Anda di halaman 1dari 41

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Pada umumnya pelayanan kesehatan terhadap masyarakat tidak terlepas dari keberadaan peralatan kesehatan seperti layanan fisioterapi yang selalu mengikuti perkembangan ilmu di bidang kesehatan. Pelayanan kesehatan ikut menentukan tercapainya masyarakat produktif demi keberhasilan pembangunan nasional. Karena bidang kesehatan merupakan kebutuhan primer yang harus dipenuhi oleh manusia, maka untuk menunjang kebutuhan di bidang kesehatan semua tak lepas dengan adanya fasilitas pendukung, yaitu perkembangan elektronika yang berkaitan dengan elektromedik. Salah satu contohnya adalah Blue Light Therapy Blue light therapy merupakan salah satu peralatan kesehatan yang digunakan sebagai alat terapi. Blue light therapy diperuntukan bagi Bayi Baru Lahir (BBL) atau Neonatus, yang mengalami hiperbillirubinemia. Hiperbillirubinemia atau disebut juga dengan ikterus dapat ditemukan pada minggu pertama kelahiran neonatus, Billirubin merupakan produk yang bersifat toksin (racun) yang harus dikeluarkan oleh tubuh. Kelebihan kadar billirubin dalam tubuh dapat menimbukkan gangguan menetap bahkan dapat megakibatkan kematian. Dengan latar belakang tersebut diatas maka penulis tertarik untuk membahas dan menganalisa kemudian menyusunnya sebagai karya tulis dengan judul :

“PEMODELAN ALAT BLUE LIGHT THERAPY BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51”

1

1.2

PEMBATASAN MASALAH

Dalam penyajian dan pembahasan karya tulis ini, penulis membatasi pokok- pokok pembahasan yang hanya berkaitan dengan blue light therapy berbasis mikrokontroler AT89S51 sesuai dengan judul yang diajukan,yaitu;

1. Rangkaian mikrokontroler AT89S51

2. Seting timer pada range waktu 0-99 detik (mewakili menit)

3. Hour meter

4. Rangkaian display untuk setting timer dengan dua digit seven segment sedangkan rangkaian display sebagai penunjuk hour meter dengan empat digit seven segment.

Hal ini dengan maksud agar tidak terjadi kerancuan dan pelebaran masalah didalam penyajian dan pembahasan karya tulis ini.

1.3 METODE PENULISAN

Dalam penyusunan karya tulis ini, metode yang dipergunakan adalah sebagai berikut :

1. Studi pustaka yaitu mencari dan mempelajari buku-buku dari sumber literature yang ada kaitannya dengan karya tulis ini.

2. Perencanaan pembuatan alat, yaitu dengan melakukan penggalian dan perumusan ide untuk membuat alat dengan bantuan informasi yang didapat pada studi literatur.

3. Merancang PEMODELAN ALAT BLUE LIGHT THERAPY BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51

4. Melakukan pengujian pada modul dan menganalisa data, serta membandingkan antara hasil yang diperoleh dari uji coba modul dengan perhitungan secara teori.

5. Penyusunan laporan.

2

1.4

TUJUAN PENULISAN

Sebagai syarat tugas akhir untuk menyelesaikan pendidikan Diploma III di Politeknik Kesehatan Jakarta II Jurusan Teknik Elektromedik. Tujuan Khusus

a.

Mengetahui prinsip kerja dan merancang alat blue light therapy.

b.

Memahami secara jelas baik secara teori maupun praktek mengenai alat blue light therapy berbasis mikrokontroler AT89S51.

c.

Melihat prosentase keakurasian alat blue light therapy yang dibuat.

1.5 SISTEMATIKA PENULISAN

Untuk mempermudah memahami dan mempelajari karya tulis ini, penulis akan menyajikan karya tulis ini menjadi beberapa bab yaitu;

BAB 1 : PENDAHULUAN

Memberi

gambaran

secara singkat

mengenai

latar

belakang,

pembatasan

masalah, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.

BAB 2 : TEORI DASAR

Menguraikan

prinsip-prinsip teori dasar yang mendukung sebagai landasan

teori dalam pembahasan masalah.

BAB 3 : PERENCANAAN

Menjelaskan langkah-langkah yang dilakukan mulai dari perumusan ide, perencanaan rangkaian teoritis sampai dengan pembuatan bagian-bagian rangkaian yang dibuat.

BAB 4 : PENDATAAN DAN ANALISIS

Adanya metode pengukuran dan perolehan data berdasarkan hasil pengamatan,menganalisa hasil pengukuran pada titik-titik pengukuran dari tiap rangkaian pada blue light therapy.

3

BAB 5 : PENUTUP

Berisi kesimpulan dan saran dari hasil pengujian dan pembahasan modul rangkaian secara keseluruhan.

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

4

BAB 2

DASAR TEORI

2.1 Sejarah Terapi Sinar

Pengaruh sinar terhadap ikterus pertama kali dilaporkan oleh perawat Ward(Inggris) bahwa bayi yang menderita ikterus atau penyakit kuning akibat meningkatnya kadar bilirubin dalam darah ternyata ikterusnya dapat lebih cepat hilang bila mendapatkan sinar matahari dibanding dengan bayi ikterus lainnya yang minim mendapatkan sinar matahari. Cremer(1958) yang mendapatkan laporan tersebut melakukan penelitian dan beliau akhirnya membuktikan bahwa untuk penyembuhan hiperbilirubinemia selain sinar matahari dapat juga menggunakan sinar lampu dengan panjang gelombang tertentu. Lucey (1968) juga telah membuktikan efektifitas terapi sinar pada penderita hiperbilirubinemia dan sejak saat itu untuk mengobati hiperbilirubinemia digunakan terapi sinar.

2.2 Ragam Terapi Sinar Untuk Bayi 1

2.2.1 Terapi Sinar Matahari

Terapi dengan sinar matahari hanya merupakan terapi tambahan, biasanya dianjurkan setelah bayi selesai dirawat di rumah sakit. Caranya bayi dijemur selama setengah jam dengan posisi yang berbeda-beda. Misalnya seperempat jam dalam keadan telentang kemudian seperempat jam lagi telungkup. Lakukan antara jam tujuh pagi sampai jam sembilan pagi. Karena inilah waktu dimana sinar matahari (sinar ultra violet) efektif mengurangi kadar bilirubin. Dibawah jam tujuh pagi sinar ultra violet belum cukup efektif , sedangkan diatas jam Sembilan pagi kekuatannya sudah terlalu tinggi sehingga akan merusak kulit bayi. Hindari juga posisi yang membuat bayi melihat langsung ke matahari karena dapat merusak mata. Perhatikan pula kebersihan udara di sekitarnya.

1 www.tabloid-nakita.com

5

2.2.2 Terapi Sinar (Photo Therapy)

Selain terapi sinar matahari,blue light therapy juga merupakan alat yang digunakan untuk terapi bayi yang menderita penyakit hiperbilirubinemia. Terapi sinar blue light bertujuan mengubah bilirubin indirek yang bersifat toksik menjadi zat yang tidak toksik. Sinar yang digunakan yaitu sinar lampu biru dengan panjang gelombang 420-470 nanometer. Hiperbilirubinemia akan berkurang jika bayi diberi sinar dalam spectrum cahaya yang mempunyai intensitas tinggi dan akan menyerap cahaya secara maksimal dalam batas wilayah warna biru mulai dari 420-470 nanometer sehingga menimbulkan dekomposisi bilirubin dari suatu senyawa tetrapirol yang sulit larut dalam air menjadi senyawa dipirol yang mudah larut dalam air (Ostrow, 1971) dan diekrasikan melalui kulit,tinja,dan urine sehingga terjadi penurunan kadar bilirubin dalam darah. Jarak penyinaran yang baik pada bayi ±45 cm. Saat terapi,kedua mata dan gonat ditutup dengan penutup yang dapat memantulkan cahaya atau dengan kain yang tidak tembus cahaya untuk menghindari kerusakan retina dan gangguan pada gonat. Suhu bayi dipertahankan sekitar 36,5º-37ºC dengan melakukan observasi suhu secara berkala 4-6 jam sekali,posisi bayi sebaiknya diubah-ubah setiap 6-8 jam sekali untuk memperoleh penyinaran yang merata. Lama sebentarnya penyinaran berbeda pada setiap bayi dan jika bilirubin serum sudah mencapai kadar bilirubin yang ditentukan atau kurang dari 10 mg/dl maka penyinaran boleh dihentikan.

