Anda di halaman 1dari 8

PPC

Program Pendidikan dan Pelatihan Calon Hakim

TERPADU

PERADILAN UMUM

Pendidikan dan Pelatihan Calon Hakim TERPADU PERADILAN UMUM Pusat Pendidikan dan Pelatihan Teknis Peradilan Mahkamah

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Teknis Peradilan Mahkamah Agung RI

Modul Diklat Tahap 2

PRAPERADILAN

Mahkamah Agung RI Modul Diklat Tahap 2 “ PRAPERADILAN ” e-learning.mahkamahagung.go.id © 2018 PRAPERADILAN 1

e-learning.mahkamahagung.go.id © 2018

Praperadilan

Pasal 1 ayat 10 KUHAP, Praperadilan adalah wewenang Pengadilan Negeri untuk memeriksa dan memutus menurut cara yang diatur dalam Undang-Undang ini, tentang :

a. sah atau tidaknya suatu penangkapan dan atau penahanan tersangka yang diajukan oleh tersangka atau keluarganya atau pihak lain atas kuasa tersangkanya;

b. sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan atas permintaan demi tegaknya hukum dan keadilan;

c. permintaan ganti kerugian atau rehabilitasi oleh tersangka atau keluarganya atau

pihak lain atas kuasanya yang perkaranya yang tidak diajukan ke pengadilan.

Pasal 1 ayat 10 huruf a Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana Penangkapan dan atau penahan tersangka merupakan serangkaian bagian pada proses penyidikan perkara pidana.

Penangkapan adalah suatu tindakan penyidik berupa pengekangan sementara waktu kebebasan tersangka atau terdakwa apabila terdapat cukup bukti guna kepentingan penyidikan atau penuntutan dan atau peradilan dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam Undang-Undang

Penahanan adalah penempatan tersangka atau terdakwa di tempat tertentu oleh penyidik atau penuntut umum atau hakim dengan penetapannya dalam hal serta cara yang diatur dalam Undang-Undang ini. Perlunya penahanan:

a. agar supaya orang yang dituduh melakukan tindak pidana itu, sewaktu-waktu dapat didengar untuk kepentingan pemeriksaan sehingga tugas-tugas pengusutan, penuntutan dan peradilan dapat diselenggarakan secara mudah dan lancar;

b. agar supaya tertuduh tidak melarikan diri.

Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan memuat cara yang diatur dalam Undang-Undang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tentang tindak pidana yang terjadi guna menemukan tersangka. Dalam hal sah atau tidaknya penghentian penyidikan terkait dengan hal pembuktian.

Kewenangan penangkapan penyidikan

a. Penangkapan dan penahanan merupakan serangkaian kegiatan penyidikan yang dimana oleh Undang-Undang diberi kewenagan kepada pihak penyidik dan penuntut umum. Yang dimaksud dengan penyidik ialah pejabat polisi negara Republik Indonesia dan pejabat pegawai negeri sipil yang diberi wewenang khusus oleh Undang-Undang;

b. Wewenang dalam melakukan proses penyidikan oleh pejabat polisi Negara

Republik Indonesia diatur pada Pasal 16 ayat 1 Undang-Undang No.2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian.

Penuntutan adalah tindakan penuntut umum untuk melimpahkan perkara pidana ke PengadilanNegeri yang berwenang dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam Undang-Undang ini dengan permintaan supaya diperiksa dan diputus oleh hakim di sidang pengadilan. Ketentuan ini memuat mengenai proses penuntutan yang diajukan oleh penuntut umum yang diberikan wewenang atributif oleh Undang-Undang.

Pasal 1 ayat 2 Undang-Undang No.16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan, yang dimaksud dengan penuntut umum ialah jaksa yang diberi wewenang oleh Undang-Undang ini untuk melakukan penuntutan dan melaksanakan penetapan hakim.

Pasal 30 ayat 1 Undang-Undang No.16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan Di bidang pidana, kejaksaan mempunyai tugas dan wewenang:

a. melakukan penuntutan;

b. melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap;

c. melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan putusan pidana bersyarat, putusan pidana pengawasan, dan keputusan lepas bersyarat;

d. melakukan penyidikan terhadap tindak pidana tertentu berdasarkan undang- undang;

e. melengkapi berkas perkara tertentu dan untuk itu dapat melakukan pemeriksaan tambahan sebelum dilimpahkan ke pengadilan yang dalam pelaksanaannya dikoordinasikan dengan penyidik.

Penghentian penuntutan mengenai tindakan penghentian penuntutan dapat didasarkan pada 2(dua) alasan, yakni :

1. Pasal 35 huruf c Undang-Undang No.16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan, yakni jaksa dapat mengesampingkan perkara demi kepentingan umum; 2. Pasal 140 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, yakni dalam hal penutut umum memutuskan untuk menghentikan penuntutan karena tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut ternyata bukan merupkan tindak pidana atau perkara ditutup demi hukum, penuntut umum menuangkan hal tersebut dalam surat ketetapan.

