menyenangkan Engkau)
3. Proskuneo : Mencium
Artinya : Seperti anjing yang mencium tangan majikannya
Seperti wanita yang mencium kaki Yesus

Ucapan syukur dan Pujian berbicara tentang apa yang telah Tuhan perbuat
dalam hidup kita. Dalam penyembahan, tidak melihat apa yang Tuhan perbuat,
tetapi melihat keagungan/kebesaran Tuhan.

Apa berbedaan antara Pujian dan Penyembahan ?


Memisahkan antara pujian dan penyembahan hampir sama sulitnya memisahkan
jiwa dan roh. Jelas bahwa jiwa dan roh adalah 2 aspek yang berbeda dari
manusia, namun sulit sekali kita mendefinisikan perbedaan-perbedaan
keduanya. Begitu juga pujian-pujian dan penyembahan adalah 2 hal yang
berbeda, namun mereka seringkali tidak mungkin terpisahkan.
Cara terbaik untuk membedakan kedua hal ini adalah dengan mempelajari latar
belakang dari kata-kata yang dipakai dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian
Baru.
Secara garis besar yaitu:
a. Penyembahan
Arti penyembahan ada dua macam
1. Penyembahan yang bersifat umum, yaitu sesuatu yang kita lakukan
didalam melayani Allah. Segala sesuatu yang kita kerjakan dalam nama
Tuhan. Semua hal yang kita lakukan karena kesetiaan kepadaNya.
2. Penyembahan yang bersifat spesifik yaitu dimana kita merendahkan diri
dihadapan Allah. Kita sujud dengan sikap yang penuh hormat dan kagum,
terpesona akan kebesaranNya (merasakan hadiratNya).
Penyembahan ini dimulai dari dalam hati seorang yang benar-benar takut
akan Allah. Kedua segi penyembahan itu sama-sama penting. Disatu sisi
diminta agar seluruh kehidupan kita harus menjadi suatu ekspresi dari
penyembahan kita.
b. Pujian
Pujian secara spesifik memiliki arti “Act of Worship” (tindakan pemujaan)
dimana dengan suara yang jelas kita mengucapkan syukur kepada Allah sambil
mengangkat tangan.

Tujuan Pujian dan Penyembahan dalam Family Altar adalah:


1. Untuk memberikan pengertian yang jelas kepada setiap anggota atau
pengurus FA tentang tanggung jawab sebagai Imam dihadapan Allah untuk
mempersembahkan korban-korban rohani dalam pujian, penyembahan dan
ucapan syukur (setiap orang percaya adalah penyembah Allah)
2. Mendorong setiap anggota/pengurus FA untuk lebih giat dalam hal
mengekpresikan penyembahan dalam hidup sehari-hari (pola hidup)
3. Belajar bagaimana memimpin pujian penyembahan (dlm konteks ibadah FA)
4. Belajar untuk masuk dalam pelayanan prophetik (nubuatan) melalui pelayanan
pujian dan penyembahan di Ibadah FA

26
Sasaran praktis:
1. Menjadikan setiap anggota atau pengurus FA sedikitnya mampu memimpin
pujian penyembahan di ibadah FA
2. Membentuk tentara Allah yang dapat mengunakan pujian penyembahan
sebagai senjata yang efektif untuk peperangan rohani diibadah FA
3. Menjadikan setiap anggota atau pengurus FA seorang worshiper.

II. MENGAPA KITA HARUS MEMUJI DAN MENYEMBAH TUHAN


A. Dari sudut pandang Allah
1. Perintah Allah (I Taw.16:29; Mzm.150)
2. Allah layak menerima pujian (Mzm.48:2; Mzm.63:3-4)
3. Manusia diciptakan untuk memuji dan menyembah Tuhan (Yes.43:21;
Yer.13:11; I Ptr.2:9)
4. Allah sendiri yang menetapkan puji-pujian sebagai cara untuk masuk hadirat
Tuhan (Yes.60:18; 62:10; Mzm.22:4)
B. Dari sudut pandang manusia:
1. Melalui pujian dan penyembahan perhatian kita tertuju sepenuhnya kepada
Allah
2. Pujian dan penyembahan merupakan hubungan kasih kita kepada Allah
3. Jika kita memberi diri kita kepada Allah, Ia akan memberkati kita (Gal.6:8;
Ayub 36:26-29)
4. Pujian dan penyembahan adalah bagian manifestasi iman kita kepada Allah
5. Pujian dan penyembahan menunjukkan keadaan hati yang penuh syukur
(Mzm.100:4)
6. Pujian dan penyembahan menyatakan kuasa & hadirat Allah (II Taw.5:13-14;
II Taw.20; Mzm.22:4)

Tujuan Pujian dan Penyembahan


Aspek Vertikal adalah:
1. Melayani Tuhan
2. Membesarkan dan memuliakan Tuhan
3. Untuk mengoperasikan karunia Roh Kudus dan berbagai pelayanan rohani.
4. Untuk membuka saluran komunikasi antara kita dengan Allah sebagai pribadi
yang kita sembah

Aspek horisontal adalah:


1. Memperkuat rasa persatuan didalam Tubuh Kristus (Mzm.13:3)
2. Saling melayani (I Yoh.4:21)
3. Mengajarkan dan memperkuat kebenaran rohani (Kol.3:16)
4. Menyediakan kesempatan bagi orang percaya untuk mengakui iman mereka
didalam Tuhan dihadapan orang lain. Karena sesungguhnya pujian adalah
memberikan pernyataan dengan vokal/suara mengenai kasih dan iman di
dalam Tuhan Yesus.
5. Untuk menyatakan kemuliaan Tuhan dihadapan orang banyak / tidak percaya,

27
dimana pujian berarti penginjilan untuk menarik jiwa-jiwa datang kepada
Tuhan

Aspek ke dalam adalah:


1. Pujian Membajak tanah hati kita sehingga kita siap menerima benih, yaitu
Firman Tuhan.
2. Pujian membebaskan umat Tuhan dari segala hambatan apapun (Maz. 24:7)
3. Merupakan ekspresi verbal perasaan kita.
4. Menambah iman (Mat. 8:17)
5. Bertumbuh dalam kekudusan (Mzm.115; II Kor.3:18; I Yoh. 3:2)
6. Mendorong kita memiliki tekad untuk menerima hal baru yang Allah ingin
nyatakan (Yes. 43:19)

III. PETUNJUK DALAM MEMIMPIN PUJIAN & PENYEMBAHAN


Pujian dan penyembahan yang dilakukan di FA harus dapat membawa
anggota FA siap untuk menyembah dan memuji Tuhan
Pola pujian dan penyembahan di FA yang dilakukan di FA adalah:
1. Lagu lembut / lambat
2. Lagu cepat
3. Lagu lembut / lambat
Lagu-lagu nomor 1 dan 2 bersifat lagu pujian, sedangkan lagu-lagu pada
nomor 3 bersifat lagu penyembahan

Pola ini tentunya tidak mutlak, tergantung kepada situasi FA masing-masing


pada waktu tertentu. Misalnya ice breaker langsung menyanyikan lagu-lagu
cepat. Hal ini bisa saja bila situasinya memungkinkan dan jika dipandang
lebih baik/cocok.

Pola seperti di atas pada umumnya kita lakukan dengan menyanyikan lagu
lembut terlebih dahulu sebelum menyanyikan lagu cepat dengan tujuan untuk
mempersiapkan hati jemaat sebelum mereka dapat bersorak-sorai memuji
Tuhan, sehingga setelah itu mereka dapat masuk lebih dalam untuk
menyembah Tuhan dan mendengarkan FirmanNya

1 1. Persiapan sebelum Memimpin


a. Berdoa menyerahkan diri, minta pengurapan Roh Kudus dan
tuntunanNya
b. Carilah kehendak Allah untuk sebuah tema / tujuan

Cara mendapatkan tema:


- Allah berbicara langsung di dalam hati sang pemimpin pujian dan
memberikan suatu beban khusus untuk disampaikan lewat pujian dan
penyembahan
- Allah berbicara melalui pengalaman pribadi. Melalui hal-hal yang dialami
oleh pemimpin pujian pada saat-saat sebelum memimpin dapat dinaikkan
lagu-lagu yang membawa kemenangan dan berkat-berkat bagi jemaat.

28
(Bersukacitalah senantiasa dan mengucap syukurlah dalam segala hal,
I Tes.5:16-18)
Contoh: Waktu dalam lembah kekelaman, dalam tekanan dan masalah,
bisa dinaikkan pujian “Sekalipun aku dalam lembah kekelaman “. Dan
terus diarahkan kepada pujian yang menguatkan dan membangun iman.
Pada saat mengalami kemenangan, bisa dinaikkan pujian “syukur”,
Kitalah umat pemenang “ dan lain-lain yang membawa sukacita.
- Allah menaruhkan/memberikan sebuah pujian di dalam hati sang
pemimpin penyembahan pada waktu-waktu sebelum memimpin. Lagu
tersebut bisa saja diberikan dalam beberapa hari sebelumnya dan terus
dinyatakan oleh sang pemimpin dalam beberapa hari sampai pada hari
FA itu tiba. Ujilah lagu tersebut, karena bisa saja lagu tersebut
merupakan tema pujian dan penyembahan pada hari itu.

c. Latihlah lagu-lagu yang saudara pilih dan renungkan Firman Tuhan


yang tersirat di dalam lirik lagu tersebut.
d. Perhatikan kondisi/tingkat emosi yang akan saudara capai
e. Mengetahui bagaimana memulai satu lagu dan mengakhirinya, teruslah
berlatih sampai anda mahir
f. Tetaplah berapa kali suatu lagu akan dinyanyikan (dianjurkan jangan
terlalu banyak mengulang-ngulang sebuah lagu berhubung waktu
pujian penyembahan yang singkat, cukup sebuah lagu dinyanyikan 2 x
secara utuh + mengulang refrain 2 x)
g. Lagu-lagu dengan nada/kunci dan tempo yang sama dapat dibuat
medley, terutama lagu-lagu bertempo cepat.
h. Tulislah lagu-lagu yang saudara pilih dan diskusikan dengan pemain
musik sebelum ibadah FA
I. Waktu pujian dan penyembahan kurang lebih 20-25 menit

Beberapa hal dasar mengenai Pemimpin Pujian - kwalitas umum:


a. Kita sudah ada di dalam hadirat Allah - iman
Bertemu Allah secara pribadi - lahir dari pelayanan, dari dalam hadirat
Allah. Yesus mau menjadi pusat pandangan kita. Yesaya 42:8; 30:20.
Manusia bisa memimpin nyanyian tetapi Allah yang memimpin (memiliki
penyembahan)
b. Jangan menarik orang pada diri kita tetapi bawa perhatian mereka pada
Yesus. Memimpin mereka dan jangan “manupulasi” (Yohanes 3:27-30).
Dia yang harus makin bertambah dan kita semakin berkurang-kurang.
c. Jadilah orang yang bisa dipercaya (Man of Intregity)
Memimpin umat Tuhan dengan ketulusan hati, bertindak berdasarkan
keyakinan atau antara mulut dan hati sama.

2. Selama memimpin Pujian dan Penyembahan


a. Memimpinlah dengan disertai suatu kepekaan terhadap pekerjaan Roh

29
dan analisa terhadap keadaan, sebab itu jangan terus menutup mata.
b. Bertanggung jawablah untuk saat itu, bahkan ketika saudara merasa
gugup, jangan tunjukkan
c. Angkatlah penyembahan dalam roh dengan mantap dan yakin (jangan
ragu-ragu)
d. Lagu lembut jangan dinyanyikan terlalu lambat. Terkesan “loyo” !
e. Berilah sedikit komentar diantara lagu dan penyembahan, tetapi jangan
terlalu banyak. Misalnya : Kata-kata “Haleluya, Amin, pujilah Dia dll.
Tujuan untuk menambah semangat dan sukacita selama memuji Tuhan.
f. Jika tanpa alat musik, ambillah nada yang “sedang dan cocok/pas” bagi
pemimpin pujian. Sedang artinya : tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu
rendah.
g. Bebaskanlah Roh Kudus berkarya, walaupun saudara telah menyiapkan
segala sesuatu, ijinkanlah Roh memimpin saudara kapan mengulang
suatu lagu, berhenti, atau menyampaikan pujian lisan dan memulai lagu
baru.
h. Jika ada pemain musik, dapat dilakukan saat teduh hanya dengan
iringan musik. Bagimana jika tanpa pemusik ? Dapat diiringi dengan
penyembahan 1/2 suara oleh sang pemimpin, dengan doa 1/2 didalam
roh, atau dengan mengucapkan beberapa kata pujian dengan suara
yang lembut (Misalnya: Engkau baik Tuhan, Haleluya, kami
mengasihiMu Tuhan.....) Pada saat seperti ini dapat disampaikan
Firman Tuhan atau kata-kata yang menguatkan dan mendorong jemaat
untuk menyembah lebih lagi.
I. Dapat diberikan juga ruang kesaksian + 5 menit ditengah puji-pujian
sebelum lagu persiapan Firman Tuhan

3. Hal-hal yang harus dihindari selama memimpin


a. Hindari persiapan yang mendadak.
b.Hindari pembukaan yang terlalu panjang dan komentar-komentar atau
penjelasan-penjelasan yang tidak perlu diantara lagu
c. Hindari lagu-lagu yang saudara dan jemaat tidak kenal dengan baik.
Jika ada lagu baru sebaiknya ditulis dan dibagikan (cukup 1 lagu dalam
satu kali ibadah)
d. Dilarang meminta jemaat memilih lagu, sebab bisa kacau

Pelajaran 6
SOM GBI Denpasar Lembah Pujian

30
Kelas : Dasar III
PRA IBADAH
(Ice Breaker)
Ayat hafalan: Efesus 4:2

Ice Breaker sesuai dengan namanya yaitu pemecah es adalah salah satu sarana
FA yang bertujuan untuk memecahkan kecanggungan, serta menciptakan
keakrapan saling mengenal, sebelum kelompok masuk dalam acara ibadah.
Matius 18:19-20:
Dan lagi Aku berkata kepadamu: “Jika dua orang daripadamu di dunia ini
sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh
BapaKu yang di sorga. Sebab dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam
NamaKu, disitu Aku ada di tengah-tengah mereka”.
Sepakat sehati, berarti memiliki pikiran yang sama, atau semua anggota terfokus
pada sesuatu yang sedang berlangsung. Berkumpul, bersekutu dan sepakat
karena Tuhan, adalah prasyarat bagi kehadiran Tuhan dalam pertemuan, serta
prasyarat bagi doa-doa untuk dijawab.
Tujuan Ice Breaker sendiri tidak secara langsung menyentuh aspek rohani, tetapi
pada aspek kejiwaan (pikiran, perasaan dan emosi atau merupakan suatu pra
kondisi untuk masuk ke alam roh (tujuan ibadah).
Dalam pengamatan kami ada perbedaan antara:
A. Kelompok yang menerapkan B. Kelompok yang tidak menerapkan
- Ibadah lebih bergairah - Suasana ibadah agak mencekam
- Lebih akrab - Kurang akrab
- Terbuka untuk pergumulan - Lebih tertutup
- Ikatan kasih lebih baik - Ikatan kasih kurang kuat
Ice Breaker dan hal ini sudah merupakan sesuatu yang mutlak harus dilakukan,
dengan tujuan kekompakan atau kesatuan dalam team work

Kesimpulannya ice breaker bukan suatu permainan belaka yang tanpa arti, tetapi
ada dinamika-dinamika yang terjadi antara anggota dengan anggota (manusia
dengan manusia) ketika ice breaker sedang berlangsung baik di dalam roh,
emosi ataupun di dalam kehidupan kelompok sendiri.

