Anda di halaman 1dari 17

MIXING

I . TUJUAN PERCOBAAN
1. Menentukan power input yang dibutuhkan oleh system
2. Mempelajari pengaruh kecepatan putaran alat terhadap pencampuran bahan
II . DASAR TEORI
A. Pengertian Mixing (pencampuran)
Mixing adalah suatu proses pencampuran bahan sehingga dapat bergabung
menjadi suatu homogen yang bersifat seragam dan memiliki penyebaran yang
sempurna. Prinsip pencampuran didasarkan pada peningkatan pengacakan dan
distribusi dua atau lebih komponen yang mempunyai sifat yang berbeda.
Pencampuran dapat dikarakterisasi dari waktu yang dibutuhkan, keadaan produk
atau bahkan jumlah tenaga yang dibutuhkan untuk melakukan pencampuran
(Hazirur, 2010). Dalam kimia, suatu pencampuran adalah sebuah zat yang dibuat
dengan menggabungkan dua zat atau lebih yang berbeda tanpa reaksi kimia yang
terjadi, sementara tidak ada perubahan fisik dalam suatu pencampuran, sifat kimia
suatu pencampuran seperti titik lelehnya dapat menyimpang dari komponennya.
B. Tujuan Mixing Pencampuran
Tujuan dari proses pencampuran yaitu mengurangi ketidaksamaan atau
ketidakrataan dalam komposisi, temperature atau sifat-sifat lain yang terdapat
dalam suatu bahan atau terjadinya homogenisasi, kebersamaan dalam setiap titik
dalam pencampuran. Dampak dari hasil pencampuran adalah terjadinya
homogenitas, kebersamaan dalam setiap titik dalam pencampuran. Dampak dari
hasil pencampuran adalah terjadinya keadaan serba sama, terjadinya reaksi kimia,
terjadinya perpindahan panas, dan perpindahan massa. Dan dampak tersebut
merupakan tujuan akhir dari suatu proses pencampuran.
Dalam praktek, operasi mixing hampir selalu mempunyai multi fungsi
yaitu ketika proses dilakukan didalam tangki berpengaduk mekanis, pengaduk
menjalankan banyak tugas, sebagai contoh dalam tangki kristalisasi harus
memperhatikan bulk blending, heat transfer dan suspense kristal.
C. Jenis – Jenis Pencampuran
1. Pencampuran bahan padat-padat
Pencampuran dua atau lebih dari bahan padat banyak dijumpai yang akan
menghasilkan produk komersial industri kimia. Contohnya Pencampuran bahan
pewarna dengan bahan pewarna lainnya atau dengan bahan penolong untuk
menghasilkan nuansa warna tertentu atau warna yang cemerlang. Alat yang
digunakan untuk pencampuran bahan padat dengan padat dapat berupa bejana-
bejana yang berputar, atau bejana-bejana berkedudukan tetap tapi mempunyai
perlengkapan pencampur yang berputar, ataupun pneumatik.
2. Pencampuran bahan cair-gas
Untuk proses kimia dan fisika tertentu gas harus dimasukkan ke dalam
cairan, artinya cairan dicampur secara sempurna dengan bahan-bahan berbentuk
gas. Contohnya Proses hidrogenasi, khorinasi dan fosfogensi, Oksidasi cairan oleh
udara (fermentasi, memasukkan udara kedalam lumpur dalam instalasi penjernih
biologis).
3. Pencampuran bahan cair-padat
Pada persiapan atau pelaksaan proses kimia dan fisika serta juga pada
pembuatan produk akhir komersial, seringkali cairan harus dicampur dengan
bahan padat. Pencampuran cairan dengan padatan akan menghasilkan suspensi.
Tetapi bila kelarutan padatan dalam cairan tersebut cukup besar akan terbentuk
larutan. Pelarutan adalah suatu proses mencampurkan bahan padat kedalam
cairan.
4. Pencampuran Cair-Cair
Tujuan pencampuran cair-cair adalah untuk mempersiapkan atau
melangsungkan proses-proses kimia dan fisika serta juga untuk membuat produk
akhir yang komersil. Beberapa contoh pencampuran cair-cair adalah pada
pembuatan sirop, obat tetes dan larutan injeksi. Metode yang paling sering
digunakan untuk mencampur cairan dengan cairan ialah dengan metode turbulensi
didalam bejana pengaduk atau dalam suatu pencampur getar
5. Pencampuran Gas – Padat
Pencampuran gas dengan bahan padat termasuk proses yang jarang
dilakukan. Proses tersebut digunakan misalnya pada pengangkutan puing secara
pneumatic, pada pembakaran serbuk pemadam api. Kebanyakan persoalannya
adalah bagaimana mendistribusikan bahan padat itu secara merata kedalam gas
yang mengalir kontinyu. Pada pencampuran gas dengan bahan padat akan
terbentuk debu maupun asap. Metode terpenting untuk mencampur gas dengan
bahan padat adalah dengan menggunakan aat penakar bahan padat dan
penyemburan dengan alat semprot.
6. Pencampuran Gas – gas
Pencampuran gas dengan gas lain terutama dilakukan pada pembuatan
campuran bahan bakar yang berbentuk gas dalam alat pembakar dengangas
(misalnya campuran bahan bakar – udara). Metode terpenting untuk mencampur
gas dengan gas adalah pencampuran dengan alat semprot atau injektor.
7. Pencampuran padat – gas
Pencampuran bahan padat dengan gas terjadi misalnya pada proses
pengeringan, pemanggangan ataupun pembakaran bahan-bahan padat. Permukaan
kontak bahan padat dengan gas selalu diusahakan seluas mungkin. Untuk maksud
ini bahan padat dialiri, ditembus atau dihanyutkan oleh gas, disemprotkan atau
difluidisasikan. alat yang digunakan untuk tujuan ini seringkali dikenal dengan
bejana unggun terdifusikan.
D. Macam – macam alat pencampuran
1. Alat pencampur liquid
Untuk pencampuran liquid, propeller mixer adalah jenis yang paling
umum dan memuaskan, alat ini terdiri dari tangki silinder yang dilengkapi dengan
propeller atau blender beserta motor pemutar, bentuk propeller, impeller, blender
didesain sedemikian rupa untuk efektivitas pencampuran dan disesuaikan dengan
viskositas fluida. Pada jenis alat pencampur ini, diusahakan untuk menghindari
tipe aliran monoton yang berputar melingkari dinding yang sangat kecil
konstribusinya terhadap pengaruh pencampuran.
2. Alat pencampur granula
Dalam pencampuran ini dapat digunakan ribbon blender dan double cone
mixer. Ribbon blender terdiri dari silinder horizontal yang didalamnya dilengkapi
dengan screw berputar. Double cone blender adalah alat pencampur yang terdiri
dari dua kerucut yang berputar pada porosnya, jika kerucut berputar maka tepung
granula berada di dalam granula yang berada di dalam volume kerucut akan
teragritasi dan tercampur. Pencampuran tipe ini memerlukan energi yang
dikonsumsi diubah menjadi panas yang dapat menyebabkan terjadinya kenaikan
suhu dari produk. Untuk menentukan jenis dari alat pencampur tergantung pada
jenis bahan yang akan dicampurkan (cair, padat, gas), kecepatan alat yang
diinginkan serta kekentalan dari suatu bahan tersebut.
Alat pencampur ini dikelompokkan menurut kekentalan yaitu:
a) Alat pencampur untuk bahan cair yang memiliki viskositas rendah-sedang
b) Alat pencampur untuk bahan cair yang memiliki viskositas tinggi-pasta
c) Alat pencampur untuk tepung kering atau padatan.

