Anda di halaman 1dari 15

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/317560477

Aliran Airtanah pada Sistim Akifer Karst dan Pendugaan Dimensi Gua dengan
Kombinasi Metode Geolistrik : Inversi 2D dan Mise A'la Masse Studi Kasus :
Kawasan Buniayu, Sukabumi, Jawa...

Conference Paper · September 2006

CITATION READS

1 448

4 authors, including:

Bagus Endar Bachtiar Nurhandoko


Bandung Institute of Technology
45 PUBLICATIONS   20 CITATIONS   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Rock Physics and Geomechanics View project

All content following this page was uploaded by Bagus Endar Bachtiar Nurhandoko on 13 June 2017.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


Proceeding HAGI Seminar, 2006
20 September 2006, Bandung, Indonesia

Aliran Airtanah pada Sistim Akifer Karst dan Pendugaan Dimensi Gua dengan
Kombinasi Metode Geolistrik : Inversi 2D dan Mise A’la Masse
Studi Kasus : Kawasan Buniayu, Sukabumi, Jawa Barat

Oleh :
Deny Juanda Puradimaja1
Bagus Endar Bachtiar Nurhandoko2
Imam Priyono1
1)
Fakultas Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral, Institut Teknologi Bandung
2)
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung

ABSTRAK

Kajian kondisi aliran airtanah dan rekonstruksi jaringan gua pada sistim karst telah
dilakukan di kawasan Buniayu, Kabupaten Sukabumi Jawa Barat, tepatnya di kawasan Gua
Cipicung dan Gua Siluman. Untuk merekonstruksi gua dan jaringannya digunakan kombinasi
metode geolistrik inversi 2D Wenner-Schlumberger dan Mise a’la Masse sebanyak 8 bentangan.
Dengan kombinasi tersebut mampu mendeteksi keberadaan, dimensi, posisi rongga gua dan
kondisi masing-masing jalur gua yang berair atau tidak berair. Untuk uji ketelitian, telah
dilakukan pembanding yaitu pemetaan kondisi gua dan jaringannya serta kondisi hidrogeologi
secara langsung melalui penelusuran gua; demikian juga telah dilakukan uji coba laboratorium
atas contoh batugamping dengan berbagai kondisi masif, rekah, lapuk, berair dan kering sebagai
dasar pada saat melakukan interpretasi hasil geolistrik mengenai kondisi tatanan hidrogeologi di
bawah permukaan.
Hasil pengukuran metoda Wenner-Schlumberger yang dalam interpretasi menggunakan
hasil tes laboratorium, diperoleh kondisi akifer media rekahan dengan identitas posisi dan ukuran
rongga (lebar dan tinggi), yaitu : Bentangan-1 (775 mapl, tidak terdeteksi adanya rongga),
Bentangan-2 (776 mapl, tidak terdeteksi adanya rongga), Bentangan-3 (777 mapl, 20 m x 10 m),
Bentangan-4 (775 mapl, 42 m x 15 m), Bentangan-5 (774 mapl, 55 m x 10 m), Bentangan-6 (775
mapl, 25 m x 15 m), Bentangan-7 (774 mapl, 6 m x 3 m), dan Bentangan-8 (775 mapl, 50 m x 5
m). Selanjutnya, berdasarkan analisis hasil metoda Mise A’la Masse diperoleh kondisi aliran
airtanah bahwa di dasar lorong Gua Cipicung (total panjang 640 meter, seluruhnya berair),
sedangkan di lorong Gua Siluman (total panjang 600 meter, air mengalir hanya sepanjang 100 m
dari mulut gua bagian Selatan dan bagian lainnya kering.Aliran air masuk melalui rongga-rongga
kecil dan rekahan di bagian dasar Gua Siluman.