JENIS ICE BREAKER DAN TUJUANNYA


1. Untuk tujuan agar anggota kelompok membaur dan saling berpartisipasi
Jenis ice breaker ini pada umumnya tidak menerapkan sangsi. Pesertanya
tidak diharuskan mengenal nama-nama peserta lain. Permainan ini biasanya
dipakai oleh kelompok dimana anggota tidak saling berhubungan satu dengan
yang lain. Hal ini membantu para peserta perasaan terasing atau acuh-tak
acuh untuk kemudian saling berinteraksi.
Jenis ice breaker ini mengharuskan para peserta untuk membaur satu
dengan yang lain, sehingga di dalam waktu yang singkat para anggota sudah

saling menerima. Biasanya suasananya dengan agak ramai. Setelah ice


breaker ini akan lebih efektif lagi bila diikuti dengan jenis “ICE BREAKER

31
UNTUK SALING MENGENAL” sehingga para peserta mendapat informasi
data-data peserta lainnya dalam kelompok tersebut (hobby, kebiasaan, nama
dll)
Pergunaan ice breaker jenis ini kalau kelompok saudara baru terbentuk,
dimana kebanyakan anggotanya belum saling mengenal ! Sesudah kelompok
berjalan normal dan rutin, kurang lebih 1 atau 2 bulan, jenis ice breaker ini
tidak sesuai lagi, kecuali ada anggota-anggota yang baru.
Contoh ice Breaker untuk kategori ini yaitu:

• Dapatkah saudara menemukan lawan ?

2. Untuk saling mengenal


Jenis ice breaker ini membantu para anggotanya untuk saling mengenal dan
mengetahui lebih dalam tentang pribadi para peserta yang berbeda-beda
(kompleks) Permainan ini menyenangkan dan merupakan sarana yang kreatif
untuk mengetahui identitas para anggota, nama pekerjaan, hobi, anggota
keluarga, hal-hal yang disukai atau yang tidak disukai dll. Ice breaker ini
merupakan langkah awal untuk mengetahui minat para anggota dan untuk
pengembangan persahabatan diantara anggota kelompok.

Contoh ice breaker jenis ini : Tebak profesi satu

3. Untuk mengawali komunikasi diantara anggota kelompok


Emosi dan pergumulan seseorang biasanya sukar diutarakan. Ice breaker
jenis ini menciptakan suasana untuk mengangkat perasaan mereka, sehingga
mereka tidak sungkan-sungkan untuk mengutarakannya.
Ice breaker ini sangat membantu agar anggota kelompok saudara berani
mengutarakan perasaan mereka, bahkan perasaan yang paling dalam
sekalipun, Ini bisa terjadi dalam banyak hal tergantung sejauh mana
keefektifan saudara sebagai “fasilitator”. Bagaimanapun juga saudara harus
dapat mengusahakan agar mereka tetap memelihara timbulnya saling
“sharing/tukar pikiran”, tanpa membuat peserta merasa dipaksa untuk
mengutarakan perasaan.
Ice breaker ini dilakukan, setelah ice breaker “saling mengenal” terlaksana
dengan tujuan agar para anggota dapat saling terbuka.

Contoh Ice breaker dalam katagori ini adalah:


• Mari kita berbicara tentang ................
• Bagaimana perasaan anda ? dan sebagainya.

4. Untuk Membangun team work (Kerjasama atau komunikasi dalam kelompok)


Jenis ice breaker ini dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil (3-4 orang)
dimana para anggotanya diminta untuk menyelesaikan permainan dalam
waktu tertentu. Ice breaker ini bertujuan membantu para anggota kelompok
meningkatkan kerjasama antar para anggota secara maksimal
Jenis ice breaker ini akan sangat membantu dalam kelompok dimana para

32
anggotanya sangat individual dan sukar bekerjasama, walaupun sudah lama
bergabung.
Contoh ice breaker dalam kategori ini adalah:
a. Bongkar pasang gambar yang harus selesai dalam waktu 10 menit
b. Partisipasi dalam membangun sebuah obyek yang dibuat dari tangkai korek
api dan lem.
c. Sejenis permainan dimana kata-kata digambarkan dalam gerak (pantomim)
yang artinya harus diterka oleh peserta lainnya dengan mempergunakan
karakter-karakter yang ada di Alkitab dan sebagainya
Kadang-kadang perlu diberi contoh teknis memperagakan, agar tujuan bisa
tercapai maksimal Sehingga kadang-kadang memerlukan waktu satu jam
atau lebih.
Pada waktu mereka datang ke kelompok, masing-masing masih terpusat
pada diri sendiri, walaupun mereka sudah lama saling mengenal, apalagi
untuk kelompok-kelompok yang baru pertama kali berkumpul. Sebelum
masuk Ibadah, mereka perlu Ice Breaker terlebih dulu.
Pada saat kelompok FA terbentuk, sampai 2-3 minggu disebut sebagai
“Tahap Eksplorasi”.
Strategi:
- Membutuhkan sekitar 3 minggu agar persahabatan (relationship) terbentuk.
- Pada pertemuan pertama, tujuan utama yaitu untuk saling mengenal.
- Pertemuan kedua, untuk lebih mengokohkan persahabatan di antara
anggota.
- Gunakan 10 menit untuk Ice breaker pada pertemuan-pertemuan
selanjutnya. Ice breaker jangan dimulai sebelum anggota-anggota
berkumpul seluruhnya. Setiap Ice breaker dimaksudkan agar setiap anggota
ikut ambil bagian.
- Ice breaker harus memberi kesempatan untuk para anggota untuk saling
menukar riwayat hidupnya, saling meneguhkan, dll.
- Fokuskan untuk tujuan keakraban dengan memanfaatkan kesamaan minat,
perhatian yang berlaku umum.
- Tukar-menukar kesaksian.
- Share apa-apa saja yang menjadi keuntungan dengan ikut berpartispasi
dalam kelompok FA.

KESIMPULAN:
- Ice breaker bukan sekedar permainan tetapi yaitu suatu kegiatan dengan
tujuan agar setiap peserta didalam kelompok tidak terfokus pada diri mereka
sendiri, sehingga satu dengan lainnya tidak canggung.
- Ice breaker dapat dilakukan dengan beberapa cara misalnya: Kelompok
membicarakan suatu topik yang ditentukan oleh GFA atau membentuk
group-group kecil (2 atau 3 orang) untuk melakukan tugas (permainan atau
pekerjaan tertentu) dengan waktu yang ditentukan.

- Ice breaker bertujuan membuat setiap anggota yang hadir di kelompok


untuk terfokus pada hal-hal yang umum.

33
- Ice breaker meningkatkan keakraban satu dengan yang lain (tetapi tidak
sampai pada tingkat yang dalam, hanya pada tingkat permukaan saja).
- Jangan mengharapkan terlalu banyak dari Ice breaker (misalnya
perselisihan dapat otomatis selesai pada saat itu juga).
- Sesuai dengan namanya, Ice breaker diperlukan untuk memecahkan sikap
bungkam dari seseorang.
- Beberapa pengurus FA sering salah pikir, bahwa Ice breaker adalah
sesuatu kegiatan membuang-buang waktu saja. Pemikiran itu adalah
salah.

Pelajaran 7

34
SOM GBI Denpasar Lembah Pujian
Kelas : Dasar III
KHOTBAH VERSI FA
Ayat hafalan: Mazmur 119:18

PENDAHULUAN
Di dalam Kelas Menengah, diberikan materi bagaimana berkhotbah. Dalam
materi kita disini bersifat praktis sehingga setiap siswa harus tarus
memanfaatkan kesempatan yang ada. Pemberitaan Firman Allah di dalam
ibadah FA bertujuan agar kelompok ini mendapat makanan rohani yang
menumbuhkan iman mereka bersama dalam hidup, untuk menjadi saksi yang
dewasa.
Pengkhotbah diharapkan agar menyampaikan khotbah dengan cara yang
sederhana dan mudah dimengerti, sehingga memacu anggota kelompok FA
untuk dapat melakukan Firman Tuhan. Seseorang yang hanya membaca
Firman Tuhan, tetapi tidak menerangkannya, tidak membangun iman jemaat,
dan belum dapat berkhotbah.
Ciri khotbah dalam FA adalah khotbah penggembalaan.
Waktu yang dibutuhkan dalam pemberitaan Firman Tuhan kurang lebih 25 menit,
dengan menggunakan metode penyuluhan. Keberadaan pengkhotbah adalah
seperti seorang fasilitator, penyuluh atau seorang model. Pada waktu
berkhotbah maka pengkhotbah melakukan evaluasi dengan melontarkan
pertanyaan-pertanayaan; Mengapa, Bagaimana, menurut saudara ? kepada
jemaat. Oleh karena itu kita harus dapat mengajar dengan cakap, menanamkan
Firman Tuhan dalam hati jemaat, menjalankan Firman, dan melaksanakan
jabatan Ilahi yang dikaruniakan kepada kita, oleh karena itu kita perlu
mempelajari dasar-dasar pengkhotbah yang baik.
Tuhan Yesus adalah model bagi setiap pengkhotbah yang baik

PENGERTIAN
Berkhotbah merupakan suatu hak istimewa dan juga tanggung jawab yang
besar terhadap Allah, karena Allah mempercayakan perkataanNya / FirmanNya
kepada sang pengkhotbah itu. Khotbah yang baik adalah khotbah yang
disampaikan dalam urapan. Khotbah seperti ini diperoleh terlebih dahulu dari
hubungan dan persekutuan yang erat antara pengkhotbah dengan Tuhan.
Itulah sebabnya perlu belajar mempersiapkan diri sebelum berkhotbah, didalam
hadirat Tuhan untuk mendapat urapan dan hikmat Tuhan supaya apa yang kita
sampaikan bukan berasal dari kita tetapi dari Tuhan

PERSIAPAN KHOTBAH FA
Khotbah yang berhasil adalah khotbah yang dipersiapkan dengan baik.
Setiap orang yang akan berkhotbah, diwajibkan untuk mempersiapkan diri
didalam hadirat Tuhan. Hal penting yang harus selalu diingat bahwa khotbah
ini berasal dari Allah. Jika kita ingin menyampaikan dengan tepat isinya, kita
hasrus mengerti lebih dahulu kehendakNya dan untuk itu harus lebih banyak
mempunyai waktu dengan Dia. Untuk hal demikian kita harus membuat

35
persiapan, misalnya:
1. Menunggu dalam hadirat Allah
2. Mempelajari Firman Allah
3. Mempersiapkan buku catatan dan catatan inspirasi-insirasi yang diberikan
Tuhan.
4. Mau dibersihkan oleh FirmanNya.
CARA PENYAMPAIAN KHOTBAH
Konteks penyampaian khotbah ini adalah untuk pengkhotbah Family Altar.
Berikut ini uraian secara rinci isi khotbah tersebut disertai keterangan mengenai
cara terbaik untuk menyampaikan sekaligus alokasi waktunya:
1. Pra Pendahuluan ( + 3 menit)
a. Ayat Teks (emas) : Dibaca oleh Pengkhotbah Family Altar dengan
mantap (kalau perlu diulang dengan dibaca bersama-
sama
b. Ayat Bacaan : Dibaca bergantian oleh anggota Family Altar secara
bergantian (agar melibatkan anggota)
2. Pendahuluan ( + 2 menit)
Pendahuluan dapat diibaratkan seperti pintu bagi sebuah rumah. Dimana
melalui pintu itu seseorang dapat masuk kedalam rumah tersebut, sehingga
kalau pintu tersebut tidak terbuka, maka sukar untuk masuk. Maksud
pendahuluan:
a. Untuk mengarahkan anggota ke arah thema
b. Sebagai penyuluh thema khotbah

3. Isi Khotbah ( + 10-15 menit)


Biasanya dalam isi khotbah terdiri dari berbagai pokok yang saling terkait,
misalnya: Apa, Bagaimana, Mengapa, akibatnya. Isi khotbah yang baik harus
diuraikan berupa rincian yang berurutan dengan point-point yang jelas. Agar
isi khotbah hidup dan bervariasi, penting diberi lukisan / ilustrasi

4. Diskusi ( + 5 menit)
Dalam diskusi ini bertujuan agar ada variasi dalam penyampaian khotbah,
tidak monolog, bahkan kadang-kadang monoton, tetapi juga dialog supaya
ada komunikasi timbal balik serta ada komunikasi akrab (saling memberi dan
menerima)

5. Kesimpulan (Kesimpulan / penerapan / tantangan)


Penutup atau kesimpulan ialah ikatan dari segala isi dan bagian yang telah
diuraikan, supaya terikat dan terkunci menjadi satu yang merupakan maksud
dari khotbah. Kesimpulan khotbah akan menyempurnakan khotbah yang
disertai tantangan

Pelajaran 8

36
SOM GBI Denpasar Lembah Pujian
Kelas : Dasar III
PENGINJILAN KONTEKSTUAL
VERSI FAMILY ALTAR
Ayat hafalan: Matius 28:19-20

I. PENDAHULUAN
Penginjilan kontekstual (PK, bukan merupakan suatu metode baru dalam
memenangkan mereka yang belum terjangkau oleh Injil).
Pelaksanaan PK mengacu pada model Penginjilan Alkitabiah yang
menekankan unsur “Relationship” dengan orang-orang yang belum
terjangkau oleh Injil. Keberhasilan Gereja Family Altar dalam memenangkan
jiwa yaitu terletak pada keterlibatan dan pembauran para jemaat dengan
lingkungan yang belum terjangkau Injil, kemudian memenangkan mereka.
Unsur “Relationship” dengan orang-orang yang belum terjangkau oleh Injil
adalah kata kunci dalam strategi Penginjilan Kontekstual
Misi Penginjilan Tuhan Yesus
• Lukas 4:18-19 ............. Menyampaikan kabar baik.
• Yoh. 13:15 ............. Memberikan teladan (I Pet. 2:21)
• Mat. 20:28 .............. Melayani dan berkorban / menebus
• Yoh. 18:37 .............. Memberi kesaksian tentang kebenaran
• I Tim. 1:15 ............... Menyelamatkan orang berdosa

Mengapa Misi Penginjilan ?


1. Fakta dan kebenaran iman Kristen
a. Semua orang berdosa
b. Upah dosa maut
c. Yesus satu-satunya Jalan dan Kebenaran
d. Menerima Yesus untuk kepastian penebusan dan pengampunan
2. Kita mengasihi orang lain
3. Tujuan kita dipanggil, dipilih, dibentuk untuk memberitakan kabar kesukaan,
untuk menjadi serupa Yesus (melakukan pekerjaan Yesus)
4. Perintah / Amanat Agung

II. AMANAT AGUNG (Mar. 16:15-20; Mat. 28:18-20)


Mencari dan menyelamatkan yang hilang adalah fokus utama mengapa
Tuhan Yesus datang ke dunia ini (Luk. 19:10), dan ini juga yang Tuhan
perintahkan sebelum naik Sorga.
Ini juga yang menjadi fokus mengapa Tuhan :
a. Menempatkan GerejaNya di bumi ini.
b. Menyelamatkan, memberkati dan mengurapi kita (Kis. 1:8)
c. Memberi visi (Yes. 54:2-3),
Allah tidak pernah gagal dalam rencanaNya (Yes. 14:27), kita sebagai anak
Allah adalah mitra kerjaNya untuk melaksanakan misi itu, pengurapan / kuasa
sudah diberikan. Allah akan bertindak jika kita bertindak. Tuaian itu sangat
banyak dan itu akan tetap melekat dipohonnya selama kita hanya berencana

37
dan menunggu. Dibutuhkan seseorang untuk memberitahukan kepada
mereka (Rom. 10:13-15).
Tanah perjanjian sudah diberikan kepada Yosua dan umat Israel, tahun itu
tidak akan pernah mereka miliki, kecuali mereka bertindak : menyeberangi
sungai Yordan berperang dan mengalahkan musuh mereka.
Kita sebagai umat Allah yang sudah mengecap anugerah/kebaikan Tuhan
serta memegang Amanat Agung itu, mari kita berbuat semaksimal mungkin
untuk memenangkan mereka yang belum terjangkau oleh Injil. Family Altar
berada di garis depan dalam penuaian ini.
Segala sesuatu yang kita lakukan untuk memenangkan mereka pasti direstui
oleh Tuhan, kecuali dengan cara-cara yang melawan Firman Tuhan.

