Anda di halaman 1dari 14

0

HAKIKAT ILMU

DALAM HUBUNGANNYA DENGAN KEBUDAYAAN


Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Ilmu

Revisi

Dosen Pengampu:

Dr. Afiful Ikhwan, M.Pd

Disusun Oleh:

Arif Luthfianto Al Amin - (17160118)


Ulfatul Munawaroh - (17160128)
Yulli Elveni Qomariyah - (17160131)

S2 - PAI/Semester Ganjil/Kelas B

PASCASARJANA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONOROGO

JANUARI 2018
1

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat-Nya, karena
dengan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Penulisan makalah
ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Ilmu dan untuk menambah
pengetahuan pembaca. Makalah ini berisi tentang hakikat ilmu dalam
hubungannya dengan kebudayaan, yang kami harapkan dapat memberikan
informasi kepada para pembaca dan penulis secara pribadi. Terimakasih kami
ucapkan kepada:
1. Rektor Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Ponorogo
2. Dosen Pengampu Mata Kuliah Filsafat Ilmu, Dr. Afiful Ikhwan, M.Pd
3. Pihak yang terkait serta teman kelompok yang telah mengerjakan dan
mensuport hingga makalah ini selesai
Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi segala usaha kita. Berbagai
pengetahuan dan ilmu yang kami paparkan dengan segala kekurangannya mohon
dimaafkan, kritikan yang membangun sangat dibutuhkan tim penulis makalah
guna penyempurnaan makalah ini.
2

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................... 1

DAFTAR ISI ...................................................................................................... 2

BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ...................................................... 3


B. Rumusan Masalah ............................................................... 3

BAB II : PEMBAHASAN

A. Manusia dan Kebudayaan ................................................... 4


B. Ilmu dan Pengembangan Kebudayaan ................................ 7
C. Pola Kebudayaan ................................................................. 10

BAB III : PENUTUP

A. Kesimpulan .......................................................................... 12

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 14


3

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sampai saat ini, sejarah tentang ilmu merupakan sebuah kisah kesuksesan.
Kemenangan-kemenangan ilmu melambangkan suatu proses kumulatif
peningkatan pengetahuan dan rangkaian kemenangan terhadap kebodohan dan
tahayul; dan ilmu lah kemudian mengalir arus penemuan-penemuan yang berguna
untuk kemajuan hidup manusia. Sejarawan menyadari bahwa gagasan ilmu yang
diperoleh selama dalam pendidikannya hanyalah salah satu dari sekian banyak
gagasan, dan itu merupakan produk dari konteks-konteks yang bersifat
sementara.1
Kebudayaan adalah produk manusia, namun manusia itu sendiri adalah
produk kebudayaan. Dengan kata lain, kebudayaan ada karena manusia yang
menciptakannya dan manusia dapat hidup ditengah kebudayaan yang
diciptakannya. Kebudayaan akan terus hidup manakala ada manusia sebagai
pendukungnya dan kebudayaan mempunyai kegunaan yang sangat besar bagi
manusia di dalam kehidupannya. Manusia dan kebudayaan adalah satu hal yang
tidak dapat dipisahkan karena dimana manusia itu hidup dan menetap pasti
manusia akan hidup sesuai dengan kebudayaan yang ada di daerah yang di
tinggalinya.
Konsep di atas sangat berkaitan erat, antara Ilmu, Manusia dan Kebudayaan.
Maka dari itu, kami penulis akan membahas makalah dengan judul “Hakikat Ilmu
dalam hubungannya dengan Kebudayaan”.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat di ambil rumusan masalah yaitu
1. Apa pengertian Manusia dan Kebudayaan?
2. Apa itu Ilmu dan Pengembangan Kebudayaan?
3. Bagaimana Dua Pola Kebudayaan tersebut?

