Anda di halaman 1dari 7

PERTANYAAN

1. Apa yang menyebabkan tachycardi pada trauma?


2. Apa yang menyebabkan tekanan darah rendah?
3. Fraktur femur bisa hilang berapa darah?
4. Grade hipovolemia?

JAWABAN PERTANYAAN
1. Yang Menyebabkan tachycardi pada trauma
Perasaan dan emosi sangat erat dan mudah bereaksi terhadap jantung dan sirkulasi.Penyakit jantung sering berdampingan dengan
permasalahan psikis.Komorbitas dari penyakit jantung dan permasalahan psikis tidak hanya disebabkan kejadian bersamaan dari keduanya
tetapi juga perkembangan penyakit jantung sebagai komplikasi masalah emosial kejiwaan atau sebaliknya perkembangan penyakit kejiwaan
akibat komplikasi masalah jantung.
Gangguan irama jantung sendiri dapat lebih cepat atau lebih lambat.Gangguan irama jantung yang lebih cepat (takikardia)
diakibatkan oleh rasa cemas (anxietas) dan gangguan jantung yang lebih lambat (bradiakardia) diakibatkan depresi dan keadaan ini tidak
dikuatirkan oleh pasien.Kondisi cemas pada gangguan panik biasanya terjadi secara tiba-tiba, dapat meningkat hingga sangat tinggi disertai
gejala-gejala yang mirip gangguan jantung, yaitu rasa nyeri di dada, berdebar-debar, keringat dingin, hingga merasa seperti tercekik. Hal ini
dialami tidak terbatas pada situasi atau rangkaian kejadian tertentu dan biasanya tidak terduga sebelumnya.
1. ANATOMI DAN FISIOLOGI
Pada beberapa penelitian dijumpai hubungan yang erat antara tubuh dan pikiran.Hal ini didukung oleh berbagai teori yang
menemukan pada pasien psikosomatik dijumpai gangguan berawal dari permasalahan pada saraf pusat.Untuk hal ini maka perlu kita
mengetahui bagian bagian dari saraf pusat tersebut dan hubungan keduanya.Ada tiga sistem yang terlibat pada fisiologi yaitu sistem saraf,sistem
endokrin dan sistem immun yang dipicu oleh suatu ancaman.Susunan saraf terdiri atas dua bagian yaitu : susunan saraf pusat yang terdiri atas
otak, tulang belakang dan sistem saraf perifer yang berada pada alur saraf ekstremitas. Otak manusia dibagi atas tiga tingkatan yaitu : tingkat
vegetatif,sistem limbik dan sistem neocortical.
A. Sistem Vegetatif
Dari anatomi bagian paling bawah dari tingkat vegetatif adalah reticular dan batang otak.Formasi reticular atau yang
lebih khusus lagi disebut dengan jaringan yang membentuk Sistem Aktivasi Reticular mempunyai jaringan yang berhubungan
dengan otak dan tulang belakang.Pada beberapa kondisi stres psikologis sistem ini adalah jembatan yang menghubungkan dan
menyatukan antara pikiran dan tubuh dimana fungsi organ ini adalah jalur komunikasi antara pikiran dan tubuh.
Batang otak terdiri atas pons,medula oblongata dan mesencephalon yang bertanggungjawab atas fungsi involutar dari
tubuh manusia seperi denyut jantung,pernapasan dan aktivitas vasomotor.Sistem ini dianggap bertanggung jawab untuk menjaga
fungsi organ- organ vital dan fungsi proses vegetatif.
