Anda di halaman 1dari 12

TINDAKAN HUKUM YANG DAPAT DIBERIKAN PADA PENANGGUNG JAWAB SITUS

BERITA WWW.SUARAREPUBLIKA.CO ATAS PENIRUAN KATA “REPUBLIKA” YANG


MERUPAKAN MEREK TERDAFTAR

MAKALAH

disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Studi Kasus Hukum Teknologi
kelas A tahun ajaran 2013/2014

Oleh

HANY WIDHYASTRI

110110100267

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS PADJADJARAN

BANDUNG, JAWA BARAT, INDONESIA

2014
KASUS POSISI

Sebuah perusahaan pers nasional yaitu PT Republika Media Mandiri menggugat


penanggung jawab situs www.suararepublika.co bernama Ardy Purnawan Sani
sebagai Tergugat dan PT Masterweb Network sebagai Turut Tergugat. Sengketa
tersebut tercatat dalam perkara perdata No.444/Pdt.G/2013/PN.Jkt Pst tertanggal 23
September 2013 lalu.

Hal ini dilakukan PT Republika Media Mandiri karena www.suararepublika.co dinilai


telah melakukan perbuatan melawan hukum. Gugatan tersebut dilayangkan ke
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. PT Republika Media Mandiri menilai para
Tergugat melanggar ketentuan Pasal 23 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
11 Tahun 2008 Tentang Informasi Transaksi Elektronik mengenai Nama Domain,
Hak Kekayaan Intelektual, dan Perlindungan Hak Pribadi.

Adapun perbuatan pidana yang disangkakan terhadap Tergugat ialah tindakan pada
saat Ardy Purnawan Sani menamai situsnya dengan menggunakan nama domain
yang mengandung kata “Republika”, yaitu www.suararepublika.co. Situs tersebut
sangat mirip dengan situs PT Republika Media Mandiri, yaitu www.republika.co.id
yang merupakan alamat dari berita harian elektronik dengan nama “Republika On
Line” atau biasa dikenal “ROL”. Sehingga hal tersebut dipandang sebagai bentuk
itikad buruk untuk membonceng merek terkenal. Tergugat sendiri tidak memiliki
merek yang terdaftar di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, sehingga
Penggugat menggunakan gugatan perbuatan melawan hukum, bukan gugatan
pembatalan merek.

Seperti telah disebut, situs ini dapat diakses publik melalui media dengan jasa
hosting PT Master web Network yang menjadi turut tergugat dalam perkara ini.
Dengan adanya situs berita Suara Republika tersebut, maka apabila publik
melakukan browsing di internet dengan memasukkan kata Suara Republika, maka
yang akan muncul pada tampilan pertama adalah situs milik Harian Republika.
Dengan adanya situs www.suararepublika.co, hal itu berpotensi menimbulkan
kerancuan (mislead) dan dapat mengecohkan (decept) publik. Selain itu tentu
masyarakat akan menganggap bahwa situs berita www.SuaraRepublika.co adalah
sama atau merupakan bagian dari nama atau merek republika milik Harian
Republika.

PT Republika Media Mandiri yang telah berdiri sejak 4 Januari 1993 dan telah
mendaftarkan beberapa mereknya ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual.
Merek Republika telah terdaftar di Direktorat Merek Departemen Hukum dan HAM
dengan nomor pendaftaran IDM000025775 pada 13 Agustus 2003 silam. Merek
tersebut kemudian diperpanjang pada tahun 2013. Adapun yang didaftarkan antara
lain Republika untuk kelas 16. Saat ini, Republika juga tengah mengajukan
permohonan pendaftaran merek-mereknya yang lain, yaitu Buku Republika, Logo
“R”, dan “ROL” Republika Online www.republika.co.id. Ketiganya telah diterima
Ditjen HKI pada 8 April 2013.

Selain dinilai melanggar Pasal 23 UU ITE, Tergugat juga dianggap melanggar Pasal
91 UU Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek, yaitu menggunakan merek terdaftar
tanpa hak. Meskipun pelanggaran terhadap Pasal 91 UU Merek diancam dengan
denda sebesar Rp800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah), namun Penggugat
tidak menuntut ganti rugi. Penggugat meminta Tergugat untuk meminta maaf yang
dimuat di beberapa media berskala nasional selama tiga hari dan dilarang
menggunakan kata-kata republika pada situs onlinenya.

