Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

ETNOGRAFI SUKU BANGSA JAWA

DOSEN PEMBIMBING
Sri Sintawati,S.sos.M.Si

DISUSUN OLEH
Vania Larissa
NIM
1824090043

UNIVERSITAS PERSADA INDONESIA

FAKULTAS PSIKOLOGI

2019
DAFTAR IS I

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………............................ii

BAB I ( PENDAHULUAN )

1.1 LATAR BELAKANG………………………………..……………………………………3

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN…………………………………………………………………3

1.3 RUMUSAN MASALAH……………………………………...............................................3

BAB II ( PEMBAHASAN )

A. PENGERTIAN ETNOGRAFI………………………………………………………………4

B. LOKASI,LINGKUNGAN ALAM DAN DEMOGRAFI…………………………………...4

C. ASAL MULA DAN SEJARAH SUKU BANGSA JAWA…………………………………6

D. RELIGI DAN KEPERCAYAAN SUKU BANGSA JAWA……………………………......7

E. SISTEM ORGANISASI SOSIAL DAN KEKERABATAN SUKU BANGSA JAWA……8

F. SISTEM EKONOMI DAN MATA PENCAHARIAN SUKU BANGSA JAWA…………10

G. SISTEM TEKNOLOGI SUKU BANGSA JAWA………………………………………...11

H. BAHASA SUKU BANGSA JAWA……………………………………………………….12

I. BUDAYA DAN KESENIAN SUKU BANGSA JAWA………………………………….15

J. SISTEM PENGETAHUAN SUKU BANGSA JAWA…………………………………....17

BAB III ( PENUTUP )

3.1 KESIMPULAN……………………………………………………………………………..18

3.2 KRITIK DAN SARAN…………………………………………………………………......18

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………….19
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari banyak pulau dan
memiliki berbagai macam suku bangsa,bahasa,adat istiadat atau yang sering kita
sebut kebudayaan. Keanekaragaman budaya yang terdapat di Indonesia merupakan
suatu bukti bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya.
Suku Jawa merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia yang berasal dari
Jawa Tengah,Jawa Timur dan Yogyakarta. Setidaknya 41,7% penduduk Indonesia
merupakan etnis Jawa. Selain di ketiga provinsi tersebut, suku Jawa banyak
bermukim di Lampung,Banten,Jakarta dan Sumatera Utara. Di Jawa Barat mereka
banyak di temukan di Kabupaten Indramayu dan Cirebon. Suku Jawa juga memiliki
sub-suku, seperti suku Osing,orang Samin,suku Bawean/Boyan,Naga,Nagaring,suku
Tengger dan lain-lain. Selain itu,suku Jawa ada pula yang berada di negara
Suriname,Amerika Tengah karena pada masa kolonial Belanda suku ini di bawa ke
sana sebagai pekerja dan kini suku Jawa disana dikenal sebagai Jawa Suriname.

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN


Adapun maksud dan tujuan dari pembuatan makalah ini selain untuk memenuhi
salah satu tugas mata kuliah Antropologi,juga bertujuan untuk mengetahui lebih dalam
kajian tentang kehidupan dan kebudayaan suatu masyarakat atau etnik,misalnya
tentang adat-istiadat,kebiasaan,hukum,seni religi serta bahasa.

1.3 RUMUSAN MASALAH


 Apakah pengertian Etnografi ?
 Bahasa apakah yang digunakan masyarakat Jawa ?
 Bagaimana asal mula suku bangsa Jawa ?
 Sistem kepercayaan apakah yang mereka anut ?
 Sistem organisasi apakah yang mereka anut ?
 Apakah mata pencaharian suku bangsa Jawa ?
 Apakah kesenian yang lahir dan berkembang di masyarakat tersebut ?

3
BAB 2
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN ETNOGRAFI
Etnografi dalam Bahasa Yunani (ethnos = rakyat dan graphia = tulisan)
adalah suatu bidang penelitian ilmiah yang sering digunakan dalam ilmu sosial,
terutama dalam antropologi dan beberapa cabang sosiologi. Etnografi juga dikenal
sebagai bagian dari ilmu sejarah yang mempelajari masyarakat, kelompok etnis dan
formasi etnis lainnya, etnogenesis, komposisi, perpindahan tempat tinggal,
karakteristik kesejahteraan sosial, juga budaya material dan spiritual mereka.
Etnografi sering diterapkan untuk mengumpulkan data empiris tentang masyarakat
dan budaya manusia.
Etnografi adalah kajian tentang kehidupan dan kebudayaan suatu masyarakat
atau etnik, misalnya tentang adat-istiadat, kebiasaan, hukum, seni, religi, bahasa.
Bidang kajian vang sangat berdekatan dengan etnografi adalah etnologi, yaitu kajian
perbandingan tentang kebudayaan dari berbagai masyarakat atau kelompok.
B. LOKASI LINGKUNGAN ALAM DAN DEMOGRAFI
Suku Jawa merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia yang berasal dari
Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Setidaknya 41,7% penduduk Indonesia
merupakan etnis Jawa. Selain diketiga propinsi tersebut, suku Jawa banyak tersebar
dan menetap di Lampung, Banten, Jakarta, dan Sumatera Utara. Di Jawa Barat
mereka banyak ditemukan di Kabupaten Indramayu dan Cirebon. Suku Jawa juga
memiliki sub-suku, seperti suku Osing, orang Samin, suku Bawean/Boyan, Naga,
Nagaring, suku Tengger dan lain-lain. Suku Jawa hampir ada disegala penjuru
Indonesia, mulai dari daerah provinsi Sumatra Utara hingga ke wilayah paling timur
Indonesia, yaitu provinsi Papua.
Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, sekolompok orang Jawa pernah
dibawa ke Suriname di Amerika Selatan, sebagai buruh pekerja paksa, yang akhirnya
tetap menetap di negara tersebut hingga saat ini, dan membentuk suatu komunitas
tersendiri di Suriname sebagai etnis Jawa, yang tetap mempertahankan adat-istiadat
serta budaya Jawa, disana dikenal sebagai Jawa Suriname.