B. Sistem Limbik
Bagian pertengahan dari otak disebut dengan sistem limbic.Sistem limbic adalah pusat yang mengatur emosi.Beberapa
jaringan pada sistem ini bertanggungjawab pada proses biokimia yang terjadi akibat respon dari stres.Sistem Limbic terdiri dari
talamus, hipotalamus, amygdala, dan kelenjar pituitari yang dikenal sebagai induk kelenjar endokrin.Ke empat sistem ini bekerja
secara berbarengan dalam mengatur haemostatis tubuh. Sebagai contoh hipotalamus mengatur selera/nafsu makan dan pusat
pengaturan tubuh.Hipotalamus juga pusat pengaturan nyeri dan rasa nyaman.Gabungan dari fungsi ini dapat menerangkan ketika
rasa lapar berkurang sewaktu temperatur tubuh kita meningkat pada lingkungan yang suhunya meningkat atau rasa lapar kita
berkurang ketika kita merasa takut. Penelitian menemukan bahwa rasa takut pertama kali ditandai pada amygdala.Ketika ancaman
datang hipotalamus melaksanakan empat fungsi yang khusus yaitu :
1. mengaktivasi sistem saraf autonom
2.merangsang sekresi hormon adrenokortikotropik (ACTH)
3. Memproduksi Antidiuretik hormon atau Vasopresin
4.merangsang kelenjar tiroid untuk memproduksi tiroxine.

C. Tingkat Neokortikal
Neokortikal adalah level otak yang tertinggi dan tercanggih.Pada tingkat ini informasi sensorik diproses apakah sebagai
suatu ancaman atau tidak dan dimana proses berpikir mempunyai peranan penting.Neokortex adalah lokasi diamana mekanisme
sistem saraf menganalisa,berimaginasi,berkreativitas,berintuisi,berpikir secara logika,mengingat .Ini adalah jaringan otak yang
berkembang dan yang memisahkan manusia dengan dari semua spesies.
Proses Pemikiran ini dapat mempengaruhi respons emosional, seperti pemikiran ini dapat mempengaruhi fungsi vegetatif
dalam mengontrol denyut jantung jantung,pernapasan dan bahkan aliran darah.Keadaan ini penting saat diperlukan untuk teknik
relaksasi yang dirancang dalam menggantikan respons stress dan untuk memfasilitasi fisiologi homeostatis.
Selain dari susunan Saraf Pusat ada suatu jaringan saraf yang bekerja sama dengan saraf pusat.Saluran saraf ini adalah
susunan saraf perifer yang terdiri dari dua jaringan.Jaringan pertama adalah jaringan somatik yang mempunyai dua jaringan
sirkuit yang bertanggung jawab untuk transmisi pesan sensorik sepanjang saraf dari lima panca indera ke pusat otak yang paling
tinggi.Ini disebut dengan jalur eferent dan jalur aferent.Yang kedua adalah cabang dari saraf pusat yang disebut denagn sistem saraf
autonom.Sistem ini mengatur aktivitas viseral dan organ vital termasuk sirkulasi, pencernaan, pernapasan dan suhu. Ini disebut
autonom karena bekerja tanpa sadar.
Stress yang pertama kali timbul akan membuat ingatan dalam otak,dan stres yang berulang kali akan mengurangi
ingatan dengan melemahnya sel-sel otak di hipokampus.Stess yang kronis dianggap membuat hubungan yang rapuh diantara neuron
di otak dan hal ini membuat penyusutan pada otak. Diketahui bahwa mekanisme somatik pada sistem saraf autonom tidak dapat
dihambat oleh pikiran sadar akan tetapi kedua sistem saraf ini dapat dipengaruhi oleh proses otak yang tingkatnya lebih
tinggi.Sistem saraf auotonom bekerja dengan koordinasi yang lebih erat dengan sistem saraf pusat untuk mempertahankan kondisi
yang menguntungkan seluruh sistem homeostatik tubuh.
2. SINUS TAKIKARDIA
Gangguan kecemasan adalah satu di antara gangguan kejiwaan yang paling umum dijumpai di seluruh dunia .Kondisi ini
adalah emosi untuk mempersiapkan individu dalam menghadapi perubahan lingkungan atau membantu untuk membuat respon
terhadap perubahan tersebut .Kecemasan adalah gejala yang bisa dilihat pada pasien dengan gangguan organik dan dapat menyertai
hampir semua psikisnya .Dijumpai hubungan antara kecemasan dan kardiovaskular dan dikenal sejak penelitian pertama pada
individu 1870 disebut irritable penyakit jantung .
