Anda di halaman 1dari 23

Abdullah bin Mubarak rahimahullah dan Madrasahnya

Tugas Makalah

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Tipologi Madrasah Hadis


Dosen: Dr. Dede Rodlyana, MA

CHANDRA WIJAYA NIM: 2170080005

Program Studi Ilmu Hadis Pascasarjana

Universitas Islam Negri Sunan Gunung Djati


Bandung
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SUBHĀNAHU WATA’ĀLA, karena berkat


limpahan rahmat dan karunianya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas
makalah ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Dalam makalah ini kami
membahas mengenai “R”
Makalah ini dibuat untuk memenuhi kriteria tugas mata kuliah ‘Ilal al-Hadits Oleh
karena itu, selain terpenuhinya tugas, kami berharap makalah ini dapat berguna
bagi para pembaca dimanapun berada.
Kami mengundang pembaca untuk memberikan saran dan kritik yang sifatnya
membangun. Kritik konstruktif dari pembaca sangat penulis harapkan untuk
penyempurnaan makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita sekalian, dan
bernilai pahala disisi Allah Subhānahu wata’āla. Amiin.

Bandung, 31 Desember 2018


Penulis
A. Latar Belakang
Ilmu hadis merupakan khazanah ilmu-ilmu Islam yang senantiasa terus
digali dan dikaji oleh para penuntut ilmu. Ia bagai berlian dari untaian berlian yang
berharga. Ilmu ini termasuk salah satu keilmuan yang pertama kali disusun dan
dibangun dalam sejarah keilmuan Islam guna memilah dan memilih suatu
informasi yang disandarkan ke Nabi shallallāhu ‘alaihi wasallam. Hingga
mengenal mana hadishadis yang shahīh dan mana hadis-hadis yang dla’if disaat
perkara ini pada umat yang lain tidak diperhatikan hingga mereka menerima segala
informasi dari apa saja yang mereka suka dan menolak apa saja yang tidak disuka
tanpa alat yang bisa mereka jadikan ukuran untuk menyerap informasi tersebut.
Terlebih bagaimana jika informasi itu berhubungan dengan agama atau aqidah
mereka.
Para ulama hadis adalah kelompok terbaik yang memiliki banyak keutamaan.
Secara tersirat keutamaan mereka telah diabadikan dalam al-Quran surat at-Taubah
ayat 122:
‫ي ْنذِروا‬ ِ ‫ف لوال نَ فَ َر ِم ْن كُ ِ ِل فرقة ِم ْن ُهُ ْْم طائفَةٌ لي ت فَقَّ ُهوا في ِالد‬
ُ ‫ِين َول‬ َ ً‫َو َما َكانَ ال ُمؤْ ِمنونَ لي ْن ِفروا كَافة‬
‫قَ ْو َم ُه ْْم‬
(٢١١) َ‫إذَا ر َجعوا إلي ِه ْْم لعَل ُه ْْم ي ْح ذَرون‬
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke
medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka
beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan
untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali
kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah:122)

Pada ayat ini terdapat keutamaan ahli hadis yaitu orang-orang yang keluar
untuk mencari hadis dan memahami agama Islam. Hal ini dpertegas dalam riwayat
yang dikeluarkan oleh Imam al-Baghdadi bahwa Yazid bin Harun pernah bertanya
kepada Imam Hamad bin Zaid:
ْ ‫ أل ْْم‬،‫ " ب لى‬:َ‫ف قَال‬
:‫تس َم ْع إلى قَ ْول ِه‬ ِ ُ‫ث في الق‬
َ ‫رآن؟‬ ِ ‫اب ال َحدِي‬
َ ‫ص َح‬ َّ ُ‫يا أبا إ ْس َما ِعي َل ُه َْل ذك ََر هللا‬
ْ ‫عز و َج َّل أ‬
‫ف َُهذَا في كُ ِ ِل َم ْن َر َح َل‬ ِ ‫ق ْو َم ُه ْم إذَا رجَعوا‬
َ [٢١١ :‫إليه ْم { ]التوبة‬ ِ ‫لي تَ فَقَّ ُهوا في ال د‬
َ ‫ِين َول ُي نذِروا‬ َ }
ِ ‫ َوي‬،‫العلْم َوال ِف ْق ِه‬
" ُ‫ ي َع ِل ُم ُه ْْم إياه‬،ُ‫رج ُع ب ِه إلى َم ْن َوراءه‬ ِ ‫ب‬ ِ ‫في طل‬
“wahai Abu Isma’il (Hamad bin Zaid) apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala
menyebut ashabul hadis (ahlul hadis) di dalam Al-Qur’an?” Dia menjawab, “Ya,
tidakkah kamu mendengar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
‫ي ْنذِروا قَ ْو َم ُه ْْم إذَا ر َجعوا إ لي ِه ْْم‬ ِ ‫لي ت فَقَّ ُهوا في ِالد‬
ُ ‫ِين َول‬
Ini adalah berlaku untuk setiap orang yang melakukan perjalanan dalam mencari
ilmu dan fiqih, dan pulang membawanya kepada orang-orang dibelakangnya
untuk mengajarkannya kepada mereka”1
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga pernah bersabda:
ُ‫ى تَ قُ ْو َم السَّا َعة‬ ُ ‫لن تَ زا ُل طائفَةٌ ِم ْن أ َّمت ْي َم ْن‬
َّ ‫ص ْورينَ الَ يضُر ُُه ْْم َم ْن َخذَل ُه ْْم َحت‬ ْ
“Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang ditolong
(dimenangkan), tidak membahayakan mereka siapapun orang yang menghinakan
mereka hingga tiba kiamat.”2
Para Imam mensyarah ath-thāifah al-mansūrah di dalam hadis ini adalah
mereka para ahli hadis. Imam Ibnu Madini dan Imam al-Bukhari mengatakan,
“mereka adalah ashābul hadis”3. Imam Ahmad pun sempat mengomentari tentang
hadis ini dan berkata, “jika thāifah mashūrah bukan ashhabul hadis, maka aku
tidak tahu siapa mereka?”4
Karakter mereka adalah menjaga atsar dan sunnah-sunnah Nabi.
menempuh padang pasir, menjelajah bumi dan mengarungi lautan guna menimba
apa yang telah disyariatkan oleh Rasul pilihan. Mereka tidak pernah berpaling
darinya menuju satu pendapat atau hawa nafsu. Mereka menerima syariatnya
Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam baik ucapan maupun perbuatan, mereka menjaga
sunnahnya, baik hafalan maupun periwayatan hingga dengan demikian mereka
telah memantapkan pangkalnya dan mereka lebih berhak terhadapnya dan mereka
adalah ahlinya. Berapa banyak para pengingkar bermaksud mencampur aduk
syariat dengan yang lainnya sementara Allah Subhanahu wa Ta’ala

