Anda di halaman 1dari 7

Cicih Bhakti Purnamasari et al.

, Pembelajaran Profesionalisme Kedokteran dalam Persepsi Instruktur dan Mahasiswa

PEMBELAJARAN PROFESIONALISME KEDOKTERAN DALAM


PERSEPSI INSTRUKTUR DAN MAHASISWA
Cicih Bhakti Purnamasari*, Mora Claramita**, Yayi Suryo Prabandari**
* Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Samarinda
** Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

ABSTRACT
Background: Profesionalism has become a main competency for physician. Therefore, it is important to get an agreement
from health provider about professionalism and it’s applicable learning method for medical institution. This research
aimed to explore skills laboratory instructor and student’s perception of the learning method that can facilitate the
mastery of professionalism and it’s professional behavior components.
Method: A descriptive qualitative method was carried out in this research. Data was collected by indepth interview
among instructors and FGD among two groups of students, and analyzed by grounded theory method approach.
Results: Medical professionalism is an integrated ability of knowledge, skill and attitude. Professional behavior formed
by attitude. Professionalism can be learnt and taught by eksplisit, implisit and continuing education methods.
Conclusion :. Medical professionalism can be collaborated in several learning methods. Role model is claimed as an
effective learning method for medical professionalism and professional behavior mastery.

Keywords: learning, professionalism, medical, perception

ABSTRAK
Latar belakang: Profesionalisme menjadi kompetensi utama yang wajib dikuasai oleh seorang dokter. Oleh
karena itu, diperlukan kajian untuk mendapatkan pemahaman dari pelaksana kesehatan-kedokteran tentang
profesionalisme dan metode pembelajaran yang dapat diaplikasikan pada institusi kedokteran. Penelitian ini
bertujuan untuk menggali persepsi instruktur dan mahasiswa tentang metode pembelajaran yang dapat memfasilitasi
penguasaan profesionalisme kedokteran dan komponen perilaku profesionalnya.
Metode: Jenis penelitian merupakan deskriptif kualitatif. Pengumpulan data melalui wawancara mendalam pada
instruktur dan FGD pada 2 kelompok mahasiswa. Data dianalisis dengan pendekatan metode grounded theory.
Hasil: Profesionalisme kedokteran adalah integrasi kemampuan dan penguasaan dalam keilmuan, keterampilan
serta sikap. Sikap menjadi dasar terbentuknya perilaku profesional. Profesionalisme dapat dipelajari dan diajarkan
melalui metode yang bersifat implisit, eksplisit dan pembelajaran berkelanjutan.
Kesimpulan : Pembelajaran profesionalisme kedokteran dapat dikolaborasikan dalam beberapa metode
pembelajaran. Role model dinyatakan sebagai metode pembelajaran yang efektif dalam usaha pembelajaran
profesionalisme kedokteran dan penguasaan perilaku profesionalnya.

Kata kunci: pembelajaran, profesionalisme, kedokteran, persepsi

Korespondensi: bhakti.purnamasari@gmail.com

Vol. 4 | No. 1 | Maret 2015 | Jurnal Pendidikan Kedokteran Indonesia 21


Cicih Bhakti Purnamasari et al., Pembelajaran Profesionalisme Kedokteran dalam Persepsi Instruktur dan Mahasiswa