Takikardia dan palpitasi dijumpai sebagai akibat dari ketakutan dan kecemasan yang parah dan menjadi fokus untuk
kepentingan dalam penelitian yang meneliti aktivitas CVS. Kondisi cemas pikiran menyebabkan berkurangnya kondisi variabilitas
otonom yang merupakan hasil dari penurunan tonus vagal. Reaksi pertama pada stres adalah kelemahan otot dan perasaan jantung
berhenti karena aktivasi parasympathic. Beberapa waktu kemudian,sistem simpatik diaktifkan, berkeringat, palpitasi, tremor, cepat
dan mendalam pernapasan dimulai. Kondisi ini juga dijumpai ketika mereka melakukan kegiatan yangmenantang atau timbul rasa
khawatir.Kondisi sinus takikardi dapat dijumpai pada pasien dengan keadaan. Keadaan yang memiliki gejala yang mirip penyakit
jantung adalah ( gangguan panik( PD ) , gangguan kecemasan umum ( GAD ) , gangguan stres pasca -trauma ( PTSD ).Saat ini masih
diperdebatkan mengenai kondisi stres mental dan bahkan penyakit jiwa yang dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular dengan
penyakit kardiovaskular yang menyebakan gangguan panik dan stres mental kronis.
2. Yang Menyebabkan tekanan darah rendah
- Syok hipovolemik
Penyebab : muntah/diare yang sering; dehidrasi karena berbagai sebab seperti heat troke, terkena radiasi; luka bakar grade II-
III yang luas; trauma dengan perdarahan ante natal. Perdarahan post partum, abortus, epistaksis, melena/ hematemesis.
Diagnosis : perubahan pada perfusi ekstremitas (dingin, basah, pucat). Takikardi, pada keadaan lanjut : takipnea, penurunan
tekanan darah, penurunan produksi Urin, pucat, lemah, dan apatis.
Tindakan : pemasangan 2 jalur Intravena dengan jarum besar dan diberikan infus cairan kristaloid (Ringer Laktat/Ringer
Asetat/NaCl 0,9 %) dengan jumlah cairan melebihi jumlah cairan yang hilang
Catatan : untuk perdarahan yang syok kelas III-IV selain diberikan infus kristaloid sebaiknya disiapkan transfusi darah segera
setelah sumber perdarahan dihentikan.
- Syok kardiogenik
Penyebab : dapat terjadi pada keadaan – keadaan antara lain kontusio jantung, tamponade jantung, tension pneumotoraks
Diagnosis : hipotensi disertai gangguan irama jantung (bisa berapa bradiaritmia seperti blok AV atau takiaritmia seperti SVT,
VT), mungkin terdapat peninggian JVP, dapat disebabkan oleh tamponade jantung (bunyi jauh menjauh atau redup dan
tension pneumotoraks (hipersonor dan pergeseran trakea)
Tindakan : Pemasangan jalur intravena dengan cairan kristaloid (batasi jumlah cairan), pada aritmia berikan obat – obatan
inotropik, perikardiosintesis untuk tamponade jantung dengan monitoring EKG, pemasangan jarum torakosintesis pada ICS II
untuk tension pneumotoraks
- Syok septik
Penyebab : proses infeksi berlanjut
Diagnosis : fase dini tanda klinis hangat, vasodilatasi; fase lanjut tanda klinis dingin, vasokontriksi.
Tindakan : ditujukan agar tekanan sistolik > 90-100 mmHg (Mean Arterial Pressure 60 mmHg).
 Tindakan Awal : IVFD cairan kristaloid, beri antibiotika, singkirkan sumber infeksi.
