Anda di halaman 1dari 16

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/325073768

PENGALAMAN PERAWAT INTENSIVE CARE UNIT (ICU) DENGAN KEHADIRAN


KELUARGA SELAMA RESUSITASI DI RUMAH SAKIT BANJARMASIN

Preprint · March 2016


DOI: 10.13140/RG.2.2.15453.31202

CITATIONS READS

0 11

1 author:

Julianto Julianto
University of Muhammadiyah Banjarmasin
1 PUBLICATION   0 CITATIONS   

SEE PROFILE

All content following this page was uploaded by Julianto Julianto on 11 May 2018.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


SEMINAR NASIONAL FARMASI 2016
“PENDEKATAN DAN PENGAPLIKASIAN FARMAKOGENOMIK
DALAM DIAGNOSA DAN TERAPI KANKER”

PENGALAMAN PERAWAT INTENSIVE CARE UNIT (ICU)


DENGAN KEHADIRAN KELUARGA SELAMA RESUSITASI DI RUMAH SAKIT
BANJARMASIN

Julianto*
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin
Email: juliantomarhawi@icloud.com

Abstrak

Latar belakang: Kehadiran keluarga selama resusitasi merupakan contoh pelaksanaan dari
perawatan pasien berpusat pada keluarga (family-centered care). Banyaknya fenomena kehadiran
keluarga selama resusitasi yang belum terungkap sehingga masih belum cukup kuat sebagai bukti
yang mendukung praktek ini.
Tujuan: Memperoleh pemahaman secara mendalam tentang pengalaman perawat intensive care
unit (ICU) dengan kehadiran keluarga selama resusitasi.
Metode: Studi fenomenologi kualitatif. Pengambilan data dengan wawancara mendalam (Indepth
interview). Metode analisis yang terstruktur dan spesifik dari Moustakas yang disederhanakan
creswell menjadi 6 langkah.
Hasil: Penelitian ini menemukan tiga tema yaitu persepsi perawat menghadirkan keluarga dalam
tindakan resusitasi, manfaat menghadirkan keluarga, dan berbagai masalah dalam menghadirkan
keluarga.
Kesimpulan: Sikap yang positif dari perawat terhadap kehadiran keluarga selama resusitasi,
berbagai masalah yang dihadapi perawat namun perawat tetap menghadirkan keluarga pasien dan
belum terdapatnya protokol yang ada untuk menghadirkan keluarga selama resusitasi.
Kata kunci: Intensif Care Unit, Kehadiran Keluarga, Keperawatan Berpusat Keluarga, Perawat,
Resusitasi

Abstract

Background: Family presence during resuscitation is an example of the implementation of family-


centered care. The many phenomena of family presence during resuscitation has not been revealed
so it is still not sufficiently strong evidence to support this practice.
Objective: Acquire in-depth understanding of the experiences of nurses in the intensive care unit
(ICU) with a family presence during resuscitation.
Methode: Qualitative phenomenological study. Retrieving data with in-depth interviews (Indepth
interview). The method of analysis of the specific structured and simplified Moustakas Creswell
into 6 steps.
Result: This study found three themes, namely the perception of nurses bring the family in
resuscitation, brings the benefits of the family, and a variety of problems in the family brings.
Conclusion: A positive attitude of nurses towards family presence during resuscitation, various
problems faced by nurses but nurses still presents the patient's family and not the presence of the
existing protocol to bring the family during the resuscitation.

Key Word: Family Centered Care, Nurse, Intensif Care Unit, Family Presence, Resuscitation

PENDAHULUAN

Kehadiran keluarga selama resusitasi merupakan contoh pelaksanaan dari perawatan


pasien berpusat pada keluarga (Family-Centered Care) namun dalam pelaksanaannya masih
menjadi perdebatan dan menjadi topik yang sangat kontroversial sejak tahun 1980 an
hingga saat ini. Perawatan pasien berpusat pada keluarga mempunyai tujuan memenuhi
kebutuhan pasien dan keluarganya, termasuk memberikan informasi terkait kondisi

!79
SEMINAR NASIONAL FARMASI 2016
“PENDEKATAN DAN PENGAPLIKASIAN FARMAKOGENOMIK
DALAM DIAGNOSA DAN TERAPI KANKER”

kesehatan, jaminan dan dukungan juga kebutuhan bersama pasien (Henneman & Cardin
2002).

Banyak keluarga pasien mendukung dan menginginkan hadir selama resusitasi,


mereka percaya hal itu dapat membantu mengurangi kesedihan jika suatu hal yang buruk
terjadi pada anggota keluarga yang sedang dirawat (Doyle et al. 1987; Meyers et al. 2000;
Zakaria & Siddique., 2008; Leung & Chow., 2012). Keluarga pasien memandang dengan
kehadirannya pada saat resusitasi, mereka dapat memahami lebih memahami kondisi pasien
(Duran, et al., 2007). Menurut pengalaman keluarga, hadir pada saat proses resusitasi
memberikan kenyamanan fisik dan emosional bagi mereka, selain itu menjadi sumber
informasi terkait riwayat medis pasien, sebagai penghubung kepada keluarga yang lain
yang menanyakan kelangsungan kondisi pasien (Leske et al, 2013). Di antara keluarga
pasien yang menyaksikan resusitasi tidak ada efek psikologis negatif yang dilaporkan, dan
semuanya merasa senang dengan keputusan mereka untuk tetap hadir bersama disamping
pasien (Robinson 1998, Holzhauser et al. 2006).