4
Secara administratif suku Jawa terdiri atas enam provinsi :
 Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
 Provinsi Banten, dengan ibukota provinsi Kota Serang
 Provinsi Jawa Barat, dengan ibukota provinsi Kota Bandung
 Provinsi Jawa Tengah, dengan ibukota provinsi Kota Semarang
 Provinsi Jawa Timur, dengan ibukota provinsi Kota Surabaya
 Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan ibukota provinsi Kota
Yogyakarta
Dengan populasi sebesar 136 juta jiwa Jawa adalah pulau yang menjadi
tempat tinggal lebih dari 57% populasi Indonesia.Dengan kepadatan 1.029
jiwa/km²,pulau ini juga menjadi salah satu pulau di dunia yang paling dipadati
penduduk. Sekitar 45% penduduk Indonesia berasal dari etnis Jawa. Walaupun
demikian sepertiga bagian barat pulau ini (Jawa Barat, Banten, dan Jakarta) memiliki
kepadatan penduduk lebih dari 1.400 jiwa/km2.
Sejak tahun 1970-an hingga kejatuhan Suharto pada tahun 1998, pemerintah
Indonesia melakukan program transmigrasi untuk memindahkan sebagian penduduk
Jawa ke pulau-pulau lain di Indonesia yang lebih luas. Program ini terkadang
berhasil, namun terkadang menghasilkan konflik antara transmigran pendatang dari
Jawa dengan populasi penduduk setempat. Di Jawa Timur banyak pula terdapat
penduduk dari etnis Madura dan Bali, karena kedekatan lokasi dan hubungan
bersejarah antara Jawa dan pulau-pulau tersebut. Jakarta dan wilayah sekelilingnya
sebagai daerah metropolitan yang dominan serta ibukota negara, telah menjadi tempat
berkumpulnya berbagai suku bangsa di Indonesia.
Penduduk Pulau Jawa perlahan-lahan semakin berciri urban, dan kota-kota
besar serta kawasan industri menjadi pusat-pusat kepadatan tertinggi. Berikut adalah
10 kota besar di Jawa berdasarkan jumlah populasi tahun 2005.

Populasi
Kota, Provinsi
Urutan

1 Jakarta, DKI Jakarta 8.839.247

2 Surabaya, Jawa Timur 2.611.506

5
Populasi
Kota, Provinsi
Urutan

3 Bandung, Jawa Barat 2.280.570

4 Bekasi, Jawa Barat 1.993.478

5 Tangerang, Banten 1.451.595

6 Semarang, Jawa Tengah 1.438.733

7 Depok, Jawa Barat 1.374.903

8 Bogor, Jawa Barat 891.467

9 Malang, Jawa Timur 790.356

10 Surakarta, Jawa Tengah 506.397

C. ASAL MULA DAN SEJARAH SUKU BANGSA JAWA


Secara Etimologi asal mula nama “Jawa” tidak jelas. Salah satu kemungkinan
adalah nama pulau ini berasal dari tanaman jáwa-wut, yang banyak ditemukan
dipulau ini pada masa purbakala, sebelum masuknya pengaruh India pulau ini
mungkin memiliki banyak nama. Ada pula dugaan bahwa pulau ini berasal dari kata
jaú yang berarti "jauh". Dalam Bahasa Sanskerta yava berarti tanaman jelai, sebuah
tanaman yang membuat pulau ini terkenal. Yawadvipa disebut dalam epik India
Ramayana. Sugriwa, panglima wanara (manusia kera) dari pasukan Sri Rama,
mengirimkan utusannya ke Yawadvipa (pulau Jawa) untuk mencari Dewi Shinta.
Kemudian berdasarkan kesusastraan India terutama pustaka Tamil, disebut dengan
nama Sanskerta yāvaka dvīpa (dvīpa = pulau). Dugaan lain ialah bahwa kata "Jawa"
berasal dari akar kata dalam bahasa Proto-Austronesia, yang berarti 'rumah'.
Menurut hikayat, asal muasal suku Jawa diawali dari datangnya seorang satria
pinandita yang bernama Aji Saka. Ia adalah orang yang menulis sebuah sajak, dimana
sajak itu yang kini disebut sebagai abjad huruf Jawa hingga saat ini. Maka dari itu,
asal mula sajak inilah yang digunakan sebagai penanggalan kalender Saka. Definisi
suku Jawa adalah penduduk asli pulau Jawa bagian tengah dan timur, kecuali pulau
Madura. Selain itu, mereka yang menggunakan bahasa Jawa dalam kesehariannya

