Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PENDAHULUAN

A. Konsep Dasar Penyakit


1. Pengertian Tuberkulosis Paru
Tuberkolosis atau TB adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang
parenkim paru. Tuberkulosis paru adalah salah satu penyakit menular yang
disebabkan oleh basil Mycobacterium Tuberculosis yang merupakan salah
satu penyakit saluran pernafasan bagian bawah yang sebagian besar basil
tuberkulosis masuk ke dalam jaringan paru melalui airbone infection (Wijaya
& Putri, 2017 p.137).
Sedangkan menurut Smeltzer & Bare (2014 P.525), tuberkulosis (TB)
adalah penyakit menular yang paling sering mengenai parenkim paru,
biasanya disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. TB dapat menyebar
hamper ke setiap bagian tubh, termasuk meninges, ginjal, tulang, dan nodus
limfe.
Dari kedua pengertian tuberkulosis yang sudah disebutkan sebelumnya
dapat disimpulkan pengertian tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang
disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang menyerang parenkim paru.
2. Etiologi
Menurut Setiati (2010 p.2232) Mycobacterium tuberculosis, sejenis
kuman berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4um dan tebal 0,3-0,6/um.
Sebagian dinding kuman terdiri atas asam lemak (lipid), kemudian
peptidoglikan dan arabinomannan. Lipid inilah yang membuat kuman lebih
tahan terhadap asam (asam alkohol) sehingga disebut bakteri tahan asam
(BTA). Kuman dapat tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan
dingin (dapat tahan bertahun-tahun dalam lemari es). Hal ini terjadi karena
kuman berada dalam sifat dormant. Dari sifat dormant ini kuman dapat
bangkit kembali dan menjadikan penyakit tuberkulosis menjadi aktif lagi.
Sifat lain kuman ini adalah aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih
menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. Dalam hal ini
tekanan oksigen pada bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit
tuberkulosis.
3. Patofisiologi
Ketika seorang klien TB paru batuk, bersin, atau berbicara, maka
secara tak sengaja keluarlah droplet nuklei dan jatuh ke tanah, lantai atau
tempat lainnya. Akibat terkena sinar matahari atau suhu udara yang panas,
droplet nuklei tadi menguap. Menguapnya droplet bakteri ke udara dibantu
dengan pergerakan angin akan membuat bakteri tuberkulosis yang terkandung
dalam droplet nuklei terbang ke udara (Muttaqin 2008). Infeksi diawali
karena seseorang menghirup basil Mycobacterium tuberkulosis. Bakteri
menyebar melalui jalan napas menuju alveoli lalu berkembang biak dan
terlihat bertumpuk (Somantri,2009).
Sistem imun tubuh berespon dengan melakukan reaksi inflamasi.
Fagosit (neutrofil dan makrofag) menelan banyak bakteri, limfosit spesifik-
tuberkolosis melisis (menghancurkan) basil dan jaringan normal. Reaksi
jaringan ini mengakibatkan penumpukan eksudat dalam alveoli, menyebabkan
bronkopneumonia. Infeksi awal biasanya terjadi 2 sampai 10 minggu setelah
pemajanan (Setiati, 2014).
Jika pertahanan tubuh (inang) kuat, maka infeksi primer tidak
berkembang lebih jauh dan bakteri tuberkolosis tidak dapat berkembang biak
lebih lanjut dan menjadi dorman atau tidur. Ketika suatu saat kondisi inang
melemah akibat sakit lama/keras atau memakai obat yang melemahkan daya
tahan tubuh terlalu lama, maka bakteri tuberkolsis yang dorman dapat aktif
kembali. Inilah yang disebut reaktivasi infeksi primer atau infeksi pasca-
primer. Infeksi ini dapat terjadi bertahun-tahun setelah infeksi primer terjadi.
Biasanya organ paru tempat timbulnya infeksi pasca-primer terutama berada
di daerah apeks paru (Muttaqin, 2008).
Dahak manusia adalah sumber infeksi yang paling penting. Ketika
batuk, berbicara dan meludah maka akan memproduksi dahak yang sangat
kecil berisikan bakteri TB yang akan melayang-layang diudara. Kuman ini
dengan mudah akan terhirup napas dan menyebabkan orang sehat tertular
penyakit TB paru karena ketidaktahuannya dalam pencegahan penularan
(Crofton,2002).
4. Klasifikasi
Klasifikasi Tuberkulosis paru menurut Arif Muttaqin (2008) terbagi menjadi 2
diantaranya :
a. Tuberkulosis Primer
Tuberkulosis primer merupakan infeksi bakteri TB dari penderita yang
belum mempunyai reaksi spesifik terhadap bakteri TB. Bila bakteri TB
terhirup dari udara melalui saluran pernapasan dan mencapai alveoli atau
terminal saluran pernapasan, maka bakteri akan ditangkap dan
dihancurkan oleh makrofag yang berada di alveoli. Jika bakteri ditangkap
oleh makrofag yang lemah , maka bakteri akan berkembang biak dalam
tubuh makrofag yang lemah dan menghancurkan makrofag.
b. Tuberkulosis Sekunder
Tuberkulosis sekunder terjadi setelah terjadi resolusi dari infeksi primer,
sejumlah kecil bakteri TB masih hidup di jaringan parut. Reaktivitasi
penyakit TB (TB pasca primer/TB pasca sekunder) terjadi bila daya tahan
tubuh menurun, alkoholisme, keganasan, silikosis, diabetes mellitus, dan
AIDS.
5. Manifestasi Klinis
Menurut Setiati (2010) keluhan yang dirasakan paien tuberkulosis dapat
bermacam-macam dalam pemeriksaan kesehatan. Keluhan yang terbanyak
adalah :
a. Demam