BAB II

1
Jerome R. Ravertz, Filsafat Ilmu “Sejarah dan Ruang Lingkup Bahasan” (Yogjakarta:
Pustaka Pelajar, 2004), 3.
4

PEMBAHASAN

A. Manusia dan Kebudayaan


Setiap manusia berfikir dan berhasrat memperoleh pengetahuan yang
sempurna, yang dapat dijangkau dengan pengamatan yang cermat, pemeriksaan
yang teliti, penalaran yang luas, dengan berfikir sedalam-dalamnya tentang
kenyataan yang sebenar-benarnya. Menurut Peryana Suryadipura bahwa
kenyataan yang sebenarnya itu dinamai hakikat. Kegiatan hasrat memperoleh
hakikat, ialah berfikir dengan landasan yang benar. Berfikir dengan landasan dasar
yang benar membutuhkan tarekat, dengan demikian mencari hakikat ialah bukan
memikirkan sesuatu tentang kenyataan yang dapat disaksikan dengan kemampuan
pancaindra saja, melainkan berfikir mengenai hubungan antara kenyataan yang
ada dengan keseluruhannya terhadap semesta alam, dan dengan pusat asasnya
(yang mutlak/Sang Pencipta). Hubungan yang demikian dinamakan ma’rifat.
Sebagaimana yang dikutip Jalaludin mengatakan ada sejumlah konsep yang
mengacu kepada makna manusia sebagai makhluk. Dilihat dari sudut pandang
etika, Manusia disebut homo sapiens, yakni makhluk yang memiliki akal budi.
Lalu Manusia juga disebut animal rational, karena memiliki kemampuan barpikir.
Berdasarkan pendekatan kemampuan berbahasa, manusia dinamakan homo
lahuen. Mereka yang mengunakan pendekatan kebudayaan menyebut manusia
sebagai homo faber atau tool making animal. Makhluk yang mampu membuat
peralatan.
Kata budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu
buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan
sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. 2 Kebudayaan
dalam bahasa Inggris disebut culture, yang berasal dari kata latin Colere, yaitu
mengolah atau mengerjakan. Kata culture kadang diterjemahkan sebagai “kultur”
dalam bahasa Indonesia.3 Kuntjaraningrat dalam bukunya Jujun S. Suria Sumantri
membagi kebudayaan menjadi unsur-unsur yang terdiri dari sistem religi dan

2
Surajiyo, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, (Jakarta: Bumi Aksara,
2010), 137.
3
Tasmuji dkk, Ilmu Alamiah Dasar (IAD), Ilmu Sosial Dasar (ISD), Ilmu Budaya Dasar
(IBD), (Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press, 2012), 150.
5

upacara keagamaan, sistem dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan,


bahasa kesenian, sistem mata pencaharian serta sistem teknologi dan peralatan.
Ilmu hanya dapat maju apabila masyarakat dan peradaban berkembang.
Antropologi membahas manusia dan kebudayaan dari suatu masyarakat yang pada
masa lalu hingga masa kini. Kebudayaan di definisikan untuk pertama kali oleh
E.B. Taylor pada tahun 1871, di dalam kebudayaan diartikan sebagai keseluruhan
yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat serta
kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota
masyarakat.4
Manusia dalam kehidupannya mempunyai kebutuhan yang banyak. Adanya
kehidupan inilah yang mendorong manusia untuk melakukan berbagai tindakan
dalam rangka pemenuhan kebutuhan. Menurut Ashley Montagu, kebudayaan
mencerminkan tanggapan manusia terhadap kebutuhan dasar hidupnya. Pada
hakikatnya menurut Mavies dan John Biesanz, kebudayaan merupakan alat
penyelamat kemanusiaan di muka bumi.5
Ketidak mampuan manusia untuk bertindak secara instinktif ini manusia
diimbangi oleh kemampuan lain yakni kemampuan untuk belajar, berkomunikasi
dan menguasai objek-objek yang bersifat fisik disamping itu manusia mempunyai
budi yang merupakan pola kejiwaan yang didalamnya terkandung dorongan-
dorongan hidup yang dasar instink, perasaan, pikiran, kemauan dan fantasi. Budi
inilah yang menyebabkan manusia mengembangkan suatu hubungan yang
bermakna dengan alam sekitarnya dengan jalan memberi penilaian terhadap objek
dan kejadian. Maka pilihan inilah yang menjadi tujuan dan isi kebudayaan.
Nilai-nilai budaya ini adalah jiwa dari kebudayaan dan menjadi dasar dari
segenap wujud kebudayaan. Kebudayaan diwujudkan dalam bentuk tata hidup
yang merupakan kegiatan manusia yang mencerminkan nilai budaya yang
dikandungnya, pada dasarnya tata hidup merupakan pencerminan yang konkrit
dari nilai budaya yang bersifat abstrak. Kegiatan manusia dapat ditangkap oleh
panca indera sedangkan nilai budaya hanya tertangguk oleh budaya manusia,
maka nilai budaya dan tata hidup manusia ditopang oleh perwujudan kebudayaan