5 Faktor Utama Dalam Penuaian


a. Doa
Faktor doa sangat berperan dalam proses penuaian. Lahan sudah
menguning dan siap untuk dituai (Yoh. 4:35)
b. Pekerja terlatih dengan jumlah yang cukup (Luk. 10:2)
Penuai-penuai yang cukup dan terlatih serta berkualitas sangat dibutuhkan
dalam proses penuaian. Jemaat dimungkinkan untuk dilibatkan setelah
terlebih dahulu digembalakan dan difungsikan melalui penggembalaan FA
c. Gudang / lumbung yang memadai
Hasil tuaian yang terdiri atas jiwa-jiwa baru dan “terhilang” harus
ditampung dan digembalakan dalam kandang-kandang (Kelompok FA).
Untuk menampung hasil tuaian yang melimpah, harus disediakan kandang
yang memadai dan jika konsisten dengan visi Yes. 54:2-3, maka dalam
waktu singkat, kandang-kandang ini akan siap tersedia.
d. Pengurapan dan Doa
Kuasa dan otoritas adalah sesuatu yang sangat diperlukan untuk tugas-
tugas dalam pelayanan ( II Raja. 9:3). Pengurapan dan pengutusan
sudah diberikan, sekarang waktunya untuk pergi dan menghasilkan buah
(Yoh. 15:16)
e. Strategi
Visi Allah akan berhasil bila menggunakan strategi Allah. “Relationship”
dengan orang yang belum terjangkau oleh Injil, adalah jawaban Tuhan
untuk Pola Penginjilan Kontekstual (Family Altar). Pola ini yang Tuhan
lakukan ketika Dia mengutus AnakNya yang tunggal ke bumi ini, untuk
mencari dan menyelamatkan yang hilang.
Dalam Definisi: Penginjilan Kontekstual ialah penyesuaian atau
pengadaptasian seseorang ke dalam suatu lingkungan untuk tujuan
penginjilan.
Note: Yang menyesuaikan diri adalah manusianya, Injilnya tidak boleh
dikompromikan
Dimana melakukan Misi Penginjilan ?
a. Dirumah-rumah
Tuhan Yesus melayani di rumah Simon (Mat. 8:14-17)
Paulus ......dirumah....memberitakan Kerajaan Allah (Kis. 28:30)

38
b. Dirumah ibadah (Mat. 4:23)
c. Di kota-kota dan desa-desa juga (Mat. 9:35)
d. Ke Bangsa-bangsa lainnya ( Mat. 28:19)

Bagaimana melakukan Misi Penginjilan ?


a. Mengajak / kontekstual (Yoh. 1:35-45)
b. PI Pribadi (Yoh. 4:1-42)
c. Memberitakan Injil (Mat. 7:29)
d. Menjadi teladan (Fil. 3:17)
e. Mengajar dirumah ibadat (Mat. 4:23)
f. Mengajar di rumah orang yang mengundang
III. CARA MEMBENTUK RELATIONSHIP
Sebelum kita dapat melakukan penginjilan kontekstual, kita harus
membentuk suatu relationship terlebih dahulu. Berikut ini beberapa contoh
untuk membentuk relatiopnship:
1. Jalin persahabatan dengan mereka yang belum terjangkau Injil.
Jangan membentuk kelompok-kelompok eksklusif
Ikuti kegiatan yang diadakan dilingkungan saudara, misalnya PKK,
Karang Taruna, Siskamling, dll dan membentuk “Relationship dengan
para tetangga. Saudara dapat juga mengajak mereka untuk melakukan
kegiatan seperti: belajar bermain gitar, belajar memasak, berolahraga, dll
2. Kunjungan kepada mereka yang bermasalah (90% orang bermasalah
bersedia untuk didoakan).
- Setelah kunjungan pertama, jaga agar hubungan tidak terputus, untuk
kunjungan-kunjungan selanjutnya.
- Setelah pulih, undang mereka pada acara-acara pertemuan FA atau
acara PK untuk memberikan kesaksian.
3. Follow up
a. Jika mereka dari kalangan Kristen tradisi, mereka dapat diundang
langsung pada acara-acara PK (Pagelaran Musik, Film, drama,
melodrama, rekreasi, dll) selanjutnya diundang pada pertemuan-
pertemuan FA
b. Jika mereka dari kalangan orang-orang yang belum percaya, mereka
dapat diundang pada acara-acara yang berwarna Kristen misalnya: Ulang
Tahun, ucapan syukur, Natal, dll, jangan langsung “to the pont”
Perlakuan khusus dan ekstra hati-hati sangat dibutuhkan untuk kalangan
ini. Mereka selanjutnya dapat diundang pada acara PK, setelah ada
tanda-tanda bahwa mereka menaruh minat untuk keselamatan jiwanya.

IV. MERENCANAKAN PENGINJILAN KONTEKSTUAL (PENUAIAN)


Persiapkan jadwal untuk PK secara teratur, disarankan tiga atau empat kali
setahun dengan memanfaatkan hari libur nasional atau “weekend”. Pastikan
agar semua anggota mengetahui rencana ini, sehingga mereka dapat
mempersiapkan diri dan berdoa jauh-jauh hari untuk sahabat-sahabat yang
akan menjadi target untuk dimenangkan.

39
Langkah-langkah melakukan penginjilan kontekstual:
1.Tentukan acara yang akan dilakukan sebagai kegiatan penginjilan
kontekstual
2. Ajak para anggota FA untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini dengan
mengajak keluarga, famili, teman dan kenalan
3. Disetiap pertemuan FA, adakan doa untuk kegiatan ini dan jiwa-jiwa yang
akan diajak / diundang mengikuti kegiatan tersebut.
4. Pada saat penginjilan kontekstual dilakukan, adakan saat tertentu dimana
mereka diundang untuk menerima Yesus. Jawaban mereka bisa YA dan
TIDAK
Bila YA, harus dilakukan follow up lagi agar mereka mau dibabtis.
Bila tidak, tanyakan apakah yang bersangkutan bersedia didoakan.
(Doakan dan katakan padanya bahwa Tuhan Yesus tetap mengasihinya)
5. Jangan lupa untuk terus mem-follow up jiwa yang menerima Tuhan Yesus
untuk dibabtis dan gembalakan mereka di FA-FA yang terdekat dengan
tempat tinggalnya.

V. MULTIPLIKASI (PELIPATGANDAAN)
Cara pelipatgandaan:
1. Peran doa dan saat teduh sangat dominan
2. Berdoa bagi anggota-anggota yang Tuhan percayakan setiap waktu.
3. Gembala FA harus memperhatikan domba bukan sebaliknya atau domba
jangan dijadikan saingan, tapi orbitkan.
4. Domba cepat-cepat difungsikan, agar segera membelah, didorong untuk
mengikuti SOM untuk segera difungsikan
5. Banyak mempersiapkan diri dan punya visi kelompok.
6. Gembala FA harus memperhatikan pertumbuhan rohani domba, misalnya
yang belum penuh Roh Kudus
7. Gembala FA harus mempercayakan tugas-tugas tapi lihat talentanya, ini
namanya dilatih dan dididik, ajarkan mereka segala sesuatu di FA
(misalnya cara berdoa)
8. Gembala FA harus mengajak domba-domba/ anggota untuk kunjungan-
kunjungan dan ajak serta mereka berdoa bagi orang sakit, dll
9. Perbanyak hubungan / pendekatan dengan masyarakat setempat, karena
FA harus memasyarakat.
10. Perbanyak membaur dengan orang-orang yang belum terjangkau Injil.

Pelajaran 9

40
SOM GBI Denpasar Lembah Pujian
Kelas : Dasar III
DOA DALAM FAMILY ALTAR
Ayat hafalan: Markus 11:24

PENDAHULUAN
Sesuai dengan visi GBI Denpasar harus menjadi “ Rumah Doa bagi segala
bangsa”, sebagai sarana utama maka jemaat-jemaat di setiap FA pun harus
menjadi “Rumah Doa bagi segala bangsa”. Karena itu gembala FA beserta
dengan seluruh anggotanya harus tahu dan mengerti tentang doa dan dapat
menjadikan FA-nya “Rumah Doa” .
Sasaran dalam materi ini ialah agar setiap siswa memahami arti doa dan dapat
melakukannya dengan benar dalam pelayanan pribadi di FA.

PENERAPAN KEGIATAN DOA DALAM FA


I. Doa Syafaat
Dilakukan secara bersama antara Gembala FA dengan anggota secara
teratur, misalnya:
1. Doa syafaat sebelum Ibadah FA diselenggarakan
2. Doa syafaat dilakukan sesudah penyampaian Firman Tuhan dengan
ketentuan sbb:
a. Dipimpin sebanyak-banyaknya 3 orang secara bergantian
b. Seorang berdoa untuk beban seluruh jemaat FA dikelompoknya, orang
sakit, study, mendoakan kubu-kubu doa dilingkungan FA dan Pos PI dll
c. Salah seorang berdoa untuk topik umum, yaitu gereja, Gembala sidang,
Staf Gembala, Visi Gereja, lingkungan, Pejabat disetiap banjar dimana FA
berada, jiwa-jiwa yang perlu diselamatkan diwilayah FA, dan pemilik rumah
tempat ibadah FA
3. Doa syafaat sub group. Setelah khotbah, anggota FA dibagi menjadi
beberapa kelompok (2-3 orang). Masing-masing mereka saling
mendoakan pergumulannya. Ingat apa yang didoakannya bukan untuk
disiarkan di luar.

II. Kubu Doa FA


Kubu doa adalah suatu tempat untuk berdoa. Setiap Gembala FA dan
anggota harus berupaya mengikuti visi “Rumah Doa” yang telah Tuhan
berikan. Kubu Doa akan menjadi sarana dasar untuk memenangkan
banyak jiwa di daerah sekitarnya dan lebih mendorong agar semua jemaat
menjadi “Rumah Doa”. Kubu doa juga akan berfungsi sebagai tempat untuk
mempraktekan semua karunia Roh didalam setiap pertemuan FA, agar I Kor
14:26 menjadi nyata. Disini para pendoa akan berkumpul bersama jemaat
untuk bersyafaat, berperang, dalam doa dan melihat kuasa doa.
Kubu Doa FA dipimpin oleh seorang pemimpin Kubu. Kubu Doa bukan
Persekutuan Doa. Kubu Doa berfungsi sebagai pertahanan yang paling
mendasar dalam strategi peperangan rohani kita. Kubu Doa diadakan diarea
FA. Satu FA dapat mempunyai 2-4 Kubu Doa. Namun dapat terjadi pula FA

41
tersebut mengirimkan anggota-anggotanya yaitu para pendoa untuk
membuka Kubu Doa ditempat lain yang belum ada kelompok FA. Kubu Doa
berada di rumah jemaat dan dapat beroperasi 1 minggu sekali atau seminggu
5 kali tergantung kesepakatan dengan pengurus Kubu Doa dan tuan rumah.
Waktu pertemuan di Kubu Doa bisa diadakan 1- 2 jam. Pengurus FA
bersama pendoa syafaat mencari dan menetapkan tempat lain yang dijadikan
Kubu Doa.

Berikut adalah tugas koordinator pemimpin Kubu Doa:


1. Mencari dan mengumpulkan beban-beban doa yang ada di setiap FA-nya.
Untuk itu sangat diperlukan pemetaan rohani di area FA tersebut.
2. Memberi arahan dan petunjuk ibadah doa yang benar dan berkuasa
kepada anggota-anggota FA yang terpanggil
3. Memimpin ibadah kubu doa FA
4. Membuat laporan Kubu Doa FA

Waktu, Tempat dan Peserta di Kubu Doa:


Waktu : Minimum seminggu sekali dengan waktu ibadah antara 1-2 jam
Tempat : Kubu Doa dirikan di rumah-rumah jemaat dingkungan FA dan
ditempat, yaitu di rumah jemaat yang bersedia rumahnya
dipakai Kubu Doa, meskipun belum ada FA didaerah itu.
Peserta : Pendoa, pengurus FA dan anggota FA yang terpanggil dan
ingin berdoa. Minimum 2-3 orang satu Kubu Doa. Maksimal 10
orang. Kalau sudah melebihi sebaiknya dijadikan dua kelompok.

Tata Cara Ibadah Kubu Doa


1. Masuk hadirat Tuhan dengan Pujian dan Penyembahan sampai hadirat
dan kemuliaan Allah melingkupi Kubu doa.
2. Menaikan doa syafaat FA:
a. Pengakuan dosa, meratapi jiwa-jiwa yang tersesat dan terhilang yang
ada di area FA tersebut.
b. Peperangan melawan kuasa-kuasa kegelapan dan merampas jiwa-jiwa
dari iblis dan dari cengkeraman kuasa kegelapan.
c. Puji dan sorak-sorai kemenangan
3. Menaikkan doa syafaat bagi Gereja (Umum)
a. Pemerintah dan bangsa Indonesia
b. Gembala, wakil gembala, Gembala Wilayah, Gembala Sektor, Gembala
FA
c. Gereja-gereja lain, dll.

III. Doa Keliling


Doa keliling adalah doa yang dilakukan sambil mengelilingi suatu kota,
wilayah, desa dll. Doa keliling adalah suatu bentuk doa yang seluruhnya
dilaksanakan dalam keadaan mata terbuka !
Di dalam doa keliling dilakukan; Doa Peperangan, Doa syafaat, Doa
Memberkati. Doa Keliling FA mencakup berdoa, pemetaan daerah teritorial

42
rohani yang dikelilingi dengan mengharapkan Roh Kudus bekerja
mewahyukan penyataan penglihatan. Hasil pemetaan ini selanjutnya
dibawa ke Kubu Doa untuk didoakan lebih lanjut. Agar jiwa-jiwa
dilingkungan tersebut dapat diselamatkan, penguasa udara diketahui dan
dikalahkan. Kemudian jiwa-jiwa dapat dituai dan dibawa ke kelompok-
kelompok FA untuk digembalakan. Setiap tempat yang diinjak oleh telapak
kakimu, kuberikan kepada kamu (Yos. 1:3)

Tata Cara Doa Keliling


1. Berkumpul.
2. Nyanyikan pujian dan penyembahan (1 - 2 lagu)
3. Kenakan selengkap senjata Allah
4. Peperangan untuk wilayah yang akan dilalui dan dirampas jiwa-jiwa
5. Pelaksanaan Doa Keliling:
- Dengan jalan kaki
- Dengan bersepeda
- Dengan mengendarai Mobil atau kendaraan bermotor lainnya
6. Kembali ke Kubu Doa dan bersyukur dalam doa kemenangan
7. Selama doa keliling peserta harus menjaga kekudusan, kesatuan,
kesatuan hati dan ketertipan
8. Jumlah peserta antara 3 - 6 orang / team
9. Memperhatikan hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama doa
keliling

Catatan: Setiap anggota yang akan mengikuti doa keliling di mohon untuk
menyiapkan diri secara pribadi untuk menghindari serangan
balik.