Serangan demam pertama dapat sembuh sebentar, tetapi kemudian dapat
timbul kembali. Begitulah seterusnya hilang timbulnya demam influenza
ini, sehingga klien merasa tidak pernah terbebas dari sengan demam
influenza. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh klien dan
berat ringannya infeksi kuman tuberculosis yang masuk.
b. Batuk / Batuk Darah
Gejala ini banyak ditemukan. Batuk terjadi karena adanya iritasi pada
bronkus. Batuk ini diperlukan untuk membuang produk-produk radang
keluar. Sifat batuk dimulai dari batuk kering (non-produktif) kemudian
setelah timbul peradangan menjadi produktif (menghasilkan sputum).
Keadaan yang lanjut adalah berupa batuk darah karena terdapat pembuluh
darah yang pecah. Kebanyakan batuk darah pada tuberkolosis terjadi pada
kavitas, tetapi dapat juga terjadi pada ulkus dinding bronkus.
c. Sesak napas
Pada penyakit yang ringan (baru tumbuh) belum dirasakan sesak
napas. Sesak napas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut, yang
infiltrasinya sudah meliputi setengah bagian paru-paru.
d. Nyeri dada
Gejala ini timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura
sehingga menimbulkan pleuritis. Terjadi gesekan kedua pleura sewaktu
pasien menarik/melepaskan napasnya.
e. Malaise
Gejala malaise sering ditemukan berupa anoreksia tidak ada nafsu
makan, badan makin kurus (berat badan turun), sakit kepala, meriang,
nyeri otot, keringat malam dll. Gejala malaise ini makin lama makin berat
dan terjadi hilan timbul secara tidak teratur.
6. Komplikasi
Penyakit tuberkulosis paru bila tidak ditangani dengan benar akan
menimbulkan komplikasi. Komplikasi dibagi menjadi komplikasi dini dan
komplikasi lanjut :
a. Komplikasi dini : pleuritis, efusi pleura, empisema, laryngitis, usus,
Poncet’s arthropathy.
b. Komplikasi lanjut : obstruksi jalan napas-> SOPT (Sindrom Obstruksi
Pasca Tuberkulosis), kerusakan parenkim berat-> fibrosis paru, kor
pulmonal, amiloidosis, karsinoma paru, sindrom gagal napas dewasa
(ARDS), sering terjadi pada TB milier dan kavitas TB.
7. Penatalaksanaan
Zain dalam Ardiansyah (2012, p.309) menyatakan penatalaksanaan
Tubeculosis paru dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
a. Pencegahan Tuberculosis Paru
1) Pemeriksaan kontak diberikan terhadap individu yang bergaul erat
dengan penderita TB paru BTA positif.
2) Mass chest X-ray, yaitu pemeriksaaan masal terhadap kelompok-
kelompok populasi tertentu.
3) Vaksinasi BCG (Bacillus Calmatte-Guerin) diberikan pada bayi baru
lahir sampai usia 3 bulan.
4) Kemoprokfilaksis mencakup penggunaan INH (Isoniazid) 5 mg/kg
BB selama 6-12 bulan untuk menghancurkan atau mengurangi
populasi bakteri yang masih sedikit.
5) Komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) tentang penyakit
Tuberculosis paru kepada masyarakat di tingkat puskesmas maupun
rumah sakit.
b. Pengobatan Tuberculosis Paru
Menurut Wijaya dan Putri (2017, p.140) tujuan pengobatan pada
penderita yaitu untuk mengobati, mencegah kematian, kekambuhan,
resistensi kuman terhadap OAT (Obat Anti Tuberculosis), serta
memutuskan mata rantai penularan. Obat-obatan yang diberikan antara
lain:
1) Isoniazid (INH) sebagai bakterisidial terhadap basil yang tumbuh
aktif. Obat ini diberikan selama 18-24 bulan dengan dosis 10-20
mg/kg BB/hari melalui oral.
2) Kombinasi antara NH, rifampicin, dan pyrazinamid yang
diberikan selama 6 bulan. Obat tambahan, seperti Streptomycin
dan Ethambutol.
B. Konsep Keluarga
1. Pengertian Keluarga
Keluarga merupakan sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan
perkawinan, adopsi, dan kelahiran yang bertujuan untuk meningkatkan dan
mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan perkembangan fisik,
mental, emosional, dan sosial dari setiap anggota (Duvall dalam Bakri, 2017,
p.10)
Bailon & Maglaya mendefinisikan sebagai kumpulan dua orang atau
lebih yang bergabung karena hubungan darah, perkawinan, atau adopsi, yang
hidup dalam satu rumah tangga, saling berinteraksi satu sama lainnya dalam
perannya, serta menciptakan dan mempertahankan suatu budaya (Bakri,
2017, p.10).
Berdasarkan uraian pendapat beberapa ahli di atas, penulis
menyimpulkan keluarga merupakan kelompok orang yang saling terikat
perkawinan untuk mempertahankan suatu budaya.
2. Struktur keluarga
Struktur keluarga menggambarkan bagaimana keluarga melaksanakan
fungsi keluarga di masyarakat. Menurut Padilla (2015) ada beberapa struktur
keluarga yang ada di Indonesia, antara lain :
a. Patrilineal, keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah
dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur
ayah.
b. Matrilineal, keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara dalam
beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur ibu.
c. Matrilokal, sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah
ibu.
d. Patrilokal,sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah
ayah.
e. Keluarga kawin, hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan
keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga
karena adanya hubungan dengan suami istri.
3. Ciri-ciri struktur keluarga