2.3 Gambaran Umum Alat Blue Light Therapy

Blue Light therapy merupakan peralatan medis yang digunakan sebagai terapi sinar untuk bayi baru lahir atau neonatus yang kelebihan kadar bilirubin yaitu dengan cara pemberian sinar biru (blue light) secara menyeluruh pada tubuh bayi. Blue light menggunakan lampu fluorescent sebagai sumber cahaya,yang mengandung gas mercuri dengan panjang gelombang berkisar antara 420-470 nanometer, panjang gelombang cahaya tersebut merupakan cahaya tampak yang

6

dapat dilihat oleh mata manusia sebagai cahaya yang bewarna biru. Gambar 2.1 merupakan Photo Therapy Unit(Blue Light) Model MP – 71 4 dan 6 Bulb.

Therapy Unit (Blue Light) Model MP – 71 4 dan 6 Bulb. Gambar 2.1 Photo Therapy

Gambar 2.1 Photo Therapy Unit(Blue Light) Model MP – 71 4 dan 6 Bulb 2

Spesifikasi Photo Therapy Unit(Blue Light) Model MP – 71 4 dan 6 Bulb :

1. Power Supplay : 220 Volt 50 Herzt

2. Life Time : Umur pemakaian blue light therapy

3. Bercahaya : 6.700 luxes pada jarak intensitasnya 30 cm

4. Lampu Fluorescent : Menggunakan 4 x 20 watt lampu fluorescent

5. Daya tahan lampu : 2000 jam

6. Dimensi : 70.5 (w) x 67 (D) cm

7. Tinggi jarak yang dapat diatur : 102 sampai 149 cm

8. Panjang Gelombang : 420- 470 nm 5.600 cal/hr

2 www.photo therapy unit.com

7

Berdasarkan panjang gelombang, energi cahaya atau energi gelombang elektromagnetik dapat dihitung dengan :

E ph = h.f di mana E ph : energi photon ( joule )

h

: ketetapan planck (h = 6.63 x 10 -34 J.sec)

f

: frekuensi (hertz)

kecepatan gelombang dapat dihitung dengan :

V = f.λ di mana V : kecepatan gelombang dalam m/detik f : frekwensi dalam Hz λ : panjang gelombang dalam meter

1. Diketahui : λ = 420 nm = 420 x 10 -9 m

V = 3 × 10 8 m/s

Ditanyakan : f = ? Jawaban :

f =

V

λ

3 x 10

8

m/s

f

m

= 0.00714 x 10

420

x

10

9

17

f =

= 7,14

x

10

14

s

Dari hasil data diatas dapat dicari energi cahaya atau energi gelombang elektromagnetik, yaitu :

Diketahui : h = 6.63 x 10 -34 J.sec f = 7,14 x 10 14 cycles/sec Ditanyakan : E ph = ? Jawaban : E ph = h.f E ph = (6.63 x 10 -34 J.sec)(7,14 x 10 14 cycles/sec) E ph = 47,33 x 10 -20 = 4,733 x 10 -19 J

2. Diketahui : λ = 470 nm = 470 x 10 -9 m

V = 3 × 10 8 m

Ditanyakan : f = ?

Jawaban

:

f =

V

λ

f =

3 x 10

8

m/s

470

x

10

9

m

f

= 0,00638 x 10

17

=

6.4 x 10

8

14

sec ond

Dari hasil data diatas dapat dicari energi cahaya atau energi gelombang elektromagnetik, yaitu :

Diketahui : h = 6.63 x 10 -34 J.sec f = 6,4 x 10 14 cycles/sec Ditanyakan : E ph = ? Jawaban : E ph = h.f E ph = (6.63 x 10 -34 J.sec)(6,4 x 10 14 cycles/sec) E ph = 42,43 x 10 -20 = 4,243 x 10 19 J Jadi dari perhitungan diatas didapat perbandingan antara panjang gelombang 420 nm didapatkan energy 4,733 x 10 -19 J sedangkan panjang gelombang 470 nm didapatkan energy 4,243 x 10 19 J.

2.4 Hiperbilirubinemia 3

Kata bilirubin berasal dari bahasa latin,bilis yang berarti empedu dan rubber yang berarti merah dan bilirubin merupakan produk yang bersifat toksin dan harus dikeluarkan oleh tubuh. Bilirubin itu sendiri merupakan hasil pemecahan hemoglobin yang terkandung di dalam sel darah merah(eritrosit) dan pada umur tertentu akan mengalami pemecahan atau destruksi sehingga hemoglobin yang terkandung didalamnya keluar dan pecah menjadi zat yang disebut heme dan globin. Selanjutnya heme akan diubah menjadi biliverdin dan pada proses berikutnya diubah menjadi bilirubin bebas atau sering disebut bilirubin indirek (uncunjugated). Bilirubin indirek ini dalam kadar tinggi bersifat racun,sukar larut dalam air tetapi larut dalam lemak,sulit diekskresi (dibuang) serta mudah melewati plasenta maupun membrane pelindung otak. Oleh karena itu oleh organ hati (hepar/liver) bilirubin indirek ini diproses menjadi bilirubin direk (conjugated) yang larut dalam air dan melalui saluran empedu selanjutnya dibuang melalui usus kedalam feses.

Meningkatnya kadar bilirubin sering ditemui pada bayi baru lahir (neonatus) pada hari-hari pertama setelah kelahiran. Kadar bilirubin ini akan terjadi pada hari

3 www.hiperbilirubinemia.com

9

ke 2-3 dan akan mencapai puncaknya pada hari ke 5-7. Jika fungsi hati belum sempurna misalnya bayi lahir kurang bulan atau terdapat gangguan dalam hati maka kadar bilirubin indirek dalam darah bayi dapat meningkat. Kadar bilirubin akan kembali normal dalam beberapa hari yaitu pada hari ke 10-14 setelah kelahiran, jika gangguan fungsi hati telah dihilangkan atau ketika organ hati sudah matang. Peningkatan kadar bilirubin juga disebabkan karena pada neonatus produksi bilirubin dapat dua kali lebih besar dari kadar bilirubin orang dewasa disebabkan umur eritrosit neonatus lebih pendek dibanding umur eritrosit orang dewasa. Masalah yang akan timbul apabila produksi bilirubin ini berlebihan maka dapat menimbulkan kerusakan pada sel-sel tubuh tertentu misalkan dalam jangka pendek bayi akan mengalami kejang-kejang sedangkan dalam jangka panjang anak dapat mengalami cacat neorologis atau dapat mengakibatkan kematian. Tabel 2.1 merupakan perkiraan kadar bilirubin pada daerah ikterus berdasarkan Cramer.

Tabel 2.1 Perkiraan kadar bilirubin pada daerah ikterus berdasarkan Cramer 4

Derajat

Daerah ikterus

Perkiraan

ikterus

kadar bilirubin

I

Kepala dan leher

5,0 mg%

II

Sampai badan atas (di atas umbilikus)

9,0 mg%

 

Sampai badan bawah (di bawah

 

III

umbilikus) hingga tungkai atas (di atas lutut)

11,4 mg/dl

IV

Sampai lengan, tungkai bawah lutut

12,4 mg/dl

V

Sampai telapak tangan dan kaki

16,0 mg/dl

4 www.hiperbilirubinemia.com ,Sylviati M.Danamik

10

2.5 Mikrokontroler AT89S51 5

Mikrokontroler sebagai suatu terobosan teknologi mikroprosessor dan mikrokomputer dengan teknologi semi konduktor yang mengandung transistor yang lebih banyak namun hanya membutuhkan ruang yang kecil serta dapat diproduksi secara massal sehingga harganya menjadi lebih murah.

Mikrokontroler merupakan suatu komponen elektronika yang di dalamnya terdapat rangkaian mikroprosesor, memori (RAM/ROM) dan I/O. Rangkaian tersebut terdapat dalam level chip atau biasa disebut single chip microcomputer. Pada mikrokontroler sudah terdapat komponen-komponen mikroprosesor dengan bus-bus internal yang saling berhubungan. Komponen-komponen tersebut adalah RAM, ROM, timer, komponen I/O paralel dan serial, dan interrupt kontroler.

Adapun keunggulan dari mikrokontroler adalah adanya sistem interrupt. Sebagai perangkat kontrol penyesuaian, mikrokontroler sering disebut juga untuk menaikkan respon semangat eksternal (interrupt) di waktu yang nyata. Perangkat tersebut harus melakukan hubungan switching cepat, menunda satu proses ketika adanya respon eksekusi yang lain.

