Anda di halaman 1dari 33

UNIT 4

ASUHAN KEPERAWATAN
ISOLASI SOSIAL
Didalam kehidupan sehari hari apakah manusia dapat hidup sendiri....ya manusia tidak
dapat hidup sendiri,manusia pasti membutuhkan orang lain ,dalam memenuhi
kebutuhannya,baik kebutuhan yang primer atau dasar maupun kebutuhan sekunder.Pada
kebutuhan dasar yang salah satunya yaitu menjalin hubungan dengan orang lain.tetapi di
dalam kenyataannya ada individu yang tidak mampu melakukan hubungan dan
kerjasama dengan orang lain, ini merupakan kondisi yang bisa menyebabkan gangguan
pada individu.
Oleh karena untuk lebih memahami dalam pemberian asuhan keperawatan gangguan

isolasi sosial ,Pada unit ini kita akan membahas mengenai Asuhan keperawatan dengan

gangguan isolasi sosial


A. . Pengertian
Isolasi sosial adalah suatu keadaan dimana individu mengalami ketidak

mampuan untuk mengadakan hubungan dengan orang lain dan lingkungan secara

wajar, individu hidup dalam khayalaynnya sendiri yang tidak realitas dan

menunjukan gejala menyendiri (Kliat Budi Anna 2001).


Isolasi sosial adalah dimana individu kelompok mengalami atau merasakan

kejatuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi

tidak mampu untuk membuat kontak (Carpenito LJ, 2000 : hal 389).
Menarik diri atau mengasingkan diri (With Drawn) adalah suatu keadaan

dimana seseorang tidak mau bergaul atau kontak dengan orang lain, sukar diajak

berbicara dan pola fikir stretip. (Hawari, 2006)


Menarik diri adalah keinginan lain dari kenyataan atau menghindar secara

emosional cenderung menjadi pasif, tergantung tidak ada motivasi dan keinginan

untuk berperan dalam perawatan diri, (Salbiah 2003)

1
Menarik diri adalah usaha untuk menghindari interaksi dengan orang lain dan

individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan keakraban dan tidak mempunyai

kesempatan untuk membagi perasaan, pikiran, prestasi kepada orang lain (Depkes

RI 2000)
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa isolasi sosial

adalah dimana individu menghindar atau menjauhi keadaan sosial baik secara

individu kelompok dan lingkungan serta mempunyai keinginan untuk lari dari

kenyataan, tidak mau bergaul atau berhubungan dengan lain, sukar diajak berbicara

dan sering menyendiri.


B. Psikodinamika

1. Etiologi
Berbagai faktor bisa menimbulkan respon sosial maladaptif walaupun

banyak penelitian yang telah dilakukan pada gangguan yang mempengaruhi

hubungan interpersonal tetapi belum ada kesimpulan yang spesifik tentang

penyebab gangguan ini. Mungkin saja disebabkan oleh kombinasi berbagai

faktor (Gail. W. Stuart 2006 : 277)


Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang individu mengakibatkan

prilaku isolasi sosial antara lain :


a. Kurang percaya diri, psimis, takut, prilaku salah, merasa tertekan
b. Kegagalan membina hubungan dengan teman dan kurangnya dukungan

dari orang tua


c. Kegagalan individu dalam melanjutkan sekolah, pekerjaan, perkawinan
d. Berpisah tempat tinggal dengan orang tua

2
e. Mengalami kehilangan, baik itu kehilangan fungsi fisik, pekerjaan, tempat

hidup, anggota keluarga (kematian orang tua)


Adapun tanda dan gejala klien isolasi sosial (Linda Carman Copel, 2007)

sebagai berikut :
a. Tinggal sendiri
b. Kontak mata sedikit atau tidak ada
c. Ekspresi wajah sedih, tertekan
d. Sedikit atau tidak ada interaksi dengan individu lain
e. Tidak mampu berkomunikasi dalam situasi sosial
f. Menarik diri dari kesempatan untuk melakukan kontak sosial
g. Ketidaknyamanan saat bersama orang lain dapat di pantau
h. Didominasi oleh komunikasi non verbal atau jawaban yang monosibel

(bersuku kata satu)

2. Proses

Sebagai mahluk sosial manusia membutuhkan orang lain dan lingkungan sosial

dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Manusia tidak mampu

memenuhi hidupnya tanpa ada hubungan dengan lingkungan sosial sehingga

mengakibatkan individu menghindar dari orang lain dan di lingkungan.


Salah satu gangguan Isolasi Sosial yang disebabkan oleh klien dilator

belakangi gangguan perkembangan hubungan sosial pada dewasa, muda yaitu

terjadinya kegagalan dalam melanjutkan sekolah, pekerjaan, perkawinan.

3
Dimana klien menjadi frustasi, stress, cemas berat sampai panic terus-menerus

mengakibatkan individu menghindar hubungan intim, menjauhi orang lain,

putus asa akan karir.


3. Komplikasi

Komplikasi yang sering terjadi pada klien dengan gangguan hubungan

sosial menarik diri adalah klien menghindari stress, kecemasan dengan

menampilkan perilaku kembali seperti pada perkembangan anak (yang sudah

dilalui), ialah tidak mampu merawat diri karena tidak mempunyai minat.

Apabila terus berlanjut maka klien akan mengalami perubahan sensasi persepsi

halusinasi yang sering muncul adalah halusinasi dengan dan lihat.

C. Rentang Respon
Manusia dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari membutuhkan orang lain

tergantung lingkungan sosialnya, sedangkan hubungan individu terhadap

lingkungan berada dalam tentang respon adaptif dan mal adaptif.

