Anda di halaman 1dari 33

MONITORING DAN EVALUASI PEMBANGUNAN

PERKOTAAN
Tahun Anggaran 2017
3.1.1. Latar Belakang
Dalam Peraturan Menteri Negara PPN/ Kepala Bappenas No. PER.005/M.PPN/10/2007 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional, Kedeputian Evaluasi Kinerja Pembangunan dan
Kedeputian Pengembangan Regional diberi wewenang dan tanggung jawab untuk
melaksanakan evaluasi dan terus berupaya meningkatkan kapasitas dan kualitas pelaksanaan
evaluasinya. Dari prespektif legal formal hal ini didasari oleh UU Nomor 25 Tahun 2004
Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional yang menyatakan bahwa Bappenas
bertanggung jawab untuk melaksanakan evaluasi atas rencana pembangunan yang
disusunnya, baik itu RPJM maupun RKP.
Ketentuan mengenai keharusan melakukan evaluasi pembangunan atas pelaksanaan RKP,
dinyatakan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara
Pengendaliaan dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan. Dalam Pasal 14 dan 15
antara lain menyatakan bahwa kemeneg PPN/ Bappenas melakukan evaluasi pelaksanaan RKP
sebagai dasar bagi penyusunan rancangan RKP periode berikutnya dan pelaksanaan RPJMN
untuk menilai pencapaian pelaksanaan strategi pembangunan.
Tahun 2017 merupakan tahun ketiga pelaksanaan pembangunan perkotaan. Untuk dapat
mencapai seluruh target yang telah ditetapkan dalam RPJMN 2015 – 2019 maka perlu
dilaksanakan kegiatan evaluasi pelaksanaan RKP tahun 2015 untuk melihat sejauhmana
Bappenas melalui Direktorat Perkotaan dan Perdesaan dapat mengkoordinasikan program dan
kegiatan seluruh K/L yang terlibat dalam rangka mengatasi masalah-masalah tersebut.

3.1.2. Tujuan
Adapun tujuan dari kegiatan monitoring dan evaluasi ini adalah:
1. Evaluasi kinerja pencapaian untuk pembangunan perkotaan yang dilaksanakan oleh mitra
K/L berdasarkan RKP tahun 2015, RKP tahun 2016
2. Pemantauan pencapaian untuk pembangunan perkotaan yang dilaksanakan oleh mitra K/L
berdasarkan RKP tahun 2017.
3. Identifikasi permasalahan dan kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan
pembangunan perkotaan dan perdesaan yang dilaksanakan oleh mitra K/L subdirektorat
perkotaan, PPN/Bappenas.
4. Perumusan rekomendasi sebagai masukan kebijakan dan strategi serta program
pembangunan perkotaan ke depan.

3.1.3. Ruang Lingkup


Ruang lingkup dari kegiatan ini adalah sebagai berikut :
1. Mengevaluasi kinerja pencapaian sasaran dan pelaksanaan program pembangunan perkotaaan
yang dilaksanakan oleh mitra K/L berdasarkan RKP tahun 2015, tahun 2016
2. Memantau pencapaian untuk pembangunan perkotaan yang dilaksanakan oleh mitra K/L
berdasarkan RKP tahun 2017.
3. Mengidentifikasi permasalahan dan kendala yang dihadapi khususnya mitra K/L dalam
melaksanakan program pembangunan perkotaaan.
4. Menyusun rekomendasi sebagai bahan masukan untuk penyempurnaan kebijakan bagi
program pembangunan perkotaan ke depan.
3.1.4. Kajian Literatur

Pemantauan merupakan bagian dari kegiatan manajeman pembangunan untuk


mengamati/meninjau kembali/ mempelajari serta mengawasi secara terus-menerus atau berkala
terhadap pelaksanaan program/kegiatan yang sedang berjalan oleh pengelola program/kegiatan
di setiap tingkatan dan pihak-pihak yang terkait lainnya. MF. Castro (2007) menjelaskan
manajemen pembangunan dalam Management Cycle of Government yang merupakan bagian dari
suatu proses yang berkesinambungan dari 4 (empat) proses yaitu: planning, budgeting,
implementing dan monitoring & evaluation (lihat Gambar 1). Pertama, planning (perencanaan)
merupakan suatu proses merumuskan keputusan didasarkan data dan fakta untuk menghasilkan
putusan-putusan yang diharapkan di masa yang akan datang. Kedua, budgeting (penganggaran)
merupakan rencana keuangan periodik yang disusun berdasarkan program/kegiatan yang telah
direncanakan. Ketiga, implementation (pelaksanaan) merupakan tahapan pelaksanaan
program/kegiatan sesuai target perencanaan. Keempat, monitoring & evaluation (pemantauan dan
evaluasi) merupakan tahap pengamatan terhadap capaian dalam pelaksanaan program dan
kegiatan yang sedang dilaksanakan dan yang telah dilaksanakan.

1. Planning

4. Monitoring &
2. budgeting
Evaluation

3.
implementation

Gambar 1 Management Cycle of Government (MF. Castro (lihat Bappenas, 2009: 3)

Berdasarkan PP Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan
Rencana Pembangunan, Pemantauan atau yang sering disebut monitoring diartikan sebagai
kegiatan mengamati perkembangan pelaksanaan rencana pembangunan, mengidentifikasi serta
mengantisipasi permasalahan yang timbul dan/atau akan timbul untuk dapat diambil tindakan
sedini mungkin.
Evaluasi adalah salah satu mata rantai dari siklus perencanaan yang melibatkan empat tahapan
pokok yaitu : (1) formulasi kebijakan, (2) implementasi, (3) evaluasi terhadap implementasi dan
(4) umpan balik terhadap implementasi kebijakan dan evaluasi terhadap kebijakan baru.
Kedudukan evaluasi dalam perencanaan dampat dilihat dari gambar 2.
Plan
Formulasi Kebijakan

Act
Feedback terhadap Do
implementasi kebijakan,
Implementasi
evaluasi terhadap
kebijakan baru

Check
Evaluasi terhadap
implementasi

Gambar 2 Siklus Perencanaan (Bappenas, 2009)

Tujuan evaluasi kinerja program adalah agar dapat diketahui dengan pasti apakah pencapaian
hasil, kemajuan dan kendala yang dijumpai dalam pelaksanaan program dapat dinilai dan dipelajari
untuk perbaikan pelaksanaan program di masa yang akan datang. Pada prinsipnya, untuk
menciptakan proses dan kegiatan perencanaan yang efisien, efektif, transparan dan
berakuntabilitas, perlu dibuat perangkat evaluasi yang dapat diukur melalui penyusunan indikator
dan sasaran kinerja program yang mencakup indikator masukan, indikator keluaran dan indikator
hasil/manfaat.

Tabel 1 Tahapan Evaluasi


Evaluasi Ex-Ante Evaluasi On-Going Evaluasi Ex-Post
- Dilakukan pada tahap - Dilakukan pada tahap - Dilakukan setelah
sebelum ditetapkannya pelaksanaan pelaksanaan rencana
perencanaan - Evaluasi digunakan untuk berakhir.
pembangunan, menentukan tingkat - Evaluasi ini diarahkan untuk
- Evaluasi sering digunakan kemajuan pelaksanaan melihat apakah pencapaian
untuk memilih dan program dibandingkan (keluaran/hasil/dampak)
menentukan skala prioritas dengan rencana yang telah program mampu mengatasi
dari berbagai alternatif dan ditentukan sebelumnya masalah pembangunan
kemungkinan cara yang ingin dipecahkan
mencapai tujuan yang telah
dirumuskan sebelumnya.
Sumber: Bappenas, 2009

Pada dasarnya terdapat tiga kriteria yang berusaha dinilai dalam suatu proses evaluasi,
yaitu:
a. Efisiensi, yaitu terkait dengan seberapa efisien penggunaan sumber daya dalam memproduksi
keluaran(output) program yang ditargetkan.
b. Efektivitas, yaitu kesesuaian hasil dengan ketercapaian tujuan, sasaran dan arahan kebijakan
program.
c. Responsivitas, yaitu menilai apakah hasil suatu kebijakan memuaskan kebutuhan, preferensi
atau nilai-nilai kelompok tertentu. Kepuasan stakeholders ini menjadi salah satu dasar asumsi
untuk menilai dampak yang dirasakan stakeholders atas suatu program, dalam pengertian
apakah dampak yang dirasakan itu positif atau tidak.
Kegiatan perencanaan pembangunan pemerintah merupakan bagian-bagian dari fungsi manajemen,
yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain yang dapat dijadikan tolak ukur dalam
menilai kinerja pemerintah. Kegiatan pemantauan dan evaluasi perlu dilihat dari seluruh siklus
perencanaan. namun dalam laporan pemantauan dan evaluasi ini fokus kepada tahap implementasi
perencanaan serta evaluasi terhadap implementasi.
3.1.5. Alur Rencana Kerja Pemerintah
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 merupakan RPJMN
tahap ke-3 dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025. Sementara
itu Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2017 menginjak tahun ketiga dari periode pelaksanaan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2015-2019. RPJMN dijabarkan ke dalam
Rencana Kerja Pemerintah (RKP), yang merupakan rencana pembangunan tahunan nasional. RKP
memuat prioritas pembangunan nasional, rancangan kerangka ekonomi makro yang mencakup
gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal, program K/L, lintas
K/L, kewilayahan dan lintas kewilayahan yang didukung dengan kerangka regulasi dan kerangka
pendanaan yang bersifat indikatif.
RPJMN menjadi pedoman penyusunan Rencana Strategis (Renstra) K/L dalam rangka mendukung
pencapaian program prioritas Presiden. Renstra K/L memuat visi, misi, tujuan, arah kebijakan dan
strategi yang memuat program dan kegiatan pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsi K/L.
Renstra K/L dijabarkan ke dalam Rencana Kerja K/L (Renja K/L) yang merupakan rencana
tahunan K/L. Renja K/L disusun dengan berpedoman pada Renstra K/L dan mengacu pada RKP.
Renja K/L memuat kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan langsung
oleh Pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. Renja K/L
kemudian melalui tahapan kesepakatan penganggaran oleh Kementerian Keuangan dengan Dewan
Perwakilan Rakyat (DPR). Melalui Biro Perencanaan K/L terkait kegiatan pemantauan dan evaluasi
dibawah koordinasi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas dilakukan
pencocokan baik dari segi target rencana maupun dari segi penganggaran. Alur Rencana Kerja
Pemerintah dapat dilihat pada gambar 4.