Menurut Padilla (2015) ciri-ciri keluarga sebagai berikut :
a. Terorganisasi : saling berhubungan, saling ketergantungan antara anggota
keluarga.
b. Ada keterbatasan : setiap anggota memiliki kebebasan, tetapi mereka
juga mempunyai keterbatasan dalam menjalankan fungsi dan tugasnya
masing-masing.
c. Ada perbedaan dan kekhususan : setiap anggota keluarga mempunyai
peranan dan fungsinya masing-masing.
4. Tipe Keluarga
Menurut Kholifah & Widagdo (2016, p.34-35) berbagai tipe keluarga
yang perlu diketahui adalah sebagai berikut:
a. Tipe Keluarga tradisional
1) The Nuclear family (keluarga inti), yaitu keluarga yang terdiri atas
suami, istri, dan anak, baik anak kandung maupun anak angkat.
2) The dyad family (keluarga dyad), suatu rumah tangga yang terdiri
atas suami dan istri tanpa anak. Keluarga ini mungkin belum
mempunyai anak atau tidak mempunyai anak.
3) Single parent, terdiri atas satu orang tua dengan anak (kandung atau
angkat). Kondisi ini dapat disebabkan oleh perceraian atau kematian.
4) Single adult, yaitu suatu rumah tangga yang terdiri atas satu orang
dewasa. Tipe ini dapat terjadi pada seorang dewasa yang tidak
menikah atau tidak mempunyai suami.
5) Extended family, terdiri atas keluarga inti ditambah keluarga lain,
seperti paman, bibi, kakek, nenek, dan sebagainya. Tipe ini banyak
dianut oleh keluarga Indonesia terutama daerah pedesaan.
6) Middle-aged or elderly couple, orang tua yang tinggal sendiri di
rumah (baik suami/istri atau keduanya), karena anak-anaknya sudah
membangun karir sendiri atau sudah menikah.
7) Kin-network family, beberapa keluarga yang tinggal bersama atau
saling berdekatan dan menggunakan barang-barang pelayanan, seperti
dapur dan kamar mandi yang sama.
b. Tipe Keluarga Nontradisional
1) Unmarried parent and child family, yaitu terdiri atas orang tua dan
anak dari hubungan tanpa nikah.
2) Cohabitating couple, orang dewasa yang hidup bersama di luar
ikatan perkawinan karena beberapa alasan tertentu.
3) Gay and lesbian family, seorang yang mempunyai persamaan jenis
kelamin tinggal dalam satu rumah sebagaimana pasangan suami istri.
4) The nonmarital heterosexual cohabiting family, keluarga yang hidup
bersama berganti-ganti pasangan tanpa melalui pernikahan.
5) Foster family, keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan
keluarga/saudara dalam waktu sementara, pada saat orang tua anak
tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk menyatukan kembali
keluarga yang aslinya.
5. Fungsi keluarga
Berkaitan dengan fungsi keluarga menurut Friedman dalam Padilla (2015)
mengidentifikasikan lima fungsi dasar keluarga, yaitu :
a. Fungsi afektif
Fungsi afektif berhubungan dengan fungsi internal keluarga yang
merupakan basis kekuatan dari keluarga. Fungsi afektif berguna untuk
pemenuhan kebutuhan psikososial. Keberhasilan fungsi afektif tampak
melalui keluarga yang bahagia. Anggota keluarga mengembangkan konsep
diri yang positif, rasa dimiliki dan memiliki, rasa berarti serta merupakan
sumber kasih sayang. Reinforcement dan support dipelajari dan
dikembangkan melalui interaksi dalam keluarga.
Fungsi afektif merupakan sumber energi yang menentukan
kebahagiaan keluarga. Sering bercerai, kenakalan anak atau masalah
keluarga lainnya timbul akibat fungsi afektif keluarga yang tidak terpenuhi.
b. Fungsi sosialisasi
Sosialisasi dimulai sejak individu dilahirkan dan berakhir setelah
meninggal. Keluarga merupakan tempat dimana individu melakukan
sosialisasi. Tahap perkembangan individu dan keluarga akan dicapai
melalui interaksi atau hubungan yang diwujudkan dalam sosialisasi.
Anggota keluarga belajar disiplin, memiliki nilai/norma, budaya dan
perilaku melalui interaksi dalam keluarga sehingga individu mampu
berperan di masyarakat.
c. Fungsi reproduksi
Keluarga berfungsi untuk meneruskan kelangsungan keturunan dan
meningkatkan sumber daya manusia. Dengan adanya program keluarga
berencana, maka fungsi ini sedikit dapat terkontrol. Namun disisi lain
banyaknya kelahiran yang tidak diharapkan atau diluar ikatan pernikahan
sehingga lahirnya keluarga baru dengan satu orang tua (single parent).
d. Fungsi ekonomi
Untuk memenuhi kebutuhan anggota keluaga seperti makanan,
pakaian dan rumah, maka keluarga memerlukan sumber keuangan. Fungsi
ini sulit dipenuhi keluarga yang berada di bawah garis kemiskinan (Gakin
atau pra keluarga sejahtera).
Perawat berkontribusi untuk mencari sumber-sumber di masyarakat
yang dapat digunakan keluarga dalam meningkatkan status kesehatan
mereka.
e. Fungsi perawatan kesehatan
Selain fungsi menyediakan makanan, pakaian dan rumah, keluarga
juga berfungsi melakukan asuhan kesehatan terhadap anggotanya baik
untuk mencegah terjadinya gangguan maupun merawat anggota sakit.
Keluarga juga menentukan kapan anggota keluarga yang mengalami
gangguan kesehatan memerlukan bantuan atau pertolongan tenaga
kesehatan. Kemampuan ini sangat memengaruhi status kesehatan individu
dan keluarga.
6. Tahapan dan Tugas Perkembangan Keluarga
Menurut Duval (dalam Bakri, 2017, p.43-45), membagi keluarga
dalam 8 tahap perkembangan yaitu:
a. Keluarga Baru (Berganning Family)
