Anda di halaman 1dari 8

IDENTIFIKASI MASALAH PENYEDIAAN AIR BERSIH

DI IBUKOTA KABUPATEN KUTAI BARAT DAN


ALTERNATIF PEMECAHANNYA
P. Nugro Rahardjo
Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Abstract
As the capital city of West Kutai Regency, Sendawar still has a lot of problems relating to
clean water supply for its residence. Those problems are caused by the very limited
capability of local water authority (PDAM), the worse of environment management and
water pollutions. Water pollutions occur because of improper mining activities (gold, silver
and coal), domestic wastewater and sediment particles affected by increasing run off
coefficient and erosion. Therefore the quality of surface water (River Mahakam) becomes
worse and worse. PDAM Problems are not only being able to serve clean water need just
for 19% residence in Sendawar, but also the low capability of human resources. There
are three ways to solve those problems. Firstly, it is very important to apply a concept
“One River One Management” in the Mahakam Catchment Area. Secondly, Application of
wastewater treatment technology must be carried out to reduce the pollutants produced
from mining industries and municipal area. The third is by improving the human resource
quality, especially in the field of environment and sustainable development.

Katakunci : Water resource, Water authority, Pollution control, human resource

1. PENDAHULUAN sekarang ini, baru sekitar 8 kecamatan saja


yang telah mempunyai PDAM (Perusahaan
1.1. Latar Belakang Daerah Air Minum), itu pun beberapa PDAM
Sejak kebijakan Pemerintah Indonesia sudah ada yang tidak beroperasi lagi karena
dalam hal otonomi daerah, banyak propinsi dan masalah kekeringan, teknis dan manajemen.
kabupaten yang mengalami pemekaran, Untuk penyediaan air bersih di pedesaan
sehingga melahirkan propinsi atau kabupaten kondisinya lebih parah lagi. Sebagian besar
baru. Demikian halnya dengan Kabupaten Kutai, masyarakat pedesaan belum memperoleh
Kabupaten ini terbagi menjadi 4, yaitu Kota pemenuhan kebutuhan air bersihnya,3) bahkan
Bontang, Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten di ibu kota Kabupaten, yaitu di Sendawar,
Kutai Tengah (Kartanegara) dan Kabupaten PDAM di Barong Tongkok sudah tidak dapat
Kutai Barat. Wilayah Kabupaten Kutai Barat berproduksi lagi, karena pada musim kemarau
memang tergolong di kawasan pedalaman, yaitu panjang (tahun 2003) sumber air baku yang
di kawasan hulu Sungai Mahakam, jadi tidak berupa sungai kecil sudah mengering.2) Untuk
memiliki pantai atau laut. Karena letaknya yang mengambil air baku dari Sungai Mahakam
di pedalaman, maka pengembangan dan ternyata juga tidak mudah, karena jaraknya
pembangunannya pun tampak tertinggal, terlalu jauh. Sementara ini kebutuhan air bersih
dibandingkan dengan kabupaten yang lainnya. untuk masyarakat dan perkantoran di kota
Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai Sendawar hanya disuplai dari PDAM di
Barat sedang berupaya keras untuk Kecamatan Melak.1) Namun kapasitas
membangun daerah dan masyarakatnya dengan produksinya masih jauh dari kebutuhan yang
memanfaatkan seluruh sumber daya yang ada, diminta oleh penduduk ibu kota tersebut. Karena
baik sumber daya alam, mau pun sumber daya itu secara umum masalah penyediaan air bersih
manusianya. Beberapa potensi sumber daya di ibu kota Kabupaten Kutai Barat masih
alam yang tampak nyata adalah batubara, merupakan masalah yang tergolong sulit.
emas, hasil hutan (kayu) dan indahnya wisata Sehubungan dengan masalah
alam di daerah hulu Sungai Mahakam yang penyediaan air bersih pada umumnya,
berbukit-bukit, serta energi potensial air Sungai khususnya di ibu kota Kabupaten Kutai Barat,
Mahakam bagian hulu. maka sebagai tahap awal dibutuhkan satu
Sampai tahun 2003 terdapat 15 survey untuk mengidentifikasikan permasalahan
kecamatan dalam wilayah Kabupaten Kutai tersebut dan sekaligus mencari upaya
Barat. Direncanakan pada tahun 2004 akan pemecahan atau solusinya.
dilakukan pemekaran jumlah kecamatan
menjadi 21. Dari 15 kecamatan yang ada