PENDAHULUAN sebagai topik yang spesifik kepada pembelajar.5


Kedokteran merupakan profesi yang membutuhkan Profesionalisme dalam kedokteran dapat diperoleh
penguasaan sejumlah besar pengetahuan dan melalui internalisasi nilai dan tanggung jawab kepada
keterampilan klinis, termasuk di dalamnya adalah pasien yang prosesnya dimulai sejak pertama kali masuk
standar yang tinggi akan kebiasaan dan perilaku yang sekolah kedokteran. 8 Oleh karena itu, usaha
tepat.1,2 Profesi kedokteran dan kesehatan telah menjalin pembelajaran terhadap penguasaan perilaku profesional
kontrak kesepakatan tentang profesionalisme, namun perlu dimulai sejak awal pembelajaran dengan
sebagian besar dari komponen profesionalisme mengkolaborasikan perilaku profesional ke dalam
merupakan kesepahaman yang tidak tertulis.2 Perilaku prosedur dan metode yang terstruktur.
profesional menjadi bagian kompetensi yang wajib Berdasarkan latar belakang tersebut, diperlukan kajian
dikuasai seorang dokter. 2,3 Oleh karena itu, usaha dan analisis, terutama dari pelaksana pendidikan itu
pembelajaran sangat tepat jika dimulai sejak dini. sendiri, untuk mengetahui metode pembelajaran efektif
Institusi pendidikan kedokteran perlu melakukan dalam profesionalisme kedokteran, termasuk
penilaian perilaku mahasiswa sejak awal pembelajaran, penguasaan terhadap komponen perilaku
sehingga dapat memberikan jaminan bahwa lulusan profesionalnya. Penelitian ini merupakan bagian dari
nantinya akan dapat mempraktikkan perilaku penelitian sebelumnya yang bertujuan untuk mengetahui
profesional yang diharapkan.4 Namun, penerapan dan persepsi instruktur Laboratorium Keterampilan Klinik
penilaian profesionalisme sendiri dalam pendidikan dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah
kedokteran masih sangat sedikit. Penelitian sebelumnya Mada dalam mendefinisikan komponen-komponen
tentang profesionalisme dalam institusi pendidikan perilaku dalam profesionalisme. Artikel yang memuat
kedokteran di Indonesia menunjukkan hanya sebagian hasil penelitian tersebut sedang dalam proses review pada
institusi yang mengintegrasikan profesionalisme dalam jurnal lain.
pembelajarannya.5 Profesionalisme masih menjadi salah
satu objek yang belum dipetakan secara jelas dalam METODE
kurikulum standar pendidikan kedokteran.5,6 Keadaan
ini dapat disebabkan karena masih terbatasnya definisi Metode penelitian adalah deskriptif kualitatif. Analisis
operasional yang jelas tentang masing–masing komponen data menggunakan pendekatan grounded theory.
dari perilaku profesional itu sendiri, selain itu konsep Pendekatan ini disesuaikan dengan tujuan penelitian,
yang diberikan masih samar serta penjelasan tentang yaitu eksplorasi data. 9,10 Instrumen dalam penelitian
perilaku yang berhubungan dengan sikap profesional kualitatif adalah peneliti sendiri. Namun, dalam
masih dirasa kurang.4 pelaksanaan pengumpulan data dan coding, peneliti
dibantu oleh seorang antropolog independen untuk
Hasil dari penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa
meminimalisir bias penelitian, meningkatkan kualitas
professionalisme dalam kedokteran merupakan
pengumpulan data dan validitas internal penelitian. 9,11
kemampuan seorang dokter untuk melakukan
pertimbangan spesifik serta memiliki sikap perilaku yang Pemilihan responden penelitian disesuaikan dengan
bertanggung jawab dan bertindak berdasarkan tujuan penelitian, yaitu menggunakan perpaduan metode
kemampuan clinical reasoning. Profesionalisme dalam criterion-based dan maximum variation sampling. Pemilihan
kedokteran juga dibentuk dari beberapa komponen responden ini juga meningkatkan kredibilitas dan
perilaku, antara lain: altruisme, kompeten, kejujuran dan reliabilitas penelitian. 12,13,14 Responden instruktur
integritas, performa, manajemen, serta menghormati Laboratorium Keterampilan Klinik di Program Studi
orang lain dan humanis. 7 Penguasaan terhadap Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah
komponen perilaku profesional tersebut memerlukan Mada dengan kriteria berperan aktif dan berpengalaman
proses dan tahapan tertentu dalam institusi pendidikan. dalam bidang pendidikan kedokteran minimal 5 tahun,
Beberapa pengajar dalam pendidikan kedokteran dengan jumlah total 19 orang. Pengumpulan data dari
berpendapat bahwa profesionalisme perlu disampaikan instruktur melalui wawancara semi terstruktur. Responden