6
untuk berkomunikasi juga termasuk dalam suku Jawa, meskipun tidak secara
langsung berasal dari pulau Jawa. Demikian adalah definisi Magnis-Suseno mengenai
suku bangsa Jawa. Asal usul suku Jawa juga berkaitan dengan bahasa yang
digunakan, yakni bahasa Jawa.
D. RELIGI DAN KEPERCAYAAN SUKU BANGSA JAWA
Mayoritas orang Jawa menganut agama Islam, sebagian yang lainya
menganuti agama Kristen Protestan dan Katolik, termasuk di kawasan luar pedesaan,
dengan penganut agama Buddha dan Hindu juga ditemukan dikalangan masyarakat
Jawa. Terdapat juga agama kepercayaan suku Jawa yang disebut sebagai
agama Kejawen. Kepercayaan ini pada dasarnya berdasarkan kepercayaan animisme
dengan pengaruh agama Hindu-Buddha yang kuat. Masyarakat Jawa terkenal kerana
sifat asimilasi kepercayaannya, dengan semua budaya luar diserap dan ditafsirkan
mengikut nilai-nilai Jawa.
Suku Jawa berbeda dengan suku-suku lain dalam hal pandangan hidup, jika
suku lain selalu melabelkan agama tertentu sebagai identitas kesukuannya, atau
bukanlah bagian dari suku tertentu jika bukan beragama tertentu, maka suku jawa
merupakan suku yang universal identitas sukunya tidak dibangun oleh agama maupun
ras tertentu walaupun setiap individu jawa wajib beragama dan dituntun untuk
melaksanakan syariat agamanya yang mesti dilaksanakan dengan taat oleh pribadi
jawa yang memeluknya sebagai konsekwensi hidup sebagai hamba tuhan.
Suku jawa memposisikan diri sebagai suku universal dan sebagian
mengatakan jawa bukanlah sebuah suku namun dia adalah Jiwa dari setiap individu
baik dia muslim maupun non-muslim sehingga dapat kita lihat pandangan hidupnya
yang mengayomi semua agama dan muslim sebagai pemimpinnya karena memang
sebagai mayoritas bisa dilihat kesultanan-kesultanan yang dibangun oleh suku jawa
yang bercorakkan islam, namun tetap menghargai suku jawa non-muslim yang tidak
beragama islam karena agama adalah iman dan keyakinan pilihan jiwa, dan jika orang
jawa mayoritasnya adalah non muslim maka ia juga berkewajban mengayomi hak-
hak suku jawa yang beragama lainnya karena memang itu pandangan hidup yang
ditanamkan kepada orang-orang jawa hal sesuai dengan firman Allah dalam Al-
Quran surat Al-Mumtahanah (80:8).
Selain itu masyarakat Jawa percaya terhadap hal-hal tertentu yang dianggap
keramat, yang dapat mendatangkan mala petaka jika di tintang atau diabaikan.
Kepercayaan itu diantaranya :
· Kepercayaan terhadap Nyi roro kidul
· Kepercayaan kepada hari kelahiran (Wathon)

7
· Kepercayan terhadap hari-hari yang dianggap baik
· Kepercayaan kepada Nitowong
· Kepercayaan kepada dukun prewangan.
Suku Jawa yang kaya akan tradisi memiliki beberapa macam upacara
keagamaan adat. Upacara ini biasa dilaksanakan oleh pihak Keraton Surakarta.
Beberapa diantaranya adalah upacara Garebeg. Upacara ini dilakukan tiga kali dalam
satu tahun penanggalan Jawa, yaitu tanggal 12 bulan Mudul (bulan ketiga), tanggal 1
bulan Syawal (bulan kesepuluh), dan tanggal 10 bulan Besar (bulan kedua belas).
Pada hari itu raja mengeluarkan sedekahnya sebagai perwujudan rasa syukur.
Upacara lainnya adalah sekaten. Sekaten merupakan sebuah upacara kerajaan
yang dilaksanakan selama 7 hari. Upacara ini sebenarnya merupakan sebuah perayaan
hari kelahiran Nabi Muhammad saw.
Malam satu suro dalam masyarakat Jawa merupakan suatu perayaan tahun
baru menurut kalender Jawa. Di Keraton Surakarta, upacara ini diperingati dengan
Kirab Mubeng Benteng (arak-arakan mengelilingi benteng keraton).

E. SISTEM ORGANISASI SOSIAL DAN KEKERABATAN SUKU BANGSA


JAWA
Dalam sistem kekerabatan Jawa keturunan dari Ibu dan Ayah dianggap
sama haknya, dan warisan anak perempuan sama dengan warisan laki-laki, tetapi
berbeda dengan banyak suku bangsa yang lain, yang ada Indonesia. Misalnya, dengan
suku-suku Batak di Sumatra Utara, masyarakat jawa tidak mengenal sistem marga.
Susunan kekerabatan suku jawa berdasarkan pada keturunan kepada kedua belah
pihak yang di sebut Bilateral atau Parental yang menunjukan sistem penggolongan
menurut angkatan-angkatan. Walaupun hubungan kekerabatan diluar keluarga inti
tidak begitu ketat aturannya, namun bagi orang jawa hubungan dengan keluarga jauh
tetap penting.
Masyarakat Jawa dalam hal perkawinanya melalui beberapa tahapan.
Biasanya seluruh rangkaian acara perkawinan berlangsug selama kurang lebih dua
bulan, mencangkup:
· Nontoni; Melihat calon istri dan keluarganya, dengan mengirim utusan (wakil).
· Nglamar (meminang); Tahapan setelah nontoni apabila si gadis bersedia
dipersunting.

