Anda di halaman 1dari 13

LEMBAR PERSETUJUAN ARTIKEL

KORELASI BOBOT BADAN DENGAN UKURAN TUBUH TERNAK


SAPI BALI BETINA YANG DIPELIHARA SECARA INTENSIF
DI UNIT PELAKSANA TEKNIS DAERAH (UPTD)
PENGEMBANGAN TERNAK WONGGAHU

LISNAWATI S. HAPULU
NIM. 621409036

TELAH DIPERIKSA DAN DISETUJUI

Pembimbing I Pembimbing II

Ir. Hj. Nibras K. Laya, MP Fahrul Ilham, S.Pt, M.Si


NIP. 196612062001122001 NIP. 198006072005011002

Mengetahui Menyetujui
Ketua Jurusan Peternakan Ketua Program Studi Peternakan

Abdul Hamid Arsyad, S.Pt, M.Si Sri Suryaningsih Djunu, S.Pt, MP


NIP. 196610062005011001 NIP. 197312082002122002

Lisnawati S. Hapulu Mahasiswa Peternakan, Nibras K. Laya, Fahrul Ilham


KORELASI BOBOT BADAN DENGAN UKURAN TUBUH SAPI BALI
BETINA YANG DIPELIHARA SECARA INTENSIF DI UNIT PELAKSANA
TEKNIS DAERAH (UPTD) PENGEMBANGAN TERNAK WONGGAHU

Lisnawati S. Hapulu, Nibras K Laya, Fahrul Ilham

ABSTRAK
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan ukuran-ukuran tubuh ternak
dengan bobot badan pada sapi Bali betina yang dipelihara secara intensif di Unit
Pelaksana Teknis Daerah(UPTD) Pengembangan Ternak Wonggahu. Pengumpulan
data dilaksanakan selama bulan Desember 2013. Metode penelitian yang digunakan
dengan cara mengukur bobot badan dan ukuran-ukuran tubuh (tinggi pundak, lingkar
dada, dalam dada, lebar dada, panjang badan, tinggi pinggul). Analisis data yang
digunakan adalah analisis deskriptif, analisis korelasi dan analisis regresi berganda
metode stepwise.
Hasil penelitian diperoleh rata-rata bobot badan sapi Bali betina yang
dipelihara secara intensif adalah 171.84 kg, tinggi pundak 107.42 cm, lingkar dada
139.19 cm; lebar dada 31.258 cm; dalam dada 54.645 cm; panjang badan 106.52 cm;
tinggi pinggul 107.35 cm. Hasil analisis korelasi antara ukuran tubuh dengan bobot
badan sapi Bali betina diperoleh koefisien korelasi (r) tertinggi dengan bobot badan
adalah lingkar dada (0.769), korelasi sedang dengan panjang badan (0,486), dan
korelasi rendah dengan tinggi pundak (0,167), dalam dada (0,115), lebar dada
(0,038), tinggi pinggul (0,013). Hasil analisis regresi berganda metode stepwise
diperoleh persamaan regresi Y = -41.55 + 1,53X1dengan (Y) adalah bobot badan, (a)
adalah intersep, (X1) adalah lingkar dada.

Kata Kunci : Bobot Badan. Ukuran-Ukuran tubuh, Sapi Bali

Lisnawati S. Hapulu Mahasiswa Peternakan, Nibras K. Laya, Fahrul Ilham


CORRELATION OF BODY WEIGHT WITH BODY SIZE BALI CATTLE
OF ANIMALS FEMALE TO INTENSIVE ON THE UNIT PELAKSANA
TEKNIS DAERAH (UPTD) WONGGAHU
LIVESTOCK DEVELOPMENT

The purpose of this study was to determine the relationship of body size of cattle with
body weight in Bali cattle of animals female reared intensively on the Unit Pelaksana
Teknis Daerah (UPTD) Wonggahu livestock development. Data collection was
realized in December 2013.
Research methods used by measuring body weight and body size (height shoulder,
chest circumference, chest inside, chest width, body length, hip height). Data analysis
is descriptive analysis, correlation analysis and stepwise multiple regression analysis
method.
The result showed an average weight of Bali cattle intensively reared females was
171.84 kg, 107.42 cm shoulder height, chest circumference of 139.19 cm, width
31.258 cm, inside chest 54. 645 cm, body length 106.52 cm, hip height 107.35 cm.
The results of correlation analysis between body size with body weight of Bali cattle
correlation coefficient (r) with the highest weight is (0.769), the correlation being
with a body length (0.486), and a low correlation with shoulder high (0.167), in chest
(0.115), chest width (0.038), hip height (0.013). Results of the stepwise multiple
regression analysis method obtained the equation Y = -41.55 + 1,53 XI. (Y) is the
body weight, (a) is the intercept, (XI) is a chest circumference.

