Anda di halaman 1dari 26

1

1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Dalam menjalankan sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang

produksi tujuan utama dari perusahaan tersebut adalah mencari laba. Agar

perusahaan dapat berkembang dan mempertahankan kelangsungan hidupnya,maka

perusahaan berusaha untuk mendapatkan laba optimal dari setiap unit usahayang

dikerjakannya.Besar kecilnya laba yang dihasilkan merupaka ukuran kesuksesan

perusahaan dalam mengelola sumber daya alam yang adadi perusahaan.Untuk

memenuhi laba yangdiharapkan oleh perusahaan tentu sangatdipengaruhi oleh

beberapa faktor.Faktor yang mempengaruhi pendapatan dan laba diantaranya

adalah biaya produksi, jumlah atau kuantitas penjualan dan harga jual produk.Dari

faktor tersebut, yang paling penting dalam hal ini adalah biaya produksi.

Pengendalian atas biaya produksi adalah pengendalian biaya yang terdiri dari biaya

bahan baku, biaya tenagakerja, serta biaya overhead pabrik yang dihitung dengan

cara membandingkan biaya yang telah diterapkan dengan biaya sebenarnya.

Tujuan dari perhitungan harga pokok produksi adalahuntuk pedomandalam

penerapan harga jual, mengetahui efesien atau tidaknya perusahaan,mengetahui

apakah suatu kebijakan dalam penjualan barang perlu diubah danuntuk keperluan

penyusunanneraca. Perlakuan harga pokok yang baik dan benarmutlak diperlukan

oleh perusahaan, hal ini disebabkan karna harga harga pokokmempengaruhi

laporan keuangan perusahaan.Harga pokok secara

langsungmempengaruhibesarnya nilai aktiva yakni nilai persediaandidalam

neracademikian juga perhitungan laba rugi. Kesalahan terhadap penentuan harga

pokokakan menimbulkan imformasi yang keliru dalam laporan keuangan

yangdihasilkan. Salah satu jenis penentuan perhitungan biaya produksi yaitu job

order costing.

Dalam sistem perhitungan biaya berdasarkan pesanan (job order costing),

biaya produksi dikumpulkan atau diakumulasikan untuk setiap pesanan atau

2

pekerjaan (job) yang terpisah. Suatu pesanan atau pekerjaan merupakan hasil akhir (output) yang diidentifikasikan untuk memenuhi pesanan pelanggan tertentu atau untuk mengisi kembali suatu item dari persediaan.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah :

a. Apa pengertian akuntansi biaya pesanan ?

b. Bagaimana karakteristik Kalkulasi Biaya Pesanan ?

c. Seperti apa contoh Kartu Biaya Pesanan ?

d. Bagaimana akuntansi untuk bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead serta barang jadi dalah perhiutngan biaya dalam sistem pesanan ?

3. Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka yang menjadi tujuan penulisan dalam makalah ini adalah untuk mengetahui :

a. Pengertian akuntansi biaya pesanan ?

b. Karakteristik Kalkulasi Biaya Pesanan ?

c. Kartu Biaya Pesanan ?

d. Akuntansi untuk bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead serta barang jadi dalah perhiutngan biaya dalam sistem pesanan ?

3

BAB II PEMBAHASAN

1. Definisi Akuntansi Biaya Pesanan

Akuntansi Biaya pesanan (Job Order Costing) : adalah sistem perhitungan

biaya produk yang mengalokasikan biaya-biaya dan membebankannya pada

pesanan tertentu. Menurut Siregar (2014:37) : Penentuan biaya pesanan yaitu dalam

metode ini, biaya diakumulasikan per pesanan. Metode biaya pesanan cocok

digunakan bila produk yang dibuat dalam suatu departemen atau pusat biaya

sifatnya heterogen dan perusahaan dapat mengidentifikasi hubungan antara biaya

dan produk. Selanjutnya menurut Dunia dan Wasilah (2012:54) : “Metode harga

pokok pesanan adalah suatu sistem akuntansi biaya pertual yang menghimpun biaya

menurut pekerjaan-pekerjaan (jobs) tertentu.” Sedangkan menurut Mulyadi

(2014:17) : Metode perhitungan biaya berdasarkan pesanan yaitu dalam metode ini

biaya-biaya produksi dikumpulkan untuk pesanan tertentu dan harga pokok

produksi per satuan dihitung dengan cara membagi total biaya produksi untuk

pesanan tersebut dalam jumlah satuan produk dalam pesanan yang bersangkutan.

2. Karakteristik Kalkulasi Biaya Pesanan

Akumulasi atau pengumpulan biaya produksi dalam suatu perusahaan

biasanya dipengaruhi oleh karakteristik dari kegiatan produksi yang dilakukan oleh

perusahaan tersebut. Perusahaan yang melaksanakan kegiatan produksi

berdasarkan pesanan merubah bahan baku menjadi produk jadi berdasarkan

pesanan dari para pelanggannya.

Adapun ciri-ciri perusahaan yang mengakumulasi biaya berdasarkan

pesanan sebagai berikut:

a) Proses pembuatan produk terjadi secara terputus-putus. Jika suatu pesanan

selesai dikerjakan, proses produksi dihentikan dan dimulai dengan pesanan

berikutnya.

b) Produk yang dihasilkan sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan oleh

pelanggan, sehingga antara satu pesanan dengan pesanan yang lain dapat berbeda-

beda.