Mikrokontroler pada pesawat ini merupakan pengendali utama dari semua sistem, karena setiap bagian-bagian sistem akan menerima dan memberikan sinyal pada mikrokontroler ini. Mikrokontroler yang digunakan pada modul ini adalah mikrokontroler buatan Atmel yaitu AT89S51. Mikrokontroler ini merupakan salah satu jenis mikrokontroler yang memiliki performa yang tinggi dengan disipasi daya yang rendah, Flash PEROM (Programmable and Erasable Read Only Memory) sebesar 4Kbyte, merupakan memori dengan teknologi non-volatile memori yaitu isi memori tersebut dapat diisi ulang maupun dihapus berkali-kali, RAM internal 128 Byte yang biasa digunakan untuk menyimpan variable atau data-data yang bersifat sementara dan 4 buah port I/O yaitu port 0, port 1, port 2 dan port 3.

5 www.all datasheet AT89S51.com

11

Berikut ini akan penulis uraikan tentang single chip mikrokontroler AT89S51 yang mempunyai karakteristik sebagai berikut :

1 Sebuah CPU 8 bit

2 Compatible dan berstandart MCS-51

3 4 Kbyte EEPROM Internal

4 Frekuensi clock 0 Hz – 12 MHz

5 32 Programmable I/O line yang terbagi menjadi 4 buah port dengan 8 jalur I/O

6 2 timer / counter 16 bit

7 RAM internal 128 Byte

8 ROM sebesar 4 Kbyte

9 Prosesor Boolean (Variable 1 bit)

10 Osilator internal dan rangkaian pewaktu

11 Supply +5 Volt

Diagram blok dari MCS-51 diperlihatkan pada gambar 2.2 berikut ini :

11 Supply +5 Volt Diagram blok dari MCS-51 diperlihatkan pada gambar 2.2 berikut ini : Gambar

Gambar 2.2

Diagaram Blok MCS-51

12

2.5.1 Perlengkapan Dasar Mikrokontroler AT89S51

Perlengkapan dasar dari mikrokontroler AT89S51 adalah sebagai berikut :

2.5.1.1 Central Processing Unit (CPU)

dua bagian, yaitu unit pengendali (control unit) dan

Aritmatic Logic Unit (ALU). Fungsi utama dari pengendali adalah mengambil, mengkode dan melaksanakan urutan instruksi sebuah program yang tersimpan dalam memori.

CPU ini terdiri dari

Unit ini mengatur urutan operasi seluruh sistem, mengatur urutan operasi dengan menghasilkan sinyal pengendali dan mengatur serta menghasilkan sinyal pengendali yang diperlukan untuk menyerempakkan operasi dari instruksi program. Sedangkan ALU berfungsi mengolah operasi aritmatika dan logika.

2.5.1.2 Memori

Suatu sistem mikrokontroler memerlukan memori sebagai tempat penyimpanan program dan data. Dalam hal ini memori terbagi atas dua jenis, yaitu RAM (Random Access Memory) dan ROM (Read Only Memory).

RAM merupakan memori yang dapat dibaca dan ditulis, sehingga hanya dapat digunakan sebagai memori data karena akan hilang apabila catu dayanya putus. Sedangkan ROM merupakan jenis memori yang hanya dapat dibaca saja dan data di dalamnya tidak akan hilang meskipun catu dayanya terputus, karena itu memori ini cocok untuk menyimpan program.

2.5.1.3 Alamat

Suatu alat apabila hendak difungsikan dengan menggunakan mikrokontroler, maka harus kita tentukan terlebih dahulu alamat (address) dari alat tersebut pada mikrokontroler tersebut. Hal ini bertujuan untuk menghindarkan terjadinya dua alat yang bekerja secara bersamaan yang mungkin dapat menyebabkan kerusakan atau kesalahan dalam pengoperasiannya. Kesatuan dari saluran alamat disebut bus alamat.

13

2.5.1.4 Data

Setiap proses kerja dari dan ke mikrokontroler mempunyai data dalam bentuk bilangan biner yang diperlukan untuk proses kerja tersebut. Data ini merupakan hasil kombinasi dari bit-bit yang dihasilkan dalam pengoperasian komponen- komponen digital. Kesatuan dari saluran data disebut bus data.

2.5.1.5 Pengendali

Mikrokontroler dilengkapi dengan bus pengendali (control bus) yang berguna untuk menyerempakkan operasi mikrokontroler dengan operasi rangkaian luar.

2.5.1.6 Masukan/Keluaran (I/O)

Sering juga disebut (Input/Output). Berfungsi untuk melakukan hubungan dengan piranti dari luar sistem. Pada mikrokontroler AT89S51 tersedia dua macam I/O, yaitu UART (data serial) dan PIO (data parallel). UART merupakan alat yang mengubah masukan serial menjadi keluaran paralel dan PIO mengubah masukan paralel menjadi keluaran serial.

2.5.1.7 Special Function Register

Mikrokontroler AT89S51 memiliki register-register internal yang dinamakan dengan special function register (SFR). Ada 21 buah SFR yang terletak pada internal RAM di alamat memori 80H sampai FFH. Karena register-register SFR terletak di RAM, maka semua register tersebut akan diakses melalui pengalamatan langsung. Dan beberapa SFR dapat diakses melalui pengalamatan bit maupun pengalamatan byte.

2.5.2 Arsitektur Internal Mikrokontroler AT89S51

2.5.2.1 Organisasi Memori

Semua produk mikrokontroler AT89S51 memiliki ruang alamat memori data dan program yang terpisah. Pemisahan memori program dan data tersebut membolehkan memori data diakses dengan alamat 8 bit, sehinggan dapat dengan cepat dan mudah disimpan serta dimanipulasi oleh CPU 8 bit. Namun demikian,

14

alamat memori data 16 bit bisa juga dihasilkan melalui register DPTR (Data Pointer Register).

Memori program hanya bisa dibaca saja. Terdapat memori program yang bisa diakses langsung hingga 64 Kbyte. Sedangkan tanda untuk akses program memori eksternal melalui sinyal PSEN (Program Store Enable). Memori eksternal dapat diakses secara langsung hingga 64 Kbyte dalam ruang memori data eksternal. CPU akan memberikan sinyal baca dan tulis selama pengaksesan memori data eksternal. Memori data eksternal dan memori program eksternal dapat dikombinasikan dengan cara menggabungkan sinyal baca dan PSEN melalui gerbang AND dan keluarannya sebagai tanda baca ke memori data/program eksternal.

2.5.2.2 Sistem Interupsi

Pelaksanaan program pada mikrokontroler AT89S51 dapat dihentikan dengan menggunakan perintah interupsi. Mikrokontroler AT89S51 memiliki sistem interupsi yang berasal dari lima sumber, yaitu : dua interupsi eksternal melalui pin INT0 dan INT1, dua interupsi pewaktu dan sebuah interupsi serial. Masing- masing sumber interupsi dapat diaktifkan dan dimatikan secara individual atau dengan menolkan bit-bit IE (Interrupt Enable) dalam SFR (Special Function Register).

2.5.2.3 Register Serba Guna (General Purpose Register)

Disamping memori data, mikrokontroler AT89S51 juga mempunyai memori RAM berupa register untuk fungsi khusus dengan kapasitas 128 byte. RAM internal sebesar 128 byte ini terdiri dari 32 byte paling bawah yang dikelompokkan menjadi 4 bank, yang masing-masing terdiri dari 8 buah register serbaguna. Program dapat mengakses register-register tersebut sesuai dengan assemblernya, yaitu R0 sampai R7. Register dengan fungsi khusus, SFR terletak pada 128 byte bagian atas memori dan berisis latch port, timer, PSW dan kontrol peripheral. Register ini hanya dapat diakses dengan pengalamatan langsung, 16 alamat pada SFR dapat dialamati secara bit atau byte dan terletak pada alamat yang berakhir pada 000B.Untuk

15

pemilihan bank dilakukan melalui register Program Status Word (PSW) dan ke 16 bit diatas keempat bank register membentuk satu blok memori yang dialamati. Memori data ini dapat diakses dengan pengalamatan langsung atau tidak langsung.

2.5.2.4 Port I/O (Input/Output)

Fasilitas I/O yang disediakan oleh AT89S51 adalah 32 jalur port, yang selanjutnya dibagi menjadi empat port dengan lebar jalur data 8 bit. Masing- masing port tersebut bersifat bidireksional atau dua arah yang dapat digunakan sebagai masukan maupun keluaran.

2.5.2.5 Osilator Internal (On Chip Oscillator)

Mikrokontroler AT89S51 dilengkapi dengan osilator internal (On Chip Oscillator) yang dapat digunakan sebagai clock bagi CPU. Untuk menggunakan osilator internal diperlukan sebuah kristal antara XTAL 1 (X1) dan XTAL 2 (X2) yang diparalel dengan dua buah kapasitor ke ground.