Dimulai ketika dua individu membentuk keluarga melalui
perkawinan. Pada tahap ini, pasangan baru memiliki tugas perkembangan,
antara lain:
1) Membina hubungan intim yang memuaskan.
2) Membuat berbagai kesepakatan untuk mencapai tujuan bersama.
3) Merencanakan anak.
4) Persiapan menjadi orang tua.
5) Mencari pengetahuan prenatal care.
b. Keluarga dengan Anak Pertama <30 bulan (Child Bearing)
Pada tahap ini masa transisi pasangan suami istri dimulai sejak
anak pertama lahir sampai berusia kurang dari 30 bulan. Pada masa ini
sering timbul konflik yang dipicu kecemburuan pasangan akan perhatian
yang lebih ditunjukkan kepada anggota keluarga baru. Adapun tugas
perkembangan pada tahap ini yaitu kesadaran akan perlunya beradaptasi
dengan perubahan anggota keluarga, yaitu:
1) Mempertahankan keharmonisan pasangan suami istri
2) Berbagi peran dan tanggung jawab
3) Mempersiapkan biaya untuk anak.
c. Keluarga dengan Anak Prasekolah
Berlangsung sejak anak pertama berusia 2,5 tahun hingga 5 tahun.
Adapun tugas perkembangan yang mesti dilakukan:
1) Memenuhi kebutuhan anggota keluarga.
2) Membantu anak bersosialisasi dengan lingkungan.
3) Cermat membagi tanggung jawab.
4) Mempertahankan hubungan keluarga.
5) Mampu membagi waktu untuk diri sendiri, pasangan, dan anak.
d. Keluarga dengan Anak Usia Sekolah (6-13 tahun)
Tahap ini berlangsung sejak anak pertama menginjak sekolah
dasar sampai memasuki awal masa remaja. Dalam hal ini, sosialisasi anak
semakin melebar. Tidak hanya di lingkungan rumah melainkan juga di
sekolah dan lingkungan yang lebih luas lagi. Tugas perkembangannya,
antara lain:
1) Anak harus sudah diperhatikan minat dan bakatnya sehingga
orangtua bisa mengarahkan dengan tepat.
2) Membekali anak dengan berbagai kegiatan kreatif agar motoriknya
berkembang dengan baik.
3) Memperhatikan akan risiko pengaruh teman serta sekolahnya.
e. Keluarga dengan Anak Remaja (13-20 tahun)
Pada perkembangan ini orangtua perlu memberikan kebebasan
yang seimbang dan bertanggungjawab. Hal ini mengingat bahwa remaja
adalah seorang yang dewasa muda mulai memiliki otonomi. Ia ingin
mengatur kehidupannya sendiri tetapi masih membutuhkan bimbingan.
Oleh sebab itu, komunikasi antara orangtua dan anak harus terus dijaga.
Selain itu, beberapa peraturan juga sudah mulai diterapkan untuk
memberikan batasan tertentu tetapi masih dalam tahap wajar. Misalnya
dengan membatasi jam malam dan lain sebagainya.
f. Keluarga dengan Anak Dewasa (anak 1 meninggalkan rumah)
Dimulai sejak anak pertama meninggalkan rumah. Artinya
keluarga sedang menghadapi persiapan anak yang mulai mandiri. Dalam
hal ini, orangtua mesti merelakan anak untuk pergi jauh dari rumahnya
demi tujuan tertentu. Adapun tugas perkembangan pada tahap ini, antara
lain:
1) Membantu dan mempersiapkan anak untuk hidup mandiri.
2) Menjaga keharmonisan dengan pasangan.
3) Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar.
4) Bersiap mengurusi keluarga besar (orangtua pasangan) memasuki
masa tua.
5) Memberikan contoh kepada anak-anak mengenai lingkungan rumah
yang positif.
g. Keluarga Usia Pertengahan (Midle Age Family)
Tahapan ini ditandai dengan perginya anak terakhir dari rumah
dan salah satu pasangan bersiap negatif atau meninggal. Tugas
perkembangan keluarganya, yaitu:
1) Menjaga kesehatan.
2) Meningkatkan keharmonisan dengan pasangan, anak, dan teman
sebaya.
3) Mempersiapkan masa tua.
h. Keluarga Lanjut Usia
Masa usia lanjut adalah masa-masa akhir kehidupan manusia. Maka tugas
perkembangan dalam masa ini yaitu beradaptasi dengan perubahan
kehilangan pasangan, kawan, ataupun saudara. Selain itu melakukan “life
review” juga penting, disamping tetap mempertahankan kedamaian.
C. Proses asuhan keperawatan keluarga
Menurut (Padilla, 2015 p.91) asuhan keperawatan keluarga merupakan
proses yang kompleks dengan menggunakan pendekatan yang sistematis untuk
bekerja sama dengan keluarga dan indiviu-individu sebagai anggota keluarga.
Tahapan dari proses keperawatan keluarga meliputi pengkajian, perumusan
diagnosa keperawatan, penyusunan perencanaan, perencanaan asuhan, dan
penilaian.
1. Pengkajian
Pada tahap ini, perawat wajib melakukan pengkajian terhadap
permasalahan yang ada. Pengkajian merupakan suatu tahapan dimana perawat
perawat mengambil data secara terus-menerus terhadap keluarga yang
dibinanya (Padilla, 2015 p.92).
Dalam melakukan pengkajian perawat harus menggunakan metode
yang tepat untuk mendapatkan informasi yang lengkap dan akurat guna
menegakkan diagnosis di tahap berikutnya. Beberapa metode yang dapat
digunakan adalah metode wawancara/observasi misalnya tentang
keadaan/fasilitas rumah, pemeriksaan fisik terhadap seluruh anggota keluarga
secara head to toe dan interpretasi data sekunder seperti hasil laboratorium,
hasil X-ray, pap smear, dan lain-lain sebagainya (Padilla, 2015 p.92).
Hal-hal yang perlu dikumpulkan dalam pengkajian keluarga adalah :
a. Data umum
Pengkajian pada data umum meliputi nama kepala keluarga (KK), alamat
dan nomer telepon, pekerjaan anggota keluarga, pendidikan anggota
keluarga, dan komposisi keluarga yang dapat dibuat dengan genogram.