 Tindakan Lanjut : penggunaan cairan koloid dikombinasi dengan vasopresor seperti dopamine.
- Syok anafilaksis
Penyebab : reaksi anafilaksis berat
Diagnosis : tanda – tanda syok dengan riwayat adanya alergi (makanan, sengatan binatang dan lain – lain) atau setelah
pemberian obat.
Tindakan : resusitasi cairan dan pemberian epinefrin subcutan
Catatan : tidak semua kasus hipotensi adalah tanda – tanda syok, tapi denyut nadi abnormal, irama jantung abnormal dan
bradikardia biasanya merupakan tanda hipotensi.
3. Fraktur femur bisa hilang berapa darah?
Syok hipovolemik karena perdarahan
Menurut Advanced Trauma Life Support
Klasifikasi Penemuan Klinis Pengelolaan
Kelas I : kehilangan volume darah Hanya takikardi minimal, nadi Tidak perlu penggantian volume cairan
< 15 % EBV < 100 kali / menit secara IVFD
Kelas II : kehilangan volume darah Takikardi (> 120 kali/menit), takipnea (30- Pergantian volume darah yang hilang
15 – 30 % EBV 40 kali/menit), penurunan pulse pressure, dengan cairan kristaloid (NaCl 0,9% atau
penurunan produksi urin (20-30 cc/jam) RL) sejumlah 3 kali volume darah yang
hilang
Kelas III : kehilangan volume darah Takikardi (> 120 kali/menit), takipnea (30- Pergantian volume darah yang hilang
30 – 40 % EBV 40 kali/menit), perubahan status mental dengan cairan kristaloid ( NaCl 0,9% atau
(confused), penurunan produksi urin (5 – 15 RL) dan darah
cc/jam
Kelas IV : kehilangan volume darah Takikardi (> 140 kali/menit), takipnea (35 Pergantian volume darah yang hilang
> 40 % EBV kali/menit), perubahan status mental dengan cairan kristaloid ( NaCl 0,9% atau
(confused dan lethargic), RL) dan darah
bila kehilangan volume darah > 50 % :
pasien tidak sadar, tekanan sistolik sama
dengan diastolik, produksi urin minimal
atau tidak keluar

Keterangan : EBV ( Estimate Blood Volume ) = 70 cc / kg BB

Tatalaksana Perdarahan
1. Survei Primer dulu (ABC)
Bila cedera ekstremitas yang mengganggu ABC misalnya Syok karena luka dan perdarahan aktif, harus dilakukan dalam
bentuk kontrol perdarahan.
- Airway ( + lindungi tulang servikal)
- Breathing ( + Oksigen jika ada)
- Circulation + kendalikan perdarahan
1. Posisi syok
Angkat kedua tungkai dengan menggunakan papan setinggi +- 45’ . 300 – 500 cc darah dari kaki pindah ke sirkulasi
central.
Gambar 1. Posisi Syok

2. Cari dan hentikan perdarahan (prioritas utama)


 Tekan sumber perdarahan
 Tekanan jari pada arteri proksimal dari luka
 Bebat tekan pada seluruh ekstremitas yang luka
 Pasang tampon sub fasia ( gauza pack )
 Hindari tourniquet (tourniquet : usaha terakhir)
Perdarahan permukaan tubuh ekstremitas lakukan penekanan, gunakan sarung tangan atau plastik sebagai
pelindung. (Perdarahan 20 cc /menit = 1200 cc/jam)

3. Ganti volume kehilangan darah


 Pemasangan infus dan pergantian volume darah dengan cairan/darah
4. Cari sumber perdarahan yang tersembunyi
 Rongga perut ( Hati, limfa, arteri ), rongga pleura, panggul atau pelvis, tulang paha (femur), kulit kepala, dll.
