Anda di halaman 1dari 85

ANALISIS KADAR BIJIH NIKEL HASIL BLENDING DI PT.

PARAMITHA
PERSADA TAMA DESA BOENAGA KECAMATAN LASOLO KEPULAUAN
KABUPATEN KONAWE UTARA PROVINSI SULAWESI TENGGARA

SKRIPSI

DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN PERSYARATAN


MENCAPAI DERAJAT SARJANA (S1)

DIAJUKAN OLEH:

SYAHARUDDIN ASHAR
F1B214049

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS ILMU DAN


TEKNOLOGI KEBUMIAN UNIVERSITAS HALU OLEO KENDARI
JANUARI 2019
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatu

Segala puji kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas

Rahmat dan Ridho-Nya lah penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai

persyaratan dalam menyelesaikan studi S-1 pada Jurusan Teknik Pertambangan

Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Universitas Halu Oleo dengan judul

“Analisi Kadar Bijih Nikel Hasil Blending Di Pt. Paramitha Persada Tama

Desa Boenaga Kecamatan Lasolo Kepulauan Kabupaten Konawe Utara

Provinsi Sulawesi Tenggara” untuk memenuhi salah satu syarat guna

memperoleh gelar Sarjana Teknik pada Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas

Ilmu dan Teknologi Kebumian Universitas Halu Oleo.

Ungkapan rasa cinta dan terima kasih yang dalam serta penghargaan yang

setinggi-tingginya kepada Ayahanda La Jemo dan Ibunda Wa Ode Halisa yang

selama ini mendampingi, semangat, motivasi, dan rasa kasih sayang, terima kasih

atas segala doa restu, dan dukungan selama perkuliahan. Tak lupa juga kepada

keluarga besar saya serta saudara/(i) yang selalu memberikan dukungan, motivasi

serta dukungan moral maupun moril yang tak pernah henti hingga penulis mampu

melangkah sejauh ini.

Dalam penyusunan Tugas Akhir ini, penulis banyak mendapat saran,

dorongan, bimbingan, serta keterangan-keterangan dari berbagai pihak yang

merupakan pengalaman yang sangat berharga. Oleh karena itu, dengan segala

iii
hormat dan kerendahan hati perkenankan penulis mengucapkan banyak terima

kasih kepada :

1. Rektor Universitas Halu Oleo Kendari.

2. Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian.

3. Ketua Jurusan serta Sekretaris Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Ilmu

dan Teknologi Kebumian.

4. Bapak Dr. La Ode Ngkoimani, M.Si selaku Pembimbing 1 yang telah

meluangkan banyak waktu dalam membantu memberikan masukan, saran,

arahan, dan banyak inspirasi serta motivasi yang diberikan kepada penulis

untuk tidak pernah berhenti belajar dalam setiap bimbingan.

5. Bapak Jahidin, S.Si., M.Si selaku Pembimbing 2 yang telah sangat amat sabar

membantu dan meluangkan banyak waktu dalam memberikan arahan,

masukan, menginspirasi, memotivasi, dan memberikan saran yang

membangun dalam setiap bimbingan dan perkuliahan.

6. Bapak Drs. Firdaus, M.Si selaku Ketua Sidang dalam seminar Tugas Akhir,

atas kemudahan dan keramahan yang diberikan kepada penulis dalam setiap

berurusan dan atas masukan yang bersifat membangun sehingga Tugas Akhir

ini dapat disempurnakan.

7. Bapak Wahab, S.Si.,MT selaku sebagai Sekretaris penguji, atas segala

keramahan, kemudahan dan bantuan serta saran yang diberikan kepada

penulis dalam setiap berurusan dan atas masukan yang bersifat membangun

sehingga Tugas Akhir ini dapat disempurnakan.

iv
8. Ibu Fitrani Amin, ST.,MT selaku sebagai Penguji, atas segala keramahan,

kemudahan dan bantuan serta saran yang diberikan kepada penulis dalam

setiap berurusan dan atas masukan yang bersifat membangun sehingga Tugas

Akhir ini dapat disempurnakan.

9. Dosen-dosen dalam lingkup Jurusan Teknik Pertambangan yang telah banyak

membimbing penulis selama menempuh pendidikan di Universitas Halu Ole.

10. Direktur Utama PT. Paramitha Persada Tama yang telah memberikan

kesempatan kepada penulis untuk melaksanakan Penelitian Tugas Akhir di

Perusahaan tersebut.

11. Bapak Zaenal selaku Kepala Teknik Pertambangan PT. Paramitha Persada

Tama yang telah banyak memberikan masukan serta saran selama proses

pengambilan data di lapangan.

12. Bapak Bisma Adza Putra selaku Kepala Produksi PT. Paramitha Persada

Tama sekaligus pembimbing lapangan yang telah banyak memberikan arahan

dan bantuan selama melakukan penelitian Tugas Akhir.

13. Bapak Haeriska, ST, Bapak Basri, Bapak Jupri, Bapak Ruslan, Bapak Uma,

Bapak Amang selaku pembimbing lapangan yang telah banyak membantu

dan meluangkan banyak waktu membimbing penulis selama proses

pengambilan data di lapangan.

14. Seluruh staf karyawan dan kayawati PT. Paramitha Persada Tama dan yang

telah membantu penulis dalam melakukan Tugas Akhir sampai selesainya

Skripsi ini.

v
15. Saudara-saudari Tambang UHO 014, yang terhebat dan terbaik yang telah

sama-sama berjuang di bangku perkuliahan, dari titik nol yang selalu

memberikan motivasi, dorongan, dan selalu siap sedia membantu saat banyak

kekurangan yang penulis butuhkan dalam proses penyelesaian Tugas Akhir

ini dan selama proses perkuliahan. Semoga sukses menyertai kita semua,

Amin!!

16. Sahabat-sahabat penulis Wa Ode Irmawati, Asrin, La Ode Jumar, dan semua

pihak yang tidak penulis sebutkan satu persatu yang telah terlibat dan banyak

membantu dan selalu memberikan motivasi, dorongan, dukungan, serta

membantu penulis saat proses penyelesaian Tugas Akhir ini. Semoga sukses

menyertai kita semua, Amiin!!

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan penelitian ini masih

jauh dari kesempurnaan. Kritik dan saran yang bersifat membangun penulis

harapkan guna kesempurnaan penyusunan laporan selanjutnya. Semoga penelitian

ini bermanfaat dan memberikan kontribusi ilmu pengetahuan kepada pembaca.

Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatu,,,

Kendari, Januari 2019

PENULIS

vi
ANALISIS KADAR BIJIH NIKEL HASIL BLENDING DI PT.
PARAMITHA PERSADA TAMA DESA BOENAGA KECAMATAN LASOLO
KEPULAUAN KABUPATEN KONAWE UTARA PROVINSI SULAWESI TENGGARA

Syaharuddin Ashar

(Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian


Universitas Halu Oleo)

Syaharuddin568@gmail.com

ABSTRACT

PT. Paramitha Persada Tama merupakan salah satu perusahaan yang bergerak
dibidang pertambangan nikel yang memenuhi syarat permintaan pabrik Ni 1,7%,
dengan menetapkan batas pengambilan kadar bijih nikel atau Cut Off Grade yaitu
Ni 1,4%. Untuk pengangkutan bijih ke tongkan yang perlu diketahui adalah
penentuan rasio untuk memenuhi kebutuhan pabrik. Dari hasil penelitian,
diperoleh bahwa bijih nikel kadar rendah (Ni < 1,7%) lebih banyak dibandingkan
dengan bijih nikel kadar tinggi (Ni > 1,7%) oleh sebab itu perlu adanya analisis
bijih nikel kadar rendah dan kadar tinggi dengan menggunakan metode blending,
sehingga diperoleh hasil dengan simulasi blending yaitu kadar rata-rata Ni 1,72%
dan Fe 21,77% dan hasil realisasi blending kadar rata-rata adalah Ni 1,72% dan Fe
25,19%.

Kata Kunci : Bijih Nikel, Blending, Cut Off Grade

vii
ANALYSIS OF THE RESULT BLENDING OF NICKEL ORE GRADE IN PT.
PARAMITHA PERSADA TAMA, BOENAGA VILLAGE, LASOLO ISLANDS DISTIRCT,
NORTH KONAWE REGENCY, SOUTH EAST SULAWESI PROVINCE

Syaharuddin Ashar

(Mining Engineering Department, Faculty of Earth Sciences and Technology Halu Oleo
University)

Syaharuddin568@gmail.com

ABSTRACT

PT. Paramitha Persada Tama is the one of the companies in nickel mining that
fulfills 1.7% Ni plant demand, by setting a cut-off grade of 1.4% Ni. To transport
ore to the barn, what needs to be known is the determination of the ratio to meet
the plant's needs. From the results of the study, it was found that low grade nickel
ore (Ni <1.7%) was higher than that of high grade nickel ore (Ni> 1.7%),
therefore it was necessary to analyze low and high grade nickel ore using the
method blending, so that the results obtained by blending simulation are 1.72%
and Fe 21.77% for the average Ni level and the average blending result is Ni
1.72% and Fe 25.19%.

Keywords: Nickel Ore, Blending, Cut Off Grade

viii
DAFTAR ISI

Halaman
SAMPUL i
HALAMAN PERSETUJUAN ii
KATA PENGANTAR iii
ABSTRAK vii
ABSTRACT viii
DAFTAR ISI ix
DAFTAR TABEL xi
DAFTAR GAMBAR xii
DAFTAR LAMPIRAN xiii
I.PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 3
C. Tujuan Penelitian 3
D. Manfaat Penelitian 4

II. TINJAUAN PUSTAKA


A. Nikel Laterit 5
1. Genesa Endapan Bijih Nikel Laterit 5
2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan
Bijih Nikel Laterit 7
3. Profil Nikel Laterit 11
B. Penambangan Bijih Nikel 12
1. Persiapan Penambangan 12
2. Kegiatan Penambangan 13
C. Cut Off Grade 15
D. Conto (Sample) 18
1. Metode Pengambilan Conto (Sampling) 18
2. Teknik Pengambilan Sampel 20
E. Preparasi Sample 21
1. Tahapan Preparasi Sampel 22
F. Blending 22
1. Proses Blending 24

III. METODE PENELITIAN


A. Waktu dan Lokasi Penelitian 26
B. Jenis Penelitian 27
C. Bahan atau Materi Penelitian 27
D. Alat dan Bahan Penelitian 28
E. Tahapan Kegiatan Penelitian 29
1. Tahapan Persiapan 29
2. Tahapan Pengumpulan Data 30
3. Tahapan Preparasi Sampel 34

ix
4. Tahapan Pengolahan Data 38
5. Analisis Data 38
F. Diagram Alir Penelitian 40

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Analisis TERMO NITON XL2 DE 42
1. Data Kadar Front Penambangan 42
2. Data Kadar Tongkang 44
B. Analisis Data 46
1. Hasil Simulasi Blending 46
2. Metode Blending 49
3. Hasil Realisasi Data Tongkang 50
4. Kadar Rata-rata Data Tongkang 51
C. Grafik Perbandingan Kadar Rata-rata Ni Front dan
Tongkang 52

V. PENUTUP
A. Kesimpulan 53
B. Saran 53

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

x
DAFTAR TABEL

Tabel Teks Halaman

1 Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini 28


2 Data Kadar Ni dan Fe dari Front Penambangan 42
3 Data Kadar Tongkang 44
4 Hasil Analisis Simulasi Blending 47
5 Realisasi Blending Data Tongkang 50

xi
DAFTAR GAMBAR

Gambar Teks Halaman

1 Profil Endapan Nikel Laterit 7


2 Skema Pembentukan Profil Nikel Laterit 10
3 Profil Nikel Laterit 11
4 Pembersihan lahan (leand clearing) 12
5 Pengupasan tanah penutup (Stripping OB) 13
6 Pembuatan jalan tambang 13
7 Penggalian Ore (Ore getting) 14
8 Pemuatan (Loading Poind) 14
9 Kegiatan (A) hauling dan (B) barging 15
10 Proses kegiatan Dumping 15
11 Cara Pengambilan Sampel di Tumpukan 21
12 Peta Lokasi IUP OP PT. Paramitha Persada Tama 26
13 Pengambilan Sampel 31
14 Sampel Dalam Karung dan di Ikat dengan Tali Rafia 31
15 Sampel yang akan dibawah ke Preparasi Sampel 32
16 Sampel Hasil Preparasi 32
17 Analisis Menggunakan TERMO NITON XL2 DE 32
18 Pengambilan Sampel Tongkang 33
19 Sampel Diikat Dengan Menggunakan Label 33
20 Sampel dari Tongkang 14 Karung 34
21 Sampel dari Front Penambangan (A), Sampel dari 34
Tongkang (B)
22 Kegiatan Kerja Sampel dari Front Penambangan (A), 35
Kegiatan Kerja Sampel dari Tongkang (B) 35
23 Tahap Kegiatan Mixing 36
24 Tahap Kegiatan Matrix 36
25 Tahap Pengeringan 36
26 Tahap Penghalusan 37
27 Tahap Pengayakkan 37
28 Tahap Penemasan (packing) 38
29 Analisis Menggunakan TERMO NITON XL2 DE 40
30 Diagram alir penelitian 50
31 Metode Blending pada Front Penambangan 52
32 Grafik Perbandingan Kadar Ni Front dan Tongkang

xii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Teks Halaman

A Tabel DataFront Penambangan L 1-1


B Simulasi Blending I L 2-1
C Simulasi Blending II L 2-2
D Simulasi Blending III L 2-3
E Simulasi Blending IV L 2-4
F Simulasi Blending V L 2-5
G Tabel Hasil Analisis Simulasi Blending L 2-6
H Hasil Kadar Rata-Rata Ni dan Fe Data Front
Penambangan L 3-1
I Tabel Hasil Analisis Nitton Data Tongkang L 4-1
J Hasil Analisis Rata-Rata Ni dan Fe Data Tongkang L 5-1

xiii
1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara penghasil nikel terbesar kedua dunia setelah

Rusia yang memberikan sumbangan sekitar 15% dari jumlah produksi nikel dunia

pada tahun 2010. Salah satu daerah penghasil nikel di Indonesia berada pada

daerah Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. Endapan laterit Konawe Utara di

Sulawesi Tenggara merupakan sumber logam nikel di Indonesia yang telah di

tambang. Identifikasi sebaran nikel laterit sangat penting untuk diketahui agar

mempermudah proses eksplorasi lanjut dari suatu endapan (Fitrian, 2014).