Perawat memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk menghadirkan keluarga pada
saat resusitasi berlangsung dan mereka juga percaya manfaat yang lebih besar daripada
resiko yang dihadapi (Twibell et al. 1982; Chapman et al. 2012; Beer & Moleki, 2012;
Tudor et al. 2014). Beberapa literatur juga melaporkan sangat sedikit profesional kesehatan
mempunyai standar yang tertulis ditempat kerja mereka (MacLean et al. 2003; Madden.,
2007; Fallis., 2008; Tomlinson et al. 2010; Köberic et al. 2010). Meskipun tidak ada
standar yang tertulis mereka tetap menghadirkan keluarga pada saat resusitasi. Perawat
menganggap kehadiran keluarga tidak akan mempengaruhi prosedur resusitasi, tetapi malah
membantu proses berduka keluarga pada saat keluarganya meninggal, atau meningkatkan
stres emosional dalam tim medis dan hal ini juga tidak menimbulkan konflik medikolegal
antara keluarga pasien dan perawat (Tomlinson et al. 2010; Chapman et al. 2012; Jabre et
al. 2013). Sebagian perawat mungkin tidak yakin tentang bagaimana untuk mendukung
keluarga pada saat resusitasi berlangsung, tetapi perawat tetap berkomitmen untuk
menyediakan perawatan yang berpusat pada keluarga secara holistik dan untuk memenuhi
kebutuhan mereka pada saat-saat kritis (McLaughlin et al. 2013).

Kecemasan akan praktek ini masih dirasakan oleh perawat lainnya dan beberapa
kondisi cenderung menjadi hambatan untuk praktek ini dilaksanakan selama resusitasi
seperti kekhawatiran keterbatasan kapasitas ruangan resusitasi yang akan penuh jika
keluarga pasien hadir dan hal itu akan membuat kesulitan perawat berkonsentrasi pada
proses resusitasi jantung paru (CPR), kemudian adanya asumsi perawat bahwa keluarga
akan mengalami trauma terhadap pengalaman resusitasi, pernah mengalami ancaman fisik
dan kekerasan emosional, serta kekhawatiran kerahasian dan risiko mendapat tuntutan

!80
SEMINAR NASIONAL FARMASI 2016
“PENDEKATAN DAN PENGAPLIKASIAN FARMAKOGENOMIK
DALAM DIAGNOSA DAN TERAPI KANKER”

legalitas (McClenathan et al. 2002; Fulbrook et al. 2007; Zakaria & Siddique 2008;
Köberich, 2010; Leung & Chow 2012; Bashayreh et al. 2013; Tudor et al. 2014; Al Mutair
et al. 2014).

Perawat yang mendukung kehadiran keluarga berasumsi bahwa perawat yang


menolak praktek ini terlalu memikirkan masalah hukum dan potensi risiko, sedangkan
perawat yang menolak berasumsi kalau perawat yang mendukung kurang simpati terhadap
keluarga pasien, tim resusitasi dan pelayanan kesehatan (Jones et al, 2011).

Banyaknya fenomena kehadiran keluarga selama resusitasi yang belum terungkap


sehingga masih belum cukup kuat sebagai bukti yang mendukung praktek ini. Kehadiran
keluarga pada saat resusitasi merupakan fenomena yg penting di eksplorasi, karena masih
terdapatnya informasi yang masih belum jelas arti pentingnya kehadiran keluarga ketika
dilakukan resusitasi. Metode kualitatif merupakan metode yang tepat untuk memperoleh
informasi atau data langsung pengalaman perawat tersebut, karena metode ini menggali
secara mendalam langsung dari para perawat yang melakukan resusitasi tersebut. Metode
ini juga membolehkan perawat untuk bercerita secara detail tentang pengalamannya
melakukan resusitasi dengan kehadiran keluarga.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan studi kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Untuk
mengeksplorasi secara mendalam dan naturalistik dari pengalaman perawat unit perawatan
kritis dengan adanya kehadiran keluarga selama resusitasi di tiga rumah sakit banjarmasin
peneliti menggunakan pendekatan fenomenologi transenden atau dengan istilah lain disebut
fenomenologi deskriptif. Sebanyak 5 orang perawat intensive care unit yang telah
menyetujui berpartisipasi dalam penelitian ini. Peneliti menggunakan teknik sampling
variasi maksimum karena merupakan pendekatan yang popular dalam studi kualitatif.
Peneliti memilih partisipan perawat yang mempunyai pengalaman terlibat dalam prosedur
resusitasi dengan hadirnya keluarga pasien.

Peneliti dalam mengumpulkan data menggunakan cara wawancara mendalam (in-


depth review) kepada partisipan menggunakan IC Recorder (perekam), Field note dan
Interview Guide. Persiapan sebelum melakukan wawancara peneliti memenuhi persyaratan
yaitu izin penelitian, kemudian melakukan pemilihan dan Pendekatan kepada partisipan,
memberikan Informed Consent, dan kontrak waktu dan tempat wawancara. Selanjutnya
untuk pelaksanaan wawancara dimulai dengan pertanyaan utama yang ada pada Interview
Guide, menggunakan jenis wawancara mendalam (in-depth review), jenis pertanyaan yang
diajukan adalah pertanyaan open end, tidak lupa bracketing dan intuisi. Peneliti juga
membatasi waktu wawancara 30 -50 menit dan memberi jeda jika partisipan merasa lelah.
Selanjutnya mengumpulkan data, melakukan coding secara sistematik, melakukan proses

!81
SEMINAR NASIONAL FARMASI 2016
“PENDEKATAN DAN PENGAPLIKASIAN FARMAKOGENOMIK
DALAM DIAGNOSA DAN TERAPI KANKER”

tematik, melakukan verifikasi dan yang terakhir terminasi memvalidasi kepada seluruh
partisipan, melakukan terminasi dan mengucapkan terima kasih kepada partisipan.

