Anda di halaman 1dari 19

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Produksi adalah segala kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan atau menambah guna
atas suatu benda, atau segala kegiatan yang ditujukan untuk memuaskan orang lain melalui
pertukaran (Partadireja, 1985:21). Sedangkan menurut Sumiarti, produksi adalah semua
kegiatan dalam menciptakan atau menambah kegunaan barang atau jasa, dimana untuk
kegiatan tersebut diperlukan faktor-faktor produksi (Sumiarti, 1987:60). Kegiatan produksi
merupakan mata rantai dari konsumsi dan distribusi yang bertujuan menghasilkan barang dan
jasa untuk dikonsumsi. Tanpa produksi maka kegiatan ekonomi akan terhenti.

Pada umumnya ekonomi menggunakan fungsi produksi untuk menggambarkan hubungan


antara input dan output. Fungsi produksi menunjukkan berapa banyak jumlah maksimum
output yang dapat diproduksi apabila sejumlah input tertentu dipergunakan pada proses
produksi (Sri Adiningsi, 1999:5). Menurut Sadono Sukirno, fungsi produksi menunjukkan
sifat hubungan fungsional atau saling mempengaruhi di antara faktor-faktor produksi yang
berupa sumber daya dengan tingkat produksi yang dihasilkan untuk kebutuhan konsumen
(Sadono Sukirno, 2010:193). Faktor-faktor produksi dikenal pula dengan istilah input dan
tingkat produksi yang dihasilkan disebut sebagai output.

Perusahaan selaku produsen memiliki tujuan untuk memperbesar laba dengan menekan
pengeluaran seminimal mungkin dalam proses produksi. Pengertian laba menurut Darsono
dan Ari Purwanti (2008:177) adalah prestasi seluruh karyawan dalam suatu perusahaan yang
dinyatakan dalam bentuk angka keuangan yaitu selisih positif atara pendapatan dikurangi
beban/expenses. Sedangkan menurut M. Nafarin (2007:788) pengertian laba ialah perbedaan
antara pendapatan dengan keseimbangan biaya-biaya dan pengeluaran untuk periode tertentu.
Dapat diambil kesimpulan bahwa laba merupakan suatu kelebihan pendapatan atau
keuntungan yang layak diterima oleh perusahaan yang bersangkutan setelah melakukan
pengorbanan untuk pihak lain.
Peranan laba dalam perusahaan menurut M.Nafarin (2007: 231), yaitu:
1. Laba adalah efesiensi usaha setiap perusahaan serta suatu kekuatan pokok agar
perusahaan dapat tetap bertahan untuk jangka pendek maupun jangka panjang.
2. Laba adalah balas jasa atas dana yang ditanam perusahaan.
3. Laba merupakan salah satu sumber dana usaha perusahaan.
4. Laba merupakan sumber dana jaminan surat para karyawan.
5. Laba merupakan daya tarik bagi pihak ketiga yang ingin menanamkan dananya.

Berdasarkan uraian pada latar belakang mengenai pentingnya meningkatkan laba bagi
perusahaan, penulis tertarik untuk megetahui bagaimana strategi dalam peningkatan profit
perusahaan melalui optimalisasi fungsi produksi. Makalah ini penulis beri judul
“Optimalisasi Fungsi Produksi dalam Peningkatan Profit Perusahaan”.

1
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada makalah ini adalah: Bagaimana Mengoptimalkan Fungsi
Produksi Dalam Peningkatan Profit Perusahaan.

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui bagaimana meningkatkan
profit perusahaan dengan mengoptimalkan fungsi produksi.

1.4 Metode Penulisan


Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan metode deskriptif. Penelitian
deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan
menginterprestasi objek sesuai dengan apa adanya.
A. Teknik Pengumpulan Data
 Studi Pustaka
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan telaah pustaka adalah
mengumpulkan berbagai data yang sudah ada sebelumnya. Baik itu melalui buku
maupun melalui literatur dan artikel yang terdapat di internet.
B. Sumber Data
Sumber data sekunder didapatkan dari buku, literatur, dan artikel yang terdapat di
internet.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Produksi

Produksi adalah semua kegiatan untuk menciptakan dan menambah kegunaan atau utiliy
suatu output barang maupun jasa dengan memanfaatkan input faktor-faktor produksi yang
tersedia. Sedangkan proses produksi adalah cara, metode atau teknik produksi. Sementara
utility merupakan kemampuan suatu produk untuk memuaskan keinginan manusia.
Adapun kegunaan/utility yang dapat dihasilkan dari suatu proses produksi adalah:
A. Faedah Bentuk/Utility of Form
Contohnya rotan di hutan setelah diproses dapat menghasilkan kursi, meja, dan lainnya.
B. Faedah Waktu/Utility of time
Dapat dimisalkan dengan jasa pengudangan yang dalam hal ini berfungsi sebagai
tempat penyimpanan barang, dengan menyimpan barang yang dibeli sekaligus dalam
jumlah tertentu, maka dengan adanya perbedaan waktu barang tersebut nilai atau
manfaatnya meningkat.
C. Faedah Tempat/Utility of Place
Dalam hal ini dapat dilihat dari jasa transportasi dalam pendistribusian. Dengan
berpindahnya produk dari suatu tempat ke tempat lain maka akan tercipta faedah
tempat dan dapat meningkatkan nilai jual suatu output.
D. Faedah Milik/Utility of Ownership
Dengan adanya pemindahan hak milik dari pedagang ke pembeli maka akan terdapat
faedah yang lebih tinggi dari barang tersebut. Dengan usaha perdagangan maka pemiik
usaha secara langsung memiliki dan bebas memperdagangkan hasil produksi yang
dimilikinya agar mendapatkan laba atau keuntungan.

Manajemen produksi merupakan kegiatan menciptakan dan memberi nilai guna suatu
barang, mengubah sesuatu yang bernilai rendah untuk menjadi barang yang bernilai tinggi,
dengan menggunakan sumber daya yang ada meliputi tenaga kerja, modal, metode, bahan
baku, pasar, mesin dan informasi. Sehingga produk yang dihasilkan tersebut sesuai dengan
tujuan perusahaan yang pada akhirnya bisa memberikan kepuasan kepada konsumen. Hasil
proses produksi meliputi produk barang maupun jasa. Tujuan manajemen produksi adalah
memproduksi dan mengatur produksi output dalam harga, kualitas, jumlah, waktu serta
tempat tertentu sesuai kebutuhan.

Pedoman kerja produksi terdiri dari 4 hal yang dikenal sebagai empat tepat, yaitu: tepat
jumlah, tepat mutu/kualitas, tepat waktu, dan tepat harga. Ketepatan tersebut tidak lain adalah
untuk hasil output yang maksimal dan berkualitas baik dengan input yang efektif dan efisien,
hal ini sejalan dengan prinsip ekonomi.