Keywords: Body weight, Body size, Bali Cattle

Lisnawati S. Hapulu Mahasiswa Peternakan, Nibras K. Laya, Fahrul Ilham


Produktivitas peternakan atau hasil peternakan ditentukan oleh dua hal utama
yaitu keturunan atau genetik ternak yang dipelihara dan lingkungan seperti tempat
pemeliharaan (kandang), pemberian pakan. Faktor genetik atau keturunan dan
lingkungan ini sangat menentukan, karena walaupun sapi berasal dari keturunan yang
mampu menghasilkan kenaikan bobot badan tinggi, tetapi tanpa dukungan
pemeliharaan dan pemberian pakan yang baik, produksi tidak akan maksimal.
Sebaliknya walaupun diberi pakan yang baik tetapi sapi berasal dari keturunan yang
tidak mempunyai potensi, produksinya juga tidak akan maksimal.
Sapi Bali merupakan keturunan dari sapi liar yang disebut banteng yang telah
didomestikasi berabad-abad lamanya. Banteng tersebut menurunkan hampir seluruh
jenis sapi di Indonesia setelah mengalami persilangan dengan bangsa sapi lain,
misalnya zebu yang dimasukkan ke Indonesia seperti ongole, hissar, dan gujarat
ketika orang-orang Hindu datang ke Indonesia. Daerah atau lokasi penyebaran yang
utama adalah Bali dan diternakkan secara murni sebagai tipe pedaging dan kerja.
Bobot badan memegang peranan penting dalam pola pemeliharaan yang baik,
selain untuk menentukan kebutuhan nutrisi, jumlah pemberian pakan, jumlah dosis
obat, bobot badan juga dapat digunakan untuk menentukan nilai jual ternak tersebut.
Masih banyak dijumpai di lapangan peternak yang memberikan pakan tidak
mempertimbangkan jumlah kebutuhan berdasarkan bobot badan. Kurangnya
pengetahuan peternak tentang cara penentuan jumlah pakan serta penentuan harga
jual yang tidak lepas dari pengaruh bobot badan dan minimnya fasilitas untuk
mengetahui bobot badan yang tepat menjadi salah satu alasan. Cara yang paling
akurat untuk mengetahui bobot badan ternak dapat dilakukan dengan menimbang
ternak secara langsung. Namun secara praktis di lapangan, penimbangan ternak besar
seperti sapi perlu kerja keras terutama apabila akan dilakukan penimbangan di
pedesaan atau di daerah terpencil dengan keadaan topografi yang sulit dijangkau
dengan transportasi.

Lisnawati S. Hapulu Mahasiswa Peternakan, Nibras K. Laya, Fahrul Ilham


Penaksiran bobot badan ternak dapat berdasarkan panca indera, namun
subyektif, karena hasilnya sangat tergantung dari kemahiran dan subyektivitas
penaksir. Metode penaksiran lainnya adalah dengan menggunakan rumus korelasional
antara bobot badan dengan beberapa ukuran dimensi tubuh ternak sapi. Metode ini
untuk menghindari subyektivitas sehingga hasil taksiran dapat lebih akurat.
Seberapa besar nilai korelasi bobot badan sapi Bali betina dengan ukuran-
ukuran tubuh serta bagaimana pengaruh bobot badan terhadap ukuran-ukuran tubuh
pada sapi Bali betina yang dipelihara secara intensif belum diketahui sehingga perlu
dilakukan penelitian.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November sampai Desember 2013 di
Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pengembangan Ternak Wonggahu.
Alat dan Bahan
1. Timbangan merek Iconix FX 1000
2. Pita Ukur merek Rondo
3. Tongkat Ukur merek X-sago
4. Alat tulis menulis
5. Kamera Digital
6. Sapi Bali betina umur 2,5 sampai 3,5 tahun, dengan jumlah ternak sebanyak
30 ekor dan memiliki bobot badan antara 150-200 Kg.

