Anda di halaman 1dari 10

RESUME JOURNAL

LINGKING PARTICIPATIVE BUDGETING CONGRUENCE TO


ORGANIZATION PERFORMANCE

Disusun oleh :
Taufiq Bekti N (041724253002)
Ferdian Wiradesi (041724253004)
Chandra Aditya Alma (041724253010)
Pikar Setiawan (041724253025)

Kelas A2M

UNIVERSITAS AIRLANGGA
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
MAGISTER AKUNTANSI
2019
LINGKING PARTICIPATIVE BUDGETING CONGRUENCE TO
ORGANIZATION PERFORMANCE
B. Douglas Clinton
Central Missouri State University
James E. Hunton
University of South Florida

Abstrak
Penelitian ini mengusulkan dan menguji kerangka penelitian yang menghubungkan
Perceived Need For Participation (PNP) dan Degree Of Participation Allowed (DPA) pada
konsekuensi organisasi. Studi ini meneliti sejauh mana perjanjian antara PNP dan DPA, yang
didefinisikan sebagai Degree Of Participation Congruence (DPC), dan menghubungkan DPC
untuk kinerja organisasi. Data survei dikumpulkan dari 386 akuntan di tiga industri.
Konsisten dengan penelitian sebelumnya, korelasi antara indikator kinerja organisasi dan
DPA lemah dalam penelitian ini, seperti korelasi antara PNP dan hasil organisasi. Namun,
korelasi antara DPC dan indikator kinerja organisasi adalah seragam positif dan signifikan.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa partisipasi kongruensi dapat menjadi faktor penentu
keberhasilan dalam merancang strategi penganggaran partisipatif yang efektif.

1. Pendahuluan
Penelitian dibidang participative budgeting sudah dilakukan oleh banyak peneliti dalam
kurun waktu 40 hingga 50 tahun yang lalu. Namun hasil penelitian yang ditunjukkan masih
beragam dan kurang meyakinkan (Shields and Young, 1993). Clinton (1999) menyajikan
penjelasan yang memungkinkan tidak kuatnya hasil penelitian sebelumnya. Ia menegaskan
bahwa hubungan participative budgeting dan organizational outcomes tidak semata-mata
bergantung pada adanya tingkat patisipasi seperti yang disebutkan dalam penelitian-
penelitian sebelumnya. Tingkat kesesuaian partisipasi (degree of participation
congruence/DPC) antara perceived need for participation (PNP)/kebutuhan akan partisipasi
dan tingkat partisipasi yang diperbolehkan (degree of participation allowed (DPA)
merupakan gerbang kritis untuk meningkatkan pengambilan keutusan individu dan
keefektifan organisasi. Walaupun ia mengatakan bahwa DPC merupakan kunci kesuksesan
partisipasi anggaran namun ia tidak melakukan penelitian secara empiris untuk
membuktikannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan penelitian yang
telah dilkukan Clinton sebelumnya yaitu dengan menguji secara empiris hubungan DPC
dengan indikator performa organisasi.

2. Background and Hypothesis


Model Vroom dan Jago (1988) (VJ) merupakan model yang dikenal luas dan
dikembangkan dengan baik dalam hal partisipasi pengambilan keputusan, mereka
menggunakan system software yang tingkat dan tipe partisipasi dianggap paling tepat untuk
digunakan. VJ berpendapat bahwa keefektifan organisasi tergantung pada pemahaman pada
situasi yang dibutuhkan dan menilai seberapa banyak esensi partisipasi untuk sukses.
Konsekuensi yang muncul jika tingkat partisipasi berlebihan berdampak pada performa
organisasi dalam kualitas pengambilan keputusan. Akibat yang ditimbulkan jika tingkat
partisipasi yang tidak sesuai adalah penurunan kualitas keputusan organisasi yang nantinya
akan berdampak pada kinerja organisasi.
Margerison dan Glube (1979) memvalidasi secara normatif model VJ dengan meneliti
variabel performa organisasi. Dalam peneliatiannya, jawaban dari hipotesis digunakan
untuk membagi manajer toko retail kedalam level atas dan menengah-kebawah yang sesuai
dengan model VJ. Hasil dari penelitian ini mengindikasikan bahwa manajer-manajer dengan
“high level agreement” secara signifikan lebih menguntungkan. VJ menjelaskan alasan
hasil ini sebagai berikut:
Hasil secara khusus mengesankan karena 3 hubungan berbeda yang harus ada.
Pertama pengaturan masalah haruslah sebuah ukuran valid yang masuk akal dari prilaku
kepemimpinan dalam siatuasi pembuatan keputusan. Kedua, keputusan yang dibuat manajer
harus berdampak pada profitabilitas organisasi dan kepuasan bawahaan. Ketiga, setiap
hubungan dari rantai ini harus ada untuk hasil menampilkan yang mereka lakukan.
Tushman dan Nadler (1978) mengusulkan sebuah model level organisasi yang
memuat konstruk yang "pas", yang dapat dilihat sebagai faktor kesesuaian dalam desain
strategi penganggaran partisipatif yang efektif. Mereka menyarankan bahwa ketidakpastian
timbul dari beberapa sumber dan menghasilkan berbagai persepsi dari kebutuhan
pengolahan informasi. Kebutuhan pengolahan ini, atau persyaratan, kemudian membantu
membentuk mekanisme koping organisasi (misalnya, kapasitas pengolahan informasi).
Tushman dan Nadler (1978) mengemukakan bahwa sistem pengiriman informasi yang
paling efektif adalah salah satu yang benar-benar sesuai dengan kapasitas yang diperlukan.
Dalam konteks partisipasi anggaran, Brownell (1982a) menyatakan bahwa spesifikasi
peran dapat dimodifikasi sesuai dengan kepribadian peran pejabat. Dia lebih lanjut
menunjukkan bahwa, ketika peran sesuai dengan sifat alami ini tidak mungkin maka kita
harus mempertimbangkan konsekuensi negatif yang mungkin terjadi, seperti kinerja di
bawah standar dan ketidakpuasan kerja.
Penelitian yang dikutip di atas menunjukkan bahwa kualitas pengambilan keputusan
individu dapat berdampak buruk ketika PNP dan DPA tidak sesuai. Selanjutnya, Vroom dan
Jago (1988), Margerison dan Glube (1979), Tushman dan Nadler (1978), dan Brownell
(1982a, 1982b) menunjukkan bahwa dampak bersih dari tingkat mikro efektivitas dan
efisiensi pengambilan keputusan di seluruh organisasi akan menjadi nyata di tingkat makro.
Artinya, sejauh PNP dan DPA tidak cocok, satu mungkin memperkirakan kurang dari
kinerja organisasi yang optimal.
H: Sebagai derajat kesesuaian antara kebutuhan yang dirasakan untuk partisipasi
(PNP) dan tingkat partisipasi diperbolehkan (DPA) meningkat, yaitu, sebagai tingkat
keselarasan partisipasi (DPC) ukuran mendekati 0 (PNP-DPA), kinerja organisasi akan
meningkat.