Menanggapi gugatan hukum tersebut, tanpa diwakili kuasa hukumnya, pihak


Tergugat menampik dalil-dalil yang dituding Republika. Menurutnya, tidak ada itikad
buruk sedikit pun saat membuat situs tersebut. Tujuan pembuatan situs sendiri
adalah sebagai media dalam menuangkan gagasan para mahasiswa ke dalam
bentuk tulisan. Tergugat dalam jawabannya mengatakan situs miliknya dimunculkan
dengan niat baik untuk memberikan ruang aktualisasi bagi teman-temannya, para
mahasiswa muda yang senang menulis. Pemilihan nama www.SuaraRepublika.co
sendiri disebutkan atas dasar bahwa frasa Suara dan Republika mewakili semangat
nasionalisme dan kebangsaan bagi jiwa kaum muda. Lagi pula, domain tersebut
belum dimiliki siapapun sehingga siapa saja bisa menggunakan situs tersebut
sepanjang belum ada yang membelinya.

Memperkuat posisi portal beritanya, Tergugat akhirnya telah mendaftarkan


permohonan pendaftaran merek ke Ditjen HKI. Merek “Suara Republika” telah
dimohonkan pada 1 Mei 2013 untuk kelas 42. Saat ini, Tergugat tengah menanti
hasil pemeriksaan dari Ditjen HKI meskipun keputusannya bisa diterima maupun
ditolak.

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 Tentang


Informasi Transaksi Elektronik menyatakan bahwa penggunaan nama domain harus
didasarkan pada itikad baik, tidak melanggar prinsip persaingan usaha secara sehat,
dan tidak melanggar hak orang lain. Apalagi Tergugat menggunakan nama tersebut
untuk kepentingan usaha dan bisnis.

Kemudian Penggugat meminta agar majelis hakim menghukum Ardy Purnawan


untuk memberikan penjelasan dan menyampaikan permohonan maaf kepada Harian
Republika dan publik dengan memuat pengumuman di tiga media massa berskala
nasional. Serta selain itu menuntut agar Tergugat tidak lagi dapat menggunakan
konten dan layout dari situs www.SuaraRepublika.co dan nama tersebut harus
dibatalkan demi hukum.

Sedangkan dari sisi Turut Tergugat, Kuasa hukum Masterweb Network mengatakan
belum ada suatu sistem secara otomatis yang dapat menganalisa apakah suatu
nama atau konten yang diminta sudah sesuai atau tidak sesuai dengan suatu hak.
Sebagai sebuah hosting, Masterweb Network hanya berfungsi sebagai wadah untuk
menampung data-data yang dibuat dari sebuah situs. Sehingga berdasarkan hal
tersebut Turut Tergugat memandang bahwa perkara ini tidak seharusnya melibatkan
Masterweb Network.
IDENTIFIKASI MASALAH

1. Apakah tindakan hukum apa yang dapat dilakukan oleh PT Republika Media
Mandiri terhadap penanggung jawab situs berita www.SuaraRepublika.co
atas penggunaan kata “Republika” yang merupakan merek terdaftar?
ANALISIS

I. SUBJEK HUKUM
Subjek Hukum menurut Undang-Undang ITE dapat merujuk pada
ketentuan Pasal 1 angka 6, angka 21, serta angka 22, yang mana
berbunyi sebagai berikut :

Pasal 1 angka 6
“Penyelenggaraan Sistem Elektronik adalah pemanfaatan Sistem
Elektronik oleh penyelenggara negara, Orang, Badan Usaha,
dan/atau masyarakat.”
Pasal 1 angka 21
“Orang adalah orang perseorangan, baik warga negara Indonesia,
warga negara asing, maupun badan hukum.”
Pasal 1 angka 22
“Badan Usaha adalah perusahaan perseorangan atau perusahaan
persekutuan, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak
berbadan hukum.”

Sedangkan subjek hukum menurut Undang-Undang Merek ialah dapat


merujuk pada ketentuan Pasal 76 ayat (1), yang menyatakan sebagai
berikut :
“Pemilik Merek terdaftar dapat mengajukan gugatan terhadap pihak
lain yang secara tanpa hak menggunakan Merek yang mempunyai
persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya untuk barang atau
jasa yang sejenis berupa:
a. gugatan ganti rugi, dan/atau
b. penghentian semua perbuatan yang berkaitan dengan
penggunaan Merek tersebut”

Kemudian apabila melihat segi subjek hukum dalam kasus ini, maka dapat
diuraikan sebagai berikut :
 PT Republika Media Mandiri (Harian Republika) sebagai pihak
PENGGUGAT
 Ardy Purnawan Sani selaku penanggung jawab situs berita
www.SuaraRepublika.co sebagai pihak TERGUGAT
 PT Master Web Network sebagai pihak TURUT TERGUGAT

II. OBJEK HUKUM


Menurut Undang-Undang ITE, objek hukum dapat merujuk ketentuan
pasal-pasal berikut :

Pasal 1 angka 1
“Informasi Elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik,
termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta,
rancangan, foto, electronic data interchange (EDI), surat elektronik
(electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf,
tanda, angka, Kode Akses, simbol, atau perforasi yang telah diolah
yang memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu
memahaminya.”

