Anda di halaman 1dari 6

RENDAHNYA PERSEPSI GURU MATEMATIKA TERHADAP

KONDISI KELAS DALAM KURIKULUM K-13

Syahbul H. Jusuf
201620530211026

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi guru terhadap
kondisi kelas yang menerapkan kurikulum ktsp dan kurikulum 2013 (k-13).
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif deskriptif.
Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah pemberian kuisioner yang
diadopsi dari penelitian Megan & Anita (2000) kepada 8 sampel yang
diambil dengan teknik Purposive Sampling. Delapan Guru matematika
tersebut terdiri dari empat guru KTSP dan empat guru K-13. Ada tiga aspek
kondisi kelas yang dinilai dalam kuisioner yang diberikan dalam penelitian
ini yaitu: 1) Keterlibatan siswa, 2) Strategi Pembelajaran, dan 3) Manajemen
kelas. Hasil penelitian menunjukkan rendahnya persentase persepsi guru
matematika terhadap kondisi kelas pada guru yang menggunakan kurikulum
K13 dibandingkan dengan guru yang menggunakan kurikulum KTSP.

Kata Kunci: Guru Matematika, Kondisi kelas, KTSP, K-13

1. Pendahuluan

Pendidikan merupakan unsur yang paling penting untuk mengembangkan potensi diri
Oleh karena itu untuk mencapai tujuan pendidikan diperlukan adanya suatu perencanaan
yang sistematis serta peran aktif dari semua pihak dan tentunya fasilitas-fasilitas yang
memadai untuk menunjang proses pembelajaran (Windarsih, 2011). Menurut Oktaria
(2016), Alternatif yang dapat membuat pembelajaran lebih menarik dan siswa dapat
berperan aktif adalah diciptakannya suatu bahan ajar maupun media pembelajaran
(Ermaita, Pargito, & Pujiati, 2016). Selain media pembelajaran, sumber belajar memegang
peranan penting dan cukup menentukan dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran
karena pendayagunaan sumber belajar dalam proses pembelajaran memiliki banyak fungsi
dan manfaat yang diambil, seperti memberi pengalaman yang konkret dan langsung,
menyajikan sesuatu yang tidak mungkin diadakan, dikunjungi atau dilihat secara langsung
dan konkrit, menambah dan memperluas cakrawala sajian yang ada di dalam kelas,
meningkatkan motivasi belajar, memberi informasi yang lebih akurat, membantu
memecahkan masalah pembelajaran baik dalam lingkup makro maupun mikro, dan
merangsang untuk berpikir, bersikap dan berkembang lebih lanjut (Navy, 2013). Guru
memang sebagai sumber belajar utama, namun peserta didik tidak harus bergantung
dengan guru tetapi banyak sumber belajar yang bisa digunakan untuk menggali ilmu secara
mandiri seperti; sumber belajar dalam bentuk cetak, sumber belajar alat / perlengkapan,
lingkungan dan sumber belajar pesan seperti informasi, cerita rakyat, dongeng, hikayat
(Mudiyanah, 2015). Selain itu, Kinerja guru menjadi suatu keharusan dalam peningkatkan
kualitas layanan pembelajaran yang mencakup pelaksanaan kurikulum untuk semua
komponen mata pembelajaran (Haslina dkk, 2017)
Sumber belajar yang digunakan dalam pembelajaran terkait erat dengan kurikulum
yang diterapkan di kelas tersebut (Handoyo, 2004; Ramli, 2011). Saat ini di tiap sekolah di
Indonesia, khususnya di pulau jawa terdapat dua kurikulum yang dijalankan, yakni
Kurikulum 2006 (KTSP) dan Kurikulum 2013. Sebelumnya, Kurikulum 2013
menggantikan kurikulum KTSP yang masuk dalam masa percobaanya pada tahun 2013
dengan menjadikan beberapa sekolah menjadi sekolah rintisan. Kurikulum 2013 memiliki