1
Kitab Syaraf Ashhābu al-Hadīts Lil-Khatīb al-Baghdādi. Juz 1 hal. 58
2
Kitab Musnad Ahmad. Juz 42 hal. 363 No. 15597 Cet. Muassasatu ar-Risalah 1999 M
3
Kitab Syaraf Ashhābu al-Hadīts Lil-Khatīb al-Baghdādi. Juz 1 hal. 27
4
Kitab Syaraf Ashhābu al-Hadīts Lil-Khatīb al-Baghdādi. Juz 1 hal. 27
mempertahankannya melalui peran ashhabul hadis, mereka adalah penjaga rukun-
rukun sunnah, penegak urusannya dan hak-haknya. Mereka adalah pejuang-
pejuang sunnah.
Telah tersebar banyak para ulama hadis sebagai periwayat hadis tercatat
dalam kitab-kitab hadis. Sebagian mereka telah dinilai sebagai ulama sekaligus
perawi yang tsiqah, dan sebagian lagi tercatat sebagai rawi yang lemah sebab
keterbatasan dalam ‘adalah ataupun dabt. Diantara mereka, memiliki madrasah
sebagai tempat untuk meriwayatkan hadits kepada para muridnya, sehingga
tersebarlah riwayat-riwayat tersebut.
Dalam makalah ini penulis berusaha membahas biografi Abdullah bin Mubarak
rahimahullah.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana biografi Abdullah bin Mubarak rahimahullah?
2. Bagaimana kredibilitas Abdullah bin Mubarak rahimahullah?
3. Bagaimana kondisi madrasah Abdullah bin Mubarak rahimahullah?

C. Biografi Abdullah bin Al-Mubarak


Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Al-Mubarak bin Wadhih, Abu
Abdurrahman Al-Handzali. Namun, beliau lebih dikenal dengan namanya “Ibnul
Mubarak”. Ayahnya berasal dari Turki dan ibunya dari Khawarizmi. Beliau
dilahirkan pada tahun 118 H. Gelar beliau sangat banyak, di antaranya: Al-
Hafizh, Syekh Al-Islam, Fakhr Al-Mujahidin, pemimpin para ahli zuhud, dan masih
banyak gelar lainnya. Beliau habiskan usianya untuk melakukan safar dalam rangka
berhaji, berjihad, dan berdagang. Karena itu, beliau dikenal dengan “As-Saffar”
(orang yang rajin melakukan perjalanan).5

5
https://yufidia.com/abdullah-bin-al-mubarak/
D.Pendidikan
 Perjalanan intelektual
Adz-Dzahabi menuturkan, bahwa Ibnul Mubarak mulai menuntut ilmu sejak
umur 20 tahun di daerahnya, Marwa, dan kemudian, pada tahun 141 H.
melanjutkan perjalanannya ke wilayah lain dan berguru kepada
para tabi'in yang dijumpainya.[3] Seluruh hidupnya, selain dihabiskan untuk
menuntut ilmu, juga digunakan untuk berjihad, berniaga, menafkahkan
hartanya dan pergi haji.[3] Beberapa wilayah Islam yang pernah dikunjunginya
dalam rangka menuntut ilmu, antara lain: Yaman, Mesir, Syiria, Bashrah,
dan Kufah; dia juga meriwayatkan dari para para gurunya, baik yang sudah
senior maupun yang yunio.6

 Guru dan Murid


Abdullah ibnul Mubarak berguru kepada banyak ulama besar dan terkenal di
masanya, antara lain; dalam bidang ilmu hadits): berguru kepada Sulaiman At-
Taimi, Ashim Al-Ahwal, Hisyam bin Urwah, Ismail bin Abi Khalid, Musa bin
Uqbah, Al-Auza'i, Imam Malik, Sufyan Ats-Tsauri, dan lain-lain; dalam
bidang fikih berguru kepada Imam Abu Hanifah dan yang lain; dalam
bidang ilmu Qira'at berguru kepada Abu Amr bin Al-Ala', dan lain-
lain.[8] Sedangkan ulama-ulama besar yang pernah menjadi muridnya, antara
lain: Ma'mar, Ibnul Qaththan, Ibnu Ma'in, Ibnu Abi Syaibah, Ahmad bin
Mani', Muslim bin Ibrahim, Abdan, dan lain-lain7

 Pujian para ulama terhadap Abdullah bin Al Mubarak


Ada sebuah tanya jawab yang dilakukan 'Atha' bin Muslim dan 'Ubaid bin
Jannad Abu Said, yakni seperti ini yang diriwayatkan oleh Abu Nuaim al-
Ashbahani dlm "Hilyatul-Auliya' wa Thabaqatul-Ashfiya'" (8/162):[9]

6
(Arab) Muhammad bin Hibban Al-Busti (1991). Masyahiru Ulama’il Amshar. Ttp: Darul Wafa'., I, hal. 309.
7
ibid.
“ ‫س ِم ْعتُ أ َ َبا َيحْ َيى ُم َح َّمد ُ ْبنُ َع ْب ِد‬
َ :َ‫ قَال‬, َ‫ ثنا ُم َح َّمد ُ ْبنُ ِإ ْس َحاق‬, ِ‫َحدَّثَنَا ِإب َْراهِي ُم ْبنُ َع ْب ِد هللا‬
ُ ‫عبَ ْيد‬ُ ‫ " يَا‬:‫طا ُء ْبنُ ُم ْس ِل ٍم‬ َ ‫ قَا َل ِلي َع‬:َ‫ قَال‬, ‫س ِعي ٍد‬َ ‫عبَ ْيدَ بْنَ َجنَّا ٍد أَبُو‬
ُ ُ‫س ِم ْعت‬ َ :ُ‫ يَقُول‬, ‫الر ِح ِيم‬ َّ
ُ‫ َو ََل ت ََرى ِمثْلَه‬, ُ‫ َما َرأَيْتَ ِمثْلَه‬:َ‫ قَال‬, ‫ نَعَ ْم‬: ُ‫ قُ ْلت‬, ‫ار ِك‬
َ َ‫" َرأَيْتَ َع ْبدَ هللاِ بْنَ ْال ُمب‬ ”