22 Vol. 4 | No. 1 | Maret 2015 | Jurnal Pendidikan Kedokteran Indonesia


Cicih Bhakti Purnamasari et al., Pembelajaran Profesionalisme Kedokteran dalam Persepsi Instruktur dan Mahasiswa

mahasiswa diambil dari tahun kedua hingga terakhir nilai-nilai yang baik seperti agama, kearifan lokal (local
yang memiliki indeks prestasi kumulatif e” 3.50, dengan wisdom), etika dan moral serta aturan diharapkan dapat
jumlah total 10 orang. Enam orang dari tingkat S1 dan membentuk sikap yan baik pula.17
4 orang dari tingkat ko asisten adalah mahasiswa di “bagaimana menggabungkan, mengamalkan nilai-nilai
Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran agama ke dalam kehidupan profesional saya…”
Universitas Gadjah Mada. Mahasiswa dibagi menjadi 2 (Responden-F).
kelompok FGD. Masing-masing kelompok melakukan “..menurut saya attitude itu yang saya pegang. Bahasa
2 kali diskusi dan 1 kali pertemuan untuk member checking. Jawa-nya kalau attitude menurut saya adalah
Hasil pengumpulan data dilakukan analisis dengan open- nguwongke. Kita harus menghargai kepentingan orang
axial coding dan komparatif konstan, untuk memastikan itu dan kepercayaan orang itu juga”
bahwa langkah sebelum dan selanjutnya tetap (Responden-N).
berdasarkan pada data penelitian. 10 Member checking “…profesionalisme kan tidak terlepas dari etik ya, jadi
peserta FGD dan multiple coder dilakukan sebagai bagian bagaimana kita melakukan, apa men-deliver kompetensi
proses triangulasi data dan usaha meningkatkan validitas itu sesuai dengan etik dan aturan yang ada…”
internal penelitian.14 (Responden-MN).
“…perasaan dokter sangat mempengaruhi perilaku
HASIL DAN PEMBAHASAN dokter, sedangkan perilaku dokter mempengaruhi
perasaan pasien…jadi saya itu, falsafah saya falsafah
Instruktur dan mahasiswa memberikan pemahaman dan
Jawa ya karena saya orang Jawa…” (Responden-Moe).
pernyataan yang serupa tentang profesionalisme dalam
Sikap akan menstimulasi pembentukan perilaku.
kedokteran, yaitu kemampuan dalam menguasai
Pembentukan perilaku individu dalam kesehatan dan
pengetahuan, keterampilan dan sikap profesional yang
kedokteran merupakan perpaduan beberapa faktor yang
sesuai dengan standar yang berlaku. Metode
saling mempengaruhi. Salah satu faktor tersebut adalah
pembelajaran yang dapat memfasilitasi penguasaan
faktor individu, dengan sikap, kepribadian dan persepsi
profesionalisme dalam masa pendidikan kedokteran
menjadi sebagian komponen penyusunnya. 18 Oleh
meliputi 2 hal, yaitu yang bersifat eksplisit seperti tertuang
karena itu, pengenalan terhadap nilai-nilai positif akan
dalam kurikulum tertulis, dan implisit misalnya hidden
menimbulkan sikap yang positif dan pada akhirnya
curriculum. Role model dinyatakan oleh sebagian besar
membentuk perilaku yang positif pula. 17,18
responden sebagai metode pembelajaran yang efektif
untuk memfasilitasi penguasaan profesionalisme, Perilaku profesional dalam kedokteran merupakan
termasuk perilaku profesionalnya. tindakan dari pelaksana medis yang dapat diamati dan
sesuai dengan standar etika yang berlaku. Penelitian
Responden penelitian menyatakan profesionalisme
sebelumnya yang dilakukan di salah satu institusi
sebagai seperangkat sikap perilaku serta pola pikir sebagai
pendidikan kedokteran Indonesia menunjukkan bahwa
penguasaan kompetensi keilmuan dan keterampilan,
komponen perilaku dalam profesionalisme kedokteran
dan pelaksanaannya disesuaikan dengan aturan dan etika
yang berlaku memiliki kesamaan dengan komponen
yang berlaku.
perilaku profesional yang dinyatakan oleh beberapa ahli
“…memang kita harus menguasai betul, baik dari segi di seluruh dunia. 7 Artikel terkait yang memuat hasil
knowledge, maupun keterampilan ya……dan we have penelitian ini masih dalam tahap review dari editor jurnal
to conduct professionally…”(Responden R). Makara Seri Sains dan Humaniora dari Universitas
Sikap dan perilaku menjadi standar dalam Indonesia. Gambar 1 menunjukkan hubungan antara
profesionalisme karena hal tersebut adalah bagian yang hasil penelitian di Indonesia dengan pernyataan ahli
tampak dan dapat diamati. 15 Sikap merupakan tendensi yang bersifat universal. Gambar tersebut menunjukkan
seseorang untuk bereaksi dan beraksi terhadap suatu komponen A lebih sedikit secara kuantitas dibandingkan
objek dan kejadian. 16 Pembentukan sikap dapat komponen B, namun secara kualitas komponen A dan
dipengaruhi oleh informasi yang diperoleh, sehingga B adalah sama. Hal ini menunjukkan bahwa komponen