1
Proceeding HAGI Seminar, 2006
20 September 2006, Bandung, Indonesia

PENDAHULUAN

Karst adalah kawasan dengan karakteristik bentang alam dan hidrologi/hidrogeologi unik yang
terjadi akibat adanya kombinasi antara batuan yang mudah larut (umumnya batugamping) dan
porositas sekunder (akibat tektonik) (Brahmantyo, 2005). Ciri umum bentang alam karst,
khususnya di Indonesia yang beriklim tropis basah, adalah terbentuknya perbukitan hampir
seragam berbentuk kubah atau menara, lembah-lembah depresi, gua dan sungai bawah tanah.
Struktur geologi dan sifat batuan bersama-sama dengan kondisi topografi dan kondisi iklim
menentukan proses pembentukan lorong/gua. Pada tatanan yang berbeda, satu atau semua faktor
tersebut dapat menjadi dominan, namun kerangka struktur geologi menentukan kondisi awal
sirkulasi air tanah, baik itu berupa bidang perlapisan, kekar ataupun sesar (Kastning, 1984;
Ruggieri, 1997; Sebela, 1997; Vasileva, 1997). Pada proses selanjutnya konfigurasi struktur
geologi berperan terus dalam mengontrol karstifikasi, di antaranya ditandai dengan terbentuknya
gua pada level-level ketinggian yang berbeda dan perkembangan bentuk-bentuk khas karst
lainnya (Parizek, 1976; Kastning, 1984; Rossi dkk., 1997; Brahmantyo, 2005). Pembentukan
kawasan karst dengan pembentukan gua sebagai ciri utama karstifikasi masih banyak
diperdebatkan asal kejadiannya. Konsep-konsep awal dicirikan oleh perdebatan kejadian gua
apakah pada zona freatik atau zona vadose, selanjutnya faktor-faktor kimia air, sifat fisik batuan
dan kontrol geologi cukup dominan di dalam pembahasan kejadian kawasan karst akhir-akhir ini.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa setiap kawasan karst yang berbeda dikendalikan oleh kontrol-
kontrol geologi yang spesifik (Brahmantyo, 2005).
Daerah penelitian yang dipilih adalah kawasan di sekitar Gua Cipicung, Buniayu,
Kabupaten Sukabumi. Pemilihan lokasi penelitian ini didasarkan oleh adanya sungai bawah tanah
yang berada pada akifer Formasi Bojonglopang . Kesampaian lokasi  20 km sebelah selatan
kota Sukabumi, Jawa Barat yang meliputi daerah dengan luas  20 km2 (Gambar 1). Secara
geografis daerah penelitian terletak pada koordinat koordinat 106o53’30’’ – 106o56’20’’ Bujur
Timur dan 7o01’30’’ – 7o03’30’’ Lintang Selatan.

Gambar 1. Lokasi Daerah penelitian

2
Proceeding HAGI Seminar, 2006
20 September 2006, Bandung, Indonesia

TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan penelitian di kawasan karst Buniayu adalah untuk merekonstruksi jaringan
endokarst. Disamping itu, juga untuk memahami sistem akifer dan aliran airtanah.

BATASAN MASALAH
Batasan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Penelitian dilakukan di sekitar kawasan Gua Cipicung dan Gua Siluman tepatnya di daerah
Buniayu dengan obyek penelitian berupa gua bawah tanah pada akifer karst.
2. Lapisan batuan yang akan diamati di lapangan dan dipakai sebagai acuan penelitian hanyalah
yang tersingkap di permukaan.
3. Keadaaan bawah permukaan akan diamati melalui pengamatan lapangan (gua bawah tanah)
dan data pengukuran geolistrik (metode geofisika).

PENGUMPULAN DATA PENELITIAN


Pada pelaksanaan penelitian ini, data yang dipergunakan adalah data primer maupun data
sekunder. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari literatur, sedangkan data primer
diperoleh dengan melakukan pengukuran langsung di daerah penelitian. Data primer yang
diperoleh adalah data geolistrik, data geologi dan data hidrogeologi. Sedangkan data sekunder
yang dikumpulkan berupa data curah hujan. Di bawah ini disajikan data-data yang berhasil
dikumpulkan beserta pengolahannya.

GEOLOGI DAERAH PENELITIAN


Geologi daerah penelitian dibentuk oleh endapan Tersier, dimana terdapat Formasi
Jampang dengan litologi breksi gunungapi yang berumur Miosen Bawah. Selanjutnya secara
tidak selaras diendapkan Formasi Bojonglopang dengan litologi batugamping yang berumur
Miosen Tengah. Secara menjari, diendapkan Formasi Nyalindung dengan litologi batulempung
pasiran yang juga berumur Miosen Tengah. Selanjutnya secara tidak selaras diendapkan Formasi
Beser dengan litologi klastika gunungapi yang berumur Miosen Atas (Sukamto, R.A.B., 1975)
(Gambar 2.).

