Anda di halaman 1dari 15

INGKAR SUNNAH PANDANGAN DAUD RASYID

(Suatu Kajian Aliran Ingkar Sunnah)

Oleh : Chandra Wijaya


Email : 1206024@sttgarut.ac.id

Abstrak
Daud Rasyid merupakan intelektual muslim yang berkompetent dalam kajian
spesialisasinya di bidang hadis. Penulis mencoba mengangkat sosok spesialis ilmu hadis
tersebut ketika menyikapi fenomena ingkar Sunnah di Indonesia. Kajian tentang sunnah
dalam konteks budaya Indonesia ini penulis mengutip langsung dari buku karangannya
Daud Rasyid sendiri yang berjudul as-Sunnah fi Indu nisiyya: baina Ansariha wa
Khusumiha. jurnal menjelaskan tentang Sunnah dalam konteks budaya Indonesia yang
mengungkap tentang fenomena ingkar Sunnah di tanah air. Kajian ini menemukan bahwa
terdapat fenomena tentang ingkar Sunnah ini mayoritas berada dalam tataran lingkungan
akademisi. Kebebasan berpikir menjadikan sebagian intelektul menjadi kemajon dalam
berpikir. Walaupun kerancuan berpikir tentang Sunnah yang terjadi di lingkup akademisi
belum sepenuhnya dikatakan sebagai ingkar secara hakiki. Namun, sebagian kalangan
menganggap bahwa fenomena ini ternyata juga cukup meresahkan masyarakat Islam di
Indonesia. Daud Rasyid sebagai pakar hadis yang terkenal agak konservatif amat
menyayangkan terjadinya fenomena ingkar Sunnah semacam ini, lebih-lebih jika hal itu
bersumber dari pemikiran intelektual muslim sendiri.
Kata Kunci: Daud Rasyid, Budaya, Menolak hadits

A. PENDAHULUAN imam Auza'i mengatakan bahwa al-Qur’an


Islam sebagai dinullah memiliki dua lebih membutuhkan sunah daripada
sumber utama, yaitu al-Qur’an dan kebutuhan sunah terhadap al-Qur’an.2
alHadits. Sumber yang disebut terakhir ini Selanjutnya, dalam perjalanan
sering pula dinamakan al-Sunah.1 Ia sejarah ternyata posisi dan fungsi sunah
merupakan penjabaran dari sumber yang yang strategis itu tidak saja mengalami
pertama, dan dalam kaitan ini fungsi sunah distorsi, dipalsukan, tetapi juga bahkan
(al-hadits) menjadi sangat strategis bagi diingkari oleh kalangan tertentu umat
kehidupan umat Islam. Dasar-dasar ajaran Islam. Padahal mereka dalam menegakkan
Islam yang terdapat di dalam sumber shalat, mengeluarkan zakat, menunaikan
utamanya, al-Qur’an, memerlukan ibadah haji, dan lainnya secara tidak
penjelasan dan rincian supaya dapat disadari semua itu diperoleh dari rincian
dilaksanakan, dan rincian serta penjelasan hadist nabi atau sunah.
tersebut tertuang di dalam sunah. Dengan Muhammad Mustafa 'Azami
begitu hubungan antara keduanya begitu menyatakan bahwa sejak zaman dahulu
erat dan tidak dapat dipisahkan, bahkan umat Islam sudah sepakat untuk

1
Kalangan ulama ada yang membedakan kedua istilah ini, tetapi Ushul al-Hadits, Ulumuhu wa Musthalahuhu, Dar al-Fikr, Beirut,
tidak sedikit pula yang menyamakannya. Di dalam tulisan ini 2008, hlm. 13-18.
istilah hadis dan sunnah, sebagaimana pendapat mayoritas
muhaddisin, merujuk kepada satu pengertian yaitu segala 2
Imam Auza'i adalah Abu 'Amru Abdul Rahman bin Amru bin
perkataan, perbuatan, ketetapan serta sifat-sifat, baik khalqiyah Muhammad al-Auza'i alDimasyqiy, ahli hadis dan ahli fikih
maupun khuluqiyah, yang disandarkan kepada Nabi Muhamad terkenal, lahir tahun 88 H dan wafat tahun 157 H. Ungkapannya
saw, baik sebelum beliau diangkat menjadi Nabi maupun yang terkenal yaitu: "al-kitab ahwaju ila al-sunnah min al-
sesudahnya. Lihat lebih lanjut misalnya Nur al-Din 'Itir, Manhaj sunnah ila al-kitab". Lihat al-Syatibi, al-Muwafaqat, jilid 4, hlm.
al-Naqd fi Ulum al-Hadits, Dar al-Fikr al-Mu'ashir, Beirut, 1997, 26; juga al-Syaukani, Irsyad al-Fuhul ila tahqiq al-Haq min 'ilmi
hlm. 27-29; juga Muhamad bin Luthfi al-Shabbagh, Al-Hadits al- al-Ushul fi Ushul al-Fiqh, jilid 1, Dar al-Ma'rifah, Beirut, hlm.
Nabawi: Musthalahuhu, Balaghatuhu, Kutubuhu, al-Maktab al- 59.
Islamiy, 2003, hlm. 140-143; juga Muhammad Ajjaj al-Khatib,
menerima hadist dan menjadikannya seorang pendidik dan ustazah yang
sebagai sumber hukum Islam yang wajib tabakhur ilmunya di kota itu. Masa
dipatuhi dan di setujui secara bersama. kecilnya dihabiskan belajar pagi-sore di
Dan pada masa lalu juga sudah terdapat sekolah formal. Pagi belajar di sekolah
sejumlah orang atau kelompok yang umum dan sore belajar di madrasah.
menolak sunah tetapi hal itu lenyap pada Malam hari dan hari libur diisi dengan
akhir abad ketiga Hijrah. Penolakan belajar non-formal kepada para syekh
hadist ini muncul kembali pada abad dan ustaz di daerahnya.4
ketiga belas Hijrah, sebagai akibat Tahun 1980, setelah tamat SMA
penjajahan Barat. dan Aliyah, ia meninggalkan kota
Di Indonesia sendiri masih dibilang kelahirannya, merantau ke Medan untuk
minim terhadap pemikiran intelektual mengecap pendidikan tinggi di IAIN
hadits. Hal ini disebabkan karena Medan 1980-1983 dan di USU Medan
kurangnya intelektual muslim Indonesia 1981-1983. Namun itu hanya tiga tahun
yang secara intens bergumul dalam bidang dilaluinya. Baru saja menyelesaikan
kajian ini. Selain itu juga sebagian kalangan B.A. dari IAIN, ia mendapat kesempatan
menganggap bahwa studi tentang hadis untuk belajar ke al-Azhar dan
dipandang masih kalah populer mendapatkan beasiswa al-Azhar yang
dibandingkan dengan studi tentang disalurkan melalui IAIN lewat jalur
AlQur’an. Oleh karena itu, intelektual yang Departemen Agama.5 Daud Rasyid, yang
memilih spesialisasi bidang kajian Al- semasa mahasiswanya aktif di
Qur’an pun lebih banyak dari pada Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini,
intelektual yang mengkaji hadis. pada awalnya tidak terlalu serius
Di Indonesia, Daud Rasyid mengikuti tes beasiswa itu, karena
merupakan sedikit dari intelektual muslim studinya yang rangkap di USU dan di
yang kajian spesialisasinya di bidang hadis. IAIN harus ia selesaikan. Namun, apa
Olehnya, dalam artikel ini penulis mencoba mau dikata,karna kelihaianya dalam
mengangkat sosok spesialis hadis tersebut keilmuan ketika diumumkan, dia lulus
ketika menyikapi fenomena ingkar sunnah ranking satu dalam seleksi itu.
di Indonesia. Artikel tentang sunnah dalam Setibanya di Mesir (1984)
konteks budaya Indonesia sebagian besar kemudian ia belajar di Fakultas Syari’ah
disarikan dari buku karangannya Daud wa Al-Qanun Uniiversitas Al-Azhar,
Rasyid sendiri yang berjudul as-Sunnah fi kairo. Sampai ia menyelesaikan studi
Indonesia: baina Ansariha wa Khusumiha. stara satu dan mendapatkan gelar Lc.
Pada tahun 1987.
B. PEMBAHASAN Di Mesir, hari-harinya ia habiskan
1. Biografi Daud Rasyid belajar tidak saja di lembaga-lembaga
Daud Rasyid lahir di Tanjung formal, seperti di Fakultas Syari’ah wa
Balai, sebuah kota kecil di pesisir pantai alQanun Universitas al-Azhar, tetapi juga
Sumatera Utara pada hari Senin tanggal kepada para ulama Mesir. Majma‘ al-Buhus
3 Desember 1962 Masehi bertepatan al-Islamiyyah (Institut Riset Islam) di al-
dengan tanggal 5 Rajab 1382 Hijriyah.3 Azhar adalah salah satu tempat Daud
Berbagai literatur menyebutkan menimba ilmu kepada ulamaulama
bahwa Daud Rasyid adalah putra tunggal terkemuka di Azhar, seperti Syekh Abdul
alm. Bapak Harun al-Rasyid dan alm. Muhaimin, Ustaz Saad Abdul Fattah, dan
Ibunda Hajjah Nurul Huda, adalah lain-lainnya.

