Anda di halaman 1dari 33

A.

Pengertian Karya Sastra Indonesia

Karya sastra menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya


dengan diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan juga Tuhan. Karya sastra bukan hasil
kerja lamunan belaka melainkan juga penghayatan sastrawan terhadap kehidupan yang
dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab sebagai sebuah karya seni
(Nurgiyartoro, 1998: 3). Sebagai sebuah produk, karya sastra pada hakikatnya sama dengan
produk-produk ciptaan manusia yang lain. Tidak seperti produk-produk biasa, ia memiliki ciri
yang khas dan itu tidak dijumpai pada karya-manusia yang lain. la menyimpan titipan pesan
pengarangnya yang disisipkan di antara untaian kata-kata yang indah. Pesan itu bisa jelas
tersurat, sangat sederhana, atau terlalu filosofis/sufistis sehingga susah untuk ditangkap tanpa
melalui pemahaman, penghayatan, dan apresiasi secara kritis.

B. Sejarah Sastra Indonesia

Perhatian masyarakat sastra Indonesia terhadap masalah sejarah kebudayaan,


termasuk sastra, telah tampak sejak awal pertumbuhan sastra Indonesia di tahun 1930-an
sebagaimana terbaca dalam Polemik Kebudayaan suntingan Achdiat K.Mihardja (1977).
Polemic yang berkembang antara tokoh-tokoh S.Takdir Alisjahbana, Sanusi Pane,
Poerbatjaraka, M.Amir, Ki Hadjar Dewantara, Adinegoro dan lain-lain memang tidak secara
khusus memperdebatkan konsep kesusastraan Indonesia, tetapi telah memperlihatkan
kesadaran mereka terhadap sejarah kebudayaan Indonesia.
Takdir Alisjahbana berpendapat bahwa sebutan Indonesia telah dipergunakan
secara luas dan kabur sehingga tidak secara tegas menunjukan pada semangat
keindonesiaan yang baru sebagai awal pembangunan kebudayaan Indonesia Raya.
Menurut Takdir, semangat keindonesiaan yang baru seharusnya berkiblat ke Barat
dengan menyerap semangat atau jiwa intelektulnya agar wajahnya berbeda dengan
masyarakat kebudayaan pra-Indonesia. Namun, pendapat yang teoretis itu sudah ada sejak
sekian abad yang silam dalam adat dan seni. Yang belum terbentuk adalah natie atau
bangsa Indonesia, tetapi perasaan kebangsaan itu sebenarnya sudah ada.
Menurut Sanusi Pane, kebudayaan Barat yang mengutamakan intelektualitas untuk
kehidupan jasmani tidak dengan sendirinya istimewa karena terbentuk oleh tantangan alam
yang keras sehingga orang harus berpikir dan bekerja keras. Sementara itu, kebudayaan
Timur pun memiliki keunggulan, yaitu mengutamakan kehidupan rohani, karena kehidupan
jasmani telah dimanjakan oleh alam yang serba memberikan kemudahan. Oleh karena itu,
kebudayaan Indonesia baru dapat dibentuk dengan mempertemukan semangat
intelektualitas Barat dengan semangat Kerohanian Timur.
Poerbatjaraka berpendapat bahwa sambungan kesejarahan itu sudah ada dan tidak
boleh diabaikan. Oleh karena itu, diperlukan penyelidikan tentang jalannya sejarah
sehingga orang dapat menengok ke belakang sebagai landasan melihat keadaan zaman
yang bersangkutan dan selanjutnya mengatur hari-hari yang akan datang.
Masalah periodisasi sejarah sastra Indonesia secara eksplisit telah diperlihatkan oleh Ajip
Rosidi dalam Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (1969), Jakob Sumardjo dalam Lintasan
Sejarah Sastra Indonesia 1 (1992), dan Rahmat Joko Pradopo dalam Beberapa Teori Sastra,
Metode Kritik, dan penerapannya (1995).

Secara garis besar Ajib Rosidi (1969: 13) membagi sejarah sastra Indonesia sebagai berikut:

1. Masa Kelahiran atau Masa Kebangkitan yang mencakup kurun waktu 1900-1945 yang
dapat dibagi lagi menjadi beberapa period, yaitu
a. Period awal hingga 1933
b. Periode 1933-1942
c. Periode 1942-1945

2. Masa Perkembangan (1945-1968) yang dapat dibagi-bagi menjadi beberapa period,


yaitu
a. Period 1945-1953

b. Period 1953-1961

c. Period 1061-1968

Menurut Ajip, warna yang menonjol pada periode awal (1900-1933) adalah persoalan
adat yang sedang menghadapai akulturasi sehingga menimbulkan berbagai problem bagi
kelangsungan eksistensi masing-masing, sedangkan periode 1933-1942 diwarnai pencarian
tempat di tengah pertarungan kebudayaan Timur dan Barat dengan pandangan romantic-
idealis.
Perubahan terjadi pada periode 1942-1945 atau masa pendudukan Jepang yang
melahirkan warna pelarian, kegelisahan, dan peralihan, sedangkan warna perjuangan dan
pernyataan diri di tengah kebudayaan dunia tampak pada periode 1945-1953 dan
selanjutnya warna pencarian identitas diri dan sekaligus penilaian kembali terhadap warisan
leluhur tampak menonjol pada periode 1953-1961. Pada periode 1961-1968 tampak
menonjol warna perlawanan dan perjuangan mempertahankan martabat, sedangkan
sesudahnya tampak warna percobaan dan penggalian berbagai kemungkinan pengucapan
sastra.
Pada kenyataanya telah tercatat lima angkatan yang muncul dengan rentang waktu 10
– 15 tahun sehingga dapat disusun perodisasi sejarah sastra Indonesia modern sebagai
berikut:

1. Sastra Awal (1900 – an ),

2. Sastra Balai Pustaka (1920 – 1942)

3. Sastra Pujangga Baru (1930 – 1942)

4. Sastra Angkatan 45 (1942 – 1955)


5. Sastra Generasi Kisah (1955 – 1965)

6. Sastra Generasi Horison (1966)

Dikatakan oleh Jakob bahwa penamaan itu didasarkan pada nama badan penerbitan
yang menyiarkan karya para sastrawan, seperti Penerbit Balai Pustaka, majalah Pujangga
Baru, majalah Kisah, dan majalah Horison, kecuali angkatan 45 yang menggunakan tahun
revolusi Indonesia. Ada juga penamaan angkatan 66 yang dicetuskan H.B.Jassin dengan
merujuk gerakan politik yang penting di Indonesia pada sekitar tahun 1966.
Setelah meninjau periodisasi sejarah sastra Indonesia dari H.B.Jassin, Boejoeng
Saleh, Nugroho Notosusanto, Bakri Siregar, dan Ajip Rosidi, maka tawaran Rachmat Djoko
Pradopo mengenai periodisasi sejarah sastra Indonesia adalah sebagai berikut:

1. Periode Balai Pustaka : 1920-1940

2. Periode Pujangga Baru : 1930-1945

3. Periode Angkatan 45 : 1940-1955

4. Periode Angkatan 50 : 1950-1970

5. Periode Angkatan 70 : 1965-1984

Dari pendapat para pakar di atas, maka dapat disimpulkan periodisasi sastra sebagai berikut:

1. Angkatan balai pustaka

2. Angkatan pujangga baru

3. Angkatan ’45,

4. Angkatan 50-an.

5. Angkatan 60-an,

6. Angkatan kontemporer (70-an–sekarang).

C. Periodesasi Sastra Indonesia

1) Angkatan Balai Pustaka

Nama penerbit balai pustaka sudah tidak asing lagi bagi masyarakat terpelajar Indonesia
karena sekarang balai pustaka merupakan salah satu penerbit besar yang banyak memproduksi
berbagai jenis buku. Nama tersebut telah bertahan selama lebih dari 90 tahun, kalau dihitung
dari berdirinya pada tahun 1917 yang merupakan pengukuhan Komisi untuk Sekolah Bumiputra
dan Bacaan Rakyat (commissie voor de inlandsche school en volkslectuur) yang didirikan oleh
pemerintah colonial belanda pada 14 september 1908. Jelas bahwa badan penerbit itu
merupakan organ pemerintah colonial yang semangatnya boleh dikatakan berseberangan
dengan penerbit-penerbit swasta, baik yang semata-mata bervisi komersial maupun bervisi
kebangsaan. Akan tetapi, mengingat sejarahnya yang panjang itu maka sepantasnya menjadi
bagian khusus dalam pengkajian aatau telaah sejarah sastra Indonesia.

Secara teoretis dapat dikatakan banyak masalah yang dapa diungkapkan ari balai
pustaka selama ini, antara lain visi dan misi, status, program kerja, para tokoh, kebijakan
redaksi, pengarang, distribusi, dan produksi. Telaah semacam itu dapat dijadikan pengkajian
sejarah mikro yang pasti relevan dengan sejarah makro sastra Indonesia. Ditambah dengan
pengkajian berbagai gejala yang berkembang di sekitarnya pastilah memperluas wawasan
pengetahuan masyarakat. Mungkin saja kemudian berkembang pendapat bahwa balai pustaka
ternyata bukan satu-satunya penerbit pada tahun 1920-an membuka tradisi sastra modern, atau
justru dilupakan saja karena berjejak colonial.

Ciri-ciri umum roman angkatan balai pustaka:

1. Bersifat kedaerahan, karena mengungkapkan persoalan yang hanya berlaku di daerah


tertentu, khususnya Sumatra barat.

2. Bersufat romantic-sentimental, karena ternyata banyak roman yang mematikan tokoh-


tokohnya atau mengalami penderitaan yang luar biasa.

3. Bergata bahasa seragam, karena dikemas oleh redaksi balai pustaka, sehingga gaya
bahsanya tidak berkembang.

4. Bertema sosial, karena belum terbuka kesempatan mempersoalkan masalah polotik,


watak, agama, dan lain-lain.

