Anda di halaman 1dari 7

TUGAS

MAKALA

“ MITIGASI BENCANA LIQUIFAKSI ”

OLEH :

LA ODE MUSTAKIM
F1B2 14 025

KENDARI
2015
 Definisi Liquifaksi

Liquifaksi adalah Fenomena hilangnya kekuatan keluatan kekakuan


lapisan tanah akibat adanya fektor getaran gempa bumi atau getaran lainnya. Hal
ini merupakan suatu proses atau kejadian berubahnya sifat tanah dari
keadaanpadat menjadi keadaan cair, yang disebabkan oleh beban siklik pada
waktu terjadi gempa sehingga tekanan air pori (porewater) meningkat mendekati
atau melampaui tegangan vertikal. Likuifaksi terjadi di tanah jenuh, yaitu tanah di
mana ruang antara partikel individu benar-benar penuh dengan air. Air ini
memberikan suatu tekanan pada partikel tanah yang mempengaruhi seberapa erat
partikel itu sendiri ditekan bersamaan. Sebelum gempa, tekanan air relatif rendah.
Namun, getaran gempa dapat menyebabkan tekanan air meningkat ke titik di
mana partikel tanah dengan mudah dapat bergerak terhadap satu sama lain.
Likuifaksi terjadi di tanah jenuh, yaitu tanah di mana ruang antara partikel
individu benar-benar penuh dengan air. Air ini memberikan suatu tekanan pada
partikel tanah yang mempengaruhi seberapa erat partikel itu sendiri ditekan
bersamaan. Sebelum gempa, tekanan air relatif rendah. Namun, getaran gempa
dapat menyebabkan tekanan air meningkat ke titik di mana partikel tanah dengan
mudah dapat bergerak terhadap satu sama lain.

Getaran gempa sering memicu peningkatan tekanan air namun kegiatan


konstruksi yang terkait seperti peledakan juga dapat menyebabkan peningkatan
tekanan air. Ketika likuifaksi terjadi kekuatan tanah menurun dan kemampuan
deposit tanah untuk mendukung pondasi untuk bangunan dan jembatan menjadi
berkurang.

A. Apa bencana liquifaksi ?

Bencana liquifaksi merupakan suatu bencana yang proses berkurangnya


kekuatan geser tanah akibat beban seismik ketika terjadi gempa bumi. Menurut
Towhata (2008) likuifaksi terjadi pada tanah yang berpasir lepas (tidak padat) dan
jenuh air. Seiring naiknya tekanan air yang diakibatkan oleh guncangan gempa,
maka tegangan efektif (’) menjadi berkurang.
Kondisi ini dapat dinyatakan, sebagai berikut:
' u
Dengan :
’ = tegangan efektif,
= tegangan total (berat permukaan tanah)
U = tekanan air pori
B. Apa penyebabnya bencana liquifaksi ?

Penyebab terjadinya liquifaksi adalah pada tanah jenuh, sehingga


kedalaman muka air tanah akan mempengaruhi kerentanan terhadap liquifaksi.
Kerentanan terhadap liquifaksi akan menurun dengan bertambah dalamnya muka
air tanah, dan pengaruh liquifaksi secara langsung dapat diamati di lapangan
dimana muka air tanah berada beberapa meter dari permukaan tanah, dan
berkurangnya kekutan geser tanah. Serata terjadinya peningkatan tekanan air pori
ekses akibat tegangan siklik pada saat gempa.

C. Dampak atau bahaya dari liquifaksi ?

 Gempa yang terjadi di Alaska, tahun 1964 berkekuatan 8,3 skala ritchter.
Kerusakan yang terjadi adalah jembatan yang berada sekitar 80 km sampai
dengan 120 km dari pusat gempa berupa bergesernya pilar dan pangkal
jembatan.
 Gempa yang terjadi di Niigata, Jepang pada tahun 1964 berkekuatan 7,3
skala ritcher dengan pusat gempa sekitar 56 kilo meter dari kota Niigata,
percepatan gempa maksimum 0,16 percepatan gravitasi. Gempa tersebut
menyebab-kan terjadinya pencairan tanah pasir pada area yang cukup luas
serta menggulingkan gedung-gedung yang berdiri dikota tersebut.
(Oshaki,1966; Seed dan Idriss,1982).
 Dapat merusak bangunan-banguna atau membuat keruntuhan.
 Ketika pasir kehilangan kekuatannya hal itu dikenal sebagai likuifaksi. Hal
ini dapat menyebabkan banyaknya bangunan tenggelam dan menyebabkan
kehancuran besar.
D. Bagaimana mitigasi bencana liquifaksi ?

