Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH PEMBENTUKAN SISTEM TATA SURYA

MATA KULIAH BUMI DAN ANTARIKSA

Dosen Pengampu :

Disusun Oleh:

Agni Fajriani (1107617239)


Chaerunnisa (1107617225)

Kelas H 2017

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2019
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tata surya terdiri dari matahari, delapan planet, dan benda langit lainnya
seperti komet, asteroid, satelit, meteoroid. Planet-planet berevolusi mengelilingi
matahari dengan orbit (garis edar) yang berbentuk elips. Beberapa planet memiliki
satelit yang berputar mengelilingi planet, bersamaan dengan planet yang
mengelilingi matahari. Jadi, tata surya merupakan sistem rotasi yang berpusat pada
matahari.

Hingga kini dikenal terdapat delapan planet sebagai anggota tata surya,
yaitu Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus. Pada
abad 17 baru dikenal enam planet, kemudian Uranus ditemukan pada tahun 1781
dan Neptunus pada tahun 1846. Menurut Kepler (1609), planet beredar
mengelilingi matahari dengan orbit (lintasan) berbentuk elips, matahari terletak
pada salah satu titik fokusnya.

Kelahiran planet diduga dari wujud yang sama dengan matahari. Ada
beberapa teori yang mendasari pembentukkan tata surya. Pada awalnya dianut
model geosentris yang dikembangkan oleh Claudius Ptolemaeus. Pada tahun 1543
terjadi revolusi ilmiah oleh Copernicus yang mengubah model geosentris menjadi
heliosentris dimana matahari menjadi pusat sistem tata surya dan planet-planet
bergerak disekitar matahari dengan kecepatan sudut yang berbeda-beda.

B. Rumusan Masalah
1. Jelaskan teori-teori yang menjelaskan tentang pembentukan tata surya?
2. Sebutkan dan jelaskan apa saja yang menjadi anggota pada sistem tata
surya?
3. Apa saja dampak yang diakibatkan oleh adanya rotasi dan revolusi
bumi?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Teori Pembentukan Tata Surya

a. Teori Konensasi

Menurut teori kondensasi yang dikemukakan oleh Immnuel Kant pada


tahun 1755, matahari dan planet-planet berasal dari kabut pijar yang berpilin di
dalam jagad raya. Karena perputaran, maka sebagian massa kabut terlepas dan
membentuk gelang-gelang di sekeliling bagian utama gumpalan-gumpalan kabut
tersebut. Selanjutnya kabut-kabut tersebut. selanjutnya gelang tersebut lambat laun
membentuk gumpalan, dan memadat menjadi planet. Karena pemutaran dan
pemadatan yang terus menerus maka terjadi bentuk dasar matahari yang dikelilingi
material yang menjadi planet.

b. Teori Awan Debu

Pada mulanya teori Awan Debu (The Dust-Cloud Theory) dicetuskan oleh
Carl Friedrich von Weizsӓcker dan “disempurnakan” lagi oleh Gerard Peter
Kuiper. Pada dasarnya, mereka mengatakan kalau tata surya terbentuk dari gas dan
debu yang berkumpul, berputar menyerupai cakram, lalu berubah bentuk menjadi
planet dan matahari. Namun, hal yang membedakannya dengan teori Nebula adalah
prosesnya.
Pada teori Awan Debu, proses yang terjadi adalah pemampatan.
Bayangkan jika gumpalan awan mengalami pemampatan. Pada proses pemampatan
ini, partikel debu tertarik ke bagian pusat awan, membentuk bola, dan lama
kelamaan menjadi cakram. Nah, partikel yang berada di tengah cakram saling
menekan, lalu menimbulkan panas dan jadi pijar. Bagian tengah ini, kemudian
menjadi matahari. Sementara bagian luarnya berputar dengan sangat cepat, lalu,
sampai pada titik di mana mereka “bermentalan” dan terpecah menjadi gumpalan
yang lebih kecil. Bagian ini lah yang pada akhirnya menjadi planet.
c. Teori Planetesimal

