Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH ABBATOIR

PENYAKIT YANG MENYERANG HEWAN TERNAK

OLEH :

NAMA : IMAM RAMADANI N

NIM : 361741333016

KELAS : TPHT 2A

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL TERNAK

POLITEKNIK NEGERI BANYUWANGI

2019
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Brucellosis merupakan penyakit ternak yang menjadi problem nasional baik dari segi
kesehatan masyarakat maunpun dari segi ekonomi peternakan. Peningkatan kasus
brucellosis sejalan dengan peningkatan populasi ternak di Indonesia. Selain itu, seringnya
mutasi sapi perah merupakan faktor utama penyebab meningkatnya kasus brucellosis di
Indonesia. Oleh sebab itu , penyakit brucellosis dimasukkan dalam daftar 5 penyakit
menular yang menjadi prioritas utama dalam pengendalian dan pemberantasannya secara
nasional sejak tahun 1959 (Peraturan Direktur Jenderal Peternakan No.
59/KPTS/PD610/05/2007).
Brucellosis adalah penyakit menular pada hewan yang disebabkan oleh bakteri Brucella.
Brucellosis ditakuti karena bersifat zoonosis artinya dapat menular ke manusia,
menimbulkan kerugian ekonomi akibat keguguran, gangguan reproduksi dan turunnya
produksi susu pada sapi perah. Umumnya penyakit pada manusia berupa demam sehingga
dikenal juga sebagai Undulant fever, Malta fever, Gibraltar fever, atau Mediteranean fever,
dimana ketiga sebutan terakhir merupakan sebutan brucellosis yang disebabkan oleh
konsumsi susu kambing di daerah Laut Tengah.
Brucellosis dapat menyerang berbagai usia. Zoonosis ini dapat ditemukan di seluruh dunia
terutama di Negara Mediteranian, Afrika Utara dan Timur, Timur Tengah, Asia Selatan dan
Tengah, Amerika Tengah dan Selatan. Di Indonesia, penyakit brucellosis dikenal pertama
kali pada tahun 1935, ditemukan pada sapi perah di Grati, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur
dan bakteri Brucella abortus berhasil diisolasi pada tahun 1938. Penyakit brucellosis sudah
bersifat endemis di Indonesia dan kadang-kadang muncul sebagai epidemi pada banyak
peternakan sapi perah di Jakarta, Bandung, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Brucellosis
tersebar luas di Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Pulau
Bali sampai saat ini masih terbebas karena adanya larangan memasukkan sapi jenis lain,
berkaitan kebijaksanaan pemerintah untuk memurnikan sapi Bali.
Penyakit Brucellosis merupakan penyakit ternak yang menjadi problem nasional baik untuk
kesehatan masyarakat maupun persoalan ekonomi peternak. Dengan infeksi yang tersifat
pada hewan maupun manusia. Di Indonesia kecenderungan meningkatnya populasi dan
lebih seringnya mutasi sapi perah menjadi penyebab utama meningkatnya kasus brucellosis.
Brucellosis dikategorikan sebagai penyakit zoonosis. Setiap spesies Brucella mempunyai
hewan target sebagai reservoir, yaitu Brucella abortus pada sapi, B. ovis pada domba, B.
melitensis pada kambing, B. suis pada babi, B. neotomae dan B. canis pada anjing.
Brucellosis pada hewan betina yang terinfeksi biasanya asimptomatik, sedangkan pada
hewan bunting dapat menyebabkan plasentitis yang berakibat terjadinya abortus pada
kebuntingan bulan ke-5 sampai ke-9.
Jika tidak terjadi abortus, kuman Brucella dapat dieksresikan ke plasenta, cairan fetus dan
leleran vagina. Kelenjar susu dan kelenjar getah bening juga dapat terinfeksi dan
mikroorganisme ini diekskresikan ke susu. Infeksi pada hewan terjadi secara persisten
seumur hidup, dimana kuman Brucella dapat ditemukan di dalam darah, urin, susu dan
semen. Pada manusia, spesies Brucella yang pathogen adalah B. melitensis, B . abortus, B.
suis dan B. canis. Tingkat morbiditas penyakit tergantung dari spesies Brucella yang
menginfeksi. Penularan brucellosis ke manusia melalui kontak dengan hewan yang
terinfeksi atau melalui konsumsi makanan dan susu asal hewan penderita brucellosis.
BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Penyakit Brucellosis.


