Anda di halaman 1dari 20

Direktorat Pengairan dan Irigasi

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/


Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

Pembahasan Aspek Strategis Pengelolaan Air dalam Penyusunan RIPI PUPR di Provinsi NTT dan Kepulauan Maluku
Flores, 7 Mei 2018
Peran Infrastruktur dalam
Pencapaian VISI Indonesia 2045
Skenario Pertumbuhan •
Ekonomi Indonesia 2045


Arahan VISI Indonesia 2045 Pemantapan Ketahanan Air
Arahan VISI Indonesia 2045
Pemantapan Ketahanan Pangan dan
Peningkatan Kesejahteraan Petani
Arahan VISI Indonesia 2045
Komitmen terhadap Lingkungan
Hidup
Pilar Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu

pembangunan waduk

restorasi danau
Pengelolaan irigasi

NCICD

FMSRB
restorasi danau

pembangunan
pengaman pantai

pembangunan sarpras
pengendali banjir

Pembangunan
pengendali lahar
gunung berapi
hydro power

pengelolaan irigasi

pengelolaan air baku

Penguatan regulasi dan


kelembagaan

KMC IPDMIP

HSAP Protocol

e-planning DAK
Tantangan Koordinas Multisektor dan Lintas Administrasi dalam
Penyediaan Air Minum
Capaian Air Minum
IDLE CAPACITY CUKUP BESAR Urban Rural Indonesia
38 m3/dtk* 100
71.1

80 68.4 71.1
6 m3/dtk 60 47.6 44.2
37.7 38.0 37.5
40

Preliminary
20
Treatment
0

2015

2018
1993
1995
2000
2005
2010
2014

2016
2017

2019
Intake

DITJEN SUMBER DITJEN CIPTA


DAYA AIR KARYA PDAM*
TINDAK LANJUT PEMANFAATAN IDLE CAPACITY SANGAT *169 tidak sehat
BERGANTUNG KEMAMPUAN DAN KONDISI PDAM
Pembagian Kewenangan Pengelolaan
Irigasi dalam Satu Sistem Irigasi

→ →
Pembagian Kewenangan Pengembangan dan
Pengelolaan Sistem Irigasi

A. PEMBAGIAN TANGGUNG JAWAB PENGEMBANGAN DAN PENGELOLAAN SISTEM IRIGASI PRIMER, SEKUNDER, DAN TERSIER

Pemerintah Pusat Pemerintah Provinsi Pemerintah Kabupaten/Kota Petani


• Daerah irigasi yang luasnya lebih • Daerah irigasi yang luasnya • Daerah irigasi yang luasnya • Jaringan irigasi desa, subak, dan di
dari 3000 Ha 1000-3000 Ha kurang dari 1000 Ha dalam petak tersier pada semua luasan
• Daerah irigasi lintas daerah • Daerah irigasi lintas daerah • Dalam satu daerah daerah irigasi
provinsi kabupaten/kota kabupaten/kota • Pemerintah dapat memberikan
• Daerah irigasi strategis nasional bantuan dalam kondisi tertentu.

BANGUNAN UTAMA, PRIMER DAN SEKUNDER TERSIER

B. KRITERIA BERDASARKAN PADA KEBERADAAN JARINGAN IRIGASI TERHADAP WILAYAH ADMINSITRASI

Daerah Irigasi Strategis Daerah Irigasi Lintas Daerah Irigasi Lintas Daerah Daerah Irigasi Lintas Daerah Daerah Irigasi yang Terletak
Nasional Negara Provinsi Kabupaten/Kota Utuh pada Satu Kabupaten/Kota

Daerah irigasi Daerah irigasi Daerah irigasi Daerah irigasi


berada di lebih Daerah irigasi
yang luasnya berada di lebih berada berada di
dari satu wilayah berada dalam satu
lebih dari dari satu lebih dari satu
kab/kota dalam wilayah Kab/Kota
10.000 ha negara wilayah provinsi
satu provinsi