3
2.2 Fungsi Produksi

Fungsi produksi dalam perusahaan merupakan fungsi yang menentukan output produksi
perusahaan untuk semua kombinasi input atau faktor produksi. Tujuan utama fungsi produksi
adalah untuk mencapai hasil efisiensi alokatif dalam pemakaian faktor-faktor produksi.
Fungsi produksi yang terpenting dalam perusahaan:
A. Perencanaan
Merupakan penetapan keterkaitan dan pengorganisasian dari kegiatan produksi dan
operasi yang akan dilakukan dalam suatu dasar waktu atau periode tertentu.
B. Proses Pengolahan
Merupakan metode atau teknik yang digunakan untuk pengolahan input.
C. Jasa-Jasa Penunjang
Merupakan sarana berupa pengorganisasian yang memerlukan penetapan teknik dan
metode yang akan dijalankan, sehingga proses pengolahan dapat dilaksanakan secara
efektif dan efisien.
D. Pengendalian/Perawatan
Merupakan fungsi untuk menjamin terlaksananya kegiatan sesuai dengan yang
direncanakan, sehingga maksud dan tujuan untuk penggunaan dan pengolahan
masukan/input pada kenyataannya dapat dilaksanakan.
Perumusan sederhana dari fungsi produksi adalah:
Q =K+L
Output = Modal +Tenaga Kerja
Rumus fungsi produksi di atas menjelaskan bahwa perusahaan bisa menghasilkan satu
unit output produk barang atau jasa dari setiap unit modal dan tenaga kerja yang digunakan.
Dari hal tersebut berarti pula bahwa perusahaan atau industri mempunyai skala hasil konstan,
yaitu jumlah output barang dan jasa meningkat secara proporsional berbanding lurus dengan
peningkatan jumlah input-nya meliputi modal dan tenaga kerja.
Jenis dari fungsi produksi ada 3 macam yaitu:
1. Fungsi produksi Cobb-Douglas
Fungsi jenis ini menggambarkan suatu perusahaan yang menghasilkan
jumlah output tertentu dengan kombinasi input yang sama. Jadi antara
jumlah input dan output memiliki perbandingan yang relatif sama.
2. Fungsi produksi Leontief
Fungsi produksi ini berlaku pada kondisi di mana input harus digunakan pada porsi
yang tetap untuk menghasilkan output yang sama. Fungsi produksi ini umumnya
digunakan untuk menganalisa input–output sehingga sering disebut sebagai fungsi
produksi input–output. Contoh fungsi ini: Perusahaan dengan 1 unit modal
ditambah 10 tenaga kerja akan menghasilkan 10 unit output.
Tingkat output tersebut akan berubah berbanding lurus dengan perubahan tenaga
kerja dengan catatan modal tidak berubah. Jika modal atau tenaga kerja mengalami
perubahan, unit output pun turut berubah dengan tingkat yang harus dilakukan
analisis kombinasi atas input tersebut.

4
3. Fungsi Produksi Constant Elasticity of Substitution (CES)
Fungsi produksi CES ini dapat digunakan ketika berlaku asumsi constant return to
scale, yaitu hubungan antara input modal dan tenaga kerja yang sama
menghasilkan tingkat output tertentu secara konstan.

2.3 Perencanaan Lokasi Pabrik

Penentuan lokasi pabrik bertujuan untuk membantu perusahaan beroperasi/berproduksi


dengan lancar sehingga lebih berdaya guna dan berhasil guna serta perlu diperhatikan faktor
yang mempengaruhi biaya produksi dan distribusi, sehingga dapat diminimalkan. Dengan
adanya penentuan lokasi pabrik yang tepat, perusahaan dapat memberikan kepuasan terhadap
konsumen, memperoleh tenaga kerja yang cukup, memperoleh bahan baku yang baik dengan
harga bersaing, dan memungkinkan perluasan pabrik.
Faktor-faktor yang mempengaruhi Perencanaan Lokasi Pabrik:
 Faktor Primer/Utama
Letak pabrik yang mendekati bahan mentah mempunyai keuntungan sebagai berikut:
a) Letak bahan mentah
Terjaminnya kelancaran arus bahan mentah, tingkat kerusakan bahan mentah
dapat diperkecil dan ongkos angkut barang lebih murah.
Suatu pabrik sebaiknya mendekati bahan baku apabila terdapat kemerosotan
bobot yang besar dari bahan mentah sampai produk jadi, ongkos angkut bahan
mentah ke lokasi pabrik sangat tinggi, harga bahan baku per unit mahal, sehingga
kerusakan sedikit saja dari bahan baku tersebut dapat menimbulkan ongkos yang
besar.
b) Letak pasar
Tujuan lokasi pabrik mendekati pasar agar produk cepat sampai ke konsumen,
terutama untuk produk yang tidak tahan lama, serta menghemat biaya distribusi.
Lokasi pabrik cenderung mendekati pasar apabila produk jadi termasuk barang
yang tidak tahan lama atau cepat rusak, ongkos angkut barang jadi lebih mahal
dibanding ongkos angkut bahan mentah (misal: perusahaan meubel ukir).
c) Pengangkutan (transportasi)
Perusahaan yang terletak di daerah yang sulit dijangkau alat angkutan umum
harus menyediakan alat angkut tersendiri. Sehingga dibutuhkan investasi yang
cukup besar. Alat angkut umum yang bisa digunakan ialah kereta api, kapal laut,
pesawat udara, truk dan sebagainya.
d) Suplai tenaga kerja
Dalam suatu produksi tenaga kerja ikut terlibat di dalamnya, baik tenaga kerja
yang terdidik maupun tenaga tak terdidik serta tenaga ahli. Kualitas tenaga kerja
ikut menentukan kualitas produk akhir. Oleh karena itu banyak perusahaan yang
produk akhirnya dituntut untuk suatu kualifikasi tertentu, maka lokasi perusahaan
cenderung mendekati tenaga ahli (contoh: perusahaan batik, perak, ukir-ukiran).
e) Terdapatnya tenaga pembangkit listrik
Suatu perusahaan yang sebagian besar proses produksinya memerlukan tenaga
listrik, cenderung mencari lokasi yang mudah mendapat suplai tenaga listrik.