Vol. 4 | No. 1 | Maret 2015 | Jurnal Pendidikan Kedokteran Indonesia 23


Cicih Bhakti Purnamasari et al., Pembelajaran Profesionalisme Kedokteran dalam Persepsi Instruktur dan Mahasiswa

perilaku dalam profesionalisme kedokteran memiliki penguasaan terhadap perilaku profesionalnya, yaitu
persamaan makna. Penguasaan terhadap profesionalisme komponen-komponen perilaku yang tercantum dalam
kedokteran dapat diartikan sebagai pemahaman dan gambar 1.

B
1. Altruisme
2. Kompeten sebagai tanggung jawab keilmuan A
3. Integritas
4. Komitmen 1. Altruisme
5. Autonomi (pengendalian dan pengaturan diri 2. Kompetensi pengetahuan
6. Nilai kemanusiaan dan menghormati orang dan keterampilan
lain 3. Jujur dan integritas
7. Akuntabilitas 4. Performa dan penampilan
8. Tanggung jawab kepada pasien 5. Manajemen
9. Pemahaman terhadap nilai moral, etik 6. Menghormati orang lain
dan hukum kedokteran dan humanis
10. kemampuan komunikasi yang baik
11. kemampuan saat situasi mendesak

Gambar 1. Hubungan komponen perilaku profesionalisme hasil penelitian (A), dengan komponen
perilaku universal (B)

Penguasaan perilaku profesional dapat dicapai melalui pembelajaran dalam profesionalisme kedokteran
pembelajaran profesionalisme yang dimulai sejak awal meliputi tahap pendidikan akademis dan rotasi klinik.
masuk pendidikan kedokteran. 4 Responden Tahap akademik meliputi metode pembelajaran yang
memberikan pernyataan tentang metode pembelajaran secara eksplisit dan implisit termasuk dalam masa
yang dinyatakan dapat memfasilitasi pemahaman dan pendidikan kedokteran, dan tahap rotasi klinik yang
penguasaan profesionalisme kedokteran, yang dinyatakan terjadi setelah masa pendidikan akademik.
dalam tabel 1. Tabel 1 menunjukkan bahwa

Tabel 1. Metode pembelajaran profesionalisme pendidikan

24 Vol. 4 | No. 1 | Maret 2015 | Jurnal Pendidikan Kedokteran Indonesia


Cicih Bhakti Purnamasari et al., Pembelajaran Profesionalisme Kedokteran dalam Persepsi Instruktur dan Mahasiswa