3. Metode Penelitian
Model kesesuaian anggaran partisipasi yang dikembangkan dalam penelitian ini
terlihat pada Figure 1. Konstruk PNP mewakili sejauh mana partisipasi anggaran harus
dilakukan dalam organisasi, sebagaimana dipersepsikan oleh anggota organisasi. Konstruk
PNP tidak menyarankan keinginan para anggota untuk berpartisipasi, melainkan persepsi
mereka mengenai kebutuhan anggota organisasi untuk berpartisipasi.
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 386 personil akunting yang
mewakili perusahaan penerbitan, kertas dan produk industri kimia. Responden mengisisi
kuesioner saat konfresnsi tahunan eksekutif akuntansi dan keuangan berlangsung
northeastern Amerika. Jumlah kehadiran diperkirakan sekitar 1.710, sehingga tingkat
tanggapan kira-kira 22,5 persen. Setiap responden mewakili organization bisnis yang
berbeda. Semua organisasi yang diperdagangkan di stock exchanges nasional. 89 persen
akuntan menduduki posisi manajer atau lebih tinggi.
Controller dipilih karena mereka: (1) memainkan peran kunci dalam merancang
informasi dan sistem kontrol dari suatu perusahaan dan dengan demikian cenderung
menghargai gambaran keseluruhan dari sistem penganggaran (mungkin lebih dari pada rata-
rata manajer), (2) memiliki akses langsung dan sering ke manajemen puncak untuk
membahas isu-isu yang berkaitan dengan mengontrol desain sistem dan operasi, dan (3)
memberikan perspektif tentang peran penganggaran partisipatif yang telah hilang dari
literatur. Untuk menambah keyakinan atas representasi dari sampel peneliti membandingkan
jawaban dari manajer dan non manajer (11 persen).

