Anda di halaman 1dari 18

MANAJEMEN RISIKO FINANSIAL

“ASURANSI KERUGIAN”

Dosen Pembimbing :
Dianty Putri Purba, S.E., M.Si.

Oleh Kelompok 12 :
Maria Sitorus 163304020666
Marsella Chandra 163304020647
Wilson Tantawi 163304020677

UNIVERSITAS PRIMA INDONESIA


FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN MANAJEMEN
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Usaha asuransi merupakan suatu mekanisme yang memberikan perlindungan pada

tertanggung apabila terjadi risiko di masa mendatang. Apabila risiko tersebut benar-benar terjadi,

pihak tertanggung akan mendapatkan ganti rugi sebesar nilai yang diperjanjikan antara

penanggung dan tertanggung. Mekanisme perlindungan ini sangat dibutuhkan dalam dunia bisnis

yang penuh dengan risiko. Secara rasional, para pelaku bisnis akan mempertimbangkan untuk

mengurangi risiko yang dihadapi. Pada tingkat kehidupan keluarga atau rumah tangga, asuransi

juga dibutuhkan untuk mengurangi permasalahan ekonomi yang akan dihadapi apabila ada salah

satu anggota keluarga yang menghadapi risiko cacat atau meninggal dunia.

Perkembangan asuransi di Indonesia saat ini telah mengalami kemajuan yang sangat

pesat. Berbagai perusahaan asuransi berlomba-lomba menawarkan program asuransi baik bagi

masyarakat maupun perusahaan. Seiring dengan perkembangan berbagai program syariah yang

telah diusung oleh lembaga keuangan lain, banyak perusahaan asuransi yang saat ini

juga menawarkan program asuransi syariah.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari asuransi kerugian?

2. Apa saja manfaat asuransi kerugian?

3. Apa yang dimaksud dengan risiko dan ketidakpastian?

4. Apa saja prinsip dalam asuransi?


5. Apa yang dimaksud dengan polis dan premi asuransi?

6. Pengaturan perasuransian di Indonesia ?

7. Perizinan pendirian perusahaan asuransi ?

C. Tujuan

Makalah ini bertujuan agar mahasiswa dapat :

1. Mengetahui pengertian dari asuransi kerugian.

2. Mengetahui saja manfaat asuransi kerugia.

3. Mengetahui yang dimaksud dengan risiko dan ketidakpastian.

4. Mengetahui saja prinsip dalam asuransi.

5. Mengetahui yang dimaksud dengan polis dan premi asuransi.

6. Mengetahui Pengaturan perasuransian di Indonesia.

7. Mengetahui Perizinan pendirian perusahaan asuransi.

D. Manfaat

Makalah ini diharapkan dapat memberi manfaat kepada para pembaca berupa :

1. Pengetahuan mengenai seluk beluk asuransi.

2. Pengetahuan mengenai seluk beluk asuransi kerugian.


BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Asuransi

Pada prinsipnya, asuransi kerugian adalah mekanisme proteksi atau perlindungan dari

risiko kerugian keuangan dengan cara mengalihkan risiko kepada pihak lain. Berikut adalah

beberapa definisi asuransi menurut beberapa sumber :

1. Menurut Kitab Undang-undang Hukum Dagang pasal 246

Asuransi atau pertanggungan adalah suatu perjanjian dengan mana sesorang penanggung

mengikatkan diri kepada seseorang tertanggung, dengan menerima suatu premi untuk memberikan

penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang

diharapkan, yang mungkin terjadi karena suatu peristiwa tak tentu.

2. Menurut Undang-undang No. 2 Th. 1992 tentang Usaha Perasuransian

Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak

penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk

memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan, atau kehilangan

keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan

diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan

suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang

dipertanggungkan.

3. Menurut Paham Ekonomi

Asuransi merupakan suatu lembaga keuangan karena melalui asuransi dapat dihimpun dana besar,

yang dapat digunakan untuk membiayai pembangunan, disamping bermanfaat bagi masyarakat
yang berpartisipasi dalam bisnis asuransi, serta asuransi bertujuan memberikan perlindungan atau

proteksi atas kerugian keuangan (financial loss), yang ditimbulkan oleh peristiwa yang tidak

diduga sebelumnya (fortuitious event).