Nugro Raharjo. P. 2004: Identifikasi Masalah …. J.Tek.Ling. P3TL-BPPT.5.(2):103-110 103


1.2. Tujuan yang terdapat pada beberapa institusi
pemerintah daerah, misalnya PDAM, Dinas
Tujuan dari kegiatan ini adalah Kesehatan, Dinas Kimpraswil (Pekerjaan
mengindentifikasi permasalahan penyediaan air Umum) dan lembaga-lembaga lain yang terkait.
bersih di Ibu Kota Kabupaten Kutai Barat, serta Perolehan data-data mentah dari lembaga atau
juga mencari pemecahan masalah-masalah instansi pemerintah daerah tersebut adalah
yang telah teridentifikasi. data-data sekunder.

1.3. Ruang Lingkup 2.2. Survey

Ruang lingkup kegiatan ini adalah : Untuk memperoleh data-data atau


¾ Permasalahan yang ditinjau adalah masalah informasi yang aktual dibutuhkan survey
penyediaan air bersih atau yang berkaitan langsung baik ke masyarakat pengguna air
dengan upaya pemenuhan kebutuhan air bersih maupun ke pejabat dari suatu instansi-
bersih. instansi terkait. Data-data yang diperoleh dari
¾ Lingkup atau batasan lokasi adalah wilayah survey seperti itu digolongkan sebagai data
Ibu Kota Kabupaten Kutai Barat, Sendawar. primer. Survey penyediaan dan kebutuhan air
¾ Batasan waktu pelaksanaan kegiatan ini bersih untuk masyarakat dilakukan melalui
adalah dalam periode tahun 2003. kegiatan kuesionering atau wawancara
langsung dengan mengambil sekitar 500
2. METODOLOGI responden secara acak. Wawancara juga dapat
dilakukan selain terhadap pejabat instansi
2.1. Pengumpulan Data Sekunder pemerintah terkait, juga dilakukan terhadap
tokoh-tokoh masyarakat setempat.
Untuk mengetahui gambaran kondisi
penyediaan air bersih bagi masyarakat dan
semua kebutuhan air bersih untuk umum
(institusi, industri, dll.) diperlukan data-data
mentah (buku-buku literatur atau laporan teknis)

Gambar 1 : Peta lokasi Kabupaten Kutai Barat dan Kota Sendawar.4)