Hasil penelitian

Hasil wawancara terhadap lima orang partisipan yang merupakan perawat intensive care
unit. Tema yang ditemukan seperti persepsi menghadirkan keluarga didalam tindakan
resusitasi, manfaat menghadirkan keluarga, dan berbagai masalah yang dihadapi dalam
menghadirkan keluarga.

Persepsi menghadirkan keluarga dalam tindakan resusitasi

a. Bukti fisik memberikan pelayanan yang optimal

Menghadirkan keluarga agar keluarga pasien melihat perawat memang sudah bekerja
benar-benar optimal untuk menyelamatkan pasien. Berikut salah satu partisipan
mengungkapkannya.

........Iya kalau saya lebih setuju, e… bahwa keluarga itu ada disamping, saat kita
melakukan resusitasi itu tadi, sehingga si keluarga melihat dan merasa kita sudah bekerja
dengan benar-benar dan optimal……..(P4)

b. Bukti fisik memberikan pelayanan sampai akhir hayat

Menurut pengalaman partisipan menghadirkan keluarga alasannya agar keluarga pasien


melihat bahwa perawat sudah melakukan tugasnya untuk menyelamatkan pasien hingga
akhir hayat.

…….Pengalaman selama saya bekerja, selalu sih kita hadirkan keluarga saat resusitasi,
RJP saat kompresi, saat-saat pasien yang sudah asystole atau cardiac arrest lah... selalu
kita hadirkan keluarga ya... alasan kami sih biar...paling nggak keluarga itu melihat kita
bekerja, artinya ada penolongan, emergency saat pasien itu kritis, keluarganya kritis, yang
pertama itu sih. Jadi meyaakinkannn...a… bukan meyakinkan sih, biar keluarganya
melihat, artinya kita sebagai tenaga medis disini kita memberikan pelayanan sampai
terakhir……(P1)

c. Kehadiran keluarga sebagai tradisi budaya

Partisipan mengungkapkan bahwa mendoakan dan membimbing pasien yang menghadapi


sakaratul maut merupakan ajaran agama dan merupakan kultur budaya setempat sehingga
keluarga dirasa perlu untuk dihadirkan. Hal tersebut akan memuaskan keluarga pasien
karena mereka bisa membimbing keluarganya pada saat terakhir. Seperti yang diungkapkan
salah satu partisipan dibawah ini.

!82
SEMINAR NASIONAL FARMASI 2016
“PENDEKATAN DAN PENGAPLIKASIAN FARMAKOGENOMIK
DALAM DIAGNOSA DAN TERAPI KANKER”

........Ehh... alasannya biar keluarga melihat kita melakukan intervensi kepada pasiennya,
keluarganya kemudian keluarga biar memberikan ya... biasanya memberikan kepuasan
tersendiri bagi keluarga pasien tersebut untuk mendoakan atau mendzikirkan, kultur kita
sih, kultur sih aaa budaya kita di sini, mereka selalu punya kepuasan tersendiri pada saat
memberikan membimbing, membimbing keluarganya saat mau meninggal kemudian, Yang
pertama tadi apa, Keluarga a... Melihat tindakan…….(P1)

Manfaat menghadirkan keluarga:

a. Bekerja menjadi lebih tenang

Menurut partisipan mengungkapkan perlu keluarga pasien hadir karena ketika melakukan
tindakan ada yang menyaksikan membuatnya merasa tenang. Berikut seperti yang
diungkapkan partisipan ini.

…….Iya kalau saya tetap merasa lebih perlu didampingi keluarga, sehingga merasa tenang
itu tadi melakukan tindakan, Iyaa….…(P4)

b. Memenuhi kebutuhan spiritual pasien

partisipan mengatakan jika keluarga pasien kooperatif sangat dianjurkan untuk hadir pada
saat resusitasi dan sesuai dengan kepercayaan agamanya menganjurkan keluarga yang
mendampingi dan membimbing pasien yang sakaratul maut, sehingga diharapkan pasien
lebih mengingat kepada Tuhan. Berikut partisipan mengungkapkan hal tersebut.

…….Pertama kalo misalnya keluarga kooperatif sangat dianjurkan untuk hadir, kalau
menurut pribadi saya sendiri sejauh saya beragama islam saya e… kepercayaan ketika
pasien mengalami suatu keadaan kritis, peran keluarga itu sangat penting seperti
mengomando (Membimbing) pasien dalam fokus kepada Tuhan…… (P6)

c. Keluarga pasien lebih menerima hasil resusitasi

Keluarga pasien tahu kita melakukan segala usaha yang memungkinkan untuk
menyelamatkan pasien, biasanya keluarga menerima saja kemungkinan yang buruk terjadi
pada pasien. Seperti diungkapkan partisipan berikut ini.

……Kalau keluarga tahu kita mengusahakan biasanya memang setelah selesai itu mereka
menerima aja… sudah memang memang tidak bisa di apa-apa i, kalau kadang memang
ada yang biasa, biasanya memang kita kita yang melihat mungkin penilaian subjektif kita
saja oh ini sudah-sudah tidak bisa di apa-apain kalau kita melakukan tindakan – tindakan
malah kasian ke pasiennya, kami kadang malah setelah gawat kami panggil ini keluarga
pian sudah gawat…….(P7)

d. Menghindari tuntunan hukum dan tuntutan keluarga di kemudian hari

!83
SEMINAR NASIONAL FARMASI 2016
“PENDEKATAN DAN PENGAPLIKASIAN FARMAKOGENOMIK
DALAM DIAGNOSA DAN TERAPI KANKER”

Partisipan mengatakan dengan menghadirkan keluarga dapat menghindarkan mereka dari


masalah tersebut.