4

c) Produksi ditujukan untuk memenuhi pesanan pelanggan, bukan untuk

memenuhi persediaan. Jika suatu perusahaan dalam melakukan kegiatan produksinya memenuhi ketiga kriteria di atas, maka perusahaan tersebut akan menggunakan metode

kalkulasi biaya pesanan dalam pengumpulan biaya produksinya. Secara umum, kalkulasi biaya pesanan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

a) Untuk tiap pesanan dari pelanggan disediakan Kartu Biaya Pesanan (job cost sheet) untuk menghitung biaya produksinya secara individual.

b) Kartu biaya pesanan tersebut berfungsi sebagai buku besar pembantu persediaan barang dalam proses yang diisi berdasarkan bukti permintaan bahan baku , kartu jam kerja langsung, dan tarif overhead pabrik.

c) Pengakunan ke buku besar dapat dilakukan dengan rekapitulasi dari kartu biaya pesanan.

d) Biaya produksi per unit dihitung pada saat pesanan selesai diproduksi dengan cara membagi jumlah biaya produksi yang dikeluarkan untuk pesanan tertentu dengan jumlah unit produk yang dihasilkan untuk pesanan yang bersangkutan.

e) Kartu biaya pesanan mengalami tiga status yaitu sebagai berkas barang dalam

proses, barang jadi, dan barang terjual. Bagi perusahaan yang berproduksi berdasarkan pesanan, informasi biaya produksi yang dihasilkan oleh sistem perhitungan biaya berdasarkan pesanan akan

bermanfaat untuk:

a) Menetapkan harga jual yang akan dibebankan kepada pelanggan dan juga sebagai dasar pengajuan proposal tender

b) Mengevaluasi ketepatan dalam pembebanan harga taksiran.

c) Membandingkan biaya pesanan serupa yang pernah dikerjakan.

d) Menganalisis waktu penyelesaian suatu pesanan.

e) Menghitung laba atau rugi kotor untuk setiap pesanan.

f) Menentukan biaya persediaan akhir produk jadi dan barang dalam proses.

5

3. Kartu Biaya Pesanan

Kartu biaya pesanan yang dapat berbentuk formulir kertas atau elektronik merupakan catatan yang penting dalam metode kalkulasi biaya pesanan. Kartu ini berfungsi sebagai akun pembantu yang digunakan untuk mengumpulkan biaya produksi setiap pesanan. Meskipun banyak pesanan dapat dikerjakan secara bersamaan, namun setiap kartu biaya pesanan hanya memuat rincian untuk satu pesanan saja. Isi dan bentuk dari kartu biaya pesanan berbeda-beda antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya. Perhitungan biaya berdasarkan pesanan mengakumulasikan biaya bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead yang dibebankan le setiap

pesanan. Sebagai hasilnya, perhitungan biaya berdasarkan pesanan dapat dipandang dalam tiga bagian yang saling berhubungan. Akuntansi bahan baku memelihara catatan persediaan bahan baku, membebankan bahan baku langsung ke pesanan, dan membebankan bahan baku yang tidak langsung overhead. Akuntansi tenaga kerja memelihara akun – akun yang berhubungan dengan beban gaji, membebankan tenaga kerja langsung ke pesanan, dan membebankan tenaga kerja tidak langsung ke overhead. Akuntansi overhead mengakumulasi biaya overhead, memelihara catatan terinci atas overhead,dan membebanklan sebagian dari overhead ke setiap pesanan. Dasar dari perhitungan biaya berdasarkan pesanan melibatkan hanya delapan tipe ayat jurnal akuntansi, satu untuk setiap item berikut:

a) Pembelian bahan baku

b) Pengakuan biaya tenaga kerja pabrik

c) Pengakuan biaya overhead pabrik

d) Penggunaan bahan baku

e) Distribusi beban gaji tenaga kerja

f) Pembebanan estimisi biaya overhead

g) Penyelesaian pesanan

h) Penjualan produk

Gambar bagan alir akun dalam biaya berdasarkan pesanan.

6

6
6

7

7 4. Akuntansi Biaya Bahan Dalam buku besar umum akun persediaan untuk bahan baku dan perlengkapan

4. Akuntansi Biaya Bahan

Dalam buku besar umum akun persediaan untuk bahan baku dan perlengkapan atau bahan baku tidak langsung dapat dipisah. Pada umumnya dalam dunia praktik menggunakan satu akun buku besar berjudul Persediaan Bahan Baku. Akuntansi untuk pembelian bahan baku ini meliputi pembelian, penggunaan, dan pengembalian bahan baku.

a. Pembelian bahan baku Pencatatan pembelian bahan baku dilakukan sesuai dengan sistem pencatatan persediaan. Pada sistem persediaan perpetual, akun “Persediaan Bahan

8

Baku” akan dicatat disebelah debit, sedangkan pada sistem persediaan periodik

dicatat dengan cara mendebit akun “Pembelian”.