4
Rentang Respon Neurobiologis

Respon Adaptif Respon Mal Adaptif

Pikiran Logis Pikiran kadang Gangguan proses waham


menyimpang ilusi Halusinasi ketidak
mampuan

Persepsi akurat Emosi Reaksi Emosional


konsisten

Dengan pengalaman Berlebihan/berkurang Menghadapi emosi


hubungan social yang perilaku ganjil/tidak lazim perilaku tidak teroranisir
baik menarik diri isolasi social

Adapun rentang respon yang terjadi pada klien yang mengalami gangguan

isolasi sosial mulai dari respon adaptif sampai dengan respon mal adaptif.

1. Respon Adaptif
Merupakan respon yang masih diterima oleh norman-norma sosial dan

kebudayaan secara umum dan berlaku, dengan kata lain bahwa individu

tersebut dalam batas normal dalam menyelesaikan :


a. Proses fikir
Adalah pandangan yang mengarah pada kenyataan.
b. Persepsi Akurat
Adalah pandangan yang tepat pada kenyataan.

c. Emosi Konsisten dengan Pengalaman


Adalah perasaan yang timbul dari hati sesuai dengan pengalaman.
d. Hubungan Sosial
Adalah interprestasi atau penilaian yang salah tentang penerapan yang

sungguh terjadi karena rangsangan pada panca indera


2. Respon Mal Adaptif

5
Adalah respon dimana klien jika menghadapi masalah tidak dapat memecahkan

dan menjadikan masalah tersebut sebagai beban.

a. Waham
Adalah suatu gagasan yang menetap keyakinan yang salah tidak sesuai

dengan latar belakang budaya klien.


b. Halusinasi
Adalah ketidakmampuan individu mengidentifikasikan dan

menginterprestasikan stimulus dengan informasi yang diterima sesuai

panca indera
c. Kesukaan proses emosi
Perubahan yang sulit timbul dari hati
d. Perilaku tidak biasa
Merupakan perilaku yang tidak benar
e. Isolasi Sosial
Adalah kondisi kesendirian yang dialami individu dan diterima sebagai

ketentuan oleh orang lain sebagai keadaan yang negative atau mengancam.

D. Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian Keperawatan
Menurut (Budi Anna Keliat, 2005 : 3) pengkajian merupakan tahap awal

dan dasar utama dari proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri atas

6
pengumpulan data dan perumusan kebutuhan, atau masalah klien. Data yang

dikumpulkan meliputi data bilogis, psikologis, sosial dan spiritual. Data pada

pengkajian kesehatan jiwa dapat dikelompokkan menjadi faktor predisposisi,

factor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping, dan kemampuan

koping yang dimiliki klien. Cara pengkajian lain berfokus pada 5 (lima)

dimensi, yaitu fisik, emosional, intelektual, sosial dan spiritual.


Untuk dapat menyaring data yang diperlukan, umumnya dikembangkan

formulir pengkajian dan petunjuk teknis pengkajian agar memudahkan dalam

pengkajian.
a. Identitas klien
b. Keluhan utama/alasan masuk
c. Faktor Predisposisi & Presipitasi
a. Faktor Predisposisi
1. Faktor perkembangan
a. Masa Bayi

Individu sangat beruntung kepada orang lain dalam memenuhi kebutuhan

biologis dan psikologis. Respon lingkungan terutama dari orang tua

khususnya ibu atau pengasuh terhadap kebutuhan bayi akan menimbulkan

rasa percaya diri dan percaya kepada orang lain.

Kegagalan pada masa ini akan menimbulkan rasa tidak percaya diri dan

tidak percaya kepada orang lain serta akan menarik diri dari orang lain.

b. Masa Pra Sekolah

Individu akan memperluas hubungan sosial diluar lingkungan keluarga. Pada

masa kini anak membutuhkan dukungan dan bantuan dari lingkungan

keluarganya, khususnya pengakuan positif terhadap perilaku yang adaptif.

Hubungan ini merupakan dasar otonomi untuk kemampuan suatu hubungan

interdependent.

c. Masa Anak Sekolah

7
Individu akan menjalin hubungan yang lebih luas khususnya dilingkungan

sekolahan. Individu akan mengenal kerjasama, kompetensi, kompromi,

konflik dengan orang tua karena pembatasan dan dukungan yang tidak

konsisten. Sumber pendukung yang penting adalah teman sebaya dan orang

dewasa diluar keluarga.

Kegagalan pada mas ini akan mengakibatkan individu frustasi terhadap

kemampuannya, putus asa, merasa tidak mampu dan akan menarik diri

dengan orang lain.

d. Masa Remaja

Individu dapat mengembangkan hubungan akrab dengan teman sebaya serta

umumnya mempunyai sahabat karib. Hubungan dengan teman sebaya sangat

tergantung dan hubungan dengan orang tua mulai independent.

Kegagalan pada masa ini akan menyebabkan individu ragu akan

identitasnya, tidak mampu mengidentifikasi karir dan rasa percaya diri yang

kurang.

e. Masa Dewasa Awal

Individu mempertahankan hubungan interdependent dengan orang tua dan

teman sebaya. Individu belajar mengambil keputusan dengan

memperhatinkan saran dan pendapat dari orang lain seperti memilih

pekerjaan, karir, melangsungkan pernikahan.

Kegagalan pada masa ini akan mengakibatkan individu menghindari

hubungan dengan orang lain, menjauhi orang lain dan putus asa akan karir

atau pekerjaannya.

f. Masa Dewasa Tengah

8
Umumnya individu telah berpisah dengan orang tua. Jika dia telah menikah

maka peran menjadi orang tua dan mempunyai hubungan antar orang dewasa

merupakan situasi tempat menguji kemampuan hubungan interdependent.