Peraturan Presiden Peraturan Menteri

Pedoman
RPJP
Telaah
2005-2025 DPR Pencapaian Program Prioritas

Dijabarkan Rencana Realisasi


Direvisi
RPJMN Renstra K/L RKP 2015 RKP 2015
Fisik Fisik LAPORAN
2015-2019 2015-2019 Anggaran Anggaran PEMANTAUAN DAN EVALUASI
RKA-K/L PENYELENGGARAAN
DIPA PENATAAN RUANG, REFORMA
Dijabarkan AGRARIA DAN INFORMASI
2015 dan 2016 GEOSPASIAL DALAM
RKP 2015 Renja K/L RKP 2016 RKP 2016 RKP 2016 DAN 2016
Fisik Fisik
RKP 2016 2015 dan 2016 Anggaran Anggaran
Direvisi

Kementerian Kementerian/ Kementerian Kementerian Kementerian


PPN/BAPPENAS Lembaga Keuangan PPN/BAPPENAS PPN/BAPPENAS

Gambar 4 Alur Rencana Kerja Pemerintah

3.1.6. Arah Kebijakan Bidang Pembangunan Perkotaan


Dalam kegiatan ini yang akan dilakukan evaluasi dan pemantauan adalah pelaksanaan pada program
dan kegiatan yang telah dilakukan pada tahun 2015 – 2016 dan kegiatan yang sedang berjalan pada
tahun 2017. Program adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang
dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh
alokasi anggaran, atau kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintahan.
Arah kebijakan pembangunan perkotaan dalam RPJMN 2015 – 2019 yaitu memperkuat keterkaitan
kota – desa serta membangun kota berkelanjutan dan berdaya saing berdasarkan karakter fisik,
potensi ekonomi dan budaya lokal, melalui:
1. Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional (SPN);
2. Perwujudan Kota Layak Huni yang Aman dan Nyaman, melalui Pemenuhan Standar Pelayanan
Perkotaan (SPP) yang mudah diakses bagi seluruh kalangan masyarakat kota, termasuk
kelompok lansia, disabel, wanita, anak;
3. Perwujudan kota hijau yang berketahanan iklim dan bencana;
4. Pengembangan Kota Cerdas dan daya saing kota;
5. Peningkatan kapasitas tata kelola pembangunan perkotaan.
Untuk menjawab isu-isu strategis bidang perkotaan telah ditetapkan 4 (empat) sasaran pembangunan
perkotaan yang dirinci dalam Buku RKP Tahun 2015, Tahun 2016, Tahun 2017 yang diuraikan sebagai
berikut:
1. Perwujudan Sistem Perkotaan Nasional (SPN). Perwujudan SPN diharapkan dapat
meningkatkan pemerataan pembangunan kota-kota sesuai tipologi, fungsi dan perannya.
2. Percepatan Pemenuhan Standar Pelayanan Perkotaan (SPP). Dalam rangka memenuhi target
penyelesaian Standar Pelyanan Minimum (SPM) pada tahun 2019, sesuai dengan arahan RPJPN
2015-2019.
3. Perwujudan Kota Berkelanjutan. Mewujudkan kota berkelanjutan yang daya saing untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
4. Peningkatan Kapasitas Tata Kelola Pembangunan Perkotaan. Mereformasi tata kelola agar
tercapai peningkatan efektivitas dan efisiensi kinerja Pemerintah dan Pemerintah Daerah.
3.1.7. Evaluasi RKP
Dalam melakukan penyusunan RPJMN 2015 -2019, Bidang Pembangunan Perkotaan masih
menggunakan seluruh mitra kerja K/L yang sama seperti dengan RPJMN sebelumnya. Dalam
perjalanan pelaksanaannya, terdapat perubahan nomenklatur dan struktur organisasi Kementerian
Lembaga yang menyebabkan terdapat beberapa perubahan K/L pelaksana untuk bidang
pembangunan perkotaan. Selain itu, terdapat beberapa penyesuaian pelaksana yang mulai
disesuaikan pada dokumen RKP 2016.
Evaluasi Bidang Perkotaan dilakukan terhadap capaian pelaksanaan RKP Bidang Perkotaan Tahun 2015
dan Tahun 2016, yang mana berperan penting sebagai bahan masukan dalam penentuan kebijakan
maupun intervensi kedepannya. Proses awal yang dilakukan dalam evaluasi adalah penelahaan RKP
2015 dan RKP 2017, yang bertujuan untuk mengidentifikasi program-program bidang Perkotaan
sekaligus K/L yang bertanggung jawab terhadap program tersebut. Tahapan kedua adalah melakukan
inventarisasi data realisasi fisik dan anggaran disetiap K/L. Tahapan ketiga adalah melakukan survei
lapangan untuk melakukan konfirmasi data yang telah diterima dengan melakukan sampling di 2 mitra
kerja terkait, Tahap terakhir adalah penilaian kinerja tiap K/L serta penjabaran masalah yang dihadapi
tiap K/L dalam pelaksanaan program.
Tabel 2 Kementerian/Lembaga yang di Evaluasi
K/L DETAIL

a. Direktorat Pengembangan Kawasan Permukiman, Ditjen Cipta Karya


Kementerian PUPR b. Direktorat Bina Penataan Bangunan, Ditjen Cipta Karya
c. Pusat Pengembangan Perkotaan, Badan Pengembangan Infrastruktur
Wilayah
Kemendagri a. Sub Direktorat Perkotaan, Ditjen Administrasi Wilayah
b. Direktorat Fasilitasi Kelembagaan dan Kepegawaian Perangkat daerah
Kementerian a. Direktorat Penataan Kawasan, Ditjen Tata Ruang
ATR/BPN b. Direktorat Perencanaan Tata Ruang, Ditjen Tata Ruang

Sumber: Hasil telaah RKP 2015 dan RKP 2016

Pendekatan analisis yang digunakan dalam evaluasi program/kegiatan bidang Perkotaan adalah
pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif dilakukan untuk menilai kinerja dari setiap
indikator program/kegiatan maupun kinerja K/L terhadap pelaksanaan pembangunan bidang
perkotaan. Penilaian kinerja tersebut dilakukan dengan analisis kesenjangan atau gap analysis, yang
mana melihat persentase realisasi penyerapan anggaran dan capaian fisik terhadap target yang telah
ditetapkan. Persentase tersebut kemudian diklasifikasikan lebih lanjut untuk mendapatkan empat jenis
kinerja. Untuk penilaian terhadap kinerja indikator digunakan persentase realisasi tiap indikator,
sedangkan penilaian terhadap kinerja K/L digunakan persentase realisasi rata-rata K/L tersebut. Detail
pengklasifikasian kinerja dijelaskan pada Tabel 2
Tabel 2 Klasifikasi Kinerja

CAPAIAN
KINERJA
ANGGARAN FISIK
Rendah Rendah Cenderung Bermasalah
Tinggi Rendah Kurang Efisien
Rendah Tinggi Cenderung Efisien
Tinggi Tinggi Baik
*Keterangan: Tinggi bila capaian ≥ 90% ; Rendah bila capaian < 90%