4
Muhammad Adib, Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistemologi, Aksiologi dan Logika Ilmu,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), 59.
5
Ibid., Filsafat Ilmu: …, 59.
6

yang ketiga yang berupa sarana kebudayaan, sarana kebudayaan ini merupakan
perwujudan yang bersifat fisik yang merupakan produk dari kebudayaan atau alat
yang memberikan kemudahan dalam kehidupan.
Keseluruhan fase dari kebudayaan itu erat hubungannya dengan pendidikan
sebab semua materi yang terkandung dalam suatu kebudayaan diperoleh manusia
secara sadar lewat proses belajar. Lewat kegiatan belajar inilah kebudayaan
diteruskan dari generasi yang satu pada generasi selanjutnya.
Manusia dan kebudayaan merupakan dua hal yang sangat erat berkaitan satu
sama lain. Manusia di alam dunia ini memegang peranan yang unik, dan dapat
dipandang dari berbagai segi. Dalam ilmu sosial manusia merupakan makhluk
yang ingin memperoleh keuntungan atau selalu memperhitungkan setiap kegiatan
sering disebut homo economicus (ilmu ekonomi). Manusia merupakan makhluk
sosial yang tidak dapat berdiri sendiri (sosialofi). Makhluk yang selalu ingin
mempunyai kekuasaan (politik), makhluk yang berbudaya dan lain sebagainya.
Dalam sosiologi manusia dan kebudayaan dinilai sebagai dwi tungal,
maksdunya bahwa walaupun keduanya berbeda tetapi keduanya merupakan satu
kesatuan. Manusia menciptakan kebudayaan, dan setelah kebudayaan itu tercipta
maka kebudayaan mengatur hidup manusia agar sesuai dengannya. Tampak
bahwa keduanya akhirnya merupakan satu kesatuan. Contoh sederhana yang dapat
kita lihat adalah hubungan antara manusia dengan peraturan-peraturan
kemasyarakatan. Pada saat awalnya peraturan itu dibuat oleh manusia setelah
peraturan itu terjadi maka manusia yang membuatnya harus patuh kepada
peraturan yang dibuatnya sendiri itu.
Manusia dalam kesehariannya tidak akan lepas dari kebudayaan, karena
kebudayaan itu merupakan perwujudan dari manusia itu sendiri. Manusia adalah
pencipta dan pengguna kebudayaan itu sendiri, manusia hidup karena adanya
kebudayaan, sementara itu kebudayaan akan terus hidup dan berkembang
manakala manusia mau melestarikan kebudayaan dan bukan merusaknya. Dengan
demikian manusia dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena
dalam kehidupannya tidak mungkin tidak berurusan dengan hasil-hasil
kebudayaan, setiap hari manusia melihat dan menggunakan kebudayaan, bahkan
kadang kala disadari atau tidak manusaia merusak kebuayaan.
7

Hubungan yang erat antara manusia (teruatama masyarakat) dan


kebudayaan telah lebih jauh di ungkapkan oleh Melville J. Herkovits dan
Broinslaw Malinawski, yang mengemukakan bahwa cultural determinism berarti
segala sesuatu yang terdapat didalam masyrakat ditentukan adanya ole
kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu, (Soemardjan, selo: 1964: 115),
kemudian Herkovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang super organic,
karena kebudayaan berturun menurun dari generasi ke generasi tetap hidup.
Walaupun manusia yang menjadi anggota masyarakat sudah berganti karena
kelahiran dan kematian.

