Anda di halaman 1dari 4

Constitutional Complain

Pro Kontra
Yang menjadi dasar utama kami mengapa setuju Kewenangan Mahkamah Konstitusi, selain
atas mosi kali ini yaitu Constitutional Complaint tercantum dalam pasal 24 C UUD 1945, lebih
didasarkan pada : lanjut diatur didalam Pasal 10 ayat (1) Undang-
1. Pasal 28C setiap orang berhak untuk undang No 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah
memperjuangkan haknya secara kolektif Konstitusi, sudah secara tegas dan jelas bahwa
untuk membangun masyarakat, bangsa kewenangn MK,
dan negaranya. Dimana constitutional 1. Menguji undang-undang terhadap
complaint ini benar-benar menjadi Undang-Undang Dasar negara Republik
wadah untuk memenuhi haknya sesuai Indonesia Tahun 1945.
pasal ini. 2. Memutus sengketa kewenangan lembaga
2. Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman negara yang kewenangannya diberikan
terbaru yaitu Undang-Undang Nomor 48 oleh Undang-Undang Dasar 1945.
Tahun 2009, tepatnya pada bagian ketiga 3. Memutus pembubaran partai politik.
undang-undang ini mengatur Mahkamah 4. Memutus perselisihan hasil pemiihan
Konstitusi Pasal 29 ayat (1) bagian e umum.
menyatakan: selain kewenangan lain Adanya wewenang MK mengenai constitutional
yang diberikan dalam UUD, MK bisa complaint sedikit banyaknya akan mengubah
diberikan kewenangan lain yg diberikan tatanan kenegaraan yang ada.
oleh UU. rumusan Pasal ini, terdapat
celah untuk menambah kewenangan Perlu kita ketahui bersama bahwa hakikat
Mahkamah Konstitusi. Makna kata dibbentuknya MK dalam proses amandemen,
“kewenangan lain yang diberikan oleh yaitu pembentukan MK adalah sebagai lembaga
UndangUndang” seperti mengisyaratkan judicial review UUD 1945. Hakikat ini sebenarnya
UndangUndang dapat menambah harus dijaga sedemikian rupa sehingga kinerja
kewenangan dari Mahkamah Konstitusi MK menjadi baik.
jika diperlukan. Sehingga pemberian
wewenang mengadili constitutional Hakikat ini penting untuk menjaga Marwah dan
complaint dan constitutional question independensi dari lembaga Mahkamah Konstitusi
kepada Mahkamah Konstitusi tidak sendiri. Dalam menjaga marwah ini tentunya
kinerjanya harus dijaga. Adanya constitutional
mesti lewat perubahan Undang-
complain membuat tugas MK semakin menumpk
Undang Dasar Negara Republik
Data berapa perkara yg masuk dan berapa yg
Indonesia 1945. Hal itu cukup diputus
dilakukan melalui revisi undang-
undang Mahkamah Konstitusi, Menurut Carl J Friedich dalam buku beliau,
dengan memasukkan pengaturan “Constitutional Government and Democracy”,
eksplisit soal itu, sehingga kewajiban konstitusionalisme mengandung gagasan bahwa
negara untuk melindungi hak asasi pemerintah yang di selenggarakan oleh dan atas
warga negaranya dapat diwujudkan. nama rakyat dikenakan beberapa pembatasan
Jika berkaca dari hal ini, yang dilakukan oleh yang di harapkan akan menjamin bahwasanya
Mahkamah Konstitusi ada kemungkinan di kekuasaan yang di selenggarakan tidak di salah
kemudian hari pengujian undang-undang gunakan oleh mereka yang mendapat tugas
Mahkamah Konstitusi mengenai kewenangan untuk memerintah. Kekuasaan dibutuhkan
Judicial review dapat di perluas ke ranah oleh negara karena member kekuatan vital bagi
Constitutional Complaint. penyelanggara pemerintah namun harus di
waspadai tatkala kekuasaan itu terakumulasi di
Menurut Jimly Asshiddiqie (2008:12) salah tangan penguasa tanpa di batasi konstitusi.
satu kewenangan Mahkamah Konstitusi RI
yang ditentukan oleh UUD 1945 yaitu Marwah dan indepenndensi MK
pengujian konstitusional undang-undang
dengan UUD 1945 (judicial review atau juga
sering disebut constitutional review) yang
pada dasarnya merupakan praktik dari ajaran
konstitusionalisme. Salah satu jaminan
constitutional review adalah Untuk
melindungi setiap individu warga negara dari
penyalahgunaan kekuasaan oleh warga
negara yang merugikan hak-hak fundamental
mereka yang dijamin dalam konstitusi. Di sini
dapat dilihat bahwa konsep constitutional
complaint sangat erat kaitannya dengan
prinsip konstitusionalisme, karena
merupakan salah satu jalan bagi individu
warga negara untuk memperjuangkan hak-
hak konstitusionalnya yang telah dilanggar
oleh pemerintah atau organ negara lainnya,
dalam hal ini pelanggaran tersebut tidak
terbatas pada rumusan undang-undang
seperti pada constitutional review, namun
lebih luas ke dalam tahapan kebijakan atau
keputusan lain-lain dari organ-organ negara.
Prinsipnya, segala bentuk kerugian atau
pelanggaran atas hakhak konstitusional
warga negara dapat dilakukan proses
ajudikasi melalui pengadilan untuk
memulihkan hak-hak tersebut.