104 Nugro Raharjo. P. 2004: Identifikasi Masalah …. J.Tek.Ling. P3TL-BPPT.5.(2):103-110


3. GAMBARAN UMUM Mahakam sebagai air baku dirasakan terlalu
jauh, yaitu lebih dari 5 km, sehingga dibutuhkan
3.1. Sumber Daya Air pipa transmisi cukup panjang yang tentunya
membutuhkan biaya investasi yang cukup
Sungai Mahakam merupakan sungai besar, menurut kemampuan finansial
induk untuk seluruh kabupaten yang dulu Pemerintah Daerah setempat.
disebut sebagai Kabupaten Kutai. Kabupaten Sebagian besar masyarakat yang tidak
Kutai Barat terletak di daerah hulu Sungai memperoleh suplai air bersih dari PDAM
Mahakam. Potensi sumber daya air di berupaya sendiri untuk dapat memenuhi
Kabupaten Kutai Barat bertumpu pada Sungai kebutuhan air bersihnya. Ada yang sudah
Mahakam dan kawasan hutan, baik hutan terbiasa menggunakan bahan kimia, yaitu zat
produksi atau pun hutan lindung (taman/hutan penggumpal (coagulant). Dengan air baku
nasional). Daerah tangkapan air yang paling berupa air sungai Mahakam atau anak-anak
besar jumlah potensi dan kapasitasnya dalam sungainya, kekeruhan air sungai dapat diatasi
hal kemampuannya menampung air adalah dengan menggunakan Aluminium Sulfat atau
kawasan hutan lindung ini. Namun ternyata yang dikenal dengan nama tawas. Namun
kondisi kawasan hutan semakin karena harga bahan penjernih atau penggumpal
memprihatinkan. Kerusakan hutan yang tersebut semakin mahal saja, maka banyak
disebabkan oleh adanya peladang berpindah, penduduk yang sudah tidak mampu lagi
pencurian kayu dan pengembangan untuk mengolah airnya sendiri, sehingga mereka
kawasan pemukiman, budidaya pertanian atau terpaksa menggunakan air sungai yang terlebih
kegiatan pertambangan. Kerusakan hutan ini dahulu diendapkan secara fisik saja. Pada saat
semakin parah lagi karena adanya kebakaran musim hujan masyarakat setempat juga
hutan yang selalu terjadi pada musim-musim berupaya menampung air hujan untuk
kemarau. Lemahnya sistem pengawasan hutan memenuhi kebutuhan air bersihnya.
lindung dan buruknya cara pemeliharaan atau
perlindungannya merupakan faktor lain lagi yang 4. PERMASALAHAN AIR BERSIH DAN
semakin membuat ketidak-mampuan dalam hal ALTERNATIF PEMECAHANNYA
pencegahan terhadap berkurangnya areal hutan
tersebut. Dengan fenomena seperti itu, maka 4.1. Sumber Air Baku
dikhawatirkan kelestarian sumber daya air juga
akan terancam dan pada saatnya nanti Sungai Mengulas masalah air bersih tidak dapat
Mahakam mungkin saja akan mengalami lepas dari ketersediaan dan kondisi sumber air
kekeringan dan tidak lagi mampu mengalirkan baku. Untuk pengolahan air bersih, standar
air ke daerah hilirnya. kebutuhan kualitas air baku mengacu pada
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
3.2. Pemenuhan Kebutuhan Air Bersih dan Nomor 20 tahun 1990 tentang Pengendalian
Perusahaan Daerah Air Minum Pencemaran Air, Bab III tentang Penggolongan
Air, yaitu air yang sesuai untuk air baku air
Sendawar sebagai Ibu kota Kabupaten minum masuk dalam golongan B. Peraturan
Kutai Barat meliputi dua Kecamatan besar, yaitu Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 tahun
Kecamatan Melak dan Barong Tongkok. Pada 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
tahun 2004 akan terdapat pemekaran menjadi 3 Pengendalian Pencemaran Air, menggolongkan
Kecamatan, yaitu ditambah dengan Kecamatan air baku yang sesuai untuk air baku air minum
Sekolah Darat. Kondisi pemenuhan kebutuhan menjadi kelas II. Namun kedua PP tersebut
air bersih bagi masyarakat di Ibu kota secara umum mempunyai standar yang sama
Kabupaten Kutai saat ini sebenarnya masih dan perbedaannya hanya terdapat pada
memprihatinkan. Dari empat daerah yang besar beberapa parameter saja, ini pun dengan
yang ada di Ibu Kota Kabupaten Kutai Barat perbedaan nilai kualitas yang sangat tipis.5)
(Sendawar, Melak, Barong Tongkok dan Dari hasil survey diketahui bahwa
Sekolah Darat) baru dua yang mempunyai sebagian besar upaya pemenuhan kebutuhan
PDAM. Perusahaan Daerah Air Minum yang air bersih untuk masyarakat menggunakan
memproduksi air bersih atau air minum untuk sumber air baku air sungai. Baik PDAM atau
Ibu Kota Kabupaten adalah PDAM Melak dan pun masyarakat yang tidak memperoleh air
PDAM Barong Tongkok. Kapasitas maksimum bersih dari PDAM sama-sama memanfaatkan
dari kedua PDAM ini masih jauh dari jumlah air sungai sebagai sumber air utama.
kebutuhan air bersih seluruh masyarakat ibu Masyarakat yang tidak terlayani PDAM sebesar
kota. Pada musim kemarau PDAM Barong 81% dari jumlah penduduk di Sendawar. 63%
Tongkok tidak dapat lagi beroperasi, karena dari masyarakat yang tidak memperoleh
sumber air bakunya yaitu anak sungai Mahakam pelayanan PDAM tersebut menggunakan air
sudah mengering. Untuk mengambil air sungai sungai sebagai pemenuhan kebutuhan air

Nugro Raharjo. P. 2004: Identifikasi Masalah …. J.Tek.Ling. P3TL-BPPT.5.(2):103-110 105