PT. Paramitha Persada Tama, merupakan perusahaan tambang yang

bergerak di bidang pertambangan nikel, memiliki luas IUP 175 Ha, terdiri dari 4

blok yaitu A, B, C, dan D, yang berlokasi di Desa Boenaga Kabupaten Konawe

Utara. Perusahaan ini mulai beroperasi pada tahun 2010 dengan target produksi

bijih nikel sebesar 10.000 ton/minggu. PT. Paramitha Persada Tama, merupakan

salah satu perusahaan yang memiliki bijih nikel laterit (Ni), dengan menetapkan

batas pengambilan kadar bijih nikel atau Cut Off Grade yaitu 1,4% Ni,

sedangakan untuk bijih nikel dengan kebutuhan pemasaran adalah sebesar 1,7%

Ni (Wawancara dengan pihak PT. Paramitha Persada Tama, April, 2018).

PT. Paramitha Persada Tama, salah satu perusahanan yang tambang

nikelnya berlokasi di Kebupaten Konawe Utara. Pada daerah ini, lateritnya

termasuk tipe silikat yang merupakan perkembangan dari batuan peridotit yang

terserpentinisasi lemah. Nikel dengan tipe silica ini umumnya memiliki kadar

nikel yang cukup tinggi Ni 2,0%. Perusahaan ini memiliki kadar nikel yang low
2

grade, medium, dan high grade. Penelitian ini lebih menekankan pada analisis

kadar bijih nikel kadar rendah hasil dari metode blending (Musnajam, 2012).

Penambangan bijih nikel di daerah tersebut dilakukan dengan tambang

terbuka (Surface Mining) yaitu menambang dari punggung bukit kebawah (Open

Cut) dengan membuat “Bench” (jenjang) sehingga terbentuk bukaan-bukaan.

dengan langkah-langkah kegiatan penambangan antara lain: penggalian

kegiatan/pembongkaran, pemuatan, pengangkutan bijih, penimbunan bijih dan

pengawasan kualitas atau kualiti kontrol (Hardiansyah, 2008).

Untuk dapat meminimalkan perbedaan kadar dan realitas penambangan,

maka cara penambangan juga perlu diperhatikan. Metode penambangan dengan

penggalian langsung oleh alat gali seperti selective mining dengan alat gali dorong

dan muat akan berpengaruh terhadap kadar, karena metode penambangan tersebut

rawan terhadap pengotor (Hardiansyah, 2008).

Alasan untuk melakukan selective mining adalah bila seluruh material bijih

dengan kadar yang tidak merata di tambang maka kadar tersebut akan berada

dibawah COG (Cut Of Grade).

Dalam pengawasan kadar pada bijih nikel agar memenuhi persyaratan

standar ekspor bijih nikel yang dibutuhkan oleh konsumen dan disesuaikan

dengan kebutuhan pasar adalah (Ni 1,7%). Berdasarkan penentuan kadar bijih

nikel tersebut, PT. Paramitha Persada Tama, senantiasa akan melakukan

pengawasan mutu nikel menurut standar oprasional, maka yang perlu diketahui

terlebih dahulu adalah “Cut of Grade“ yang telah ditetapkan oleh perusahaan, Cut

Off Grade adalah batas penggalian atau pengambilan biji nikel yang ditetapkan
3

oleh perusahaan, sehingga dari data kadar rata-rata tiap tumpukan ore pada

penambangan dapat dianalisis kadarnya (Hardiansyah, 2008).

Untuk menjaga kesinambungan bijih nikel yang akan diolah pada pabrik

pengolahan, maka PT. Paramitha Persada Tama Sulawesi Tenggara melakukan

proses blending. Blending adalah proses pencampuran antara material dengan

kualitas dan kuantitas yang berbeda untuk diperoleh hasil campuran yang sesuai.

Dalam proses pencampuran (blending) harus memenuhi ore spesifik sesuai

kebutuhan pabrik pengolahan (Musnajam, 2012).

Namun pada pengamatan yang ada di lapangan perbedaan antara data

kadar dari front penambangan dan data tongkang, maka penelitian diarahkan

untuk mengetahaui masalah, dengan mengambil pengamatan dengan tema

“Analisis Kadar Bijih Nikel Hasil Blending Di Pt. Paramitha Persada Tama Desa

Boenaga Kecamatan Lasolo Kepulauan Kabupaten Konawe Utara Provinsi

Sulawesi Tenggara”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah bagaimana kadar bijih nikel hasil dari metode blending antara

bijih nikel kadar rendah dengan kadar tinggi.

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah menentukan kadar bijih nikel

hasil dari metode blending antara bijih nikel kadar rendah dengan kadar tinggi.
4

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah dari hasil

penelitian ini dapat dijadikan acuan bagi penelitian selanjutnya mengenai analisis

kadar bijih nikel hasil dari metode blending, serta menjadi acuan untuk data

analisis kadar bijih nikel hasil dari metode blending.


5

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Nikel Laterit

Nikel laterit merupakan suatu endapan yang merupakan hasil pelapukan

lanjutan dari ultramafik pembawa Ni-Silika. Umumnya terdapat pada daerah

dengan iklim tropis sampai subtropis. Pengaruh iklim tropis di indonesia

mengakibatkan proses pelapukan secara intensif, sehingga beberapa daerah

diindonesia memiliki profil laterit (produk pelapukan) yang tebal dan menjadikan

indonesia sebagai salah satu negara penghasil nikel laterit yang utama. Batuan

induk nikel laterit adalah peridotit (Hardiansyah, 2008).

Istilah Laterit berasal dari bahasa latin yaitu later, yang artinya batuan

(membentuk bongkah-bongkah yang tersusun seperti bata yang berwarna merah

bata) (Guilbert, 1986).

1. Genesa Endapan Bijih Nikel Laterit

Genesa Pembentukan Endapan Nikel Laterit, Proses pembentukan nikel

laterit diawali dari proses oksidasi dan pelapukan batuan ultrabasa, dalam hal ini

adalah batuan harzburgit. Batuan ini banyak mengandung olivin, piroksen,

magnesium silikat dan besi, mineral-mineral tersebut tidak stabil dan mudah

mengalami proses pelapukan (Sundari, 2012).

Penguraian olivin, magnesium, besi, nikel, dan silikat kedalam larutan,

cenderung untuk membentuk suspensi koloid dari partikel-partikel yang

submikroskopik. Didalam larutan, besi akan bersenyawa dengan oksida dan

mengendap sebagai feri hidroksida. Akhirnya endapan ini akan menghilangkan air
6

dengan membentuk mineral-mineral seperti Geotit (FeO(OH)), Hematit (Fe2O3),

dan Cobalt (Co) dalam jumlah kecil. Jadi besi oksida mengendap dekat dengan

permukaan tanah, sedangkan magnesium, nikel dan silika tertinggal dalam larutan

selama air masih asam. Tetapi jika dinetralisasi karena adanya reaksi dengan

batuan dan tanah, maka zat-zat tersebut akan cenderung mengendap sebagai

hydrosilikat.

Mineralisasi terjadi melalui rekahan pada strata ini, sebagai akibat

pencucian dan penggumpalan pada lapisan saprolit yang disebut pengkayaan

maka tertahan pada batuan induk (batuan dasar) (Hardiasyah, 2008).

Proses pelapukan dimulai pada batuan ultramafik (peridotit, dunit,

serpentinit), dimana batuan ini banyak mengandung mineral olivin, piroksen,

magnesium silikat dan besi silikat, yang pada umumnya mengandung 0,30 %

nikel. Proses laterisasi adalah proses pencucian pada mineral yang mudah larut

dan silika dari profil laterit pada lingkungan yang bersifat asam, hangat dan

lembab serta membentuk konsentrasi endapan laterisasi hasil pengkayaan proses

pada unsur Fe, Cr, Al, Ni dan Co. Batuan tersebut sangat mudah dipengaruhi oleh

pelapukan lateritik (Sundari, 2012).

Adanya suplai air dan saluran untuk turunnya air, berupa kekar, maka Ni

yang terbawa oleh air turun ke bawah, dan akan terkumpul di zona air sudah tidak

dapat turun lagi dan tidak dapat menembus bedrock (Harzburgit). Ikatan dari Ni

yang berasosiasi dengan Mg, SiO dan H akan membentuk mineral Garnierit

dengan rumus kimia (Ni, Mg) Si4O5 (OH)4. Apabila proses ini berlangsung terus
7

menerus, maka ya ng akan terjadi adalah proses pengk ayaan supergen

(Supergenenrichment ). Zona pengkayaan supergen ini terbentuk di zona saprolit.

Gambar 1. Profil endapan nikel laterit (Adelina, 201 8).

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan bijih ni kel laterit

a. Batuan Asal

Adanya batuan asal merupakan syarat utama untuk terben tuknya endapan

nikel laterit, macam batuan asalnya adalah batuan ultra basa. Dalam hal ini pada

batuan ultra basa tersebut: - terdapat elemen Ni yang paling banyak diantara batuan

lainnya - mem punyai mineral-mineral yang paling mudah lapuk atau tidak stabil,

seperti olivin d an piroksin - mempunyai komponen-komponen yang mudah

larut dan memberika n lingkungan pengendapan yang baik untuk nikel.

b. Iklim

Adanya perga ntian musim kemarau dan musim penghujan dimana terjadi

kenaikan dan penurunan permukaan air tanah juga dapat menyebabkan terjadinya

proses pemisahan dan akumulasi unsur-unsur. Perbedaan temperatur yang cukup


8

besar akan membantu terjadinya pelapukan mekanis, dimana akan terjadi rekahan-

rekahan dalam batuan yang akan mempermudah proses atau reaksi kimia pada

batuan.

c. Reagen - reagen kimia dan vegetasi

Yang dimaksud dengan reagen-reagen kimia adalah unsur-unsur dan

senyawa-senyawa yang membantu mempercepat proses pelapukan. Air tanah

yang mengandung CO2 memegang peranan penting didalam proses pelapukan

kimia. Asam-asam humus menyebabkan dekomposisi batuan dan dapat merubah

pH larutan. Asam-asam humus ini erat kaitannya dengan vegetasi daerah.

d. Topografi

Keadaan topografi setempat akan sangat mempengaruhi sirkulasi air

beserta reagen-reagen lain. Untuk daerah yang landai, maka air akan bergerak

perlahan-lahan sehingga akan mempunyai kesempatan untuk mengadakan

penetrasi lebih dalam melalui rekahan-rekahan atau pori-pori batuan. Akumulasi

andapan umumnya terdapat pada daerah-daerah yang landai sampai kemiringan

sedang, hal ini menerangkan bahwa ketebalan pelapukan mengikuti bentuk

topografi. Pada daerah yang curam, secara teoritis, jumlah air yang meluncur (run

off) lebih banyak daripada air yang meresap ini dapat menyebabkan pelapukan

kurang intensif.

e. Struktur

Struktur yang sangat dominan yang terdapat didaerah penelitian adalah

struktur kekar (joint) dibandingkan terhadap struktur patahannya. Seperti

diketahui, batuan beku mempunyai porositas dan permeabilitas yang kecil sekali
9

sehingga penetrasi air sangat sulit, maka dengan adanya rekahan-rekahan tersebut

akan lebih memudahkan masuknya air dan berarti proses pelapukan akan lebih

intensif.

f. Waktu

Dalam proses pembentukan bijih nikel membutuhkan jangka waktu yang

relatif lama. Waktu merupakan faktor yang sangat penting dalam proses

pelapukan, transportasi, dan konsentrasi endapan pada suatu tempat. Untuk

terbentuknya endapan nikel laterit membutuhkan waktu yang lama, mungkin

ribuan atau jutaan tahun ( Hardiansyah, 2008 ).

