Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

FRAKTUR FEMUR

I. PENDAHULUAN
1.1. Definisi
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan
tulang dan tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa
(Mansjoer, 2003).
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai
jenis dan luasnya fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar
dari yang dapat diabsorpsinya. Fraktur dapat disebabkan pukulan langsung,
gaya meremuk, gerakan punter mendadak, dan bahkan kontraksi otot
ekstrem (Bruner & Sudarth, 2002).
Fraktur femur adalah terputusnya kontinuitas batang femur yang bisa
terjadi akibat trauma langsung (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian).
Patah pada tulang femur dapat menimbulkan perdarahan cukup banyak serta
mengakibatkan penderita mengalami syok (Sjamsuhidajat, 2004).
Fraktur femur dapat dibedakan menjadi:
a. Fraktur tertutup (closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen
tulang dengandunia luar.
b. Fraktur terbuka (open/compound), bila terdapat hubungan antara
fragemen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukan di kulit,
fraktur terbuka dibagi menjadi tiga derajat, yaitu :
1) Derajat I
a) luka kurang dari 1 cm
b) kerusakan jaringan lunak sedikit tidak ada tanda luka remuk.
c) fraktur sederhana, tranversal, obliq atau kumulatif ringan.
d) Kontaminasi ringan.
2) Derajat II
a) Laserasi lebih dari 1 cm
b) Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, avulse

1
c) Fraktur komuniti sedang.
3) Derajat III
Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas meliputi struktur kulit,
otot dan neurovaskuler serta kontaminasi derajat tinggi.
c. Fraktur complete
Patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami
pergerseran (bergeser dari posisi normal).
d. Fraktur incomplete
Patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang.

1.2. Etilogi
Penyebab fraktur dapat dibagi menjadi tiga yaitu :
1) Cedera traumatik
Cedera traumatik pada tulang dapat disebabkan oleh :
a) Cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulang sehingga
tulang pata secara spontan. Pemukulan biasanya menyebabkan
fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya.
b) Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari
lokasi benturan, misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan
menyebabkan fraktur klavikula.
c) Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari otot
yang kuat.

2
2) Fraktur Patologik
Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit dimana dengan
trauma minor dapat mengakibatkan fraktur dapat juga terjadi pada
berbagai keadaan berikut :
a) Tumor tulang (jinak atau ganas) : pertumbuhan jaringan baru yang
tidak terkendali dan progresif.
b) Infeksi seperti osteomielitis : dapat terjadi sebagai akibat infeksi akut
atau dapat timbul sebagai salah satu proses yang progresif, lambat
dan sakit nyeri.
c) Rakhitis : suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh defisiensi
Vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain,
biasanya disebabkan oleh defisiensi diet, tetapi kadang-kadang
dapat disebabkan kegagalan absorbsi Vitamin D atau oleh karena
asupan kalsium atau fosfat yang rendah.
3) Secara spontan : disebabkan oleh stress tulang yang terus menerus
misalnya pada penyakit polio dan orang yang bertugas dikemiliteran.

1.3. Manifestasi Klinis


Lewis (2006) menyampaikan manifestasi klinik fraktur adalah sebagai
berikut :
1) Nyeri
Nyeri dirasakan langsung setelah terjadi trauma. Hal ini dikarenakan
adanya spasme otot, tekanan dari patahan tulang atau kerusakan jaringan
sekitarnya.
2) Bengkak /edema
Edema muncul lebih cepat dikarenakan cairan serosa yang terlokalisir
pada daerah fraktur dan extravasasi daerah di jaringan sekitarnya.
3) Memar/ekimosis
Merupakan perubahan warna kulit sebagai akibat dari extravasasi daerah
di jaringan sekitarnya.
4) Spasme otot
Merupakan kontraksi otot involunter yang terjadi di sekitar fraktur.