3
Proceeding HAGI Seminar, 2006
20 September 2006, Bandung, Indonesia

Gambar 2. Peta Geologi Daerah penelitian

4
Proceeding HAGI Seminar, 2006
20 September 2006, Bandung, Indonesia

PENGUKURAN GEOLISTRIK METODE WENNER-SCHLUMBERGER


Untuk pengukuran geolistrik di lapangan, penulis menetapkan untuk mengambil 8 titik geolistrik
(Gambar 3.). Dalam 1 bentangan titik geolistrik, memiliki panjang bentangan 250 m. Metoda
konfigurasi pengukuran geolistrik akan dilakukan dengan 2 metoda, yaitu metoda Wenner -
Schlumberger dan metoda Misse A’la Masse. Pengukuran Metoda Wenner-Schlumberger dan
Metode Misse A’la Mase akan dilakukan sebanyak 8 Bentangan (Gambar 3.).
Berdasarkan Gambar 3, terlihat bahwa selain melakukan pengukuran geolistrik, penulis juga
melakukan pemetaan langkah kompas di dalam Gua Cipicung dan Gua Siluman. Pemetaan
langkah kompas tersebut dilakukan untuk mendapatkan rekonstruksi jalur gua bawah tanah.
Setelah dilakukan pemetaan langkah kompas dari Gua Cipicung dan Gua Siluman, terlihat bahwa
kedua gua tersebut menyatu menjadi satu jalur gua dan akhirnya melewati Gua Kerek (Gambar
3.).
Pada saat melakukan pemetaan langkah kompas di Gua Cipicung dihasilkan data sebagai berikut :
1. Pada jarak 100 m dari mulut Gua Cipicung, arah jalur gua sekitar N 85º E.
2. Pada jarak 100 m selanjutnya, arah jalur gua sekitar N 50º E.
3. Selanjutnya arah jalur gua berubah arah menjadi N 5º E. Arah jalur gua ini selanjutnya relatif
sama dan tidak berubah sepanjang 300 m.
Pada saat melakukan pemetaan langkah kompas di Gua Siluman dihasilkan data sebagai berikut :
1. Pada jarak 150 m dari mulut Gua Siluman, arah jalur gua sekitar N 330º E.
2. Selanjutnya arah jalur gua menjadi N 305º E. Arah jalur gua ini selanjutnya relatif sama dan
tidak berubah sepanjang 300 m.

Gambar 3. Peta Komparasi Pengukuran Langkah Kompas dan


Pengukuran Geolistrik Metode Inversi 2D

5
Proceeding HAGI Seminar, 2006
20 September 2006, Bandung, Indonesia

Hasil Metode Inversi 2D (Wenner – Schlumberger)

Barat
Tanah Timur

Lapisan penutup
Batugamping
Masif

Rongga

Gambar 4. Hasil Pengukuran Inversi 2D Bentangan 1

Barat Tanah Timur

Lapisan penutup
Batugamping Masif

Rongga
Gambar 5. Hasil Pengukuran Inversi 2D Bentangan 2

Batugamping
Barat Tanah Masif Tanah
Timur

Lapisan penutup

Rongga

Gambar 6. Hasil Pengukuran Inversi 2D Bentangan 3

6
Proceeding HAGI Seminar, 2006
20 September 2006, Bandung, Indonesia

Barat Batugamping
Tanah Timur
Masif

Lapisan penutup

15 m
42 m

Rongga Gua

Gambar 7. Hasil Pengukuran Inversi 2D Bentangan 4

Tanah
Barat Timur

Batugamping
Masif Lapisan
penutup
10 m

55 m

Rongga Gua

Gambar 8. Hasil Pengukuran Inversi 2D Bentangan 5

Batugamping
Barat Tanah Masif Tanah Timur
5m

25 m

Rongga Gua
Gambar 9. Hasil Pengukuran Inversi 2D Bentangan 6

7
Proceeding HAGI Seminar, 2006
20 September 2006, Bandung, Indonesia

Batugamping
Barat Masif Tanah
Timur

Batugamping
Masif Lapisan penutup

Rongga Gua Rongga Gua

Gambar 10. Hasil Pengukuran Inversi 2D Bentangan 7

Barat Tanah Batugamping Tanah


Masif Timur

Lapisan penutup
5m

50 m

Rongga Gua

Gambar 11. Hasil Pengukuran Inversi 2D Bentangan 8

HASIL PENGUKURAN GEOLISTRIK INVERSI 2D (WENNER-SCHLUMBERGER)

