Anda di halaman 1dari 23

DASAR HUKUM ASURANSI DI INDONESIA

Disusun Oleh :
Kelompok 10

Ravika Elda Siregar


Tania Pratiwi
Andy
Jhas Jensen

Dosen : Ibu Dianty Putri Purba, S.E., M.Si.

S1 - MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PRIMA INDONESIA
MEDAN
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA
sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga
mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah
berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin
masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.

Medan, 19 Januari 2019

Penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………… 2

DAFTAR ISI...………………………………………………………………...…. 3

PEMBAHASAN

1. Pengertian dan dasar hukum asuransi…………………………………….. 4

2. Dasar hukum asuransi di indonesia……………………………………….. 8

3. Penggolongan asuransi dan tujuannya……………………………………. 14

4. Prinsip asuransi…………………………………………………………….. 17

5. Polis asuransi…………….……………………………………………….... 20

PENUTUP

1. Kesimpulan………………………………………………………………… 22

2. Saran………………………………………………………………………... 22

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………. 23

3
Dasar Hukum Asuransi di Indonesia

A.Pengertian dan Dasar Hukum Asuransi

Manusia selalu dihadapkan dengan peristiwa yang tidak pasti.


Peristiwa yang tidak pasti tersebut dapat berupa peristiwa menguntungkan atau
menyenangkan atau merupakan keuntungan yang mungkin diharapkan.
Disamping itu dapat pula berupa peristiwa negatif yang merugikan baik bagi
dirinya, keluarganya maupun harta bendanya. Oleh sebab itu manusia
memerlukan proteksi atau perlindungan. Asuransi dalam bahasa belanda
disebut verzekering yang berarti pertanggungan atau asuransi dalam bahasa
inggris disebut inssurance. Asuransi berasal dari bahasa inggris “assure”
yang berarti menanggung dan “assurance” yang berarti tanggungan.

Dalam hukum asuransi dikenal bermacam macam istilah. Ada istilah


hukum pertanggungan, hukum asuransi. dalam bahasa belanda disebut
verzekering recht dan dalam istilah bahasa inggris disebutinsurance law,
sedangkan dalam praktek sejak dalam hindia belanda sampai sekarang banyak
dipakai orang istilah asuransi (assurantie).

Adapun pengertian asuransi sendiri memiliki beberapa defenisi.


Pertama, definisi asuransi menurut Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian. Dalam undang-undang ini,
disebutkan bahwa asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua
pihak atau lebih. Dalam konteks, pihak penanggung mengingkatkan diri
kepada pihak tertanggung dengan menerima premi asuransi guna
memberikan penggantian pada tertanggung yang disebabkan oleh kerugian
yang dialaminya, semisal berupa kerusakan, kehilangan keuntungan yang
diharapkan, atau tanggung jawab hukum terhadap pihak ketiga yang
dimungkinkan akan dialami oleh pihak tertanggung yang disebabkan oleh
berbagai macam peristiwa yang tidak pasti, atau memberikan suatu

4
pembayaran didasarkan pada meninggal atau hidupnya seseorang yang
dipertanggungkan.

Pengaturan ini diperbaharui dengan diterbitkan Undang-Undang Nomor


40 Tahun 2014 tentang Perasuransian Pasal 1 yang mengemukakan bahwa
asuransi adalah perjanjian antara dua pihak, yaitu perusahaan asuransi
sebagai imbalan untuk :

a. Memberikan penggantian kepada tertanggung atau pemegang


polis karena kerugian, kerusakan, biaya yang timbul,
kehilangan keuntungan, atau tanggung jawab hukum kepada
pihak ketiga yang mungkin diderita tertanggung atau pemegang
polis karena terjadinya suatu peristiwa yang tidak pasti; atau

b. Memberikan pembayaran yang didasarkan pada meninggalnya


tertanggung atau pembayaran yang didasarkan pada hidupnya
tertanggung dengan manfaat yang besarnya telah ditetapkan
dan/atau didasarkan pada hasil pengelolaan dana.

Dasar hukum perjanjian asuransi diatur dalam Pasal 1774 KUH Perdata
yang berbunyi sebagai berikut:

“Suatu perjanjian untung untungan adalah suatu perbuatan yang hasilnya,


mengenaiuntung ruginya, baik bagi semua pihak, maupun bagi sementara,
bergantung kepada suatu kejadian yang belum tertentu.”

“Demikian adalah : perjanjian pertanggungan;bunga cagak hidup;


perjudian dan pertaruhan. Perjanjian yang pertama diatur dalam Kitab undang
undang hukum dagang.”

