Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Torch adalah istilah untuk menggambarkan gabungan dari empat
jenis penyakit infeksi yaitu TOxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus dan
Herpes. Keempat jenis penyakit infeksi ini, sama-sama berbahaya bagi
janin bila infeksi diderita oleh ibu hamil. Kini, diagnosis untuk penyakit
infeksi telah berkembang antara lain ke arah pemeriksaan secara
imunologis. Prinsip dan pemeriksaan ini adalah deteksi adanya zat anti
(antibodi) yang spesifik terhadap kuman penyebab infeksi tersebut sebagai
respon tubuh terhadap adanya benda asing (kuman antibodi yang terburuk
dapat berupa Imonoglobulin M (IgM) dan Imonoglobulin G (IgG).
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu torch?
2. Apa saja etiologi torch?
3. Apa saja tanda dan gejala torch?
4. Apa saja klasifikasi torch?
5. Apa saja patofisiologi torch?
6. Apa saja Pathway dari torch?
7. Apa saja penatalaksanaan torch?
C. Tujuan
1. Mengetahui definisi torch
2. Mengetahui etiologi torch
3. Mengetahui tanda dan gejala torch
4. Mengetahui klasifikasi torch
5. Mengetahui patofisiologi torch
6. Mengetahui Pathway dari torch
7. Mengetahui penatalaksanaan torch

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
TORCH adalah singkatan dari Toxoplasma gondii
(Toxo), Rubella, Cyto Megalo Virus (CMV), Herpes Simplex Virus
(HSV) yang terdiri dari HSV1 dan HSV2 serta kemungkinan oleh virus
lain yang dampak klinisnya lebih terbatas (Misalnya Measles, Varicella,
Echovirus, Mumps, virus Vaccinia, virus Polio, dan virus Coxsackie-B).
Prinsip dari pemeriksaan ini adalah deteksi adanya zat anti (antibodi) yang
spesifik taerhadap kuman penyebab infeksi tersebut sebagai respon tubuh
terhadap adanya benda asing (kuman. Antibodi yang terburuk dapat
berupa Imunoglobulin M (IgM) dan Imunoglobulin G (IgG).
Penyakit TORCH ini dikenal karena menyebabkan kelainan dan
berbagai keluhan yang bisa menyerang siapa saja, mulai anak-anak sampai
orang dewasa, baik pria maupun wanita. Bagi ibu yang terinfeksi saat
hamil dapat menyebabkan kelainan pertumbuhan pada bayinya, yaitu cacat
fisik dan mental yang beraneka ragam.

1. TAXOPLASMA
Taxoplasmosis penyakit zonosis yaitu penyakit pada hewan
yang dapat ditularkan ke manusia. Penyakit ini disebabkan oleh
sporozoa yang dikenal dengan nama Taxoplasma gondi. Taxoplasma
gondi yaitu suatu parasit intrseluler yang menginfeksi pada manusi dan
hewan.
Taxoplasma gondi termasuk spesies dari kelas sporozoa
(Cocidia), pertama kali ditemukan pada binatang pengerat
Ctenodactylus gundi di Afrika Utara (Tunisia) oleh Nicole dan
Manccaux tahun 19908. Tahun 1928 Taxoplasma gondi ditemukan
pada manusia pertama kali oleh Castellani.