Teori ini dikemukakan oleh Forest R Moulton dan Thomas C Chamberlin


pada tahun 1905. Lain halnya dengan teori nebula, pada teori ini, Moulton dan
Chamberlin berpendapat bahwa pada mulanya, matahari sudah ada. Lalu, pada
suatu waktu, ada sebuah bintang yang ukurannya sebesar matahari dan mengorbit
dekat dengan matahari. Berhubung bintang besar ini memilki gravitasi, akibatnya
ada partikel matahari yang “terseret” keluar.
Partikel-partikel yang tidak terseret jauh berhasil kembali masuk dan
bergabung dengan matahari. Tetapi, partikel yang terseret jauh hanya mengambang
di angkasa. Partikel-partikel kecil yang mengambang ini lama-kelamaan
mengumpul, menyatu, dan, mengeras sehingga menjadi berbagai planet.
d. Teori Pasang Surut
Pada teori pasang surut, hampir mirip dengan teori planetesimal, jadi
matahari sudah ada terlebih dahulu. Lalu lewatlah satu bintang besar yang
mengorbit dekat matahari. Jika dalam teori planetesimal, gravitasi bintang besar ini
membuat partikel-partikel di matahari tertarik. Kalau dalam teori pasang surut,
yang dibawa adalah gelombang pasang gas-gas panas matahari.
Gelombang pasang ini tertarik dan jadi semacam “menempel” pada bintang
seperti orang main tarik-tarikan tali tambang menggunakan tali rafia, yang
kemudian tali itu putus. Sebagian gas matahari masuk kembali ke matahari, dan
sebagian lagi pecah menjadi partikel-partikel yang akan menjadi cikal bakal planet.
Karena peristiwa saat gas itu tertarik ke bintang mirip seperti peristiwa pasang. Dan
saat gelombang panas itu “lepas”, lalu sebagian kembali masuk ke matahari mirip
seperti peristiwa surut.
e. Teori Bintang Kembar
Teori ini mungkin cukup “unik” dan berbeda dari sebelumnya. Ditemukan oleh
Raymond Arthur Lyttleton, seorang berkebangsaan Inggris pada tahun 1956.
Menurutnya, sebelum galaksi terbentuk, terdapat dua “bintang raksasa” di luar
angkasa. Ketika bintang tersebut sedang tenang-tenangnya di angkasa, pada suatu
waktu, datang bintang ketiga. Bintang ketiga ini menabrak salah satu bintang dan
membuat keduanya hancur. Pecahannya mengambang-ambang di angkasa, lalu
perlahan-lahan mengorbit ke bintang yang masih utuh. Seiring berjalannya waktu
pecahannya menjadi planet yang kita kenal saat ini dan bintang yang masih utuh
menjadi matahari.

B. Anggota Tata Surya

Sistem benda angkasa yang menempatkan bumi sebagai pusat tata surya
disebut sistem geosentris (geo artinya bumi, dan sentris artinya pusat). Claudius
Ptolemaeus (100-170) telah menetapkan dasar perhitungan matematika untuk
perhitungan benda langit, sehingga sistem geosentris pernah begitu lama bertahan.
Tetapi, dengan penemuan teleskop oleh Galileo Galilei (1564-1642) dan
pengamatan yang lebih dalam tentang gerak planet terdekat oleh Tycho Brahe
(1546-1601), ditemukan ketidakmampuan sistem geosentris dalam menerangkan
beberapa sifat gerak plane. Nicholas Copernicus (1473-1543) dari Polandia
merombak sistem geosentris menjadi sistem heliosentris (hello artinya matahari,
dan sentris artinya pusat). Dalam bukunya De Revolutionibus Orbium Coelestium,
Copernicus menempatkan matahari sebagai pusat tata surya dan semua planet
bergerak mengelilingi matahari.

Sekarang kita menerima sistem heliosentris sebagai sistem tata surya kita
yang benar. Tidak ada lagi pengamatan yang meragukan kebenaran sistem tersebut.
Tata Surya merupakan sistem matahari dan kumpulan benda-benda angkasa yang
terikat hukum gravitasi pada matahari. Saat ini tata surya beranggotakan delapan
planet (dan 162 bulannya), planet kerdil (dwarf planet), asteroid, meteorit, komet,
dan debu angkasa. Sejak 1930 sampai 2006 tata surya kita beranggotakan Sembilan
planet. Karena status Pluto berubah menjadi planet kerdil sejak 24 Agustus 2006
sesuai keputusan IAU (International Astronomical Union), akhirnya jumlah planet
dalam tata surya kita berkurang menjadi delapan.