Pasal 1 angka 4
“Dokumen Elektronik adalah setiap Informasi Elektronik yang dibuat,
diteruskan, dikirimkan, diterima, atau disimpan dalam bentuk analog,
digital, elektromagnetik, optikal, atau sejenisnya, yang dapat dilihat,
ditampilkan, dan/atau didengar melalui Komputer atau Sistem
Elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara,
gambar, peta, rancangan, foto atau sejenisnya, huruf, tanda, angka,
Kode Akses, simbol atau perforasi yang memiliki makna atau arti
atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.”

Kemudian untuk melihat segi objek hukum dari Undang-Undang Merek


dapat melihat pada ketentuan pasal berikut :

Pasal 1 angka 1
“Merek adalah tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf,
angka-angka, susunan warna, atau kombinasi dari unsur-unsur
tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam
kegiatan perdagangan barang atau jasa.”

Pasal 28
“Merek terdaftar mendapat perlindungan hukum untuk jangka waktu
10 (sepuluh) tahun sejak Tanggal Penerimaan dan jangka waktu
perlindungan itu dapat diperpanjang.”

Sedangkan objek hukum dalam kasus ini adalah situs berita


www.SuaraRepublika.co milik TERGUGAT yang diduga meniru kata
“Republika” yang telah terdaftar di Direktorat Merek Ditjen HKI pada
tanggal 13 Agustus 2003 yang kemudian diperpanjang kembali pada
tahun 2013. Berita-berita pada situs www.SuaraRepublika.co merupakan
bentuk informasi elektronik, sedangkan website tempat wadah berita-
berita tersebut merupakan bentuk dokumen elektronik.

III. PERBUATAN HUKUM


Bentuk perbuatan hukum yang diatur dalam Undang-Undang ITE antara
lain mencakup :

Pasal 23 ayat (3)


”Setiap penyelenggara negara, Orang, Badan Usaha, atau
masyarakat yang dirugikan karena penggunaan Nama Domain
secara tanpa hak oleh Orang lain, berhak mengajukan gugatan
pembatalan Nama Domain dimaksud.”

Sedangkan bentuk perbuatan hukum yang diatur dalam Undang-Undang


Merek ialah :

Pasal 76 ayat (1)


“Pemilik Merek terdaftar dapat mengajukan gugatan terhadap pihak
lain yang secara tanpa hak menggunakan Merek yang mempunyai
persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya untuk barang atau
jasa yang sejenis berupa:
a. gugatan ganti rugi, dan/atau
b. penghentian semua perbuatan yang berkaitan dengan
penggunaan Merek tersebut”

Pasal 91
“Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan Merek
yang sama pada pokoknya dengan Merek terdaftar milik pihak lain
untuk barang dan/atau jasa sejenis yang diproduksi dan/atau
diperdagangkan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4
(empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 800.000.000,00
(delapan ratus ribu rupiah).”

Pihak TERGUGAT menggunakan kata “Republika” yang telah terdaftar di


Direktorat Merek Ditjen HKI pada tanggal 13 Agustus 2003 yang kemudian
diperpanjang kembali pada tahun 2013. Selain itu pihak PENGGUGAT
sendiri telah mendaftarkan merek lain yang menggunakan unsur kata
“Republika” untuk melindungi jenis kelas barang dan jasa kelas 16 (buku,
surat kabar), yakni terhadap :
 Buku Republika
 Logo “R”
 ROL (Republika Online atau www.republika.co.id)

Tindakan TERGUGAT dianggap dapat mengecohkan masyarakat karena


ketika memasukkan kata kunci “Harian Republika” di browser, maka situs
yang pertama kali keluar adalah situs berita www.SuaraRepublika.co.

IV. AKIBAT HUKUM


PT Republika Media Mandiri mengguggat Ardy Purnawan Sani atas dasar
meniru kata “Republika” yang merupakan merek terdaftar. Akibat dari
peniruan tersebut menimbulkan kerancuan dan dapat mengecohkan
masyarakat. Di samping itu, tindakan Ardy Purnawan Sani yang
menggunakan nama domain www.SuaraRepublika.co. Merupakan bentuk
itikad tidak baik karena melanggar prinsip persaingan usaha secara sehat
dan melanggar hak orang lain, karena pada dasarnya kata “Republika” itu
sendiri telah terdaftar secara merek.

