Anda di halaman 1dari 14

DOSEN PENGAMPU : DIAN EKAWATI, S.H,.M.

H
DISUSUN OLEH KELOMPOK 1 01FARE02 :

1. Aidin Linduarta 181040400123


2. Al Kautsar 181040400172
3. Allysa Finolawati 181040400163
4. Andita Ayu Amelia 181040400110
5. Anis Rahman 181040400069
6. Bambang Tri Hartono 181040400153
7. Betty Paradipa 181040400089

STIKES KHARISMA PERSADA


KESADARAN Jl. Waru 2 no. 19, Pamulang Bar
Pamulang, kota Tangerang selatan, Banten 15417

MEMBAYAR PAJAK
PANCASILA
KATA PENGANTAR
Puji syukur tuhan yang maha esa atas segala rahmatnya sehingga makalah ini dapat tersusun hingga
selesai. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari pihak yang telah
berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bgi para pembaca,
untuk kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah agar lebih baik lagi.
Karena keterbatasan penngetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin masih banyak kekurangan
dalam makalah ini, oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari
pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Pamulang, oktober 2018

penyusun
DAFTAR ISI

Judul……………………………………………………………………………………………………………

Kata Pengantar…………………………………………………………………………………………………

Daftar Isi……………………………………………………………………………………………………….

Bab I Pendahuluan …………………………………………………………………………………………….

Latar belakang…………………………………………………………………………………………………

Rumusan masalah……………………………………………………………………………………………...

Tujuan………………………………………………………………………………………………………….

Bab II isi……………………………………………………………………………………………………….

Definisi pajak & pajak daerah…………………………………………………………………………………

Tingkat kesadaran masyarakat untuk membayar pajak daerah………………………………………………..

Strategi untuk meningkatkan kwsadaran masyarakat untuk membayar pajak daerah………………………...

Bab III penutup………………………………………………………………………………………………...

Kesimpulan…………………………………………………………………………………………………….

Saran………………………………………………………………………………………………………….
BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Sesuai amanat UUD 1945 Pasal 23, bahwa “Pajak merupakan kontribusi wajib rakyat kepada
negara baik orang pribadi maupun badan hukum atau warga negara terhadap negara, dengan tidak
mendapat imbalan atau kontraprestasi langsung dan digunakan untuk kepentingan negara serta
untuk kemakmuran rakyat. Hanya dengan menyisihkan sedikit bagian dari yang telah diperoleh,
akan dapat menyukseskan pembangunan yang nantinya akan memakmurkan negara ini.

Pajak yang berhasil dikumpulkan oleh pemerintah akan dijadikan sebagai salah satu sumber dana
untuk membiayai pembangunan dan sumber investasi. Penghasilan pajak juga digunakan untuk
pembiayaan dalam rangka memberikan rasa aman bagi seluruh lapisan masyarakat. Setiap warga
negara mulai saat dilahirkan sampai dengan meninggal dunia, menikmati fasilitas atau pelayanan
dari pemerintah yang semuanya dibiayai dengan uang yang berasal dari pajak. Dengan demikian
jelas bahwa peranan penerimaan pajak bagi suatu negara menjadi sangat dominan dalam
menunjang jalannya roda pemerintahan dan pembiayaan pembangunan. Disamping fungsi
budgeter (fungsi penerimaan), pajak juga melaksanakan fungsi redistribusi pendapatan dari
masyarakat yang mempunyai kemampuan ekonomi yang lebih tinggi kepada masyarakat yang
kemampuannya lebih rendah.

Kebijakan pemerintah tentang perpajakan telah mengalami perubahan berkali-kali sesuai dengan
perkembangan ekonomi di negara ini. Mulai tahun 2008 pemerintah telah berusaha untuk terus
meningkatkan penerimaan pajaknya melalui dua cara yaitu yang pertama, Itensifikasi pemungutan
pajak yaitu pajak yang diarahkan sebagai upaya meningkatkan penerimaan dari sumber pajak yang
telah ada. Kedua, extensifikasi yaitu upaya pemerintah meningkatkan penerimaan pajak dengan
jalan memperluas basis pajak. Kedua cara ini baru berhasil apabila didukung oleh administrasi
pajak yang baik dan meningkatnya kesadaran dari masyarakat akan kewajibannya.

Kondisi perpajakan di Indonesia, pada saat ini pajak menyumbang 75% porsi penerimaan negara,
pajak dihunakan untuk membiayai negara ini, gaji para PNS, biayai pendidikan, subsidi BBM,
melunasi hutang luar negeri, membangun sarana dan prasarana, dan lain sebagainya.

Namun pada kenyataannya di Indonesia yang sejak tahun 2005 memiliki NPWP (Nomor Pokok
Wajib Pajak) baru sekitar 7 juta orang. Bandingkan dengan jumlah penduduknya yang mencapai
230 juta orang, artinya hanya 3% penduduk Indonesia yang memiliki kesadaran membayar pajak.
Dari jumlah itu mungkin yang benar-benar melaporkan pajaknya dengan jujur dan sesuai dengan
kenyataannya hanya 50%nya saja. Jadi hanya 1,5% penduduk Indonesia yang memang benar-
benar sadar akan kepentingan pajak bagi negara.