2
Infeksi ini disebabkan oleh Toksoplasmosis Gondi yang
bersumber dari kucing, tikus, dan hewan peliharaan lain. Jalur
kontaminasi adalah melalui makanan yang terkontaminasi oleh kotoran
hewan tersebut dalam bentuk kista yang tidak mati saat dimasak.
Pengaruhnya terhadap kehamilan dapat menimbulkan cacat
kongenital yang berat serta miltipel, persalinan atau
abortus.diagnosisnya hanya dapat ditegakkan dengan pemeriksaan
serologis.Bila infeksi masih aktif sebaiknya menunda kehamilan
sehingga terhindar dari kemungkinan cacat pada bayinya.
Gejala klinis orang-orang yang terkena Taxoplasmosis akut
pada umumnya tidak merasa sakit yang menarik perhatiannya sehingga
tidak terdeteksi. Gejala klinis yang muncul mirip seperti gejala kilns
penyakit infeksi pada umumnya, seperti; demam, pembesaran kelenjar
limfa di leher bagian belakang tanpa rasa sakit, sakit kepala, rasa sakit
di otot, lesu dan lemas.
2. RUBELLA
Virus Rubella atau disebut juga dengan “Campak Jerman”
merupakan jenis penyakit menular yang disebabkan oleh virus dan
menyerang siapa saja. Virus Rubella ditemukan oleh Sir Norman Greg
dari Eropa tahun 1941 dan baru dapat diisolasikan tahun 1962.
Walaupun penderita Virus Rubella tidak menampakan gejal klinis 14-
21 hari, virus ini sebetulnya telah berada di beberapa tempat misalnya
bulu tenggorokan hidung, air seni dan kotoran manusia.
Penyakit ini biasanya menyerang pada bagian saluran
pernapasan atau di dalam tenggorokan. Cara penularannya bisa lewat
udara, ludah, kontak kulit, dan dapat juga lewat kotoran manusia.
Bahaya virus Rubella ini adalah apabila menyerang ibu hamil
karena bisa mengakibatkan keguguran. Kalau tidak keguguran anak
yang dilahirkan bisa terkena penyakit katarak, tuli, hydrosefalus,
mikrosefalus, hypoplasia (gangguan pertumbuhan organ tubuh seperti,
jantung, paru-paru dan limfa). Bisa juga menyebabkan berat bayi tidak

3
normal, keterbelakangan mental, hepatitis, randang selaput otak,
radang iris mata dan beberapa penyakit jenis lainnya.
Serangan Rubella pada anak-anak biasanya menyebabkan panas
badan dan sakit persendian tubuh. Kemudian tampat bercak-bercak
merah yang berdiameter sekitar 2-3 mm. juga terjadi pembengkakan
pada kelenjar getah bening di belakang telinga atau di bawah leher.
Mula-mula bercak-bercak merah menyerang wajah kemudia menjalar
ke seluruh tubuh serta merata. Bercak-bercak ini seperti campak.
Pengaruh langsung terhadap janin adalah keguguran spontan.
Sel yang belum matang lebih mudah terinfeksi virus Rubella. Hal ini
disebabkan antigen yang dibuat janin baru berfungsi setelah
kelahirannya. Ini berarti antigen harus menunggu sampai jangka waktu
tertentu. Selain keguguran spontan akibat lain yang dapat muncul
adalah juga menyebabkan pertumbuhan pertumbuhan tengkorak kecil
dan penyakit lainnya.
3. Cyto Megalo Virus (CMV)
Sitomegalovirus (CMV) termasuk golongan virus DNA. Hal ini
berdasrkan struktur dan cara virus pada saat melakukan replikasi. Virus
ini menyebabkan pembengkakan sel yang karakteristik sehingga terlihat
sel membesar (sitomegali) dan tampak sebagai gambaran mata burung
hantu. Penularan/ tranmisi CMV berlangsung secara horisontal, vertikal
dan hubungan seksual :
a. Transmisi horisontal terjadi melalui droplet infection dan kontak
dengan air ludah dan air seni.
b. Transmisi vertikal berupa penularan infeksi maternal ke janin.
c. Infeksi CMV kongenital terjadi karena transmisi transplasenta
selama kehamilan dan diperkirakan 0,5-2,5% dari populasi neonatal.
Dimasa peripartum infeksi CMV timbul akibat pemaparan terhadap sekresi
servik yang telah terinfeksi melalui ASI dan tindakan transpusi darah.
Infeksi CMV terjadi karena pemaparan pertama kali atas individu
disebut infeksi primer. Infeksi primer berlangsung simptomatis ataupun