B. Ilmu dan Pengembangan Kebudayaan


Istilah ilmu atau science merupakan suatu kata yang sering diartikan dengan
berbagai makna, atau mengandung lebih dari satu arti. Science dalam arti sebagai
natural science, biasanya dimaksud dalam ungkapan “sains dan teknologi”. Dalam
kamus istilah ilmiah dirumuskan pengertian sciences and technology sebagai
“The Study Of The Natural Sciences And The Application Of The Knowledge For
Practical Purpose”, yang artinya adalah penelaahan dari ilmu alam dan penerapan
dari pengetahuan ini untuk maksud praktis.
Seorang filsuf John G. Kemeny juga menggunakan ilmu dalam arti semua
pengetahuan yang dihimpun dengan perantara metode ilmiah (all knowledge
collected by means of the scientific method).
Charles Singer merumuskan bahwa ilmu adalah proses yang membuat
pengetahuan (science is the process which make knowledge).
Prof. Harold H. Tinus, banyak orang telah mempergunakan istilah ilmu
untuk menyebu suatu metode guna memperoleh pengetahuan yang objektif dan
dapat diperiksa kebenarannya.6
Ilmu pengetahuan itu ialah hasil usaha pemahaman manusia yang disusun
dalam suatu sistema mengenai kenyataan, struktur, pembagian, bagian-bagian dan
hukum-hukum tentang hal-ihwal yang diselidikinya (alam, manusia dan juga
agama). Sejauh yang dapat dijangkau budaya pemikiran manusia yang dibantu
pengindraannya, yang kebenarannya diuji secara empiris, riset dan eksperimental.7
6
Muhammad Adib, Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistemologi, Aksiologi dan Logika Ilmu
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), 49.
7
Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama (Surabaya: Bina Ilmu, 1987), 171.
8

Ilmu adalah bagian dari pengetahuan dan pengetahuan merupakan unsur


dari kebudayaan. Kebudayaan nasional merupakan wujud aspirasi dan cita-cita
suatu bangsa yang diwujudkan dengan kehidupan bernegara. Ilmu dan
kebudayaan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dilepaskan dan saling
memberikan pengaruh satu sama lain. Di dalam pengembangan kebudayaan
nasional ilmu berperan dalam dua hal:
a. Ilmu sebagai sumber nilai pendukung terselenggaranya pengembangan
kebudayaan nasional.
b. Ilmu sebagai sumber nilai pengisi pembentukan watak suatu bangsa.8
Kebudayaan adalah hasil karya cipta (pengolahan, pengerahan dan
penghargaan terhadap alam) oleh manusia dengan kekuatan jiwa (pikiran,
perasaan, kemauan, imajinasi, dan fakultas-fakultas ruhaniah lainnya) dan
raganya, yang menyatakan dalam berbagai kehidupan ruhaniah ataupun kehidupan
lahiriah manusia, sebagai jawaban atas segala tantangan, tentuan dan dorongan
dari intra diri manusia dan ekstra diri manusia, menuju arah terwujudnya
kebahagiaan dan kesejahteraan (spiritual dan material) manusia, baik individu
maupun masyarakat.
Kebudayaan secara tidak langsung merupakan wujud dari pendidikan,
karena kebudayaan diperoleh dari proses belajar yang selanjutnya diturunkan ke
generasi selanjutnya. Kebudayaan diturunkan dari waktu ke waktu, oleh
karenanya kebudayaan mengikat waktu. Dengan mempelajari kebudayaan,
sebenarnya kita telah mempelajari pendidikan manusia dari waktu ke waktu.
Kebudayaan berarti mempelajari sesuatu soal dari kehidupan manusia, baik
seorang pribadi maupun sebagai anggota masyarakat dalam hubungannya dengan
alam sekitarnya. Karena kebudayaan adalah alam pikiran dan mengasah budi.
Juga mempelajari seluruh segi kehidupan yang merupakan pernyataan dari cara
berfikir dan cara merasa masyarakat dan dapat dipahami bahwa seluruh segi
kehidupan diliputi oleh kebudayaan.
Dalam hubungannya dengan manusia, ada beberapa alternatif kedudukan
ilmu yaitu menjadi alat pengantar kearah kesejahteraan manusia. Disamping itu,
dalam hal pengembangan kebudayaan ilmu mempunyai dua kedudukan yaitu