Sejumlah tokoh dan karyanya dalam angkatan balai pustaka, yaitu:

1. Abdul Muis

Abdul muis (lahir di solok, Sumatra barat, tahun 1886, meninggal di bandung 17 juli 1959),
Pendidikan terakhirnya adalah di Stovia (sekolah kedokteran, sekarang Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia), Jakarta akan tetapi tidak tamat. Ia juga pernah menjadi anggota
Volksraad yang didirikan pada tahun 1916 oleh pemerintah penjajahan Belanda. Ia dimakamkan
di TMP Cikutra – Bandung dan dikukuhkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden RI,
Soekarno, pada 30 Agustus 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 218 Tahun
1959, tanggal 30 Agustus 1959).

Karya-karyanya yang terkenal :

a. Salah Asuhan (novel, 1928, difilmkan Asrul Sani, 1972)

b. Pertemuan Jodoh (novel, 1933)

c. Surapati (novel, 1950)

Novel asing yang pernah diterjemahkan oleh Abdul Muis antara lain :
a. Don Kisot (karya Cerpantes, 1923)

b. Tom Sawyer Anak Amerika (karya Mark Twain, 1928)

c. Sebatang Kara (karya Hector Melot, 1932)

2. Marah rusli

Marah Rusli, sang sastrawan itu, bernama lengkap Marah Rusli bin Abu Bakar. Ia dilahirkan di
Padang pada tanggal 7 Agustus 1889. Ayahnya, Sultan Abu Bakar, adalah seorang bangsawan
dengan gelar Sultan Pangeran. Ayahnya bekerja sebagai demang. Marah Rusli mengawini gadis
Sunda kelahiran Bogor pada tahun 1911. Mereka dikaruniai tiga orang anak, dua orang laki-laki
dan seorang perempuan. Perkawinan Marah Rusli dengan gadis Sunda bukanlah perkawinan
yang diinginkan oleh orang tua Marah Rusli, tetapi Marah Rusli kokoh pada sikapnya, dan ia
tetap mempertahankan perkawinannya.

Selain Siti Nurbaya, Marah Rusli juga menulis beberapa roman lainnya. Akan tetapi, Siti
Nurbaya itulah yang terbaik. Roman itu mendapat hadiah tahunan dalam bidang sastra dari
Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1969 dan diterjemahkan ke dalam bahasa
Rusia.Karya-karyanya yang terkenal antara lain :

a) Siti Nurbaya. Jakarta : Balai Pustaka. 1920 mendapat hadiah dari Pemerintah RI tahun
1969.

b) La Hami. Jakarta : Balai Pustaka. 1924.

c) Anak dan Kemenakan. Jakarta : Balai Pustaka. 1956.

3. Merari Siregar

Merari Siregar (lahir di Sipirok, Sumatera Utara pada 13 Juli 1896 dan wafat di Kalianget,
Madura, Jawa Timur pada 23 April 1941) adalah sastrawan Indonesia angkatan Balai Pustaka.

Setelah lulus sekolah Merari Siregar bekerja sebagai guru bantu di Medan. Kemudian dia pindah
ke Jakarta dan bekerja di Rumah Sakit CBZ (sekarang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo).
Terakhir pengarang ini pindah ke Kalianget, Madura, tempat ia bekerja di Opium end Zouregie
sampai akhir hayatnya.

Karya-karyanya yang terkenal adalah

a) Azab dan Sengsara. Jakarta: Balai Pustaka. Cet. 1 tahun 1920,Cet.4 1965.

b) Binasa Karena Gadis Priangan. Jakarta: Balai Pustaka 1931.

c) Cerita tentang Busuk dan Wanginya Kota Betawi. Jakarta: Balai Pustaka 1924.
4. Nur Sutan Iskandar

Nur Sutan Iskandar (Sungai Batang, Sumatera Barat, 3 November 1893 – Jakarta, 28 November
1975) adalah sastrawan Angkatan Balai Pustaka.

Nur Sutan Iskandar memiliki nama asli Muhammad Nur. Seperti umumnya lelaki Minangkabau
lainnya Muhammad Nur mendapat gelar ketika menikah. Gelar Sutan Iskandar yang
diperolehnya kemudian dipadukan dengan nama aslinya dan Muhammad Nur pun lebih dikenal
sebagai Nur Sutan Iskandar sampai sekarang.

Nur Sutan Iskandar tercatat sebagai sastrawan terproduktif di angkatannya. Selain mengarang
karya asli ia juga menyadur dan menerjemahkan buku-buku karya pengarang asing seperti
Alexandre Dumas, H. Rider Haggard dan Arthur Conan Doyle. Karya-karyanya yang terkenal
antara lain :

a) Apa Dayaku karena Aku Perempuan (Jakarta: Balai Pustaka, 1923)

b) Cinta yang Membawa Maut (Jakarta: Balai Pustaka, 1926)

c) Salah Pilih (Jakarta: Balai Pustaka, 1928)

d) Abu Nawas (Jakarta: Balai Pustaka, 1929)

e) Karena Mentua (Jakarta: Balai Pustaka, 1932)

2) Angkatan Pujangga Baru

a. Latar belakang terbitnya Pujangga Baru

Buku Pujangga Baru, Prosa dan Puisi yang disusun oleh H.B Jasin adalah sebuah bunga
rampai (antologia) dari para pengarang dan penyair yang oleh penyusunnya digolongkan ke
dalam Angkatan Pujangga Baru Seperti diketahui, oleh para ahli dan parapenyusun buku-buku
pelajaran sastra Indonesia, perkembangan sastra Indonesia dibagi-bagi menjadi angkatan-
angkatan. Angkatan Pujangga Baru biasanya ditempatkan sebagai angkatan kedua, yaitu
setelah angkatan Balai Pustaka dan mendahului kelahiran angkatan‘45. Tetapi kita lihat
pembagian sejarah sastra Indonesia dalam angkatan-angkatan ini, tidaklah disertai dengan
alasan-alasan yang bisa kita terima. Tidak sedikit pula para sastrawan yang menolak atau tidak
mau dimasukan dalam sesuatu angkatan, mereka memilih masuk angkatan yang disukainya.
Misalnya Achdiat K. Mihardja pernah menyatakan bahwa ia lebih suka digolongkan kepada
angkatan Pujangga Baru, padahal para ahli telah menggolongkannya kepada angkatan ‘45.

Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai
Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra
yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah
sastra intelektual, nasionalistik dan elitis.
Ketika sastra Indonesia dikuasai oleh angkatan Pujangga Baru, masa-masa tersebut lebih
dikenal sebagai Masa Angkatan Pujangga Baru. Masa ini dimulai dengan terbitnya majalah
Pujangga Baru pada Mei 1933. Majalah inilah yang merupakan terompet serta penyambung
lidah para pujangga baru. Penerbitan majalah tersebut dipimpin oleh tiga serangkai pujangga
baru, yaitu Amir Hamzah, Armijn Pane, dan Sutan Takdir Alisjahbana.

Dalam manivestasi pujangga baru dinyatakan bahwa fungsi kesusastraan itu, selain
melukiskan atau menggambarkan tinggi rendahnya suatu bangsa, juga mendorong bangsa
tersebut ke arah kemajuan.

b. Karakteristik Karya Angkatan Pujangga Baru

a. Dinamis

b. Bercorak romantik/idealistis, masih secorak dengan angkatan sebelumnya, hanya saja


kalau romantik angkatan Siti Nurbaya bersifat fasip, sedangkan angkatan Pujangga Baru
aktif romantik. Hal ini berarti bahwa cita-cita atau ide baru dapat mengalahkan atau
menggantikan apa yang sudah dianggap tidak berlaku lagi.

c. Angkatan Pujangga Baru menggunakan bahasa Melayu modern dan sudah


meninggalkan bahasa klise. Mereka berusaha membuat ungkapan dan gaya bahasa
sendiri. Pilihan kata, Penggabungan ungkapan serta irama sangat dipentingkan oleh
Pujangga Baru sehingga dianggap terlalu dicari-cari.

Ditilik bentuknya, karya angkatan Pujangga Baru mempunyai ciri-ciri:

a. Bentuk puisi yang memegang peranan penting adalah soneta, disamping itu ikatan-
ikatan lain seperti quatrain dan quint pun banyak dipergunakan. Sajak jumlah suku kata
dan syarat-syarat puisi lainnya sudah tidak mengikat lagi, kadang-kadang para Pujangga
Baru mengubah sajak atau puisi yang pendek-pendek, cukup beberapa bait saja. Sajak-
sajak yang agak panjang hanya ada beberapa buah, misalnya ”Batu Belah” dan ”Hang Tuah”
karya Amir Hamjah.

b. Tema dalam karya prosa (roman) bukan lagi pertentangan faham kaum muda
dengan adat lama seperti angkatan Siti Nurbaya, melainkan perjuangan kemerdekaan dan
pergerakan kebangsaan, misalnya pada roman Layar Terkembang karya Sutan Takdir
Alisyahbana

c. Bentuk karya drama pun banyak dihasilkan pada masa Pujangga Baru dengan
tema kesadaran nasional. Bahannya ada yang diambil dari sejarah dan ada pula yang
semata-mata pantasi pengarang sendiri yang menggambarkan jiwa dinamis.
c. Pengarang Angkatan Pujangga Baru dan Karyanya

1. Sutan Takdir Alisjahbana

Orang besar ini dilahirkan di Natal (Tapanuli) pada 11-02-1908. Setelah menamatkan HIS
di Bengkulu ia memasuki Kweekschool di Bukitinggi dan kemudian HKS di Bandung.
Setelah itu ia belajar untuk Hoof Dacte di Jakarta dan juga belajar pada Sekolah Hakim
Tinggi. Selain itu belajar pula tentang filsafat dan kebudayaan pada Fakultas sastra.
Pendidikan yang beraneka ragam yang pernah dialaminya serta cita-cita dan keinginan
yang keras itu, menyebabkan keahlian yang bermacam-macam pula pada dirinya.
Karangannya mempunyai bahasa yang sederhana tetapi tepat. Karya-karyanya antara lain:

a. Tak Putus Dirundung Malang (roman, 1929)

b. Dian Tak Kunjung Padam (roman, 1932)

c. Anak Perawan Disarang Penyamun (roman, 1941)

d. Layar Terkembang (roman tendenz, 1936)