.......Membantu kami menghindari sebenarnya menghindari masalah, masalah yaa


biasanya sih sama seperti yang pertama tadi kalau ada kasus karena keluarganya nggak
dipanggil masuknya ke jalur hukum, sssmalaesnya minta ampun kalau itu,.....(wajah
menunjukkan orang yang tidak senang) (P1)

Berbagai masalah yang dihadapi dalam menghadirkan keluarga

a. Tuntutan keluarga terhadap kemampuan perawat untuk bisa menyelamatkan


keluarganya

Memenuhi permintaan keluarga pasien yang berlebihan seperti itu partisipan anggap itu
merugikan dan menjadi pengalaman buruknya dalam hal menghadirkan keluarga pasien
pada saat resusitasi. Berikut yang diungkapkan partisipan.

........susahnya bagi kami ne lah susahnya bagi kami begitu tenaga kami terasa terkuras,
kami merasa kewalahan gitu nah....sudah dibantu lebih daripada 30 menit, ternyata
keluarga masih minta di genjot, nah... sedangkan tenaga lain sudah kehabisan…….(P5)

b. Fasilitasi ruangan yang tidak mendukung jumlah keluarga

Sebenarnya menurut partisipan kebijakan rumah sakit sudah ada yang membatasi jumlah
keluarga yang hadir pada saat resusitasi. Ketika hadirnya keluarga terlalu banyak maka itu
akan membuat perawat melakukan tindakan resusitasi jantung paru dan anggota lain yang
melakukan bagging akan susah bertukar tempat. Berikut, salah satu partispan yang
menungkapkan.

.........Kan aturan dari dari direktur RS bahwa setiap jam berkunjung tu satu pasien, satu
sampai 2 orang pengunjung, terkadang begitu pengunjungnya lebih dari pada dua, itu
yang kewalahan kadang-kadang. Kita yang siklusnya harus bergantian, satu orang RJP,
satu orang Bagging, kita kita sendiri yang kesusahan tukar-tukar tempat karena
keluarganya yang banyak……..(P5)

c. Belum terdapat protokol yang menjadi acuan

Partisipan mengungkapkan biasa mereka kalau menghadirkan keluarga hanya secara lisan
saja, kalau untuk stadar operasional memang belum ada. Namun yang ada itu adalah
informed consent yang harus disetujui keluarga ketika perawat ingin melakukan tindakan
kepada pasien. Seperti yang diungkapkan partisipan berikut.

…….Kalau Standar Operasional untuk melakukan resusitasi kita belum ada ya, maksudnya
untuk dihadirkan keluarga disamping itu belum ada…. Cuman biasanya pernyataan secara
lisan aja selama ini yang kita lakukan diruangan ICU, cuman sebelum masuk pasien di

!84
SEMINAR NASIONAL FARMASI 2016
“PENDEKATAN DAN PENGAPLIKASIAN FARMAKOGENOMIK
DALAM DIAGNOSA DAN TERAPI KANKER”

ICU itu sudah ada standar operasional penanda tanganan bahwa akan ada tindakan dari
perawat ICU dan keluarga harus setuju gitu……(P4)

d. Keluarga yang tidak kooperatif

Menurut penuturan partisipan terkadang pasien tidak terima dengan kondisi keluarganya
yang pada awalnya baik-baik saja kemudian tiba-tiba mengalami henti jantung. Keluarga
yang tidak terima menjadi emosi dan sampai mengamuk. Berikut salah seorang partisipan
yang menuturkan pengalamannya.

….hmm eh, masalahnya kan disini keluarga pasien nunggunya diluar, ada pasien yang
khususnya penyakit jantung yang memang keadaan awalnya baik-baik aja sadar penuh tapi
ketika dia melakukan valsa maneuver tiba-tiba dia mengalami arrest kan keluarga kaget,
asalnya kan kada papa (tidak apa-apa) neh, pas ditinggal sehat-sehat saja, tapi tiba-tiba
dipanggil pasien sudah dalam keadaan arrest, ada keluarga yang tidak terima ngamuk-
ngamuk gitu tadi ..(P6)

PEMBAHASAN

Tiga tema yang peneliti temukan dalam studi ini yaitu persepsi menghadirkan
keluarga dalam tindakan resusitasi, manfaat menghadirkan keluarga, dan berbagai masalah
yang dihadapi dalam menghadirkan keluarga akan peneliti uraikan di pembahasan ini. Pada
prinsipnya mereka hanya ingin memperlihatkan secara langsung ke keluarga pasien telah
berbuat sesuatu untuk melakukan segalanya menyelematkan pasien, hal ini juga sebagai
bukti usaha yang optimal. Bagi salah satu partisipan kehadiran keluarga tidak berdampak
apa-apa bagi petugas. Temuan ini sama halnya yang ditemukan Al Mutair et al. (2014)
yaitu kehadiran keluarga menurut perawat Intensive Care Unit (ICU) tidak akan
mempengaruhi kinerja klinis mereka.

Partisipan beranggapan keluarga akan mendapatkan kesan jika usaha yang dilakukan
sudah maksimal dan benar-benar diusahakan untuk menyelamatkan pasien. Jaminan usaha
yang terus – menerus dari perawat untuk menolong pasien sampai akhir hayat juga ingin
dibuktikan perawat secara langsung pada saat keluarga pasien hadir.