Batuan induk bijih nikel adalah batuan peridotit. Batuan ultrabasa rata-rata

mempunyai kandungan nikel sebesar 0,2 %. Unsur nikel tersebut terdapat dalam

kisi-kisi kristal mineral olivin dan piroksin, sebagai hasil substitusi terhadap atom

Fe. Proses terjadinya substitusi antara Ni, Fe dan Mg dapat diterangkan karena

radius ion dan muatan ion yang hampir bersamaan diantara unsur-unsur tersebut.

Proses serpentinisasi yang terjadi pada batuan peridotit akibat pengaruh

larutan hydrothermal, akan merubah batuan peridotit menjadi batuan serpentinit

atau batuan serpentinit peroditit. Sedangkan proses kimia dan fisika dari udara, air

serta pergantian panas dingin yang bekerja secara continue, menyebabkan

disintegrasi dan dekomposisi pada batuan induk. Pada pelapukan kimia

khususnya, air tanah yang kaya akan CO2 berasal dari udara dan pembusukan

tumbuh-tumbuhan menguraikan mineral-mineral yang tidak stabil (olivin dan

piroksin) pada batuan ultrabasa, menghasilkan Mg, Fe, Ni yang larut, Si


10

cenderung membentuk koloid dari partikel-partikel silika yang sangat halus. Fe

teroksidasi dan me ngendap sebagai ferri-hydroksida, akhirn ya membentuk

mineral-mineral seperti geothit, limonit, dan hematit dekat permu kaan.

Adapun skema pembentukan profil nikel laterit dapat dilih at pada (gambar

1) yaitu sebagai beri kut :

Gambar 2. Skema Pembentukan Profil Nikel Laterit (Adelina, 2018)

Logam nikel banyak dimanfaatkan untuk pembuatan baja tahan

kara(stainless steel). Nikel merupakan logam berwarna kela bu perak yang

memiliki sifat fisik a ntara lain :

1. Kekuatan dan kekerasan nike menyerupai kekuatan dakeke rasan besi.

2. Mempunyai sifat daya tahan terhadap karat dan korosi

3. Pada udara te rbuka memiliki sifayang lebih stabil daripada

besi. (Fitrian, 2014).


11

3. Profil Nikel Laterit

Profil pemben tukan nikel laterit dapat di lihat pada (Gam bar 3) pada zona

limonit, zona saprolit dan zona bedrok.

a. Zona limonit

Merupakan hasil pelapukan lanjut dari batuan beku ultrabasa.

Komposisinya meli puti oksida besi yang dominan, geothit dan magnetit.

Ketebalan lapisannya rata-rata 8-15 meter. Kemunculan bongkah -bongkah batuan

beku ultrabasa pada z ona ini tidak dominan atau hampir tidak ada.

b. Zona saprolit

Zona saprolit merupakan lapisan dari batuan dasar ya ng sudah lapuk,

berupa bongkah-bongkah lunak berwarna coklat kekuningan s ampai kehijauan

Zona ini adalah merupakan zona pengayaan unsur Ni. Komp osisinya berupa

oksida besi, serpentin sekitar <0.4% kuarsa magnetit dan tekstur batuan asal yang

masih terlihat. Keteb alan lapisan ini berkisar 5-18 meter.

c. Zona Bedrock

Zona ini merrupakan bagian terbawah dari profil lateritt. Tersusun atas

bongkah yang lebih besar dari 75 cm dan blok peridotit (batuan d asar) dan secara

umum sudah tidak mengandung mineral ekonomis.

Ga mbar 3. Profil Nikel Laterit (Fitrian, 2014).


12

B. Penambangan B ijih Nikel

1. Persiapan Penambangan

Penambangan adalah kegiatan usaha yang di lakukan unt uk memproduksi

mineral. Kegiatan persiapan penambangan tujuannya agar kegiat an penambangan

tidak terhambat oleh kegiatan non produksi. Persiapan penambang an ini meliputi:

a. Leand Cleari ng

Leand Cleari ng adalah proses kegiatan pembersihan pepo honan yang ada

diatas bijih atau l ahan yang akan ditambang. Pembersihan lahan dengan

menggunakan alat Excavator dan Bulldozer. Agar kerja bulldoz er lebih efektif,

maka diusahakan memperpendek jarank dorongnya. Kegiatan pembersihan lahan

dapat dilihat pada (G ambar 4).

Ga mbar 4. Pembersihan lahan (leand clearing)

b. Pengupasan T anah Penutup (Stripping OB)

Pengupasan t anah penutup merupakan suatu pekerjaan pembongkaran

tanah penutup yang menutupi bijih nikel. Lapisan tanah penu tup yang harus dikupas

adalah 0-6 m eter yang terdiri atas Top Soil dan lapisan bi jih kadar rendah (Low

Grade). Setel ah proses pengupasan tanah penutup bar ulah dilanjutkan dengan

pembuatan jalan tambang. Pengupasan tanah penutup pad a (Gambar 5).


13

Gamb ar 5. Pengupasan tanah penutup (Stripping OB)

c. Pembuaatan Jalan Tambang

Untuk menca pai target produksi direncanakan salah satu upaya pembuatan

jalan tambang sebai k mungkin. Pembuatan jalan tambang be rfungsi sebagai

sarana tranportasi un tuk menunjang kelancaran kegiatan penam bangan terutama

kegiatan pengangkut an. Pembuatan jalan pada (Gambar 6).

Gambar 6. Pembuatan jalan tambang

2. Kegiatan Penam bangan

Kegiatan pen ambangan material bijih nikel dapat di lakukan dengan

rangkaian-rangkaian kegiatan penambangan seperti:

a. Penggalian atau Pembongkaran

Penggalian adalah proses kegiatan pembongkaran/pen carian ore atau

bahan galian. Ke giatan pembongkaran ini dengan me nggunakan alat


14

excavator.Bijih nikel yang akan ditambang ditetapkan berdasarkan cut off grade

karena penyebaran kadar bijih yang tidak merata diketahui, maka dilakukan

selective mining. Keg iatan penggalian dapat dilihat pada (Gambar 7).

Gambar 7. Penggalian Ore (Ore getting)

b. Pemuatan (Load ing Poind)

Pemuatan (lo ading point) adalah proses kegiatan pemuat an material yang

telah ditumpuk di front penambangan. Proses pemuatan dengan m enggunakan

alat gali muat excavator dan dump truck. Bijih yang dimuat adalah bijih yang

telah ditumpuk di front penambangan. Pemuatan (loading) bijih hasil penggalian

yang terliahat pada (Gambar 8).

Gambar 8. Pemuatan (Loading Poind)

c. Pengangkutan (H auling atau Barging)

Pengangkutan adalah kegiatan yang dilakukan untuk m engangkut atau

membawa material bahan galian dari front penambangan diba wa di tongkang.


15

Kegiatan hauling/b arging dapat dilihat pada (Gambar 9). Kegiatan

hauling/barging dila kukan dengan alat dump truck.

A B
Gam bar 9. Kegiatan (A) hauling dan (B) barging

d. Dumping

Dumping adalah proses kegiatan penumpahan mate rial di tempat

penyimpana ore atau di tongkang. Kegiatan dumping dapat dilih at pada (Gambar

10). Kegiatan dumpin g dilakukan dengan alat dump truck.

Gambar 10. Proses kegiatan Dumping ( Hardiansya, 2 008)

C. Cut Off Grade

Cut off grade adalah kadar rata-rata minimum dari bijih yang dapat

ditambang secara ek onomis. Cut off grade merupakan suatu kri teria operasional

untuk menambang. Bijih yang ditambang adalah bijih yang mempunyai kadar
16

yang lebih tinggi dari cut off grade. Dengan demikian maka bagian dari endapan

yang mempunyai kadar lebih tinggi dari cut off grade diidentifikasi sebagai bijih.

Untuk suatu bijih tertentu umpamanya nikel dengan lokasi yang berbeda tetapi

genesa sama cut off grade berbeda. Kadar rata-rata minimum bijih dapat

dinyatakan dalam persen bergantung pada bijih yang ditambang (Diharlan, 2018).

Istilah cut off grade digunakan dalam industri pertambangan untuk

membedakan marerial sebagai ‘bijih’ (ekonomis) atau ‘sampah’ (tidak ekonomis).

Tantangannya adalah untuk menentukan cut off grade (COG) yang

memaksimalkan untuk menambang dan proses hanyah bijih (yaitu materi di atas

dihitung cut off grade) dan baik meninggalkan di tempat atau membuang sampah.

Kelas cut off grade dihitung dari mengatakan 1% Ni dalam tambang nikel terbuka

berarti bahwa setiap bahan yang mengandung nilai kadar lebih dari 1% Ni adalah

bijih bernilai ekonomis dan layak di tambangan. Setiap material di bawah

ekonomi cut-off grade dianggap tidak ekonomis (Daniel, 2013).

Sebuah cut-off grade tinggi dapat digunakan untuk meningkatkan

keuntungan jangka pendek, sehingga meningkatkan dekat manfaat jangka panjang

untuk para pemangku kepentingan. Namun, meningkatkan cut-off grade juga

kemungkinan akan menurunkan umur tambang. Sebuah umur tambang yang lebih

pendek dapat mengurangi ketergantungan waktu kesempatan, seperti yang

ditawarkan oleh siklus harga (Daniel, 2013).

Cut off grade secara tradisional didefinisikan sebagai kelas yang biasanya

digunakan untuk membedakan antara bijih dan limbah dalam tubuh bijih yang
17

diberikan. Hal ini juga membedakan antara berbagai jenis bijih sebelum

pengolahan berlangsung untuk pilihan pengolahan metalurgi yang berbeda.

Menggunakan cut-off grade, bijih dikirim ke pabrik pengolahan untuk

pengolahan sementara sampah baik kiri tidak ditambang atau dikirim ke tempat

pembuangan sampah. Urutan ekstraksi tergantung pada tingkat produksi,

distribusi kelas deposit dan nilai cut-off. Cut-off grade langsung mempengaruhi

keuntungan karena ada kebutuhan untuk optimasi tergantung pada urutan

ekstraksi dan kapasitas dari operasi pertambangan. Penentuan kapasitas secara

langsung terkait dengan nilai cut-off dan urutan ekstraksi. Pemilihan cut-off grade

yang digunakan dalam operasi tambang didasarkan pada cut-off optimasi kelas

dengan menggunakan kebijakan cut off grade (Githiria. J, 2018).

Cut off Grade (CoG) adalah kadar batas rata-rata terendah dari blok

cadangan bahan galian yang apabila ditambang masih bernilai ekonomis.

Penetapan nilai COG harus diupayakan serendah mungkin dengan mengupayakan

penggunaan teknologi penambangan yang lebih efektif dan efisien.

Bahan galian kadar rendah atau di bawah Cut Off Grade merupakan bahan

galian sumber daya yang sudah diketahui dimensi dan kualitasnya dengan

keyakinan geologi tertentu. Bahan galian yang mempunyai kadar di sekitar COG,

sehingga dapat merupakan cadangan atau sumber daya, tergantung pada kondisi

teknologi, nilai dan harga saat itu merupakan bahan galian kadar marginal (Tim

Penyusun, 2001).
18

D. Conto (Sample)

Proses pengambilan conto adalah kegiatan yang dilakukan pada sebagian

kecil dari suatu bahan material sedemikian rupa sehingga konsistensi (kesamaan)

pada bagian tersebut yang merupakan wakil dari keseluruhannya (representatif).