Mitigasi bahaya likuifaksi di daerah rawan gempabumi memerlukan


pengetahuan yang baik mengenai kondisi geologi dan geologi teknik lapisan tanah
bawah permukaan yang mengontrol kerentanan lapisan tanah terhadap peristiwa
likuifaksi. Penelitian geologi dan geologi teknik dilakukan didaerah Padang dan
sekitarnya untuk mendapatkan zonasi daerah potensi likuifaksi didaerah ini.
Sasaran dari penelitian ini adalah untuk (1) mengidentifikasi lapisan tanah yang
berpotensi likuifaksi dan (2) menganalisis penurunan lapisan tanah akibat
likuifaksi. Sejumlah data kondisi geologi dan geoteknik bawah permukaan
diperoleh melalui kegiatan pemboran di 3 (tiga) titik, uji CPT/CPTU di 18 titik,
dan survei geolistrik di kota Padang dan sekitarnya. Analisis potensi penurunan
tanah akibat likuifaksi dilakukan dengan menggunakan metode Ishihara dan
Yosemine (1990). Hasil pemboran teknik sedalam 30 meter menunjukkan bahwa
kondisi geologi permukaan disusun oleh endapan pematang pantai berupa pasir
dengan konsistensi padat hingga lepas, dengan ketidakmenerusan endapan rawa
berupa lanau lempungan dengan konsistensi lunak. Sebaran endapan pematang
pantai lebih dominan di bagian utara dibandingkan dengan di bagian selatan.
Berdasarkan pola sebarannya, sumber endapan pantai diperkirakan berasal dari
arah Utara. Kedalaman muka airtanah relatif dangkal dengan kisaran 1,5 meter
hingga 2,0 meter. Hasil analisis potensi likuifaksi mengindikasikan bahwa kota
Padang dan sekitarnya akan mengalami penurunan lapisan tanah akibat likuifaksi
berkisar 0,1 m dan 0,35 m. Hal ini mengindikasikan bahwa lapisan pematang
pantai di daerah Padang cukup sensitif terhadap likuifaksi dan penurunan akibat
gempa. Potensi penurunan yang tinggi cenderung akan terjadi di daerah pesisir di
bagian Utara dari kota Padang. Fenomena ini kemungkinan besar terasosiasi
dengan sebaran pasir pematang pantai di daerah Utara yang lebih banyak, lebih
merata dan lebih tebal. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka potensi likuifaksi
yang diikuti oleh penurunan lapisan tanah di daerah Padang perlu mendapat
perhatian dalam pengembangan wilayah untuk mendukung upaya pencegahan
bencana gempabumi dan tsunami.
E. Aktifitas saat bencana liquifaksi ?