8
· Paningset; Pemberian harta benda, berupa pakaian lengkap disertai cin-cin
kawin.
· Pasok Tukon; Upacara penyerahan harta benda kepada keluarga si gadis berupa
uang,pakaian dan sebagainya, diberikan tiga hari sebelum pernikahan.
· Pingitan; Calon istri tidak diper4bolehkan keluar rumah selama 7 hari atau 40
hari sebelum perkawinan.
· Tarub; Mempersiapkan perlengkapan perkawianan termasuk menghias rumah
dengan janur.
· Siraman; Upacara mandi bagi calon pengantin wanita yang dilanjutkan dengan
selamatan.
· Ijab Kabul (Akad Nikah); Upacara pernikahan dihadapan penghulu, disertai
orang tua atau Wali dan saksi-saksi.
· Temon (Panggih manten); Saat pertemuan pengantin pria dengan wanita.
· Ngunduh Mantu (ngunduh temanten); Memboyong pengantin wanita kerumah
pengantin pria yang disertai pesta ditempat pengantin pria.
Jika di dalam perkawinan ada masalah antara suami istri maka dapat
dilakukan "Pegatan" (Perceraian). Jika istri menjatuhkan cerai di sebut "talak"
sedangkan istri meminta cerai kepada suami di sebut "talik". Jika keinginan isteri
tidak di kabulkan oleh suami istri mengajukan ke pengadilan maka disebut "rapak".
Jika ingin kembali lagi jenjang waktunya mereka rukun kembali adalah 100 hari di
namakan "Rujuk" jika lebih dari 100 hari dinamakan "balen" (kembali). Setelah cerai
seorang janda boleh menikah dengan yang lain setelah "masa Iddah".
Dalam sistem kemasyarakatan, akan dibahas mengenai pelapisan sosial.
Dalam sistem kemasyarakatan Jawa, dikenal 4 tingkatan yaitu Priyayi, Ningrat atau
Bendara, Santri dan Wong Cilik.
Priyayi ini sendiri konon berasal dari dua kata bahas Jawa, yaitu “para” dan
“yayi” atau yang berarti para adik. Dalam istilah kebudayaan Jawa, istilah priyayi ini
mengacu kepada suatu kelas sosial tertinggi di kalangan masyarakat biasa setelah
Bendara atau ningrat karena memiliki status sosial yang cukup tinggi di masyarakat.
Biasanya kaum priyayi ini terdiri dari para pegawai negeri sipil dan para kaum
terpelajar yang memiliki tingkatan pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan
orang-orang disekitarnya
Ningrat atau Bendara adalah kelas tertinggi dalam masyarakat Jawa. pada
tingkatan ini biasanya diisi oleh para anggota keraton, atau kerabat-kerabatnya, baik

9
yang memiliki hubungan darah langsung, maupun yang berkerabat akibat pernikahan.
Bendara pu memiliki banyak tingkatan juga di dalamnya, mulai dari yang tertinggi,
sampai yang terendah. Hal ini dapat dengan mudah dilihat dari gelar yang ada di
depan nama seorang bangsawan tersebut.
Yang ketiga adalah golongan santri. Golongan ini tidak merujuk kepada
seluruh masyarakat suku Jawa yang beragama muslim, tetapi, lebih mengacu kepada
para muslim yang dekat dengan agama, yaitu para santri yang belajar di pondok-
pondok yang memang banyak tersebar di seluruh daerah Jawa.
Terakhir, adalah wong cilik atau golongan masyarakat biasa yang memiliki
kasta terendah dalam pelapisan sosial. Biasanya golongan masyarakat ini hidup di
desa-desa dan bekerja sebagai petani atau buruh. Golongan wong cilik pun dibagi lagi
menjadi beberapa golongan kecil lain yaitu:
a. Wong Baku: golongan ini adalah golongan tertinggi dalam golongan wong
cilik, biasanya mereka adalah orang-orang yang pertama mendiami suatu desa, dan
memiliki sawah, rumah, dan juga pekarangan.
b. Kuli Gandok atau Lindung: masuk di dalam golongan ini adalah para lelaki
yang telah menikah, namun tidak memiliki tempat tinggal sendiri, sehingga ikut
menetap di tempat tinggal mertua.
c. Joko, Sinoman, atau Bujangan: di dalam golongan ini adalah semua laki-
laki yang belum menikah dan masih tinggal bersama orang tua, atau tinggal bersama
orang lain. Namun, mereka masih dapat memiliki tanah pertanian dengan cara
pembelian atau tanah warisan.
Desa-desa di Jawa umumnya dibagi-bagi menjadi bagian-bagian kecil yang
disebut dengan dukuh, dan setiap dukuh dipimpin oleh kepala dukuh. Di dalam
melakukan tugasnya sehari-hari, para pemimpin desa ini dibantu oleh para pembantu-
pembantunya yang disebut dengan nama Pamong Desa. Masing-masing pamong desa
memiliki tugas dan perananya masing-masing. Ada yang bertugas menjaga dan
memelihara keamanan dan ketertiban desa, sampai dengan mengurus masalah
perairan bagi lahan pertanian warga.