1. Planet
Planet adalah bola yang terbuat dari batu atau gas dan cairan yang berputar-
putar di angkasa. Kata planet berarti ‘pengembara’. Planet-planet terlihat seperti
mengembara melintasi angkasa. Seiring dengan berkembangnya zaman,
berkembang pula definisi planet. Syarat-syarat suatu benda angkasa disebut planet
menurut IAU adalah:
a. Mengorbit pada bintang atau sisa bintang (bintang mati).
b. Memiliki massa yang cukup untuk membentuk gravitasi mandiri agar dapat
mempertahankan bentuknya pada keadaan setimbang (mendekati bulat).
c. Tidak cukup kuat untuk memulai reaksi fusi pada intinya.
d. Orbitnya tidak bertumpang tindih dengan orbit benda angkasa lain.

Ukuran planet lebih besar dibandingkan anggota tata surya lain. Planet tidak
menghasilkan cahaya sendiri. Planet memantulkan cahaya matahari yang jatuh
padanya sehingga tampak terang seperti bintang. Sebagaimana kita ketahui
keputusan IAU pada tanggal 24 Agustus 2006, kita telah meninggalkan anggapan
bahwa Pluto merupakan planet. Pluto gugur sebagai planet karena tidak memenuhi
syarat yang terakhir. Benda angkasa yang hanya memenuhi tiga syarat pertama
sebuah planet dikategorikan sebagai planet kerdil. Orbit Pluto ternyata bertumpang
tindih dengan angkasa lain, yaitu planet Neptunus.

a. Garis Edar Planet (Orbit)

Tycho Brahe melakukan pengamatan gerak planet secara terus-menerus dan


menemukan bahwa Jarak planet ke matahari tidak tetap. Ini menunjukkan bahwa
garis edar planet mengelilingi matahari tidak berbentuk lingkaran. Johannes Kepler
menganalisis kumpulan data pengamatan planet yang dilakukan gurunya, Tycho
Brahe. Ia menyimpulkan hal itu dalam tiga hukum tentang gerak planet
mengelilingi matahari yang dikenal dengan nama hukum Kepler, menyatakan garis
edar semua planet mengelilingi matahari berbentuk elips dan matahari berada pada
salah satu titik focus elips tersebut.

Bentuk elips mirip dengan lingkaran, tetapi agak lonjong. Karena garis edar
(orbit) planet berbentuk elips, maka ada posisi planet pada garis edar yang jaraknya
paling dekat ke matahari dinamakan perihelium, sedangkan posisi planet pada garis
edar yang jaraknya paling jauh ke matahari dinamakan aphelium. Semua anggota
tata surya mengelilingi matahari, sehingga masing-masing akan mempunyai dua
posisi, yaitu aphelium dan perihelium.
b. Rotasi dan Revolusi Planet

Peredaran planet mengelilingi matahari disebut revolusi. Waktu yang


diperlukan planet untuk mengelilingi matahari sebanyak satu kali disebut kala
revolusi. Selain berevolusi, ternyata planet juga berputar pada porosnya. Perputaran
planet pada porosnya disebut rotasi. Semua planet beredar mengelilingi matahari
dengan arah yang sama. Jika kita berada di atas kutub utara bumi dan melihat ke
bawah, maka tampak planet-planet bergerak dengan arah berlawanan putaran jarum
jam.

c. Pengelompokkan Planet

Berdasarkan kedudukan garis edarnya terhadap gari edar bumi, kita dapat
membagi planet menjadi dua kelompok yaitu:

 Planet dalam atau planet inferior adalah planet yang memiliki garis edar
ke matahari lebih dekat dibandingkan garis edar bumi. Planet yang termasuk
kelompok ini adalah Merkurius dan Venus.
 Planet luar atau planet superior adalah planet yang memiliki garis edar ke
matahari lebih jauh dibandingkan garis edar bumi. Planet yang termasuk
kelompok ini adalah Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.