Berdasarkan hasil pengukuran geolistrik metoda Wenner-Schlumberger, dapat disimpulkan


beberapa hal sebagai berikut :
1. Bentangan 1 (Gambar 4), dapat terlihat bahwa terdapat suatu anomali resistivitas yang
sangat tinggi (berwarna merah tua – hitam). Anomali resistivitas tersebut hanya terdeteksi
sedikit dan diperkirakan merupakan rongga-rongga gua yang kecil. Secara umum terlihat
bahwa penyebaran batugamping membentuk suatu perlapisan yang relatif mendatar. Namun
terlihat pada kedalaman sekitar 5 – 20 m terdapat suatu batugamping yang masif yang
berbentuk seperti kubah (berwarna hijau muda – hijau tua).
2. Bentangan 2 (Gambar 5), dapat terlihat bahwa terdapat suatu anomali resistivitas yang
sangat tinggi (berwarna merah tua – hitam). Anomali resistivitas tersebut hanya terdeteksi
sedikit dan diperkirakan merupakan rongga-rongga gua yang kecil. Pada pengukuran
geolistrik di Bentangan 2 ini terlihat bahwa batugamping memiliki perlapisan yang relatif
mendatar, sedangkan pada kedalaman sekitar 5 – 20 m kemungkinan merupakan
batugamping yang relatif porous.
3. Bentangan 3 (Gambar 6), dapat terlihat bahwa terdapat suatu anomali resistivitas yang
sangat tinggi (berwarna merah tua – hitam). Adanya anomali tersebut menandakan bahwa
terdapat suatu rongga atau gua yang mempunyai dimensi yang sangat besar. Gua tersebut