bersihnya, sedangkan sisanya yaitu 37% hutan yang jelas merupakan daerah yang
memanfaatkan air tanah dangkal. Tetapi pada dapat dan mampu melakukan penyimpanan
musim hujan ada masyarakat (hanya 14%) yang air, kenyataannya jumlah dan luasnya
mengandalkan air hujan sebagai sumber air semakin berkurang.
baku utamanya. Di musim kemarau masyarakat
ini seringkali membeli air dari penjual air keliling ¾ Berkaitan dengan hal tersebut di atas, maka
yang menjual air PDAM. laju pengurangan kawasan hutan akan
Masyarakat yang menggunakan air tanah semakin terus tidak terkendali. Hal ini
dangkal dalam pemenuhan kebutuhan air disebabkan oleh buruknya pengelolaan
bersihnya, ternyata juga tidak terlalu peduli hutan, khususnya hutan lindung. Sebagian
dengan keadaan sumber air bakunya tersebut. hutan yang seharusnya dilindungi dan
Mereka tidak menjaga kemungkinan terjadinya dilestarikan malahan banyak yang
pencemaran pada air sumur dangkalnya. Hal ini mengalami penjarahan. Banyaknya
ditunjukkan dari hasil survey, yaitu hampir 82% pencurian kayu hutan setiap harinya, betapa
masyarakat yang menggunakan air tanah pun kecilnya, namun tetap merupakan
dangkal tidak peduli bahwa tangki septiknya ancaman yang sangat serius. Masih adanya
sangat dekat atau bersebelahan dengan air pola hidup masyarakat sebagai peladang
sumurnya dan juga limbah cair rumah berpindah yang selalu membabat hutan
tangganya tergenang di sekitar lokasi sumur untuk pemukiman dan kemudian setelah
dangkalnya. Sekitar 69% masyarakat ini tanah pemukiman tersebut tidak lagi subur,
sebenarnya sudah mengetahui bahwa maka mereka akan berpindah dan
pencemaran dapat terjadi terhadap sumber air melakukan hal yang sama untuk kawasan
bersih mereka. hutan yang lain. Pembabatan hutan juga
Masyarakat yang menggunakan sumber dilakukan pada daerah atau kawasan yang
air permukaan atau air sungai sebagai sumber diketahui mempunyai potensi dan deposit
air bersihnya yang utama, ternyata mereka bahan tambang tertentu, misalnya batubara
kebanyakan tinggal dekat dengan sungai. 73% atau emas. Selain itu pengurangan kawasan
dari masyarakat ini ternyata juga tidak peduli hutan juga terjadi sebagai akibat program-
dengan pelestarian kualitas air sungainya. Hal program pembangunan daerah, misalnya
ini ditunjukkan dengan kebiasaan mereka yang pembuatan jalan atau untuk pengembangan
membuang semua limbahnya (baik padat mau dan pembangunan sarana-sarana umum
pun yang cair) ke dalam aliran sungai. Sisanya, atau kantor-kantor pemerintah daerah
yaitu 27% masyarakat ini, biasa membakar lainnya.
sampah padatnya dan tidak pernah
membuangnya ke sungai. Namun limbah cair Untuk mengatasi permasalahan tidak
mereka tetap dialirkan ke sungai. Untuk adanya sistem pengelolaan sungai secara
pengambilan air bersihnya, mereka biasa terpadu adalah dengan menerapkan suatu
mengambil air sungai pada waktu subuh atau konsep satu sungai satu pengelola (“one
pagi dini hari. catchment area one management”). Dengan
adanya satu badan pengelolaan kawasan DAS
4.2. Pengelolaan Sungai (Daerah Aliran Sungai) Mahakam (dari hulu
hingga hilir), maka pelestarian dan peningkatan
Di daerah Kabupaten Kutai Barat potensi sumber daya alam di Daerah Aliran
seluruh kebutuhan air baku untuk pengolahan Sungai Mahakam akan dapat dilakukan secara
air minum atau air bersih sangat bergantung dari terprogram dan didukung secara luas oleh
sumber air permukaan, yaitu air sungai semua pemerintah kabupaten atau kota yang
Mahakam dan anak-anak sungainya. Sumber ada dalam DAS Mahakam.
daya air termasuk dalam sistem sumber daya Dengan menerapkan konsep ini niscaya
alam. Untuk dapat menjamin kelestarian sumber hasil keuntungan dari setiap pemanfaatan
daya air terlebih dahulu haruslah menjaga Sungai Mahakam dari hulu hingga hilir akan
potensi sumber daya alam yang ada dan dibagikan juga untuk kepentingan pemeliharaan
bahkan apabila mungkin meningkatkannya. dan peningkatan potensi DAS Mahakam.
Permasalahan yang berhubungan dengan Terjadinya pengurangan kawasan hutan
pengelolaan sungai sebagai sumber air baku sebagai akibat dari beberapa hal seperti yang
utama untuk air bersih adalah : telah diuraikan sebelumnya, juga akan lebih
mudah dipantau dan kemudian diupayakan
¾ Yang terjadi sekarang ini adalah tidak untuk melakukan pembatasan penebangan
adanya sistem pengelolaan sungai secara hutan dan suatu langkah kompensasi pengganti
terpadu. Sebagai akibatnya adalah tidak ada (reboisasi) untuk tetap menjaga potensi sumber
yang benar-benar berusaha menjaga atau daya alam di DAS Mahakam.
bahkan meningkatkan potensinya. Kawasan