“ Tlh menceritakan kepada kami Ibrahim bin Abdullah, telah menceritakan


kepada kami Muhammad bin Ishaq, dia berkata, "Saya mendengar Abu
Yahya bin Abdurrahim, dia berkata, "Saya mendengar 'Ubaid bin Jannad
Abu Sa'id, dia berkata, Atha' bin Muslim berkata kepadaku, 'Wahai 'Ubaid,
apa engkau ada melihat Abdullah ibnul Mubarak?' Saya menjawab, 'Ya.'
Dia berkata (lagi), 'Aku tidak melihat seseorangpun yang mirip seperti
dirinya, dan kaupun tak pernah melihat orang (sehebat) seperti dirinya.'"

Para ulama memberikan banyak pujian untuk beliau karena kemuliaan dan
ilmu beliau. Berikut ini beberapa pujian yang disampaikan para ulama untuk beliau:
1. Ibnu Mahdi mengatakan, “Pemimpin (agama) ada empat: Malik, Ats-Tsauri,
Hammad bin Zaid, dan Ibnul Mubarak.” Ibnu Mahdi lebih memuliakan beliau
daripada Ats-Tsauri.
2. Ahmad bin Hambal mengatakan, “Belum ada orang yang sezaman dengan beliau
yang lebih rajin dalam menuntut ilmu melebihi Ibnul Mubarak.”
3. Abbas bin Mus’ab mengatakan, “Abdullah bin Mubarak mengumpulkan ilmu
hadis, fikih, bahasa Arab, sejarah, keberanian, kedermawanan, dan kecintaan dari
semua kalangan.”
4. Hasan bin Isa bin Masirjis mengatakan, “Para murid Ibnul Mubarak berkumpul,
kemudian mengatakan, ‘Mari kita sebutkan kelebihan Ibnul Mubarak.’ Mereka
menyebutkan, ‘Dalam dirinya terkumpul ilmu, fikih, adab, nahwu, bahasa, sifat
zuhud, keberanian, syair, kefasihan dalam berbicara, kebiasaan rajin bertahajud,
kebiasaan rajib beribadah, haji, perang, kepiawaian dalam menunggang kuda, sifat
diam untuk hal yang tidak penting, keadilan, dan sifat jarang berselisih dengan
orang di sekitarnya.'”
5. Ibnu Ma`in mengatakan, “Beliau adalah ulama yang tsiqah dan kuat hafalannya.
Kitab yang pernah beliau sampaikan dalam menyampaikan hadis memuat 20.000
hadis.”
6. Yahya bin Adam mengatakan, “Jika saya mencari permasalahan yang terperinci
dan tidak saya temukan di kitab karya Ibnul Mubarak maka saya putus asa untuk
mencarinya.”
7. Syu’aib bin Harb mengatakan, “Andaikan saya mencurahkan seluruh
kemampuan saya selama tiga hari dalam setahun, untuk melakukan usaha
sebagaimana yang dilakukan Ibnul Mubarak, saya pasti tidak mampu.”
8. Dari Nu’aim bin Hammad, bahwa Ibnul Mubarak menceritakan bahwa ayahnya
pernah berpesan kepadanya, “Sungguh, jika aku menemukan kitabmu, akan aku
bakar!” Ibnul Mubarak mengatakan, “Tidak ada masalah bagiku. Semua sudah
tersimpan di dadaku.”
Masih banyak sederet pujian yang diberikan para ulama untuk beliau. Sampai,
ketika Imam Adz-Dzahabi menyebutkan biografi beliau, Adz-Dzahabi mengatakan,
“Demi Allah, saya mencintainya karena Allah. Saya mengharapkan kebaikan
dengan mencintainya, karena Allah telah memberikan kenikmatan kepadanya
berupa ketakwaan, sifat rajin beribadah, keikhlasan, jihad, ilmu yang luas, ketelitian
dalam ilmu, dan sifat-sifat terpuji lainnya.”Di antara bukti kedermawanan beliau
adalah beliau menginfakkan, kepada fakir miskin, 100.000 dirham (sekitar 2,8
milyar rupiah) setiap tahunnya.8

E. Karya-karya Abdullah bin Al-Mubarak


Abdullah ibnul Mubarak, terkenal pula dengan pribadi yang produktif; beberapa
karyanya berbagai bidang keilmuan, antara lain:
1. Tafsirul Qur'an;
2. As-Sunan fil Fiqh;
3. Kitabut Tarikh;
4. Kitabuz Zuhd;
5. Kitabul Birri wash Shilah;
6. Riqa'ul Fatawa;

8
https://yufidia.com/abdullah-bin-al-mubarak/
7. Ar-Raqa'iq'; dan,
8. Arba'in fil Hadits9