Pasal 1 ayat 10 huruf b Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.

Putusan praperadilan menurut ketentuan pasal ini terkait dengan sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan atas permintaan demi tegaknya hukum dan keadilan.

Penghentian penyidikan

Menurut penyidik tidak terdapat bukti permulaan yang cukup atas tindak pidana yang disangkakan;

Biasanya yang mengajukan praperadilan adalah pelapor.

Syarat penyelidikan dan penyidikan

Lebih lanjut, pada ayat 2 disebutkan mengenai pembatasan atau syarat-syarat dalam

menentukan

sahnya

suatu

tindakan

penyelidikan

dan

penyidikan,

yaitu

:

(2)

Tindakan

lain

sebagaimana

dimaksud

dalam

ayat

(1)

huruf

l

adalah

tindakan

penyelidikan dan penyidikan yang dilaksanakan jika memenuhi syarat sebagai berikut :

a. tidak bertentangan dengan suatu aturan hukum;

tersebut

b. selaras dengan kewajiban hukum yang

mengharuskan

tindakan

dilakukan;

c. harus patut, masuk akal, dan termasuk dalam lingkungan jabatannya;

d. pertimbangan yang layak berdasarkan keadaan yang memaksa; dan

e. menghormati hak asasi manusia.

Pasal 77 KUHAP Sedangkan permintaan untuk memeriksa sah atau tidaknya suatu penghentian penyidikan atau penuntutan dapat diajukan oleh penyidik atau penuntut umum atau pihak ketiga yang berkepentingan kepada Ketua Pengadilan Negeri dengan menyebutkan alasannya (Pasal 80).

Psal 78 ayat 1 KUHAP.

Pasal 78 ayat (2), Ketua Pengadilan Negeri akan menunjuk seorang hakim tunggal untuk memeriksa perkara pra peradilan dengan dibantu dengan seorang panitera.

Pasal 79 KUHAP Permintaan pemeriksaan tentang sah atau tidaknya suatu penangkapan atau penahanan diajukan oleh tersangka, keluarga atau kuasanya kepada Ketua Pengadilan Negeri dengan menyebutkan alasannya.

Pasal 80 KUHAP Permintaan pemeriksaan tentang sah atau tidaknya suatu penghentian penyidikan dan penuntutan diajukan oleh tersangka, keluarga atau kuasanya kepada Ketua Pengadilan Negeri dengan menyebutkan alasannya.

Pasal 81 KUHAP Permintaan ganti kerugian dan atau rehabilitasi akibat tidak sahnya penangkapan atau penahanan atau akibat sahnya penghentian penyidikan atau penuntutan diajukan oleh tersangka atau pihak ketiga yang berkepentingan kepada Ketua Pengadilan Negeri dengan menyebutkan alasannya(Pasal 81).

Pasal 82 KUHAP Tentang tatacara pengajuan pra peradilan dan mekanisme pemeriksaan di sidang pengadilan selengkapnya bisa di baca di KUHAP Pasal 82 dan 83.

Pasal 82 ayat (1) huruf c 3 hari setelah di catat dalam register dan dalam tempo 7 hari perkara tersebut sudah harus di putus, sedangkan untuk pemanggilan para pihak dilakukan bersamaan dengan penetapan hari sidang oleh hakim yang ditunjuk.

Pasal 83 KUHAP Pengajuan pra peradilan di lakukan di pengadilan negeri, dengan membuat permohonan kepada Ketua Pengadilan Negeri untuk nantinya di register dalam register khusus tentang pra peradilan.

Tahapan sidang

Hari 1 : pembacaan gugatan

Hari 2 : pembacaan jawaban

Hari 3 : bukti penggugat

Hari 4 : bukti tergugat

Hari 5 : kesimpulan

Hari 7 : putusan

Hari adalah hari kerja.

Bentuk putusan

Tata cara maupun bentuk putusan dalam pra peradilan tidak diatur dalam ketentuan

khusus

dalam

KUHAP.

Sesuai

dengan

sifat

cepat dan sederhananya proses

persidangan,

hendaknya

hakim

dapat meyesuaikan dalam melaksanakan proses

persidangan maupun putusan.

Seperti putusan perdata, memuat :

Gugatan

Jawaban

Bukti-bukti

Pertimbangan hukum

Amar

Pasal 82 ayat (1)d Dalam hal suatu perkara sudah mulai diperiksa Pengadilan Negeri, sedangkan pemeriksaan pra peradilan belum selesai, maka permintaan tersebut gugur” maka pra peradilan dianggap gugur apabila :

Perkaranya telah diperiksa oleh Pengadilan Negeri dan; pada saat perkaranya di periksa Pengadilan Negeri, pemeriksaan pra peradilan belum selesai.