IV. Doa Rantai : Doa yang tidak berkeputusan dan berkesinambungan dalam
waktu tertentu dengan materi doa yang sudah disepakati tetapi berlainan
pendoa (bisa 1 atau 2 jam secara bergilir/bergantian)

Pelajaran 10

43
SOM GBI Denpasar Lembah Pujian
Kelas Dasar III
KARUNIA-KARUNIA DALAM KELOMPOK FA
Ayat hafalan : I Korintus 12:4
Karunia Roh tidak diberikan karena seseorang telah memperoleh pengetahuan
Alkitab. Tetapi karunia Roh diberikan kepada semua orang pada saat bertobat,
yang diperlukan supaya kehidupan rohani dapat berfungsi. Jadi setiap orang
percaya yang baru harus dibantu mengerti dan menggunakan karunia rohani.
Karunia-karunia rohani itu disediakan supaya Tubuh Kristus dapat dipakai
olehNya untuk melakukan pekerjaanNya. Gereja kelompok FA harus
bergantung sepenuhnya kepada Roh Kudus untuk melayani. Karunia-karunia
Roh mengalirkan kuasa untuk melakukan tugas pelayanan dan untuk
membuang segala kenajisan, dosa dari Tubuh Kristus.
KARUNIA-KARUNIA UNTUK MELAYANI
Semua karunia diberikan untuk melengkapi pekerjaan Kristus.
I. KARUNIA-KARUNIA DASAR
Karunia yang paling dasar ini menyatakan kesiapan orang kristen untuk
mentaati dan masuk dalam pelayanan.
1. Karunia untuk melayani (Rom. 12:7; I Kor. 16:15; Kis. 9:36)
2. Karunia membagi-bagikan (Rom. 12:8; Kis. 4:32-35; I Kor 16:2)
* Melayani, berhubungan dengan hidup seseorang yang dipakai untuk
mencukupi kebutuhan orang lain. Kata ini secara Harafiah berarti “menunggu
meja”. Dalam bahasa Gerika, digunakan kata diakonia dari kata “deacon”.
Dalam I Kor 16:15, seluruh keluarga Stefanus digambarkan sebagai orang-
orang yang “telah mengabaikan diri kepada pelayanan orang-orang kudus”
* Memberi, berarti juga memakai milik seseorang untuk memenuhi kebutuhan
orang lain. Kata ini menggambarkan seseorang yang sengaja melepaskan
sesuatu dari miliknya, sehingga terjadi peralihan kepemilikan. Juga berarti
penyerahan, seperti persembahan khusus pada Perjanjian Lama.
II. KARUNIA PELAYANAN
Ketiga karunia ini diberikan dalam kekuatan yang berbeda kepada berbagai
anggota Tubuh Kristus. dan memungkinkan kita untuk berfungsi secara
bersama-sama untuk menggenapi panggilanNya.
3. Karunia untuk membantu orang lain dalam kesusahan (karunia
menunjukkan kemurahan) Roma 12:8
4. Karunia iman ( I Kor. 12:9; Rom. 12:3; Ibr, 11:1)
5. Karunia untuk membeda-bedakan roh yang benar dan palsu

44
( I Kor. 12:10; Ibr. 5:14; I Yoh. 2:14; 4:1-3)
* Membantu orang dalam kesusahan, menunjukan kemurahan adalah
suatu kata yang berarti “merasa simpati terhadap kesusahan orang lain,
khususnya simpati yang dinyatakan dalam suatu tindakan, bukan hanya
perkataan. Menolong orang lain yang dalam kesusahan dengan gembira
merupakan karunia yang penuh kuasa !
* Iman, adalah karunia menurut Roma 12:3, yang diberikan dalam ukuran
yang berbeda kepada setiap orang percaya. Kepada beberapa orang
diberikan ukuran iman yang lebih daripada yang lain. Ada semacam pra
pengetahuan dalam penggunaan karunia ini. Iman adalah percaya akan
segala sesuatu bahwa Allah akan melakukannya untuk kita.
* Membedakan roh yang benar dan palsu, menyediakan perlindungan Roh
Kudus bagi Tubuh Kristus, merasakan dan memisahkan sumber penyerangan
asing oleh roh-roh asing. Mungkin itu serangan roh-roh jahat atau mengenali
roh manusia yang tidak percaya kepada Yesus. Yudas mengingatkan kita
dalam ayat 12 tentang orang-orang yang adalah “noda dalam perjamuan
kasihmu, dimana mereka tidak malu-malu melahap dan hanya mementingkan
dirinya sendiri”. Orang-orang percaya yang dewasa akan mempunyai karunia
untuk membeda-bedakan roh seperti ini digunakan dalam keluarga Allah.
III. KARUNIA-KARUNIA UNTUK MEMPERLENGKAPI
6. Karunia untuk memimpin (Rom. 12:8; Kis.13; Yoh. 17:18-19)
7. Karunia untuk bernubuat ( Rom. 12:6; I Kor. 12:10)
8. Karunia untuk mengajar ( (Rom. 12:7; Mat. 28:18-20)
9. Karunia untuk berkata-kata dalam hikmat ( Mat. 12:42; Kis. 6:3;
7:10; I Kor. 1:26; 2:6-12; Kol. 1:24-27; 2:3; 3:16; Yak. 1:5;
Wah. 5:12.
10. Karunia untuk berkata-kata dengan pengetahuan ( I Kor. 12:8).
11. Karunia untuk menasihati (Rom. 12:8; Yoh. 14:16
* Karunia untuk memimpin, bukanlah suatu jabatan, tetapi suatu karunia
rohani. Mereka yang diurapi Allah untuk memberi pimpinan, melakukannya
dengan penuh urapan yang jelas. Ini bukan talenta, tetapi aliran Ilahi dari
Kristus, memilih dan menetapkan mereka untuk membimbing orang lain.
Dalam Perjanjian Lama, Daud adalah contoh seorang anak muda yang
diurapi minyak untuk menjadi raja Israel. Ini merupakan ilustrasi bagaimana
Allah memilih orang-orang tertentu untuk dialiri karunia ini.
* Karunia untuk bernubuat, sangat dianjurkan oleh Paulus. Dalam
bahasa Gerika diterjemahkan “ucapan yang diilhami” dari kata prophetia.
Kata ini dipakai “untuk beberapa tujuan yang berguna”.
* Karunia untuk Mengajar, Mengharuskan seseorang untuk tetap diajar
oleh Roh Kudus. Dalam Bilangan 3:1 keturunan Harun juga dinyatakan

45
sebagai keturunan Musa. Alasannya adalah karena Musa guru mereka,
dianggap telah melahirkan mereka dengan memperkenalkan mereka
kepada hukum. Seseorang yang dikaruniai karunia ini, menyampaikan
perintah dan kehendak Allah, yang mengatur hubungan antara Kristus
dengan anggota TubuhNya.
* Karunia untuk berkata-kata dengan Hikmat dan karunia untuk berkata-
kata dengan pengetahuan. Saling berdekatan. Gabungan keduanya
menyediakan bimbingan bagi orang-orang percaya yang masih muda.
Karunia yang satu menyediakan kebenaran karunia yang lain dan pandangan
bagaimana menerapkan dalam situasi kehidupan.
* Karunia untuk Menasihati. Juga disebut “karunia menghibur”
(paraclete) artinya, “orang yang dipanggil mendampingi untuk menolong”.
Kata ini memakai akar kata yang sama yang dipakai untuk Roh Kudus.
Orang ini adalah seorang yang mengerti penderitaan dalam kehidupan
orang lain secara mendalam, menderita dengan orang lain dan berdoa
kepada Tuhan tentang setiap masalah.
Semua karunia-karunia ini harus digunakan dalam kehidupan FA. Karunia-
karunia dasar dapat dipakai oleh orang kristen baru, segera setelah
pertobatannya. Bila karunia-karunia tersebut digunakan, maka akan bertumbuh
kepada karunia pelayanan dan akan membangun orang-orang percaya untuk
melatih karunia melengkapi.
Supaya karunia-karunia ini bermanfaat untuk membangun orang lain, maka
diperlukan kedewasaan rohani. Perlu ditekankan kepada orang-orang kristen
yang baru untuk menggunakan karunia-karunia rohani. Sebab apabila karunia-
karunia tersebut tidak digunakan, maka karunia-karunia itu tidak akan
dimanifestasikan dan pekerjaan Kristus tidak dapat dilakukan.
TANDA-TANDA KARUNIA.
Ada 4 tanda karunia yang mungkin berguna dalam pelayanan.
1. Berbahas lidah ( I Kor. 14)
2. Menafsirkan bahasa lidah (I Kor. 14)
3. Menyembuhkan (I Kor. 12:10)
4. Mujizat ( I Kor. 12:10)
Bahasa lidah dibagi Paulus dalam I Korintus 14 menjadi 2 kategori
(I Kor. 14:24-25)
a. Penggunaan bahasa lidah dengan penafsirannya merupakan tanda didepan
umum. Tanda itu bisa negatif, memandang penghakiman bagi orang-
orang yang tidak beriman yang menghadiri kebaktian, atau tanda-tanda
positif bagi orang-orang percaya.
b. Bahasa itu menjadi bahasa doa yang bersifat pribadi.
Paulus mencegah pemakaian bahasa lidah di depan umum sebagai suatu

46
kegiatan yang tidak membangun Tubuh Kristus seperti nubuatan. Paulus
berkata bahwa ia berbahasa lidah lebih dari siapapun didalam gereja di Korintus.
Jelas ia menggunakannya dalam doa pribadinya, bukan didepan umum.
Penafsiran Bahasa Lidah ialah untuk menyertai setiap kesempatan pemakaian
bahasa lidah di depan umum. Dalam I Korintus 14:27 dikatakan “harus ada lain
yang menafsirkannya”
Pemakaian semua karunia di depan umum harus tetap digunakan untuk
membangun Tubuh Kristus dan harus relevan dengan kebutuhan jemaat
pada saat itu.
Penyembuhan dan mujizat merupakan saat-saat khusus dimana Allah
menunjukkan kasih karunia dan kuasaNya untuk memberkati kita. Ada
persyaratan khusus bagi kesembuhan yang ditekankan dalam Yakobus 5:14, 16
yaitu melibatkan para penatua sebagai peserta. Dalam kesempatan lain doa
untuk kesembuhan dapat dilayani oleh sel atau perorangan.
Pemakaian karunia-karunia ini selain digunakan untuk membangun Tubuh
Kristus juga dipakai untuk mendemontrasikan kuasa Allah kepada orang-orang
yang tidak beriman.
TUJUAN KARUNIA-KARUNIA
Karunia rohani diberikan untuk maksud pelayanan, bukan untuk pemakaian
pribadi. Tujuan karunia-karunia tersebut dinyatakan dengan jelas dalam
I Korintus 14:26 “Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara ? Bilamana
kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu; yang
seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau pernyataan Allah atau karunia
bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu
harus dipergunakan untuk membangun”.
MOTIVASI YANG SALAH UNTUK MENERIMA KARUNIA-KARUNIA
ROHANI
Apakah motivasi yang benar bagi orang percaya untuk menerima karunia-
karunia rohani ? Jika itu adalah untuk mendapatkan peneguhan atau menerima
upah, maka motivasi itu tidak benar dan karunia-karunia itu tidak akan mengalir.
Karena karunia-karunia dapat ditiru (dipalsukan), maka motivasi itu mendorong
banyak orang untuk memiliki suatu karunia rohani untuk kepentingan pribadi atau
untuk kesombongan rohani.
Jika ada orang yang mendesak orang lain untuk menerima karunia rohani, hal
itu tidak benar, “Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlainan menurut
kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita...” ( Rom. 12:6). Salah satu
istilah bagi karunia-karunia dalam bahasa Gerika ialah “Charisma” yang
berasal dari sebuah kata kerja “charizomai” artinya diberikan sebagai suatu
hadiah. Kata ini dipakai Paulus, yang ditempatkan dalam konteks pemakaian
untuk membangun Tubuh ( Rom. 12:4-6). Ayat ini dapat diartikan, “setiap
orang mempunyai karunia yang berlainan dari semua anggota Tubuh
Kristus lainnya” atau satu orang yang memperlihatkan karunia yang
berbeda-beda, sesuai dengan yang diperlukan pada kesempatan itu.

47
Dalam I Korintus 12:4-6, penekanannya pada perbedaan karunia-karunia yang
disesuaikan dengan kesempatan yang ada. I Korintus 12:11, penekanannya
pada tindakan, bukan pada penerimaan karunia. Petrus menulis dengan jelas
tentang penggunaan karunia-karunia: ( I Pet. 4:10). Jadi karunia-karunia rohani
digunakan dalam kelompok FA untuk membangun Tubuh, manivestasinya harus
selalu dikaitkan dengan situasinya.
Jelas bahwa Allah akan mengalirkan semua karunia rohani kedalam kelompok
FA yang diperlukan untuk membangun Tubuh Kristus. I Kor. 12:8. Dan tidak
semua orang mempunyai karunia yang sama. I Korintus 12:30 dan tidak semua
mempunyai karunia-karunia ini, hanya mereka yang telah dipilih Roh Kudus
untuk menjadi saluran kasih karunia sesuai penggunaannya.
Kemudian Paulus menambahkan dalam I Korintus 14:1, “kejarlah kasih itu dan
usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk
bernubuat. Mengejar karunia untuk bernubuat ini merupakan suatu manifestasi
dari kerinduan seseorang untuk membangun orang lain dalam suatu kelompok.
Penulis Surat Ibrani meneguhkan bahwa karunia-karunia Roh Kudus dibagikan
menurut kehendak Allah (Ibr. 2:4).
MOTIVASI MEMAKAI KARUNIA-KARUNIA KITA IALAH KASIH
Setelah Paulus membahas tentang karunia-karunia rohani dalam I Korintus 12
dan 14, ia mengatakan bahwa motivasi bagi karunia-karunia tersebut ialah kasih
(I Kor. 13). Jika orang-orang Kristen mencari manifestasi karunia-karunia untuk
alasan lain, mereka akan jatuh dalam kesalahan.
Prioritas Alkitabiah dalam kehidupan kita ialah sebagai berikut:
- Gereja
- Keluarga
- Pekerjaan
Gereja adalah Tubuh Kristus. Orang-orang kristen yang menempatkan gereja
dibelakang keluarga membuat kesalahan besar. Keluarga tidak mungkin
menjadi kristen sampai keluarga berada di dalam kehidupan FA. Hanya saat
itulah keluarga hidup dalam suatu tempat kasih, pemeliharaan dan dibangun.
Ketika gereja menjadi yang utama dari yang lain, maka keluarga dan situasi
kerja akan memperoleh manfaat dari kuasa karunia-karunia rohani.