B. Tujuan Asuransi

Menurut Prof. Ny. Emmy Pangaribuan Simanjuntak, S. H., asuransi itu mempunyai tujuan,

pertama-tama ialah: mengalihkan segala resiko yang ditimbulkan peristiwa-peristiwa yang tidak

diharapkan terjadi kepada orang lain yang mengambil resiko untuk mengganti kerugian. Pikiran

yang terselip dalam hal ini ialah, bahwa lebih ringan dan mudah apabila yang menanggung resiko

dari kekurangan nilai benda-benda itu beberapa orang daripada satu orang saja, dan akan

memberikan suatu kepastian mengenai kestabilan dari nilai harat bendanya itu jika ia akan

mengalihkan resiko itu kepada suatu perusahaan, dimana dia sendiri saja tidak berani

menanggungnya.

Sebaliknya seperti yang dikemukakan oleh Mr. Dr. A. F. A. Volman bahwa orang-orang

lain yang menerima resiko itu, yang disebut penanggung bukanlah semata-mata melakukan itu

demi prikemanusiaan saja dan bukanlah pula bahwa dengan tindakan itu kepentingan-kepentingan

mereka jadi korban untuk membayar sejumlah uang yang besar mengganti kerugian-kerugian yang

ditimbulkan oleh peristiwa-peristiwa itu.

Para penanggung itu adalah lebih dapat menilai resiko itu dalam perusahaan mereka,

daripada seseorang tertanggung yang berdiri sendiri, oleh karena itu biasanya didalam Praktek para

penanggung asuransi yang sedemikian banyaknya, mempunyai dan mempelajari pengalaman-

pengalaman mereka tentang penggantian kerugian yang bagaimana terhadap sesuatu resiko yang

dapat memberikan suatu kesempatan yang layak untuk adanya keuntungan.


C. Penggolongan Asuransi

1. Asuransi Kerugian/ Umum

Asuransi keugian/umum(general Insurance) adalah jenis asuransi yang memberikan jaminan bagi

berbagai resiko yang mengancam harta benda dan berbagai kepentingan.

2. Asuransi jiwa

Asuransi jiwa(life Insurance) adalah jenis asuransi yang memberikan jaminan terhadap kehilangan

jiwa sseorang. Atau dengan kata lain suatu jasa yang diberikan oleh perusahaan asuransi dalam

penanggulangan resiko yang berkaitan dengan jiwa atau meninggalnya seseorang yang

dipertanggungkan, meliputi asuransi kecelakaan diri, asuransi jiwa seperti asuransi berjangka(term

Insurance), asuransi seumur hidup(whole Life Insurance), anuitas, dan asuransi industry(industrial

insurance).

3. Asuransi social

Penyelenggaraan asuransi jiwa didasarkan pada peraturan perundangan tersendiri yang berdifat

wajib serta didalamya terkandung tujuan tertentu dari pemerintah untuk memberikan perlindungan

bagi masyarakat atau sebagian anggota masyarakat. Karenaya system ini disebut asuransi sosial.

D. Pengertian Asuransi Kerugian

Beberapa pengertian asuransi kerugian diantaranya :

Pada prinsipnya, asuransi kerugian adalah mekanisme proteksi atau perlindungan dari risiko

kerugian keuangan dengan cara mengalihkan risiko kepada pihak lain.

Asuransi kerugian adalah suatu perjanjian asuransi yang berisikan ketentuan bahwa penanggung

mengikatkan dirinya untuk melakukan prestasi berupa memberikan ganti kerugian kepada

tertanggung seimbang dengan kerugian yang diderita oleh pihak yang tertanggung.
Asuransi kerugian adalah asuransi yang memberikan ganti rugi kepada tertanggung yang menderita

kerugian barang atau benda miliknya, kerugian mana terjadi karena bencana atau bahaya terhadap

mana pertanggungan ini diadakan, baik kerugian itu berupa :

- Kehilangan nilai pakai

- Kekurangan nilainya

- Kehilangan keuntungan yang diharapkan oleh tertanggung

Penanggung tidak harus membayar ganti rugi kepada tertanggung kalau selama jangka

waktu perjanjian obyek pertanggungan tidak mengalami bencana atau bahaya yang

dipertanggungkan.