Syarat-syarat sah suatu perjanjian diatur alam Pasal 1320 KUH Perdata.
Menurut ketentuan pasal tersebut, ada 4 (empat) syarat sah suatu perjanjian,
yaitu kesepakatan para pihak, kewenangan berbuat, objek tertentu, dan kausa

5
yang halal. Syarat yang diatur dalam KUHD adalah kewajiban pemberitahuan
yang diatur dalam Pasal 251 KUHD :

1. Kesepakatan (Consensus) Tertanggung dan penanggung sepakat


mengadakan perjanjian asuransi, kesepakatan tersebut meliputi :

a) Benda yang menjadi obyek asuransi

b) Pengalihan risiko dan pembayaran premi

c) Evenemen dan ganti kerugian

d) Syarat-syarat khusus asuransi

e) Dibuat secara tertulis yang disebut polis

Kesepakatan antara tertanggung dan penanggung dibuat secara


bebas, tidak berada di bawah pengaruh, tekanan, atau paksaan
pihak tertentu. Kedua belah pihak sepakat menentukan syarat-syarat
perjanjian asuransi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan
yang berlaku.

2. Kewenangan (authority)

Kedua pihak tertanggung dan penanggung wenang melakukan


perbuatan hukum yang diakui oleh undang-undang. Kewenangan
berbuat tersebut ada yang bersifat subjektif dan ada yang bersifat
objektif. Kewenangan subjektif artinya kedua pihak sudah dewasa, sehat
ingatan, tidak berada di bawah perwalian atau pemegang kuasa
yang sah. Kewenangan objektif artinya tertanggung mampunyai
hubungan yang sah dengan objek asuransi karena benda tersebut
adalah kekayaan miliknya sendiri. Penanggung adalah pihak yang sah
mewakili perusahaan asuransi berdasarkan anggaran dasar perusahaan.
Apabila asuransi yang diadakan itu untuk kepentingan pihak

6
ketiga, maka tertanggung yang mengadakan asuransi itu mendapat
kuasa atau pembenaran dari pihak ketiga yang bersangkutan.

3.Objek tertentu (fixed object)

Objek tertentu dalam perjanjian asuransi adalah objek


yang diasuransikan, dapat berupa harta kekayaan, dapat berupa harta
kekayaan dan kepentingan yang melekat pada harta kekayaan, dapat
pula berupa jiwa atau raga manusia. Objek tertentu berupa harta
kekayaan dan kepentingan yang melekat pada harta kekayaan terdapat
pada perjanjian asuransi kerugian. Objek tertentu berupa jiwa atau
raga manusia terdapat pada perjanjian asuransi jiwa. Karena yang
mengasuransikan objek itu adalah tertanggung, maka dia harus
mempunyai hubungan langsung atau tidak langsung dengan objek
asuransi itu.

4. Kausa Yang Halal (Legal Cause)

Kausa yang halal maksudnya adalah isi perjanjian asuransi itu


tidak dilarang undang-undang, tidak bertentangan dengan ketertiban
umum, tidak bertentangan dengan kesusilaan.Berdasarkan kausa yang
halal itu, tujuan yang hendak dicapai oleh tertanggung dan penanggung
adalah beralihnya risiko atas objek asuransi yang diimbangi dengan
pembayaran premi, penanggung menerima peralihan risiko atas objek
asuransi. jika premi dibayar maka risiko beralih. Jika premi tidak
dibayar risiko tidak beralih.

5.Pemberitahuan (notification)

a. Teori objektivitas (objectivity theory)

Salah satu teori ilmu hukum yang dikenal dalam hukum


asuransi adalah teori objektivitas. Menurut teori ini setiap
7
asuransi harus mempunyai objek tertentu. Objek tertentu
artinya jenis, identitas dan sifat yang dimiliki objek tersebut
harus jelas dan pasti. sifat objek asuransi mungkin dapat
menjadi sebab timbulnya kerugian. Berdasarkan pemberitahuan itu
penanggung dapat mempertimbangkan apakah dia akan menerima
pengalihan risiko dari tertanggung atau tidak. keunggulan
teori ini adalah penanggung dilindungi dari perbuatan
tertanggung yang tidak jujur (in bad faith) sebaliknya tertanggung
selalu dimotivasi untuk berbuat jujur (in good faith) dan selalu
berhati-hati melakukan pemberitahuan sifat objek asuransi
kepada penanggung. Teori ini berfungsi untuk mengarahkan
tertanggung dan penanggung agar mengadakan perjanjian
asuransi dilandasi asas kebebasan berkontrak yang adil (fair).