5
 Faktor Sekunder
Faktor sekunder perencanaan lokasi pabrik yaitu rencana masa depan perusahaan,
kemungkinan perluasan usaha, fasilitas servis, fasilitas pembelanjaan perusahaan, sikap
masyarakat setempat, keadaan tanah, iklim, serta tinggi rendahnya tingkat pajak dan
masalah. Setelah lokasi pabrik ditetapkan maka selanjutnya adalah merencanakan
pendirian bangunan pabrik untuk melindungi jalannya proses produksi dan tenaga kerja
dari gangguan yang dapat menghambat jalannya perusahaan. Gangguan tersebut dapat
berupa pengaruh cuaca atau suhu yang buruk maupun pencurian.
Dalam mendirikan bangunan, perlu mempertimbangkan luas bangunan yang sesuai
kebutuhan perusahaan, jenis bangunan yang permanen atau tidak permanen, bentuk
bangunan yang memiliki model, maupun pertimbangan seberapa tingkat lantai yang
diperlukan. Di samping faktor utama tersebut, perlu pula dipertimbangkan beberapa
faktor lain seperti tempat ibadah, tempat olahraga, kesenian, taman, tempat parkir,
kantin, kamar mandi, peralatan untuk pengamanan, tanda-tanda bahaya, dan lainnya.
Manfaat adanya perencanaan bangunan antara lain:
a. Memperlancar jalannya proses produksi dan operasi perusahaan.
b. Memperkecil persediaan barang setengah jadi.
c. Memperoleh pemanfaatan luas lantai yang efektif.
d. Menurunkan biaya pengangkutan dalam pabrik.
e. Meningkatkan produktivitas kerja karyawan.
f. Menurunkan biaya pemeliharaan.
g. Menyederhanakan pengawasan proses produksi.
Suatu lokasi pabrik sudah cukup baik, tetapi dikemudian hari ternyata timbul
masalah penempatan lokasi yang baru. Hal ini dapat disebabkan karena adat kebiasaan
masyarakat yang berubah, pusat-pusat penduduk dan perdagangan berpindah tempat
serta adanya jaringan komunikasi dan pengangkutan yang lebih baik.

2.4 Layout

Perencanaan Letak Fasilitas Produksi juga disebut layout fasilitas pabrik, yaitu tata letak
mesin dan peralatan lainnya yang digunakan dalam proses produksi atau tahap perpaduan
desain suatu sistem produktif. Perusahaan harus menyediakan segala faktor rencana proses
dan desain pekerjaan, misalnya kapasitas ruangan untuk meletakkan peralatan dan para
pekerja, kemudian metode pemindahan bahan dalam pabrik serta pertimbangan fleksibilitas
untuk perubahan atau perluasan di waktu yang akan datang. Suatu tata letak yang baik dapat
diartikan sebagai penyusunan mesin, peralatan pabrik dan pengaturan tenaga kerja dengan
teratur dan efisien.
Beberapa faktor pertimbangan untuk rencana layout ialah:
1. Keadaan proses produksi
Dalam hal ini harus perhatikan apakah proses produksi dilakukan untuk membuat satu
atau banyak macam barang. Jika hanya satu barang maka letak mesin akan dibuat
secara berurutan. Jika pabrik membuat banyak jenis barang, maka letak mesin akan
diatur menurut kelompok dan mesin yang sama diletakkan pada satu tempat yang sama.

6
2. Tipe produksi
Dipertimbangkan apakah produksi dibuat berdasarkan pesanan atau produksi massal.
Jika dibuat secara massal maka perlu disediakan gudang sebelum barang tersebut
dijual. Pabrik yang hanya membuat onderdil saja berbeda layoutnya dengan pabrik
yang membuat onderdil dan juga merakit barang tersebut.
3. Bentuk mesin yang digunakan
Jika pabrik menggunakan mesin-mesin berat maka layoutnya harus diatur sedemikian
rupa sehingga ada kebebasan bergerak bagi tenaga kerja yang melayani mesin tersebut.
4. Persyaratan penerangan dan tenaga listrik
Telah dibicarakan bahwa kondisi kerja sangat mempengaruhi moral pekerja dan
efisiensi. Misalnya pengaturan cahaya dan warna yang digunakan, dapat mengurangi
biaya karena jarang terjadi kecelakaan, tidak mudah merasa lelah, pekerja merasa betah
bekerja, dan produktivitas akan meningkat. Faktor-faktor ini dipertimbangkan dalam-
membuat layout. Kemungkinan ekspansi dikemudian hari harus dipertimbangkan jauh
sebelumnya. Ekspansi memerlukan pemasangan mesin baru atau bangunan baru, untuk
itu perlu disediakan ruang atau tanah yang cukup.
Setelah semua pertimbangan untuk mendirikan pabrik matang, maka dibuat rencana
layoutnya. Jumlah ruangan yang dikehendaki, peralatan yang akan digunakan dan
penempatannya sangat menentukan bentuk dan letak bangunan. Layout harus diatur
sedemikian rupa untuk memudahkan aliran kerja dan kondisi kerja yang baik. Sehingga biaya
yang ditimbulkan saat proses produksi dapat diperkecil.
Perencanaan layout produksi bertujuan untuk mendapatkan kombinasi yang optimal antara
fasilitas-fasilitas produksi. Beberapa tujuan khusus antara lain:
a) Untuk simplifikasi dari proses produksi.
b) Agar pengeluaran biaya pengangkutan bahan dalam pabrik dapat diminimumkan.
c) Mendapatkan perputaran persediaan barang setengah jadi yang tinggi.
d) Mengurangi investasi yang kurang penting.
e) Memperoleh kepuasan dan keamanan kerja untuk para karyawan.

 Pola Layout
1) Layout fungsional
Layout fungsional disebut juga layout proses/job lot, artinya pengelompokkan mesin
berdasarkan pekerjaan sejenis. Misalnya pada sebuah perusahaan otomotif ada
bagian-bagian khusus, seperti bagian pekerjaan mesin, pengecatan, roda. Hal ini
disebut penempatan mesin berdasarkan departemental, yang berarti layout mesin
berdasarkan departemen-departemen pekerjaan yang dilaksanakan dalam pabrik.
2) Layout produk
Layout produk disebut juga layout garis. Untuk pola layout ini, mesin-mesin
ditempatkan berurutan menurut proses produksi yang akan dilewati, mulai dari
bahan baku sampai menjadi produk akhir. Dalam prosesnya biasa digunakan
bantuan ban berjalan. Para karyawan akan dilewati oleh ban berjalan dan langsung
mengerjakan pekerjaan yang lewat. Misalnya dalam pabrik obat, mulai dari proses
produksi obat, sampai mengisi botol, memberi etiket/label,membungkus, mengepak,
dan sebagainya dilakukan secara berurutan.