5. Lokasi dan Estimasi perdarahan
 Fraktur Femur tertutup : 1,5 – 2 liter
 Fraktur Tibia tertutup : 0,5 liter
 Fraktur Pelvis : 3 liter
 Hemothorak : 2 liter
 Fraktur iga (tiap satu) : 250 cc
 Luka sekepal tangan : 500 cc
 Bekuan darah sekepal : 500 cc
Penggantian darah dapat digunakan darah lengkap ( WBC ) atau komponen darah merah ( PRC ). Usahakan
jangan memberikan tranfusi darah yang dingin karena dapat menyebabkan hipotermi.
4. Grade hipovolemia
Syok hipovolemik kebanyakan akibat dari kehilangan darah akut sekitar 20% dari volume total. Tanpa darah yang
cukup atau penggantian cairan, syok hipovolemik dapat menyebabkan kerusakan irreversible pada organ dan system. Kebanyakan
trauma berbahaya ketika terjadinya perang sekitar tahun 1900an telah memberi kesan yang sangat signifikan pada perkembangan
prinsip penanganan resusitasi syok hemoragik.
Ketika Perang Dunia I, W.B. Cannon merekomendasikan untuk memperlambat pemberian resusitasi cairan sehingga
penyebab utama terjadinya syok diatasi secara pembedahan. Pemberian kristalloid dan darah digunakan secara ekstensif ketika
Perang Dunia II untuk menangani pasien dengan keadaan yang tidak stabil. Pengalaman yang di dapat semasa perang melawan
Korea dan Vietnam memperlihatkan bahwa resusitasi cairan dan intervensi pembedahan awal merupakan langkah terpenting untuk
menyelamatkan pasien dengan trauma yang menimbulkan syok hemoragik.
SYOK HIPOVOLEMIK
Syok hipovolemik merupakan kondisi medis atau bedah dimana terjadi kehilangan cairan dengan cepat yang berakhir
pada kegagalan beberapa organ, disebabkan oleh volume sirkulasi yang tidak adekuat dan berakibat pada perfusi yang tidak
adekuat. Paling sering, syok hipovolemik merupakan akibat kehilangan darah yang cepat (syok hemoragik).
Syok hipovolemik dapat disebabkan oleh kehilangan volume massive yang disebabkan oleh: perdarahan gastro intestinal,
internal dan eksternal hemoragi, atau kondisi yang menurunkan volume sirkulasi intravascular atau cairan tubuh lain, intestinal
obstruction, peritonitis, acute pancreatitis, ascites, dehidrasi dari excessive perspiration, diare berat atau muntah, diabetes insipidus,
diuresis, atau intake cairan yang tidak adekuat.
Kemungkinan besar yang dapat mengancam nyawa pada syok hipovolemik berasal dari penurunan volume darah
intravascular, yang menyebabkan penurunan cardiac output dan tidak adekuatnya perfusi jaringan. Kemudian jaringan yang anoxia
mendorong perubahan metabolisme dalam sel berubah dari aerob menjadi anaerob. Hal ini menyebabkan akumulasi asam laktat
yang menyebabkan asidosis metabolic.
Ketika mekanisme kompensasi gagal, syok hipovolemik terjadi pada rangkaian keadaan di bawah ini:
1. Penurunan volume cairan intravascular
2. Pengurangan venous return, yang menyebabkan penurunan preload dan stroke volume
3. Penurunan cardiac output
4. Penurunan Mean Arterial Pressure (MAP)
5. Kerusakan perfusi jaringan
6. Penurunan oksigen dan pengiriman nutrisi ke sel
7. Kegagalan multisistem organ
Secara khas, riwayat pasien meliputi kondisi-kondisi yang menyebabkan penurunan volume darah, seperti
gastrointestinal hemoragi, trauma, diare berat dan muntah. Pengkajian yang didapatkan meliputi: kulit pucat, penurunan sensori,
pernafasan cepat dan dangkal, urin output kkurang dari 25ml/jam, kulit teraba dingin, clammy skin, MAP dibawah 60 mm Hg dan
nadi melemah, penurunan CVP, penurunan tekanan atrial kanan, penurunan PAWP, dan penurunan cardiac output.