b. Pengaturan pemberitahuan dalam KUHD

Tertanggung wajib memberitahukan kepada penanggung


mengenai keadaan objek asuransi. kewajiban ini dilakukan saat
mengadakan asuransi. jika tertanggung lalai maka akibat
hukumnya asuransi batal

Dalam sahnya suatu perjanjian yang terdapat dalam Pasal 1320 KUH
Perdata, dua syarat pertama dinamakan syarat-syarat subjektif karena
mengenai orang-orangnya atau subjeknya yang mengadakan perjanjian
sedangkan dua syarat yang terakhir dinamakan syarat-syarat objektif
karena mengenai perjanjiannya sendiri oleh obyek dari perbuatan
hukum yang dilakukan itu.

B. 5 Dasar Hukum Asuransi di Indonesia

Berkembangnya perusahaan asuransi tak lepas dari meningkatnya


meleknya pengetahuan masyarakat akan pentingnya asuransi yang sebenarnya.
Pendidikan dan teknologi menjadi faktor penting tumbuhnya kebutuhan

8
masyarakat akan asuransi, dapat kita lihat fenomena yang terjadi saat ini bahwa
mayoritas orang yang melek asuransi adalah mereka-mereka yang memiliki
pendidikan yang tinggi dan memiliki gaya hidup yang kekinian. Ditambah lagi
semakin maraknya teknologi yang mempercepat proses edukasi terhadap
masyarakat yang menjelaskan akan pentingnya asuransi yang tidak hanya
bermanfaat untuk dirinya saja namun juga untuk seluruh anggota keluarganya.

Dari tahun ke tahun pertumbuhan perusahaan asuransi terus meningkat,


bahkan jika kita melihat program bank-bank pemerintah maupun swasta, banyak
diantara bank-bank tersebut yang menawarkan program asuransi dengan berbagai
jenis kebutuhan masyarakat, mulai dari asuransi jiwa, kesehatan, pendidikan,
hingga asuransi rumah. Dengan melihat angka kebutuhan yang terus tumbuh tentu
bagi perusahaan kondisi ini merupakan potensi dalam memperoleh keuntungan
dari penghimpunan dana dari masyarakat. Karena kegiatan asuransi berkaitan
dengan perjanjian, perolehan keuntungan, dan memberikan timbal balik dalam
bentuk pertanggungan kepada masyarakat banyak, sehingga dalam proses
penyelenggaraan kegiatan ini harus terdapat kekuatan hukum yang mengatur agar
proses yang berjalan dalam usaha perasuransian mengikuti aturan yang berlaku di
suatu negara dan dapat dipertanggungjawabkan oleh perusahaan.

Berikut 5 dasar hukum asuransi yang berlaku di Indonesia, yaitu:

1. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992

Dilihat dari kedudukannya, undang-undang ini sering kali dijadikan


sebagai dasar dari beberapa penetapan peraturan mengenai asuransi yang berlaku
di Indonesia. Sehingga bisa dikatakan jika Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992
merupakan dasar hukum utama yang mengatur dan menentukan segala kegiatan
asuransi. Melihat isi dari UU No.2 Tahun 1992, didalamnya memuat peraturan
tentang usaha perasuransian. Dasar-dasar dibentuknya undang-undang ini adalah
untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur sesuai dengan amanat
Pancasila dan UUD 1945, meninjau bahwasanya asuransi adalah salah satu upaya
dalam menanggulangi resiko tertentu yang dihadapi oleh masyarakat sekaligus
9
asuransi berperan dalam menghimpun dana dari masyarakat, dan negara membuka
kesempatan bagi kegiatan usaha perasuransian dan mengatur kegiatan
perasuransian agar sesuai dengan prinsip usaha yang sehat dan bertanggung
jawab.

UU No.2 Tahun 1992 secara menyeluruh mengatur kegiatan asuransi yang


ada di Indonesia agar segala kegiatan asuransi sesuai dengan hukum yang berlaku
dan mampu mewujudkan keadilan bersama, berikut hal-hal yang diatur dalam UU
No.2 Tahun 1992, yaitu.

 Ketentuan umum dan ruang lingkup asuransi.

 Bidang usaha perasuransian.

 Jenis usaha perasuransian.

 Ruang lingkup usaha perusahaan perasuransian.

 Penutupan objek asuransi.