7
3) Layout kelompok
Mesin ditempatkan menurut kelompok produk. Dalam pengelompokkan ini, produk
dikerjakan sampai tuntas, sehingga menghemat biaya dan waktu pengangkutan
transpor intern. Hal ini juga disebut dengan pengelompokkan sistem full group
artinya mesin ditempatkan satu jenis yang mengerjakan pekerjaan sampai selesai.
 Material Handling
Merupakan kegiatan untuk mengangkat, mengangkut dan meletakkan barang sejak
pemasukan pertama kali sampai saat barang selesai dibuat dan siap dikeluarkan dari
pabrik. Oleh karena itu, kegiatan Material Handling cukup tinggi yakni sekitar 50%
dari seluruh biaya produksi. Sebab adanya penyediaan alat-alat berat seperti derek, fork,
lift, traktor, overhead conveyor dan tenaga kerja. Layout harus direncanakan untuk
meminimumkan biaya Material Handling. Keuntungan adanya Material Handling yang
tepat yaitu penghematan biaya produksi, mempertinggi produktivitas kerja karyawan
dan distribusi barang menjadi lancar
Perusahaan menyelenggarakan Material Handling yang kurang efesien apabila:
a. Barang dibongkar dan dipindahkan dengan tangan
b. Sering terjadi kerusakan barang saat bongkar muat
c. Barang banyak diletakkan dihalaman pabrik menunggu penyaluran
d. Gang-gang terlalu sempit sehngga ruang gerak alat pabrik kurang leluasa
e. Alat angkut menunggu terlalu lama
f. Peralatan kurang memadai sehingga banyak meggunakan tenaga manusia

2.5 Pola Produksi

Perusahaan harus memilih pola produksi yang paling efektif dan efisien dari beberapa pola
produksi yang ada, diharapkan produktivitas berjalan lancar dan mencapai maksimum dengan
meminimalkan biaya tambahan, sehingga mendatangkan keuntungan bagi perusahaan dan
kegiatan perusahaan dapat berlangsung terus menerus. Pola produksi akan berpengaruh pada
besar kecilnya biaya tambahan yang dikeluarkan, yang pada akhirnya juga berpengaruh pada
harga pokok produksi. Bila pola produksi tidak tepat, maka biaya tambahan akan tinggi,
karena itu diperlukan pemahaman yang baik dalam menentukan pola produksi. Penentuan
pola produksi disini berarti menentukan jumlah atau volume produksi dalam suatu periode,
biasanya dalam satu tahun dan didistribusikan dalam periode waktu yang lebih pendek,
misalnya bulanan, kuartalan, semesteran, dan sebagainya.
 Pemilihan Pola Produksi
Penjualan perusahaan berbeda-beda pada setiap bulannya, oleh karenanya terdapat
pilihan untuk melayani penjualan tersebut:
a. Stabilitas produksi
Dengan cara ini pola produksi ditetapkan stabil dari waktu ke waktu. Fluktuasi
penjualan akan ditutup dengan persediaan produk akhir.
b. Stabilitas persediaan akhir
Jumlah persediaan akhir ditentukan sama dari waktu ke waktu. Fluktuasi penjualan,
langsung ditutup oleh produksi penjualan. Oleh karena itu produksi akan
berfluktuasi sesuai dengan jumlah penjualan.

8
c. Produksi dan persediaan akhir tidak stabil
Metode ini mengikuti fluktuasi penjualan, baik dalam produksinya maupun dalam
persediaannya, sebab dapat mengurangi fluktuasi penjualan itu sendiri.
 Macam-Macam Pola Produksi
1. Pola produksi konstan: apabila jumlah produksi pada setiap tahun sama. Pada pola
produksi konstan tidak terdapat biaya perputaran tenaga kerja dan biaya lembur karena
jumlah produksinya tetap.
2. Pola produksi bergelombang: apabila jumlah produksi pada setiap tahun tidak sama,
mengikuti perubahan tingkat penjualan dalam perusahaan. Sehingga perusahaan tidak
mengeluarkan biaya simpan, karena jumlah yang diproduksi disesuaikan dengan
jumlah penjualannya.
3. Pola produksi moderat: apabila jumlah produksi pada setiap tahun bergelombang,
tetapi tidak tajam dan cenderung konstan. Perusahaan tidak mengeluarkan biaya
lembur karena hanya mengerjakan sebatas volume produksi normalnya.
Manajemen perusahaan harus dapat memilih pola produksi yang paling sesuai dengan
kondisi pabrik dan persyaratan-persyaratan lain yang berhubungan dengan masalah
produksi, persediaan, dan penjualan produk. Pemilihan pola produksi ini berhubungan erat
dengan sistem operasi yang digunakan perusahaan.
 Faktor yang Mempengaruhi Pola Produksi
a. Pola penjualan, dengan dasar penjualan di masa lalu diharapkan dapat memenuhi
permintaan di masa yang akan datang dengan melakukan peramalan penjualan.
b. Pola biaya
1) Biaya perputaran tenaga kerja (Labour Turn Over Cost)
Biaya yang diperlukan untuk memberhentikan tenaga kerja selama satu periode
produksi. Biaya ini pada umumnya dikeluarkan perusahaan jika menggunakan
kebijakan pola produksi bergelombang atau moderat karena pada pola produksi
ini terdapat perubahan, baik penambahan maupun pengurangan volume produksi.
2) Biaya simpan (Carrying Cost)
Biaya penyimpanan barang-barang hasil produksi yang belum laku terjual karena
pada saat itu volume produksi lebih besar dibanding volume penjualannya.
3) Biaya lembur (Over Time Premium Cost)
Tambahan upah yang diberikan atas kerja lembur yang disebabkan naiknya
volume produksi yang tidak melebihi kapasitas maksimal. Biaya ini biasanya
terdapat pada pola produksi bergelombang atau moderat.
4) Biaya sub kontak (Subcontracting Cost)
Biaya yang timbul karena perusahaan membeli barang dari perusahaan lain untuk
memenuhi kebutuhannya. Biaya ini sama dengan harga barang yang dibeli dari
perusahaan lain dikurangi dengan harga pokok barang jika diproduksi sendiri. Hal
ini terjadi karena volume penjualan melebihi kapasitas maksimal produksi.
c. Kapasitas maksimum fasilitas produksi
Bila faktor-faktor tersebut tidak diperhatikan, dikhawatirkan akan menimbulkan biaya
tambah/Incremental Cost yang besar sehingga akan menaikkan harga pokok serta
menurunkan laba perusahaan.