Indikasi parameter pada pemeriksaan/ pengkajian dalam mengestimasi kehilangan volume cairan:
Kehilangan cairan minimal (Grade I) : Kehilangan Cairan Sedang (Grade II) : Kehilangan cairan berat (Grade III) :
Kehilangan cairan Intravaskular 10% - Kehilangan cairan Intravaskular sekitar Kehilanhan volume cairan 40% atau lebih
15% 25%
Tanda dan gejala : Tanda gejala: Tanda gejala:
 Tachycardia ringan,  Nadi cepat dan lemah  tachycardia yang nyata
 Tekanan darah supinasi normal,  hipotensi supinasi  hipotensi yang nyata
 Penurunan sistol lebih dari 16  kulit dingin  nadi perifer lemah dan
mmHg atau peningkatan denyut  urin output sekitar 10 sampai menghilang
nadi lebih dari 20x/menit, 30%ml/jam  kulit dingin dan sianosis
 peningkatan capillary refill lebih  sangat kehausan  urin output kurang dari
dari 3 detik,  gelisah, bingung, cepat marah 10%
 urin output lebih dari 30ml/jam,  penurunan kesadarann
 kulit pucat dan dingin

Setelah anamnesis dan pemeriksaan fisis dlakukan, langkah diagnosis selanjutnya tergantung pada penyebab yang
mungkin pada hipovolemik, dan stabilitas dari kondisi pasien itu sendiri. Pemeriksaan laboratorium awal yang sebaiknya dilakukan
antara lain: analisis Complete Blood Count (CBC), kadar elektrolit (Na, K, Cl, HCO3, BUN, kreatinin, kadar glukosa), PT, APTT,
AGD, urinalisis (pada pasien yang mengalami trauma), dan tes kehamilan. Darah sebaiknya ditentukan tipenya dan dilakukan
pencocokan.
Pasien dengan hipotensi dan/atau kondisi tidak stabil harus pertama kali diresusitasi secara adekuat. Penanganan ini
lebih utama daripada pemeriksaan radiologi dan menjadi intervensi segera dan membawa pasien cepat ke ruang operasi. Langkah
diagnosis pasien dengan trauma, dan tanda serta gejala hipovolemia langsung dapat ditemukan kehilangan darah pada sumber
perdarahan.
Pasien trauma dengan syok hipovolemik membutuhkan pemeriksaan ultrasonografi di unit gawat darurat jika dicurigai
terjadi aneurisma aorta abdominalis. Jika dicurigai terjadi perdarahan gastrointestinal, sebaiknya dipasang selang nasogastrik, dan
gastric lavage harus dilakukan. Foto polos dada posisi tegak dilakukan jika dicurigai ulkus perforasi atau Sindrom Boerhaave.
Endoskopi dapat dilakukan (biasanya setelah pasien tertangani) untuk selanjutnya mencari sumber perdarahan.
Tes kehamilan sebaiknya dilakukan pada semua pasien perempuan usia subur. Jika pasien hamil dan sementara
mengalami syok, konsultasi bedah dan ultrasonografi pelvis harus segera dilakukan pada pelayanan kesehatan yang memiliki
fasilitas tersebut. Syok hipovolemik akibat kehamilan ektopik sering terjadi. Syok hipovolemik akibat kehamilan ektopik pada pasien
dengan hasil tes kehamilan negatif jarang, namun pernah dilaporkan.
Jika dicurigai terjadi diseksi dada karena mekanisme dan penemuan dari foto polos dada awal, dapat dilakukan
transesofageal echocardiography, aortografi, atau CT-scan dada. Jika dicurigai terjadi cedera abdomen, dapat dilakukan
pemeriksaan FAST (Focused Abdominal Sonography for Trauma) yang bisa dilakukan pada pasien yang stabil atau tidak stabil. CT-
Scan umumnya dilakukan pada pasien yang stabil. Jika dicurigai fraktur tulang panjang, harus dilakukan pemeriksaan radiologi.