Pelajaran 11

48
SOM GBI Denpasar Lembah Pujian
Kelas Dasar III
Pastoral Konseling I
Ayat hafalan: Galatia 6:2

Pengertian Konseling.
Konseling adalah hubungan timbal balik antara dua individu, yaitu konselor yang
berusaha menolong atau membimbing dan konseli yang membutuhkan
pengertian untuk mengatasi persoalan yang dihadapinya.
Dalam hal ini seorang konselor kristen akan berusaha mengaplikasikan
kebenaran Firman Tuhan atas persoalan-persoalan hidup ini. Konseling dapat
mempunyai arah yang bervariasi, meskipun tidak semuanya dapat diaplikasikan
dalam setiap situasi konseling.
• Mengubah sikap/tingkah laku yang merugikan, menolong mengerti akan nilai-
nilai kehidupan yang ada
• Belajar bagaimana bergaul dan berkomunikasi dengan sesama
• Menolong untuk dapat mengekspresikan perasaan kuatir, gelisah, takut,
kesepian atau kemarahan secara sehat
• Menolong mengerti sebab-sebab dari persoalan yang timbul
• Menyadari akan dosa, mengakuinya dihadapan Allah, mengalami
pengampunan, dan mulai suatu kehidupan yang baru
• Menciptakan kesediaan untuk mendengar nasehat, teguran dan menolong
orang lain yang mempunyai problem yang sama
• Belajar tumbuh dalam iman dan pengenalan akan Tuhan, dalam doa dan
perenungan Firman Tuhan secara teratur.
Konseling yang terdapat dalam Alkitab:
- Elihu memberi nasehat kepada Ayub
- Allah memberi konseling kepada Elia yang putus asa di gunung Horeb
- Daniel memberi nasehat kepada raja Nebukadnesar
- Daud memainkan kecapi untuk menghibur Saul yang murung dan gelisah
- Tuhan Yesus sebagai penasehat yang ajaib dalam Yesaya 5
(Nikodemus, perempuan Samaria Dalam PB)
- Yitro memberi nasehat tentang pendelegasian kepada Musa
Setiap orang kristen mempunyai tanggung jawab untuk saling menolong,
menasehati satu dengan yang lain. Keunikan konseling kristen karena
mempunyai misi khusus. Memang banyak persamaan antara konseling kristen
dan non kristen dalam hal menolong konseli menghadapi persoalan, bergaul
dengan orang lain, mengatasi krisis, mengubah kebiasaan dan sikap hidup yang
merugikan, meningkatkan gairah hidup dll, namun disamping itu konseling
kristen mempunyai arah yang lebih konkrit, yaitu memperkenalkan Yesus Kristus
sebagai Juru Selamat pribadi dan Penebus dosa.
Yang ditekankan dalam konseling:
- Listening (mendengar)
- Empaty ( Memposisikan kalau saya diposisi dia bagaimana)
- Tanya jawab yang terarah

49
- Pemberi dorongan
- Mengkonfrontasikan konseli/klien dengan kelemahan atau kesalahan
Mungkin seseorang menghadapi persoalan dan membutuhkan pertolongan kita,
tetapi belum tentu mereka tertarik pada hal-hal rohani, tetapi dalam konseling
kristen jangan lupa kita memperkenalkan siapakah Yesus Kristus yang mampu
menolong kita.

Dunia konseling dibagi dalam tiga golongan:


- Directive approaches(Pendekatan petunjuk, instruksi, perintah) : Disini
konselor dipandang sebagai seorang ahli yang dapat menganalisis
persoalan, mengerti akan pemecahannya dan mampu mengkomunikasikan
jalan keluar tersebut kepada konseli. Jadi konseli hanya datang untuk
menerima petunjuk apa yang harus dilakukannya. Tentu saja ini berarti,
bahwa tanggung jawab dan beban terbesar terletak pada bahu konselor.
- Permissive approaches (pendekatan membolehkan, mengizinkan) Suatu
metode konseling dimana konseli diberi kesempatan untuk mengatasi
persoalannya sendiri, yaitu dengan memberi kebebasan pada mereka untuk
mengumulinya. Konselor disini tidak memberikan diagnosis, menganjurkan
jalan keluar, atau memberikan terapi, tetapi ia lebih banyak mendengar,
kadang-kadang menyimpulkan apa yang sudah didengar dan memberikan
suasana konseling yang hangat, sehingga konseli bebas mengeluarkan isi
hatinya, menyatakan perasaannya, dan tanpa disadari akhirnya ia
menemukan jawab atas persoalannya.
- Interactional approaches (pendekatan saling interaksi) : Disini konselor dan
konseli mendiskusikan persoalan, dalam hubungan mereka yang equal
(seimbang, sejajar), sehingga keduanya dapat mengambil keputusan
bagaimana sebaiknya persoalan tersebut diatas.
Ketika metode/pendekatan ini sebenarnya mencerminkan kepribadian atau
kebudayaan suatu bangsa. Dalam masyarakat dimana orang sangat
menghormati orang yang lebih tua, ataupun pemimpin-pemimpin mereka
biasanya konseling lebih cenderung memilih pendekatan directive approaches.
Sedangkan dalam masyarakat yang lebih demokratis, pendekatan yang kedua
dan ketigalah yang sering kita jumpai.
Mana yang lebih praktis dan lebih menyakinkan? Tentu saja bergantung kepada
persoalannya, kepada apa yang diharapkan konseli maupun kepada pribadi
konselor sendiri. Tuhan Yesus memakai direct approach (pendekatan langsung)
dan sangat autoritative (penuh kuasa dan kewibawaan) dalam menghadapi para
imam besar dan orang farisi. Tetapi Ia menegur dengan lebih lunak ketika
bersama dua orang dalam perjalanan menuju Emaus setelah kebangkitanNya. Ia
membiarkan mereka untuk bebas berbicara kemudian mengarahkannya. Dalam
percakapanNya dengan Nikodemus, Ia mengunakan pendekatan yang lebih dari
hati kehati, dan kepada perempuan yang sakit (yang menjamah jubahNya)
Tuhan menghardik dengan lembut. Sedangkan kepada anak-anak Ia memeluk
dan membawa mereka dekat kepadaNya; dan dengan tiap-tiap muridNya ia
memberikan pendekatan yang berbeda.
Sebagai orang kristen kita harus sadar, bahwa Tuhan menciptakan setiap

50
individu sangat unik, dan berbeda dengan individu yang lain, sehingga kitapun
mengadakan pendekatan yang berbeda pula dalam menolong tiap-tiap individu.
Melalui konseling kita harus mengunakan cara dimana Kristus dipermuliakan
dan sesuai dengan kebenaran Alkitab, namun kita juga jangan gegabah
menuduh pendekatan yang dilakukan konselor atau teori lain sebagai yang hal
yang sesat, seolah-olah hanya teori kita saja yang sesuai dengan Firman Tuhan.
Pemikiran yang kurang sensitif dan membanggakan teorinya sendiri, seringkali
juga merupakan hambatan dalam konseling kristen, merugikan konseli, dan tidak
memuliakan Allah.
FT dalam Roma 12:8 – Karunia menasehati “paraklesis” = datang untuk
menolong, memberi penghiburan, mendukung, memberi semangat, dan
menasehati. Ada orang beranggapan konseling adalah karunia, tetapi
sebenarnya ini adalah tanggung jawab setiap orang kristen (I Tes.5:11,14;
Gal.6:1-2,10; Kol.3:12-14)
Ciri-ciri Konselor kristen ditinjau dari Kitab Galatia:
- Pertama, seorang konselor kristen yang efektif tentu harus memiliki
kerohanian yang baik (Gal.5:22-26)
- Kedua, seorang konselor kristen harus lemah lembut (Gal.6:1) Roh yang
lemah lembut tidak berarti bahwa kita tidak boleh mengatakan apa yang tidak
disukai untuk didengar dan dilakukan oleh konselor. Kadang-kadang kita
harus tegas, namun juga lembut, sensitif, kepada mereka yang datang
dengan berbagai persoalan
- Ketiga, seorang konselor kristen harus bersedia menolong meringankan
beban (Gal.6:2)
- Keempat, seorang konselor kristen harus bersifat rendah hati (Gal.6:6)
- Kelima, seorang konselor kristen harus bersifat sabar (Gal.6:7-8)
- Keenam, seorang konselor kristen harus rajin berbuat baik (Gal.6:10)

Hal-hal yang harus dihindari, supaya tidak menghambat keefektifan kerja


konselor:
a. Memihak/menitik beratkan pada informasi sepihak
Problema yang kita dengar dari konseli biasanya hanya merupakan salah
satu aspek dari persoalan yang dilihat melalui kacamata konselor itu sendiri.
Misalkan saja, dalam konseling pernikahan, suami istri bisa mempunyai
pandangan yang sangat berbeda mengenai satu persoalan. Jika konselor
hanya melihat atau mendengar dari satu pihak saja, tentunya ia tidak akan
mampu menyelesaikan persoalan itu dengan baik, apalagi kalau berpihak
kepada salah satu konseli.
b. Mengambil kesimpulan yang prematur/tergesa-gesa/ceroboh
Seorang konselor harus dapat mendengar dengan baik, cermat, dan tidak
mengambil kesimpulan terlalu pagi, atau langsung memberi jalan keluar.
Karena apa yang dikemukakan oleh konseli belum tentu persoalan yang
sebenarnya, seringkali hanya merupakan gejala tambahan dari inti
persoalannya, sehingga konselor akan membuang banyak waktu dan tenaga
karena persoalan seolah-olah tidak pernah habisnya.
c. Menekankan konfrontasi

51
Ada beberapa orang menekankan, bahwa satu-satunya jalan bagi orang
kristen untuk mengatasi persoalan adalah dengan mengkonfrontasikan
konseli dengan kebenaran Firman Tuhan. Padahal jika kita perhatikan Alkitab
menerangkan dengan mengunakan banyak cara, kadang-kadang melalui
konfrontasi (Roma 15:14), kadang-kadang mengajar (Kol.3:16), menghibur (I
Tes.4:18), memperhatikan (I Kor.12:25), menguatkan (I Tes.5:11), menerima
(Roma 15:7), bahkan kadang dengan kasih menolong konseli menanggung
beban atau pergumulan mereka (Gal.6:2), Jadi jelas tidak mungkin hanya
melalui satu cara saja kita dapat menolong konseli.
d. Terlalu banyak ikut campur
Seringkali kita sebagai konselor kita banyak hal, sehingga kita tidak lagi
obyektif terhadap inti persoalan. Tentunya hal ini akan menguras banyak
waktu dan tenaga yang seharusnya dapat kita gunakan untuk hal lain. Kita
sangat membutuhkan kebijaksanaan dari Tuhan untuk tetap memperhatikan
konseli, tanpa menjadikan persoalan konseli menjadi pergumulan dan beban
yang menghancurkan hidup kita sendiri sebagai pengorbanan yang sia-sia.
Mungkin kita mengalami, betapa ada konseli-konseli yang menyita banyak
waktu kita tanpa mempedulikan, bahwa konselor juga mempunyai tanggung
jawab kepada keluarga dan konseli yang lain. Mereka biasanya menuntut
perhatian yang penuh, kapan saja ia mau. Untuk menghindari hal ini, kita
harus dapat menemukan cara yang tepat untuk mengatasinya tanpa merusak
hubungan baik yang mungkin sudah terbina.
e. Akrab dengan konseli lawan jenis
Jangan kita mengira, karena kita adalah konselor-konselor kristen, ada
jaminan, bahwa tidak akan terjadi skandal dalam hubungan kita dengan
konseli. Konseling membutuhkan pendekatan yang kadang-kadang sampai
pada kebutuhan pribadi yang sangat mendalam, seperti misalnya kebutuhan
seksual. Konselor harus tegas, dan tidak membiarkan perasaannya terlibat
lebih jauh, jika ia melihat kebutuhan-kebutuhan ini mulai muncul dalam
hubungan mereka berdua. Banyak konselor profesional dan hamba-hamba
Tuhan yang terlibat dalam persoalan ini dan pelayanan mereka gagal karena
mengabaikan standar kesucian dan kehidupan kristen dengan membiarkan
hawa nafsu dan perasaannya terikat dengan konseli. Konseling memang
pelayanan yang sensitif dan godaan seringkali timbul karena diri kita sendiri
lemah dan membiarkan timbulnya pikiran-pikiran yang kotor. Jangan kita
menyombongkan diri, bahwa kita tidak akan jatuh (I Kor.10:12-13) Kita harus
selalu merendahkan diri pada pimpinan Roh Kudus, Ia yang menghendaki
kita melayani, Ia juga akan melindungi kita dalam pelayanan yang baik ini.
Kadang-kadang setelah bertemu dengan konselor, konseli dapat
menyebarkan tuduhan, bahwa konselor telah mencoba berbuat serong.
Tuduhan ini sulit untuk dibuktikan, karena orang akan cenderung berpihak
pada konseli. Karena itu penting sekali kita menjaga dan berhati-hati dalam
membangun reputasi dalam pelayanan dan kehidupan pribadi kita, sehingga
seorang konselor kristen kita dapat dihargai dan dipercaya (I Tes.5:22)
Untuk menjaga hal ini, konselor dianjurkan untuk tidak mengadakan
pertemuan-pertemuan ditempat-tempat tertutup, tersembunyi, ataupun

52
tempat-tempat yang sunyi, kecuali jikalau konselor ditemani diaken atau
pekerja gereja yang lain.
f. Kegagalan menyimpan rahasia
Jika seorang datang kepada konselor dan mengutarakan segala persoalan
dan isi hatinya tentu mereka berharap, bahwa apa yang mereka ceritakan
kepada konselor tidak akan bocor. Tapi seringkali tanpa disadari oleh
konselor sendiri, hal-hal yang peka tersebut terungkap dalam diskusi-diskusi
yang tidak formal atau sebagai contoh ilustrasi kotbah. Untuk menghindari hal
ini, dengan kuasa dan pertolongan Tuhan kita harus mematikan kebiasaan
untuk membicarakan orang lain (Yak.3:1-10; I Ptr.3:10) *Punya telinga tetapi
tidak punya mulut*
g. Pelayanan yang tidak seimbang
Konselor-konselor kristen seringkali menjadi terlalu sibuk dalam pelayanan
konselingnya dan membiarkan tanggung jawab lain terbengkelai. Misalnya,
tanggung jawab pada keluarganya sendiri, bahkan mengabaikan waktu untuk
berdiam diri, berdoa dan beristirahat. Memang banyak konselor-konselor
kristen yang terlalu peka terhadap kebutuhan pelayanan dan melupakan
kebutuhan istri, anak-anak dan dirinya sendiri.
Sekali lagi kita harus belajar dari Tuhan Yesus sendiri yang selalu
mempunyai waktu untuk istirahat dan berdoa (Mar. 1:35, 6:46). Kita sebagai
konselor-konselor kristen baik pendeta maupun kaum awam harus mengerti
batas-batasnya, dan jangan sampai persiapan kotbah, waktu doa dan saat
teduh kita abaikan, begitu juga tugas-tugas lainnya, jikalau hal itu diabaikan,
pelayanan kita tidak akan menjadi efektif bahkan kita tidak akan menjadi
teladan bagi orang-orang lain.