F. SISTEM EKONOMI DAN MATA PENCAHARIAN SUKU BANGSA JAWA


Pada umumnya masyarakat bekerja pada segala bidang, terutama administrasi
negara dan kemiliteran yang memang didominasi oleh orang Jawa. Selain itu, mereka
bekerja pada sektor pelayanan umum, pertukangan, perdagangan dan pertanian dan
perkebunan. Sektor pertanian dan perkebunan, mungkin salah satu yang paling

10
menonjol dibandingkan mata pencaharian lain, karena seperti yang kita tahu, baik
Jawa Tengah dan Jawa Timur banyak lahan-lahan pertanian yang beberapa cukup
dikenal, karena memegang peranan besar dalam memasok kebutuhan nasional, seperti
padi, tebu, dan kapas.
1. Pertanian
Yang dimaksud pertanian disini terdiri atas pesawahan dan perladangan (tegalan),
tanaman utama adalah padi. Tanaman lainnya jagung, ubi jalar, kacang tanah, kacang
hijau dan sayur mayor, yang umumnya ditanam di tegalan. Sawah juga ditanami
tanaman perdagangan, seperti tembakau, tebu dan rosella.
2. Perikanan
Adapun usaha yang dilakukan cukup banyak baik perikanan darat dan perikanan laut.
Perikanan laut diusahakan di pantai utara laut jawa. Peralatannya berupa kail, perahu,
jala dan jaring.
3. Peternakan
Binatang ternak berupa kerbau, sapi, kambing, ayam dan itik dan lain-lain.
4. Kerajinan
Kerajinan sangat maju terutama menghasilkan batik, ukir-ukiran, peralatan rumah
tangga, dan peralatan pertanian.
Dalam suku Jawa atau masyaraakat Jawa biasanya bermata pencaharian
bertani, baik bertani disawah maupun tegalan, juga Beternak pada umumnya bersipat
sambilan, selain itu juga masyarakat Jawa bermata pencaharian Nelayan yang
biasanya dilakukan masyarakat pantai.

G. SISTEM TEKNOLOGI SUKU BANGSA JAWA


1. Peralatan Hidup Masyarakat Suku Jawa
Sebagai suatu kebudayaan, suku Jawa tentu memiliki peralatan dan
perlengkapan hidup yang khas diantaranya yang paling menonjol adalah dalam segi
bangunan. Masyarakat yang bertempat tinggal di daerah Jawa memiliki ciri sendiri
dalam bangunan mereka, khususnya rumah tinggal. Ada beberapa jenis rumah yang
dikenal oleh masyarakat suku Jawa, diantaranya adalah rumah limasan, rumah joglo,
dan rumah serotong. Rumah limasan, adalah rumah yang paling umum ditemui di
daerah Jawa, karena rumah ini merupakan rumah yang dihuni oleh golongan rakyat

11
jelata. Sedangkan rumah Joglo, umumnya dimiliki sebagai tempat tinggal para kaum
bangsawan, misalnya saja para kerabat keraton.
Umumnya rumah di daerah Jawa menggunakan bahan batang bambu, glugu
(batang pohon nyiur), dan kayu jati sebagai kerangka atau pondasi rumah. Sedangkan
untuk dindingnya, umum digunakan gedek atau anyaman dari bilik bambu, walaupun
sekarang, seiring dengan perkembangan zaman, banyak juga yang telah
menggunakan dinding dari tembok. Atap pada umumnya terbuat dari anyaman kelapa
kering (blarak) dan banyak juga yang menggunakan genting. Dalam sektor pertanian,
alat-alat pertanian diantantaranya: bajak (luku), grosok, bakul besar tenggok, garu.
2. Perubahan/ Pemikiran Individu
Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari banyak pulau dan
memiliki berbagai macam suku bangsa, bahasa, adat istiadat atau yang sering kita
sebut kebudayaan. Keanekaragaman budaya yang terdapat di Indonesia merupakan
suatu bukti bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya. suku Jawa
adalah penduduk asli pulau Jawa bagian tengah dan timur, kecuali pulau Madura.
Selain itu, mereka yang menggunakan bahasa Jawa dalam kesehariannya untuk
berkomunikasi juga termasuk dalam suku Jawa, meskipun tidak secara langsung
berasal dari pulau Jawa. Secara keseluruhan penduduk suku Jawa tersebar diberbagai
penjuru nusantara, bahkan sampai keluar negeri.
Secara umum suku Jawa memiliki mata pencaharian yang dominan dibidang
pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan. Memiliki sistem kekerabatan yang
jelas dan erat, bersosial baik, dan bermasyarakat dengan rukun meski memiliki
tingkatan stratifikasi sosial.

H. BAHASA SUKU BANGSA JAWA


Secara resmi, ada dua jenis bahasa Jawa yang digunakan oleh masyarakat
suku Jawa. Dua jenis bahasa ini tersedia sebagai berikut:
1. Bahasa Lisan Suku Jawa
Suku Jawa sebagian besar menggunakan bahasa Jawa dalam bertutur sehari-
hari. Bahasa Jawa memiliki aturan perbedaan kosa kata dan intonasi berdasarkan
hubungan antara pembicara dan lawan bicara, yang dikenal dengan unggah-ungguh.
Aspek kebahasaan ini memiliki pengaruh sosial yang kuat dalam budaya Jawa, dan
membuat orang Jawa biasanya sangat sadar akan status sosialnya di masyarakat.