E. Manfaat Asuransi Kerugian

Manfaat Asuransi Kerugian atau istilahnya adalah general insurance yaitu asuransi yang

akan mengganti kemungkinan kerugian yang terjadi pada harta benda dan juga seluruh aset Anda.

Sebagai gambaran adalah asuransi mobil, kebakaran rumah atau toko, asuransi mesin-

mesin, pabrik dan sebagainya.

Pada dasarnya asuransi memberikan manfaat bagi pihak tertanggung, antara lain:

1. Rasa aman dan perlindungan

Polis asuransi yang dimiliki oleh tertanggung akan memberikan rasa aman dari risiko atau kerugian

yang mungkin timbul. Kalau risiko atau kerugian tersebut benar-benar terjadi, pihak tertanggung

(insured) berhak atas nilai kerugian sebesar nilai polis atau ditentukan berdasarkan perjanjian

antara tertanggung dan penanggung.


2. Pendistribusian biaya dan manfaat yang lebih adil

Prinsip keadilan diperhitungkan dengan matang untuk menentukan nilai pertanggungan dan premi

yang harus ditanggung oleh pemegang polis secara periodik dengan memperhatikan secara cermat

faktor-faktor yang berpengaruh besar dalam asuransi tersebut. Untuk mendapatkan nilai

pertanggungan, pihak penanggung sudah membuat kalkulasi yang tidak merugikan kedua belah

pihak. Semakin besar nilai pertanggungan, semakin besar pula premi periodik yang harus dibayar

oleh tertanggung.

3. Polis asuransi dapat dijadikan sebagai jaminan untuk memperoleh kredit.

4. Berfungsi sebagai tabungan dan sumber pendapatan

Premi yang dibayarkan setiap periode memiliki substansi yang sama dengan tabungan. Pihak

penanggung juga memperhitungkan bunga atas premi yang dibayarkan dan juga bonus (sesuai

dengan perjanjian kedua belah pihak).

5. Alat penyebaran risiko

Risiko yang seharusnya ditanggung oleh tertanggung ikut dibebankan juga pada penanggung

dengan imbalan sejumlah premi tertentu yang didasarkan atas nilai pertanggungan.

6. Membantu meningkatkan kegiatan usaha

Investasi yang dilakukan oleh para investor dibebani dengan risikokerugian yang bisa diakibatkan

oleh berbagai macam sebab (pencurian, kebakaran, kecelakaan, dan lain-lain).


F. Macam-Macam Asuransi Kerugian

1. Asuransi Kebakaran (Fire Insurance)

Asuransi kebakaran adalah jenis pertanggungan yang memberikan ganti rugi atas risiko-risiko

yang disebabkan oleh peristiwa kebakaran terhadap harta benda yang telah diasuransikan.

Barang yang bisa diasuransikan dalam asuransi kebakaran ini meliputi rumah tinggal, hotel,

gedung, pabrik, perkantoran, pertokoan, rumah sakit, dan sebagainya.

Polis Standar Kebakaran Indonesia (PSKI) adalah polis asuransi kebakaran yang berlaku di

Indonesia sejak tahun 1982. Dalam polis tersebut memuat risiko-risiko yang termasuk dalam

pertanggungan kerugian akibat kerusakan harta benda yang diasuransikan atau

dipertanggungkan. Risiko yang termasuk dalam pertanggungan asuransi kebakaran meliputi

risiko kerugian atau kerusakan yang terjadi akibat peristiwa kebakaran, petir, ledakan atau

kejatuhan pesawat terbang.

2. Asuransi Pengangkutan Barang (Marine Cargo Insurance)

Asuransi pengangkutan barang ini yaitu jenis pertanggungan yang menjamin risiko kerugian

yang dialami atas kehilangan atau kerusakan barang pada saat pengangkutan barang melalui jalur

laut. Pertanggungan ini berlaku untuk kedua belah pihak yang terlibat yaitu pihak pemilik

angkutan barang atau kapal, maupun pihak pemilik barang yang diangkut, tergantung dari

kondisi atau peristiwa kerugian yang terjadi. Misalkan saja kapal yang mengangkut sejumlah

barang ke luar negeri.