2. Amir Hamzah

Amir Hamzah yang bergelar Pangeran Indera Putra, lahir pada 28-2-1911 di
Tanjungpura (Langkat), dan meninggal pada bulan Maret 1946. Ia keturunan bangsawan,
kemenakan dan menantu Sultan Langkat, serta hidup ditengah-tengah keluarga yang taat
beragama Islam. Ia mengunjungi HIS di Tanjungpura, Mulo di Medan, dan Jakarta AMS, AI
(bagian Sastra Timur) di Solo. Ia menuntut ilmu pada Sekolah Hakim Tinggi sampai kandidat.
Amir Hamzah lebih banyak mengubah puisi sehingga mendapat sebutan “Raja Penyair”
Pujangga Baru. Karya-karyanya antara lain:

a. Nyanyi Sunyi (kumpulan sajak, 1937)

b. Buah Rindu (kumpulan sajak, 1941)

c. Setanggi Timur (kumpulan sajak, 1939)

d. Bhagawad Gita (terjemahan salah satu bagian mahabarata)

3. Sanusi Pane

Sanusi Pane lahir di Muara Sipongi, 14-11-1905. Ia mengunjungi SR di Padang


Sidempuan, Sibolga, dan Tanjungbalai, kemudian HIS Adabiyah di Padang, dan
melanjutkan pelajarannya ke Mulo Padang dan Jakarta, serta pendidikannya pada
Kweekschool Gunung Sahari Jakarata pada tahun 1925. Pada tahun 1928, ia pergi ke
India untuk memperdalam pengetahuannya tentang kebudayaan India. Sekembalinya dari India
ia memimpin majalah Timbul. Di samping sebagai guru pada Perguruan Jakarta, ia menjabat
pemimpin surat kabar Kebangunan dan kepala pengarang Balai Pustaka sampai tahun 1941.
Pada jaman pendududkan Jepang menjadi pegawai tinggi Pusat Kebudayaan Jakarta dan
kemudian bekerja pada Jawatan Pendidikan Masyarakat di Jakarta. Karya-karyanya antara lain:

a. Pancaran Cinta (kumpulan prosa lirik, 1926)

b. Puspa Mega (kumpulan puisi, 1927)

c. Madah Kelana (kumpulan puisi, 1931)

4. Muhamad Yamin, SH.

Prof. Muhammad Yamin, SH. dilahirkan di Sawahlunto, Sumbar, 23 agustus 1905. Setelah
menamatkan Volkschool, HIS dan Normaalschool, ia mengunjungi sekolah-sekolah vak
seperti sekolah pertanian dan peternakan di Bogor. Kemudian menamatkan AMS di
Jogyakarta pada tahun 1927. Akhirnya ia memasuki Sekolah Hakim di Jakarta hingga bergelar
pada tahun 1932. Pekerjaan dan keahlian Yamin beraneka ragam, lebih-lebih setelah
Proklamasi Kemerdekaan 19’45, ia memegang jabatan-jabatan penting dalam kenegaraan
hingga akhir hayatnya (26 Oktober 1962). Ia pun tidak pernah absen dalam revolusi. Karya-
karyanya antara lain:

a. Tanah Air (kumpulan puisi, 1922)

b. Indonesia Tumpah Darahku (kumpulan puisi, 1928)

c. Menanti Surat dari Raja (sandiwara, terjemahan Rabindranath Tagore)

d. Di Dalam dan Di Luar Lingkungan Rumah Tangga (Terjemahan dari Rabindranath


Tagore)

e. Ken Arok dan Ken Dedes (sandiwara, 1934)

5. J.E. Tatengkeng

Lahir di Kalongan, Sangihe, 19 Oktober 1907. Pendidikannya dimulai dari SD kemudian


pindah ke HIS Tahuna. Kemudian pindah ke Bandung, lalu ke KHS Kristen di Solo. Ia pernah
menjadi kepala NS Tahuna pada tahun 1947. Karya-karyanya bercorak religius. Dia juga
sering melukiskan Tuhan yang bersifat Universal. Karyanya antara lain Rindu Dendam
(kumpulan sajak, 1934).
6. Hamka

Hamka adalah singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Ia lahir di Maninjau,
Sumatera Barat, 16 Februari 1908. Dia putera Dr. H. Abdul Karim Amrullah, seorang teolog
Islam serta pelopor pergerakan berhaluan Islam modern dan tokoh yang ingin
membersihkan agama Islam dari khurafat dan bid’ah. Pendidikan Hamka hanya sampai
kelas dua SD, kemudian mengaji di langgar dan madsrasah. Ia pernah mendapat didikan
dan bimbingan dari H.O.S Tjokroaminoto. Prosa Hamka bernafaskan religius menurut
konsepsi Islam. Ia pujangga Islam yang produktif. Karyanya antara lain:

a. Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938)

b. Di Dalam Lembah kehidupan (kumpulan cerpen, 1941)

c. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk (roman, 1939)

d. Kenang-Kenangan Hidup (autobiografi, 1951)

e. Ayahku (biografi)

f. Karena Fitnah (roman, 1938)

3) Angkatan 45
a. Sejarah Lahirnya Angkatan ‘45

Jika diruntut berdasarkan periodesasinya, sastra Indonesia Angkatan ‘45 bisa


dikatakan sebagai angkatan ketiga dalam lingkup sastra baru Indonesia, setelah
angkatan Balai Pustaka dan angkatan Pujangga Baru. Munculnya karya-karya sastra
Angkatan ‘45 yang dipelopori oleh Chairil Anwar ini memberi warna baru pada
khazanah kesusastraan Indonesia. Bahkan ada orang yang berpendapat bahwa sastra
Indonesia baru lahir dengan adanya karya-karya Chairil Anwar, sedangkan karya-karya
pengarang terdahulu seperti Amir Hamzah, Sanusi Pane, St.Takdir Alisjahbana, dan lain-
lainnya dianggap sebagai karya sastra Melayu. Pada mulanya angkatan ini disebut
dengan berbagai nama, ada yang menyebut Angkatan Sesudah Perang, Angkatan
Chairil Anwar, Angkatan Kemerdekaan, dan lain-lain. Baru pada tahun 1948, Rosihan
Anwar menyebut angkatan ini dengan nama Angkatan ‘45. Nama ini segera menjadi
populer dan dipergunakan oleh semua pihak sebagai nama resmi. Meskipun namanya
sudah ada, tetapi sendi-sendi dan landasan ideal angkatan ini belum dirumuskan. Baru
pada tahun 1950 “Surat Kepercayaan Gelanggang” dibuat dan diumumkan. Ketika itu
Chairil Anwar sudah meninggal. Surat kepecayaan itu ialah semacam pernyataan sikap
yang menjadi dasar pegangan perkumpulan “Selayang Seniman Merdeka”. Masa Chairil
Anwar masih hidup. Angkatan ‘45 lebih realistik dibandingkan dengan Angkatan Pujangga
Baru yang romantik idealistik. Semangat patriotik yang ada pada sebagian besar sastrawan
Angkatan ‘45 tercermin dari sebagian besar karya-karya yang dihasilkan oleh
parasastrawan tersebut. Beberapa karya Angkatan ‘45 ini mencerminkan perjuangan
menuntut kemerdekaan. Banyak pula di antaranya yang selalu mendapatkan kecaman, di
antaranya Pramoedya Ananta Toer. Pramoedya dengan keprofesionalannya masih eksis
menghasilkan karya-karya terutama mengenai perjuangan mencapai kemerdekaan
Indonesia. Bahkan sampai saat ini karya-karya Pramoedya masih digandrungi khususnya
oleh penikmat sastra. Sebegitu banyak orang yang memproklamasikan kelahiran dan
membela hak hidup Angkatan ‘45, sebanyak itu pulalah yang menentangnya. Armijn
Pane berpendapat bahwa Angkatan ‘45 ini hanyalah lanjutan belaka dari apa yang sudah
dirintis oleh angkatan sebelumnya, yaitu Angkatan Pujangga Baru. Sutan Takdir
Alisyahbana pun berpendapat demikian.

2. Karakteristik Karya Angkatan ‘45

a. Bercorak lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga Baru yang romantik-
idealistik.

b. Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya mewarnai karya sastrawan


Angkatan ’45.

c. Bahasanya lugas, hidup dan berjiwa serta bernilai sastra.

d. Sastrawannya lebih berjiwa patriotik.

e. Bergaya ekspresi dan revolusioner (H.B.Yassin).

3. Sastrawan Angkatan ‘45 dan Karyanya

1. Chairil Anwar

Chairil Anwar lahir di Medan, 22 Juli 1922. Sekolahnya hanya sampai MULO
(SMP) dan itu pun tidak tamat. Kemudian ia pindah ke Jakarta. Ia merupakan orang yang
banyak membaca dan belajar sendiri, sehingga tulisan-tulisannya matang dan padat berisi.
Chairil Anwar berusaha memperbarui penulisan puisi. Puisi yang diubahnya berbentuk
bebas, sehingga disebut puisi bebas. Ia diakui sebagai pelopor Angkatan ‘45 di
bidang sebagai alat untuk mencapai isi. Chairil Anwar termasuk penyair yang penuh
vitalitas (semangat hidup yang menyala-nyala) dan individualistis (kuat rasa akunya).
Puisi gubahannya berirama keras (bersemangat), tetapi ada juga yang bernafas
ketuhanan seperti “Isa” dan “Do’a”. Karya-karya Chairil Anwar antara lain:

a. Deru Campur Debu (kumpulan puisi)

b. Tiga Menguak Takdir (kumpulan puisi karya bersama Rivai Apin dan Asrul Sani)

c. Kerikil Tajam dan Yang Terhempas dan Yang Putus (kumpulan puisi)
2. Asrul Sani

Asrul Sani lahir di Rao, Sumatera Barat, 10 Juni 1926. Ia seorang dokter hewan.
Pernah memimpin majalah Gema dan harian Suara Bogor. Tulisannya berpegang
pada moral dan keluhuran jiwa. Asrul Sani adalah seorang sarjana kedokteran
hewan, yang kemudian menjadi direktur Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI)
dan menjadi ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (LESBUMI),
juga pernah duduk sebagai anggota DPRGR/MPRS wakil seniman. Asrul Sani juga
dikenal sebagai penulis skenario film hingga sekarang. Karya-karya Asrul Sani antara lain:

a. Sahabat Saya Cordiaz (cerpen)

b. Bola Lampu (cerpen)

c. Anak Laut (sajak)

3. Sitor Situmorang

Lahir di Tapanuli Utara, 21 Oktober 1924. Ia cukup lama bermukim di Prancis.