Berdasarkan ukuran dan komposisi bahan penyusunnya, planet dibagi


menjadi dua yaitu:

 Planet terestiral adalah planet yang ukuran dan komposisi bahan


penyusunnya sejenis, yaitu batuan. Tergolong planet terestiral adalah
Merkurius, Venus, Bumi dan Mars.
 Planet raksasa adalah planet yang ukurannya besar dan sebagian besar
penyusunnya terdiri dari es dan gas. Tergolong planet raksasa adalah
Jupiter, Uranus, Saturnus, dan Neptunus.

2. Satelit

Satelit adalah benda angkasa yang mengelilingi planet. Bersama dengan


planet yang dikelilinginya, satelit mengelilingi matahari. Satelit tidak menghasilkan
cahaya sendiri. Satelit tampak bercahaya karena memantulkan cahaya matahari
yang jatuh pada permukaannya. Peredaran satelit mengelilingi planet pada garis
edarnya juga disebut revolusi. Selain itu, satelit juga berotasi pada sumbunya.
Hampir semua planet dalam tata surya memiliki satelit. Hanya planet Merkurius
dan Venus yang tidak memiliki satelit.

Sedangkan jupiter merupakan planet yang memiliki banyak satelit,


diantaranya berjumlah 17 satelit. Kemudian saturnus memiliki 9 satelit, uranus 5
satelit, neptunus 2 satelit, mars 2 satelit, dan bumi yang memiliki 1 satelit alami
yaitu bulan. Orbit bulan berupa elips, jarak terdekat bumi dan bulan disebut perigee
dan jarak terjauh bumi dan bulan disebut apogee.

3. Asteroid

Asteroid adalah benda-benda angkasa kecil yang mengelilingi matahari dan


terdiri dari kumpulan pecahan batu dan logam. Arah revolusi asteroid sama dengan
arah revolusi planet. Perbedaan asteroid dengan planet hanya dalam ukurannya.
Ukuran asteroid kecil, sedangkan ukuran planet cukup besar. Terkadang asteroid
dinamakn planet minor. Karena ukurannya yang kecil, asteroid tidak dapat dilihat
mata telanjang. Pengamatan dengan teropong pun harus menggunakan teropong
yang canggih. Jumlah asteroid sangat banyak hingga tampak seperti pita asteroid.

4. Komet

Kita sering menyebut komet sebagai bintang berekor. Sebetulnya


pernyataan bintang disini tidak tepat. Komet memang memiliki ekor yang sangat
panjang. Komet adalah benda angkasa kecil yang mengelilingi matahari pada orbit
yang sangat lonjong. Ada komet yang memiliki garis edar elips parabola atau
hiperbola, sehingga komet hanya tampak sekali kemudian menghilang karena
menempuh lintasan yang cukup jauh di ruang angkasa. Komet terbentuk dari es,
gas beku, dan debu.

Ketika mendekati matahari, sebagian bahan penyusun komet menguap


membentuk kepala gas dan ekor. Ekor komet selalu terarah menjauhi matahari
penyebabnya karena energi matahari atau akibat dari radiasi matahari dan angin
matahari. Semakin dekat ke matahari semakin panjang ekor komet. Hal ini terjadi
karena banyak kandungan partikel angin matahari sehingga semakin besar kelajuan
angin tersebut. salah satu komet yang dikenal adalah komet Halley yang ditemukan
pada tahun 1705.

5. Meteoroid

Ruang antar planet mengandung banyak partikel kecil yang dinamakan


meteoroid dan memiliki orbit yang tidak beraturan. Meteoroid yang memasuki
bumi dan menyala akibat bergesekan dengan atmosfer dinamakan meteor. Meteor
sering kita sebut bintang jatuh, walaupun sebenarnya bukan bintang. Kebanyakan
meteor habis terbakar karena bergesekan dengan atmosfer bumi. Meteoroid yang
berukuran besar dapat mencapai permukaan bumi (tidak terbakar seluruhnya).
Meteoroid yang mencapai bumi disebut meteorit.

6. Matahari

Matahari adalah sebuah bintang yang jaraknya paling dekat dengan bumi
yaitu sekitar 150 juta kilometer. Matahari adalah bulatan gas dengan diameter 1,4
x 106 kilometer dan temperatur permukaannya sekitar 6.000 K. Temperatur ini
meningkat jika semakin mendekati inti matahari. Energi matahari yang jatuh ke
permukaan bumi berbentuk gelombang elektromagnetik yang menjalar dengan
kecepatan 3 x 1010 cm/detik.