1. Metode Pengambilan Conto (Sampling)

Pada metode pengambilan conto/sampel penulis menggunakan metode

Grab Sampling. Metode pengambilan conto (sample) terbagi beberapa bagian

adalah:

a. Channel Sampling

Channel sampling adalah cara pengambilan conto dengan membuat alur

(chanel) sepanjang permukaan yang memperlihatkan jejak bijih.

b. Conto ruah (Bulk Sampling)

Bulk Sampling adalah merupakan metode sampling dengan cara

mengambil material dalam jumlah yang besar dan umumnya dilakukan pada

semua fase kegiatan (eksplorasi sampai dengan pengolahan).

c. Conto tertahan (Chip Sampling)

Chip Sampling adalah sala satu metode sampling dengan cara

mengumpulkan pecahan batuan (rock chip) yang dipecahkan melalui suatu jalur

dengan lebar 15 cm yang memotong zona mineralisasi menggunakan palu atau

pahat.

e. Pile Sampling

Cara pengambilan conto pada pile atau ore bin, untuk ini semua harus tahu

saat mengadakan pengisian (pilling) karena hal ini mempengaruhi letak butiran.
19

f. Sumur uji (Test Pit)

Cara pengambilan conto dengan membuat sumuran, metode ini dapat

dikombinasikan dengan channel sampling.

g. Drill Hole Sampling

Cara pengambilan conto dari hasil pemboran inti dimana prosedur

sampling ini berdasarkan pada alat bor yang digunakan.

h. Paritan uji (trenching)

Cara pengambilan conto dengan membuat parit pada singkapan bijih

memotong atau tegak lurus singkapan.

i. Grab Sampling

Grab Sampling merupakan teknik pengambilan conto dengan cara

mengambil sebagian fragmen yang berukuran besar dari suatu material yang

mengandung mineralisasi secara acak. Tingkat ketelitian conto pada metode ini

relatif mempunyai bias yang cukup besar. Adapun kondisi pengambilan contoh

dengan teknik Grab Sampling ini dilakukan antara lain:

a. Pada tumpukan material hasil pembongkaran untuk mendapatkan

gambaran umum kadar. Yang akan dipengaruhi oleh lokasi atau letak dari

suatu titik bor, hal ini disebabkan karena penyebaran deposit yang tidak

merata.

b. Pada fragment material hasil dari selective mining dan stockpile untuk

memperoleh pengecekan kulaitas kadar (Irmawati, 2018).


20

2. Teknik Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel jika ditinjau secara umum dimaksudkan untuk

mengambil sebagian dari massa tersebut yang cukup representatif untuk mewakili

keseluruhan yang besar. Sampling atau pengambilan conto adalah suatu proses

pengambilan sebagian kecil endapan yang mana bagian tersebut dapat mewakili

keseluruhan endapan. Cara pengambilan conto didasarkan pada JIS (Javanese

Industrial Standart), yaitu dengan cara two stage sampling dan devision method of

increment.

Cara two stage sampling adalah pengambilan conto melalui dua tahap

secara sistematis yaitu pada tahap pertama dilakukan pengambilan conto pada dua

titik yang berhadapan sedangkan pada tahap kedua dilakukan penggabungan conto

keseluruhan pada suatu tempat yang sama (Gambar 11).

Cara devision method of increament adalah pengambilan conto dibagi

dalam beberapa divisi yang dilakukan untuk pekerjaan preparasi conto. Jumlah

conto bijih nikel yang di ambil tergantung pada tipe endapan dan tingkat

pengembangannya, apakah suatu prospecting atau suatu eksplorasi detail,

sebagian atau seluruh development mine.

Salah satu Unit Kerja Pengawasan Kualitas yaitu Unit Satuan Kerja

Persiapan Sampel berperan penting dalam pengambilan sampel yaitu conto yang

telah diambil dimasukkan ke dalam kantong dan diberi kode serta diikat dengan

tali yang mempunyai warna tertentu. Kemudian conto tersebut dikirim ke

preparasi conto dimana telah tertulis seperti kode conto, front penambangan, titik

bor, jam kerja dan tanggal pengambilan conto.


21

Gambar 11. Cara Pengambilan Sampel di Tumpukan (Irmawati, 2018).

E. Preparasi Sample

Preparasi adalah pekerjaan yang dilakukan untuk mengolah conto dari

lapangan yang masih heterogen dan kasar menjadi material yang homogen dan

halus sesuai dengan persyaratan laboratorium. Conto dari lapangan yang berasal

dari suatu tumpukan besar di mana diambil beberapa increment, biasanya

disatukan dalam preparasi conto. Boulder-boulder conto perlu dimasukkan ke

dalam pengecilan ukuran sampai semua conto menjadi sama rata, setelah itu

dilakukan pengayakan dengan ukuran lolos yang sudah ditentukan.

Setelah conto diperoleh sebelum di bawah ke pabrik pengolahan untuk

dilakukan analisis kadar (assay). Karena yang dianalisa tersebut hanya sebagian

kecil dari conto, maka diperlukan preparasi (persiapan) conto. Untuk

mendapatkan nilai kadar rata-rata maka contoh dianalisis ke preparasi sampel

(Hardiansyah, 2008).
22

1. Tahapan Preparasi Sampel

Persiapan conto (preparasi) sangat penting karena jika terjadi kesalahan

maka data analisis laboratorium yang akan keluar juga tidak sesuai dengan yang

sebenarnya. Oleh sebab itu perlu memperhatikan prosedur kerja menurut SOP

(standar operasi prosedur) dengan baik, adapun tahapan preparasi untuk sampel

produksi adalah sebagai berikut :

1. Tahap pengambilan sampel,

2. Tahap penumpahan material,

3. Tahap pengecilan ukuran,

4. Tahap pencampuran (Mixing),

5. Matrix,

6. Tahap pengeringan,

7. Tahap pengemasan (Packing), dan

8. Analisis kadar.

F. Blending

Blending adalah proses pencampuran antara bijih nikel kadar rendah dan

bijih nikel kadar tinggi yang berbeda untuk di peroleh hasil campuran yang sesuai.

Dalam proses pencampuran (blending) harus memenuhi ore spesifik yang sesuai

dengan kebutuhan pabrik pengolahan (Musnajam, 2011).

Masalah penanganan bijih nikel kadar rendah, jika hasil analisa

laboratorium menyatakan bahwa sampel mining yang diperoleh pada lokasi

penambagan memiliki kadar di bawah COG, maka blok dari bijih tersebut akan

ditangani dengan proses pemuatan dan pengangkutan yang menggunakan alat


23

mekanis Excavator dan Dump Truck pada suatu tempat yang jaraknya tidak jauh

dari front penambangan, hal ini dilakukan agar tidak mengganggu beberapa

kegiatan pengambilan bijih dengan kadar di atas COG ( Musnajam, 2011 ).

Blending adalah pencampuran nikel yang nilai kadar rendah, dimana hasil

akhir dari proses pencampuran tersebut diharapkan akan didapatkan nilai kadar

yang sesuai dengan target (permintaan pasar). Tujuan dari proses blending ini

adalah untuk mengoptimalkan agar pemamfaatan nilai cadangan nikel yang

mempunyai nilai kadar rendah , sehingga akan mempunyai nilai ekonomis yang

tinggi (Anwar dan Arief, 2011 ).

Blending Ore atau pencampuran bijih nikel dengan penggabungan atau

penimbunan secara bersamaan dan terus-menerus dalam waktu tertentu dari dua

atau lebih material (nikel beda kualitas), yang dianggap mempunyai komposisi

yang konstan (parameter kualitas konstan) dan terkontrol proporsinya.

Pencampuran dilakukan pada nikel yang berbeda nilai kadar, sehingga kualitas

nikel hasil campuran merupakan perpaduan dari parameter kualitas nikel yang

dicampur. Pencampuran dilakukan untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan

yang diinginkan, dengan komposisi yang tidak homogen (Saputra, dkk, 2017).

Blending atau pencampuran bertujuan untuk memperoleh produk akhir

dari dua atau lebih tipe nikel yang mempunyai kadar berbeda, dimana kedua jenis

nikel yang berbeda akan terdistribusi secara merata dan tanpa ada lagi jumlah

yang cukup besar untuk mengenali salah satu dari tipe nikel tersebut ketika proses

pengambilan contoh dilakukan (Sahrul, 2014).


24

1. Proses Blending

Proses blending dilakukan pencampuran dua atau lebih produk secara

bersamaan, dengan kualitas spesifik yang berbeda. Proporsi dari masing-masing

produk di control agar menghasilkan produk tunggal yang terpisah dengan

kualitas spesifik yang diinginkan. Hasil pengolahan terhadap endapan nikel dapat

diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu endapan nikel high grade (% kadar

Ni = 2,0%), medium (1,7% kadar nikel untuk kebutuhan pabrik, dan 1,4 – 2,1 %

untuk kebutuhan ekspor ) dan low grade. (% kadar < 1,5 untuk kebutuhan ekspor).

Untuk mendapatkan kualitas kadar bijih nikel yang sesuai dengan permintaan

pasar dilakukan blending nikel yang mempunyai kadar yang berbeda dengan

perbandingan rasio tertentu.

Kadar bijih nikel yang ditambang sangat bervariasi. Bijih nikel yang

berasal dari front tambang diangkut dan ditimbun langsung di tongkang dengan

diberi kode sesuai front penambangannya. Endapan nikel dapat diklasifikasi

menjadi dua kelompok, yaitu endapan high grade dan low grade. Setelah itu

dilakukan pencampuran bijih untuk mendapatkan komposisi unsur yang

dibutuhkan dalam pabrik pengolahan.

Pencampuran bijih dilakukan dengan cara mengambil dari setiap

tumpukan bijih sesuai rasio pencampuran yang ditetapkan. PT. Paramitha persada

Tama dengan rasio pencampuran 3:1. Penetapan rasio pencampuran dilakukan

oleh satuan kerja Material Handling Departement mengacu pada permintaan dari

Smelting Departement. Pencampuran bijih dilakukan langsung di tongkang


25

dengan menggunakan 2 unit Excavator.

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

1. Tumpukan-tumpukan bijih nikel yang berada di tongkang dianalisa

kadarnya lalu di pisahkan sesuai dengan tingkat kadarnya.

2. Tumpukan bijih nikel yang berada di front tersebut akan dilakukan analisa

dengan menggunakan Nitton kemudian diangkut ke tongkang, kemudian

diberi kode tumpukan.

3. Beberapa tumpukan tersebut di blending di tongkang menggunakan 2 unit

Excavator sesuai rasio yang ditetapkan, misalnya 3:1.

4. Hasil relisasi dari rencana blending bijih nikel dapat dilihat pada rumus

blending.

1. Adapun untuk menghitung kadar rata-rata secara sederhana dapat

diketahui dengan menggunakan rumus pada persamaan 1 (Nurhakim, 2006).

k1+k2+k3+…kn
k= 1n

Dimana: k = Kadar rata-rata

kn = Nilai kadar ke

n = Jumlah kadar

2. Untuk mencari kadar rata-rata untuk unsur Ni pada simulasi blending.

Menghitung simulasi blending dapat menggunakan rumus persamaan 2

(Musnajam, 12).

Ratio B1 × Kadar Unsur B 1 + Ratio B2 ×Kadar Unsur 2 +…


K= 2
Jumlah Ratio
26

III. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Secara administratif PT. Paramitha Persada Tama berlokasi di Desa

Boenaga, Kecamatan Lasolo Kepulauan, Kabupaten Konawe Utara, Provinsi

Sulawesi Tenggara. Secara geografis lokasi penelitian PT. Paramitha Persada

Tama terletak pada 122°22’25” BT dan 03°25’50” LS.

Lokasi penelitian ini dapat ditempuh dengan menggunakan transportasi

darat dengan waktu tempuh dari ibu kota provinsi sampai Kecamatan Lasolo yaitu

+ 3,5 jam dengan jarak 100 Km. Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan

transportasi laut dari Desa Molawe Kecamatan Lasolo ke Desa Boenaga ditempuh

dengan lama perjalanan selama 3 jam dengan mengunakan kapal (Jolor).

Gambar 12. Peta Lokasi IUP OP PT. Paramitha Persada Tama


27

B. Jenis Penelitian

Jenis penelitian menggambarkan jenis penelitian yang akan dilakukan.

Adapun jenis penelitian yang digunakan yaitu jenis penelitian kualitatif dan

kuantitatif.

1. Kualitatif, data yang diperoleh langsung dari lapangan, misalnya

pengambilan sampel dan pengambilan gambar.

2. Kuantitatif, data yang diperoleh dari data yang sudah ada, misalnya

Website dan jurnal.

C. Bahan atau Materi Penelitian

Bahan atau materi penelitian merupakan data-data yang dibutuhkan dalam

penelitian ini, yakni sebagai berikut:

1. Data primer

Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung dari

lapangan, dalam pengambilan sampel yang diambil akan disimpan dalam karung

dan diberi tanda untuk dianalisis di preparasi sampel serta pengambilan gambar

saat pengambilan data atau sampel.

2. Data sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari sumber yang sudah

ada. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian yaitu peta lokasi penelitian

bersumber dari perusahaan, serta jurnal ilmiah baik jurnal nasional maupun jurnal

internasional.
28

D. Alat dan Bahan Penelitian

Alat dan bahan penelitian adalah peralatan yang digunakan untuk

membantu saat proses pengambilan data di lapangan, adapun alat yang digunakan

pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini.