Sitor juga diakui sebagai kritikus sastra Indonesia. Karya-karya Sitor Situmorang
antara lain:

a. Surat Kertas Hijau (1954)

b. Jalan Mutiara (kumpulan drama)

c. Dalam Sajak (1955)

d. Wajah Tak Bernama (1956)

e. Zaman Baru (kumpulan sajak)

4. Idrus

Lahir di Padang, 21 September 1921. Idrus dianggap sebagai salah seorang tokoh pelopor
Angkatan ‘45 di bidang prosa, walaupun ia selalu menolak penamaan itu. Karyanya
bersifat realis-naturalis (berdasarkan kenyataan dalam alam kehidupan) dengan sindiran
tajam. Karya-karyanya antara lain:

a. Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (novel)

b. A K I (novel)

c. Hikayat Puteri Penelope (novel, terjemahan)

d. Anak Buta (cerpen)


e. Perempuan dan Kebangsaan

5. Hamzah Fansuri

Dalam karya-karyanya tampak pengaruh dari kakaknya, Amir Hamzah dan R.


Tarogo. Karya-karyanya antara lain:

a. Teropong (cerpen)

b. Bingkai Retak (cerpen)

c. Sine Nomine (cerpen)

d. Buku dan Penulis (kritik)

6. Rivai Apin

Penyair yang seangkatan Chairil Anwar, yang bersama-sama mendirikan


“Gelanggang Seniman Merdeka” ialah Asrul Sani dan Rival Apin. Ketiga penyair itu,
Chairil-Asrul-Rivai, dianggap sebagai trio pembaharu puisi Indonesia, pelopor Angkatan ‘45.
Ketiga penyair itu menerbitkan kumpulan sajak bersama, Tiga Menguak Takdir. Rivai
Apin menulis tidak selancar Asrul Sani. Selain menulis sajak, ia pun menulis cerpen,
esai, kritik, skenario film, menerjemahkan, dan lain-lain. Tahun 1954 ia sempat
mengejutkan kawan-kawannya, ketika keluar dari redaksi Gelanggang dan beberapa
waktu kemudian ia masuk ke lingkungan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), serta
beberapa waktu sempat memimpin majalah kebudayaan Zaman Baru yang menjadi organ
kebudayaan PKI. Setelah terjadi G 30 S/PKI, Rivai termasuk tokoh Lekra yang
karya-karyanya dilarang.

7. Achdiat Karta Mihardja

Ia menguasai ilmu politik, tasawuf, filsafat, dan kemasyarakatan. Pernah menjadi staf
Kedubes RI di Canberra, Australia. Karya-karyanya antara lain:

a. Atheis (roman)

b. Bentrokan Dalam Asmara (drama).

c. Polemik Kebudayaan (esai)

d. Keretakan dan Ketegangan (kumpulan cerpen)

e. Kesan dan Kenangan (kumpulan cerpen)


4) Angkatan 50

a. Sejarah Lahirnya Periode ‘50

Slamet Muljono pernah menyebut bahwa sastrawan Angkatan ‘50 hanyalah


pelanjut (successor) saja, dari angkatan sebelumnya (’45). Tinjauan yang mendalam dan
menyeluruh membuktikan bahwa masa ini pun memperlihatkan ciri-cirinya, yaitu:

a. Berisi kebebasan sastrawan yang lebih luas di atas kebiasaan (tradisi) yang diletakan
pada tahun 1945.

b. Masa ‘50 memberikan pernyataan tentang aspirasi (tujuan yang terakhir dicapai
nasional lebih lanjut). Periode ‘50 tidak hanya pengekor (epigon) dari angkatan ‘45,
melainkan merupakan survival, setelah melalui masa-masa kegonjangan. Adapun ciri-
cirinya yang lebih rinci adalah sebagai berikut:

1. Pusat kegiatan sastra makin banyak jumlahnya dan makin meluas daerahnya
hampir di seluruh Indonesia, tidak hanya berpusat di Jakarta dan Yogyakarta.

2. Terdapat pengungkapan yang lebih mendalam terhadap kebudayaan daerah


dalam menuju perwujudan sastra nasional Indonesia.

3. Penilaian keindahan dalam sastra tidak lagi didasarkan kepada kekuasaan asing,
tetapi lebih kepada peleburan (kristalisasi) antara ilmu dan pengetahuan asing
dengan perasaan dan ukuran nasional.

2. Ciri-ciri Periode 50-an

Angkatan 50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B.
Jasin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi oleh cerita pendek dan
kumpulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan
majalah sastra lainnya. Kemudian angkatan ini dikenal dengan karyanya berupa sastra
majalah Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan yang
bergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), yang berkonsep sastra
realisme sosialis. Timbullah perpecahan antara sastrawan sehingga menyebabkan
mandegnya perkembangan sastra, karena masuk ke dalam politik praktis, sampai
berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30 S/PKI di Indonesia.

Adapun ciri-ciri dari periode ini antara lain:

a. Umumnya karya sastrawan sekitar tahun 1950-1960-an;

b. Sampai tahun 1950-1955, sastrawan angkatan ‘45 juga masih menerbitkan


karyanya;

c. Corak karya cukup beragam, karena pengaruh faktor politik/idiologi partai;


d. Terjadi peristiwa G 30 S/PKI sehingga sastrawan Lekra disingkirkan.

3. Sastrawan Periode ‘50 dan Karyanya

1. Ajip Rosidi

Lahir di Jatiwangi, Majalengka, 1938. Sejak berumur 13 tahun sudah menulis di


majalah-majalah sekolah, kemudian di majalah orang dewasa. Karya-karyanya antara lain:

a. Cari Mauatan (kumpulan sajak, 1956)

b. Ditengah keluarga (1956)

c. Pertemuan Kembali (1960)

d. Sebuah Rumah Buat Hari Tua

2. Ali Akbar Navis

Lahir di Padang Panjang, 17 November 1924. Sejak tahun 1950 mulai terlibat dalam
kegiatan sastra. Ia keluaran INS Kayu Taman. Karya-karyanya antara lain:

a. Bianglala (kumpulan cerita pendek, 1963)

b. Hujan Panas (kumpulan cerita pendek, 1963)

c. Robohnya Surau Kami (kumpulan cerita pendek, 1950)

d. Kemarau (novel, 1967)

3. NH. Dini

NH. Dini, nama lengkapnya Nurhayati Suhardini, lahir 29 Pebruari 1936. Setelah
menamatkan SMA 1956, lalu masuk kursus stewardess, kemudian bekerja di GIA
Jakarta. Karya-karyanya banyak mengisahkan kebiasaan barat yang bertentangan dengan
timur. Karya-karyanya antara lain:

a. Dua Dunia (1950)

b. Hati yang Damai (1960)

4. Nugroho Notosusanto

Lahir di Rembang, 15 Juni 1931. Dia bergerak dalam kemasyarakatan dan pernah
menjadi Tentara Pelajar, lulusan Fakultas sastra UI Jakarta. Karya-karyanya antara lain:
a. Hujan Kepagian (kumpulan cerita pendek, 1958)

b. Rasa Sayange (1961)

c. Tiga Kota (1959)

d. Hujan Tanahku Hijau Bajuku (kumpulan cerita pendek, 1963)

5. Ramadhan K.H

Lahirkan di Bandung, 16 Maret 1927. Namanya mulai muncul sekitar tahun 1952.
Karyanya berupa sajak, cerita pendek, dan terjemahan-terjemahan karya Lorca,
pengarang Spanyol. Karya-karyanya antara lain:

a. Api dan Sirangka

b. Priangan si Jelita (kumpulan sajak, 1958, mendapat hadiah BMKM)

c. Yerna (terjemahan dari Lorca, 1959)

6. Sitor Situmorang

Lahir di Tapanuli, 21 Oktober 1924. Dia adalah angkatan ‘45, yang tetap produktif
menghasikan karya di tahun 50-an. Karya-karyanya antara lain:

a. Pertempuran dan Salju di Paris (1956, mendapat hadiah dari BMKM)

b. Jalan Mutiara (kumpulan tiga sandiwara, 1954)

c. Surat Kertas Hijau (kumpulan sajak, 1953)

d. Wajah Tak Bernama (kumpulan sajak, 1955)

7. Subagio Sastrowardojo

Karyanya antara lain:

a. Simphoni (sajak, 1957)

b. Kejantanan di Sumbing (1965)

c. Perawan Tua (cerpen)

d. Daerah perbatasan
8. Toto Sudarto Bachtiar

Lahir di Palimanan, Cirebon, 12 Oktober 1929. Pendidikannya Cultuur-School di


Tasikmalaya tahun 1946, Mulo Bandung 1948, SMA Bandung 1950, dan Fakultas
Hukum UI. Karya-karyanya antara lain:

a. Suara (kumpulan sajak, 1950-1955)

b. Elsa (kumpulan sajak, 1958)

9. Trisnojuwono

Lahir di Yoyakarta, 5 Desember 1929. Dia menamatkan SMA tahun 1947. Sejak 1946
masuk Tentara Rajyat Mataram, 1947-1948 anggota Corps Mahasiswa di Magelang
dan Jombang. Tahun 1950 masuk tantara Siliwangi, Combat Intelligence, Kesatuan
Komando, Pasukan Payung AURI sampai dapat Brevet. Karya-karyanya antara lain:

a. Laki-laki dan Mesiu (kumpulan cerita pendek, 1951/1957)

b. Angin Laut (kumpulan cerita pendek, 1958)

c. Di Medan Perang (1962)

d. Pagar Kawat Berduri.

5) Angkatan 60-an
Angkatan ini ditandai dengan terbitnya majalah sastra Horison. Semangat avant-garde
sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat
beragam dalam aliran sastra, antara lain munculnya karya sastra beraliran surrealistik, arus
kesadaran, arketip, absurd, dan lain-lain pada masa angkatan ini di Indonesia. Penerbit
Pustaka Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya karya sastra pada masa
angkatan ini. Sastrawan pada akhir angkatan yang lalu termasuk juga dalam kelompok ini
seperti Motinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan
Mohamad, Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk paus sastra
Indonesia, H.B. Jassin.