12
Mayoritas orang Jawa menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari.
Sebagian lainnya menggunakan bahasa Jawa yang bercampur bahasa Indonesia.
Bahasa Jawa bisa dikatakan bahasa yang rumit karena selain memiliki tingkatan
berdasarkan siapa yang diajak bicara, bahasa Jawa juga memiliki perbedaan dalam
hal intonasi. Aspek bahasa ini mempengaruhi hubungan sosial dalam budaya Jawa.
Bahasa Jawa sendiri memiliki berbagai macam variasi dialek atau pengucapan. Pada
dasarnya, dialek tersebut dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:
a. Bahasa Jawa dialek Cirebon, dialek Tegal, dialek Banyumas dan dialek Bumiayu
(dialek barat).
b. Bahasa Jawa dialek Pekalongan, dialek Semarang, dialek Yogyakarta dan dialek
Madiun (dialek madya/tengah).
c. Bahasa Jawa dialek Surabaya, dialek Malang, dialek Jombang, dialek Banyuwangi
(dialek timur).
Bahasa pergaulan hidup sehari-hari adalah bahasa Jawa. Dalam berbiara
mengguakan bahasa Jawa ini orang harus memperhatikan dan membeda-bedakan
tingkatan orang yang diajak berbicara, berdasarkan umur dan status sosialnya. Dalam
susunannya, bahasa Jawa ini ada dua macam.
1. Bahasa Jawa Ngoko terdiri atas berikut ini :
a. Bahasa Jawa Ngoko Lugu atau Ngoko Biasa.
b. Bahasa Jawa Ngoko Andap, bahasa ini untuk berbicara dengan orang-orang sudah
dikenal secara akrab, orang yang usianya lebih muda atau orang-oang yang status
sosialnya lebih tinggi.
2. Bahasa Jawa Krama terdiri atas berikut ini :
a. Madya Ngoko, yaitu biasanya dipakai dalam percakapan kesederhanaan di
pedesaan, misalnya, Ndika napa sida lungo teng pasar. Mang gawa ngriki berase teng
pasar.
b. Krama Madya, bahasa ini dipakai untuk percakapan orang-orang di pedesaan,
misalnya, Napa sampeyan boten saged tumut, kula saget dateng mangke dalu.
c. Madyantara, yaitu bahasa yang dipakai untuk percakapan dikalangan priyayi,
misalnya, Ingkang panjenengan kersaaken ingkang pundi.
d. Kramantara, yaitu bahasa yang dipakai dalam pembicaraan antara orang tua atau
lebih tinggi status sosialnya dengan orang yang lebih muda. Bahasa ini sekarang

13
sudah tidak dipergunakan lagi, misalnya, Lho sampeyan, suwawi melebet kemawon,
kala kunapa anggen sampeyan melebet.
e. Wredhakrama, yaitu bahasa untuk percakapan antara orang tua kepada orang muda
atau sesamanya, misalnya, angsal pangestu panjenengan, wonten asilipun, kados
pundi dhi, kaparipun punapa sampun dhangan?
f. Mudhakrama, yaitu bahasa yang digunakan untuk percakapan antara orang muda
terhdap orang tua atau digunakan untuk percakapan dengan siapa saja. Bahasa ini
sangat sopan. Misalnya, Lho dhimas bade tindak pundi? Badhe dhateng Solo dipun
timbali Bapak.
g. Krama Inggil, yaitu bahasa yang digunakan dalam percakapan di keraton antara
priyagung kraton dalam bercakap-cakap, misalnya, Buku punika kedah dipun asta ing
asta tengen, mangga ta punika agem dalam sepatu!
h. Krama Desa, yaitu bahasa yang bukan bahasa yang halus, melainkan bahasa yang
dipakai orang-orang di pedesaan. Bahasa Sini terdiri atas bahasa yang sudah diganti
krama dikramakan lagi. Contoh, Kula mumpak kepel datang Tulungagung. Bu Hasan,
waosipun sakit.
2. Bahasa Tulis Suku Jawa
Aksara Jawa merupakan salah satu peninggalan budaya yang tak ternilai
harganya. Bentuk aksara dan seni pembuatannya menjadi suatu peninggalan yang
patut untuk dilestarikan. Aksara jawa disebut juga dengan nama aksara Legenda.
Aksara Legena merupakan aksara Jawa pokok yang jumlahnya 20 buah.
Setiap suku kata aksara Jawa mempunyai pasangan, yakni kata yang berfungsi
untuk mengikuti suku kata mati atau tertutup, dengan suku kata berikutnya, kecuali
suku kata yang tertutup oleh wignyan, cecak dan layar. Tulisan Jawa bersifat Silabik
atau merupakan suku kata. Sebagai tambahan, didalam aksara Jawa juga dikenal
huruf kapital yang dinamakan Aksara Murda. Penggunaannya untuk menulis nama
gelar, nama diri, nama geografi, dan nama lembaga. Hanacaraka atau dikenal dengan
nama carakan atau cacarakan adalah aksara turunan aksara Brahmi yang digunakan
untuk naskah-naskah berbahasa Jawa, bahasa Madura, bahasa Sunda, bahasa Bali,
dan bahasa Sasak.
Hanacaraka dikenal sebagai (tulisan Jawa atau abjad Jawa) ialah
suatu sistem tulisan abjad suku kata yang digunakan oleh orang Jawa untuk menulis
dalam bahasa Jawa.Ia juga digunakan di Bali,Sunda, dan Madura. Bahkan ditemukan
pula surat-surat dalam bahasa Melayu yang menggunakan tulisan Hanacaraka.
Tulisan ini berasal daripada tulisan kawi yang mempunyai asal-usul dari tulisan