Adapun ayat jurnal pada saat pembelian bahan baku sebagai berikut:

Persediaan bahan Rp xxx

Utang/Kas

Rp xxx

Contoh :

1 April perusahaan memiliki pers bahan baku Rp 7.000 dan selama bulan ini dibeli bahan baku Rp 60.000.

Persediaan bahan baku

Utang dagang

Rp 60.000

Rp 60.000

Kuantitas dan harga per unit dari setiap pembelian dicatat dalam kartu

catatan bahan baku. Satu kartu digunakan untuk setiap jenis bahan baku. Kartu-

kartu tersebut berfungsi sebagai catatan persediaan perpetual dan merupakan buku

besar pembantu yang mendukung akun persediaan bahan baku. Kartu-kartu ini dan

dokumen-dokumen lain dapat berbentuk kertas dan elektronik.

b. Penggunaan bahan baku

Bahan baku langsung untuk setiap pesanan dikeluarkan ke pabrik

berdasarkan bukti permintaan bahan baku, yang merupakan dokumen yang

disiapkan oleh pembuat jadwal produksi yang memberikan spesifikasi nomor

pesanan dan tipe serta jumlah bahan baku yang diperlukan. Satu lembar salinan dari

setiap bukti permintaan dikirimkan ke Bagian Gudang, yang mengumpulkan item

yang dimaksud. Kuantitas dan biaya dari setiap item dicatat dalam bukti permintaan

dan diposting ke kartu catatan bahan baku.

Arus bahan baku langsung dari gudang ke pabrik dipertanggungjawabkan

sebagai transfer biaya dari bahan baku ke barang dalam proses. Pencatatan

penggunaan bahan baku biasanya dilakukan dalam bentuk ikhtisar di akhir bulan

atau periode, dengan jurnal sebagai berikut:

9

Persediaan Barang Dalam Proses Persediaan Bahan Baku

Rpxxxx

Rpxxxx

Satu lembar salinan bukti permintaan bahan baku dikirimkan ke

Departemen Biaya, di mana semua salinan bukti tersebut diurutkan berdasarkan

nomor pesanan dan dicatat harian atau mingguan, ke Bagian Bahan Baku dari kartu

biaya pesanan. Dengan cara ini, kuantitas dan biaya bahan baku yang digunakan

dalam setiap pesanan diakumulasikan secara tepat waktu, meskipun jika ayat jurnal

umum dibuat tidak sesering itu.

Bukti permintaan bahan baku juga digunakan untuk mengeluarkan bahan

baku tidak langsung maupun perlengkapan. Jika tidak digunakan di pabrik,

perlengkapan yang dipakai tersebut dibebankan ke akun Beban Pemasaran atau

Administrasi. Jika digunakan di pabrik maka dibebankan ke akun Pengendali

Overhead Pabrik dengan jurnal sebagai berikut:

BOP sesungguhnya Persediaan Bahan Baku

Rpxxxx

Rpxxxx

Contoh :

Selama April perusahaan membutuhkan bahan baku Rp 52.000 yag terdiri atas Rp

50.000 bahan langsung dan Rp 2.000 bahan tidak langsung.

Barang dalam proses_BBB

Rp 50.000

BOP

Rp 2.000

Persediaan Bahan Baku

Rp 52.000

c. Pengembalian bahan baku

Jika bahan baku untuk suatu pesanan dikembalikan ke gudang karena

beberapa alasan seperti tidak terpakai (idle), tidak sesuai spesifikasi, atau cacat

maka dicatat dengan jurnal sebagai berikut:

Persediaan Bahan Baku Barang Dalam Proses_BBB

Rpxxxx

Rpxxxx

10

5. Akuntansi untuk tenaga kerja

Dalam perhitungan biaya berdasarkan pesanan, biaya tenaga kerja langsung

dan tidak langsung harus dilakukan pemisahan. Biaya tenaga kerja langsung

merupakan biaya yang dibayarkan kepada tenaga kerja atau buruh yang

berhubungan langsung dengan pembuatan produk, sedangkan, biaya tenaga kerja

tidak langsung merupakan biaya yang dibayarkan kepada para supervisor atau

mandor yang mengawasi jalannya proses produksi di pabrik.

Untuk mengidentifikasi biaya tenaga kerja langsung dan tidak langsung ini,

setiap karyawan membuat satu atau lebih Kartu Jam Kerja karyawan setiap hari.

Kartu tersebut merupakan dokumen yang menunjukkan waktu yang dihabiskan

oleh seorang pekerja untuk membuat suatu pesanan tertentu (tenaga langsung) atau

untuk mengerjakan tugas-tugas lain (tenaga tidak langsung).

Setiap kartu jam kerja dihitung biayanya dan diikhtisarkan secara periodik

dan jumlah jam kerja setiap karyawan yang tertera di kartu jam kerja tersebut

dicocokkan dengan jumlah jam kerja menurut kartu absensi. Kartu absensi

merupakan kartu yang berisi data jumlah waktu kerja setiap karyawan mulai dari

saat mereka datang sampai saat mereka pulang. Data tersebut digunakan untuk

menghitung jumlah penghasilan dari setiap karyawan dengan upah per jam kerja.