2.5.3 Fasilitas Lain Pada Mikrokontroler AT89S51

Pada mikrokontroler AT89S51 terdapat sebuah lock bit yang berfungsi untuk menjaga keamanan dari data yang tersimpan pada EEPROM internal AT89S51. Lock bit akan menolak seluruh akses elektrik yang berasal dari luar, sehingga data dari EEPROM internal tidak dapat dibaca atau dicopy dari luar.Untuk melakukan pengosongan dan pengisian data kembali, maka alat pengisi program akam menon-aktifkan lock bit dan mengembalikan fungsi mikrokontroler AT89S51 sepenuhnya sehingga dapat diprogram kembali.

2.5.4 Timer / Counter

Mikrokontroler AT89S51 mempunyai 2 buah register Timer/Counter 16 bit yaitu Timer 0 dan Timer 1. Keduanya dapat beroperasi sebagai Timer/Counter.

16

Pada fungsi ‘Timer’, isi register ditambah satu setiap siklus mesin. Jadi seperti menghitung siklus mesin. Karena satu siklus mesin terdiri dari 12 periode osilator, maka kecepatannya adalah 1/12 frekuensi osilator. Pada fungsi ‘Counter’, isi register ditambah satu setiap terjadi transisi 1 ke 0 pada pin input eksternal yang bersesuaian T0/T1. Untuk mengenali transisi dari 1 ke 0 ini dibutuhkan 2 siklus mesin (24 periode osilator), maka input maksimum adalah 1/24 frekuensi osilator.

2.5.5 Konfigurasi Kaki Mikrokontroler AT89S51

2.5.5.1 Pin 1 – 8

Ini adalah port 1 yang merupakan saluran/bus I/O 8 bit dua arah. Dengan internal pull up yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Pada port ini juga digunakan sebagai saluran alamat pada saat pemrograman dan verifikasi.

2.5.5.2 Pin 9

Merupakan masukan reset (aktif tinggi), pulsa transisi dari rendah ke tinggi akan mereset mikrokontroler ini.

1

 

10

2

P1.0

P3.0/RXD

11

3

P1.1

P3.1/TXD

12

4

P1.2

P3.2/INTO

13

5

P1.3

P3.3/INT1

14

6

P1.4

P3.4/TO

15

7

P1.5

P3.5/T1

16

8

P1.6

P3.6/WR

17

39

P1.7

P3.7/RD

21

38

P0.0/AD0

P2.0/A8

22

37

P0.1/AD1

P2.1/A9

23

36

P0.2/AD2

P2.2/A10

24

35

P0.3/AD3

P2.3/A11

25

34

P0.4/AD4

P2.4/A12

26

33

P0.5/AD5

P2.5/A13

27

32

P0.6/AD6

P2.6/A14

28

19

P0.7/AD7

P2.7/A15

29

18

XTAL1

PSEN

30

9

XTAL2

ALE/PROG

31

 

RST

EA/VPP

 
 

AT89S51

vccvcc

40

Gambar 2.3 Konfigurasi Pin-pin Pada Mikrokontroler AT89S51

17

2.5.5.3

Pin 18 dan 19

Ini merupakan masukan ke penguat osilator berpenguat tinggi. Pada mikrokontroler ini memiliki seluruh rangkaian osilator yang diperlukan pada serpih yang sama (on chip) kecuali rangkaian kristal yang mengendalikan frekuensi osilator. XTAL 1 sebagai input inverting osilator amplifier dan input ke rangkaian internal clock sedangkan XTAL 2 merupakan output inverting osilator amplifier.

2.5.5.4 Pin 20

Merupakan ground sumber tegangan yang diberi simbol GND

2.5.5.5 Pin 21 – 28

Ini adalah port 2 yang merupakan saluran/bus I/O 8 bit dua arah dengan internal pull up. Saat pengambilan data dari program memori eksternal atau selama mengakses data memori eksternal yang menggunakan alamat 16 bit, port 2 berfungsi sebagai saluran/bus alamat tinggi. Sedangkan pada saat mengakses ke data memori eksternal yang menggunakan alamat 8 bit, port 2 mengeluarkan isi dari port 2 pada SFR (Register Fungsi Khusus).

2.5.5.6 Pin 29

Program Store Enable (PSEN) merupakan sinyal pengontrol untuk mengakses program memori eksternal masuk ke dalam bus selama proses pemberian/pengambilan instruksi.

2.5.5.7 Pin 30

Address Latch Enable (ALE)/PROG merupakan penahan alamat memori eksternal (pada port 1) selama mengakses ke memori eksternal. Pena ini juga sebagai pulsa/sinyal input pemograman (PROG) selama proses pemrograman.

2.5.5.8 Pin 31

Eksternal Access Enable (EA) merupakan sinyal kontrol untuk pembacaan memori program. Apabila diset rendah (L) maka mikrokontroler akan

18

melaksanakan seluruh instruksi dari memori program eksternal, sedangkan apabila diset tinggi (H) maka mikrokontroler akan melaksanakan instruksi dari memori program internal ketika isi program counter kurang dari 4096. Ini juga berfungsi sebagai tegangan pemrograman (Vpp: +12 V) selama proses pemrograman.

2.5.5.9 Pin 32 – 39

Ini adalah port 0 yang merupakan saluran/bus I/O 8 bit open kolektor, dapat juga digunakan sebagai multipleks bus alamat rendah dan bus data selama adanya akses ke memori program eksternal. Pada saat proses pemrograman dan verifikasi port 0 digunakan sebagai saluran/bus data. Eksternal pull up digunakan selama proses verifikasi.

2.5.5.10 Pin 40

Merupakan positif sumber tegangan yang diberi simbol VCC

2.6 IC 74LS373 Sebagai Penahan Alamat (AddressLatch) 6

IC 74LS373 merupakan circuit yang digunakan untuk menahan alamat atau data(address latch). IC ini memebutuhkan catu daya sebesar +5Volt.Fully pararel 8-bit data register dan buffer, out put three state, pemakaian arus inputan maksimum 0,25 mA. Selain itu mempunyai output tinggi sebesar 3,65 volt sehingga langsung bias diinterface dengan AT89C51. Adapun diagram koneksi serta konfigurasi pin IC 74LS373 dapat dilihat pada Gambar 2.4:

konfigurasi pin IC 74LS373 dapat dilihat pada Gambar 2.4: Gambar 2.4 konfigurasi pin IC 74LS373 6

Gambar 2.4 konfigurasi pin IC 74LS373

6 www.datasheet catalog.com

19

Adapun nama-nama pin IC74LS373 yaitu :

Do-D7

Data Iput

LE

Latch Enable (aktif High) input

CP

Clock (Active High going edge) input

0o-07

Output

Tabel 2.2 merupakan table kebenaran dari IC 74LS373.

Dn

LE

OE

On

H

H

L

H

L

H

L

L

X

L

L

Qo

x

X

H

Z

Tabel 2.2 Tabel kebenaran IC74LS373

2.7 IC 74LS47 sebagai Dekoder7

Dekoder merupakan suatu rangkaian digital yang digunakan untuk mengubah kode-kode input ke kode-kode output suatu system digital yang bekerja dan masing-masing mempunyai kode yang berlainan.IC 74LS47 merupakan dekoder yang akan mengubah 4 bit BCD menjadi sinyal yang akan ditampilkan dalam seven segment.Dalam penggunaan IC 74LS47, harus memakai seven segment common anode, karena sinyal keluaran decoder ini merupakan kolektor terbuka, sehingga memerlukan tegangan dari luar untuk menggerakan IC 74LS47 ini.Dekoder akan mengubah data BCD menjadi susunan bilangan decimal yang dapat menggerakkan 7 ruas LED peraga. Tampilan pada seven segment akan bergantung dari kode-kode biner yang masuk melalui inputan IC 74LS47. Pada tabel memperlih 7 atkan hubungan antara masukan pada IC 74LS47 sebagai

7 www.data sheet 7447.com, National Semiconductor BCD to 7-Segment Decoder/Drivers

20

dekoder dengan keluaran atau tampilan pada seven segment, selain itu pada IC 74LS47 perlu diperhatikan juga masukan pada LT, RBI, dan RBO

Input

74LS47 13 7 A A 12 1 B B 11 2 C C 10 6
74LS47
13
7
A
A
12
1
B
B
11
2
C
C
10
6
D
D
9
4
E
BI/RBO
15
5
F
RBI
14
3
G
LT
16
8
+5V
GND

To Display

Gambar 2.5 Konfigurasi kaki IC 74LS47

Tabel 2.3 Tabel Kebenaran IC 74LS47

Desi

 