C. Macam-Macam Planet

1. Merkurius
Merkurius adalah planet yang paling dekat Matahari. Satu tahun di
Merkurius hanya terdiri dari 88 hari dan periode rotasinya 59 hari, jarak Merkurius
ke Matahari hampir tiga kali lebih dekat dibandingkan jarak Bumi ke Matahari.
Suhu Merkurius lebih panas dan Matahari tampak lebih besar dibanding jika kita
melihatnya dari Bumi. Merkurius adalah planet kering yang diliputi oleh lubang-
lubang atau kawah-kawah dengan suhu permukaan sekitar 500oC.
2. Venus
Venus adalah planet terdekat ke Bumi, dan ukurannya hanya sedikit lebih
kecil dari Bumi. Permukaan planet ini diliputi oleh lapisan awan tebal, yang terbuat
dari gas beracun. Awan ini memantulkan cahaya Matahari, sehingga Venus tampak
lebih bercahaya dari pada bintang-bintang lain dan dikenal sebagai bintang timur
atau bintang fajar. Periode revolusinya 225 hari. Karena jaraknya yang cukup dekat
dengan bumi, maka banyak manusia yang berkeinginan untuk mencari tahu lebih
rinci planet venus, tetapi planet venus tidak terdapat air karena suhu yang terlalu
tinggi.

3. Bumi
Bumi adalah planet ketiga dari Matahari yang merupakan planet terpadat
dan terbesar kelima dari delapan planet dalam Tata Surya. Bumi terkadang disebut
dunia atau Planet Biru. Bumi terbentuk dari bebatuan. Periode revolusi bumi adalah
365,3 hari disebut tahun saderik dan periode rotasinya 23 jam 56 menit disebut hari
saderik. Bumi hanya memiliki satu satelit yaitu bulan. Bumi merupakan planet
dengan kepadatan tertinggi, gravitasi permukaan tertinggi, medan magnet terkuat,
dan rotasi tercepat.

4. Mars

Mars dikenal sebagai Planet Merah dengan periode revolusi 687 hari dan
memiliki jarak sekitar 228 juta kilometer dari matahari. Debu-debu besi berkarat
pada batuan mewarnai permukaannya sehingga kelihatan merah kecoklatan dan
membuat langit Mars tampak berwarna jingga. Mars merupakan gurun yang sangat
dingin. Ada kanal-kanal kering di seluruh planet, akan tetapi di permukaannya tidak
ada air. Di bagian atas dan bawah planet ini terdapat dua tempat yang berwarna
putih. Para ilmuwan memperkirakan air telah membeku di tempat-tempat ini. Mars
memiliki dua satelit yaitu Phobos dan Deimos.

5. Jupiter

Jupiter terdiri dari gas dan cairan, walaupun planet ini mempunyai inti kecil
yang kokoh. Jupiter mempunyai diameter yang berukuran hampir 143.000
kilometer. Periode revolusinya 11,86 tahun dan memiliki jarak 780 juta kilometer
dari matahari. Jupiter disebut dengan planet raksasa karena memiliki ukuran
terbesar dalam tata surya. Planet jupiter berputar dengan periode rotasi 9 jam 50
menit, yang artinya planet ini berputar dengan sangat cepat. Massanya lebih besar
dari jumlah massa semua planet yang lain. Jupiter memiliki 17 satelit alami. Jupiter
mempunyai cincin, namun terlalu gelap untuk dapat dilihat dari Bumi.

6. Saturnus

Saturnus adalah planet terbesar kedua di sistem Tata Surya dengan periode
rotasinya 10 jam 2 menit dan periode revolusinya 29,5 tahun. Jarak saturnus ke
matahari sekitar 1.425 juta kilometer. Saturnus juga merupakan gas raksasa yang
mempunyai 9 satelit alami yaitu Mimas, Enceladus, Tethys, Dione, Rhea, Titan,
Hyperion, Lapetus, dan Phoebe. Saturnus dikelilingi oleh cincin-cincin yang paling
indah. Cincin-cincin tersebut terbentuk dari serpihan batu kecil dan es yang bersinar
cemerlang di sinar Matahari. Walaupun Saturnus begitu besar, namun planet ini
amat ringan. Bila ada kolam renang yang berukuran cukup besar, Saturnus dapat
mengapung di atas airnya.