3
5) Penurunan sensasi
Terjadi karena kerusakan syaraf, terkenanya syaraf karena edema.
6) Gangguan fungsi
Terjadi karena ketidakstabilan tulang yang fraktur, nyeri atau spasme
otot. Paralysis dapat terjadi karena kerusakan syaraf.
7) Mobilitas abnormal
Adalah pergerakan yang terjadi pada bagian-bagian yang pada kondisi
normalnya tidak terjadi pergerakan. Ini terjadi pada fraktur tulang
panjang.
8) Krepitasi
Merupakan rasa gemeretak yang terjadi jika bagian-bagian tulang
digerakkan.
9) Deformitas
Abnormalnya posisi dari tulang sebagai hasil dari kecelakaan atau
trauma dan pergerakan otot yang mendorong fragmen tulang ke posisi
abnormal, akan menyebabkan tulang kehilangan bentuk normalnya.
10) Shock hipovolemik
Shock terjadi sebagai kompensasi jika terjadi perdarahan hebat.
11) Gambaran X-ray menentukan fraktur
Gambaran ini akan menentukan lokasi dan tipe fraktur.

1.4. Patofisiologi
Fraktur dibagi menjadi fraktur terbuka dan fraktur tertutup. Tertutup
bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar.
Sedangkan fraktur terbuka bila terdapat hubungan antara fragmen tulang
dengan dunia luar oleh karena perlukaan di kulit. Sewaktu tulang patah
perdarahan biasanya terjadi di sekitar tempat patah ke dalam jaringan lunak
sekitar tulang tersebut, jaringan lunak juga biasanya mengalami kerusakan.
Reaksi perdarahan biasanya timbul hebat setelah fraktur. Sel- sel darah putih
dan sel anast berakumulasi menyebabkan peningkatan aliran darah ketempat
tersebut aktivitas osteoblast terangsang dan terbentuk tulang baru umatur
yang disebut callus. Bekuan fibrin direabsorbsidan sel- sel tulang baru

4
mengalami remodeling untuk membentuk tulang sejati. Insufisiensi
pembuluh darah atau penekanan serabut syaraf yang berkaitan dengan
pembengkakan yang tidak di tangani dapat menurunkan asupan darah ke
ekstrimitas dan mengakibatkan kerusakan syaraf perifer. Bila tidak
terkontrol pembengkakan akan mengakibatkan peningkatan tekanan
jaringan, oklusi darah total dan berakibat anoreksia mengakibatkan rusaknya
serabut syaraf maupun jaringan otot. Komplikasi ini di namakan sindrom
compartment (Brunner dan Suddarth, 2002).
Trauma pada tulang dapat menyebabkan keterbatasan gerak dan
ketidak seimbangan, fraktur terjadi dapat berupa fraktur terbuka dan fraktur
tertutup. Fraktur tertutup tidak disertai kerusakan jaringan lunak seperti
tendon, otot, ligament dan pembuluh darah ( Smeltzer dan Bare, 2001).
Klien yang harus imobilisasi setelah patah tulang akan menderita
komplikasi antara lain : nyeri, iritasi kulit karena penekanan, hilangnya
kekuatan otot. Kurang perawatan diri dapat terjadi bila sebagian tubuh di
imobilisasi, mengakibatkan berkurangnyan kemampuan prawatan diri.
Reduksi terbuka dan fiksasi interna (ORIF) fragmen- fragmen tulang
di pertahankan dengan pen, sekrup, plat, paku. Namun pembedahan
meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi. Pembedahan itu sendiri
merupakan trauma pada jaringan lunak dan struktur yang seluruhnya tidak
mengalami cedera mungkin akan terpotong atau mengalami kerusakan
selama tindakan operasi (Price dan Wilson: 1995).

5
Pathway Fraktur

1.5. Komplikasi
1. Komplikasi Awal
a. Kerusakan arteri
b. Kompartemen Sindrom
c. Fat embolism sindrom
d. Infeksi
e. Avaskuler nekrosis
f. Syok
2. Komplikasi dalam waktu lama
a. Delayed union
b. Nonunion
c. Malunion