Di perjalanan laut mengalami kecelakaan atau menabrak kapal lain yang mengakibatkan terjadi

kerusakan pada kapal pengangkut, barang yang diangkut, juga pada kapal yang ditabrak. Karena
kapal maupun barang-barang tersebut sudah diasuransikan, maka perusahaan asuransi harus

memberi ganti rugi atas kerusakan yang terjadi baik kepada pemilik kapal maupun pemilik

barang-barang yang diangkut. Jika kapal yang ditabrak juga telah diasuransikan, maka

perusahaan asuransi pun harus memberikan ganti rugi kepada pemilik kapal tersebut.

3. Asuransi Aneka (Miscellaneous Insurance)

Asuransi aneka merupakan jenis asuransi kerugian selain dari 2 jenis asuransi kebakaran dan

asuransi pengangkutan barang di atas. Asuransi aneka ini meliputi jenis-jenis asuransi yang

beraneka macam, seperti :

 Asuransi Pencurian (Burgary Insurance) yaitu asuransi yang memberi ganti rugi karena risiko

pencurian atas harta benda yang diasuransikan.

 Asuransi Kecelakaan Diri (Personal Accident Insurance) yaitu asuransi yang memberi ganti rugi

atas harta benda yang diasuransikan karena risiko kecelakaan diri.

 Asuransi Perjalanan (Travel Insurance) yaitu asuransi yang memberi ganti rugi atas harta benda

yang diasuransikan karena risiko saat melakukan perjalanan.

 Asuransi Kendaraan Bermotor (Motor Vehicle Insurance) yaitu asuransi yang memberi gantu

rugi karena risiko atas kendaraan bermotor.

 Asuransi Property All Risks (Industrial All Risks) yaitu jenis asuransi yang memberi ganti rugi

atas risiko kerusakan yang berhubungan dengan gedung industri atau pabrik.

 Asuransi Gempa Bumi (Earthquake Insurance) yaitu jenis asuransi yang memberi ganti rugi

pada harta benda akibat peristiwa gempa bumi.

 Asuransi Mesin dan Peralatan (Engineering Insurance)

 Asuransi Profesi (Professional Insurance)


 Asuransi Tanggung Gugat

G. Risiko dan Ketidakpastian

Secara umum, risiko adalah kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan yang

menimbulkan kerugian. Risiko dalam industri perasuransian diartikan sebagai ketidakpastian dari

kerugian finansial atau kemungkinan terjadinya kerugian. Berikut ini adalah jenis-jenis risiko:

1. Risiko murni

Adalah risiko yang apabila benar-benar terjadi, akan memberikan kerugian dan apabila tidak

terjadi, tidak akan menimbulkan kerugian dan tidak juga memberikan keuntungan.

2. Risiko spekulatif

Adalah risiko yang berkaitang dengan terjadinya dua kemungkinan, yaitu kemungkinan untuk

mendapatkan keuntungan dam kemungkinan untuk mendapat kerugian.

3. Risiko individu

Adalah risiko yang kemungkinan dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Risiko individu ini masih

dipilah menjadi 3 jenis :

a. Risiko pribadi (personal risk)

Adalah risiko yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk memperoleh manfaat ekonomi.

Atau dengan kata lain risiko ini berfungsi untuk menanggung dirinya sendiri atau orang yang ia

asuransikan.

b. Risiko harta (property risk)

Adalah risiko yang ditanggungkan atas harta yang dimilikinya rusak, hilang atau dicuri. Dengan

kerusakan atau kehilangan tersebut, pemilik akan kehilangan kesempatan ekonomi yang diperoleh

dari harta yang dimilikinya.

c. Risiko tanggung gugat (liability risk)


Risiko yang mungkin kita alami atau derita sebagai tanggung jawab akibat kerugian atau lukanya

pihak lain. Misalkan, pemberian asuransi oleh mandor bangunan kepada para pekerjanya.