Akuntansi untuk tenaga kerja meliputi akuntansi untuk pengakuan biaya

tenaga kerja pabrik yang terjadi; pembayaran beban gaji terutang, dan distribusi

beban gaji tenaga kerja.

a. Pengakuan biaya tenaga kerja pabrik yang terjadi

Pada setiap akhir periode biasanya gaji dibayarkan berdasarkan daftar gaji

yang dibuat. Jurnal untuk mencatat biaya tenaga kerja yang terjadi untuk suatu

periode sebagai berikut:

Beban Gaji Hutang Gaji

Contoh :

Rpxxxx

Rpxxxx

11

Perusahaan Kinanti membayar gaji dan upah pekerja secara mingguan tiap hari

sabtu. Pada 18 Maret 2018 perusahaan mencatat gaji dan upah karyawan pabrik

yang terhutang sebesar Rp 500.000.

Beban Gaji Hutang Gaji

b. Pembayaran beban gaji terutang.

Rp 500.000

Rp 500.000

Pada saat beban gaji yang sudah dibebankan ke hutang gaji dibayarkan

kepada setiap karyawan, maka pencatatan yang adalah:

Utang Gaji

Rpxxxx

Kas

Rpxxxx

Contoh :

Pada Sabtu 19 Maret 2018, Gaji karyawan perusahaan Kinanri dibayarkan secara

tunai. Maka jurnal yang dilakukan yaitu :

Utang Gaji

Kas

c. Distribusi beban gaji tenaga kerja

Rp 500.000

Rp 500.000

Kebanyakan dalam praktik, biaya tenaga kerja didistribusikan secara bulanan

dengan cara mengurutkan kartu jam kerja karyawan untuk setiap pesanan dan

datanya dimasukkan dalam kartu biaya pesanan dan dicatat menggunakan ayat

jurnal umum dalam bentuk ikhtisar, yaitu:

Barang Dalam Proses_BTK

Rpxxxx

BOP

Rpxxxx

Beban Gaji

Rpxxxx

12

Contoh :

21 Maret 2018, diperoleh data dari kartu jam kerja bahwa pesanan nomor 501

menggunakan biaya tenaga kerja sebesar Rp 225.000, dan 502 sebesar Rp 150.000,

503 sebesar Rp 75.000, biaya tenaga kerja tidak langsung Rp 50.000

Barang Dalam Proses_BTK BOP

Beban Gaji

6. Akuntansi untuk overhead pabrik

Rp 450.000

Rp

50.000

Rp 500.000

Overhead merupakan biaya yang tidak dapat ditelusuri secara langsung ke

pesanan tertentu tetapi terjadi dalam proses produksi (di luar pemasaran dan

administrasi). Karena ketidakmampuan untuk menelusuri overhead secara

langsung, menyebabkan biaya overhead pabrik diakumulasikan tanpa mengacu ke

pesanan tertentu dan total biaya overhead pabrik dialokasikan ke semua pesanan

secara proporsional. Akuntansi untuk overhead pabrik ini meliputi pencatatan biaya

overhead pabrik aktual (sesungguhnya), pencatatan pembebanan biaya overhead

pabrik yang dialokasikan, dan pencatatan varian overhead.

a. Pencatatan biaya overhead pabrik aktual

Biaya overhead pabrik aktual seperti bahan baku tidak langsung dan tenaga

kerja tidak langsung dikumpulkan dan dicatat pada saat terjadinya atau melalui

jurnal periodik. Selain bahan baku tidak langsung dan tenaga kerja tidak langsung,

biaya overhead pabrik dicatat hanya melalui ayat jurnal penyusuaian pada akhir

suatu periode akuntansi. Contoh biaya overhead pabrik lainnya meliputi, pajak

bumi dan bangunan, penyusutan bangunan, penyusutan mesin dan peralatan,

asuransi bangunan, sewa, biaya pensiun, asuransi kesehatan (jamsostek), tunjangan

cuti, listrik dan air, jasa keamanan, dan jasa perbaikain dan pemeliharaan.

Ayat jurnal yang diperlukan untuk mencatat pengumpulan biaya overhead

pabrik aktual pada akhir periode dilakukan dengan cara mendebet akun Overhead

Pabrik dan mengkreditkan akun aktiva dan kewajiban yang sesuai atau akun-akun

13

lainnya. Contoh ayat jurnal untuk pencatatan pengumpulan biaya overhead pabrik

aktual sebagai berikut:

Kredit ke akun aktiva yang sesuai:

BOP

Rpxxxx

Asuransi Dibayar Dimuka

Rpxxxx

Biaya Dibayar Dimuka

Rpxxxx

Kredit ke akun kewajiban yang sesuai:

BOP

Rpxxxx

Utang Usaha

Rpxxxx

Utang PBB

Rpxxxx

Utang Biaya

Rpxxxx

Kredit ke akun-akun lain yang sesuai:

Pengendali Overhead Pabrik

Rpxxxx

Akumulasi Penyusutan

Rpxxxx

Beban Air dan Listrik

Rpxxxx

Beban Lainnya

Rpxxxx

Contoh :

Pada 31 Maret 2018 Perusahaan Kinanti mencatat biaya depresiasi Rp 15.000 dan

asuransi sebesar Rp 5.000

BOP

Rp 20.000

Asuransi Dibayar Dimuka

Rp 5.000

Akumulasi penyusutan/depresiasi

Rp 15.000

b. Pencatatan pembebanan biaya overhead pabrik

Untuk menetapkan berapa biaya overhead yang akan dibebankan ke

produksi merupakan sesuatu yang sulit. Hal ini disebabkan, ada biaya overhead

yang memberikan manfaat dalam proses produksi tetapi biayanya sulit ditelusuri ke

