Anda di halaman 1dari 6

RUSBA SAPUTRA RIVENSKY

03411640000026

ANALISIS PEMODELAN INTRUSI FORWARD


MODELLING DENGAN MENGGUNAKAN 4
KONFIGURASI

Dalam melakukaan pemodelan forward modelling, maka dibutuhkan data pemodelan yang
dibuat dalam notepad dengan format (*.mod). adapun data yang digunakan untuk
melakukan pemodelan tersebut adalah sebagai berikut:

Gambar Data Pemodelan


Pemodelan ini menggunakan 31 elektroda dengan space antara elektroda sebesar 4 m,
dengan jumlah datum 116, dengan 4 variasi Rho apparent sebesar: 10 ohmmeter, 100
ohmmeter, 300 ohmmeter, dan 597 ohmmeter.
Dalam melakukan forward modelling ini, saya menggunakan 4 konfigurasi yaitu: wenner
alpha, schlumberger, pole-dipole, dan dipole-dipole.
1. WENNER ALPHA
RUSBA SAPUTRA RIVENSKY
03411640000026

2. WENNER SCHLUMBERGER
RUSBA SAPUTRA RIVENSKY
03411640000026
RUSBA SAPUTRA RIVENSKY
03411640000026

3. POLE-DIPOLE

4. DIPOLE-DIPOLE
RUSBA SAPUTRA RIVENSKY
03411640000026

PEMBAHASAN

Pada pemodelan ini dilakukan dengan menggunakan dua software, yaitu: RES2DMOD
dan RES2DINV. Pada software RES2DMOD, proses yang kita lakukan adalah forward
modelling, dimana dari pemodelan yang kita lakukan bisa didapatkan data. Model yang
ditampilkan dalam pemodelan ini adalah model batuan intrusi, dimana batuan yang
paling bawah mengintrusi 2 lapisan diatasnya. Hal ini dapat diamati pada gambar
pemodelan RES2DMOD yang telah dilakukan. Kemudian pemodelan tersebut
dilakukan inversi pada software RES2DINV dengan menggunakan inversi least square.

Berdasarkan data pemodelan diatas, maka dapat diamati hasil pemodelan yang
dilakukan pada 4 konfigurasi yang berbeda menampilkan hasil yang berbeda pula. Pada
konfigurasi pertama, yaitu wenner alpha terlihat memiliki kedalaman +21 m.
Sedangkan konfigurasi wenner-schlumberger menampilkan kedalaman model +25 m.
Konfigurasi pole-dipole + 43.1 dan konfigurasi dipole-dipole + 27.3 m.

Konfigurasi wenner alpha memiliki nilai resolusi vertical yang baik dan juga sangat
sensitive terhadap ketidakhomogenan, serta kepatutan terhadap VES yang sedang.
Namun mamiliki nilai penetrasi kedalaman yang dangkal. Sedangkan konfigurasi
wenner-schlumberger memiliki nilai resolusi vertical yang sedang, penetrasi
kedalaman yang baik, kepatutatan terhadap VES juga baik, serta sensitivitas terhadap
ketdiakhomogenan secara lateral yang sedang. Sedangkan konfigurasi Dipole-dipole
memiliki resolusi vertical yang jelek, penterasi kedalaman yang baik, dan kepatutan
terhadap VES yang jelek, serta sensitivitas terhadap ketidakhomogenan secara lateral
yang sedang. Adapun konfigurasi pole-dipole menunjukkan konfigurasi ini memiliki
keunggulan dalam penetrasi kedalam yang sangat baik, namun sensitivitas terhadap
ketidakhomogenan secara lateral yang buruk.
RUSBA SAPUTRA RIVENSKY
03411640000026

Berdasarkan hasil pemodelan diatas, dapat disimpulkan bahwa konfigurasi yang sangat
baik digunakan untuk melakukan mappin adalah konfigurasi wenner alpha, wenner
schlumberger, dipole-dipole, dan yang terburuk adalah pole-dipole. Hal ini dapat
terlihat dari pemodelan intrusi yang diatas. Sedangkan konfigurasi yang paling baik
digunakan untuk melakukan ves adalah konfigurasi wenner schlumberger.