Laki-laki Perempuan Identifikasi klien yang sakit

Meninggal Menikah Pisah

---------

Cerai Cerai
Anak angkat

Tinggal dalam satu rumah


Aborsi Kembar
Gambar 2.2 Genogram
1) Tipe keluarga, yang menjelaskan mengenai jenis/tipe keluarga beserta
kendala atau masalah-masalah yang terjadi dengan jenis/tipe keluarga
tersebut.
2) Suku bangsa, yang perlu dikaji adalah mengenai asal suku bangsa
keluarga tersebut serta mengidentifikasi budaya suku bangsa tersebut
terkait dengan kesehatan.
3) Agama, mengkaji agama yang dianut oleh keluarga serta kepercayaan
yang dapat mempengaruhi keluarga.
4) Status sosial ekonomi keluarga, ditentukan oleh pendapatan anggota
keluarga serta kebutuhan-kebutuhan yang dikeluarkan oleh keluarga
serta barang-barang yang dimiliki oleh keluarga.
5) Aktivitas rekreasi keluarga, yang dimaksud rekreasi keluarga tidak
hanya dilihat dari kapan saja keluarga pergi bersama-sama untuk
mengunjungi tempat rekreasi tertentu, tetapi dengan menonton televisi
dan mendengarkan radio juga merupakan aktivitas rekreasi.
b. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga
1) Tahap perkembangan keluarga saat ini
Menjelaskan kondisi keluarga saat ini dan menjadi fokus utama saat
pengkajian. Tidak hanya masalah kesehatan, namun juga status
ekonomi dan sosial keluarga.
2) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Menjelaskan perkembangan keluarga yang belum terpenuhi,
menjelaskan mengenai tugas perkembangan keluarga yang belum
terpenuhi oleh keluarga serta kendala-kendala mengapa tugas
perkembangan tersebut belum terpenuhi.
3) Riwayat keluarga inti
Menjelaskan mengenai riwayat kesehatan pada keluarga inti yang
meliputi riwayat penyakit keturunan, riwayat kesehatan masing-
masing anggota keluarga, perhatian keluarga terhadap pencegahan
penyakit termasuk status imunisasi, sumber pelayanan kesehatan yang
biasa digunakan keluarga dan pengalaman terhadap pelayanan
kesehatan.
4) Riwayat keluarga sebelumnya
Menjelaskan mengenai riwayat pada keluarga dari pihak suami dan
istri.
c. Pengkajian lingkungan
1) Karakteristik rumah
Karakteristik rumah dapat diidentifikasi dengan melihat luas rumah,
tipe rumah, jumlah ruangan, jumlah jendela, jarak septic tank dengan
sumber air, sumber air minum yng digunakan serta dilengkapi dengan
denah rumah.
2) Karakteristik tetangga dan komunitas RW
Menjelaskan mengenai karakteristik dari tetangga dan komunitas
setempat meliputi kebiasaan, lingkungan fisik, aturan atau kesepakatan
penduduk setempat serta budaya setempat yang mempengaruhi
kesehatan.
3) Mobilitas geografis keluarga
Mobilitas geografis keluarga ditentukan dengan melihat kebiasaan
keluarga berpindah tempat.
4) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Menjelaskan mengenai waktu yang digunakan keluarga untuk
berkumpul serta perkumpulan keluarga yang ada dan sejauh mana
interaksi keluarga dengan masyarakat.
d. Struktur keluarga
1) Sistem pendukung keluarga
Menjelaskan mengenai jumlah anggota keluarga yang sehst, fasilitas-
fasilitas yang dimiliki keluarga untuk menunjang kesehatan mencakup
fasilitas fisik, fasilitas psikologis atau dukungan keluarga dan fasilitas
sosial atau dukungan dari masyarakat setempat.
2) Pola komunikasi keluarga
Menjelaskan mengenai cara berkomunikasi dengan anggota keluarga,
apakah anggota keluarga mengutarakan kebutuhan dan perasaan
mereka dengan jelas, apakah anggota keluarga memperoleh dan
memberikan respons baik dengan baik terhadap pesan, apakah anggota
keluarga mendengar dan mengikuti pesan, pola komunikasi yang
digunakan dalam menyampaikan pesan (langsung atau tidak
langsung).
3) Struktur kekuatan keluarga
Kemampuan anggota keluarga mengendalikan dan mempengaruhi
orang lain untuk mengubah perilaku.
4) Struktur peran
Menjelaskan peran dari masing-masing anggota keluarga baik secara
formal maupun informal.
5) Nilai atau norma keluarga
Menjelaskan mengenai nilai dan norma yang dianut oleh keluarga
yang berhubungan dengan kesehatan.
e. Fungsi Keluarga
1) Fungsi Afektif
Hal yang perlu dikaji adalah gambaran dari anggota keluarga, perasaan
memiliki dan dimiliki dalam keluarga, dukungan keluarga terhadap
anggota keluarga lainnya, bagaimana kehangatan tercipta pada
anggota keluarga dan bagaimana keluarga mengembangkan sikap
saling menghargai.
2) Fungsi Sosialisasi
Dikaji bagaimana interaksi atau hubungan dalam keluarga, sejauh
mana anggota keluarga bejalar disiplin, norma, budaya serta perilaku.
3) Fungsi Perawatan Kesehatan
Menjelaskan sejauh mana anggota keluarga menyiapkan makanan,
pakaian, perlindungan serta merawat anggota keluarga yang sakit.
Sejauh mana pengetahuan keluarga mengenai sehat sakit.
Kesanggupan keluarga di dalam melaksanakan perawatan kesehatan
dapat dilihat dari kemampuan keluarga dalam melaksanakan lima
tugas kesehatan keluarga, yaitu keluarga mampu mengenal masalah
kesehatan, mengambil keputusan untuk mengambil tindakan,
melakukan perawatan terhadap anggota keluarga yang sakit,
menciptakan lingkungan yang dapat meningkatkan kesehatan dan
mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan yang terdapat di lingkungan
setempat.
4) Fungsi Reproduksi
Hal yang perlu dikaji dalam fungsi reproduksi yaitu jumlah anak
dalam keluarga, rencana keluarga berkaitan dengan jumlah anggota
keluarga, metode yang digunakan anggota keluarga dalam upaya
mengendalikan jumlah anggota keluarga.
5) Fungsi Ekonomi
Dalam fungsi ekonomi hal yang perlu dikaji meliputi sejauh mana
keluarga memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan serta
sejauh mana keluarga memanfaatkan sumber yang ada di masyarakat
dalam upaya peningkatan status kesehatan keluarga.