Kegagalan pada masa ini akan mengakibatkan perhatian individu hanya

tertuju pada dirinay sendiri, produktivitas dan kreativitas berkurang,

perhatian pada orang lain berkurang.

g. Masa Dewasa Akhir

Pada masa ini individu akan mengalami kehilangan baik fungsi fisik,

kegiatan, pekerjaan, teman hidup maupun anggota keluarga seperti kematian

orang tua. Individu tetap memerlukan hubungan yang memuaskan dengan

orang lain. Bila perkembangan individu baik maka dia akan dapat menerima

suatu kehilangan dan mengakui dukungan orang lain akan dapat

membantunya.

Kegagalan pada masa ini akan menyebabkan individu berkelakuan menarik

diri.

1. Faktor Biologis

Salah satu factor penunjang adanya respon sosial yang maladaptive. Ada

bukti terdahulu tentang terlibatnya neurotransmitter dalam perkembangan.

2. Faktor Komunikasi Dalam Keluarga

Komunikasi dalam keluarga dapat menjadi konstribusi untuk

mengembangkan gangguan tingkah laku. Masalah komunikasi yang ada

biasanya sikap permusuhan selalu mengkritik, kurang kehangatan, kurang

perhatian, emosi yang tinggi. Bila keluarga hanya berkomunikasi hal-hal

yang negative akan mendorong anak mengembangkan harga diri rendah.

9
Adanya dua pesan yang bertentangan disampaikan pada saat bersamaan akan

mengakibatkan anak menjadi traumatic dalam berkomunikasi dengan orang

lain.

3. Faktor Sosial Kultural

Isolasi sosial merupakan faktor dalam gangguan berhubungan dengan orang

lain akibat dari norma yang tidak mendukung. Pendekatan terhadap orang

lain atau menghargai anggota masyarakat yang tidak produktif, seperti

lansia, orang cacat dan penyakit kroni

a. Faktor Presipitasi
1. Sterssor Sosial Kultural

Menurunnya stabilitas unit keluarga yaitu berpisahnya dari orang lain

yang berarti dalam kehidupannya misalnya karena dirawat di rumah

sakit.

2. Stressor Psikologis

Ansientas yang berat dan berkepanjangan terjadi secara bersamaan.

Tuntutan untuk berpisah dengan orang terdekat membuat ansietas

meningkat dan individu akan mencoba untuk mengurung diri.

3. Pemeriksaan fisik terdiri dari Tekanan darah, nadi, suhu, pernafasan.


4. Psikososial terdiri dari genogram, buatkan minimal tiga generasi yang

dapat menggambarkan hubungan keluarga, masalah komunikasi

keluarga, pengembalian keputusan dan pola asuh. Konsep diri yaitu citra

tubuh, identitas diri, harga diri, hubungan sosial klien, spiritual klien.
5. Status mental terdiri penampilan, pembicaraan, aktivitas motorik, alam

perasaan, memori, tingkat konsentrasi dan berhitung, kemampuan

menilai dan daya titik diri.

10
6. Kebutuhan persiapan pulang yang terdiri dari makan, buang air besar

(BAB), buang air kecil (BAK), mandi, berpakaian, istirahat dan tidur,

penggunaan obat, pemeliharaan kesehatan, kegiatan dalam rumah,

kegiatan di luar rumah.

.Sumber Koping

Sumber koping pada klien dengan isolasi sosial, yaitu :

a. Keterlibatan dalam hubungan yang luas dengan keluarga dan

teman
b. Hubungan dengan hewan peliharaan
c. Gunakan kreatifitas untuk mengekspresikan stress

interpersonal seperti kesenian, music dan tulisan.


7. Mekanisme Koping

Individu yang mempunyai respon sosial meladaptif menggunakan

berbagai mekanisme dalam upaya untuk mengatasi ansietas. Mekanisme

koping yang disajikan berkaitan dengan jenis spesifikasi dari masalah-

msalah yang berhubungan.

Koping yang berkaitan dengan gangguan kepribadian antisosial yaitu :

a. Proyeksi : Melemparkan kesalahan pada orang lain


b. Regresi : Kembali pada masa kanak-kanak
c. Represi : Perjalanan masa lalu teringat kebelakang
8.Pohon Masalah (Budi Anna Keliat, 2005)

Resti gangguan Sensori Persepsi : Halusinasi : Akibat

: Core Problem
Isolasi Sosial
Harga Diri Rendah : Sebab
8. Daftar Masalah Keperawatan
a. Isolasi Sosial
b. Harga Diri Rendah
c. Resiti gangguan sensori persepsi : Halusinasi

11
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan menurut (Marilyn E. Doenges, 2006 : 17) adalah

suatu pertimbangan klinis tentang respon individu, keluarga atau komunitas

terhadap masalah kesehatan/proses kehidupan yang actual dan potensial.

Diagnose keperawatan memberikan dasar bagi pemilihan intervensi

keperawatan untuk mencapai hasil yang menjadi tanggung gugat perawat.


Diagnosa keperawatan yang muncul pada klien dengan masalah isolasi social

yaitu :
a. Isolasi sosial
b. Harga diri rendah
c. Resti gangguan sensori persepsi : Halusinasi
3. Perencanaan Keperawatan

a. Diagnosa : Isolasi Sosial


TUM : Klien dapat berinteraksi dengan orang lain
TUK I : Klien dapat membina hubungan saling percaya
Kriteria evaluasi :
Setelah dilakukan interaksi diharapkan ekspresi wajah cerah (tersenyum),

mau berkenalan, ada kontak mata, bersedia menceritakan perasaan,

bersedia mengungkapkan masalahnya.