No Alat dan bahan Fungsi


Untuk pengambilan sampel di
5. Sekop dan Pacul Pengeruk
lapangan, untuk melakukan mixing
Untuk menyimpan sampel dari
6. Karung Sampel
lapangan
Untuk mengikat karung yang berisi
7. Tali Rapiah
sampel
Untuk menghancurkan material yang
8. Palu
masih berukuran besar
Untuk Mengambil sampel saat proses
9. Sekop Mini
matriks
Wadah untuk
10. Talang
menggoreng/mengeringkan sampel
Untuk penggaruk saat penggorengan
11. Sendok Sampel
sampel
Pemanas saat
12. Tungku
penggorengan/pengeringan sampel
Untuk menyaring sampel agar lebih
13. Saringan 150 Mess
halus
Untuk mixing smpel yang telah
14. Plastik Mixing
disaring
Untuk menyimpan sampel yang akan
15. Plastik Clip
dilakukan pembacaan dgn nitton
16. Spidol Untuk memberikan kode dari sampel
29

No Alat dan bahan Fungsi


17. TERMO NITON XL2 DE Sebagai alat pembacaan kadar
Untuk menghaluskan material yang
18. Smelt
masi kasar.

E. Tahapan Kegiatan Penelitian

1. Tahapan Persiapan

Dalam tahap persiapan ada beberapa bagian yang harus dilaksanakan,

diantaranya:

a) Perizinan, pembuatan surat izin penelitian.

Pada tahap ini penulis melakukan pembuatan surat izin untuk sebagai

syarat masuk lokasi penelitian.

b) Studi Literatur (Desk Study).

Sebelum memulai kegiatan penelitian mengenai analisis bijih nikel hasil

blending dari bijih nikel kadar rendah dengan bijih nikel kadar tinggi di PT.

Paramitha Persada Tama Site Boenaga Kecamatan Lasolo Kepulauan Kabupaten

Konase Utara Sulawesi Tenggara, maka terlebih dahulu melakukan pengumpulan

dan pengkajian berbagai bacaan yang berkaitan dengan topik penelitian yang akan

dijadikan sebagai dasar teori menganailisis data.

c) Orientasi Lapangan

Pada tahap ini penulis melakukan peninjauan langsung ke lapangan yaitu

operasi kegiatan blending. Tujuan dari orientasi lapangan ini adalah sebagai

perkenalan terhadap lingkungan kerja PT. Paramitha Persada Tama untuk

memahami situasi dan kondisi daerah penelitian.


30

2. Tahap Pengumpulan Data

Pada tahapan pengumpulan data didasarkan pada pedoman yang sudah

dipersiapkan dalam rancangan penelitian. Data yang dikumpulkan berupa:

Tahap pengumpulan data terdiri dari berbagai kegiatan yaitu:

1. Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel ditinjau secara umum dimaksudkan untuk mengambil

sebagian untuk mewakili keseluruhan yang besar. Pengambilan conto realisasi di

PT. Paramitha Persada Tama berpedoman pada Japanesse Industrial Standar

(JIS).

Conto atau sample yang telah diambil dimasukan ke dalam karung sampel

dengan ukuran yang 15 kg dan diberi kode serta diikat dengan tali. Kemudian

karung-karung tersebut dikirim ke preparasi sampel yang tertulis seperti front

penambangan.

a) Pengambilan sampel front penambangan

Pengambilan sampel di front penambangan dengan menggunakan sekop,

kemudian sampel tersebut disimpan dalam karung sampel ukuran 15 kg yang telah

disiapkan. Sampel diambil diatas tumpukan bijih yang dimana dalam pengambilan

sampelnya yaitu sebanyak 28 increment (dengan berat sampel dalam karung yaitu

4 sampai 5 kg), sampel yaitu sebanyak 224 bucket Excavator dalam kegiatan

penggalian bijih. Setiap 8 bucket, pengambilan sampel diperoleh dalam 1

incriment (karung) dengan satu kali skop. Kegiatan ini dimaksudkan untuk

mewakili jumlah keseluruhan dari material yang ada pada tumpukan ore PT.

Paramitha Persada Tama.


31

Adapun tahapan pengambilan sampel pruduksi pada PT Paramithan

Persada Tama, sebagai berikut:

a. Contoh diambil oleh beberapa tenaga lapangan yang mana seseorangn

mengambil conto dan yang lainnya menyiapkan karung conto.

Gambar 13. Pengambilan Sampel

b. Conto diambil dengan menggunakan sekop standar dengan kapasitas 10

kg.

c. Conto/sampel yang diambil dimasukan kedalam karung dan diikat dengan

tali rafia.

Gambar 14. Sampel Dalam Karung dan di Ikat dengan Tali Rafia

d. Kemudian karung-karung sampel tersebut dikirim ke preparasi sampel

disertai dengan label conto yang tertulis seperti nomor tumpukan.


32

Gambar 15. Sampel yang akan dibawah ke Preparasi Sampel

e. Conto yang dinalisis hanya sebagian kecil, maka dilakukan preparsi conto

agar bagian conto yang dianalisa representatif terhadap kondisi yang

sebenarnya.

Gambar 16. Sampel Hasil Preparasi

f. Conto yang telah siap dikirim ke preparasi sampel untuk dianalisa

kadarnya men ggunakan Nitton.

Gambar 17. Analisis Menggunakan TERMO NITON XL2 DE


33

b) Pengambilan sampel tongkang

Pengambilan sampel tongkang setiap 2 truk masuk pada tongkang diambil

1 incriment sampel dengan cara mengambil ½ incriment sampel pada sisi kiri dan

½ incriment pada sisi kanan tumpukan. Pengambilan sampel tongkang untuk

dianalisis kadar Ni.

Adapun tahapan pengambilan sampel tongkang sebagai berikut:

a. Pengambilannya setiap 2 truk diambil 1 incriment sampel dengan cara

mengambil ½ incriment sampel pada sisi kiri dan ½ incriment pada sisi kanan

tumpukan.

Gambar 18. Pengambilan Sampel Tongkang

b. Karung sampel diikat menggunakan tali pengikat yang sudah diberikan

nomor label.

Gambar 19. Sampel Diikat Dengan Menggunakan Label

c. Sampel yang telah diambil sebenyak 14 sampel akan diangkut dibawah ke

tempat preparasi sampel untuk diproses.


34

Gambar 20. Sampel dari Tongkang 14 karung

2. Tahapan Preparasi Sampel

Persiapan conto (preparasi) sangan penting karena jika terjadi kesalahan

maka data analisis yang akan keluar juga tidak sesuai dengan sebenarnya. Oleh

karena itu perlu memperhatikan kerja menurut SOP (standar operasi produksi)

dengan baik. Tahapan preparasi sampel untuk sampel produksi dan sampel

tongkang.

Adapun langkah-langkah kerja yang dilakukan pada proses preparasi

sampel produksi dan sampel tongkang.

a. Sampel yang diangkut dari front penambangan atau dari tongkang dibawa

ke preparasi sampel untuk dilakukan kegiatan preparasi sampel.

A B
Gambar 21. Sampel dari Front Penambangan (A), Sampel dari Tongkang (B)
35

b. Sampel yang telah ada diperkecil ukurannya dengan menggunakan palu.

Untuk sampel produksi dalam 28 incriment dibagi dalam 4 bagian, untuk sampel

tongkang dalam 14 incriment terbagi 3 bagian.

A B
Gambar 22. Kegiatan Kerja Sampel dari Front Penambangan (A), Kegiatan Kerja Sampel dari
Tongkang (B)
c. Sampel yang sudah dikecilkan ukurannya akan dilakukan tahap mixing

yang dimaksud untuk menyatukan material secara homogen sebelum akan

dilakukan kegiatan tahap matrix.

Gambar 23. Tahap Kegiatan Mixing

d. Kegiatan matrix ini dilakukan dari haris campuran tadi. Kegiatan matrix

dilakukan dengan pembagian yang rata dengan 3 tahapan yaitu tahapan pertama

dan kedua dengan matrix 5 x 6, dan tahapan ketiga 4 x 5. Kegiatan matrix

menggunakan papan kotak dan dalam pengambilannya menggunakan sekop mini

yaitu tahap pertama menggunakan sekop ukuran 20D, tahap kedua sekop ukuran

10D.
36

Gambar 24. Tahap Kegiatan Matrix

e. Sampel hasil dari matrix akan dilakukan tapah pengeringan. Tahapan ini

bertujuan untuk menghilangkan kandungan airnya. Proses pemanggangan dengan

cara digoreng diatas tungku dengan waktu paling lama 10 menit sampai material

dalam keadaan kering berwarna merah kehitaman.

Gambar 25. Tahap Pengeringan

f. Sampel yang sudah dikeringan akan dihaluskan. Tahap penghalusan

dengan menggunakan blender bertujuan untuk memperkecil ukuran butir dari

hasil pemanggangan. Penghalusan bertujuan agar dapat di ayak.

Gambar 26. Tahap Penghalusan


37

g. Sampel yang sudah halus akan di ayak dengan menggunakan ayakan

ukuran 200 mesh.

Gambar 27. Tahap Pengayakkan

h. Selanjutnya tahap pengemasan (packing) dilakukan hasil ayakan disimpan

dalam kantong sampel yang sebelumnya sampel tersebut disimpan ke dalam

kantung sampel yang ukurannya 40 x 60 lalu diguncang dahulu agar materialnya

menyebar merata dan barulah dimasukkan kedalam kantong sampel ukuran 10 x

15 cm. Sampel tersebut untuk dilakukan pengecekkan nilai kadar dengan

menggunakan Themo Nitto.

Gambar 28. Tahap Penemasan (packing)

i. Selanjutnya sampel akan dianalisis kadarnya dengan menggunakan

Thermo Nitton guna untuk diketahui nilai kadar Ni-nya. Penggunaan alat ini

dengan menempelkan alat tersebut pada sampel sebanyak 6 titik. Tiga titik
38

pertama pada sisi depan kantong sampel dan tiga titik kedua pada sisi belakang

kantong sampel tersebut.

Gambar 29. Analisis Menggunakan TERMO NITON XL2 DE

3. Tahap Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan berdasarkan data yang diperoleh dari kegiatan

penelitian dengan metode blending dalam menunjang pencapaian tujuan

penelitian. Pengolahan data selanjutnya adalah dengan mengkompositkan data

kadar dari front penambangan dan data kadar dari tongkang. Untuk mengitung

kadar rata-rata Ni dengan menggunakan metode yang telah ada.

4. Analisis Data

Dari hasil pengolahan data, akan dilakukanlah analisis data front

penambangan dan kadar dari tongkang menggunakan thermo nitton, kemudian

menghitung hasil rata-rata kadar simulasi blending dari data front penambangan

dan menghitung kadar rata-rata hasil realisasi blending dari data tongkang dengan

menggunakan rumus pada persamaan 1, untuk menghitung analisis kadar Ni

dengan menghitung simulasi blending agar dapat mencapai sesuai permintaan


39

pasar dengan Ni yaitu 1,7 %. Menganalisis kadar Ni dengan menggunakan

metode blending dengan rumus persamaan 2.


40

F. Diagram Alir Penelitian

Berikut adalah diagram alir yang digunakan sebagai acuan pelaksanaan

penelitian di PT. Paramitha Persada Tama. Diagram alir penelitian dapat dilihat

(Gambar 30):

Mulai

Persiapan
Perizinan
Studi Literatur
Orientasi Lapangan

Pengumpulan Data

Data Sekunder Data Primer


1. Peta IUP Penelitian 1. Data Front Penambangan
2. Jurnal Ilmiah 2. Data Tongkang

Pengambilan Sampel

Preparasi Sampel

Analisis Kadar Ni
Menggunakan Thermo
Nitton

A
41

Menghitung simulasi blending:


Ratio B1 × Kadar Unsur B 1 + Ratio B2 ×Kadar
K=
Jumlah Ratio

Menghitung kadar rata-rata Ni dan Fe


front penambangan dan tongkang:
k1+k2+k3+…kn
k=
n

Selesai

Gambar 30. Diagram alir penelitian


42

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Analisis TERMO NITON XL2 DE

Data kadar yang diperoleh dari lapangan yaitu data kadar dari front

penambangan dan data kadar dari tongkang sebagai berikut :

1. Data Kadar Front Penambangan

Data front penambangan adalah data kadar yang diperoleh dari front

penambangan, berikut adalah data tongkang sebagai berikut:

Tabel 2 . Data Kadar Ni dan Fe dari Front Penambangan

Hasil Analisis
Kode Retase Volume
No Tanggal Source Nitton XL2 DE
Sampel (Ex) (T)
Ni Fe
1 9-Apr-18 SM 231 PIT B1 28 350 1,85 23,45
2 9-Apr-18 SM 232 PIT B1 28 350 1,69 22,96
3 9-Apr-18 SM 233 PIT B1 28 350 1,59 24,48
4 9-Apr-18 SM 234 PIT B1 28 350 1,62 23,22
5 10-Apr-18 SM 235 PIT B1 28 350 1,60 22,44
6 10-Apr-18 SM 236 PIT B1 28 350 1,46 21,94
7 10-Apr-18 SM 237 PIT B1 28 350 1,61 22,88
8 10-Apr-18 SM 238 PIT B1 28 350 1,47 22,69
9 10-Apr-18 SM 239 PIT B1 28 350 1,53 22,54
10 11-Apr-18 SM 240 PIT B1 28 350 1,76 20,56
11 11-Apr-18 SM 241 PIT B1 14 175 1,57 18,11
12 11-Apr-18 SM 242 PIT B1 28 350 1,48 21,33
13 12-Apr-18 SM 243 PIT B1 28 350 1,54 18,6
14 12-Apr-18 SM 244 PIT B1 28 350 1,49 22,71
15 12-Apr-18 SM 245 PIT B1 28 350 1,58 21,18
16 13-Apr-18 SM 246 PIT B1 28 350 1,62 21,37
17 13-Apr-18 SM 247 PIT B1 28 350 1,63 21,94
18 13-Apr-18 SM 248 PIT B1 28 350 1,67 20,87
19 14-Apr-18 SM 249 PIT B1 14 175 1,66 20,09
20 14-Apr-18 SM 250 PIT B1 28 350 1,79 22,07
21 14-Apr-18 SM 251 PIT B1 28 350 1,54 19,63
22 14-Apr-18 SM 252 PIT B1 28 350 2,01 21,91
43

