Anda di halaman 1dari 11

JURNAL AWAL

PRAKTIKUM FORMULASI DAN TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL


STERILISASI ALAT DAN BAHAN

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 2B
GOLONGAN 2

WIWIN MEY TJIANG (1608551047)


I PUTU MAHAYASA KEMBARA (1608551049)
NI NYOMAN FITRIA WIDIANTI (1608551050)
DESAK PUTU AYU SUARIYANI (1608551051)
NI PUTU MONICA ROSDIANA DEWI P. (1608551052)
GUSTI AYU KOPANG MAHARANI (1608551053)

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Sterilisasi dalam pengertian medis merupakan proses dengan metode
tertentu yang dapat memberikan hasil akhir, yaitu suatu bentuk keadaan yang
tidak dapat ditunjukkan lagi adanya mikroorganisme cukup banyak. Metode
sterilisasi cukup banyak, namun alternatif yang dipilih sangat bergantung pada
keadaan serta kebutuhan setempat. Apapun pilihan metodenya, hendaknya tetap
menjaga kualitas hasil sterilisasi. Semua alat kesehatan yang kontak langsung
dengan pasien dapat menjadi sumber infeksi, oleh karena itu persediaan dari
barang steril cukup memainkan peran penting dalam mengurangi penyebaran
penyakitdalam pelayanan kesehatan (Raudah, dkk., 2017).
Sterilisasi merupakan bagian yang penting dalam pembuatan sediaan steril.
Melakukan sterilisasi, maka dapat memberikan jaminan bahwa sediaan yang
dibuat memenuhi jaminan sterilitas, yaitu nilai Sterility Assurance Level (SAL)
kurang dari 10-6. Pada pembuatan sediaan steril, proses sterilisasi dilakukan di
awal dan di akhir pembuatan sediaan. Beberapa sediaan injeksi juga dilakukan
proses sterilisasi di pertengahan pembuatan sediaan, misalnya sediaan larutan
dilakukan sterilisasi filtrasi tersebih dahulu sebelum dilakukan sterilisasi dengan
metode panas basah menggunakan autoklaf, untuk mengurangi kontaminan awal
dalam sediaan atau disebut dengan istilah bioburden (Sesilia, 2016).
Adapun metode sterilisasi digolongkan menjadi dua, yaitu metode sterilisasi
dengan cara panas dan sterilisasi dengan cara dingin. Metode sterilisasi dengan
cara panas dibagi menjadi sterilisasi panas kering (menggunakan oven pada suhu
160-180oC selama 30-240 menit), dan sterilisasi panas basah (menggunakan
autoklaf dengan suhu 121oC dengan tekanan 15 psi, selama 15menit) (Sesilia,
2016). Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dilakukan praktikum mengenai
mensterilisasi alat dan bahan sesuai dengan metode sterilisasi peruntukannya
dalam memproduksi sediaan steril.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Bedasarkan latar belakang diatas, maka dapat disusun rumusan masalah
sebagai berikut.
1.2.1 Bagaimana cara mensterilisasi alat dan bahan dalam produksi sediaan
steril?
1.2.2 Bagaimana cara menentukan metode sterilisasi alat dan bahan dalam
produksi sediaan steril?
1.3 TUJUAN
Bedasarkan rumusan masalah diatas, maka dapat disusun tujuan sebagai
berikut.
1.3.1 Untuk mengetahui cara mensterilisasi alat dan bahan dalam produksi
sediaan steril
1.2.3 Untuk mengetahui cara menentukan metode sterilisasi alat dan bahan
dalam produksi sediaan steril
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sterilisasi
Sterilisasi atau suci hama yaitu suatu proses membunuh segala bentuk