Hasil pemeriksaan yang dapat mendukung diagnosis, diantaranya: penurunan HCT, penurunan Hb, penurunan RBC dan jumlah
platelet, peningkatan serum potassium, sodium, lactate dehydrogenase, creatinin, dan BUN, peningkatan berat jenis urin (> 1.020)
dan osmolalitas urin; sodium urin < 50 mEq/L, penurunan creatinin urin, penurunan pH, peningkatan PaCO2, gastroskopi, X-Ray,
aspirasi isi lambung melalui NGT, pemeriksaan koagulasi pada disseminated intravascular coagulation (DIC).
PENATALAKSANAAN SYOK HIPOVOLEMIK
Tujuan utama dalam mengatasi syok hipovolemik adalah (1) memulihkan volume intravascular untuk membalik urutan
peristiwa sehingga tidak mengarah pada perfusi jaringan yang tidak adekuat. (2) meredistribusi volume cairan, dan (3) memperbaiki
penyebab yang mendasari kehilangan cairan secepat mungkin.
Jika pasien sedang mengalami hemoragi, upaya dilakukan untuk menghentikan perdarahan. Mencakup pemasangan
tekanan pada tempat perdarahan atau mungkin diperlukan pembedahan untuk menghentikan perdarahan internal.
Pemasangan dua jalur intra vena dengan kjarum besar dipasang untuk membuat akses intra vena guna pemberian
cairan. Maksudnya memungkinkan pemberian secara simultan terapi cairan dan komponen darah jika diperlukan. Contohnya :
Ringer Laktat dan Natrium clorida 0,9 %, Koloid (albumin dan dekstran 6 %).
Pemberian posisi trendelenberg yang dimodifikasi dengan meninggikan tungkai pasien, sekitar 20 derajat, lutut
diluruskan, trunchus horizontal dan kepala agak dinaikan. Tujuannya, untuk meningkatkan arus balik vena yang dipengaruhi oleh
gaya gravitasi.
Medikasi akan diresepkan untuk mengatasi dehidarasi jika penyebab yang mendasari adalah dehidrasi. Contohnya,
insulin akan diberikan pada pasien dengan dehidrasi sekunder terhadap hiperglikemia, desmopresin (DDVP) untuk diabetes
insipidus, preparat anti diare untuk diare dan anti emetic untuk muntah- muntah.
Penatalaksanaan pra rumah sakit pada pasien dengan syok hipovolemik sering dimulai pada tempat kejadian atau di
rumah. Tim yang menangani pasien sebelum ke rumah sakit sebaiknya bekerja mencegah cedera lebih lanjut, membawa pasien ke
rumah sakit sesegera mungkin, dan memulai penanganan yang sesuai. Intervensi sebelum ke rumah sakit terdiri dari immobilisasi
(pada pasien trauma), menjamin
jalan napas yang adekuat, menjamin ventilasi, dan memaksimalkan sirkulasi. Dalam penanganan syok hipovolemik,
ventilasi tekanan positif dapat mengurangi aliran balik vena, mengurangi cardiac output, dan memperburuk status/keadaan syok.
Walaupun oksigenasi dan ventilasi penting, kelebihan ventilasi tekanan positif dapat merusak pada pasien dengan syok hipovolemik.
Penanganan yang sesuai biasanya dapat dimulai tanpa keterlambatan transportasi. Beberapa prosedur, seperti memulai pemberian
infus atau fiksasi ekstremitas, dapat dilakukan ketika pasien sudah dibebaskan. Namun, tindakan yang memperlambat pemindahan
pasien sebaiknya ditunda. Keuntungan pemberian cairan intravena segera pada tempat kejadian tidak jelas. Namun, infus intravena
dan resusitasi cairan harus dimulai dan dilanjutkan dalam perjalanan ke tempat pelayanan kesehatan.