14

masing-masing pesanan. Untuk mengatasi kesulitan tersebut, semua biaya overhead pabrik didistribusikan ke semua pesanan. Beberapa permasalahan BOP diantaranya yaitu : waktu terjadinya BOP tidaklah sama. Ada BOP yang terjadi secara musiman seperti perbaikan dan pemeliharaan mesin, ada yang dicatat diakhir periode seperti asuransi dan depresiasi dan adapula yang dipicu oleh biaya produksi seperti biaya bahan penolong dan tenaga kerja tidak langsung. Kesulitan lain yaitu pemesan ingin mengehathui harga pesanannya pada saat memesan. Jumlah yang dibebankan untuk setiap pesanan sesuai dengan dasar alokasi yang dipilih. Dasar alokasi tersebut meliputi:

– Penggunaan bahan baku

– Penggunaan tenaga kerja langsung

– Penggunaan jam mesin

– Waktu proses

– Kombinasi dua atau lebih dari dasar alokasi di atas Setiap dasar alokasi yang dipilih sebaiknya merupakan aktivitas yang paling terkait dengan biaya yang dialokasikan, yaitu aktivitas yang tampaknya paling memicu terjadinya biaya overhead. Besaran biaya overhead pabrik yang akan dibebankan ke produksi diperoleh dengan cara “total biaya overhead pabrik dibagi dengan total dasar alokasi” dan rasio yang dihasilkan merupakan tarif overhead (overhead rate). Tarif ini dikalikan dengan jumlah dasar alokasi yang digunakan oleh suatu pesanan, dan hasilnya biaya overhead pabrik untuk pesanan tersebut. Rumus Tarif BOP :

Tarif overhead yang = Estimasi biaya overhead pabrik total

ditentukan dimuka

Estimasi unit produksi total

Rumus Pembebanan overhead (Overhead Application) Overhead yang dibebankan = Tarif overhead yang X Jumlah dari basis alokasi yang Untuk pekerjaan tertentu ditentukan dimuka terjadi dari suatu pekerjaan Ex :

15

Overhead yang dibebankan = Tarif overhead yang X Jumlah jam kerja yang

dibutuhkan

Untuk pekerjaan tertentu ditentukan dimuka dalam suatu pekerjaan

Contoh 1 :

Perusahaan kinanti mempunyai estimasi BOP Rp 500.000 dan pemicu terjadinya

BOP adalah jam kerja mesin. Kapasitas jam kerja mesin (Taksirn Normal) 100.000

jam kerja mesin. Tarif BOP yaitu : Rp 500.000/100.000 jam kerja mesin = Rp 5/jam

Selama maret 2018 diketahui pesanan nomor 501 menggunakan 5.000 jam x Rp 5,

502 x Rp 5 menggunakan 4.000 jam x Rp 5, 503 menggunakan 6.000 jam x Rp 5.

Total BOP = (Rp 25.000+Rp 20.000 + 30.000) = Rp 75.000

Barang Dalam Proses_BOP Overhead Pabrik Dibebankan

Rp 75.000

Rp75.000

Contoh 2 :

Misalkan kapasitas produksi untuk tahun 200X adalah 100.000 jam kerja langsung

(JKL) yang dipilih sebagai dasar alokasi overhead. Taksiran jumlah biaya overhead

pabrik untuk tahun sebesar Rp500.000.000,- maka tarif overhead adalah

Rp500.000.000,- dibagi 100.000 JKL sama dengan Rp5.000,- per JKL. Jika suatu

pesanan tertentu menggunakan 100 JKL, maka biaya overhead pabrik sebesar

Rp500.000,- (100 JKL x Rp5.000,-) akan dibebankan ke pesanan tersebut.

Ayat jurnal untuk mencatat pembebanan biaya overhead pabrik berdasarkan tarif

overhead ke setiap pesanan sebagai berikut:

Barang Dalam Proses_BOP Overhead Pabrik Dibebankan

Rpxxxx

Rpxxxx

Beberapa biaya overhead pabrik tidak dapat diukur sebelum berlalunya waktu

atau sebelum sampai pada akhir periode akuntansi. Namun masalahnya pada akhir

periode akuntansi tersebut banyak pesanan yang telah diselesaikan, dan biaya

overhead pabrik aktual tidak dapat dibebankan ke setiap pesanan tersebut secara

tepat waktu, sehingga diperlukan estimasi. Oleh karena itu, untuk mengatasi

permasalahan tersebut, digunakanlah “tarif overhead yang ditentukan di muka

16

(predetermined overhead rate)”. Tarif ini merupakan rasio dari estimasi total

overhead terhadap estimasi total dasar alokasi overhead.

c. Pencatatan varian overhead pabrik

Biaya overhead pabrik yang dibebankan ke pesanan, pada akhir periode

akuntansi ditutup ke akun BOP. Adapun ayat jurnal yang diperlukan adalah sebagai

berikut:

Overhead Pabrik Dibebankan BOP

Rpxxxx

Rpxxxx

Setelah jurnal di atas, maka saldo akun “Overhead Pabrik Dibebankan”

dalam buku besar akan bersaldo nol. Sementara itu, saldo akun “Biaya Overhead

Pabrik” akan terjadi tiga kemungkinan, yaitu: (1) saldo debet dan kredit sama atau

bersaldo nol, (2) saldo debet lebih besar dari kredit atau bersaldo plus, dan (3) saldo

debet lebih kecil dari kredit atau bersaldo minus. Saldo pada poin 1 dan 2 disebut

varians atau selisih biaya overhead pabrik. Jika selisih yang terjadi kecil, biasanya

ditutup ke akun Harga Pokok Penjualan pada akhir periode akuntansi. Ayat jurnal

untuk mentransfer varian overhead pabrik ke akun Harga Pokok Penjualan, sebagai

berikut:

Jika overhead pabrik yang dibebankan terlalu rendah, maka dijurnal:

Harga Pokok Penjualan Biaya Overhead Pabrik

Rpxxxx

Rpxxxx

Jika overhead pabrik yang dibebankan terlalu tinggi, maka dijurnal:

Biaya Overhead Pabrik Harga Pokok Penjualan

Rpxxxx

Rpxxxx

7. Akuntansi untuk produk selesai dan yang dijual

Jika suatu pesanan sudah diselesaikan pengerjaannya atau proses

produksinya, maka Kartu Biaya masing-masing pesanan dipindahkan ke kategori

produk selesai. Untuk pesanan yang sudah selesai dan dikirim ke gudang barang

jadi, kuantitas dan biayanya dicatat ke dalam Kartu Barang Jadi. Kartu ini

17

merupakan akun buku besar pembantu yang mendukung akun “Persediaan Barang

Jadi”. Ayat jurnal untuk mencatat transfer suatu pesanan ke persediaan barang jadi

yang dibuat pada akhir periode sebagai berikut:

Persediaan Barang Jadi Barang Dalam Proses

Rpxxxx

Rpxxxx

Adakalanya, suatu pesanan untuk pelanggan tertentu dapat dikirimkan

langsung begitu pesanan tersebut diselesaikan, sehingga tidak perlu dibukukan

sebagai persediaan barang jadi. Pengiriman langsung pesanan kepada pelanggan

dicatat dengan ayat jurnal sebagai berikut:

Harga Pokok Penjualan

Rpxxxx

Barang Dalam Proses

Rpxxxx

Piutang Usaha

Rpxxxx

Penjualan

Rpxxxx

Jika pesanan yang sudah diselesaikan ditransfer ke gudang persediaan

barang jadi untuk menunggu dikirim ke pelanggan, maka pada saat barang jadi

tersebut dikirimkan ke pelanggan, ayat jurnal yang dibuat sebagai berikut:

Piutang Usaha Penjualan

Rpxxxx

Rpxxxx

Harga Pokok Penjualan Persediaan Barang Jadi

Rpxxxx

Rpxxxx

8. Review Jurnal Terkait Harga Pokok Pesanan

a. Sistem Harga Pokok Produksi dengan Pendekatan Job Order Costing

dan Pengaruhnya Terhadap Laba Usaha

Mukhtar AK, SE. MM1,

Muhammad Wali, ST2

1)Akademik Manajemen Informatika dan Komputer Indonesia (AMIKI)

Aceh

Banda

18

2)Akademik Manajemen Informatika dan Komputer Indonesia (AMIKI) Banda Aceh JURNAL EKONOMI MANAJEMEN DAN BISNIS Volume 2 Nomor 2 Desember 2014, Halaman 345-355 ISSN: 2338-2929 1) Latar Belakang Saat ini, salah satu bidang usaha yang banyak diminati adalah usaha bidang industri, salah satunya adalah Usaha Produksi Meubel. Usaha meubel ini pada dasarnya memiliki beberapa faktor pendukung seperti modal usaha, persedian bahan baku dan tenaga kerja yang terampil. Usaha meubel ini lebih berorientasi pada pesanan yang dilakukan konsumen berdasarkan selera konsumen tersebut. Disamping itu penyediaan bahan baku sangat menunjang dalam bidang usaha ini. Tenaga kerja yang dibutuhkan juga harus memiliki keterampilan dan keahlian khusus yang memadai. Pada usaha meubel ini, penerapan akuntansi biaya dapat dilakukan berdasarkan

pesanan yang diterima (job order costing) dan berdasarkan proses produksi secara kontinyu (proses costing), dimana biaya proses digunakan untuk mengumpulkan biaya produksi dalam perusahaan yang berproduksi secara massal. Dalam perusahaan ini proses produksi dilakukan secara terus menerus dan produksi ditujukan untuk memenuhi persediaan. Jadi harus ditangani secara cermat untuk menghindari kesalahan dalam menghitung harga pokok produksinya. Sedangkan dalam sistem job order, produk dihasilkan pun berdasarkan pesanan, sehingga biaya produksi yang

perusahaan dihitung

berdasarkan pesanan yang diterima dan produk yang diproduksi sesuai dengan spesifikasi para pemesan. Dengan penerapan metode job order costing, maka informasi yang dihasilkan mengenai perhitungan harga pokok

dikeluarkan

oleh

19

2)

produksi harus akurat dan handal, sistem akuntansi biaya yang dilaksanakan ditunjang dengan elemen sistem akuntansi biaya yang baik. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan sebagai berikut.