F. Kredibilitas Abdullah bin Al-Mubarak


Adz-Dzahabi rahimahullah mengisahkan dalam ensiklopedi beliau2 bahwa
apabila telah datang musim haji, maka sebagian kaum muslimin dari penduduk
Marwa datang menemuinya seraya menyatakan bahwa mereka ingin berhaji
bersama beliau. Mendengar hal itu, Ibnul Mubarak rahimahullah berkata, “Kalau
begitu, berikan uang yang kalian alokasikan untuk haji kepadaku.” Tentu orang
yang berhaji sudah mempersiapkan uang guna melakukan ibadah tersebut.
Kemudian beliau mengambil uang tersebut. Lalu beliau masukkan dalam sebuah
kotak lantas menguncinya. Selanjutnya beliau menyewakan kendaraan yang bisa
membawa mereka dari Marwa ke Baghdad. Sejak saat itu beliau senantiasa
memberikan makanan yang paling enak dan membawa mereka keluar dari kota
Baghdad dengan penampilan yang sangat indah nan berwibawa. Setibanya di kota
Madinah, maka setiap orang yang turut dalam rombongan ditanya oleh beliau,
“Barang apa yang menjadi pesanan keluargamu supaya engkau membelinya di kota
Madinah?” Masing-masing dari mereka menyebutkan sesuai dengan pesanan
keluarganya. Maka beliau berbelanja memenuhi semua pesanan dan kebutuhan
tersebut. Selanjutnya mereka bertolak ke kota Makkah dan setelah mereka
menunaikan ibadah haji, lagi-lagi beliau berkata, “Barang apa yang menjadi
pesanan keluargamu supaya engkau membelinya di kota Makkah?” Masing-masing
dari mereka menyebutkan sesuai dengan pesanan keluarganya. Maka beliau
berbelanja memenuhi semua pesanan dan kebutuhan tersebut. Kemudian mereka
kembali ke Marwa dan di sepanjang perjalanan beliau terus memenuhi kebutuhan
kepada mereka. Bahkan setibanya di Marwa, beliau merenovasi rumah-rumah
mereka. Tidak cukup sampai di situ, bahkan tiga hari setelah pelaksanaan haji
tersebut beliau mengundang mereka untuk makan bersama dan memberi pakaian
kepada mereka. Nah setelah mereka selesai makan dan merasa senang, Ibnul

9
Khairuddin Az-Zarkali (2002). Al-A'lam. ttp: Darul ‘Ilmi lil Malayin., IV, hal. 115.
Mubarak mengambil kotak tempat penyimpanan uang haji mereka lantas
dikembalikan kepada pemiliknya. Setiap kantong telah tertulis nama
pemiliknya. Allahu akbar, sebuah teladan yang sangat indah bagi orang-orang yang
berharta. Hendaknya mereka termotivasi untuk memberangkatkan dan membiayai
para fakir miskin dalam berbagai amal kebajikan, baik untuk berhaji, menuntut
ilmu, jihad, dan lain sebagainya.

Pembaca yang budiman, menyelami perjalanan hidup Abdullah bin


Mubarakrahimahullah sungguh akan memompa semangat kita untuk berhias
dengan keutamaan yang beliau miliki. Telah dipaparkan di atas bahwa beliau
merupakan salah satu ulama multitalenta yang Allah berikan keutamaan yang
sangat banyak. Namun tengoklah bagaimana kerendahan hati ulama sekaliber
beliau di hadapan ulama yang lain. Beliau sangat bersahaja di hadapan para ulama
terutama guru-guru beliau. Suatu saat, Ibnul Mubarak menghadiri majelis salah
seorang gurunya yang bernama Hammad bin Zaid, maka para pakar hadits berkata
kepada Hammad, “Mintalah Abu Abdirrahman (Ibnul Mubarak) supaya
meriwayatkan hadits kepada kami.” Sang guru berkata, “Wahai Abu Abdirrahman,
riwayatkanlah hadits kepada para hadirin. Sungguh mereka telah memohon
kepadaku supaya engkau melakukannya.” Maka dengan penuh kerendahan sang
murid mengatakan, “Subhanallah! Wahai Abu Ismail (kuniahHammad bin Zaid).
Bagaimana mungkin aku meriwayatkan hadits kepada mereka sementara Anda ada
di sini?” Mendengar jawaban tersebut, akhirnya Hammad bin Zaid berkata, “Aku
bersumpah kepadamu agar kamu melakukannya.” Sumpah inilah yang membuat
sang murid melaksanakan hal itu, maka Ibnul Mubarak berkata, “Ambillah oleh
kalian, telah meriwayatkan hadits kepada kami Abu Ismail Hammad bin Zaid.”
Sehingga tidak satu pun hadits yang beliau sampaikan melainkan pasti dari
gurunya, Hammad bin Zaidrahimahullah.”

Selain keilmuan dan kedermawanan Abdullah bin Al-Mubarak, beliau juga dikenal
sebagai pejuang sejati di medan tempur. Simak kisah berikut ini, dalam kitab Talbis
Iblis karya Ibnu Jauzi rahimahullah, dinukilkan sebuah kisah nyata yang dialami
oleh Abdah bin Sulaiman rahimahullah. Ia berkisah, “Kami pernah tergabung
dalam sebuah rombongan pasukan bersama Abdullah bin Mubarak ke negeri
Romawi. Saat itu kami bertemu dengan musuh dan ketika kedua pasukan sudah
saling berhadapan, tiba-tiba ada seorang lelaki dari pasukan musuh yang tampil ke
depan untuk mengajak perang tanding (satu lawan satu). Maka bangkitlah seorang
lelaki dari pasukan kami lalu menerjangnya, namun dalam sekejap sang musuh
mampu menusuk lalu membunuhnya. Lalu bangkitlah prajurit muslim berikutnya
namun ia pun terbunuh dan disusul oleh prajurit berikutnya namun ia juga terbunuh.
Demikianlah, tiga prajurit muslim meninggal secara beruntun di tangannya hingga
akhirnya majulah seorang laki-laki yang dengan sekali tebas mampu membunuh
prajurit Romawi tersebut. Serentak kaum muslimin pun berdesak-desakan
mengelilinginya dan aku termasuk di antara mereka. Namun anehnya laki-laki
tersebut segera menutup wajah dengan lengan bajunya, maka kupegang dan kutarik
ujung lengan bajunya. Ternyata dia adalah Abdullah bin Mubarak, ia pun berkata
kepadaku, ‘Dan engkau wahai Abu Amr (kuniah Abdah bin Sulaiman) hendak
berbuat jelek terhadapku?’ Abdullah bin Al-Mubarak memang dikenal sebagai
ulama sekaligus mujahid yang sangat bersahaja. Beliau sangat tidak ingin amal
kebaikannya diketahui oleh orang lain. Kisah di atas menjadi salah satu buktinya,
lihatlah bagaimana tawadhu’ Ibnul Mubarak di medan perang dan upaya beliau
dalam menjaga diri dari pujian manusia dan popularitas. Ini merupakan salah satu
tanda yang menunjukkan keikhlasan beliau dalam berjihad fi sabilillah. Meskipun
sering terlibat langsung dalam berbagai jihad melawan musuh-musuh Islam, namun
beliau meninggal di atas ranjang. Peristiwa ini terjadi sesuai peperangan melawan
pasukan Romawi pada bulan Ramadhan tahun 181 H. Semoga Allah merahmati
Abdullah bin Al-Mubarak dan membalas jasanya dengan balasan yang
terbaik. Allahu a’lam.10