8
Jujun S. Suria Sumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan, 2003), 272.
9

merupakan sumber nilai yang mendukung terselenggaranya pengembangan suatu


kebudayaan dan merupakan sumber nilai yang mengisi pembentukan watak
manusia, masyarakat atau bangsa.
Antara ilmu dan kebudayaan berada dalam posisi yang saling tergantung
dan saling mempengaruhi, pada sisi pengembangan ilmu dalam suatu masyarakat
tergantung pada kondisi kebudayaannya. Sedangkan disisi lain pengembangan
ilmu akan mempengaruhi jalannya kebudayaan. Dan dalam beberapa tipe
masyarakat, ilmu dapat berkembang pesat, demikian pula sebaliknya.
Pada hakekatnya antara ilmu dan kebudayaan terdapat suatu panduan,
karena dalam rangka pembangunan kebudayaan tidak terlepas dari nilai-nilai yang
dikandungnya. Dalam hal ini, ilmu berarti suatu cara berfikir yang menghasilkan
suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan, karena ilmu adalah produk berfikir
menurut sistematika tertentu yang secara umum disebut berfikir ilmiah.9

C. Dua Pola Kebudayaan

Dua pola kebudayaan dan ilmu yang begulir di Indonesia, adalah ilmu-ilmu
alam dan ilmu-ilmu sosial. Kenapa hal ini terjadi, ini terjadi karena besarnya
perbedaan antara ilmu sosial dan ilmu alam. Contohnya, jika kita belajar ilmu
alam dengan subjek batu, kira-kira saat lain di teliti lagi maka kemungkinan besar
akan berhasil dengan nilai yang sama, tetapi tidak demikin dalam ilmu sosial,
dalam ilmu sosial, ilmu sosial bergerak lebih fleksibel dan dapat berubah sewaktu-
waktu.

Namun kedua hal itu bukan merupakan masalah, kedua hal itu tidak
mengubah apa yang menjadai tujuan penelitian ilmiah. Ilmu bukan bermaksud
mengumpulkan fakta tapi untuk mencari penjelasa dari gejala-gejala yang
ada,yang memungkinkan kita mengetahui kebenaran hakikat objek yang kita
hadapi.

9
N. Drijakarta S.J., Filsafat Manusia, (Yogyakarta : Kanisius, 1993). 57.
10

Ada dua faktor yang menjadi landasan suatu analisis kuantitatif ilmu sosial
yaitu: sulitnya melakukan pengukuran, karena emosi dan aspirasi merupakan
unsure yang sulit dan yang kedua banyaknya variable yang mempengaruhi
tingkah laku manusia. Hal seperti inilah yang menyebabkan ilmu alam lebih maju
dari pada ilmu sosial. Itu dikarenakan ilmu sosial lebih terpaku pada tahap
kualitatif, dan untuk mengubah ini ilmu sosial harus lebih masuk ketahap
kuantitatif.