Intervensi
Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip terapeutik,

beri salam setiap berinteraksi, perkenalkan nama, tanyakan dan panggil

12
nama kesukaan klien, tunjukkan sikap jujur dan menepati janji setiap kali

berinteraksi, tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi klien,

buat kontak interaksi yang jelas, dengarkan dengan penuh perhatian

ekspresi perasaan klien.


TUK II : Klien mampu menyebutkan penyebab menarik diri
Kriteria evaluasi :
Setelah dilakukan interaksi klien dapat menyebutkan minimal satu

penyebab menarik diri dari diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
Intervensi :

Tanyakan pada klien tentang orang yang tinggal serumah / teman sekamar

klien, orang yang paling dekat dengan klien dirumah/diruang perawatan,

apa yang membuat klien dekat dengan orang tersebut, orang yang tidak

dekat dengan klien dirumah/di ruang perawatan, yang membuat klien tidak

dekat dengan orang tersebut, upaya yang sudah dilakukan agar dekat

dengan orang lain, diskusikan dengan klien penyebab menarik diri atau

tidak mau bergaul dengan orang lain, beri pujian terhadap kemampuan

klien mengungkapkan perasaanya.

TUK III : Klien mampu menyebutkan keuntungan berhubunga sosial

dan kerugian menarik diri.

Kriteria evaluasi:

Setelah dilakukan interaksi dengan klien dapat menyebutkan keuntungan

berhubungan sosial, misalnya banyak teman, tidak kesepian, bisa diskusi,

saling menolong dan kerugian menarik diri. Misalnya sendiri, kesepian,

tidak bisa diskusi.

Intervensi:

13
Tanyakan pada klien tentang manfaat hubungan sosial, kerugian menarik

diri, diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubugann sosial,

kerugian menarik diri, beri pujian terjadap kemampuan klien

mengungkan perasaannya.

TUK IV : Klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap

Kriteria evaluasi:

Setelah dilakukan interaksi klien dapat melaksanakan hubungan sosial

secara bertahap dengan perawat, perawat lain dan kelompok.

Intervensi:

Observasi perilaku klien saat berhubungan sosial, beri motivasi dan bantu

klien untuk berkenalan / berkomunikasi dengan perawat lain, klien lain,

kelompok, libatkan klien dalam Terapi Aktifitas Kelompok Sosialisasi,

diskusikan jadwal kegiatan harian yang dapat dilakukan untuk

meningkatkan kemampuan klien bersosialisasi, beri motivasi klien untuk

melakukan kegiatan sesuai dengan jadwal yang telah dibuat, beri pujian

terhadap kemampuan klien memperluas pergaulannya melalui aktifitas

yang dilaksanakan.

TUK V : Klien mampu menjelaskan perasanya setelah berhubungan

sosial.

Kriteria evaluasi:

Setelah dilakukan interaksi klien dapat menjelaskan perasaanya setelah

berhubungan sosial dengan orang lain dan kelompok.

Intevrensi:

14
Diskusikan dengan klien tentang perasaannya setelah berhubungan sosial

dengan orang lain dan kelompok, beri pujian terhadap kemampuan klien

mengungkapkan perasaannya.

TUK VI : Klien mendapat dukungan keluarga dan memperluas

hubungan sosial.

Kriteria evaluasi:

Setelah dilakukan pertemuan keluarga dapat menjelaskan tentang

pengertian menarik diri, tanda dan gejala menarik diri, penyebab dan

akibat manarik diri, cara merawat klien menarik diri. Setelah dilakukan

pertemuan keluarga dapat mempraktekkan cara merawat klien menarik

diri.

Intervensi:

Diskusikan pentingnya peran serta keluarga sebagai pendukung untuk

mengatasi perilaku menarik diri, diskusikan potensi keluarga untuk

membantu klien mengatasi perilaku menarik diri, jelaskan pada keluarga

tentang pengertian menarik diri, tanda dan gejala menarik diri, penyebab

dan akibat menarik diri, cara merawat klien menarik diri. Latih keluarga

cara merawat klien menarik diri, tanyakan perasaan keluarga setelah

mencoba cara yang dilatihkan. Beri motivasi keluarga agar membantu

klien untuk bersosialisasi, beri pujian kepada keluarga atas keterlibatannya

merawat klien di rumah sakit.

15
TUK VII : Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik.

Kriteria evaluasi:

Setelah dilakukan interaksi klien menyebutkan manfaat minum obat,

kerugian tidak minum obat, nama, warna, jenis, dosis, efek terapi dan efek

samping obat, klien mendemonstrasikan penggunaan obat dengan benar,

klien menyebutkan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dokter.

Intervensi:

Diskusikan dengan klien tentang manfaat dan kerugian tidak minum obat,

nama warna, dosis, cara efek terapi dan efek samping penggunaan obat,

beri pujian jika klien menggunakan obat dengan benar, diskusikan akibat

berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter, anjurkan klien untuk

konsultasi kepada dokter / perawat jika terjadi hal-hal yang tidak

diinginkan.

4. Pelaksanaan Keperawatan

Implementasi tindakan keperawatan mengacu pada rencana tindakan

keperawatan dengan menggunakan strategi pelaksanaan yaitu strategi

pelaksanaan untuk klien dan strategi pelaksanaan untuk keluarga.