Masukan

     

Keluaran

 

mal

 

BI/

 

Atau

LT

RBI

D

C

B

A

RBO

A

B

C

d

e

f

g

Funsi

0 H

 

H

L

L

L

L

H

0

0

0

0

0

0

1

1 H

X

L

L

L

H

H

1

0

0

1

1

1

1

2 H

X

L

L

H

L

H

0

0

1

0

0

1

0

3 H

X

L

L

H

H

H

0

0

0

0

1

1

0

4 H

 

X

L

H

L

L

H

1

0

0

1

1

0

0

5 H

X

L

H

L

H

H

0

1

0

0

1

1

1

6 H

X

L

H

H

L

H

1

1

0

0

0

1

1

7 H

X

L

H

H

H

H

0

0

0

1

1

1

1

8 H

 

X

H

L

L

H

H

0

0

0

0

0

0

0

21

9

H

X

H

L

L

L

H

0

0

0

1

1

0

0

H

X

L

L

H

H

H

0

0

1

0

0

1

0

H

X

L

L

H

L

H

0

0

0

0

1

1

0

 

H

X

L

H

L

L

H

1

0

0

1

1

0

0

H

X

L

H

L

H

H

0

1

0

0

1

0

0

H

X

L

H

H

L

H

1

1

0

0

0

0

0

H

X

L

H

H

H

H

0

0

0

1

1

1

1

BI

X

X

X

X

X

X

L

1

1

1

1

1

1

1

RBI

H

L

L

L

L

L

L

1

1

1

1

1

1

1

LT

L

X

X

X

X

X

H

0

0

0

0

0

0

0

H = Taraf Tinggi, L = Taraf Rendah, X = Tidak Relevan

Catatan :

Untuk mengeluarkan nilai input yang diatur, posisi BI/RBO harus berada pada posisi terbuka atau diberi logika tinggi. Selain itu RBI dan LT juga harus berada pada posisi tinggi. Jika tidak maka output akan off.Jika BI/RBO diberi logika rendah, maka output akan off (tidak akan memberikan sinyal yang dikeluarkan oleh input).Disaat BI/RBO logika rendah dan saat itu RBI berlogika rendah, LT berlogika tinggi maka output akan off.Saat BI/RBO logika rendah dan saat itu RBI berlogika apapun, LT berlogika rendah maka output akan on semua.

2.8 Seven Segment

Seven segment dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu common anoda dan common katoda. Seven segment terdiri dari tujuh buah segment atau LED (Light

22

Emited Diode) dimana masing-masing segment tersebut akan menyala pada saat arus mengalir melaluinya. Dengan-mengkombinasikan segment-segment tersebut kita akan dapat membentuk digit desimal. Untuk membentuk angka satu maka segment b dan c harus menyala, untuk membentuk angka dua maka segment a,b,d,e dan gharus menyala, begitu seterusnya. Perlu diketahui untuk menyalakan segment (LED) diperlukan suatu resistor untuk membatasi arus. Sedangkan dalam pembuatan modul ini,penulis menggunakan seven segment jenis common anoda.

ini,penulis menggunakan seven segment jenis common anoda. Gambar 2.6 Skema Seven Segment Pada seven segment jenis

Gambar 2.6 Skema Seven Segment

Pada seven segment jenis common anoda dari masing-masing segment digabungkan dan dihubungkan ke sumber tegangan (VCC) sebesar + 5 Volt. Pada seven segment jenis ini diperlukan pengendali yang menyediakan taraf rendah untuk mengaktifkan seven segment. LED akan terbias maju yang menyebabkan arus akan mengalir sehingga lampu LED (segment) akan menyala.

Rangkaian dasar seven segment common anoda dapat dilihat pada gambar 2.7 :

a VCC bcdef g
a VCC bcdef g
a VCC bcdef g
a VCC bcdef g
a VCC bcdef g
a VCC bcdef g
a VCC bcdef g

a

a
a
a
a
a
a
a VCC bcdef g
a VCC bcdef g
a VCC bcdef g
a VCC bcdef g

VCC

VCC bcdef g
VCC bcdef g
VCC bcdef g
VCC bcdef g
VCC bcdef g
VCC bcdef g

bcdef

g

a VCC bcdef g
a VCC bcdef g
a VCC bcdef g
a VCC bcdef g
a VCC bcdef g
a VCC bcdef g
a VCC bcdef g
a VCC bcdef g
a VCC bcdef g
a VCC bcdef g
a VCC bcdef g
a VCC bcdef g Ma s u k a n
a VCC bcdef g Ma s u k a n
a VCC bcdef g Ma s u k a n
a VCC bcdef g Ma s u k a n
a VCC bcdef g Ma s u k a n
a VCC bcdef g Ma s u k a n
a VCC bcdef g Ma s u k a n
a VCC bcdef g Ma s u k a n
a VCC bcdef g Ma s u k a n
a VCC bcdef g Ma s u k a n

Ma s u k a n

Gambar 2.7 Seven segment common anoda

23

Tabel 2.4 Tabel Kebenaran seven segment common anoda

Nomor

 

Segment Aktif

 

a

b

C

D

E

f

g

1

1

0

0

1

1

1

1

2

0

0

1

0

0

1

0

3

0

0

0

0

1

1

0

4

1

0

0

1

1

0

0

5

0

1

0

0

1

0

0

6

1

1

0

0

0

0

0

7

0

0

0

1

1

1

1

8

0

0

0

0

0

0

0

9

0

0

0

1

1

0

0

0

0

0

0

0

0

0

1

2.9 Relay

Relay bekerja dengan memanfaatkan sifat elektromagnetik yang terjadi pada suatu kumparan ketika dialiri arus, berdasarkan prinsip induksi magnet. Relay merupakan suatu komponen elektronika yang berfungsi sebagai penggerak kontraktor untuk menghubungkan suatu rangkaian dengan rangkaian lain.

Relay biasanya terdiri dari sebuah kumparan yang akan berfungsi sebagai magnet apabila dialiri listrik dan paling sedikit dua buah kontaktor yang terhubung secara terbuka (normali open) dan tertutup (nomali close).Saat kumparan tidak mendapatkan tegangan maka tidak ada arus yang mengalir pada lilitan sehingga tidak ada medan magnet yang terjadi pada inti besi.

24

5 3 4 1 2
5
3
4
1
2

Gambar 2.8 Skematik Relay

Pada saat ini kontaktor berada pada posisi awal yang menghubungkan masukan common kepada keluaran normali close (NC).Dengan demikian keluaran lainnya disebut normali open (NO) dimana ketika tidak ada catu daya yang mengalir yang mengakibatkan terminal tersebut tidak mendapatkan hubungan (keadaan terbuka).Sebaliknya,saat lilitan diberi arus optimal arus akan mengitari inti besi dan mengakibatkan inti besi menghasikan medan magnet dan saat ini pula inti besi berfungsi sebagai medan magnet,sehingga akan menyebabkan kontaktor (comon) akan tertarik dari posisi normali close dan berpindah ke posisi normali open, sedangkan kontaktor normali close dengan keadaan ini menjadi terbuka (off).

Adapun beberapa macam keuntungan apabila menggunakan relay sebagai saklar dibanding dengan menggunakan transistor sebagai saklar yaitu,pada relay dapat digunakan sebagai switch AC maupun DC sedangkan transistor hanya untuk arus DC,pada relay terdapat banyak saklar atau kontaktor yang dapat bekerja bersamaan dalam satu waktu.Disamping itu relay juga mempunyai kerugian juga dalam penggunaannya yaitu tidak dapat kontak dengan cepat dan juga relay mempunyai ukuran yang lebih besar dari transistor.

25

BAB 3

PERENCANAAN

3.1 Perencanaan Pemodelan Alat Blue Light Therapy

Sebagai penjelasan pada pembuatan pemodelan alat blue light theraphy, maka diperlukan beberapa perencanaan rangkaian perangkat keras yang meliputi beberapa blok yang diperlukan. Untuk menjelaskan pemodelan alat blue light theraphy, penulis akan mencantumkan spesifikasi alat sebagai berikut :

1.

Menggunakan sistem Mikrokontroler AT89S51.

2.

Menggunakan display 2 digit seven segment untuk setingan awal dan display 4 digit seven segment untuk hour meter.

3.

Menggunakan 4 buah lampu TL 10 watt.

4.

Menggunakan tiang penyangga untuk naik turunnya lampu, hal ini diperlukan

untuk mengatur jarak penyinaran antara lampu dengan bayi yang minimal 45 cm dari jarak lampu ke bayi.

5.