Seorang sastrawan pada angkatan 50-60-an yang mendapat tempat pada angkatan ini
adalah Iwan Simatupang. Pada masanya, karya sastranya berupa novel, cerpen dan drama
kurang mendapat perhatian bahkan sering menimbulkan kesalahpahaman; ia lahir mendahului
zamannya.

1. Sutardji Calzoum Bachri

Sutardji Calzoum Bachri lahir di Rengat, Indragiri Hulu pada tanggal 24 Juni 1941 adalah
pujangga Indonesia terkemuka. Setelah lulus SMA Sutardji Calzoum Bachri melanjutkan
studinya ke Fakultas Sosial Politik Jurusan Administrasi Negara, Universitas Padjadjaran,
Bandung. Pada mulanya Sutardji Calzoum Bachri mulai menulis dalam surat kabar dan
mingguan di Bandung, kemudian sajak-sajaknyai dimuat dalam majalah Horison dan Budaya
Jaya serta ruang kebudayaan Sinar Harapan dan Berita Buana.

Pada musim panas 1974, Sutardji Calzoum Bachri mengikuti Poetry Reading International di
Rotterdam. Kemudian ia mengikuti seminar International Writing Program di Iowa City, Amerika
Serikat dari Oktober 1974 sampai April 1975. Sutardji juga memperkenalkan cara baru yang unik
dan memikat dalam pembacaan puisi di Indonesia. Sejumlah sajaknya telah diterjemahkan
Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dalam antologi Arjuna in Meditation
(Calcutta, India), Writing from the World (Amerika Serikat), Westerly Review (Australia) dan
dalam dua antologi berbahasa Belanda: Dichters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststichting,
1975) dan Ik wil nog duizend jaar leven, negen moderne Indonesische dichters (1979). Pada
tahun 1979, Sutardji dianugerah hadiah South East Asia Writer Awards atas prestasinya dalam
sastra di Bangkok, Thailand.

2. Abdul Hadi Widji Muthari

Abdul Hadi Widji Muthari (lahir di Sumenep, Madura, Jawa Timur, 24 Juni 1946; umur 62 tahun)
adalah salah satu sastrawan Indonesia. Sejak kecil ia telah mencintai puisi. Penulisannya
dimatangkan terutama oleh karya-karya Amir Hamzah dan Chairil Anwar, ditambah dengan
dorongan orang tua, kawan dan gurunya. Beberapa karyanya :

1. Meditasi (1976)

2. Laut Belum Pasang (1971)

3. Cermin (1975)

4. Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975)

3. Sapardi Djoko Damono

Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono (lahir di Surakarta, 20 Maret 1940; umur 68 tahun) adalah
seorang pujangga Indonesia terkemuka. Ia dikenal dari berbagai puisi-puisi yang menggunakan
kata-kata sederhana, sehingga beberapa di antaranya sangat populer. Beberapa karyanya :

1. Dukamu Abadi – (kumpulan puisi)

2. Mata Pisau dan Akuarium – (kumpulan puisi)

3. Perahu Kertas – (kumpulan puisi)

4. Sihir Hujan – (kumpulan puisi)

4. Goenawan Soesatyo Mohammad


Goenawan Soesatyo Mohamad (lahir di Karangasem, Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941; umur
67 tahun) adalah seorang sastrawan Indonesia terkemuka. Ia juga salah seorang pendiri
Majalah Tempo. Penyair, esais, wartawan, yang sampai sekarang menjadi pimpinan umum
majalah Tempo ini termasuk penanda tangan Manifes Kebudayaan. GM adalah juga penerima
Anugerah Seni pemerintah RI, penerima Hadiah A. Teeuw tahun 1992 dan Hadiah Sastra
ASEAN tahun 1981.Di samping prestasi-prestasi di atas, GM pernah menjadi wartawan Harian
KAMMI, anggota DKJ, pimred Express, pimred majalah Zaman, redaktur Horison, anggota
Badan Sensor Film.

Goenawan Mohamad adalah seorang intelektual yang punya wawasan yang begitu luas, mulai
pemain sepak bola, politik, ekonomi, seni dan budaya, dunia perfilman, dan musik.
Pandangannya sangat liberal dan terbuka. Seperti kata Romo Magniz-Suseno, salah seorang
koleganya, lawan utama Goenawan Mohamad adalah pemikiran monodimensional. Beberapa
karya Goenawan Mohammad antara lain :

1. Interlude

2. Parikesit

3. Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang – (kumpulan esai)

4. Asmaradana

5. Misalkan Kita di Sarajevo

5. Iwan Martua Dongan Simatupang

Iwan Martua Dongan Simatupang lahir di Sibolga, Sumatera Utara tanggal 18 Januari 1928. Ia
belajar di HBS di Medan, lalu melanjtukan ke sekolah kedokteran (NIAS) di Surabaya tapi tidak
selesai. Kemudian belajar antropologi dan filsafat di Leiden dan Paris. Tulisan-tulisannya dimuat
di majalah Siasat dan Mimbar Indonesia mulai tahun 1952. Karya novel yang terkenal
Merahnya Merah (1968) mendapat hadiah sastra Nasional 1970, dan Ziarah (1970) mendapat
hadiah roman ASEAN terbaik 1977. Iwan Simatupang meninggal di Jakarta 4 Agustus 1970.
Beberapa karyanya antara lain :

1. Ziarah

2. Kering

3. Merahnya Merah

4. Koong
6. Taufiq Ismail

Taufiq Ismail (lahir di Bukittinggi, 25 Juni 1935; umur 73 tahun) ialah seorang sastrawan
Indonesia. Pengkategoriannya sebagai penyair Angkatan ’66 oleh Hans Bague Jassin
merisaukannya, misalnya dia puas diri lantas proses penulisannya macet. Ia menulis buku
kumpulan puisi, seperti Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Tirani dan Benteng, Tirani, Benteng,
Buku Tamu Musim Perjuangan, Sajak Ladang Jagung, Kenalkan, Saya Hewan, Puisi-puisi
Langit, Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI dkk, Ketika Kata Ketika Warna,
Seulawah-Antologi Sastra Aceh, dan lain-lain.

Penyair ini terkenal dengan kumpulan sanjak Tirani dan Benteng, tertbit tahun 1966. Sanjak
berjudul Seorang Tukang Rambutan dan Istrinya, Karangan Bunga, Sebuah Jaket Berlumur
Darah, Kami adalah Pemilik Sah Republik Ini, Yang Kami Minta Hanyalah… bisa dijumpai dalam
buku-buku tersebut. Kumpulan sanjaknya yang lain, Sajak Ladang Jagung (1973) terbit setelah
ia pulang dari Amerika. Dalam buku tersebut, kita bisa membaca Kembalikan Indonesia Padaku,
Beri Daku Sumba, Bagaimana Kalau ….. Sejak puluhan tahun yang lalu (1974) Taufiq bekerja
sama dengan Bimbo Group dalam penulisan lirik lagu. Kita bisa dengar nikmati lagu dan lirik
Aisyah Adinda Kita, Sajadah Panjang, Balada Nabi-nabi, Bermata tapi Tak Melihat, Ibunda
Swarga Kita, dan lain-lain dari dirinya. Taufiq Ismail juga menulis Sajak-sajak Si Toni, Balai-balai,
Membaca Tanda-tanda, Abad ke-15 Hijriah, Rasa Santun yang Tidur, Puisi-puisi Langit.

7. Bur Rasuanto

Bur Rasuanto dilahirkan di Palembang, 6 April 1937, adalah pengarang, penyair, wartawan. Ia
menulis kumpulan cerpen Bumi yang Berpeluh (1963) dan Mereka Akan Bangkit (1963). Bur
Rasuanto juga menulis roman Sang Ayah (1969); Manusia Tanah Air (1969) dan novel Tuyet
(1978).

8. Subagio Sastrawardoyo

Subagio Sastrawardoyo dilahirkan di Madiun, 1 Febuari 1924, meninggal di Jakarta, 18 Juli


1995. Penyair, pengarang, esais ini, pernah menjadi redaktur Balai Pustaka, dosen bahasa
Indonesia di Adelaide, dosen FS UGM, SESKOAD Bandung, Universitas Flinders, Australia
Selatan. I menulis kumpulan sanjak Simphoni (1957); Daerah Perbatasan, Kroncong Motenggo
(1975). Kumpulan esainya berjudul Bakat Alam dan Intelektualisme (1972); ManusiaTerasing di
Balik Simbolisme Sitor, Sosok Pribadi dalam Sajak (1980); antologi puisi Hari dan Hara;
kumcerpen Kejantanan di Sumbing (1965). Cerpennya Kejantanan di Sumbing dan puisinya Dan
Kematian Makin Akrab meraih penghargaan majalah Kisah dan Horison.