Pasal 83 ayat (1) Terhadap putusan pra peradilan sebagaimana dimaksud dalam pasal 79, pasal 80 dan pasal 81 tidak dapat di mintakan banding”;

Pasal 83 ayat (2) Terhadap putusan yang menetapkan “sahnya” penghentian penyidikan atau penuntutan “tidak dapat” diajukan permintaan banding; terhadap putusan yang menetapkan “tidak sahnya” penghentian penyidikan atau penuntutan “dapat” diajukan permintaan banding; Putusan banding Pengadilan Tinggi (PT) yang memeriksa dan memutus permintaan banding tentang tidak sahnya penghentian penyidikan atau penuntutan, bertindak sebagai pengadilan yang memeriksa dan memutus “dalam tingkat akhir”.

Upaya hukum Ketentuan pasal 83 ayat (1) tidak dimaksudkan untuk membatasi keinginan para pihak mencari keadilan tetapi justru dimaksudkan untuk mewujudkan “acara cepat” dan mewujudkan kepastian hukum dalam waktu yang relatif singkat, sebagaimana dasar pra peradilan, sebab dalam pasal 83 ayat (2) proses banding ke PT pun merupakan upaya terakhir dan final serta tidak dikenal upaya kasasi pra peradilan ke Mahkamah Agung (MA).

Pasal 82 ayat 3 KUHAP dalam hal putusan menetapkan bahwa sesuatu penangkapan atau penahanan tidak sah; maka penyidik atau jaksa penuntut umum pada tingkat pemeriksaan masing- masing harus segera membebaskan tersangka; dalam hal putusan menetapkan bahwa sesuatu penghentian penyidikan atau penuntutan tidak sah, penyidikan atau penuntutan terhadap tersangka wajib dilanjutkan; dalam hal putusan menetapkan bahwa suatu penangkapan atau penahanan tidak sah, maka dalam putusan dicantumkan jumlah besarnya ganti kerugian dan rehabilitasi yang diberikan, sedangkan dalam hal suatu penghentian penyidikan atau penuntutan adalah sah dan tersangkanya tidak ditahan, maka dalam putusan dicantumkan rehabilitasinya; dalam hal putusan menetapkan bahwa benda yang disita ada yang tidak termasuk alat pembuktian, maka dalam putusan dicantumkan bahwa benda tersebut harus segera dikembalikan kepada tersangka atau dan siapa benda itu disita.

Perma no 4 tahun 2016 (pasal 2 ayat 1)

Sah tidaknya penangkapan

Penahanan

Penghentian penyidikan

Penghentian penuntutan

Penetapan tersangka

Penyitaaan

Penggeledahan

Perma no 4 tahun 2016 (pasal 2 ayat 2)

Permohonan tidak sahnya penetapan tersangka hanya menilai aspek formil : paling sedikit 2 alat bukti yang sah

Tidak memasuki materi perkara

Perma no 4 tahun 2016 (pasal 2 ayat 3) Putusan praperadilan yang mengabulkan permohonan tidak sahnya penetapan tersangka tidak menggugurkan kewenangan penyidik untuk menetapkan yang bersangkutan sebagai tersangka lagi setelah memenuhi paling sedikit 2 alat bukti baru yang sah, berbeda dengan alat bukti sebelumnya yang berkaitan dengan materi perkara.

Perma no 4 tahun 2016 (pasal 2 ayat 4) Persidangan perkara praperadilan tentang tidak sahnya penetapan tersangka, penyitaana dan penggeledahan dipimpin oleh hakim tunggal, pemeriksaannya singkat dan pembuktiannya hanya memeriksa aspek formil.

Perma no 4 tahun 2016 (pasal 2 ayat 5) Diajukan dan diproses sebelum perkara pokok disidangkan, jika perkara pokok sudah mulai diperiksa maka perkara praperadilan gugur.

Perma no 4 tahun 2016 (pasal 3 ayat 1) Putusan praperadilan tidak dapat diajukan peninjauan kembali.

Perma no 4 tahun 2016 (pasal 3 ayat 2) Permohonan peninjauan kembali terhadap praperadilan dinyatakan tidak dapat diterima dengan penetapan ketua pengadilan negeri dan berkas perkara tidak dikirim ke Mahkamah Agung.

Perma no 4 tahun 2016 (pasal 3 ayat 3) Penetapan ketua pengadilan negeri sebagai mana dimaksud pada ayat 2 tidak dapat diajukan upaya hukum.

Perma no 4 tahun 2016 (pasal 4 ayat 1) Mahkamah agung berwenang unutk melakukan pengawasan tertinggi terhadap penyelenggaraan peradilan disemua lingkungan peradilan dalam menjalankan kekuasaan kehakiman, termasuk praperadilan.

Perma no 4 tahun 2016 (pasal 4 ayat 2) Fungsi pengawasan terhadap praperadilan meliputi:

a. Mengawasi tingkah laku dan perbuatan para hakim dalam menjalankan tugas praperadilan;

b. Meminta keterangan tentang teknis pemeriksaan praperadilan;

c. Memberi petunjuk, teguran atau peringatan yang dipandang perlu terhadap putusan praperadilan yang menyimpang secara fundamental.

PRAPERADILAN 8