Anda di halaman 1dari 12

Makalah

Analisis Bunyi Pada Puisi

Muhammad Reza Pahlevi


201810080311056
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Definisi Puisi

Puisi merupakan sebuah karya sastra yang berisi tentang curahan hati dari seseorang
yang dituangkan dalam sebuah tulisan dengan kata-kata pilihan yang indah dan padat
akan makna. Menganalisis merupakan suatu kegiatan membedah untuk mengetahui
unsur-unsur apa saja yang terkandung dalam sebuah karya sastra. Atau dapat dikatakan
bahwa, menganalisis merupakan proses untuk mengetahui komposisi dan struktur yang
terdapat dalam sebuah karya sastra. Salah satunya adalah menganalisis puisi. Dalam
menganalisis sebuah puisi, ada beberapa struktur yang dapat kita gunakan untuk
mengetahui unsur-unsur atau komposisi yang terdapat dalam sebuah puisi tersebut.
Struktur itu terbagi menjadi dua bagian yaitu :
a. Struktur Batin Puisi
Struktur puisi atau dapat disebut hakikat puisi mengungkapkan apa saja
yang hendak dikemukakan oleh penyair dengan perasaan dan suasana jiwanya,
dengan kata lain struktur batin puisi dapat diartikan dengan makna dari sebuah
puisi. Ada empat hakikat puisi yaitu tema, perasaan, nada dan perasaan serta
pesan atau amanat dari puisi.
Hanya dengan menggunakan struktur-struktur tersebut, kita dapat
mengetahui unsur dan komposisi yang dimiliki sebuah puisi dengan cara
membedahnya atau menganalisis.
b. Struktur Kebahasaan (Struktur Fisik)
Struktur kebahasaan dapat pula disebut sebagai metode puisi. Unsur-unsur
bentuk atau struktur puisi dapat diuraikan dalam beberapa metode puisi yaitu :
diksi, pengimajian, kata konkret, bahasa figuratif (Majas), versifikasi (Rima,
Ritma dan Metrum) serta tata wajah puisi (Tipografi). Semua unsur tersebut
sangat berkaitan dalam menganalisis puisi.
1.2 Puisi yang dianalisis

1. Puisi dengan judul “Kucari Jawab” karya J.E. Tatengkeng angkatan pujangga
baru.
Kucari Jawab
Di mata air, di dasar kolam

Kucari jawab teka – teki alam

Di kawan awan kian ke mari

Di situ juga jawabannya kucari

Di warna bunga yang kembang

Kubaca jawab, penghilang bimbang

Kepada gunung, penjaga waktu

Kutanya jawab kebenaran tentu

Pada bintang lahir semula

Kutangis jawab teka – teki Allah

Ke dalam hati, jiwa sendiri

Ku selam jawab ! tidak tercari….

Ya Allah yang maha dalam

Berikan jawab teka – teki alam

O, Tuhan yang maha tinggi

Kunanti jawab petang dan pagi

Hatiku haus’kan kebenaran


Berikan jawab di hatiku sekarang

2. Puisi dengan judul “Kesabaran” karya Chairil Anwar angkatan 45.

Kesabaran

Aku tak bisa tidur


Orang ngomong, anjing nggonggong
Dunia jauh mengabur
Kelam mendinding batu
Dihantam suara bertalu-talu
Di sebelahnya api dan abu

Aku hendak bicara


Suaraku hilang, tenaga terbang
Sudah! Tidak jadi apa-apa!
Ini dunia enggan disapa, ambil perduli

Keras membeku air kali


Dan hidup bukan hidup lagi

Kuulangi yang dulu kembali


Sambil bertutup telinga, berpicing mata
Menunggu reda yang mesti tiba

3. Puisi dengan judul “Sajak Minum Kopi” karya Cucu Espe” angkatan 2000.

Sajak Minum Kopi

Tuangkan kopi secangkir saja


Pelepas dahaga sebelum senja
Kibaskan penat sebelum terjaga
Lepaskan duka tuang sebisanya
Mari minum sepelan luka

Hidup harus memiliki arti


Meski hitam secangkir kopi
Meski kelam jangan dipikir lagi
Bulan tak akan mengulang hari
Tapi ombak selalu memeluk pantai
Di sini aku menulis sunyi

Sebelum matahari merah sembunyi


Tumpahkan kopi ke tepi hati
Sedikit lagi.