1.Saat Bencana

Diketahui bahwa peristiwa likuifaksi dan sebaran kerusakan akibat


likuifaksi. Pada umumnya hanya lerjadi pada daerah yang terbentuk oleh lapisan
sedimen granular yang jenuh air dengan densrtas yang rendah dan pada wilayah-
witayah dengan kemungkinan pergerakan seismik di permukaan melebihi batas
ambang tertentu (Seed & !driss, 1971; Bowles. 1996; Kramer, 1996), daerah-
daerah perkotaan yang terbentuk olen lapisan sedimen pastf yang belum
terpadatkan cenderung mengalami kerusakan yang parah akibat likuifaksi selama
gempa bumi besar. Sebagai contoh, Kota bengkulu mengalami kerusakan akibat
likuifaks) selama gempa bumi tahun 2000 dan 2007 di wilayah pesisirnya yang
terbentuk oleh lapisan endapan pasir pantai yang belum mengalami pemadatan
(Tohari A, dkk, 2007), kota Banda Aceh. Jdgjakarta (Soebowo. E, 2007).
Pameungpeuk, Pangalengan dan lerakhir kota Padang tahun 2009. Fenomena
likuifaksi tarjadi seiring terjadinya gempa bumi besar. Secara visuai peristiwa
likuifaksi ini; ditandai muncu/nya lumpur pasir di permukaan tanah berupa
semburan pasir (sand boil), rembesan air melalui rekahan tanah, atau bisa juga
dalam bentuk tenggelamnya struktur bangunan di alas permukaan, penurunan
muka tanah dan perpindahan lateral. Pada saat gempa terjadi, gelombang gempa
merambat ke segala arah, salah satunya adalah perambatan gelombang geser yang
berasal dari pusat pelepasan energi (Krame·r. 1996). Bila lapisan pasir jenuh air
mengalami getaran, maka massa pasir tersebut akan cenderung untuk memadat
atau volumenya akan mengecil. Dalam proses tersebut, air dalam pori-pori tanah
pasir tidak dapat berdrainase, maka kecenderungan pasir untuk memadat
mengakibatkan kenaikan tekanan air pori, dan bila tekanan air pori meningkatkan
terus hingga menyamai tegangan total dalam elemen tanah, maka tegangan
efektifnya menjadi nol dan pasir akan kehilangan kekuatan gesernya. Sehingga
akan berperilaku seperti cairann lumpur.Maka dapat dimengerti secara umum
penyebab utama peristiwa pencairan tanah pasir saat gempa adalah peningkatan
tekanan air pori berlebih (excess pore water pressure) akibat tegangan siklik
(tegangan geser bolak-balik) dalam getaran tanah. Akibat struktur tanah, pasir
menerima tegangan geser secara berturut-turut, struktur tersebut akan mengecil
volumenya atau dengan kata lain memadat, tetapi karena peristiwa ini terjadi
dengan sangat cepat maka pengecilan volume dicegah karen air tidak sempat
keuar dari pori-pori tanah sehingga terjadi pengalihan tegangan tersebut kepada
air pori dan pengurangan tegangan kontak antara partikef tanah pasir (Seed dan
Idoss, 1982).

2. Pasca Bencana

Hasil peninjauan pasca gempa bumi 2009 di daerah Padang beberapa


lokasi mengindikasikan bahwa likuifaksi menghasilkan penurunan paska lapisan
tanah bervariasi antara 5 -10 cm, 20 -50 cm dan 50 -100 cm, terutama di kawasan
Purus, Air Tawar, Pasir Kandang, Pasir Gurun, Pasir Jambak dan lokasi lainnya
(Tim Geoteknologi-LIPI, 2009). Selain itu, fenomena likuifaksi terkonsentrasi
pada zona endapan pematang pantai, sungai, swamp, aluvial pada jalur gempa
bumi yang berarah hampir barat laut tenggara yang dikontrol oleh muka air tanah
dangkal, kekuatan lapisan tanah bawah permukaan yang rendah atau dangkal dan
material yang lepas. Namun,hasil kajian ini masih bersifat lokal dan belum dapat
mengambarkan secara keseluruhan kerentanan likuifaksi di wilayah-wilayah
bahaya gempa bumi di Kota Padang. Akibat gempa bumi Kota Padang 2009,
fenomena likuifaksi berupa semburan pasir terjadi melalui rekahan-rekahan yang
memotong badan jalan dan perpindahan lateral di kawasan pesisir. Oleh karena
itu, kajian tentang bahaya likuifaksi diperlukan dalam upaya memberikan
informasi cakupan daerah-daerah yang rentan terhadap likuifaksi dan apakah
daerah-daerah yang rentan tersebut dalam proses pembangunan ataupun
rekrontruksi ulang, sehingga upaya mitigasi dalam angka mengurangi resiko
bencana likuifaksi dapat dilakukan sesuai dengan tingkat kerentanan likuifaksi di
setiap daerah.
DAFTAR PUSTAKA

Blake, T.F. 1997. Formula (4), Summary Report of Proceedings of the NCEER
Workshop on Evaluation of Liquefaction Resistance of Soils. Youd, T.L., and
Idriss, '-M., eds., Technical Report NCEER 97-0022

Cetin,K, Onder, Raymond,B,Seed, Armen Der Kiureghian, Kohji Tokomatsu, Leslie


F.Harder Jr., Robert E Kayen, and Robert ES.Moss, 2004, Standart
Penetration Test Based Probabilistic and D€terministic Assesment of Seismic
Soil Liquefaction Potential, Journal of Geotechnical and Geoenvironmental
Engineering, Vo1.130, No.12, December 1, 2004, pp.1314 -1340.

Gustavo,AO, 2000, A Computer Program for the 1-0 Analysis of Geotechnical


Earthquake Engineering Problem, Shake2000.

http'//wwwbmkggo id

http://earthquake. usgs. gov /eqcenter/eqi nthenews/2007 /us200 7hm as/