Prinsip-prinsip pemecahan masalah oleh konselor


1. Konselor harus memastikan bahwa ia tidaklah “mengambil alih”
masalahnya
2. Dengan berbagai cara ia harus memperlihatkan bahwa konseli tidak bodoh
atau abnormal karena masalah-masalah yang mereka hadapi
3. Konselor harus membantu konseli untuk dapat melihat manfaat
menyelesaikan masalah tersebut
4. Konselor harus menyadari alasan-alasan munculnya kesulitan dalam diri
konseli, tetapi tidak mengatakan pada konseli apa yang tidak beres dalam
dirinya
5. Konselor harus membantu dalam menetapkan sejumlah patokan untuk
menguji gagasan-gagasan tentang pemecahan untuk masalah itu

Prinsip-prinsip lainnya sebagai pelengkap:


1. Pemecahan masalah harus selalu dimulai dari posisi konseli, maksudnya
mulai dari masalah yang diajukan konseli
2. Konseli harus memiliki tanggung jawab terakhir untuk menyelesaikan
masalahnya.
3. Hanya masalah-masalah yang dianggap dapat dipecahkan, itulah yang
harus ditangani

53
4. Pujian yang tepat harus diberikan terhadap konseli setiap kali ia mencapai
keberhasilan
5. Pemecahan-pemecahan tidak perlu dilakukan jika konseli acuh tak acuh
dalam menyelesaikan masalahnya.
6. Rujukan yang tepat harus dilakukan jika memang diperlukan
7. Konselor perlu melihat usaha-usaha positif konseli yang sudah dibuat
sebelumnya untuk memecahkan masalah tersebut dengan tekanan pada
kekuatan-kekuatan dan ciri-ciri positip konseli.

Kualitas-kualitas konselor yang seharusnya dimiliki


1. Konselor harus sungguh-sunguh berniat untuk menolong konseli mereka
dan berusaha sekuat tenaga merealisasikan minat ini
2. Konselor harus memandang konseli sebagai pribadi
3. Konselor harus percaya pada kemampuan terapeutisnya sendiri
4. Konselor harus memiliki pengetahuan yang luas tentang teori-teori dan
praktik-praktik konseling ; luwes, tidak picik, dan terbuka untuk
mendapatkan keterampilan baru serta mencobanya.
5. Konselor harus mampu menghadapi dan menyelesaikan keruwetan-
keruwetan mereka sendiri; tidak cemas, tidak tertekan, tidak bersikap
bermusuhan, tidak membiarkan diri mereka sendiri merosot, tidak
mengasihani diri, atau tidak disiplin
6. Konselor harus sabar dan tekun berusaha keras dalam kegiatan-kegiatan
terapeutis mereka
7. Konselor bersikap etis dan bertanggung jawab, dan menggunakan
konseling hampir seutuhnya demi kebaikan konseli dan bukannya untuk
kesenangan pribadi
8. Konselor harus bertindak secara profesional dan dalam bidang terapeutis,
tetapi masih tetap sanggup mempertahankan sikap manusiawi, spontan,
dan gembira dalam bekerja
9. Konselor harus optimistik, mampu memberi semangat dan memperlihatkan
pada konseli bahwa apapun kesulitan yang dihadapi konseli, mereka dapat
berubah
10. Konselor harus berhasrat untuk menolong semua konselinya, dan dengan
besar hati bersedia merujuk orang-orang yang mereka anggap tidak dapat
mereka tolong kepada rekan-rekan seprofesi lainnya. Konselor juga harus
berusaha untuk tidak terlalu acuh-tak acuh atau terlalu terlibat dengan
konselinya. Konselor harus waspada terhadap pengandaian-pengandaian
konseli yang mengarah pada sikap yang terlalu menguntungkan atau
terlalu meremehkan sejumlah konseli

Langkah-langkah rohani
- Saya berdoa sebelum konseling ini untuk menunjukkan sikap saya
- Saya berdoa untuk minta pimpinan dan pengertian serta hikmat (petunjuk
Tuhan)
- Saya berdoa bersama dengan konseli sebelum permulaan konseling.
- Saya akan berdoa pada waktu mengakhiri konseling

54
- Saya membiarkan konseli untuk berdoa untuk saya

Gunakan Firman Tuhan bukan pengertian kita


* Gunakan Firman Tuhan bukan untuk menuduh tetapi memberikan garis
besar arah yang baru
* Kembali ke Firman Tuhan

Tehnik dalam konseling kristen


Contoh Ayub seorang saleh, jujur, takut akan Allah, tetapi kemudian
beberapa peristiwa menimpa dirinya secara beruntun : Kehilangan hartanya,
anaknya bahkan mendapat tekanan dari istrinya, penyakit barah dan tidak
lagi dipandang orang.
Ayub Kecewa, putus asa, frustasi dan bingung.
Tiga konselor mencoba menolongnya tetapi tidak ada satupun yang dapat
menolongnya. Kemudian datang Elihu ia seorang yang masih muda. Langkah
yang ia ambil:
1. Elihu mendengar (Ayub 32:11) Mendengar adalah bagian yang
sangat penting yang seringkali dilupakan dalam konseling. Konselor
seringkali merasa, bahwa tugasnya adalah memberikan sebanyak-
banyaknya nasehat, mengutip ayat-ayat atau memberikan pertanyaan-
pertanyaan. Hal-hal ini tentunya akan menghambat proses konseling,
bahkan sejak permulaan sudah merusak proses tersebut jikalau
sebenarnya kita tidak yakin akan apa yang menjadi persoalan konseli.
2. Seorang Teolog Jerman, DietricchBonhoeffer pernah menulis, bahwa
banyak orang membutuhkan “telinga yang bisa mendengar”. Seringkali
hal ini sulit dikemukakan diantara orang-orang kristen karena
kecenderungan kita adalah mau berbicara dan memberi nasehat.
Padahal, seorang yang tidak dapat mendengar sesamanya, iapun sulit
untuk dapat mendengar suara Tuhan.” Karena seorang yang tidak mau
sabar mendengar, akan berkata-kata tanpa arah yang baik, dan tentunya
orang-orang seperti ini tidak dapat menolong orang lain.
Jika kita mau mendengar, seperti Elihu yang sabar mendengar keluhan-
keluhan Ayub, konseli yang kita layani akan mempunyai kesempatan
untuk mengutarakan isi hatinya, hal ini tentu akan melegakan hatinya, dan
pada saat yang sama memberikan banyak bahan yang akan menolong
proses konseling tersebut.
Mendengar membutuhkan konsentrasi penuh, pikiran jangan melayang
kemana-mana. Sesekali tersenyum, mengangguk/melontarkan
pertanyaan sehingga kita menolong konseli untuk bebas mengutarakan
perasaannya.
3. Elihu mengerti (Ayub 32:12) Sebelum bertemu dengan Elihu. Ayub
sangat frustasi karena ia merasa tidak ada seorangpun yang bisa
mengerti dia. Tetapi dengan Elihu yang penuh pengertian, keadaan
sangat berbeda, keadaan sangat berbeda.
4. Elihu menguatkan (Ayub 33:6-7) Elihu berkata kepada Ayub, bagi
Allah, aku sama dengan engkau, aku manusia biasa, dengan berbagai

55
persoalan dan aku tidak datang untuk membuat engkau takut.
Banyak orang segan untuk mengutarakan isi hatinya kepada konselor,
karena ia merasa malu, mengapa ia mempunyai persoalan seperti itu dan
tidak dapat menyelesaikannya sendiri. Jika konseli berbuat dosa, ia takut
kalau konselor marah, sinis, mengecam perbuatannya. Oleh sebab itu
yang penting menguatkan dan meyakinkan konseli, bahwa sekalipun
mereka gagal dan berbuat dosa, kita bisa mengerti dan tidak menolak
mereka. Ingatkan bahwa Yesus mengasihi kita, pada waktu kita masih
berdosa (Roma 5:8)
5. Elihu mengkonfrontasikan Ayub dengan kebenaran-kebenaran Allah
(Ayub 33:12, 32) Tanggung jawab konselor bukan menghakimi,
mengecam, mengutuk, menimbulkan rasa bersalah, tetapi menghadapkan
konseli kepada kegagalannya, perbuatannya, dosanya/tingkah lakunya
yang merugikan, yang mungkin tidak dilihat konseli sebelumnya.
6. Elihu mengajar (Ayub 33:33) Kadang-kadang bagian ini merupakan
bagian yang sangat penting dalam proses konseling, yaitu membagikan
hikmat kebenaran Firman Tuhan yang dibutuhkan konseli. (Memberi
informasi, memberikan arah dan petunjuk yang dapat dilakukan
konseli/contoh kehidupan diri kita)
7. Elihu membimbing Ayub kepada Tuhan (Ayub 34 ), Elihu
mengungkapkan Allah yang Maha Tahu, Maha Kuasa, dan Maha Adil
yang akhirnya membuka mata rohani Ayub (Ayub 42:5)

Contoh dari Tuhan Yesus (Lukas 24)


- Tuhan Yesus berjalan bersama mereka (Luk.24:15) Apakah kita merasa
kehadiranNya.
- Tuhan Yesus bertanya (Luk.24:17,19) Konselor yang sedang belajar
seringkali membuat kesalahan dengan memberikan terlalu banyak
pertanyaan kepada konseli, sehingga konseli merasa, konseling tidak lain
daripada menjawab pertanyaan-pertanyaan konselor saja. Ada 2 jenis
pertanyaan : Pertanyaan tertutup, dimana pertanyaan dijawab dengan singkat
dan tidak berkembang. (Apakah anda menikah?, nama anda ?, apakah
mempunyai anak ?, apakah anda susah? Pertanyaan terbuka: akan
menstimulasi (merangsang) konseli untuk menceritakan/mengutarakan isi
hatinya (Apakah yang sedang anda gumuli ?, Apa yang membuat anda
susah ?, Apakah yang anda maksudkan dengan pernikahan anda tidak
bahagia ? Apakah anda dapat memberikan contoh, mengapa anda begitu
murung ? Kapan anda mulai minum-minuman keras dan mabuk?
Dalam perjalanan ke Emaus, kedua orang itu menanyakan kepada Tuhan
Yesus apakah Ia tidak tahu “Peristiwa-peristiwa yang baru-baru ini terjadi?”
dan Tuhan Yesus menjawab pertanyaan itu “Apakah itu ? (Luk.24:19) Ini
adalah contoh pertanyaan yang membuka banyak jalur bagi seseorang untuk
dapat mengutarakan isi hatinya.
- Tuhan Yesus mendengar. Memang dalam Alkitab tidak menyebutkan
secara khusus, namun dalam perjalanan dari Yerusalem Yesus tidak banyak
berbicara, Ia lebih banyak mendengar.

56
- Tuhan Yesus menerima. Meskipun Ia tahu, bahwa murid-muridNya ini
mempunyai kesimpulan yang salah, tetapi Ia tidak langsung menegur. Ia
menerima mereka sebagaimana adanya.
- Tuhan Yesus menghadapkan mereka dengan persoalan yang
sebenarnya (Luk.24:25,26)Yesus mengkonfrontasikan/menegur kebodohan
kesimpulan mereka. Apa yang Alkitab ajarkan mereka belum mengerti.
Konfrontasi bukan satu-satunya cara yang dapat dilakukan oleh konselor,
karena ternyata:
• Understanding responses (respon positif/dapat mengerti) dapat dilakukan bila
konselor ingin menunjukkan “empaty” dan pertanyaan, bahwa ia bisa
mengerti perasaan konseli.
• Probing responses (respon menyelidiki/memeriksa) dipakai bila konselor
membutuhkan lebih banyak informasi, atau bila konselor ingin merangsang
percakapan lebih lanjut.
• Komentar-komentar yang supportive (membangun, membantu) dapat
digunakan konselor untuk menghibur dan memberi semangat baru pada
konseli
• Interperative responses (respon menterjemahkan, menafsirkan) menjabarkan
pada konseli apa yang sedang terjadi
• Evaluative responses (respon mengevaluasi) konselor memberikan ide-
ide/pemikiran yang baik dan bijaksana mengenai tindakan yang akan
dilakukan
• Action responses (respon untuk bertindak) konselor mencoba menganjurkan
suatu langkah yang harus diambil konseli.
Tuhan Yesus mengajar (Luk.24:27)
Tuhan Yesus bersedia tinggal bersama mereka (Luk.24:28-29)

Type-type respons dalam percakapan konseling:


Understanding : Agaknya persoalan ini sangat memberatkan anda dengan
kata lain, anda merasa………. Sejauh ini, anda sudah
mengatakan…… Saya dapat merasakan pergumulan anda.
Probing : Coba ceritakan lebih lanjut mengenai hal ini? Bagaimana
reaksi suami atau istri anda? Kemudian…? Saya kurang
jelas……
Supportive : Memang setiap orang akan merasakan hal yang sama jika
diperlakukan demikian. TUHAN pasti mempunyai maksud
tertentu….. Tentunya hal ini akan bertambah baik jika…….
Saya yakin mereka akan mengerti jika……..
Interpretative : Sebenarnya apa yang terjadi adalah….. Apakah hal ini
membuat anda merasa bersalah? Rasanya anda sangat
tergantung kepada….
Apakah ini yang akan anda katakan…….
Evaluative : Anda sangat bijaksana
Ide yang baik
Alkitab mengatakan itu dosa
Saya kira itu tidak menolong

57
Anda harus mencoba jalan lain
Action : Saya anjurkan anda……..
Mengapa anda tidak…….
Jika anda kembali minggu depan…..
Anda seharusnya……..

Beberapa kendala dari konseli yang bisa menghalangi proses konseling

1. Membisu -- Konseli datang untuk mendapatkan pertolongan, tetapi ia tidak


bersedia berbicara. Ia sekedar duduk dan menatap atau bersikap
mempertahankan jawaban-jawabannya.

2. Tidak serius -- Ada konseli yang membicarakan berbagai hal dengan


ringannya dan kelihatannya tidak mempunyai masalah-masalah. Ia mungkin
tersenyum ketika membicarakan masalah-masalahnya atau melihat berbagai
hal dalam satu cara yang dangkal. Mungkin ia setuju bahwa ia mempunyai
masalah-masalah, tetapi ia tidak mengijinkan konselor untuk menggalinya
lebih jauh.

3. Berbicara berlebihan -- Orang yang berbicara terlalu banyak selalu penuh


dengan kesengsaraan dan keluhan. Konselor biasanya tidak banyak
mendapat kesempatan untuk memberi jawaban atau mengarahkan, sebab
konseli tersebut terus saja berbicara.

4. Mendebat -- Konseli pendebat cenderung memberi alasan-alasan, penyebab-


penyebab masalah dan pilihan atas metode-metode terapi. Konseli seperti ini
lazim memperdebatkan kemanjuran rencana terapi konselor dan menyabot
setiap usaha untuk membantunya.

5. Intelektualisme -- Konseli intelektual hanya tertarik pada suatu diskusi


intelektual atas masalah-masalahnya. Ia akan menanyakan bahan-bahan
bacaan untuk penelaahan pribadi. Setiap usaha untuk memecahkan masalah
akan disimpangkan

Ayat-ayat Alkitab yang dapat dipakai untuk Konseling

Kebutuhan/Persoalan : Ayat-ayat rujukan

Kuatir/Gelisah : Mzm. 43;5,46:2-3,9:11,Ams. 3:5-6,


Mat.6:31,11:28-30, Fil.4:6-7,19; I Ptr. 5:6,7.
Kemarahan : Mzm.37:8, Yak.1:19 , Kol.3:8
Penghiburan : Mzm.23:4 , Rat.3:22-25,
Keberanian : Yos.1:7-9, Mzm. 27:3
Menghadapi Kematian : Mzm.116:3-8, Yoh.14:1-6, Rm.14:8
Kekecewaan : Mat.11:28-30, II Kor. 4:8-9

58
Keragu-raguan : Ams. 3:5-6, Yoh. 7:17
Cemburu : Rm. 13:13, Gal. 5:26
Iman : Ibr. 11:6, Yak. 1:3
Ketakutan : Mzm. 27:1-8, I Yoh. 4:18
Pengampunan dosa : Mzm. 32:5, Yak. 5:15-16
Mengampuni kesalahan orang lain: Mat. 5:44-46, Kol. 3:13
Dukacita : Fil. 1:21, I Tes. 4:13
Minta pimpinan Tuhan : Mzm. 32:8, Yoh.16:13
Kebencian : Ef. 4:31-32. I Yoh. 1:9
Putus asa : Mzm. 34:7, I Ptr. 5:7
Kesepian : Mzm. 27:10, Ams. 18:24
Kebutuhan : Mzm. 34:10, Fil. 4:19
Kesabaran : Ibr. 10:36, Gal. 5:22
Damai sejahtera : Yes. 26:3, Yoh. 14:27
Pengucapan syukur : Mzm. 34:2, Ibr. 13:15
Pencobaan : Mat. 5:10-11, Yak. 1:2-4
Keselamatan : Yoh. 3:16, Kis. 4:12
Sakit penyakit : Mzm. 103:3, Yak. 5:14-15
Dosa : Rm. 3:23, Rom. 6:23
Pertumbuhan rohani : II Tim. 2:15, II Ptr. 1:5-8
Ketidakbahagiaan : Yoh. 15:10-12, Gal. 5:22
Kelemahan : Mzm. 27: 14, Fil. 4:13
Kebijaksanaan : Ams. 4:7, Ay. 28:23

Pelajaran 12

59
SOM GBI Denpasar Lembah Pujian
Kelas Dasar III
Pastoral Konseling II
Ayat hafalan : Filipi 2:1

Mengenal pribadi seseorang dalam hubungan dengan orang lain.