3 5
Daud Rasyid, Islam dalam Bergai Dimensi (Jakarta: Gema Daud Rasyid, Pembaruan Islam dan Orientalisme dalam
Insani Press, 1998), hlm. 324. Sorotan (Jakarta:samah Press, 1993), hlm. 149.
4
Tokoh (Daud Rasyid), dalam www.syariahseluler.com, diakses
pada 20 Desember 2014.
Kemudian pada tahun 1987-1990 ia Ulum, Universitas Kairo. Syekh Rif’at
melanjutkan belajar di Program tidak saja gurunya di kampus, tetapi
Pascasarjana (S2) Fakultas Darul Ulum lebih mendalam lagi di luar kampus. Ia
(Studi Islam dan Arab) Universitas Kairo, membaca al-Kutub al-Sittah; al-
Jurusan Syari’ah dan lulus Master (M.A.) Muwatta’ ibn Malik, Muqaddimah Ibnu
dalam bidang syari’ah dengan yudisium: al-Salah, dan karya-karya hadis lainnya
cum laude (mumtaz) , dengan judul tesis secara talaqqi. Sampai-sampai Dr. Rif’at
“Marwiyyat al-Hakam ibn Utaibah wa memercayakan perpustakaannya untuk
Fiqhuhu” (Hadis-hadis Riwayat Imam al- dipegang oleh penerjemah (Daud
Hakam ibn Utaibah dan Metodologi Rasyid), selama ia bertugas ke luar
Fikihnya). negeri. Ia juga banyak belajar dari
Setelah menyelesaikan S2, ia Abdushshobur Syahin, pemikir kondang
kemudian kembali ke Indonesia dan Mesir dan senantiasa aktif mengikuti
mengajar di Universitas Nasional (Unas) ceramah dan khotbah Syahin di Mesir.
Jakarta dan juga di STAN Jakarta. Yang banyak membentuk pola
Kemudian ia aktif diundang di pelbagai pikir Daud adalah gurunya Prof.
seminar dan pertemuan-pertemuan ilmiah Muhammad Boultagi Hasan, pakar
lain. Selain itu juga ia menulis di pelbagai Ushul Fiqh di Dar alUlum, Kairo. Begitu
media massa dan juga menerjemahkan juga Syekh Yusuf al-Qaradhawi yang
beberapa buku, antara lain Bank Tanpa kitabkitabnya senantiasa diikuti oleh
Bunga karangan Yusuf al-Qardlawi (1991), penerjemah.
Syariah Islam, Hukum yang Abadi karya Selesai studi, ia segera kembali ke
Syekh Abdullah Nashih ‘Ulwan (1991), tanah air untuk menjumpai ibu tercinta di
dan Metode Riset Islami karya Ali Abdul kampung halamannya, dengan empat
Halim Mahmud (1992). Pada tahun 1993 ia orang putera: ‘Aisyah, Usamah, Ummu
menulis buku yang berjudul Pembaruan Hani dan Bilal. Setelah sampai di Jakarta
Islam dan Orientalisme dalam Sorotan. tahun 1996, ia diminta oleh Prof. Harun
Pada tahun 1994, untuk yang kedua Nasution, untuk mengajar di Fak.
kalinya ia berangkat ke Mesir untuk Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah,
menempuh program Doktor (S3) di Jakarta sekaligus menjadi Staff pada
Fakultas Darul Ulum, Universitas Kairo LP2S1 al-Haramain Jakarta. Dan sampai
dan pada tahun 1996 ia meraih gelar Doktor sekarang ia mengajar di Pascasarjana di
(Ph.D.) dalam bidang hadis dengan IAIN Bandung. Di tempatnya ia
yudisium summa cumlaude (mumtaz bi mendirikan dan mengasuh Pondok “al-
martabat syaraf ula ) dengan judul disertasi Ma’muriyah” di daerah Sukabumi. Di
“Juhud ‘Ulama ’ Indu nisiya fi as-Sunnah” samping itu, setiap Kamis pagi jam 05.00
(Jasa-jasa Ulama Indonesia di bidang ia aktif memberikan ceramah di channel
Sunnah).6 Indosiar. Tahun 1999, pada era
Pada saat menempuh S3, ia juga reformasi, ia juga menulis sebuah buku
mengenyam studi informal di masjid- tipis dengan judul Islam dan Reformasi,
masjid dan di rumah para syekh Mesir. yang diterbitkan oleh Pondok Pesantren
dia pernah berguru kepada almarhum al-Ma’muriyah.7
Syeikh Hasanain Makhluf, mantan Umumnya sebagai pakar hadis
Grand Mufti Mesir. Juga Dr. Abdussattar jebolan Timur Tengah ia dikenal
Fatahallah Said, ahli tafsir di al-Azhar. mempunyai pemikiran-pemikiran yang
Gurunya di bidang hadis adalah Dr. agak konservatif. Banyak pemikir-pemikir
Rif’at Fauzi, adalah guru besar di Dar al- Indonesia kontemporer yang di debatnya