Ferejohn juga mengemukakan bahwa


konstitusi melibatkan teori politik, dimana
ada kekuasaan yang kuat dalam kenegaraan
kita, dgn adanya constitutional complaint ini
akan mengendalikan kekuasaan kekuasaan yg
kuat tersebut akinbat kesewenangan
petinggi.

Menurut Jonathan Riley, demokrasi


konstitutonal dimana penyempurnaan
peraturan UU dan sebenarnya mempunyai 2
tahap, yaitu
Tahap higher track dimana disinilah dibentuk
peraturan dengan memperhatikan
kepentingan umum.
Tahap lower track dimana disinilah
ditampung hak berupa kepentingan-
kepentingan yg tersembunyi dalam individu,
makanya kemudian pada tahapan lower track
disinilah dianggap perlu adanya
constitutional complaint yg memungkinkan
untk setiap individu mengadu jika terjadi
pelanggaran individu.

judicial review yg menjadi kewenangan


Mahkamah Konstitusi namun hal ini hanya
terbatas pada produk DPR (Undang-undang)
sehingga tindakan-tindakan (kebijakan) baik
pemerintah (eksekutif), legislatif, atau
yudikatif yang berpotensi merugikan hak
warga yang telah dijamin oleh konstisusi
khususnya hak yang bersifat fundamental
rights belum terlindungi secara baik.

Constitusional Complaint adalah pengajuan


perkara ke MK atas pelanggaran hak
konstitusional yang tidak ada instrumen
hukum atasanya untuk diperkarakan atau
tidak tersedia lagi diatasnya jalur
penyelesaian hukum. Sehingga ini suatu
kemajuan hukum untuk lebih memnghargai
masyrakat dengan memberikan wadah
khusus untuk pengaduan haknya yg tak dapat
lagi diperkarakan di lembaga penegak hukum
lainnya.

Negara Indonesia adalah negara Welfare


State (negara kesejahteraan), sebagaimana
disebutkan dalam Pembukaan UUD 1945
Alinea ke-IV dengan kalimat “memajukan
kesejahateraan umum” membawa
konsekuensi bahwa negara (pemerintah)
harus aktif memberikan perlindungan dan
jaminan kepada warganya. Adapun salah satu
ciri negara Welfare State yaitu adanya
perlindungan konstitusional, dalam arti
bahwa konstitusi selain menjamin hak-hak
individu harus menentukan juga cara
prosedural untuk memperoleh perlindungan
atas yang dijamin itu