Risiko yang dihadapi perlu ditangani dengan baik untuk mempertimbangkan kehidupan

perekonomian di masa mendatang. Dalam menangani risiko tersebut minimal ada lima cara yang

dapat dilakukan, antara lain:

1. Menghindari risiko (risk avoidance)

Dapat dilaksanakan dengan cara mempertimbangkan risiko yang mungkin timbul sebelum kita

melakukan aktivitas-aktivitas. Setelah mengetahui risiko yang mungkin timbul kit bisa menetukan

apakah aktivitas tersebut bisa kita lanjutkan atau kita hentikan.

2. Mengurangi risiko (risk reduction)

Tindakan ini hanya bersifat meminimalisasi risiko yang mungkin terjadi.

3. Menahan risiko (risk retention)

Berarti kita tidak melakukan aktivitas apa-apa terhadap risiko tersebut. Risiko tersebut dapat

ditahan karena secara ekonomis biasanya melibatkan jumlah yang kecil. Bahkan kadang-kadang

orang tidak sadar akan usaha menahan risiko ini.

4. Membagi risiko (risk sharing)

Tindakan ini melibatkan orang lain untuk sama-sama menghadapi risiko.

5. Mentransfer risiko (risk transferring)

Berarti memindahkan risiko kerugian kepada pihak lain yang bersedia serta mampu memikul

beban risiko.

H. Prinsip Asuransi

1. Insurable interest (kepentingan yang dipertanggungkan)


Pada prinsipnya merupakan hak berdasarkan hukum untuk mempertanggungkan suatu risiko yang

berkaitan dengan keuangan, yang diakui sah secara hukum antara tertanggung dengan sesuatu yang

dipertanggungkan. Syarat yang perlu dipenuhi agar memenuhi kriteria insurable interest:

a. Kerugiaan tidak dapat diperkirakan. Risiko yang bisa diasuransikan berkaitan dengan

kemungkinan terjadinya kerugian. Kemungkian tersebut tidak dapat diperkirakan terjadinya.

b. Kewajaran. Risiko yang dipertanggungkan dalam asuransi adalah benda atau harta yang memiliki

nilai material baik bagi tertanggung maupun bagi penanggung.

c. Catastrophic. Risiko yang mungkin terjadi haruslah tidak akan menimbulkan suaatu

kemungkinan rugi yang sangat besar, yaitu jika sebagian besar pertanggungan kemungkinan akan

mengalami kerugian pada waktu yang bersamaan.

d. Homogen. Untuk memenuhi syarat dapat diasuransikan, barang atau harta yang akan

dipertanggungkan harus homogen, yang berarti banyak barang yang serupa atau sejenis.

2. Utmost Good Faith (itikad baik)

Dalam melakukan kontrak asuransi, kedua belah pihak dilandasi oleh itikad baik. Antar pihak

tertanggung dan penanggung harus saling mengungkapkan keterbukaan. Kewajiban dari kedua

belah pihak untuk mengungkapkan fakta disebut duty of disclosure.

3. Indemnity

Konsep indemnity adalah mekanisme penanggung untuk mengompensasi risiko yang menimpa

tertanggung dengan ganti rugi finansial. Konsep ini tidak dapat mengganti nyawa yang hilang atau

anggota tubuh yang rusak atau cacat karena indemnityberkaitan dengan ganti rugi finansial.

4. Proximate Cause
Adalah suatu sebab aktif, efisien yang mengakibatkan terjadinya suatu persitiwa secara berantai

atau berurutan tanpa intervensi suatu ketentuan lain, diawali dan bekerja dengan aktif dari suatu

sumber baru dan independent.

5. Subrogation

Pada prinsipnya merupakan hak penanggung yang telah memberikan ganti rugi kepada

tertanggung untuk menuntut pihak lain yang mengakibatkan kepentingan asuransinya mengalami

suatu peristiwa kerugian.

6. Contribution

Bahwa penanggung berhak mengajak penanggung-penanggung yang lain yang memiliki

kepentingan yang sama untuk ikut bersama membayar ganti rugi kepada seorang tertanggung

meskipun jumlah tanggungan masing-masing belum tentu sama besar.