9. Titie Said Sadikun

Titie Said Sadikun dilahirkan di Bojonegoro, 11 Juli 1935. Pengarang dan wartawati yang
pernah menjadi redaktur majalah Wanita, Hidup, Kartini, Famili ini menulis kumpulan cerpen
Perjuangan dan Hati Perempuan (1962), novel Jangan Ambil Nyawaku (1977), Lembah Duka,
Fatimah yang difilmkan menjadi Budak Nafsu, Reinkarnasi, Langit Hitam di Atas Ambarawa.
10. Arifin C. Noer

Arifin C. Noer dilahirkan di Cirebon 10 Maret 1941, meninggal di Jakarta 28 Mei 1995. Penyair
yang juga dramawan dan sutradara film ini menulis sanjak Dalam Langgar, Dalam Langgar
Purwadinatan, naskah drama Telah Datang Ia, Telah Pergi Ia , Matahari di Sebuah Jalan Kecil ,
Monolog Prita Istri Kita dan Kasir Kita (1972, Tengul (1973), Kapai-kapai (1970), Mega-mega
(1966), Umang-umang (1976), Sumur Tanpa Dasar (1975), Orkes Madun, Aa Ii Uu, Dalam
Bayangan Tuhan atawa Interogasi, Ozon. Karya-karyanya yang lain: Nurul Aini (1963); Siti Aisah
(1964); Puisi-puisi yang Kehilangan Puisi-puisi (1967); Selamat pagi, Jajang (1979); Nyanyian
Sepi (1995); drama Lampu Neon (1963); Sepasang Pengantin (1968); Sandek,Pemuda Pekerja
(1979)

11. Hartoyo Andangjaya

Hartoyo Andangjaya dilahirkan di Solo 4 Juli 1930, meninggal di kota ini juga pada 30 Agustus
1990. Penyair yang pernah menjadi guru SMP dan SMA di Solo dan Sumatra Barat ini menulis
sanjak-sanjak terkenal berjudul Perempuan-perempuan Perkasa, Rakyat, juga Sebuah Lok
Hitam, Buat Saudara Kandung. Sanjak-sanjak tersebut bisa dijumpai dalam bukunya Buku Puisi
(1973). Musyawarah Burung (1983) adalah karya terjemahan liris prosaya tokoh sufi Fariduddin
Attar. Seratusan puisi karya penyair sufi terbesar sepanjang sejarah, Maulana Jalaluddin Rumi,
diambil dari Diwan Syamsi Tabriz, diterjemahkan dan dihimpunnya di bawah judul buku Kasidah
Cinta.

Hartoyo juga menulis antologi puisi Simponi Puisi (bersama DS Mulyanto, 1954), Manifestasi
(bersama Goenawan Mohamad dan Taufiq Ismail, 1963), kumpulan syair Dari Sunyi ke Bunyi
(1991).Karya-karya terjemahannya: Tukang Kebun (Tagore, 1976), Kubur Terhormat bagi Pelaut
(antologi puisi J. Slauerhoff, 1977), Rahasia hati (novel Natsume Suseki,1978); Puisi Arab
Modern (1984).Hartoyo Andangjaya termasuk penanda tangan Manifes Kebudayaan.

12. Slamet Sukirnanto

Slamet Sukirnanto dilahirkan di Solo 3 Maret 1941. Penyair ini menulis buku kumpulan puisi
Kidung Putih(1967); Gema Otak Terbanting; Jaket Kuning (1967), Bunga Batu (1979), Catatan
Suasana (1982), Luka Bunga (1991). Bersama A. Hamid Jabbar, Slamet mengeditori buku
Parade Puisi Indonesia (1993). Dalam buku itu, termuat sanjak-sanjaknya: Rumah, Rumah
Anak-anak Jalanan, Kayuh Tasbihku, Gergaji, Aku Tak Mau; Bersama Sutarji Calzoum Bachri
dan Taufiq Ismail, Slamet menjadi editor buku Mimbar Penyair Abad 21.

13. Mohammad Diponegoro

Mohammad Diponegoro dilahirkan di Yogya 28 Juni 1928, meninggal di kota yang sama 9 Mei
1982. Pengarang, dramawan, pendiri Teater Muslim, penyiar radio Australia ini menulis cerpen
Kisah Seorang Prajurit, roman Siklus, terjemahan puitis juz Amma Pekabaran/Kabar Wigati
(1977), kumpulan esai ketika ia menjadi redaktur Suara Muhammadiyah berjudul Yuk, Nulis
Cerpen, Yuk (1985). Mohammad Diponegoro juga menulis antologi puisi bersama penyair lain
bertajuk Manifestasi (1963), drama Surat pada Gubernur, Iblis (1983), buku esai Percik-percik
Pemikiran Iqbal (1984), antologi cerpen Odah dan Cerita Lainnya (1986).

6) Angkatan Kontemporer
1. Periode Angkatan 70’an

a. Ikhwal Periode 70-an

Tahun 1960-an adalah tahun-tahun subur bagi kehidupan dunia perpuisian Indonesia.
Tahun 1963 sampai 1965 yang berjaya adalah para penyair anggota Lekra (Lembaga
Kebudayaan Rakyat). Karya Sastra sekitar tahun 1966 lazim disebut angkatan ‘66. H.B.
Jassin menyebut bahwa pelopor angkatan ‘66 ini adalah penyair-penyair demonstran,
seperti Taufiq Ismail, Goenawan Mohamad, Mansur Samin, Slamet Kirnanto, dan sebagainya.
Tahun 1976 muncul puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri yang menjadi cakrawala baru
dalam dunia perpuisian Indonesia. Berikut ini disajikan beberapa penyair dan karyanya.

b. Sastrawan Angkatan 70-an dan Karyanya

1. Goenawan Mohamad

Lahir di Batang, Jawa Tengah, 29 juli 1941. Ia adalah tokoh pejuang angkatan ‘66 dalam
bidang sastra budaya. Memimpin majalah Tempo sejak 1971 hingga tahun 1998. Tahun
1972 mendapatkan Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia dan pada tahun 1973 ia
mengikuti Festival Penyair Internasional di Rotterdam. Ia banyak menulis puisi dengan
dasar dongeng-dongeng daerah atau cerita wayang disertai renungan kehidupan. Buku
kumpulan puisinya adalah Parikesit (1972), Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin
kundang (1972), Interclude (1973), Asmarandana (1995), dan Misalkan Kita di Sarajevo
(1998).

2. Taufiq Ismail

Lahir di Bukit Tinggi, 25 Juni 1937. Dibesarkan di Pekalongan, putra seorang wartawan
berdarah Minang. Ia merupakan dokter hewan lulusan IPB. Ia juga dikenal sebagai dramawan
terkenal di Bogor pada era 1960-an. Taufiq Ismail dikenal sebagai penyair puisi-puisi
demonstrasi. Ia sendiri aktif dalam demonstrasi. Kumpulan puisinya dibukukan dalam Tirani
(1966) dan Benteng (1966). Pernah mengikuti Festival Penyair Internasional di Rotterdam
(1971), International Writing Programm di Universitas Lowa (1973-1972), dan Kongres Penyair
Dunia di Taipei (1973). Ia pernah menerima Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia
tahun 1970. Kumpulan puisinya yang lain adalah Puisi-Puisi Sepi (1971), Pelabuhan, Ladang,
Angin, dan Langit (1971), dan Sajak-sajak Ladang Jagung (1975).

3. Sapardi Djoko Darmono

Puisi-puisi Sapardi Djoko Damono dikenal sebagai puisi “sangat sopan”, “sangat
gramatikal”, dan “sangat lembut”. Semula sang penyair tidak pernah dikaitkan dengan puisi-puisi
protes atau kritik sosial, namun kesan itu hilang setelah ia menulis Ayat-ayat Api (2000).
Meskipun ada kesan bahwa puisi-puisi Sapardi adalah puisi-puisi kamar yang harus
dibaca dalam keadaan sunyi, namun banyak juga puisi-puisinya yang sangat populer dan
dideklamasikan dalam lomba-lomba deklamasi serta dapat dikategorikan sebagai puisi
auditorium (cocok untuk dibaca di pentas). Kepenyairan Sapardi membentang sejak tahun
1960-an hingga saat ini. Kumpulan puisinya terakhir berjudul Ayat-ayat Api. Kepenyairannya
tidak mengganggu penjelajahannya dalam dunia ilmu sastra, sampai beliau menjadi pakar
sastra, Dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia, dan terakhir sebagai anggota Komisi
Disiplin Ilmu Sastra dan Filsafat, Dirjen Pendidikan Tinggi Depdiknas. Kumpulan-kumpulan
puisinya adalah Dukamu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Akuarium (1974), Perahu
Kertas (1984), Sihir Hujan (1989), Hujan Bulan Juni (1994) dan Ayat-ayat Api (2000).

4. Hartoyo Andang Jaya

Lahir di Solo, 1930, dan meninggal dunia di kota itu pula pada tahun 1990. Pernah
menjadi guru SLTP, SMU, dan STM. Ia pernah menjadi direktur majalah kanak-kanak Si
Kuncung (1962-1964). Panggilan kepenyairanya sangat kental, sehingga ia tidak mau bekerja di
luar bidangnya itu. Ia meninggal dalam keadaan sakit-sakitan. Setahun kemudian, hari
kematiannya diperingati di Taman Budaya Surakarta (Solo) dan Taman Ismail Marzuki
(Jakarta). Karyanya antara lain Simfoni Puisi (bersama D.S. Moeljanto, 1945) dan Buku
Puisi (1973).

2. Periode Angkatan 2000 atau Reformasi

a. Sejarah Angkatan Reformasi

Seiring terjadinya pergeseran kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke B.J. Habibie lalu K.H.
Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Soekarno Putri, muncul wacana tentang
sastrawan reformasi. Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra
puisi, cerpen maupun novel, yang bertemakan sosial-politik, khususnya seputar reformasi.
Di rubrik sastra Harian Republika misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubrik sajak-sajak
peduli bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaaan sajak dan penerbitan
buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik. Sastrawan reformasi
merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir 1990-an, seiring dengan
jatuhnya Orde Baru. Peristiwa reformasi 1998 banyak melatar belakangi kelahiran karya-
karya sastra seperti puisi, cerpen, dan novel. Bahkan, penyair yang semula jauh dari
tema sosial-politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Acep Zamzam Noer dan Ahmadun Yosi
Herfanda, juga ikut meramaikan suasana itu dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.
b. Ciri-ciri Periode 2000

1. Isi karya sastra sesuai situasi reformasi;

2. Bertema sosial-politik, romantik, naturalis;

3. Produktivitas karya sastra lebih marak lagi, seperti puisi, cerpen, novel;

4. Disebut angkatan reformasi;

5. Tahun 1998 merupakan puncak dari angkatan 90-an;

c. Sastrawan Angkatan 2000 dan Karyanya

1. Ahmadun Yosi Herfanda

Lahir di Kaliwungu, Kendal, 17 Januari 1958. Pendidikan: Alumnus FPBS IKIP Yogyakarta
menyelesaikan S2 di jurusan Magister Teknologi Informasi pada Univ. Paramadina Mulia,
Jakarta, 2005. Ia pernah menjadi Ketua III Himpunan Sarjana Kesastraan Indonesia
( 1993-1995) dan Ketua Presidium Komunitas Sastra Indonesia (1999-2002), Tahun 2003,
bersama cerpenis Hudan Hidayat dan Maman S. Mahayana menerbitkan Creative Writing
Institute. Ahmadun Pernah menjadi Anggota Dewan Penasihat Majelis penulis Forum
Lingkar Pena. Contoh karyanya: Resonasi Indonesia