1.3 Biologi Penyair

1. J.E. Tatengkeng atau lengkapnya Jan Engelbert Tatengkeng adalah


penyair Pujangga Baru. Ia biasa dipanggil Oom Jan oleh orang-orang dekatnya,
panggilan yang lazim di kalangan masyarakat Sulawesi Utara. Tatengkeng
memang merupakan salah satu fam dari propinsi itu. Oom Jan ini dilahirkan di
Kolongan, Sangihe, Sulawesi Utara, pada tanggal 19 Oktober 1907.

J.E. Tatengkeng adalah satu-satunya penyair zaman Pujangga Baru yang


membawa warna kekristenan dalam karya-karyanya. Hal ini tidaklah ganjil jika
ditelusuri latar belakang kehidupannya. Ia adalah putra dari seorang guru Injil
yang juga merupakan kepala sekolah zending. Di samping itu, tanah
kelahirannya, tempat ia dibesarkan oleh orang tuanya, adalah sebuah pulau kecil
di timur laut Sulawesi yang konon masyarakatnya hampir seluruhnya beragama
Kristen.

J.E. Tatengkeng memulai pendidikannya di sebuah sekolah Belanda,


HIS, di Manganitu. Ia kemudian meneruskannya ke Christelijk
Middagkweekscool atau Sekolah Pendidikan Guru Kristen di Bandung, Jawa
Barat dan Christelijk Hogere Kweekschool atau Sekolah Menengah Tinggi
Pendidikan Guru Kristen di Solo, Jawa Tengah.

Di sekolah-sekolah itulah J.E. Tatengkeng mulai berkenalan dengan


kesusastraan Belanda dan gerakan Tachtigers “Angkatan 80-an”, yang kemudian
banyak mempengaruhi karya-karyanya. Meskipun banyak dipengaruhi Angkatan
80-an Belanda, J.E. Tatengkeng ternyata juga tidak sependapat dengan Jacques
Perk yang mempertaruhkan seni dalai segala-galanya. Dalam sebuah tulisannya,
“Penyelidikan dan Pengakuan (1935), Tatengkeng menulis, “Kita tidak boleh
menjadikan seni itu Allah. Akan tetapi, sebaliknya, janganlah kita menjadikan
seni itu alat semata-mata. Seni harus tinggal seni.”

Bagi Tatengkeng, seni adalah gerakan sukma, “Gerakan sukma yang


menjelma ke indah kata! Itulah seni bahasa!,” katanya. Sebagai penyair, J.E.
Tatengkeng dikenal sebagai penyair yang dekat dengan alam. Konon, kedekatan
Tatengkeng dengan alam itu timbul sebagai akibat kekecewaannya karena tidak
dapat menemukan kebenaran di dunia barat yang masih alami.
Meskipun alam merupakan pelariannya dalam usaha menemukan kebenaran,
alam baginya tetap merupakan misteri. Di kawanan awan, di warna bunga yang
kembang, pada gunung, dan pada bintang, tetap saja Tatengkeng belum merasa
berhasil menemukan kebenaran hakiki. Oleh karena itu, setelah jiwanya lelah
mencari kebenaran hakiki, ia menjadikan Tuhan sebagai tempatnya berlabuh.
Gelombang kehidupan Tatengkeng itu tergambar pada sebagian besar sajak-
sajaknya. Tentu saja sajak-sajaknya yang religius itu bernafaskan ke-Kristenan,
agama yang dianutnya.
Sejak tahun 1953, J.E. Tatengkeng mulai jarang menulis. Akan tetapi,
krativitasnya sebagai penyair tidak pernah hilang meskipun ia bergiat dalam
bidang politik dan pemerintahan. Hal itu dibuktikan dengan beberapa sajaknya
yang dimuat pada beberapa majalah setelah tahun 1953.
J.E Tatengkeng meninggal pada tanggal 6 Maret 1968 dan dikebumikan di
Ujung Pandang, Sulawesi Selatan.