9
2.6 Luas Produksi

Pengertian Luas Produksi


Luas produksi diartikan sebagai jumlah atau volume produk yang seharusnya dibuat
oleh perusahaan dalam suatu periode tertentu. Diperlukan suatu perencanaan produksi
yang tepat, baik, dan terarah untuk menentukan besar kecilnya luas produksi. Luas
produksi yang terlalu besar dapat mengakibatkan pemborosan ongkos, investasi aktiva
tetap serta dapat mengakibatkan kerusakan barang jadi, karena penyimpanan yang terlalu
lama akan memperbesar biaya pemeliharaan di gudang. Sebaliknya, luas produksi yang
terlalu kecil akan mengakibatkan terlalu tingginya harga pokok produk dan tidak
terpenuhinya permintaan konsumen karena kurangnya persediaan, sehingga perusahaan
akan kehilangan potential market karena konsumen beralih ke perusahaan lain.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Luas Produksi
- Tersedianya bahan baku.
- Tersedianya kapasitas mesin.
- Tersedianya tenaga kerja.
- Batasan permintaan.
- Tersedianya faktor produksi lainnya.
Perbedaan antara Luas Produksi dan Luas Perusahaan
Luas produksi bukan merupakan satu-satunya faktor yang menentukan luas perusahaan,
sebab untuk mengatur luas perusahaan harus didasarkan pada:
- Bahan dasar yang digunakan, apabila bahan dasarnya mendominasi produk jadi. Misal:
Baja bagi pabrik mesin.
- Barang yang dihasilkan. Misal: Perusahaan rokok kretek, perusahan sirup.
- Mesin/peralatan yang digunakan. Misal: Mesin dalam perusahaan tekstil.
- Jumlah tenaga kerja.
Terlihat bahwa luas perusahaan tidak selalu sama ukurannya dengan luas produksi.
Perbedaan lain di antara keduanya adalah luas perusahaan ditentukan untuk jangka
panjang dan luas produksi ditentukan untuk jangka pendek. Luas perusahaan relatif tetap,
sedangkan luas produksi dapat berubah-ubah setiap saat/setiap periode.
Penentuan Luas Produksi
Terdapat dua pendekatan untuk menentukan luas produksi suatu perusahaan yaitu:
- Dengan pendekatan konsep Marginal Cost (MC) dan Marginal Reveneu (MR).
Misalkan perusahaan menghadapi Pasar Persaingan Sempurna.
- Dengan pendekatan konsep Cost Profit Relationship (CPV ratio), atau konsep
hubungan ongkos, laba dan volume penjualan.
Luas Produksi Optimal
Luas produksi maksimal bagi suatu perusahaan dapat ditunjukkan dengan kurva biaya
per kesatuan (Average Cost/AC).
Batasan-Batasan Kapasitas Produksi
Dalam melaksanakan produksi, perusahaan hanya memiliki faktor-faktor produksi
seperti mesin, bahan baku, uang kas, tenaga kerja, dan manajemen yang tersedia dalam
jumlah terbatas. Dengan kata lain produksi perusahaan dibatasi oleh adanya faktor-faktor
produksi tersebut.

10
Pengendalian Biaya Pokok dengan Analisis Pulang Pokok.
Analisis pulang pokok/break even point merupakan analisis untuk mengetahui apakah
luas produksi perusahaan mendatangkan keuntungan atau merugikan. Keadaan produksi
dan penjualan perusahaan dimana jumlah pendapatan/penerimaan dari penjualan sama
besarnya dengan jumlah pengeluaran/biaya. Dengan kata lain perusahaan tidak
mendapatkan laba tetapi juga tidak mengalami kerugian, atau saat penghasilan total/Total
Revenue (TR) sama dengan biaya total/Total Cost (TC).
Apabila perusahaan bekerja dalam luas produksi yang lebih kecil daripada volume pada
saat pulang pokok maka akan menderita rugi. Sebaliknya apabila perusahaan berpoduksi
pada luas produksi yang lebih tinggi dari pada volume pada saat pulang pokok maka akan
mendapatkan laba. Secara umum analisis pulang pokok (BEP) dapat memberikan
informasi mengenai pola hubungan antara volume penjualan, ongkos dan laba yang akan
diperoleh pada tingkat penjualan tertentu.
Bantuan informasi lain yang dapat diberikan oleh analisis BEP adalah:
1. Jumlah penjualan minimum yang harus dipertahankan supaya perusahaan tidak merugi.
2. Jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh laba tertentu.
3. Seberapa jauh berkurangnya penjualan agar perusahaan tidak rugi.
4. Dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana efek perubahan harga jual, biaya dan
volume penjualan terhadap laba yang akan diperoleh.

2.7 Pengendalian Produksi

Pengendalian produksi adalah berbagai kegiatan dan metode yang digunakan oleh
manajemen perusahaan untuk mengelola, mengatur, mengkoordinir dan mengarahkan
proses produksi (peralatan, bahan baku, mesin dan tenaga kerja) ke dalam suatu arus
aliran yang memberikan hasil dengan jumlah biaya yang seminimum mungkin dalam
waktu yang singkat. Pengendalian produksi yang dilaksanakan pada perusahaan yang
satu dengan perusahaan yang lain akan berbeda-beda tergantung pada sistem dan
kebijaksanaan perusahaan yang digunakan.
1. Tahap-tahap dalam pengendalian produksi:
a. Planning
Menentukan produk apa dan berapa banyak akan diproduksikan dan direncanakan
seluruh kegiatan produksi mulai saat masuknya bahan-bahan mentah sampai produk
selesai dibuat. Misalnya penentuan bahan mentah, tenaga kerja dan peralatan.
b. Routing
Kegiatan menentukan urutan proses penyelesaian pekerjaan dan penggunaan alat
produksi dari bahan mentah menjadi produk akhir. Sebelum produksi dimulai masalah
sudah tercantum pada rout sheet. Tujuan routing memperkecil kesalahan proses produksi.
c. Scheduling
Kegiatan untuk membuat jadwal proses produksi sebagai satu kesatuan dari awal
proses sampai selesainya proses produksi. Schedulling dilaksanakan untuk mengetahui
berapa waktu yang dibutuhkan pada setiap tahap proses sesuai dengan urutan routenya.
Oleh karena itu, untuk membantu keberhasilan tahap ini perlu dilakukan time and
motion study sehingga dapat ditentukan standar hasil kerjanya.