Di Indonesia hal seperti ini masih berlaku, tebukti adanya dua penjurusan
dalam bidang kajian ilmu, yaitu ilmu sosial dan ilmu alam, dan dalam
pelaksanaannya ilmu alam selalu dianggap lebih bergengsi di banding ilmu sosial.
Itu membuat sebagian masyarakat kita terobsesi untuk masuk jurusan ilmu alam
meski mungkin lebih berbakat dalam bidang sosial, sehingga secara tidak
langsung menghambat perkembangan ilmu sosial.10

Pada akhirnya harus kita sadari bahwa adanya dua jurusan dalam bidang
ilmu ini memerlukan suatu usaha yang fundamental dan sistematis dalam
menghadapinya. Perlu dicari titik temu diantara kedua bidang ini sehingga satu
sama lain akan saling melengkapi, bukan saling terpisah. Karena bagaimanapun
ilmu sosial tidak dapat terpisah dan berdiri sendiri dan begitupun ilmu alam tetap
terikat secara sosial.11

10
Jujun S. Suriasumantri, Ilmu Dalam Perspektif, (Jakarta: Gramedia, 1985), 134.
11
Andi Hakim Nasution, Pengantar Ke Filsafat Dains, (Penerbit PT. Pustaka Litera Antar
Nusa, 1999), 187.
11

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Sekiranya bisa diterima bahwa ilmu bersifat mendukung pengembangan
kebudayaan nasional, maka masalahnya adalah, bagaimana meningkatkan peranan
keilmuan dalam kehidupan kita. Mesti disadari bahwa keadaan masyarakat kita
masih jauh dari tahap masyarakat yang berorientasi pada ilmu. Bahkan dalam
masyarakat yang terdidikpun ilmu masih merupakan koleksi teori-teori yang
bersifat akademik yang sama sekali tidak fungsional dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk itu, dari makalah yang disampaikan di atas dapat diambil kesimpulan,
diantaranya:
1. Ilmu merupakan salah satu cara dalam menemukan kebenaran. Di samping
ilmu terdapat cara-cara lain yang sah sesuai dengan lingkup pendekatan dan
permasalahn masing-masing. Asas ini harus di garis bawahi agar usaha
mempromosikan ilmu tidak menjurus kepada timbulnya gejala yang disebut
scientisme, suatu gejala, yang disebut Gerald Holton, sebagai “kecanduan
terhadap ilmu dengan kecenderungan untuk membagi semua pemikiran
kepada dua golongan yakni ilmu dan omong kosong.
2. Keseluruhan fase dari kebudayaan itu erat hubungannya dengan pendidikan
sebab semua materi yang terkandung dalam suatu kebudayaan diperoleh
manusia secara sadar lewat proses belajar. Lewat kegiatan belajar inilah
kebudayaan diteruskan dari generasi yang satu pada generasi selanjutnya.
3. Antara ilmu dan kebudayaan berada dalam posisi yang saling tergantung
dan saling mempengaruhi, pada sisi pengembangan ilmu dalam suatu
masyarakat tergantung pada kondisi kebudayaannya. Sedangkan disisi lain
pengembangan ilmu akan mempengaruhi jalannya kebudayaan.

4. Pendidikan keilmuan haus sekaligus dikaitkan dengan pendidikan moral.


Makin pandai seseorang didalam bidang keilmuan maka harus makin luhur
landasan moralnya.
12

5. Dua pola kebudayaan dan ilmu yang begulir di Indonesia, adalah ilmu-ilmu
alam dan ilmu-ilmu sosial.
13

DAFTAR PUSTAKA

Adib, Muhammad. 2011. Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistemologi, Aksiologi dan


Logika Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hakim Nasution, Andi. 1999. Pengantar Ke Filsafat Dains. Penerbit PT. Pustaka
Litera Antar Nusa.

N. Drijakarta S.J.. 1993. Filsafat Manusia. Yogyakarta: Kanisius.

R. Ravertz, Jerome. 2004. Filsafat Ilmu “Sejarah dan Ruang Lingkup Bahasan”.
Yogjakarta: Pustaka Pelajar.

S. Suria Sumantri, Jujun. 2003. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan.

Saifuddin Anshari, Endang. 1987. Ilmu, Filsafat dan Agama. Surabaya: Bina
Ilmu.

Surajiyo. 2010. Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta: Bumi


Aksara.

Tasmuji dkk.. 2012. Ilmu Alamiah Dasar (IAD), Ilmu Sosial Dasar (ISD), Ilmu
Budaya Dasar (IBD). Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press.