Hasil Analisis
Kode Retase Volume
No Tanggal Source Nitton XL2 DE
Sampel (Ex) (T)
Ni Fe
23 14-Apr-18 SM 253 PIT B1 28 350 1,85 23,4
24 14-Apr-18 SM 254 PIT B1 28 350 1,77 21,58
25 14-Apr-18 SM 255 PIT B1 28 350 1,80 22,89
26 15-Apr-18 SM 256 PIT B1 28 350 1,96 22,45
27 15-Apr-18 SM 257 PIT B1 28 350 1,79 23,66
28 15-Apr-18 SM 258 PIT B1 28 350 1,80 24,43
29 15-Apr-18 SM 259 PIT B1 28 350 1,77 24,52
30 15-Apr-18 SM 260 PIT B1 28 350 1,87 24,26
31 9-Apr-18 SM 392 PIT B2 28 350 2,42 19,59
32 9-Apr-18 SM 393 PIT B2 28 350 2,36 18,75
33 9-Apr-18 SM 394 PIT B2 28 350 2,52 18,15
34 10-Apr-18 SM 395 PIT B2 28 350 2,38 15,79
35 10-Apr-18 SM 396 PIT B2 28 350 2,39 16,91
36 10-Apr-18 SM 397 PIT B2 28 350 2,47 14,24
37 11-Apr-18 SM 398 PIT B2 28 350 2,35 18,15
38 11-Apr-18 SM 399 PIT B2 28 350 2,36 19,82
39 11-Apr-18 SM 400 PIT B2 28 350 2,28 18,67
40 11-Apr-18 SM 401 PIT B2 28 350 2,37 19,44

Berdasarkan Tabel 2 diatas merupakan hasil analisis dari TERMO NITON

XL2 DE dimana sampel yang diperoleh yaitu sebanyak 40 sampel untuk

memenuhi satu tongkang jenis Golden Way 3311 dengan kapasitas 11.000 ton.

Kegiatan pengambilan sampel dilakukan pada Blok B yaitu Pit B1 dan B2

dimana masing-masing sampel memiliki kode sampel. Rata-rata kadar untuk di

Pit B1 yaitu (Ni 1,4-1,9 %), sedangkan untuk di Pit B2 rata-rata kadar yaitu (Ni

>2,0 %). Dalam pengambilan Sampel mining tiap 28 retase excavator dimana tiap

1 retase yaitu 8 kali siklus dengan satu sampel dengan berat 5 kg, sehingga untuk

mendapatkan 28 karung sampel dengan 28 retase dan 224 siklus excavator maka

diperoleh volume tumpukan untuk 1 lot yaitu 350 ton.


44

Sampel pada tumpukan di front sebanyak 28 increment dianalisis

sampelnya di tempat preparasi untuk diketahui kadarnya serta kadar rata-rata tiap

tumpukan. Misalnya tumpukan pertama dengan kode sampel SM 231 diperoleh

kadar rata-rata untuk Ni yaitu 1,85% dengan nilai kandungan besinya atau Fe

yaitu 23,45%. Kode sampel menunjukan jenis tumpukan bijih pada front tertentu,

misalnya pada Tabel 2 menunjukan kode SM 231 ini berarti bahwa tumpukan

bijih tersebut berasal dari front penambangan (Sampel Mining) yang ke 231

(Lampiran 1).

Data dari hasil analisis Nitton sebanyak 40 data (tabel 2), dalam

melakukan simulasi blending untuk mencapai target kebutuhan pabrik adalah

dengan rata-rata yaitu Ni 1,7%. Dari data front penambangan adalah sebanyak 40

data menjadi 24 data atau sebanyak 5 DOME dengan jenis tongkang GOLDEN

WAY 3311 volume 11.000 ton. (Lampiran 2-6).

Dari 40 data menjadi 24 data atau 5 DOME karena ada beberapa kode SM

yang dilakukan analisis antara Ni kadar rendah dan Ni kadar tinggi atau diatas Ni

1,7 dan Ni kadar rendah dibawah Ni 1,7 sehingga dapat memenuhi standar

kebutuhan pasar. Sedangkan dari sisa 40 data akan dilakukan analisis selanjutnya

dan untuk kadar Ni 1,7% itu langsung dimuat dibawah ke tongkang. Jadi, pada

pada penelitian ini hanya berfokus pada kadar Ni dibawah 1,7% dan kadar Ni

diatas 1,7%.

2. Data Kadar Tongkang

Data tongkang adalah data kadar yang diperoleh dari tongkang, berikut

adalah data tongkang sebagai berikut:


45

Tabel 3. Data Kadar Tongkang

Hasil Analisis
Retase
No Kode Dome Nitton % Ratio
(DT)
Ni Fe
DOME 1 Lot
1,87 22,19 1
1 1 28
DOME 1 Lot
1,89 22,73 1
2 2 28
DOME 1 Lot
1,78 21,57 2
3 3 56
DOME 1 Lot
1,69 23,81 2
4 4 56
DOME 1 Lot
1,65 25,99 1
5 5 28
Sub lot 1 1,78 23,26 7 196
DOME 2 Lot
1,58 27,26 1
6 1 28
DOME 2 Lot
1,49 28,39 1
7 2 28
DOME 2 Lot
1,57 27,67 1
8 3 28
DOME 2 Lot
1,71 26,28 1
9 4 28
DOME 2 Lot
1,58 25,98 1
10 5 28
Sub lot 2 1,59 27,12 5 140
DOME 3 Lot
1,74
11 1 26,25 2 56
DOME 3 Lot
1,82
12 2 26,16 1 28
DOME 3 Lot
1,85
13 3 25,98 1 28
DOME 3 Lot
1,74
14 4 24,64 2 56
DOME 3 Lot
1,64
15 5 25,53 1 28
Sub lot 3 1,76 25,71 7 196
DOME 4 Lot
1,66
16 1 27,01 2 56
DOME 4 Lot
1,78
17 2 23,16 2 56
DOME 4 Lot
1,85
18 3 24,35 1 28
46

DOME 4 Lot
1,84
19 4 23,81 1 28
DOME 4 Lot
1,76
20 5 24,62 1 28
Sub lot 4 1,78 24,59 7 196
DOME 6 Lot
1,66
21 1 27,97 2 16
DOME 6 Lot
1,67
22 2 24,45 2 56
DOME 6 Lot
1,77
23 3 25,04 2 16
DOME 6 Lot
1,61
24 4 23,70 1 28
Sub lot 6 1,68 25,29 7 116
Jumlah 984
Rata-Rata 1,72 25,19

1,72
25,19

Tabel 3 diatas merupakan hasil analisis dari TERMO NITON XL2 DE pada

tongkang dimana sampel yang diperoleh yaitu sebanyak 24 data dengan jumlah

DOME/tumpukan yaitu 5 untuk memenuhi satu tongkang jenis GOLDEN WAY

3311 dengan kapasitas 11.000 ton.

Data tongkang adalah data hasil realisasi dari simulasi blending. Dalam

pengambilan sampel tongkang adalah tiap 2 retase dump truck yang masuk ke

tongkang adalah 1 sampel, jadi untuk DOME 1 Lot 1 yaitu 28 retase diperoleh 14

sampel sehingga untuk 1 DOME diperoleh 70 sampel.

Dari DOME 1 sampai DOME 5 dengan jumlah retare yaitu 784 ret dan

tonase DOME yaitu 10.850 ton. Pada DOME 5 hanya mencapai 84 retase dengan

tonase 1050 ton, karena pengisian tongkang harus mengikuti syarat management

tongkang atau tidak memenuhi volume tongkang dengan kapasitas tongkang


47

11.000 ton, sehingga dalam pengisian tongkang jenis GOLDEN WAY 3311

dengan kapasitas 11.000 ton hanya mencapai volume material 10.850 ton.

(Lampiran 4).

Sampel yang ada pada tumpukan di tongkang sebanyak 14 increment

(karung) dianalisis sampelnya di tempat preparasi untuk diketahui kadarnya serta

kadar rata-rata tiap tumpukan. Analisis yang dilakukan adalah kadar rata-rata dari

semua Dome atau tumpukan pada tongkang dengan cara perhitungan manual

metode statistik.

Dari semua dome atau tumpukan dilakukan perhitungan kadar rata-rata

secara manual dengan menggunakan metode statistik sehingga menghasilkan

kadar rata-rata Ni 1,72% da Fe 25,04% dapat dilihat pada (Lampiran 5).

B. Analisis Data

1. Hasil Simulasi Blending

Dari hasil Simulasi blending yang dilakukan, berdasarkan data bijih nikel

kadar rendah dan kadar tinggi, dengan bantuan sistem komputasi excel dan

dengan merujuk pada data kadar yang berasal dari front penambangan,

menghasilkan nilai kadar tertentu pada kandungan unsur-unsur bijih hasil

blending. Adapun yang harus diperhatikan pada proses blending adalah Nomor

Blending, Tonase dan Ratio.

Nomor blending akan menunjukkan jenis tumpukan bijih pada front

penambangan, berarti bahwa tumpukan tersebut merupakan bijih yang berasal dari

front penambangan.
48

Untuk melakukan analisis tonase tumpukan blending pada front

penambngan, terlebih dahulu dilakukan estimasi tonase untuk setiap tumpukan

dengan pertimbangan untuk memenuhi kapasitas tongkang jenis GOLDEN WAY

3311 kapasitas 11.000 ton. Maka diperoleh estimasi tongkang tiap tumpukannya,

sedangkan untuk tiap tumpukan per pengambilan sampel yaitu kurang lebih 5 kg

per sampel.

a. Analasis Blending

Tabel 4. Hasil Analisis Simulasi Blending

Hasil
Hasil Analisis
Tonase Retase Analisis
Kode Analisis Simulasi
DOME Ratio Dome (DT) Simulasi
SM Nitton % Blending
(Ton) Blending
Ni Fe Ni Fe Ni Fe
SM 231 1 350 28 1,85 23,45 1,85 23,45
SM 232 1 350 28 1,69 22,96 1,69 22,96
1 SM 233 2 700 56 1,59 24,48 3,18 48,96 1,72 22,69
SM 236 2 700 56 1,46 21,94 2,92 43,88
SM 392 1 350 28 2,42 19,59 2,42 19,59
SM 238 1 350 28 1,47 22,69 1,47 22,69
SM 239 1 350 28 1,53 22,54 1,53 22,54
2 SM 253 1 350 28 1,86 23,4 1,86 23,4 1,72 22,79
SM 255 1 350 28 1,80 22,89 1,80 22,89
SM 256 1 350 28 1,96 22,45 1,96 22,45
SM 234 2 700 56 1,62 23,22 3,24 46,44 1,70 23,55
SM 235 1 350 28 1,60 22,44 1,60 22,44
3 SM 237 1 350 28 1,61 22,88 1,61 22,88
SM 258 2 700 56 1,80 24,43 3,60 48,86
SM 260 1 350 28 1,87 24,26 1,87 24,26
SM 242 2 700 56 1,48 21,33 2,96 42,66
SM 243 2 700 56 1,54 18,60 3,08 37,2
4 SM 246 1 350 28 1,62 21,37 1,62 21,37 1,72 20,27
SM 252 1 350 28 2,01 21,91 2,01 21,91
SM 393 1 350 28 2,36 18,75 2,36 18,75
49

Hasil
Hasil Analisis
Tonase Analisis
Kode Retase Analisis Simulasi
DOME Ratio Dome Simulasi
SM (DT) Nitton % Blending
(Ton) Blending
Ni Fe Ni Fe Ni Fe
SM 241 2 350 28 1,57 18,11 3,14 36,22
SM 248 2 700 56 1,67 20,87 3,34 41,74
5
SM 249 2 350 28 1,66 20,09 3,32 40,18 1,73 19,54
SM 400 1 350 28 2,28 18,67 2,28 18,67
Jumlah 33 10850 868 1,76 21,81 56,71 716,39
Rata-Rata 1,72 21,77

Setelah diketahui tonasenya, maka diperoleh analisis blending untuk tiap

tumpukannya. Pada tabel 4 hasil analisis simulasi blending dengan memilih antara

kadar Ni diatas 1,7% dan kadar Ni dibawah 1,7% dapat memenuhi standar

kebutuhan pabrik yaitu Ni 1,7%, sehingga dapat diasumsikan dengan

menggunakan rumus simulasi blending sehingga memperoleh hasil simulasi

blending kadar rata-rata yaitu Ni 1,72% dan Fe 21,77% (Lampiran 2-6).