Karya-Karya
Puisi
Rindu Dendam. 1934. Solo: Chr. Derkkerij “Jawi” (Buku ini memuat 32 buah
sajak)
Dalam majalah Pujangga Baru
“Hasrat Hati”
“Laut”
“Petang”
“O, Bintang”
“Sinar dan Bayang”
“Sinar di Balik”
“Tangis”
“Anak Kecil”
“Beethoven”
“Alice Nahon”
“Gambaran”
“Katamu Tuhan”
Willem Kloos”

Dalam majalah lain


“Anak Kecil”
“Gadis Bali”
“Gua Gaja”
Ke Balai”
“Sekarang Ini”
“Sinar dan Bayang”
“Aku Dilukis”
“Bertemu Setan”
“Penumpang kelas 1”
“Aku Berjasa”
“Cintaku”
“Mengheningkan Cipta”
“Aku dan Temanku”
“Kepada Dewan Pertimbangan Kebudayaan”
“Sang Pemimpin (Waktu) Kecil”
Prosa
“Datuk yang Ketularan”
“Kemeja Pancawarna”
“Prawira Pers Tukang Nyanyi”
“Saya Masuk Sekolah Belanda”
“Sepuluh Hari Aku Tak Mandi”

Drama
1. “Lena”. Sulawesi. No. 1. Tahun 1. 1958

2. Chairil Anwar (Medan, 26 Juli 1922 — Jakarta, 28 April 1949) atau dikenal
sebagai “Si Binatang Jalang” (dalam karyanya berjudul Aku [1]) adalah penyair
terkemuka Indonesia. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh
H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan ‘45 dan puisi modern Indonesia.

Masa Kecil
Dilahirkan di Medan, Chairil Anwar merupakan anak tunggal. Ayahnya
bernama Toeloes, yang bekerja sebagai pamongpraja. Dari pihak ibunya, Saleha
dia masih punya pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri
pertama Indonesia.
Chairil masuk Hollands Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-
orang pribumi waktu penjajah Belanda. Dia kemudian meneruskan
pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, sekolah menengah pertama
belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus. Dia mulai untuk menulis sebagai
seorang remaja tetapi tak satupun puisi awalnya yang ditemukan.

Pada usia sembilan belas tahun, setelah perceraian orang-tuanya, Chairil pindah
dengan ibunya ke Jakarta di mana dia berkenalan dengan dunia sastera.
Meskipun pendidikannya tak selesai, Chairil menguasai bahasa Inggris, bahasa
Belanda dan bahasa Jerman, dan dia mengisi jam-jamnya dengan membaca
pengarang internasional ternama, seperti: Rainer M. Rilke, W.H. Auden,
Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron. Penulis-
penulis ini sangat mempengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung
mempengaruhi puisi tatanan kesusasteraan Indonesia.

Masa Dewasa
Nama Chairil mulai terkenal dalam dunia sastera setelah pemuatan tulisannya di
“Majalah Nisan” pada tahun 1942, pada saat itu dia baru berusia dua puluh
tahun. Hampir semua puisi-puisi yang dia tulis merujuk pada kematian. Chairil
ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi
hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk
mengungkapkannya.
Semua tulisannya yang asli, modifikasi, atau yang diduga diciplak dikompilasi
dalam tiga buku : Deru Campur Debu (1949); Kerikil Tajam Yang Terampas
dan Yang Putus (1949); dan Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi
dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).