Sebelum melaksanakan tindakan yang sudah direncanakan, perawat

perlu memvalidasi dengan singkat. apakah rencana tindakan masih sesuai dan

dibutuhkan klien saat ini (here and now). Perawat juga menilai diri sendiri,

apakah mempunyai kern amp uan interpersonal, intelektual, dan teknikal yang

diperlukan untuk melaksanakan tindakan. (Budi Anna Keliat,2005: 17)

16
5. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi adalah proses berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan

keperawatan pada klien. Evaluasi dilakukan terus-menerus pada respons klien

terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. Evaluasi dibagi dua,

yaitu evaluasi proses atau formative yang dilakukan setiap selesai

melaksanakan tindakan, evaluasi hasil atau sumatif yang dilakukan dengan

membandingkan antara respons klien dan tujuan khusus serta umum yang telah

ditentukan. (Budi Anna Keliat, 2005:17)

LATIHAN

RANGKUMAN

Isolasi sosial adalah suatu keadaan dimana individu mengalami ketidak

mampuan untuk mengadakan hubungan dengan orang lain dan lingkungan secara

wajar, individu hidup dalam khayalannya sendiri yang tidak realitas dan

menunjukan gejala menyendiri (Kliat Budi Anna 2001). Menarik diri atau

mengasingkan diri (With Drawn) adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak mau

bergaul atau kontak dengan orang lain, sukar diajak berbicara dan pola fikir stretip.

(Hawari, 2006)

17
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa isolasi sosial

adalah dimana individu menghindar atau menjauhi keadaan sosial baik secara

individu kelompok dan lingkungan serta mempunyai keinginan untuk lari dari

kenyataan, tidak mau bergaul atau berhubungan dengan lain, sukar diajak berbicara

dan sering menyendiri.


Isolasi sosial adalah suatu keadaan dimana individu mengalami ketidak

mampuan untuk mengadakan hubungan dengan orang lain dan lingkungan secara

wajar, individu hidup dalam khayalaynnya sendiri yang tidak realitas dan

menunjukan gejala menyendiri (Kliat Budi Anna 2001).


Penyebab isolasi sosial,adalah kurang percay diri.pesimis,takut,persaan

selalu merasa tertekan,kurang dukungan dari keluarga,kegagalan,berpisah dengan

orang yang dicintai,kegagalan,kehilangan


Adapun tanda dan gejalanya,tinggal sendiri,kontak mata kurang,sedikit

ekspresi,wajah sedih,tertekan,tidak mampu berkomunikasi dengan orang lain


Koping yang dilakukan oleh klien dengan isolasi soiak

adalah,proyeksi,regresi,represi
Masalah yang mungkin muncul pada klien isolasi sosial secara teori adalah

isolasi sosial,harga diri rendah,resiko prilaku kekerasan

TES FORMATIF

1.Di bawah ini merupakan pengertian dari isolasi sosial


A. Mampu melakukan setiap kegiatan yang diperintahkan
B. Suatu keadaan di mana individu mampu berfikir akurat
C. Individu yang tidak mampu membedakan antara keadaan realita dengan
keadaan tidak nyata
D. Ketidak mampuan individu melakukan hubungan dengan orang lain atau
lingkungan
2.Faktor predisposisi dari isolasi sosial adalah....
1. Perkembangan
2. Biologis

18
3. Komunikasi dalam keluarga
4. sosiokultural
3.Faktor presipitasi pada isolasi sosial
A. Sosiokultural
B. Pendidikan
C. Jenis kelamin
D. kebiasaan
4.Pada rentang respon terdapat rentang adatif yaitu
A. Menyimpang
B. Illusi
C. Reaksi emosi berlebihan
D. Persepsi akurat
5.Komplikasi yang dapat terjadi pada klien dgn isolasi adalah
1. Kecemasan
2. Tidak mampu merawat diri
3. Tidak punya minat
4. Perubahan persepsi

6.Mekanisme koping yang terjadi pada klien dengan isolasi sosial


1. Proyeksi
2. Regresi
3. Represi
4. identifikasi
7.berdasarkan teori yang ada pada isolasi sosial masalah yang mungkin
munculadalah
1. Harga diri rendah
2. Prilaku kekerasan
3. Gangguan sensorik persepsi Halusinasu
4. Resiko bunuh diri
8.Intervensi yang dapat dlakukan untuk SP 1 antara lain adalah
1. Membina hubungan saling percaya dengan klien
2. Menanyakan alasan atau penyebab mrenarik diri pada klien
3. Menanyakan keuntungan dan kerugian tidak memiliki teman
4. Mengajarkan cara berkenalan dengan orang lain
9.Pada strategi pelaksanaan fase terminai kklien d harapkan melakukan rencana
tindak lanjut yaitu
a. Melakukan kegiatan fisik
b. Melakukan hobbynya
c. Melakukan hubungan secara bertahap dengan orang lain
d. Merapikan tempat tidur
10.dibawah ini adalah hubungan secara bertahap yang dapat dilakukan pada
klien dengan isolasi sosial yaitu
1. P – K
2. P - K –P
3. P – K –P – Klp
4. K – K – Klp

19
Bila saudara mampu menjawah soal dengan benar 8 -10 soal maka anada
berhak mendapatkan nilai A

KUNCI JAWABAN

i. D
ii. E
iii. A
iv. D
v. E
vi. A
vii. A
viii. E
ix. C
x. A

DD DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall, (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 6. Jakarta:
EGC.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, (2000). Pedoman Keperawatan Jiwa.
RSJP. Bandung
Keliat, Budi Ana, (2005), Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Jakarta : Penerbit
Buku. Kedokteran EGC.
Maramis W.F (2004). Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlangga University Press, Surabaya
Stuart, Gail. W. 2006. Buku Saku Keperawatan Jiwa, Edisi 5, Jakarta : EGC

20
UNCI KKKKKKUNCI ORMATIF

BAB II
KOMUNIKASI TERAPEUTIK

Apa yang anda ketahui tentang komunikasi


terapeutik ?