Berbagai ungkapan partisipan setuju menghadirkan keluarga untuk membuktikan


mereka sudah berusaha, namun ada makna lain yang peneliti tangkap dari beberapa
ungkapan partisipan, keluarga pasien dihadirkan merupakan bagian dari usaha perawat
untuk mengurangi kecemasan akan tuntutan hukum sehingga posisi keluarga pasien yang
hadir hanya sebagai saksi terhadap usaha yang telah dilakukan perawat saat resusitasi,
pandangan ini terasa sempit jika kehadiran keluarga dipandang hanya sebagai usaha untuk
melindungi dari tuntutan hukum, seharusnya pemahaman lainya peran keluarga disana

!85
SEMINAR NASIONAL FARMASI 2016
“PENDEKATAN DAN PENGAPLIKASIAN FARMAKOGENOMIK
DALAM DIAGNOSA DAN TERAPI KANKER”

sangat penting untuk proses keperawatan seperti perencanaan hingga evaluasi untuk
memastikan kesehatan dan kesejahteraan pasien.

Perawat memandang hadirnya keluarga pasien itu sebagai bagian dari kultur budaya
daerah setempat seperti berhadir untuk membimbing dan mendoakan pasien yang kritis. Al
Mutair et al. (2014) yaitu perawat kesehatan Saudi Arabia lebih memahami kebutuhan
keluarga Saudi memiliki budaya yang sama, nilai-nilai dan norma-norma. Chew & Ghani,
(2014) dengan partisipan masyarakat umum, perhatian terakhir seperti menghabiskan waktu
dengan orang yang dicintai dan melakukan ritual keagamaan terakhir adalah sangat penting
untuk Muslim Malaysia. Jadi disini menurut peneliti ada latar belakang kepercayaan agama
yang sama dan sudah menjadi budaya sehingga mempengaruhi keluarga untuk berhadir
melepaskan keluarganya di saat-saat terakhir.

kehadiran keluarga selama resusitasi membuat bekerja lebih tenang. perawat juga
merasa tenang ketika melihat pasien didoakan dan dibimbing keluarganya. Tudor et al.
(2014) perawat memiliki kepercayaan tinggi adanya keluarga selama resusitasi, dan
merasakan manfaat yang lebih besar. Havugitanga & Brysiewicz, (2014) pada penelitian
kualitatifnya terhadap profesional kesehatan (PHC), mereka melaporkan partisipan merasa
tertekan sehingga merasa tidak nyaman dalam melakukan prosedur dan mengkhawatirkan
keluarga akan trauma dan salah persepsi dengan tindakan invasif atau melihat kompres
dada yang dilakukan.

Mendoakan dan membimbing pasien pada saat kritis merupakan hal yang dapat
memuaskan bagi keluarga terlebih lagi saat melihat perawat melakukan resusitasi. Dapat
memenuhi spiritual kebutuhan spiritual pasien akan memberikan kepuasan pada keluarga
pasien dan perawat yang melihatnya. Penelitian Baumhover & Hughes, (2009) melaporkan
semakin tinggi spiritual profesional perawatan kesehatan maka semakin besar juga
kepercayaannya terhadap hak pasien dan mendukung untuk kehadiran keluarga selama
resusitasi pada orang dewasa. Perawat yang memahami kebutuhan spiritual pasien akan
lebih memilih keluarga untuk berhadir.

Hadirnya keluarga selama resusitasi diungkapkan partisipan bahwa keluarga pasien


lebih menerima apapun hasil dari resusitasi yang telah dilakukan. Rata-rata dari keluarga
pasien yang sedang dalam keadaan berduka mengucapkan terima kasih setelah dilakukan
resusitasi. James et al. (2011) terhadap pengalaman pendeta perawat kesehatan dan
registered nurse (RN’s) melaporkan temuan tema keluarga lebih berdamai dengan kematian
keluarganya dan keluarga pun mengungkapkan kenyamanan berada pada saat resusitasi
yang dicintainya. Temuan-temuan ini membuktikan bahwa keluarga yang hadir pada saat
resusitasi lebih menerima terhadap kematian orang yang dicintainya.

!86
SEMINAR NASIONAL FARMASI 2016
“PENDEKATAN DAN PENGAPLIKASIAN FARMAKOGENOMIK
DALAM DIAGNOSA DAN TERAPI KANKER”

Kehadiran keluarga bertujuan agar keluarga dapat melihat langsung intervensi yang
dilakukan sehingga tidak menimbulkan sifat kecurigaan diantara perawat maupun petugas
medis dengan keluarga pasien. Bashayreh et al. (2013) menurut partisipannya
memperbaharui informasi terkini tentang buruknya kondisi pasien akan membantu mereka
menerima kematian keluarganya. Temuan adanya tuntutan keluarga terhadap kemampuan
perawat untuk bisa menyelamatkan pasien tetapi berlebihan dan harus dipenuhi perawat
dengan tenaga yang masih tersisa padahal sudah terlalu lama melakukan resusitasi. Hal ini
pernah terjadi pada perawat di Jerman, bahkan lebih parahnya keluarga terkadang
melakukan tindak kekerasan dan ancaman kepada perawat karena meminta keluarganya
tetap dipertahankan proses resusitasinya hingga lebih dari 3 jam (Köberic et al. 2010).