Hal ini dapat dikarenakan kecenderungan masyarakat yang merasa terpaksa untuk membayar
pajak. Tidak ada rasa sadar yang muncul dari diri sendiri untuk senantiasa membangun negara.
Orang baru terpikir untuk membayar pajak saat merasa butuh, misalnya butuh NPWP untuk
kepentingan tender, atau butuh NPWP agar tidak terkena fiskal. Sedikit sekali yang mengurus
NPWP karena merasa peduli terhadap nasib bangsa.

Ketidakpahaman wajib pajak terhadap berbagai ketentuan yang ada dalam NPWP menjadikan
wajib pajak tersebut memilih untuk tidak ber NPWP dengan berbagai alasan. Dari alasan-alasan
yang dikemukakan oleh responden menunjukkan bahwa kesadaran responden untuk membayar
pajak memang masih rendah. Selain itu kekhawatiran akan penyalahgunaan uang pajak seringkali
menjadi pemikiran masyarakat. Bagaimana pajak itu akan dikelola dan ke mana uang pajak itu
akan disalurkan, mengingat timbal balik yang diberikan kepada masyarakat dianggap kurang.

Kelancaran dalam sistem perpajakan sangat bergantung pada sisi internal dan eksternal. Internal
datang dari pelayanan dari pemerintah, dan eksternal berasal dari tingkat kesadaran masyarakat
untuk membayar pajak. Karena pembayar pajak tidak menerima imbalan secara langsung, maka
pajak harus dikelola dengan baik. Melalui administrasi pengelolaan pajak yang baik diharapkan
mampu membangun kepercayaan masyarakat bahwa pajak pada akhirnya akan dikembalikan
kepada masyarakat pula.

Ada konsep terbaru yang mencoba digalakkan oleh pemerintah Indonesia dari sisi Internal yaitu
konsep modernisasi pajak yang berupa pelayanan prima dan pengawasan intensif dengan
pelaksanaan good governance. Tujuannya, meningkatkan kepatuhan pajak. Juga meningkatkan
kepercayaan masyarakat terhadap administrasi perpajakan, serta produktivitas pegawai pajak yang
tinggi. Hal mendasar dalam modernisasi pajak adalah terjadinya perubahan paradigma perpajakan.
Dari semula berbasis jenis pajak, sehingga terkesan ada dikotomi, menjadi berbasis fungsi. Lebih
mengedepankan aspek pelayanan kepada masyarakat. Kemudian didukung oleh fungsi
pengawasan, pemeriksaan, maupun penagihan pajak.

Namun konsep ini akan kurang maksimal apabila eksternal masyarakat tidak terlebih dahulu diberi
stimulus untuk menyukai membayar pajak. Mencoba menghilangkan kesan negatif, perlu kiranya
diadakan suatu metode yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Metode yang dapat
dilakukan berbasis pada sosialisasi dan timbak balik bagi masyarakat. Sosialisasi dapat dilakukan
melalui media elektronik dan media cetak. Dengan frekuensi informasi yang begitu sering diterima
oleh masyarakat dapat secara perlahan merubah mindset masyarakat tentang pajak ke arah yang
positif.

Sosialisasi dapat pula dilakukan dalam bentuk pengarahan secara langsung ke masyarakat melalui
pendekatan ke masing-masing kecamatan, desa, sampai RT/RW. Sosialisasi ini berupa penyuluhan
secara langsung kepada masyarakat di mana telah ada utusan khusus yang bertugas memberikan
penyuluhan kepada masyarakat terkait pentingnya pajak. Layaknya penyuluhan yang telah umum
seperti penyuluhan di bidang kesehatan, penyuluhan di bidang peternakan dan pertanian.

Dalam pelaksanaannya penyuluhan dapat dilakukan pada kegiatan yang biasa ada di masyarakat.
Misalnya pengajian rutin, kerja bakti, pertemuan karang taruna, dan kegiatan masyarakat lain.
Menyisipkan metode ini ke lingkungan sekolah juga dirasa cukup efektif untuk menumbuhkan
jiwa sadar akan pajak sejak dini.

Dalam penyuluhan ini terdapat 4 poin yang harus ditekankan yaitu, pemahaman, pelaporan,
pengawasan dan persuasif. Pemahaman merupakan poin yang harus diperoleh oleh masyarakat, di
mana masyarakat harus mengerti apa itu pajak, bagaimana prosedurnya, serta untuk apa nantinya
pajak itu. Pelaporan merupakan suatu keharusan yang dilakukan oleh penyuluh yaitu dengan
menjelaskan uang pajak berasal dari mana saja, dikelola oleh siapa, diperuntukkan untuk apa saja
dan dijelaskan secara konkret contoh yang telah ada di masyarakat.