Mengapa komunikasi terapeutik perlu


diterapkan oleh seorang tenaga perawat ?

A. Pengertian Komunikasi Terapeutik


Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar,
bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien.

21
Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling
memberikan pengertian antar perawat dengan pasien. Persoalan mendasar dan
komunikasi in adalah adanya saling membutuhan antara perawat dan pasien,
sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan
pasien, perawat membantu dan pasien menerima bantuan.

Komunikasi terapeutik bukan pekerjaan yang bisa dikesampingkan, namun harus


direncanakan, disengaja, dan merupakan tindakan profesional. Akan tetapi, jangan
sampai karena terlalu asyik bekerja, kemudian melupakan pasien sebagai manusia
dengan beragam latar belakang dan masalahnya (Arwani, 2003 50).

B. Manfaat Komunikasi Terapeutik


Manfaat komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan menganjurkan kerja
sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien.
Mengidentifikasi. mengungkap perasaan dan mengkaji masalah dan evaluasi
tindakan yang dilakukan oleh perawat.

C. Tujuan Komunikasi Terapeutik


1. Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran
serta dapat mengambil tindakan yang efektif untuk pasien, membantu
mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan diri sendiri.

2. Kualitas asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien sangat dipengaruhi oleh
kualitas hubungan perawat-klien. Bila perawat tidak memperhatikan hal ini,
hubungan perawat-klien tersebut bukanlah hubungan yang memberikan dampak
terapeutik yang mempercepat kesembuhan klien, tetapi hubungan sosial biasa.

D. Karakteristik Komunikasi Terapeutik

22
Ada tiga hal mendasar yang memberi ciri-ciri komunikasi terapeutik yaitu sebagai
berikut: (Arwani, 2003 : 54).
1. Ikhlas (Genuiness)
Semua perasaan negatif yang dimiliki oleh pasien barus bisa diterima dan
pendekatan individu dengan verbal maupun non verbal akan memberikan bantuan
kepada pasien untuk mengkomunikasikan kondisinya secara tepat.
2. Empati (Empathy)
Merupakan sikap jujur dalam menerima kondisi pasien. Obyektif dalam
memberikan penilaian terhadap kondisi pasien dan tidak berlebihan.
3. Hangat (Warmth)
Kehangatan dan sikap permisif yang diberikan diharapkan pasien dapat
memberikan dan mewujudkan ide-idenya tanpa rasa takut, sehingga pasien bisa
mengekspresikan perasaannya lebih mendalam.

E. Perbedaan Komunikasi Terapeutik dan Komunikasi Sosial

Perbedaan Komunikasi Terapeutik dan Komunikasi Sosial

Komponen Hub.Sosial Hub. Terapeutik

23
 Tujuan  Kepuasan  Kesejahteraan, pertumbuhan dan
belajar bersama
 Fokus  Tidak dikenal  Dikenal oleh perawat – klien
Percakapan

 Isi  Penyingkapan diri sama Fokus pada pikiran, perasaan dan

banyak tingkah laku

 Keilmuan  Tidak menggunakan ilmu Ada ilmu terkait

terkait

 Orientasi  Masalah lalu dan yang Here and now

akan datang

 Waktu  Tidak terbatas, tidak Terbatas, terencana, terminasi


terencana, tanpa terminasi

 Dihindari
 Pengungkapan  Difasilitasi dan disupport
perasaan

 Tidak diakui
 Harkat diri  Sangat diakui

F. Tahapan dalam komunikasi terapeutik


1. Pra interaksi
a. Dimulai sebelum kontak pertama dengan pasien
b. Peningkatan kesadaran diri
c. Eksplorasi perasaan, fantasi, ketakutan, harapan perawat
d. Dapatkan data sekumder tentang klien bila memungkinkan

24
e. Rencanakan pertemuan pertama.

2. Orientasi (Orientation)
Pada fase ini hubungan yang terjadi masih dangkal dan komunikasi yang terjadi
bersifat penggalian informasi antara perawat dan pasien. Fase ini dicirikan oleh
lima kegiatan pokok yaitu testing, building trust, identification of problems and
goals, clarification of roles dan contract formation.

3. Kerja (Working)
Pada fase ini perawat dituntut untuk bekerja keras untuk memenuhi tujuan yang
telah ditetapkan pada fase orientasi. Bekerja sama dengan pasien untuk berdiskusi
tentang masalah-masalah yang merintangi pencapaian tujuan. Fase ini terdiri dari
dua kegiatan pokok yaitu menyatukan proses komunikasi dengan tindakan
perawatan dan membangun suasana yang mendukung untuk proses perubahan.\

4. Penyelesaian (Termination)
Pada fase ini perawat mendorong pasien untuk memberikan penilaian atas tujuan
telah dicapai, agar tujuan yang tercapai adalah kondisi yang saling
menguntungkan dan memuaskan. Kegiatan pada fase ini adalah penilaian
pencapaian tujuan dan perpisahan (Arwani, 2003 61).

LATIHAN

Untuk memperdalam pengetahuan dan kemampuan anda dalam komunikasi


terapeutik, cobalah anda menjelaskan kembali tahapan komunikasi terapeutik dan
menerapkannya dalam praktek dilaboratorium komunikasi.

