Anda di halaman 1dari 1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tumor/kanker tiroid merupakan neoplasma sistem endokrin yang terbanyak
dijumpai. Berdasarkan dari “Pathologycal Based Registration” di Indonesia kanker
tiroid merupakan kanker dengan insidensi tertinggi urutan ke sembilan.6 Insidensi
menunjukkan rasio antara laki-laki dan perempuan adalah 1:1,5 sampai 1:3 pada
sebagian besar negara. Pada sebagian besar negara, data tahunan insidensi kanker tiroid
per 100.000 individu berkisar dari 0,9 sampai 0,6 pada laki-laki dan 2,0 sampai 5,9 pada
perempuan.1
Berdasarkan histopatologinya, karsinoma tiroid berasal dari 2 jenis sel yang ada di
tiroid. Sel folikular merupakan asal dari karsinoma tipe papilare, folikulare dan
anaplastik. Sedangkan sel C atau sel parafolikular merupakan asal dari karsinoma tipe
medulare. Selain itu terdapat klasifikasi berdasarkan staging berdasarkan dari ukuran,
kelenjar getah bening regional dan metastasis dengan menggunakan TNM staging.
Malignansi dari kelenjar tiroid memiliki tingkatan keganasan mulai dari pertumbuhan
yang relatif lambat seperti karsinoma papiler, sampai dengan progresifitas yang tinggi
seperti karsinoma folikuler serta karsinoma anaplastik. Dari seluruh kejadian karsinoma
tiroid, 90% adalah karsinoma dengan berdiferensiasi baik, 5%-9% adalah karsinoma
medulare, 1%-2% adalah karsinoma anaplastik.2
Karsinoma tiroid yang paling banyak ditemukan adalah tipe papiler yaitu
ditemukan sebesar 80%-85 % dari semua kasus karsinoma tiroid,diikuti oleh tipe
folikuler (5%-10 %), 3%-5% jenis hartel cell dan MTC (sekitar 5%-9%) dan ATC 1%-
3, Limfoma didapatkan 1%-3% dan > 1% untuk sarkoma dan karsinoma jenis lainnya.2
Penegakan diagnosis karsinoma tiroid dapat dilakukan dengan melakukan
anamnesis, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang dapat berupa berupa fine
needle aspiration biopsy (FNAB), fine needle aspiration cytology (FNAC), atau dengan
menggunakan USG.3 Mengenal dan mendiagnosis karsinoma tiroid sejak dini
merupakan tujuan dari dibuatnya makalah ini.