2. RUMUSAN MASALAH
a. Apa itu pajak ?
b. Bagaimana kesadaran pajak diIndonesia ?
c. Bagaimana cara atau strategi agar membuat orang Indonesia sadar tentang pajak ?
3. TUJUAN
a. Mengetahui definisi pajak
b. Mengetahui kesadaran pajak di Indonesia
c. Mengetahui strategi kesadaran pajak di Indonesia
BAB II
ISI
1. DEFINISI PAJAK & PAJAK DAERAH

Pajak Menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro, Sh:


Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan
tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk
membayar pengeluaran umum.
Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pajak memiliki unsur-unsur:
1. Iuran dari rakyat kepada negara Yang berhak memungut pajak hanyalah negara. Iuran tersebut
berupa uang(bukan barang).
2. Berdasarkan undang-undang. Pajak dipungut berdasarkan atau dengan kekuatan undang-undang
serta aturan pelaksanaannya.
3. Tanpa jasa timbal atau kontraprestasi dari negara yang secara langsung dapat di tunjuk.
4. Digunakan untuk membiayai rumah tangga negara, yakni pengeluaran-pengeluaran yang
bermanfaat bagi masyarakat luas.
Pajak Menurut Sommerfeld Ray M., Anderson Herschel M., Dan Brock Horace R
Pajak adalah suatu pengalihan sumber dari sektor swasta ke sektor pemerintah, bukan akibat pelanggaran
hukum, namun wajib dilaksakanan, berdasarkan ketentuan yang ditetapkan lebih dahulu, tanpa mendapat
imbalan yang langsung dan proporsional, agar pemerintah dapat melaksanakan tugas-tugasnya untuk
menjalankan pemerintahan.
Sedangkan menurut pasal 1 angka 1 UU No. 6 Tahun 1983 sebagaimana telah disempurnakan terakhir
dengan UU No. 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, adalah kontribusi
wajib kepada negara yang terutang oleh otang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan
undang-undang, dengan tidak mendapatkan timbal balik secara langsung dan digunakan untuk keperluan
negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Sedangkan Pajak Daerah adalah pungutan yang dilakukan Pemerintah Daerah berdasarkan
peraturan perundangan yang berlaku. Pajak daerah dapat dibedakan dalam dua kategori yaitu pajak daerah
yang ditetapkan oleh peraturan daerah dan pajak negara yang pengelolaan dan penggunaannya diserahkan
kepada daerah. Di era otonomi daerah seperti sekarang ini, pajak daerah merupakan sumber penerimaan
penting dalam keuangan pemerintah daerah untuk menjalankan roda pemerintahan. Pajak daerah dapat
dibedakan menjadi pajak daerah tingkat provinsi dan pajak daerah tingkat II (kabupaten).