14
Brahmi di India. Hanacaraka dinamakan sedemikian kerana lima huruf pertamanya
membentuk sebutan "ha-na-ca-ra-ka". Hanacaraka juga boleh merujuk kepada
kelompok sistem tulisan yang berkait rapat dengan tulisan Jawa dan menggunakan
susunan abjad yang sama, iaitu tulisan Jawa sendiri, tulisan Bali dan tulisan Sunda.
Aksara Jawa Hanacaraka memiliki 20 huruf dasar, 20 huruf pasangan yang
berfungsi menutup bunyi vokal, 8 huruf "utama" (aksara murda, ada yang tidak
berpasangan), 8 pasangan huruf utama, lima aksara swara (huruf vokal depan), lima
aksara rekan dan lima pasangannya, beberapa sandhangan sebagai pengatur vokal,
beberapa huruf khusus, beberapa tanda baca, dan beberapa tanda pengatur tata
penulisan (pada).
3. Penyebaran Bahasa Jawa
Penduduk Jawa yang merantau, membuat bahasa Jawa bisa ditemukan
diberbagai daerah bahkan diluar negeri. Banyaknya orang Jawa yang merantau ke
Malaysia turut membawa bahasa dan kebudayaan Jawa ke Malaysia,sehingga
terdapat kawasan pemukiman mereka yang dikenal dengan nama kampung Jawa,
padang Jawa. Disamping itu, masyarakat pengguna Bahasa Jawa juga tersebar di
berbagai wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kawasan-kawasan luar Jawa
yang didominasi etnis Jawa atau dalam persentase yang cukup signifikan
adalah: Lampung (61,9%),Sumatera Utara(32,6%), Jambi (27,6%), Sumatera
Selatan(27%), Aceh(15,87%) yang dikenal sebagai Aneuk Jawoe. Khusus masyarakat
Jawa di Sumatera Utara, mereka merupakan keturunan para kuli kontrak yang
dipekerjakan di berbagai wilayah perkebunan tembakau, khususnya di wilayah Deli
sehingga kerap disebut sebagaiJawa Deli atau Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran
Sumatera), dengan dialek dan beberapa kosa kata Jawa Deli. Sedangkan masyarakat
Jawa didaerah lain disebarkan melalui program transmigrasi yang diselenggarakan
semenjak zaman penjajahan Belanda.

I. BUDAYA DAN KESENIAN SUKU BANGSA JAWA


Orang Jawa terkenal dengan budaya seninya yang terutama dipengaruhi oleh
agama Hindu-Buddha, yaitu pementasanwayang. Repertoar cerita wayang
atau lakon sebagian besar berdasarkan wiracarita Ramayana dan Mahabharata. Selain
pengaruh India, pengaruh Islam dan Dunia Barat ada pula.
Seni batik dan keris merupakan dua bentuk ekspresi masyarakat Jawa.
Musik gamelan, yang juga dijumpai di Balimemegang peranan penting dalam
kehidupan budaya dan tradisi Jawa. Sistem kesenian masyarakat jawa memiliki dua
tipe yaitu, tipe jawa tengah dan jawa timur:

15
1. Kesenian tipe jawa tengah
Wujud kesenian tipe jawa tengah bermacam-macam misalnya sebagai berikut:
a. Seni Tari Contoh: Seni tari tipe jawa tengah adalah tari serimpi dan tari bambang
cakil, tari jaipong.
b. Seni Tembang berupa lagu-lagu daerah jawa, misalnya lagu-lagu dolanan suwe ora
jamu, gek kepiye dan pitik tukung.
c. Seni pewayangan merupakan wujud seni teater di jawa tengah.
d. Seni teater tradisional wujud seni teater tradisional di jawa tengah antara lain
adalah ketoprak.

2. Kesenian tipe jawa timur


Wujud kesenian dari pesisir dan ujung timur serta madura juga bermacam-
macam, misalnya sebagai berikut:
a. Seni tari dan teater antara lain tari ngremo, tari tayuban, dan tari kuda lumping.
b. Seni pewayangan antara lain wayang beber.
c. Seni suara antara lain berupa lagu-lagu daerah seprerti tanduk majeng (dari
Madura) dan ngidung (dari Surabaya).
d. Seni teater tradisional antara lain ludruk dan kentrung.
3. Rumah adat jawa
Rumah adat Jawa antara lain corak limasan dan joglo. Rumah situbondo
merupakan model rumah adat jawa timur yang mendapat pengaruh dari rumah
madura.
4. Pakaian adat jawa
Pakaian pria jawa tengah adalah penutup kepala yang di sebut kuluk, berbaju
jas sikepan, korset dan kris yang terselip di pinggang. Memakai kain batik dengan
pola dan corak yang sama dengan wanita. Wanitanya memakai kain kebaya panjang
dengan batik sanggulnya disebut bakor mengkurep yang diisi dengan daun pandan
wangi.