Tegangan supply + 5 Volt

3.2 Perencanaan Secara Diagram Blok

Adapun perencanaan alat photo therapy secara blok diagram dengan masing- masing fungsi blok akan penulis jelaskan sebagai berikut :

1. Blok Mikrokontroler AT89S51 Pada blok ini terdapat IC mikrokontroler AT89S51 yang berfungsi sebagai otak atau pusat pengendali utama dari rangkaian secara keseluruhan. Mikrokontroler akan dapat masukan dari rangkaian input yang kemudian akan diproses oleh mikrokontroler untuk menyetting waktu serta menjalankan waktu settingan. Keluaran dari Mikrokontroler AT89S51 akan ditampilkan oleh seven segment dan juga sebagai indikator alarm, saat proses terapi selesai.

26

Power

Supplay

Catu Daya

Batteray

Power Supplay Catu Daya Batteray Up MIKROKON TROLER AT89S51 Display Setting Timer Display Hour Meter Blue
Up
Up

MIKROKON

TROLER

AT89S51

Display

Setting

Timer

Display Hour Meter
Display
Hour Meter

Blue Light

Therapy

Setting Timer Display Hour Meter Blue Light Therapy Down Start Stop Reset Buzzer Gambar 3.1 Diagram
Down
Down
Start
Start
Stop Reset
Stop
Reset
Hour Meter Blue Light Therapy Down Start Stop Reset Buzzer Gambar 3.1 Diagram Blok Alat Blue
Buzzer
Buzzer

Gambar 3.1 Diagram Blok Alat Blue Light Therapy

2. Blok display setting timer

Merupakan rangkaian tampilan berupa seven segment, dimana dikendalikan

langsung oleh mikrokontroler. Blok ini menggunakan dua buah seven segment

yang berfungsi untuk jalannya setting timer.

3. Blok Display Hour Meter

Blok ini menggunakan empat buah seven segment yang berfungsi untuk

menampilkan lamanya waktu pemakaian lampu atau usia lampu blue light

4. Blok Tombol Pemilihan

Up : berfungsi untuk menaikan settingan timer. Waktu maksimal yang penulis

gunakan yaitu 99 detik yang mewakili menit.

Down : berfungsi untuk menurunkan settingan timer

Start : berfungsi untuk memulai jalannya proses terapi

Stop : berfingsi untuk mengakhiri jalannya proses terapi

27

5. Blok Lampu Lampu berfugsi untuk memberikan penyinaran saat terapi. Untuk aplikasi alat ini digunakan cahaya lampu yang mempunyai intensitas tinggi. Bilirubin akan menyerap cahaya secara maksimal dalam batas wilayah warna biru (mulai dari 420-470 nm). Lampu yang digunakan adalah lampu TL 10 Watt. Lampu dapat langsung digunakan pada tegangan 220 Volt.

6. Blok Buzzer Berfungsi sebagai indikator bahwa pesawat blue light therapy telah selesai digunakan.

7. Rangkaian Power Supply Berfungsi untuk mendistribusikan tegangan keseluruh rangkaian blue light therapy. Suplay DC yang digunakan pada pesawat blue light ini yaitu +5V.

8. Baterai Berfungsi sebagai pemberi tegangan atau catu daya pada rangkaian saat tegangan PLN off.

3.3 Perencanaan Perangkat Lunak (Soft Ware)

Untuk mendukung operasional sistem kerja alat agar dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan, maka penulis membuat perencanaan perangkat lunak yang terdiri dari :

3.3.1 Perencanaan Flow chart

Sebelum merancang perangkat lunak, terlebih dahulu melakukan perencanaan dengan membuat flow chart (diagram alur). Diagram alur atau flow chart adalah suatu diagram yang menyajikan prosedur untuk menjalankan suatu program secara berurutan sesuai dengan yang direncanakan. Gambar 3.2 Merupakan diagram alur blue light therapy.

28

START INISIALISASI Ya SWITCH UP P1 0 = 0 Tidak Ya SWITCH DOWN P1.1 =
START INISIALISASI Ya SWITCH UP P1 0 = 0 Tidak Ya SWITCH DOWN P1.1 =
START
INISIALISASI
Ya
SWITCH UP
P1
0
= 0
Tidak
Ya
SWITCH DOWN
P1.1 = 0
Ya SWITCH UP P1 0 = 0 Tidak Ya SWITCH DOWN P1.1 = 0 SETTING UP

SETTING UP TIMER

TAMPILKAN PADA DISPLAY 7 SEGMEN

TAMPILKAN PADA DISPLAY 7 SEGMEN

P1.1 = 0 SETTING UP TIMER TAMPILKAN PADA DISPLAY 7 SEGMEN SETTING DOWN TIMER Tidak Ya

SETTING DOWN

TIMER

Tidak Ya SWITCH START P1.3 = 0 AKTIFKAN BLUE LIGHT AKTIFKAN TIMER Tidak SWITCH STOP
Tidak
Ya
SWITCH START
P1.3 = 0
AKTIFKAN BLUE
LIGHT
AKTIFKAN TIMER
Tidak
SWITCH STOP
P3.2 = 0
Ya
APAKAH
BLUE LIGHT
TMER=0?
OFF
Ya
Tidak
HIDUPKAN
MATIKAN
BUZZER
BUZZER
Tidak
OFF Ya Tidak HIDUPKAN MATIKAN BUZZER BUZZER Tidak Gambar 3.2 diagram alur blue light therapy. 3.3.2

Gambar 3.2 diagram alur blue light therapy.

3.3.2 Software pendukung yang digunakan

Dalam pembuatan modul ini, penulis melakukan pembuatan program yang digunakan untuk mengisi IC AT89S51. perangkat lunak yang dirancang, dibuat dengan menggunakan bahasa assembly Mikrokontroler MCS-51. program ini yang akan nantinya akan berfungsi untuk mengendalikan sistem kerja alat.

29

3.4 Perencanaan Perangkat Keras (Hard Ware)

Setelah melakukan perencanaan secara blok diagram, maka untuk tahap selanjutnya penulis akan melakukan perancangan perangkat keras (hard ware) yang terdiri dari :

3.4.1 Perencanaan Rangkaian Mikrokontroler AT89S51

Rangkaian mikrokontroler AT89S51 merupakan otak atau pengendali utama pada rangkaian ini. Mikrokontroler akan memproses masukan dan keluaran yang ada pada rangkaian dan pengontrolannya dilakukan melalui pengaktifan masing- masing pin (kaki) pada mirokontroler tersebut, baik pengaktifan secara paralel maupun pin-pin mikrokontroler tersendiri dalam satu port.

Mikrokontroler AT89S51 ini mempunyai rangkaian osilator yang dapat bekerja jika diaktifkan menggunakan kristal. Kristal yang biasa digunakan adalah sebesar 12 MHz yang dapat membangkitkan frekuensi, dengan menggunakan tambahan dua capasitor 33 pF dapat membangkitkan frekuensi yang akan digunakan sebagai clock (detak) ke IC.Maka,dapat diperoleh kecepatan pelaksanaan intruksi persiklus sebesar 1 mikrodetik. Ini didapat karena pada mikrokontroler satu machine cicle (satuan waktu terkecil dalam menjalankan satu intruksi) terdiri dari 12 periode atau 12 pulsa clock. Maka jika kristal yang digunakan adalah 12MHz berarti 12MHz/12 yang artinya dalam satu detik akan ada 1000.000 machine cycle atau dengan kata lain satu machine cycle akan memakan waktu satu mikrodetik.

Pin 18

Pin 19

Pin 19

11,0592MHz
11,0592MHz

GroundGround

33pF

Gambar 3.3 Rangkaian Osilator

30

Tabel 3.1 Penggunaan Port pada Mikrokontroler

No.