Selamat Mengerjakan

25
RANGKUMAN

Komunikasi terapeutik merupakan alat perawat dalam berkomunikasi dan


memberikan asuhan keperawatan. Saat berkomunikasi hendaknya perawat
berkomunikasi dengan menerapkan tahapan dalam komunikasi terapeutik yang
terdiri dari tahapan prainteraksi, orientasi, kerja dan penyelesaian. Selain itu,
perawat juga perlu menerapkan prinsip dalam komunikasi terapeutik yaitu iklas,
hangat dan empati.

TES FORMATIF
a. Sebutkan pengertian dari komunikasi terapeutik ?
b. Jelaskan tahapan dalam komunikasi terapeutik ?
c. Sebutkan perbedaan komunikasi terapeutik dan komunikasi sosial ?

BAB III
TEKNIK – TEKNIK
KOMUNIKASI TERAPEUTIK

26
Dalam berkomunikasi terapeutik, perawat perlu mengetahui teknik dalam komunikasi
terapeutik. Penerapan komunikasi terapeutik akan mempermudah anda untuk
melakukan komunikasi terapeutik kepada pasien.

Menurut Stuart dan Sundeen (1995) teknik komunikasi terapeutik terdiri dari :

1. Mendengar aktif; Mendengar mempunyai arti: konsentrasi aktif dan persepsi


terhadap pesan orang lain yang menggunakan semua indra.

2. Mendengar pasif; Mendengar pasif adalah kegiatan mendengar dengan kegiatan


non verbal untuk klien. Misalnya dengan kontak mata, menganggukkan kepala dan
juga keikutsertaan secara verbal

3. Penerimaan: Yang dimaksud menerima adalah mendukung dan menerima informasi


dengan tingkah laku yang menunjukkan ketertarikan dan tidak menilai. Penerimaan
bukan berarti persetujuan. Menunjukkan penerimaan berarti kesediaan mendengar
tanpa menunjukkan keraguan atau ketidaksetujuan.

4. Klarifikasi; Klarifikasi sama dengan validasi yaitu menanyakan kepada klien apa
yang tidak dimengerti perawat terhadap situasi yang ada. Klarifikasi dilakukan
apabila pesan yang disampaikan oleh klien belum jelas bagi perawat dan perawat
mencoba memahami situasi yang digambarkan oleh klien.

5. Fokusing; Fokusing adalah kegiatan komunikasi yang dilakukan untuk membatasi


area diskusi sehingga percakapan menjadi lebih spesifik dan dimengerti.
.

27
6. Observasi; Observasi merupakan kegiatan mengamati klien/orang lain. Observasi
dilakukan apabila terdapat konflik antara verbal dan non verbal klien dan saat
tingkah laku verbal dan non verbal nyata dan tidak biasa ada pada klien. Observasi
dilakukan sedemikian rupa sehingga klien tidak menjadi malu atau marah.

7. Menawarkan informasi; Menyediakan tambahan informasi dengan tujuan untuk


mendapatkan respon lebih lanjut. Beberapa keuntungan dari menawarkan informasi
adalah akan memfasilitasi komunikasi, mendorong pendidikan kesehatan, dan
memfasilitasi klien untuk mengambil keputusan. Penahanan informasi pada saat
klien membutuhkan akan mengakibatkan klien tidak percaya. Hal yang tidak boleh
dilakukan adalah menasehati klien pada saat memberikan informasi.

8. Diam (memelihara ketenangan); Diam dilakukan dengan tujuan mengorganisir


pemikiran, memproses informasi, menunjukkan bahwa perawat bersedia untuk
menunggu respon. Kediaman ini akan bermanfaat pada saat klien mengalami
kesulitan untuk membagi persepsinya dengan perawat. Diam tidak dapat dilakukan
dalam waktu yang lama karena akan mengakibatkan klien menjadi khawatir. Diam
dapat juga diartikan sebagai mengerti, atau marah. Diam disini juga menunjukkan
kesediaan seseorang untuk menanti orang lain agar punya kesempatan berpikir,
meskipun begitu diam yang tidak tepat menyebabkan orang lain merasa cemas.

9. Assertive: Assertive adalah kemampuan dengan secara meyakinkan dan nyaman


mengekspresikan pikiran dan perasaan diri dengan tetap menghargai hak orang lain.

10. Menyimpulkan; Membawa poin-poin penting dari diskusi untuk meningkatkan


pemahaman. Memberi kesempatan untuk mengklarifikasi komunikasi agar sama
denga ide dalam pikiran

11. Giving recognition (memberikan pengakuan/penghargaan); Memberi


penghargan merupakan tehnik untuk memberikan pengakkuan dan menandakan
kesadaran.

28
12. Offering Sel (menawarakan diri); Menawarkan diri adalah menyediakan diri anda
tanpa respon bersyarat atau respon yang diharapkan.

13. Offering general leads (memberikan petunjuk umum); Mendukung klien untuk
meneruskan.

14. Giving broad opening (memberikan pertanyaan terbuka): Mendorong klien


untuk menyeleksi topik yang akan dibicarakan. Kegiatan ini bernilai terapeuitik
apabila klien menunjukkan penerimaan dan nilai dari inisiatif klien dan menjadi
non terapeuitk apabila perawatan mendominasi interaksi dan menolak respon klien.

15. Placing the time in time/sequence (penempatan urutan/waktu); Melakukan


klarifikasi antara waktu dan kejadian atau antara satu kejadian dengan kejadian
lain. Teknik bernilai terapeutik apabila perawat dapat mengeksplorasi klien dan
memahami masalah yang penting. Tehnik ini menjadi tidak terapeutik bila perawat
memberikannasehat, meyakinkan atau tidak mengakui klien.

