Anda di halaman 1dari 41

Laporan Pendahuluan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)

2.1 Pengertian

Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram
pada waktu lahir (Amru sofian,2012).
Bayi berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi baru alhir yang berat badannya 2500
gram atau lebih rendah. Dalam definisi ini tidak termasuk bayi-bayi dengan berat badan kurang
dari 1000 gram. (Nugroho Iman santosa)
Bayi berat badan lahir rendah ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir
kurang dari 2500 gram (WHO). Berat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat badan kurang
dari 2500 gram pada waktu lahir. (Huda dan Hardhi, NANDA NIC-NOC, 2013).
Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir dengan berat
badan kurang dari 2500 gram tanpa memperhatikan usia gestasi (Wong,2009).
BBLR merupakan bayi (neonates) yang lahir dengan memiliki berat badan kurang dari
2500 gram atau sampai dengan 2499 gram. (Hidayah,2005).

2.2 Klasifikasi BBLR

Berkaitan dengan penanganan dan harapan hidupnya bayi berat lahir rendah
dibedakan dalam beberapa macam (Abdul Bari saifuddin,2001) :
1. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), berat lahir 1500 gram-2500 gram.
2. Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (BBLSR),berat alhir kurang dari 1500 gram.
3. Bayi Berta Lahir Ekstrem Rendah (BBLER) berat lahir kurang dari 1000 gram.
Sedangkan menurut WHO membagi Umur kehamilan dalam tiga kelompok :
1. Preterm : kurang dari 37 minggu lengkap.
2. Aterm : mulai dari 37 minggu sampai kurang dari 42 minggu lengkap.
3. Pos term : 42 minggu lengkap atau lebih.
Ada dua macam BBLR yaitu :
1. Prematuritas murni atau bayi yang kurang bulan (KB/SMK) : bayi yang dilahirkan dengan umur
kurang dari 37 minggu dengan berat badan sesuai.
2. Dismaturitas : bayi .lahir dengan berat badan kurang dari seharusnya untuk masa gestasi itu.

2.3 Etiologi

Menurut huda dan Hardhi dalam NANDA NIC-NOC (2013). Penyebab kelahiran
bayi berat badan lahir rendah,yaitu :

1. Prematur Murni
Premature Murni adalah neonates dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu dan mempunyai
berat badan yang sesuai dengan masa kehamilan atau disebut juga neonates preterm atau BBLR.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya persalinan premature atau BBLR adalah :
a. Faktor ibu :
 Riwayat kelahiran premature sebelumnya.
 Umur kurang dari 20 tahun atau diatas 35 tahun.
 Jarak hamil dan bersalin terlalu dekat.
 Penyakit ibu : HT, jantung, gangguan pembuluh darah (perokok).
 Primigravidarum.
 Usia ibu < 20 tahun.
b. Faktor kehamilan
c. Faktor janin
Seperti cacat bawaan,infeksi dalam rahim dan kehamilan ganda, anomaly congenital.
d. Faktor kebiasaan : pekerjaan yang melelahkan.

Karakteristik yang dapat ditemukan pada Premature Murni adalah :


 LK <33 cm, LD < 30 cm.
 Gerakan otot bmasih hipotonis.
 Umur kehamilan <37 minggu.
 Kepala lebih besar dari badan dan memiliki rambut tipis dan halus.
 Pernapasan belum normal dan sering terserang apnea.
 Kulit tipis, lanugo banyak terutama pada bagian dahi dan pelipis lengan.
 Genetelia belum sempurna, pada wanita labia minora belum tertutup oleh labia mayora, pada
laki-laki testis belum turun.
 Reflek menelan dan reflek batuk masih lemah.

2. Dismature
Dismatur(IUGR) adalah bayi baru lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya
untuk masa kehamilan dikarenakan mengalami gangguan pertumbuhan dalam kandungan.
Menurut Renfield (1975) IUGR dibedakan menjadi dua yaitu :
a. Proportionate IUGR
Janin yang menderita distress yang lama dimana gangguan pertumbuhan terjadi berminggu-
minggu.
b. Disporpotionate IUGR
Terjadi karena distress subakut gangguan terjadi beberapa minggu sampai beberapa hari sampai
janin lahir. Factor-faktor yang mempengaruhi BBLR pada dismatur adalah :
 Faktor ibu (HT,GGK,perokok,DM,toksemia, dan hipoksia ibu)
 Faktor utery dan plasenta (uterus bicornis,infark plasenta,insersi tali pusat).
 Faktor janin (kelainan kromosom,gamelli,cacat bawaan, infeksi dalam kandungan)
 Penyebab lain : keadaan sosial ekonomi yang rendah.

2.4 Patofisiologi (Pathway)


2.5 Manisfestasi Klinis
Menurut Huda dan Hardhi. (2013) tanda dan gejala dari bayi berat badan rendah adalah :
1. Sebelum lahir
 Pembesaran uterus tidak sesuai dengan usia kehamilan.
 Pergerakan janin lebih lambat.
 Pertambahan berat badan ibu lambat dan tidak sesuai yang seharusnya.
2. Setelah bayi lahir
 Bayi dengan retadasi pertumbuhan intra uterin.
 Bayi premature yang alhir sebelum kehamilan 37 minggu.
 Bayi small for date sama dengan bayi retradasi pertumbuhan intra uterine.
 Bayi premature kurang sempurna pertumbuhan alat-alat dalam tubuhnya.
Selain itu ada gambaran klinis BBLR secara umum adalah :
1. Berat badan dari 2500 gram.
2. Panjang kurang dari 45 cm.
3. LD < 30 cm.
4. LK < 33 cm.
5. Umur kehamilan < 37 minggu
6. Kulit tipis, transparan, rambut lanugo banyak, lemak kurang.
7. Otot hipotonik lemah.
8. Pernapasan tidak teratur dapat terjadi apnea.
9. Ekstremitas : paha abduks, sendi lutut atau kaki fleksi-lurus.

2.6 Komplikasi BBLR

Ada beberapa hal yang dapat terjadi apabila BBLR tidak ditangani secepatnya menurut
Mitayanti, 2009 yaitu :
1. Sindrom aspirasi mekonium (menyababkan kesulitan bernapas pada bayi).
2. Hipoglikemia simtomatik.
3. Penyakit membrane hialin disebabkan karena surfaktan paru belum sempurna,sehingga alveoli
kolaps. Sesudah bayi mengadakan inspirasi, tidak tertinggal udara residu dalam alveoli, sehingga
selalu dibutuhkan tenaga negative yang tinggi untuk yang berikutnya.
4. Asfiksia neonetorom.
5. Hiperbulirubinemia.

2.7. Pemeriksaan Diagnostik


1. Pemeriksaan glucose darah terhadap hipoglikemia.
2. Pemantauan gas darah sesuai kebutuhan.
3. Titer torch sesuai indikasi.
4. Pemeriksaan kromosom sesuai indikasi.
5. Pemantauan elektrolit.
6. Pemeriksaan sinar X sesuai kebutuhan (mis : fhoto thorak)

2.8.Penatalaksanaan BBLR

1. Penanganan bayi.
Semakin kecil bayi dan semakin premature bayi. Maka semakin besar perawatan yang
diperlukan, karena kemungkinan terjadi serangan sianosis lebih besar. Semua perawatan bayi
harus dilakukan didalam incubator.
2. Pelestarian suhu tubuh.
Untuk mencegah hipotermi diperlukan lingkungan yang cukup hangat dan istirahat konsumsi O2
yang cukup. Bila dirawat dalam incubator maka suhunya untuk bayi dengan BB 2 kg adalah 35C
dan untuk bayi dengan BB 2-2,5 kg adalah 34c. bila tidak ada incubator hanya dipakai popok
untuk memudahkan pengawasan mengenai keadaan umum, warna kulit,pernafasan, kejang dan
sebagainyasehingga penyakit dapat dikenali sedini mungkin.
3. Inkubator
Prosedur perawatan dapat dilakukan melalui jendela atau lengan baju. Sebelum memasukan bayi
kedalam incubator. Incubator terlebih dahulu dihangatkan sampai sekitar 29,4 C untuk bayi
dengan BB 1,7 kg dan 32,20 C untuk bayi yang lebih kecil.
4. Pemberian oksigen
Konsentrasi O2 diberikan sekitar 30-35% dengan menggunakan head box.
5. Pencegahan infeksi
Prosedur pencegahan infeksi adalah sebagai berikut :
 Mencuci tangan samoai kesiku dengan sabun dan air mengalir selama 2 menit.
 Mencuci tangan dengan zat antiseptic sebelum dan sesudah memegang bayi.

6. Pemberian makanan.
Pemberian makanan sedini mungkin sangat dianjurkan untuk membantu terjadinya hipoglikemi
dan hiperbilirubin. ASI merupakan pilihan utama, dianjurkan untuk minum pertama sebanyak 1
mllarutan glucose 5% yang steril untuk bayi dengan berat badan kurang dari 1000 gram.