Akhir Hidup
Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya, yang bertambah
lemah akibat gaya hidupnya yang semrawut. Sebelum dia bisa menginjak usia
dua puluh tujuh tahun, dia sudah kena sejumlah penyakit. Chairil Anwar
meninggal dalam usia muda karena penyakit TBC Dia dikuburkan di Taman
Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Makamnya diziarahi oleh ribuan
pengagumnya dari zaman ke zaman. Hari meninggalnya juga selalu diperingati
sebagai Hari Chairil Anwar.

3. Cucuk Espe adalah seorang penyair, esais, cerpenis dan penulis naskah drama,
juga aktor Indonesia yang dikenal sangat produktif menulis di berbagai media
cetak nasional di Indonesia dan beberapa jurnal seni di luar negeri. Beliau lahir
di Jombang, Jawa Timur, 19 Maret 1974. Ia belajar Bahasa Indonesia di IKIP
Malang. Setelah itu menjadi seniman adalah pilihan hidupnya dan mendirikan
Teater Kopi Hitam Indonesia.

Cucuk Espe pernah menjadi aktor teater terbaik pada Peksiminas III di Taman
Ismail Marzuki Jakarta (1995). Selanjutnya, ia mendirikan dan memimpin
Teater Kopi Hitam Indonesia yang telah berpentas di hampir seluruh kota besar
di Indonesia. Kini aktivitasnya hanya berteater dan menulis. Juga bersama
sejumlah pegiat kebudayaan di Jawa Timur menggagas Lembaga Baca-Tulis
Indonesia (LBTI) yakni sebuah komunitas nirlaba yang bergerak di bidang
kebudayaan (menuju masyarakat makin berbudaya). Sejumlah esainya sering
dipublikasikan di Jawa Pos, Kompas, Republika, Media Indonesia, Lampung
Post, Radar Surabaya, Bali Post, Banjarmasin Post, Surabaya Pagi, Harian
Bhirawa, dan banyak Media Online

Cucuk Espe sendiri ditahun 2015 juga aktif dalam gerakan 'Gugat Ikon Jombang'
yang dilakukan bersama pemuda-pemuda di Jombang. Gerakan ini sendiri
dilakukan sebagai protes terhadap Pemerintah Kota Jombang perihal ikon
jombang yang menggunakan tower. Warga Jombang menginginkan ikon
Jombang menggunakan besut , karena besut merupakan budaya khas Jombang
yang juga menjadi cikal bakal ludruk dan lain-lain.

Karya Drama / Teater

Para Pejabat, (1995)


Monolog Sang Penari, (1997)
Bukan Mimpi Buruk, (1998)
Mengejar Kereta Mimpi, (2001)
Rembulan Retak, (2003)
Juliet dan Juliet, (2004)
13 Pagi, (2010)
Trilogi monolog JENDERAL MARKUS, (2010)
INONG dongeng rumah jalang, (2011)
Wisma Presiden, (2012)
Ganasrev, (monolog-2013)
Puisinolog; MANIVESTO ORGIL, (2014)

Karya Skenario Film TV

Kuda Lumping dari Gunung Sumbing, (TVRI, 1996)


Ketupat Lebaran, (sinema lebaran, 1998)
Perempuan Bukan Perempuan, (IndMovie Festival, SCTV, 1999)
Matahari dalam Selokan, (SCTV Movie, 2001)
Jadikan Aku Perempuan, (IndiePro, 2010)

Karya Novel / Cerpen / Buku

Bulan Sabit di Atas Kubah (Pustaka Radar Minggu, 2010)


13 Pagi diangkat dari repertoar teater (Pustaka Radar Minggu, 2011)
Ketika Karya Sastra Dipanggungkan (Lembaga Baca-Tulis Indonesia, 2012)
Revolusi Senyap (Harfeey, 2014)
3 Repertoar Cucuk Espe (DJMPublisher, 2014)
Sejumlah cerpen dan esai yang tersebar di media cetak dalam dan luar negeri

Penghargaan

Aktor Teater Terbaik Peksiminas III di Jakarta (1995)


Terpilih sebagai cerpenis terbaik 2 FolkFEST II Desember 2010 di Bangkok,
Thailand.