6
1.6. Penatalaksanaan
Fraktur biasanya menyertai trauma, untuk itu penting melakukan
pemeriksaan terhadap jalan nafas (airway), pernafasan (breathing), dan
sirkulasi (circulation), Apakah terjadi syik atau tidak. Bila dinyatakan sudah
tidak ada masalah lagi baru dilakukan anamnesa serta pemeriksaan fisik
secara terperinci, cepat , singkat, dan lengkap. Tanyakan waktu terjadinya
kecelakaan mengingat golden period 1- 6 jam. Lakukan foto radiologi &
pemasangan bidai untuk mengurangi rasa sakit & mencegah terjadinya
kerusakan yang lebih berat.
Pengobatan Fraktur :
1. Dengan proteksi tanpa imobilisai
2. Imobilisasi dengan fiksasi/ imobilisasi luar tanpa reposisi tetapi tetap
memerlukan imobilisasi supaya tidak terjadi dislokasi fragmen
3. Reposisi dengan cara manipulasi diikuti dengan imobilisasi
4. Reposisi dengan traksi terus menerus selama masa tertentu, diikuti
dengan imobilisasi.
5. Reposisi diikuti dengan imobilisasi dengan fiksasi luar (fiksator
ekstern).
6. Reposisi secara non operatif diikuti dengan pemasangan fiksasi dalam
pada tulang secara operatif (pemasangan pen), misalnya patah tulang
kolum femur.
7. Reposisi secara operatif diikuti dengan fiksasi patah tulang dengan
pemasangan fiksasi interna (pemasangan pen / plat dengan skrup
8. Eksisi fragmen patahan tulang & menggantinya dengan protesis, yang
dilakukan pada patah tulang femur tidak dapat menyambung kembali.

7
II. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
2.1.Pengkajian
2.1.1. Riwayat Keperawatan
1) Riwayat Penyakit Sekarang
Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari
fraktur, yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan
terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi terjadinya penyakit
tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan yang terjadi
dan bagian tubuh mana yang terkena. Selain itu, dengan
mengetahui mekanisme terjadinya kecelakaan bisa diketahui luka
kecelakaan yang lain
2) Riwayat Penyakit Dahulu
Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan
memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan
menyambung. Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang dan
penyakit paget’s yang menyebabkan fraktur patologis yang sering
sulit untuk menyambung. Selain itu, penyakit diabetes dengan luka
di kaki sanagt beresiko terjadinya osteomyelitis akut maupun
kronik dan juga diabetes menghambat proses penyembuhan tulang
3) Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang
merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur, seperti
diabetes, osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan,
dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik
4) Riwayat Psikososial
Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang
dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta
respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik
dalam keluarga ataupun dalam masyarakat

8
2.1.2. Pemeriksaan Fisik
1) Gambaran Umum
a. Kesadaran penderita: apatis, sopor, koma, gelisah,
komposmentis tergantung pada keadaan klien.
b. Kesakitan, keadaan penyakit: akut, kronik, ringan, sedang,
berat dan pada kasus fraktur biasanya akut.
c. Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik
fungsi maupun bentuk.
2) Sistem Integumen
Terdapat erytema, suhu sekitar daerah trauma meningkat, bengkak,
oedema, nyeri tekan.
3) Kepala
Tidak ada gangguan yaitu, normo cephalik, simetris, tidak ada
penonjolan, tidak ada nyeri kepala.
4) Leher
Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak ada penonjolan, reflek
menelan ada.
5) Wajah
Wajah terlihat menahan sakit, lain-lain tidak ada perubahan fungsi
maupun bentuk. Tak ada lesi, simetris, tak oedema.
6) Mata
Terdapat gangguan seperti konjungtiva anemis (jika terjadi
perdarahan)
7) Telinga
Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Tidak ada lesi
atau nyeri tekan.
8) Hidung
Tidak ada deformitas, tak ada pernafasan cuping hidung.
9) Mulut dan Faring
Tak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi perdarahan, mukosa
mulut tidak pucat.