8
Proceeding HAGI Seminar, 2006
20 September 2006, Bandung, Indonesia

terdapat pada kedalaman sekitar 45 meter di bawah permukaan tanah. Pada kedalaman
sekitar 10 – 30 m terlihat bahwa batugamping mempunyai perlapisan yang mendatar dan
pada bagian tengah diperkirakan batugamping masif tersebut mempunyai penyebaran sampai
ke permukaan tanah. (berwarna hijau muda – hijau tua). Berdasarkan hasil pengukuran
geolistrik, didapatkan anomali suatu rongga dengan dimensi tinggi 10 m dan lebar 20 m.
Anomali tersebut diperkirakaan merupakan rongga Gua Siluman. Hal ini telah dibuktikan
melalui pengukuran langkah kompas dan menelusuri Gua Siluman tersebut. Berdasarkan
penelusuran Gua Siluman melalui metode langkah kompas, didapatkan bahwa tinggi Gua
Siluman berkisar antara 1.5 – 18 m dan lebar Gua Siluman berkisar antara 3 – 38 m.
4. Bentangan 4 (Gambar 7), dapat terlihat bahwa terdapat suatu anomali resistivitas yang
sangat tinggi (berwarna merah tua – hitam). Adanya anomali tersebut menandakan bahwa
terdapat suatu rongga atau gua yang mempunyai dimensi yang sangat besar. Gua tersebut
terdapat pada kedalaman sekitar 40 meter di bawah permukaan tanah. Pada kedalaman
sekitar 10 – 28 m terlihat bahwa batugamping mempunyai perlapisan yang mendatar dan
pada bagian tengah diperkirakan mempunyai penyebaran ke permukaan (berwarna hijau
muda). Berdasarkan hasil pengukuran geolistrik, didapatkan anomali suatu rongga dengan
dimensi tinggi 15 m dan lebar 42 m. Anomali tersebut diperkirakaan merupakan rongga Gua
Siluman. Hal ini telah dibuktikan melalui pengukuran langkah kompas dan menelusuri Gua
Siluman tersebut. Berdasarkan penelusuran Gua Siluman melalui metode langkah kompas,
didapatkan bahwa tinggi Gua Siluman berkisar antara 2 – 20 m dan lebar Gua Siluman
berkisar antara 4 – 36 m.
5. Bentangan 5 (Gambar 8), dapat terlihat bahwa terdapat suatu anomali resistivitas yang
sangat tinggi (berwarna merah tua – hitam). Adanya anomali tersebut menandakan bahwa
terdapat suatu rongga atau gua yang mempunyai dimensi yang sangat besar. Gua tersebut
terdapat pada kedalaman sekitar 40 meter di bawah permukaan tanah Berdasarkan hasil
pengukuran geolistrik, didapatkan anomali suatu rongga dengan dimensi tinggi 10 m dan
lebar 55 m. Anomali tersebut diperkirakaan merupakan rongga Gua Siluman. Hal ini telah
dibuktikan melalui pengukuran langkah kompas dan menelusuri Gua Siluman tersebut.
Berdasarkan penelusuran Gua Siluman melalui metode langkah kompas, didapatkan bahwa
tinggi Gua Siluman berkisar antara 2 – 18 m dan lebar Gua Siluman berkisar antara 4 – 36 m.
6. Bentangan 6 (Gambar 9), dapat terlihat bahwa terdapat suatu anomali resistivitas yang
sangat tinggi (berwarna merah tua – hitam). Adanya anomali tersebut menandakan bahwa
terdapat suatu rongga atau gua yang mempunyai dimensi yang sangat besar. Gua tersebut
terdapat pada kedalaman sekitar 39 meter di bawah permukaan tanah. Pada bagian atas dari
gua tersebut terdapat suatu perlapisan batugamping yang mendatar dan pada Bentangan 6 ini
terdeteksi batugamping yang masif. Berdasarkan hasil pengukuran geolistrik, didapatkan
anomali suatu rongga dengan dimensi tinggi 5 m dan lebar 25 m. Anomali tersebut
diperkirakaan merupakan rongga Gua Siluman. Hal ini telah dibuktikan melalui pengukuran
langkah kompas dan menelusuri Gua Siluman tersebut. Berdasarkan penelusuran Gua
Siluman melalui metode langkah kompas, didapatkan bahwa tinggi Gua Siluman berkisar
antara 1.5 – 20 m dan lebar Gua Siluman berkisar antara 2 – 37 m.
7. Bentangan 7 (Gambar 10), dapat terlihat bahwa terdapat suatu anomali resistivitas yang
sangat tinggi (berwarna merah tua – hitam). Adanya anomali tersebut menandakan bahwa
terdapat suatu rongga atau gua yang mempunyai dimensi yang sangat besar. Gua tersebut
terdapat pada kedalaman sekitar 50 - 60 meter di bawah permukaan tanah. Pada kedalaman
sekitar 35 m terdapat suatu rongga yang berukuran 6 m x 4 m yang diperkirakan merupakan
gua bawah tanah namun terbentuk pada level kedalaman 35 m.
8. Bentangan 8 (Gambar 11), dapat terlihat bahwa terdapat suatu anomali resistivitas yang
sangat tinggi (berwarna merah tua – hitam). Adanya anomali tersebut menandakan bahwa
terdapat suatu rongga atau gua yang mempunyai dimensi yang sangat besar. Gua tersebut
terdapat pada kedalaman sekitar 40 meter di bawah permukaan tanah. Pada pengukuran di

9
Proceeding HAGI Seminar, 2006
20 September 2006, Bandung, Indonesia

Bentangan 8 ini terlihat bahwa batugamping mempunyai perlapisan yang relatif mendatar
(berwarna hijau). Berdasarkan hasil pengukuran geolistrik, didapatkan anomali suatu rongga
dengan dimensi tinggi 5 m dan lebar 50 m. Anomali tersebut diperkirakaan merupakan
rongga Gua Siluman. Hal ini telah dibuktikan melalui pengukuran langkah kompas dan
menelusuri Gua Siluman tersebut. Berdasarkan penelusuran Gua Siluman melalui metode
langkah kompas, didapatkan bahwa tinggi Gua Siluman berkisar antara 2 – 19 m dan lebar
Gua Siluman berkisar antara 2.5 – 40 m.

PENGUKURAN GEOLISTRIK METODE MISSE A’LA MASE

Untuk pengukuran geolistrik metode Misse A’la Mase di lapangan, penulis menetapkan untuk
mengambil 8 titik geolistrik (Gambar 12.). Dalam 1 bentangan titik geolistrik, memiliki panjang
bentangan 250 m. Pengukuran Metode Misse A’la Mase akan dilakukan sebanyak 8 Bentangan
(Gambar 12.).