10
Yakni Siyar A’lamin Nubala.
H. Madrasahnya

Qatadah bin Di’amah memiliki majlis atau madrasah. Disana banyak sekali para
muridnya belajar dan mengambil riwayat darinya. Banyak sekali para murid yang
mengambil riwayat dari Qatadah baik dari ilmu al-Quran khususnya tafsir dan juga
ilmu hadis, Ilmu bahasa dan Tarikh dimana hadis-hadisnya dikeluarkan oleh
kitabkitab primer seperti kutubu as-sittah, kitab-kitab sunan yang lain dan kitab-
kitab musnad. Berdasarkan penelitian penulis di kitab Tahdzību al-Kamal, murid
Qatadah yang mengambil riwayat darinya mencapai 70 rawi.11

Dari banyak murid tersebut terdapat beberapa muridnya terkenal dengan


ketsiqahan dan banyaknya riwayat darinya adalah Sa’id bin Abi Arubah, Hamam,

Komentar-komentar para Ulama Hadits tentang Murid-Murid Qatadah:

Yahya bin Ma’in menilai Sa’id adalah rawi paling kokoh pada periwayatan

Qatadah bin Di’amah. .‫أب عروبة أثبت الناس يف قتادة‬


‫سعيد بن ي‬

“Sa’id bin Abi Arubah adalah orang yang paling kokoh pada periwayatan
Qatadah”12

Selain Sa’id, terdapat juga Hammām dan Abi ‘Awanah yang juga diperhitungkan.
Ibnu Abi Khaitsamah mengatakan:

‫ همام يف قتادة أحب ي‬:‫معي يقول‬


‫ وهمام ثم‬،‫إل من أب عوانة‬ ‫يحي بن ى‬‫سمعت ى‬
‫أبو عوانة ثم ابان‬
.‫العطار‬

“Aku mendengar Yahya bin Ma’in berkata: Hammam pada periwayatan dari
Qatadah lebih aku sukai daripada Abu ‘Awanah. Setelah Hammam kemudian Abu
‘Awanah kemudian Aban al-‘Athar”13

Imam Ahmad mengatakan:

11
Kitab Tahdzību al-Kamāl. Imam al-Mizzi. Juz 23 hal. 504
12
Kitab Siyar A’lām an-Nubalā. Imam adz-Dzahabi. Juz 6 hal. 468 Cet: Darul Hadits. 1427H
13
Kitab al-Jarhu wa at-Ta’dīlu. Abu Hatim. Juz 9 hal. 109 Cet: Daru Ihyau at-Turats. Beirut.1271H
َ َ :َ َ ْ ُّ َ َ ُ َ َ َ
ْ ‫ان‬
‫يح ىي ا‬ ‫إليك؟ قال ك‬ ‫ أي هما أحب‬،‫بن يزيد َوه َّمام‬ ِ ‫أبان‬
ِ ‫عي ع ْن‬
ٍ
َ ُ َ ُ َ
‫وسئل ابن م ى‬
ٌ َّ ‫ َوأنا َه َّم ٌام َأح ُّب‬،‫إلي ِه‬ َ َ ْ ‫طان ي ْروي َع‬ُ َْ
‫ َوأبان‬،‫إل‬ ‫ي‬
َ ‫ان‬
ْ ‫أح َّب‬ ‫وك‬ ، ‫أبان‬
ٍ ‫ن‬ ‫لق‬
ٌ َ
.‫ثقة‬

“Yahya bin Ma’in ditanya tentang Aban dan Hammam, mana dari keduanya yang
paling disuka? Yahya menjawab: Yahya bin al-Qaththan meriwayatkan dari Aban.
Dan Aban paling ia sukai. Adapun yang paling aku suka adalah Hammam. Aban
rawi tsiqah”14
Kemudian Imam Ahmad pun berkomentar tentang murid-murid Qatadah:
ً
‫يعي حديثهما ألنه يكون‬
‫أعجبي ذلك ي‬
‫ي‬ ‫إذا خالف أبو عوانة وأبان العطار سعيدا‬
.‫مما قد حفظناه‬
“Apabila Abu ‘Awanah dan Aban menyelisihi riwayat Sa’id bin Abi Arubah,
sungguh aku kaget dengan hadits keduanya, karena ia (sa’id) adalah termasuk
salah satu yang kami hafal (hadis-hadisnya)15

Muridnya Qatadah yaitu Abu ‘Awanah pun mengakui kehebatan Sa’id dalam
hafalannya. Ia berkata:

ً
،‫ ثم نسيت بعد‬،‫ وحفظت‬،‫ فسمعت منه‬،‫عي شيئا‬ ‫ ال تكتب ي‬:‫كان قتادة يقول يل‬
.‫ أو نحو هذا‬،‫ فجعل يحدث عن قتادة بما أعرف‬،‫فجلست إل سعيد‬
“adalah Qatadah pernah berkata kepada aku: “Janganlah kamu tulis sedikitpun
dariku”. Maka aku (hanya) mendengar darinya dan aku hafal kemudian aku lupa
setelahnya. Maka aku (disaat) duduk dengan Sa’id, ia menceritakan hadis dari
Qatadah dari apa (yang pernah) aku tahu. Atau seperti itu”16

Antara Sa’id bin Aby Arubah, Hammam, Syu’bah dan Hisyam ad-Dustuwani,
Imam Ahmad pernah ditanya:

‫ أيما أحب إليك يف حديث‬:‫ قلت‬،‫ سألت أبا عبد هللا‬:‫وقال إسحاق بن هابء‬
:‫الدستواب؟ فسمعته يقول‬
‫ي‬ ‫ أو )همام( أو )شعبة( أو‬،‫أب عروبة‬
‫قتادة؟ سعيد بن ي‬