6 7
Daud Rasyid merupakan mahasiswa Indonesia pertama yang Tokoh Daud Rasyid, dalam www.syariahseluler.com, diakses
mendapat gelar Doktor di bidang hadis di Darul Ulum, pada 20 Desember 2014
Universitas Kairo. Lihat Daud Rasyid, Islam, hlm. 324.
seperti Nurkholis Majid, Harus Nasution sifatnya masih sederhana pembatasannya
dkk. Bahkan dalam bukunya yang berjudul diantaranya sebagai berikut.
“Pembaruan Islam dan Orientalisme dalam Pertama, Ingkar Sunnah merupakan
Sorotan” ia dengan keras mendebat paham yang timbul dalam masyarakat
pemikiran Nurkholis Majid. Sedang dalam islam yang menolak Sunnah atau hadits
karyanya yang lain yang berjudul as- sebagai sumber ajaran agama Islam10 kedua
Sunnah fi Indu nisiyya : baina Ansa riha wa setelah alQur’an.
Khusu miha , ia menentang keras Kedua, Ingkar Sunnah adalah suatu
pemikiran Harun Nasution dalam bidang faham yang timbul pada sebagian minoritas
sunnah. umat Islam yang tidak menerima dan tidak
mengakui dasar hukum Islam dari Sunnah
2. Pengertian Ingkar Sunnah sahih baik Sunnah praktis atau yang secara
Menurut bahasa kata “Ingkar formal dikodifikasikan para ‘ulama, baik
Sunnah” terdiri dari dua kata yang secara totalitas mutawatir maupun ahad
mempunyayi arti “Ingkar” dan “Sunnah”. atau sebagian saja, tanpa mengetahui
Kata “Ingkar” berasal dari kata bahasa alasan yang dapat diterima.11
Arab yang Dari definisi diatas dapat dipahami
mempunyai beberapa arti di antaranya: bahwa Ingkar Sunnah (hadits) adalah
tidak mengakui dantidak menerima baik di sekelompok umat Islam yang tidak
lisan dan di hati, bodoh atau tidak mengakui atau menolak Sunnah (hadits)
mengetahui sesuatu (antonim kata al- sebagai salah satu sumber ajaran Islam.12
‘irfan, dan tidak menerima apa saja yang Orang yang menolak keberadaan Sunnah
tidak tergambarkan dalam hati).8 (hadits) sebagai salah satu sumber ajaran
Al-Askari membedakan antara Islam disebut munkir al-Sunnah.
makna al-Inkar dan al-Juhdu. Kata al- Kelompok Ingkar Sunnah merupakan
Inkar terhadap sesuatu yang tersembunyi lawan atau kebalikan dari kelompok besar
dan tidak disertai pengetahuan, sedangkan (mayoritas) umat Islam yang mengakui
alJuhdu terhadap sesuatu yang nampak. Sunnah sebagai salah satu sumber ajaran
Dan disertai dengan pengetahuan.9 Dengan Islam.
demikian bisa jadi orang yang mengingkari Al-Shafi’i, seperti dikutip oleh
Sunnah sebagai hujjah dikalangan orang Shuhudi Ismail, dalam kitab al-Umm
yang tidak banyak pengetahuannya tentang membagi kelompok Ingkar Sunnah
‘ulumul hadits. menjadi tiga golongan, yaitu
Dari beberapa arti kata “ingkar” pertama:Golongan yang menolak seluruh
tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa Sunnah, kedua: Golongan yang menolak
ingkar secara etimologis diartikan Sunnah kecuali apabila Sunnah itu
menolak, tidak mengakui, dan tidak memiliki kesamaan dengan petunjuk al-
menerima sesuatu, baik dzohir maupun Qur’an, ketiga: Golongan yang menolak
batin atau lisan dan hati yang di latar Sunnah yang berstatus ahad. Golongan ini
belakangi oleh faktor ketidaktahuannya hanya menerima Sunnah yang berstatus
atau faktor lain, misalnya karena malu mutawatir atau hadits mutawatir.13
mengungkapkan, kesombongan, keyakinan Ingkar Sunnah terbagi menjadi tiga
dan lain-lain. bagian tersebut, golongan yang benar-
Sedangkan secara terminologi, ada benar masuk dalam pengertian Ingkar
beberapa definisi Ingkar Sunnah yng Sunnah adalah golongan pertama

8 11
Dr. Ahmad Umar Hasyim. Al-Sunnah al-Nabawiyah wa Khon, Ulumul H}adith., 29.
Ulumuha. (t.tp.Maktabah Gharib.t.t.) 12
Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya, Studi
9
Ibid., 28. H{adith, (Surabaya: Sunan Ampel Press, 2011), 69.
13
10
M. Agus Sholahudin, dkk., Ulumul Hadith, (Bandung: Shuhudi Ismail, Metode Penelitian H{adith, (Jakarta: Bulan
Pustaka Setia, 2009), 207. Bintang, 1992), 8.
(golongan yang menolak Sunnah secara hal-hal lainnya. Mereka menolak dan
keseluruhan). Sedangkan golongan kedua mengingkari sunnah sebagai landasan
dan ketiga adalah golongan yang masih agama.
berpendapat ragu terhadap keberadaan dan Imam Syafi’i membagi mereka
kebenaran Sunnah, antara mengakui atau kedalam tiga kelompok, yaitu :
menolak keberadaan Sunnah.14 1. Golongan yang menolak seluruh
sunnah Nabi SAW
3. Sejarah Ingkar Sunnah 2. Golongan yang menolak sunnah,
1) Ingkar Sunnah Pada Masa Periode kecuali bila sunnah memiliki
Klasik kesamaan dengan petunjuk
Alquran
Pertanda munculnya “Ingkar 3. Mereka yang menolak sunnah yang
Sunnah” sudah ada sejak masa sahabat, kualitas sunnahnya ahad dan hanya
ketika Imran bin Hushain (w. 52 H) sedang menerima sunnah yang bersetatus
mengajarkan hadits, ada kaum yang tidak Mutawatir
setuju kalau sunnah harus dikerjakan, tetapi Dilihat dari penolakan tersebut,
cukup dengan mengerjakan al-Qur’an saja. maka dapat disimpulkan bahwa kelompok
Menanggapi pernyataan tersebut Imran pertama dan kedua pada hakekatnya
menyatakan bahwa “kita tidak bisa memiliki kesamaan pandangan bahwa
membicarakan ibadah (shalat, zakat, puasa, mereka tidak menjadikan Sunnah sebagai
ibadah haji dll) dengan segala syarat- hujjah. Para ahli ilmuan hadits
syaratnya kecuali dengan petunjuk menyebutkan kelompok ini adalah sebagai
Rasulullah saw. Mendengar pernyataan kelompok Inkar Sunnah.
penjelasan tersebut, orang itu menyadari
kesalahpahamannya terhadap sunnah dan Argumen kelompok yang menolak
berterima kasih kepada Imran. Sunnah secara totalitas. Begitu banyak
Sikap penampikan atau alasan yang dikemukakan oleh kelompok
pengingkaran terhadap sunnah Rasul saw ini untuk bias mendukung pendiriannya,
yang dilengkapi dengan argumen baik dengan mengutip ayat-ayat al-Qur’an
pengukuhan baru muncul pada penghujung ataupun alasan-alasan yang berdasarkan
abad ke-2 Hijriyah pada awal masa rasio. Dalil ayat al-Qur’an yang digunakan
Abbasiyah. kaum mereka sebagai alasan untuk
Di negara kita Indonesia, pada menolak sunnah secara total adalah surat
dasawarsa tujuh puluhan tiba-tiba muncul an-Nahl ayat 89 :
isu adanya sekelompok muslim yang ‫ﻮﻨﺰﻠﻨﺎ ﻋﻠﻳﻚ ﺍﻠﮑﺘﺎﺏ ﺘﺑﻴﺎﻨﺎ ﻠﮑﻞ ﺸﺊ‬
berpandangan tidak percaya terhadap “Dan kami turunkan kepadamu al-Kitab
Sunnah Nabi Muhammad SAW. Dan tidak (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala
menggunakannya sebagai sumber atau sesuatu….”
dasar agama Islam. Pada saat akhir tahun Kemudian surat al-An’am ayat 38
tujuh puluhan, kelompok tersebut tampil yang berbunyi:
secara terang-terangan menyebarkan .‫ﻤﺎﻓﺮﻄﻨﺎ ﻔﻰ ﺍﻠﺘﺎﺐ ﻤﻦ ﺷﺊ‬...
pahamnya dengan nama, misalnya, “…Tidaklah kami alpakan sesuatu pun
Jama’ah al-Islamiah al-Huda, dan Jama’ah dalam al-Kitab…Menurut mereka kepada
al-Qur’an dan Ingkar Sunnah, sama-sama ayat tersebut menunjukkan bahwa al-
hanya menggunakan al-Qur’an sebagai Qur’an telah mencakup segala sesuatu yang
petunjuk dalam melaksanakan agama berkenaan dengan ketentuan agama, tanpa
Islam, baik dalam masalah akidah maupun perlu penjelasan dari al-Sunnah. Pendapat