Gambar 12. Peta Komparasi Pengukuran Langkah Kompas dan


Pengukuran Geolistrik Misse A’la Mase

HASIL PENGUKURAN GEOLISTRIK METODE MISSE A’LA MASE


Berdasarkan hasil pengukuran geolistrik metoda Misse A’la Mase (Gambar 12.), dapat
disimpulkan bahwa terdapat dua buah rongga yang terdeteksi. Rongga tersebut membentuk suatu
jalur gua yang berarah relatif N 50o E. Kedua rongga tersebut merupakan sungai bawah tanah
(berwarna kuning). Apabila kita bandingkan dengan jalur sungai bawah tanah yang berdasarkan
langkah kompas, pada jalur sungai bawah tanah di bagian kiri (Bentangan 3 dan Bentangan 5)
umumnya memiliki kecenderungan arah jalur sungai bawah tanah yang sama. Sedangkan pada
jalur sungai bawah tanah di bagian kanan (Bentangan 4 dan Bentangan 6), terdapat perbedaan
arah jalur sungai bawah tanah yang diukur berdasarkan langkah kompas dengan pengukuran
geolistrik. Hal ini kemungkinan karena pada jalur sungai bawah tanah yang berdasarkan langkah
kompas merupakan rongga bawah tanah yang tidak berair, sedangkan jalur sungai bawah tanah
yang berhasil dideteksi melalui pengukuran geolistrik merupakan rongga bawah tanah yang berair.
Jadi kemungkinan terdapat jalur sungai bawah tanah yang terisi air yang berada di daerah

10
Proceeding HAGI Seminar, 2006
20 September 2006, Bandung, Indonesia

Bentangan 4 tersebut, hanya saja kemungkinan jalur sungai bawah tanah tersebut belum dapat
dilewati oleh manusia sehingga tidak dapat terdeteksi dengan langkah kompas.

ALIRAN AIRTANAH pada AKIFER KARST

Tabel.1. Hasil pengukuran fisik mataair


Mataair Jumlah Tipe Mataair Litologi Debit (L/detik)
GP6 1 Rekahan Batugamping 1071
GP1-GP5 & 14 Rekahan Batugamping 1,5 – 61
GP7-GP15
LP1 – LP3 3 Kontak Lempungpasiran 0,2 – 0,6
BK1 – BK2 2 Kontak Breksi 0,3 – 0,6

Berdasarkan kajian pengukuran fisik mataair (Gambar 13.), dari 20 mataair yang muncul
pada akifer karst, akifer pelapukan breksi dan pelapukan lempung pasiran diduga berupa (Tabel
1.) :
1. Sistem akifer media pori (akifer pelapukan breksi dan lempung pasiran untuk 5 mataair
(LP-1, LP-2, BK-1, BK-2, BK-3) dengan kisaran debit 0,2-0,6 L/detik).
2. Sistem akifer media rekahan dengan intensitas rekahan sedang untuk 14 mataair (GP-1,
GP-2, GP-3, GP-4, GP-5, GP-7, GP-8, GP-9, GP-10, GP-11, GP-12, GP-13, GP-14)
dengan kisaran debit 1,5 – 61 L/detik).
3. Sistem akifer media rekahan dengan intensitas sangat tinggi dan tebal untuk mataair
Bibijilan (GP-6) dengan debit maksimal 1071 L/detik.

Berdasarkan data hasil penelusuran gua yang berair serta data sungai permukaan, terlihat
bahwa secara umum aliran airtanah terutama di akifer karst mengalir dari bagian selatan ke
bagian utara daerah penelitian (Gambar 13.). Sistem input airtanah ke dalam akifer karst berasal
dari Bagian Selatan daerah penelitian : berasal dari air meteorik yang masuk ke dalam akifer karst
Formasi Bojonglopang.

Gua
Kerek
Gua
Gua Siluman
Cipicung
g

Lokasi Gua

11
Proceeding HAGI Seminar, 2006
20 September 2006, Bandung, Indonesia

Gambar 13. Peta Hidrogeologi daerah penelitian


INTERPRETASI

Berdasarkan hasil gabungan antara pengukuran langkah kompas, pengukuran geolistrik