Aku Kamu
1. Banyak mengenal diri sendiri dan orang lain. Dia adalah orang yang sukses,
terbuka dan progresif.

Aku Kamu
2. Banyak mengenal diri sendiri, tetapi sedikit mengenal diri orang lain. Ia
cenderung sombong dan besar kepala

Aku Kamu
3. Sedikit mengenal diri sendiri, tetapi banyak mengenal diri orang lain. Ia
menjadi pesimis, merasa rendah diri dan takut.

Aku Kamu
4. Sedikit mengenal diri sendiri dan diri orang lain, ia menjadi apatis, statis,
terkucil dan linglung.

• Self disclosure : teori ini diperkenalkan oleh Yosef Luft (1969) yang
menekankan bahwa setiap orang bisa mengetahui dan tidak mengetahui
tentang dirinya, maupun orang lain. Untuk hal seperti itu dapat
dikelompokkan kedalam empat macam bidang pengenalan yang

60
ditunjukkan dalam suatu gambar yang disebut dengan jendela Johari (Johari
Window)

Diket. diri sendiri Tid. diket. diri sendiri

Diket. orang Terbuka Buta


lain

Tid. diket. orang Tersembunyi Tidak dikenal


lain

Bidang 1. Melukiskan suatu kondisi dimana antara seseorang dengan yang lain
mengembangkan suatu hubungan yang terbuka sehingga dua pihak saling
mengetahui masalah tentang hubungan mereka.
Bidang 2. Melukiskan bidang buta, masalah hubungan antara kedua pihak
hanya diketahui orang lain namun tidak diketahui oleh diri sendiri.
Bidang 3. Disebut bidang tersembunyi, yakni masalah hubungan antara kedua
pihak diketahui diri sendiri namun tidak diketahui orang lain.
Bidang 4, bidang tidak dikenal, dimana kedua pihak sama-sama tidak
mengetahui masalah hubungan diantara mereka.
Keadaan yang dikehendaki sebenarnya dalam suatu komunikasi antar pribadi
adalah bidang 1. tapi bisa tidak seideal itu, ada juga yang tidak diungkapkan dan
disembunyikan.

Unsur-unsur utama yang menolong terciptanya suasana percakapan


konseling yang ideal:
- Understanding (sikap penuh pengertian dari pihak konselor)
a. Empathy : Sikap positif konselor terhadap konseli, yang diekspresikan
melalui kesediaannya untuk menempatkan diri pada tempat konseli, merasakan
apa yang dirasakan konseli, dan mengerti dengan pengertian konseli.
b. Acceptance : Kesediaan konselor untuk menerima keberadaan konselinya
sebagaimana ia ada. Suatu sikap nonjudgemental (tidak mengadili artinya, tidak
melihat konseli semata-mata berdasar kesalahan, kelemahan dan kegagalan
saja. Tetapi menempatkan hal-hal negatif tadi pada kontek yang tepat, yaitu
kehidupannya yang utuh sebagai suatu pribadi yang unik, yang persoalannya
pantas digumuli, dan kata-katanya pantas dipertimbangkan.
Acceptance bukan sikap membenarkan atau menetralisir apa yang salah yang
ada pada konseli, tetapi sikap positif yang terencana yang sengaja
dikembangkan dipraktekan, karena mungkin dengan cara ini merupakan jalan
untuk menemukan inti persoalan yang sebenarnya/paling tidak jalan untuk
menyelesaikan persoalan yang sedang dirasakan menganggu hidup konseli
akan terbuka. Hal ini dilakukankarena kita harus menyadari bahwa :
Hampir setiap konseli yang datang, adalah mereka yang betul-betul terganggu
dengan persoalan pribadinya. Karena setiap orang memiliki subyektifitas.

61
c. Listening : kesediaan untuk mendengar.
- Responding (memberi tanggapan yang membangun) : bagaimana responding
dapat menciptakan conducive atmosphere (Kehangatan, dukungan, stimulating)
Tiga macam role yang dapat dipilih setiap individu:
Role orang tua: Individu yang memilih role orang tua biasanya nampak dalam:
- Kata-katanya yang bernada: melarang, menasehati, menghardik dsb. Disini
nyata dengan pemakaian kata-kata “Awas....., jangan....., harus....., lebih baik...”
- Sikap: menuding, membelai, merangkul dsb
- Mimik wajah: Mata melotot, mata memelas, mengerutkan kening dsb.
Pemilihan role ini membuat ia cenderung hanya melihat kelemahan orang lain
saja sikapnya terhadap orang lain cenderung sama seperti sikap orang tua
terhadap anaknya, dan dalam kasus sederhana saja (misalkan , menjatuhkan
gelas) dapat mengekspresikan role itu dalam beberapa macam ekspresi, seperti
misalnya:
- Sinis: “Goblok.....bawa gelas saja tidak bisa!”
- Marah: “Sudah dikasi tahu tidak menurut.”
- Menasehati : “Awas....hati-hati.....kena beling nanti”
- Menghukum: “Ini yang terakhir......sekali lagi awas.”

Role dewasa: Individu yang memilih role dewasa biasanya akan nampak dalam:
- Kata-katanya yang coba memperlakukan orang lain sederajat dengan dirinya,
“Menurut hemat saya....; saya pikir...”
- Sikap: Tegak, menatap tenang, sabar, empatik

Role anak-anak: Individu yang memilih role anak-anak biasanya akan nampak
dalam,
- Kata-katanya : Seperti misalnya, “Wah...asyik lho” “Malu...ah”; ya ....pakdsb.
- Penampilannya bisa: Spontan, penurut, memberontak, reaktif.....bebas.

Cara-cara yang sering dipakai orang untuk melindungi dirinya dari


pengalaman-pengalaman yang tidak disukai. yaitu salah satunya dengan
“Defense mechanism” yaitu mekanisme yang dimiliki individu untuk
mempertahankan diri dari pengalaman-pengalaman yang menyakitkan dan yang
tidak disukai. Mekanisme ini biasanya bekerja secara spontan dan merupakan
sesuatu yang “normal”, bahkan perlengkapan yang sangat penting dari setiap
individu, asalkan munculnya gejala-gejala kerja mekanisme ini diikuti oleh kontrol
dan kesadaran diri sehingga tidak berkembang menjadi ekstrem dan merugikan
baik dirinya sendiri maupun sesamanya.
Individu memakai defense mechanism ini biasanya karena ia hanya mau
mengalami, membayangkan bahkan merasakan hal-hal yang disukainya saja.
- Denial (penyangkalan) wujudnya berupa penyangkalan terhadap realita yang ia
tidak sukai. (Sakit kangker - menyangkal, diagnosa dokter itu keliru.)
- Forgetting (coba melupakan) wujudnya coba melupakan realita yang
menyakitkan dengan cara tertentu (hampir sama dengan denial). Kematian istri
yang dikasihi (menyakitkan) - menikah lagi dengan istri yang seksi - ada juga
menjadi super aktif kerja/digereja

62
- Repression (penekanan keinginan dan perasaan) Wujudnya berupa usaha
menekan dan mematikan keinginan-keinginan (yang muncul secara natural dari
dalam dirinya sendiri) yang ia tidak harapkan, atau keinginan yang harus ia
benci. (S Seorang kristen saleh, muncul keinginan seksual - ia berusaha
menekan perasaan dan keinginan itu.)
- Isolation (menyendiri) wujudnya berupa usaha untuk menghindarkan diri dari
pertemuan dengan orang-orang lain oleh karena kekuatiran, hidupnya kembali
kenangan yang menyakitkan atau bertambah besarnya gangguan perasaan
yang tidak disukai. (Gagal ujian - malu terpukul, mengunci diri, malu bertemu
teman-temannya)
- Projection (pemindahan obyek untuk dipersalahkan) wujudnya berupa
tindakan memindahkan kesalahan yang sebenarnya ada pada dirinya sendiri
pada orang lain (bangun terlambat - menyalahkan orang lain)
Rationalization (merasionalisasikan) yang bentuknya merasionalisasikan
pengalaman-pengalaman menyakitkan atau yang tidak disukai dengan maksud
mengurangi tekanan dan menghibur diri sendiri. (Bapak A kena musibah -
anaknya mati, temannya datang menghibur, ia nampak tenang dan tidak
kelihatan susah sama sekali “ Hidup manusia ada ditangan Tuhan...kematian
wajar...kitapun akan mati.
- Reaction formation (pembentukan reaksi) mengejala dalam bentuk sikap yang
justru berlawanan dengan apa yang ia sukai. Dan ini biasanya dilakukan oleh
karena kesadaran bahwa hal yang ia sukai itu berlawanan dengan kebenaran
(moral, batin ajaran agama) Guru yang sudah beristri tertarik murid - untuk
menekan dan mematikan gejala itu dia bersikap masa bodoh, acuh tak acuh,
bahkan ketus dalam setiap pembiacaraan dengan wanita itu.
- Regression (kemunduran) cara yang tidak sehat untuk mengatasi kegelisahan
dan perasaan insecure (terancam stabilitasnya) dengan mengadoftir sikap hidup
yang tertentu (biasanya yang kekanak-kanakan) Bentuk ini biasanya dipakai oleh
anak-anak oleh karena kehadiran adiknya yang dirasa merebut perhatian dan
kasih sayang ibunya. --tiba-tiba jadi tukang ngompol lagi, minta digendong terus,
rewel, mau tidur dengan mama. Pada orang dewasa bentuk ini lebih
tersembunyi. (Dosen X mengajar matematika, dia satu-satunya - heran bahwa ia
tiba-tiba mengundurkan diri karena ia mendengar sekolah itu mengundang guru
matematika lulusan luar negeri. Dalam kasus ini regression bisa juga mengejala
dalam sikap non aktif, mau menyerahkan semua tanggung jawab pada dosen
yang baru, bahkan dapat bersikap memusuhi guru baru tanpa alasan yang jelas.
- Rejection (penolakan) ini biasa dipakai oleh orang-orang yang punya “poor self
image” (pengenalanan yang buruk terhadap dirinya sendiri) yang merasa dirinya
serba kekurangan sehingga tidak mungkin dapat membagikan apa-apa pada
atau bagi kepentingan orang lain. Orang ini komunikasinya dengan orang lain
seringkali sikapnya acuh tak acuh, masa bodoh, bahkan kepada orang-orang
yang embutuhkan pertolongan ia menutup telinfga dan tidak bersedia
mendengar keluhan-keluhan., karena ia kuatir, semakin banyak ia memberi
kesempatan padsa orang-orang itu untuk berbicara semakin besar tanggung
jawab yang akan dipikulnya.
(Les piano - ini 10 ribu urus semua, kurang karena mereka akan les ini, itu.

63
SUdah-sudah 5 ribu, saya repot....terserah you.)
Compesation (kompensasi) yang mengejala dalam pemilihan kegiatan lain
yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhannya. (Bapak Z dengan kebutuhan
feeling of importance/dihargai sebagai suami, ayah dari anak-anak, tetapi
dirumahnya ia merasa ditolak, oleh karena itu ia mengalihkan seluruh energi,
talenta dan waktunya untuk kegiatan-kegiatan gerejani. ia berharap digereja
segala usaha dan pengorbanannya akan dihargai dan ia mendapatkan feeling of
importance yang ia butuhkan.
- Over compensation (kompensasi yang berlebih-lebihan) Suatu defense yang
mirip dengan kompensasi, tetapi diekspresikan dalam bentuk yang ekstrem.
Dimana anger (kemarahan) terhadap kelemahan yang ada telah mendorong dia
untuk mengatasi kelemahan tersebut secara ekstrem (Pemuda K cacat kakinya,
siang malam melatih kedua kaki itu sehingga dapat merebut juara marathon.)
- Displacement (pemindahan) defense yang hampir sama dengan projection
tetapi dengan dengan motivasi yang berbeda. Kalau dalam projection
motivasinya adalah irresponsibility (tidak mau bertanggung-jawab) maka dalam
displacement motivasinya adalah kebutuhan yang harus dilampiaskan dan
dipenuhi. (Ibu J sakit hati karena persoalan dikantor, ia memindahkan
kemarahannya kepada anak-suami, pembantu dimana ia terus menrus marah
tanpa alasan.
- Fantasy (khayalan) Defense yang dipakai seseorang karena ia sadar meskipun
tidak sepenuhnya kebutuhannya akan terpenuhi, tetapi melalui khayalannya ia
dapat menikmati sebagian.
(Bapak K adalah tukang kebun dari tuan X, diam-diam ia tertarik dengan nyonya
X, tentu saja ia tidak berani coba-coba, oleh sebab itu ia membawa
pengamatannya sehari-hari pada nyonya X dalam khayalan. Dipanggil disuruh -
bisa menjadi khayalan yang bukan-bukan.
- Sublimation (mencari obyek penganti) Defense mechanisme yang dipakai
orang karena obyek semula tidak dapat diharapkan lagi. Perasaan frustasi dan
putus asa mendorong ia mencari penganti yang diharapkan dapat memberikan
kepuasan yang sejenis. (Ibu C mandul, ia begitu ingin punya anak tetapi tidak
mungkin. Oleh karena itu ia menjadi guru taman kanak-kanak yang setiap hari
bisa bermain, mengajar dan mengasuh anak-anak.)