14
Kitab Tarikh al-Islam. Imam adz-Dzahabi. Juz 4 hal. 533 Cet: Darul Gharb al-Islami. 2003M
15
Kitab al-Jāmi Li’Ulūmi al-Imam Ahmad. Khalid ar-Ribat. Cet: Darul Falah. 1413H
16
Kitab al-Jāmi Li’Ulūmi al-Imam Ahmad. Khalid ar-Ribat. Juz 17 hal. 142 Cet: Darul Falah. 1413H
‫ ثم‬،‫ سعيد عندي يف الصدق مثل قتادة وشعبة ثبت‬:‫قال عبد الرحمن بن مهدي‬
ً
. ‫والدستواب أيضا‬
‫ي‬ :‫والدستواب؟ قال‬
‫ي‬ :‫ قلت‬.‫همام‬

“Ishaq bin Hani berkata: Aku bertanya kepada Abi Abdillah (Ahmad bin Hanbal).
Aku katakan: “siapa yang paling engkau sukai periwayatan dari Qatadah? Sa’id
bin Abi ‘Arubah, atau Hammam, atau Syu’bah atau Ad-Dustuwāni?” maka aku
mendengar ia berkata: “ibnu Mahdi berkata bahwa Sa’id menurutku rawi shidiq
seperti Qatadah. Dan Syu’bah tsabtun, kemudian Hammam”. Aku katakan: dan
ad-
Dustuwāni?. Ia berkata: ad-Dustuwāni juga sama”17

Yahya bin Ma’in juga pernah ditanya tentang Hisyam ad-Dustuwāni dan Syu’bah
mana yang paling bagus dari periwayatan keduanya dari Qatadah. Utsman bin
Sa’id berkata: . :‫قال‬.‫ شعبة أحب إليك يف قتادة أو هشام؟‬:‫معي‬
‫ليحي بن ى‬
‫قلت ى‬
‫كالهما‬
“Aku katakan kepada Yahya bin Ma’in: Syu’bah paling engkau suka pada
periwayatan Qatadah ataukah Hisyam?. Ia menjawab: keduanya.18

Imam al-Bardiji berkata:

‫ فإذا‬،‫ عن قتادة عن أنس صحيح‬،‫أب عروبة‬


‫الدستواب وسعيد بن ي‬
‫ي‬ ‫شعبة وهشام‬
ً
‫ وخالفه‬،‫ عن أنس مرفوعا‬،‫ عن قتادة‬،‫أب عروبة‬
‫ورد عليك حديث لسعيد بن ي‬
‫ وإذا روى حماد بن سلمة وهمام‬،‫هشام وشعبة حكم لشعبة وهشام عىل سعيد‬
‫الني صىل هللا عليه وسلم‬
‫وأبان ونحوهم من الشيوخ عن قتادة )عن أنس( عن ي‬
‫ وشعبة عىل‬،‫ فإن القول قول )هشام( وسعيد‬،‫وخالف سعيد أو هشام أو شعبة‬
،‫ فإذا اتفق هؤالء األولون )وهم همام وأبان وحماد( عىل حديث مرفوع‬،‫االنفراد‬
‫ توقف‬،‫ أو سعيد وحده‬،‫ أو شعبة أو هشام وحده‬،‫وخالفهم شعبة وهشام وسعيد‬
‫ ألن هؤالء الثالثة‬،‫عن الحديث‬
‫ وهشام( أثبت من همام‬،‫ وسعيد‬،‫)شعبة‬
.‫وأبان وحماد‬

17
Kitab Mausu’ah Aqwāl al-Imam Ahmad bin Hanbal. Sayyid Abu al-Ma’āthi, Ahmad Abdurrazzaq.
Mahmud Muhammad Khalil. Juz 2 hal. 43 Cet: ‘Alimul Kutub. 1417H
18
Kitab Tarikh Ibnu Ma’in. Yahya bin Main. Juz 1 hal. 51 Cet: Darul Ma’mūn Lit-Turāts. Damaskus.
“Syu’bah dan Hisyam dan Sa’id bin Abi Arubah dari Qatadah dari Anas r.a adalah
Shahih. Maka apabila datang kepadamu hadits Sa’id bin Abi Arubah dari Qatadah
dari Anas r.a dengan sanad marfu’ kemdian Hisyam dan Syu’bah menyelisihinya,
maka yang dipakai adalah Syu’bah dan Hisyam. Dan apabila Hammad dan
Hammam dan Aban dan yang lainnya meriwayatkan dari Qatdah dari Anas r.a
dari
Nabi saw, kemudian Sa’id atau Hisyam atau Syu’bah menyelisihinya maka
perkataan (yang diambil) adalah perkataan Hisyam dan Sa’id dan Syu’bah. Dan
apabila mereka sepakat (yaitu Hammam, Sa’id dan Hamad) para periwayatan
marfu’ kemdian Syu’bah atau Hisyam atau Sya’id menyelisinya sendirian maka
haditsnya tawaqquf, sebab mereka rawi yang tiga (syu’bah, Sa’id dan Hisyam)
adalah rawi paling kokoh daripada Hammam, Aban dan Hammad”19

Dari seluruh komentar diatas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa


muridmurid Qatadah yang paling hafidz dan tsiqah ada tiga yaitu:

1. Sa’id bin Aby Arubah al-Bashari (156H)


2. Syu’bah bin al-Hajjāj al-‘Atakī al-Wasithi al-Bashari (160H)
3. Hisyam bin Aby ‘Abdillah ad-Dustuwāni al-Bashari (154H)

Adapun setelahnya adalah:

4. Hammad bin Salamah bin Dinar al-Bashari.


5. Hammam bin Yahya bin Dinar al-Bashari.
6. Aban bin Yazid al-Bashari.

Rawi-rawi yang 6 diatas Nampak jelas mereka bermukin di kota Bashrah dimana
Qatadah meriwayatkan di Madrasahnya.

Dari pendapat para Imam di atas menunjukkan Sa’id adalah murid nomor satu bagi
Qatadah dan setelahnya Syu’bah dan Hisyam. Namun apabila Sa’id bersendirian
meriwayatkan hadits dari Qatadah dan dua orang rawi lain yaitu Syu’bah dan
Hisyam menyelisihinya maka sanad Syu’bah dan Hisyam lah yang diunggulkan.