2.9. Rencana Asuhan Keperawatn

2.9.1. Pengkajian
a. Biodata klien : nama,tempat lahir, jenis kelamin.
b. Orang tua : nama ayah/ibu, umur, agama, suku atau kebangsaan, pendidikan dan alamat.
c. Riwayat kesehatan :

1. Riwayat antenatal :
 Keadaan ibu selama hamil dengan anemia, HT,gizi buruk,merokok, ktergantungan obat-
obatan,DM, penyakit kardiovaskuler dan paru.
 Kehamilan dengan resiko persalinan preterm misalnya kelahiran multiple,kelainan congenital.
 Riwayat komplikasi persalinan juga mempunyai kaitan yang sangat erat dengat permasalahan pada
bayi baru lahir.
 Kala I : perdarahan antepartumbaik solusio plasenta maupun plasenta previa.
 Kala II :persalinan dengan tindakan pembedahan, karena pemakaian obat penenang (narkose) yang
dapat menekan system pusat pernafasan.

2. Riwayat post natal :


 Apgar score bayi baru lahir 1 menit pertama dan 5 menit kedua (0-3), asfiksia berat (4-6), asfiksia
sedang (7-10) asfiksia ringan.
 Berat badan lahir : preterm atau BBLR < 2500 gram, untuk aterm 2500 gram, LK kurang atau
lebih dari normal (34-36)
 Pola nutrisi yang perlu dikaji pada bayi dengan BBLR gangguan absorbsi gastrointestinal, muntah,
aspirasi, kelemahan menghisap sehingga perlu diberikan cairan parenteral atau personde sesuai
dengan kondisi bayi untuk mencukupi kebutuhan elektrolit, cairan, kalori dan juga untuk
mengoreksi dehidrasi, asidosis metabolik, hipoglikemi disamping untuk pemberian obat
intravena.
 Pola eliminasi yang perlu dikaji pada neonates adalah BAB : frekuensi,jumlah,konsisten. BAK :
frekuensi dan jumlah.
 Latar belakang sosial budaya kebudayaan yang berpengaruh terhadap BBLR kebiasaan ibu
merokok, obat-obatan jenis psikotropika, kebiasaan ibu mengkonsumsi minuman beralkohol, dan
kebiasaan ibu melakukan diet ketat atau pantangan makanan tertentu.
 Hubungan psikologis . sebaiknya segera setelah bayi baru alhir dilakukan rawat gabung dengan ibu
jika kondisi bayi memungkinkan.
 Keadaan umum : pada neonates dengan BBLR keadaannya lemah dan hanya merintih.kesadaran
neonates dapat dilihat dari responnya terhadap rangsangan. Adanya BB yang stabil, panjang
badan sesuai dengan usianya tidak ada pembesaran lingkar kepala dapat menunjukan kondisi
neonatos yang baik.
 Tanda-tanda vital : neonates post asfiksia berat kondisi akan baik apabila penanganan asfiksia
benar, tepat dan cepat. Suhu normal pada tubuh bayi n (36 C-37,5C), nadi normal antara (120-
140 x/m), untuk respirasi normal pada bayi (40-60 x/m), sering pada bayi post asfiksia berat
respirasi sering tidak teratur.
 Kulit : warna kulit tubuh merah, sedangkan ekstremitas berwarna biru, pada bayi preterm terdapat
lanugo dan verniks.
 Kepala : kemungkinan ditemukan caput succedaneum atau cephal haematom, ubun-ubun besar
cekung atau cembung kemungkinan adanya peningkatan tekanan intrakranial.
 Mata : warna conjungtiva anemis atau tidak anemis, tidak ada bleeding conjungtiva, warna sklera
tidak kuning, pupil menunjukan refleksi terhadap cahaya.
 Hidung : terdapat pernafasan cuping hidung dan terdapat penumpukan lender.
 Mulut : bibir berwarna pucat ataupun merah, ada lendir atau tidak.
 Telinga : perhatiakan kebersihannya dan adanya kelainan.
 Leher : perhatikan keberhasilannya karena leher neonates pendek.
 Thorak : bentuk simetris,terdapat tarikan intercostals,perhatikan suara wheezing dan
ronchi,frekwensi bunyi jantung lebih dari 100x/m.
 Abdomen : bentuk silindris,hepar bayi terletak 1-2 cm dibawah ascus costae pada garis papilla
mamae, lien tidak teraba, perut buncit berarti adanya asites atau tumor, perut cekung adanya
hernia diafragma,bising usus timbul 1-2 jam setelah masa kelahiran bayi, sering terdapat retensi
karena GI tract belum sempurna.
 Umbilicus : tali pusat layu, perhatikan ada perdarahan atau tidak adanya tanda-tanda infeksi pada
tali pusat.
 Genetalia : pada neonates aterm testis harus turun, lihat adakah kelainan letak muara uretra pada
neonates laki-laki, neonates perempuan lihat labia mayir dan labia minor, adanya sekresi mucus
keputihan, kadang perdarahan.
 Anus : perhatikan adanya darah dalam tinja,frekwensi buang air besar serta warna dari feces.
 Ekstremitas : warna biru,gerakan lemah, akral dingin, perhatikan adanya patah tulang atau adanya
kelumpuhan syraf atau keadaan jari-jari tangan serta jumlahnya.
 Reflex : pada neonates preterm post asfiksia berat rflek moro dan sucking lemah. Reflek moro
dapat memberi keterangan mengenai keadaan susunan syaraf pusat atau adanya patah tulang.

2.9.2 Diagnosa Keperawatan

Diagnosa yang bisa ditegakkan oleh seorang perawat pada bayi dengan BBLR yaitu:
1. Pola nafas yang tidak efektif yang berhubungan dengan imaturitas pusat pernapasan,
keterbatasan perkembangan otot penurunan otot atau kelemahan, dan ketidakseimbangan
metabolik
2. Resiko termoregulasi inefektif yang berhubungan dengan SSP imatur (pusat regulasi residu,
penurunan massa tubuh terhadap area permukaan, penurunan lemak subkutan, ketidakmampuan
merasakan dingin dan berkeringat, cadangan metabolik buruk)
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan yang berhubungan dengan penurunan simpanan nutrisi,
imaturitas produksi enzim, otot abdominal lemah, dan refleks lemah.
4. Resiko infeksi yang berhubungan dengan pertahanan imunologis yang tidak efektif
5. Resiko kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan usia dan berat ekstrem, kehilangan
cairan berlebihan (kulit tipis), kurang lapisan lemak, ginjal imatur/ kegagalan mengonsentrasikan
urine.
6. Resiko cedera akibat bervariasinya aliran darah otak, hipertensi atau hipotensi sistemik, dan
berkurangnya nutrient seluler (glukosa dan oksigen) yang berhubungan dengan system sraf
sentral dan respons stress fisiologis imatur.
7. Nyeri yang berhubungan dengan prosedur, diagnosis dan tindakan.
8. Resiko gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang berhubungan dengan kelahiran
premature, lingkungan NICU tidak alamiah, perpisahan dengan orang tua.
9. Resiko gangguan integritas kulit yang berhubungan dengan imobilitas, kelembaban kulit.
10. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kondisi penyakit bayinya ditandai dengan orang tua
klien tampak cemas dan khawatir malihat kondisi bayinya, dan berharap agar bayinya cepat
sembuh.

2.9.3 Rencana Keperawatan

1. Pola nafas yang tidak efektif yang berhubungan dengan imaturitas pusat pernapasan,
keterbatasan perkembangan otot penurunan otot atau kelemahan, dan ketidakseimbangan
metabolic.

Tujuan : setelah dilakukan tindakan, pola napas kembali efektif.

Kriteria hasil:
 Neonatus akan mempertahankan pola pernapasan periodik
 Membran mukosa merah muda.

Intervensi Rasional
Mandiri:
 Kaji frekwensi dan pola pernapasan,  Membantu dalam membedakan periode
perhatikan adanya apnea dan perputaran pernapasan normal dari
perubahan frekwensi jantung. serangan apnetik sejati, terutama sering
 Isap jalan napas sesuai kebutuhan terjadi pad gestasi minggu ke-30
 Menghilangkan mukus yang neyumbat jalan
 Posisikan bayi pada abdomen atau napas
posisi telentang dengan gulungan  Posisi ini memudahkan pernapasan dan
popok dibawah bahu untuk menurunkan episode apnea, khususnya bila
menghasilkan hiperekstensi ditemukan adanya hipoksia, asidosis
 Tinjau ulang riwayat ibu terhadap metabolik atau hiperkapnea
obat-obatan yang akan memperberat  Magnesium sulfat dan narkotik menekan
depresi pernapasan pada bayi pusat pernapasan dan aktifitas SSP
 Hipoksia, asidosis netabolik, hiperkapnea,
Kolaborasi : hipoglikemia, hipokalsemia dan sepsis
 Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai memperberat serangan apnetik
indikasi  Perbaikan kadar oksigen dan karbondioksida
 Berikan oksigen sesuai indikasi dapat meningkatkan fungsi pernapasan
 Berikan obat-obatan yang sesuai indikasi

2. Resiko termoregulasi inefektif yang berhubungan dengan SSP imatur (pusat regulasi residu,
penurunan massa tubuh terhadap area permukaan, penurunan lemak sebkutan, ketidakmampuan
merasakan dingin dan berkeringat, cadangan metabolik buruk).

Tujuan : termoregulasi menjadi efektif sesuai dengan perkembangan.