Salah satu ukuran kemampuan daerah untuk melaksanakan otonomi adalah dengan melihat besarnya nilai
Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang dapat dicapai oleh daerah tersebut. Dengan PAD yang relatif kecil
akan sulit bagi daerah tersebut untuk melaksanakan proses penyelenggaraan pemerintahan dan
pembangunan secara mandiri, tanpa didukung oleh pihak lain (dalam hal ini Pemerintah Pusat dan
Propinsi). Padahal dalam pelaksanaan otonomi ini, daerah dituntut untuk mampu membiayai dirinya
sendiri.
Melihat pentingnya pajak daerah (pajak), maka kesadaran masyarakat untuk membayar pajak
harus diperhatikan. Dengan lancar dan tertibnya masyarakat membayar pajak, diharapkan pembangunan
di daerah akan berlangsung dengan baik dan berkelanjutan. Namun kenyataannya, tingkat kesadaran
masyarkat dalam membayar pajak belum seperti yang diharapkan. Masih banyak masyarakat yang belum
taat dan patuh untuk membayar pajak daerah. Masyarkata banyak yang belum paham bahwa pajak itu
adalah kewajiban sebagai seorang warga negara.
2. TINGKAT KESADARAN MASYARAKAT UNTUK MEMBAYAR PAJAK DAERAH
Dalam tesisnya Utomo, Pudjo Susilo (2002) Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Kesadaran Masyarakat Untuk Membayar Pajak Bumi dan Bangunan di Kecamatan Karangtengah
Kabupaten Demak. Masters thesis, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro, menjelaskan bahwa:
Faktor-faktor yang mempengaruhi kesadaran masyarakat untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan.
Faktor yang cukup menonjol adalah kepemimpinan, kualitas pelayanan, dan motivasi. Pemimpin harus
mampu menciptakan kemudahan untuk merangsang kesadaran yang dipimpin, dalam hal ini adalah
kesadaran masyarakat untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan. Pelayanan masyarakat merupakan
salah satu tugas lurah desa, memberi pelayanan yang berkualitas telah menjadi obsesi yang selalu ingin
dicapai. Motivasi adalah dorongan agar orang mau melakukan sesuatu dengan ikhlas dengan sebaik-
baiknya. Dan kepemimpinan yang baik, pelayanan yang berkualitas dan motivasi yang baik akan dapat
mempengaruhi kesadaran masyarakat untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan.
Faktor ekonomi /tingkat pendapatan. Sekretaris Kamar Dagang dan Industri (KADIN) sebagaimana
dikutip Rohmat Soemitro (1988.299) menyatakan : “Masyarakat tidak akan menemui kesulitan dalam
memenuhi kewajiban membayar pajaknya kalau nilai yang harus dibayar itu masih di bawah
penghasilanyang sebenarnya mereka peroleh secara rutin”. Faktor ekonomi merupakan hal yang sangat
fundamental dalam hal melaksanakan kewajiban. Masyarakat yang miskin akan menemukan kesulitan
untuk membayar pajak. Kebanyakan mereka akan memenuhi kebutuhan hidup terlebih dahulu sebelum
membayar pajak. Karenanya tingkat pendapatan seseorang dapat mempengaruhi bagaimana seseorang
tersebut memiliki kesadaran dan kepatuhan akan ketentuan hukum dan kewajibannya.
Kemudian terdapat juga faktor Negatif atau yang Menghambat Tingkat Kesadaran dan Kepedulian
Sukarela Wajib Pajak, antara lain:
1) Prasangka negatif kepada aparat perpajakan harus digantikan dengan prasangka positif. Sebab,
prasangka negatif ini akan menyebabkan para wajib pajak bersikap defensif dan tertutup. Mereka
akan cenderung menahan informasi dan tidak co operatif. Mereka akan berusaha memperkecil
nilai pajak yang dikenakan pada mereka dengan memberikan informasi sesedikit mungkin. Perlu
usaha keras dari lembaga perpajakan dan media massa untuk membantu menghilangkan
prasangka negatif tersebut.
2) Hambatan atau kurangnya intensitas kerjasama dengan Instansi lain (pihak ketiga) guna
mendapatkan data mengenai potensi Wajib Pajak baru, terutama dengan instansi daerah atau
bukan instansi vertikal.
3) Bagi Calon Wajib Pajak, Sistem Self Assessment dianggap menguntungkan, sehingga sebagian
besar mereka enggan untuk mendaftarkan dirinya bahkan menghindar dari kewajiban ber-NPWP.
Data-data tentang dirinya selalu diupayakan untuk ditutupi sehingga tidak tersentuh oleh DJP.
