Anda di halaman 1dari 2

LEGAL STANDING WNA DALAM PENGUJIAN UU

PRO KONTRA
Bagi Pihak-pihak yang mersa dirugikan Pengujian undang-undang terhadap UUD
dengan sebuah undang-undang, maka ia dapat merupakan salah satu mekanisme kontrol
mengajukan permohonan pengujian undang- terhadap produk legislatif yang tidak bisa
undang ke Mahkamah Konstitusi. Namun datang atas inisiatif Mahkamah Konstitusi
tidak semua orang dapat mengajukan (MK), tetapi harus ada pihak yang mengajukan
permohonan ke MK, hanya pihak-pihak yg permohonan. UU No. 24 Tahun 2003 jo UU
dinyatakan memiliki kedudukan hukum atau No. 8 Tahun 2011 (UU MK) dalam ketentuan
legal standing sebagaimana yg tercantum dlm Pasal 51 ayat (1) menyatakan pemohon adalah
pasal 51 ayat (1) UU nmor 24 tahun 2003 pihak yang menganggap hak dan/atau
tentang MK, dimana subjek hukum perorangan kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh
yg dapat mengajukan judicial review adalah berlakunya undang-undang, yang kemudian
WNI. terdapat limitasi pada Pasal 51 ayat (1) huruf a
Yg kemudian menjadi perbincangan menarik UU MK yang menyebut perorangan WNI.
kita kali ini adalah posisi WNA dalam Legal Ketentuan pasal tersebut mengindikasikan
Standing Judicial Review, seperti Permohonan bahwa WNA dalam hal ini tidak bisa menjadi
pengujian terhadap UU Narkotika diajukan pemohon dalam PUU.
juga oleh Scott Anthony Rush, warganegara
Australia yang sedang menjalani hukuman Pembatasan ini bertentangan dengan pasal
terkait perkara Narkotika di Lembaga tentang HAM, yaitu Pasal 28D ayat (1) UUD
Permasyarakatan Kerobokan, Jalan 1945 yang mengatur bahwa setiap orang
Tangkuban Perahu, Denpasar. Jika berhak atas pengakuan, jaminan,
dihubungkan dengan ketentuan mengenai legal perlindungan, dan kepastian hukum yang adil
standing yang tercantum serta perlakuan yang sama dihadapan hukum
dalam Pasal 51 ayat (1), warga negara asing (equality before the law). Padahal, equality
tidak mempunyai legal standing untuk before the law merupakan HAM yang
berperkara di Mahkamah Konstitusi karena 2 berkategori non- derogable right. Oleh karena
orang Pemohon perkara nomor 2/PUU- itu, timbul rumusan permasalahan:
IV/2006 dan Pemohon perkara nomor 3/PUU-
IV/2006 adalah warga negara Australia. 1. Bagaimanakah pertimbangan MK dalam
membuat keputusan legal standing pemohon
Tetapi Dilain sisi, Dengan diratifikasinya yang berstatus WNA dalam pengajuan
Kovenan Internasional tentang hak-hak sipil pengujian suatu undang-undang?
dan politik {International Covenant on Civil
and Political Right (lCCPR) telah memberikan 2. Bagaimanakah perbandingan praktik
kewajiban bagi Negara Indonesia untuk judicial review di Indonesia dan di beberapa
melindungi siapapun yang berada di Negara lain terkait dengan pemohon bukan
wilayahnya. Khususnya untuk bidang warga negaranya?
persamaan kedudukan dihadapan hukum,
diatur dalam Pasal 16 dan 26 ICCPR. ini 3. Apakah Pasal 51 ayat (1) UU MK telah
berarti bahwa Indonesia diwajibkan oleh UUD sesuai dengan konsep perlindungan HAM
1945 untuk memberikan perlindungan atas dalam Negara Hukum yang juga dijamin di
persamaan kedudukan di dalam hukum pada dalam UUD 1945?
setiap orang tanpa membedakan bahwa pengujian suatu undang-undang
kewarganegaraan orang tersebut. diajukan oleh seorang atau lebih WNA secara
yuridis formal mereka tidak diperkenankan
Seorang asing berhak atas perlindungan yang mengajukan pengujian tersebut. Hal ini
sama berdasarkan undang-undang negara dilandaskan karena pemohon judicial review
tempat ia berada dan berhak pula atas hak-hak hanya diperkenankan untuk perorangan WNI,
tertentu untuk memberikan kemungkinan walaupun WNA tersebut memiliki alasan hak
kepadanya hidup secara layak, seperti diatur konstitusionalnya dilanggar dan undang-
pada pasal 9 Konvensi Montevideo Tahun undang yang ada dianggap bertentangan atau
1933, yang menyatakan : “Nationals and tidak sesuai dengan UUD 1945, namun mereka
foreigners are under the same protection of dalam pemeriksaan formil tidak dapat
law and the national authorities and the dijadikan pemohon. Sehingga, pemeriksaan
foreigners may not claim right other or more materiil pun tidak bisa di periksa oleh
than those of nationals” (Warga negara dan Mahakamah Konstitusi. Perlu diketahui
orang asing berada di bawah perlindungan bersama bahwa hak konstitusional yang
hukum yang sama dan otoritas nasional dan bersumber dari UUD 1945 tidak hanya
orang asing tidak boleh mengklaim hak selain dimiliki oleh WNI tetapi juga WNA. Oleh
atau lebih dari warga negara) karena itu, constitusional loss juga dapat
dialami oleh WNA. Selain itu, menunjuk pada
Hak konstitusional yang bersumber dari UUD 1945 praktik Internasional bahwa konstitusi dan
tidak hanya dimiliki oleh Warga Negara Indonesia praktik peradilan negara-negara lain tidak
tetapi juga Warga Negara Asing. Dan dengan
sendirinya constitusional loss juga dapat dialami oleh
menutup akses pengujian konstitusionalitas
warga Negara asing. Dengan demikian, pembatasan undang-undang yang menyangkut HAM yang
terhadap warga Negara asing dalam mengajukan secara universal diakui dan dilindungi,
permohonan pengujian materiil terhadap undang- meskipun terbatas pada hak-hak yang menurut
undang yang dilakukan oleh pasal 51 ayat (1) huruf (a) sifatnya tidak menyangkut hubungan warga
UU MK merupakan pelanggaran terhadap Hak Asasi
Manusia yang dijamin dan dilindungi oleh UUD 1945
negara dengan Negara.