Kriteria hasil :
 Mempertahankan suhu kulit atau aksila (35 – 37,50C).

Intervensi Rasional
Mandiri :  Hipotermia membuat bayi cenderung
 Kaji suhu dengan memeriksa merasa stres karena dingin, penggunaan
suhu rektal pada awalnya, simpanan lemak tidak dapat diperbaruai
selanjutnya periksa suhu bila ada dan penurunan
aksila atau gunakan alat sensivitas untuk meningkatkan kadar
termostat dengan dasar CO2 atau penurunan kadar O2.
terbuka dan 
penyebar Mempertahankan lingkungan
hangat. termonetral, membantu mencegah stres
 Tempatkan bayi pada karena dingin
inkubator atau  Hipertermi dengan peningkatan laju
dalam
keadaan hangat metabolisme kebutuhan oksigen dan
 Pantau sistem pengatur suhu , glukosa serta kehilangan air dapat
penyebar hangat terjadi bila suhu lingkungan terlalu
(pertahankan batas atas tinggi.
 Penurunan keluaran dan peningkatan
pada 98,6°F, bergantung
pada ukuran dan usia bayi) berat jenis urine dihubungkan dengan
 Kaji haluaran dan berat jenis penurunan perfusi ginjal selama
urine periode stres karena rasa dingin
 
Pantau penambahan berat Ketidakadekuatan penambahan berat
badan berturut-turut. Bila badan meskipun masukan kalori
penambahan berat badan adekuat dapat menandakan bahwa
tidak adekuat, tingkatkan kalori digunakan untuk
suhu lingkungan sesuai mempertahankan suhu lingkungan
indikasi. tubuh, sehingga memerlukan
 Perhatikan perkembangan peningkatan suhu lingkungan.
takikardia,  Tanda-tanda
warna hip[ertermi ini dapat
kemerahan, diaforesis, berlanjut pada kerusakan otak bila tidak
letargi, apnea atau aktifitas teratasi.
kejang.  Stres dingin meningkatkan kebutuhan
terhadap glukosa dan oksigen serta
Kolaborasi : dapat mengakibatkan masalah asam
 Pantau pemeriksaan basa bila bayi mengalami metabolisme
laboratorium sesuai indikasi anaerobik bila kadar oksigen yang
(GDA, glukosa serum, cukup tidak tersedia. Peningkjatan
elektrolit dan kadar kadar bilirubin indirek dapat terjadi
bilirubin) karena pelepasan asam lemak dari meta
 Berikan obat-obat sesuai bolisme lemak coklat dengan asam
dengan indikasi : lemak bersaing dengan bilirubin pada
fenobarbital pada bagian ikatan di albumin.
 Membantu mencegah kejang berkenaan
dengan perubahan fungsi SSP yang
disebabkan hipertermi
 Memperbaiki asidosis yang dapat terjadi
pada hiportemia dan hipertermia
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan yang berhubungan dengan penurunan simpanan nutrisi,
imaturitas produksi enzim, otot abdominal lemah, dan refleks lemah.

Tujuan : nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhan.

Kriteria hasil :
 Bayi mendapat kalori dan nutrient esensial yang adekuat.
 Mempertahankan pertumbuhan dan peningkatan berat badan dalam kurva normal dengan
penambahan berat badan tetap, sedikitnya 20-30 gram/hari.

Intervensi Rasional
Mandiri :  Menentukan metode pemberian makan
 Kaji maturitas refleks berkenaan yang tepat untuk bayi
dengan pemberian  Pemberian makan pertama bayi stabil
makan
(misalnya : mengisap, memiliki peristaltik dapat dimulai 6-
menelan, dan batuk) 12 jam setelah kelahiran. Bila distres
 Auskultasi adanya bising usus, pernapasan ada cairan parenteral di
kaji status fisik dan statuys indikasikan dan cairan peroral harus
pernapasan ditunda
 Kaji berat badan  Mengidentifikasikan adanya resiko
dengan
menimbang berat badan setiap derajat dan resiko terhadap pola
hari, kemudian pertumbuhan. Bayi SGA dengan
dokumentasikan pada grafik kelebihan cairan ekstrasel
pertumbuhan bayi kemungkinan kehilangan 15% BB
 Pantau masuka dan dan lahir. Bayi SGA mungkin telah
pengeluaran. Hitung konsumsi mengalami penurunan berat badan
kalori dan elektrolit setiap hari dealam uterus atau mengalami
 Kaji tingkat hidrasi, perhatikan penurunan simpanan
fontanel, turgor kulit, berat lemak/glikogen.

jenis urine, kondisi membran Memberikan informasi tentang
mukosa, fruktuasi berat badan. masukan aktual dalam hubungannya
 Kaji tanda-tanda hipoglikemia; dengan perkiraan kebutuhan untuk
takipnea dan pernapasan tidak digunakan dalam penyesuaian diet.
teratur, apnea,  Peningkatan kebutuhan metabolik dari
letargi,
fruktuasi suhu, dan bayi SGA dapat meningkatkan
diaphoresis. Pemberian makan kebutuhan cairan. Keadaan bayi
buruk, gugup, menangis, nada hiperglikemia dapat mengakibatkan
tinggi, gemetar, mata terbalik, diuresi pada bayi. Pemberian cairan
dan aktifitas kejang. intravena mungkin diperlukan untuk
memenuhi peningkatan kebutuhan,
Kolaborasi : tetapi harus dengan hati-hati
 Pantau pemeriksaan ditangani untuk menghindari
laboratorium sesuai indikasi : kelebihan cairan
Glukas serum. Nitrogen urea  Karena glukosa adalah sumber utama
darah, kreatin, osmolalitas dari bahan bakar untuk otak,
serum/urine, elektrolit urine kekurangan dapat menyebabkan
 Berikan suplemen elektrolit kerusakan SSP
sesuai indikasi misalnya permanen.hipoglikemia secara
kalsium glukonat 10% bermakna meningkatkan mobilitas
mortalitas serta efek berat yang lama
bergantung pada durasi masing-
masing episode.

Kolaborasi :
 Hipoglikemia dapat terjadi pada awal
3 jam lahir bayi SGA saat cadangan
glikogen dengan cepat berkurang
dan glukoneogenesis tidak adekuat
karena penurunan simpanan protein
obat dan lemak.
 Mendeteksi perubahan fungsi ginjal
berhubungan dengan penurunan
simpanan nutrien dan kadar cairan
akibat malnutrisi.
 Ketidakstabilan metabolik pada bayi
SGA/LGA dapat memerlukan
suplemen untuk mempertashankan
homeostasis.

4. Resiko infeksi yang berhubungan dengan pertahanan imunologis yang tidak efektif.

Tujuan : pasien tidak memperlihatkan adanya tanda infeksi.

Kriteri hasil :
 Suhu tubuh dalam batas normal
 Tidak ada tanda-tanda infeksi.
 Leukosit 5.000-10.000

Intervensi Rasional
Mandiri :  Untuk mengetahui lebih dini adanya
 Kaji adanya tanda – tanda infeksi tanda-tanda terjadinya infeksi
 Lakukan isolasi bayi lain yang
 Tindakan yang dilakukan untuk
menderita infeksi sesuai meminimalkan terjadinya
kebijakan insitusi infeksi yang lebih luas
 Sebelum dan setelah menangani
 Untuk mencegah terjadinya infeksi
bayi, lakukan pencucian tangan Untuk mencegah terjadinya infeksi
 Yakinkan semua peralatan yang
 Untuk mencegah terjadinya infeksi
kontak dengan bayi bersih dan yang berlanjut pada bayi
steril
 Cegah personal yang mengalami
infeksi menular untuk tidak
kontak langsung dengan bayi.

5. Resiko kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan usia dan berat ekstrem,
kehilangan cairan berlebihan (kulit tipis), kurang lapisan lemak, ginjal imatur/ kegagalan
mengonsentrasikan urine.

Tujuan : cairan terpenuhi.

Kriteria hasil :
 Bebas dari tanda-tanda dehidrasi
 Menunjukan penambahan berat badan 20-30 gram/hari.