Ada istilah didalam psikologi “resistant dan reluctant” yaitu cara yang tidak
sehat yang sering kali dipakai orang untuk melindungi dirinya sendiri dari
kemungkinan-kemungkinan timbulnya frustasi yang lebih besar lagi.
- Resistant : Individu datang pada konselor, tetapi cenderung menolak usaha
pertolongan, nasehat dan uluran tangan konselor karena motivasinya bukan
karena kebutuhan akan pertolongan, tetapi motivasi yang lain, seperti misalnya:
* Ia hanya mau menguji kemampuan bahkan seringkali mau menjebak konselor
* Ia mau membanding-bandingkan konselor dengan konselor-konselor yang lain.
Yang dibutuhkannya adalah resep yang manjur yang sesuai dengan seleranya.
Oleh karena itu ia pindah dan akan terus berpindah-pindah dari satu konselor ke
konselor lainnya.
* Ia hanya iseng butuh teman bicara. Butuh feeling of worth-while/perasaan

64
berharga yang diharapkan dapat ia peroleh melalui pengalaman bahwa
persoalannya sudah dianggap serius dan mendapat perhatian khusus dari
konselor. Semakin terkenal hamba Tuhan semakin sering ia menghadapi konseli
seperti ini.
* Ia hanya mau melenyapkan perasaan gelisah, susah, terganggu dsb
((Symptoms) dari persoalan dan tidak bermaksud membicarakan persoalan itu.
Ia dapat berperan sebagai:
1. Laughing boy & happy talker (si periang) Seolah-olah orang itu sedang
begitu bahagia dan bertemu dengan konselor seperti bertemu teman lama.
Kalaupun ia datang dengan masalah yang serius, ia membawakan/menceritakan
masalah itu dengan tertawa-tawa/dengan wajah berseri-seri dan disertai kata-
kata bumbu disana-sini seolah-olah baginya masalah itu kecil saja
Kemungkinan besar persoalan ini sendiri baginya sudah sangat menyakitkan. Ia
tidak mau lebih sakit lagi, kalau sampai dibicarakan secara serius. Oleh karena
itu ia berperan sebagai periang, satu pihak supaya ia sendiri lupa untuk
sementara akan sakitnya dan pada saat menceritakan pihak lain supaya
suasana percakapan tidak menjadi percakapan konseling dimana ia sendiri
menjadi konseli, obyek yang dipermasalahkan....yang berarti lebih menyakitkan
lagi.
2. Talking boy (si cerewet)
Disini individu itu datang pada konselor dengan menceritakan persoalannya
tetapi tidak membiarkan konselor memberi tanggapan dengan cepat atau
memotong ceritanya. Ia terus menerus bercerita, mungkin oleh karena sambil
bercerita muncullah ide-ide baru yang lain dalam pikirannya yang membuat ia
kuatir kalau bagian-bagian tertentu dari ceritanya akan ditangkap oleh konselor
dan menjadi bahan yang akan membawa pada persoalan yang merugikan diri
sendiri.
3. Intellectualizer (si ilmiah) konseli coba menerangkan persoalan secara ilmiah,
karena sebenarnya yang ia butuhkan hanya pengakuan dan penghargaan dari
konselor terhadap dirinya. Atau dapat dikatakan kebutuhannya akan “feeling of
worthwhile” muncul dan menjadi kebutuhan utama pada saat ia menceritakan
persoalannya sehingga penyelesaian persoalan itu sendiri tidak menjadi
kebutuhan primer lagi. (Tuan I punya persoalan dengan istri....tetapi menurut
buku yang saya baca....gejala menopause pada wanita setengah umur memang
begitu....menurut pendapat bapak, ....menurut buku........bukan terfokus pada
masalah tetapi hobby buku.)
4. Generalizer (si pembuat kekaburan) Kekuatiran akan timbulnya frustasi
jikalau persoalan menjadi semakin kongkrit telah mendorong konseli
menceritakan persoalan umum dan samar-samar......memang kemungkinan
konseli betul-betul mau ditolong, tetapi ketakutan akan frustasi telah membuat
dia tidak sabar dan berharap konselor bisa mengerti isi hatinya dan menangkap
persoalannya melalui ceritanya yang pendek dan penjelasan yang samar-samar
itu...., Tetapi dalam kontek “resistan” konseli sebenarnya tidak membutuhkan
pertolongan, karena yang ia harapkan cuma melenyapkan symptoms yang
menganggu dirinya (frustasi, susah, tidak dapat tidur) dan bukan memasalahkan
pokok persoalannya.

65
5. Scene maker (si pemain sandiwara) Kebutuhan atensi terhadap dirinya
secara pribadi (yang lebih besar daripada penyelesaian persoalan) telah
mendorong konseli menciptakan suasana yang lain dalam percakapan konseli
itu. (Setiap bertemu dengan konselor, pemudi A selalu tersedu-sedu, karena ia
tahu bahwa hal itu akan menarik simpati konselor.)
*Reluctant: individu datang pada konselor bukan atas kemauannya sendiri, oleh
karena itu kalau ia menolak usaha pertolongan, nasehat dan uluran tangan
konselor, maka sebabnya karena: Merasa dipaksa orang lain, kesombongan dan
harga diri (dokter - penginjil), takut dan kuatir terhadap realita yang sebenarnya,
malu dan rendah diri dll.

Feedback:
- Konseli mengatakan ya atau tidak. Konseli menganggukkan kepala tanda
setuju atau mengelengkan kepala tanda tak setuju. Konseli memalingkan
kepala atau sama sekali tidak bergeming menampakkan bahwa dia sama sekali
tidak respect. Konseli mengerutkan wajah atau melototkan mata mungkin
sebagai tanda heran, bingung, ragu-ragu, antusias, cemas atau tersinggung dan
berbagai isyarat yang dapat diperlihatkan lagi. Macam-macam umpan balik:
* Zero feedback: Konselor tidak mengerti feedback yang disampaikan oleh
konseli. Ia tidak mengetahui sikap konseli, setuju atau tidak setuju. Zero
feedback terjadi karena message yang tidak jelas/lambang dan bahasa yang
dipergunakan tidak dipahami.
* Feedback positif : feedback yang dapat dimengerti oleh konseli. Ada
persetujuan dan keterbukaan.
* Feedback netral : Feedback yang tidak menguntungkan (ABS), penyimpangan
fakta dan manipulasi data (hanya untuk saling menyenangkan)
* Feedback negatif : Feedback disampaikan oleh konseli kepada konselor tetapi
tidak mendukung maksud konselor. Sikap menentang/menolak dapat berupa
kritik atau sikap marah/interupsi.

Kebutuhan-kebutuhan manusia dalam krisis:


- Konseli menginginkan seseorang yang kuat untuk melindungi dan mengontrol
mereka “tolong ambil alih masalah saya.
- Konseli merasakan kekosongan yang hebat dan membutuhkan kasih
“peliharalah saya”
- Konseli membutuhkan konselor yang selalu siap dihubungi demi rasa amannya
“Berada disana selalu”
- Konseli dipengaruhi rasa bersalah dan ingin mengaku “Ambillah rasa salahku”
- Konseli yang sangat perlu mengungkapkan segala persoalan “Biarkan aku
mengeluarkan seluruh isi hatiku”
- Konseli merindukan nasehat tentang persoalan-persoalan yang mendesak
“Katakan kepadaku apa yang harus aku lakukan”
- Konseli punya kerinduan untuk dapat mengerti sendiri dan mempunyai
wawasan tentang masalah mereka “Saya minta konseling”
- Konseli yang membutuhkan pertolongan praktis, seperti bantuan ekonomi atau
tempat tinggal. “Aku membutuhkan pertolongan khusus.”

66
- Konseli membutuhkan informasi tentang dimana memperoleh pertolongan yang
dapat memuaskan “Katakan kepadaku dimana aku dapat memperoleh apa yang
kubutuhkan”
Ciri-ciri pendekatan yang dipakai Yesus:
- Ciri pokok pendekatan Yesus adalah belas kasihan-Nya terhadap orang lain.
Kita melihat belas kasihNya yang ditulis dalam Markus 8:2 “HatiKu tergerak oleh
belas kasihan kepada orang banyak itu.......” Mark.6:34...maka tergeraklah
hatinya oleh belas kasihan kepada mereka...........
- Pada waktu Yesus pertama kali bertemu dengan orang-orang. Ia menerima
mereka sebagaimana keadaan mereka. Dengan kata lain, ia percaya kepada
mereka dan apa yang terjadi atas mereka. Ciri penerimaanNya ini nampak dalam
Yohanes 4, Yohanes 8 dan Lukas 19. Ketika Yesus bertemu dengan perempuan
Samaria, Ia menerima perempuan sebagaimana keadaannya, tanpa menghakimi
dia. ia menerima perempuan yang kedapatan berzinah, Ia juga menerima
Zakheus, seorang pemungut cukai yang tidak jujur itu.
- Pribadi-pribadi merupakan prioritas yang tertinggi bagi Yesus. Ia
memperlihatkan prioritas ini dan menghargai mereka dengan lebih
mengutamakan kebutuhan-kebutuhan mereka daripada hukum-hukum atau
peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh para pemimpin agama. Ia
melibatkan diri dengan kehidupan orang-orang yang dianggap orang-orang
berdosa, dan Ia menjumpai mereka ketika mereka memerlukan pertolongan. Ia
mengangkat harga diri mereka.
- Yesus menghargai pribadi-pribadi itu dengan dengan menunjukkan nilai
mereka dihadapan Allah, dengan membandingkan pemeliharaan Allah terhadap
ciptaan lain “Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun
daripadanya tidak akan jatuh ke bumi diluar kehendak BapaMu (Mat.10:29) Inti
dari banyak masalah yang dihadapi orang-orang adalah konsepsi diri yang
dangkal/perasaan tidak berarti. Karena itu, menolong seseorang untuk
menemukan harga dirinya dengan memperkenalkan siapakah Allah dan apa
yang telah ia kerjakan untuk kita, akan menolong menstabilkan orang itu.
- Ciri pendekatan yang dilakukan Yesus selanjutnya adalah kemampuanNya
untuk melihat kebutuhan setiap individu dan berbicara langsung kepada
mereka, tidak peduli apa yang mereka ajukan untuk menarik perhatianNya. Kita
melihat ketajaman pikiran Yesus dalam contoh tentang kedatangan Nikodemus.
Apapun yang menjadi alasan Nikodemus untuk ingin bercakap-cakap dengan
Yesus saat itu, Yesus melihat masalah sesungguhnya yang dihadapi
Nikodemus dan Yesus menghadapkan Nikodemus dengan kebutuhannya untuk
dilahirkan kembali
- Kata-kata yang sering digunakan Yesus dalam melayani orang, kadang-
kadang Yesus berbicara langsung dan bahkan kasar, kadang-kadang ia
berbicara lembut. Kadang-kadang Ia menyampaikan perasaanNya tidak secara
lisan, seperti dalam Mark.3:5 “Ia berdukacita karena kedegilan mereka, dan
dengan marah Ia memandang sekelilingNya.......ulurkan tanganmu...sembuhlah
tangannya.

- Yesus menekankan tingkah laku yang benar dalam hidup semua orang yang

67
Ia layani, Ia berkata kepada perempuan yang kedapatan berzinah”pergilah dan
jangan berdosa lagi”
Datang kepadaKu, mendengarkannya dan melakukan disamakan dengan orang
bijaksana (Luk.6:47)
- Yesus berusaha agar orang-orang menerima tanggungjawab untuk berubah
dari keadaan mereka. Yoh.5 Maukah engkau sembuh? Yesus berusaha apakah
orang mau menerima tanggung jawab sehat atau sakit.
- Yesus mendorong semangat orang-orang yang datang padaNya (datanglah
kepadaKu orang yang letih lesu, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.....
Mat.11:28-30)
- Mengajar merupakan bagian yang pasti dalam konseling (..diperbolehkan
menyembuhkan pada hari sabat...Luk.14:1-6, Luk.6:39-42)
- Ciri pendekatan yang dipakai Yesus adalah Ia berbicara dengan kuasa. Ia
tidak ragu-ragu, mundur atau segan, tetapi penuh kuasa “Sebab Ia mengajar
mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli taurat ( Mat.7:29)
Sejauh mana kuasa kata-kata yang digunakan dalam konseling.
Fase-fase dalam percakapan konseling
Banyak diantara kita yang membeli suatu barang mendapatkan buku pegangan
di dalamnya mengenai bagaimana cara mengunakan barang tersebut. Kadang-
kadang kita harus mengikuti langkah demi langkah dari intruksi yang diberikan.
Begitu juga dengan konseling, tentu akan menjadi sangat mudah bila kita bisa
menemukan formula langkah demi langkah bagimana mengembalikan suatu
kehidupan yang sudah kocar kacir. Konseling akan menjadi mudah dan
problema-problema kehidupan dapat diselesaikan dengan resep-resep yang
tersedia seperti dalam buku petunjuk untuk memasak. Tetapi ternyata kehidupan
manusia demikian kompleknya dan problema merekapun tidak sesederhana
memakai buku resep memasak. Setiap orang dan setiap kasus harus dihadapi
secara unik, inilah yang membuat konseling menjadi sulit dan penuh tantangan.
Empat fase dalam proses konseling:
- Fase introduction - Understanding (Pendahuluan)
- Fase goal - Setting (Penetapan goal)
- Fase solution - Activity (mengerjakan penyelesaian)
- Fase termination - Launching (terminasi akhir)
* Fase introduction - understanding
Pada permulaan konseling, paling tidak ada tiga tujuan yang harus dicapai
yaitu bertemu dengan konseli, membangun hubungan yang baik, dan
menjelaskan persoalan yang dihadapi konseli.
(ingat ada juga konseli yang sulit mengemukakan persoalannya, jadi dapat juga
dengan cara bicara tidak langsung kepersoalan, mis. tentang cuaca)
Fase goal - Setting/fase penetapan goal
Konselor baru seringkali kuatir bahwa mereka tidak dapat dengan cepat
mengatasi problema konseli. Penyebab yang utama ialah oleh karena mereka
berpegang pada konsep, bahwa konselor sama seperti dokter yang
mendiagnosis pasaiennya dan membeli resep untuk mengatasi penyakitnya.
Konseling biasanya tidak demikian. Yang normal adalah konseli mencoba
membeberkan persoalannya dan bersama konselor ia mencoba untuk

68
mengatasinya. Setelah konselor dan konseli menjadi akrab dan saling mengerti,
mereka dapat mendiskusikan langkah-langkah yang akan diambil untuk
mengatasi persoalan itu. Ada goal-goal yang akan dicapai.
Fase solution - activity /Fase mengerjakan penyelesaian
Berjanji mengubah kebiasaan, tetapi tidak pernah berhasil karena tidak pernah
memulainya. Tugas konselor yang utama adalah mendorong konseli untuk
memulainya. Jadi yang jelas, konselor dan konseli tidak hanya membicarakan
problema dan kemungkinan untuk mengatasinya, tetapi juga mencoba setiap
kemungkinan. Jika memang tidak berhasil, kita harus melihat pada persoalannya
kembali, mendiskusikan, mengevaluasi cara-cara yang lalu dan dicoba lagi.
Fase Terminating - Launching/fase terminasi akhir
Apabila konselor dan konseli sudah mengerti persoalannya, membicarakannya
secara rinci, mencapai beberapa goal dan mulai dapat mengatasinya, tibalah
saatnya untuk menghentikan konseling. Hubungan antara konselor dan konseli
seringkali sudah sedemikian akrab, sehingga saat-saat untuk menghentikan
konseling menjadi demikian sulit dan seringkali konseling masih diteruskan
walaupun sebenarnya konseli sudah tidak membutuhkan lagi.

REFERENSI BUKU:

69
01. Gerald Rowlands, Church Planting Institute , International Christian
Mission Inc. Singapore

02. Ralph Mahoney, The Shepherd’s Staff (Tongkat Gembala)

03. Susabda Yakub B, Pastoral Konseling Jilid 1, (Malang: Gandum Mas)

04. SM Siahaan, Dr. Komunikasi (Jakarta: BPK , 1990)

05. Liliweri Alo, Komunikasi Antar Pribadi, (bandung: CAB, 1991

06. Collins, Gary R, DR., Konseling Kristen, (Malang: SAAT, 1998)

07. Wright, H. Norman, Konseling Krisis, (Malang: Gandum Mas, 1996

08. GBI “Keluarga Allah” Prinsip 12 Solo 2000

09. GBI Bethany Wilayah Barat, Panduan Family Altar Jakarta 2000

70
71