empat aspek penilaian, yaitu aspek pengetahuan, aspek keterampilan, aspek sikap, dan
perilaku (KEMDIKBUD, 2013). Di dalam Kurikulum 2013, terdapat materi yang
dirampingkan dan materi yang ditambahkan. Materi yang dirampingkan terlihat ada di
materi Bahasa Indonesia, IPS, PPKn, dsb., sedangkan materi yang ditambahkan adalah
materi Matematika. Penambahan Materi pelajaran tersebut terutama Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam disesuaikan dengan materi pembelajaran standar Internasional seperti
PISA dan TIMSS sehingga pemerintah berharap dapat menyeimbangkan pendidikan di
dalam negeri dengan pendidikan di luar negeri. Namun, penerapan kurikulum 2013 bukan
tidak memiliki kekurangan, seperti yang diutarakan oleh (Hidayati, 2013) dan (Rohman,
2015) diantaranya yakni terlalu banyak materi yang harus dikuasai siswa sehingga tidak
setiap materi bisa tersampaikan.
Pada tahun 2015, Mentri Pendidikan Indonesia, Anies Baswedan memberikan
Keputusan Penghentian Kurikulum 2013 yang mana berdasarkan pada rekomendasi tim
evaluasi implementasi Kurikulum 2013 dan diskusi dengan berbagai ahli pendidikan
(Sarnia, 2014). Selanjutnya, kementerian pendidikan sudah mengeluarkan edaran terbaru
soal pemberlakuan kembali kurikulum 2013 dan Kurikulum 2006 atau KTSP. Saat ini
sekolah bisa memilih menggunakan sistem pendidikan berdasar kurikulum 2013 atau
KTSP 2006. Dari sinilah munculnya sekolah-sekolah yang berbasis kurikulum 2013 dan
kurikulum KTSP.
Berdasarkan perbedaan penerapan kurikulum yang dilakukan di sekolah-sekolah pada
saat ini, maka berangkat dari hal tersebut peneliti mengambil topik penelitian untuk
mengetahui bagaimana kinerja penerapan kurikulum melalui persepsi guru pada sekolah yang
menerapkan masing-masing kurikulum. Guru yang ditujukan adalah guru matematika di tiap
sekolah. Fokus utama penilaian dalam penelitian ini yakni kondisi kelas, yang mana kondisi
kelas yang dimaksudkan dalam penelitian ini terbatas pada tiga aspek utama yaitu yaitu: 1)
Keterlibatan siswa: yang mana penelitian ini ingin mengetahui bagaimana persepsi guru
terhadap banyaknya keterlibatan siswanya di kelas; 2) Strategi Pembelajaran: untuk
mengetahui bagaimana persepsi guru terhadap frekuensi penggunaan strategi pembelajaran
yang digunakan guru tersebut; dan 3) Manajemen Kelas: digunakan untuk mengetahui
bagaimana persepsi guru terhadap manajemen kelasnya.

2. Metode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif deskriptif. Metode yang
digunakan dalam kajian ini adalah pemberian kuisioner berskala likert yang diadopsi dari
penelitian Megan dkk. (Tschannen-Moran & Woolfolk Hoy, 2001) yang berisi 12
pertanyaan dan terbagi pada 3 aspek kategori seputar kondisi kelas yakni: Keterlibatan
siswa, Strategi Pembelajaran, dan Manajemen Kelas. kepada 8 sampel yang diambil
dengan teknik Purposive Sampling. Delapan guru matematika tersebut terdiri dari empat
guru KTSP dan empat guru K-13.Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:
1) Membuat Kuisioner adopsi dari penelitian Megan dkk (Tschannen-Moran & Woolfolk
Hoy, 2001);
2) Memberikan Kuisioner kepada responden yang telah ditentukan;
3) Menganalisis jawaban dari responden terhadap kuisioner yang telah diberikan;
4) Membuat kesimpulan tentang persepsi guru matematika KTSP dan guru matematika
K-13 terhadap Keterlibatan siswa, Strategi Pembelajaran, dan Manajemen kelas
kedalam bentuk presentase (%).