Banyaknya keluarga yang datang mengganggu perawat dan fokus terhadap tindakan
resusitasi menjadi berkurang karena terkadang keluarga banyak yang bertanya perihal
kondisi pasien. Penelitian terhadap profesional kesehatan di Lahore negara Pakistan juga
melaporkan hal yang sama yaitu keterbatasan ruang resusitasi untuk menampung keluarga
(Zakaria & Siddique 2008). Havugitanga & Brysiewicz (2014) yaitu partisipannya berharap
keluarga pasien berada jauh dari tempat resusitasi. Keluarga pasien yang banyak juga
mengganggu pasien lain yang sedang dirawat. Tudor et al. (2014) yaitu bahwa anggota
keluarga pasien dapat mengganggu resusitasi, baik karena respon emosional dan atau
perilaku mereka dengan situasi atau banyaknya orang di dalam ruangan.

Para partisipan tidak pernah melihat standar operasional prosedurnya (SOP), atau pun
protokolnya bagaimana hal itu dilaksanakan seharusnya. Studi melaporkan hanya 8%
responden perawat Kanada yang melaporkan adanya pedoman tertulis atau kebijakan untuk
meghadirkan keluarga yang tersedia di rumah sakit mereka (Fallis et al. 2008). Selama ini
yang mereka tahu hanya kebijakan dari tim medis agar keluarga pasien dapat melihat
tindakan resusitasi yang dilakukan dan untuk mendoakan pasien.

Adanya keluarga pasien yang tidak kooperatif seperti tidak terima dengan hasil
resusitasi terkadang menimbulkan sikap emosi yang berlebihan seperti mengamuk,
kemudian ada juga yang teriak-teriak, menangis keras dan pingsan. Köberic et al. (2010)
melaporkan penelitian terhadap perawat intensive care unit di jerman, temuannya keluarga
pasien juga merespon dengan kemarahan dan mengamuk ketika mereka hadir selama CPR.

Berbagai temuan diatas merupakan bagian dari pengalaman perawat, berbagai


persepsi dan manfaat pun diungkapkan hingga masalah-masalah yang dihadapi perawat
dalam menghadirkan keluarga. Namun seharusnya perawat lebih memahami peran keluarga
untuk pasien dapat lebih luas lagi. Pada konsep family center care keluarga sebagai mitra
kerja yang berhak terlibat dalam proses perencanaan, pengiriman, dan evaluasi pelayanan

!87
SEMINAR NASIONAL FARMASI 2016
“PENDEKATAN DAN PENGAPLIKASIAN FARMAKOGENOMIK
DALAM DIAGNOSA DAN TERAPI KANKER”

kesehatan yang didasarkan pada kemitraan yang saling menguntungkan antara penyedia
layanan kesehatan, pasien, dan keluarga (IPFCC, 2010).

KESIMPULAN

Berbagai persepsi yang ditemukan terhadap kehadiran keluarga selama resusitasi


seperti bukti fisik memberikan pelayanan yang optimal, bukti fisik memberikan pelayanan
sampai akhir hayat serta kehadiran keluarga sebagai tradisi budaya menjadikan praktek ini
selalu menjadi pilihan bagi perawat untuk berkerja lebih aman dan nyaman. Kemudian
beberapa manfaat pun dirasakan perawat intensive care unit seperti merasa bekerja menjadi
lebih tenang, dapat memenuhi kebutuhan spiritual pasien, keluarga pasien pun lebih
menerima hasil resusitasi dan untuk menghindari tuntunan hukum dan tuntutan keluarga di
kemudian hari. Namun ada berbagai masalah yang terkadang membuat perawat terganggu
seperti tuntutan keluarga terhadap kemampuan perawat untuk bisa menyelamatkan
keluarganya, fasilitasi ruangan yang tidak mendukung jumlah keluarga, belum terdapat
protokol yang menjadi acuan dan adanya keluarga yang tidak kooperatif. Masalah-masalah
ini yang menjadi tantangan bagi perawat dalam pelaksanaannya. Berdasarkan temuan
peneliti semua partispan dapat mengatasinya dan tetap lebih memilih menghadirkan SA
selama resusitasi.

SARAN

Bagi Pengembangan Ilmu Keperawatan

Kehadiran keluarga selama resusitasi baik pada pasien dewasa maupun anak-anak
merupakan salah satu contoh dari keperawatan berpusat pada keluarga untuk itu perlunya
mengembangkan kembali praktek ini agar dapat ke depannya menjadi praktek yang dapat
memfasilitasi hubungan kemitraan antara pasien, keluarga dan profesional keperawatan
khususnya dan profesional kesehatan pada umumnya, untuk saling menghormati martabat
dalam menentukan tercapainya peningkatan kualitas kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA

ACEP, 2012. Patient- and Family-Centered Care and the Role of the Emergency Physician
Providing Care to a Child in the Emergency Department. Available at: http://
www.acep.org/Clinical---Practice-Management/Patient--and-Family-Centered-Care-
and-the-Role-of-the-Emergency-Physician-Providing-Care-to-a-Child-in-the-
Emergency-Department/.
Afiyanti, Y. & Rachmawati, I.N., 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif dalam Riset
Keperawatan 1st ed., Jakarta: Rajawali Pers.
Ahmadi, R., 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif, Yoryakarta: Ar-Ruzz Media.
Ali, Z., 2010. Pengantar Keperawatan Keluarga, Jakarta: EGC.