A. Kementerian Dalam Negeri


A.1 Evaluasi RKP Kementerian Dalam Negeri
Dalam RPJMN 2015 – 2019, pembangunan perkotaan di Kementerian Dalam Negeri dilaksanakan oleh
Direktorat Perkotaan, Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah sesuai dengan nomenklatur pada
Kementerian Dalam Negeri sebelumnya. Seiring dengan perubahan Struktur Organisasi dan Tata
Laksana Kementerian/Lembaga di era Kabinet Kerja, pada pertengahan tahun 2015 terjadi perubahan
pelaksana pembangunan perkotaan sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 43 tahun
2015 tentang Organisasi Tata Laksana Kementerian Dalam Negeri, yang terbagi ke dalam 2 (dua)
Direktorat Jenderal yaitu:
a. Sub Direktorat Perkotaan, Direktorat Kawasan, Perkotaan dan Batas Negara Direktorat
Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan
b. Direktorat Fasilitasi Kelembagaan dan Kepegawaian Perangkat daerah, Direktorat Jenderal
Otonomi Daerah.
Dalam proses perubahan pelaksana kegiatan, Tahun 2015 dan Tahun 2016 kegiatan pembangunan
perkotaan belum dapat dilakukan secara efektif, hal ini dikarenakan perubahan nomor mata anggaran
serta diperlukan transfer knowledge terkait dengan output sebelumnya maupun terkait dengan
substansi pekerjaan yang dilakukan oleh pelaksana terdahulu. Adapun permasalahan yang terjadi
sepanjang tahun 2015 dan tahun 2016 dapat dijabarkan sebagai berikut:
a. Sub Direktorat Perkotaan, Direktorat Kawasan, Perkotaan dan Batas Negara Direktorat
Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan
1. Indikator RPP Perkotaan pada tahun 2015 masih dilaksanakan oleh ditjen bangda UPD 4,
namun tidak terlaksana dikarenakan ketidaksesuian tupoksi ditjen bangda untuk melaksanakan
kegiatan penyusunan RPP Perkotaan, dan pada tahun 2016 ditjen Adwil melakukan FGD series
untuk membahas outline RPP perkotaan berdasarkan draft RPP Oktober 2014 dengan
beberapa perubahan substansi yang disesuaikan dengan tupoksi Ditjen Adwil.
2. Indikator Jumlah Kota yang Terfasilitasi dalam Penyediaan Peta Perkotaan dan Kawasan
Perkotaan yang Terpadu skala 1:1000 tidak dapat dilaksanakan oleh ditjen adwil dikarenakan
tidak sesuai tupoksi dan kewenangan. Oleh karena itu, indikator tersebut di hilangkan pada
tahun 2016 dengan pertimbangan BIG sebagai badan yang memiliki kewenangan untuk
menyediakan peta, belum memiliki kapasitas untuk melakukan pemetaan 1:5000. Perubahan
indikator ini telah dicantumkan dalam Laporan Evaluasi Tengah Tahun RPJMN 2015 – 2019
yang diselenggarakan oleh Deputi Evaluasi Bappenas.
3. Keseluruhan indikator yang dilakukan oleh Ditjen Adwil yang terkait dengan standar pelayanan
perkotaan dan kelembagaan perkotaan masih bersifat sosialisasi dan identifikasi terhadap
persepsi pemerintah daerah untuk standar pelayanan perkotaan dan bentuk kelembagaan
perkotaan metropolitan. Kedua nomenklatur tersebut belum dapat dilakukan penerapan model
kelembagaan dan SPP karena masih harus menunggu peraturan menteri tentang SPP dan
Kelembagaan selesai dikerjakan.
b. Direktorat Fasilitasi Kelembagaan dan Kepegawaian Perangkat daerah, Direktorat Jenderal
Otonomi Daerah
1. Seluruh kegiatan di ditjen otda efektif dilakukan pada tahun 2016 dikarenakan pada tahun 2015
masih menyesuaikan indikator perkotaan dengan tupoksi direktorat Fasilitasi Kelembagaan dan
Kepegawaian Perangkat daerah
2. Indikator Jumlah Provinsi/Kabupaten/Kota yang Terfasilitasi dalam Peningkatan kapasitas
kelembagaan perkotaan belum dilakukan secara efektif dikarenakan sampai tahun 2016 masih
menunggu permen tentang kelembagaan perkotaan jelas.
3. Jumlah Kota yang Terfasilitasi dalam Peningkatan kapasitas pemerintah kota melalui City
Branding dilakukan melalui kerjasama dengan mark plus untuk membuat modul city branding
sebagai dasar memberikan peningkatan kapasitas pemerintah kota untuk melakukan city
branding
4. Jumlah Pemimpin Daerah Kab/Kota yang Terfasilitasi dalam Peningkatan Kapasitas
Pembangunan kota dan perkotaan yang Visioner dan inovatif pada tahun 2016 masih
melakukan identifikasi materi dan permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah kota
Berdasarkan hasil evaluasi, secara keseluruhan Kementerian Dalam Negeri pada tahun
2015 telah melakukan realisasi target sebesar 68,3 % dan realiasi anggaran sebesar 54%.
Realisasi tersebut rendah dan oleh sebab itu, kinerja bidang tata ruang di Kementerian
Dalam Negeri adalah cenderung bermasalah. Dan pada tahun 2016 telah melakukan
realisasi target sebesar 53 % dan realiasi anggaran sebesar 82.5%. Realisasi tersebut
rendah dan oleh sebab itu, kinerja bidang tata ruang di Kementerian Dalam Negeri adalah
cenderung bermasalah.
Detail realisasi fisik dan anggaran untuk Bidang Perkotaan Kementerian Dalam Negeri
dapat dilihat pada Tabel 3
Tabel 3 Capaian Pelaksanaan Kegiatan Prioritas RKP Tahun 2015 Bidang Perkotaan Kementerian Dalam Negeri
REALISASI
PROGRAM/KEGIATAN INDIKATOR TARGET ANGGARAN FISIK ANGGARAN
JUMLAH % JUMLAH %
PROGRAM BINA ADMINISTRASI KEWILAYAHAN
PEMBINAAN DAN Jumlah Peraturan Perundangan dan 1 PP, 4 1.685.000.000 0 0 0 0
PENGEMBANGAN Kebijakan yang Terkait dengan Permendagri
KAWASAN, Pengelolaan Perkotaan Berkelanjutan
PERKOTAAN, DAN
Jumlah Daerah yang terfasilitasi sesuai Fasilitasi untuk 500.000.000 Fasilitasi 100 490.000.000 98
BATAS NEGARA
Sistem Pengendalian Pengelolaan 100 kab/kota untuk 100
Pemenuhan Standar Pelayanan kab/kota
Perkotaan untuk perwujudan Kota
Berkelanjutan
Jumlah Kawasan Perkotaan Metropolitan 2 metropolitan 1.000.000.000 Fasilitasi 100 1.000.000.000 100
yang terfasilitasi dalam Pembentukan untuk 2
mekanisme dan lembaga kerjasama Kawasan
Perkotaan
Metropolitan
Jumlah Kota yang Terfasilitasi dalam 0 0 0 0 0 0
Penyediaan Peta Perkotaan dan Kawasan
Perkotaan yang Terpadu skala 1:1000
Jumlah Kota yang Terfasilitasi melalui 2 kawasan 500.000.000 Fasilitasi 100 500.000.000 100
Pemantapan Teknis Updating Basis Data perkotaan, 3 kota untuk 2
Informasi sedang Kawasan
Perkotaan
Metropolitan,
3 Kota Sedang
Jumlah Pelaksanaan Evaluasi Penataan 4 Dokumen 1.000.000.000 4 Dokumen 50 500.000.000 50
Perkotaan
Jumlah Daerah yang Terfasilitasi dalam 10 Kab/Kota 500.000.000 Fasilitasi 60 300.000.000 60
Kerjasama Pembangunan Antar Kota dan untuk 10
Antara Kota-Kabupaten baik dalam Kab/Kota
Negeri dan Luar Negeri (Sister City)
PROGRAM BINA OTONOMI DAERAH
FASILITASI Jumlah Provinsi/Kabupaten/Kota yang 2 Prov, 2 Kab, 2 0 0 0 0 0
KELEMBAGAAB DAN Terfasilitasi dalam Peningkatan kapasitas Kota
KEPEGAWAIAN kelembagaan perkotaan
PERANGKAT DAERAH
Jumlah Kota yang Terfasilitasi dalam 3 Kota Sedang 0 0 0 0 0
Peningkatan kapasitas pemerintah kota
melalui City Branding
Jumlah Pemimpin Daerah Kab/Kota yang 507 Kab/Kota 0 0 0 0 0
Terfasilitasi dalam Peningkatan Kapasitas
Pembangunan kota dan perkotaan yang
Visioner dan Inovatif
TOTAL / PERSENTASE 5.185.000.000 68,3 2.790.000.000 54
Tabel 4 Capaian Pelaksanaan Kegiatan Prioritas RKP Tahun 2016 Bidang Perkotaan Kementerian Dalam Negeri
REALISASI
PROGRAM/KEGIATAN INDIKATOR TARGET ANGGARAN FISIK ANGGARAN
JUMLAH % JUMLAH %
PROGRAM BINA ADMINISTRASI KEWILAYAHAN
PEMBINAAN DAN Jumlah Peraturan Perundangan dan 1 PP, 4 1.500.000.000 progres 70% 1.050.000.000 70%
PENGEMBANGAN Kebijakan yang Terkait dengan Permendagri fisik draft
KAWASAN, Pengelolaan Perkotaan Berkelanjutan Peraturan
PERKOTAAN, DAN Pemerintah dan
BATAS NEGARA sedang
dilakukan
pembahasan
oleh Tim PAK
Jumlah Daerah yang terfasilitasi sesuai 100 kab/kota 500.000.000 Fasilitasi 35% 500.000.000 100
Sistem Pengendalian Pengelolaan untuk 35
Pemenuhan Standar Pelayanan kab/kota
Perkotaan untuk perwujudan Kota
Berkelanjutan
Jumlah Kawasan Perkotaan Metropolitan 5 Kawasan 500.000.000 Fasilitasi 60% 500.000.000 100
yang terfasilitasi dalam Pembentukan Perkotaan untuk 3
mekanisme dan lembaga kerjasama Metropolitan Kawasan
Perkotaan
Metropolitan
Jumlah kota otonom dan kota baru 8 kota sedang, 5 220.000.000 3 kota sedang 84.6 176.000.000 80
publik yang terfasilitasi dalam kota baru publik dan 2 kota baru
pembentukan kelembagaan dan publik
perencanaan sarana prasarana
pelayanan dasar sesuai Standar
Pelayanan Perkotaan
Jumlah Kota yang Terfasilitasi dalam 5 Kawasan 0 0 0 0 0
Penyediaan Peta Perkotaan dan Perkotaan
Kawasan Perkotaan yang Terpadu skala Metropolitan, 5
Kota Sedang
1:1000
Jumlah Kota yang Terfasilitasi melalui 5 Kawasan 400.000.000 Fasilitasi 40% 280.000.000 70
Pemantapan Teknis Updating Basis Data Perkotaan untuk 2
Informasi Metropolitan, 5 Kawasan
Kota Sedang
Perkotaan
Metropolitan,
2 Kota Sedang