14
Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya, Studi
H{adith,69.
mereka perintah untuk melaksanakan shalat mempertahankan dan menyebarkan
lima waktu sudah terdapat dalam al-Qur’an, walaupun pemerintah setempat telah
misalnya surat al-Baqarah ayat 238, surat mengeluarkan larangan resmi atas ajaran
Hud ayat 114, al-Isyra’ ayat 78 dan lain- mereka.
lain. Menurut Mustafa Zami dalam buku
Adapun alasan lain menyatakannya yang ditulis Agus Solahudin menuturkan
bahwa al-Qur’an diturunkan dengan bahwa Inkar As-Sunnah modern lahir di
berbahasa Arab yang baik dan tentunya al- Kairo, Mesir pada masa Syeikh
Qur’an tersebut akan dapat dipahami Muhammad Abduh (1266-1323H). Dengan
dengan baik pula. Argumen kelompok yang kata lain Dialah yang pertama kali
menolak hadits Ahad dan hanya menerima melontarkan gagasan Inkar As-Sunnah
hadits Mutawatir. Untuk menguatkan pada masa modern. Ada satu yang sangat
pendapatnya, mereka menyatakan ayat al- menarik dari Syeikh Muhammad Abduh
quran sebagai dalil yaitu, surat Yunus ayat bahwa ia mengingkari eksistensi hadits
36: ahad sebagai dalil ketauhidan. Namun
‫ﻮﺍﻦ ﺍﻠﻈﻦ ﻻﻴﻐﻨﻰ ﻤﻦ ﺍﻠﺤﻖ ﺸﻴﺌﺎ‬ masih menjadi perdebatan para ulama
“…Sesungguhnya persangkaan itu tentang apakah orang yang mengingkari
tidak berfaedah sedikitpun terhadap hadits ahad sebagai dalil tauhid dapat
kebenaran”. dikatakan sebagai pengingkar sunnah
Berdasarkan ayat di atas, mereka (inkar as-sunnah) atau bukan.
berpendapat bahwa hadits Ahad tidak dapat Majalah Almanar nomor 7 dan 12
dijadikan hujjah atau pegangan dalam tahun IX memuat tulisan Thaufiq Shidqi
urusan agama. Menurut kelompok ini, yang berjudul “Islam adalah Al-Qur’an itu
agama harus didasarkan pada dalil yang sendiri”, ia menjelaskan bahwa Al-
qath’I yang disepakati dan diyakini secara Qur’an tidak membutuhkan sunnah.
bersama kebenarannya. Oleh karena itu Begitulah golongan Inkar As-Sunnah terus
hanya al-Qur’an dan hadits mutawatir saja menyebar ke berbagai belahan dunia
yang dapat dijadikan sebagi hujjah atau dimana Islam berkembang sebagai wujud
sumber ajaran Islam. adanya kekuatan internal yang hendak
melemahkan panji-panji kebesaran Islam,
2) Ingkar Sunnah pada Periode tak luputnya tanah air tercinta ini.
Modern (salah)
Pendapat sunnah ditolak muncul 4. Daud Rasyid dan Fenomena Ingkar
kembali pada abad ke empat belas Hijriyah Sunnah di Indonesia
setelah pada abad ke tiga pemikiran seperti Sebagai sumber ajaran Islam yang
itu lenyap ditelan zaman. Mereka muncul kedua, sunnah menempati posisi yang
dengan bentuk dan penampilan yang jauh sangat esensial. Olehnya tidak
berbeda dari inkar sunnah priode klasik, mengherankan jika pelbagai kalangan yang
yang mana kemunculan mereka lebih tidak senang atas perkembangan dan
terpengaruh pada pemikiran kolonialisme kemajuan Islam berupaya dengan gigih
yang ingin menghancurkan dunia Islam. untuk mencari-cari titik kelemahannya.
Inkar al-sunnah masa ini muncul dalam Tujuan mereka adalah untuk
bentuk golongan yang terorganisi yang menggoyahkan kepercayaan umat Islam
mempunyai pemimpin atau tokoh-tokoh sendiri terhadap sunnah. Hal ini
dalam ajaran mereka, yang mana tokoh- dikarenakan bahwa jika sunnah dapat
tokoh mereka menyebut dirinya sebagai disingkirkan dari kehidupan umat Islam,
Mujtahid atau pembaharu. Bahkan saat maka secara otomatis Islam tidak akan
mereka mengetahui bahwa ajaran mereka dapat berdiri tegak, sebab mustahil
salah mereka tidak lantas sadar seperti inkar
al-sunnah periode klasik, tetapi terus
mempraktekkan Islam tanpa sunnah Nabi.15 maka akan kita dapatkan bahwa kolonial
Begitu juga yang terjadi di tanah air, karena Belanda merupakan otak di balik semua
Islam adalah mayoritas, berbagai golongan konspirasi yang keji tersebut. Kolonial
mencoba mengkritik dan menyerang Belanda, setelah diteliti, bukan hanya
kedudukan sunnah dalam ajaran Islam. menghancurkan materi dengan
Dalam kitabnya yang berjudul as- membunuh banyak nyawa pribumi,
Sunnah fi Indu nisiyya : baina Ansa riha wa menghancurkan infrastruktur dan
Khusu miha , Daud Rasyid banyak merampas harta akan tetapi juga
menguak tentang fenomena-fenomena mempunyai rencana yang matang untuk
sebagian kalangan baik dari akademisi atau menghancurkan agama mayoritas
orientalis yang hidup di Indonesia yang penduduk pribumi yaitu Islam.16
mengingkari sumber ajaran Islam kedua Salah satu cara yang ditempuh oleh
tersebut. kolonial Belanda dalam menghancurkan
Pemberangkatan dari pemikirannya Islam di Indonesia adalah dengan cara
tentang fenomena ingkar sunnah di menyusupkan Orientalis dalam
Indonesia adalah ketika Daud Rasyid kehidupan masyarakat pribumi dengan
sedang menyelesaikan tugas akhir berbaur dan menyamar sebagai muslim.
(disertasi) pada program doktornya di Salah satu tugas ini diemban oleh
Universitas Kairo. Judul disertasinya seorang Orientalis Belanda bernama
adalah “Juhud ‘Ulama ’ Indunisiyya fi as- Snouck Hurgronje, ia menyamar menjadi
Sunnah”. Dan, buku karangannya yang seorang muslim dan merubah namanya
berjudul as-Sunnah fi Indu nisiyya : baina dengan Abdul Ghoffar.
Ansariha wa Khusu miha merupakan Di antara pemikiran yang ditelurkan
ringkasan dari disertasinya di atas. Sebagai oleh Snouck dalam buku karangannya
pakar hadis Daud Rasyid merasa “gemas” “Perayaan Mekah” adalah bahwa Islam
dengan fenomena yang terjadi di Indonesia tidak mendatangkan sesuatu yang baru
dengan adanya indikasi pemelencengan bahkan dalam ritualnya sekalipun. Ia
terhadap sunnah sebagai otoritas ajaran mencontohkan ritual dalam haji.
Islam kedua, baik sebagian maupun Sesungguhnya ritual haji, menurut
keseluruhan. Menurutnya, fenomena Snouck, merupakan ritual yang sebelumnya
semacam ini menarik diangkat sebagai dilakukan oleh agama Yahudi. Kata Ka’bah
karya ilmiah sekaligus harus diluruskan juga bukan merupakan bahasa arab
jika melenceng dari nilainilai kebenaran. melainkan berasal dari warisan masa
Selain itu, juga bahwa penelitian semacam Jahiliyah. Sebagaimana ritual-ritual lain
ini rasanya juga masih minim yang yang berkenaan dengan pelaksanaan ibadah
melakukannya. haji seperti tawaf di Ka’bah dan mengecup
hajar aswad diibaratkan oleh Snouck
5. Pengingkaran Orientalisme dan sebagai ritual yang berbau syirk
Sekutunya terhadap Sunnah Nabi (menyekutukan Tuhan).17
a. “Agresi” Kolonial Belanda terhadap Di bagian lain dari bukunya, ia sengaja
Sunnah “menyerang” perawi-perawi hadis dan
Di Indonesia, jika kita lacak mengatakan bahwa andil para ahli kitab
perjalanan konspirasi dan yang masuk Islam seperti Ka’b al-Ahbar
pemelencengan terhadap Sunnah dan Wahab bin Munabbih sangatlah
khususnya dan terhadap Islam umumnya, signifikan dalam pengajaran Islam. Bahkan

15Daud Rasyid, Islam, hlm. 24. 17 Ibid., hlm. 24-25.