Metode Penelitian
Pengukuran ukuran tubuh dilakukan dengan cara :
1. Bobot badan diukur menggunakan timbangan digital merek Iconix Fx 1000. Alat
diset sesuai dengan penggunaan, kemudian sapi dinaikkan ke atas timbangan.
Nilai yang tertera pada timbangan digital merupakan bobot badan sapi tersebut.
2. Ukuran tubuh

Lisnawati S. Hapulu Mahasiswa Peternakan, Nibras K. Laya, Fahrul Ilham


a) Lingkar dada diukur dengan menggunakan pita ukur, pada bagian dada tepat
di belakang gumba yaitu antara rusuk ke 2 dan 4
b) Panjang badan, diperoleh dengan mengukur jarak antara ujung samping tulang
bahu sampai ujung tulang duduk dengan menggunakan tongkat ukur
c) Tinggi pinggul, diperoleh dengan mengukur jarak lurus dari tulang duduk
sampai ke tanah dengan menggunakan tongkat ukur
d) Tinggi pundak, diukur dengan menggunakan tongkat ukur, dari bagian
tertinggi gumba ke tanah mengikuti garis tegak lurus.
e) Lebar dada, diukur dengan menggunakan tongkat ukur dari jarak kedua siku luar
f) Dalam dada, diukur titik tertinggi pundak (gumba) sampai tulang dada dan
diukur melalui serta merta dibelakang siku.

Analisis Data
Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis untuk mengetahui korelasi ukuran-
ukuran tubuh dan bobot badan, dan dianalisis menggunakan analisis regresi berganda
metode stepwise dengan menggunakan program minitab, rumus persamaan regresi
berganda antara bobot badan dan ukuran-ukuran tubuh adalah :
Y = a + b1x1 + b2 x2 + b3x3 + b4 x4 + b5x5 + b6x6

Keterangan :
Y = Bobot Badan
a = Intersep
b1 = Koefiensi Regresi untuk variabel tinggi pundak
x1 = variable tinggi pundak
b2 = Koefiensi Regresi untuk variabel lingkar dada
x2 = variable lingkar dada
b3 = Koefiensi Regresi untuk variabel lebar dada
x3 = variable lebar dada
b4 = Koefiensi Regresi untuk variabel dalam dada
x4 = variable dalam dada

Lisnawati S. Hapulu Mahasiswa Peternakan, Nibras K. Laya, Fahrul Ilham


b5 = Koefiensi Regresi untuk variabel Panjang badan
x5 = variable panjang badan
b6 = Koefiensi Regresi untuk variabel tinggi pinggul
x6 = variable tinggi pinggul

PEMBAHASAN
Bobot Badan dengan Ukuran-Ukuran Tubuh Sapi Bali Betina

Berdasarkan Tabel 4.1 menunjukan bahwa bobot badan dan ukuran tubuh
ternak Sapi Bali betina yang dipelihara secara intensif di Unit Pelaksana Teknis
Daerah (UPTD) Pengembangan Ternak Wonggahu memiliki rataan bobot badan
171.84 kg; tinggi pundak 107.42 cm; lingkar dada 139.19 cm; lebar dada 31.258 cm;
dalam dada 54.645 cm; panjang badan 106.52 cm; tinggi pinggul 107.35 cm, Bobot
badan tersebut lebih rendah dibandingkan dengan hasil penelitian Purnomoadi dan
Dartosukarno (2012) bahwa rataan bobot badan Sapi Bali umur 2,5 tahun adalah
178,02 kg.
Tabel 4.1. Rataan Bobot Badan dan Ukuran Tubuh Sapi Bali Betina
Bobot Bobot
Variabel N badan badan Rataan CoefVar
terendah tertinggi
Bobot Badan 31 152 193 171,84 ± 12,77 kg 7,43
Tinggi Pundak 31 102 116 107,42 ± 3,48 cm 3,24
Lingkar Dada 31 130 154 139,19 ± 6,41 cm 4,61
Lebar Dada 31 29 35 31,258 ± 1.505 cm 4,81
Dalam Dada 31 50 58 54.645 ± 2.199 cm 4,02
Panjang Badan 31 100 113 106,52 ± 4,25 cm 3,99
Tinggi Pinggul 31 103 114 107,35 ± 2,90 cm 2,71
Data olahan 2013
Berdasarkan Tabel 4.1 dapat dilihat pula rataan ukuran-ukuran tubuh sapi Bali
betina yang dipelihara secara intensif di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD)
Pengembangan Ternak Wonggahu lebih tinggi dibandingkan dengan hasil penelitian