Pihak TERGUGAT dalam jawabannya menyatakan bahwa penggunaan


nama domain www.SuaraRepublika.co merupakan bentuk aktualisasi bagi
para mahasiswa yang aktif menulis. Pemilihan nama pun dilakukan
mewakili rasa nasionalisme dan kebangsaan, serta nama domain tersebut
juga belum terdaftar.

Berdasarkan ketentuan hukum Pasal 23 ayat (2) dan ayat (3) Undang-
Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan
Transaksi Elektronik, menyebutkan bahwa :

(2) Pemilikan dan penggunaan Nama Domain sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) harus didasarkan pada iktikad baik, tidak
melanggar prinsip persaingan usaha secara sehat, dan tidak
melanggar hak Orang lain.
(3) Setiap penyelenggara negara, Orang, Badan Usaha, atau
masyarakat yang dirugikan karena penggunaan Nama Domain
secara tanpa hak oleh Orang lain, berhak mengajukan gugatan
pembatalan Nama Domain dimaksud.

Berdasarkan ketentuan pasal tersebut maka seharusnya pihak


TERGUGAT tidak boleh menggunakan nama domain yang didasarkan
itikad tidak baik dan melanggar prinsip persaingan usaha. Dalam hal ini
tindakan PENGGUGAT untuk mengajukan gugatan pembatalan nama
domain sudah tepat.

Sedangkan apabila melihat Undang-Undang Merek pada ketentuan Pasal


76 ayat (1) menyebutkan :
“Pemilik Merek terdaftar dapat mengajukan gugatan terhadap pihak
lain yang secara tanpa hak menggunakan Merek yang mempunyai
persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya untuk barang atau
jasa yang sejenis berupa:
a. gugatan ganti rugi, dan/atau
b. penghentian semua perbuatan yang berkaitan dengan
penggunaan Merek tersebut”

Kemudian beranjak kepada permasalahan merek dalam kasus ini, maka


PT Republika Media Mandiri pada dasarnya juga dapat membawa ke
ranah peradilan pidana dengan menggunakan ketentuan hukum Pasal 91
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2001 Tentang
Merek, yang mana berbunyi :

“Barangsiapa dengan senagaja dan tanpa hak menggunakan Merek yang


sama pada pokoknya dengan Merek terdaftar milik pihak lain untuk barang
dan/atau jasa sejenis yang diproduks dan/atau diperdagangkan, dipidana
dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda
paling banyak Rp 800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah).
KESIMPULAN

Tindakan hukum yang dapat dilakukan oleh PT Republika Media Mandiri


adalah dengan menggugat Ardy Purnawan Sani. Adapun dasar hukum
yang dapat digunakan adalah ketentuan Pasal 23 ayat (3) Undang-
Undang ITE dan Pasal 76 ayat (1) Undang-Undang Merek.

PT Republika Media Mandiri tidak dapat mengajukan gugatan pembatalan


merek karena pada dasarnya “Suara Republika” bukanlah merek terdaftar.
Sehingga tindakan yang dapat dilakukan oleh PT Republika Media Mandiri
ialah mengajukan gugatan perbuatan melawan hukum. Kemudian PT
Republila Media Mandiri juga dapat mengajukan gugatan atas
pelanggaran merek berdasarkan ketentuan hukum Pasal 76 ayat (1)
Undang-Undang Merek. Mengingat kasus ini berkaitan erat dengan
masalah domain yang telah didaftarkan sebagai merek, maka PT
Republika Media Mandiri dapat mengajukan gugatan pembatalan nama
domain sekaligus gugatan atas pelanggaran merek.

Ardy Purnawan Sani selaku penanggung jawab situs berita


www.SuaraRepublika.co sendiri pada hakikatnya dapat dijerat dengan
ketentuan Pasal 91 UU Merek karena telah dengan sengaja
menggunakan merek yang sama pada pokoknya dengan merek terdaftar
milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis.

Sejalan dengan kasus ini diketahui bahwa Ardy Purnawan Sani


melakukan permohonan pendaftaran kata “Suara Republika” ke Ditjen HKI
yang masuk ke dalam kelas 42 (pelayanan ilmiah), namun dalam hal ini
menurut Penulis Ditjen HKI harus menolak permohonan pendaftaran
merek “Suara Republika” karena pada dasarnya kata “Suara Republika”
mempunyai persamaan pada pokoknya dengan merek “Republika” yang
telah terdaftar lebih dahulu. (Pasal 6 ayat (3) huruf a UU Merek).