Sumber : Permen PUPR No 14/2015 tentang Kriteria dan Penetapan Status Daerah Irigasi; UU 23/2014 tentang Pemerintahan Daerahh dan PP 23/1982 tentang Irigasi
Koordinasi Multisektor dalam Pengendalian Banjir

Peresapan rendah
Pada musim kemarau
• Erosi tinggi
air sungai nyaris kering
• Longsor

Pengelolaan Drainase Lingkungan :

Limpasan tinggi DITJEN CIPTA


KARYA

• Banjir bandang
• Pendangkalan sungai dan muara
• Daerah banjir meluas
Pengelolaan Tampungan Air :
• Peresapan air berkurang
• Muka air tanah turun,
• Mata Air kering DITJEN SUMBER
• Terjadi intrusi air laut DAYA AIR
Sumber: Badan Pusat Statistik (2018)
Pemerataan Pembangunan
Sasaran VISI Indonesia 2045 Wilayah

30 Tahun Sebelumnya 30 Tahun Mendatang


Kalimantan Sulawesi

6,9% 7,4%
1983 2013 2015 2045 PERTAHUN PERTAHUN

Maluku

9,0%
PERTAHUN

Sumatera

6,4%
PERTAHUN

Papua

Jawa Bali dan NusaTenggara 8,3%


6,1%
PERTAHUN

PERTAHUN
7,2%
PERTAHUN



▪ → ▪


Isu utama Pengelolaan Sumberdaya Air di NTT dan Kepulauan Maluku adalah terbatasnya ketersediaan
air baku dan kerentanan terhadap daya rusak air (banjir dan abrasi) akibat perubahan iklim

• Penyediaan waduk dan embung disertai


konservasi kawasan hulu

• Peningkatan keandalan air melalui water


harvesting dan penghematan air

• Pengaman Pantai pulau-pulau kecil


(fokus perbatasan) • Irigasi untuk perikanan tambak

• Pengendalian banjir perkotaan • Penyediaan Air Bersih melalui


(antisipasi dampak climate change) kombinasi air permukaan dan air
tanah serta desalinasi, terutama
kawasan perkotaan dengan
pertumbuhan penduduk yang tinggi.

• Peningkatan prakarsa masyarakat dalam


• Perkuatan institusi pengelola SDA penyediaan dan pengelolaan prasarana
dan lingkungan dasar (air minum dan sanitasi)

• Peningkatan kualitas data hidrologi • Peningkatan upaya simpan, jaga, dan


hemat air
1. Kondisi iklim dan tipe wilayah kepulauan merupakan tantangan utama pengelolaan sumberdaya air
di NTT dan Kepulauan Maluku ➔ ketersediaan air baku dan kerentanan terhadap perubahan iklim.
2. Dalam lima tahun mendatang, penyediaan infrastruktur sumberdaya air di NTT dan Maluku
diutamakan untuk meningkatkan ketersediaan air yang sesuai dengan kondisi masing-masing pulau.
3. Penyediaan air untuk wilayah perkotaaan dan kawasan industri perlu mempertimbangkan teknologi
alternatif seperti desalinasi air laut, terutama pada daerah yang memiliki potensi sumber air yang
sangat terbatas.
4. Pengembangan ekonomi berbasis maritime di NTT dan Maluku perlu didukung oleh pengembangan
kawasan perikanan budidaya yang didukung oleh sistem irigasi.
5. Beberapa persiapan untuk penyusunan rencana pembangunan jangka menengah 2020-2024 di NTT
dan Maluku antara lain:
a. Menyusun prioritas penyediaan air baku untuk Kawasan perkotaan dan industri (waduk,
embung, air tanah, dan lainnya)
b. Mempersiapkan strategi penyediaan air skala lokal untuk untuk pulau kecil dan terluar.
c. Menyusun prioritas pengamanan pantai di wilayah perbatasan Indonesia.
d. Meningkatkan ketersediaan data terkait sumberdaya air untuk mendukung proses perencanaan
dan penyusunan program yang lebih berkualitas.