Intervensi Rasional
Mandiri :  Pengeluaran harus 1-3 ml/kg/jam,
 Bandingkan masukan dan sementara kebutuhan terapi cairan
pengeluaran urine setiap shift kira-kira 80-100 ml/kg/hari pada
dan keseimbangan kumulatif hari pertama, meningkat sampai
setiap periodik 24 jam 120-140 ml/kg/hari pada hari ketiga
 Pantau berat jenis urine setiap postpartum. Pengambilan darah
selesai berkemih atau setiap 2-4 untuk tes menyebabkan penurunan
jam dengan menginspirasi urine kadar Hb/Ht.
dari popok bayi bila bayi tidak  Meskipun imaturitas ginjal dan
tahan dengan kantong ketidaknyamanan untuk
penampung urine. mengonsentrasikan urine biasanya
 Evaluasi turgor kulit, membran mengakibatkan berat jenis yang
mukosa, dan keadaan fontanel rendah pada bayi preterm ( rentang
anterior. normal1,006-1,013). Kadar yang
 Pantau tekanan darah, nadi, dan rendah menandakan volume cairan
tekanan arterial rata-rata (TAR) berlebihan dan kadar lebih besar
dari 1,013 menandakan
ketidakmampuan masukan cairan
dan dehidrasi.
Kolaborasi :  Kehialangan atau perpindahan cairan
 Pantau pemeriksaan laboratorium yang minimal dapat dengan cepat
sesuai dengan indikasi Ht menimbulkan dehidrasi, terlihat
 Berikan infus parenteral dalam oleh turgor kulit yang buruk,
jumlah lebih besar dari 180 membran mukosa kering, dan
ml/kg, khususnya pada PDA, fontanel cekung.
displasia bronkopulmonal  Kehilangan 25% volume darah
(BPD), atau entero coltis mengakibatakan syok dengan TAR
nekrotisan (NEC) < 25 mmHg menandakan hipotensi.
 Berikan tranfusi darah.  Dehidrasi meningkatkan kadar Ht
diatas normal 45-53% kalium
serum
 Hipoglikemia dapat terjadi karena
kehilangan melalui selang
nasogastrik diare atau muntah.
 Penggantian cairan darah menambah
volume darah, membantu
mengenbalikan vasokonstriksi
akibat dengan hipoksia, asidosis,
dan pirau kanan ke kiri melalui
PDA dan telah membantu dalam
penurunan komplikasi enterokolitis
nekrotisan dan displasia
bronkopulmonal.
 Mungkin perlu untuk
mempertahankan kadar Ht/Hb
optimal dan menggantikan
kehilangan darah.
6. Resiko cedera akibat bervariasinya aliran darah otak, hipertensi atau hipotensi sistemik, dan
berkurangnya nutrient seluler (glukosa dan oksigen) yang berhubungan dengan system sraf
sentral dan respons stress fisiologis imatur.

Tujuan : pasien mendapatkan asuhan untuk mencegah cedera dan memeprtahankan aliran darah
sistemik dan otak memadai, glukosa dan oksigen otak adekuat; tidak memperlihatkan adanya
perdarahan intaventrikular.

Kriteria hasil:
 Pasien tidak memperlihatkan tanda peningkatan tekanan intrakranial atau perdarahan
intraventrikel.

Intervensi Rasional
 Kurangi rangsangan lingkungan  Respons stres, terutama peningkatan
 Organisasikan asuhan selama tekanan darah, dapat miningkatkan
jamsibuk normal sebanyak resiko peningkatan TIK
mungkin  Untuk meminimalkan gangguan tidur
 Tutup dan buka kelambu dan dan kebisingan intermiten yang
lampu tidur sering
 Tutup inkubator dengan kain dan
 Untuk memungkinkan jadwal siang
pasang tanda “jangan dan malam
diganggu”  Untuk mengurangi cahaya dan tidak
 Kaji dan tangani nyeri membangunkan periode istirahat
menggunakan metode bayi
farmakologis dan  Nyeri meningkatkan tekanan darah
non-
farmakologis  Untuk segera memberi intervensi
 Kenali tanda stres fisik dan yang memadai
stimulasi berlebih  Akan meningkatkan tekanan darah
 Hindari obat dan larutan otak
hipertonis  Hipoksia akan meningkatkan aliran
 Pertahankan oksigenasi yang darah otak tekanan intrakranial
adekuat  Akan mengurangi aliran arteri karotis
 Hindari memutar kepala ke dan oksigenasi ke otak
samping tiba-tiba

7. Nyeri yang berhubungan dengan prosedur, diagnosis dan tindakan.

Tujuan: pasien tidak memperlihatkan adanya nyeri yang dirasakan.

Kriteria hasil :
 Pasien tidak merintih atau menangis kesakitan.
 Pasien tidak memperlihatkan tanda nyeri atau tanda nyeri yang minimal.

Intervensi Rasional
 Kaji keefektifan upaya kontrol Beberapa upaya (misalnya
nyeri non farmakologis menggosok) dapat meningkatkan
 Dorong orang tua untuk distres bayi prematur
memberikan  Sebagai orang tua bayi, kenyamanan
upaya
kenyamanan bila mungkin lebih efektif diberikan langsung oleh
 Tunjukkan sikap sensitif dan orang tua kepada bayinya
kasih sayang pada bayi  Seorang bayi sangat membutuhkan
kasih sayang, khususnya dari orang
tua

8. Resiko gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang berhubungan dengan kelahiran


premature, lingkungan NICU tidak alamiah, perpisahan dengan orang tua.

Intervensi Rasional
 Berikan nutrisi yang maksimal  Untuk menjamin penambahan berat
 Berikan periode istrahat yang badan dan pertunbuhan otak yang
teratur tanpa gangguan tetap
 Kenali tanda stimulus yang
 Untuk mengurangi panggunaan
berlebihan (terkejut, menguap, O2 dan kalori yang tidak perlu
aversi aktif, menangis)  Untuk membiarkan istirahat bayi
 Tingkatkan interaksi orang tua- denagn tenang
bayi  Sangat penting untuk pertumbuhan
dan perkembangan normal

9. Resiko gangguan integritas kulit yang berhubungan dengan imobilitas, kelembaban kulit.

Tujuan: bayi mempertahanmkan integritas kulit.

Kriteria hasil:
 Kulit tetap bersih dan utuh.
 Tidak terlihat adanya tanda-tanda terjadinya iritasi.

Intervensi Rasional
  Untuk mengetahui adanya kelainan
Observasi tekstur dan warna kulit.
 Jaga kebersihan kulit bayi. pada kulit secara dini
 Ganti pakaian setiap basah.  Meminimalkan kontak kulit bayi
 Jaga kebersihan tempat tidur. dengan zat-zat yang dapat merusak
 Lakukan mobilisasi tiap 2 jam. kulit pada bayi
 Untuk meminimalisir terjadinya
iritasi pada kulit bayi
 Untuk mencegah kerusakan kulit
pada bayi

10. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kondisi penyakit bayinya ditandai dengan orang tua
klien tampak cemas dan khawatir malihat kondisi bayinya, dan berharap agar bayinya cepat
sembuh.
Tujuan: keluarga mendapat informasi tentang kemajuan kondisi bayinya.

Kriteria hasil:
 Orang tua atau keluarga mengekspresikan perasaan dan keprihatinan mengenai bayi dan prognosis
serta memperlihatkan pemahaman dan keterlibatan dalam asuhan.

Intervensi Rasional
 Kaji tingkat pemahaman klien  Belajar tergantung pada emosi dan
berikan instruksi /informasi kesiapan fisik dan diingatkan pada
pada klien maupun keluarga tahapan individu
tentang penyakitnya, baik  Menurunkan ansietas dan dapat
tertulis atau lisan. menimbulkan perbaikan partisipasi
 Jelaskan proses penyakit pada rencana pengobatan.
individu. Dorong orang  Meningkatkan kerjasama dalam
terdekat menanyakan program pengobatan dan mencegah
pertanyaan penghentian obatsesuai perbaikan
 Jelaskan tentang dosis obat, kondisi pasien.
frekwensi, tujuan pengobatan Mencegah/menurunkan ketidaknyaman
dan alasan tentang pemberian sehubungan dengan terapi dan
obat kepeda keluarga meningkatkan kerjasama.
 Kaji potensial efek samping
obat

2.9.4. Implementasi

Implementasi merupakan tindakan yang sesuai dengan yang telah


direncanakan,mencakup tindakan mandiri dan kolaborasi. Tindakan mandiri adalah tindakan
keperawatan berdasarkan analisis dan kesimpulan perawat dan bukan atas petunjuk tenaga
kesehatan lain. Sedangkan tindakan kolaborasi adalah tindakan keperawatan yang didasarkan
oleh hasil keputusan bersama dengan dokter atau petugas kesehatan lain.
2.9.5 Evaluasi

Merupakan hasil perkembangan klien dengan berpedoman kepada hasil dan tujuan
yang hendak dicapai.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymuous, 2015. http://www.pediatric.com/. Di akses Tanggal 10 April 2015.

Arizona Health Matters. 2015. Babies with Low Birth Weight.


http://www.arizonahealthmatters.org/modules.php?op=modload&name=NS-
Indicator&file=indicator&iid=17275074. Di akses Tanggal 10 April 2015.

Arief, Nurhaeni. 2008. Panduan Lengkap Kehamilan dan Kelahiran Sehat. Yogyakarta : AR Group.

Betz, LC dan Sowden, LA. 2002. Keperawatan Pediatrik - Edisi 3. Jakarta : EGC.

Bobak, Irene M. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta : EGC.

Carpenito, Lynda Juall. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8. Jakarta : EGC.

Doenges, E.Marilynn. 2012. Rencana Asuhan Keperawatan - Edisi 3. Jakarta : EGC.

Herdman, T. Heather. 2012. Diagnosis Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi 2012-2014. Jakarta : EGC.

Mansjoer, Arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid 1. Jakarta : EGC.

Maryunani, Anik. 2009. Ilmu Kesehatan Anak dalam Kebidanan. Jakarta : TIM.

Nurarif, Amin Huda dan Hardhi Kusuma. 2013. Aplikasi NANDA NIC NOC. Yogyakarta : Media Action
Publishing.