16 Daud Rasyid, as-Sunnah fi Indu nisiyya :

baina Ansa{ riha wa Khusu miha (Jakarta: Usamah


Press, 2001), hlm. 17.
ia lebih percaya apa yang diriwayatkan oleh Islam Ditinjau dari Berbagai
19
para muallaf ahli kitab tersebut daripada Aspeknya. Harun mengajak umat Islam,
yang apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu khususnya kalangan IAIN, agar bersifat
Abbas. Lebih parah lagi ia mengatakan kritis terhadap ajaran Islam. Tidak
bahwa riwayat Ibnu Abbas adalah cacat dan menerima apa adanya dari teks-teks Al-
terdapat cela (majruh). Qur’an dan hadis Nabi, apalagi pendapat
Dalam buku as-Sunnah fi Indu nisiyya : para ulama. Sebab, menurut Harun,
baina Ansa riha wa Khusumiha , Daud banyak ketentuan Al-Qur’an dan hadis
Rasyid mencoba men- counter dan yang tidak relevan di zaman modern ini.
meluruskan apa yang telah ditulis oleh Apalagi ketentuan-ketentuan Al-Qur’an
Snouck dalam bukunya tersebut. Mengenai yang dipandang bersifat kondisional dan
Ka’bah, Daud Rasyid mengatakan bahwa ia regional.
merupakan asli dari bahasa Arab yang Daud Rasyid menilai bahwa
berarti bangunan segi empat. Selanjutnya pemikiran Harun Nasution ini
Daud Rasyid mengatakan bahwa thawaf merupakan cetak biru dari pemikiran
yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyyah Mu’tazilah dan lebih suka disebut
dengan ritual muslim sangatlah berbeda. sebagai aliran rasionalis, karena faham
Jika orang-orang jahiliyyah mu’tazilah itulah menurutnya yang
melaksanakannya dengan telanjang, justru cocok dengan kemajuan ilmu
di Islam haruslah dengan keadaan suci dan pengetahuan dan teknologi. Di kalangan
menutupi aurat. Menurut Daud mencium akademisi, Harun Nasution boleh dikata
hajar aswad dan menghadap Ka’bah berhasil dalam mengembangkan
bukanlah keduanya yang diagungkan dan pemikiran Mu’tazilah dan ide-de yang
disembah melainkan Dzat Agung di balik merusak Islam.2021
keduanyalah yang disembah. Adapun Oleh Daud Rasyid, pemikiran Harun
ketika meluruskan Snouck tentang celanya Nasution terpengaruhi juga oleh guru-
Ibnu Abbas dan perawi lain, Daud Rasyid gurunya (saat ia belajar di McGill) yang
mengatakan bahwa penelitian yang notabenenya mereka adalah para
dilakukan oleh Snouck bersifat subjektif orientalis. Dalam hal ini penulis mencoba
dan tidak sesuai dengan kaidahkaidah memaparkan sebagian kerancauan
motode ilmiah dan cenderung mengambil pemikiran Harun Nasution tersebut yang
nash atau dalil sesukanya.18 disinyalir oleh Daud Rasyid dalam buku
b. Kerancuan Pemikiran Harun karangannya masing-masing. Kerancuan
Nasution Tetang Sunnah pemikiran Harun Nasution dapat
Menurut Daud Rasyid, munculnya disimpulkan sebagai berikut.22
gejala penyimpangan pemikiran oleh 1) Pengingkaran Harun Nasution
sebagian kalangan di negeri ini, terhadap penulisan hadis dan
sebenarnya bukanlah hal baru. Harun penghafalannya oleh para sahabat pada
Nasution, sekembalinya dari Kanada dan masa Nabi. Ini dibuktikan dengan
menjabat sebagi rektor IAIN Syarif ketidakjadian Umar bin Khatab dalam
Hidayatullah Jakarta, melontarkan membukukan hadis Nabi.
pikiran-pikiran aneh yang meresahkan 2) Pembukuan hadis hanya terjadi
umat Islam, khususnya di dalam bukunya pada abad II H. sehinnga tidak mungkin

18Ibid., hlm. 28. Rasyid, Pembaruan Islam dan Orientalisme dalam


19 Buku karangan Harun Nasution Sorotan, hlm. 11 dan 69.
20 Daud Rasyid, “Pembaruan” Islam dan
tersebut sarat akan kerancuan berpikir ini,
ditetapkan sebagai buku wajib mahasiswa Orientalisme dalam Sorotan, hlm.
IAIN seluruh Indonesia. Selanjutnya buku ini 21 .

dikritik oleh M. Rasyidi dengan menulis buku 22 Daud Rasyid, as-Sunnah, hlm. 46-47.

Koreksi terhadap Harun Nasution. Lihat Daud


melacak perbedaan antara hadis sahih, dengan membalikkan pertanyaan
hadis da’if, bahkan mawdu‘. bagaimana hadis sampai pada generasi
3) Abu Bakar menyeleksi ketat selanjutnya jika tidak dihafal dalam
diterimanya hadis, beliau meminta supaya sanubari para sahabat?24
ketika menyeleksi hadis harus dibawah Pada masa Nabi, pada awal mulanya
saksi yang memperkuat hadis itu berasal memang beliau melarang menulis hadis
dari Nabi, dan Ali bin Abi Thalib meminta karena mengutamakan pada konsentrasi
supaya pembawa hadis bersumpah atas Al-Qur’an. Hanya saja sebagian sahabat
kebenarannya. Ini menunjukkan keraguan atas nama pribadi dan secara diam-diam
Harun Nasution terhadap kebenaran rawi mencatat hadis-hadis tersebut bahkan
disebabkan tersebarnya hadis mawdu‘. menghafalnya. Maka bermuncullah teks-
4) Penulisan hadis secara besar- teks (sahaif25) nama-nama dari
besaran hanya terjadi pada abad III H. oleh pengumpulnya. Di antara sahabat yang
pengarang-pengarang al-Kutub al-Sittah. mencatat naskah atau teks hadis adalah
5) Tiada kesepakatan ulama (ijma‘) Abdullah bin Amr bin Al-Ash yang
terhadap kriteria kesahihan hadis. sahifahnya dinamakan “al-sadiqah”.
Sehingga, posisi kehujahan Sunnah tidak Olehnya inilah salah satu catatan hadis
seperti kehujahan Al-Qur’an. yang telah ada pada zaman rasulullah dan
6) Para sahabat, demi mencari solusi abad I hijrah.26
masalah, mereka menerima semua hadis Hal senada juga diungkapkan oleh M.
yang sampai kepada mereka walaupun itu Rasyidi dalam bukunya yang secara
mawdu‘.23 khusus mengkoreksi terhadap bukunya
Dalam menyikapi kerancauan Harun Nasution tentang Islam Ditinjau
pemikiran Harun Nasution, Daud Rasyid dari Berbagai Aspeknya. Ia mengatakan
meluruskannya dengan mengatakan bahwa bahwa Harun Nasution dalam
faktor yang dominan dilarangnya penulisan pemikirannya mengutip kata-kata
hadis adalah ditakutkan bercampurnya Nicholson dan H.R. Gibb yang
antara Al-Qur’an dan as-Sunnah. menguatkan keaslian Al-Qur’an, tetapi
Disamping itu pula agar proyek penulisan secara tegas juga ia mencoba untuk
Al-Qur’an tidak terganggu oleh penulisan menyerang sumber kedua Islam yaitu
al-hadis. Selain itu juga ada pandangangan sunnah. Lebih lanjut M. Rasyidi
lain yang mengatakan bahwa pelarangan mengatakan bahwa keterangan Harun
tersebut berlaku bagi orang yang tidak kuat Nasution tersebut sudah cukup untuk
hafalannya. Adapun bagi yang kuat memasukkan rasa goyah dalam
hafalannya dan mampu membedakan keimanan generasi muda kita, sesuai
antara teks hadis dan Al-Qur’an, maka dengan yang dimaksudkan oleh kaum
diizinkan untuk mencatatnya.
Mengenai tidak dihafalnya hadis oleh
para sahabat, Daud Rasyid meng-counter