Jumlah Daerah yang Terfasilitasi dalam 12 Kab/Kota 390.000.000 Fasilitasi 34% 390.000.000 100
Kerjasama Pembangunan Antar Kota untuk 4
dan Antara Kota-Kabupaten baik dalam Kab/Kota
Negeri dan Luar Negeri (Sister City)
PROGRAM BINA OTONOMI DAERAH
FASILITASI Jumlah Provinsi/Kabupaten/Kota yang 10 Prov, 10 Kab, 0 0 0 0 0
KELEMBAGAAN DAN Terfasilitasi dalam Peningkatan kapasitas 10 Kota
KEPEGAWAIAN kelembagaan perkotaan
PERANGKAT DAERAH
Jumlah Pemimpin Daerah Kab/Kota 507 Kab/Kota 0 0 0 0 0
yang Terfasilitasi dalam Peningkatan
Kapasitas Pembangunan kota dan
perkotaan yang Visioner dan Inovatif
Jumlah Kota yang Terfasilitasi dalam 5 Kota Sedang 0 0 0 0 0
Peningkatan kapasitas pemerintah kota
melalui City Branding
TOTAL / PERSENTASE 3.510.000.000 53.93 2.896.000.000 82.50
A.2 Pemantauan Kementerian Dalam Negeri

Kementerian Dalam Negeri pada tahun 2017 melakukan perencanaan berdasarkan dengan
prioritas nasional yang ditetapkan sejak RKP 2016. Pengalokasian anggaran juga didasarkan
kepada Prioritas Nasional (PN). Meskipun alokasi anggaran lebih besar ditujukan kepada kegiatan
non prioritas nasional, namun Kementerian Dalam Negeri berusaha untuk menjaga kegiatan yang
masuk dlaam prioritas nasional untuk tetap memenuhi target dalam pelaksanaan walaupun
anggaran tidak terlalu besar. Dalam pelaksanaan penyusunan RKP 2017, terdapat beberapa
restrukturisasi indicator di Direktorat Jenderal Otonomi Daerah dikarenakan agar nama indikator
menjadi lebih jelas dan dapat diturunkan menjadi kegiatan yang lebih riil dan dapat direlisasikan.
Adapun beberapa indicator yang berubah dapat dilihat pada tabel 5

Tabel 5 Restrukturisasi Indikator Ditjen Otonomi Daerah


Program/Kegiatan Indikator RKP Indikator Definitif Keterangan
Fasilitasi Jumlah Provinsi/Kabupaten/Kota Jumlah Pemimpin Terdapat perubahan
Kelembagaan dan yang Terfasilitasi dalam Daerah perkotaan satuan target yang
Kepegawaian Peningkatan kapasitas yang ditingkatkan awalnya berupa 507
Perangkat Daerah kapasitasnya dalam Kab/Kota dirubah
kelembagaan perkotaan
pengelolaan kota menjadi 250 Pejabat
Jumlah Pemimpin Daerah Daerah di 93 Kota
Kab/Kota yang Terfasilitasi dalam dan/atau Kabupaten
Peningkatan Kapasitas
Pembangunan kota dan
perkotaan yang Visioner dan
Inovatif
Jumlah Kota yang Terfasilitasi Jumlah Kota yang Terdapat restrukturisasi
dalam Peningkatan kapasitas mendapatkan nomenklatur indikator
pemerintah kota melalui City peningkatan kapasitas
pemerintah kota
Branding
melalui pencitraan
kota (City Branding)

Berdasarkan kesepakatan Trilateral Meeting Ditjen Adwil mendapatkan anggaran ±


195.998.552.000 Miliar dengan total anggaran untul perkotaan sebesar ± 5.750.000.000 Miliar.
Sedangkan Program Ditjen otda yang mendapatkan anggaran sebesar ± 131.043.653.000 Miliar,
hanya mendapatkan anggaran sebesar ± 7.500.000.000 Miliar. Perlu diketahui bahwa total
anggaran tersebut diperuntukkan untuk keseluruhan kegiatan operasional dan non-operasional
selama satu tahun anggaran. Ketidak berpihakan Kementerian Dalam Negeri pada Prioritas
Nasional merupakan salah satu pelanggaran hasil kesepakatan Trilateral Meeting dan akan
berdampak pada kualitas realisasi kegiatan PN Perkotaan. Realisasi mitar K/L pembangunan
perkotaan dapat dilihat pada tabel 6

Progrees kegiatan yang telah dilaksanakan oleh ditjen administrasi wilayah dan ditjen otonomi
daerah saat ini lebih baik dari 2 tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan sudah dilaksanakannya
pertemuan koordinasi untuk pelaksanaan kegiatan dan komunikasi dengan mitra kerja
berangsung cukup baik. Realisasi kegiatan yang digunakan untuk emlakukan pemantauan adalah
data dari aplikasi e-monev Bappenas.
Tabel 6 Pemantauan Kementerian Dalam Negeri

PROGRAM/KE SASARAN KEGIATAN INDIKATOR KEGIATAN TARGET 2017 REALISASI ALOKASI KETERANGAN
GIATAN TW III 2017
(%) (JUTA)
Program Bina Administrasi Kewilayahan
Pembinaan Peningkatan pembinaan Jumlah Daerah yang 100 Kab/Kota 45 2.100.000.000
dan kawasan khusus, pertanahan, terfasilitasi sesuai Sistem
Pengembanga perkotaan dan batas negara Pengendalian Pengelolaan
n Kawasan, serta pulau-pulau kecil terluar Pemenuhan SPP untuk
Perkotaan yang dikembangkan perwujudan Kota
dan Batas Berkelanjutan
Negara

Peningkatan pembinaan Jumlah rumusan kebijakan 4 Rumusan kebijakan 45 1.200.000.000  Progress penyusunan RPP perkotaan telah
kawasan khusus, pertanahan, dan produk hukum bidang sampai pada pembahasan di Kementerian
perkotaan dan batas negara perkotaan Hukum dan Ham. Namun sejak bulan
serta pulau-pulau kecil terluar Agustus – Desember dit perkotaan belum
yang dikembangkan terinformasi progress pelaksanaan
 Kegiatan rumusan kebijakan untuk SPP,
batas kawasan perkotaan belum ada
progress yang dilaporkan
meningkatnya SPP terkait Jumlah kota otonom dan 8 Kota Sedang, 5 90 500.000.000
pembentukan kelembagaan dan kota baru publik yang Kota baru publik
perencanaan infrastruktur dasar terfasilitasi dalam
pada kota otonom dan kota pembentukan kelembagaan
baru publik dan perencanaan
infrastruktur dasar sesuai
SPP
meningkatnya kualitas Jumlah daerah yang 14 Kab/Kota 90 550.000.000
kerjasama pembangunan antar terfasilitasi dalam kerjasama
kota/kab baik dalam negeri dan pembangunan antar kota
luar negeri (sister city) dan antar kota/kab baik
dalam negeri dan luar negeri
(sister city)
Jumlah kawasan perkotaan 7 Kawasan Perkotaan 45 500.000.000
Metropolitan yang diperkuat Metropolitan Kota
mekanisme dan
kelembagaan kerjasama

Jumlah kota yang terfasilitasi 7 kawasan perkotaan 30 500.000.000  Kegiatan dilakukan dengan mengadakan
melalui pemantapan Teknis metropolitan, 10 kota FGD untuk membahas bentuk basis data
Updating Basis Data sedang Kota perkotaan
Informasi Perkotaan  Daerah masih memerlukan kebijakan riil

Tersusunnya laporan evaluasi Jumlah pelaksanaan evaluasi 2 Dokumen 40 400.000.000


penataan perkotaan penataan perkotaan

Fasilitasi Meningkatnya citra kota sedang Jumlah Kota yang  Dilakukan dalam bentuk workshop untuk
Kelembagaan sesuai dengan keunggulan mendapatkan peningkatan emalkukan penerapan dari pedoman city
dan daerah/kota kapasitas pemerintah kota branding yang sudah disususn oleh mark
10 Kota Sedang 50 4.500.000.000
Kepegawaian melalui pencitraan kota plus pada tahun anggaran sebelumnya
Perangkat (City Branding)
Daerah