Prawirohardjo, Sarwono. 2007. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta
: Bina Pustaka
Wilkinson, Judith M. 2013. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta : EGC.

LAPORAN PENDAHULUAN
BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR)

A. Pengertian
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa
memandang masa gestasi. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 (satu) jam
setelah lahir. (Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2004).
BBLR adalah bayi baru lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram, terjadi gangguan
pertumbuhan dan pematangan (maturitas) organ yang dapat menimbulkan kematian.
BBLR adalah setiap bayi yang beratnya hanya 2,5 kg atau di bawahnya pada saat lahir.
(Denis Tiran, 2003).

B. Etiologi
Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran prematur. Faktor ibu yang lain
adalah umur, paritas, dan lain-lain. Faktor plasenta seperti penyakit vaskuler, kehamilan
kembar/ganda, serta faktor janin juga merupakan penyebab terjadinya BBLR.
1. Faktor ibu
a. Penyakit, seperti malaria, anaemia, sipilis, infeksi TORCH, dan lain-lain
b. Komplikasi pada kehamilan, seperti perdarahan antepartum, pre-eklamsia berat, eklamsia, dan
kelahiran preterm.
c. Usia Ibu dan paritas, angka kejadian BBLR tertinggi ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh
ibu-ibu dengan usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun dan jarak hamil-bersalin terlalu
dekat.
d. Faktor kebiasaan ibu seperti ibu perokok, ibu pecandu alkohol dan ibu pengguna narkotika.

2. Faktor Janin
Prematur, hidramion, kehamilan kembar/ganda (gemeli), kelainan kromosom.

3. Faktor Lingkungan
Yang dapat berpengaruh antara lain; tempat tinggal di daratan tinggi, radiasi, sosio-ekonomi
dan paparan zat-zat racun.(Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2004)

C. Patofisiologi
Secara umum bayi BBLR ini berhubungan dengan usia kehamilan yang belum cukup bulan
(prematur) disamping itu juga disebabkan dismaturitas. Artinya bayi lahir cukup bulan (usia
kehamilan 38 minggu), tapi berat badan (BB) lahirnya lebih kecil ketimbang masa
kehamilannya, yaitu tidak mencapai 2.500 gram. Biasanya hal ini terjadi karena adanya
gangguan pertumbuhan bayi sewaktu dalam kandungan yang disebabkan oleh penyakit ibu
seperti adanya kelainan plasenta, infeksi, hipertensi dan keadaan-keadaan lain yang
menyebabkan suplai makanan ke bayi jadi berkurang.
Gizi yang baik diperlukan seorang ibu hamil agar pertumbuhan janin tidak mengalami
hambatan, dan selanjutnya akan melahirkan bayi dengan berat normal. Dengan kondisi kesehatan
yang baik, system reproduksi normal, tidak menderita sakit, dan tidak ada gangguan gizi pada
masa pra hamil maupun saat hamil, ibu akan melahirkan bayi lebih besar dan lebih sehat
daripada ibu dengan kondisi kehamilan yang sebaliknya. Ibu dengan kondisi kurang gizi kronis
pada masa hamil sering melahirkan bayi BBLR, vitalitas yang rendah dan kematian yang tinggi,
terlebih lagi bila ibu menderita anemia.
Anemia dapat didefinisikan sebagai kondisi dengan kadar Hb berada di bawah normal.
Anemia defisiensi besi merupakan salah satu gangguan yang paling sering terjadi selama
kehamilan. Ibu hamil umumnya mengalami deplesi besi sehingga hanya memberi sedikit besi
kepada janin yang dibutuhkan untuk metabolisme besi yang normal. Selanjutnya mereka akan
menjadi anemia pada saat kadar hemoglobin ibu turun sampai di bawah 11 gr/dl selama trimester
III. Kekurangan zat besi dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan janin
baik sel tubuh maupun sel otak. Anemia gizi dapat mengakibatkan kematian janin didalam
kandungan, abortus, cacat bawaan, BBLR, anemia pada bayi yang dilahirkan, hal ini
menyebabkan morbiditas dan mortalitas ibu dan kematian perinatal secara bermakna lebih tinggi.
Pada ibu hamil yang menderita anemia berat dapat meningkatkan resiko morbiditas maupun
mortalitas ibu dan bayi, kemungkinan melahirkan bayi BBLR dan prematur juga lebih besar.

D. Klasifikasi BBLR
Menurut WHO, tahun 1984, bayi prematur adalah bayi yang lahir sebelum 37 minggu
usia kehamilan sedangkan bayi berberat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat badan lahir
kurang dari 2500 gram. Prematuritas dibedakan atas dua kelompok, yaitu :

1. Prematuritas murni
Prematuritas murni merupakan bayi yang lahir dengan berat badan sesuai dengan masa
kehamilan, seperti masa kehamilan kurang dari 37 minggu dengan berat badan 1800-2000 gram.

2. Bayi dismatur/ small for gestational age


Bayi dismatur merupakan bayi dengan berat badan lahir tidak sesuai dengan masa
kehamilan, seperti bayi lahir setelah sembilan bulan dengan berat badan tidak mencapai 2500
gram.
Berat badan lahir rendah dapat dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu:
1. < 1000 gram
2. 1000-1500 gram
3. 1500-2000 gram
4. 2000-2499 gram.
Berat badan lahir kurang dari 2500 gram menyebabkan meningkatnya resiko kematian
bayi. Bayi prematur BBLR ini lebih sering mengalami kematian pada periode neonatal. Bayi
prematur BBLR yang berhasil bertahan hidup biasanya menderita gangguan perkembangan
saraf, masalah penafasan, dan anomali kongenital.9 Infeksi oral seperti periodontitis dapat
meningkatkan resiko terjadinya kelahiran bayi prematur berberat badan lahir rendah.

E. Gambaran Bayi BBLR


1. Berat kurang dari 2500 gr
2. Panjang kurang dari 45 cm
3. Lingkar dada kurang dari 30 cm
4. Lingkar kepala kurang dari 33 cm
5. Umur kehamilan kurang dari 37 mgg
6. Kepala relatif lebih besar
7. Kulit: tipis transparan, rambut lanuga banyak, lemak kulit kurang
8. Otot hipotonik – lemah
9. Pernapasan tidak teratur dapat terjadi apnea (gagal nafas
10. Ekstrimitas : paha abduksi, sendi lutut / kaki fleksi-lurus
11. Kepala tidak mempu tegak
12. Pernapasan sekitar45-50 kali permenit
(Manuaba, 1998)
F. Diagnosis dan Gejala Klinis
1. Sebelum bayi lahir
a. Pada anamnesa sering dijumpai adanya riwayat abortus, portus prematurus dan lahir mati.
b. Pembesaran uterus tidak sesuai tuannya kehamilan.
c. Pergerakan janin yang pertama terjadi lebih lambat, gerakan janin lebih lamat walaupun
kehamilannyasudah agak lanjut.
d. Sering dijumpai dengan kehamilan augohidramnion, hidramnion, hieremsis grandarum.

2. Setelah bayi lahir


a. Bayi dengan retardsi pertumbuhan intrauterin
b. Bayi prematur yang lahir sebelum kehamilan 37 minggu
c. Bayi prematur kurang sempurna pertumbuhan alat-alat tubuhnya.
(Mochtar Rustam, 1998)

G. Komplikasi
Komplikasi langsung yang dapat terjadi pada bayi berat lahir rendah antara lain :
1. Hipotermia
2. Hipoglikemia
3. Gangguan cairan dan elektrolit
4. Hiperbilirubinemia
5. Sindroma gawat nafas
6. Paten duktus arteriosus
7. Infeksi
8. Perdarahan intraventrikuler
9. Apnea of Prematurity
10. Anemia

Masalah jangka panjang yang mungkin timbul pada bayi-bayi dengan berat lahir rendah
(BBLR) antara lain :
1. Gangguan perkembangan
2. Gangguan pertumbuhan
3. Gangguan penglihatan (Retinopati)
4. Gangguan pendengaran
5. Penyakit paru kronis
6. Kenaikan angka kesakitan dan sering masuk rumah sakit
7. Kenaikan frekuensi kelainan bawaan

G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain :
1. Pemeriksaan skor ballard
2. Tes kocok (shake test), dianjur untuk bayi kurang bulan
3. Darah rutin, glukosa darah, kalau perlu dan tersedia fasilitas diperiksa kadar elektrolit dan
analisa gas darah.
4. Foto dada dan USG

H. Penatalaksanaan Dan Terapi


Dengan memperhatikan gambaran klinik dan berbagai kemungkinanan yang dapat terjadi
pada bayi prematuritas maka perawatan dan pengawasan ditujukan pada pengaturan suhu,
pemberian makanan bayi, Ikterus, pernapasan, hipoglikemi dan menghindari infeksi.
1. Pengaturan suhu badan bayi prematuritas /BBLR.
Bayi prematur dengan cepat akan kehilangan panas badan dan menjadi hipotermi karena
pusat pengaturan panas belum berfungsi dengan baik, metabolisme rendah dan permukaan badan
relatif luas. Oleh karena itu bayi prematuritas harus dirawat dalam inkubator sehingga panas
badannya mendekati dalam rahim , apabila tidak ada inkubator bayi dapat dibungkus dengan
kain dan disampingnya ditaruh botol berisi air panas sehingga panas badannya dapat
dipertahankan.