23 Lihat selengkapnya juga dalam Harun dimaksud disini adalah suatu buku kecil
Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya berisikan sunnah Nabi dengan jumlah yang
(Jakarta: Universitas Indonesia Press, cet. ke-6, sangat terbatas. Namun menurut para ahli
1986). Dalam jilid 1 dan jilid 2 yang mengangkat hadis meyakini bahwa kumpulan hadis
tentang aspek hukum dan hadis, jilid 1, hlm. 28- tersebut bermuatkan antara seratus hingga
30, jilid 2, hlm. 11. seribu lebih hadis. Lihat lebih lengkap Jamila
24 Ibid., hlm. 72. Shaukat, Pengklasifikasian Literatur Hadis”,
25 Kata sahaif adalah bentuk jama’ dari dalam Jurnal al-Hikmah, No. 13 (1994), hlm.
sahifah yang bermakna dasar ‘lembaran’ atau 18.
26 Daud Rasyid, as-Sunnah, hlm. 63.
‘buku kecil’. Tetapi dalam perjalannannya
mengalami perluasan makna. Sedang yang
orientalis yang tidak suka Islam menjadi Nash hadis yang diriwayatkan Abu
kuat.27 Hurairah tersebut adalah
6. Pencelaan Sunnah dalam Jurnal “Berwasiatlah kepada para
“Sekuler” perempuan, karena perempuan itu
Menurut Daud Rasyid, selain fenomena diciptakan dari tulan rusuk, dan
ingkar sunnah yang dipraktikkan oleh sesungguhnya tulang rusuk yang paling
Harun Nasution dalam lingkup akademis, benkok adalah paling atas; bila kamu
terdapat juga sarana dan fasilitas yang lebih berusaha meluruskannya maka kau harus
memadai dalam suatu media yang dijadikan mematahkannya, dan bila kamu
mimbar oleh kaum orientalis untuk membiarkannya maka akan tetap bengkok.
menuangkan pemikiran-pemikiran yang Karena itu berwasiatkanlah kepada
melenceng dari ajaran Islam. Media yang perempuan”.
dimaksud Daud Rasyid adalah Jurnal Riffaat mengatakan bahwa hadis di
‘Ulumul Quran.28 atas didasarkan adanya dua cerita
Lebih lanjut, Daud Rasyid mengatakan penciptaan dalam Bibel; keduanya
bahwa dalam jurnal ini terdapat berbagai terdapat dalam Kitab kejadian (Genesis).
pemikiran sekuler, ateis dan Marxis, liberal, Bagaimana cerita sesungguhnya tentang
sosialis, dan lainnya yang ditulis oleh penciptaan ini, menurut Riffaat dapat
orang-orang sekuler yang belajar dari diungkapkan dengan pemanfaatan
intelektual Barat dengan cara langsung penelitian filologi. Selanjutnya Riffaat
maupun tidak langsung. Golongan dari mengatakan bahwa hadis ini jelas-jelas
intelektual tersebut mestinya tidak bertentangan dengan teks Al-Qur’an
mempunyai hubungan sama sekali dengan tentang penciptaan manusia dan
Islam dalam berbagai bidang sangatlah sesuai dengan teks Bibel.
spesialisasinya. Sebab spesialisasi dari Oleh Daud Rasyid teks hadis ini
pemikiran mereka adalah sekularis.29 dikritiknya dari dua sisi yaitu dari segi
Di antara pemikiran dalam jurnal ini sanad dan matannya. Dari segi matannya
yang rancu berkaitan dengan sunnah ditulis ia mengkritik:
oleh Riffaat Hassan.3031 Dalam tulisannya a. Bahwa dongeng tentang tulang
ia menggugat hadis yang diriwayatkan Abu rusuk itu bersumber dari kitab suci
Hurairah tentang penciptaan wanita dari (Bibel32), hanya saja dalam teks hadis
tulang rusuk laki-laki. tersebut tidak disebut nama Adam.

27 M. Rasyidi, Koreksi terhadap Dr. Harun jurusan Religious Study Program di Universitas
Nasution Tentang “Islam Ditinjau dari Berbagai of Louisville, Kentucky. Lihat Jurnal ‘Ulumul
Aspeknya” (Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, Qur’an, Vol. II, No.
31 , 1991/1411 H, hlm. 86.
1977), hlm. 31-32.
32 Penuturan kisah penciptaan dalam
28 Yang amat disayangkan oleh Daud Rasyid
adalah nama yang gunakan jurnal ini terkesan Genesis 2:21-22 (versi standar yang telah
memanupulasi dan mengelabui pembacanya. diperbaiki) terbaca sehingga Tuhan membuat
Bagaimana tidak, nama ‘Ulumul Qur’an sepintas bagai Adam tidur lelap dan sementara ia tidur,
majalah Islam yang sangat tinggi dalam mengangkat Tuhan mengambil salah satu tulang rusuknya
kajian Islam, akan tetapi setelah dibaca dan dikaji dan mendekatkan tempatnya engan daging dan
ternyata isinya jauh dari pandangan Islam yang dari tulang rusuk yang diambil Tuhan dan
sebenarnya. Lihat Daud Rasyid, “Pembaruan” Islam, Adam itu, Ia menciptakan seorang perempuan
hlm. 9, dan as-Sunnah, hlm. 128. dan membawanya kepada Adam. Dalam
29Ibid., 123. Genesis 2:23 disebut: Dan Adam berkata: «Ini
30 Ia adalah seorang feminis Muslim sekarang adalah dari tulang-tulangku dan
kelahiran Lahore, Pakistan. Ia mendapatkan daging dari dagingku: dia adalah disebut
pendidikan dan gelar doktornya di Inggris. Sejak perempuan (Ibrani Ishah).
1974 ia tinggal di Amerika dan menjabat ketua
b. Hadis tersebut terkesan dimaksud dengan ‘ahsanu taqwim’ adalah
mendiskriditkan posisi wanita yang keindahan bentuknya setelah diciptakan.
justru tidak terdapat dalam Bibel. Bahkan Sedang wanita diciptakan dari tulang rusuk
jelas bertentangan dengan ajaran Al- adalah bermakna keseimbangan antara dua
Qur’an yang mengatakan bahwa seluruh jenis. Sehingga antara satu dan lainnya
manusia diciptakan dalam bentuk dapat tersempurnakan. Sebab antara jenis
terbaiknya. satu dan lainnya sangatlah membutuhkan.
c. Sesungguhnya anjuran untuk c. Sedangkan mengenai adanya
berbuat ramah terhadap perempuan kemiripan dengan apa yang terdapat dalam
sangatlah masuk akal, sebab wanita Bibel tidaklah masalah, sebab walaupun
diciptakan dalam keadaan cacat. Maka sebagian besar nash Bibel telah
menjadikannya ia diperlakukan dengan dilencengkan akan tetapi bisa jadi nash
lembut, kasih sayang dan belas kasihan. tersebut yang selamat dari pelencengan.
Tapi, apakah bengkok yang tidak Dan nash tersebut bersumber dari Allah
mungkin dibenahi itu merupakan bentuk sebagaimana hadis tersebut juga berasal
cacat bagi wanita? dari Allah. Dan tidaklah benar jika kisah
d. Sesungguhnya wasiat untuk penciptaan wanita itu merupakan dongeng.
berbuat lembut, belas kasihan terhadap Sebab dongeng selalu berpindah dari
wanita merupakan bentuk dari pelecehan generasi satu dengan yang lainya tanpa
kemanusiaan seorang wanita. dilandasi dengan dalil.
Sebelum mengcounter balik pemikiran Dalam menyikapi kerancuan dan
Riffa’at Hassan, Daud Rasyid mengatakan kritikan Riffa’at Hassan terhadap sanad
bahwa sesungguhnya ia merupakan tokoh tersebut, Daud Rasyid mengatakan:34
yang paling sengit dan menyerang hadis- a. Pencelaan terhadap Abu Hurairah
hadis feminim secara umum. Selanjutnya ia oleh Abu Hanifah tidaklah benar dan
menjawab kerancuan pemikirannya bohong belaka. Ini dibuktikan bahwa
33
tersebut mengenai matannya: Abu Hanifah banyak menerima hadis-
a. Selayaknya kita memahami bahwa hadis yang diriwayatkan oleh Abu
sikap Islam terhadap wanita tidak bisa Hurairah.
hanya diambil dari satu hadis atau dua b. Mengenai daifnya hadis yang
hadis. Akan tetapi harus diambil dari nash- rawinya tidak adil. Bukankah semua
nash Al-Qur’an secara umum kemudian sahabat itu adil? Dan tidaklah benar
dari globalnya hadis dan praktek rasulullah kalau dikatakan bahwa pada abad
sendiri dalam masyarakat. Sesungguhnya pertama merupakan ciri khas kritik
Islam sangatlah memulyakan perempuan sanad. Sebab sanad sendiri diadakan
dengan memposisikan wanita sesuai setelah terjadinya fitnah kubro.24
dengan posisi dan tanggungjawabnya. Di Demikianlah sebagian kerancuan dan
antaranya mendidik dan memelihara sang sekaligus jawaban terhadapnya yang
anak. Sedangkan laki-laki berkewajiban terdapat dalam jurnal ‘Ulumul Qur’an
memberi keamanan dan rasa nyaman tersebut.
terhadap anak dan istrinya.
b. Hadis tersebut tidaklah 7. Pergerakan Ingkar Sunnah di
mendiskriditkan posisi wanita. Dan Indonesia
tidaklah hadis tersebut bertentangan antara Daud Rasyid mencoba
nash Al-Qur’an yang mengatakan manusia mengklasifikasikan fenomena
diciptakan dengan bentuknya yang terbaik pengingkaran sunnah oleh sebagian
dengan nash hadis yang mengatakan bahwa golongan menjadi tiga varian. Pertama,
wanita diciptakan dari tulang rusuk. Yang ingkar sunnah secara keseluruhan.