 Bentuk hukum usaha asuransi.

 Kepemilikan perusahaan asuransi.

 Perizinan usaha.

 Pembinaan dan pengawasan terhadap kegiatan perasuransian.

 Kepailitan dan likuidasi.

 Ketentuan pidana.

Dengan mengetahui isi dari undang-undang ini sangat jelas terlihat


alasannya kenapa undang-undang ini dijadikan sebagai dasar utama dalam
ketentuan hukum usaha perasuransian.

10
2. KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) Pasal 1320 dan Pasal
1774

Dilihat dari ketentuan umum dalam UU No.2 Tahun 1992 menyebutkan


bahwa, “Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua belah pihak
atau lebih, yang mana pihak penanggung mengikatkan diri dengan pihak
tertanggung, dengan menerima premi asuransi untuk memberikan penggantian
kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang
diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan
diderita tertanggung, yang timbul dari peristiwa yang tidak pasti, atau untuk
memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya
seseorang yang dipertanggungkan.”

Dari penjelasan undang-undang diatas menyatakan bahwa asuransi


mengandung unsur perjanjian antara dua belah pihak didalamnya. Karena
mengandung unsur penjanjian maka akan termasuk dalam ruang lingkup hukum
pidana, sebagaimana dalam KUHP bagian dua menjelaskan bab tentang syarat-
syarat terjadinya suatu perjanjian yang sah, dimana hal tersebut dirinci dan
dijelaskan dalam salah satu pasal, yaitu Pasal 1320 yang menyebutkan bahwa
“Untuk sahnya perjanjian diperlukan empat syarat yaitu kesepakatan mereka yang
mengikatkan dirinya, kecakapan dalam membuat suatu perikatan, suatu pokok
persoalan tertentu, dan suatu sebab yang tidak terlarang.

Manfaat asuransi adalah memberikan jaminan yang bersifat


menguntungkan kepada pihak tertanggung jika terjadi sesuatu yang merugikan
atau merusak dimana kejadian tersebut tidak dapat dipastikan waktunya. Karena
sifat itulah asuransi juga harus menyesuaikan dengan ketentuan yang terdapat
pada Pasal 1774 KUHP, yang menyatakan bahwa “suatu persetujuan untung-
untungan ialah suatu perbuatan yang hasilnya, yaitu mengenai untung ruginya,
baik bagi semua pihak maupun bagi sementara pihak, tergantung pada suatu
kejadian yang belum pasti.

3. KUHD (Kitab Undang-Undang Hukum Dagang) Bab 9


11
Kegiatan usaha perasuransian tidak hanya termasuk dalam masalah pidana
saja, namun jika dilihat dengan lebih teliti lagi ternyata dalam KUHD juga
mengatur tentang asuransi. Khusus dalam Bab 9 KUHD menjelaskan tentang
asuransi dan pertanggungan secara umum yang dijelaskan secara terperinci dalam
Pasal 246-286. Dari sekian banyak pasal yang ada dalam Bab 9 KUHD, yang
paling sesuai dengan penjelasan asuransi secara umum adalah Pasal 246 yang
menyebutkan bahwa “Asuransi atau pertanggungan adalah suatu perjanjian,
dengan mana seorang penanggung mengikatkan dirinya kepada seorang
tertanggung, dengan menerima suatu premi, untuk memberikan penggantian
kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang
diharapkan, yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tidak
tertentu'

Sekilas jika diperhatikan penjelasan asuransi secara umum dalam pasal


246 diatas akan sangat terlihat kemiripannya dengan penjelasan asuransi secara
umum dalam UU No.2 Tahun 1992, bahkan jika diambil intisari dari apa yang
dijelaskan akan memiliki arti dan maksud yang sama. Dalam Bab 9 KUHD secara
menyeluruh menjelaskan tentang ketentuan tentang jenis pertanggungan dari
asuransi, batas maksimal pertanggungan yang diberikan asuransi, prosedural
proses pertanggungan yang berlaku, penyebab batalnya proses pertanggungan,
dan pertanggungan disusun secara tertulis dalam suatu akta atau polis.

4. Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1992

Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1992 merupakan ketentuan yang


mengatur tentang penyelenggaraan usaha perasuransian. Terbentuknya peraturan
pemerintah ini didasari atas tujuan asuransi yang secara prinsip mampu
mendorong tumbuhnya pembangunan nasional Indonesia, sehingga dalam
penerapan berkelanjutan diperlukan sebuah arahan agar dalam kegiatan usaha
perasuransian berjalan dengan sesuai dengan hukum yang berlaku dan mengatur
perusahaan perasuransian yang ada di Indonesia agar berkembang dengan baik

12
dan sesuai dengan landasan maupun prinsip usaha yang sehat dan bertanggung
jawab.