4
asimptomatis serta virus akan menetap dalam jaringan hospes dalam waktu
yang tidak terbatas. Virus masuk kedalam sel-sel dari berbagai macam
jaringan yang disebut infeksi laten. Pada keadaan tertentu eksaserbasi
terjadi dari infeksi laten disertai multiplikasi virus. Keadaan tersebut
misalnya terjadi pada invidu yang mengalami suvresi imun karena infeksi
HIV atau obat-obatan yang dikonsumsi penderita transplant-resipien
ataupun penderita dengan keganasan.
Infeksi rekuren (reaktivasi/reinfeksi) yang dimungkinkan kerena
penyakit tertentu serta keadaan suvresi imun yang bersipat iatrogenic.
Dapat diterangkan bahwa kedua keadaan tersebut menekan respon sel
limfosit T sehingga timbul simulasi antigenic yang kronis.
Pada pengidap CMV, misalnya seorang ibu pada saat hamil, ia akan
mengalami keguguran terus-menerus, atau bayi yang dikadungnya lahir
dalam keadaan cacat fisik, seperi hydrosefalus, pembesaran atau
pengecilan kepala, lahir dnegan usus keluar, kaki dan tangannya jadi
bengkok.
4. Herpes Simplex Virus
Pada dasarnya virus Herpes juga disebut Hepes Simplex Virus dan sering
disingkat dengan HSV. Virus ini dibedakan menjadi dua, yaitu HSV 1 dan
HSV 2. Penyebab 84 % kasus penyakit kelamin. Perbedaan antara HSV 1 dan
HSV 2 adalah :
a. HSV 1
Bagian pada HSV 1 yakni pada kulit dan selaput lendir mukosa di mata
atau di mulut, hidung dan telinga. Bentuk pada kulit HSV 1 membentuk
bercak verikel-verikel kecil. Pada HSV 1 terdapat antibody anti HSV 1.
b. HSV 2
Sedangkan pada HSV 2 bagian yang disukai yakni pada kulit dan
selaput lendir pada alat kelamin dan perianal. Bantuk pada kulit HSV 2,
membentuk bercak verikel-verikel besar, tebal dan terpusat. Pada HSV 2
terdapat antibody anti HSV 2.

5
Khusus pada wanita hamil yang terinfeksi HSV 2, harus ditangani
secara serius, karena virus ini dapat menembus plasenta dan menimbulkan
kerusakan neonatal, dampak-dampak congenital dan kematian janin.
Selain itu resiko yang dihadapi penderita adalah kematian, tetapi hal ini
jarang terjadi selama belum dilakukan pengobatan yang afektif,
perkembangan penyakit Herpes sukar diramalkan.
Gejala klinis yang dapat ditimbulkan inveksi HSV dapat dilihat pada table
sebagai berikut :
Gejala Klinis Prosentase Infeksi Virus
Lesu 85 %
Gangguan pernafasan 60 %
Bisul berair 60 %
Suhu panas atau dingin 50 %
Pendarahan 50 %
Hepato megali 50 %
Kelainan jaringan saraf pusat 40 %
Kulit kuning 30 %
Kulit biru 20 %
Radang selaput lendir mata 10 %
Korioretinis 10 %
Kematian 70 %
Sumber : Solusi Tepat Bagi Penderita TORCH, pengarang Ir. H, A Juanda Hal :
46

B. Etiologi
1. Toxoplasma
Infeksi toxoplasma disebabkan oleh parasit yang disebut Toxoplasma
gondi. Tokoplasma gondi adalah protozoa yang dapat ditemukan pada
pada hampir semua hewan dan unggas berdarah panas. Akan tetapi
kucing adalah inang primernya. Kotoran kucing pada makanan yang

6
berasal dari hewan yang kurang masak, yang mengandung oocysts dari
toxoplasma gondi dapat menjadi jalan penyebarannya. Contoh lainnya
adalah pada saat berkebun atau saat membenahi tanaman
dipekarangan, kemudian tangan yang masih belum dibersihkan
melakukan kontak dengan mulut.