Meningkatnya pemahaman Jumlah Pemimpin Daerah 250 Pejabat Daerah  Dilakukan dalam bentuk FGD, namun belum
pemimpin kota terkait dengan perkotaan yang di 93 Kota dan/atau terlihat substansi yang jelas terkait pelatihan
pengelolaan kebijakan, ditingkatkan kapasitasnya Kabupaten yang 45 3.000.000.000 pemimpin kota ini. Diperlukan penyusunan
kelembagaan dan SDM dalam pengelolaan kota memiliki Kawasan modul untuk indikator terkait
perkotaan Perkotaan
B. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
B.1 Evaluasi RKP Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Proses identifikasi indikator pembangunan perkotaan pada tahun 2015 dan 2016 di Kemen PUPR
cukup sulit, hal ini dikarenakan perbedaan tupoksi yang awalnya ada di ditjen Penataan Ruang
bersifat software, saat ini langsung berada di ditjen teknis seperti Cipta Karya. Adanya
perubahan personil juga menyebabkan kurang efektifnya pembangunan perkotaan di awal tahun
pelaksanaan dikarenakan perlu penyamaan persepsi yang disesuaikan dengan tupoksi setiap
unit eselon 1. Pembangunan perkotaan di Kementerian Pekerjaan umum dan Perumahan Rakyat
dilaksanakan oleh 2 unit eselon 1 yaitu:
a. Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah
b. Direktorat Jenderal Cipta Karya
Indikator pembangunan perkotaan yang dilakukan oleh BPIW melalui Pusat Perkotaan. BPIW
merupakan badan baru yang dibentuk setelah terjadi perombakan SOTK dengan tugas untuk
melakukan penyusunan kebijakan teknis dan strategi keterpaduan antara pengembangan
kawasan dengan infrastruktur pekerjaan umum dan perumahan rakyat. Seluruh indikator pusat
perkotaan yang masuk dalam RPJMN 2015 – 2019 perlu dilakukan penerjemahan, dikarenakan
ketidaksesuaiaan indikator dengan kegiatan yang dilakukan. Dalam nomenklatur yang
dilaksanakan oleh Pusat pengembangan perkotaan ini masih bersama dengan kawasan
perdesaan yang didalam RPJMN menyebutkan 39 pusat pertumbuhan untuk keterkaitan kota
dan desa. Adapun rincian penyandingan indikator Pusat pengembangan perkotaan dapat dilihat
di tabel 7 dan rincian realisasi kegiatan juga dapat dilihat di tabel 5
Tabel 7 Sandingan Indikator RPJMN 2015 – 2019 dan Output Kegiatan
PROGRAM INDIKATOR RPJMN OUTPUT KEGIATAN
2015 - 2019
Pusat Jumlah pedoman teknis perencanaan dan Dihilangkan
Pengembangan pengembangan kawasan perkotaan dan perdesaan
Kawasan dengan pembangunan infrastruktur bidang PUPR
Perkotaan
Jumlah kebijakan teknis dan strategi pengembangan Dihilangkan
kawasan perkotaan dan perdesaan yang terpadu
dengan pembangunan infrastruktur bidang PUPR
untuk

35 WPS
Ketepatan waktu pelaporan evaluasi kebijakan Tidak Sesuai Renstra PUPR
teknis, rencana, dan program keterpaduan
pengembangan
kawasn perkotaan dan perdesaan untuk 35 WPS
Tingkat pengelolaan data informasi pengembangan Pengelolaan Basis data Pusat
kawasan perkotaan dan perdesaan untuk 35 WPS Pengembangan Kawasan Perkotaan

Sumber: Hasil Kunjungan Lapangan, 2017


Terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh BPIW dalam mencapai targetnya dan sebagian
besar terkait dengan penyusunan MPDP, adapun kendala yang dirasakan adalah sebagai berikut:
1. Kendala BPIW Pusat Perkotaan dalam Monitoring dan Evaluasi karena hanya memiliki
Tupoksi perencanaan, pemrograman, dan menterpadukan program. Evaluasi berada di
Pusat 2 yang memantau WPS dan Perkotaan yang bersifat outcome, seharusnya output
dari pusat tersebut juga termasuk monev perencanaan yang dilakukan BPIW Perkotaan.
2. Pembangunan Kota Sedang masih dikerjakan oleh BPIW, namun belum semua
Kementerian belum mengerjakan kota sedang, sehingga perlu Bappenas dalam
menyelesaikan kegiatan ini.
3. Pemantauan dan evaluasi dilakukan berdasarkan kasus tertentu karena tidak ada Tupoksi
dalam BPIW Perkotaan untuk melakukan monitoring dan evaluasi.
4. BPIW Perkotaan sedang membuat database perkotaan yang berisi profil lokus yang sudah
memiliki MPDP yang disatukan dengan GIS
Selain itu terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh Ditjen Cipta Karya adalah sebagai
berikut:
1. Pagu Ditjen Cipta Karya sebesar Rp 16,328 T tidak dapat memenuhi kebutuhan
pembangunan bidang Cipta Karya seperti pembangunan prasarana dan sarana Asian
Games XVIII dan kegiatan yang bersifat arahan presiden dan arahan menteri tanpa
memiliki dokumen pendukung sebagai dasar pengalokasian anggaran yang cukup besar
2. Prioritas pelaksanaan kegiataan sebagian besar tidak sesuai dengan tugas fungsi pokok
Ditjen Ciptakarya seperti: Revitalisasi Pasar Johar Semarang, Revitralisasi Simpanglima
Dan Pembangunan Universitas Uiii
3. Lokasi pelaksanaan kegiatan untuk seluruh kegiatan pembangunan perkotaan, tidak
mengikuti arahan lokasi prioritas dalam lokasi prioritas RPJMN 2015 – 2019. Lokasi yang
dilaksanakan oleh Ditjen Cipta Karya berada di Kab/Kota dengan detail sebagai berikut:
Penataan Bangunan Kebun Raya 9 DED kebun raya, (2) Penataan RTH Pengawasan
Teknik dan Supervisi, (3) Penataan RTH Kawasan UGM Kab. Sleman, (4) Penataan RTH
Kota Bogor, (5) review perencanaan (DED) ruang terbuka hijau kawasan kali ngrowo di
kecamatan tulungagung, (6) DED Kawasan Pantai Pulau Datok
4. Kegiatan Revitalisasi dan Pengembangan Kawasan Tematik Perkotaan banyak melakukan
di lokasi kebun raya. Revitalisasi ini, merupakan salah satu arahan presiden bersamaan
dengan revitaslisasi istana presiden di Bogor. Adapun detail lokasi sebagai berikut: (1)
Optimalisasi RTH Kawasan UGM Sleman Penataan Ruang Terbuka Pendukung Kebun
Raya Purwodadi , (2) Penataan Ruang Terbuka Pendukung Kebun Raya Cibodas, (3)
Penataan Ruang Terbuka Pendukung Kebun Raya Kuningan, (4) Penataan Ruang
Terbuka Pendukung Kebun Raya Liwa, (5) Pengawasan Optimalisasi RTH Kawasan UGM
Sleman, (6) Penataan Ruang Terbuka Pendukung Kebun Raya Eka Karya Bali, (7)
Penataan Ruang Terbuka Pendukung Kebun Raya Balikpapan, (8) Penataan RTH Kota
Depok
5. Pada Tahun 2016, Ditjen Cipta Karya memfasilitasi percontohan penyediaan sarana dan
prasarana infrastruktur pada ruang terbuka publik yang sudah ada, guna mendukung
terselenggaranya kegiatan menonton bersama film bertema revolusi mental atau
kegiatan-kegiatan yang lain yang dapat menjadi penggerak perubahan sikap/mental
masyarakat ke arah yang lebih baik (integritas, kerja keras, dan gotong royong). Kegiatan
ini dilakukan melalui kolaborasi Kementerian Kominfo, Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan pengunjung, dan Kementerian Koordinator,
Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan
Detail realisasi fisik dan anggaran untuk Program BPIW dan CK Kementerian Pekerjaan Umum
dan Perumahan Rakyat dapat dilihat pada Tabel 8.
Berdasarkan hasil evaluasi, secara keseluruhan Kementerian Dalam Negeri pada tahun 2015 telah
melakukan realisasi target sebesar 68,3 % dan realiasi anggaran sebesar 54%. Realisasi tersebut
rendah dan oleh sebab itu, kinerja bidang tata ruang di Kementerian Dalam Negeri adalah
cenderung bermasalah. Dan pada tahun 2016 telah melakukan realisasi target sebesar 53 %
dan realiasi anggaran sebesar 82.5%. Realisasi tersebut rendah dan oleh sebab itu, kinerja bidang
tata ruang di Kementerian Dalam Negeri adalah cenderung bermasalah.
Tabel 8 Capaian Pelaksanaan Kegiatan Prioritas RKP Tahun 2015 Bidang Perkotaan Kementerian Pekerjaan Umum
dan Perumahan Rakyat
REALISASI
PROGRAM/KEGIATAN INDIKATOR TARGET ANGGARAN FISIK ANGGARAN