11
d. Dispatching
Suatu proses pemberian perintah untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan routing
dan scheduling yang dibuat.
e. Follow Up
Kegiatan untuk menghilangkan penundaan atau keterlambatan kerja dan mendorong
koordinasi pelaksanaan kerja, merupakan tindak lanjut dalam urutan proses produksi
untuk menjaga agar routing, scheduling dan dispatching sesuai rencana serta untuk
menghindari kegagalan proses produksi.
2. Dengan pengendalian produksi diperoleh keuntungan-keuntungan:
Membantu tercapainya operasi produksi secara efesien dari perusahaan. Lebih
menyederhanakan prosedur pekerjaan. Mempertinggi modal pekerja karena mereka
bekerja secara jelas dengan disertai pengendalian.
a. Pengendalian Order (order control)
-Pengendalian produksi menjaga produk yang dibuat sesuai dengan pesanan.
-Pengendalian order harus dapat memperkecil adanya penyimpanan-penyimpanan
dalam pembuatan produk.
-Jenis pengendalian ini sesuai untuk jenis proses produksi terputus-putus.
b. Pengendalian Arus (flow control)
-Routing disini lebih banyak ditentukan oleh alat-alat produksi yang dipakai yang
biasanya sudah merupakan satu unit peralatan.
-Pengendalian ini digunakan untuk tipe proses terus menerus/Continuous Process.
c. Pengendalian Beban (load control)
-Perencanaan produksi dan routing disusun apabila ada pesanan yang datang.
scheduling dapat disusun sesudah routing siap.
-Masalah penting yang perlu diperhatikan:
1. Mengusahakan pengalokasian waktu serta kapasitas, agar semua proses berjalan
lancar dalam waktu yang tepat.
2. Memisahkan bahan untuk masing-masing produk dalam kelompok yang sama,
sehingga memudahkan perhitungan komponen tersebut ke dalam produk akhir.
d. Pengendalian Blok (block control)
-Tipe pengendalian ini mengelompokan jenis pesanan yang masuk pada jenis yang
mempunyai penyelesaian proses produksi yang sama atau hampir sama.
-Pesanan tersebut didaftar dalam satu blok yang merupakan kumpulan pesanan dimana
proses produksi dari masing-masing produk sama.
-Tujuannya agar tercapai stabilitas tingkat produksi pada masing-masing bagian.
-Setiap bagian yang telat menyelesaikan satu blok akan dilaporkan oleh pengawas atau
mandor bagian pengendalian proses.
e. Pengendalian Proyek khusus (special project control)
-Dilakukan pada proyek besar seperti pembuatan jalan, peluncuran roket.
-Routing, scheduling, dan dispatching harus diteliti dan dicermat untuk dikoordinasikan
dengan perencanaan produksi.
f. Pengendalian Kekecualian (control by exception)
-Biaya sistem rendah, tetapi tidak cocok untuk usaha pencegahan atau preventif.
-Tipe ini cocok untuk jenis pekerjaan yang relatif tetap dari waktu ke waktu.

12
2.8 Pengendalian Bahan Baku

 Pembelian Bahan baku


Bagian pembelian bahan baku dalam suatu perusahaan dibebani tanggung jawab untuk
mendapatkan kualitas dan kuantitas bahan baku pada saat dibutuhkan disertai dengan
harga yang berlaku. Pengawasan untuk fungsi ini sangat penting karena menyangkut
investasi dana dalam persediaan dan kelancaran arus bahan baku ke pabrik.
Bagian pembelian bertanggung jawab dalam hal:
1. Pembelian bahan agar rencana operasi dapat dipenuhi secara efisien.
2. Usaha untuk mengikuti perkembangan bahan baku baru yang lebih menguntungkan,
misalnya dalam hal desain dan harga.
3. Meminimumkan investasi atau meningkatkan perputaran bahan baku dengan cara
penentuan skedul arus bahan kedalam pabrik yang tepat.
4. Memelihara bahan yang telah dibeli, sekaligus bertanggung jawab atas persediaan
bahan/dalam pengendaliannya.
Secara umum tugas bagian pembelian ada 2 (dua):
a. Melaksanakan pembelian bahan atau barang untuk penggantian dan penambahan
fasilitas produksi.
b. Pembelian bahan baku perusahaan.
 Pengendalian Persediaan Bahan baku
Hampir semua pabrik memerlukan persediaan barang, bahan mentah maupun jadi.
Persediaan merupakan aktiva yang meliputi barang-barang milik perusahaan dengan
maksud untuk dijual dalam suatu periode usaha, atau persediaan barang yang masih
dalam produksi atau bahan baku yang menunggu penggunaannya dalam proses produksi.
Pada hakekatnya persediaan dapat memperlancar operasi perusahaan sehari-hari,
terutama bagi perusahaan yang jauh dari lokasi bahan baku dan jauh dari konsumen.
Persediaan bahan mentah maupun bahan jadi dapat berguna untuk menghilangkan
resiko dari material yang kualitasnya kurang baik, sehingga harus dikembalikan.
Memperkecil resiko keterlambatan datangnya barang yang dipesan. Mempertahankan
stabilitas organisasi perusahaan atau menjamin kelancaran arus produksi. Mencapai
efisiensi penggunaan mesin. Memberikan pelayanan kepada pelanggan dengan sebaik-
baiknya pada setiap saat.
Persediaan yang terlalu besar mengakibatkan:
1. Dana yang tertanam dalam persediaan merupakan dana yang menganggur, akibatnya
perusahaan harus mengeluarkan biaya modal.
2. Dapat menimbulkan kerusakan pada bahan yang disimpan.
3. Perusahaan harus mengeluarkan sejumlah biaya penyimpanan yang benar seperti,
asuransi bahan, sewa gedung, dan biaya pemeliharaan.
Jumlah persediaan yang terlalu kecil bisa mengakibatkan:
a. Terganggunya proses produksi sehingga produk jadi akan terlambat sampai ke
tangan konsumen, sehingga keuntungan dapat hilang.
b. Terlalu sering dilakukan pemesanan bahan sehingga perusahaan harus banyak
mengeluarkan biaya pemesanan.

13
Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan besar kecilnya persediaan:
- Besarnya persediaan minimal yaitu persediaan yang harus selalu ada untuk menjaga
kelancaran proses produksi.
- Jumlah produk yang akan dibuat/dijual oleh perusahaan.
- Adanya resiko kerusakan barang di gudang.
- Perkiraan tentang harga bahan dari waktu ke waktu.
- Efisiensi dari fasilitas transpor.
- Efisiensi dan teknik penanganan persediaan.
 Safety Stock
Safety stock merupakan sejumlah bahan sebagai persediaan cadangan jika perusahaan
berproduksi melebihi rencana yang telah ditentukan. Persediaan pengaman ini memiliki
tujuan untuk berjaga-jaga, sehingga proses produksi tidak terganggu karena adanya
ketidak pastian jumlah penggunaan bahan.