3. Hasil Penelitian
a) Kondisi Kelas guru KTSP:
Hasil penelitian kondisi kelas guru KTSP ditunjukkan dalam tabel 1 berikut:
No. Responden Keterlibatan Penggunaan Manajemen
siswa dikelas Strategi kelas
Pembelajaran
1 M.F. 75 % 75 % 75 %
2 I.P. 80 % 75 % 85 %
3 D.R 80 % 85 % 90 %
4 A.K 75 % 85 % 65 %
5 Keseluruhan 77.5 % 80 % 78.8 %

Tabel 1 kondisi kelas guru KTSP


Dapat dilihat bahwa guru-guru KTSP memiliki tingkat keterlibatan siswa dikelasnya sebanyak
77,5%, Kemampuan penggunaan strategi belajar di kelas sebanyak 80 % dan manajemen kelas
mereka sebanyak 78,8 %.
b) Kondisi Kelas guru K-13:
Hasil penelitian kondisi kelas guru KTSP ditunjukkan dalam tabel 2 berikut:

No. Responden Keterlibatan Penggunaan Manajemen


siswa dikelas Strategi kelas
Pembelajaran
1 A.Y. 80 % 80 % 65 %
2 R.T. 55 % 60 % 80 %
3 M.A 65 % 70 % 70 %
4 N.N 50 % 60 % 70 %
5 Keseluruhan 62.5 % 67.5 % 71.3 %
Tabel 2 kondisi kelas guru K-13

Dapat dilihat bahwa guru-guru K-13 memiliki tingkat keterlibatan siswa dikelasnya sebanyak
62,5%, Kemampuan penggunaan strategi belajar di kelas sebanyak 67,5 % dan manajemen
kelas mereka sebanyak 71,3 %.

I. Kesimpulan Saran
Berdasarkan hasil dari tabel 1 dan tabel 2 diatas, maka didapatkan presentase kondisi
kelas di tiap kurikulum yang berbeda. Hasil tersebut dirangkup pada tabel 3 berikut:
Kelas Keterlibatan Penggunaan Manajemen
siswa Strategi kelas
dikelas Pembelajaran
KTSP 77.5 % 80 % 78.8 %
K13 62.5 % 67.5 % 71.3 %
Tabel 3 Presentase kondisi kelas guru KTSP dan K-13
Tabel 3 menunjukkan bahwa ada perbedaan presentase Kondisi kelas pada aspek
Keterlibatan siswa pada kelas kuraikulum K-13 dan kelas Kurikulum KTSP yakni 62%
berbanding 77 %, begitu pula pada aspek penggunaan strategi pembelajaran dan aspek
manajemen kelas yang masing-masing 67% berbanding 80 % dan 71% berbanding
78,75%. Ini berkesimpulan bahwa keterlibatan siswa, penggunaan strategi pembelajaran
dan manajemen kelas pada kelas kurikulum KTSP lebih baik dari pada Kelas Kurikulum
K-13. Atau dengan kata lain, Kondisi kelas kurikulum K13 lebih rendah dibandingkan
dengan kurikulum KTSP. Hal ini sejalan dengan kesimpulan penelitian Qomariah (2014)
yang mengungkapkan bahwa kesiapan para guru dalam mengahadapi implementasi
kurikulum 2013 memang masih kurang. Lebih khusus pada aspek penggunaan strategi
pembelajaran guru K13 yang masih rendah (67%), hal ini sesuai dengan temuan Retnawati
(2015) yang menyimpulkan guru K13 kesulitan mengatur waktu pada perencanaan
pembelajaran, merencanakan pembelajaran, adanya keterbatasan waktu dalam pelaksanaan
pembelajaran, selain itu sistem penilaian yang rumit dan perlu waktu yang lama untuk
menyusun laporan.
Bagi guru matematika khususnya guru yang menggunakan kurikulum K-13, hasil
penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi dalam mengkaji dan meningkatkan
Pembelajarannya di kelas. Pada tabel 3 dapat dilihat bahwa selisih perbandingan tebanyak
pada aspek strategi pembelajarn (67% berbanding 80 %) yang mana dapat dijadikan acuan
bagi guru untuk meningkatkan pembelajaran di kelas berawal dari peningkatan strategi
pembelajaran dahulu dan selanjutnya pada kedua aspek lain. Qomariyah (2014)
memberikan beberapa saran dalam meningkatkan persepsi guru terhadap kurikulum K13
yang mungkin untuk diterapkan yakni: 1) Para guru harus berusaha dalam memahami
implementasi kurikulum yang ada; 2) Sekolah harus mendudung implementasi kurikulum
dengan menyediakan dan melengkapi sarana prasarana yang dibutuhkan dalam
implementasi kurikulum tersebut; 3) Pemerintah harus gencar menggalakan pelatihan-
pelatihan yang sifatnya memberi informasi tentang implementasi kurikulum tersebut