kehidupan mikroorganisme yang ada dalam sample/contoh, alat-alat atau
lingkungan tertentu. Teknik sterilisasi dapat ditempuh dengan dua cara yaitu
secara fisis dan kimia. Secara fisis dapat dilakukan dengan metode radiasi,
pemanasan dengan uap air dan pengaruh tekanan (autoclave), pemanasan secara
kering, dan penyaringan. Sterilisasi secara kimia dapat menggunakan alcohol
96%, aceton tab formalin, sulfur dioxide dan chlorine (Gabriel, 1996).
Metode sterilisasi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu metode sterilisasi
dengan cara panas dan sterilisasi dengan cara dingin.
a. Metode sterilisasi dengan cara panas
Metode dengan cara panas dibagi menjadi sterilisasi panas kering
(menggunakan oven pada suhu 160-1800C selama 30-240 menit) dan
sterilisasi panas basah (menggunakan autoclave dengan suhu 1210C dengan
tekanan 15 psi, selama 15 menit) (Ayuhastuti, 2016).
1. Metode panas kering
Metode panas kering memiliki prinsip dasar yaitu dengan mekanisme
konduksi, panas akan diabsorspsi oleh permukaan luar dari peralatan yang
disterilkan. Lalu merambat kebagian yang lebih dalam dari peralatan
tersebut sampai suhu untuk sterilisasi tercapai secara merata. Mikroba
terbunuh dengan cara oksidasi, dimana protein mikroba akan mengalami
koagulasi. Sterilisasi ini menggunakan udara panas pada sebuah alat yang
disebut oven. Sebuah bejana yang udara didalamnya harus dipanaskan
dengan cara berikut :
1) Pemanasan udara dalam oven dengan memanfaatkan gas atau litrik,
suhunya dpat mencapai 160-1800C,
2) Durasi /waktu untuk proses sterilisasi 1-2 jam, lebih lama daripada
menggunakan autoclave karena daya penetrasinya tidak sebaik uap
panas,
3) Digunakan untuk sterilisasi alat-alat gelas seperti tabung reaksi, labu,
cawan petri, dan sebagainya.
(Darmadi, 2008)
2. Metode uap panas bertekanan tinggi
Metode uap panas bertekanan tinggi memiliki prinsip dimana uap panas
pada suhu, tekanan, dan waktu pemaparan tertentu mampu membunuh
mikroba pathogen dengan cara denaturasi protein dari enzim dan
membrane sel. Alat yang digunakan dapat menggunakan sebuah bejana
bertutup yang dilengkapi dengan manometer, thermometer, thermostat,
dan pengatur tekanan. Dengan demikian suhu dan tekanan uap panas dapat
diukur. Sterilisator metode uap panas bertekanan tinggi ini disebut
autoclave, dengan urutan kerja sebagai berikut.
1) Peralatan medis seperti instrument, sarung tangan, dan linen
dimasukkan dalam kamar (chamber) dan diletakkan di atas rak-rak
yang tersedia
2) Uap panas yang berasal dari pemanasan air dialirkan ke dalam kamar
(chamber) sehingga mendesak udara yang ada didalam kamar.
Pemanasan air dilanjutkan, sehingga suhu uap air mencapai 1210C
karena adanya kenaikan tekanan
3) Saat suhu efektif ini tercapai, hitungan waktu dimulai yaitu 20 menit
untuk peralatan medis yang tidak terbungkus dan 30 menit untuk
peralatan medis terbungkus
4) Bila durasi/waktu untuk sterilisasi telah berakhir, katup pengatur
tekanan dibuka sehingga tekanan uap akan turun dan selanjutnya akan
diikuti dengan penurunan suhu.
Metode sterilisasi uap panas bertekanan tinggi ini adalah metode yang
banyak digunakan, aman, cukup efektif, serta mudah pengoperasiannya.