Tonase, menunjukkan jumlah tonase dari tumpukan bijih yang akan

dijadikan sebagai bahan blending. Ini juga harus diperhatikan sebab akan

berdampak pada rasio dalam melakukan blending, dimana tumpukan bijih yang

memiliki jumlah tonase yang lebih besar tentunya memiliki rasio blending lebih

besar pula.

Ratio menunjukan menunjukan tingkat perbandingan pengangkutan bijih

ke tongkang, seperti (tabel 4) diatas menunjukan bahwa, tumpukan SM 231

dengan ratio 1 untuk 28 kali retase dump truck sehingga tonase dari tumpukan

tersebut yaitu 350 ton dengan pertimbangan SOP perusahaan yaitu 12,5 ton untuk

persiklus dump truck dengan nilai kadar dari tumpukan tersebut yaitu Ni 1,85%
50

dan Fe 23,45%, yang artinya untuk tumpukan SM 231 1 kali dimuat

menggunakan dump truck menuju tongkang (Lampiran 2-1).

Untuk menentukan rasio atau tingkat perbandingan pengangkutan bijih ke

tongkang yaitu dari ketentuan kadar rata-rata Ni permintaan pabrik dengan kadar

Ni rata-rata permintaan pabrik adalah Ni 1,7%.

b. Kadar Rata-Rata

Penelitian ini dilakukan menganalisis kadar rendah Ni dari front

penambangan dengan metode blending. Analisis data yang dilakukan adalah

perhitungan kadar rata-rata Ni dan Fe dari front penambangan dengan cara

perhitungan manual metode statistik, perhitungan kadar rata-rata dari hasil

simulasi blending untuk mendapatkan kadar Ni 1,7% sesuai kebutuhan pabrik.

Kadar rata-rata dari hasil simulasi blending adalah nilai kadar Ni yang

akan di kirim ke pabrik. Hasil analisis yang dilakukan dari keseluruhan yang ada

pada tumpukan front penambangan yaitu Ni 1,72% dan Fe 21,77% dapat dilihat

pada (Lampiran 3).

2. Metode Blending

Blending atau pencampuran adalah penggabungan atau penimbunan secara

bersamaan dan terus-menerus dari dua atau lebih pada bijih nikel yang

mempunyai kadar yang berbeda. Pencampuran dilakukan pada bijih nikel yang

berbeda kadar sehingga mendapatkan bijih yang diingikan oleh pabrik.

Gambar berikut adalah menunjukan metode blending pada front

penambangan bijih Ni dengan berbeda kadar.

Ni 1,4 Ni 1,5
Ni 1,8 Ni 1,9
dan Ni 2 Up dan Ni 1,6

Tumpukan Bijih Front Penambangan


51

Hasil
Blending

Gambar 31. Metode Blending pada Front Penambangan

3. Hasil Realisasi Data Tongkang

Dari hasil analisa simulasi blending dari dara front penambangan

didapatkan realisasi data tongkang adalah sebagai berikut:

Tabel 5. Realisasi Blending Data Tongkang

Hasil Analisis
TERMO NITON Retase Tonase
No Kode Dome XL2 DE % Ratio (DT) (T)
Ni Fe
1 DOME 1 Lot 1 1,87 22,19 1 28 350
2 DOME 1 Lot 2 1,89 22,73 1 28 350
3 DOME 1 Lot 3 1,78 21,57 2 28 700
4 DOME 1 Lot 4 1,69 23,81 2 28 700
5 DOME 1 Lot 5 1,65 25,99 1 28 350
DOME 1 1,78 23,26 7 140 2450
6 DOME 2 Lot 1 1,58 27,26 1 28 350
7 DOME 2 Lot 2 1,49 28,39 1 28 350
8 DOME 2 Lot 3 1,57 27,67 1 28 350
9 DOME 2 Lot 4 1,71 26,28 1 28 350
10 DOME 2 Lot 5 1,58 25,98 1 28 350
52

Hasil Analisis
TERMO NITON Retase Tonase
No Kode Dome XL2 DE % Ratio (DT) (T)
Ni Fe
DOME 2 1,59 27,12 5 140 1750
11 DOME 3 Lot 1 1,74 26,25 2 28 700
12 DOME 3 Lot 2 1,82 26,16 1 28 350
13 DOME 3 Lot 3 1,85 25,98 1 28 350
14 DOME 3 Lot 4 1,74 24,64 2 28 700
15 DOME 3 Lot 5 1,64 25,53 1 28 350
DOME 3 1,76 25,71 7 140 2450
16 DOME 4 Lot 1 1,66 27,01 2 28 700
17 DOME 4 Lot 2 1,78 23,16 2 28 700
18 DOME 4 Lot 3 1,85 24,35 1 28 350
19 DOME 4 Lot 4 1,84 23,81 1 28 350
20 DOME 4 Lot 5 1,76 24,62 1 28 350
DOME 4 1,78 24,59 7 140 2450
21 DOME 5 Lot 1 1,66 27,97 2 14 350
22 DOME 5 Lot 2 1,67 24,45 2 28 700
23 DOME 5 Lot 3 1,77 25,04 2 14 350
24 DOME 5 Lot 4 1,61 23,70 1 28 350
DOME 5 1,68 25,29 7 84 1750
Jumlah 33 784 10850
Rata-Rata 1,72 25,19

4. Kadar Rata-Rata Data Tongkang

Analisis data yang dilakukan adalah perhitungan kadar rata-rata Ni dan Fe

dari hasil realisasi blending yang ada pada tongkang dengan cara perhitungan

manual metode statistik. Perhitungan ini dilakukan untuk mendapat nilai kadar Ni

dan Fe dengan sesuai kebutuhan pabrik yaitu Ni 1,7%.

Dari data tongkang dilakukan perhitungan kadar rata-rata secara manual

dengan metode statistik sehingga menghasilkan kadar rata-rata Ni 1,72% dan Fe

25,19% dapat dilihat pada (Lampiran 5).


53

C. Grafik Perbandingan Kadar Ni Front Dan Kadar Realisasi Di Tongkang

Dari hasil perhitungan sebelumnya maka dibuatkan grafik untuk kadar

rata-rata Ni hasil simulasi blending dan Ni hasil realisasi blending, berikut grafik

rata-rata kadar Ni :

Perbandingan Kadar pada Front


Penambangan dan Kadar Tongkang

3.00

2.50

2.00
Kadar Ni

Hasil blending
1.50 Ni Simulasi
1.00 Hasil blending
Ni Realisasi
0.50

0.00
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23

Gambar 32. Grafik Perbandingan Kadar Ni Front dan Tongkang


54

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Rasio ditentukan dari kadar Ni yang diperoleh masing-masing tumpukan

yang ada pada front menambangan. Teknik perencanaan rasio adalah

perbandingan antara kadar rendah dan kadar tinggi sehingga untuk menentukan

rasio yang harus diketahui terlebih dahulu yaitu formasi pengangkutan bijih ke

tongkang. Berdasarkan hasil analisis kadar bijih nikel antara bijih nikel kadar

rendah dan bijih nikel kadar tinggi dengan menggunakan metode blending

diperoleh Ni 1,72% dan Fe 21,77%.

B. Saran

Adapun saran yang dapat diambil dari hasil penelitian ini bahwa:

1. Bagi perusahaan dalam melakukan analisis blending baiknya menggunakan

analisis perhitungan ratio agar proses pengangkutan ore bijih nikel kadar

rendah dan kadar tinggi sebanding sehingga target permintaan pabrik

terpenuhi.

2. Bagi peneliti selanjutnya perlu dilakukan analisis penurunan kadar bijih nikel.
DAFTAR PUSTAKA

Anwar, U, dan Arief, T, A., 2011, Model Matematika Untuk Optimasi Nilai
Kalori Batubara Blending, Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknik
Kampus Unsri Inderalaya-Jl. Raya Prabumulih Km 32 Inderalaya – Ogan
Ilir.

Ashary, R., 2015, Perencanaan Penambangan Emas Jangka Pendek, Universitas


Negeri Padang.

Adelina., 2018, Analisis Perbandingan Kandungan Unsur Ni Dan Fe Dari Hasil


Pemodelan Dengan Realisasi Penambangan, Jurusan Teknik Pertambangan
Fakultas Ilmu Dan Teknologi Kebumian Universitas Halu Oleo.

Daniel, B., 2013, Penentuan Pertambangan Optimal Nilai Cut Off Grade
Formulasi Matematika Dan Solusi Algoritma, Hinoba Tembaga Tambang,
Di Filipina.

Diharlan, S, B., 2018, Estimasi Cadangan Nikel Tertambang, Jurusan Teknik


Pertambangan Fakultas Teknologi Mineral Dan Kelautan Institut Teknologi
Adhi Tama Surabaya.

Fitrian, Bima, E., 2014, Identivikasi Sebaran Nikel dan Volume Bijih Nikel
Laterit. Fakultas Matematika dan Pengatuhan Alam Universitas
Hasanuddin.

Gurusinga, P dan Sibarani, R., 2011, Analisis Rata-Rata Nilai Fisika dengan
Metode Ekspositori dan Inkuiri, Di Fakultas Teknik Univesitas Satya
Negara Indonesia.

Githiria, J., 2016, Cut Off Grade Optimasi Kelas Untuk Memaksimalkan Nilai
Sekarang Bersih Menggunakan Meraut 4X, Departemen Pertambangan dan
Pengolahan Mineral, Sekolah Pertambangan dan Teknik, Taita Taveta
University College.

Guilbert, G, M & Park, C, F., 1986, “The Geology of Ore Deposits”, W.H. Freema

Hardiansyah., 2008, Analisis Kadar Nikel Laterit, Kecamatan Pagimana


Kabupaten Luwuk Banggai, Provinsi Sulawesi Tenggara.

Irmawati, W, D., 2018, Studi Tahapan Kegiatan Preparasi Sampel Nikel Laterit,
Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Ilmu Dan Teknologi Kebumian
Universitas Halu Oleo.

Nurhakim., 2006, Draf Bahan Kuliah Teknik Eksplorasi (HTKK-009), Program


Studi Teknik Pertambangan Universitas Lambung Banjarbaru.
Musnajam., 2012, Optimalisasi Pemanfaatan Bijih Nikel Kadar Rendah dengan
Metode Blending, Teknik Pertambangan, 19 November Kolaka, Sulawesi
Tenggara.

Sundari, W., 2012, Analisis Data Eksplorasi Bijih Nikel Laterit Untuk Estimasi
Cadangan Dan Perancangan Pit, Teknik Pertambangan Fakultas Sains dan
Teknik, Universitas Nusa Cendana, Kupang (NTT).

Sahrul, S,T., 2014, Studi Perhitungan Nilai Deviasi Kadar Blending Nikel, Teknik
pertambangan Universitas 19 November Kolaka.

Saputra, D., Triantoro, A., Riswan., 2017 Simulasi Blending Batubara Di Bawah
Standar Kontrak Dalam Blending Dua Jenis Grade, Kalimantan Selatan.