2. Rubella
virus ini pertama kali ditemukan di amerika pada tahun 1966,
Rubella pernah menjadi endemic di banyak negara di dunia, virus ini
menyebar melalui droplet. Periode inkubasinya adalah 14-21 hari.

3. Cytomegalovirus
Penularan CMVakan terjadi jika ada kontak langsung dengan
ciran tubuh penderita seperti air seni, air ludah, air mata, sperma dan
air susu ibu. Bisa juga terjadi karena transplatasi organ.Kebanyakan
penularan terjadi karena cairan tubuh penderita menyentuh tangan
individu yang rentan.Kemudian diabsorpsi melalui hidung dan
tangan.Teknik mencuci tangan dengan sederhana manggunakan sabun
cukup efektif untuk membuang virus dari tangan.Golongan sosial
ekonomi rendah lebih rentan terkena infeksi.Rumah sakit juga
marupakan tempat penularan virus ini, terutama unit dialisis,
perawatan neonatal dan ruang anak.Penularan melalui hubungan
seksual juga dapat terjadi melalui cariran semen ataupun lendir
endoserviks. Virus juga dapat ditularkan pada bayi melalui sekresi
vagina pada saat lahir atau pada ia menyusu. Namun infeksi ini
biasanya tidak menimbulkan tanda dan gejala klinis.Resiko infeksi
kongenital CMV paling besar terdapat pada wanita yang sebelumnya
tidak pernah terinfeksi dan mereka yang terinfeksi pertama kali ketika
hamil.Meskipun jarang, sitomegalovirus kongenital tetap dapat
terulang pada ibu hamil yang pernah mempunyai anak dengan
sitomegalovirus kongenital pada kehamilan terdahulu.Penularan dapat

7
terjadi pada setiap saat dalam kehamilan tetapi semakin muda umur
kehamilan semakin berat gejala pada janinnya.Infeksi CMV lebih
sering terjadi di negara berkembang dan di masyarakat denga status
sosial ekonomi lebih rendah dan merupakan penyeirus paling
signifikan cacat lahir di negara-negara industri. CMV tampaknya
memiliki dampak besar pada parameter pada kekebalan tubuh di
kemudian hari dan dapat menyebabkan peningkatan morbiditas dan
kematian.

4. Herpes
Virus herpes simpleks tipe I dan II merupakan virus horminis
DNA. Pembagian tipe I dan II berdasarkan karakteristik pertumbuhan
pada media kultur, antigenic, dan lokasi klinis (tempat predileksi)
C. Tanda dan Gejala
1. Toxoplasma
a. Pada ibu
Terkadang Toxoplasma dapat menimbulkan beberapa
gejala seperti gejala influenza, timbul rasa lelah, malaise,
dan demam.Akan tetapi umumnya tidak menimbulkan masalah
yang berarti.Padaumumnya, infeksi Toxoplasma tarjadi tanpa
disertai gejala yang spesifik. Walaupun demikian, ada beberapa
gejala yang mengkin ditemukan pada orang yang terinfeksi
toksoplasma, gejala-gejala tersebut adalah :

1) Pyrexia of unknow origin (PUO)


2) Terlihat lemas dan kelelahan, sakit kepala, rash,myalgia
perasaan umum (tidak nyaman atau gelisah)
3) Pembesaran kelenjar limfe pada serviks posterior
4) Infeksi menyebar ke saraf, otak, korteks dan juga dapat
menyerang sel retina mata.
Infeksi Toxoplasma berbahaya bils terjadi saat ibu sedang hamil
atau pada orang dengan system kekebalan tubuh tergantung