JUMLAH % JUMLAH %

Program Pengembangan Infrastruktur Wilayah


Pengembangan Kawasan Tingkat pengelolaan data informasi - 1.900.000.000 - 100 1.784.690.000 94
Perkotaan pengembangan kawasan perkotaan
dan perdesaan untuk 35 WPS
Jumlah rencana keterpaduan - 64.300.200.000 - 93.7 59.507.466.000 89
pengembangan kawasan perkotaan
dan perdesaan dengan pembangunan
infrastruktur bidang PUPR untuk 35
WPS
Tingkat pemantauan dan evaluasi - 39.400.000.000 - 100 35.494.360.000 89.4
kebijakan teknis, rencana dan
program keterpaduan pengembangan
kawasan perkotaan dan perdesaan
untuk 35 WPS
Jumlah perkotaan dan perdesaan - 3.750.000.000 - 66.6 3.551.564.000 95
yang difasilitasi peningkatan
keterpaduan fungsinya

Program Pembinaan Dan Pengembangan Infrastruktur Permukiman

Pembinaan dan Jumlah kota, kawasan perkotaan 5 kota, 4 kawasan 9.420.440.000 Pendampingan 100 7.493.951.000 79.54
Pengembangan metropolitan dan kota/kawasan perkotaan Kota Hijau
Penataan Bangunan dan perkotaan terfasilitasi Kota Hijau metropolitan, 168 3 penataan
Lingkungan kawasan 2 ded
perkotaan
Tersedianya ruang terbuka publik 300 Kecamatan Pelaksanaan di Pelaksanaan di Pelaksanaan Pelaksanaan di Pelaksanaan
beserta layar videotron atau layar satker daerah satker daerah di satker satker daerah di satker
tancap di 1200 kecamatan daerah daerah
Program Pembinaan Dan Pengembangan Infrastruktur Permukiman
Pembinaan dan 0 0 0 0 0 0
Pengembangan Kawasan Perintisan Inkubasi Kota Baru
Permukiman Perencanaan Pembangunan
Infrastruktur Permukiman Kota Baru
Manado, Palembang, Makassar
Jumlah kota, kawasan perkotaan 5 kota, 4 kawasan 1.698.170.000 1 dokumen 100 1.698.170.000 100
metropolitan dan kota/kawasan perkotaan masukan teknis
perkotaan terfasilitasi pemenuhan metropolitan, 168
Standar Pelayanan Perkotaan dan kawasan
pengembangan Kota Layak Huni perkotaan
TOTAL 120.468.810.000 93 109.530.201.000 90.92
Tabel 9 Capaian Pelaksanaan Kegiatan Prioritas RKP Tahun 2016 Bidang Perkotaan Kementerian Pekerjaan Umum
dan Perumahan Rakyat
REALISASI
PROGRAM/KEGIATAN INDIKATOR TARGET ANGGARAN FISIK ANGGARAN

JUMLAH % JUMLAH %

Program Pengembangan Infrastruktur Wilayah

Pengembangan Kawasan Tingkat pengelolaan data informasi 1.900.000.000 100 1.697.918.000 89.3
Perkotaan pengembangan kawasan perkotaan
dan perdesaan untuk 35 WPS
Jumlah rencana keterpaduan 53.067.000.000 100 47.010.170.000 88.58
pengembangan kawasan perkotaan
dan perdesaan dengan
pembangunan infrastruktur bidang
PUPR untuk 35 WPS
Tingkat pemantauan dan evaluasi 4.800.000.000 100 4.800.000.000 100
kebijakan teknis, rencana dan
program keterpaduan
pengembangan kawasan perkotaan
dan perdesaan untuk 35 WPS
Jumlah perkotaan dan perdesaan 4.200.000.000 100 3.145.000.000 74.8
yang difasilitasi peningkatan
keterpaduan fungsinya

Program Pembinaan Dan Pengembangan Infrastruktur Permukiman

Pembinaan dan Jumlah kota, kawasan perkotaan 5 kota, 4 kawasan 77.666.084 Penataan RTH di 77.341.347
Pengembangan metropolitan dan kota/kawasan perkotaan 3 lokasi
Penataan Bangunan dan perkotaan terfasilitasi Kota Hijau metropolitan, 168
Lingkungan kawasan
perkotaan
Tersedianya ruang terbuka publik 300 Kecamatan Tidak ada data, Fisik : 7 lokasi 2.400.000.000
beserta layar videotron atau layar ada di satker DED: 9 lokasi
tancap di 1200 kecamatan daerah
Program Pembinaan Dan Pengembangan Infrastruktur Permukiman
Pembinaan dan Perintisan Inkubasi Kota Baru 4.707.820.000 1 dokumen 96.69 3.524.630.000 96.69
Pengembangan Kawasan DED 2 kota :
Permukiman Tanjung Selor
dan Pontianak
1 Laporan
Pengawasan
dan
Pengendalian
Pembangunan
Rintisan Kota
Baru
Jumlah kota, kawasan perkotaan 5 kota, 4 kawasan 0 0 0 0 0
metropolitan dan kota/kawasan perkotaan
perkotaan terfasilitasi pemenuhan metropolitan, 168
Standar Pelayanan Perkotaan dan kawasan
pengembangan Kota Layak Huni perkotaan
TOTAL 68.752.486.084 93.93 60.255.059.347 87.6
B.2 Pemantauan RKP Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Indikator pembangunan perkotaan yang dilaksanakan oleh 2 Ditjen di Kementerian Pekerjaan
Umum dan Perumahan Rakyat perlu dilakukan pendefinisian ulang dan rekonstruksi ulang untuk
seluruh indikatornya serta disesuaikan dengan tupoksi tiap unit kerja pelaksananya. Dalam
pelaksanaan seluruh indikator ini, diperlukan pemahaman yang sama baik dari sisi lokasi,
substansi, serta output yang diharapakan. Hal tersebut belum dapat direalisasikan dalam
pelaksanaan RKP 2015 – 2016. Oleh karena itu, terdapat beberapa penyesuaian indikator yang
dirinci pada tabel 10

Tabel 10 Penyesuaian indikator di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat


PROGRAM INDIKATOR RPJMN HASIL PENYESUAIAN
2015 - 2019
Pusat Jumlah pedoman teknis perencanaan dan Dihilangkan
Pengembangan pengembangan kawasan perkotaan dan
Kawasan perdesaan dengan pembangunan infratruktur bidang
Perkotaan PUPR
Jumlah kebijakan teknis dan strategi pengembangan Dihilangkan
kawasan perkotaan dan perdesaan yang terpadu
dengan pembangunan infrastruktur bidang PUPR
untuk
35 WPS
Ketepatan waktu pelaporan evaluasi kebijakan teknis, Tidak Sesuai Renstra PUPR
rencana, dan program keterpaduan pengembangan
kawasn perkotaan dan perdesaan untuk 35 WPS
Tingkat pengelolaan data informasi pengembangan Pengelolaan Basis data Pusat
kawasan perkotaan dan perdesaan untuk 35 WPS Pengembangan Kawasan
Perkotaan
Pembinaan dan Jumlah kota, kawasan perkotaan metropolitan dan Kota hijau diarahkan untuk
Pengembangan kota/kawasan perkotaan terfasilitasi Kota Hijau melakukan pembinanaan
Penataan Tersedianya ruang terbuka publik beserta layar Tidak dilaksanakan kembali
Bangunan dan videotron atau layar tancap di 1200 kecamatan
Lingkungan
Pembinaan dan Jumlah kota, kawasan perkotaan metropolitan dan Tidak dilaksanakan kembali,
Pengembangan kota/kawasan perkotaan terfasilitasi pemenuhan menunggu payung hukum SPP
Kawasan Standar Pelayanan Perkotaan dan pengembangan
Permukiman Kota Layak Huni
Sumber: Hasil Kunjungan Lapangan, 2017

Berdasarkan hasil koordinasi dengan mitra pembangunan perkotaan berbagai permasalahan


muncul seperti banyaknya arahan presiden atau arahan menteri dengan kegiatan diluar arahan
RPJMN, sehingga seluruh alokasi kegiatan dilakukan penyesuaian terus menerus. Adanya
permasalahan ditengah pelaksanaan kegiatan mengakibatkan berkurangnya alokasi untuk
mengerjakan prioritas nasional. Selain itu, seluruh kegiatan tambahan tersebut, tidak memiliki
dasar dan dokumen pendukung yang jelas.
BPIW untuk tahun 2017 untuk pelakasanaan 35 WPS terdapat subdit tersendiri di BPIW (Pusat
3). Output kegiatan adalah Masterplan WPS yang kemudian diterpadukan dengan Masterplan
Pulau (Pusat 1), sedangkan untuk kawasan perkotaan terdapat penyusunan MPDP Kawasan
Metropolitan, Kota Baru, dll dengan sifat yang lebih kecil  Perlu penyesuaian target BPIW untuk
perkotaan. MPDP merupakan 1 dokumen, Master Plan selama 10 tahun yang kemudian
diterjemahkan. WPS akan dievaluasi selama 5 tahun. Adapun output sebagai berikut:

 Penyusunan Studi Penetapan dan Pra Desaian KawasanPrioritas Kota Tua Semarang
 Penyusunan Masterplan, Development Plan, dan StudiPenetapan Kawasan Prioritas Kota
Kota Banjarmasin,Banjar, Barito Kuala di WPS Palangkaraya,Banjarmasin, dan Batulicin
 Penyusunan Arahan Pengembangan dan Kajian Kependudukan Kawasan Pantai Utara
Jakarta (NCICD)
 Penyusunan Masterplan dan Development PlanKawasan Perkotaan Sorong Dsk dan Pra
Desain Kawasan Prioritas
 Review Masterplan, Development Plan danPenyusunan Pra Desain Kota Baru Tanjung
Selor dan Sekitarnya
 Penyusunan Masterplan, Development Plan Kawasan Perkotaan Parapat dan Sekitarnya
Ditjen Cipta Karya Tahun 2017 memiliki beberapa keluaran penataan kota hijau di 174
Kota/Kabupaten. Lesson learn yang didapatkan dalam kegiatan ini adalah (1) Komitmen Kepala
Daerah menjadi paling utama, untuk menggerakkan seluruh perangkat daerah, (2) Kemampuan
kota menggerakkan lintas pemangku kepentingan (lintas SKPD, Swasta, Masyarakat), (3)
Pemahaman P2KH sebagai fasilitasi stimulan, sehingga harus berupaya mandiri untuk mencari
peluang lain. O;leh karena itu, dalam kegiatan monev 2017, Ditjen CK diminta untuk
mengembalikan perannya sebagai Pembina pemerintah daerah untuk dapat mewujudkan kota
hijau secara mandiri namun tetap sesuai dengan standart Ditjen CK.
Legiatan yang lain di tahun 2017 adalah Perencanaan Pembangunan Infrastruktur Permukiman
Kota Baru Manado, Kota Baru Palembang, Kota Baru Makassar. Dalam penyusunan kota baru ini
Ditjen CK bekerja sama serta berkolaborasi dengan Kementerian lain seperti Kementerian ATR
untuk mneghasilkan output yang slaing terintegrasi dan dapat dilaksanakan di tahun selanjutnya
serta yang tidak kalah penting adalah sesuai dengan kaidah perencanaan dan penataan ruang.
Tabel Pemantauan RKP 2017 Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
REALISASI
PROGRAM/KEGIATAN INDIKATOR TARGET ANGGARAN FISIK ANGGARAN

JUMLAH % JUMLAH %

Program Pengembangan Infrastruktur Wilayah

Pengembangan Kawasan Tingkat pengelolaan data informasi 1.900.000.000 100 1.697.918.000 89.3
Perkotaan pengembangan kawasan perkotaan
dan perdesaan untuk 35 WPS
Jumlah rencana keterpaduan 53.067.000.000 100 47.010.170.000 88.58
pengembangan kawasan perkotaan
dan perdesaan dengan
pembangunan infrastruktur bidang
PUPR untuk 35 WPS
Tingkat pemantauan dan evaluasi 4.800.000.000 100 4.800.000.000 100
kebijakan teknis, rencana dan
program keterpaduan
pengembangan kawasan perkotaan
dan perdesaan untuk 35 WPS
Jumlah perkotaan dan perdesaan 4.200.000.000 100 3.145.000.000 74.8
yang difasilitasi peningkatan
keterpaduan fungsinya

Program Pembinaan Dan Pengembangan Infrastruktur Permukiman

Pembinaan dan Jumlah kota, kawasan perkotaan 5 kota, 4 kawasan


Pengembangan metropolitan dan kota/kawasan perkotaan
Penataan Bangunan dan perkotaan terfasilitasi Kota Hijau metropolitan, 168
Lingkungan kawasan
perkotaan
Tersedianya ruang terbuka publik 300 Kecamatan Tidak ada data, Fisik: 66 Lokasi
beserta layar videotron atau layar ada di satker DED: 66 Lokasi
tancap di 1200 kecamatan daerah
Program Pembinaan Dan Pengembangan Infrastruktur Permukiman
Perintisan Inkubasi Kota Baru 3.397.156 Dokumen 3.395.344
rencana teknis 3
Pembinaan dan Perencanaan Pembangunan lokasi Manado,
Pengembangan Kawasan Infrastruktur Permukiman Kota Baru Makassar dan
Permukiman Manado, Palembang, Makassar Palembang
Jumlah kota, kawasan perkotaan 5 kota, 4 kawasan 0 0 0 0 0
metropolitan dan kota/kawasan perkotaan
perkotaan terfasilitasi pemenuhan metropolitan, 168
Standar Pelayanan Perkotaan dan kawasan
pengembangan Kota Layak Huni perkotaan
`
C. Kementerian Agraria dan Tata Ruang
C.1 Evaluasi Kementerian Agraria dan Tata Ruang
Dalam RPJMN 2015 – 2019, pembangunan perkotaan di Kementerian Agraria dan Tata Ruang
merupakan pecahan kegiatan dari Ditjen Tata Ruang Kementerian Pekerjaan Umum. Desain awal
saat melakukan penyusunan RPJMN belum mempertimbangkan perubahan struktur organisasi
Kementerian dan Lembaga. Penyesuaian perpindahan kegiatan dilakukan selama tahun 2015,
sehingga menyebabkan ketidakefektifan pelaksanaan kegiatan di kementerian ATR. Adapun
beberapa hal terkait kegiatan di Kementerian Agraria dan Tata Ruang sebagai berikut:
a. Fokus kegiatan pembangunan perkotaan di kementerian ATR pada Tahun 2015 adalah
melakukan koordinasi dalam revisi PP RTRWN melalui penambahan lokasi pada KSN
Perkotaan sesuai dengan RPJMN 2015 - 2019. Kegiatan lainnya adalah fokus kepada
pembangunan 10 Kota baru di Indonesia dengan tugas untuk melakukan Fasilitasi RDTR
dan melakukan koordinasi penentuan deliniasi bersama dengan Bappenas.
b. Kewenangan untuk menyusun beberapa dokumen perencanaan sudah dibagi menurut
tupoksinya masing-masing yaitu penyusunan RDTR diberikan kewenangan kepada
Kementerian ATR. Selain penyusunan RDTR, Kementerian ATR juga siap untuk
memberikan fasilitasi terkait UDGL atau Urban Design Guide Lines.
c. Pedoman ini nantinya akan dijadikan acuan bagi penyusun masterplan dan RDTR yaitu
pada Kementerian dan Lembaga mitra sebagai contoh salah satunya adalah Kementeri
Agraria dan Tata Ruang
d. Tahun 2016 Kementerian ATR mulai melakukan kegiatan fasilitasi RDTR untuk kota
Pontianak dan kota Tanjung Selor

Pemantauan
Tahun 2017 merupakan tahun dimana terjadi self-blocking di dalam kementerian ATR/BPN. Self-
blocking adalah upaya pemblokiran sejumlah anggaran yang telah dialokasikan kepada suatu
Program untuk digunakan pada Program lain secara sepihak. Hal ini terjadi kepada dua Program
bidang tata ruang, DJTR dan PPRPT. Berdasarkan hasil wawancara dan FGD, lebih dari 75%
anggaran yang dialokasikan kepada kedua Program tersebut diblokir untuk mendanai pelaksanaan
kegiatan Program bidang pertanahan.
Program DJTR yang berdasarkan kesepakatan Trilateral Meeting mendapatkan anggaran ±280
Miliar terkena blokir dan juga efisiensi anggarah, sehingga hanya mendapatkan total anggaran
sebesar 52,5 Miliar. Sedangkan Program PPRPT yang mendapatkan anggaran sebesar ±140 Miliar,
hanya mendapatkan anggaran sebesar 54,69 Miliar. Perlu diketahui bahwa total anggaran tersebut
diperuntukkan untuk keseluruhan kegiatan operasional dan non-operasional selama satu tahun
anggaran. Self-blocking yang dilakukan oleh Kementerian ATR/BPN secara sepihak tersebut pada
dasarnya melanggar hasil kesepakatan Trilateral Meeting dan akan berdampak pada realisasi
proyek PN bidang tata ruang. Tabel dibawah adalah daftar proyek PN yang tidak dapat
dilaksanakan karena self-blocking.
Alokasi anggaran yang terkena self bloking, berdampak pada capaian realisasi beberapa
pelaksanaan kegiatan, yaitu Pelaksanaan kegiatan kota baru ada 1 lokasi yang tidak dilaksanakan
yaitu kota Makassar .
Tabel Evaluasi 2015 Kemneterian AGraria dan Tata Ruang

PROGRAM/
TARGET 2015 ANGGARAN FISIK ANGGARAN KATEGORI KETERANGAN
KEGIATAN INDIKATOR

• Penyusunan Materi Teknis Pedoman Pengembangan


6 Materi Kawasan Perkotaan Baru
8.000
Teknis/NSPK • Penyusunan Materi Teknis Pedoman Penentuan
Perencanaan Cenderung Koefisien Wilayah Terbangun (KWT) Koefisien Zona
Jumlah NSPK Perkotaan 40 40
Tata Ruang Revisi: Bermasalah Terbangun (KZT) dan Koefisien Dasar Bangunan
Revisi:
4 Materi (KDB) di Kawasan Strategis Nasional (KSN) Perkotaan
3.674
Teknis/NSPK • Kajian Standar Alokasi Ruang Di Kawasan Perkotaan
• Finalisasi Pedoman Delineasi Kawasan Perkotaan

1.000
Jumlah Raperpres RTR dan KSN Cenderung
1 KSN Revisi: 77 77 Peninjauan kembali RTR KSN Jabodetabekjur
Perkotaan Bermasalah
4.000
Pemanfaatan
Ruang Jumlah Pelaksanaan Penataan
RuangKSN Perkotaan dan Rencana 7 KSN
13.500
Terpadu Jangka Menengah Revisi:20 100 93 Baik
Revisi:15.250
Pengembangan Infrastruktur Sistem Pulau/KSN
Nasional