7. Uranus

Uranus tersembunyi dibalik awan gas yang berwarna biru kehijaun. Jarak
uranus ke matahari sekitar 2880 juta kilometer sehingga memerlukan waktu 84
tahun Bumi untuk mengelilingi Matahari dan periode rotasinya 10 jam 8 menit.
Uranus merupakan planet terbesar ketiga dan terberat keempat dalam Tata Surya.
Uranus memiliki 5 satelit, yaitu Miranda, Ariel, Umbriel, Titania, dan Oberon.

8. Neptunus

Neptunus merupakan planet terjauh jika ditinjau dari Matahari dengan jarak
rata-ratanya adalah 4.510 juta kilometer. Neptunus merupakan planet terbesar
keempat berdasarkan diameter dan terbesar ketiga berdasarkan massa. Massa
Neptunus tercatat 17 kali lebih besar daripada Bumi, dan sedikit lebih besar
daripada Uranus. Satu tahun di Neptunus sama dengan 164 tahun di Bumi. Karena
letaknya yang jauh dari Matahari, Neptunus sangat dingin dan gelap. Meptunus
memiliki dua satelit yaitu Triton dan Nereid.
D. Matahari sebagai Bintang

Matahari merupakan salah satu bintang yang ada di alam semesta. Matahari
tampak sebagai benda langit terbesar yang dilihat dari Bumi, sedangkan bintang
tampak kecil. Cahaya Matahari sangat terang dan menyilaukan, sedangkan cahaya
bintang sangat lemah dan redup. Sinar matahari terasa sangat panas sehingga dapat
menaikkan suhu beberapa bagian bumi, sedangkan bintang tidak menimbulkan efek
apa-apa.

Matahari dan bintang tampak bercahaya bukan karena memantulkan cahaya


dari benda lain, tetapi karena memang benda-benda angkasa tersebut menghasilkan
cahaya sendiri. Sifat ini berbeda dengan planet atau bulan yang tampak bercahaya
karena memantulkan cahaya matahari. Kesamaan yang mendasar antara matahari
dan bintang adalah sama-sama menghasilkan cahaya sendiri. Oleh karena itu,
matahari dimasukkan dalam kelompok bintang. Dengan kata lain, matahari adalah
bintang.

E. Bumi sebagai Planet

1. Bentuk Bumi
Sampai saat ini bumi adalah satu-satunya planet yang diketahui memiliki
kehidupan. Bentuk bumi bulat, tetapi tidak persis seperti bola. Bentuk bumi agak
pepat di kedua kutubnya. Bentuk ini serupa dengan balon yang diletakkan di lantai
dan sedikit ditekan dari atas. Bentuk bumi disebabkan oleh perputaran bumi pada
porosnya (rotasi).

2. Gaya Tarik Bumi


Di awal pembahasan telah disinggung bahwa benda-benda angkasa
memiliki gaya tarik yang disebut gaya gravitasi. Bumi pun memiliki gaya tarik.
Karena massa bumi sangat besar, maka gaya gravitasi bumi juga sangat besar. Oleh
karena itu, benda-benda yang ada di permukaan bumi akan merasakan gaya
tariknya. Terbukti setiap benda yang dilepaskan dari ketinggian tertentu akan
menuju pusat bumi.
3. Akibat Rotasi Bumi
Bumi berotasi pada porosnya dari arah barat ke timur. Arahnya persis sama
dengan arah revolusi bumi mengelilingi matahari. Poros bumi adalah diameter yang
menghubungkan kutub utara dan selatan. Kala rotasi bumi adalah 23 jam 56 menit.
Selang waktu ini disebut satu hari. Waktu ini sama dengan lama antara terbitnya
matahari hari ini dan terbitnya matahari besok. Selama waktu ini, suatu tempat telah
mengalami siang dan malam.

a. Pergantian Siang dan Malam

Permukaan bumi yang sedang menghadap matahari mengalami siang.