8
(misalnya penderita AIDS, pasien transpalasi organ yang mendapat
obat penekan respon imun).
b. Pada janin
Jika wanita hamil terinfeksi Toxoplasma maka akibat yang
dapat terjadi pada janinnya adalah abortus spontan atau keguguran,
lahir mati, atau bayi menderita Toxoplasmosis bawaan.Padaawal
kehamilan infeksi toksoplasma dapat menyebabkan aborsi dan
biasanya terjadi secara berulang.Namun jika kandungan dapat
dipertahankan, maka dapat mengakibatkan kondisi yang lebih buruk
ketika lahir. Diantaranya adalah :
1) Lahir mati (still birth)
2) Icterus, dengan pembesaran hati dan limpa
3) Anemia
4) Perdarahan
5) Radang paru
6) Penglihatan dan pendengaran kurang
7) Dan juga gejala yang dapat muncul kemudian, seperti
kelainan mata dan telinga, retardasi mental, kejang-kejang dan
ensefalitis selain itu juga dapat merusak otak janin.
8) Resiko terbentuk dari terjangkitnya infeksi ini pada janin adalah
saat infeksi maternal akut terjadi di trimester ketiga
2. Rubella
Rubella menyebabkan sakit yang ringan dan tidak spesifik pada
orang dewasa, ditandai dengan cacar-seperti ruam,demam dan infeksi
saluran pernafasan atas. Sebagian besar Negara saat ini memiliki program
vaksin rubella untuk bayi dan wanita usia subur dan hal ini merupakan
bagian dari screening prakonsepsi. Ibu hamil secara rutin diperiksa untuk
antibody rubella dan jika tidak memiliki kekebalan akan segera diberikan
vaksin rubella pada periode postnatal. Fakta-fakta terkini menganjurkan
bahwa kahamilan yang disertai dengan pemberian vaksin rubella tidak
seberbahaya yang dipikirkan.Infeksi terberat terjadi pada trimester pertama

9
dengan lebih dari 85% bayi ikut terinfeksi.Bayi mengalami vireamia, yang
menghambat pembelahan sel dan menyebabkan kerusakan
perkembangan organ.Janin terinfeksi dalam 8 minggu
pertama kehamilan.Oleh karena itu memiliki resiko yang sangat tinggi
untuk mengalami multiple defek yang mempengaruhi mata, system
kardiovaskuler, telinga, dan system saraf.Arbosi spontan mungkin saja
terjadi. Ketulian neurosensory seringkali dsebabkan oleh infeksi setelah
gestasi 14 minggu dan beresiko kerusakan janin sampai usia 24 minggu.
Pada saat lahir, restriksi pertumbuhan intrauterine biasanya disertai
hepatitis, trombositopenia, dan penyakit nerologis seperti mikrosefali atau
hidrosefali.

3. Cytomegalovirus
Gejala CMV yang muncul pada wanita hamil minimal dan
biasanya mereka tidak akan sadar bahwa mereka telah terinfeksi. Namun
jika ini merupakan infeksi primer, maka janin biasanya juga beresiko
terinfeksi.Infeksi tersebut baru dapat di kenali setelah bayi lahir.Diantara
bayi tersebut baru dapat dikenali setelah bayi lahir. Diantara bayi tersebut
hanya ada 30% diketahui terinfeksi di dalam Rahim dan kurang dari 15%
akan menampakan gejala pada saat lahir. Hanya pada individu dengan
penurunan daya tahan dan pada masa pertumbuhan janin sitomegalovirus
menampakan virulensinya pada manusia. Pada wanita normal sebagian
besar adalah asimptomatik atau subkliik, tetapi bila menimbulkan gejala
akan tampak gejala antara lain :

1) Mononucleosis-like syndrome yaitu demam selama 3 minggu. Secara


klinis timbul gejala lethargi, malaise dan kelainan hematologi yang sulit
dibedakan dengan infeksi mononucleosis (tanpa tonsillitis atau faringitis
dan limfadenopati servikal). Kadang-kadang tampak gambaran seperti
hepatitis dan limfositosis atipik. Secara klinis infeksi sitomegalovirus juga
mirip dengan infeksi virus Epstein – bar dan dibedakan dari hasil tes
heterrofil yang negative. Gejala ini biasanya self limitting tetapi