4) Masih sedikitnya informasi yang semestinya disebarkan dan dapat diterima masyarakat mengenai
peranan pajak sebagai sumber penerimaan negara dan segi-segi positif lainnya.
5) Adanya anggapan masyarakat bahwa timbal balik (kontra prestasi) pajak tidak bisa dinikmati
secara langsung, bahkan wujud pembangunan sarana prasana belum merata, meluas, apalagi
menyentuh pelosok tanah air.
6) Adanya anggapan masyarakat bahwa tidak ada keterbukaan pemerintah terhadap penggunaan
uang pajak.
Pada dasarnya sumber-sumber penerimaan tersebut masih rendah sumbangannya terhadap PAD. Kecilnya
nilai PAD suatu daerah dapat disebabkan oleh :
1) banyak sumber pendapatan di kabupaten/kota yang besar, tetapi digali oleh instansi yang lebih
tinggi, misalnya pajak kendaraan bermotor (PKB), dan pajak bumi dan bangunan (PBB);
2) badan Usaha Milik Daerah (BUMD) belum banyak memberikan keuntungan kepada Pemerintah
Daerah;
3) kurangnya kesadaran masyarakat dalam membayar pajak, retribusi, dan pungutan lainnya;
Diantara penyebab kecilnya nilai PAD tersebut, terlihat bahwa kurangnya kesadaran masyarakat untuk
membayar pajak, retribusi, dan pungutan lainnya menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi tinggi
rendahnya PAD suatu daerah. Tingkat kesadaran masyarakat untuk membayar pajak daerah dipengaruhi
oleh banyak hal. Pendidikan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kesadaran masyarakat
untuk membayar pajak daerah.
Jika kita amati, pengetahuan masyarakat tentang pajak sangat minim. Banyak diantara mereka yang tidak
tahu sama sekali tentang pengertian pajak, fungsi, dan manfaatnya. Ketidaktahuan mereka karena tidak
adanya informasi yang jelas dan terpogram yang disampaikan oleh pemerintah. Akibat ketidaktahuan
mereka tentang informasi yang benar tentang pajak, mengakibatkan tingkat kesadaran masyarakat untuk
membayar pajak menjadi rendah. Salah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat membayar
pejak adalah melalui pendidikan.
3. STRATEGI UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN MASYARAKAT UNTUK
MEMBAYAR PAJAK DAERAH
Penerimaan pajak yang tingi dari masyarakat pada hakiikatnya akan membantu APBN Negara dan
meningkatkan pula pelayanan dari Negara. Indikasi tingginya tingkat kesadaran dan kepedulian
Wajib Pajak antara lain:
1. Realisasi penerimaan pajak terpenuhi sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
2. Tingginya tingkat kepatuhan penyampaian SPT Tahunan dan SPT Masa.
3. Tingginya Tax Ratio
4. Semakin Bertambahnya jumlah Wajib Pajak baru.
5. Rendahnya jumlah tunggakan / tagihan wajib pajak.
6. Tertib, patuh dan disiplin membayar pajak atau minimnya jumlah pelanggaran
pemenuhan kewajiban perpajakan.
Kemudian langkah-langkah Alternatif Membangun Kesadaran dan Kepedulian serta Sukarela Wajib
Pajak sangat perlu diperhatikan oleh Dirjen pajak itu sendiri. Beberapa hal yang perlu menjadi
perhatian Direktorat Jenderal Pajak dalam membangun kesadaran dan kepedulian sukarela Wajib
Pajak antara lain:
1) Melakukan sosialisasi
Sebagaimana dinyatakan Dirjen Pajak bahwa kesadaran membayar pajak datangnya dari diri sendiri,
maka menanamkan pengertian dan pemahaman tentang pajak bisa diawali dari lingkungan keluarga
sendiri yang terdekat, melebar kepada tetangga, lalu dalam forum-forum tertentu dan ormas-ormas
tertentu melalui sosialisasi. Dengan tingginya intensitas informasi yang diterima oleh masyarakat,
maka dapat secara perlahan merubah mindset masyarakat tentang pajak ke arah yang positif. Beragam
bentuk sosialisasi bisa dikelompokkan berdasarkan: metode penyampaian, segmentasi maupun
medianya.
Berdasarkan Metode:
Penyampaiannya bisa melalui acara yang formal ataupun informal. Acara formal biasanya
menggunakan format acara yang disusun sedemikian rupa secara resmi. Contohnya: Sosialisasi
bendaharawan, sosialisasi PPh 21 karyawan Pemda, seminar dan sebagainya. Acara informal
biasanya menggunakan format acara yang lebih santai dan tidak resmi. Contohnya: Ngobrol santai