Tabel 1. Metode pembelajaran profesionalisme pendidikan (lanjutan)

Vol. 4 | No. 1 | Maret 2015 | Jurnal Pendidikan Kedokteran Indonesia 25


Cicih Bhakti Purnamasari et al., Pembelajaran Profesionalisme Kedokteran dalam Persepsi Instruktur dan Mahasiswa

Tabel 1. Metode pembelajaran profesionalisme pendidikan (lanjutan)

Profesionalisme dalam kedokteran perlu diperkenalkan KESIMPULAN


sejak dini kepada pembelajar.4,8 Pembelajaran di awal Profesionalisme kedokteran meliputi penguasaan
pendidikan meliputi pengenalan pada profesi dan kode pengetahuan, keterampilan dan sikap. Sikap yang baik
etik kedokteran, dan dilanjutkan dengan metode yang akan menstimuli pembentukan perilaku yang baik pula,
memfasilitasi penguasaan keterampilan. Hal ini sehingga sesuai dengan standar dan dinyatakan sebagai
dilaksanakan melalui perkuliahan dan praktik, baik perilaku profesional. Pembelajaran perilaku profesional
dalam laboratorium keterampilan maupun simulasi. dapat dilaksanakan selama masa pendidikan, melalui
Metode pembelajaran ini disesuaikan dengan kebutuhan metode yang bersifat eksplisit dan implisit. Role model
kompetensi seperti yang dinyatakan dalam Piramida dinyatakan sebagai metode pembelajaran yang efektif
Miller.19 Pembelajaran melalui tindakan langsung ke dalam penguasaan profesionalisme kedokteran serta
masyarakat memberikan banyak masukan kepada perilaku profesionalnya.
mahasiswa tentang dinamika masyarakat. Hal ini
berhubungan dengan pemahaman mahasiswa terhadap SARAN
kebutuhan masyarakat terhadap kesehatan dan secara
tidak langsung mempengaruhi pemahaman akan Metode pembelajaran melalui pengalaman langsung ke
profesionalisme kedokteran. 18 masyarakat menjadi pilihan dalam internalisasi
profesionalisme, sehingga intensitas pemanfaatannya
Pembelajaran dalam profesionalisme kedokteran juga dapat dioptimalkan dalam proses pendidikan. Role model
dapat dilaksanakan secara implisit atau hidden curriculum. memberikan pengaruh besar dalam penguasaan
Responden berpendapat bahwa Role modeladalah metode profesionalisme. Oleh karena itu, perlu ada pelatihan
pilihan yang efektif dalam pembelajaran profesionalisme dan mekanisme evaluasi diri dari institusi untuk
yang bersifat implisit. Role modelling merupakan salah satu mempertahankan efektifitas lingkungan belajar sebagai
metode dalam usaha peningkatan standar profesional panutan bagi mahasiswa/pembelajar.
mahasiswa kedokteran dengan persentase kesuksesan
mencapai 82%.20 Hal ini berhubungan dengan teori UCAPAN TERIMAKASIH
pembentukan perilaku. Rangsangan dari luar individu
menjadi bahan kajian yang nantinya akan diimitasi dan Peneliti mengucapkan terima kasih kepada Nurasih
di internalisasi sebagai hasil interaksi antara individu Shamadiyah, S.Ant., M.Sc., Danny Lukita Sari, S.E., dan
tersebut dengan lingkungan. 21,22 Kristin atas bantuannya dalam proses pengumpulan data
dan analisa.