Penyakit infeksius Brucellosis disebabkan oleh infeksi bakteri dari genus Brucella.
Secara morfologi, kuman Brucella bersifat Gram negatif, tidak berspora, berbentuk
cocobasillus (batang pendek) dengan panjang 0,6 - 1,5. Kuman Brucella di luar tubuh induk
semang dapat bertahan hidup pada berbagai kondisi lingkungan dalam waktu tertentu.
Kemampuan daya tahan hidup kuman Brucella pada tanah kering adalah selama 4 hari di
luar suhu kamar, pada tanah yang lembab dapat bertahan hidup selama 66 hari dan pada
tanah becek bertahan hidup selama 151-185 hari.
Kuman Brucella juga dapat bertahan hidup selama 2 hari dalam kotoran atau limbah
kandang bagian bawah dengan suhu yang relative tinggi . Pada air minum ternak, kuman
dapat bertahan selama 5 - 114 hari dan pada air limbah selama 30 - 150 hari. Brucellosis
merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri genus Brucella. Brucellosis di
Indonesia dikenal sebagai penyakit reproduksi menular pada ternak, tetapi sebagai penyakit
menular pada manusia, penyakit ini belum banyak dikenal di masyarakat. Hewan yang
terinfeksi kuman Brucella dapat mengalami abortus, retensi plasenta, orchitis dan
epididinitis serta dapat mengekskresikan kuman ke dalam uterus dan susu. Penularan
penyakit ke manusia terjadi melalui konsumsi susu dan produk susu yang tidak
dipasteurisasi atau melalui membrana mukosa dan kulit yang luka. Berat ringan penyakit
tergantung strain Brucella yang menginfeksi. Brucella abortus, B. melitensis, B. suis dan B.
canis adalah strain yang patogen ke manusia.
Gejala klinis brucellosis pada manusia yaitu demam intermiten, sakit kepala, lemah,
arthralgia, myalgia dan turunnya berat badan. Komplikasi penyakit dapat terjadi berupa
arthritis, endokarditis, hepatitis granulona, meningitis, orchitis dan osteomyelitis serta
dilaporkan dapat pula mengakibatkan abortus pada wanita hamil. Diagnosis brucellosis
dilakukan dengan isolasi brucella spesies dalam darah dan urin serta uji serologis.
Pengobatan antibiotika dapat diberikan pada orang yang terinfeksi tetapi memerlukan waktu
lama. Kontrol brucellosis pada manusia dapat dilakukan dengan pengendalian brucellosis
pada hewan melalui program eradikasi yang komprehensif berupa program vaksinasi yang
diikuti dengan eliminasi hewan positif brucellosis secara serologis.
2.2 Gejala yang Muncul pada Penyakit Brucellosis.
Gejala klinis dari penyakit brucellosis ini adalah abortus atau dimasyarakat dan peternak
dikenal dengan nama keluron. Keguguran biasanya terjadi pada umur kebuntingan 6 sampai
9 bulan kebuntingan, selaput fetus yang yang diaborsikan terlihat oedema, hemoragi,
nekrotik dan adanya eksudat kental serta adanya retensi plasenta, metritis dan keluar kotoran
dari vagina. Penyakit brucellosis ini juga menyebabkan perubahan didalam ambing. Lebih
dari setengah dari sapi-sapi yang titer aglutinasinya tinggi menunjukkan presentasi yang
tinggi didalam ambingnya. Selain itu juga penyakit brucellosis ini menimbulkan lesi
higromata terutama pada daerah sekitar lutut. Lesi ini terbentuk sebagai regangan sederhana
atas bungkus sinovia pada persendian, yang berisi cairan yang jernih atau jonjot fibrin
maupun nanah. Kemungkinan terjadinya higroma akibat adanya suatu trauma kemudian
kuman brucella yang berada didalam darah membentuk koloni di daerah persendian tersebut.
Pada ternak pejantan penyakit brucellosis dapat menyerang pada testis dan mengakibatkan
orkhitis dan epididimitis serta gangguan pada kelenjar vesikula seminalis dan ampula.
Brucellosis juga menyebabkan abses serta nekrosis pada buah pelir dan kelenjar kelamin
tambahan. Sehingga semen yang diambil dari pejantan mungkin mengandung bakteri
brucella abortus.