9
10) Thoraks
Tak ada pergerakan otot intercostae, gerakan dada simetris.
11) Paru
a. Inspeksi
Pernafasan meningkat, reguler atau tidaknya tergantung pada
riwayat penyakit klien yang berhubungan dengan paru.
b. Palpasi
Pergerakan sama atau simetris, fermitus raba sama.
c. Perkusi
Suara ketok sonor, tak ada erdup atau suara tambahan lainnya.
d. Auskultasi
Suara nafas normal, tak ada wheezing, atau suara tambahan
lainnya seperti stridor dan ronchi.
12) Jantung
a. Inspeksi
Tidak tampak iktus jantung.
b. Palpasi
Nadi meningkat, iktus tidak teraba.
c. Auskultasi
Suara S1 dan S2 tunggal, tak ada mur-mur.
13) Abdomen
a. Inspeksi
Bentuk datar, simetris, tidak ada hernia.
b. Palpasi
Tugor baik, tidak ada defands muskuler, hepar tidak teraba.
c. Perkusi
Suara thympani, ada pantulan gelombang cairan.
d. Auskultasi
Peristaltik usus normal 20 kali/menit.
14) Inguinal-Genetalia-Anus
Tak ada hernia, tak ada pembesaran lymphe, tak ada kesulitan
BAB.

10
2.1.3. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan radiologi
a. Pemeriksaan rontgen: Untuk menentukan lokasi, luas dan jenis
fraktur
b. Scan tulang, tomogram, CT-scan/ MRI: Memperlihatkan frakur
dan mengidentifikasikan kerusakan jaringan lunak.
2. Pemeriksaan laboratorium
a. Pemeriksaan darah lengkap: Ht mungkin meningkat
(hemokonsentrasi) atau menurun (pendarahan bermakna pada
sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multipel), Peningkatan
Sel darah putih adalah respon stres normal setelah trauma.
b. Kreatinin : Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk
klirens ginjal.
3. Pemeriksaan Penunjang Lain
1. Arteriogram : dilakukan bila ada kerusakan vaskuler.
2. CCT: dilakkukan bila banyak kerusakan otot.

2.2. Analisa Data


No. Data Etiologi Masalah
DS : 1 Fraktur Gangguan rasa
Klien mengatakan nyeri pada ↓ nyaman nyeri
betis sebelah kiri kerena patah Diskontinuitas tulang
DO : ↓
- Klien tampak lemah Pergeseran fragmen
- Tampak edema pada tulang
bagian fraktur ↓
- Nyeri bertambah jika pada Nyeri
bagian yang fraktur di
gerakkan
DS : 2 Fraktur Gangguan
Keluarga klien mengatakan ↓ mobilitas fisik
aktivitas klien selalu dibantu Diskontinuitas tulang
oleh keluarga ↓
DO : Perubahan jaringan
- Klien tampak selalu di sekitar
bantu oleh keluarga dan ↓
perawat dalam melakukan Pergeseran fragmen
aktivitas tulang

11
- Fraktur pada femur ↓
Deformitas

Gangguan fungsi

Gangguan mobilitas
fisik
3 DS : Fraktur terbuka Resiko Infeksi
Klien mengeluh badan terasa ↓
panas Diskontinuitas tulang

DO: Robekan jaringan lunak
- Badan klien saat diraba / terputusnya pembuluh
terasa panas darah
- Suhu klien > 36.5oC ↓
mudah masuknya
kuman

Resiko infeksi

2.3. Diagnosa Keperawatan


1. Nyeri (akut) berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang,
edema dan cedera pada jaringan lunak, alat traksi/ immobilisasi
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kehilangan intregritas
tulang, terapi pembatasan gerak, kerusakan musculoskeletal
3. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tak ada kuatnya
pertahanan primer: kerusakan kulit, trauma jaringan, terpajan pada
lingkungan, prosedur invasif, traksi tulang