a. Untuk mengetahui perhitungan harga pokok produksi dengan pendekatan job order costing pada usaha meubel Meudang Perkasa

b. Untuk mengetahui kesesuaian perhitungan harga pokok produksi pada usaha meubel Meudang Perkasa.

c. Untuk mengetahui berapa besar pengaruh harga pokok produksi terhadap laba pada usaha meubel Medang Perkasa

3)

Metode penelitian Penelitian ini dilakukan secara langsung pada Usaha Meubel

Meudang Perkasa perabot yang berlokasi di jalan T Iskandar, Lambhuk Ulee

Kareng

penelitian berkaitan dengan hubungan antar sistem harga produk produksi dengan pendekatan Job Order Costing dengan laba usaha perusahaan

tersebut. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data primer baik yang berasal dari pengedaran kuesioner maupun berupa catatancatatan atau dokumen yang berkaitan dengan keuangan usaha Meubel Meudang Perkasa Perabot. Metode analisis data yang digunakan adalah regresi linier

sederhana. Penggunaan regresi

sederhana disebabkan bentuk hubungan antar variabel yang diteliti yakni harga pokok produk (sebagai proxi atau pendekatan dalam mengukur sistem harga pokok produk dengan metode Job Order Costing) di satu disisi, dengan laba usaha disisi lain berbentuk hubungan fungsional atau hubungan sebab akibat. Dalam hal ini harga pokok produksi dinyatakan sebagai variabel bebas (independent variable) dan laba usaha dinyatakan sebagai variabel terikat (dependent variable).

linier

Objek

Banda

Aceh.

20

4)

Hasil penelitian

Harga pokok produksi dengan pendekatan job order costing

berpengaruh positif terhadap perolehan laba pada usaha Meubel Meudang

Perkasa

Perabot.

Secara

statistik

angka tersebut dapat diartikan setiap peningkatan harga pokok produksi

dengan pendekatan job order costing sebesar Rp 1,00 akan dapat

meningkatkan laba usaha Meubel Meudang Perkasa Perabot sebesar Rp

0,337. Hal ini bermakna bahwa semakin tinggi harga pokok produk

berdasarkan order (job order costing) semakin besar pula laba usaha meubel

tersebut

5)

Kelebihan jurnal

a. Penelitian menggunakan beberapa hasil-hasil riset sebelumnya sebagai

penguat riset saat ini

 

b. Penelitian mudah dipahami

6)

Kekurangan jurnal

a. Pada bagian judul tidak disebutkan lokasi penelitian (Aceh), sehingga

dapat menyebabkan pembaca tidak mengetahui lebih awal lokasi

penelitiannya.

b. Masih terdapat beberapa referensi yang menggunakan referensi lama

(lebih dari 10 tahun)

c. Tidak dilakukan pengujian validitas, reliabilitas dan asumsi klasik

secara lengkap

b. Peranan Job Order Costing Method dalam Menentukan Harga Pokok Produksi (Studi Kasus Pada CV. Trinity Manado) Jessica Graziella Whitney Runtu Agus Poputra Victorina Tirayoh

Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Jurusan Akuntansi Universitas Sam Ratulangi Manado email : jessicaruntu8194@gmail.com Jurnal Riset Akuntansi Going Concern Vol. 11 No. 2 2016

1)

Latar Belakang

Penetapan harga pokok harus memegang peranan penting pada suatu

perusahaan, sebab dari harga pokok dapat dibuat analisa rencana dan

21

2)

kekuatan pemasaran dan penentuan harga jual. Dalam menghitung harus diperhitungkan unsur-unsur apa saja yang dibebankan kedalam biaya produksi. Perhitungan harga pokok produksi membutuhkan informasi biaya. Biaya tersebut dihasilkan lewat akuntansi biaya. Menurut Salman (2013 : 9), akuntansi biaya memegang peranan yang penting kepada pihak manajemen dalam merencanakan dan mengawasi kegiatan, meningkatkan mutu produk dan efisiensi, serta dalam pengambilan keputusan baik strategis maupun keputusan rutin. Dalam menentukan perhitungan harga pokok produksi ada 2 metode yang dapat digunakan, yaitu process costing dan job order costing. Process costing adalah penentuan harga pokok yang digunakan dalam situasi dimana produksi hanya melibatkan satu produk tunggal saja dan dibuat dalam satu jangka yang lama sekaligus. Contoh industri yang menggunakan metode process costing ini adalah perusahaan manufaktur semen, tepung, bensin, dan perusahaan yang menghasilkan bahan baku lainnya. Sedangkan job order costing suatu metode pengumpulan biaya produksi untuk menentukan harga pokok produksi pada perusahaan atas dasar pesanan. Tujuan metode job order costing untuk menentukan harga pokok pesanan secara keseluruhan dari tiap-tiap pesanan maupun untuk persatuan CV. trinity merupakan perusahaan yang menggunakan metode job order costing didalam produksinya. Oleh karena itu, CV. Trinity harus melakukan pengakumulasian dan perhitungan elemen biaya produksi baik bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, maupun pembebanan biaya overhead parbrik dalam setiap pesanan yang dikerjakan secara akurat. Hal ini bertujuan agar harga jual yang ditetapkan mampu menutup biaya produksi dan menghasilkan laba yang diinginkan. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan metode job order costing dalam menentukan harga pokok produksi pada CV. Trinity Manado.