BATASAN : Tidak dimungkinkannya WNA


Permohonan pengujian undang-undang menyangkut mempersoalkan suatu undang-undang
HAM sebagaimana yang telah diatur dalam UUD Republik Indonesia tidak berarti bahwa WNA
1945.
tidak memperoleh perlindungan hukum
Adapun soslusi yang kami berikan : menurut prinsip due process of law, maka dari
Merevisi UU Mahkamah Konstitusi yang melimitasi itu kami menawarkan suatu solusi yaitu
permohon judicial review hanya bias diajukan oleh bilamana seseorang dianggap telah dilanggar
perorangan warga Negara Indonesia. Dengan hak nya sebagai warga Negara (asing) maka
demikian, perubahan terhadap pasal 51 ayat (1) UU
No. 24 Tahun 2003 jo UU NO. 8 Tahun 2011 tentang
dapat melakukan banding, hingga kasasi.
Mahkamah Konstitusi, secara sah mempunyai akibat
terhadap penerapannya yang mengakibatakan
diperluasnya legal standing dalam mengajukan
permohonan pengujian undang-undang, sepanjang
yang didalilkan menyangkut Hak Asasi Manusia
sebagai tolak ukur pengujian. Sehingga dengan
perubahan tersebut artinya telah diperluas mencakup
orang asing yang bukan warga Negara.