Melihat isi dari keseluruhan Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1992,


jelas sekali bahwa penyusunan peraturan ini masih merujuk pada UU No.2 Tahun
1992, hal tersebut terlihat dari adanya penekanan yang sama terhadap beberapa
ketentuan yang termuat didalamnya. Secara garis besar Peraturan Pemerintah
Nomor 73 Tahun 1992 berisi tentang ketentuan umum ruang jklingkup asuransi,
penutupan objek asuransi, perizinan usaha perasuransian, kesehatan keuangan
perusahaan asuransi, dan penyelenggaraan usaha perasuransian.

5. Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 1999

Peraturan pemerintah ini merupakan perubahan pertama dari Peraturan


Pemerintah Nomor 73 Tahun 1992. Tujuan dibentuknya Peraturan Pemerintah
Nomor 63 Tahun 1999 pada dasarnya memiliki kesamaan dengan peraturan
sebelumnya yaitu tentang penyelenggaraan usaha perasuransian. Terbentuknya
peraturan pemerintah ini didasari akan adanya perkembangan kegiatan usaha
perasuransian yang terus mengalami perubahan dan disamping itu terjadi pula
perubahan perekonomian nasional yang menyebabkan diperlukannya penyesuaian
terhadap peraturan pelaksanaan usaha asuransi yang telah berlaku.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 1999 mengandung


perubahan terhadap beberapa pasal dari undang-undang sebelumnya yang telah
disesuaikan dengan kondisi perkembangan perekonomian negara, diantaranya
tentang meningkatnya persyaratan modal yang harus disetor untuk pendirian
perusahaan asuransi baru, adanya laporan yang harus disampaikan kepada menteri
jika terjadi setiap perubahan kepemilikan perusahaan asuransi, dan perubahan
persyaratan untuk mendapatkan izin usaha perusahaan asuransi.

Hadirnya asuransi pada dasarnya memberikan jaminan perlindungan


kepada seseorang dari berbagai kejadian buruk yang bisa menimpa di waktu
tertentu diluar prediksi dan harapan orang tersebut. Dilihat dari proses kegiatan

13
asuransi pastilah terdapat sebuah perjanjian yang bersifat mengikat, dimana
seseorang yang setuju dengan asuransi tersebut harus membayar sejumlah premi
tertentu dalam jangka waktu tertentu, dimana premi tersebut merupakan pengganti
dari perlindungan yang dijaminkan oleh perusahaan asuransi. Karena dalam
kegiatan usah perasuransian didalamnya termuat beberapa unsur yang termasuk
dalam tindakan pidana maka agar penyelenggaraannya sesuai dengan ketentuan
hukum maka usaha perasuransian harus mengikuti aturan-aturan dari dasar hukum
yang mengatur kegiatan ekonomi di Indonesia, hal ini ditujukan untuk
memberikan jaminan kepada kedua belah pihak baik penanggung maupun
tertanggung agar dapat mempertanggungjawabkan semua kewajibannya masing-
masing.

3. PENGOLONGAN ASURANSI DAN TUJUANNYA

Dalam Pasal 1774 KUH Perdata, asuransi dapat digolongkan sebagai


bunga selama hidup seseorang atau bunga cagak hidup dan perjudian dalam
perjanjian untung-untungan (Konsovereenskomst ). Kenapa asuransi bisa
dikatakan sebagai perjanjian untung-untungan...? dikarenakan dalam asuransi
mengandung unsur “ kemungkinan “, di mana kewajiban penganggung untuk
menggantikan kerugian yang diderita oleh tertanggung tersebut digantungkan
pada ada atau tidaknya suatu peristiwa yang tidak tertentu atau tidak pasti .