106 Nugro Raharjo. P. 2004: Identifikasi Masalah …. J.Tek.Ling. P3TL-BPPT.5.(2):103-110


4.3. Pencemaran Lingkungan Mahakam ialah limbah rumah tangga. Limbah ini
sangat bervariasi, mulai dari yang berbentuk
Sebenarnya tidak adanya sistem pengelolaan padatan (plastik, kertas, dll.) sampai yang
Sungai Mahakam berdampak sangat parah dan berupa air limbah yang cukup tinggi nilai BOD-
sangat luas. Eksplorasi dan Eksploitasi sumber nya (Biochemical Oxygen Demand > 1000 ppm).
daya alam di DAS Mahakam yang tidak Masalah pencemaran lain yang juga
terkendali ternyata sangat berdampak negatif, mengakibatkan buruknya kualitas air sungai
yaitu berkurangnya kemampuan alam untuk adalah tingginya tingkat erosi di DAS Mahakam,
melakukan pemulihannya secara mandiri (self terutama di bagian hulu. Akibat penebangan
purification) terhadap segala gangguan hutan yang jauh lebih cepat dari pada
keseimbangan dalam sistem DAS Mahakam penghijauan (reboisasi) kembali, maka run-off
tersebut. Gangguan-gangguan yang telah terjadi (limpasan air hujan di permukaan) menjadi
dan terus berlangsung hingga kini adalah tidak semakin besar dan akibat lanjutannya adalah
terkendalinya bahan-bahan buangan sebagai meningkatnya penggerusan permukaan tanah
hasil kegiatan pemanfaatan sumber daya alam sehingga partikel-partikel pengotor yang masuk
tersebut. Bahan-bahan buangan atau limbah ke dalam sungai mengakibatkan tingginya
yang menimbulkan masalah bagi Sungai derajat kekeruhan.
Mahakam berasal dari kegiatan penambangan Untuk mengatasi masalah pencemaran
emas, baik yang legal mau pun yang tidak. lingkungan ini perlu dilakukan beberapa upaya,
Penambangan emas yang legal adalah antara lain koordinasi dari berbagai instansi
yang dilakukan oleh P.T. KEM (Kelian Equatorial terkait, pemasyarakatan konsep pembangunan
Mining) di Desa Tutung Jaya, Kecamatan berkelanjutan (berwawasan lingkungan),
Linggang Bigung. Penambangan ini telah teknologi pengolahan limbah dan peningkatan
berlangsung selama 12 tahun dan pada tahun kondisi sosial-budaya-ekonomi masyarakat
2004 penambangan akan ditutup, karena jumlah serta peningkatan kualitas sumber daya
depositnya memang sudah tidak ekonomis lagi manusia.
untuk ditambang. P.T. KEM rata-rata dapat
memproduksi emas sebanyak 15 ton per tahun 4.4. Perusahaan Daerah Air Minum
dan perak sekitar 14 ton. Areal
pertambangannya mencapai 6.670 hektar dan Kapasitas PDAM Melak adalah 17,5 liter
daerah pertambangan yang luas ini per detik atau maksimum mencapai 1.512 M3
menyebabkan kerusakan lingkungan yang per hari.1) Bila beroperasi, kapasitas PDAM
sangat besar. Barong Tongkok sekitar 10 liter per detik.2)
Tingkat erosi di daerah ini sangat tinggi, Dengan penduduk yang hampir mencapai
sehingga selain memang membawa limbah hasil 40.000 jiwa, maka pada saat kemarau penduduk
proses produksi, juga limpasan air hujan yang tersuplai air bersih hanya mencapai sekitar
membawa kekeruhan yang sangat tinggi masuk 7500 jiwa atau 19%, ini pun dengan asumsi atau
ke sungai Mahakam. Pencemaran yang terjadi bila tidak ada sama sekali kebocoran pada pipa
tergolong sangat berat. Kekeruhan sungai distribusi dan kapasitas produksinya pada
Mahakam pada musim hujan dapat mencapai tingkat maksimum. Perhitungan tersebut di atas
lebih dari 100 NTU. Kegiatan penambangan lain berdasarkan pada jumlah kebutuhan air bersih
yang juga mempunyai jumlah limbah yang besar rata-rata adalah 200 liter per hari per orang.
adalah penambangan batubara. Sementara itu Jumlah pelanggan PDAM Melak pada saat ini
limbah yang berasal dari kawasan pemukiman baru mencapai 1400. Jumlah tersebut jauh di
(limbah domestik) juga berperan cukup besar bawah permintaan dari masyarakat Ibu Kota
dalam pencemaran lingkungan. Kabupaten Kutai Barat ini.
Limbah yang tidak dikelola atau diolah PDAM sebagai instansi pemroduksi air
lebih dahulu dan langsung dibuang ke minum mempunyai masalah yang cukup pelik.
lingkungan mengakibatkan pencemaran Sedikit demi sedikit masalah-masalah kecil yang
lingkungan. Proses pengambilan emas dari terjadi didiamkan terus dan akhirnya
bahan batuan pengotornya umumnya digunakan terakumulasi menjadi masalah yang sangat
logam Hg. Dengan demikian dalam limbah dari besar dan seolah tidak akan mampu dapat
proses pengolahan emas juga terkandung diatasi oleh PDAM sendiri. Secara umum
logam Hg. Jadi pencemaran logam berat permasalahan PDAM dapat dibagi menjadi dua,
tersebut sungguh-sungguh berbahaya. Limbah yaitu masalah teknis dan non teknis. Masalah-
yang berasal dari kegiatan penambangan batu masalah teknis yang ada yaitu kebocoran pada
bara umumnya mengandung sulfur (belerang). perpipaan distribusi, sistem peralatan
Limbah ini sangat bersifat asam dan tentu juga pengolahan air yang sudah kurang efisien,
menyebabkan pencemaran yang sangat berarti. buruknya kualitas air baku (sungai Mahakam)
Limbah lain yang juga mencemarkan Sungai dan keterbatasan lahan untuk pengembangan
instalasinya. Masalah non teknis yang utama