2.3 Penularan Brucellosis pada hewan ke manusia


 Sapi
Gejala klinik yang mencolok terjadi abortus, terutama pada usia kebuntingan lanjut (7-8
bulan). Umumnya sapi hanya mengalami keguguran sekali saja pada kebuntingan yang
berurutan. Meskipun demikian induk sapi yang mengalami keguguran tersebut masih
membawa kuman Brucella Abortus sampai 2 tahun. Sapi yang terinfeksi secara kronik dapat
mengalami higroma yaitu pembesaran kantong persendian karena berisi cairan bening atau
fibrinopurulen.
2.4 Pencehagan dan Pengobatan Penyakit Brucellosis
Pencegahan brucellosis dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti memperhatikan lalu
lintas ternak untuk daerah yang bebas. Pada sapi didasarkan pada tindakan higiene dan
sanitasi, vaksin anak sapi dengan Strain 19 dan pengujian serta penyingkiran sapi reaktor.
Sapi yang tertular sebaiknya dijual atau dipisahkan dari kelompoknya. Fetus dan placenta
yang abortusan harus dikubur atau dibakar dan tempat yang terkontaminasi harus
didesinfeksi dengan 4% larutan kresol atau desinfektan sejenis. Program vaksinasi dilakukan
pada anak sapi umur 3-7 bulan dengan vaksin Brucella Strain 19. Tapi penggunaan Strain 19
harus hati-hati karena dapat menyebabkan brucellosis atau demam unggulan pada manusia.

2.5 Pengobatan
Pengobatan brucellosis harus segera dilakukan untuk mencegah terjadinya
komplikasi dan relapsis. Pada hewan penyakit brucellosis sampai saat ini belum ada obat
yang cukup efektif. Namun pada pengobatan kasus brucellosis penggunaan lebih dari satu
antibiotik yang diperlukan selama beberapa minggu, hal ini dikarenakan bakteri berada di
dalam sel. Pengobatan dilakukan dengan pemberian antibiotik seperti doksisiklin,
streptomisin dan rifampisin setiap hari selama minimal 6 minggu. Pada orang dewasa dan
anak di atas umur 8 tahun, antibiotika yang diberikan adalah doksisiklin dan rifampisin
selama 6 - 8 minggu, sedangkan untuk anak di bawah 8 tahun sebaiknya diberikan
rifampisin dan trimethoprim-sulfamethoxazole (TMP-SMX) selama 6 minggu.
BAB 3. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Brucellosis merupakan penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke
manusia. Penyakit infeksius Brucellosis disebabkan oleh infeksi bakteri dari genus Brucella.
Penularan penyakit ke manusia terjadi melalui konsumsi susu dan produk susu yang tidak
dipasteurisasi atau melalui membrana mukosa dan kulit yang luka. Gejala klinis brucellosis
pada manusia yaitu demam intermiten, sakit kepala, lemah, arthralgia, myalgia dan turunnya
berat badan.
DAFTAR PUSTAKA
Budiharjo. 2009. Manual standar diagnostik penyakit hewan. Direktur jendral pertenakan dan
Japang International Cooperation Agency (JICA), Jakarta
Hardjopranjot. 1995. Ilmu Kemajiran pada Ternak. Airlangga University Press. Surabaya

Murpraptomo, 1995. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Angkasa. Bandung

Soejoedono R R. 2004. Zoonosis. Laboratorium Kesmavet FKH IPB. Bogor

Subronto. 2003. Penyakit Mastitis pada Kambing. UGM press. Yogyakarta.

Sutjipto. 1995. Penanganan Penyakit Brucellosis pada Sapi. Erlangga. Jakarta


[WHO] World Health Organization. 2006. Brucellosis in humans and animals. Geneva