Anda di halaman 1dari 6

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kusta merupakan penyakit infeksi yang kronik, dan penyebabnya

adalah Mycobacterium leprae yang bersifat intraseluler obligat. Saraf perifer

sebagai afinitas pertama, lalu kulit dan mukosa traktus respiratory bagian atas,

kemudian dapat ke organ lain kecuali susunan saraf pusat (Wisnu et all, 2015).

Secara global kasus kusta pada tahun 2011 mengalami penurunan

dibanding kasus pada tahun 2010 yaitu dari 228.474 menjadi 219.075 dengan

penyumbang terbesar adalah negara India dan Brazil kemudian diikuti Indonesia

dengan jumlah kasus sebesar 20.023 (WHO, 2012). Sampai saat ini indonesia

merupakan salah satu negara dengan beban penyakit kusta tertinggi ke-3 setelah

India dan Brasil. Indonesia telah mencapai eliminasi tingkat nasional pada tahun

2000, namun jumlah penemuan kasus baru kusta masih sebesar 16.856 kasus

tahun 2013 dan lebih dari 19.000 kasus kusta pada tahun 2014. (Kemenkes,

2013).

Penyakit kusta merupakan salah satu penyakit menular yang

menimbulkan masalah kompleks bukan hanya dari segi medis seperti cacat

fisik, tetapi juga masalah sosial dan ekonomi. Ketidaktahuan akan penyakit

kusta ini akan menyebabkan stigma di masyarakat, sehingga dapat

mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Dengan meningkatnya

keberhasilan terapi kombinasi untuk mengobati kusta, perhatian saat ini beralih

kepada reaksi kusta. Reaksi kusta ini dapat terjadi sebelum pengobatan,
2

sementara pengobatan bahkan setelah pengobatan, namun lebih sering selama

atau setelah pengobatan (Wofl et all, 2012).

Reaksi kusta merupakan episode akut dari perjalanan kronis penyakit.

Dua reaksi utama yang terjadi pada penderita kusta, yaitu reaksi tipe 1 atau

reaksi reversal dan reaksi tipe 2 atau eritema nodosum leprosum (ENL). Reaksi

tipe 1 atau reaksi reversal, terjadi pada tipe BL, BB, BT dan berhubungan

dengan hipersensitivitas tipe lambat. Reaksi ini terjadi akibat peningkatan imun

seluler yang mendadak yang umumnya terjadi pada 6 bulan pertama

pengobatan. Pada reaksi tipe 1 atatu reaksi reversal dapat terjadi perubahan tipe

penyakit. Sedangkan reaksi tipe 2 atau eritema nodosum leprosum (ENL) terjadi

pada tipe LL dan BL dan merupakan reaksi imun Humoral yang biasanya terjadi

pada tahun kedua pengobatan. Reaksi ini terjadi karena banyaknya basil lepra

yang mati dan hancur sehingga banyak antigen yang tersebar dan memicu reaksi

imun humoral. Pada reaksi ENL tidak terjadi perubahan tipe penyakit (Oentari

et all, 2014 : 314).

Kedua reaksi ini terpisah, namun dapat terjadi pada pasien yang sama

di saat berbeda. Kedua kondisi ini sangat penting untuk dikenali karena dapat

menyebabkan kerusakan saraf permanen, bahkan kegagalan organ sistemik.

Gangguan fungsi saraf didefinisikan sebagai penurunan fungsi sensorik atau

motorik. Dapat terjadi Neuritis (peradangan saraf perifer) dan dapat juga diikuti

dengan gangguan fungsi saraf. (Oentari et all, 2014 & Wofl et all, 2012).

Berdasarkan Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) tahun 2012,

Morbus Hansen (kusta) merupakan penyakit yang masuk dalam kategori 4A.

Berdasarkan kategori 4A, maka lulusan dokter harus mampu mendiagnosis dan
3

melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas (SKDI, 2012 : 54).

Berdasarkan keadaan yang telah dikemukakan di atas, maka penulis tertarik

untuk menyusun Karya Tulis Ilmiah dengan judul “REAKSI REVERSAL DAN

ENL PADA MORBUS HANSEN”.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa definisi dari reaksi reversal dan enl pada morbus Hansen?

2. Bagaimana epidemiologi dari reaksi reversal dan enl pada morbus Hansen?

3. Apa etiologi dari reaksi reversal dan enl pada morbus hansen?

4. Bagaimana patogenesis dari reaksi reversal dan enl pada morbus hansen?

5. Bagaimana cara menegakkan diagnosis dari reaksi reversal dan enl pada

morbus hansen?

6. Apa diagnosis banding dari reaksi reversal dan enl pada morbus hansen?

7. Bagaimana terapi dari reaksi reversal dan enl pada morbus hansen?

8. Apa saja komplikasi yang ditimbulkan oleh reaksi reversal dan enl pada

morbus hansen?

9. Bagaimana prognosis dari reaksi reversal dan enl pada morbus hansen?

10. Bagaimana pencegahan dari reaksi reversal dan enl pada morbus hansen?

11. Bagaimana rehabilitasi dari reaksi reversal dan enl pada morbus hansen?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui definisi reaksi reversal dan enl pada morbus hansen

2. Untuk mengetahui epidemiologi reaksi reversal dan enl pada morbus hansen

3. Untuk mengetahui etiologi dari reaksi reversal dan enl pada morbus hansen
4

4. Untuk mengetahui patogenesis dari reaksi reversal dan enl pada morbus

hansen

5. Untuk mengetahui cara menegakkan diagnosis reaksi reversal dan enl pada

morbus hansen

6. Untuk mengetahui diagnosis banding reaksi reversal dan enl pada morbus

hansen

7. Untuk mengetahui terapi reaksi reversal dan enl pada morbus hansen

8. Untuk mengetahui komplikasi reaksi reversal dan enl pada morbus hansen

9. Untuk mengatahui prognosis reaksi reversal dan enl pada morbus hansen

10. Untuk mengetahui pencegahan reaksi reversal dan enl pada morbus hansen

11. Untuk mengetahui rehabilitasi dari reaksi reversal dan enl pada morbus

Hansen

1.4 Manfaat Penulisan

1. Untuk institusi

Sebagai tambahan referensi dan tinjauan pustaka tentang reaksi reversal dan

enl pada morbus hansen

2. Untuk masyarakat

Menambah pengetahuan tentang reaksi reversal dan enl pada morbus hansen

3. Untuk penulis

Menambah pengetahuan tentang reaksi reversal dan enl pada morbus hansen

dan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran

(S. Ked).
5

Daftar Pustaka

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2013. Program Pengendalian Penyakit


Kusta dan Pengelolaannya. Jakarta

Oentari, W. & Menaldi, SR. 2014. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 4. Badan

Penerbit FKUI, Jakarta : Hal. 314

WHO., 2012. Weekly Epidemiological Record: Global Leprosy Situation 2012.

http://www.who.int/wer/2012/wer8734/en/

Wisnu, IM., Sjamsoe-Daili, ES. & Menaldi, SL. 2015. Ilmu Penyakit Kulit dan

Kelamin Edisi 7. Badan Penerbit FKUI, Jakarta : Hal. 87

Wolff, K. et all. 2012. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine 8th Edition


Jilid II. United States: McGraw-Hill Education
6