16. Encourage deskripition of perception (mendukung deskripsi dari persepsi);


Meminta kepada klien mengungkapkan secara verbal apa yang dirasakan atau
diterima.

17. Encourage Comparison (mendukung perbandingan); Menanyakan kepada


klien mengenai persamaan atau perbedaan.

18. Restating (mengulang) Restating; adalah pengulangan pikiran utama yang


diekspresiakn klien.

19. Reflekting (Refleksi): Digunakan pada saat klien menanyakan pada perawat
tentang peneliaian atau kesetujuannya. Tehnik ini akan membantu perawat untuk
tetap memelihara pendekatan yang tidak menilai.

20. Eksploring (Eksporasi); Mempelajari suatu topik lebih mendalam

29
21. Presenting reality (menghadikan realitas/kenyataan); Menyediakan informasi
dengan perilaku yang tidak menilai.

22. Voucing doubt (menunjukkan keraguan); Menyelipkan persepsi perawat


mengenai realitas. Tehnik ini digunakan dengan sangat berhati-hati dan hanya pada
saat perawat merasa yakin tentang suatu yang detil. Ini digunakan pada saat
perawat ingin memberi petunjuk pada klien mengenai penjelasan lain.

23. Seeking consensual validation; Pencarian pengertian mengenai komunikasi


baik oleh perawat maupun klien. Membantu klien lebih jelas terhadap apa yang
mereka pikirkan.

24. Verbalizing the implied: Memverbalisasikan kata-kata yang klien tunjukkan


atau anjuran.

25. Encouraging evaluation (mendukung evaluasi): Perawat membantu klien


mempertimbangkan orang dan kejadian kedalam nilai dirinya.

26. Attempting to translate into feeling (usaha menerjemahkan perasaan);


Membantu klien untuk mengidentifikasi perasaan berhubungan dengan kejadian
atau pernyataan.

27. Suggesting collaborating (menganjurkan kolaborasi): Penekanan kegiatan


kerja dengan klien tidak menekan melakukan sesuatu untuk klien. Mendukung
pandangan bahwa terdapat kemungkinan perubahan melalui kolaborasi.

28. Encouragingformulation of plan of action (mendukng terbentuknya rencana


tindakan): Memberikan kesempatan pada klien untuk mengantisipasi alternative
dari tindakan untuk masa yang akan datang.

30
29. Estabilising guidelines (menyediakan petunjuk); Statemen yang menunjukkan
peran, tujuan dan batasan untuk interaksi. Hal ini akan menolong klien untuk
mengetahui apa yang dia harapkan dari dirinya.

30. Open- ended comments (komentar terbuka-tertutup): Komentar secara umum


untuk menentukan arah dari interaksi yang seharusnya dilakukan. Hal ini akan
mengijinkan klien untuk memutuskan apa topik/materi yang paling relevan dan
mendukung klien untuk meneruskan interaksi.

31. Reducing distant (penurunan jarak); Menurunkan jarak fisik antara perawat
dank lien. Hal ini menunjukkan komunikasi non verbal dimana perawat ingin
terlibat dengan klien.

32. Humor; humor sebagai hal yang penting dalam komunikasi verbal dikarenakan:
tertawa mengurangi keteganan dan rasa sakit akibat stress, serat meningkatkan
keberhasilan asuhan keperawatan.

LATIHAN

Latihan ini akan mengukur penguasaan mahasiswa terhadap kegiatan belajar dari
komunikasi keperawatan. Latihan ini sebagai pengayaan agar mahasiswa lebih
mendalami teknik komunikasi terapeutik. Adapun tugasnya adalah coba anda buat
contoh kalimat dari tiap teknik komunikasi terapeuti yang sudah anda pelajari.

Selamat Mengerjakan

31
RANGKUMAN

Sebagai seorang perawat dituntut harus mampu menerapkan teknik komunikasi


terapeutik dan teknik dalam komunikasi terapeutik. Teknik komunikasi terapeutik tidak
dapat anda kuasai dengan memahami saja tetapi dibutuhkan penerapan langsung kepada
pasien.

TES FORMATIF
a. Coba anda jelaskan teknik komunikasi terapeutik ?
b. Kerjakan kasus dibawah ini
Tn. A (27 tahun) seorang pasien dengan diagnosa post amputasi kaki kiri. Tn. A
adalah seorang karyawan swasta dimana kariernya sedang naik. Tn. A harus
mengalami amputasi kaki kiri akibat kecelakaan lalu lintas yang ia alami. Sejak
diamputai Tn. A menjadi seorang yang pendiam dan pemurung. Ia tidak mau
menerima kunjungan dari teman-temannya yang datang ke rumah sakit. Melihat
kondisi Tn. A, perawat ingin membantu Tn. A. Melalui komunikasi terapeutik
perawat dapat membantu Tn. A. Coba anda sebutkan teknik komunikasi terapeutik
apa yang dapat diterapkan pada Tn.A ?

Bba

DAFTAR PUSTAKA

Arwani. (2002). Komunikasi dalam Keperawatan. Jakarta : EGC.

Dalami, E, dkk. (2009). Komunikasi Keperawatan. Jakarta : EGC.

32
Mundakir. (2006). Komunikasi Keperawatan, Aplikasi dalam Pelayanan. Yogyakarta:
Graha lmu

Purwanto, H. (1994). Komunikasi Untuk Perawat. Jakarta : EGC.

Stuart dan Sundeen. (1995). Keperawatan Jiwa. (Alih Bahasa : Achir Yani Hamid).
Jakarta : EGC.

Wiryanto, DR., 2006. Pengantar Ilmu Komunikasi. Cetakan Ketiga. Jakarta: PT


Grasindo.

33