Nugro Raharjo. P. 2004: Identifikasi Masalah …. J.Tek.Ling. P3TL-BPPT.5.(2):103-110 107


adalah keterbatasan SDM dan sistem (belerang) menjadi bahan-bahan pencemar
manajemen. Masalah non teknis yang lain, yaitu yang dominan dari sektor industri dan
perilaku atau kondisi sosial-budaya masyarakat penambangan ini. Limbah cair domestik yang
umum di Ibu Kota Kabupaten Kutai Barat. didominasi oleh bahan-bahan pencemar organik
Masalah ini dapat pula menjadi masalah juga menambah beban yang sangat berarti.
tersendiri yang lepas dari PDAM, karena itu Akibat dari pencemaran fisik dan kimia ini, maka
akan dibahas singkat pada bagian berikutnya. kualitas air sungai Mahakam menurun sangat
Masalah kebocoran sistem perpipaan drastis.
distribusi diperkirakan masih di bawah 4%. Hal tersebut berdampak pada biaya
Berdasarkan pengamatan di lapangan, pengolahan atau biaya produksi yang semakin
khususnya di sepanjang dan seluas jaringan tinggi. Berdasarkan perhitungan dari bagian
pipa distribusi, tidak dijumpai adanya kebocoran manajemen PDAM Melak, untuk memproduksi 1
yang sampai muncul ke permukaan tanah atau m3 air minum dibutuhkan biaya rata-rata sebesar
jalan umum. Namun dari kapasitas produksi Rp.1200,-. Karena itu PDAM Melak terpaksa
PDAM Melak (17,5 liter per detik), dimana air menjual air minum dengan harga Rp.1600,- per
minum ditampung dalam dua buah bak m3. Harga air minum sebesar itu merupakan
penampung besar, dan berdasarkan pencatatan harga air termahal di Indonesia atau paling tidak
data pelanggan serta pencatatan water meter, sama dengan harga air minum di P. Batam.
diketahui bahwa terdapat sejumlah kehilangan Masalah teknis yang lain adalah
air rata-rata 0,4 sampai 0,5 liter per detik. Hal ini terbatasnya lahan milik PDAM Melak sekarang
menunjukkan memang tetap terjadi kebocoran ini. Lahan yang sekarang ada sudah tidak
dalam sistem perpipaan distribusi yang mungkin lagi untuk diperluas, karena sudah
sebagian sudah termonitor dan sebagian lagi berbatasan langsung dengan rumah/pemukiman
belum diketahui titik-titik lokasi kebocorannya. penduduk. Karena itu untuk mengembangkan
Tingkat kebocoran yang hanya mencapai 3 – 4 instalasi dan kapasitas produksi diupayakan
% ini, sebenarnya digolongkan tidak berat. suatu lokasi baru yang strategis dan dekat
Bandingkan dengan PDAM Jakarta yang dengan sungai Mahakam.
mempunyai tingkat kebocoran teknis rata-rata
lebih dari 15%, sehingga dimana-mana sering 4.5. Sosial, Ekonomi dan Budaya
terlihat genangan air bersih di sebagian Masyarakat