2. Nutrisi
Alat pencernaan bayi belum sempurna, lambung kecil enzim peneernaan belum matang,
sedangkan kebutuhan protein 3-5 gr/kg BB dan kalori 110 kal;/kgBB sehingga pertumbuhan
dapat meningkat. Pemberian minum bayi sekitar 3 jam setelah lahir dan didahului derngan
menghisap cairan lambung , reflek masih lemah sehingga pemberian minum sebaiknya sedikit
demi sedikit dengan frekwensi yang lebih sering. ASI merupakan makanan yasng paling utama
sehingga ASI-lah yang paling dahulu diberikan, bila faktor menghisapnya kurang maka ASI
dapat diperas dan diberikan dengan sendok perlahan-lahan atau dengan memasang sonde.
Permulaan cairan yang diberikan 50- 60 cc/kgBB/hari terus dinaikan sampai mencapai sekitar
200 cc/kgBB/hari.

3. Ikterus
Semua bayi prematur menjadi ikterus karena sistem enzim hatinya belum matur dan
bilirubin tak berkonjugasi tidak dikonjugasikan secara efisien sampai 4-5 hari berlalu . Ikterus
dapat diperberat oleh polisetemia, memar hemolisias dan infeksi karena hperbilirubinemia dapat
menyebabkan kernikterus maka wama bayi harus sering dicatat dan bilirubin diperiksa, bila
ikterus muncul dini atau lebih cepat bertambah coklat.

4. Pernapasan
Bayi prematur mungkin menderita penyakit membran hialin. Pada penyakit ini tanda-tanda
gawat pernafasan selalu ada dalam 4 jam. Bayi haras dirawat terlentang atau tengkurap dalam
incubator, dada abdomen harus dipaparkan untuk mengobserfasi usalia pernapasan.
5. Hipoglikemi
Mungkin paling timbul pada bayi prematur yang sakit bayi berberat badan lahir rendah,
harus diantisipasi sebelum gejala timbul dengan pemeriksaan gula darah secara teratur.

6. Menghindari Infeksi
Bayi prematuritas mudah sekali mengalami infeksi karena daya tahan tubuh masih lemah,
kemampuan leukosit masih kurang dan pembentukan antibodi belum sempurna . Oleh karena itu
tindakan prefentif sudah dilakukan sejak antenatal sehingga tidak terjadi persalinan dengan
prematuritas (BBLR)

Pemberian vitamin K1
1. Injeksi 1 mg IM sekali pemberian, atau
2. Per oral 2 mg sekali pemberian atau 1 mg 3 kali pemberian (saat lahir, umur 3-10 hari, dan umur
4-6 minggu)

I. Pemantauan (Monitoring)
1. Pemantauan saat dirawat
a. Terapi
Bila diperlukan terapi untuk penyulit tetap diberikan preparat besi sebagai suplemen mulai
diberikan pada usia 2 minggu.

b. Tumbuh kembang
1) Pantau berat badan bayi secara periodik
2) Bayi akan kehilangan berat badan selama 7-10 hari pertama (sampai 10% untuk bayi dengan
berat lair ≥1500 gram dan 15% untuk bayi dengan berat lahir <1500).
3) Bila bayi sudah mendapatkan ASI secara penuh (pada semua kategori berat lahir) dan telah
berusia lebih dari 7 hari :
a) Tingkatkan jumlah ASI denga 20 ml/kg/hari sampai tercapai jumlah 180 ml/kg/hari
b) Tingkatkan jumlah ASI sesuai dengan peningkatan berat badan bayi agar jumlah pemberian ASI
tetap 180 ml/kg/hari
c) Apabila kenaikan berat badan tidak adekuat, tingkatkan jumlah pemberian ASI hingga 200
ml/kg/hari
d) Ukur berat badan setiap hari, panjang badan dan lingkar kepala setiap minggu.

2. Pemantauan setelah pulang


Diperlukan pemantauan setelah pulang untuk mengetahui perkembangan bayi dan
mencegah/ mengurangi kemungkinan untuk terjadinya komplikasi setelah pulang sebagai berikut
:
a. Sesudah pulang hari ke-2, ke-10, ke-20, ke-30, dilanjutkan setiap bulan.
b. Hitung umur koreksi.
c. Pertumbuhan; berat badan, panjang badan dan lingkar kepala.
d. Tes perkembangan, Denver development screening test (DDST).
e. Awasi adanya kelainan bawaan.

J. Pencegahan
Pada kasus bayi berat lahir rendah (BBLR) pencegahan/ preventif adalah langkah yang
penting. Hal-hal yang dapat dilakukan :
1. Meningkatkan pemeriksaan kehamilan secara berkala minimal 4 kali selama kurun kehamilan
dan dimulai sejak umur kehamilan muda. Ibu hamil yang diduga berisiko, terutama faktor risiko
yang mengarah melahirkan bayi BBLR harus cepat dilaporkan, dipantau dan dirujuk pada
institusi pelayanan kesehatan yang lebih mampu.
2. Penyuluhan kesehatan tentang pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim, tanda tanda
bahaya selama kehamilan dan perawatan diri selama kehamilan agar mereka dapat menjaga
kesehatannya dan janin yang dikandung dengan baik.
3. Hendaknya ibu dapat merencanakan persalinannya pada kurun umur reproduksi sehat (20-34
tahun).
4. Perlu dukungan sektor lain yang terkait untuk turut berperan dalam meningkatkan pendidikan ibu
dan status ekonomi keluarga agar mereka dapat meningkatkan akses terhadap pemanfaatan
pelayanan antenatal dan status gizi ibu selama hamil.

K. Konsep Dasar Keperwatan

A. Pengkajian
 Biodata
 Keluhan utama
 Riwayat Penyaki sekarang
 Riwayat penyakit Dahulu
 Riwayat Penyakit Keluarga
 Pola Nutrisi
 Pola istirhat
 Pola istirahat tidur
 Pola personal hygiene
 Pola aktivitas
 Pola eliminasi
 Pemeriksaan kesadaran umum
 Pemeriksaan fisik
Kepala, Panjang badan, Thorax, Abdomen, Genetalia, Anus

B. Diagnosa Keperawatan

1) Resiko tinggi gawat pernafasan b/d ketidakmatangan paru karena kurang prodiksi surfaktan
2) Resiko tinggi hipotermi dan hipertermi b/d lemak sub kutan tipis , luas permukaan tubuh lebih
luas dibanding dengan masa tubuh,termoregulasi belum sempurna
3) Nutrisi kurang dari kebutuhan b/d reflek menelan lemah akibat prematuritas
4) Resiko tinggi terhadap infeksi b/d kerentanan bayi terhadap sistem imun yang belu matang
5) Kekurangan volume cairan b/d pengeluaran yang disebabkan imaturitas, pengeluaran kulit atau
paru

A. Intervensi Keperwatan

Dx Intervensi Rasional
1 Tujuan:
1. Kumpulkan data yang berkaitan dengan 1. Riwayat ibu atas penggunaan obat atau
kegawatan nafas kondisi tidak normal selama kehamilan dan
2. Waspada episode apnea yang berlangsung lebih proses persalinan
dari 20 detik 2. Waspada episode apnea yang berlangsung
3. Memberi bantuan pernafasan seperti oksigen lebih dari 20 detik
4. Pantau kajian gas darah untuk mengetahui 3. membantu mencukupi supplai oksigen
asidosis pernafasan metabolik 4. deteksi dini untuk mencegah hipoksia
5. Persiapkan dalam pemberian terapi 5. tidak terjadi hipotermia/hypertermia
farmakologis,sperti teofilin IV
2 Tujuan:tidak terjadi hipotermia/hypertermia
1. Jaga temperatur ruang perawatan 25 C 1. ruangan yang terlalu panas menyebabkan
2. Ukur suhu rektal terlebih dulu, kemudian suhu perpindahan panas secara infeksi
aksila setiap 2 jam/setiap kali diperlukan 2. deteksi dini dalam menentukan tindakan
3. Lakukan prosedur penghangatan setelah bayi selanjutnya
lahir 3. mencegah pengeluaran suhu lewat
4. evaporas
4.
3 Tujuan:Meningkatkan dan menjaga asupan kalori
dan statusnya gizi bayi 1. kemampuan menghisap dan menelan yang
1. Awasi reflek menghisap bayi dan kemampuan lemah dapat menyebabkan kebutuhan
menelan nutrisi tidak terpenuhi
2. Awasi dan hitung kebutuhan kalori bayi 2. mengetahui kebutuhan kalori yang
3. Kebutuhan ASI 60/kg BB/24 jam dengan dibutuhkan bayi.
kenaikan 30 cc/hari,di pertahankan pada hari ke-3. ASI mengandung zat gizi yang diperlukan
7 sampai 1 bulan tubuh
4. Timbang bayi setiap hari,bandingkan berat 4. mengetahui perkembangan dan
badan dengan asupan kalori yang diberikan. kemungkinan terjadinya penurunan BB yang
pathologis
4 Tujuan: tidak terjadi infeksi
1. Kaji adanya fluktuasi suhu 1. suhu tubuh meningkat dan nadi cepat
tubuh,letargi,apnea,malas minum,gelisah dan mmerupakn awal terjadinya infeksi
ikterus 2. mengetahui adanya riwayat infeksi selama
2. Kaji riwayat ibu,kondisi bayi selama kehamilan
kehamilan,dan epidemi infeksi diruang perawatan 3. untuk sampel pemerisaan eritrosit,leukosit,
3. Ambil sampel darah , diferensiasi,imunoglobulin
4. Pantau ulang hasil peneletian eritrosit,luekosit, 4. mengetahui terjadinya infeksi
diferensiasi,imunoglobulin 5. mencegah berpindahnya mikroorganisme
5. Upayakan pencegahan infeksi dari dari jari tangan ketubuh bayi
lingkungan:cuci tangan sebelum dan sesudah
memegang bayi
5 Tujuan:Menjaga keseimbangan cauran elektrolit
1. Awasi dan hitung kebutuhan cairan dan 1. Untuk mengetahui kebutuhan cairan
elektrolit,60 cc/kg BB/24 jam ,kenaikan 20 cc tiap
2. Untuk mengetahui pengeluaran
hari,dipertahankan pada hari ke-7 3. Untuk mengetahui berat jenis urin
2. Pantau dan catat pengeluaran bayi tiap jam
3. Periksa berat jenis urine dan glikosuria
DAFTAR PUSTAKA