Daftar Rujukan
Ermaita, Pargito, & Pujiati. (2016). PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN
CROSSWORD PUZZLE UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN
BERPIKIR KREATIF SISWA. Jurnal Studi Sosial, 4(1), 0–40.
Handoyo, R. (2004). Peninggalan sejarah sebagai sumber belajar dalam KBK. Universitas
Sebelas Maret.
Haslina, dkk. (2017). Kinerja Guru Dalam Implementasi Kurikulum 2013 Pada Sma
Negeri 5 Lhokseumawe. Jurnal Magister Administrasi Pendidikan Pascasarjana
Universitas Syiah Kuala, 5(4) 211 - 217. ISSN 2302-01567
Hidayati, L. (2013). K-13 dan Arah Baru Pendidikan Agama Islam, 19(1), 60–86.
KEMDIKBUD. (2013). Salinan Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Dan
Kebudayaan Nomor 69 Tahun 2013 Tentang Kerangka Dasar Dan Struktur
Kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah. Kementerian Pendidikan Dan
Kebudayaan. Jakarta.
Mudiyanah. (2015). Pengaruh Pemanfaatan Internet Sebagai Sumber Belajar Geografi
Terhadap Hasil Belajar Siswa. UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF
HIDAYATULLAH.
Navy, A. (2013). Manajemen Sumber Belajar dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran
Sains. JURNAL PENDIDIKAN HUMANIORA, 1, 388–395.
Oktaria. (2016). Pengembangan Bahan Ajar Matematika Bagi Siswa Smk Pada Materi
Matriks. Universitas Lampung.
Qomariyah. (2014). Kesiapan Guru Dalam Menghadapi Implementasi Kurikulum 2013.
Jurnal Pendidikan Ekonomi IKIP Veteran Semarang, 2(1), 21-35.
Ramli, M. (2011). SUMBER BELAJAR DALAM KURIKULUM BERBASIS
TEKNOLOGI DAN INFORMASI. Jurnal Ta’lim, I(1), 121–134.
Rohman, A. (2015). Perbandingan Konsep Kurikulum Ktsp 2006 Dan Kurikulum 2013
(Kajian Standar Isi Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Jenjang Smp).
UIN Walisongo.
Sarnia, P. (2014, December 5). Menteri Anies Baswedan Stop Kurikulum 2013. Tempo.co.
Retrieved from http://www.tempo.co/read/news/2014/12/05/079626628/Menteri-
Anies-Baswedan-Stop-Kurikulum-2013
Tschannen-Moran, M., & Woolfolk Hoy, A. (2001). Teacher Efficacy: Capturing an
Elusive Construct. Teaching And Teacher Education, 17, 783–805.
Windarsih. (2011). Pemanfaatan Internet Sebagai Sumber Belajar Geografi Fkip
Universitas Lampung. Lampung.

Syahbul H. Jusuf
201620530211026