3. Alat pencampur untuk tepung yang kering atau padatan


Dalam melakukan pencampuran dibutuhkan kecepatan dari suatu alat
pencampur. Kecepatan komponen-komponen cairan yang dicampurkan
disebabkan oleh pengadukan dan kecepatan pengadukan terdiri dari:
a) Kecepatan radial yang berfungsi sebagai arah ke pengaduk.
b) Kecepatan longitudinal, pararel dari pengaduk.
c) Kecepatan rotasional tangensial ke pengaduk.

E. Teori Perhitungan
Dalam desain suatu sistim mixing larutan, maka formula  formula yang
tak memiliki satuan dibawah ini penting.
Power Number : mewakili daya yang diberikan
P
Po = 𝜌𝑥𝑁3 𝑥𝐷5

Raynold Number : mewakili, menjelaskan pengaruh dari akibat viskositas


(kekentalan) larutan.
𝜌𝑥𝑁𝑥𝐷2
𝑅𝑒 =
𝜇
Froude’s Number : menjelaskan pengaruh dari gaya tarik bumi
𝑁 2 𝑥𝐷
𝐹𝑟 =
𝑔
Froude’s Number tidak berpengaruh pada sistim mixing yang dilengkapi buffle.
Weber’s Number : menjelaskan pengaruh dari gaya tegangan permukaan.
𝜌𝑥𝑁 2 𝑥𝐷3
𝑊𝑒 =
𝜎

Weber’s Number untuk proses mixing hanya penting ketika terjadi


pemisahan fasa  fasa fisik dalam sistim mixing larutan tersebut, misalnya seperti
dalam proses ekstraksi liquid  liquid.
Keterangan:
𝜌 = densitas (Kg/m3)
𝜇 = viskositas dinamik (Ns/m2 )
𝜎 = tegangan permukaan (N/m)
P = konsumsi power (W)
N = kecepatan rotasi (rev. /s)
D = diameter pengaduk (m)
Persamaan  persamaan tersebut diatas harus mempunyai satuan  satuan
yang konsisten yang satu dengan yang lainnya. Secara analisa dimensi dapatlah
ditunjukkan bahwa power number , Po mempunyai relasi dengan Reynold
number, Re dan Froude’s number Fr.
Atau dapat dikatakan bahwa konsumsi daya impeller berhubungan dengan
densitas fluida, viskositas fluida, kecepatan rotasi dan diameter impeller yang
diwakili dalam plot antara.
𝑃 𝜌𝑥𝑁𝑥𝐷 5
𝑃𝑜 = 𝜌𝑥𝑁3 𝑥𝐷5 vs 𝑅𝑒 = 𝜇
Setiap bentuk konfigurasi diametri impeller mempunyai kurva power
sendiri dan plot tersebut tida tergantug pada ukuran tangki. Jadi kurva power yang
dipakai untuk mengkorelasikan data power pada sistim tangki 1 m3 dapat juga
berlaku untuk sistim tangki 1.000 m3.
Keberhasilan operasi suatu proses pengolahan sangat sering bergantung
pada efektifnya pengadukan dan pencampuran zat cair dalam proses itu,
sebenarnya tidaklah sinonim satu sama lain.
F. Pengadukan
Pengaduk berfungsi untuk menggerakkan bahan (cair, cair/padat,
cair,cair/gas, cair/padat/gas) di dalam bejana pengaduk. Biasanya yang
berlangsung adalah gerakan turbulen (misalnya untuk melaksanakan reaksi kimia,
proses pertukaran panas, proses pelarutan). Alat pengaduk terdiri atas sumbu
pengaduk dan strip pengaduk yang dirangkai menjadi satu kesatuan atau dapat
dipisah-pisah menjadi 2-3 bagian pengaduk yang dapat dipisah-pisahkan juga
dapat dibongkar pasang didalam satu unit tangki pengaduk.
Pencampuran di dalam tangki pengaduk terjadi karena adanya gerak rotasi
dari pengaduk dalam fluida. Gerak dari pengaduk ini memotong fluida tersebut
dan dapat menimbulkan arus eddy yang bergerak ke seluruh sistem fluida itu.
Oleh karena itu, pengaduk merupakan bagian yang paling penting dalam suatu
operasi fase cair dengan tangki berpengaduk.