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). 2004. Bayi Berat Lahir Rendah. Dalam : Standar
Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Edisi I. Jakarta: IDAI
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid I. Jakarta: EGC
Buku Asuhan Keperawatan Ibu Bayi Baru Lahir Edisi5.Jakarta EGC
Surasmi ,Asrining.2003.Perawatan Bayi Rsiko Tinggi.Jakarta:EGC
Manuaba ,Ida Bagus Gde. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB untuk Pendidikan
Bidan.Jakarta:EGC
Suriadi. 2001. Asuhan Keperawatan Anak edisi 1 .Jakarta:EGC

Markum, All. 1999. Ilmu Kesehatan Anak jilid 1. Jakarta: EGC

LANDASAN TEORI
BBLR
(Berat Badan Lahir Rendah)

1. Pengertian
Istilah prematur telah diganti dengan BBLR karena terdapat dua bentuk penyebab kelahiran bayi
dengan BB < 2500 gram karena UK < 37 minggu, BB < rndah dari semestrinya terapi aterm.
BBLR adalah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2500 gr sampai dengan
2499 gram.
(Maternal dan Neonatal, : 37)
 Pembagian BBLR
 Bayi berat badan rendah (BBLR): BB 1500 – 2500 gr
 Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR): BB < 1500 gr
 Bayi berat lahir ekstrim rendah (BBLER): BB < 1000gr

2. Penyebab BBLR dan Kehamilan Kurang Bulan (Prematur)


a. Penyebab kehamilan kurang bulan
 Kelainan pada ibu
 Kehamilan ganda
 Induksi persalinan dini
b. Penyebab BBLR dan prematur
 Faktor ibu
Penyakit (toxomia gravidarum, perdarahan aterpartum, trauma fisik nefritis akut).
 Usia ibu
Usia kurang lebih 16 tahun, usia lebih ari 35 tahun, multigravidarum yang jarak kehamilannya
dekat.
 Keadaan sosial
Sosek rendah, perkawinan yang tidak sah
 Sebab lain
Ibu perokok, peminum alkohol, pecandu narkoba
 Faktor janin
Hydramnion, kehamilan ganda, kelainan kromosom, kelainan kongenita

3. Tanda-tanda BBLR/Prematur
 BB kurang dari 2500 gr
 PB kurang dari 45 cm
 Lingkar dada kurang dari 30 cm
 Lingkar kepala kurang dari 33 cm
 Kulit keriput, tipis, merah, putih dengan rambut lanugo pada dahi, pelipis, telinga, lengan.
 Jaringan lemak dibawah kulit sedikit
 Kuku jari tangan dan jari kaki belum mencapai ujung jari
 Kepala lebih besar dari pada badan
 Tulang rawan dan daun terlinga immatur
 Puting susu belum terbentuk dengan baik
 Ubun-ubun dan sutura lebar

4. Menghadapi bayi preterm, harus diperhatikan masalah:


 Suhu tubuh
 Pusat mengatur nafas badan belum sempurna
 Luas badan bayi relatif besar sehingga penguapannya bertambah
 Otot bayi masih lemah
 Lemak kulit dan lemak coklat kurang sehingga cepat kehilangan panas badan
 Kemampuan metabolisme panas masih rendah, sehingga bayi dengan berat badan lahir rendah
perlu diperhatikan agar tidak lemak banyak kehilangan panas badan dan dapat dipertahankan
sekitar 36,5-97,3%
 Pernafasan
 Pusat pengatur pernafasan belum sempurna
 Surfaktan masih kurang sehingga perkembangannya tidak sempurna
 Otot pernafasan dan tulang iga lemah
 Dapat disertai penyakit, penyakit hyalin membran, mudah infeksi paru-paru, gagal pernafasa
 Alat pencernaan makanan
 Belum berfungsi sempurna sehingga penyerapan makanan dengan banyak lemak, kurang baik
 Aktivitas otot pencernaan makan masih belum sempurna sehingga pengosongan lambung
berkurang
 Mudah terjadi regangitasi isi lambung dan dapat menimbulkan apsirasi pneumonis
 Hepat yang belum matang (immatur)
Mudah menimbulkan gangguan pemecahan billirubin, sehingga mudah terjadi
hiperbillirubinemia (kuning) sampai kena ikterus
 Ginjal masih belum matang
Kemampuan mengatur perkembangan sisa metabolisme dan air masih belum sempurna sehingga
mudah terjadi oedem
 Perdarahan dalam oro
 Pembuluh darah bayi peramturnisasi rapuh dan mudah pecah
 Sering mengalami gangguan pernafasan, sehingga memudahkan terjadinya perdarahan anak
 Perdarahan dalam orok memperburuk keadaan dan menyebabkan kematian bayi
 Pemberian O2 belum mampu diatur sehingga mempermudah terjadinya perdarahan dan nekoris.
(Manuaba, 1998: 372-328)

5. Perawatan dan pengawasan bayi prematuritas/BBLR


 Pengaturan suhu bayi prematur/BBLR
Bayi prematur dengan cepat akan kehilangan panas badan dan bayi prematur dengan cepat akan
kehilangan panas badan dan menjadi hipotermia karena pusat pengaturan panas badan berfungsi
dengan baik. Metabolismenya rendah, dan permukaannya badan relatif luas oleh karena itu bayi
prematuritas harus dirawat di inkubator sehingga panas badannya mendekati dalam rahim, bila
tidak ada inkubator, bayi prematuritas dapat dibungkus dengan kain dan disampingnya ditaruh
botol berisi air panas.
 Makanan bayi prematuritas
Alas pencernaan bayi prematur masih belum sempurna, lambung kecil, enzim pencernaan belum
matang, sedangkan kebutuhan protein 3-5 gr/kg BB dan kalori 110 kal/kg BB, sehingga
pertumbuhannya dapat meningkat. Pemberian minum bayi sekitar 3 jam setelah lahir dan
didahului dengan menghisap cairan lambung reflek menghisap masih lemah, sehingga pemberian
minum sebaiknya sedikit demi sedikit tetapai sering, permulaan cairan yang diberikan ± 90-60 cc
kg BB/hari terus dinaikkan sampai 20 cc kg BB/hari.

 Menghindari infeksi
Bayi prematuritas mudah sekali terkena infeksi karena daya tahan tubuh yang masih lemah,
kemampuan leukosit masih kurang, pembentukan antibodi belum sempurna, oleh karena itu
upaya prenventif sudah dilakukan sejak pengawasan antenatal sehingga tidak terjadi
BBLR/prematuritas.