Berdasarkan atas perjanjian asuransi dapat digolongkan menjadi dua, yakni :

1. Asuransi Kerugian ( Schade Verzekering )


Adalah yang memberikan pergantian kerugian yang mungkin timbul pada
harta kekayaan tertanggung.
2. Asuransi jumlah ( Sommen Verzekering )
Adalah merupakan pembayaran sejumlah uang tertentu, tidak tergantung
kepada persoalan apakah evenement menimbulkan kerugian atau tidak.
Namun praktik dalam perkembangannya asuransi pengolongannya dapat disebut
dengan asuransi varia, merupakan asuransi yang mengandung unsur-unsur
asuransi kerugian maupun asuransi jumlah, seperti asuransi kecelakaan dan
14
kesehatan. Dengan demikian dalam pengolongan menurut sifat pelaksanaanya
dapat digolongkan menjadi tiga yaitu :

1. Asuransi Sukarela
Adalah merupakan pertanggung yang dilakukan dengan cara sukarela yang
dilakukan atas dasar ketidakpastian atau kemungkinan terjadinya resiko
kerugian-kerugian atas suatu yang dipertanggungkan, misalnya asuransi
kendaraan bermotor, kebakaran, pendidikan, kematian.

2. Asuransi Wajib
Adalah bersifat wajib yang dilakukan oleh pihak-pihak terkait dimana
pelaksanaannya dilakukan berdasarkan peraturan undang-undang yang
telah ditetapkan, misalnya jaminan sosial tenaga kerja ( Jamsostek ) dan
asuransi kesehatan.
3. Asuransi Kredit
Adalah asuransi yang selalu berkaitaan dengan dunia perbankan yang
menitik beratkan pada pada asuransi jaminan kredit baik berupa benda
bergerak atau benda tak bergerak, yang sewaktu-waktu beresiko akan
tertimpa kerugian bagi pemilik barang atau pemberi kredit khususnya
bank. Adapun fungsinya dari asuransi kredit adalah :
a. Melindungi pemberi kredit dari kemungkinan tidak diperolehnya
kembali kredit yang diberikan kepada nasabahnya.
b. Memberi keamanan perkreditan, baik kredit perbankan atau kredit
diluar perbankan.
Dengan adanya asuransi kredit tersebut akan membantu perbankkan untuk lebih
giat dalam membantu nasabahnya dalam menyediakan modal untuk
mengembangkan usahanya.

Berdasarkan Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha


Perasuransian, dapat digolongkan menjadi :

1. Usaha Asuransi

15
Usaha Asuransi terbagi atas

a. Asuransi Kerugian ( Non Life Insurance )


Merupakan usaha memberikan jasa dalam penanggulangan resiko
kerugian atas, kehilangan manfaat, dan tanggung jawab hukum kepada
pihak ketiga yang timbul dari peristiwa yang tidak pasti.

b. Asuransi Jiwa ( Life Insurance )


Merupakan jasa yang diberikan oleh perusahaan asuransi dalam
penggungungan resiko yang berkaitan dengan jiwa atau meninggalnya
seseorang yang dipertanggungkan.

c. Reasuransi ( Reinsurance )
Merupakan sistem penyebaran resiko di mana penanggung menyebarkan
seluruh atau sebagaian resiko pertanggungan yang ditutupnya kepada
penanggung yang lain.
2. Usaha Penunjang

Usaha asuransi ini terbagi atas :

a. Pialang Asuransi
Merupakan usaha jasa yang memberikan perantaraan dalam penutupa
asuransi dan penanganan penyelesaian ganti kerugian yang bertindak
untuk kepentingan tertangung.
b. Pialang Reasuransi
Memberikan jasa keperantaraan dalam penempatan reasuransi dan
penanganan penyelesaian ganti rugi reasuransi dengan bertindak untuk
kepentingan perusahaan asuransi tersebut.
c. Penilai Kerugian Asuransi
Memberikan jasa penilaian terhadap kerugian pada objek asuransi yang
dipertanggungkan.

16
d. Konsultan Aktuvaria
Merupakan usaha yang memberikan jasa konsultan aktuvaria.
e. Agen Asuransi
Merupakan pihak yang memberikan jasa keperantaraan dalam rangka jasa
pemasaran asuransi untuk dan atas nama penanggung.
Dari semua pengolongan / jenis Asuransi tersebut diatas mempunyai sebuah
tujuan yaitu untuk menutup semua kerugian yang diderita sebagai akibat dari
suatu peristiwa yang bersangkutan, dan yang belum dapat ditentukan semua.

4 . PRINSIP ASURANSI

Adapun prinsip-prisip yang terdapat dalam sistem hukum asuransi, yakni :

1. Kepentingan yang dapat di Asuransikan (Insurance Interset )

Adalah setiap pihak yang bermaksud mengadakan perjanjian asuransi harus


mempunyai kepentingan yang dapat diasuransikan, artinya tertanggung harus
mempunyai keterlibatan sedemikian rupa dengan akibat dari suatu peristiwa yang
belum pasti terjadi dan yang bersangkutan menderita kerugian akibat dari
peristiwa itu. Dalam Pasal 250 KUH Dagang menyatakan kepentingan yang
diasuransikan tersebut harus ada pada saat ditutupnya perjanjian asuransi tersebut.
Apabila syarat tersebut tidak dipenuhi maka penanggung akan bebas dari
kewajiban untuk membayar kerugian, sedangkan menurut Pasal 268 KUH Dagang
mensyaratkan kepentingan yang dapat diasuransikan itu harus dapat dinilai
dengan sejumlah uang.