Port

Keterangan

 

1 P0.0-P0.3

Input data dari rangkaian setting

 

2 P1.O-P1.7

Input data ke dekoder 74LS47 display timer

 

3 P3.4

Output ke relay dan lampu blue light

 

4 P3.3

Output ke buzzer sebagai indikator

 

5 P2.0-P2.7

Output ke IC 74LS373 sebagai address latch (penahan alamat). Output dari 74LS 373 akan diteruskan ke decoder 74LS47 untuk display life time

 

6 EA / VPP

Input tegangan sebesar 5 Volt

 

7 P3.0-P3.1

Pengontrol IC 74LS373

Gambar 3.4 Merupakan gambaran port yang digunakan pada Mikrokontroler AT89S51.

to Display timer 1 10 P1.0 P3.0/RXD pengontrol IC 74LS373 2 11 P1.1 P3.1/TXD 3
to Display timer
1
10
P1.0
P3.0/RXD
pengontrol IC 74LS373
2
11
P1.1
P3.1/TXD
3
12
P1.2
P3.2/INTO
4
13
P1.3
P3.3/INT1
to Rangk.Buzzer
+5V
5
14
P1.4
P3.4/TO
to Driv er photo therapy
6
15
P1.5
P3.5/T1
7
16
P1.6
P3.6/WR
8
17
P1.7
P3.7/RD
1K
39
21
P0.0/AD0
P2.0/A8
38
22
P0.1/AD1
P2.1/A9
37
23
P0.2/AD2
P2.2/A10
36
24
P0.3/AD3
P2.3/A11
to input IC 74LS373
35
25
P0.4/AD4
P2.4/A12
UP
34
26
P0.5/AD5
P2.5/A13
33
27
P0.6/AD6
P2.6/A14
1 2
32
28
P0.7/AD7
P2.7/A15
DOWN
19
29
XTAL1
PSEN
1 2
18
30
XTAL2
ALE/PROG
9
31
RST
EA/VPP
START
1 2
AT89S51
vccvcc
40
+5V
STOP
1 2
+5V
X-TAL
RESET
33pF
1
2
33pF
10K
8,2K
C9012

Gambar 3.4 Port yang digunakan pada Mikrokontroler

31

3.4.2 Perencanaan Rangkaian Kontrol

Rangkaian kontrol sangat diperlukan dalam mengoperasikan pesawat dan melakukan pengaturan atau settingan waktu yang akan digunakan saat terapi. Rangkaian pengontrol terdiri dari beberapa buah tombol push button normally open, yang berfungsi untuk pengaturan. Dari tombol tersebut dapat melakukan beberapa pengaturan yaitu tombol setting waktu UP dan DOWN dimana tombol ini berfungsi untuk menaikan dan menurunkan settingan waktu yang ingin kita tentukan, tombol start berfungsi mengaktifkan rangkaian timer, tombol stop

berfungsi untuk memberhentikan seluruh kerja rangkaian, dan tombol reset yang

berfungsi untuk mengulang kembali sehingga display akan menunjukan angka nol.

+5V

+5V 1K 1K 1K 1K 10uF/16V RESET 1 2 to Mikro Pin 9 to Mikro
+5V
1K
1K
1K 1K
10uF/16V
RESET
1
2
to Mikro Pin 9
to Mikro P0.0
UP
1 2
to Mikro P0.1
DOWN
to Mikro P0.2
1 2
to Mikro P0.3
START
1 2
STOP
1 2
10K
8,2K

Gambar 3.5 Rangkaian Tombol

3.4.3 Perencanaan Rangkaian Display Timer dan Hour Meter

Perencanaan rangkaian display timer dan life time pada alat ini, penulis membuat rangkaian displaynya dengan menggunakan seven segment jenis komon anoda dimana terdapat enam buah seven segment yaitu dua buah seven segment digunakan sebagai display timer yang berfungsi sebagai pengaturan lamanya waktu penyinaran dengan settingan maksimalnya yaitu 99 detik (mewakili menit) dan empat buah seven segmentnya lagi digunakan untuk life timenya dan maksimal umur lampu yang di tampilkan yaitu 9999 menit. Prinsip kerja dari

32

470 ohm

R

rangkaian display life time mengikuti lamanya proses penyinaran dan secara otomatis menyimpan lamanya pemakaian lampu yang diatur oleh mikrokontroler.

Adapun perangkat pendukung yang penulis gunakan untuk seven segment jenis komon anoda ini yaitu IC 74LS47 yang berfungsi sebagai dekoder yang merupakan IC sebagai penerjemah sandi yang keluar dari mikrokontroler menjadi digit atau angka yang dapat ditampilkan pada seven segment.

Selain IC 74LS47, digunakan pula IC 74LS373. IC ini berfungsi sebagai penahan alamat (addres latch). IC 74LS373 ini membutuhkan catu daya sebesar +5 volt, fully pararel 8 bit data register dan buffer, output three state, pemakaian arus input maksimum 0,25mA. Selain itu, IC 74LS373 mempunyai output tinggi sebesar 3,65 volt sehingga langsung bisa diinterface dengan AT89S51.

. . . . . . +5V +5V +5V +5V +5V +5V 9 10 11
.
.
.
.
.
.
+5V
+5V
+5V
+5V
+5V
+5V
9
10
11 12
13 15
14 9
10
11 12
13 15
14
9
10
11
12
13
15
14
9
10
11
12
13
15
14
9
10
11
12
13
15
14
9
10
11
12
13 13
15
14
E
D
C
B
A
F
G
E
D
C
B
A
F
G
E
D
C
B
A
F
G
E
D
C
B
A
F
G
E
D
C
B
A
F
G
E
D
C
B
A
F
G
74LS47
74LS47
74LS47
74LS47
74LS47
74LS47
A
B
C
D
A
B
C
D
A
B
C
D
A
B
C
D
A
B
C
D
A
B
C
D
7
1
2
6
4
5
3
8
7
1
2
6
4
5
3
8
7
1
2
6
4
5
3
8
7
1
2
6
4
5
3
8
7
1
2
6
4
5
3
8
7
1
2
6
4
5
3
8
2
5
6
9 9
12
15
16
19
2
5
6
9 9
12
15
16
19
1
1
+5V
+5V
10
20
10
20
3
4
7
8
13
14
17
18
11
11
3
4
7
8
13
14
17
18
P3.0
P3.1
P2.0
P2.1
P2.2
P2.3
P2.4
P2.5
P2.6
P2.7
R
470 ohm
P
1.4
P
P
E
Vcc D
G
F
1.5 1.6 1.7
Vcc
P
C
A
Dot
B
B
I /R B O
RBI
L
T
GND
R
470 ohm
R
470 ohm
P P
1.0 1.1
G
F
P
1.2 1.3
E
Vcc D
Vcc
P
C
A
Dot
B
B
I /R B O
RBI
L
T
GND
R
470 ohm
R
470 ohm
E
G
F
Vcc D
Vcc
C
A
Dot
B
B
I /R B O
RBI
L
T
GND
D
0
O
0
R
470 ohm
D
1
O
1
D
2
O
2
R
470 ohm
D
3
O
3
E
G
D
4
O
4
F
D
5
O
5
Vcc D
Vcc
D
6
O
6
C
A
D
7
O
7
Dot
B
B
I /R B O
RBI
L
T
GND
R R
470 ohm
470 ohm
R
470 ohm
E
G
F
Vcc D
Vcc
C
A
Dot
B
B
I /R B O
RBI
L
T
GND
D
0
D
1
O
O
0
1
R
470 ohm
D
2
O
2
D
3
O
3
D
4
D
5
O
O
4
5
R
470 ohm
D
6
6
E
G
D
7
O
O
7
F
Vcc D
Vcc
C
A
Dot
B
B
I /R B O
RBI
L
T
GND

Gambar 3.6 Rangkaian display timer dan life time

33

3.4.4

Perencanaan Rangkaian Penggerak Lampu (driver)

Rangkaian ini dirancang dengan menggunakan relay yang berfungsi sebagai saklar yang akan menhubungkan tegangan PLN (220 Volt) ke lampu. Rangkaian ini digunakan sebagai pengendali kerjanya blue light therapy.

BLUE LIGHT BLUE LIGHT BLUE LIGHT +5V P3.4 BLUE LIGHT 220V 5 3 0 V
BLUE LIGHT
BLUE LIGHT
BLUE LIGHT
+5V
P3.4
BLUE LIGHT
220V
5
3
0 V
4
1
FUSE
2
C9012
2,2K

Gambar 3.7 Rangkaian Driver Lampu

3.4.5 Perencanaan Rangkaian Buzzer

Rangkaian buzzer merupakan rangkaian elektronika yang bertujuan untuk menunjang operasional dari pemodelan alat blue light secara keseluruhan. Rangkaian buzzer ini digunakan bertujuan untuk memberi peringatan kepada user,ketika proses penyinaran telah selesai dilakukan dan menandakan alat telah berhenti bekerja. Untuk mengaktifkan buzzer penulis menggunakan transistor PNP yang mendapat masukan data dari mikrokontroler. Transistor PNP ini berfungsi sebagai saklar dimana saat mendapat masukan low dari mikrokontroler akan mentriger basis transistor sehingga buzzer akan bekerja

1 2 P3.3 +5V BUZZER Gambar 3.8 Rangkaian Buzzer
1
2
P3.3
+5V
BUZZER
Gambar 3.8 Rangkaian Buzzer

34

BAB 4 PENGUJIAN

Pengujian dan pengamatan dilakukan pada perangkat keras dan keseluruhan system yang terdapat dalam peralatan ini. Pada bab ini penulis akan menguraikan persiapan alat dan bahan yang digunakan untuk pembuatan modul pemodelan alat blue light therapy dengan menghitung usia lampu serta penunjang yang diperlukan selama proses pengujian. Sebelum tahap pengujian modul pemodelan alat blue light therapy, perlu disiapkan terlebih dahulu alat dan bahan yang dapat menunjang proses pengujian.