Ada tiga jenis autoclave yang secara teknis sama. Perbedaannya terletak
pada durasi/waktu proses sterilisasi. Jenis-jenis autoclave yang dimaksud
adalah :
1) Autoclave kilat (Quick Autoclave)
2) Autoclave gaya berat (Grafity Displacement Autoclave)
3) Autoclave prevacum
(Darmadi, 2008)
b. Metode sterilisasi dengan cara dingin
Metode sterilisasi dengan cara dingin dapat dibagi menjadi dua, yaitu teknik
removal/penghilangan bakteri dan teknik membunuh bakteri (Ayuhastuti,
2016).
1. Teknik removal/penghilangan bakteri
Teknik removal dapat menggunakan metode filtrasi dengan membrane
filter berpori 0,22 µm sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut.
Proses ini ditujukan untuk sterilisasi bahan yang peka panas, misalnya
larutan enzim dan antibiotik. Beberapa macam filter yaitu :
a. Berkefeld V.
b. Coarse N, M dan W.
c. Fine
d. Chamberland
e. Seitz
f. Sintered glass
(Gabriel, 1996)
2. Teknik membunuh bakteri
Teknik membunuh bakteri dapat menggunakan radiasi dan gas etilen
oksida.
a. Teknik radiasi
Dalam mikrobiologi radiasi gelombang elektromagnetik yang banyak
digunakan adalah radiasi sinar ultraviolet, radiasi sinar gamma atau sinar
X dan sinar matahari. Sinar matahari banyak mengandung sinar
ultraviolet, sehingga secara langsung dapat dipakai untuk proses
sterilisasi; hal ini telah lama diketahui orang. Sinar ultraviolet bisa
diperoleh dengan menggunakan katoda panas (emisi termis) yaitu ke
dalam tabung katoda bertekanan rendah diisi dengan uap air raksa;
panjang gelombang yang dihasilkan dalam proses ini biasanya dalam
orde 2.500 s/d 2.600 Angstrom. Lampu merkuri yang banyak terpasang
di jalan-jalan sesungguhnya banyak mengandung sinar ultraviolet.
Namun sinar ultraviolet yang dihasilkan itu banyak diserap oleh tabung
gelas yang dilaluinya, sehingga dalam proses sterilisasi hendaknya
memperhatikan dosis ultraviolet (Gabriel, 1996).
Sinar ultraviolet yang diserap oleh sel organism yang hidup,
khususnya oleh nukleotida maka elektron-elektron dari molekul sel hidup
akan mendapat tambahan energy. Tambahan energy ini kadang-kadang
cukup kuat untuk mengganggu bahkan merusak ikatan
intramolekuler,misalnya ikatan atom hydrogen dalam DNA. Perubahan
intramolekuler ini mneyebabkan kematian pada sel-sel tersebut. beberapa
plasma sangat peka terhadap dinar ultraviolet sehingga mudah menjadi
rusak (Gabriel, 1996).
Sinar gamma mempunyai tenaga yang lebih besar dari pada sinar
ultraviolet dan merupakan radiasi pengion. Interaksi antara sinar gamma
dengan materi biologis sangat tinggi sehingga mampu memukul elektron
pada kulit atom sehingga menghasilkan pasangan ion (pair production).
Cairan sel baik intraseluler maupun ekstraseluler akan terionisasi
sehingga menyebabkan kerusakan dan kematian pada mikroorganisme
(Gabriel, 1996).
Sterilisasi dengan penyinaran sinar gamma berdaya tinggi
dipergunakan untuk objek-objek yang tertutup plastic (stic untuk swab,
jarum suntik). Untuk makanan maupun obat-obatan tidak boleh
menggunakan sinar gamma untuk sterilisasi oleh karena akan terjadi
perubahan struktur kimia pada makanan maupun obat-obatan tersebut
(Gabriel, 1996).