2. Indemnitas ( Indemnity )

Adalah berdasarkan perjanjian asuransi penanggung memberikan suatu proteksi


kemungkinan kerugian ekonomi yang diderita tertanggung. Dalam hal ini prisip
Indemnitas berkaitan dengan pengukuran besarnya nilai kerugian. Dimana
Asuransi hanya menempatkan kembali seorang tertanggung yang telah mengalami
kerugian sama dengan keadaan sebelum terjadinya kerugian.Dengan
dipergunakan prinsip indeminitas didalam asuransi didasarkan pada asas hukum
17
perdata, yaitu larangan memperkaya sendiri selama melawan hukum atau
memperkaya diri tanpa hak ( onrechtmatige verrijking ).Prinsip indemintas
berkaitan dengan pengukuran besarnya nilai kerugian, contohnya dalam perjanjian
asuransi kebakaran, pengukuran nilai keugian yang sebenarnya adalah nilai ganti
dari property yang rusak ( akibat kebakaran ) yang dikurangi dengan penyusutan.

3. Asas Kejujuran Sempurna / Itikad Baik ( Utmost Good Faith )

Adalah prinsip adanya itikad baik atas dasar kepercayaan antara pihak
penanggung dengan pihak tertanggung dalam perjanjian asuransi,artinya :

a. Penanggung harus dengan jujur menerangkan dengan jelas tentang


segala sesuatunya tentang syarat/kondisi dari asuransi yang
bersangkutan dan menyelesaikan tuntutan gati rugi sesuai dengan
syaratdan kondisi pertanggungan.
b. Penanggung harus memberikan keterangangan yang jelas dan benar
atas objek atau kepentingan yang dipertanggungkan; misalnya,
tertanggung tidak boleh menyembunyikan keterangan yang diketahui
dan harus memberikan keterangan yang benar tentang sebab musabab
terjadinya kerugian. Prinsip ini tercermin dalam Pasal 251 KUH
Dagang yang menekakan kewajiban tertanggung agar memberikan
keterangan atau informasi yang benar kepada pihak tertanggung.
4. Subrogasi bagi Penanggung ( Subrogation )

Dalam Pasal 284 KUH Dagang penanggung telah membayar uang ganti
kerugian yang dijanjikan kepada terjamin, mendapat alih hak-hak dari terjamin
terhadap seorang ketiga, yang ada hubungan dengan kerugian itu. Secara
umum Subrogasi berarti penggantian pihak yang berhak, dalam suatu
hubungan hukum perihal hak-haknya terhadap pihak yang berwajib. Dalam hal
ini asuransi si terjamin merupakan pihak berhak dalam suatu hubungan hukum
dengan seorang ketiga, berhubungan dengan kerugian yang dijamin oleh
penanggung. Menurut undang-undang subrogasi dapat terjadi bila berlaku dua
faktor berikut :
18
a. Apabila tertanggung di samping mempunyai hak terhadap
penanggung juga mempunyai hak terhadap pihak ketiga.
b. Hak-hak itu timbul karena kerugian, misalnya hak subrogasi timbul
degan sendirinya (ipso facto) sehingga tidak perlu ditentukan
dalam polis, tetapi kadang-kadang dimuat dalam polis sebagai
klausula subrogasi.
c. Dalam kaitannya dengan tersebut diatas, para sarjana umumnya
berpendapat bahwa atas subrogasi hanya berlaku terhadap asuransi
kerugian dan tidak berlaku untuk asuransi jumlah, misalkan
asuransi kesehatan dan asuransi
5. Proxima Causa

Dalam Pasal 276 KUH Dagang dan Pasal 249 KUH Dagang menyatakan bahwa
jika kerugian yang diderita oleh si tertanggung sendiri disebabkan karena
kebusukan, cacat, sifat atau macam dari baranngnya sendiri ( Objek Asuransi )
maupun karena kesalahan, kesengajaan, kelalaian dari diri si tertanggung sendiri
makan dalam hal ini penanggung dapat dibebaskan dari tanggung jawabnya untuk
memberi ganti rugi kepada tertanggung.