I. Polis Asuransi

Polis asuransi adalah bukti tertulis atau surat perjanjian antara pihak-pihak yang

mengadakan perjanjian asuransi. Dengan adanya polis asuransi perjanjian antara kedua belah

pihak mendapatkan kekuatan secara hukum. Polis asuransi memuat hal-hal sebagai berikut:

1. Nomor polis

2. Nama dan alamat tertanggung

3. Uraian risiko

4. Jumlah pertanggungan

5. Jangka waktu pertanggungan

6. Besar premi, bea materai, dan lain-lain

7. Bahaya-bahaya yang dijaminkan


8. Khusus untuk polis pertanggungan kendaraan bermotor ditambah dengan nomor polisi, nomor

rangka, dan nomor mesin kendaraan.

J. Premi Asuransi

Premi asuransi adalah kewajiban pihak tertanggung kepada pihak penanggung yang berupa

pembayaran uang dalam jumlah tertentu secara periodik. Jumlah premi tergantung pada faktor-

faktor yang menyebabkan tinggi rendahnya tingkaat risiko dan jumlah nilai pertanggungan. Jangka

waktu pembayaran premi sangat tergantung pada perjanjian yang sudah dituangkan dalam polis

asuransi.

K. Pengaturan Perasuransian di Indonesia

Berikut merupakan peraturan perundangan yang digunakan sebagai dasar acuan pembinaan

dan pengawasan atas usaha perasuransian di Indonesia saat ini :

1. UU no.2 tahun 1992 tentang usaha perasuransian

2. PP no.73 tahun 1002 tentang usaha perasuransian

3. Keputusan menteri keuangan, antara lain:

a. Nomor 223/KMK.017/1993 tanggal 26 Februari 1993 tentang Perizinan Perusahaan Asuransi dan

Reasuransi

b. No.224/KNE.017/1993 tanggal 26 Februari 1993 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan

Asuransi dan Reasuransi

c. No.225/KMK.017/1993 tanggal 26 Februari 1993 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan

Asurasni dan Reasuransi

d. No.226/CMK.017/1993 tanggal 26 Februari 1993 tentang Perizinan dan Penyelenggaraan

Kegiatan Usaha Perusahaan Penunjang Usaha Asuransi


L. Perizinan Pendirian Perusahaan Asuransi

Pemberian izin oleh Menteri Keuangan bagi perusahaan perasuransian menurut PP

Nomor 73 Tahun 1992 dilakukan dalam dua tahap, yaitu:

1. Persetujuan Prinsip

Adalah persetujuan yang diberikan untuk melakukan persiapan pendirian suatu perusahaan yang

bergerak di bidang perasuransian, dimana batas waktu persetujuan prinsip dibatasi selama-

lamanya satu tahun.

2. Izin usaha

Adalah izin yang diberikan untuk melakukan usaha setelah perisiapan pendirian selesai, dimana

izin usaha diberikan setelah persyaratan izin usaha telah dipenuhi.


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Menurut UU no.2 tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian, asuransi atau pertanggungan

adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkn diri

kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada

tertanggung karena kerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau

tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul

dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan

atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.

Asuransi kerugian adalah asuransi yang memberikan ganti rugi kepada tertanggung yang

menderita kerugian barang atau benda miliknya, kerugian mana terjadi karena bencana atau bahaya

terhadap mana pertanggungan ini diadakan, baik kerugian itu berupa :

- Kehilangan nilai pakai

- Kekurangan nilainya

- Kehilangan keuntungan yang diharapkan oleh tertanggung

Penanggung tidak harus membayar ganti rugi kepada tertanggung kalau selama jangka

waktu perjanjian obyek pertanggungan tidak mengalami bencana atau bahaya yang

dipertanggungkan.

Pada dasarnya, asuransi dapat memberikan manfaat bagi pihak tertanggung, antara lain

dapat memberikan rasa aman dan perlindungan, sebagai pendistribusian biaya dan manfaat yang

lebih adil, polis asuransi dapat dijadikan jaminan untuk memperoleh kredit, sebagai tabungan dan
sumber pendapatan, sebagai alat penyebaran risiko, serta dapat membantu meningkatkan kegiatan

usaha.

B. Saran

Sebaiknya masyarakat mengikuti program asuransi, karena program ini memiliki banyak

manfaat bagi pihak tertanggung, seperti yang telah kami uraikan dalam materi makalah ini.