22

3)

Metode penelitian

4)

Penelitian ini dilakukan di CV. Trinity merupakan perusahaan yang bertempat di Tikala Ares, Wenang, Manado. Perusahaan ini bergerak dibidang Digital Printing. Alamat lengkap dari CV. Trinity adalah Jl Tikala Ares I/53,Tikala Ares, Wenang, Manado, Indonesia. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu interview, wawancara, studi pustaka. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa Jenis data dalam penelitian ini berbentuk kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian CV. Trinity telah menggunakan metode job order costing tetapi cara pembebanan BOP yang dilakukan CV. Trinity kurang tepat karena percetakan CV. Trinity hanya membebankan unsur BOP berupa bahan penolong saja. Jumlah BOP yang dibebankan untuk pesanan undangan sebesar Rp. 190.000 jumlah yang dibebankan ini terlalu kecil karena unsur BOP yang lain seperti biaya listrik tidak ikut dibebankan. Akibat dari hal ini adalah harga pokok produksi terlalu kecil, sehingga harga jual yang ditetapkan juga terlalu kecil dan CV. Trinity tidak mampu mencapai tingkat keuntungan yangdiharapkan atas produksi pesanan undangan dan flyer. Seharusnya CV. Trinity menggunakan tarif BOP ditentukan di muka dalam pembebanan BOP untuk masing-masing pesanan. Untuk dapat menentukan tarif dan jumlah BOP yang dibebankan CV. Trinity dapat menggunakan dasar biaya bahan baku, mengingat bahwa unsur BOP yang paling dominan adalah proses produksi CV. Trinity adalah bahan penolong dan perubahan bahan penolong dipengaruhi oleh pemakaian bahan baku. CV. Trinity belum menyelenggarakan Kartu Harga Pokok Produksi pesanan untuk tiap-

yang

diterima dan diproduksi. Kartu Harga Pokok Pesanan ini penting bagi CV.

Trinity untuk mendokumentasikan infomasi biaya produksi dan Harga Pokok Produksi masing-masing pesanan sehingga membantu CV. Trinity dalam pengambilan keputusan harga jual dan membantu dalam

tiap

pesanan

23

mempermudah pencarian kembali informasi biaya produksi dikemudian

hari

yang sama.

pesanan

ketika

diterima

5)

Kelebihan jurnal

a. Penelitian menggunakan beberapa hasil-hasil riset sebelumnya sebagai penguat riset saat ini

b. Penelitian dilengkapi dengan perhitungan secara rinci.

6)

Kekurangan jurnal

a. Masih terdapat beberapa referensi yang menggunakan referensi lama (lebih dari 10 tahun)

b. Saran sebaiknya juga disampiakan bagi peneliti berikutnya

24

1. Kesimpulan

BAB III

PENUTUP

Akuntansi Biaya pesanan (Job Order Costing) : adalah sistem perhitungan

biaya produk yang mengalokasikan biaya-biaya dan membebankannya pada

pesanan tertentu

pembuatan produk terjadi secara terputus-putus, (2) produk yang dihasilkan sesuai

dengan spesifikasi yang ditentukan oleh pelanggan, (3) produksi ditujukan untuk

memenuhi pesanan pelanggan, bukan untuk memenuhi persediaan.

Jika suatu perusahaan dalam kegiatan produksinya memenuhi kriteria di

atas, maka pengumpulan biaya produksinya menggunakan metode kalkulasi biaya

pesanan. Ciri-ciri dari kalkulasi biaya pesanan menggunakan Kartu Biaya Pesanan

(job cost sheet) yang berfungsi sebagai buku besar pembantu persediaan barang

dalam proses. Kemudian kalkulasi biaya ini menghitung biaya produksi per unit

ada saat pesanan selesai. Meskipun banyak pesanan dapat dikerjakan secara

bersamaan, namun setiap kartu biaya pesanan hanya memuat rincian untuk satu

Hal ini dapat diketahui dari ciri-cirinya yaitu (1) proses

pesanan saja. Isi dan bentuk dari kartu biaya pesanan berbeda-beda antara satu

perusahaan dengan perusahaan lainnya.

Sistem perhitungan biaya berdasarkan pesanan mengakumulasikan biaya

bahan baku langsung, dan overhead yang dibebankan ke setiap pesanan. Oleh

karena itu, sistem perhitungan biaya ini terdiri atas 3 bagian yang saling

berhubungan, yaitu (1) akuntansi biaya bahan baku, (2) akuntansi tenaga kerja, (3)

akuntansi biaya overhead pabrik.

2. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas maka disarankan sebagai berikut :

a. Diharapkan kepada perusahaan agar mengkalkulsi dengan teliti perhitungan

harga pokok pesanan kepada masing-masing produk pesanan pelanggan agar

tidak terjadi kelebihan maupun kekurangan pembebenan biaya produksi

25

b. Diharapkan kepada perusahaan yang beroperasi dengan dasar pesanan agar menggunakan kartu biaya pesanan sebagai dasar pencatatan.

26

DAFTAR PUSTAKA

Siregar, Baldric. 2017. Akuntansi Biaya. Jakarta : Salemba Empat. Blocher & Chen. 2007. Cost Management. Jakarta : Salemba Empat