f. Stres dan Koping Keluarga
1) Stressor Jangka Pendek Dan Panjang
a) Stressor jangka pendek adalah stressor yang dialami keluarga yang
memerlukan penyelesaian dalam waktu kurang dari 6 bulan.
b) Stressor jangka panjang adalah stressor yang dialami keluarga
yang memerlukan waktu penyelesaian dalam waktu lebih dari
enam bulan.
2) Kemampuan Keluarga Berespon Terhadap Stressor
Yang perlu dikaji adalah sejauhmana keluarga berespon terhadap
stressor.
3) Strategi Koping Yang Digunakan
Yang perlu dikaji adalah strategi koping yang digunakan keluarga
dalam menghadapi permasalahan/stres.
4) Strategi Adaptasi Disfungsional
Dijelaskan mengenai strategi adaptasi disfungsional yang digunakan
keluarga dalam menghadapi permasalahan/stres.
g. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan pada semua anggota keluarga. Metode yang
digunakan sama dengan metode pemeriksaan fisik klinik. Pemeriksaan
tersebut meliputi :
1) Tanda-tanda vital
Pemeriksaan ini menunjukkan hasil pemeriksaan dari tekanan darah,
respirasi, nadi dan suhu.
2) Antropometri
Pemeriksaan ini meliputi berat badan, tinggi badan, lingkar perut,
lingkar dada, lingkar lengan, dan lingkar kepala bagi bayi.
3) Nutrisi
Untuk menjelaskan kebiasaan makan, pola makan, dan jenis makanan
yang dikonsumsi sehari-hari.
4) Aktivitas/istirahat
Menjelaskan mengenai kegiatan yang dilakukan keluarga dan waktu
istirahat keluarga.
5) Pernapasan
Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pola napas, bentuk dada saat
bernapas, dan bunyi napas. Pemeriksaan ini digunakan untuk
menjelaskan kondisi sistem pernapasan.
6) Kardiovaskuler
Menjelaskan kondisi jantung dan pembuluh darah keluarga.
7) Pencernaan
Menjelaskan kondisi sistem pencernaan anggota keluarga seperti mual,
muntah, peristaltik usus, anoreksia, dan pola BAB.
8) Perkemihan
Menjelaskan berapa banyak air kencing yang dikeluarkan setiap hari.
Apakah terdapat kelainan atau tidak.
9) Muskoloskeletal
Menjelaskan mengenai kondisi otot dan tulang anggota keluarga.
10) Penginderaan
Pemeriksaan yang biasa dilakukan seperti pemeriksaan mata,
pemeriksaan hidung dan pemeriksaan telinga. Apakah terdapat
kelainan atau tidak.
11) Reproduksi
Menjelaskan mengenai fungsi reproduksi anggota keluarga.
12) Neurologis
Menjelaskan tingkat kesadaran keluarga dan keadaan sistem syaraf
keluarga.
h. Harapan Keluarga
Pada akhir pengkajian, pengkaji menanyakan mengenai harapan keluarga
terhadap petugas kesehatan yang ada.
2. Analisa data
Setelah dilakukan pengkajian, tahap berikutnya data dianalisis untuk
dapat dilakukan perumusan diagnosis keperawatan (Achjar, 2010).
3. Diagnosa keperawatan
Menurut (Padilla, 2015 p.105) diagnosa keperawatan keluarga
merupakan masalah keperawatan yang dirumuskan dari data-data yang
didapat pada pengkajian yang berhubungan dengan etiologi yang berasal dari
data-data pengkajian fungsi keluarga.
Diagnosa keperawatan mengacu pada rumusa PES (problem, etiologi,
symptom) dimana untuk problem menggunakan rumusan masalah dari
NANDA, sedangkan etiologi dapat menggunakan pendekatan lima tugas
keluarga atau dengan menggambarkan pohon masalah.
Etiologi dari diagnosa keperawatan keluarga dirumuskan berdasarkan
ketidakmampuan keluarga dalam melaksanakan tugas-tugas kesehatan dan
keperawatan (Achjar, 2010) sebagai berikut :
a. Ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah kesehatan
disebabkan karena :
1) Kurang pengetahuan dan ketidaktahuan fakta
2) Rasa takut akibat masalah yang diketahui
3) Sikap dan falsafah hidup
b. Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan dalam melakukan
tindakan yang tepat, disebabkan oleh :
1) Tidak memahami mengenai sifat, berat, dan luasnya masalah
2) Masalah kesehatan tidak begitu menonjol
3) Keluarga tidak sanggup memecahkan masalah karena kurang
pengetahuan dan kurangnya sumber daya keluarga
4) Tidak sanggup memilih tindakan dari beberapa pilihan
5) Ketidakcocokan pendapat dari anggota keluarga
6) Takut dari akibat tindakan
7) Sikap negatif dari masalah kesehatan
8) Kurang percaya terhadap petugas kesehatan
9) Kesalahan informasi terhadap tindakan yang diharapkan
c. Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit,
disebabkan oleh :
1) Tidak mengetahui keadaan penyakit, misalnya sifat, penyebab,
penyebaran, perjalanan penyakit, gejala dan perawatannya serta
pertumbuhan dan perkembangan anak.
2) Tidak mengetahui perkembangan, perawatan yang dibutuhkan.
3) Kurang atau tidak ada fasilitas yang diperlukan dalam perawatan.
4) Tidak seimbang sumber-sumber yang ada dalam keluarga, misalnya
keuangan, anggota keluarga yang bertanggung jawab.
5) Sikap negatif terhadap yang sakit
6) Konflik individu dalam keluarga
7) Sikap dan pandangan hidup
d. Ketidakmampuan keluarga memelihara rumah yang dapat
mempengaruhi kesehatan dan perkembangan pribadi anggota keluarga,
disebabkan oleh :
1) Sumber-sumber keluarga tidak cukup, diantaranya keuangan,
tanggung jawab atau wewenang, keadaan fisik rumah yang tidak
memenuhi syarat.
2) Kurang dapat melihat manfaat pemeliharaan lingkungan
3) Ketidaktahuan pentingnya sanitasi lingkungan
4) Konflik personal keluarga
5) Sikap dan pandangan hidup
6) Ketidakkompakan keluarga, karena sifat mementingkan diri sendiri,
tidak ada kesepakatan, acuh terhadap anggota keluarga yang
mempunyai masalah
e. Ketidakmampuan menggunakan sumber pelayanan kesehatan di
masyarakat guna memelihara kesehatan, disebabkan oleh :
1) Tidak memahami keuntungan yang diperoleh
2) Kurang percaya terhadap petugas kesehatan dan lembaga kesehatan
3) Pengalaman yang kurang baik dari petugas kesehatan
4) Rasa takut pada akibat dari tindakan
Diagnosa Keperawatan dengan Tuberculosis Paru

a. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan


ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit
(NANDA, 2018, p.384 dan Achjar, 2012, p.21)
1) Definisi
Ketidakmampuan membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran
napas untuk mempertahankan bersihan jalan napas.
a) Batasan Karakteristik

(1) Batuk yang tidak efektif

(2) Dispnea

(3) Gelisah

(4) Perubahan frekuensi napas

(5) Perubahan pola napas

(6) Sianosis

(7) Suara napas tambahan

(8) Sputum dalam jumlah berlebih

b) Faktor – faktor yang berhubungan:

(1) Mukus berlebihan

(2) Benda asing dalam jalan napas

(3) Terpajan asap

(4) Sekresi yang tertahan

(5) Perokok pasif

(6) Perokok
d) Kondisi terkait

(1) Spasme jalan napas

(2) Jalan nafas alergik

(3) Asma

(4) Penyakit paru obstruksi kronis

(5) Hiperplasia pada dinding bronkus

(6) Infeksi

(7) Disfungsi neuromuscular

e) NOC

Status pernafasan : kepatenan jalan nafas

Kriteria hasil:

(1) Frekuensi pernafasan dalam kisaran normal

(2) Mampu untuk mengeluarkan sekret

(3) Suara nafas tambahan berkurang atau hilang

(4) Pernafasan cuping hidung tidak ada

(5) Dispnea saat istirahat berkurang

(6) Akumulasi sputum berkurang

(7) Batuk berkurang

(8) Pengguanaan otot bantu nafas minimal mungkin.

f) NIC

(1) Manajemen jalan nafas

(a) Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi


(b) Lakukan fisioterapi dada

(c) Keluarkan sekret dengan batuk

(d) Motivasi pasien untuk bernafas pelan, dalam, berputar dan

batuk.

(e) Ajarkan pasien bagaimana menggunakan inhaler sesuai

resep.

(f) Auskultasi suara nafas, catat area yang ventilasinya

menurun atau tidak ada dan adanya suara tambahan.

(g) Monitor satus pernafasan dan oksigen.

(2) Monitor pernafasan

(a) Monitor kecepatan, irama, kedalaman dan kesulitan

bernafas.

(b) Catat pergerakan dada, ketidaksimetrisan, penggunaan otot

bantu nafas

(c) Monitor kemampuan batuk efektif pasien

(d) Catat onset, karakteristik dan lamanya batuk

(e) Monitor keluhan sesak nafas, kegiatan yang meningkatkan

atau memperburuk sesak nafas tersebut.

2) Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh

berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga memanfaatkan

fasilitas kesehatan (NANDA, 2018, p.153 dan Achjar, 2012, p.21)

a) Definisi
Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan

metabolik.

b) Batasan karakteristik

(1) Berat badan 20% atau lebih dibawah rentang berat badan

ideal

(2) Bising usus hiperaktif

(3) Cepat kenyang setelah makan

(4) Gangguan sensasi rasa

(5) Kesalahan informasi

(6) Kurang minat pada makanan

(7) Membran mukosa pucat

(8) Nyeri abdomen

c) Faktor yang berhubungan

(1) Faktor biologis

(2) Faktor ekonomi

(3) Gangguan psikososial

(4) Ketidakmampuan makan

(5) Ketidakmampuan mencerna makanan

(6) Ketidakmampuan mengabsorbsi nutrien

(7) Kurang asupan makanan

d) NOC

(1) Status nutrisi


(2) Status nutrisi: asupan nutrisi

Kriteria Hasil:

(1) Asupan makanan tidak menyimpang dari rentang normal

(2) Asupan cairan tidak menyimpang dari rentang normal

(3) Hidrasi tidak menyimpang dari rentang normal

(4) Asupan kalori, protein, lemak, karbohidrat, serat, vitamin,

mineral, zat besi, kalsium dan natrium adekuat

e) NIC

(1) Manajemen gangguan makan

(a) Monitor intake/asupan makanan dan cairan

(b) Ajarkan dan dukung konsep nutrisi yang baik

dengan klien dan orang terdekat

(c) Monitor tanda-tanda fisiologi (tanda-tanda vital,

elektrolit)

(d) Observasi klien selama dan setelah pemberian

makan atau makanan ringan untuk menyakinan

bahwa intake atau asupan makanan yang cukup

tercapai dan dipertahankan

(2) Manajemen nutrisi

(a) Tentukan status gizi dan kemampuan pasien memenuhi

kebutuhan gizi
(b) Identifikasi adanya alergi atau intoleransi makanan

yang dimiliki

(c) Tentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi yang

dibutuhkan untuk memenuhi persyaratan gizi

(d) Anjurkan pasien terkait dengan kebutuhan diit untuk

kondisi sakit

(e) Lakukan atau bantu pasien terkait dengan perawatan

mulut sebelum makan

(3) Bantuan peningkatan berat badan

(a) Kaji makanan kesukaan pasien, baik itu kesukaan

pribadi atau dianjurkan budaya dan agamanya

(b) Lakukan perawatan mulut sebelum makan

(c) Bantu pasien untuk makan atau suapi pasien

(d) Ajarkan pasien dan keluarga bagaimana cara membeli

makanan murah tetapi bergizi tinggi

3) Risiko infeksi berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga

memodifikasi lingkungan (NANDA, 2018, p.382 dan Achjar, 2012,

p.21)

a) Definisi

Rentan mengalami invasi dan multiplikasi organisme patogenik

yang dapat mengganggu kesehatan

b) Faktor risiko
(1) Kurang pengetahuan untuk menghindari pemajanan patogen

(2) Malnutrisi

(3) Obesitas

(4) Gangguan integritas kulit

(5) Gangguan peristalsis

(6) Merokok

(7) Vaksinasi tidak adekuat

c) Kondisi terkait

(a) Perubahan pH sekresi

(b) Stasis cairan tubuh

(c) Penyakit kronis

(d) Prosedur invasif

(e) Imunosupresi

(f) Leukopenia

(g) Penurunan hemoglobin

d) NOC

Keparahan infeksi

Kriteria Hasil:

(1) Tidak ada sputum purulen

(2) Suhu dalam rentang normal

(3) Keluhan mengenai malaise berkurang

(4) Tidak menggigil


e) NIC

(1) Manajemen imunisasi/vaksinasi

(a) Informasikan individu mengena imunisasi protektif

untuk melawan penyakit yang tidak diwajibkan oleh

undang-undang

(b) Ajarkan pada individu/keluarga mengenai vaksinasi

yang diperlukan jika ada paparan atau insiden khusus

(c) Pahami bahwa keterlambatan pemberian imunisasi

pada satu seri bukan berarti harus mengulang jadwal

(d) Bantu keluarga terkait perencanaan keungaan untuk

membayar imunisasi (misalnya., apakah dibayar

asuransi dan klinik departemen kesehatan)

(2) Perlindungan infeksi

(a) Monitor adanya tanda dan gejala infeksi sistemik dan

lokal

(b) Monitor kerentanan terhadap infeksi

(c) Tingkatkan asupan nutrisi yang cukup

(d) Pantau adanya tingkat energi atau malaise

(e) Anjurkan pernapasan dalam dan batuk, dengan tepat

(f) Ajarkan bagaimana cara menghindari infeksi


4) Defisien pengetahuan berhubungan dengan ketidakmampuan

keluarga mengenal masalah kesehatan (NANDA, 2018, p. 257 dan

Achjar, 2012, p.20)

a) Definisi

Ketiadaan atau defisiensi informasi kognitif yang berkaitan

dengan topik tertentu.

b) Batasan Karakteristik

(1) Ketidakakuratan melakukan tes

(2) Ketidakakuratan mengikuti perintah

(3) Kurang pengetahuan

(4) Perilaku tidak tepat (misal, histeria, agitasi, apatis)

c) Faktor yang berhubungan

(1) Gangguan fungsi kognitif

(2) Gangguan memori

(3) Kurang informasi

(4) Kurang sumber pengetahuan

(5) Salah pengertian terhadap orang tua

d) NOC

Pengetahuan : proses penyakit

Kriteria Hasil

(1) Menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi,

prognosis, dan program pengobatan


(2) Memahami mengenai cara penularan penyakit

(3) Menyatakan pemahaman mengenai strategi mengelola stres

dan mencegah penyebaran penyakit menular

(4) Mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara

benar

(5) Mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan

perawat/tim

(6) Menyatakan pemahaman tentang tindakan untuk

meningkatkan daya tahan terhadap infeksi

e) NIC

(1) Pengajaran: proses penyakit

(a) Kaji tingkat pengetahuan pasien terkait dengan proses

penyakit yang spesifik

(b) Jelaskan patofisiologi penyakit dan bagaimana

hubungannya dengan anatomi dan fisiologi

(c) Review pengetahuan pasien mengenai kondisinya

(d) Jelaskan tanda dan gejala yang umum dari penyakit

(e) Jelaskan mengenai proses penyakit

(f) Jelaskan komplikasi yang mungkin ada

(g) Perkuat informasi yang di berikan dengan anggota tim

kesehatan.