b. Sterilisasi dengan gas etilen oksida


Prinsip sterilisasi dengan etilen oksida adalah membunuh mikroba
melalui reaksi kimia, yaitu reaksi alkilasi. Pada reaksi ini terjadi
penggantian gugus atom hidrogen pada sel mikroba dengan gugus alkil,
sehingga metabolism dan reproduksi sel terganggu (Darmadi, 2016).
2.2 Pelaksanaan Sterilisasi
Sterilisasi dapat terlaksana sesuai dengan tujuan yang diinginkan yaitu
mikroorganisme dapat dibunuh dan peralatan tetap baik, untuk itu perlu
mengetahui:
1. Macam peralatan manakah yang akan disuci hamakan
2. Metode sterilisasi manakah yang akan dipakai
a. Sterilisasi terhadap bahan baku logam dan gelas
Alat yang terbuat dari logam sebelum disteril dicuci terlebih dahulu.
Perbiasakan segera mencuci alat-alat begitu selesai memakainya, aga
kotoran yang melengket mudah dibersihkan. Alat-alat logam (jarum
suntik, pinset, gunting, jarum operasi, scalpel blede) maupun tabung
reaksi, pipet, petridisk, mula-mula dibersihkan terdahulu kemudian
dibungkus dnegan kain gaas. Setelah itu menggunakan metode pemanasan
secara kering, suhu mencapai 1600C, jarak waktu mencapai 1-2 jam,
kemudian didiamkan agar suhu turun perlahan-lahan.
b. Sterilisasi terhadap bahan baku kain dan media kulltur
Media kultur yang akan disteril, terlebih dahulu dibungkus dengan kertas
agar setelah disteril dan dikeluarkan dari alat sterilisator tidak
terkontaminasi dengan kuman lagi. Demikian pula kain doek, dibungkus
dengan plastic terlebih dahulu sebelum melakukan sterilisasi. Metode
sterilisasi yang akan dipakai di sini adalah metode pemanasan dengan uap
air dan pengaruh tekanan (autoclave).
c. Sterilisasi bahan baku dari karet/plastic
Bahan karet misalnya sarung tangan apabila akan disterilkan sebaiknya
jangan memakai metode pemanasan, oleh karena akan mengganggu
elastisitas karet dan karet akan meleleh apabila kena panas. Untuk mencuci
hama bahan baku karet, mula-mula dibersihkan dari kotoran dengan
memakai air bersih dan detergent, kemudian dikeringkan. Setelah itu
taburi talk disimpan dengan menggunakan tablet formalin.
(Gabriel, 1996)
BAB III
METODE
3.1 ALAT
 Kaca arloji
 Beaker glass
 Labu erlenmeyer
 Batang pengaduk
 Spatel
 Pipet tetes
 Corong gelas
 Pinset
 Gelas ukur
 Kertas saring
 Membran filtrasi
 Tutup vial
 Karet pipet
 Syring dan holder
 Botol
 Vial
 Ampul
 Autoklaf
 Oven
3.2 BAHAN
 Alkohol 70%
3.3 PROSEDUR KERJA
Cara sterilisasi yang dapat dilakukan untuk sterilisasi alat:
3.3.1 Metode Panas Basah
Alat-alat yang telah dibungkus dimasukkan dan ditata kedalam keranjang
autoklaf. Ditekan tombol ON pada autoklaf, ditunggu sampai alat siap digunakan.
Dibuka pintu autoklaf dengan menggeser kunci kesebelah kanan. Dikontrol air
yang ada di dalam chamber autoklaf sampai tanda batas. Dimasukkan keranjang
autoklaf yang berisi alat yang akan disterilkan. Ditutup autoklaf dan digeser kunci
kesebelah kiri. Ditekan tombol start pada autoklaf yang sebelumnya telah di set
waktu dan temperaturnya yaitu 121o C selama 20 menit. Setelah 20 menit dibuka
buangan gas sampai bunyi yang ada didalam autoklaf tidak terdengar lagi dan
ditunggu sampai suhu mencapai 70o C. Setelah mencapai 70o C dibuka kunci
autoklaf dengan menggesernya ke kanan. Lalu keranjang yang ada didalam
autoklaf dikeluarkan dari chamber. Alat yang telah disetrilisasi dimasukkan ke
dalam box isolator steril. Lalu dimasukkan ke dalam lemari penyimpanan steril
(Ayuhastuti, 2016).
3.3.2 Metode Panas Kering
Alat-alat yang telah dibungkus dimasukkan ke dalam oven. Ditata posisi alat
sehingga udara yang ada di dalam oven mengalir secara merata. Setelah di atur
posisi alat, oven ditutup lalu ditekan tombol on. Di-setting oven pada suhu 170 oC
selama 1 jam. Ditunggu sampai proses sterilisasi selesai. Setelah proses sterilisasi
selesai, ditunggu hingga oven dingin baru dibuka tutup ovennya. Setelah oven
dingin, dibuka tutup oven dan semua alat dimasukkan kedalam lemari
penyimpanan box steril. Oven dimatikan (Ayuhastuti, 2016).
3.3.3 Metode Sterilisasi Filtrasi
Metode sterilisasi yang dipakai untuk larutan yang tidak tahan panas seperti
serum, plasma atau tripsin. Filter mengabsorpsi hanya sedikit cairan yang difiltrasi
sehingga berguna untuk sterilisasi. Ukuran penyaringan (filter) digunakan untuk
sterilisasi adalah 0,22 mikrometer karena ukuran ini lebih kecil dari bakteri
(MenKes RI, 2013).
DAFTAR PUSTAKA

Ayuhastuti, A. 2016. Modul Bahan Ajar Cetak Farmasi: Praktikum Teknologi


Sediaan Steril. Jakarta: Kemetrian Kesehatan Republik Indonesia.
Darmadi. 2008. Infeksi Nosokomial. Jakarta: Penerbit Salemba
Gabriel, J.E. 1996. Fisika Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
MenKes RI. 2013. Cara Penyelenggaraan Laboratorium Klinik yang Baik. Jakarta:
Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Sesilia, E.. 2016. Praktikum Tekonologi Sediaan Steril. Jakarta: Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia. Hal 26-27.
Raudah., Zubaidah, T, dan I. Santoso. 2017. Efektivitas Sterilisasi Metode Panas
Kering Pada Alat Medis Ruang Perawatan Luka Rumah Sakit Dr. H.
Soemarno Sosroatmodjo Kuala Kapuas. Jurnal Kesehatan Lingkungan
14(1): 425-430.