6. Komplikasi BBLR
 Hypotermi
 Hypoglikemis
 Hyperbillirubin karena fungsi hepar belum sempurna
 Syndrom gangguan pernafasan hipobia
 Pneumenium aspirasi, karena reflek menelan dan batuk belum sempurna

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Pada Bayi Berat Lahir Rendah


I. Pengumpulan Data
A. Data Subjektif
Identitas/Biodata
Tanggal: Jam:
Nama bayi :
Umur :
Tanggal/Jam lahir :
Jenis kelamin :
BB/TB :
Nama ibu : Nama Ayah :
Umur : Umur :
Agama : Agama :
Suku/bangsa : Suku/bangsa :
Pendidikan : Pendidikan :
Pekerjaan : Pekerjaan :
Alamat : Alamat :
Keluhan utama
Ibu mengatakan bayinya sering menangis

Riwayat penyakit kehamilan


 Perdarahan : tidak ada
 Pre-eklamasi : tidak ada
 Eklamasi : tidak ada
 Peyakti kelamin : tidak ada
 Lain-lain : tidak ada
Kebiasaan waktu hamil
Makanan : ibu mengatakan makan nasi, lauk-pauk, sayur dan
buah
Obat-obatan : ibu mengatakan tidak pernah minum obat ataupun
minum jamu-jamuan
Merokok : tidak pernah merokok
Riwayat persalinan sekarang
a. Jenis persalinan : normal
b. Ditolong oleh : bidan
c. Usia kehamilan : 40 minggu
d. Lama persalinan :
Primi. G. kala I : 12 jam Multi. G kala I : 8 jam
kala II : 80 mnt kala II : 30 menit
kala III : 5-10 mnt kala III : 5-10 menit
e. Ketuban pecah : spontan, warna jernih, bau anyir
f. Komplikasi persalinan
Bayi : tidak ada
Ibu : tidak ada
g. Keadaan bayi baru lahir rendah
Niai APGAR score = 7-10 : tidak asfiksi
4-6 : bayi asfiksi ringan-sedang
0-3 : bayi asfiksi berat
Gejala 0 1 2
1. Warna kulit Tidak ada < 100 > 100
2. Usaha bernafas Tidak ada Lambat, tidak teratur Menangis kuat
3. Tonus obat Tumpul Extremitas, flexi Gerakan aktif
4. Reflek Tidak sedikit Menangis
5. Warna kulit bereaksi Gerakan sediktit Seluruh tubuh
Biru/pucat Badan kemerahan kemerahan
extremitas biru
Gejala 0 1 2
1. Frekuensi jantung Tidak ada < 100 > 100
2. Usaha bernafas Tidak ada Lembut, tidak teratur Menangis kuat
3. Tonus otot Lumpuh Extremitas, lumpuh Gerakan aktif
sedikit
4. Reflek Tidak Gerakan sedikit Menangis
5. Warna kulit bereaksi Badan Seluruh tubuh
Biru/pucat merah/extremitas biru kemerahan
 Berat badan : 1600 gr
 Panjang badan : 46 cm
h. Resusitasi
Dilakukan penghisapan lendir, ambubage: tidak/ya
Rangsangan: ya, massase jantung: tidak
Therapy: Vitamin xxx, obat tetes mata, vaksin hepatitis B, sonde, inkubator

B. Data Objektif
Pemgkajian data dilakukan pada saat bayi berada dalam inkubator
1. Pemeriksaan umum
- KU : baik BB sekarang: 1600 gram
o
- Suhu : 36,9 C PB sekarang: 44 cm
- Pernafasan : 40-60 x/mnt
- Nadi : 120 x/mnt
2. Pemeriksaan fisik
 Kepala : simetris, tidak terdapat cephal, fontahella mayor alam menutup, tidak
terdapat caput sucedenium.
 Muka : pucat, jarak kontus mata normal, sklera tidak ikterus, conjungtiva tidak
anemis.
 Telinga : simetris, bersih, tidak da keluaran serumen.
 Leher : normal, tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, tidak ada pembesaran vena
jugularis.
 Nada : simetris, tidak ada ronchi, tidak ada wheezing, tidak ada tarikan dada,
terlihat kerang dada/thoram.
 Tali pusat : belum lepas, bersih, tidak ada tanda-tanda infeksi, tidak ada perdarahan,
terbungkus kasa steril.
 Punggung : tidak ada spink lifide, tidak ada menengokel.
 Genetasi : bersih, testis belum turun.
 Anus : tidak ada atreski ani.
 Ekstremitas : atas: tidak ada oedem, tidak polidaktif
Bawah: tidak ada polidaktie, tidak oedem
 Kulit : kulit tipis/transparan, lanugo xxx, kemerahan terdapat sedikit verniks.
3. Refleks
 Refleks moro (-) ketika dikagetkan bayi kaget kaget
 Refleks menghidap (+) (sucking refleks)
 Refleks mencari (-) (rooting refleks)
 Refleks menggenggam (+) (dropping refleks) ketika disentuh telapak
tangan bayi akan menggenggam.
 Refleks babinski (+) (refleks terjadi jika telapak kaki diusap, bayi akan
menyebarkan gerakan memutar)
4. Antropometri
 Lingkar kepala: 27 cm
 Lingkar dada: 25 cm
5. Eliminasi
Urine dan meconeum akan keluar jika diberikan susu melalui sonde dalam
2 x 24 jam setelah bayi lahir.
6. Pemeriksaan penunjang
Tidak dilakukan

C. Assesment
1. Identitas diagnosa, masalah, kebutuhan
 Diagnosis : bayi berat lahir rendah usia 2 hari
DO : - Ku : rendah
- Kesadaran : composmentis
- Suhu : 36,9oC
- Nadi : 120 x/mnt
- APGAR scor : 4-6
- BB/PB : 1600 gr/44 cm
- Lingkar kepala 27 cm
- Lingkar dada : 25 cm
- Terdapat rambut lanugo, pembuluh darah terlihat jelas
 Masalah : bayi prematur
 Kebutuhan : - Menjaga kehangatan tubuh bayi
- Pemberian ASI dan nutrisi yang cukup tiap 2 jam
- Menaruh bayi dalam inkubator
- Jika keadaan membaik berikan ke ibunya
2. Identitas diagnosa dan masalah potensial
 Potensi terjadinya hipotermia dan asfiksi
 Masalah : kematian pada bayi

3. Identitas kebutuhan segera dan kolaborasi


Kolaborasi dengan dokter spesialis A untuk penanganan BBLR

D. Planning
a. Intervensi
Tanggal: Jam:
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2 jam 30 menit diharapkan
bayi dapat beradaptasi dengan kriteria.
 Suhu tubuh 36,5oC – 37,5oC
 Bibir dan ekstremitas tidak sianosis
 Pernafasan normal
 Bayi tidak kuning
 Refleks rooting dan morrow yang kuat
Intervensi
1. Lakukan pendekatan therapeutik dengan ibu
R
/ Menumbuhkan kerja sama yang halus antara petugas dan keluarga.
2. Jelaskan hasil pemeriksaan pada ibu
R
/ Ibu mengetahui tentang keadaan bayinya
3. Lakukan TTV (observasi) perdarahan tali pusat, intake dan output
R
/ Mengetahui terjadinya komplikasi dan perkembangan bayi
4. Berikan HE tentang:
 Jaga kehangatan bayi
 Ganti popok bayi tiap bayi BAK/BAB
 Memberikan nutrisi dengan hati-hati
R
/ Menambah wawasan pada ibu
5. Kenali tanda bahaya bayi
R
/ Antisipasi adanya kelainan pada bayi dan mengurangi kekhawatiran ibu
akan keadaan bayinya.
6. Cuci tangan sebelum dan sesudah memegang bayi
R
/ Pencegah infeksi
7. Hindarkan bayi kontak dengan sumber yang dapat mengakibatkan
penurunan suhu
R
/ Mencegah kehilangan panas
8. Perawatan bayi sehari-hari
R
/ Menjaga personal hygiene dan memberi perawatan untuk menjaga kondisi
bayi.
9. Kolaborasi dengan dokter spesialis anak dalam pemberian perawatan
selanjutnya
R
/ Fungsi independen
b. Implementasi
Implementasi yang kooperatif merupakan pengeluaran dan perwujudan
dari rencana yang telah disusun pada tahap-tahap perencanaan,
pelaksanaan dapat terjadi dan teratasi dengan baik apabila diterapkan
berdasarkan hakikat masalah jenis tindakan atas pelaksanaan/bisa
dikerjakan untuk bidan sendiri hanya kolaborasi sesama tim kesehatan
lainnya dan rujukan dari profesi lain.
c. Evaluasi
Evaluasi mengacu pada kriteria hasil dengan menggunakan SOAP
Tanggal: Jam:
S : Ibu mengatakan bayinya sudah minum susu dengan baik
O : - Keadaan umum : baik
- Kesadaran : composmentis
- Suhu : 36,9oC
- Refelks rooting dan moro : (+)
- Pernafasan : 50 x/menit
+
- BAB/BAK : /+
- Warna kulit : kemerahan
- Sianosis : (-)
- Bayi tidak kuning
A : Bayi Ny. “...” dengan berat badan lahir rendah
Mx teratasi
P : Rencana tetap dilanjutkan
 Menjaga kehangatan bayi
 Perawatan bayi sehari-hari
 Pemberian ASI/nutrisi setiap 1 jam (5 cc/jam)
 Observasi TTV
 Kolaborasi dengan spesialis anak untuk memastikan kondisi bayi dalam
keadaan sehat.

Riwayat kesehatan masa sekarang


Bayi dengan berat badan < 2.500 gram
3. Riwayat kesehatan keluarga
Apakah anggota keluarga pernah mengalami sakit keturunan
seperti kelainan kardiovaskular
a. Apakah ibu pernah mengalami sakit kronis
b. Apakah ibu pernah mengalami gangguan pada kehamilan
sebelumnya

c. Apakah ibu seorang perokok

d. Jarak kehamilan atau kelahiran terlalu dekat


4. Apgar skore
System penilaian ini untuk mengevaluasi status kardiopulmonal
dan persarafan bayi. Penilaian dilakukan 1 menit setelah lahir dengan
penilaian 7-10 (baik), 4-6 (asfiksia ringan hingga sedang), dan 0-3
(asfiksia berat) dan diulang setiap 5 meint hingga bayi dalam keadaan
stabil.
Riwayat kesehatan keluarga (ada anggota keluarga lainnya yang
melahirkan dengan BBLR)