Metode Wenner-Schlumberger dan pengukuran geolistrik Metode Misse A’la Mase, didapatkan
bahwa jaringan sungai bawah tanah pada akifer karst dapat dideteksi dengan ketiga pengukuran
tersebut (Gambar 14).
Pada pengukuran langkah kompas (garis berwarna hijau), penulis melakukan metode
penelusuran sungai bawah tanah serta melakukan pengukuran kompas. Pada saat melakukan
penelusuran gua melalui Gua Cipicung dan Gua Siluman, didapatkan bahwa pada jalur Gua
Cipicung berisi air sungai bawah tanah sedangkan pada Gua Siluman hanya sekitar 100 meter
berisi air sungai bawah tanah, selanjutnya air sungai tersebut menghilang ke dalam rongga-rongga
di bawah tanah (Gambar 14.).
Pada pengukuran geolistrik Metode Wenner-Schlumberger sebanyak 8 Bentangan,
didapatkan beberapa anomali rongga (Bentangan 3,4,5,6 dan 8). Posisi Bentangan pengukuran
geolistrik tersebut disesuaikan dengan perkiraan lokasi rongga sungai bawah tanah di permukaan.
Kelima Bentangan tersebut mampu mendeteksi adanya rongga yang sesuai dengan hasil
pengukuran langkah kompas. Pengukuran geolistrik metode Wenner-Schlumberger hanya mampu
mendeteksi rongga saja, namun tidak dapat mendeteksi apakah rongga tersebut berair atau tidak.
Dari hasil kelima Bentangan tersebut, penulis mencoba untuk mengkorelasi masing-masing
Bentangan sampai membentuk suatu jalur rongga bawah tanah (garis berwarna biru).
Pada pengukuran geolistrik Metode Misse A’la Mase sebanyak 8 Bentangan, didapatkan
beberapa anomali kontur potensial (V). Posisi Bentangan pengukuran geolistrik tersebut
disesuaikan dengan perkiraan lokasi rongga sungai bawah tanah di permukaan. Anomali kontur
tersebut mencerminkan adanya suatu aliran airtanah (garis berwarna merah). Pada pengukuran
geolistrik di sekitar Gua Cipicung terlihat bahwa arah kontur hasil pengukuran mengikuti arah
jalur gua berdasarkan langkah kompas. Pada kenyataannya di lapangan (berdasarkan pengukuran
langkah kompas), memang Gua Cipicung tersebut terdapat air sungai bawah tanah. Sedangkan
pada jalur Gua Siluman, terlihat bahwa anomali kontur terlihat tidak terfokus. Hal tersebut terjadi
akibat air sungai bawah tanah menghilang dan masuk kedalam rongga di dalam Gua Siluman
tersebut.

Gambar 14. Peta gabungan hasil pengukuran langkah kompas, pengukuran


12
geolistrik metode Wenner-Schlumberger dan pengukuran geolistrik
metode Misse A’la Mase
Proceeding HAGI Seminar, 2006
20 September 2006, Bandung, Indonesia