Adapun apabila para murid yang lain (rawi dibawahnya yaitu Hammad, Hammam
dan Aban) apabila salah satu meriwayatkan suatu hadis yang menyelisihi salah satu
rawi-rawi hafidz (yaitu Sa’id, Syu’bah dan Hisyam) maka jalur yang diunggulkan

19
Kitab Syarhu ‘Ilal at-Tirmidzi. Ibnu Rajab. Juz 2 hal. 137. Cet: Maktabah ar-Rusyd. 1421H
Nampak jelas yaitu rawi hafidz. Namun apabila rawi-rawi lain itu (hammad,
hammam dan Aban) sepakat dalam meriwayatkan hadis kemudian salah satu rawi
hāfidz menyelisihi mereka, maka sebagian para ulama tawaqquf.

Imam al-Bardiji menyelisihi pendapat Yahya bin Ma’in. beliau lebih


mengunggulkan Syu’bah dalam riwayatnya dari Qatadah daripada Sa’id bin Aby

‘Arubah. Beliau berkata: .‫أصح الناس رواية عن قتادة شعبة‬


“rawi paling shahih dari Qatadah adalah Syu’bah”20

Di lain tempat Imam al-Bardiji juga mengatakan:

‫الني صىل هللا عليه وسلم كلها‬ ‫ عن أنس عن ي‬،‫ عن قتادة‬،‫)أحاديث( شعبة‬
‫ إذا اتفق هؤالء الثالثة‬،‫الدستواب‬
‫ي‬ ‫ وهشام‬،‫أب عروبة‬
‫ وكذلك سعيد بن ي‬،‫صحاح‬
‫ فإن القول فيه قول‬،‫عىل الحديث فهو صحيح وإذا اختلفوا يف حديث واحد‬
‫ وإذا انفرد واحد من‬،‫ فإذا اختلف الثالثة توقف عن الحديث‬،‫رجلي من الثالثة‬
‫ى‬
‫ فإن كان ال يعرف من الحديث إال من طريق الذي‬:‫الثالثة يف حديث نظر فيه‬
ً
.‫رواه كان منكرا‬
“(hadis-hadis Syu’bah dari Qatadah dari Anas r.a dari Nabi saw. semuanya
adalah shahih. Begitu juga (hadis) Sa’īd bin Aby ‘Arubah dan Hisyam apabila
mereka sepakat maka shahih. Dan apabila ada perselisihan pada salah satu hadis,
maka pendapat yang diambil adalah pendapat dua rawi dari tiga rawi tersebut.
Dan apabila ketiga nya terjadi perselisihan maka tawaquf dari hadisnya. Dan
apabila salah satu dari tiga tersebut menyendiri dalam hadis, maka perlu diteliti,
apabila tidak diketahui ada hadis lain kecuali hadis dari satu orang itu
diriwayatkan maka hadisnya munkar”21

Tentang perbincangan Madrasah Qatadah ini, Imam Ahmad juga ikut berkomentar:

‫ كان سعيد‬،‫ إال أن شعبة لم يبلغ علم هؤالء‬،‫أصحاب قتادة شعبة وسعيد وهشام‬
.‫شء‬‫يكتب كل ي‬
“Shahabat Qatadah adalah Syu’bah, Sa’id dan Hisyam. Hanya saja Syu’bah tidak
mencapai ilmu mereka. Adalah Sa’id selalu menulis (riwayat Qatadah)”22

20
Kitab Syarhu ‘Ilal at-Tirmidzi. Ibnu Rajab. Juz 2 hal. 138. Cet: Maktabah ar-Rusyd. 1421H
21
Kitab Syarhu ‘Ilal at-Tirmidzi. Ibnu Rajab. Juz 2 hal. 139. Cet: Maktabah ar-Rusyd. 1421H
22
Kitab Bahru Dammi Fieman Tukullima Fiehi al-Imam Ahmad. Juz 1 hal. 74 Cet: Darul Kutub al‘Ilmiyyah. Beirut Libanon.
1413H
Imam al-Bardiji bersendirian dalam mengunggulkan Syu’bah daripada Sa’id,
disaat Yahya bin Ma’in dan Ahmad lebih mengunggulkan Sa’id bin Aby ‘Arubah.

Terdapat komentar dari Imam Muslim tentang murid Qatadah yang bernama
Hammad bin Salamah:

Imam Muslim telah menyebut dalam kitabnya Tamyīz bahwa Hammad bin
Salamah pada periwayatan dari Qatadah banyak salah. . ‫وذكر مسلم يف كتاب‬
ً
‫كثيا‬
‫التميي أن حماد بن سلمة عندهم يخىطء يف حديث قتادة ى‬
‫ى‬

Murid-murid Qatadah Yang Lain:

Imam ad-Daraquthni menyebut murid lain dari Qatadah yaitu Ma’mar. Ma’mar
dari Qatadah menurut Imam ad-Daraquthni jelek hafalannya. . ‫الدارقطي‬
‫ي‬ ‫وقال‬
‫ معمر ى‬:‫يف العلل‬
‫سيء )الحفظ( )الحديث( قتادة واألعمش‬

Selain Imam ad-Daraquthni, juga terdapat Yahya bin Ma’in yang menilai bahwa
Ma’mar khusus periwayatannya dari Qatadah adalah dla’if sebab periwayatan
Ma’mar dari Qatadah didapat disaat Ma’mar masih kecil. Ibnu Abi Khatsamah
berkata:

‫ فلم‬،‫صغي‬
‫ى‬ ‫ جلست إل قتادة وأنا‬:‫ قال معمر‬: (‫معي )يقول‬
‫يحي بن ى‬
‫سمعت ى‬
‫أحفظ عنه‬
.(‫)األسانيد‬
“Aku mendengar Yahya bin Ma’in berkata: Ma’mar pernah berkata: “Aku duduk
(belajar) dengan Qatadah disaat aku masih kecil, dan aku belum hafal sanad-
sanad darinya”