2. Acep Zamzam Noer

Lahir di Tasik pada tanggal 28 Februari 1960. Pendidikan: Alumnus Seni Rupa ITB dan
Universitas Italia Stranieri, Italia. Kumpulan Puisinya:

1. Tamparlah Mukaku, 1982

2. Aku Kini Doa, 1986

3. Antologi Pesta Sastra, 1987

4. Kasidah Sunyi, 1989

5. Ketika Kata Ketika Warna, 1995

3. Justina Ayu Utami

Lahir di Bogor, 21 November 1968. Pendidikan: Fak. Sastra UI. Ia pernah menjadi wartawan
di majalah Humor, Matra, Forum Keadilan. Tak lama setelah penutupan Tempo, Editor
dan Detik di masa Orde Baru, dia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen yang
memprotes pembredelan. Kini ia bekerja di jurnal kebudayaan Kalam dan di Teater Utan
Kayu. Novelnya yang pertama yaitu Saman, mendapatkan sambutan dari berbagai kritikus
karena gaya penulisan Ayu yang terbuka bahkan terkesan vulgar, inilah yang
membuatnya menonjol dari pengarang-pengarang lainnya. Selain itu, Saman meraih sayembara
penulisan novel Dewan Kesenia Jakarta 1998, berkat novel itu juga Ayu mendapat Prince Claus
Award 2000 dari Frince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag Belanda.
Ayu Utami dalam novel Saman berhasil menciptakan representasi seksualitas.
“mengarang bagi saya adalah kesedihan, melibatkan, meleburkan diri dan menerima
kemungkinan yang tak direncanakan.”

4. Dorotea Rosa Herliany

Lahir di Magelang, 20 Oktober 1963 Pendidikan: FPBS IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta,
Jurusan Sastra Indonesia (1987). Ia mendirikan Forum Situs Kata dan menerbitkan berkala
budaya Kolong Budaya. Kini ia mengelola penerbit Tera di Magelang, juga ia mendirikan
Indonesia Tera, sebuah kelompok belajar kebudayaan dan masyarakat, lembaga swadaya
non-profit yang bekerja dalam lapangan penelitan, penerbitan, dan pengembangan jaringan
informasi untuk pendidikan dan kebudayaan masyarakat. Ia menulis sajak dan cerpen.
Kumpulan sajaknya: Nyanyian Gaduh (1987), Matahari yang Mengalir (1990), Kepompong
Sunyi (1993), Nikah Ilalang (1995), Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999), Kill the Radio (2001).
Kumpulan cerpennya: Blencong (1995), Karikatur dan Sepotong Cinta (1996).

D. Jenis dan Bentuk Sastra Indonesia Lama


Pembagian Sastra Indonesia Lama ditinjau dari sisi bentuk, isi, dan pengaruh asing adalah
sebagai berikut.
a) Berdasarkan bentuknya. Sastra Indonesia Lama dibagi menjadi dua yaitu (1) Prosa lama,
dan (2) Puisi lama.
b) Berdasarkan isinya, Sastra Indonesia lama dibedakan menjadi tiga (1) Sastra Sejarah (2)
Sastra Undang-Undang; dan (3) Sastra Petunjuk bagi Raja atau Penguasa.
c) Berdasarkan pengaruh asing. Sastra Indonesia Lama dibedakan menjadi tiga, (1) Sasra
Indonesa Asli; (2) Sastra Indonesia Lama Pengaruh Hindu; dan (3) Sastra Indonesia Lama
Pergaruh Islam.

Adapun ciri-ciri kesusastraan Indonesia Lama adalah:


1) Bersifat onomatope/anonym, yaitu nama pengarang tidak dicantmkan dalam karya sastra,
2) merupakan milik bersama masyaraka,
3) timbul karena adat dan kepercayaan masyarakat,
4) bersifat istana-sentris, maksudnya ceritanya berkisar nada lingkungan istana,

Dibandingkan dengan prosa baru terdapat perbedaan. Prosa baru bersifat realistis (melukiskan
kenyataan sehaii-hari), dinamis atau mengalami parubahan terus-menerus sesuai dengan
perubahan masa dan tidak anonim.
1) Prosa Lama
Dalam tradisi sastra Melayu lama, prosa adalah seluruh hasil karya sastra lisan dan tulisan yang
panjang, baik yang berbentuk cerita ataupun bukan cerita, dengan bahasa Melayu sebagai
medium. Dari tradisi lisan, muncul tiga genre prosa yang sangat popular di kalangan masyarakat
Melayu yaitu: cerita mitos, legenda dan dongeng. Sedangkan dari tradisi tulisan, muncul prosa
genre cerita (narasi) dan bukan cerita. Prosa tulis yang berbentuk cerita di antaranya hikayat,
epic, sastra panji, sastra sejarah dan sastra agama. Sementara itu, prosa tulis bukan cerita,
diantaranya prosa tentang undang-undang, kitab dan ilmu tradisional. Dalam prosa, bahasa
dipahami dalam pengertian denotative, sesuai dengan makna leksikalnya. Oleh sebab itu,
bentuk prosa yang terpengaruh oleh puisi, yang disebut dengan prosa liris atau prosa puitis.

2) Dongeng
Dongeng adalah prosa cerita yang isinya hanya hayalan/fantasi pengarang saja. Dongeng
dibedakan menjadi tujuh jenis berikut.
Fabel, yaitu dongeng tentang kehidupan binatang. Dongeng tentang kehidupan binatang ini
dimaksudkan agar menjadi teladan bagi kehidupan manusia pada umumrya. Menurut Dick
Hartoko dan B. Rahmanto.
 Fabel adalah cerita singkat, sering dalam bentuk sanjak yang bersifat didaktis bertepatan
dengan contoh yang kongkret. Binatang dan tunbuh-tumbuhan ditampilkan sebagai makhluk
yang dapat berpkir, bereaksi, dan berbicara sebagai manusia, diakhiri dengan sebuah
kesimpulan yang mengandung ajaran moral. Contoh: Kanci Yang Cerdik, Bayan Budiman.
 Farabel, yaitu dongeng tentang binatang atau benda-benda lain yang mangandung nilai
pendidikan. Binatang atau benda tersebut merupakan perumpamaan atau lambang saja.
Peristiwa ceritanya merupakan kiasan tentang pelajaran kesusilaan dan keagamaan.
 Legenda, yaitu dongeng yang dihubungkan dengan keajaiban alam, terjadinya suatu tempat,
dan setengah mengandung unsur sejarah. Contoh: Asal usul Kota Banyuwangi dan
Sangkuriang.

3) Hikayat
Kata hikayat berasal dari bahasa Arab yang artinya cerita. Hikayat adalah ceria yang panjang
yang sebagian isinya mungkin terjadi sungguh-sungguh, tetapi di dalamnya banyak terdapat hal-
hal yang tidak masuk akal, panuh keajaiban. Hikayat yaitu prosa lama yang isinya mengenai
kejadian-kejadian di lingkungan istana, tentang keluarga raja. Contoh: Hikayat Hang Tuah,
Hikayat Si Miskin, Hikayar Panca Tantra, Hikayat Panji Semirang, Hlkayat Dalang Indra
Kusuma, Hikayat Amir Hamzah.

4) Tambo
Tambo adalan cerita sejarah, yaitu ceria tentang kejadian atau asal-usul keturunan raja. Silsilah
atau tambo, yaitu semacam sejarah, tetapi isinya sudah bercampur dengan khayalan sehingga
banyak cerita yang tidak tercerna oleh pikiran sehat. Contoh: Sajarah Melayu, Hikayat Raja-raja
Pasai, Sejarah Melayu-Bugis.
5) Puisi Lama
Puisi lama marupakan pancaran kehidupan masyarakat lama yang memiliki ciri-ciri: (1) bersatu,
tidak pecah belah, dan hidup lebih padu, dalam kesatuan itu ada yang mengikat yaitu adat
istiadat yang telah turun-temurun, (2) setiap orang saling mengenali, dan (3) hidup tolong-
menolong, bargotong-royong, membangun rumah, mengerjakan sawah, mengadakan
keramaian, suka duka selalu bersatu.

6) Mantra
Manta adalah kata-kata yang mengandung hikmat dan kekuatan gaib. Mantra sering diucapkan
oleh dukun atau pawang, namun ada juga seorang awam yang mengucapkannya. Mantra
adalah merupakan puisi tua, keberadaannya dalam masyaraka Melayu pada mulanya bukan
sebagai kaya sastra, melainkan lebih banyak berkaitan dengan adat dan kepercayaan
Contoh:
Assalammu'alaikum putri satulung besar
Yang beralun berilir simayang
Mari kecil, kemari
Aku menyanggul rambutmu
Aku membawa sadap gading
Akar membasuh mukamu

7) Bidal
Bidal adalah pepatah atau peribahasa dalam sastra Melayu lama yang kebanyakan berisi
sindiran, peringatan, nasehat, dan sejenisnya. Yang temasuk dalam kategori bidal adalah
sebagai berikut.
a. Ungkapan, yaitu kiasan tentang keadaan atau kelakuan yang dinyatakan dengan sepatah
atau beberapa patah kata.
b. Peribahasa, yaitu kalimat lengkap yang megungkapkan keadaan atau kelakuan seseorang
dengan mengambil perbandingan dengan alam sekitar.
c. Tamsil, yaitu seperti perumpanaan tetapi diikut bagian kalimat yang menjelaskan.