4.1 Persiapan Alat dan Bahan

4.1.1 Persiapan Bahan

Agar tidak terjadi kerancuan dalam merancang rangkaian pemodelan alat blue light therapy dengan menghitung umur lampu blue light therapy perlu kiranya penulis membuat daftar komponen yang digunakan dalam rangkaian ini. Adapun komponen – komponen yang digunakan dalam pembuatan alat ini yang meliputi semua blok rangkaiannya yaitu terdiri dari blok mikrokontroler,blok display,blok buzzer,blok pengontrol lampu dan hour meter (usia lampu) dapat dilihat pada tabel 4.1 sebagai berikut :

Tabel 4.1 Komponen-komponen yang digunakan

No

Nama Komponen

Jumlah

1

Mikrokontroler AT89C51

1

buah

2

Dekoder IC 74LS47

6

buah

3

Transistor PNP C9012

2

buah

4

Capasitor 33 pF

2

buah

5

IC 74LS373

2

buah

6

Kristal 12 MHz

1

buah

7

Seven segment

6

buah

8

Buzzer 12 volt

1

buah

9

Pusbutton

5

buah

35

10

Resistor 1K

4

buah

11

Lampu TL 10 watt

4

buah

12

Resistor 470 ohm

42 buah

13

Relay 5 kaki (5 volt)

1 buah

14

IC Regulator 7805

1 buah

15

Fuse 2 Amper

1 buah

16

Capasitor 10 mF/16 volt

1 buah

4.1.2 Persiapan Alat

Untuk mendukung hasil pengukuran dan pendataan pada alat blue light therapy ini, penulis menggunakan beberapa alat pendukung. Adapun alat – alat yang digunakan sebagai berikut :

1. Tool Set

Merk

: CADIK

Type

: 5S

2. Power supply dengan keluaran +5V, ground

3. Multitester Analog

Merk

: Sanwa

Type

: YX – 360 YRD

Buatan

: Jepang

4. Battery DC 9 V

5. Stopwatch

4.2

PENGUJIAN

Pada tahap ini penulis membuat 2 tahap pengujian diantaranya pengujian perangkat keras serta pengujian rangkaian timer dan hour meter. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui hasil dari percobaan rangkaian.

4.2.1 Pengujian Perangkat Keras

Pada bab ini akan diuraikan pelaksanaan pengujian pada rangkaian alat. Pada metode ini penulis mengamati apa yang terjadi dengan beberapa buah titik pengukuran dengan penjelasan sebagai berikut :

36

TP 1 : output dari tombol setting ”UP” yang masuk ke port 0.0 IC AT89S51 TP 2 : output dari tombol setting ”DOWN” yang masuk ke port 0.1 IC AT89S51 TP 3 : output dari tombol setting ”START” yang masuk ke port 0.2 IC AT89S51 TP 4 : output dari tombol setting ”STOP” yang masuk ke port 3.2 IC AT89S51 TP 5 : output IC AT89S51 dari port 3.3 ke rangkaian buzzer TP 6 : keluaran IC AT89S51 dari port 3.4 rangkaian driver blue light TP 7 : keluaran IC AT89S51 dari port 3.0 ke IC 74LS373 TP 8 : keluaran IC AT89S51 dari port 3.1 ke IC 74LS373

Tabel 4.2 Hasil pengukuran pada TP1 – TP4

TP

Switch yang

Saat switch

Saat switch tidak ditekan

Ket

dsitekan

ditekan

1

UP

Low

High

High = 4,8 V Low = 0 V

2

DOWN

Low

High

High = 4,8 V Low = 0 V

3

START

Low

High

High = 4,8 V Low = 0 V

4

RESET

Low

High

High = 4,8 V Low = 0 V

Tabel 4.3 Hasil pengukuran pada TP5

Rangkaian buzzer bunyi

Rangkaian buzzer tidak bunyi

Ket

Low

High

High = 4,8 V Low = 0 V

Tabel 4.4 Hasil pengukuran pada TP6

Blue light menyala

Blue light tidak menyala

Ket

Low

High

High = 4,8 V Low = 0 V

37

Tabel 4.5 Hasil pengukuran pada TP7 dan TP8

Ket

Low

High

High = 4,8 V Low = 0 V

4.2.2 Pengujian Rangkaian Timer dan Rangkaian Hour Meter

Pengujian rangkaian Timer dan rangkaian hour meter bertujuan untuk mengetahui keakuratan display dalam menampilkan lamanya proses penyinaran

dan keakuratan dalam menyimpan lamanya usia lampu atau lamanya lampu telah digunakan

1. Hasil pengujian pada blok display timer yang terdiri dari 2 buah seven segment menunjukkan bahwa terdapat kesamaan antara jalannya nilai settingan timer blue light dengan hasil perhitungan menggunakan stopwatch.

2. Lamanya pemakain lampu atau usia lampu dapat tersimpan pada 4 buah seven segment yang berfungsi sebagai penyimpan umur lampu , sesuai dengan lamanya pemakaian lampu .

4.2.3 Pengujian Rangkaian Secara Keseluruhan

Pengujian rangkaian secara keseluruhan bertujuan untuk membuktikan apakah alat berfungsi dengan yang diinginkan atau tidak. Serta mengetahui seberapa besar perbedaan antara hasil , teori dan praktek. Dari hasil pengujian pada rangkaian secara keseluruhan ditunjukkan pada tabel 4.6 sebagai berikut :

Tabel 4.6 Hasil Pengujian timer pada rangkaian keseluruhan

Percobaan

Pembacaan display

Hitungan Stopwatch

SelisihWaktu

 

1 20

detik

19,16 detik

0.84

detik

 

2 35

detik

33.45

detik

1.55

detik

 

3 60

detik

57.35

detik

2.65

detik

 

4 80

detik

1.16.63 detik

3.37

detik

38

Hasil pengujian tersebut merupakan hasil dari perbandingan antara teori atau tampilan pada display dengan praktek atau perhitungan berdasarkan stopwatch. Dari hasil pembacaan tabel diatas, penulis dapat mencari persentase kesalahan pada alat blue light therapy ini sebagai berikut :

Vo Teori – Vo Praktek

Persentasi Keselahan

=

x

100 %

 

Vo Teori

 
 

20

detik – 19.16 detik

1. Percobaan pertama

=

x

100 %

 

20

detik

 

0.84

detik

 

=

 

x

100 %

 
 

20

detik

 

=

4.2 %

 

35

detik– 33.45detik

 

2. Percobaan kedua

=

 

x

100 %

 
 

35

detik

 

1.55

detik

 

=

100 %

 

x

 

35

detik

 

=

4.4 %

 

60

detik – 57.35detik

 

3. Percobaan ketiga

=

x

100 %

 

60

detik

 

2.65

detik

 

=

100 %

 

x

 

60

detik

 

=

4.4 %

39

4. Percobaan keempat =

=

=

80 detik – 01.16,63 detik

80 detik

3.37 detik

80 detik

4.2 %

x

x

100 %

100 %

Jadi total persentasi keseluruhan pada alat ini adalah :

4.2 % + 4.4 % + 4.4% + 4.2 %

=

=

0.172 %

4

4

=

0.043 %

Jadi, tingkat keakurasian alat ini adalah 100% - 0.043% = 99.957%

40

BAB 5

PENUTUP

Mikrokontroler merupakan pengendali utama dari semua system, karena setiap bagian-bagian system akan menerima dan memberikan sinyal pada mikrokontroler. Mikrokontroler yang digunakan pada alat ini adalah mikrokontroler AT89S51 yang difungsikan untuk menjalankan timer yang akan ditampilkan pada seven segment, mengendalikan driver lampu serta buzzer sebagai indikator. Setting timer alat ini pada range waktu 0-99 detik (mewakili menit).Timer akan berjalan menghitung mundur. Setiap 60 detik timer berjalan, pada rangkaian display hour meternya akan bertambah nilai satu. Rangkaian display timer terdiri dari dua digit seven segment sedangkan rangkaian hour meternya terdiri dari empat digit seven segment. Dari hasil perancangan serta system cara kerja alat, pembuatan alat blue light therapy ini telah berjalan sesuai dengan yang direncanakan.

41