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain:
1. Kaji jumlah kehilangan volume cairan dan mulai lakukan penggantian cairan sesuai order. Pastikan golongan darah
untuk pemberian terapi transfusi
2. Kaji AGD/Analisa Gas Darah, jika pasien mengalami cardiac atau respiratory arrest lakukan CPR
3. Berikan terapi oksigen sesuai order. Monitor saturasi oksigen dan hasil AGD untuk mengetahui adanya hypoxemia dan
mengantisipasi diperlukannya intubasi dan penggunaan ventilasi mekanik. Atur posisi semi fowler untuk memaksimalkan ekspansi
dada. Jaga pasien tetap tenang dan nyaman untuk meminimalkan kebutuhan oksigen
4. Monitor vital sign, status neurologis, dan ritme jantung secara berkesinambungan. Observasi warna kulit dan cek
capillary refill
5. Monitor parameter hemodinamik, termasuk CVP, PAWP, dan cardiac output, setiap 15 menit, untuk mengevaluasi
respon pasien terhadap treatmen yang sudah diberikan
6. Monitot intake dan output.pasang dower cateter dan kaji urin output setiap jam. Jika perdarahan berasal dari
gastrointestinal maka cek feses, muntahan, dan gastric drainase. Jika output kuranng dari 30 ml/jam pada pasien dewasa pasang
infuse, tetapi awasi adnya tanda kelebihan cairan seperti peningkatan PAWP. Lapor dokter jika urin output tidak meningkat
7. Berikan transfuse sesuai lorder, monitor Hb secara serial dan HCT
8. Berikan Dopamin atau norepineprin I.V., sesuai order untuk meningkatkan kontraktilitas jantung dan perfusi renal
9. Awasi tanda-tanda adanya koagulopati seperti petekie, perdarahan, catat segera
10. Berikan support emosional
11. Siapkan pasien untuk dilakukan pembedahan,
jika perlu.
Pemantauan yang perlu dilakukan dalam menentukan kecepatan infus:
Nadi: nadi yang cepat menunjukkan adanya hipovolemia. Tekanan darah: bila tekanan darah < 90 mmHg pada pasien
normotensi atau tekanan darah turun > 40 mmHg pada pasien hipertensi, menunjukkan masih perlunya transfusi cairan.
DAFTAR PUSTAKA
S.Budi Halim,D.Sukatman,Hamzah Shatri.Aspek Psikosomatik Pada Gangguan Irama Jantung.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam,Internal Publishing ,
Juli 2014;VI:3607-3609.
Myriam A. S. Bonomo, Cavalcanti T. F de Araujo, Psychological Approach to the Cardiac Arrhythmias: A Focus on the Emotions
http://www.researchgate.net/publication/221926331
Darmawan, Iyan, Cairan Alternatif untuk Resusitasi Cairan: Ringer Asetat, Medical Departement PT Otsuka
Indonesia, Simposium Alternatif Baru Dalam Terapi Resusitasi Cairan.
Critical Nursing Made Incredible Easy, Lipincot Williams and Wilkins, A Wolters Kluwer, Philadelpia,
2004
FH Feng, KM Fock, Peng, Penuntun Pengobatan Darurat, Yayasan Essentia Medica – Andi Yogyakarta,
Edisi Yogya 1996 hal 5–16
Lewis, Heitkemper, Dirksen, Medical-Surgical Nursing: Assessment and management of Clinical
Problems,Mosby Inc, Missouri, 2000
Sunatrio, S, Larutan Ringer Asetat dalam Praktik Klinis, Simposium Alternatif Baru Dalam Terapi
Resusitasi Cairan, Bagian Anestesiologi FKUI/RSCM, Jakarta, 14 Agustus 1999.
Thaib, Roesli, Syok Hipovolemik dan Terapi Cairan, Kumpulan Naskah Temu Nasional dokter PTT, FKUI,
Simposisum hal 17-32