Sebaliknya, permukaan bumi yang sedang membelakangi matahari mengalami
malam. Akibat rotasi bumi, permukaan bumi yang menghadap dan membelakangi
matahari berganti secara bergiliran. Ini adalah peristiwa pergantian siang dan
malam.

b. Perbedaan Waktu Berbagai Tempat di Muka Bumi

Karena rotasi bumi, orang-orang yang berada di daerah sebelah timur akan
mengamati matahari terbit dan matahari terbenam lebih cepat dari pada daerah yang
berada di sebelah barat. Wilayah yang berada pada sudut 15 lebih ke timur akan
mengamati matahari terbit lebih cepat satu jam.

c. Gerak Semu Harian Bintang

Bintang-bintang (termasuk matahari) yang tampak bergerak sebenarnya


tidak bergerak. Akibat rotasi bumi dari arah barat ke timur, maka bintang-bintang
tersebut tampak bergerak dari timur ke barat. Oleh karena itu, gerak bintang akibat
adanya rotasi bumi disebut gerak semu. Karena gerak semu ini dapat diamati setiap
hari, maka disebut gerak semu harian.

4. Akibat Revolusi Bumi


1
Bumi mengelilingi matahari pada orbitnya sekali dalam waktu 3654 hari.
1
Waktu 3654 atau satu tahun surya disebut kala revolusi bumi. Revolusi ini

menimbulkan beberapa gejala alam yang berlangsung secara berulang tiap tahun.
a. Gerak Semu Tahunan Matahari

Pergeseran posisi matahari ke arah belahan bumi utara (22 Desember – 21


Juni) dan pergeseran posisi matahari ke belahan bumi selatan (21 Juni – 21
Desember) disebut gerak semu tahunan matahari. Disebut demikian karena
sebenarnya matahari tidak bergerak. Gerak itu terjadi akibat revolusi bumi dengan
sumbu rotasi yang miring.

b. Perubahan Musim

Belahan bumi utara dan selatan mengalami 4 musim. Empat musim itu
adalah musim semi (spring), musim panas (summer), musim gugur (autumn), dan
musim dingin (winter).

c. Perbedaan Waktu Berbagai Tempat di Muka Bumi


 Kalender Masehi

Hitungan kalender masehi didasarkan pada kala revolusi bumi, dimana satu
1
tahun sama dengan 3654 hari. Kalender yang mula-mula digunakan adalah

kalender Julian. Kalender Julian didasarkan pada selang waktu antara satu musim
semi dengan musim semi berikutnya di belahan bumi utara. Selang waktu ini
tepatnya adalah 365,242 2 hari atau 365 hari 5 jam 48 menit 46 sekon. Julius Caesar
menetapkan perhitungan kalender sebagai berikut.

 Lama waktu dalam setahun adalah 365 hari.


1
 Untuk menampung kelebihan 4 hari pada setiap tahun, maka lamanya satu

tahun diperpanjang 1 hari menjadi 366 hari setiap empat tahun. Satu hari
tersebut ditambahkan pada bulan Februari. Tahun yang lebih panjang sehari
ini disebut tahun kabisat.
 Untuk mempermudah mengingat, maka yang dipilih sebagai tahun kabisat
adalah tahun yang habis dibagi 4.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Tata Surya merupakan sistem matahari dan kumpulan benda-benda angkasa


yang terikat hukum gravitasi pada matahari. Sistemnya disebut sistem Heliosentris
yaitu sistem benda yang menempatkan matahari sebagai pusat. Benda-benda
angkasa memiliki gaya tarik yang disebut gaya gravitasi. Peredaran planet
mengelilingi matahari disebut revolusi, sedangkan perputaran planet pada porosnya
disebut rotasi.
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Mikrajuddin. 2007. IPA FISIKA SMP dan MTs untuk Kelas IX. Jakarta:
Penerbit Erlangga.

Sims, Lesley. 2003. Planet. Jakarta: Grolier Internasiona Inc.

https://id.wikipedia.org/wiki/Bumi diakses pada 3 April 2019

https://id.wikipedia.org/wiki/Uranus diakses pada 3 April 2019

https://map-bms.wikipedia.org/wiki/Neptunus diakses pada 3 April 2019

Tjasyono, Bayong. 2006. ILMU KEBUMIAN DAN ANTARIKSA. Bandung:


Penerbit PT Remaja Rosdakarya Offset.