cekungan jalan yang tampak seperti mata air.
Unit-unit pengolahan air yang digunakan Secara umum penduduk di Kabupaten Kutai
dalam PDAM Melak adalah unit-unit yang Barat yang berjumlah sekitar 140.000 jiwa masih
menggunakan teknologi Activated Sludge menghadapi berbagai masalah sosial. Jumlah
Blanket dan sistem ini sudah berjalan 20 tahun penduduk miskin yang tercatat adalah sekitar
lebih. Beberapa bagian dari unit clarifier sudah 18.120 jiwa atau 12% lebih dari jumlah
tampak ada kebocoran, walaupun tidak besar penduduk. Penduduk miskin tersebut tersebar
dan demikian juga pada unit-unit yang lainnya, hampir secara merata di seluruh kecamatan,
seperti saringan pasir cepat dan sistem dosing. tidak terkecuali di Sendawar. Kondisi sosial
Kondisi peralatan yang sudah cukup berat perlu ekonomi masyarakat di Sendawar masih
dilakukan rehabilitasi. PDAM Melak pernah menunjukkan tingkat yang rendah. Tingkat
melakukan pengembangan kapasitas produksi pendidikan rata-rata penduduknya adalah antara
dengan penambahan instalasi baru, namun SD dan SLTP. Buruknya kondisi sosial ekonomi
pemaduan dua sistem yang berbeda proses tersebut disebabkan karena sangat terbatasnya
pengolahan penjernihannya tersebut tidak dapat sarana dan prasarana pendidikan, minimnya
disatukan, sehingga sampai sekarang sarana kesehatan, serta terbatasnya
sebenarnya masih terdapat dua sistem yang infrastruktur. Sebagai contoh saja, jumlah SLTP
berjalan sendiri-sendiri. Situasi tersebut di Kabupaten ini hanya 22 sekolah, sedangkan
mempersulit dalam hal perawatan dan untuk SMU tercatat hanya 6 sekolah dan itu
pengoperasiannya, juga dalam hal penekanan berarti sebagian besar kecamatan belum
biaya operasinya. memiliki SMU.
Berkaitan dengan tidak terkendalinya Dengan kondisi sosial ekonomi
kawasan hulu sungai Mahakam ini, maka erosi masyarakat yang sedemikian rendah, maka
dan limbah cair yang masuk ke sungai sudah dapat dikatakan bahwa kualitas SDM juga
menunjukkan tingkat yang memprihatinkan. sangat rendah. Hal ini berdampak kepada
Kekeruhan air sungai semakin tinggi, terutama rendahnya tingkat pemahaman akan pentingnya
pada musim-musim hujan. Limbah cair yang sumber daya alam dan lingkungan. Konsep
berupa bahan-bahan kimia dari kegiatan pembangunan berwawasan lingkungan
penambangan (emas dan batubara) tampaknya belum banyak menjangkau sebagian
menyebabkan unsur logam berat dan sulfur besar masyarakat di kota Sendawar ini. Bukti-
bukti yang menunjukkan bahwa masyarakat