dengan wartawan, dengan tokoh masyarakat, dan sebagainya.
Berdasarkan segmentasi:
Bisa membaginya untuk kelompok umur tertentu, kelompok pelajar dan mahasiswa, kelompok
pengusaha tertentu, kelompok profesi tertentu, kelompok/ormas tertentu.
Menanamkan kesadaran tentang pajak sejak dini, akan sangat berpengaruh terhadap pola pikir anak-
anak dan menimbulkan rasa kebanggaan terhadap pajak. Contoh yang pernah dilakukan DJP adalah
High School Tax Road Show, High School Tax Competition, Tax Goes to Campus, ini merupakan
kegiatan yang menimbulkan greget, heboh dan sangat berkesan, bahkan sangat dirindukan muncul
lagi oleh kalangan pelajar maupun mahasiswa. Mungkin perlu dilakukan secara berkesinambungan
dengan format yang beragam, kreatif serta inovatif. Perlu diberikan apresiasi kepada salah satu kanwil
yang melaksanakan HSTRS ini dengan membuat kegiatan Turnamen Basket Ball antar SMU
terpanjang/terlama. Format HSTRS yang diselingi turnamen Basket Ball dengan memindahkan
lokasi/tempat pertandingan ke sekolah yang ada lapangan basketnya untuk setiap even itu diadakan,
sehingga masyarakat begitu terkesan dengan even ini.
Berdasarkan media yang dipakai:
Sosialisasi dapat dilakukan melalui media elektronik dan media cetak. Misalnya: dilakukan dengan
talkshow di radio atau televisi, membuat opini, ulasan dan rubrik tanya jawab di koran, tabloid atau
majalah. Iklan pajak pun mempunyai pengaruh dan dampak positif terhadap meningkatkan kesadaran
dan kepedulian sukarela wajib pajak. Bentuk propaganda lainnya seperti: spanduk, banner, papan
iklan/billboard, dan sebagainya
Contoh-contoh sosialisasi lainnya:
a. Dapat dilakukan dengan datang langsung ke kantor-kantor dan pemerintah daerah di
wilayah kerja, sosialisasi anggota profesi tertentu misalnya notaris, dokter, sosialisasi
asosiasi tertentu misalnya asosiasi kontraktor jasa konstruksi, sosialisasi kepada pejabat
tertentu, anggota DPR/DPRD, misalnya dengan topik pengisian SPT Tahunan.
b. Dapat pula dilakukan dalam bentuk pengarahan secara langsung ke masyarakat melalui
pendekatan ke masing-masing kecamatan, desa, sampai RT/RW untuk memberikan
pemahaman kepada masyarakat terkait pentingnya pajak. Penyuluhan di bidang
kesehatan, penyuluhan di bidang peternakan dan pertanian bisa sukses, pastinya
penyuluhan DJP akan bisa lebih sukses didukung dengan tenaga penyuluh yang sangat
handal.
c. Dapat dilakukan pada kegiatan yang informal di masyarakat. Misalnya pengajian rutin,
kerja bakti, pertemuan karang taruna, dan kegiatan masyarakat lainnya.
d. Adanya serangkaian kegiatan daerah dan instansi, perusahaan di wilayah kerja pada saat-
saat tertentu misalnya Pekan Raya, Pameran dan Promosi dan sebagainya, setidaknya
DJP harus dapat menangkap dan ikut serta memeriahkannya dengan membuka
stand/pojok pajak.
e. Salah satu even rutin yang sangat besar gaungnya adalah Pekan Panutan Penyampaian
SPT Tahunan. Biasanya dihadiri oleh Bupati/Walikota, sekda, Kepala Dinas dan Muspida
yang diharapkan bisa menjadi panutan pajak bagi masyarakat. Namun pada kenyataannya
mereka masih banyak yang tidak/belum menyampaikan SPT Tahunan. Biasanya
mendekati batas akhir penyampaian SPT Tahunan diadakan acara yang populer diberi
nama “Ngisi Bareng SPT” yang membantu para Wajib Pajak dalam mengisi SPT
Tahunan.
f. Program yang penting juga adalah adanya Tax Center yang bekerjasama dengan
Perguruan Tinggi setempat. Sebelum dibentuknya Tax Center biasanya dibuat
kesepakatan bersama untuk melakukan kerjasama sosialisasi perpajakan, yang bertujuan
untuk mewujudkan kesadaran dan kepedulian Wajib Pajak dalam memenuhi
kewajibannya di bidang perpajakan. Tax Center akan membantu mensosialisasikan
pengetahuan dan pemahaman tentang pajak. Tax center terbuka bagi semua masyarakat.
Siapapun yang mengalami kesulitan perihal perpajakan bisa berkonsultasi di pusat
perpajakan ini. Perguruan Tinggi akan menyediakan ruang tax center yang nantinya akan
dipergunakan sebagai sarana informasi dan pengetahuan tentang perpajakan.