KESIMPULAN
Dari hasil pengumpulan, pengolahan data dan interpretasi yang telah dilakukan, maka untuk
daerah penelitian ini dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Hasil pengukuran metoda langkah kompas, didapatkan dua buah jalur gua, yaitu jalur Gua
Cipicung yang berarah N 30-40oE dan jalur Gua Siluman yang berarah N 320-330oE. Kedua
jalur gua tersebut saling bertemu dan berakhir di Gua Kerek. Hasil pengukuran metoda
Wenner-Schlumberger yang dalam interpretasi menggunakan hasil tes laboratorium,
dinyatakan dengan posisi dan diameter gua, yaitu : Bentangan-1 (775 mapl, tidak terdeteksi
adanya rongga), Bentangan-2 (776 mapl, tidak terdeteksi adanya rongga), Bentangan-3 (777
mapl, 20 m x 10 m), Bentangan-4 (775 mapl, 42 m x 15 m), Bentangan-5 (774 mapl, 55 m x
10 m), Bentangan-6 (775 mapl, 25 m x 15 m), Bentangan-7 (774 mapl, 6 m x 3 m),
Bentangan-8 (775 mapl, 50 m x 5 m). Hasil metoda Misse A’la Mase menghasilkan bahwa di
dasar lorong Gua Cipicung (total 640 meter, seluruhnya berair), sedangkan di lorong Gua
Siluman (total 600 meter, air mengalir hanya sepanjang 100 m dari mulut gua bagian Selatan).
Pada bagian lainnya kering dan air menghilang masuk melalui rongga-rongga kecil dan
rekahan di bagian dasar Gua Siluman.
2. Terujinya metodologi geofisika (konfigurasi Wenner-Schlumberger dan Misse A’la Mase)
untuk merekonstruksi geometri dan jalur jaringan endokarst berair dan tidak berair dengan
dimensi lebar bervariasi antara 6 – 55 m dan tinggi 3 – 15 m.
3. Berdasarkan data sungai bawah permukaan yang didukung dengan data pengukuran geolistrik
Metode Wenner-Schlumberger dan Metode Misse A’la Mase, dapat disimpulkan bahwa aliran
airtanah di daerah akifer karst Formasi Bojonglopang berasal dari arah Selatan menuju ke
Utara.
4. Pendeteksian adanya rongga di bahwa tanah dapat dideteksi melalui pengukuran geolistrik
Metode Wenner-Schlumberger, hanya saja dimensi rongga yang diperoleh baru mencapai
ukuran rongga dengan dimensi paling kecil 3 m. Sedangkan pendeteksian berairnya rongga
tersebut dapat dideteksi dengan melakukan pengukuran geolistrik Metode Misse A’la Mase.
5. Berdasarkan data hasil penelusuran gua yang berair serta data sungai permukaan, terlihat
bahwa secara umum aliran airtanah terutama di akifer karst mengalir dari bagian selatan ke
bagian utara daerah penelitian. Sistem input airtanah ke dalam akifer karst berasal dari Bagian
Selatan daerah penelitian : berasal dari air meteorik yang masuk ke dalam akifer karst
Formasi Bojonglopang.
6. Berdasarkan kajian besaran debit dan kimia air, dari 20 mataair yang muncul pada akifer karst,
akifer pelapukan breksi dan pelapukan lempung pasiran diduga berupa :
 Sistem akifer media pori (akifer pelapukan breksi dan lempung pasiran untuk 5 mataair
(LP-1, LP-2, BK-1, BK-2, BK-3) dengan kisaran debit 0,2-0,6 L/detik)
 Sistem akifer media rekahan dengan intensitas rekahan sedang untuk 14 mataair (GP-1,
GP-2, GP-3, GP-4, GP-5, GP-7, GP-8, GP-9, GP-10, GP-11, GP-12, GP-13, GP-14)
dengan kisaran debit 1,5 – 61 L/detik)
 Sistem akifer media rekahan dengan intensitas sangat tinggi dan tebal untuk mataair
Bibijilan (GP-6) dengan debit maksimal 1071 L/detik.

13
Proceeding HAGI Seminar, 2006
20 September 2006, Bandung, Indonesia

DAFTAR PUSTAKA
1. Brahmantyo, B. (2005), Perkembangan Bentang Alam Karst Karangbolong, Gombong
Selatan, dengan Geologi sebagai faktor kendali, disertasi Doktor, Departemen Teknik
Geologi ITB (tidak di Publikasikan).
2. IWACO dan WASECO, (1989), West Java Provincial Water Sources Master Plan For
Water Supply, Kabupaten Sukabumi, Vol. A. Groundwater Resources, Dept. PU.
3. Kastning, Jr. E.H., (1984), Hydrogeomorphic evolution of karsted plateaus in response to
regional tectonism, in Groundwater as Geomorphic Agent (R.G. Lafleur, ed), Allen &
Unwin, Inc. Boston, Hal. 351-382.
4. Meinzer, O.E., (1920), Quantitative Methods of Estimating Groundwater Supplies, Bull.
Geol. Soc. Am., 31, 329-38.
5. Parizek, Richard R., (1976), On the Nature and Significance of Fracture Traces and
Lineaments in Carbonate and Other Terranes. Proceedings book “Karst Hydrology and
Water Resources”, Water Resources Publication Colorado, USA, p.47-100.
6. Rossi, C., A. Cortel, R. Arcenegui (1997), Multiple Paleo-water Tables in Agujas Cave
System (Sierra de Penalabra, Cantabrian Mts, N Spain): Criteria for recognition and model
for vertical evolution, Proc. Of the 12th Intl. Congress of Speleology, Switzerland, hal 183-
186.
7. Ruggieri, R. (1997), The karst in the area of Matumbi Hills, Kilwa districts – Tanzania,
Hydrogeological characteristics and relantionships between morphostructures and tectonic
phases, Proc. Of the 12th Intl. Congress of Speleology, Switzerland, Hal 125-128.
8. Sebela, S., (1997), Development of cave passages according to geological structure;
example from jama pod Peeno rebrijo, Slovenia, Proc. Of the 12th Intl. Congress of
Speleology, Switzerland, Hal 113-116.
9. Sukamto, RAB., (1975), Peta Geologi Lembar Jampang & Balekambang, Direktorat
Geologi, Departemen Pertambangan Republik Indonesia.

14

View publication stats