Pengukuran variabel
Peserta menanggapi survei barang melalui komputer pribadi. Item survei sepenuhnya
secara acak untuk setiap individu untuk mencegah efek order. Hanya satu item survei pada
suatu waktu muncul di layar komputer. Setelah responden menjawab item survei, mereka
menghalangi dari meninjau item sebelumnya dan tanggapan. Di lokasi lapangan, data dari
masing-masing responden dikumpulkan pada disket. Data dari seluruh 386 disket yang
kemudian ditransfer ke file komputer menggunakan program komputer. Statistik deskriptif
dan estimasi reliabilitas untuk semua variabel dalam model penelitian ditunjukkan pada Tabel
2. Selain itu, matriks korelasi variabel yang diteliti disajikan pada Tabel 3.
PNP dan DPA variabel diperiksa secara berpola setelah Bruns dan Waterhouse (1975).
Mereka mengidentifikasi tiga dimensi yang terpisah dari penganggaran partisipatif: (1)
partisipasi dalam perencanaan, (2) partisipasi dalam penganggaran, dan (3) interaksi dengan
atasan mengenai masalah anggaran. Dua item yang dipilih untuk mewakili masing-masing
dimensi dalam penelitian ini. Pilihan kedua item didasarkan pada sejauh mana mereka dimuat
tinggi, menggunakan analisis faktor, di konstruk yang disebutkan dalam (1975) studi Bruns
dan Waterhouse, dan penerapan setiap pertanyaan untuk responden di study.
Menggunakan tujuh poin, bipolar, timbangan sepenuhnya berlabuh (1 = Sama sekali
tidak sering, 7 = Sangat sering) DPA dan PNP konstruksi, masing-masing, dinilai dengan
menggunakan dua sub-pertanyaan per item kuesioner: (1) "Seberapa sering ini terjadi?" dan
(2) "Seberapa sering harus ini terjadi?" Prosedur yang sama digunakan oleh Bruns dan
Waterhouse (1975) untuk menentukan frekuensi dan normatif. Item terkait itu dijumlahkan
dan runtuh ke dalam dua indeks terpisah.
DPC ditentukan dengan menghitung perbedaan antara PNP dan DPA. Nilai absolut
perbedaan ini digunakan untuk menguji hubungan antara DPC dan ukuran kinerja. Artinya,
perbedaan mutlak antara PNP dan DPA, terlepas dari arah, mencerminkan tingkat partisipasi
keselarasan. Oleh karena itu, sebagai DPC mendekati 0, ukuran yang menunjukkan
kesesuaian yang lebih besar. Tidak ada perbedaan antara PNP dan DPA akan mencerminkan
keselarasan partisipasi sempurna.
Meskipun tidak dihipotesiskan, efek directional juga diperiksa. Hasil uji pendahuluan
tidak bukti perbedaan signifikan dalam efek directional (yaitu, negatif vs positif DPC)
terhadap variabel kinerja; Namun, situasi yang diciptakan oleh masing-masing efek ini
diduga menjadi berbeda, dan mungkin penting, di dimensi lain. Misalnya, menggunakan
bahasa Tushman dan Nadler (1978) model, PNP lebih besar dari DPA menyiratkan bahwa
ketidakpastian masih tetap yang belum ditangani secara memadai oleh kapasitas organisasi.
Atau, lebih DPA dari PNP menyiratkan strategi penganggaran partisipatif tidak efisien (yaitu,
jumlah yang tidak perlu partisipasi diizinkan).
Kinerja organisasi diukur dengan mendapatkan tanggapan ke empat item yang
digunakan oleh Shields dan Young (1993). Ini termasuk (1) persentase perubahan laba bersih,
(2) persentase perubahan harga saham, dan (3) persentase perubahan laba atas investasi untuk
tahun pelaporan terbaru, dan (4) rating dilaporkan sendiri kinerja keseluruhan sebagai
dibandingkan dengan organisasi rekan (1 = sangat rendah, 7 = sangat tinggi).

4. Result
Preliminary Testing of Sample Characteristics
Untuk menguji peningkatan respon yang berpengaruh dari partisipator digunakan
MANOVA. Ukuran organisasi tidak diikutsertakan dalam pengujian karakteristik sampel
karena sudah termasuk dalam kerangka konseptual. Model ANOVA menunjukkan bahwa
mean DPA secara signifikan berbeda.
Hypothesis Testing
Dasar pikiran dibalik DPC adalah perbedaan (selisih) antara DPA dan PNP mendekati
0, maka ukuran performa akan meningkat. Pada angka nol atau dekat titik nol maka ukuran
performa akan lemah.
Testing Post Hoc (Uji lanjut)
Menguji pernyataan “DPC dimana perbedaan antara DPA dan PNP mendekati 0, akan
sejalan dengan meningkatnya ukuran kineraja. Pada atau mendekati Zero point (perfect
congruence), performance measure akan semakin maksimal. Menguji apakah Deprivation
dan Saturation akan secara berbeda berhubungan dengan Organizational Performance. Non-
directional t-test membuktikan bahwa tidak ada perbedaan secara signifikan

Discussion
Organizational Performance semakin maksimal ketika Congruence semakin maksimal;
organizational performance semakin maksimal ketika perbedaan antara DPA dengan PNP
semakin mendekati 0. Dari sample response menunjukkan grup yang konservatif, ditunjukkan
dari lebih dari setengah responden (199) merasakan Saturation Korelasi antara PNP dan DPA
yang tidak sig (table 3) kontadiktif dengan hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan
terdapat hubungan yang kuat antara PNP dengan DPA.
Hanya dengan meningkatkan level partisipasi dalam proses budgeting tanpa
mempertimbangkan jumlah partisipasi yang seharusnya diijinkan, tidak selalu menjadi
strategi yang efektif. Para pembuat keputusan membuat sebuah pertimbangan dengan
menentukan level partisipasi yang seharusnya digunakan dan menyesuaikannya dengan
partisipasi aktual pada level tersebut.

Limitaion
1. Partisipan merupakan volunteer karena kesulitan dalam mengakses karakteristik
demografi, sehingga kurang representative
2. Sample dari tiga industry hasilnya tidak dapat digeneralisir untuk industri lainnya
3. Framework yang kurang lengkap
4. Validitas dan reliabilitas dari behaviors dan attitude dari subject response tidak
diketahui
5. Menggunakan self-reported dari responden yang dijadikan indikator organizational
performance mengindikasikan respon yang rentan akan bias