Anda di halaman 1dari 2

KEBAKARAN PABRIK SARUNG TANGAN PT.

INDO GLOVE DI
MEDAN, SUMATERA UTARA
Kebakaran pabrik sarung tangan milik PT Indo Glove di KIM Mabar yang menewaskan 4
karyawan dan melukai 5 lainnya harus dipertanggungjawabkan oleh manajemen PT Indo Glove.
“Hal ini sudah dipastikan merupakan akibat lalainya perusahaan sarung tangan Indo Glove dalam
menerapkan standar keselamatan kerja dipabrik. Pemilik pabrik telah menunjukan kelalaian
kriminal dan pelanggaran aturan keselamatan kerja. Menurut aturan setiap pabrik harus
menyediakan alat pemadam api, adanya alarm kebakaran kemudian dilatihnya buruh dalam cara
penggunaan alat pemadam kebakaran, jikalau semua hal tersebut terpenuhi maka kemungkinan
besar korban jiwa dapat diminimalisir.

Analisis Kasus Berdasarkan Teori Swiss Chesse


Layer I : Organizational Influences

1. Pemerintah yang berwenang tidak melakukan inspeksi ke pabrik Hamlet. Selain itu
pemerintah tidak memberlakukan standar keamanan dan keselamatan yang lebih ketat.
2. Pabrik tidak memiliki sistem alarm kebakaran untuk memperingati para pekerja dan tidak
memiliki sprinklers di dalam gedung.
3. Pabrik tidak menerapkan standar keselamatan kerja dipabrik seperti menyediakan alat
pemadam api dan Hidrant air dan melakukan pelatihan terhadap pegawainya dalam cara
penggunaan alat pemadam kebakaran merealisasikan solusi untuk mencegah kebakaran
walau sudah pernah mengalami dua kebakaran sebelumnya.

Layer II : Unsafe Supervision

1. Pabrik tidak pernah mengadakan inspeksi dan menyediakan sistem keamanan dan
keselamatan pada pabriknya selama beroperasi.
2. Pengawas tidak mengawasi pekerja pada saat pekerja melakukan perkerjaan yang rentan
bahaya.

Layer III : Precondition for Unsafe Act

1. Pada saat terjadi kebakaran, tidak ada skill atau pengetahuan bagaimana memadamkan
api.
2. Gedung memiliki dinding yang kokoh serta permukaan yang halus yang membatasi
jumlah panas dan asap yang diserap selama kebakaran.
3. Pada saat operasi, perusahaan menutup pintu tertentu pada waktu tertentu, tetapi tidak
memberitahu pintu yang mana saja.
4. Kurangnya keterbukaan pekerja untuk menyampaikan kekhawatiran mereka mengenai
pintu dan jendela yang terkunci selama jam operasi.
5. Kurangnya pengetahuan pekerja akan apa yang harus dilakukan jika terjadi kejadian
darurat.
6. Peralatan dengan tekanan tinggi tidak diletakkan ditempat khusus.

Layer IV : Unsafe Act

1. Pekerja panic saat terjadi kebakaran, karena tidak ada alat pemadam kebakaran ataupun
Hydrant air.
2. Kurangnya respon darurat dari pihak pabrik. Karena pihak pabrik sendiri juga lalai
terhadap keselamatan kerja pegawainya..
3. Pihak pabrik tidak menginformasikan pada pemadam kebakaran bahwa para pekerja
masih terjebak dalam gedung.