10
komplikasi serius dapat pula terjadi seperti hepatitis, peneumonitis,
ensefalitis, miokarditis, dan lain-lain. Penting juga dibedakan dengan
tokso plasmosis dan hepatitis B yang juga mempunyai gejala serupa.
2) Sendroma post transfusi. Viremia terjadi 3-8 minggu setelah transfusi.
Tanpak gambaran panas kriptogenik, splenomegali, kelainan biokimia dan
hematologi. Sindroma ini juga dapat terjadi pada tranplantasi ginjal.
3) Penyakit sistemik luas antara lain neomonits yang mengancam jiwa yang
dapat pasien dengan infeksi kronis dengan thymoma atau pasien dengan
kelainan sekunder dari proses imonologi ( seperti HIV tipe 1 atau 2)
4. Herpes
Tidak seperti virus rubella, sitomegalovirus dapat menginfeksi
hasil konsepsi setiap saat dalam kehamilan. Bila infeksi terjadi pada masa
organogenesis (trimester I) atau selama periode pertumbuhan dan
perkembangan aktif (trimester II) dapat terjadi kelainan yang serius. Juga
didapatkan bukti adanya korelasi antara lamanya infeksi intrauterine
dengan embriopati. Pada trimester I infeksi kongenital sitomegalovirus
dapat menyebabkan premature, mikrosefali, IUGR, klasifikasi intracranial
pada ventrikel lateral dan traktus olfaktoris, sebagian besar terdapat
korioretinitis, juga terdapat retardasi mental, hepatosplenomegali, ikterus,
purpora trombositopeni, DIC. Infeksi pada trimester III berhubungan
dengan kelainan yang bukan disebabkan karena kegagalan pertumbuhan
somatic atau pembentukan psikomotor.

D. Klasifikasi
Penularan dapat disebut penularan dari ibu ke anak (mother-to-
child transmission). Infeksi yang dapat ditularkan vertical dapat disebut
infeksi perinatal (perinatal infaction) jika ditularkan pada periode
perinatal, yaitu periode yang dimulai pada masa gestasional 22 minggu

11
sampai 28 ( dengan variasi regional untuk definisi) dan berakhir tujuh hari
penuh setelah kelahiran.
Istilah infeksi kongenital (congenital infection) dapat digunakan jika
infeksi uang ditularkan vertical itu masih terus dialami setelah melahirkan.
Contoh :
Beberapa infeksi yang ditularkan vertikel dimasukkan ke dalam kompleks
TORCH, yang merupakan singkatan dari:

1. T- Toxoplasmosis / toxoplasma gondii


2. O- Other infections (see below)
3. R- Rubella
4. C- Cytomegalovirus
5. H- Herpes simplex virus-2 atau neonatal herpes simplex
Huruf O nerujuk pada other agentsatau penyebab lain termasuk :

1. Coxsackievirus
2. Chickenpox atau cacar air disebabkan oleh varicella zoster virus
3. Parvovirus
4. Chlamydia
5. HIV
6. Human T-lymphotropic virus
7. Syphilis
Hepatitis B juga dapat digolongkan sebagai infeksi yang ditularkan
vertikal, tetapi virus hepatitis B berukuran besar dan tidak dapat
menembus ke plasenta, sehingga tidak dapat menginfeksi janin kecuali ada
kebocoran pada barier ibu-bayi, misalnya pada pendarahan pada waktu
melahirkan atau amniocentesis

E. Patofisiologi
1. Toxoplasma
Toxoplasma gondii mempunyai 3 fase dalam hidupnya. Tiga
fase ini terbagi lagi menjadi 5 tingkat siklus : fase proliferatif, stadium