Lisnawati S. Hapulu Mahasiswa Peternakan, Nibras K. Laya, Fahrul Ilham


Purnomoadi dan Dartosukano (2012) yang menyatakan bahwa bobot badan Sapi Bali
betina dewasa adalah 178,02 kg, tinggi pundak 106,6 cm; lingkar dada 136,3 cm;
lebar dada 29,45 cm; panjang badan 98,5 cm. pakan yang diberikan di UPTD berupa
pakan hijauan dan konsentrat. Pemberian hijauan dilakukan pada pagi hari dan sore
hari. Pakan hijauan yang diberikan berupa rumput gajah dan jerami padi, serta
pemberian konsentrat berupa dedak padi, jagung giling, suplemen dan garam. Bobot
badan Sapi Bali betina dewasa yang lebih rendah dapat disebabkan oleh pemberian
pakan yang tidak efektif, cuaca yang tidak menentu khususnya perubahan suhu udara
yang menyebabkan stress pada ternak sapi yang dipelihara (Guntoro. 2002). Pakan
dan air yang digunakan dalam areal peternakan harus terbebas dari kontaminan untuk
mengurangi resiko infeksi serta memperhatikan jumlah dan mutu pakan yang berikan
harus diperhatikan agar sesuai dengan bobot badan ternak. Hijauan sebaiknya
diberikan setelah diangin-anginkan terlebih dahulu, tujuannya agar sapi tidak
mengalami bloat (perut kembung) akibat bahan kimia beracun dalam hijauan basah.
(Soeprapto dan Abidin, 2010).
Kebersihan kandang yang berada di UPTD Pengembangan Ternak wonggahu
sudah maksimal karena dilakukan secara rutin, lokasi kandang terletak diposisi paling
tinggi dengan lahan sekitar UPTD sehingga air hujan tidak tergenang. kandangnya
sangat mudah dijangkau sehingga pemberian pakan, minum dan perawatan sangat
mudah di lakukan, memperoleh sinar matahari yang cukup serta terdapat ventilasi
udara. Kandang yang kurang dibersihkan akan menimbulkan penyakit pada ternak,
karena kandang merupakan salah satu unsur yang paling penting dalam
membudidayakan ternak (Pamungkas,2012).
Guntoro (2002) menyatakan bahwa kandang bagi ternak berfungsi sebagai
tempat berlindung dari sengatan sinar matahari, guyuran hujan dan tiupan angin
kencang sehingga dapat mempengaruhi kesehatan dan pertumbuhan. Abidin (2002)
mentayakan bahwa kondisi ideal yang dibutuhkan agar ternak sapi dapat tumbuh dan
berkembang harus memperhatikan suhu lingkungan, arah angin, curah hujan, arah
sinar matahari, kelembaban, ketersediaan pakan dan air, alat transfortasi dan pekerja.

Lisnawati S. Hapulu Mahasiswa Peternakan, Nibras K. Laya, Fahrul Ilham


pekerja peternakan juga harus terbebas dari penyakit yang bisa menular ke ternak
(zoonosis). Sanitasi peralatan dan kandang harus diperhatikan agar tidak ada penyakit
yang berasal dari kedua hal tersebut.