2) Meningkatkan citra Good Governance yang dapat menimbulkan adanya rasa saling percaya
antara pemerintah dan masyarakat wajib pajak, sehingga kegiatan pembayaran pajak akan
menjadi sebuah kebutuhan dan kerelaan, bukan suatu kewajiban. Dengan demikian tercipta
pola hubungan antara negara dan masyarakat dalam memenuhi hak dan kewajiban yang
dilandasi dengan rasa saling percaya.
3) Memberikan pengetahuan melalui jalur pendidikan khususnya pendidikan perpajakan
4) Law Enforcement. Dengan penegakan hukum yang benar tanpa pandang bulu akan
memberikan deterent efect yang efektif sehingga meningkatkan kesadaran dan kepedulian
sukarela Wajib Pajak. Walaupun DJP berwenang melakukan pemeriksaan dalam rangka
menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan, namun pemeriksaan harus dapat
dipertanggung jawabkan dan bersih dari intervensi apapun sehingga tidak mengaburkan
makna penegakan hukum serta dapat memberikan kepercayaan kepada masyarakat wajib
pajak.
5) Membangun trust atau kepercayaan masyarakat terhadap pajak.
6) Merealisasikan program Sensus Perpajakan Nasional yang dapat menjaring potensi pajak
yang belum tergali. Dengan program sensus ini diharapkan seluruh masyarakat mengetahui
dan memahami masalah perpajakan serta sekaligus dapat membangkitkan kesadaran dan
kepedulian, sukarela menjadi Wajib Pajak dan membayar Pajak.
Pajak yang berhasil dikumpulkan oleh pemerintah akan dijadikan sebagai salah satu sumber dana
untuk membiayai pembangunan dan sumber investasi. Penghasilan pajak juga digunakan untuk
pembiayaan dalam rangka memberikan rasa aman bagi seluruh lapisan masyarakat. Setiap warga
negara mulai saat dilahirkan sampai dengan meninggal dunia, menikmati fasilitas atau pelayanan dari
pemerintah yang semuanya dibiayai dengan uang yang berasal dari pajak.
Kurangnya kesadaran masyarakat untuk membayar pajak, orang baru terpikir untuk membayar
pajak saat mereka membutuhkan sesuatu, selain itu kekhawatiran akan penyalahgunaan uang pajak
seringkali menjadi pemikiran masyarakat. Bagaimana pajak itu akan dikelola dan ke mana uang pajak
itu akan disalurkan, mengingat timbal balik yang diberikan kepada masyarakat dianggap kurang.
Perlu banyak dilakukan penyuluhan dan sosialisi masyarakat terhadap wajib pajak, serta kegunaanya
bagi masyarakat. Agar tercapainya tujuan negara dalam menyukseskan pembangunan negara.
Selain karena warga negara kurang mengetahui pentingnya pajak sebagai modal awal pembangunan
negara, hal-hal yang menyebabkan kesadaran masyarakat semakin berkurang adalah :
a. Kurangnya sosialisasi pajak yang merata dan efektif.
b. Banyak nya pegawai kementrian perpajakan yang nakal.
c. Peraturan pelaksanaan UU yang sering kali tidak konsisten dengan UU.
d. Kurangnya pembinaan antara pajak daerah dengan pajak nasional.
e. Database yang masih jauh dari standar internasional.
f. Lemahnya penegakan hukum (law enforcement) terhadap kepatuhan membayar pajak
bagi penyelenggaraan negara.
g. Tingkat pendidikan dan sosial ekonomi juga akan mempengaruhi kesadaran
membayar pajak.
Teknik pemungutan pajak juga berpengaruh terhadap kesadaran dan kedislipinan wajib pajak
membayar pajak. Hal ini disebabkan cara perhitungan pajak yang rumit yang sebagian masyarakat
awam tak dapat menghitung jumlah pajaknya, serta prosedur yang berbelit-belit juga menyulitkan
masyarakat. Oleh karena itu perlu diadakannya sosialisasi perpajakan di dalam masyarakat umum,
serta menumbuhkembangkan kesadaran membayar pajak terhadap pemuda sejak dini, misalnya
dengan memberikan workshop atau kuliah umun perpajakan di kalangan siswa SMA dan mahasiswa.
Indonesia yang sejak tahun 2005 memiliki NPWP berkisar 7 juta orang , bandingkan dengan jumlah
penduduk nya yang mencapai 230 juta orang. Artinya baru 3% penduduk Indonesia yang memiliki
kesadaran membayar pajak. Dan dari jumlah itu mungkin yang benar-benar melaporkan pajak
dengan jujur dan sesuai dengan kenyataan hanya 50% nya saja. Jadi hanya 1,5% penduduk Indonesia
yang benar -benar sadar pajak. Pemerintah menargetkan pertumbuhan tax ratio 0,5% per tahun dan
penambahan jumlah pemilik nomor pokok wajib pajak (NPWP) dari 14 juta menjadi 23 juta, seiring
pelaksanaan reformasi perpajakan jilid II. Pemerintah juga berupaya meningkatkan jumlah wajib
pajak (WP) orang kaya dari 200 menjadi 1.000 WP untuk setiap kantor pelayanan pajak (KPP).
Dengan 330 KPP saat ini, Ditjen Pajak menargetkan total WP orang kaya di seluruh Indonesia
menjadi 330 ribu orang.
Reformasi perpajakan II yang dicanangkan pemerintah mulai Juni 2009 hingga 2013 diharapkan juga
bisa memperkecil tingkat kebocoran penerimaan pajak.
Tiga tahun belakangan ini cukup gencar diadakannya iklan-iklan di media cetak atau pun elektronik
tentang arti pentingnya membayar pajak. Hal ini tidak sia-sia, buktinya setiap tahun jumlah wajib
pajak kian meningkat , tidak hanya itu jumlah dana dari hasil pemungutan pajak juga semakin
meningkat sehingga ditargetkan pajak menjadi sumber pendapatan utama negara.