Didalam tangki itu dipasang impeller pada ujung poros menggantung, artinya
poros itu ditumpuh dari atas. Poros itu digerakkan oleh motor, yang terkadang
dihubungkan langsung dengan poros itu, namun biasanya dihubungkan melalui
peti roda gigi untuk menurunkan kecepatannya. Tangki itu biasanya diperlengkapi
pula dengan lubang masuk dan lubang keluar, kumparan kalor, mantel, dan sumur
untuk menempatkan termometer atau peranti pengukuran suhu lainnya. Impeller
itu akan membangkitkan pola aliran dalam yang menyebabkan zat cair
bersirkulasi di dalam bejana untuk akhirnya kembali ke impeller.
Alat pengaduk dapat dibuat dari berbagai bahan yang sesuai dengan bejana
pengaduknya, misalnya dari baja, baja tahan karat, baja berlapis email, baja
berlapis karet. Suatu alat pengaduk diusahakan menghasilkan pengadukan yang
sebaik mungkin dengan pemakaian daya yang sekecil mungkin. Ini berarti seluruh
isi bejana pengaduk sedapat mungkin digerakkan secara merata, biasanya
secara turbulen.
Dari segi bentuknya, ada tiga jenis impeler : propeller (baling-baling),
dayung (paddle), dan turbin. Masing-masing jenis terdiri lagi atas berbagai variasi
dan sub jenis. Propeler merupakan impeler aliran aksial berkecepatan tinggi untuk
zat cair berviskositas rendah. Propeler kecil biasanya berputar pada kecepatan
motor penuh, yaitu 1.150 atau 1.750 put/min, sedangkan propeller besar berputar
pada 400 sampai 800 put/min. Arus yang meninggalkan propeler mengalir melalui
zat cair menurut arah tertentu sampai di belokkan oleh lantai atau dinding bejana.
1. Propeller
Merupakan impeller aliran aksial berkecepatan tinggi untuk zat cair
berviskositas rendah. Propeller kecil biasanya berputar pada kecepatan motor
penuh. Arus yang meninggalkan propeller mengalir melalu zat menurut arah
tertentu dan sampai di belokkan oleh lantai dinding bejana. Propeller biasanya
digunakan bila kita menghendaki adanya arus yang kuat, umpamanya kita hendak
menjaga agar partikel-partikel zat padat yang berada dalam suspensi.
2. Padel.
Untuk tugas yang sederhana agitator yang terdiri dari satu dayung datar
berputar pada poros vertikal merupakan pengaduk yang cukup efektif. Kadang-
kadang daunnya dibuat miring tapi biasanya vertikal saja. Dayung ini berputar
ditengah bejana dengan kecepatan rendah sampai sedang dan mendorong zat cair
secara radial dan tangensial, hampir tanpa adanya gerakan vertikal pada impeller,
kecuali bila daunnya agak miring.
3. Turbin,
Kebanyakan turbin menyerupai agitator berdaun banyak dengan daun-
daun yang agak pendek dan berputar pada kecepatan tinggi pada suatu poros yang
dipasang pada pusat bejana. Daun-daun boleh lurus dan boleh juga lengkung,
sudut vertikal. Impellernya mungkin terbuka, setengah terbuka atau terselubung.
Diameter impellernya biasanya lebih kecil dari diameter dayung yaitu berkisar
antara 30 sampai 50 persen dari diameter bejana. Turbin biasanya efektif untuk
jangkauan viskositas cukup luas. Pada cairan berviskositas rendah turbin itu
menimbulkan arus yang sangat deras yang berlangsung pada keseluruhan bejana.
(McCabe, Operasi Teknik Kimia jilid 1. Erlangga, Jakarta. 1991)

III . ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN


A. Alat
1. Tangki pengadukan berisi pengaduk turbin
2. Neraca
3. Gelas Piala
4. Spatula
5. Erlenmeyer
6. Piknometer
7. Viskometer Oswald
8. Baskom
9. Tali Rafia
10. Stopwatch

B. Bahan
1. NaCl
2. Air
IV . GAMBAR ALAT

VI. PROSEDUR KERJA


A.
1. Melarutkan 500 gram garam kedalam air, kemudian memasukkan larutan
garam ke dalam tangki mixing kemudian menutup tangki.
2. Mengatur kecepatan rotasi pengaduk pada 10 rpm kemudian menyalakan alat
mixing bersamaan dengan meng- on-kan stopwatch.
3. Mengkalibrasi kecepatan rotasi pengaduk.
4. Mengambil ±50 ml sampel setiap 5 menit kemudian mengukur viskositas dan
berat jenis sampel hingga 30 menit.
5. Membersihkan alat dan menghitung Nilai Power motor
6. Lakukan langkah 1- 5 untuk kecepatan rotasi pengaduk 25 rpm
B. Mengukur Viskositas
1. Menimbang piknometer kosong
2. Memasukkan aquades sampai penuh ke dalam piknometer.
3. Menimbang piknometer yang berisi aquades
4. Membuang aquades yang ada di dalam piknometer
5. Memasukkan sampel ke dalam piknometer hingga penuh lalu ditimbang
C. Mengukur Berat Jenis
1. Memasukkan aquades ke dalam viskometer
2. Mengatur ketinggian aquades dengan menggunakan bola hisap hingga
melewati garis atas
3. Melepas bola hisap
4. Menghitung waktu aliran sampel dari garis atas sampai garis bawah
5. Mengulangi langkah diatas dengan mengganti aquades dengan masing-
masing sampel