BAB II

TEORI

2.1 Bunyi

Bunyi dalam puisi adalah hal yang penting untuk menggambarkan


suasana dalam puisi. Oleh karena itu pembaca puisi harus benar-benar
memperhatikan pengucapan kata demi kata dalam puisi. Namun ada kalanya
pembaca puisi kurang memperhatikan dalam pengucapan karya puisi sehingga
pendenggar tidak ikut merasakan suasana puisi tersebut. Hal ini menuntun kami
untuk menyusun makalah ini supaya pembaca lebih memahami pentingnya
bunyi dalam pembacaan puisi ataupun karya sastra lainnya. Dalam puisi bunyi
bersifat estetik, merupakan unsur puisi untuk mendapatkan keindahan dan
tenaga ekspresif. Bunyi ini erat hubungannya dengan anasir-anasir musik,
misalnya : lagu, melodi, irama, dan sebagainya. Bunyi di samping hiasan dalam
puisi, juga mempunyai tugas yang lebih penting lagi, yaitu untuk memperdalam
ucapan, menimbulkan rasa, dan menimbulkan bayangan angan yang jelas ;
menimbulkan suasana yang khusus dan sebagainya.

2.2 Jenis-jenis puisi


Puisi dibedakan menjadi 2, yaitu :

Puisi lama
Puisi lama merupakan puisi yang masih terikat oleh aturan-aturan.
Aturan puisi lama seperti jumlah kata yang terdapat dalam 1 baris,
jumlah baris yang terdapat dalam 1 bait, persajakan atau rima, banyak
suku kata pada tiap baris, dan irama.

Puisi baru
Puisi baru merupakan puisi yang sudah tidak terikat oleh aturan, berbeda
dengan puisi lama. Puisi baru memiliki bentuk yang lebih bebas
dibandingkan puisi lama baik dalam jumlah baris, suku kata, ataupun
rima.

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Analisis Puisi

1. Puisi dengan judul Kucari Jawab

Dalam puisi ini bunyi yang digunakan antara lain kakofoni dan euphony
hampir sama jumlahnya yaitu sama-sama berjumlah 9, bunyi konsonan :
M=4, NG=3, N=1,H=1, bunyi vokal : I=6, U=2, A=1.
2. Puisi dengan judul Kesabaran

Dalam puisi ini bunyi yang paling banyak digunakan adalah bunyi
euphony dengan jumlah keseluruhan 11, bisa diperinci sebagai berikut :
U=3, A=4, I=4

3. Puisi dengan judul Sajak Minum Kopi

Dalam puisi bunyi yang paling banyak digunakan yaitu bunyi euphony
dengan jumlah keseluruhan 14, bisa diperinci sebagai berikut : A=5, I=9

3.2 Persamaan dan Perbedaan

a. Persamaan

Dalam ketiga puisi diatas memiliki persamaan yaitu sama sama


menggambarkan tentang suasana hati sang penyair yang tidak
bahagia dan sama sama memiliki kesaaman jenis bunyi yaitu
euphony

b. Perbedaan

Dalam ketiga puisi diatas selain memiliki persamaan ada juga


perbedaannya yaitu perbedaan penggunaan huruf akhir yang puisi
pertama “Kucari Jawab” sering menggunakan huruf akhir “I”,
yang puisi kedua berjudul “Kesabaran” sering menggunakan
huruf akhir “A”, dan puisi yang ketiga yang berjudul “Sajak
Minum Kopi” sering menggunakan huruf akhir “I” namun yang
ini lebih banyak dari pada puisi yang pertama menggunakan
huruf akhir “I”.

BAB IV
KESIMPULAN

Menganalisis bagian bunyi ini sangat erat hubungannya dengan nilai


keindahan dalam puisi. Karena setiap puisi memiliki karakter tersendiri,
mulai yang berbunyi sedih atau yang biasanya didominasi oleh akhiran kata
konsonan (Kakaphony) dan ada juga yang berbunyi bahagia atau lebih
dikenal dengan Ephony atau kata yang berakhiran vokal.