Jumlah dokumen Kebijakan,


8.800
Penataan Strategi, dan program penataan Cenderung Perubahan jadwal kegiatan dan revisi POK
Revisi: 29 27
Kawasan kawasan perkotaan dan perintisan 4 Dokumen Bermasalah Lokasi: Kota Tanjung Selor, Pontianak
1.596
kota-kota baru Revisi:
2 Dokumen

Jumlah Laporan Pembinaan 6


15.700Revisi:6. Cenderung Kegiatan berupa fasilitasi persetujuan substansi dan
Penataan Ruang Kota dan KegiatanRevisi: 40 40
483 Bermasalah legislasi rencana tata ruang
Perkotaan 4 Dokumen
Tabel Evaluasi 2016 Kemneterian AGraria dan Tata Ruang
PROGRAM/ TARGET 2017 FISIK ANGGARAN
INDIKATOR FISIK
KEGIATAN ANGGARAN JUMLAH % JUMLAH %

1) Matek pedoman Delineasi


kawasan perkotaan
Jumlah Dokumen Materi
Kendala:
Perencanaan Teknis NSPK Perencanaan
5 Dokumen 2.913.000.000 5 Dok 100 2.877.000.000 99 Penghematan anggaran
Tata Ruang Tata Ruang Wilayah
menghambat pembahasan
Perkotaan
substansi, terutama untuk
penyepakatan substansi di daerah

1) 4 Legalisasi RTR KSN


Perkotaan
(Jabodetabekpunjur,
Pemanfaatan Jumlah Dokumen RTR KSN
16 Dok/KSN 4.614.000.000 16 Dok /KSN 100 4.486.000.000 97 Cekungan Bandung, Kedung
Ruang Wilayah I
Sepur, dan
Gerbangkertosusila)

1) 1 Kajian RTR KSN Kaw


Perkotaan Bimindo)
2) 1 Kajian RTR KSN Kaw
Perkotaan Banjarkula)
Jumlah Dokumen RTR KSN Kendala:
24 Dok/KSN 7.863.000.000 24 Dok /KSN 100 7.672.000.000 97
Wilayah II Penghematan anggaran
membuat substansi beberapa
RTR KSN tidak bisa dibahas
tuntas, terutama untuk
pembahasan dan penyepakatan
Jumlah dokumen Kebijakan,
Strategi, dan program
penataan kawasan perkotaan
1) Masterplan Kota Baru (lokasi:
dan perintisan kota-kota baru
Tanjung Selor dan Pontianak)
Penataan Revisi:
4 Dokumen 4.312.000.000 4 Dok 100 4.304.000.000 99 Kendala:
Kawasan Jumlah Dokumen Rencana
Pemotongan anggaran berimbas
Pengembangan, Perwujudan,
pada kedalaman kajian
dan Pengelolaan Penataan
Kawasan Perkotaan dan
Perintisan Kota-Kota Baru
Materi teknis RDTR dan PZ untuk
masing-masing lokasi:1. Kota
Sungai Penuh (Prov. Jambi), 2.
Kota Jambi (Prov. Jambi); 3. Kota
Metro (Prov. Lampung);4. Kota
Banda Aceh (Prov. Aceh);5. Kota
Sabang (Prov. Aceh); 6. Kota
Pariaman (Prov. Sumbar);7. Kota
Lhokseumawe (Prov. Aceh); 8.
Kota Padang Sidempuan (Prov.
Sumut; 9. Kota Bandar Lampung
(Prov. Lampung); 10.
KotaTanjung Balai (Prov.Sumut),
11. Kota Tangerang Selatan
(Prov. Banten); 12. Kota Cirebon
(Prov. Jabar);13. Kota Magelang
(Prov. Jateng); 14. Kota
Denpasar (Prov. Bali);15. Kota
Tangerang (Prov. Banten); 16.
Kota Cimahi (Prov. Jabar);17.
Kota Semarang (Prov. Jateng);
Jumlah Kota yang
18. Kota Banjar (Prov. Jabar);19.
mendapatkan pembinaan
39 Kota 8.203.000.000 39 Kota 100 8.053.000.000 99 Kota Kediri (Prov. Jatim);20. Kota
teknis penyelenggaraan
Probolinggo (Prov.Jatim), 21.
penataan ruang daerah
Kota Tarakan (Prov.Kaltara);22.
Kota Pontianak (Prov.Kalbar); 23.
Kota Kotamobagu (Prov. Sulut);
24. Kota Tomohon
(Prov.Sulut);25. Kota Banjarbaru
(Prov.Kalsel); 26. Kota Kendari
(Prov.Sultra);27. Kota Baubau
(Prov.Sultra);28. Kota Gorontalo
(Gorontalo);29. Kota Palu
(Sulawesi Tengah);30. Kota
Bitung (Sulawesi Tengah); 31.
Kota Mataram (Prov. NTB);32.
Kota Ambon (Prov. Maluku);33.
Kota Tual (Prov. Maluku);34.
Kota Tidore Kepulauan (Prov.
Malut); 35. Kota Jayapura (Prov.
Papua);36. Kota Kupang (Prov.
NTT);37. Kota Bima (Prov. NTB);
38. Kota Sorong (Prov. Papua
Barat); 39. Kota Ternate (Prov.
Malut)
Tabel Pemantauan 2017 Kemneterian AGraria dan Tata Ruang
TARGET FISIK ANGGARAN
PROGRAM/ INDIKATOR
2017
KEGIATAN ANGGARAN
JUMLAH % JUMLAH % KETERANGAN
Jumlah materi teknis dan
rancangan NSPK
Perencanaan Tata PN: Perkotaan
Revisi: 1 NSPK 850.000.000 0 54 326.000.000 38
Ruang Pedoman Pemanfaatan Ruang Kelembagaan KSN
Jumlah NSPK bidang pemanfaatan
ruang

Jumlah RTR KSN Perkotaan yang


dipantau dan dievaluasi
PN: Perkotaan
kesesuaiannya dengan 4 Perpres
Pemanfaatan Ruang 1.659.000.000 0 56 605.000.000 36 KSN Perkotaan Mebidangro, Maminasata,
PerpresRevisi:Jumlah rekomendasi KSN
Jabodetabek dan Sarbagita
program sektoral berbasis RTR
KSN

Lokasi: kota baru di sekitar Palembang dan Manado


Kendala:
1. Manado :
 Ketidaksesuaian antara dokumen dan peta RTRW
Jumlah kebijakan, strategi, dan
maupun materi teknis RDTR serta penurunan
program penataan kawasan
tingkat kesesuaian lahan dari tahun 2012 – 2016
perkotaan dan perintisan kota-
 Permasalahan ketersediaan data yang dibutuhkan
kota baru
Penataan Kawasan 2 Kota 960.000.000 0 48 242.000.000 25 oleh tim baik spasial maupun non spasial
Revisi:
 Adanya perbedaan batas Kota Manado di RTRW
Jumlah kawasan ekonomi yang
dengan batas wilayah menurut Kemendagri
direncanakan pengembangan,
Kurangnya antusiasme, keterbukaan, dan inisiatif
perwujudan, dan pengelolaannya
pemda
2. Palembang :
 Status RTRW kota Palembang sedang dalam proses
pengajuan Peninjauan Kembali (PK).
 Ada beberapa aparatur pemerintah daerah di Kota
Palembang yang dimutasi sehingga menghambat
koordinasi
 Dukungan data tidak maksimal seperti, penyediaan
data shp RDTR dan RTRW
3. Pemotongan anggaran di triwulan II,
sehingga target mengalami penyesuaian (Makassar
dibatalkan)

Jumlah kota yang mendapatkan Matek dan PZ RDTR


bimbingan teknis penyusunan Lokasi: Kota Bukit Tinggi, Kabupaten Samosir,
5 Kab/Kota 5.812.000.000 0 65 3.683.000.000 63
RDTRRevisi:Bantuan teknis Kabupaten Minahasa, Kabupaten Karawang dan
penyusunan RDTR Kabupaten Bandung
Kesimpulan dan Rekomendasi
Kesimpulan
a. Seluruh kegiatan pembangunan perkotaan pada tahun 2015 dan 2016 belum dapat efektif
dilakukan karena dalam masa adaptasi perubahan SOTK di Kementerian Mitra K/L
b. Pencapaian Kegiatan Fisik dan Anggaran untuk keseluruhan pembangunan perkotaan
memiliki kategori baik
Rekomendasi
a. Mengagendakan pelaksanaan kegiatan pemantauan (monitoring) paling lambat pada
pertengahan tahun anggaran (Triwulan II) agar mendapatkan informasi dan data yang
lebih efektif.
b. Perlu dilakukan perbaikan sistem perencanaan pembangunan nasional agar dapat
mematuhi dan menjalankan hasil kesepakatan Trilateral Meeting. Hal ini diperlukan untuk
mencegah terjadinya self-blocking
c. Perlu adanya penyusunan SOP untuk pengajuan kegiatan yang berasal dari arahan
presiden dan menteri, agar kegiatan regular tidak terganggu
d. Perlunya mengkaji kembali waktu pelaksanan monitoring dengan timeline perencanaan
agar hasil kegiatan pelaksanaan monitoring yang dilakukan dapat secara langsung
berkontribusi sebagai masukan dan diimplementasikan dalam perencanaan pembangunan
periode berikutnya.