8) Pantun
Pantun adalah puisi Melayu asli yarg cukup mengakar dan membudaya dalam masyarakat.
Pantun ialah puisi lama yeng terikat oleh syarat-syarat tertentu yakni jumlah baris, jumlah suku
kata, kata persajakan, dan isi. Uraian lebih lanjut mengenai ciri-ciri pantun dipaparkan berikut.
a. Pantun terdiri dari sejumlah baris yang selalu genap yang merupaken satu kesatuan yang
disebut bait/kuplet.
b. Setiap baris terdiri dari empat kata yang dibentuk dari 8-12 suku kata (umumnya 10 suku
kata).
c. Separoh bait pertama merupakan sampiran (persiapan memasuk isi pantun), separoh bait
berikutnya merupakan isi iyang akan disampaikan).
d. Persajakan antara sampiran dan isi selalu paralel (ab-ab atau abc-abc atau abcd-abcd atau
aa-aa).
e. Beralun dua.

Contoh:
Ada pepeya ada mentimun (a)
Ada manggis ada salak (b)
Daripada duduk melamun (a)
Mari kita membaca sajak (b)

Kayu cendana di atas batu (a)


Sudah diikat dibawa pulang (b)
Adat dunia memang begitu (a)
Benda yang buruk memang terbuang (b)

Berdasarkan bentu jumlah baris tiap bait, pantun dibedakan menjadi pantun biasa, pantun
kilat/karmina, pantun berkait, selooka, talibun, gurindam, syair, prosa liris, dan puisi Arab.

E. Jenis dan Bentuk Karya Sastra Indonesia Baru

Membaca dan memaknai sastra membantu kita untuk menyadari kompleksitas misteri hidup,
sepert cinta, benci, kelahiran, kematian, perkawinan, konflik sosial, dan sebagainya. Dengannya
kecerdasan sosial dan emosional semakin terasah, sehingga diharapkan semakin toleran
terhadap berbagai perbedaan. Sastra bisa menjelajahi ruang dan waktu, mengantarkan
pembacanya ke masa lalu dan juga ke mase depan. Sebelum lebih jauh menyelami dunia
sastra, lebih dadulu kita mengenal berbagai jenis (genre) karya sastra. Genre dapat dipahami
sebagai suatu macam atau tipe kesastraan yang memiliki seperangkat karakteristik umum, atau
kategori pengelompokan karya sastra yang biasanya berdasarkan gaya, bentuk, atau isi. Hal ltu
membawa konsekuensi bahwa dalam sebuah genre sastra terdapat sejumlah elemen yang
memilikl kesamaan sifat, dan elemen- elemen itu menunjukkan perbedaan dengan elemen pada
genre yang lan. Di dalam dunia sastra dikenal tiga jenis sastra, yakni puisi, drama dan cerita
(fiksi). Sejarah sastra pun mengkuti pembagian ini.

1) Puisi Baru

Puisi adalah teks monolog dengan tipografi tertentu yang isinya tidak merupakan sebuah alur.
Ciri puisi yang paling mencolok ialah penampilan tipo-gratinya (Luxemburg. 1384). Teks puisi,
larik-lariknya tidak sampai ke tepi halaman. Di samping tipograf yang menonjol, bahasa puisi
memiliki kekhasan. Bahasanya banyak mengandung simbol dan kiasan. Ini sering dianggap
sebagai ciri pamerlain dari puisi. Bahasa puisi ditandai dangan diksi yang cenderung konotatif,
dan bahasa yang mengandung metafora, metominia, sinekdoks, personifikasi, hiperbola,
undersaternent, ambiguitas, elipsis, serta mençandung citraan (imajery). Di samping itu, puisi
juga memiliki irama dan rima (ulangan bunyi), yang tidak (begitu) dipentingkan dalam jenis
sastra nonpuisi.

Macam-Macam Puisi Baru

1. Distikon, adalah sanjak dua seuntai, biasanya bersajak sama.

Contoh:

Berkali kali gagal


Ulangi lagi dan cari akal
Berkali-kali kita jatuh
Kembali terdir jangan mengeluh
(Or. Mandank)

2. Terzina, adalah sanjak dua seuntai,

Contoh:

Dalam ribaan bahagia datang


Terseryum bagai kencana
Mengharum bagai cendana

Dalam bahagia cinta tiba melayang


Bersinar bagai matahari
Mewarna bagaikan sari
Dari : Madan Kelana (Sanusi Parie)

3. Quatrain, adalah sanjak empat seuntai.

Contoh:

Mendatang-datang jua
Kenangan masa lampau
Menghilang muncul jua
Yang dulu sinau silau

Membayang rupa jua


Adi kanda lama lalu
Membuat hati jua
Layu lipu rindu-sendu
(A.M. Daeng Myala)

2) Soneta
Soneta adalan bentuk kesusasteraan Italia yang lahir sejak kira-kira pertengahan abad ke-13 di
kota Florance. Pada masa lahirnya, Soneta dipergunakan sebagai alat untuk menyatakan
curahan hati. Kini tidak terbatas pada curhatan hati semata mata, melainkan perasaan-perasaan
yang lebih luas seperti pernyataan rindu pada tanah air, pergerakan kemajuan kebudayaan,
ilham sukma, juga perasaan keagamaan.

Ciri ciri Soneta :


 Terdiri atas 14 baris
 Terdiri atas 4 bait, yang terdiri atas 2 quatrain dan 2 terzina
 Dua quatrain merupakan sampiran dan merupakan satu kesatuan yang disebut octav.
 Dua terzina merupakan isi dan merupakan satu kesatuan yang disebu isi yang disebut
sextet. Bagian sampiran biasanya berupa gambaran alam.

Contoh

Gembala
Parasaan siapa ta’kan nyala ( a )
Meihat anak berelagu dendang (b)
Seorang saja di tengah padang (b)
Tiada berbaju buka kepala (a)
Beginilah nasib anak gembala (a)
Berteduh di bawah kayu nan rindang (b)
Semenjak pagi meninggalkan kandang (b)
Pulang ke ruman di senja kala (a)
Jauh sedikit sesayup sampai (a)
Terdengar olehku bunyi serunai (a)
Melagukan alam nan molek permai (a)
Wahai gembala di segara hijau (c)
Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau (c)
Maulah aku menurutkan dikau (c)
(Muhammad Yamin)

3) Drama
Drama ialah semua teks yang bersifat dialog dan isinya membentagkan sebuah alur
(Luxemburg, 1984). Drama itu berbeda dengan prosa cerita dan puisi karena dimaksudkan
untuk dipentaskan. Pementasan ltu memberikan sebuah penafsiran kedua kepada drama. Sang
sutradara dan para pemain menafsirkan teks, sedangkan para penonton menafsirkan versi yang
telah ditafsirkan oleh para pemain. Pembaca yang membaca teks drama tanpa menyaksikan
pementasannya mau tidak mau menbayangkan jalur peristiwa di atas panggung. Pengarang
drama pada prinsipnya memperhitungkan kesempatan ataupun pembatasan khas, akibat
pementasan. Oleh karena itu, teks drama berkiblat pada pementasan (Luxemburg 1984
Salah satu ciri teks drama adalah adanya unsur dialog, yang dalam teks naratif dan puisi tidak
(bagitu) menonjol. Dalam pementasan, unsur tersabut berupa parcakapan antartokoh. Di sini
tampak bagaimana cerita disampaikan melalui dialog antartckoh.

Berdasarkan isinya, drama dibedakan menjadi (1) tragedi, yang menggambarkan kesedihan,
dan (2) komedi yang menggambarkan sesuatu yang menyenangkan dengan ekspresi yang lucu.
Kemudian di antara keduanya juga timbul (3) tragikomedi, yang isinya juga bersifat gabungan
antara peristiwa tragik dan komedik. Tragedi adalah drama yang timbul pada zaman Yunani
kuno yang membahas peristiwa-peristiwa yang mengharukan, berdasarkan konflik psikis, moral,
ataupun sosial, dengan maksud agar penonton lalu mawas diri dan merasakan kelegaan batin
(katarsis). Sementara itu, komedi adalah bentuk drama yarg bermaksud untuk menghibur para
penonton. Di sini visi ternadap perorangan, hidup sehari-hari ditampilkan dengan humor. Tak
ada permasalahan metafisik, alurnya ringan dan cepat diselesaikan dengan "happy ending”
(Hartoko & Rahmanto, 1984)

Berdasarkan akibat pragmatiknya, karya sastra dapat dibedakan sesuai dengan tujuannya. Di
sini msalnya, ada teks-teks yang tertujuan untuk mengajarkan sesuatu (didak-tis), yang bersifat
humor, mengharukan, dan memberikan informasi (Luxernburg, 1984)

4) Prosa Fiksi
Ceria (fiksi) adalah semua tek yang isinya merupakan kisah sejarah atau sebuah deretan
peristiwa. Bersamaan dengan kisah dan deretan peristiwa itu hadirlah cerita (Luxemburg.
1984). Dalam konteks sastra modern, ciri tersebut terdapat dalam teks roman, novel,
novelette, prosa lirik dan cerita pendek (cerpen). Sejarah sastra diawali oleh jenis sastra
novel dan cerpen seperti tampak dalam terbitan Balai Pustaka atau pun sebelumnya. Dalam
studi sastra pun minat terhadap jenis cerita cukup besar. Hal itu terbukti dengan lahirnya
cabang teori sastra yang bernama naratoogi ata teori fiksi.

Berdasarkan temanya fiksi dapat dibedakan menjadi beberapa jenis. Pembagian ini adalah
sebagai berikut.
1. Fiksi (novel) realistk isinya berkaitan dengan hal-hal yang bersifat faktual dalam perilaku
manusia.
2. Fiksi romantik yang menyajikan masalah perjuangan emosi pribadi dan desakan dari luar.
3. Fiksi naturalistik dan proletarian yang mangutamakan pelukisan akta yang keji dan kurang
dapat diterima secara moral dan pelukisan tatanan material yang kurang dapat diterima oleh
akal sehat.
4. Fiksi gotik yang melukiskan cerita-cerita horor.
DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru


Pradopo, Rachmad Djoko. 1987. Pengkajian Puisi. Jogjakarta: UGM University Press
Rasyidi, Ajip. 1986. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: Bina Cipta
Sardjono, Partini. 1998. Pengantar Pengkajian Sastra. Bandung: Pustaka Widya
Semi, Atar. 1986. Anatomi Sastra. Padang: Angkasa Raya
Teuuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya
Wellek, Rene & Austin Warren. 1990. Teori Kesusastraan. Terj. Melani Budianta. Jakarta:
Gramedia