Analisis Korelasi Antara Bobot Badan dan Ukuran-Ukuran Tubuh

Hasil perhitungan analisis korelasi antara ukuran tubuh dengan bobot badan
sapi Bali betina yang dipelihara secara intensif diperoleh koefisien korelasi (r)
memiliki tingkat keeratan yang berbeda-beda. Koefisien korelasi menunjukkan nilai
keeratan hubungan antara variabel pengamatan ukuran tubuh dengan bobot badan
untuk menduga bobot badan sapi Bali betina.
Tabel 2. Analisis Korelasi Bobot Badan dengan Ukuran-Ukuran Tubuh
Ukuran Bobot Tinggi Lingkar Lebar Dalam Panjang
Tubuh Badan pundak Dada Dada Dada Badan
Tinggi
0.167
Pundak
0.371
Lingkar
0.769 0.065
Dada
0.000 0.728
Lebar
0.073 0.425 -0.053
dada
0.695 0.776 0.320
Dalam
0.115 0.090 0.310 -0.193
Dada
0.537 0.631 0.090 0.298
Panjang
0.486 0.379 0.535 -0.199 0.298
Badan
0.006 0.035 0.002 0.284 0.103
Tinggi
0.038 0.423 0.095 -0.067 0.161 0.360
Pinggul
0.841 0.018 0.613 0.719 0.386 0.047
Data olahan 2013

Lisnawati S. Hapulu Mahasiswa Peternakan, Nibras K. Laya, Fahrul Ilham


Berdasarkan Tabel 2 hasil analisis korelasi antara bobot badan dengan ukuran-
ukuran tubuh diperoleh korelasi tertinggi dengan bobot badan adalah lingkar dada
(0.769 cm) diikuti panjang badan (0,486 cm), tinggi pundak (0,167 cm), dalam dada
(0,115 cm), lebar dada (0,038 cm) dan tinggi pinggul (0,013cm). Nilai korelasi antara
bobot badan dengan lingkar dada (0,769 cm) pada hasil penelitian ini termasuk
kategori tinggi, antara bobot badan dengan panjang badan (0,468 cm) termasuk
kategori sedang, dan antara bobot badan dengan tinggi pundak (0,167 cm), dalam
dada (0,115 cm), lebar dada (0,038 cm), tinggi pinggul (0,013 cm) termasuk kategori
rendah. Sugiyono (2012) menyatakan bahwa inverval koefisien korelasi antara 0,00 –
0,20 menunjukan tingkat hubungan korelasi rendah, interval koefisien kolerasi antara
0,20 – 0,50 tingkat hubungan korelasi adalah sedang, serta interval koefisien korelasi
0,5 – 1,00 menunjukan tingkat hubungan korelasi sangat kuat atau kategori tinggi.
Guntoro (2002) yang menyatakan kondisi tubuh Sapi Bali dapat diklasifikasikan
menjadi 3 (tiga) kategori, yakni kategori tinggi atau gemuk, kategori sedang dan
kategori kurus atau rendah. Nilai korelasi yang mendekati 1 artinya terdapat keeratan
hubungan positif antara lingkar dada dengan bobot badan. Supranto (1996) dalam
Purnomoadi dan Dartosukarno (2012), menyatakan bahwa nilai korelasi mendekati 1
menunjukkan adanya hubungan sangat kuat dan positif antara dua variabel, Winter
(1961) dalam Wendri (2010) menyatakan bahwa ternak yang sedang tumbuh setiap
pertumbuhan 1 % lingkar dada diikuti oleh kenaikan bobot badan sebesar 3 %,
ditambahkan oleh Kidwel (1965) dalam Wendri (2010) penafsiran yang paling tepat
dalam pendugaan bobot badan ternak Sapi Bali adalah melalui ukuran lingkar dada.

Analisis Regresi Bobot Badan dengan Ukuran- ukuran Tubuh

Analisis regresi berganda adalah persamaan regresi dengan satu peubah tak
bebas (Y) dengan lebih dari satu peubah bebas (X). Analisis ini untuk mengetahui
arah hubungan antara variabel peubah bebas (X) berhubungan positif atau negatif
dengan variabel peubah tak bebas (Y). Umumnya data hasil pengamatan Y terjadi

Lisnawati S. Hapulu Mahasiswa Peternakan, Nibras K. Laya, Fahrul Ilham


akibat variabel-variabel bebas, sehingga diperoleh persamaan regresi Y = a + b1x1+
b2 x2 + b3x3 + b4 x4 + b5X5 + b6X6. Dalam penelitian ini variabel bebas (X) yang
digunakan adalah tinggi pundak (X1), lingkar dada (X2), lebar dada (X3), dalam dada
(X4), panjang badan (X5), tinggi pinggul (X6) dan variabel terikat (Y) adalah bobot
badan.
Metode analisis regresi berganda yang digunakan dalam menganalisis data
hasil penelitian adalah metode analisis regresi berganda metode stepwise, sebab
metode ini dapat menghindari adanya pengaruh korelasi antara variabel X
(multikoleneritas) yang akan mempengaruhi persamaan regresi yang diperoleh.