6. Kontribusi

Dalam pasal 278 KUH Dagang menyebutkan bilamana pada polis yang sama oleh
berbagai penanggung, meskipun pada hari-hari yang berlainan dipertanggungkan
untuk lebih dari pada harganya maka mereka bersama-sama menurut
keseimbangan jumlah untuk mana mereka menandatangani hanya memikul harga
sesungguhnya yang dipertanggungkan.Ketentuan yang sama berlaku, bilamana
pada hari yang sama, mengenai benda yang sama diadakan pertanggungan-
pertanggungan yang berlainan.Asas kontribusi ini hanya berlaku dalam hal-hal
seperti berikut :

a. Apabila polis-polis diadakan untuk resiko atau bahaya yang sama


menimbulkan kerugian.

19
b. Polis-polis itu menutup kepentingan yang sama, dari tertanggung yang
sama, dan terhadap benda yang sama pula.
c. Polis-polis itu masih berlaku pada saat terjadinya kerugian.
Apabila dalam polis memuat klasula non contribution maka pembayaran di bawah
polis ini terbatas hanya jumlah kerugian yang melebihi jumlah yang tertanggung
oleh polis-polis yang lainnya sehingga asa kontibusi tidak berlaku dan polis itu
berubah menjadi excess policy. Dengan demikian, tertanggung pertama-tama
menuntut ganti kerugian kepada penanggung pertama, barulah kalau ada sisanya
dia dapat menuntut ganti kerugian kepada penanggung kedua.

4 . POLIS ASURANSI

Polis Asuransi adalah kontrak tertulis antara maskapai asuransi dan pihak
yang dijamin memuat persyaratan dan ketentuan perjanjian. Dengan demikian,
dalam setiap perjanjian perlu dibuat bukti tertulis atau surat perjanjian antara
pihak-pihak yang mengadakan perjanjian sebagai bukti tertulis telah terjadi
perjanjian asuransi. Untuk itu dikeluarkan surat yang disebut dengan polis sesuai
dengan Pasal 255 KUH Dagang.

Adapun fungsi polis secara umum yaitu antara lain :

1. Bukti perjanjian pertanggungan.


2. Bukti jaminan dari penanggung kepada tertanggung untuk menggantikan
kerugian yang mungkin dialami oleh tertanggung akibat peristiwa yang tidak
terduga sebelumnya dengan prinsip, yakni :
a. Untuk mengembalikan tertanggung kepada kedudukkannya semula
sebelum mengalami kerugian.
b. Untuk menghindarkan tertanggung dari kebangkrutan.
Isi polis menurut Pasal 256 KUHD surat polis bagi segala jenis asuransi harus
memuat :

20
1. Hari pembentukan asuransi.
2. Nama pihak yang selaku terjamin menyetujui terbentuknya asuransi, yaitu
atas tertanggungnya sendiri atau atas tertanggung orang lain.
3. Penyebutan yang cukup terang dari hal atau objek yang dijamin.
4. Jumlah uang, untuk mana diadakan jaminan (uang asuransi)
5. Bahaya-bahaya yang ditanggung oleh si penjamin.
6. Mulai dan akhir tenggang waktu, dalam mana diadakan jaminan oleh si
penjamin.
7. Uang premi yang harus dibayar oleh si terjamin
8. Pada umumnya, hal-hal yang perlu diketahui oleh pihak pejamin, serta hal-
hal janji tertentu yang diadakan antara kedua belah pihak

21
PENUTUP

A. Kesimpulan

Menurut UU no.40 tahun 2014 tentang Usaha Perasuransian, asuransi atau


pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak
penanggung mengikatkn diri kepada tertanggung, dengan menerima premi
asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian,
kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab
hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul
dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran
yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.

B. Saran

Sebaiknya masyarakat mengikuti program asuransi, karena program ini memiliki


banyak manfaat bagi pihak tertanggung, seperti yang telah kami uraikan dalam
materi makalah ini.

22
DAFTAR PUSTAKA

 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang. Cetakan IV. Citra Umbara,


Bandung. 2010

 https://anzdoc.com/bab-ii-pengaturan-asuransi-di-indonesia-a-pengertian-
dan-das.html

 Muhammad, Abdul Kadir, Hukum Asuransi Indonesia, Bandung : PT


Citra Aditya Bakti, 2006.

 https://dosenekonomi.com/bisnis/asuransi/dasar-hukum-asuransi

23