Selain Ma’mar, rawi-rawi lain yang termasuk murid-muridnya Qatadah dibawah


kelas tsiqah adalah ‘Amr bin al-Hārits dan Jarir bin Hazim. Kedua rawi ini
periwayatan dari Qatadah dinilai oleh Imam Ahmad membawa riwayat-riwayat
munkar dan Waham. Imam ahmad berkata: ، ‫عمرو بن الحارث روى عن قتادة‬
‫)مناكي‬
‫ى‬
“Amar bin al-Harits meriwayatkan dari Qatadah terdapat kemungkaran"
Adapun Jarir telah disebut juga oleh Imam Ahmad: ) ‫كان يحدث بالتوهم أشياء‬
‫عن قتادة )يسندها بواطيل‬
“Adalah ia (Jarir) meriwayatkan macam-macam (hadits) dalam keadaan Waham
dari Qatadah dengan sanad bathil”

Al-Atsram
.(‫ حديثه عن قتادة مضطرب‬:‫قال األثرم‬berkata:
“Haditsnya (Jarir) dari Qatadah mudltharib”

Dengan melihat beberapa komentar para Ahli Hadits di atas dapat penulis
simpulkan beberapa murid Qatadah yang lain selain dari ke 6 rawi yang telah
dikutip adalah:

1. Ma’mar bin Rasyid al-Bashari


2. ‘Amr bin al-Hārits al-Mishri
3. Jarir bin Hazim al-Bashari

Metode Periwayatan Qatadah terhadap Murid-muridnya yang Dikeluarkan


oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim

Berikut bentuk tahammul wal adā ketiga rawi level pertama dari Qatadah yang
dikeluarkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitabnya shahihnya:

1. Sa’id bin Aby Arubah al-Bashari (156H)


a. Haddatsana
Al-Bukhari 4 Riwayat
Imam Muslim 3
b. ‘An
Al-Bukhari 45 riwayat
Muslim 40 riwayat

2. Syu’bah bin al-Hajjāj al-‘Atakī al-Wasithi al-Bashari (160H)


a. Haddatsana
Al-Bukhari 8 Riwayat
Imam Muslim 2
b. Akhbarana
Al-Bukhari 1 Riwayat
c. ‘An
Al-Bukhari 67 riwayat
Muslim 66 riwayat
d. Sami’tu
Al-Bukhari 17 Riwayat
Imam Muslim 32 Riwayat

3. Hisyam bin Aby ‘Abdillah ad-Dustuwāni al-Bashari (154H)


a. Haddatsana
Al-Bukhari 12 Riwayat
Imam Muslim 2
b. ‘An
Al-Bukhari 10 riwayat
Muslim 8 riwayat

Dari apa yang telah kami cari di kitab shahih al-Bukhari dan Kitab Muslim di atas
nampak bahwa Syu’bah lebih banyak dipakai periwayatannya oleh Imam
alBukhari dan Imam Muslim.
PENUTUP

Alhamdulillah atas berkat inayah dan iradah-Nya makalah ini telah kami
selesaikan dengan segala keterbatasannya. Kami menyadari masih banyak
kekurangan-kekurangan yang perlu kami perbaiki dan perlu kami tambah.

Mudah-mudahan dapat menjadi bahan ilmu bagi para pembaca dan


khususnya dapat menjadi tambahan ilmu bagi penulis untuk terus memperbaiki
segala kekurangan yang ada. Aamiin.

Dadi Herdiansah

NIM: 2170080013
DAFTAR PUSTAKA

Kitab al-Bāb Fie Tahdzībi al-Asmā.

Kitab al-Jāmi Li’Ulūmi al-Imam Ahmad. Khalid ar-Ribat. Cet: Darul Falah. 1413H

Kitab al-Jarhu wa at-Ta’dīlu. Abu Hatim. Cet: Daru Ihyau at-Turats.


Beirut.1271H

Kitab al-Jarhu wa at-Ta’dīlu. Imam Abu Hatim. Cet: Dairatu al-Ma’ārif. 1271H

Kitab al-Ma’arif. Ibnu Qutaibah. Cet. Al-Haiatu al-Mishriyyah. 1992M

Kitab at-Ta’dīl wa at-Takhrīj. Abu al-Walid. Cet. Daru al-Liwā. Al-Riyadl. 1406H

Kitab at-Tārikh al-Kabīr. Imam al-Bukhari. Cet: Dāiratu al-Ma’ārif


al‘Utsmāniyyah.

Kitab at-Thabaqāt.

Kitab Bahru Dammi Fieman Tukullima Fiehi al-Imam Ahmad. Cet: Darul Kutub
al-‘Ilmiyyah. Beirut Libanon. 1413H

Kitab Dirāsat Tārikhiyyah Fie Rijal al-Hadīs.

Kitab Duwalu al-Islām. Imam adz-Dzahabi.


Kitab Masyahir ‘Ulamāu al-Amshār.

Kitab Mausu’ah Aqwāl al-Imam Ahmad bin Hanbal. Sayyid Abu al-Ma’āthi,
Ahmad Abdurrazzaq. Mahmud Muhammad Khalil. Juz 2 hal. 43 Cet:
‘Alimul Kutub. 1417H

Kitab Mirātu al-Janān wa ‘Ibratu al-Yaqdzān. Abu Muhammad ‘Afif. Juz 1 hal.
148 Darul Kutub al-‘Ilmiyyah. Libanon 1417
Kitab Musnad Ahmad. Imam Ahmad Cet. Muassasatu ar-Risalah 1999 M

Kitab Siyar A’lām an-Nubalā. Imam adz-Dzahabi. Juz 6 hal. 468 Cet: Darul Hadits.
1427H

Kitab Syaraf Ashhābu al-Hadīts Lil-Khatīb al-Baghdādi.

Kitab Syarhu ‘Ilal at-Tirmidzi. Ibnu Rajab. Juz 2 hal. 137. Cet: Maktabah arRusyd.
1421H

Kitab Tahdzību al-Asmāi al-Lughāth. Juz 2 hal. 57

Kitab Tahdzību al-Kamāl. Imam al-Mizzi. Cet: Muassasatu ar-Risalah. 11413H

Kitab Tarikh al-Islam. Imam adz-Dzahabi. Juz 4 hal. 533 Cet: Darul Gharb
alIslami. 2003M

Kitab Tarikh Ibnu Ma’in. Yahya bin Main. Juz 1 hal. 51 Cet: Darul Ma’mūn
LitTurāts. Damaskus.