33 Ibid., hlm. 136-138. 34 Ibid., 142. 24 Ibid., 144.


Kedua, ingkar sebagian sunnah. Ketiga, yang tersisa, sebab perkataan rasul
pengingkaran terhadap sunnah selain membaur dalam perkataan Allah, maka
menurut cara yang diriwayatkan (min tidaklah butuh dengan sunnah.
ghairi tariq manqul). 3) Keterangan tentang Al-Qur’an
a. Ingkar Sunnah Secara Mutlak hanya ada dalam Al-Qur’an sendiri.
Fenomena pengingkaran sunnah di Olehnya tidak dibutuhkan pada keterangan
Indonesia salah satunya pernah terdapat sunnah atau hadis Nabi. Sebab apa yang
di daerah Tasikmalaya, di sana terdapat bersumber selain dari AlQur’an dianggap
jama’ah yang mengatasnamakan ahli al- sebagai hawa nafsu (hawa). Maka hadis
Qur’an “Qur’aniyyun”. Mereka juga bisa dibilang sebagai hawa nafsu.35
menganggap bahwa asas landasan Dari kerancuan pemikiran tersebut
daripada Islam hanyalah Al-Qur’an an mengundang polemik di masyarakat.
sich. Mereka menolak sunnah sebagai Sehingga banyak tokoh juga yang tergugah
sumber hukum Islam. Golongan ini untuk meluruskannya. Di antara tokoh yang
dipimpin oleh pemimpin besar andil dalam menjawab kerancuan
“Muhammad Irham Sutarto”. Ia dibantu pemikiran golongan tersebut adalah Ahmad
oleh rekannya yang diberi otoritas Husnan dalam bukunya Gerakan Ingkar
kepemimpinan di daerahnya, seperti di Sunnah dan Jawabannya. Ia berpendapat
Jakarta dipimpin oleh Teguh Essa dan di bahwa kerancuan pemikiran ini berangkat
Jawa Barat di bawah pimpinan dari pemahaman golongan tersebut yang
Abdurrahman. Mereka pertama-tama dangkal dalam memahami ajaran Islam.
menyebarkan ajaran-ajarannya yang Dalam menjawab tentang “setiap
aneh dan asing tersebut hanya di keterangan yang terdapat selain dalam
Tasikmalaya (Jawa Barat) dan Al-Qur’an adalah hawa nafsu”, Ahmad
sekitarnya. Namun lambat laun ia Husnan mengatakan bahwa seandainya
menyebarkannya juga di Jakarta dan memang demikian, maka seharusnyalah
sebagian daerah-daerah di Jawa Tengah. tidak ada penafsiran dalam Al-Qur’an
Dalam menyebarkan ajarannya jamaah walaupun itu dilakukan oleh golongan
ini memakai berbagai cara untuk dapat ingkar Sunnah sendiri. Dan, seandainya
sampai di masyarakat. Di antaranya dengan Al-Qur’an tidak ditafsiri dan tidak
menerbitkan beberapa buku mengenai dijelaskan maknanya, maka sebagian
ajaran mereka, menyebarkan kaset-kaset orang akan kesulitan memahami Al-
rekaman yang berisi pengajian ajaran Qur’an terutama orang ‘ajam. Akan
mereka yang disinyalir merupakan ajaran tetapi, anehnya justru mereka sendiri
yang menyesatkan dari eksistensinya yang yang menafsiri ayat Al-Qur’an
benar. seenaknya dan sesuai dengan
Sebagian ajaran dari jamaah ini adalah kehendaknya sendiri.36
sebagai berikut. Lebih lanjut, Daud Rasyid
1) Bahwa taat kepada Allah wajib, menambahkan bahwa sesungguhnya
akan tetapi Allah ghaib di hadapan golongan yang tidak mengakui bahwa
manusia. Begitu juga wajib taat kepada AlQur’an itu tidak membutuhkan sunnah
Rasul, akan tetapi rasul telah meninggal. mereka sendiri secara tidak langsung
Maka taat kepada keduanya tidaklah terjebak dalam pengingkaran Al-Qur’an.
bersifat hakiki. Sebab, bukankah Allah dalam Al-Qur’an
2) Sesungguhnya Allah mengajarkan mewajibkan untuk mengikuti Nabi dan
rasulnya tulisan, dan rasul selanjutnya patuh pada hukumnya, taat terhadap
mengajarkannya pada manusia. Dan perintahnya tanpa ragu-ragu. Maka, bagi
AlQur’an adalah satu-satunya dokumen