Tim Penyusun., 2001, Pedoman Teknis Tata Cara Penetapan Dan Pengawasan
Sumber Daya Dan Cadangan Bahan Galian, Berdasarkan Keputusan
Direktur Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral No.
120.K/73.05/DJG/2001 tanggal 18 Oktober 2001 dibentuk tim penyusun.
Lampiran 1

Tabel DataFront Penambangan

Hasil Analisis
Kode Volume
No Tanggal Source Retase Nitton
Sampel (MT)
Ni Fe
1 9-Apr-18 SM 231 PIT B1 28 350 1,85 23,45
2 9-Apr-18 SM 232 PIT B1 28 350 1,69 22,96
3 9-Apr-18 SM 233 PIT B1 28 350 1,59 24,48
4 9-Apr-18 SM 234 PIT B1 28 350 1,62 23,22
5 10-Apr-18 SM 235 PIT B1 28 350 1,60 22,44
6 10-Apr-18 SM 236 PIT B1 28 350 1,46 21,94
7 10-Apr-18 SM 237 PIT B1 28 350 1,61 22,88
8 10-Apr-18 SM 238 PIT B1 28 350 1,47 22,69
9 10-Apr-18 SM 239 PIT B1 28 350 1,53 22,54
10 11-Apr-18 SM 240 PIT B1 28 350 1,76 20,56
11 11-Apr-18 SM 241 PIT B1 14 175 1,57 18,11
12 11-Apr-18 SM 242 PIT B1 28 350 1,48 21,33
13 12-Apr-18 SM 243 PIT B1 28 350 1,54 18,6
14 12-Apr-18 SM 244 PIT B1 28 350 1,49 22,71
15 12-Apr-18 SM 245 PIT B1 28 350 1,58 21,18
16 13-Apr-18 SM 246 PIT B1 28 350 1,62 21,37
17 13-Apr-18 SM 247 PIT B1 28 350 1,63 21,94
18 13-Apr-18 SM 248 PIT B1 28 350 1,67 20,87
19 14-Apr-18 SM 249 PIT B1 14 175 1,66 20,09
20 14-Apr-18 SM 250 PIT B1 28 350 1,79 22,07
21 14-Apr-18 SM 251 PIT B1 28 350 1,54 19,63
22 14-Apr-18 SM 252 PIT B1 28 350 2,01 21,91
23 14-Apr-18 SM 253 PIT B1 28 350 1,85 23,4
24 14-Apr-18 SM 254 PIT B1 28 350 1,77 21,58
25 14-Apr-18 SM 255 PIT B1 28 350 1,80 22,89
26 15-Apr-18 SM 256 PIT B1 28 350 1,96 22,45
27 15-Apr-18 SM 257 PIT B1 28 350 1,79 23,66
28 15-Apr-18 SM 258 PIT B1 28 350 1,80 24,43
29 15-Apr-18 SM 259 PIT B1 28 350 1,77 24,52
30 15-Apr-18 SM 260 PIT B1 28 350 1,87 24,26
31 9-Apr-18 SM 392 PIT B2 28 350 2,42 19,59
32 9-Apr-18 SM 393 PIT B2 28 350 2,36 18,75
33 9-Apr-18 SM 394 PIT B2 28 350 2,52 18,15
34 10-Apr-18 SM 395 PIT B2 28 350 2,38 15,79
35 10-Apr-18 SM 396 PIT B2 28 350 2,39 16,91

L 1-1
Hasil Analisis
Kode Volume
No Tanggal Source Retase Nitton
Sampel (MT)
Ni Fe
36 10-Apr-18 SM 397 PIT B2 28 350 2,47 14,24
37 11-Apr-18 SM 398 PIT B2 28 350 2,35 18,15
38 11-Apr-18 SM 399 PIT B2 28 350 2,36 19,82
39 11-Apr-18 SM 400 PIT B2 28 350 2,28 18,67
40 11-Apr-18 SM 401 PIT B2 28 350 2,37 19,44

L 2-1
Lampiran 2

Analisis Simulasi Blending Ni Dan Fe Data Front Penambangan

1. Analisis Blending

Ni Simulasi Blending I

Tonase Simulasi
Kode Retase Retase Kadar
Ratio Dome Blending
SM (Ex) (DT)
(T) Ni Fe Ni Fe 1,85
SM 231 1 28 350 28 1,85 23,45 23,45 1,69
SM 232 1 28 350 28 1,69 22,96 22,96 3,18
SM 233 2 28 700 56 1,59 24,48 48,96 2,92
SM 236 2 28 700 56 1,46 21,94 43,88 2,42
SM 392 1 28 350 28 2,42 19,59 19,59

Ratio B1 × Kadar Unsur B 1 + Ratio B2 ×Kadar Unsur 2 +…


Rumus : k =
Jumlah Ratio

1× 1,85 + 1× 1,69 × 2× 1,59 + 2× 1,46 × 1× 2,42


=
7

12,06
=
7

= 1,72286 k

= 1,72 % Ni

2. Analisis Blending Fe

Ratio B1 × Kadar Unsur B 1 + Ratio B2 ×Kadar Unsur 2 +…


Rumus : k =
Jumlah Ratio
1× 23,45 + 1× 22,96 + 2× 24,48 + 2× 21,94 + 1× 19,59
=
7

= 158,84
7

k = 22,69 % Fe

L 2-1
Simulasi Blending II
Tonase Simulasi
Kode retase kadar
Ratio Dome ret Blending
SM (Ex)
(T) Ni Fe Ni Fe 1,47
SM 1,47 22,69 22,69 1,53
238 1 28 350 28 1,53 22,54 22,54
SM 1,86 23,4 1,86 23,4
239 1 28 350 28 1,80 22,89 1,80 22,89
SM 1,96 22,45
253 1 28 350 28 1,96 22,45
SM 8,62 113,97
255 1 28 350 28
SM
256 1 28 350 28
Jumlah 5 140 1750
Ratio B1 × Kadar Unsur B 1 + Ratio B2 ×Kadar Unsur 2 +…
Rumus : k =
Jumlah Ratio

1× 1,47 + 1× 1,53 × 1× 1,86 + 1× 1,80 × 1× 1,96


=
5

8,62
=
5
k = 1,72 % Ni

Ratio B1 × Kadar Unsur B 1 + Ratio B2 ×Kadar Unsur 2 +…


Rumus : k =
Jumlah Ratio
1× 22,69 + 1× 22,54 + 1× 23,40 + 1× 22,89 + 1× 22,45
=
5

= 113,97
5
K = 22,79 % Fe
L 2-2
Simulasi Blending III

Tonase Simulasi
Kode Retase Retase Kadar
Ratio Dome Blending
SM (Ex) (DT
(T) Ni Fe Ni Fe
SM 234 2 28 700 56 1,62 23,22 3,24 46,44
SM 235 1 28 350 28 1,60 22,44 1,60 22,44
SM 237 1 28 350 28 1,61 22,88 1,61 22,88
SM 258 2 28 700 56 1,80 24,43 3,60 48,86
SM 260 1 28 350 28 1,87 24,26 1,87 24,26

Ratio B1 × Kadar Unsur B 1 + Ratio B2 ×Kadar Unsur 2 +…


Rumus : k =
Jumlah Ratio

2× 1,62 + 1× 1,60 × 1× 1,61 + 2× 1,80 × 1× 1,87


=
7

11,92
=
7
k = 1,70 % Ni

Ratio B1 × Kadar Unsur B 1 + Ratio B2 ×Kadar Unsur 2 +…


Rumus : k =
Jumlah Ratio
2× 23,22 + 1× 22,44 + 1× 22,88 + 2× 24,43 + 1× 24,26
=
7

= 164,88
7
k = 23,55 % Fe

L 2-3
Simulasi Blending IV

Simulasi
Kode tonase kadar
Ratio retase ret Blending
SM dome
Ni Fe Ni Fe
SM 242 2 28 700 56 1,48 21,33 2,96 42,66
SM 243 2 28 700 56 1,54 18,60 3,08 37,20
SM 246 1 28 350 28 1,62 21,37 1,62 21,37
SM 252 1 28 350 28 2,01 21,91 2,01 21,91
SM 393 1 28 350 28 2,36 18,75 2,36 18,75

Ratio B1 × Kadar Unsur B 1 + Ratio B2 ×Kadar Unsur 2 +…


Rumus : k =
Jumlah Ratio
2× 1,48 + 2× 1,54 × 1× 1,62 + 1× 2,01 × 1× 2,36
=
7

12,03
=
7
k = 1,72 % Ni

Rumus : k = Ratio B1 × Kadar Unsur B 1 + Ratio B2 ×Kadar Unsur 2 +…


Jumlah Ratio
2× 21,33 + 2× 18,60 + 1× 21,37 + 1× 21,91 + 1× 18,75
=
7

= 141,89
7

k = 20,27 % Fe

L 2-4
Simulasi Blending V

Tonase Simulasi
Kode Retase Retase Kadar %
SM Ratio (Ex) Dome (DT) Blending
(Ton) Ni Fe Ni Fe
SM 241 2 14 350 28 1,57 18,11 3,14 36,22
SM 248 2 28 700 56 1,67 20,87 3,34 41,74
SM 249 2 14 350 28 1,66 20,09 3,32 40,18
SM 400 1 28 350 28 2,28 18,67 2,28 18,67

Ratio B1 × Kadar Unsur B 1 + Ratio B2 ×Kadar Unsur 2 +…


Rumus : k =
Jumlah Ratio

2× 1,57 + 2× 1,67 × 2× 1,66 + 1× 2,28


=
7

12,08
=
7
k = 1,73 % Ni

Ratio B1 × Kadar Unsur B 1 + Ratio B2 ×Kadar Unsur 2 +…


Rumus : k = Jumlah Ratio
2× 18,11 + 2× 20, 9 + 1× 18,67

= + 2× 20,87 7 0
136,81
=
7
k = 19,54 % Fe

L 2-5
Tabel Hasil Analisis Simulasi Blending

Analisis
Tonase Hasil Analisis Hasil Analisis Simulasi
Retase (DT) Simulasi
Dome Nitton Blending
Blending
(Ton)
Ni Fe Ni Fe Ni Fe
350 28 1,85 23,45 1,85 23,45
350 28 1,69 22,96 1,69 22,96
700 56 1,59 24,48 3,18 48,96 1,72 22,69
700 56 1,46 21,94 2,92 43,88
350 28 2,42 19,59 2,42 19,59
196
350 28 1,47 22,69 1,47 22,69
350 28 1,53 22,54 1,53 22,54
350 28 1,86 23,4 1,86 23,4 1,72 22,79
350 28 1,80 22,89 1,80 22,89
350 28 1,96 22,45 1,96 22,45
140
700 56 1,62 23,22 3,24 46,44
350 28 1,60 22,44 1,60 22,44
350 28 1,61 22,88 1,61 22,88 1,70 23,55
700 56 1,80 24,43 3,60 48,86
350 28 1,87 24,26 1,87 24,26
196
700 56 1,48 21,33 2,96 42,66
700 56 1,54 18,60 3,08 37,2
350 28 1,62 21,37 1,62 21,37 1,72 20,27
350 28 2,01 21,91 2,01 21,91
350 28 2,36 18,75 2,36 18,75
196
16 400 32 1,57 18,11 3,14 36,22 1,73 19,54
SM
2 28 700 56 1,67
248

L 2-6
Lampiran 3

Hasil Kadar Rata-Rata Ni dan Fe Data Front Penambangan

1. Rata-Rata Ni

k1 + k2 + k3 +… kn
Rumus : k =
n

1,72+1,72+1,70+1,72+1,73
k =
5
8,59
=
5

= 1,72% Ni

2. Rata-Rata Fe

k1 + k2 + k3 + … kn
Rumus : k =
n

22,69+22,79+23,55+20,27+19,54
k=
5

=108,85
5

= 21,77% Fe

L 3-1
Lampiran 4

Hasil Analisa Nitton

Tabel Hasil Analisa Nitton Data Tongkang

Hasil Analisis Nitton Retas


No Kode Dome % Rati e
o
Ni Fe (DT)
DOME 1
1,87 22,19 1
1 Lot 1 28
DOME 1
1,89 22,73 1
2 Lot 2 28
DOME 1
1,78 21,57 2
3 Lot 3 56
DOME 1
1,69 23,81 2
4 Lot 4 56
DOME 1
1,65 25,99 1
5 Lot 5 28
Sub lot 1 1,78 23,26 7 196
DOME 2
1,58 27,26 1
6 Lot 1 28
DOME 2
1,49 28,39 1
7 Lot 2 28
DOME 2
1,57 27,67 1
8 Lot 3 28
DOME 2
1,71 26,28 1
9 Lot 4 28
DOME 2
1,58 25,98 1
10 Lot 5 28
Sub lot 2 1,59 27,12 5 140
DOME 3
1,74
11 Lot 1 26,25 2 56
DOME 3
1,82
12 Lot 2 26,16 1 28
DOME 3
1,85
13 Lot 3 25,98 1 28
DOME 3
1,74
14 Lot 4 24,64 2 56
DOME 3
1,64
15 Lot 5 25,53 1 28
Sub lot 3 1,76 25,71 7 196
DOME 4
1,66
16 Lot 1 27,01 2 56

L 4-1
DOME 4
1,78
17 Lot 2 23,16 2 56
DOME 4
1,85
18 Lot 3 24,35 1 28
DOME 4
1,84
19 Lot 4 23,81 1 28
DOME 4
1,76
20 Lot 5 24,62 1 28
Sub lot 4 1,78 24,59 7 196
DOME 6
1,66
21 Lot 1 27,97 2 16
DOME 6
1,67
22 Lot 2 24,45 2 56
DOME 6
1,77
23 Lot 3 25,04 2 16
DOME 6
1,61
24 Lot 4 23,70 1 28
Sub lot 6 1,68 25,29 7 116
Jumlah 984
Rata-Rata 1,72 25,19

1,72
25,19

L 4-2
Lampiran 5

Hasil Analisis Rata-Rata Ni dan Fe Data Tongkang

1. Rata-Rata Ni

k1 + k2 + k3 +… kn
Rumus : k =
n

1,78+1,59+1,76+1,78+1,68
k =
5
8,58
=
5

= 1,72% Ni

2. Rata-Rata Fe
k + k + k +…k
Rumus : k = 1 2 3 n
n

23,26+27,12+25,71+24,59+25,29
k=
5

=125,96
5

= 25,19 % Fe

L 5-1