VII. Data Pengamatan


 Berat pikno kosong = 23,6470 gram
 Berat pikno + aquadest = 49,6127gram
 Kelilng tangki = 101,5 cm = 1,015 m
 Kalibrasi putaran skala 10 rpm = 107 putaran / menit
 Kalibrasi putaran skala 25 rpm = 143 putaran / menit
 Kalibrsi viskositas oswald = 0,73 sekon
 Ketebalan reaktor mixing = 1,4 cm

Untuk skala putar 10 rpm


No Waktu Berat piknometer + Waktu alir
(sekon) sampel (gram) (detik)

1. 5 50,0598 0,80
2. 10 50,0586 0,90
3. 15 50,0536 0,93
4. 20 50,0571 1,05
5. 25 50,0529 1,19
6. 30 50,0541 1,29
Untuk skala putar 25 rpm
No Waktu Berat piknometer + Waktu alir
(menit) sampel (gram) (detik)

1. 5 50,0484 1,10
2. 10 50,0455 1,40
3. 15 50,0482 1,50
4. 20 50,0472 1,54
5. 25 50,0463 1,60
6. 30 50,0468 1,73

VIII. Perhitungan
 K tangki = 2. 𝜋. r
1,015
r = 2 𝑥 3,14

= 0,162 m
 D tangki = 2r
= 2. 0,162 m = 0,324 m
1
 Dpengaduk = 𝑥 0,324 m
3

= 0,108 m
A. Densitas

(𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜+𝑎𝑖𝑟)−𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔


Vol. Piknometer = 𝑏𝑗 𝑎𝑖𝑟

49,6127 𝑔𝑟𝑎𝑚−23,6470 𝑔𝑟𝑎𝑚


= 0,9982 𝑔𝑟𝑎𝑚/𝑚𝑙

= 26,0125 ml
Penentuan berat jenis
(𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜 + 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 ) − (𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔)
𝜌𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 =
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜

Densitas untuk putaran 10 rpm


(50,0598 𝑔𝑟𝑎𝑚)−( 23,6470 𝑔𝑟𝑎𝑚)
𝜌1 = = 1,0154 g/ml
26,0125 𝑚𝑙

(50,0586 𝑔𝑟𝑎𝑚)−(23,6470 𝑔𝑟𝑎𝑚)


𝜌2 = = 1,0153 g/ml
26,0125 𝑚𝑙

(50,0536 𝑔𝑟𝑎𝑚)−(23,6470 𝑔𝑟𝑎𝑚)


𝜌3 = = 1,0152 g/ml
26,0125 𝑚𝑙

(50,0571 𝑔𝑟𝑎𝑚)−(23,6470 𝑔𝑟𝑎𝑚)


𝜌4 = = 1,0153 g/ml
26,0125 𝑚𝑙

(50,0529 𝑔𝑟𝑎𝑚)−(23,6470 𝑔𝑟𝑎𝑚)


𝜌5 = = 1,0151 g/ml
26,0125 𝑚𝑙

(50,0541 𝑔𝑟𝑎𝑚)−(23,6470 𝑔𝑟𝑎𝑚)


𝜌6 = = 1,0152 g/ml
26,0125 𝑚𝑙

No t putaran (menit) 𝜌 𝑘𝑔
𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 ( 3 )
𝑚

1. 5 1015,4
2. 10 1015,3
3. 15 1015,2
4. 20 1015,3
5. 25 1015,1
6. 30 1015,2
Rata-rata 1015,3

Densitas untuk putaran 25 rpm


(50,,0484 𝑔𝑟𝑎𝑚)−(23,6470 𝑔𝑟𝑎𝑚)
𝜌1 = = 1,0149 g/ml
26,0125 𝑚𝑙

(50,0455𝑔𝑟𝑎𝑚)−(23,6470 𝑔𝑟𝑎𝑚)
𝜌2 = = 1,0148 g/ml
26,0125 𝑚𝑙

(50,0482 𝑔𝑟𝑎𝑚)−(23,6470 𝑔𝑟𝑎𝑚)