2.9 Pengawasan

Tujuan pengawasan produksi ialah menjaga kelancaran pekerjaan dari bahan baku sampai
barang jadi, sehingga dapat diselesaikan dalam tempo yang singkat dan biaya minimum.
 Pelaksanaan pengawasan
- Papan rencana dan diagram kemajuan
Tugas papan rencana meliputi pekerjaan yang sedang dikerjakan, akan dilakukan bila
proses sudah selesai, dan yang belum dikerjakan atau sedang direncanakan.
Diagram kemajuan (progress charta) dalam bentuk grafik balok, diletakkan ke
dinding, yang menunjukkan tanggal masing-masing pekerjaan dimulai, jumlah yang
sudah diproduksi dan tanggal harus selesai. Garis yang tertera di diagram menunjukkan
apakah pekerjaan dilakukan sesuai schedul, mendahului atau terlambat.
- Studi gerak
Tujuan studi gerak ialah mengatasi atau mengurangi pemborosan gerak yang tidak
perlu, dan mencari gerakan yang efektif, mempelajari ritme gerakan, koordinasi dan
sekuensial atau tingkat kesukaran. Kemudian merekomendasikan gerakan tertentu, dan
menganjurkan gerakan tertentu supaya dihapuskan.
- Studi waktu
Studi waktu berkaitan dengan studi gerak, sehingga penganalisa dapat menghitung
secara tepat, berapa waktu yang diperlukan untuk masing-masing gerakan. Kesuksesan
penelitian studi gerak dan waktu sangat tergantung pada kerja sama dan pihak pekerja.
- Standar
Tidak akan ada pekerjaan pengawasan dapat berfungsi secara baik, jika tidak ada
standar. Maka perlu adanya standar pelaksanaan kerja, standar mutu, dan standar
kondisi kerja. Bagian pengawasan mutu membuat contoh mutu standar untuk bahan
perbandingan. Standar kerja yang baik harus mencakup, cahaya, penerangan,
pengawasan suara hiruk pikuk, tempat kerja yang rapih dan bersih, dan bebas dari
gangguan.

14
- Inspeksi
Fungsi penting inspeksi ialah mengawasi pekerjaan agar berjalan sesuai dengan
standar. Perencanaan yang dibuat secara baik, dan schedule yang sudah disusun
tidak akan ada artinya jika produksi yang dihasilkan tidak memenuhi syarat kualitas.
 Untuk menjaga kualitas standar, maka inspeksi mencakup 3 fungsi:
1. Jika dapat mengetahui kecerobohan lebih awal, pemborosan besar dapat terhindar.
2. Inspeksi selama pekerjaan berlangsung dapat menemukan kelemahan yang terjadi.
3. Dengan inspeksi perusahaan dapat menghindarkan hasil produksi yang tidak
memenuhi syarat kualitas, dan tidak mengirimkannya ke para konsumen. Dengan
demikian maka nama baik atau goodwill perusahaan dapat dijaga.

2.10 Pemeliharaan

Banyak kerugian akan timbul karena perusahaan kurang memperhatikan faktor


pemeliharaan fasilitas produksi. Alat produksi yang seharusnya masih dapat berfungsi dengan
baik menjadi cepat rusak serta menurun tingkat kegunaannya karena tidak dipelihara dengan
cermat. Manfaat pemeliharaan dirasakan dalam jangka panjang.
Kerugian-kerugian yang mungkin akan diderita perusahaan apabila kurang memperhatikan
pemeliharaan alat-alat produksi diantaranya:
a. Fasilitas/alat produksi hanya dapat dipakai dalam jangka pendek
b. Akan menimbulkan kerusakan berat pada alat produksi sebab jika terdapat kerusakan
kecil kurang diperhatikan, sehingga biaya perbaikan mesin juga semakin besar karena
kerusakannya semakin berat
c. Seringkali terjadi kemacetan mesin akibat kurangnya pemeliharaan, sehingga proses
produksi pun juga sering terhenti
d. Menurunnya kualitas produk akhir perusahaan sebab mesin/peralatan kurang lancar
jalannya sehingga pengendalian kualitas proses produksi juga akan sulit
e. Dapat menimbulkan ketidak-seimbangan kapasitas antara bagian yang satu dengan
bagian yang lain akibat adanya kerusakan mesin
Jenis-jenis pemeliharaan:
- Pemeliharaan preventif
Yaitu kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan untuk mencegah timbulnya
kerusakan yang tidak terduga dan menentukan keadaan yang dapat menyebabkan
fasilitas produksi mengalami kerusakan pada waktu digunakan dalam proses produksi.
- Pemeliharaan korektif
Merupakan Kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan setelah terjadinya
suatu kerusakan atau kelainan pada fasilitas produksi sehingga tidak dapat berfungsi
dengan baik. Kegiatan ini sering kita sebut perbaikan atau reparasi.

2.11 Tenaga Kerja

Perencanaan Lingkungan Kerja


Perencanaan produksi berkaitan erat dengan perencanaan lingkungan kerja. Lingkungan
kerja yang baik, aman serta nyaman akan meningkatkan produktivitas kerja karyawan.

15
a. Pelayanan bagi karyawan
Jenis pelayanan bagi karyawan seperti adanya kantin dilingkungan pabrik, fasilitas
kesehatan yaitu dokter dan obat-obatan. Dokter perusahaan tidak harus menjadi
karyawan tetap pada perusahaan, tetapi bisa dipekerjakan secara part time.
b. Kondisi kerja
Dengan kondisi kerja yang nyaman, karyawan akan merasa aman dan produktif dalam
bekerja sehari-hari. Hal ini dapat diciptakan perusahaan dari segi:
a. Penerangan
Penerangan dapat berasal dari cahaya matahari, listrik atau lampu minyak. Sinar
tidak terlalu silau dan tidak terlalu redup.
b. Suhu udara
Gairah kerja dapat menurun apabila suhu udara terlalu panas maupun terlalu dingin,
dan bisa menimbulkan kecelakaan maupun kesalahan dalam bekerja.
c. Suara bising
Pada jenis perusahaan tertentu seringkali timbul suara bising dari mesin-mesin yang
sedang dioperasikan. Hal itu dapat dikurangi dengan cara isolasi, penggunaan alat
peredam, pemasangan sistem akustrik atau pemakaian alat pelindung telinga.
d. Ruang gerak
Penempatan mesin dan alat produksi lain supaya diatur sedemikian rupa sehingga
ruang gerak karyawan dalam bekerja tidak terlalu sempit.
c. Hubungan kerja antar karyawan
Produktivitas kerja karyawan dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah
faktor bawaan, gizi, lingkungan, kemauan karyawan untuk bekerja sama, faktor
pendidikan dan latihan. Hubungan antar karyawan secara individual maupun antar
bagian dalam perusahaan perlu dibina terus-menerus, sebab tanpa adanya semangat
kerja sama yang baik mustahil semua pekerjaan akan diselesaikan tepat pada waktunya
disertai kualitas yang baik.
Pengendalian Tenaga Kerja
Penyusunan perencanaan kerja oleh manajemen memegang peranan penting untuk
pedoman pelaksanaan kegiatan dan juga untuk memudahkan pengawasan. Pemahaman
tentang jaringan kerja dan metode jalur kritis/Critical Path Method akan dapat membantu
pembuatan rencana kerja tersebut. Hal itu bertujuan untuk efisiensi waktu dan biaya.
Pada pendekatan jaringan kerja, pekerjaan besar dipecah menjadi peristiwa/event kecil
yang disusun pada suatu jaringan kerja yang logis. Waktu penyelesaian tugas diperkirakan
terlebih dulu kemudian jaringan kerja dibuat dengan mengidentifikasikan kegiatan dan
peristiwa. Sehingga memudahkan pengawasan guna penyelesaian suatu proyek/pekerjaan.
PERT/Program Evaluation and Review Technique dan CPM/Critical Path Method
merupakan dua teknik perencanaan, yang bertujuan untuk mengontrol koordinasi berbagai
kegiatan sehingga tujuan dapat selesai dalam jangka waktu yang tepat. PERT dan CPM
juga sangat membantu manajemen dan mempersingkat jangka waktu penyelesaian suatu
pekerjaan serta menghemat sumber-sumber atau faktor-faktor produksi yang digunakan.
Pert
Kegunaan PERT terletak pada tingkat ketelitian analisis suatu kegiatan, urutan serta
hubungan logisnya.