108 Nugro Raharjo. P. 2004: Identifikasi Masalah …. J.Tek.Ling. P3TL-BPPT.5.(2):103-110


tidak banyak peduli terhadap pentingnya yang tingkat sosial-ekonominya masih
menjaga kualitas lingkungan dapat terlihat rendah. Permasalahan internal PDAM
secara langsung pada kebiasaan-kebiasaan adalah keterbatasan kualitas SDM dan
sehari-harinya. Masyarakat terbiasa membuang sistem manajemennya. Permasalahan
sampah padat atau pun limbah cairnya langsung eksternal adalah kurangnya ketersediaan
ke selokan-selokan kecil atau di kali, atau air baku yang baik dan keterbatasan lahan
bahkan langsung ke Sungai Mahakam. Dengan untuk pengembangan sarana fisiknya.
demikian pencemaran yang terjadi di sungai
Mahakam menjadi semakin parah. 5.2. Saran
Melihat permasalahan di bidang sosial,
ekonomi dan budaya masyarakat di Sendawar a) Berkaitan dengan butir pertama dan kedua,
khususnya, dibutuhkan suatu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut
peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui dibutuhkan adanya suatu sistem
program-program yang berorientasi pada tujuan pengelolaan sumber daya alam secara
meningkatkan kualitas SDM masyarakat umum. khusus, yaitu pengelolaan terpadu untuk
Peningkatan di bidang pendidikan, baik dari suatu Daerah Aliran Sungai Mahakam.
kuantitas sarana pendidikan, seperti jumlah
sekolah, mau pun berikut kualitasnya. b) Untuk mengatasi masalah pencemaran air
Penyuluhan-penyuluhan untuk masyarakat dibutuhkan penerapan teknologi bersih dan
umum harus sering dilakukan terutama oleh teknologi pengolahan limbah. Hal ini harus
instansi-instansi pemerintah daerah setempat. disosialisasikan lebih dulu baru kemudian
Penyuluhan selayaknya yang mempunyai topik- diterapkan sesuai kondisi dalam unit proses
topik kesehatan dan pelestarian lingkungan. produksi. Pencemaran akibat limbah
Peningkatan kesejahteraan masyarakat juga domestik dapat ditanggulangi dengan on
dapat dilakukan dengan memberikan pelayanan site treatment. Sistem pengolahan skala
pemenuhan kebutuhan air bersih. Dengan kecil atau rumah tangga dapat diterapkan
demikian kondisi kesehatan masyarakat juga guna memenuhi baku mutu limbah cair
akan meningkat. (BOD < 75 ppm) yang boleh dibuang ke
badan air penerima atau air permukaan.
5. KESIMPULAN DAN SARAN
c) Masalah rendahnya perhatian masyarakat
5.1. Kesimpulan terhadap kelestarian sumber daya air dan
perlunya peningkatan kondisi kesehatan
a) Sumber air utama bagi sebagian lingkungan dapat dilakukan dengan suatu
masyarakat dan PDAM di ibukota perencanaan dan pelaksanaan program
Kabupaten Kutai Barat adalah air peningkatan kualitas SDM masyarakat
permukaan, yaitu sungai Mahakam dan secara umum.
anak-anak sungainya. Namun karena
buruknya sistem pengelolaan lingkungan,
maka baik kuantitas maupun kualitasnya
kian menurun. Pada musim hujan
kualitasnya sangat buruk dan kuantitasnya
melebihi kapasitas sungai itu sendiri,
sehingga menimbulkan banjir di beberapa
tempat. Sementara itu air tanah dangkal
merupakan sumber air baku utama bagi
masyarakat yang tidak memperoleh air
bersih dari PDAM.

b) Permasalahan rendahnya kualitas sumber


air baku untuk air bersih didominasi oleh
masalah pencemaran. Pencemaran yang
terjadi disebabkan karena limbah cair dari
kegiatan penambangan (emas dan
batubara), limbah cair rumah tangga
(domestik) dan tingginya tingkat erosi di
kawasan hulu.

c) PDAM hanya dapat melayani 19% jumlah


penduduk di Sendawar dengan harga air
bersih tergolong mahal bagi masyarakat

Nugro Raharjo. P. 2004: Identifikasi Masalah …. J.Tek.Ling. P3TL-BPPT.5.(2):103-110 109


DAFTAR PUSTAKA

1. Anonymous, “Laporan Monografi


Kecamatan Melak” , Kutai Barat, 2002 dan
2003.
2. Anonymous, “Laporan Monografi
Kecamatan Barong Tongkok” , Kutai Barat,
2002 dan 2003.
3. Anonymous, “Laporan Monografi
Kecamatan Long Iram”, Kutai Barat, 2002
dan 2003.
4. M. Puteri Rosalina, “Otonomi – Kabupaten
Kutai Barat”, Kompas, 3 Desember 2003.
5. P. Nugro Rahardjo, “Metoda Penelitian
Masalah Pemenuhan Kebutuhan Air
Masyarakat”, Laporan Teknis, Direktorat
Teknologi Lingkungan, BPPT, 1999, 16-45.

110 Nugro Raharjo. P. 2004: Identifikasi Masalah …. J.Tek.Ling. P3TL-BPPT.5.(2):103-110