!88
SEMINAR NASIONAL FARMASI 2016
“PENDEKATAN DAN PENGAPLIKASIAN FARMAKOGENOMIK
DALAM DIAGNOSA DAN TERAPI KANKER”

Al-Mutair, A.S., Plummer, V. & Copnell, B., 2012. Family presence during resuscitation: A
descriptive study of nurses’ attitudes from two Saudi hospitals. Nursing in Critical
Care, 17(2), pp.90–98.
Bashayreh, I. et al., 2013. Family Presence during CPR in Adult Critical Care Settings:
Hearing the Voice of Jordanian Health Professionals. Life Science Journal, 10(4), pp.
1738–1748.
Baumhover, N. & Hughes, L., 2009. Spirituality and support for family presence during
invasive procedures and resuscitations in adults. American Journal of Critical Care,
18(4), pp.357–366.
BBC, 2014. Apa yang harus Anda ketahui tentang Masyarakat Ekonomi Asean - BBC
Indonesia. m. Available at: http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/
2014/08/140826_pasar_tenaga_kerja_aec [Accessed February 22, 2015].
Beer, J. De & Moleki, M.M., 2012. Critical care nurses’ perceptions of family witnessed
resuscitation in the kingdom of saudi arabia. Africa Journal of Nursing and
Midwifery, 14(1), pp.105–115.
Bungin, B., 2012. Penelitian Kualitatif ; Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu
Sosial Lainnya. Kedua., Jakarta: Kencana Prenada Group.
CACCN, C.A. of C.C.N., 2005. Position statement: Family presence during resuscitation. ,
(October). Available at: http://www.caccn.ca/en/publications/position_statements/
family_presence_during_resuscitation_2005.html.
Chapman, R. et al., 2012. Family-Witnessed Resuscitation: Perceptions of Nurses and
Doctors Working in an Australian Emergency Department. ISRN Emergency
Medicine, 2012, pp.1–10.
Chew, K. & Ghani, Z., 2014. Attitudes and perceptions of the general Malaysian public
regarding family presence during resuscitation. Singapore Medical Journal, 55(8),
pp.439–442. Available at: http://sma.org.sg/Publications/articles.aspx?
ID=7B8737AE-3C06-497F-ADDE-E0B74DFE6417.
Creswell, J.W., 2014a. Penelitian Kualitatif & Desain Riset  : Memilih di antara lima
pendekatan Indonesia. S. Z. Qudsy, ed., Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Creswell, J.W., 2014b. Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed.
Edisi Ketiga Ketiga., Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Doyle, C.J. et al., 1987. Family participation during resuscitation: an option. Annals of
emergency medicine, 16(6), pp.673–5. Available at: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/
pubmed/3578974 [Accessed February 22, 2015].
Dudley, N. et al., 2015. Patient- and Family-Centered Care of Children in the Emergency
Department. Pediatrics, 135(1), pp.e255–e272.
Duran, C.R. et al., 2007. Attitudes Toward And Beliefs About Family Presence: A Survey
Of Healthcare Providers, Patients’ Families, And Patients. American Journal of
Critical Care, 16, p.283.
Fallis, W.M., McClement, S. & Pereira, A., 2008. Family presence during resuscitation: a
survey of Canadian critical care nurses’ practices and perceptions. Dynamics
(Pembroke, Ont.), 19, pp.22–28.
Fernandes, A.P. et al., 2014. Experiences and opinions of health professionals in relation to
the presence of the family during in-hospital cardiopulmonary resuscitation: An
integrative review. Journal of Nursing Education and Practice, 4(5), pp.85–95.
Available at: http://www.sciedu.ca/journal/index.php/jnep/article/view/2693.
Fulbrook, P., Latour, J.M. & Albarran, J.W., 2007. Paediatric critical care nurses’ attitudes
and experiences of parental presence during cardiopulmonary resuscitation: A
European survey. International Journal of Nursing Studies, 44, pp.1238–1249.

!89
SEMINAR NASIONAL FARMASI 2016
“PENDEKATAN DAN PENGAPLIKASIAN FARMAKOGENOMIK
DALAM DIAGNOSA DAN TERAPI KANKER”

Havugitanga, P. & Brysiewicz, P., 2014. Exploring healthcare professionals’ perceptions


regarding family-witnessed resuscitation in a hospital in Kigali, Rwanda. Southern
African Journal of Critical Care, 30(1), p.18. Available at: http://www.sajcc.org.za/
index.php/SAJCC/article/view/174.
Henderson, D. & Knapp, J.F., 2005. Report of the National Consensus Conference on
Family Presence During Pediatric Cardiopulmonary Resuscitation and Procedures.
Pediatric Emergency Care, 21(11), p.787.
Henderson, S.O., 2012. Kedokteran Emergency: Köberic, S. et al., 2010. Family-witnessed
resuscitation: experiences and attitudes of German intensive care nurses. , 15, pp.
241–250. Available at: http://dx.doi.org/10.1111/j.1478-5153.2010.00405.x.
Kusnanto, 2004. Pengantar Profesi Dan Praktik Keperawatan Profesional, Jakarta: EGC.
Leske, J.S., McAndrew, N.S. & Brasel, K.J., 2013. Experiences of families when present
during resuscitation in the emergency department after trauma. Journal of trauma
nursing : the official journal of the Society of Trauma Nurses, 20, pp.77–85. Available
at: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23722216.
Leung, N.Y. & Chow, S.K.Y., 2012. Attitudes of healthcare staff and patients’ family
members towards family presence during resuscitation in adult critical care units.
Journal of Clinical Nursing, 21, pp.2083–2093.
MacLean, S.L. et al., 2003. Family Presence During Cardiopulmonary Resuscitation and
Invasive Procedures: Practices of Critical Care and Emergency Nurses. American
Journal of Critical Care, 12(3), pp.246–257.
Madden, E. & Condon, C., 2007. Emergency nurses’ current practices and understanding of
family presence during CPR. Journal of emergency nursing: JEN  : official
publication of the Emergency Department Nurses Association, 33(5), pp.433–40.
Available at: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17884472 [Accessed February 16,
2015].
McClenathan, B.M., Torrington, K.G. & Uyehara, C.F.T., 2002. Family Member Presence
During Cardiopulmonary Resuscitation* A Survey of US and International Critical
Care Professionals. chestjournal, 122(6), p.2209.
McLaughlin, K., Melby, V. & Coates, V., 2013. Family-centred care during resuscitation
Tudor, B.K. et al., 2014. Nurses’ Perceptions of Family Presence during Resuscitation.
American Journal of Critical Care, 23(6), pp.e88–e96. Available at: http://
ajcc.aacnjournals.org/content/23/6/e88.full.