16
Pada dasarnya PERT merupakan representasi diagramatik yang berguna untuk
merencanakan suatu kegiatan, sekaligus alat manajemen yang efektif. PERT digambarkan
sebagai pengaturan kegiatan yang logis dan sekuensial dari suatu kegiatan/pekerjaan dan
hubungan antara kegiatan-kegiatan tersebut, seperti apa mendahului apa, apa yang harus
diselesaikan sebelum yang lain dimulai dan apa yang menjadi hambatan.
Elemen Pert
1. Kegiatan/activity
Pekerjaan yang harus dilakukan untuk menghasilkan sesuatu pada waktu tertentu.
2. Peristiwa/event
Merupakan saat permulaan atau akhir suatu kegiatan. Kejadian paling akhir tidak dapat
terjadi sebelum aktivitas sebelumnya selesai. Event mulai dan event penyelesaian,
dihubungkan dengan aktivitas. Setiap bagian pekerjaan sampai dengan penyelesaian
paling akhir akan membentuk suatu diagram jaringan kerja/net work.
Hal-Hal yang Harus Dihindari Dalam Menggambar PERT
a. Keadaan menggantung
Setiap peristiwa selain yang pertama dan terakhir, harus memiliki peristiwa
terdahulu/predecessor dan peristiwa yang mengikuti/sucessor. Peristiwa tersebut
dihubungkan dengan kegiatan atau kegiatan semu. Apabila ada suatu peristiwa yang
tidak mempunyai hubungan seperti itu, maka mengalami keadaan menggantung.
b. Keadaan melingkar
Bila urutan logis dari suatu kegiatan terganggu dengan adanya peristiwa yang
mengikuti menjadi peristiwa pendahulu, maka pada saat itu terjadi apa yang dinamakan
keadaan melingkar atau keadaan itu menjadi tidak logis.
Jaringan Kerja/net work analysis
Berkaitan dengan penetapan urutan pekerjaan yang diarahkan untuk meminimumkan
waktu penyelesaian suatu pekerjaan/kegiatan agar dicapai biaya paling rendah. Jaringan
kerja disini berupa satu seri/rangkaian aktivitas yang bersambung dalam menghasilkan
barang/jasa yang terarah pada usaha pencapaian tujuan perusahaan.
Keuntungan yang Dapat Diperoleh dengan Menggunakan Analisis Jaringan Kerja
1. Mengorganisasikan data dan informasi secara sistematis.
2. Menentukan urutan prioritas pekerjaan.
3. Menemukan pekerjaan yang dapat ditunda tanpa menyebabkan keterlambatan
penyelesaian pekerjaan/proyek secara keseluruhan.
4. Menentukan pekerjaan yang harus segera diselesaikan tepat pada waktunya.
5. Dapat segera mengambil keputusan, bila jangka waktu kontrak tidak sama dengan
jangka waktu penyelesaian pekerjaan secara normal.
6. Dapat menentukan pekerjaan mana yang harus dikerjakan dengan lembur atau harus
disubkontakkan agar penyesuaian pekerjaaan secara keseluruhan dapat sesuai dengan
permintaan konsumen.

17
BAB III

PENUTUP

1.1 Simpulan
Setiap perusahaan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal. Perusahaan
merealisasikan tujuannya dengan cara memperbesar laba dan meminimalkan biaya produksi.
Mengoptimalkan produksi adalah upaya meningkatkan nilai suatu produksi. Seperti
meningkatkan kualitas, jumlah, manfaat, bentuk fisik produksi, dan sebagainya. Sehingga
harga pokok menurun dan daya saing produk meningkat karena dapat meminimalkan harga
jual sekaligus memperbesar laba. Variabel yang berperan dalam optimalisasi fungsi produksi
yaitu perencanaan lokasi pabrik, layout, pola produksi, luas produksi, pengendalian roduksi,
pengendalian bahan baku, pengawasan, pemeliharaan fasilitas produksi, dan produktivitas
tenaga kerja. Setiap variabel berpengaruh langsung pada optimalisasi fungsi produksi,
sehingga perlu adanya perencanaan, pengembangan dan penanganan tepat sesuai kondisi
perusahaan yang dikelola oleh manajemen perusahaan. Sehingga tujuan utama perusahaan
dapat tercapai.

1.2 Saran

Suatu perusahaan harus menjalankan fungsi produksi secara optimal serta memiliki
manajemen perusahaan yang handal dalam merencanakan, mengembangkan, dan menangani
fungsi produksi dan variabel lain yang berpengaruh pada produksi perusahaan seperti
pemberdayaan tenaga kerja. Hal tersebut menjadikan produksi perusahaan berjalan secara
efetif dan efisien. Sehingga perusahaan dapat memperoleh laba secara optimal sekaligus
meningkatkan prestasi dan derajat perusahaan.

18
DAFTAR PUSTAKA

Buchari, Alma. Pengantar bisnis. 2016. Bandung: Alfabeta.

Nazir, Moh. 1999. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Partadireja, Ace. 1985. Pengantar Ekonomi. Yogyakarta: BPFE UGM.

Sukirno, Sadono. 2010. Mikro Ekonomi Teori Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.

Sumarti, Murni. Jhon Soeprihanto. 2010. Pengantar Bisnis. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta.

Aditama, Yerry. 2015. Pengantar Bisnis – Fungsi Produksi.


http://fekool.blogspot.co.id/2015/09/pengantar-bisnis-fungsi-produksi.html .
Diakses pada 7 November 2017.

Mahira, Risky. 2013. Konsep Laba (Profit).


http://riskymahira.blogspot.co.id/2013/11/konsep-laba-profit.html .
Diakses 3 November 2017.

Perpus Kampus. 2012. Pengertian Produksi, Fungi Produksi, Pemasaran Hasil Produksi.
https://perpuskampus.com/pengertian-produksi-fungsi-produksi-pemasaran-hasil-produksi/ .
Diakses pada 3 November 2017.

19