𝜌3 = 26,0125 𝑚𝑙
= 1,0149 g/ml
(50,0472 𝑔𝑟𝑎𝑚)−(23,6470 𝑔𝑟𝑎𝑚)
𝜌4 = 26,0125 𝑚𝑙
= 1,0149 g/ml
(50,0463 𝑔𝑟𝑎𝑚)−(23,6470 𝑔𝑟𝑎𝑚)
𝜌5 = = 1,0149 g/ml
26,0125 𝑚𝑙

(50,0468 𝑔𝑟𝑎𝑚)−(23,6470 𝑔𝑟𝑎𝑚)


𝜌6 = = 1,0149 g/ml
26,0125 𝑚𝑙

No t putaran (menit) 𝜌 𝑘𝑔
𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 ( 3 )
𝑚

1. 5 1014,9
2. 10 1014,8
3. 15 1014,9
4. 20 1014,9
5. 25 1014,9
6. 30 1014,9
Rata-rata 1014,9
B. Viskositas
𝜋 𝑋 𝑅 4 𝑋 𝜌𝑡 𝑋 𝑡
𝜇= 8𝑋𝑉𝑋𝐿
𝑔
3,14 𝑋 0,65 𝑐𝑚4 𝑋 0,9982 𝑋 0,73 𝑠
𝑐𝑚3
Viskositas air = 8 𝑋 5 𝑐𝑚3 𝑋 3 𝑐𝑚

=0,003 m.Pa.s
Untuk 10 rpm
𝑔
3,14 𝑋 0,65 𝑐𝑚4 𝑋 1,0154 𝑋 0,80 𝑠
𝑐𝑚3
1. 𝜇 = = 0,004 m.Pa.s
8𝑋5 𝑐𝑚3𝑋 3 𝑐𝑚
𝑔
3,14 𝑋 0,65 𝑐𝑚4 𝑋 1,0153 3 𝑋 0,90 𝑠
𝑐𝑚
2. 𝜇 = = 0,004 m.Pa.s
8 𝑋 5 𝑐𝑚3 𝑋 3 𝑐𝑚
𝑔
3,14 𝑋 0,65 𝑐𝑚4 𝑋 1,0152 3 𝑋 0,93 𝑠
𝑐𝑚
3. 𝜇 = = 0,004 m.Pa.s
8 𝑋 5 𝑐𝑚3 𝑋 3 𝑐𝑚
𝑔
3,14 𝑋 0,65 𝑐𝑚4 𝑋 1,0153 3 𝑋 1,05 𝑠
𝑐𝑚
4. 𝜇 = = 0,005 m.Pa.s
8 𝑋 5 𝑐𝑚3 𝑋 3 𝑐𝑚
𝑔
3,14 𝑋 0,65 𝑐𝑚4 𝑋 1,0151 3 𝑋1,19 𝑠
𝑐𝑚
5. 𝜇 = = 0,006 m.Pa.s
8 𝑋 5 𝑐𝑚3 𝑋 3 𝑐𝑚
𝑔
3,14 𝑋 0,65 𝑐𝑚4 𝑋 1,0152 3 𝑋 1,29 𝑠
𝑐𝑚
6. 𝜇 = = 0,006 m.Pa.s
8 𝑋 5 𝑐𝑚3 𝑋 3 𝑐𝑚

No t putaran (menit) Viskositas (m.Pa.s)


1. 5 0,004
2. 10 0,004
3. 15 0,004
4. 20 0,005
5. 25 0,006
6. 30 0,006
Rata-rata 0,005