Tabel 3. Perhitungan Analisis Berganda Metode Stepwise


Step 1
Constant -41.55
Lingkar Dada 1.53
T-Value 6.49
P-Value 0.000
Data olahan 2013

Berdasarkan hasil analisis regresi berganda metode stepwise pada Tabel 3


diperoleh persamaan regresi Y = -41.55 + 1,53X1, dengan (Y) adalah bobot badan,
(a) adalah intersep, (X1) adalah lingkar dada. Variabel tinggi pundak (X2), lebar dada
(X3), dalam dada (X4), panjang badan (X5) dan variabel tinggi pinggul (X6)tidak
dimasukkan dalam persamaan regresi sebab ditemukan multikoleneritas antar kelima
variabel tersebut. Variabel (Y) adalah bobot badan, (a) adalah intersep dengan nilai -
41.55, (b1) dengan nilai 1.53 untuk variabel lingkar dada.
Nilai persamaan regresi berganda yang diperoleh pada hasil penelitian dengan
nilai a sebesar -41.55 berarti bila nilai X1 adalah 0 maka nilai Y (bobot badan) adalah
sebesar –41.55 kg. Nilai b yang diperoleh dalam penelitian ini adalah sebesar 1,53
artinya bila nilai X1 bertambah 1 cm maka nilai Y (bobot badan) akan bertambah sebesar
1,53. Nilai R-Sq dalam hasil penelitian ini adalah sebesar 57.79% artinya pada

Lisnawati S. Hapulu Mahasiswa Peternakan, Nibras K. Laya, Fahrul Ilham


pengukuran bobot badan Sapi Bali betina yang dipelihara secara intensif 57,79%
dipengaruhi oleh lingkar dada, dan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain diluar faktor
lingkar dada yang belum diketahui.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan


sebagai berikut :
1. Sapi Bali betina yang dipelihara secara intensif mempunyai rata-rata bobot badan
171,84 kg, tinggi pundak 107.42, lingkar dada 139.19 cm, lebar dada 31.258 cm,
dalam dada 54.645 cm, panjang badan 106.52 cm, tinggi pinggul 107.35 cm.
2. Ukuran tubuh yang berkorelasi tertinggi dengan bobot badan adalah lingkar dada
(0.769 cm) diikuti panjang badan (0,486 cm) termasuk kategori sedang serta
antara bobot badan dengan tinggi pundak (0,167 cm), dalam dada (0,038 cm),
dan tinggi pinggul (0,013cm ) termasuk kategori rendah.
3. Persamaan regresi berganda antara bobot badan dengan lingkar dada sapi Bali
betina yang dipelihara secara intensif adalah Y = -41,55 + 1,53X1.
SARAN

Sebaiknya dilakukan penelitian lanjutan hubungan antara bobot badan dengan


ukuran-ukuran tubuh sapi Bali jantan yang dipelihara secara intensif.

DAFTAR PUSTAKA

Guntoro, S. 2002. Membudidayakan Sapi Bali. Kanisius : Yogyakarta

Pamungkas, D. 2012. Usaha Penggemukan sapi Potong dan Domba. Araska :


Yogyakarta

Purnomoadi, A. dan Dartosukarno. 2012. Hubungan antara Ukuran-ukuran dengan


Bobot Badan Sapi Betina pada Berbagai Kelompok Umur. Jurnal. Universitas
Diponegoro : Semarang.

Lisnawati S. Hapulu Mahasiswa Peternakan, Nibras K. Laya, Fahrul Ilham


Soeprapto. H Dan Abidin Z. 2010. Cara Tepat Penggemukan Sapi Potong.
Agromedia Pustaka : Jakarta

Sugiyono. 2012. Statistika Untuk Penelitian. Alfabeta : Bandung

Wendri, I. 2010. Hubungan Ukuran-Ukuran Tubuh dengan Bobot Hidup Sapi Pesisir
di Kabupaten Pesisir Selatan. Jurnal. Fakultas Peternakan. Universitas
Andalas: Padang

Lisnawati S. Hapulu Mahasiswa Peternakan, Nibras K. Laya, Fahrul Ilham