BAB III
PENUTUP

1. KESIMPULAN
Kesadaran membayar pajak setiap warga negara memiliki arti yang penting bagi sebuah negara,
khususnya negara Indonesia. Pajak menjadi tulang punggung penerimaan negara kita. Masih banyaknya
wajib pajak yang tidak memiliki NPWP dan wajib pajak yang tidak jujur dalam membayar pajak sehingga
penerimaan pajak tidak maksimal. Kurangnya sosialisasi pajak juga ikut menjadi kendala dalam
peningkatan kesadaran membayar pajak. Selain itu kurangnya mental aparatur negara juga mempengaruhi
kesadaran wajib pajak
2. SARAN
a. Melakukan reformasi pajak serta sosialisasi secara menyeluruh dengan efektif dan efisien.
Diadakannya Perencanaan pemerintah untuk mencapai suatu target dalam pembayaran pajak
dengan reformasi pajak , pastinya akan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang arti
pentingnya membayar pajak.
b. Peningkatan mental jujur bartanggung jawab di kalangan kementrian perpajakan.
c. Diadakannya sosialisasi perpajakan di masyarakat umum. Mengadakan workshop/kuliah umum
di kalangan pelajar.
d. Memperketat pelaksanaan undang-undang.
SANKSI HUKUM JIKA TIDAK MELAKUKAN PEMBAYARAN PAJAK
Dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum Perpajakan (KUP), sanksi
perpajakan terdiri dari sanksi administrasi dan sanksi pidana.
Untuk sanksi administrasi terdiri dari sanksi denda, sanksi bunga, dan sanksi kenaikan. Sekian sanksi
tersebut dikenakan untuk berbagai jenis pelanggaran aturan.
Namun, khusus untuk wajib pajak yang tidak membayar atau telat bayar pajak, sanksi yang dikenakan
adalah:
Bunga yang Dibayar jika Lupa Membayar Pajak
Dalam Undang-Undang KUP, terdapat pasal yang mengatur sanksi bagi wajib pajak yang telat atau tidak
membayar pajak, yakni Pasal 9 ayat 2a dan 2b.
Dalam pasal 2a dikatakan, wajib pajak yang membayar pajaknya setelah jatuh tempo akan dikenakan
denda sebesar 2% per bulan yang dihitung dari tanggal jatuh tempo hingga tanggal pembayaran.
Sementara, pada pasal 2b disebut, wajib pajak yang baru membayar pajak setelah jatuh tempo
penyampaian SPT tahunan akan dikenakan denda sebesar 2% per bulan, yang dihitung sejak berakhirnya
batas waktu penyampaian SPT sampai dengan tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung penuh
satu bulan.
Sebagai contoh, berdasarkan undang-undang, batas akhir pembayaran dan pelaporan PPh adalah masing-
masing tanggal 10 (PPh pada umumnya) dan tanggal 15 (PPh Final 1%/pajak UMKM, PPh 25) bulan
berikutnya.
Jika wajib pajak baru membayar kewajibannya lewat dari tanggal-tanggal tersebut, maka wajib pajak
harus membayar bunga sebesar 2% dari jumlah pajak yang terutang.
Sanksi Pidana Bila Tidak Menyetorkan Pajak
Sanksi ini merupakan jenis sanksi terberat dalam dunia perpajakan. Biasanya, sanksi pidana dikenakan
bila wajib pajak melakukan pelanggaran berat yang menimbulkan kerugian pada pendapatan negara dan
dilakukan lebih dari satu kali.
Dalam Undang-Undang KUP, terdapat pasal 39 ayat i yang memuat sanksi pidana bagi orang yang tidak
menyetorkan pajak yang telah dipotong atau dipungut.
Sanksi tersebut adalah pidana penjara paling singkat 6 bulan dan paling lama 6 tahun, serta denda
minimal 2 kali pajak terutang dan maksimal 4 kali pajak terutang yang tidak dibayar atau kurang dibayar.
Contoh kasus untuk sanksi ini adalah pengusaha yang menerbitkan faktur pajak dan memungut PPN,
namun tidak mendaftarkan diri dan melaporkan kegiatan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP.
Sehingga, PPN yang dipungut tidak disetorkan ke kas negara.
INI SANKSINYA JIKA TIDAK LAPOR SPT
Selain tidak melakukan pembayaran pajak, Undang-Undang KUP juga memuat sanksi bagi wajib pajak
yang tidak melaporkan SPT atau terlambat melaporkan SPT.
Jenis sanksi yang dibebankan pada wajib pajak yang melanggar ketentuan tersebut adalah denda. Besaran
denda dibagi menjadi 3, yakni:
Rp 500.000,- untuk Surat Pemberitahuan Masa PPN
Rp 100.000,- untuk Surat Pemberitahuan Masa lainnya
Rp 1000.000,- untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak badan
Rp 100.000,- untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi
Batas akhir pelaporan SPT dibedakan berdasarkan jenis pajak yang akan dilaporkan. Tujuannya agar
administrasi perpajakan di Indonesia jadi semakin rapi. Berikut ini, tiga batas waktu pelaporan SPT yang
sebaiknya diketahui wajib pajak:
Surat Pemberitahuan Masa (Paling lama 20 hari setelah akhir masa pajak)
SPT Pajak Penghasilan Wajib Pajak orang pribadi (Paling lama 3 bulan setelah akhir masa pajak)
SPT Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan (Paling lama 4 bulan setelah akhir masa pajak)
Namun, bila wajib pajak tidak melaporkan SPT sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan
negara, dan tindakan tersebut sudah dilakukan lebih dari sekali, wajib pajak dapat dikenakan sanksi
berupa denda minimal satu kali jumlah pajak terutang yang tidak dibayar atau kurang bayar.
Denda dikenakan maksimal dua kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar. Bahkan, atas
tindakan tersebut wajib pajak dapat dipidana kurungan paling singkat tiga bulan atau paling lama satu
tahun.

Akibat yang diterima negara jika tidak membayar pajak


Ada banyak akibat bagi negara jika pendapatan pajak terus penurunan, terutama adalah di bidang
pembangunan. berikut adalah beberapa dampak secara sistemik jika penurunan penerimaan pajak.

 Melambatnya pertumbuhan pembangunan


 Terhambatnya pelayanan fasilitas umum
 Terhambatnya pelayanan kesehatan
 Kesejahteraan masyarakat menurun
 Negara akan kesulitan membiayai seluruh kebutuhannya untuk mengaji PNS dan belanja berbagai
kebutuhan untuk menunjang operasional
 Negara kesulitan untuk membayar hutang.
 Analogi sederhana ketika pendapatan pajak terus menurun.
Contoh :
Pemerintah telah merencanakan untuk membangun waduk sebanyak 20 sampai tahun 2025, dengan total
investasi 500 triliun, namun penerimaan negara terus berkurang dan akhirnya tidak dapat membangun
waduk. Artinya manfaat dari waduk tersebut tidak dapat di realisasikan. Rugi besar.