12
2.4. Nursing Care Planning
No
Diagnosa Intervensi
Tujuan dan Kriteria Hasil (NOC) Rasional Tindakan
. Keperawatan (NIC)
1. Nyeri (akut) Setelah diberikan asuhan 1. Observasi TTV. 1. Mengetahui kondisi klien sehingga
berhubungan keperawatan nyeri yang dialami 2. Kaji nyeri dengan teknik dapat menentukan rencana
dengan spasme klien berkurang atau hilang. PQRST. selanjutnya seperti peningkatan
otot, gerakan 3. Anjurkan klien istirahat di nadi, tekanan darah dimana
fragmen tulang, Kriteria Hasil tempat tidur. menunjukan adanya peningkatan
edema dan cedera o Klien menyatakan nyeri 4. Beri posisi nyaman. atau penurunan akibat rasa nyeri
5. Ajarkan teknik distraksi dan sehingga merupakan indikator atau
pada jaringan berkurang
relaksasi. derajat nyeri secara tidak langsung.
lunak, alat traksi / o Klien mengungkapkan mampu
6. Beri kompres hangat / dingin 2. Menunjukan perubahan dimana
immobilisasi tidur / istirahat dengan baik. sesuai indikasi. memerlukan evaluasi dan intervensi
o Klien tampak rileks
7. Intruksikan klien untuk yang berguna dalam pengawasan
o TD klien dalam rentang normal melaporkan nyeri dengan keefektifan obat, kemajuan
o Frekuensi nadi klien dalam segera jika nyeri itu muncul. penyembuhan.
rentang normal 8. Beri teknik sentuhan yang 3. Istirahat yang adekuat dapat
o Klien dapat beraktivitas sesuai terapeutik, biofeedback, mengurangi intensitas nyeri dimana
kemampuan. hipnotis sendiri, dan reduksi istirahat dapat meningkatkan
stress. normalisasi fungsi organ, misalnya
9. Beri HE mengenai menurunkan ketidaknyamanan pada
manajemen nyeri. daerah abdomen post operasi.
10. Kolaborasi untuk pemberian 4. Gravitasi melokalisasi eksudat
analgetik. inflamasi dalam abdomen bawah
atau pelvis, menghilangkan
tegangan abdomen yang bertambah
dengan posisi terlentang.
5. Distraksi menghilangkan nyeri
dengan cara mengalihkan perhatian

13
No
Diagnosa Intervensi
Tujuan dan Kriteria Hasil (NOC) Rasional Tindakan
. Keperawatan (NIC)
Klien dengan cara mengajak klien
dalam hal-hal yang digemari.
Relaksasi mengurangi ketegangan,
membuat perasaan lebih nyaman,
dan meningkatkan mekanisme
koping.
6. Dengan mengompres di sekitar
daerah yang terindikasi dapat
memvasodilatasi dan meningkatkan
aliran sirkulasi sehingga dapat
mengurangi ketegangan dan
meningkatkan relaksasi otot akibat
nyeri yang ditimbulkan dan
memberikan sensasi yang
menyenangkan.
7. Pengenalan segera meningkatkan
intervensi dini dan dapat
menurunkan beratnya serangan
yang ditimbulkan.
8. Memberikan klien sejumlah
pengendali nyeri dan / atau dapat
mengubah mekanisme sensasi nyeri
dan mengubah persepsi nyeri.
9. Berikan informasi tentang
nyeri, seperti penyebab nyeri,
berapa lama nyeri akan
berlangsung, dan antisipasi ketidak

14
No
Diagnosa Intervensi
Tujuan dan Kriteria Hasil (NOC) Rasional Tindakan
. Keperawatan (NIC)
nyamanan akibat timbulnya nyeri
sehingga klien tidak mengalami
kecemasan dan klien mampu
mandiri untuk menangani jika nyeri
itu timbul.
10. Analgetik berguna mengurangi
nyeri sehingga klien menjadi lebih
nyaman
2. Gangguan Setelah diberikan asuhan 1. Kaji kemampuan mobilisasi 1. Menilai sejauh mana masalah yang
mobilitas fisik keperawatan diharapkan klien klien dialami klien
berhubungan dapat melakukan mobilitas fisik 2. Bantu latihan rentang gerak 2. Meningkatkan sirkulasi darah
dengan secara mandiri atu kerusakan pasif aktif pada ekstremitas muskuloskeletal, mempertahankan
kehilangan mobilitas fisik dapat berkurang yang sakit maupun yang sehat tonus otot, mempertahakan gerak
intregritas tulang, Kriteri hasil : sesuai keadaan klien. sendi, mencegah kontraktur/atrofi
terapi o Meningkatkan atau 3. Berikan penyangga pada dan mencegah reabsorbsi kalsium
pembatasan
mempertahankan mobilitas ekstrimitas yang bermasalah karena imobilisasi.
gerak, kerusakan
pada tingkat yang paling tinggi 4. Ubah posisi secara periodik 3. Mempertahankan posis fungsional
musculoskeletal
yang mungkin sesuai keadaan klien. ekstremitas.
o Mempertahankan posisi 5. Dorong/pertahankan asupan 4. Menurunkan insiden komplikasi
fungsional cairan. kulit dan pernapasan (dekubitus,
o Meningkatkan kekuatan atau 6. Berikan diet TKTP. atelektasis, penumonia).
fungsi yang sakit 7. Kolaborasi pelaksanaan 5. Mempertahankan hidrasi adekuat,
fisioterapi sesuai indikasi. mencegah komplikasi urinarius dan
konstipasi
6. Kalori dan protein yang cukup
diperlukan untuk proses