26 Vol. 4 | No. 1 | Maret 2015 | Jurnal Pendidikan Kedokteran Indonesia


Cicih Bhakti Purnamasari et al., Pembelajaran Profesionalisme Kedokteran dalam Persepsi Instruktur dan Mahasiswa

DAFTAR PUSTAKA 11. Oppenheim, A.N. Questionnaire Design,


Interviewing and Attitude Measurement. London :
1. Arnold, L. Assessing professional behaviour : Biddles Ltd; 2001.
yesterday, today and tomorrow. Acad Med. 2002; 77: 12. Idrus, M. Metode Penelitian Ilmu Sosial. Pendekatan
502 – 515. Kualitatif dan Kuantitatif edisi kedua. Jakarta :
2. Cruess, R. L., Cruess, S.R., dan Johnston, S.E. Erlangga; 2009.
Professionalism : an ideal to be sustained. Lancet. 13. Miles, M.B., dn Huberman, A.M. An Expanded
2000; 356: 156–59. Source Book: Qualitative Data Analysis. California :
3. Konsil Kedokteran Indonesia. Standar kompetensi Sage Publications; 1994.
dokter Indonesia. Jakarta; 2006. 14. Barbour, R.,S. “Checklists for Improving Rigour in
4. Jha, V., Bekker, H.L., Duffy, S.R.G. & Roberts, T.E. Qualitative Research: A Case of The Tail Wagging The
Perceptions of professionalism in medicine: a Dog?”. BMJ. 2001; 322: 1115-1117.
qualitative study. Medical education. 2006; 40:1027- 15. Van Luijk, S.J. editor. Professional behaviour.
1036. Teaching, assessing and coaching students. Maastricht
5. Cruess, S.R. dan Cruess, R.L. The cognitive base of : Universitaire Pers Maastricht; 2005.
profesionalism. In: Cruess, R.L. et al. editors. 16. Archer, R., Elder, W., Hustedde, C., Milam, A. dan
Teaching medical professionalism. New York : Joyce, J. The theory of planned behaviour in medical
Cambridge University Press; 2009. education: a model for integrating professionalism
6. Rahayu, G.R., Prabandari, Y.S., Kusumawati, W., training. Medical Education. 2008; 42: 771-777.
Susani, Y.P., Sholikhah, E.N., dan Wasityastuti. W. 17. Mar’at, S., dan Kartono, L.I. Perilaku manusia. Ed
Pengembangan model perkembangan profesionalisme Polhaupessy : Bandung; 2006.
dokter. Laporan akhir hasil penelitian hibah tim 18. Health and Safety Executive (HSE). Reducing error
pascasarjana tahun anggaran 2011. Universitas and influencing behaviour. Surrey : HSE Books.
Gadjah Mada; 2011. 2009. Available from www.hse.gov.uk .
7. Purnamasari, CB. Persepsi instruktur laboratorium 19. Miller 5. Miller, GE. The assessment of clinical skills/
keterampilan klinik dan mahasiswa Fakultas performance. Acad Med. 1990;65:S63-S7.
Kedokteran Universitas Gadjah Mada tentang definisi 20. Hafferty, F.W. dan Franks, R. The hidden curricullum,
komponen perilaku dalam profesionalisme [Thesis]. ethics teaching and the structure of medical education.
Yogyakarta (Indonesia): Universitas Gadjah Mada; Acad. Med. 1994;69(11):681-871.
2014. 21. Pur wanta, E. Modifikasi perilaku. Alternatif
8. Gliatto, P.M. dan Stern, D.T. Professionalism. In: penanganan anak berkebutuhan khusus. Yogyakarta
Dent, J.A. dan Harden, R.M. editors A practical guide : Pustaka Pelajar; 2012.
for medical teachers. London : Elsevier ; 2009. 22. Thoha, M. Perilaku organisasi. Konsep dasar dan
9. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif aplikasinya. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada; 2012.
dan R & D. Bandung: Alfabeta; 2011.
10. Watling, C.J., dan Lingard, L. Grounded Theory in
Medical Education Research: AMEE Guide No. 70.
Med Teach. 2012; e1-e12.

Vol. 4 | No. 1 | Maret 2015 | Jurnal Pendidikan Kedokteran Indonesia 27