16
J. SISTEM PENGETAHUAN SUKU BANGSA JAWA
Salah satu bentuk sistem pengetahuan yang ada, berkembang, dan masih ada
hingga saat ini, adalah bentuk penanggalan atau kalender. Bentuk kalender Jawa
adalah salah satu bentuk pengetahuan yang maju dan unik yang berhasil diciptakan
oleh para masyarakat Jawa kuno, karena penciptaanya yang terpengaruh unsur
budaya islam, Hindu-Budha, Jawa Kuno, dan bahkan sedikit budaya barat. Namun
tetap dipertahankan penggunaanya hingga saat ini, walaupun penggunaanya yang
cukup rumit, tetapi kalender Jawa lebih lengkap dalam menggambarkan penanggalan,
karena didalamnya berpadu dua sistem penanggalan, baik penanggalan berdasarkan
sistem matahari (sonar/syamsiah) dan juga penanggalan berdasarkan perputaran bulan
(lunar/komariah).
Pada sistem kalender Jawa, terdapat dua siklus hari yaitu siklus 7 hari seperti
yang kita kenal saat ini, dan sistem panacawara yang mengenal 5 hari pasaran.
Sejarah penggunaan kalender Jawa baru ini, dimulai pada tahun 1625, dimana pada
saat itu, sultan agung, raja kerajaan mataram, yang sedang berusaha menytebarkan
agama islam di pulau Jawa, mengeluarkan dekrit agar wilayah kekuasaanya
menggunakan sistem kalender hijriah, namun angka tahun hijriah tidak digunakan
demi asas kesinambungan. Sehingga pada saat itu adalah tahun 1025 hijriah, namun
tetap menggunakan tahun saka, yaitu tahun 1547.
Dalam sistem kalender Jawa juga terdapat dua versi nama-nama bulan, yaitu
nama bulan dalam kalender Jawa matahari, dan kalender Jawa bulan. Nama- nama
bulan dalam sistem kalender Jawa komariah (bulan) diantaranya adalah suro, sapar,
mulud, bakdamulud, jumadilawal, jumadil akhir, rejeb, ruwah, poso, sawal, sela, dan
dulkijah. Namun, pada tahun 1855 M, karena sistem penanggalan komariah dianggap
tidak cocok dijadikan patokan petani dalam menentukan masa bercocok tanam, maka
Sri Paduka Mangkunegaran IV mengesahkan sistem kalender berdasarkan sistem
matahari. Dalam kalender matahari pun terdapat dua belas bulan.

17
BAB 3
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Suku Jawa merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia yang berasal
dariJawa Tengah,Jawa Timur,dan Yogyakarta. Setidaknya 41,7% penduduk
Indonesia merupakan etnis Jawa. Selain diketiga propinsi tersebut, suku Jawa banyak
tersebar dan menetap di Lampung, Banten,Jakarta,dan Sumatera Utara. Di Jawa
Barat mereka banyak ditemukan di Kabupaten Indramayu dan Cirebon. Suku Jawa
juga memiliki sub-suku, seperti suku Osing, orang Samin, suku
Bawean/Boyan, Naga, Nagaring,suku Tengger dan lain-lain. Suku Jawa hampir ada
disegala penjuru Indonesia, mulai dari daerah provinsi Sumatra Utara hingga ke
wilayah paling timur Indonesia, yaitu provinsi Papua.
Suku jawa yang berada didaerah pulau Jawa maupun yang tersebar diseluruh
Nusantara merupakan suku yang memiliki berbagai kebudayaan, mulai dari adat
istiadat sehari-hari, kesenian, acara ritual, dan lain-lain. Semua itu membuktikan
bahwa suku jawa merupakan suku yang kaya akan budaya daerah. Dan dari kekayaan
budaya yang di miliki suku jawa itulah yang menbuatnya berberda dengan suku-suku
serta kebudayaan-kebudayaan lain yang ada di Indonesia.
3.2 KRITIK DAN SARAN
Suku Jawa adalah salah satu dari ragam suku yang ada di Indonesia, budaya
pada suku jawa merupakan salah satu faktor utama berdirinya kebudayaan nasional,
maka segala sesuatu yang terjadi pada budaya suku Jawa akan sangat mempengaruhi
budaya nasional. Atas dasar itulah, kita semua mempunyai kewajiban untuk menjaga,
memelihara dan melestarikan budaya baik budaya Jawa maupun budaya lokal atau
budaya daerah lainya maupun budaya nasional, karena budaya merupakan bagian dari
kepribadian dan jati diri dari bangsa Indonesia.

18
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………..

http://tugasanaksekolahan.blogspot.com/2012/03/makalah-kebudayaan-masyarakat-
jawa.html
http://h3rcul3z.blogspot.com/2014/04/makalah-kebudayaan-suku-jawa.html
http://dikhaajah.blogspot.com/2015/04/makalah-etnografi-suku-jawa.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Jawa
Dra. Zuhro,dkk.2003. Panduan Belajar Antropologi 3 SMU. Jakarta. Yudhistira.
http://www.scribd.com/doc/99154445/ENTOGRAFI-SUKU-JAWA#scribd

19