15
No
Diagnosa Intervensi
Tujuan dan Kriteria Hasil (NOC) Rasional Tindakan
. Keperawatan (NIC)
penyembuhan dan mempertahankan
fungsi fisiologis tubuh.
7. Kerjasama dengan fisioterapis perlu
untuk menyusun program aktivitas
fisik secara individual

3. Risiko tinggi Setelah diberikan asuhan 1. Observasi tanda-tanda vital 1. Peningkatan suhu tubuh merupakan
terhadap infeksi keperawatan diharapkan tidak dan tanda-tanda infeksi salah satu tanda terjadinya proses
berhubungan terjadi infeksi 2. Analisa hasil pemeriksaan infeksi.
dengan tak ada Kriteri hasil : laboratorium (Hitung darah 2. Leukositosis biasanya terjadi pada
kuatnya o Tidak terdapat tanda dan gejala lengkap, LED, Kultur dan proses infeksi, anemia dan
pertahanan infeksi sensitivitas luka/serum/tulang) peningkatan LED dapat terjadi pada
primer: osteomielitis.Kultur untuk
o Klien mampu mendiskripsikan 3. Lakukan perawatan perawatan
kerusakan kulit, mengidentifikasi organisme
proses penularan penyakit, luka
trauma jaringan, penyebab infeksi
factor yang mempengaruhi 4. Ajarkan klien untuk
terpajan pada 3. Mencegah infeksi sekunderdan
lingkungan, penularan serta mempertahankan kebersihan
penatalaksanaannya luka. mempercepat penyembuhan luka.
prosedur invasif, 4. Meminimalkan kontaminasi dan
traksi tulang o Klien mempunyai kemampuan 5. Jelaskan kepada klien dan
untuk mencegah timbulnya keluarga tanda dan gejala resiko terjadinya infeksi
infeksi infeksi 5. Mencegah terjadinya infeksi secara
o Jumlah leukosit dalam batas 6. Kolaborasi pemberian lebih awal
6. Antibiotika spektrum luas atau
normal(5.000 – 10.000) antibiotika
spesifik dapat digunakan secara
profilaksis, mencegah atau
mengatasi infeksi.

16
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L. J. (2006). Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8, Penerjemah


Monica Ester. Jakarta: EGC

Closkey ,Joane C. Mc, Gloria M. Bulechek.(1996). Nursing Interventions


Classification (NIC). St. Louis :Mosby Year-Book.
Dermawan, T. R. (2010). Keperawatan Medikal Bedah (Sistem Pencernaan).
Yogyakarta: Gosyen Publishing.

Doenges ME, dkk.. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, edisi 3. Jakarta : EGC

Johnson,Marion, dkk. (2000). Nursing Outcome Classifications (NOC). St. Louis :


Mosby Year-Book
Price, S. A. (2005). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi
6,Volume I. Jakarta: EGC

Sjamsuhidajat R, W. d. (2004). Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2. Jakarta: EGC.

Sudoyo, A. W. (2006). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: FKUI

Potter, P. A. (2006). Buku Ajar Fundamental Keperawatan, Edisi 4, Volume 2.


Jakarta : EGC

17