12
kista, fase schizogoni, gematogoni, dan fase ookista. Siklus aseksual
terdiri dari fase proliferasi dan stadium kista.Fase ini dapat terjadi
dalam bermacam-macam inang, sedangkan siklus seksual secara
spesifik hanya terdapat pada kucing. Kucing menjadi terinfeksi setelah
ia memakan mamalia, seperti tikus yang terinfeksi. Kista dalam tubuh
kucing dapat terbentuk setelah infeksi kronis yang berhubungan
dengan imunutas tubuh.Kiista terbentuk intraseldan kemudian terdapat
secara bebas di dalam jaringan sebagai stadium tidak aktif dan dapat
menetap dalam jaringan tanpa menimbulkan
reaksi inflamasi.Kista pada binatang yang terinfeksi menjadi infeksius,
jika termakan oleh kornivora dan toksoplasma tersebut masuk melalui
usus.Infeksi pada manusia dapat terjadi saat makan daging yang
kurang matang, sayur-sayuran yang tidak di masak, makanan yang
terkontaminasi kotoran kucing melalui lalat atau serangga.Juga ada
kemungkinan terinfeksi saat menghirup udara yang terdapat ookista
yang beterbangan. Cara penularang lain yang sangat penting adalah
pada jalur maternofetal. Ibu yang mendapat infeksi akut saat
kehamilannya dapat menularkannya pada janin melalui
plasenta.Imunitas maternal tampaknya memberikan perlindungan
terhadap penularan transplasental parasite tersebut.Dengan demikian,
toxoplasmosis kongenital dapat terjadi jika ibu mendapatkan infeksi
tersebut selama kehamilannya.
2. Rubella
Virus sesudah masuk melalui saluran pernafasan akan
menyebabkan peradangan pada mukosa saluran pernafasan untuk
kemudian menyebar keseluruh tubuh. dari saluran pernafasan inilah
virus akan menyerang ke sekelilingnya. Pada infeksi rubella yang
diperoleh post natal virus rubella akan dieksresikan dari faring. pada
rubella yang kongenal saluran pernafasan dan urin akan tetap
mengeksresikan virus sampai usia 2 tahun. hal ini perlu diperhatikan
dalam perawatan bayi di rumah sakit dan di rumah untuk mencegah

13
terjadinya penularan. Sesudah sembuh tubuh akan membentuk
kekebalan baik berupa antibodi maupun kekebalan seluler yang akan
mencegah terjadinya infeksi ulangan.

3. Cytomegalovirus
Masa inkubasi CMV
a. Setelah lahir 3-12 minggu
b. Setelah tranfusi 3-12 minggu
c. Setelah transplatasi 4 minggu – 4 bulan
Urin sering mengandung CMV dari beberapa bulan sampai beberapa
tahun setelah infeksi.Virustersebut dapat tetap tidak aktif dalam tubuh
seseorang tetapi masih dapat diaktifkan kembali. Hingga kini beluum
ada imunisasi untuk mencegah penyakit ini

4. Herpes
HSV-1 menyebabkan munculnya gelembung berisi cairan yang
terasa nyeri pada mukosa mulut, wajah, dan sekitar mata.HSV-2 atau
herpes genital ditularkan melalui hubungan seksual dan menyebabkan
vegina terlihat seperti bercak dengan luka mungkin muncul iritasi,
penurunan kesadaran yang disertai pusing, dan kekuningan pada kulit
(jaundice) dan kesulitan bernafas atau kejang.Biasanya hilang dalam 2
minggu infeksi, infeksi pertama HSV adalah yang paling berat dan
dimulai setelah masa inkubasi 4-6 hari.Gejala yang timbul meliputi
nyeri, inflamasi dan kemerahan pada kulit (eritema), dan diikuti
dengan pembentukan gelembung-gelembung yang berisi cairan bening
yang selanjutnya dapat berkembang menjadi nanah diikuti dengan
pembentukan keropeng atau kerang (scab).Setelah infeksi pertama,
HSV memiliki kemampuan unik untuk bermigrasi sampai pada syaraf
sensorik tepi menuju spinal ganglia dan berdormansi sampai diaktifasi
kembali. Pengaktifan virus yang berdormansi tersebut dapat
disebabkan penurunan daya tahan tubuh, stress, depresi, alergi pada

14
makanan, demam, trauma pada mukosa genital, menstruasi, kurang
tidur, dan sinar ultraviolet.

15