!90
SEMINAR NASIONAL FARMASI 2016
“PENDEKATAN DAN PENGAPLIKASIAN FARMAKOGENOMIK
DALAM DIAGNOSA DAN TERAPI KANKER”

Adanya dukungan dari keluarga ini dikarenakan keluarga merupakan orang yang
terdekat dengan penderita tuberkulosis paru, berinteraksi dan berkomunikasi setiap hari
dengan penderita. Selain itu orang dalam satu keluarga mempunyai ikatan emosional yang
kuat sehingga mengerti akan masalah yang dihadapi oleh anggota keluarganya. Mereka
memberikan dukungan kepada anggota keluarganya yang menderita tuberkulosis paru
untuk menjalani program pengobatan sehingga anggota keluarga yang disayanginya
tersebut sembuh dari penyakitnya. Menurut Friedman (1998), keluarga memandang bahwa
orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan dukungan agar pasien rutin dalam
pengobatan. adanya perhatian dan dukungan keluarga dalam mengawasi dan mengingatkan
penderita untuk minum obat dapat memperbaiki derajat kepatuhan penderita.
Dukungan keluarga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kepatuhan
untuk pengobatan TB Paru, dimana keluarga inti maupun keluarga besar berfungsi sebagai
sistem pendukung bagi anggota keluarganya. Fungsi dasar keluarga yaitu fungsi perawatan
kesehatan. Fungsi perawatan kesehatan adalah kemampuan keluarga untuk merawat
anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan. Keluarga perlu memberikan
dukungan yang positif untuk melibatkan keluarga sebagai pendukung pengobatan sehingga
adanya kerjasama dalam pemantauan pengobatan antara petugas dan anggota keluarga yang
sakit (Friedman, 2010).

5. Kesimpulan

Dari hasil penelitian di Wilayah Puskesmas Cempaka Banjarbaru, seluruh responden


memiliki dukungan keluarga tinggi.

Dari hasil penelitian di Wilayah Puskesmas Cempaka Banjarbaru, sebagian besar


responden dikategorikan berhasil dalam pengobatan Tuberkulosis Paru

Dari hasil penelitian dan olah data statistik dengan pengaruh menunjukkan bahwa ada
hubungan antara dukungan keluarga dan keberhasilan pengobatan Tuberkulosis Paru.

DAFTAR PUSTAKA
Burhanuddin, M. (2012). Koefisien Korelasi, Signifikansi, & Determinasi. (Internet).
Termuat dalam: https://alvinburhani.wordpress.com/2012/06 /28/koefisien-korelasi-
signifikansi-determinasi (Diakses tanggal 20 Janu-ari 2016)

Hidayat, A. A. (2007). Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah, Edisi
2. Jakarta: Salemba Medika.

Hutapea, T. P. (2009). Pengaruh Dukungan Keluarga terhadap Kepatuhan Minum Obat Anti
Tuberkulosis. (Internet). Termuat dalam: http://jurnalrespirologi.org/jurnal/April09/
Dukungan%20Keluarga.pdf (Diakses tanggal 11 Oktober 2015).

Maulidia, Desy F. (2014). Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan


Minum Obat Pada Penderita Tuberkulosis Paru Di Wilayah Ciputat Tahun 2014.
Skripsi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

Natalia N. A., Hapsari I., Astuti I. Y. (2012). Faktor Yang Berpengaruh Terhadap
Keberhasilan Pengobatan Tuberkulosis Di Puskesmas Kecamatan Sokaraja Tahun
2010-2011. Jurnal. Vol. 09 No. 3 Desember 2012. ISSN 1693-3591. (Internet).

!160
SEMINAR NASIONAL FARMASI 2016
“PENDEKATAN DAN PENGAPLIKASIAN FARMAKOGENOMIK
DALAM DIAGNOSA DAN TERAPI KANKER”

Terdapat dalam: http://pharmacy.ump.ac.id/index. php/Pharm/article/view/79/73


(Diakses tanggal 19 Januari 2016).

Notoadmodjo. (2005). Metode Penelitian Keperawaran dan Teknik Analisa Data. Jakarta:
Salemba Medika.

Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan Metedologi Penelitian Ilmu Keperawatan


Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Jakarta: Salemba
Medika.

Nursalam, (2013). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Sarwono, Jonathan. (2006). Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta:


Graha Ilmu.

Suyanto. (2011). Metodologi dan Aplikasi Penelitian Keperawatan. Yogyakarta: Nuha


Medika.

Syafrudin, Damayanti. A. D, Setiawan. A., dan Taufik. (2011). Himpunan Penyuluhan


Kesehatan. Jakarta: Trans Info Media.

!161

View publication stats