Untuk 25 rpm
𝑔
3,14 𝑋 0,65 𝑐𝑚4 𝑋 1,0150 𝑋 1,10 𝑠
𝑐𝑚3
1. 𝜇 = = 0,005 m.Pa.s
8 𝑋 5 𝑐𝑚3 𝑋 3 𝑐𝑚
𝑔
3,14 𝑋 0,65 𝑐𝑚4 𝑋 1,0148 3 𝑋 1,40 𝑠
𝑐𝑚
2. 𝜇 = = 0,007 m.Pa.s
8 𝑋 5 𝑐𝑚3 𝑋 3 𝑐𝑚
𝑔
3,14 𝑋 0,65 𝑐𝑚4 𝑋 1,0149 3 𝑋 1,50 𝑠
𝑐𝑚
3. 𝜇 = = 0,007 m.Pa.s
8 𝑋 5 𝑐𝑚3 𝑋 3 𝑐𝑚
𝑔
3,14 𝑋 0,65 𝑐𝑚4 𝑋 1,0149 3 𝑋 1,54 𝑠
𝑐𝑚
4. 𝜇 = = 0,007 m.Pa.s
8 𝑋 5 𝑐𝑚3 𝑋 3 𝑐𝑚
𝑔
3,14 𝑋 0,65 𝑐𝑚4 𝑋 1,0149 3 𝑋 1,60 𝑠
𝑐𝑚
5. 𝜇 = = 0,008 m.Pa.s
8 𝑋 5 𝑐𝑚3 𝑋 3 𝑐𝑚
𝑔
3,14 𝑋 0,65 𝑐𝑚4 𝑋 1,0149 3 𝑋 1,73 𝑠
𝑐𝑚
6. 𝜇 = = 0,008 m.Pa.s
8 𝑋 5 𝑐𝑚3 𝑋 3 𝑐𝑚

No t putaran (menit) Viskositas (m.Pa.s)


1. 5 0,005
2. 10 0,007
3. 15 0,007
4. 20 0,007
5. 25 0,008
6. 30 0,008
Rata-rata 0,007

Bilangan Reynold
𝜌 𝑥 𝑁 𝑥 𝐷𝑎2
N Re = 𝜇

Untuk putaran 10 rpm


𝜌 𝑥 𝑁 𝑥 𝐷𝑎2
N Re = 𝜇

1015,3 𝑘𝑔/𝑚3 𝑥 1,783/𝑠 𝑥 (0,108 𝑚)2


= 0,005 𝑚𝑃𝑎𝑠

= 4223,021

Untuk putaran 25 rpm


𝜌 𝑥 𝑁 𝑥 𝐷𝑎2
N Re = 𝜇

1014,9 𝑘𝑔/𝑚3 𝑥 2,383/𝑠 𝑥 (0,108 𝑚)2


= 0,007 𝑚𝑃𝑎𝑠

= 4029,923

Froude’s Number (NFr )

𝑁 2 𝑥 𝐷𝑎
NFr = 𝑔

Untuk 10 rpm

(1,783/𝑠)2 𝑥 0,108 𝑚
NFr = 9,8 𝑚/𝑠

= 0,035

Untuk 25 rpm

(2,383/𝑠)2 𝑥 0,108 𝑚
NFr = 9,8 𝑚/𝑠

= 0,063

Bilangan Power ( Npo )

Penentuan nilai Np dilakukan dengan cara memplotkan Nre pada grafik


9.14 di bawah :
Npo untuk putaran 10 rpm = 1,83
Npo untuk putaran 25 rpm = 1,95

Power Number
𝑵𝑷 .𝝆.𝒏𝟑 𝑫𝟓
𝑷= 𝒈

Untuk 10 rpm

𝒌𝒈 𝟑
𝟏,𝟖𝟑 .𝟏𝟎𝟏𝟓,𝟑 .(1,783/𝑠) (𝟎,𝟏𝟎𝟖 𝒎)𝟓
𝒎^𝟑
𝑷= 𝟗,𝟖𝟏 𝒎/𝒔^𝟐
= 0,0158 watt
Untuk 25 rpm

𝒌𝒈 𝟑
𝟏,𝟗𝟓 .𝟏𝟎𝟏𝟒,𝟖 .(2,383/𝑠) (𝟎,𝟏𝟎𝟖 𝒎)𝟓
𝒎^𝟑
𝑷= 𝟗,𝟖𝟏 𝒎/𝒔^𝟐
= 0,0401 watt

IX. Pembahasan

X. Kesimpulan

Berdasarkan percobaan dan hasil perhitungan yang telah dilakukan, maka


dapat disimpulkan bahwa :

 Nilai power pada rotasi pengadukan 2,5 rps yaitu 0,181223605 watt.
 Nilai power pada rotasi pengadukan 3,5 rps yaitu 0,182089792 watt.

XI. Daftar Pustaka

 https://alfyandiishaq.wordpress.com/2012/06/20/mixing-pencampuran-
bahan/
 http://pengalamanputih.blogspot.co.id/2015/02/mixing.html
 McCabe, W., smith, J.C ., and Harriot,P.,1993,”Unit Operation of Chemical
Engineering”. McGGraw Hill Book,Co., United States of America.hal 224