35 Ibid., hlm. 159. 36 Ibid., hlm. 164.


yang mengingkari Sunnah Rasul juga yang ganjil dengan menyerang
berarti menolak taat kepada Rasul.37 Ahlussunnah wal Jamaah. Oleh Daud
Setelah dilakukan penelitian terhadap Rasyid, eksistensi Syi’ah di Indonesia tidak
ingkar sunnah secara mutlak ini, Daud kurang bahayanya dari kaum sekuler.
Rasyid mengambil kesimpulan bahwa Bahkan, antara keduanya saling membantu
akar dari semua ini merasal dari Snouck untuk menjegal Ahlussunnah wal Jamaah.
Hurgronje yang telah meletakkan c. Ingkar Sunnah Selain Melalui
kaedah-kaedah dan pondasi ajaran yang Cara yang Diriwayatkan
melenceng sekaligus melancarkan Terdapat juga fenomena yang menarik
‘agresi’ pemikiran untuk menghanjurkan dalam mengingkari sunnah di Indonesia.
ajaran Islam di Indonesia secara umum Ada golongan yang mengatasnamakan
dan sunnah secara khusus. dirinya sebagai golongan “Dar al-Hadis”
b. Ingkar Sebagian Sunnah atau “Islam Jama’ah”, mereka hanya
Dalam mengingkari sunnah sebagai mengakui keberadaan sunnah atau
sumber ajaran Islam yang kedua, terdapat hadishadis yang diriwayatkan melalui
golongan yang hanya mengingkari sanad yang bersambung dari pemimpin
sunnah secara tidak keseluruhan. Dalam golongan ini sampai pada Nabi Muhammad
artian bahwa golongan ini meyakini saw.
hadis-hadis yang berkaitan dengan Sedangkan hadis-hadis yang terdapat
ibadah, mu’amalah, nikah dan lainnya. dalam kitab-kitab sunnah yang dipelajari
Akan tetapi, ketika terdapat hadis yang secara otodidak oleh sebagian
berbicara tentang hal ghaib, mereka masyarakat muslim atau yang diajarkan
mengingkarinya. Misalnya, mereka oleh para syaikh atau kiayi, tidak diakui
mengingkari hadis-hadis yang berbica oleh mereka. Karena, menurut mereka,
tentang Isra’ Mi’raj dan pemberitaan hadis itu dapat dikategorikan sebagai
Nabi saw. mengenai apa yang telah hadis yang dapat diterima apabila
dilihat Nabi pada saat malam Isra’ diriwayatkan secara berasambungan
Mi’raj.38 sanadnya. Adapaun yang tidak
Selain golongan di atas, di Indonesia bersambungan sanatnya adalah
terdapat juga komunitas muslim yang meruapakan hadis yang layak ditolak.40
dianggap Daud Rasyid menyelewengkan Yang menarik juga diamati dari
ajaran tentang Sunnah yang benar. Mereka golongan yang dipimpin oleh Nur Hasan
adalah kaum Syi’ah di Indonesia. Mereka al-Ubaidah Lubis ini adalah ia
mengingkari dan meragukan kesahihan menganggap bahwa dirinya adalah
hadis walaupun itu bersumber dari riwayat sebagai satu-satunya ulama Indonesia
al-Bukhari dan Muslim. Walaupun mereka yang mempunyai sanad yang
menganggap bahwa Syi’ah di Indonesia menyambung sampai Rasulullah.
telah eksis sejak beberapa dekade yang Karenanya, menurutnya, ulama’ yang
lampau, akan tetapi pemikiran mereka tidak tidak mempunyai sanad yang
terlihat sama sekali di tengah mayoritas menyambung tidak sah ilmunya dan
komunitas Ahlussunnah wal Jamaah yang tidak patut juga diajarkan kepada yang
bermazhab al-Asy’ari dalam akidah dan lain. Dari keterangan yang diperoleh
asy-Syafi’i dalam bidang fikih.39 bahwa Nur Hasan mendapatkan untaian
Menurut Daud Rasyid, pasca sanad yang menyambung itu dari
keberhasilah Revolusi Iran Syi’ah di talaqqinya dengan Syaikh Umar bin
Indonesia mulai menggeliat dengan Hamdan, salah satu ulama’ terkemukan
mengampanyekan pemikiran-pemikiran di Makkah, beliau memperoleh sanad

37 Ibid., hlm. 166. 39 Ibid, 179


38 Ibid, 177. 40 Ibid., hlm. 174.
dari Ahmad al-Barzanji dari Sayyid Jamila Shaukat, “Pengklasifikasian
Isma’il al-Banzanji dan menyambung Literatur Hadis”, dalam Jurnal al-
sampai Rasulullah, Jibril as hingga Hikmah, No. 13, 1994.
menyambung langsung dari Allah swt.41 Richard C. Martin, Pendekatan Kajian Islam
dalam Studi Agama, terj. Zakiyuddin
C. Simpulan Bhaidawy, Surakarta: Universitas
Dari uraian di atas dapat disimpulkan Muhammadiyah Surakarta, 2002.
bahwa fenomena tentang ingkar sunnah
Ahmad, Kassim. Hadits Satu Penilaian
ini mayoritas berada dalam dataran
lingkungan akademisi. Kebebasan Semula, Johor: Media Intelek, 1986.
berpikir menjadikan sebagian intelektual Akafa, Abduh Zulfidar. Debat Tebuka
menjadi kemajon dalam berpikir. Ahlu Sunnah Versus Inkar Sunnah,
Walaupun kerancuan berpikir tentang Jakarta: Pustaka AlKautsar, 2006.
sunnah yang terjadi di lingkup akademisi Al-Jauzi, Ibnu Qayyim. I’lam al-
belum sepenuhnya dikatakan sebagai Muwaqi’in. Matba‟ah al-Sa‟adah, Mesir,
ingkar secara hakiki. Namun, sebagian Jilid 2, 1955.
kalangan menganggap bahwa fenomena Hamadah, Abbas Mutawali. As-Sunnah
ini ternyata juga cukup meresahkan
Al-Nabawiyah wa Makanatuha fi
masyarakat Islam di Indonesia. Daud
Rasyid sebagai pakar hadis yang terkenal Tasyri’. Dar AlQoumiyah Al-Nasyr,
agak konservatif amat menyayangkan Kairo, 1965.
terjadinya fenomena ingkar sunnah Hasyim, Ahmad Umar. Al-Sunnah al-
semacam ini, lebih-lebih jika hal itu Nabawiyah wa Ulumuha. Maktabah
bersumber dari pemikiran intelektual Gharib, t.tp. t.t.
muslim sendiri. Ismail, Shuhudi. Hadits Nabi Menurut
Pembela, Pengingkar dan Pemalsunya,
DAFTAR PUSTAKA Jakarta: Gema Insani Press, 1995.
Ali Mustafa Yaqub, Kritik Hadits, Jakarta: Ismail, Shuhudi. Metode Penelitian
Pustaka Firdaus, 1995. Hadits, Jakarta: Bulan Bintang, 1992.
Daud Rasyid, Islam dalam Bergai Dimensi, Ibnu Hanbal, Imam Abdullah Ahmad.
Jakarta: Gema Insani Press, 1998. Musnad Ahmad bin Hanbal. Al-Maktab
, Pembaruan Islam dan Orientalisme dalam Al-Islamiy,
Sorotan, Jakarta: Usamah Press, 1993. Beirut, t.t.
, as-Sunnah fi Indunisiyya: baina Ansariha wa Muhamad bin Luthfi al-Shabbagh, Al-
Khusumiha, Jakarta: Usamah Press, 2001. Hadits al-Nabawi: Musthalahuhu,
Edgar Krentz, The Historical-Critical
Balaghatuhu, Kutubuhu, al-Maktab al-
Method, Philadelphia: Fortress Press,
Islamiy, 2003,
1975.
Muhammad Ajjaj al-Khatib, Ushul al-
M. Rasyidi, Koreksi terhadap Dr. Harun
Nasution Tentang Islam Ditinjau dari Berbagai Hadits, Ulumuhu wa Musthalahuhu,
Aspeknya, Jakarta: Bulan Bintang, 1977. Dar al-
Muhammad Thalib, Sekitar Kritik terhadap Fikr, Beirut, 2008,
Hadits dan Sunnah Sebagai Dasar Hukum al-Syatibi, al-Muwafaqat, jilid 4
Islam, Surabaya: Bina Ilmu, 1977. al-Syaukani, Irsyad al-Fuhul ila tahqiq
Harun Nasution, Islam Ditinjau dari al-Haq min 'ilmi al-Ushul fi Ushul
Berbagai Aspeknya, Jakarta: Universitas alFiqh, jilid 1, Dar al-Ma'rifah, Beirut.
Indonesia Press, cet. ke-6, 1986.

41 Ibid., hlm. 175.